Kesehatan Tulang Anak

 

 

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, SpOT, BMedSc

Dokter Spesialis Orthopedi

 

Halo, Keluarga Kejora! Ayah dan Ibu pasti selalu memikirkan kesehatan si buah hati secara keseluruhan, tetapi jangan lupa untuk memerhatikan yang spesifiknya juga ya, termasuk kesehatan tulang anak. Hal ini penting karena perilaku kita terhadap kesehatan tulang pada masa kecil menentukan kesehatan tulang pada masa tua.

Pertumbuhan dan masa depan

Siklus pertumbuhan tulang pada anak-anak dan remaja meliputi penyimpanan dan pembuangan. Pada fase ini, masa tulang lebih banyak yang disimpan daripada dibuang. Puncak masa tulang seseorang adalah pada akhir usia 20an dan sekitar 90% masa tulang diperoleh pada usia remaja-dewasa muda.

Petuah ‘menabunglah sejak dini’ tentu sering kita dengar dari orang tua kita. Sama seperti tabungan uang yang dimana ada sistem setor-tarik, tulang kita pun juga seperti tabungan. Pada usia lanjut, penyakit osteoporosis dapat menyerang siapa saja. Kondisi osteoporosis dapat digambarkan seperti tabungan tulang kita akan ‘ditarik’. Oleh sebabnya, demikian penting untuk ‘menyetor’ sejak usia kecil.

Faktor yang mempengaruhi masa tulang

Ayah dan Ibu, ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi kepadatan masa tulang seseorang. Diantara faktor tersebut ada hal yang bisa kita atur, dan ada yang tidak bisa kita atur. Faktor yang tidak dapat kita atur antara lain adalah jenis kelamin, ras, dan hormon. Sedangkan faktor yang dapat kita atur adalah nutrisi dan aktivitas fisik.

Jenis kelamin

Walaupun anak perempuan sepertinya lebih cepat tumbuh tinggi daripada laki-laki, kepadatan tulang anak laki-laki lebih tinggi daripada anak perempuan. Hal ini terjadi setelah usia pubertas dimana laki-laki dapat menabung lebih banyak masa tulang.

Ras

Anak-anak ras afrika dan kaukasia (Eropa/ Amerika) mempunyai masa tulang yang lebih tinggi daripada orang Indonesia yang merupakan ras Asia. Walaupun demikian, resiko mereka untuk terkena tulang keropos juga sama.

Hormon

Penelitian menemukan bahwa anak perempuan yang menstruasi di umur yang dini memiliki kepadatan tulang yang lebih baik. Sedangkan perempuan yang sering terlambat menstruasi, kerap kali memiliki kepadatan tulang yang lebih buruk.

Nutrisi

Elemen yang penting dalam kesehatan tulang adalah kalsium. Semakin lanjut usia, kemampuan untuk menyerap kalsium semakin berkurang. Oleh sebabnya sangat penting untuk mengkonsumsi makanan yang tinggi kalsium sedini mungkin. Vitamin dan mineral lain yang juga berperan penting dalam kesehatan tulang antara lain adalah magnesium, zink, dan vitamin D.

Aktivitas fisik

Kegiatan yang memberikan beban terhadap tulang dapat merangsang pertumbuhan tulang dan peningkatan kepadatan tulang. Contohnya seperti gimnastik, mengangkat beban, bela diri, atau permainan.

Berapa banyak kalsium yang dibutuhkan?

Sudah tidak bisa dipungkiri lagi, kesehatan tulang identik dengan kalsium dan vitamin D. Namun seberapa banyak kalsium yang dibutuhkan per harinya? Kadar kalsium dalam milligram per hari dapat mengacu pada tabel berikut.

Usia Kalsium
Lahir – 6 bulan 200 mg
6 bulan – 1 tahun 260 mg
1-3 tahun 700 mg
4-8 tahun 1000 mg
9-18 tahun 1300 mg

 

Dalam mencukupi kebutuhan kalsium, tidak selalu perlu mengonsumsi suplemen. Faktanya, 1 gelas susu setara dengan sekitar 300mg kalsium, dan dapat mencukupi sekitar sepertiga kebutuhan kalsium anak-anak usia sekolah dasar. Itulah mengapa konsumsi susu minimal 1 gelas per hari sangat disarankan untuk nutrisi tulang anak.

 

“Anak saya tidak suka susu.”

Ayah dan Ibu, tidak semua anak bisa minum susu dan hal tersebut termasuk wajar. Ada 2 kemungkinan mengapa anak tidak bisa minum susu: tidak suka minum susu atau merasakan nyeri perut setelah minum susu.

Jika si kecil tidak gemar minum susu, cobalah membuat produk olahan susu. Misalnya dengan memberikan bubuk cokelat, mengganti air dengan produk susu pada makanan/ minuman tertentu. Namun bila ia merasa nyeri atau tidak nyaman pada perut setelah meminum susu, mungkin si kecil mempunyai intoleransi laktosa. Laktosa merupakan salah satu bentuk gula yang ditemukan pada susu dan produk makanan yang mengandung susu.

Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir bila si kecil tidak bisa mengonsumsi susu, karena kalsium pun bisa didapat dari berbagai sumber makanan, antara lain:

Kisaran kadar kalsium Makanan
≥300 mg Sarden tulang lunak

Keju cheddar

Yogurt

Susu

200-300 mg Keju cottage, mozzarella

Tahu

Jus jeruk

100-200 mg Salmon

Pudding

Es yogurt

Sereal

≤ 100 mg Sayuran daun hijau

Es krim

Susu kedelai

Krim asam

Roti putih

Brokoli

Roti gandum

Krim keju

Sumber kalsium yang terbaik adalah dari makanan murni. Akan tetapi jika anak anda memang kesulitan untuk mencukupi kebutuhan kalsium melalui makanan, maka pemberian suplemen kalsium dapat dipertimbangkan.

Olahraga penguat tulang

Seperti halnya otot, semakin kita banyak menggunakan tulang, maka semakin bertambah kekuatannya. Aktivitas fisik seperti apa pun sebenarnya baik untuk tulang. Tetapi aktivitas fisik yang berprinsip menumpu beban lebih efektif, antara lain: berjalan, berlari, lompat tali, menari, tenis, basket, gimnastik, sepak bola, voli, dan lain sebagainya. Aktivitas fisik seperti mengangkat beban juga dapat meningkatkan kekuatan tulang. Olahraga bersepeda atau berenang dapat membantu menjaga kesehatan, namun tidak berperan banyak dalam meningkatkan kepadatan tulang.

Apakah anak-anak dapat terkena tulang keropos?

Tulang keropos atau osteoporosis bukanlah penyakit yang hanya menyerang orang lanjut usia. Anak-anak pun juga dapat mengalaminya. Misalnya, jika si kecil mengonsumsi obat steroid jangka panjang, maka penyerapan kalsium di tubuhnya akan berkurang signifikan, sehingga tulangnya tidak sekuat anak seumurnya. Konsumsi alkohol dan rokok, baik perokok aktif maupun pasif (misalnya anggota serumah ada yang merokok), juga dapat berisiko menurunkan kepadatan tulang. Penyakit genetik/bawaan seperti osteogenesis imperfecta juga dapat menyebabkan tulang anak menjadi rapuh dan mudah patah.

Yuk, Ayah dan Ibu Kejora bantu si kecil memiliki tulang yang kuat dan sehat!

Editor: dr. Nurul Larasati

Aktif Bergerak Bersama Anak di Masa Pandemi

 

 

 

 

 

oleh dr. Selly Christina Anggoro, SpKFR

Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

 

Masa kanak-kanak dan remaja merupakan periode kritis dalam membentuk keterampilan motorik, sensorik serta membangun fondasi yang kuat untuk kesehatan fisik dan mental. Pada masa ini, terjadi perkembangan fisik dan kognitif yang pesat dimana kebiasaan anak terbentuk, berubah, dan terus beradaptasi. Aktivitas fisik yang rutin akan meningkatkan kesehatan dan kebugaran. Durasi kondisi fisik yang aktif dan non-aktif (tidur, sedentary) yang seimbang dan teratur dapat menjamin baiknya kualitas kesehatan fisik dan mental.

