Pentingnya Nilai Keluarga dalam Mendidik Buah Hati

oleh Mellissa Catalina Trisnadi, M.Psi., Psikolog

Psikolog

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah keluarga Ayah dan Ibu memiliki nilai keluarga yang wajib dipegang teguh oleh seluruh anggota keluarga? Atau Ayah dan Ibu Kejora belum sempat memikirkan hal tersebut? Atau justru belum mengetahui ap aitu nilai keluarga? Kita kupas tuntas pada artikel berikut ini, yuk!

Nilai keluarga (family’s values) merupakan prinsip moral dan etika yang dijunjung tinggi dan menjadi dasar berperilaku anggota keluarga. Nilai-nilai keluarga melibatkan semua gagasan tentang bagaimana Ayah dan Ibu ingin menjalani kehidupan keluarga, apa yang penting dan tidak penting, apa yang baik dan buruk, apa yang benar dan salah. Seringkali nilai keluarga diturunkan dari generasi sebelumnya. Masing-masing pasangan suami istri memiliki nilai keluarga yang dibawa dari keluarganya masing-masing dan nilai itulah yang mereka ajarkan pada anak.

Bagaimana membangun nilai-nilai keluarga yang kuat dan mengajarkannya pada anak?

  1. Ketahui nilai-nilai apa yang penting dan ingin diwariskan pada buah hati.

Fokus pada karakter apa yang diinginkan dari buah hati dan buatlah daftar nilai keluarga singkat yang dapat diingat bersama.

  1. Temukan cara untuk mendiskusikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Tiap anak memiliki cara belajar yang unik sehingga orang tua perlu kreatif untuk mencari cara mendiskusikan nilai-nilai keluarga. Waktu bersama keluarga adalah waktu yang tepat untuk dapat saling berbagi cerita dan mengenalkan nilai-nilai keluarga pada anak. Ceritakan pengalaman Ayah dan Bunda dalam mempraktikan nilai kejujuran, kesopanan, kebaikan, agama ataupun lainnya. Ajak buah hati berdiskusi mana yang baik dan buruk ataupun apa yang sebaiknya dilakukan. Hal ini akan merangsang buah hati untuk mengembangkan nilai keluarga yang menjadi prinsipnya dalam bertingkah laku.

  1. Gunakan aktivitas dan pola asuh yang positif untuk memperkuat nilai-nilai tersebut.

Pola asuh merupakan bagian krusial dalam menanamkan nilai. Apabila Ayah dan Bunda ingin mengajarkan nilai kemandirian, maka fasilitasi aktivitas yang mendorong buah hati untuk mandiri seperti memilih baju sendiri, memilih kegiatan yang disukainya ataupun memberi kesempatan buah hati untuk mengatur keuangannya sendiri. Tentunya hal ini juga harus disesuaikan dengan tahap perkembangan buah hati Ayah dan Bunda.

  1. Rayakan dan apresiasi setiap usaha yang dilakukan ketika mempraktikan nilai-nilai keluarga.

Berikan pujian atas pencapaian buah hati ketika berusaha mempraktikan nilai keluarga dan bimbinglah perkembangan karakter anak secara konsisten.

  1. Jadilah contoh bagi anak dan hidupi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana Ayah dan Bunda menjalani nilai keluarga merupakan cermin bagi buah hati dan buah hati akan mencontoh apa yang Ayah dan Bunda lakukan.

Apa contoh nilai keluarga?

Daftar nilai keluarga bisa jadi sangat banyak, Tergantung pada Ayah Bunda menetukan mana yang dianggap penting sebagai bekal hidup buah hati. Berikut adalah beberapa contoh nilai keluarga yang dapat diterapkan.

Nilai Sosial

Terkait dengan kedamaian, keadilan, kebebasan, kesetaraan dan membuat lingkuangan menjadi lebih baik. Contoh nilai sosial meliputi:

  • Tidak menyakiti orang lain dan membela orang yang lemah
  • Bersikap hormat dan sopan dalam berinteraksi
  • Berkontribusi secara sukarela di lingkungan
  • Bersikap murah hati

Nilai Religius

Nilai-nilai agama berpusat pada harapan yang dimiliki orang tentang diri mereka sendiri dan orang lain berdasarkan keyakinan mereka. Meskipun setiap agama memiliki keyakinannya masing-masing, ada nilai-nilai umum yang cenderung dianut oleh banyak agama. Contoh nilai agama meliputi:

  • Menunjukkan kasih sayang kepada mereka yang membutuhkan
  • Memperlakukan orang lain sebagaimana seseorang ingin diperlakukan
  • Terus menerus belajar dan berkembang baik secara spiritual maupun intelektual
  • Bersikap rendah hati
  • Bersikap hormat dan tanpa kekerasan

Nilai Moral

Nilai moral adalah nilai pribadi tentang apa yang menurut Anda benar dan salah. Nilai-nilai moral memberikan fondasi dari mana Anda membuat keputusan. Contoh nilai moral meliputi:

  • Jujur dan dapat dipercaya
  • Berani
  • Tidak pernah menyerah
  • Sabar
  • Mengambil tanggung jawab pribadi

Nilai Rekreasi

Nilai rekreasional mengacu pada segala sesuatu yang melibatkan kesenangan dan permainan. Rekreasi penting dalam keluarga karena menumbuhkan kedekatan dalam keluarga, kesempatan belajar, menciptakan ingatan, meningkatkan keterampilan sosial, dan mengembangkan empati. Contoh nilai rekreasional meliputi:

  • Menyediakan waktu bermain bersama keluarga
  • Mengijinkan dan mendorong setiap anggota keluarga untuk mengejar minat
  • Mengambil liburan bersama
  • Menghabiskan waktu bersama di luar bermain

Mengapa memiliki nilai keluarga penting?