Selama pandemi Covid-19, sesuai anjuran Pemerintah, dilakukan physical distancing (dikenal juga sebagai social distancing atau safe spacing) untuk mencegah penyebaran penyakit di komunitas. Dengan adanya physical distancing ini berarti anak harus membatasi kontak dengan orang lain, termasuk tidak bersekolah, diadakannya kelas virtual atau pekerjaan rumah (PR). Olahraga atau bermain outdoor juga harus dibatasi, interaksi sosial hanya bisa dilakukan secara virtual, baik melalui telepon seluler, komputer, atau video games.

Tantangan bagi orangtua adalah untuk menjaga anak tetap aktif dan sehat, agar daya tahan tubuh baik dan tahan terhadap penyakit. Perilaku hidup sehat juga penting untuk mengurangi risiko depresi dan kecemasan yang dapat timbul akibat isolasi diri di rumah.

 

Mengapa anak tetap harus aktif bermain di masa Pandemi Covid-19 ini?

Pentingnya anak tetap melakukan aktivitas fisik dan bermain pada masa pandemi ini adalah sbb:

  • Membantu melalui proses “new normal” selama masa yang penuh ketidakpastian.
  • Bermain penting untuk membantu anak menjalani proses respon emosi terhadap tantangan dan stress.
  • Aktivitas fisik outdoor dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak dalam mengontrol keinginan dan kemampuan, serta membangun keterampilan fisik dan emosi.
  • Bermain dan aktivitas fisik dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih “sehat” dibandingkan dengan hanya sedentary screen time. Selain itu memperbaiki kualitas tidur akibat keluarnya energi yang optimal selama anak aktif bermain.

 

Bagaimanakah rekomendasi aktivitas fisik menurut WHO?        

WHO merekomendasikan durasi waktu yang dibutuhkan oleh anak-anak dalam melakukan aktivitas fisik bagi anak usia kurang dari 1 tahun adalah 30 menit. Untuk anak berusia 1-5 tahun adalah selama 180 menit (3 jam). Sedangkan untuk anak usia 6-17 tahun sebanyak 60 menit.

Berikut ini adalah manfaat aktivitas fisik bagi anak secara umum menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO):

  • Membangun jaringan muskuloskeletal (tulang, otot, dan sendi) yang sehat.
  • Membangun sistem kardiovaskuler (jantung, paru) yang sehat.
  • Meningkatkan keseimbangan, koordinasi, dan kontrol gerak saraf dan otot (neuromuskuler).
  • Menjaga berat badan yang optimal.
  • Meningkatkan fungsi kognitif dari otak.
  • Efek psikologis: mengontrol gejala kecemasan dan depresi (fun and happy).
  • Perkembangan sosial (membangun percaya diri, kemampuan ekspresi diri, interaksi sosial, dan integrasi).

 

(Gambar Rekomendasi WHO)

 

 

 

Apakah ada latihan fisik tertentu untuk anak?

Tubuh anak terdiri dari ratusan tulang dan otot yang diatur oleh begitu banyak saraf dan dikontrol oleh otak. Otak berfungsi sebagai programmer dari gerakan-gerakan tersebut. Dalam buku Physical Activity Guidelines for Americans, dikatakan bahwa jenis aktivitas fisik pada anak dapat berupa latihan aerobik, latihan penguatan otot dan tulang, latihan fleksibilitas, serta latihan keseimbangan yang akan banyak melatih otot-otot besar demi meningkatkan keterampilan motorik kasar anak.

Latihan aerobik disebut juga aktivitas daya tahan atau kardio. Menggunakan otot-otot besar tubuh yang bergerak dalam gerakan ritmis dalam suatu periode waktu tertentu. Contoh aktivitas pada anak misalnya berjalan, berlari, lompat tali, bersepeda, berbaris atau berjalan di tempat, dan berenang. Aktivitas bermain pura-pura, seperti mencari harta karun, latihan halang rintang dengan barang-barang yang ada di dalam rumah, serta membersihkan mainan dengan menggunakan balon panjang yang diletakkan di depan wajah sehingga menyerupai seekor gajah juga dapat dijadikan contoh untuk jenis latihan ini.

Latihan penguatan otot dan tulang mencakup latihan resistensi (tahanan) dan weight lifting (angkat beban). Pada latihan ini, otot tubuh bekerja atau menahan beban dengan melawan suatu gaya atau berat tertentu. Dapat dilakukan dengan mengangkat benda (barbel, dll) selama beberapa kali pengulangan untuk grup otot tertentu atau dengan menggunakan tali elastis khusus. Selain itu dapat pula dengan cara menahan berat badan sendiri, seperti halnya berlari, naik turun tangga, memanjat pohon, push-up, jongkok bangun (squatting), dan jumping jacks.

Latihan fleksibilitas seperti halnya stretching atau latihan kelenturan dapat meningkatkan kemampuan sendi dalam bergerak melalui lingkup gerak sendi yang penuh. Pada anak-anak umumnya tingkat kelenturan sendi masih cukup baik, namun demikian dengan jenis latihan ini, akan semakin meningkatkan elastisitas jaringan tubuh dan performa anak dalam melakukan aktivitas. Bermain yoga dengan berbagai pose binatang, seperti halnya kupu-kupu, macan, sapi, ular, dan lain-lain dapat menjadi alternative untuk jenis latihan ini.

Latihan keseimbangan dapat memperbaiki kemampuan menahan gaya yang berada di dalam ataupun di luar tubuh, sehingga tidak terjatuh saat diam ataupun bergerak. Contoh aktivitas ini misalnya berjalan mundur, berdiri pada satu kaki, lompat kelinci, berdiri dengan menggunakan wobble board atau papan titian yang dibuat sendiri dari barang di sekitar rumah. Latihan penguatan pada otot punggung, perut dan kaki juga dapat memperbaiki keseimbangan, karena selain berfokus pada penguatan otot juga membantu meningkatkan kerja organ proprioseptif pada tubuh anak.

 

Jadi, cukup banyak kan jenis aktivitas fisik anak yang tetap dapat dilakukan di rumah meskipun pada masa pandemi ini? Artinya berada di rumah, bukan berarti kita harus membatasi gerak anak, namun kita sebagai orangtua tetap harus memberikan kesempatan anak untuk berpartisipasi dalam aktivitas fisik “bermain“ yang bervariasi, aman, dan menyenangkan sesuai dengan usianya.

Stay safe and healthy!!

 

Editor              : drg. Sita Rose Nandiasa

 

Patah Tulang pada Anak: Ke Dukun Tulang atau Dokter?

 

 

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, SpOT, BMedSc

Dokter Spesialis Orthopedi

 

Halo, Keluarga Kejora! Patah tulang, atau fraktur, pada anak selalu membuat orang tua menjadi sangat khawatir. Ayah dan Ibu pasti tidak tega melihat sang anak mengalami rasa sakit yang hebat dan terus menerus. Namun masih banyak ditemui sebagian orang tua yang ragu membawa anaknya ke dokter karena khawatir bila diharuskan operasi. Padahal, walaupun tulang anak masih mudah untuk menyambung, tetapi jika terjadi ‘salah sambung’ akan menimbulkan kecacatan yang akan mempengaruhi fungsi anak saat tumbuh dewasa loh, Ayah dan Ibu. Apa iya penanganan patah tulang oleh dokter sebegitu menyeramkannya?

Terkadang sangat sulit mengkonfirmasi riwayat trauma pada anak-anak, terutama bila anak belum lancar berbicara.  Namun, gejala patah tulang pada anak tidak berbeda dengan dewasa, yakni nyeri, bengkak, memar, deformitas/ bengkok. Tanda lainnya termasuk anak tidak mau menggunakan/ menggerakkan anggota tubuh yang patah dan dapat disertai luka yang menyebabkan bagian tulang menonjol keluar. Agar dapat menegakkan diagnosa, maka diperlukan pemeriksaan penunjang berupa x–ray (rontgen) untuk menunjukkan posisi dan kedudukan tulang yang patah.

 

Kapan harus ke dokter?

Setiap kali terjadi cidera sebaiknya anak diperiksakan ke dokter untuk memastikan kondisi otot dan tulangnya, terutama bila ia mengeluhkan nyeri pada anggota tubuhnya dan menolak untuk menggerakannya. Apabila terjadi patah tulang, kondisi ini wajib untuk segera dievaluasi oleh dokter orthopaedi.

Pada kondisi khusus dimana anak sangat mudah mengalami patah tulang, maka kemungkinan anak tersebut memiliki kelainan metabolik atau bawaan sejak lahir, misalnya yang kerap disebut sebagai osteogenesis imperfecta. Kondisi ini disebabkan oleh kelainan genetik yang menyebabkan tulang sang anak lebih rapuh, mudah patah, dan sulit sembuh, sehingga ia membutuhkan perawatan khusus.

 

Apakah dokter lebih menyeramkan dari dukun patah tulang?

Masih banyak stigma yang menyebutkan bahwa kasus patah tulang yang dibawa ke dokter pasti akan dioperasi. Padahal, ada beberapa jenis penanganan patah tulang pada anak, antara lain pemasangan bidai atau gips, traksi, dan operasi. Untuk operasi pun terdapat dua macam, yakni operasi terbuka dan operasi minimal invasif (luka sayatan hanya berukuran kecil). Pilihan jenis penanganan/ terapi ini tergantung pada jenis patah yang dialami anak. Jadi, tidak semua kasus patah tulang yang ditangani oleh dokter memerlukan operasi.

Bagaimana dengan dukun patah tulang? Dukun patah tulang tidak memeriksa anak Ayah dan Ibu dengan modalitas x-ray, sehingga mereka tidak mengetahui jenis patah tulang yang terjadi. Dukun patah tulang biasanya menangani kasus patah tulang dengan pijatan atau pemasangan bidai. Pemijatan pada tulang yang patah akan menyebabkan nyeri dan bengkak yang semakin hebat. Tidak jarang pula terjadi kasus infeksi karena metode penanganan ini, atau bahkan berubah menjadi tumor. Pemasangan bidai memang menyerupai salah satu penanganan pilihan dokter. Tetapi, kembali ke jenis patah tulangnya, tidak semua patah tulang dapat ditangani dengan bidai saja.

Beberapa kasus yang jika tidak dilakukan operasi akan meningkatkan resiko infeksi, tidak menyambung (non-union), atau menyambung pada posisi yang salah (malunion) antara lain:

  • Patah tulang terbuka: kontaminasi dari debu dan udara luar dapat menginfeksi luka. Jika tidak segera dibersihkan dengan peralatan dan di ruangan yang steril dapat meningkatkan risiko untuk terjadi infeksi.
  • Patah dengan pergeseran, terutama terputar (rotasi): penyembuhan tulang dapat diibaratkan seperti menempelkan barang pecah dengan lem. Jika pergeseran antar kedua tulang cukup jauh, maka tulang baru akan sulit untuk menyambung dan dapat menempel pada posisi yang salah.
  • Patah remuk (segmental atau kominutif): jenis patah ini sangat tidak stabil, tergantung susunan pecahan tulangnya ada jenis patah yang dapat diterapi dengan gips saja tapi juga ada yang memerlukan operasi.
  • Patah pada area lempeng pertumbuhan (epifisis): patah tulang pada area ini memiliki risiko sangat tinggi untuk terjadinya gangguan pertumbuhan pada tulang yang terkait. Tindakan operasi diperlukan untuk mengurangi risiko dan mengembalikan posisi tulang pada tempatnya.

Ada banyak pertimbangan lainnya sebelum dokter menentukan jenis penanganan patah tulang pada anak, misalnya bila patah terjadi pada area penumpu beban tubuh seperti tulang kaki atau patah pada tangan di sisi dominan. Tindakan operasi dapat membuat anak Ayah dan Ibu lebih cepat kembali beraktivitas.

 

Operasi minimal invasif

Seiring dengan perkembangan teknologi kedokteran, kini tidak semua jenis patah tulang perlu dioperasi secara terbuka. Teknik operasi minimal invasif sudah dikembangkan dan dipraktekkan di kedokteran. Dengan teknik ini, tulang yang patah dapat dipertahankan menggunakan alat implan yang ditanam di dalam tulang melalui luka sayatan yang sangat kecil. Oleh karena itu teknik ini mempunyai banyak keuntungan seperti pemulihan luka yang lebih cepat dan luka yang kecil. Dengan demikian, anak dapat lebih cepat beraktivitas kembali.

Jadi, perlu diingat bahwa kasus patah tulang memiliki jenis penanganan yang berbeda. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan, namun yang utama adalah keselamatan dan kesehatan anak. Pastikan Ayah dan Ibu memilih dengan bijak. Jangan lupa gunakan jaminan kesehatan (BPJS Kesehatan ataupun asuransi swasta) untuk meringankan beban biaya.

 

 

Sumber:

Kosuge D, Barry M. Changing trends in the management of children’s fractures. Bone Joint J. 2015;97-B(4):442-448. doi:10.1302/0301-620X.97B4.34723

Ömeroğlu H. Basic principles of fracture treatment in children. Eklem Hastalik Cerrahisi. 2018;29(1):52-57. doi:10.5606/ehc.2018.58165

https://www.assh.org/handcare/condition/fractures-in-children

https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=fractures-in-children-90-P02760

https://reference.medscape.com/features/slideshow/pediatric-fractures

http://www.childrenshospital.org/conditions-and-treatments/conditions/f/fractures

http://www.pmmonline.org/page.aspx?id=848

https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/fractures-in-children

https://orthoinfo.aaos.org/en/diseases–conditions/forearm-fractures-in-children/

https://www.nationwidechildrens.org/family-resources-education/700childrens/2018/04/bone-fractures-in-children-when-should-parents-be-concerned

Kenali Nyeri Panggul pada Anak

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, SpOT, BMedSc

Dokter Spesialis Orthopedi

Halo, Ayah dan Ibu Kejora! Pernahkah si kecil mengeluhkan nyeri pada panggulnya hingga mengganggu aktivitasnya sehari-hari? Keluhan pada panggul mempunyai kemungkinan diagnosa penyakit yang beragam. Mulai dari penyakit yang perlu penanganan segera sampai penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya. Dengan demikian, sangat penting bagi Ayah dan Ibu untuk belajar mengenali gejalanya dan membawa si kecil ke dokter orthopaedi agar diperiksa lebih lanjut.

Ada banyak penyebab nyeri panggul yang dapat terjadi pada anak-anak. Namun, tidak semuanya perlu penanganan segera karena sebagian perlu pemantauan jangka panjang. Berikut adalah beberapa jenis penyebab nyeri panggul yang sering ditemui pada anak, dimulai dari yang memerlukan penanganan segera.

  1. Septik Artritis

Penyakit ini merupakan kondisi gawat darurat yang disebabkan infeksi pada sendi. Sendi yang paling sering terkena adalah panggul dan lutut. Bakteri yang menyebabkan infeksi bisa didapat dari berbagai macam sumber, antara lain trauma (benturan) langsung, riwayat pembedahan, infeksi di area sekitar sendi, infeksi tulang dekat sendi, atau bahkan menyebar dari aliran darah.

(https://www.orthobullets.com/pediatrics/4032/hip-septic-arthritis–pediatric)

Kondisi ini perlu penanganan segera karena infeksi secara cepat dapat menghancurkan permukaan sendi dalam kurun waktu 8 jam. Ditambah lagi, tekanan tinggi dalam ruang sendi yang tertutup dapat menghalangi aliran darah ke sendi sehingga dapat berujung ke kematian jaringan tulang.

Biasanya anak yang menderita septik artritis akan tampak sakit, merasakan nyeri yang kuat, disertai dengan demam. Nyeri dirasakan pada sendi panggul yang terkena, bengkak, hangat, merah, dan anak lebih memilih pada posisi kaki mengangkang. Dokter akan melakukan pemeriksaan laboratorium darah dan penyedotan cairan sendi, dan memberikan antibiotik melalui infus. Pembedahan untuk membersihkan sendi juga penting untuk dilakukan.

  1. Osteomielitis

Osteomielitis adalah penyakit infeksi pada tulang. Penyakit ini seringkali terjadi karena penyebaran bakteri dari aliran darah yang berasal dari trauma benturan atau infeksi pada area tersebut. Jika terjadi pada tulang paha sebelah atas, maka dapat menimbulkan gejala nyeri panggul. Area panggul akan teraba bengkak, hangat, dan nyeri saat ditekan. Segala bentuk gerakan dari sendi panggul akan terasa nyeri. Gejala demam dapat ditemukan namun dapat juga tidak.