Nilai-nilai keluarga merupakan cerminan dari siapa kita dan bagaimana kita menjadi orang tua. Saat menjalankan nilai-nilai itu, anak-anak kita belajar pelajaran hidup. Anak-anak belajar mengekspresikan diri, tumbuh dari kesalahan, memecahkan masalah dan mengembangkan semua kemampuan dan keterampilan yang membantu mereka menjadi anggota masyarakat yang produktif.

  • Membangun kompas moral yang kuat bagi anak

Tekanan teman sebaya dapat berdampak besar pada anak dan menjadi musuh yang mencoba menembus nilai-nilai keluarga yang telah ditanamkan. Artinya, jika seorang anak memiliki prinsip yang kuat tentang apa yang benar dan salah berdasarkan nilai-nilai yang dimilikinya, kecil kemungkinannya anak menjadi korban pengaruh yang menyimpang.

  • Pengambilan keputusan yang tepat

Nilai-nilai ini dapat melindungi dan membimbing anak-anak saat mereka mengambil keputusan. Mereka dapat menarik nilai-nilai ini untuk membantu mereka menghindari kesalahan langkah yang memiliki konsekuensi negatif bagi kehidupan mereka.

  • Pedoman dalam mendidik anak

Tantangan dunia luar merupakan musuh terbesar yang menakutkan dalam mendidik anak. Mengetahui apa yang Ayah dan Bunda yang diinginkan untuk anak-anak akan membantu dalam membesarkan anak menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab.

  • Memproteksi anak dari pergaulan yang buruk

Anak yang tumbuh dengan prinsip nilai keluarga yang kuat cenderung akan memilih teman-teman yang memiliki nilai yang mirip dengannya.

  • Memberi arti keluarga

Nilai keluarga akan melekatkan anak pada keluarga. Anak akan memiliki rasa memiliki dan terhubung dengan keluarga karena memiliki pandangan yang sama tentang dunia.

Kapan waktu yang tepat untuk mengajarkan nilai keluarga pada anak?

Dalam teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh Piaget dan Kohlberg, tahap awal perkembangan moral anak dimulai saat usia 4 tahun. Pada usia ini, anak sudah mulai mengenal perilaku yang baik dan buruk berdasarkan konsekuensi yang diterimanya. Menjadi catatan penting bahwa nilai-nilai keluarga perlu diajarkan sepanjang hari, setiap hari.  Seringkali mengajarkan nilai keluarga sulit untuk dijelaskan pada anak, namun nilai-nilai keluarga diturunkan melalui banyak hal yang dilihat anak, seperti sikap orang tua, bagaimana cara bekerja orang tua, dan bagaimana orang tua berelasi. Anak-anak ingin menjadi seperti orang dewasa yang menyayangi mereka. Mereka ingin memakai kacamata ibu dan sepatu ayah. Semoga Ayah dan Ibu Kejora juga dapat menentukan nilai keluarga yang tepat, ya.

Editor: drg. Rahmatul Hayati

Ketika Si Kecil Melihat Orang Tua Berhubungan Seksual

oleh Anastasia Hanifah, M.Psi.

Psikolog

Pernahkah Ayah dan Ibu Kejora mengalami hal tersebut?

Sebagai orang tua pastilah hal ini yang paling tidak diinginkan, namun terkadang orang tua lengah, sehingga hal tersebut tidak dapat dihindari. Ketika si kecil tanpa sengaja melihat orang tuanya sedang berhubungan seksual, apa saja ya yang harus dilakukan?

Yuk, simak pembahasannya!

  1. Kapan waktu yang tepat untuk menjelaskan pendidikan seksual pada si kecil?

Orang tua dapat menjelaskan pendidikan seksual pada si kecil sedini mungkin.

  • Usia 0–2 tahun, orang tua dapat mulai mengenalkan anatomi tubuh pada anak. Pengenalan anatomi tubuh dapat dilakukan saat anak sedang mandi, lalu orang tua dapat menjelaskan nama-nama anggota tubuh.
  • Usia 2–3 tahun, si kecil sudah mulai memiliki perasaan ingin tahu mengapa tubuhnya berbeda dengan anak lain, si kecil sudah mengetahui konsep anak perempuan dan laki-laki. Pada usia ini, orang tua dapat menjelaskan nama-nama anggota tubuh perempuan dan laki-laki.
  • Usia 4–5 tahun, si kecil sudah mulai menanyakan dari mana adik bayi berasal. Pada usia ini, anak sudah mulai dapat dijelaskan bahwa adik bayi tumbuh di dalam rahim dan dapat dijelaskan pula bahwa untuk membuat adik bayi dibutuhkan sperma (seperti sebuah biji kecil) yang berasal dari laki-laki dan ovum (seperti sebuah telur kecil) yang berasal dari perempuan.
  • Usia 6–8 tahun, si kecil akan bertanya lebih mendalam mengenai bagaimana adik bayi dibuat. Pada usia ini, orang tua dapat menjelaskan mengenai hubungan seksual. Bayi dibuat karena adanya hubungan seksual antara pria dan wanita, dengan cara pria memasukan penisnya ke dalam vagina wanita. Hal tersebut dilakukan ketika seseorang sudah dewasa dan menikah serta saat mereka menginginkan keberadaan adik bayi, sehingga hal ini bukan untuk anak kecil. Membaca buku bersama mengenai dari mana bayi berasal sangat penting dilakukan agar si kecil lebih mudah memahami.