(https://www.uhhospitals.org/health-information/health-and-wellness-library/article/healthsheets-v1/when-your-child-has-osteomyelitis)

Dokter biasanya akan memeriksa tanda-tanda infeksi di sampel darah, serta mencari tanda-tanda perubahan tulang dari rontgen dan MRI. Pemberian antibiotik dapat memberikan perbaikan dalam 48 jam, terutama pada penyakit yang dideteksi awal. Namun jika infeksi sudah berat atau bahkan ada sekumpulan nanah didalam tulang, maka pembedahan untuk membersihkan jaringan dan jaringan tulang perlu dilakukan.

  1. Slipped capital femoral epiphysis (SCFE)

Pada anak-anak, terutama yang kegemukan, seringkali ditemukan pergeseran lempeng pertumbuhan. Area panggul merupakan area yang memiliki kemiringan dan sekaligus menumpu sekitar separuh beban tubuh. Itu sebabnya, lempeng pertumbuhan (epifisis) pada area inilah yang rentan tergeser (selip). Penyakit ini paling sering ditemukan pada anak laki-laki yang kegemukan/obesitas pada usia 10-16 tahun.

https://www.uwhealthkids.org/kidshealth/en/teens/scfe.html/

Nyeri yang dirasa oleh anak dapat menjalar dari panggul ke lutut, dapat hilang timbul dengan lama mingguan hingga bulanan. Terkadang sang buah hati dapat merasa lebih nyaman duduk dengan kaki disilang. Untuk mencegah pergeseran yang lebih lanjut, biasanya dokter dapat melakukan pembedahan pemasangan implant sebagai penahan.

  1. Legg-Calvé-Perthes disease (LCPD)

Penyakit LCPD ini adalah kerusakan area pertumbuhan pada tulang panggul yang disebabkan oleh aliran darah yang tidak mencukupi. Hingga saat ini penyebabnya belum diketahui, namun beberapa faktor risikonya termasuk riwayat trauma (benturan), riwayat keluarga, berat badan rendah, kelainan proses persalinan, paparan asap rokok dari keluarga serumah, dan ras asia. Nyeri biasanya cukup kuat dan semakin meningkat, sehingga panggul menjadi kaku dan menyebabkan anak berjalan pincang.

https://www.mountnittany.org/articles/healthsheets/7357

Jika penyakit ini ditemukan sebelum usia 6 tahun biasanya memiliki perkembangan yang baik namun perlu diperiksa secara berkala sampai usia 8 tahun oleh dokter. Lama penyembuhan juga bervariasi antara 2-5 tahun. Pengobatan ditujukan untuk mengurangi gejala nyeri, mengembalikan lingkup gerak, dan memastikan sendi panggul tetap terjaga pada tempatnya dengan bantuan obat-obatan hingga alat bantu seperti tongkat, gips, atau brace. Bila anak sudah berusia diatas 8 tahun, dapat dilakukan pembedahan jika terjadi kelainan bentuk tulang yang berat.

  1. Displasia panggul

Displasia panggul merupakan gangguan perkembangan sendi panggul dimana area mangkok sendi panggul berbentuk dangkal atau tidak cukup cekung dan menyebabkan sendi panggul mudah bergeser. Penyakit ini sering ditemukan pada saat bayi baru lahir, dan yang menjadi faktor risikonya antara lain anak pertama, perempuan, lahir sungsang, atau riwayat keluarga.

https://www.eugenepeds.com/medical-illustrations/hip-dysplasia/attachment/medical-illustration-hip-dysplasia/

Berbagai macam pemeriksaan tambahan radiologi seperti USG, rontgen, atau artrogram mungkin perlu dilakukan. Tergantung usia anak dan keparahan kelainan bentuk tulang, jenis tatalaksana untuk penyakit ini bervariasi mulai dari penggunaan brace, gips, hingga pembedahan.

  1. Multiple Epiphyseal Dysplasia (MED)

Penyakit MED terjadi oleh karena kegagalan pembentukan lempeng pertumbuhan sekunder (epifisis). Pada kondisi ini, tulang tumbuh lebih pendek dari normal sehingga menimbulkan panjang tungkai yang tidak proporsional. Lama-kelamaan, ketidakseimbangan ini akan menimbulkan perubahan pada gaya berjalan dan mencetuskan nyeri pada panggul karena beban tubuh yang tidak seimbang.

MED adalah kelainan genetik (bawaan) dan dapat terjadi pada tulang paha dan lengan. Pengobatan penyakit ini lebih ditujukan pada keluhan nyeri dan kelainan bentuk (deformitas) tulang. Jika kelainan bentuk tidak terlalu parah, dokter akan menunggu perkembangannya sampai akhir masa pertumbuhan. Namun bila berat, pembedahan akan disarankan.

  1. Juvenile idiopathic arthritis

Penyakit genetik ini paling sering ditemui pada anak-anak di bawah usia 16 tahun dan bersifat autoimun, yang artinya sistem kekebalan tubuh berbalik menyerang diri sendiri. Walaupun paling sering menyerang sendi lutut, namun penyakit ini dapat juga menyerang sendi panggul. Anak biasanya mengeluhkan nyeri sendi, tampak ruam di kulit, demam yang hilang timbul, kaku sendi di pagi hari, infeksi lapisan jantung, nyeri atau kelainan bentuk leher, atau gangguan penglihatan.

Gambaran kerusakan sendiri baru akan terlihat bila sudah pada tahap lanjut. Pada pemeriksaan laboratorium didapati positif ANA dan terkadang positif rheumatoid factor. Untuk menekan proses penyerangan sistem kekebalan tubuh, dokter biasanya akan meresepkan obat khusus seperti DMARD (disease modifying antirheumatic drugs). Lalu tergantung dari kerusakan yang terjadi pada sendi, dokter mungkin perlu melakukan tindakan pembedahan.

  1. Transient synovitis

Setiap sendi manusia memiliki lapisan pembungkus yang disebut synovium dan bila terjadi peradangan pada jaringan ini seringkali akan mencetuskan rasa nyeri. Penyebabnya hingga saat ini belum diketahui, namun dapat dipengaruhi oleh infeksi virus, bakteri, alergi, sampai trauma. Anak biasanya merasakan nyeri pada area pangkal paha atau selangkangan sehingga tidak mau berjalan, atau mampu berjalan walaupun pincang. Biasanya anak merasa lebih nyaman pada posisi mengangkang.


(http://www.orthohyd.com/home/know-your-disease/transient-synovitis)

Secara keseluruhan transient synovitis bukanlah penyakit yang gawat atau berat. Walaupun dapat sembuh dalam beberapa hari hingga 1-2 minggu dengan bantuan obat-obatan, sangat penting bagi dokter untuk memastikan nyeri bukan disebabkan oleh infeksi (septik artritis) melalui berbagai pemeriksaan penunjang sesuai indikasi.

Editor: dr. Nurul Larasati

Referensi:

Houghton KM. Review for the generalist: evaluation of pediatric hip pain. Pediatr Rheumatol Online J. 2009; 7: 10.

LOW BACK PAIN (LBP) / NYERI PINGGANG BAWAH

oleh dr. Selly Christina Anggoro, SpKFR

Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

 

Haloo Keluarga Kejora.. Semoga sehat selalu..

Keluarga Kejora, apakah Anda pernah merasakan nyeri di pinggang bagian bawah? Jika Anda memiliki keluhan nyeri pinggang bawah (LBP), Anda tidak sendirian. Hampir 80% orang dewasa mengalami LBP pada masa tertentu semasa kehidupannya. Hal ini menyebabkan gangguan dalam pekerjaan dan peranan kita sehari-hari.

Nah..mari kita bahas lebih lanjut.

 

Seperti apakah LBP itu?

Pria dan wanita mengalami angka kejadian LBP yang hampir sama, bervariasi dari nyeri tumpul, konstan hingga nyeri yang mendadak serta nyeri tajam yang sangat mengganggu. Nyeri dapat timbul tiba-tiba akibat kecelakaan atau mengangkat sesuatu yang berat, atau bertambah secara bertahap sesuai dengan perubahan degeneratif pada tulang belakang akibat bertambahnya usia. Pola hidup sedentari (tidak banyak gerak) juga dapat mencetuskan LBP, akibat beban berlebih pada tulang belakang.

 

Berdasarkan durasinya LBP dapat terjadi secara akut apabila terjadi kurang dari 4 minggu, subakut, hingga kronis yaitu terjadi lebih dari 3 bulan. Pada umumnya sebagian nyeri dapat sembuh sendiri tanpa menyebabkan gangguan fungsi sehari-hari. Namun, ada juga kasus LBP yang berat dan dapat mengganggu aktivitas harian sehingga membutuhkan penanganan yang lebih serius.