Penting juga bagi orang tua untuk menanyakan pada si kecil, apa saja yang sudah mereka ketahui, sehingga orang tua tahu apa yang sebenarnya ingin diketahui si kecil dan seberapa jauh orang tua perlu menjelaskan.

  1. Bagaimana cara menjelaskan pada si kecil saat melihat orang tuanya berhubungan seksual?
  • Anak usia di bawah 3–4 tahun masih belum memiliki konsep yang jelas sehingga orang tua dapat menjelaskan bahwa ayah dan ibu berpelukan dan berciuman karena saling mencintai.
  • Anak usia di bawah 5 tahun, konsep yang dimiliki juga belum terlalu jelas, maka orang tua tidak perlu menjelaskan secara detil dan berlebihan.
  • Anak usia 5–6 tahun sudah memiliki logika berpikir yang lebih luas. Pada usia ini, akan lebih baik orang tua merespon dengan cara menjelaskan “bagaimana adik bayi dibuat” dibanding menanyakan kepada anak mengenai apa yang mereka tahu dan di mana melihat hal tersebut, hal itu justru dapat menimbulkan persepsi yang berbeda. Penting pula bagi orang tua untuk meminta maaf kepada anak akan situasi yang tidak sengaja terlihat oleh mereka, namun tidak perlu memunculkan perasaan bersalah terlalu lama karena hal tersebut akan membuat anak merasa bingung dan semakin tidak nyaman.

Kuncinya adalah bicarakan secara faktual seperti apa yang orang tua telah ajarkan kepada anak sesuai dengan usianya, terkait pendidikan seksual. Jangan menghindar dari topik dan menunggu anak terlebih dahulu mengangkat topiknya. Pastikan kepada si kecil bahwa mereka tidak membuat kesalahan saat mereka masuk ke dalam.

  1. Jika anak usia balita, akankah anak mengingatnya? Jika tidak, perlukah orang tua tetap memberi penjelasan dan bagaimanakah cara menjelaskannya?

Ya, pada usia 3 tahun anak dapat mengingat dengan baik. Orang tua dapat mengajarkan si kecil dengan menggunakan buku, hal ini akan sangat membantu. Si kecil dapat melihat gambar sambil menamai bagian tubuh sekaligus dapat melihat perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan.

  1. Bagaimanakah sebaiknya respon orang tua saat si kecil tanpa sengaja melihat orang tuanya berhubungan seksual?

Respon orang tua sebaiknya tetap tenang, namun saat berada pada situasi tersebut sering kali orang tua merasa panik dan malu. Akan lebih baik jika orang tua meminta waktu pada anak untuk menunggu sebentar agar orang tua bersiap, terutama anak yang sudah berusia 4 tahun ke atas karena mereka sudah dapat melihat situasi secara lebih mendalam. Jika orang tua terlalu bereaksi terhadap situasi tersebut, maka anak akan merasa bahwa hal yang dilakukan oleh orang tuanya salah dan dapat menimbulkan pertanyaan serta gangguan kepercayaan.

  1. Akankah si kecil menjadi trauma dan bagaimanakah cara mengantisipasinya?

Hal ini dapat menimbulkan ketakutan pada anak terutama saat anak tidak mendapatkan penjelasan secara benar. Hal ini dapat berdampak pada pemahaman anak mengenai hubungan seksual dan pandangan anak mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan. Penting untuk memberikan penjelasan sesuai tahap usianya, oleh karena itu pendidikan seksual sebaiknya diberikan sedini mungkin, sehingga orang tua tahu sejauh apa pemahaman yang dimiliki si kecil. Kurangi pemikiran bahwa berbicara tentang seks kepada anak adalah sebuah hal yang tabu. Orang tua harus memahami bahwa lebih aman jika si kecil mengetahui dari orang tuanya, dibandingkan dari media atau orang lain yang mungkin dapat membuat orang tua dan anak memiliki pandangan yang berbeda.

  1. Bagi ibu menyusui, bagaimanakah agar hubungan seksual dapat aman dan nyaman walau berdampingan dengan si kecil?

Hubungan seksual dapat dilakukan saat si kecil sedang tidur, namun perlu diperhatikan juga apakah anak merasa terganggu atau tidak. Hubungan seksual juga dapat dilakukan di area sekeliling bayi, sehingga orang tua tetap dapat melihat bayi dari area jangkauan dan tidak harus satu ranjang dengan bayi yang sedang tidur. Hal tersebut juga dapat meningkatkan excitement dalam suatu hubungan, pasangan dapat mengeksplorasi kedekatan mereka, namun bayi tetap dapat dalam pengawasan.

  1. Bagaimana jika orang tua dan si kecil masih co-sleeping (tidur satu ranjang)? 

Tidur satu ranjang dengan si kecil merupakan salah satu cara untuk menjaga kedekatan orang tua dan anak. Ketika orang tua memulai pola ini, orang tua juga harus menyiapkan waktu untuk dapat membuat anak tidur secara mandiri.