 

Apakah penyebab terjadinya LBP?

Penyebab LBP dapat dibedakan menjadi mekanikal, nonmekanikal, dan nyeri pinggang rujukan. Masalah mekanik atau muskuloskeletal merupakan penyebab 90% kasus, dimana 75% nya tidak memiliki penyebab spesifik melainkan akibat terjadinya otot terkilir atau cedera pada ligamen. Penyebab nyeri pinggang mekanik lainnya adalah degenerasi pada sendi, diskus atau cakram tulang belakang akibat proses penuaan, serta herniasi atau robekan diskus yang biasa dikenal sebagai saraf terjepit (herniated nucleous pulposus).

Penyebab nonmekanik antara lain adanya tumor, radang sendi atau infeksi pada struktur sekitar tulang belakang. Sedangkan nyeri pinggang rujukan dapat diakibatkan oleh penyakit pada organ dalam tubuh, seperti kantong empedu, batu ginjal, infeksi ginjal, aneurisma aorta, dll. Tidak jarang, nyeri pinggang dapat pula disebabkan oleh masalah sistemik ataupun psikologis, seperti fibromyalgia dan penyakit somatik.

Adanya kondisi darurat (red flags) pada kasus LBP pada Tabel 1 di bawah ini dapat mengindikasikan keadaan darurat yang harus segera mendapatkan pertolongan medis. Pada kondisi yang tertera di Tabel 1, umumnya akan dilakukan pemeriksaan penunjang medis lain seperti halnya pemeriksaan radiologis pencitraan (MRI atau CT) ataupun pemeriksaan neurologis sesuai kebutuhan.

 

Tabel 1. Kondisi darurat kasus LBP

 

Riwayat Gejala pada pemeriksaan fisis
Kanker Gangguan sensasi pada area panggul
Berat badan turun Hilangnya kontrol BAB
Penggunaan steroid Kelemahan otot pada anggota gerak bawah
Infeksi saluran kemih Demam
Nyeri tidak berkurang dengan istirahat Nyeri tulang belakang
Demam Gangguan lingkup gerak tulang belakang
Riwayat trauma (jatuh, angkat beban berat) Gangguan neurologis menetap lebih dari 1 bulan
BAK dan BAB tidak tertahan atau tidak lancar

 

 

Bagaimanakah pengobatan LBP?

Apakah penyebab terjadinya LBP?

Pengobatan LBP bergantung pada penyebabnya. Secara umum pembedahan direkomendasikan hanya bila terdapat bukti perburukan kerusakan saraf atau bila diperlukan koreksi struktural pada tulang belakang. Terapi konvensional yang paling sering digunakan pada kasus LBP adalah penggunaan Hot atau cold packs, imobilisasi atau mengistirahatkan area sekitar tulang belakang untuk sementara, disertai dengan terapi latihan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi nyeri. Latihan peregangan dan tetap aktif dalam melakukan aktivitas harian normal dengan mengurangi posisi atau gerakan yang mencetuskan nyeri dapat dimulai sedini mungkin.

 

Apakah penyebab terjadinya LBP?

Bukti penelitian menunjukkan bahwa mereka yang tetap melanjutkan aktivitas rutin tanpa bed rest berkepanjangan pada kasus LBP nampaknya memiliki fleksibilitas tulang belakang yang lebih baik dibandingkan yang melakukan bed rest selama satu minggu. Studi lain membuktikan bahwa bed rest saja bahkan dapat memperberat kondisi nyeri tulang belakang dan menyebabkan munculnya komplikasi sekunder seperti depresi, berkurangnya tonus otot, dan penggumpalan darah pada tungkai.  Latihan penguatan otot utama di sekitar tulang belakang sangat penting dan efektif untuk mempercepat pemulihan pada kasus LBP. Demikian pula halnya latihan koordinasi dan fleksibilitas, perbaikan postur serta keseimbangan otot.

 

Apakah penyebab terjadinya LBP?

Penggunaan obat pengurang nyeri over the counter (OTC) terkadang berbahaya karena tingkat keamanan obat serta interaksi dan efek samping obat yang membutuhkan pertimbangan medis lebih lanjut. Obat anti-inflamasi nonsteroid, opioid, antikonvulsan, antidepresan atau obat anti nyeri topikal dapat diresepkan sesuai kebutuhan pasien. Penggunaan modalitas terapi seperti diatermi, traksi, biofeedback,Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS), akupunktur serta injeksi dan blok saraf dapat pula dipertimbangkan pada kondisi LBP yang menetap dan lebih serius.

 

Apakah penyebab terjadinya LBP?

Editor : drg. Sita Rose Nandiasa

 

Apakah penyebab terjadinya LBP?

Referensi:

  1. Bratton, Robert L. Assessment and Management of Acute Low Back Pain. Diunduh dari: https://www.aafp.org/afp/1999/1115/p2299.html
  2. National Institute of Neurological and Stroke. Low Back Pain Fact Sheet. Diunduh dari: https://www.ninds.nih.gov/DISORDERS/PATIENT-CAREGIVER-EDUCATION/FACT-SHEETS/LOW-BACK-PAIN-FACT-SHEET
  3. Manusov EG (September 2012). “Evaluation and diagnosis of low back pain”. Care. 39 (3): 471–9. doi:10.1016/j.pop.2012.06.003

Mengenal Cerebral Palsy

 

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, SpOT, BMedSc

Dokter Spesialis Orthopedi

 

Salam sehat, Ayah dan Ibu Kejora! Dua tahun pertama anak adalah masa perkembangan yang pesat dan krusial. Gangguan perkembangan yang terjadi pada periode tersebut dapat berdampak besar pada masa depannya. Pada anak yang mengalami keterbatasan permanen dalam hal pergerakan dan postur, Ayah dan Ibu perlu memeriksakannya ke dokter untuk diteliti karena ada kemungkinan ia menderita cerebral palsy, atau yang sering disingkat sebagai CP. Saat ini CP merupakan salah satu penyebab disabilitas yang paling sering ditemukan pada anak-anak di dunia.

Selain disebabkan oleh kelainan genetik, infeksi saat kehamilan dan persalinan (walau jarang sekali), CP juga seringkali disebabkan oleh gangguan perkembangan pada usia 2 tahun pertama atau kerusakan pada area tertentu di organ otak sang anak, misalnya karena benturan kepala atau infeksi otak. Bentuk permasalahan disabilitas yang biasa dialami oleh anak dengan CP antara lain:

    • Kesulitan untuk mobilisasi
    • Kelemahan tangan/kaki
    • Kekakuan anggota badan tertentu
    • Koordinasi gerak yang buruk
    • Sulit untuk mengontrol gerakan
    • Mudah gemetar
    • Refleks yang lambat
    • Keseimbangan yang buruk.

Anggota badan yang paling sering terkena adalah area panggul, tulang belakang, dan tungkai bawah. Penyakit CP dapat diklasifikasikan berdasarkan:

    1. Bagian tubuh yang terkena (quadriplegi, hemiplegi, diplegi, atau monoplegia), atau
    2. Gangguan pola gerakan tubuh yang diderita (spastik, hipotoni, atetosis atau ataksik).

Gangguan lain yang mungkin dapat diderita juga oleh anak dengan CP antara lain:

    • Gangguan dalam berbicara, pendengaran, dan penglihatan
    • Epilepsi
    • Kesulitan belajar, makan dan menelan
    • Penyakit yang berhubungan dengan saluran cerna, infeksi paru berulang, kesulitan mengontrol air liur, penyakit tulang otot dan sendi
    • Masalah tingkah laku
    • Tingkat kecerdasan (walau dapat sangat bervariasi mulai dari sangat buruk hingga normal).

Mendiagnosis CP terutama pada usia sebelum 12 bulan adalah hal yang tidak mudah dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Anak dengan kecacatan motorik permanen hingga usia 5 tahun dapat dicurigai memiliki CP. Kerusakan otak pada CP tidak bersifat progresif atau tidak memburuk seiring dengan usia. Artinya, ketidakmampuan sang anak untuk mengontrol gerakan tubuhnya akan tetap sama sepanjang hidupnya. Akan tetapi, permasalahan tumbuh kembang akan muncul seiring dengan pertumbuhan tulang dan otot.