  • Usia newborn-18 bulan, orang tua dapat memulai sleep training. Awalnya, orang tua dapat tidur bersama anak, saat anak sudah tertidur, pindahkan anak secara perlahan. Pertahankan kedekatan ranjang orang tua dengan anak, sehingga anak tetap dapat merasakan kehadiran orang tua. Saat anak sudah merasa lebih nyaman, ranjang dapat diberikan jarak, yang terpenting adalah anak tetap merasa aman.
  • Usia 18 bulan-4 tahun, orang tua dapat mengomunikasikan bahwa si kecil akan tidur dengan lebih baik di ranjang mereka sendiri. Sebelum anak memulai, berikan waktu kepada anak untuk memahami ide tersebut. Jangan lupa untuk memberikan hal-hal yang dapat menyemangati anak agar dapat tidur sendiri, seperti memnerikan bed sheet atau dekorasi kamar yang mereka inginkan, berikan juga positive reinforcement akan pencapaian si buah hati.
  1. Sebaiknya pada usia berapakah anak pisah tidur dengan orang tua?

Anak disarankan untuk pisah tidur dengan orang tua maksimal di usia 5 tahun. Sejak usia 4 tahun, anak dapat mulai dilatih untuk tidur di kamar sendiri, namun untuk melatih si kecil dibutuhkan sebuah proses. Proses yang dijalani dapat berbeda pada masing-masing anak, sehingga lebih baik jika orang tua dapat mengomunikasikan pada anak perihal target waktu kapan anak dapat tidur secara mandiri.

  1. Apa saja antisipasi yang dapat dilakukan agar saat berhubungan seksual dapat aman dari si kecil?

Hal-hal yang penting dipertimbangkan saat akan berhubungan seksual, seperti:

  • pemilihan waktu yang tepat,
  • pemilihan tempat yang tepat, dan
  • ketahui hal apa saja yang dapat mengganggu anak, terutama saat anak sedang tidur.

Beberapa anak sangat sensitif akan suara, sehingga penting bagi orang tua untuk mempertimbangkan hal tersebut.

  1. Apa saja yang orang tua dapat lakukan agar hal tersebut tidak terulang lagi?
  • Kunci kamar saat akan melakukan hubungan seksual.
  • Tidak melakukan hubungan seksual saat jam bermain anak atau saat anak beraktivitas, lebih baik dilakukan saat anak sedang tidur.
  • Rencanakan waktu untuk melakukan hubungan seksual, misal di saat anak sedang sleepover atau menginap.
  • Ajari anak tentang waktu privasi ayah dan ibu, seperti membiasakan anak untuk mengetuk pintu dan menunggu hingga orang tua mengizinkan masuk.

Editor: drg. Agnesia Safitri

Teknik ABCD dalam Mengajarkan Kemandirian Anak


 

 

 

 

oleh Anita Carolina H, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

Hallo Ayah Bunda Kejora!

Seringkah Ayah dan Bunda mendengar bahkan mengalami tantangan dalam mengajarkan si kecil mandiri? Seperti “Anak jaman sekarang mudah menyerah” atau  “Anakku manja banget kalau di rumah”. Terlebih, selama pandemi, tantangan dalam mengajarkan kemandirian si kecil makin sulit, ya Ayah & Bund.

Kadangkali pikiran ini pun sering muncul seperti, “Repot urus anak, keluarga, pekerjaan” atau “Anakku makin sulit diatur selama sekolah online” atau ”Anak makin tidak disiplin selama pandemi” atau Rutinitas keluarga makin “kacau”.

Tapi… Pandemi tak selalu berdampak buruk, loh Ayah & Bunda! Dibandingkan masa sebelum pandemi, saat ini anak memiliki lebih banyak waktu luang di rumah. Jika dimanfaatkan dengan baik, ini bisa menjadi saat terbaik untuk bisa melatih kemandirian pada si kecil!

Apa sih Pentingnya Melatih Kemandirian pada Anak?

Melatih kemandirian pada anak sering dianggap sebagai hal sepele untuk diajarkan pada anak. Namun, sebenarnya kemandirian berperan penting bagi perkembangan anak. Beberapa alasan pentingnya melatih kemandirian pada anak antara lain:

  • Mengembangkan inisiatif anak
  • Mengembangkan kepercayaan diri anak
  • Menstimulasi kematangan emosi dan resiliensi anak
  • Mengembangkan social skill anak
  • Mengembangkan problem solving skill anak

Too much control and the child will not have sufficient opportunity to explore, too little control and the child will become unmanageable and fail to learn the social skill” -Bee-

Children become irresponsible only when we fail to give them opportunities to take on responsibility.” – Rudolf Dreikurs & Margaret Goldman –

Sejak Kapan Ayah dan Bunda Bisa Melatih Kemandirian Anak?

Ayah dan Bunda, sebenarnya kita bisa melatih kemandirian anak sejak dini loh, dari hal-hal yang mudah dan sederhana dulu. Pastikan, kita memberikan aktivitas kemandirian yang sesuai dengan perkembangan si kecil yah.

Apa Sajakah Aktivitas Kemandirian untuk Anak pada Usia Dini?