Merawat Anak Dengan CP

Sampai sekarang belum ada terapi yang dapat menyembuhkan CP. Program penanganan CP pun bersifat personal alias berbeda untuk setiap penderita. Penanganan penyakit CP berfokus pada permasalahan mobilitas, kualitas hidup, dan pengontrolan otot. Deteksi awal dan penanganannya penting untuk hasil terapi yang lebih baik dan membantu sang anak mencapai potensi terbaiknya.

Merawat anak dengan CP memiliki tantangannya tersendiri. Sebagai orang tua atau keluarga dari anak yang memiliki CP, pemahaman mengenai penyakitnya serta dukungan sangatlah penting. Terapi berupa kolaborasi tim antara pasien, keluarga, dan petugas kesehatan yang terdiri mulai dari dokter, fisioterapis, terapi okupasi, terapi wicara, perawat, ahli nutrisi hingga guru khusus.

Kesulitan yang biasa dihadapi dalam merawat anak dengan CP adalah dalam hal kekakuan atau kelemahan otot, nyeri, tidur, makan, menelan, dan nutrisi. Terapi modern berupa terapi oksigen hiperbarik atau terapi sel punca juga dapat menjadi pilihan, walaupun terapi-terapi tersebut masih dalam tahap evaluasi.

Program perawatan anak yang diusung oleh Rosenbaum dan Gorter mengedepankan 6 tujuan utama dalam merawat anak dengan CP:

    • Function: membantu anak dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan baik, misalnya dengan menyediakan alat bantu gerak.
    • Family: keluarga memiliki peran penting dalam memberikan dukungan dan bantuan.
    • Fitness: sang anak harus tetap sehat dan aktif dengan segala keterbatasannya.
    • Fun: membuat masa kanak-kanak tetap menyenangkan.
    • Friends: pergaulan sosial tetaplah penting untuk menstimulasi perkembangan anak.
    • Future: mempersiapkan masa depan yang baik dengan merancang target dan harapan.

Ayah dan Ibu, penanganan sedini mungkin yang tepat dan melibatkan tim suportif dari berbagai pihak dapat memberikan kesempatan yang baik bagi sang anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Carilah komunitas, baik online atau offline, dimana Ayah dan Ibu dapat bertukar informasi dan juga mendapatkan dukungan yang positif. Ayah dan Ibu yang positif akan memberikan energi positif juga pada anak. Yuk, Ayah dan Ibu, kenali cerebral palsy dan Bersama-sama kita bantu orang-orang yang kita sayangi.

Sumber:
Graham D, Paget SP, Wimalasundera N. Current thinking in the health care management of children with cerebral palsy. Med J Aust. 2019 Feb;210(3):129-135. doi: 10.5694/mja2.12106. Epub 2019 Feb 10.

 

Osteosarkoma: Kanker Tulang pada Anak

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, SpOT, BMedSc

Dokter Spesialis Orthopedi

Halo, Keluarga Sehat Kejora! Beberapa saat yang lalu cukup banyak beredar berita orang-orang terkenal yang didiagnosis dengan berbagai macam jenis kanker, bahkan anak kecil sekalipun. Apakah kanker benar bisa mengenai semua umur dan dapat diketahui sedari dini? Jenis kanker seperti apa ya yang juga sering mengenai anak-anak selain kanker darah yang ramai dibicarakan? Mari kita simak ulasannya ya, Ayah dan Ibu.

Tahukah Ayah dan Ibu Kejora, disaat sel tubuh tumbuh diluar batas normal, sel tersebut dapat berkembang menjadi sebuah benjolan atau tumor. Tumor sendiri dapat dibedakan menjadi tumor jinak dan tumor ganas yang lebih sering kita kenal sebagai kanker. Sayangnya, kanker tidak mengenal batasan usia dan dapat menyerang sang buah hati. Osteosarkoma adalah kanker tulang yang paling sering ditemui pada kelompok usia di bawah 25 tahun. Tidak jarang kanker ini mengenai kelompok usia anak-anak, terutama usia remaja, dikarenakan kanker ini muncul ketika masa pesat pertumbuhan. Osteosarkoma juga lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dibanding perempuan.

Selain faktor resiko tersebut, ada beberapa faktor lainnya yang dapat menyebabkan peningkatan resiko munculnya kanker ini seperti adanya penyakit genetik, sindroma genetik, mutasi genetik, paparan radiasi, dll. Perlu diketahui bahwa kejadian patah tulang yang tidak diobati bukanlah penyebab timbulnya tumor ini. Akan tetapi, kasus patah tulang dapat membuat penyakit osteosarkoma terdeteksi secara kebetulan, yaitu pada saat dilakukan pemeriksaan lengkap oleh dokter.

Apa saja gejala osteosarkoma?

Awal gejala dari penyakit ini adalah rasa nyeri pada area yang terkena. Nyeri ini dirasa dalam di tulang, lebih berat di malam hari hingga menyebabkan anak terbangun dari tidurnya, atau pada saat berolahraga hingga membatasi aktivitas. Kemudian gejala tersebut diikuti dengan munculnya benjolan keras pada salah satu bagian anggota tubuh. Benjolan ini membesar dengan sangat cepat dalam hitungan mingguan. Anggota tubuh yang paling sering terkena adalah sekitar lutut dan lengan atas hingga bahu.

Gejala penyertanyanya termasuk anak menjadi lebih lemah, malas/ tidak nafsu makan, tidak aktif, pucat, bahkan semakin kurus. Jika kanker sudah menyebar (metastasis), area penyebaran utamanya adalah paru-paru, sehingga sang anak bisa merasa sesak nafas. Walaupun anggota tubuh tampak membesar, namun kondisi tulang menjadi lebih lemah, sehingga sangat rentan untuk patah.

Mendeteksi osteosarkoma

Untuk mendiagnosa osteosarkoma, dokter akan mencatat riwayat benjolan tersebut dan penyakit lain yang diderita sang anak, memeriksa kondisi benjolan, dan akan dilakukan rontgen. Jika dari hasil rontgen dicurigai suatu keganasan, maka pemeriksaan lanjutan berupa laboratorium darah, MRI dengan kontras, dan biopsi (pengambilan sampel jaringan) dapat dilakukan untuk mengetahui jenis sel kanker yang ada. Semua hasil pemeriksaan tersebut sangatlah penting untuk menentukan jenis terapi yang dapat dilakukan kepada sang buah hati.

Deteksi dan diagnosis awal kanker tulang adalah penting, terutama untuk mencegah komplikasi penyakit menjadi stadium lanjut, penyebaran kanker, dan menentukan terapi. Semakin dini deteksinya, semakin tinggi tingkat keberhasilan terapinya. Akan tetapi, masalah kesehatan yang kompleks dan tingkat komplikasi penyakit yang cukup tinggi dari kanker ini membuat dokter tidak dapat terburu-buru dalam menatalaksana penyakit ini. Pemeriksaan menyeluruh, lengkap, perencanaan yang baik, dan kerjasama multidisiplin dengan spesialis lain juga diperlukan. Tingkat kesintasan dari penyakit ini jika terdeteksi dini dan diterapi bisa mencapai 60-80 persen.

Mengobati osteosarkoma

Penatalaksanaan dari osteosarkoma biasanya diawali dengan kemoterapi, lalu dilanjutkan dengan operasi pembedahan pembuangan tumor, dan diakhiri dengan kemoterapi kembali. Jenis operasi yang dapat dilakukan tergantung dari jenis dan stadium osteosarkoma ini, mulai dari pembuangan tumornya saja hingga amputasi. Walau mungkin terdengar menyeramkan, namun apa pun jenis terapi yang dipilih oleh dokter bertujuan untuk menyelamatkan nyawa sang buah hati.

Ayah dan Ibu Kejora, jangan menunda memeriksakan si buah hati bila tampak adanya benjolan yang tidak biasa. Dengan melakukan deteksi dini, kita dapat menyelamatkan sebuah kehidupan yang sangat berharga.

Editor: dr. Nurul Larasati

Referensi

https://link.springer.com/article/10.1007/s40744-016-0046-y
https://www.cancer.org/cancer/osteosarcoma/about/what-is-osteosarcoma.html
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/osteosarcoma/symptoms-causes/syc-20351052

Serba-Serbi Tas Sekolah Anak

oleh dr. Selly Christina Anggoro, SpKFR

Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

 

Halo Keluarga Kejora!

Ayah dan Ibu Kejora pastinya sudah tahu akan tingginya tuntutan kurikulum dan jam sekolah yang panjang saat ini telah menuntut anak sekolah untuk mempersenjatai diri dengan berbagai benda yang harus dibawa setiap hari di dalam tasnya. Seperti contohnya adalah buku-buku, pakaian olahraga, bekal makanan dan minuman, tugas-tugas ketrampilan, bahkan laptop atau tablet. Barang tersebut sudah menjadi hal umum yang ditemukan di dalam tas seorang anak sekolah.

Lantas, tas seperti apakah yang sebaiknya dipilih untuk anak? Ayah dan Ibu Kejora, mari kita simak ulasannya..

 

Seperti apakah kriteria tas yang baik?

Pemilihan tas ransel dengan dua tali bahu tentunya lebih baik ketimbang tas sandang/tas selempang. Karena pada tas sandang/tas selempang seluruh beban tas tersebut akan dipikul pada satu bahu saja, sedangkan pada tas ransel dengan dua tali bahu, beban akan didistribusikan secara lebih merata pada tulang belakang anak. Beberapa artikel kesehatan dan penelitian menunjukkan tas sekolah yang terlalu berat dapat menimbulkan risiko timbulnya berbagai keluhan medis pada tubuh pemikulnya terutama pada anak-anak. Bentuk keluhan yang terjadi dapat berupa kaku otot dan leher, kemiringan pada tulang belakang,1 maupun nyeri pada punggung (back pain).2

 

Berapakah berat tas yang diperbolehkan?

Belum ada batasan yang mutlak dan pasti mengenai standard berat tas yang diperbolehkan. Gabungan dari studi dan artikel-artikel yang ada selama ini menunjukkan variasi berat maksimal tas yang diperbolehkan berkisar antara 5-20% berat badan anak pada penggunaan tas ransel.3 Sementara pada penggunaan tas dengan satu tali berat yang diperbolehkan hanya setengahnya saja.1

 

Bagaimanakah cara memilih dan menggunakan tas yang baik?

Berikut adalah rekomendasi dari American Chiropractic Association mengenai pemilihan dan penggunaan tas ransel yang baik untuk anak dan dapat dianjurkan ke orang tua.4

  1. Bantulah anak untuk mengemas tasnya setiap hari, dan pastikan mereka tidak membawa beban lebih dari 5-10% berat badannya. Sebagai contoh apabila berat anak 20 kg, maka beban yang dibawa di dalam tas ransel mereka sebaiknya tidak melebihi 2 kg.
  2. Pilihlah ransel yang ukurannya sesuai. Ransel berukuran besar akan memungkinkan anak membawa beban yang lebih banyak dari yang ia mampu, dan ini memerlukan kehati-hatian dari orangtua.
  3. Panjang dan lebar ransel sebaiknya tidak melebihi batang tubuh (dada dan perut) anak dan tidak menggantung lebih dari 10 cm di bawah garis pinggang. Bila menggantung terlalu berat maka akan meningkatkan beban di pundak.
  4. Pilih ransel yang tali bahunya memiliki bantalan lebar di pundak dan dapat diatur panjang dan kekencangannya. Ransel yang menggantung dengan tidak pas dapat menyebabkan posisi tulang belakang menjadi tidak lurus dan menimbulkan rasa nyeri.
  5. Ransel dengan bantalan punggung akan lebih nyaman dipakai dan melindungi punggung anak dari benda-benda tajam seperti ujung pensil / pulpen, tepian buku dan penggaris.
  6. Gunakan tali pinggang yang ada pada ransel agar berat beban bisa didistribusikan secara merata tidak hanya ke bahu dan punggung tapi juga ke seluruh batang tubuh dan pinggul.
  7. Ransel dengan kompartemen khusus dapat membantu memposisikan benda-benda di dalamnya secara lebih efektif, pastikan benda yang berat dimasukkan ke dalam kompartemen yang paling dekat dengan tubuh.
  8. Bila mungkin, tanyakan kepada guru sekolah anak, apakah dapat meninggalkan buku atau benda yang cukup berat di sekolah saja, dan hanya membawa pulang benda-benda yang penting saja.
  9. Selalu ingatkan anak untuk menggunakan kedua tali bahu secara benar dan tanyakan pada anak secara berkala apakah ada rasa nyeri akibat membawa tas mereka. Dan bila ada nyeri yang terus berlangsung segera hubungi dokter untuk berkonsultasi.

Editor : drg. Sita Rose Nandiasa

Referensi:

  1. Hong Y, Fong DT, Li JX. 4. The effect of school bag design and load on spinal posture during stair use by children [abstract]. Ergonomics. 2011 Dec;54(12):1207-13.
  2. Oviedo PR, Ravina AR, Rios MP, et all. School children’s backpacks, back pain and back pathologies. Archives of Diseases in Childhood. 2012;97:730-732.
  3. Dockrell S, Simms C, Blake C. Schoolbag weight limit: can it be defined?[Abstract]. Journal of School Health. 2013 May;83(5):368-77.
  4. American Chiropractic Association. Backpack Safety Tips. Diunduh dari https://www.acatoday.org/Patients/Health-Wellness-Information/Backpack-Safety

Anak dengan Clubfoot (Kaki Pengkor)

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, SpOT, BMedSc

Dokter Spesialis Orthopedi

Halo, Ayah dan Ibu Kejora! Pernah dengar sebutan kaki pengkor? Sebenarnya sebutan medis untuk penyakit ini adalah clubfoot atau congenital talipes equniovarus (CTEV), namun memang di masyarakat lebih dikenal sebagai kaki pengkor. Apakah bisa diperbaiki? Mari simak artikel berikut ya, Ayah dan Ibu.

Clubfoot adalah kelainan yang penyebabnya sampai sekarang masih belum diketahui dengan jelas, walaupun ada teori yang mengatakan berkaitan dengan genetik. Kelainan ini dapat terjadi pada salah satu atau kedua kaki. Namun, penyakit ini juga dapat terjadi bersamaan dengan penyakit kelainan di bagian tubuh lainnya, misalnya kelainan pada anggota tubuh bagian atas, atau tulang belakang. Clubfoot biasanya terjadi sejak bayi baru lahir, namun juga dapat terjadi saat anak sudah besar karena adanya ketidakseimbangan kekuatan otot, misalnya pada anak dengan cerebral palsy.

Kelainan kaki pada clubfoot akan mempengaruhi seluruh bagian dari kaki, yaitu bagian depan (forefoot), tengah (midfoot), dan belakang (hindfoot). Telapak kaki sang buah hati akan terlihat berputar ke arah dalam dan ke bawah, sedangkan jari-jari kakinya mengarah ke sisi dalam, dan tungkai yang terkena juga cenderung lebih kecil. Kelainan utama dari penyakit ini merupakan kelainan dari otot dan urat di sekitar kaki yang kaku dan tegang, bukan kelainan tulang. Namun, karena kekakuan dan penegangan ini, tulang-tulang di kaki menjadi tertarik ke sisi dalam. Kelainan ini dapat dideteksi dini saat sang bayi masih berada di dalam janin, dengan tingkat keakuratan yang tinggi apabila dilakukan pada saat trimester kedua. Akan tetapi tindakan diagnostik ini bukan untuk mengobati dini, melainkan ditujukan agar sang ibu dan keluarga dapat mempersiapkan diri pada saat sang bayi lahir serta menyusun rencana pengobatan segera setelah bayi lahir.

Karena kelainan pada clubfoot merupakan kelainan otot dan urat, setiap kelainan ini diperlukan perbaikan secara bertahap. Waktu terbaik untuk dilakukan penatalaksanaan ini adalah saat sang bayi masih berusia 1-2 minggu. Metode penatalaksanaan clubfoot diperkenalkan pertama kali oleh Profesor Ignacio Ponsetti dari Universitas Iowa, Amerika Serikat. Metode Ponsetti ini meliputi koreksi kelainan bentuk kaki dengan menggunakan gips. Gips ini dipakaikan selama 7 hari, dan akan dipakaikan kembali berulang sampai sekitar 5-6 kali.

Pada akhir periode pemasangan gips, kelainan bentuk kaki ini akan dievaluasi oleh dokter Orthopaedi apakah kelainan bentuk tersebut dapat terkoreksi dengan mudah dan baik. Apabila pemakaian gips serial kurang bisa mengoreksi kelainan bentuk tersebut, maka perlu dilakukan tindakan bedah untuk memanjangkan urat tendon Achilles, yakni urat di belakang tumit kaki. Tindakan bedah ini memerlukan bius total agar sang bayi tenang, namun tindakan bedah dilakukan dengan sayatan yang minimal.