Ayah Bunda, kemandirian tidak selalu hanya mengajarkan daily life skill saja, tapi kemandirian punya beberapa aspek yang harus diajarkan pada si kecil:

  1. Aspek fisik: Keterampilan di mana anak sudah dapat melakukan hal-hal sederhana dalam rangka merawat dirinya tanpa / dengan bantuan minimum orang lain. Pada anak-anak usia dini, Ayah dan Bunda bisa mulai mengajarkan dail/practical life skill, seperti makan, minum, sikat gigi, membereskan mainan sendiri.
  2. Aspek Emosi: Kemampuan anak untuk meregulasi emosinya. Pada anak-anak usia dini, Ayah dan Bunda bisa mulai mengajarkan dan mencontohkan cara mengatur emosi secara sehat pada si kecil. Jangan lupa, berikan dukungan saat anak kita mengalami emosi negatif ya, Ayah & Bunda
  3. Aspek Sosial: Kemampuan anak untuk bisa beradaptasi di kehidupan sosial. Sebagai contoh adalah sabar menunggu giliran, dapat bergantian ketika bermain, dan mampu berinteraksi dalam sosial. Pada anak-anak usia dini, Ayah dan Bunda bisa dukung stimulasi kemandirian sosial si kecil dengan:
    • Bermain bersama
    • Team activities (bermain bola, grup menari, grup musik, dll).
  4. Aspek Kognitif: Kemampuan anak untuk memiliki kompetensi sesuai usianya dan memecahkan masalah sehari-hari. Contoh aktivitas ini berupa:
    • Bermain bersama si kecil
    • Family trip (dengan protokol kesehatan)
    • Membaca buku/menonton film bersama (yang berisi banyak nilai positif) lalu mendiskusikan secara sederhana
    • Belajar sambil bermain

Apakah yang Dimaksud dengan Teknik ABCD dalam Melatih Kemandirian Anak?

Ayah dan Bunda, kemandirian adalah sebuah skill/keterampilan. Kemandirian tidak bisa dimiliki anak secara cepat. Melainkan, harus dilatih dan “dibiasakan” agar anak menjadi terampil. Berikut teknik “ABCD” dalam melatih kemandirian anak:

  1. Ajarkan

Orangtua perlu mengajarkan dan memberikan contoh bagaimana cara melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.

  1. Beri Kesempatan

Berikan kesempatan pada anak sesering mungkin untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Berikan waktu juga ya parents, untuk si kecil menyelesaikan aktivitasnya secara mandiri tanpa tergesa-gesa.

  1. Ciptakan Rutinitas

Ciptakan rutinitas secara teratur pada anak dalam melakukan aktivitas sehari-harinya secara mandiri. Hal ini bisa membentuk kebiasaan mandiri sejak kecil pada anak.

  1. Dukung secara Emosional

Berikan apresiasi pada anak saat ia berhasil melakukan kemandirian. Dukungan secara positif saat anak belum berhasil melakukan kemandirian dengan baik dan berikan bantuan yang dibutuhkan anak (secukupnya).  Parents, jangan lupa juga untuk memberikan 5  Love Language anak (Gift, word affirmation, touch, act of service, & quality time) seperti yang pernah dibahas pada sesi sebelumnya.

Mengajarkan dan melatih aspek-aspek kemandirian pada anak memang tidak mudah, Ayah dan Bunda. Butuh kesabaran, konsistensi, dan interaksi positif antara Ayah, Bunda, dan si kecil. Jangan lupa, Ayah, Ibu dan seluruh caregiver yang terlibat dalam pengasuhan anak perlu “BAPER” (BAGI PERAN) untuk bisa melatih kemandirian anak dengan baik dan konsisten agar si kecil bisa mengembangkan kemandiriannya!

Sehat selalu ya Ayah dan Bunda.

Editor: Sita Rose Nandiasa, drg., M.Si

Mengajarkan Pendidikan Seksual untuk Anak Balita


 

 

 

 

oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

Hallo Ayah Bunda Kejora!

Pendidikan seksual itu penting sepanjang usia; dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Pendidikan seksual itu tidak hanya diberikan ketika anak mulai remaja, Ayah dan Bunda! Anak usia dini juga bisa mulai diberikan pendidikan seksual, asalkan materi yang disampaikan sesuai dengan tahapan perkembangannya. Sebab, pendidikan seksual bukan sesuatu yang tabu. Yuk, simak cara memberikan pendidikan seksual dan materi pendidikan seksual yang cocok bagi anak usia dini!

 

Kapan Waktu yang Tepat?

Pendidikan seksual itu tidak hanya diberikan ketika anak mulai remaja. Bunda dan Ayah juga bisa mulai memberikan pendidikan seksual pada anak usia dini, asalkan materi yang disampaikan sesuai dengan tahapan perkembangannya.

Pada usia balita (3-4 tahun), anak biasanya mulai mengeksplorasi lingkungan sekitarnya dan mulai belajar tentang lingkungan sosial. Mereka akan mulai memperhatikan dan membandingkan dirinya dengan orang lain/temannya. Usia balita adalah usia yang tepat bagi orangtua untuk memperkenalkan mengenai pendidikan seksual pada si kecil.

 

Mengapa Pendidikan Seksual untuk Anak itu Penting?

  • Mencegah dan menghadapi era teknologi yang semakin maju: Seiring perkembangan teknologi, anak makin mudah mendapatkan akses internet dan informasi dari berbagai sumber, termasuk sosial media. Membahas seks dapat melindungi dan mencegah berbagai efek negatif yang diakibatkan dari perkembangan informasi tersebut.
  • Mendukung perkembangan dan pemahaman anak: Pendidikan seksual yang tepat dapat membantu si kecil melindungi dan menghargai tubuhnya sendiri.
  • Membangun kepercayaan dan kasih sayang: Dengan pendidikan seksual, orangtua dapat menjadi tempat yang aman bagi anak untuk bisa terbuka dan berdiskusi hal yang paling pribadi sekalipun. Sehingga anak tidak mencari informasi sendiri/dari orang lain (yang belum tentu tepat dan aman).
  • Membantu si kecil melindungi dirinya sendiri: Dengan pendidikan seksual, anak akan lebih sadar dengan situasi lingkungannya dan mampu melindungi diri ketika ada orang yang memperlakukan pelecehan seksual, baik secara verbal ataupun tindakan.

 

Tahapan 3P dalam Memberikan Pendidikan Seksual terhadap Anak:

1. Persiapan Materi

Sebelum kita memberikan pendidikan seksual pada pada anak, Ayah dan Bunda harus terlebih dahulu paham tentang materi yang akan diajarkan. Ayah dan Bunda bisa mencari informasi pendidikan dari sumber terpercaya.

2. Pahami Perkembangan Anak

Ayah dan Bunda perlu mengetahui perkembangan kognitif anak di usia balita supaya tahu bagaimana cara menjelaskan tentang seks kepada anak balita. Pada usia balita, anak berada dalam tahapan belajar menggunakan konsep konkret. Berikut tips saat mengenalkan bagian-bagian tubuh, terutama alat vital pada si kecil:

  • Alat peraga/media, seperti boneka/buku bergambar yang sesuai dengan usia anak.
  • Suasana pengajaran harus menyenangkan, bisa dengan mendongeng.
  • Gunakan bahasa yang sederhana, singkat, dan mudah dimengerti.

3. Penjelasan Sebaik Mungkin

Saat si kecil bertanya, Ayah dan Bunda perlu menjelaskan dengan sebaik mungkin. Jika kita tidak tahu jawabannya atau bingung menjelaskannya, Ayah dan Bunda bisa minta waktu pada anak, misalnya: “Wah pertanyaan adik bagus sekali, Mama jelaskan besok ya. Mama cari tahu dulu, biar nanti Mama bisa jelasin ke adik”.

 

Materi Pendidikan Seksual untuk Anak Balita

1. Nama dan Fungsi Bagian Tubuh

2. Perbedaan Jenis Kelamin

Ayah dan Bunda bisa mengajarkan perbedaan laki-laki dan perempuan secara umum. Contoh: laki-laki biasanya bisa berkumis dan berjanggut. Rambut perempuan biasanya lebih panjang dari laki-laki. Kita juga bisa menambahkan jika ada atribut keagamaan yang bisa dijelaskan, misalnya perempuan memakai jilbab, laki-laki memakai peci.

3. Bagian Pribadi

– Berikan pengertian kepada anak mengenai bagian tubuh yang harus dilindungi/bagian pribadi, yaitu: bagian yang tertutup baju (harus selalu tertutup dan tidak boleh disentuh orang lain), yaitu: mulut, dada (pada perempuan namanya payudara), alat kelamin, dan pantat.

– Berikan peraturan siapa saja yang boleh menyentuh dirinya. Contoh:

  • Anak boleh mendapatkan pelukan dari keluarga dan ciuman hanya dari keluarga inti (atau dengan seijin orangtua).
  • Dokter, jika bagian tubuh pribadi terluka/perlu diobati.
  • Orangtua (dengan seijin dari anak): jika ingin membantu mereka mengenakan pakaian/membersihkan tubuh.

4. Cara Menjaga Tubuh

Ajarkan anak:

  • Tidak boleh membuka/menunjukkan bagian tubuh pribadinya kepada orang lain (pengecualian: dokter karena bagian tubuh pribadi terluka/perlu diobati dan orangtua atau pengasuh dengan seijin dari anak jika ingin membantu mereka mengenakan pakaian/membersihkan tubuh).
  • Tidak boleh melihat bagian tubuh orang lain.
  • Melindungi tubuhnya dengan memakai baju, baik di rumah maupun di luar rumah.

5. Ajarkan 3 Tahap jika Anak Mengalami Pelecehan Seksual (Verbal maupun Perilaku):

  • Say No (Katakan TIDAK!): ajarkan anak untuk berani menolak pelecehan seksual dengan suara yang lantang dan tegas.
  • GO (Pergi): pergi ke tempat yang lebih aman/lebih ramai orang.
  • Tell (Beritahu): ajarkan anak menceritakan secara terbuka pada orangtua/orang dewasa yang dipercaya anak.

6. Tumbuhkan Rasa Percaya Anak pada Ayah dan Bunda

Ajarkan si kecil untuk tidak menyembunyikan apapun dari Ayah dan Bunda apabila ia ingin bertanya mengenai pendidikan seksual maupun saat mengalami pelecehan seksual; meskipun anak mendapatkan ancaman dari si pelaku.

 

Memberikan pendidikan seksual pada si kecil memang tidak mudah, Ayah dan Bunda. Namun percayalah, dengan metode yang tepat, konsistensi, kesabaran, dan interaksi yang positif, kita bisa memberikan edukasi yang tepat baginya. Sehat selalu ya Ayah dan Bunda.

Editor : drg. Sita Rose Nandiasa, M.Si

 

 

Orangtua dan Nenek sebagai Tim dalam Menghadapi Anak Tantrum

 

 

 

 

oleh Nurhuzaifah Amini M.Psi., Psikolog

Psikolog

Hai, Ayah dan Ibu Kejora!