Setelah tindakan operasi, kaki sang buah hati akan perlu dipasang gips kembali sekitar 2-3 minggu untuk mempertahankan posisi. Setelah periode tersebut, sang bayi akan dibuatkan alat khusus (Dennis Brown brace) agar dapat membantu mempertahankan posisi kaki. Pada awalnya, alat khusus ini akan dipakai selama hampir satu hari penuh, namun waktu pemakaian alat akan dikurangi seiring dengan perbaikan bentuk kaki. Alat ini perlu dipakai hingga usia 4 tahun.

Dennis Brown Brace

Sebagai orang tua, kesabaran dan kepatuhan terhadap instruksi dokter adalah kunci dari penanganan clubfoot ini. Penyakit ini tidak dapat dicegah karena penyebabnya yang belum diketahui secara pasti. Namun, bila diabaikan, sang buah hati akan mengalami kesulitan dan rasa nyeri saat berjalan. Konsekuensinya, anak akan menolak untuk belajar berjalan. Maka dari itu, peranan orang tua sangat penting untuk mendukung kesembuhan sang buah hati.

Editor: dr. Nurul Larasati

Referensi:

  1. Jowett C. R., Morcuende J. A., Ramachandran M. Management of congenital talipes equinovarus using the Ponseti method. The Journal of Bone and Joint Surgery. British volume 2011 93-B:9, 1160-1164.
  2. Siapkara A., Duncan R. Congenital talipes equinovarus: A Review of Current Management. The Journal of Bone and Joint Surgery. British volume 2007 89-B:8, 995-1000

 

Pentingnya Memperhatikan Tulang Panggul Anak

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, BMedSc

Dokter Umum

Halo, Ayah dan Ibu! Kali ini kita akan membahas mengenai tulang panggul si kecil yang kadang terlewati untuk diperhatikan. Apakah Ayah dan Ibu juga tahu bahwa membedong dapat memperberat kondisi bayi dengan kelainan tulang panggul? Yuk, kita simak bersama.

Pembentukan dan perkembangan sel tulang yang tidak beraturan disebut juga sebagai displasia dalam bahasa medis. Bila hal ini terjadi pada tulang panggul, maka disebutnya displasia panggul atau Developmental Dysplasia of the Hip (DDH). Displasia panggul merupakan kondisi dimana sendi panggul menjadi longgar dan tidak stabil. Gangguan ini dapat muncul dan berkembang setelah kelahiran dengan derajat keparahan yang variatif. Displasia panggul cukup sering ditemukan pada bayi baru lahir, terutama pada anak pertama, jenis kelamin perempuan, atau memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit yang sama.

Dislokasi sendi panggul (tulang keluar dari engselnya), nyeri, kelainan bentuk, tungkai pendek sebelah, tidak stabil berjalan adalah beberapa konsekuensi yang dapat terjadi apabila displasia panggul tidak ditangani dengan baik. Bahkan, kondisi ini akan mempengaruhi dampak buruk bagi struktur tulang lainnya. Kelainan itu akan mempengaruhi aktivitas sang anak sehari-hari serta kualitas hidup yang buruk, dan pada akhirnya menyebabkan proses pengapuran sendi panggul dini.

Penyebab displasia panggul

Mengapa penyakit ini dapat terjadi? Hal ini disebabkan pada saat proses persalinan dimana tubuh sang ibu akan melepaskan hormon yang membuat otot dan ligamen bayi menjadi lentur agar dapat melewati jalan lahir. Pada beberapa bayi yang sangat responsif terhadap hormon ini, otot dan ligamennya akan menjadi terlalu lentur walau kualitas tulang bayi sebenarnya sudah bersifat empuk dan fleksibel. Alhasil, kelahiran bayi, terutama dengan posisi sungsang (presentasi bokong), memiliki resiko lebih besar untuk terjadinya displasia panggul ini.

Gambar 1: (Kiri) Posisi normal bayi dalam kandungan, (Kanan) Posisi bayi lahir sungsang

Pembedongan bayi

Terkadang gangguan pada bayi tidak seberapa dan menyebabkan tidak terdeteksinya pada saat segera setelah lahir. Namun, oleh karena faktor perawatan dan alat-alat yang kita gunakan terhadap sang bayi, displasia panggul dapat menjadi lebih parah. Contoh tindakan yang paling sering adalah pembedongan. Bayi dengan kecurigaan displasia panggul tidak direkomendasikan untuk dibedong. Tindakan pembedongan yang terlalu kencang menyebabkan tungkai bayi dalam posisi “terpaksa” lurus. Hal ini dapat membuat otot dan ligamen yang menjaga kestabilan sendi panggul menjadi semakin tertarik. Mekanisme yang serupa juga dapat terjadi pada pemakaian alat gendong yang membuat tungkai sang buah hati dalam kondisi “terpaksa” lurus ini.

Gambar 2: Ilustrasi mekanisme terjadinya displasia panggul yang disebabkan oleh pembedongan

Gambar 3: Posisi menggendong bayi yang TIDAK dianjurkan karena dapat memicu displasia panggul

Gambar 4: Posisi menggendong bayi yang dianjurkan karena dapat mencegah displasia panggul

Deteksi dini

Seiring dengan pertumbuhan menjadi dewasa, tulang manusia akan menjadi semakin keras, otot dan ligamen pun semakin kencang dan kuat. Tulang panggul yang tumbuh dan berkembang secara normal akan sangat membantu dalam menjaga kestabilan sendi panggul. Oleh sebab itu, deteksi dini dari displasia panggul menjadi sangat penting agar dapat menghindari kelainan bentuk (deformitas) yang menetap. Semakin awal terdeteksi, penanganan terhadap penyakit ini semakin dapat diupayakan tanpa tindakan operasi. Walaupun, ada kalanya meskipun penanganan tanpa operasi sudah dilakukan, kelenturan yang sangat tinggi menyebabkan diperlukannya tindakan operasi.

Umumnya, setelah bayi lahir akan dilakukan “screening” atau “penyaringan” pada kondisi ini. Namun ada kalanya proses tersebut tidak menangkap kelainan displasia panggul saat baru lahir. Ayah dan Ibu Kejora yang merawat sang buah hati sehari-hari dapat membantu deteksi dini dengan memperhatikan gejala berikut:

  1. Bunyi klik pada area panggul. Hal ini dapat menandakan sendi panggul tidak stabil pada tempatnya.
  2. Panjang tungkai yang tidak sama. Gejala ini dapat dilihat dari perbedaan lipatan kulit di area bokong dan paha, atau dengan melihat tinggi lutut pada saat ditekuk. Hal ini menandakan sendi panggul yang tidak pada tempatnya sehingga tungkai yang sakit menjadi terkesan lebih pendek.

Gambar 5: Berbagai cara untuk mengevaluasi displasia panggul berdasarkan panjang tungkai

Pemeriksaan oleh dokter

Setelah menyadari adanya kelainan tersebut, bawalah sang buah hati ke dokter. Pemeriksaan fisik lebih lanjut oleh dokter disertai pemeriksaan rontgen dan ultrasonografi dapat mengkonfirmasi kestabilan sendi panggul. Tujuan dari terapi medis adalah mengupayakan agar sendi panggul tersebut dapat terjaga stabil pada tempatnya dan mencegah komplikasi. Berbagai macam terapi dapat diterapkan, mulai dari penggunaan baju kekang, gips, operasi pembedahan rekonstruksi otot/ligamen hingga tulang. Pilihan terapi ini tidak sama pada semua pasien, dan akan ditentukan oleh dokter tergantung pada usia saat terdeteksi penyakit dan stabilitas dari sendi panggul tersebut.

Ayah dan Ibu, mulai sekarang kita harus lebih perhatian dengan kondisi panggul si kecil ya. Pastikan juga kita tidak memaksakan penggunaan bedong bila si kecil dicurigai ada kelainan pada panggulnya dan segera diperiksakan ke dokter.

Referensi

Kotlarsky P, Haber R, Bialik V, Eidelman M. Developmental dysplasia of the hip: What has changed in the last 20 years? World J Orthop. 2015 Dec 18; 6(11): 886–901.