Sering tidak mengalami kebingungan menghadapi anak yang tiba-tiba menangis, menjerit, menendang, memukul-mukul atau melarikan diri? Dalam keilmuan psikologi, perilaku yang ditunjukkan oleh anak-anak ini disebut tantrum. Tantrum merupakan episode yang terjadi ketika ada rasa marah atau frustasi yang ditandai dengan tangisan, teriakan, gerakan tubuh yang kasar, termasuk melempar barang, jatuh ke lantai, membenturkan kepala, tangan dan kaki ke lantai. Perlu ayah dan ibu ketahui bahwa tantrum itu bukan hal yang negatif. Tantrum digunakan oleh anak sebagai salah satu cara untuk mengekspresikan kebutuhan dan mengelola perasaan mereka. Hal ini terjadi karena anak sering kali belum memiliki kata-kata dan pengetahuan yang cukup untuk mengekspresikan emosi dengan benar. Biasanya tantrum terjadi pada anak usia 1-3 tahun. Pada usia ini keterampilan sosial dan emosional anak baru mulai berkembang pada usia ini. Selain toddler, anak yang lebih besar juga masih bisa tantrum. Hal ini terjadi karena mereka belum mempelajari cara yang tepat untuk mengekspresikan atau mengelola perasaan.

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya tantrum pada anak diantaranya:

  1. Hal ini biasanya menurun dari genetik sehingga lebih mudah memengaruhi intensitas dan kecepatan reaksi anak terhadap hal-hal yang membuatnya frustrasi. Anak-anak yang memiliki kecenderungan mudah marah mungkin lebih mudah mengamuk.
  2. Stres, lapar, kelelahan dan stimulasi berlebihan. Hal ini dapat mempersulit anak-anak untuk mengekspresikan dan mengelola perasaan serta perilaku.
  3. Situasi yang tidak dapat diatasi oleh anak-anak, misalnya, balita mungkin kesulitan mengatasinya jika anak yang lebih besar mengambil mainan.
  4. Ada tekanan yang kuat. Hal ini terjadi ketika ada kekhawatiran, ketakutan, rasa malu dan amarah yang dapat menjadi beban bagi anak-anak.

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghadapi tantrumnya anak:

  1. Usahakan untuk tetap tenang. Luangkan waktu sejenak untuk diri Ayah dan Ibu jika perlu. Jika Ayah dan Ibu marah, hal tersebut hanya akan mempersulit situasi bagi Ayah dan Ibu serta bagi anak. Saat berbicara, usahakan agar suara tetap tenang dan datar, dan bertindak dengan tenang.
  2. Menunggu amukannya reda. Jika anak tantrum dan tidak melakukan hal yang destruktif atau membahayakan, coba dibiarkan saja agar anak bisa mengekspresikan emosinya. Namun, jika anak melakukan hal yang berbahaya, coba pindahkan anak pada tempat yang mungkin membosankan buatnya. Jangan lupa untuk berikan batas waktu agar anak tahu bahwa ia perlu segera menyelesaikan amukannya. Usahakan agar tidak mengajaknya berbicara hingga ia menyelesaikan amukannya.
  3. Usahakan untuk tetap berada di sekitar anak ketika anak tantrum. Hal ini dilakukan agar anak tahu bahwa Ayah dan Ibu ada di sana sehingga ia tetap merasa aman. Tetapi jangan mencoba untuk berdebat dengan anak atau mengalihkan perhatian mereka.
  4. Validasi perasaan anak. Misalnya, ‘Pasti kesel ya mainannya diambil kakak”. Hal ini dapat membantu mencegah perilaku anak tidak terkontrol dan memberi kesempatan pada anak untuk mengatur ulang emosi.
  5. Ajak anak berkomunikasi dan gali kebutuhannya jika sudah tenang. Coba tanyakan apa yang rasakan dan apa yang ia butuhkan. Coba pahami apa yang anak butuhkan, lalu ajarkan anak untuk menyampaikan dengan baik hal yang ia inginkan.
  6. Bersikap konsisten. Jika sikap Ayah dan Ibu kadang memberikan apa yang diinginkan anak saat mereka mengamuk dan kadang tidak, anak bias jadi mengalami kebingungan dan tidak bisa belajar.

Pada beberapa kondisi, terutama untuk Ayah dan Ibu yang memiliki kegiatan lain, pengasuhan anak perlu dibantu oleh oleh orang lain, termasuk Kakek ataupun Nenek. Namun, hal ini bisa menjadi masalah terutama jika Kakek dan Nenek memberikan pengasuhan yang berbeda dengan pola asuh yang orangtua terapkan. Jika dibiarkan, hal ini tentu bisa memengaruhi perkembangan psikologis anak. Oleh karena itu, Ayah dan Ibu perlu menjadi tim dan bekerjasama dengan kakek dan nenek dalam memberikan pengasuhan pada anak, termasuk ketika menghadapi anak yang tantrum. Ada beberapa hal yang bisa Ayah dan Ibu lakukan kepada Kakek dan Nenek agar bisa menjadi tim yang baik dalam menghadapi anak tantrum:

  1. Gali pengetahuan Kakek dan Nenek dalam mengasuh anak. Seringkali Kakek dan Nenek menggunakan pola pengasuhan berbeda termasuk dalam menghadapi anak tantrum karena berdasarkan pengetahuan dan pengalaman pribadi mereka tanpa benar-benar memahami dampaknya. Oleh karena itu, coba gali dan pahami lebih dalam hal yang mereka ketahui dan kemungkinan cara yang mereka pakai misalnya ketika anak tantrum, nenek langsung memberikan permen agar anak berhenti menangis tanpa tahu kebutuhan anak.
  2. Lakukan evaluasi pada pola pengasuhan yang diberikan oleh Kakek dan Nenek. Ayah dan Ibu dapat menyampaikan bahwa tindakan yang mereka lakukan bisa membuat anak belajar hal yang keliru misalnya sampaikan bahwa ketika anak tantrum artinya anak sedang mengekspresikan perasaan atau kebutuhannya sehingga sebagai orangtua, kita perlu belajar memahami kebutuhan tersebut. Jika langsung diberikan barang, tanpa benar-benar memahami kebutuhan anak, ada banyak dampak yang bisa muncul seperti anak bisa jadi akan menggunakan ‘tantrum’ tersebut sebagai strategi untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, anak juga jadi tidak mengerti arti proses untuk mendapatkan sesuatu, anak tidak belajar komunikasi dan anak belajar cara mengeskpresikan emosi dengan tidak sehat.
  3. Komunikasikan secara terbuka pola pengasuhan yang diinginkan beserta alasannya. Ayah dan Ibu perlu mengkomunikasikan kepada Kakek dan Nenek terkait tujuan yang ingin dicapai dalam pengasuhan beserta cara-cara yang perlu dilakukan dan tidak boleh dilakukan.
  4. Buat batasan (Boundaries) antara orangtua dengan kakek/nenek. Dalam melakukan pengasuhan bersama terutama pada Kakek dan Nenek, tentu tidak semua hal dapat berjalan semaksimal yang diinginkan. Sadari dan pahami bahwa meminta orang lain dalam hal ini kakek atau nenek dalam mengasuh anak sangat mungkin memiliki kelemahan sehingga coba belajar untuk memahami. Buat batasan pada diri sendiri hal-hal yang menjadi tanggung jawab sendiri dan yang menjadi urusan kakek dan nenek misalnya jika terjadi kesalahan dalam memberikan penyikapan ketika anak tantrum, Ibu tidak perlu memarahi Nenek. Pahami bahwa hal tersebut wajar, dan fokuskan perhatian pada hal yang perlu diperbaiki dan dibutuhkan oleh anak agar dampaknya tidak terlalu parah.

Nah, semoga artikel ini dapat membantu Ayah dan Ibu menangani si kecil yang tantrum, ya! Tetap semangat dan jaga kesehatan, Keluarga Kejora!

Editor: drg. Valeria Widita W.

Source:

https://www.parents.com/toddlers-preschoolers/discipline/tantrum/a-parents-guide-to-temper-tantrums/

https://www.askdrsears.com/topics/parenting/discipline-behavior/bothersome-behaviors/temper-tantrums/managing-tantrums-older

https://raisingchildren.net.au/toddlers/behaviour/crying-tantrums/tantrumsa

https://www.mayoclinic.org/

 

Mengenal Tanda-tanda Permasalahan Psikologis pada Buah Hati

oleh Mellissa Catalina Trisnadi, M.Psi., Psikolog

Psikolog

Hai, Ayah dan Ibu Kejora!

Ayah dan Ibu Kejora pasti ingin dapat melindungi dan memberikan yang terbaik bagi buah hatinya. Ayah dan ibu juga akan berusaha sebaik mungkin memenuhi kebutuhan buah hati. Apabila buah hati jatuh dan luka, ayah dan ibu berusaha untuk mengobati lukanya. Apabila buah hati demam atau mengalami gejala-gejala fisik yang membuat buah hati tidak nyaman, ayah dan ibu akan membawanya ke dokter. Ketika buah hati bahagia, ayah dan ibu pun akan merasa bahagia.

Luka akibat terjatuh atau munculnya gejala-gejala fisik memang jauh lebih mudah dikenali. Namun, sering kali luka emosi yang buah hati alami cenderung sulit dideteksi ayah dan ibu. Luka emosi ini dapat disebabkan karena tekanan emosional seperti masalah dengan orang tua, teman-teman, guru atau pun tekanan dari tuntutan akademis. Buah hati kita terkadang tidak menyadarinya dan gejala yang muncul pun beragam. Gejala penyakit fisik juga bisa muncul akibat permasalahan emosi atau psikologis tertentu.

Apa yang Ayah dan Ibu Kejora perlu perhatikan untuk mengenali luka psikologis ini? Tanda-tanda tertentu dapat menjadi alarm apakah buah hati kita perlu penanganan lebih lanjut secara professional ke psikolog, di antaranya:

  1. Buah hati mengalami kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah
  2. Muncul perilaku agresif pada buah hati, seperti memukul ataupun menyakiti orang lain, baik secara fisik atau pun verbal
  3. Mencoba untuk menyakiti diri sendiri atau melakukan perilaku berulang seperti menarik rambut atau menggigit kuku.
  4. Menghindari kontak sosial dengan teman atau keluarga
  5. Mengalami perubahan mood tanpa penyebab yang jelas
  6. Mengalami perasaan takut atau perasaan lainnya yang ekstrem
  7. Merasa lelah dan tidak memiliki motivasi untuk melakukan aktivitas
  8. Sulit berkonsentrasi
  9. Sulit tidur dan mengalami mimpi buruk
  10. Buah hati banyak mengeluhkan sakit fisik
  11. Buah hati tidak memedulikan/mengabaikan penampilan fisiknya
  12. Terlalu terobsesi dengan berat dan bentuk badan serta penampilan
  13. Perubahan perilaku makan yang terlalu berlebih atau tidak nafsu makan

 

Jika tanda-tanda tersebut tampak pada buah hati Ayah dan Ibu Kejora, jangan panik dan menyalahkan diri sendiri ya. Hadapilah bersama dan lakukan hal berikut ini:

  1. Bicara terbuka pada buah hati bahwa ia perlu mendapat penanganan khusus dari psikolog.
  2. Cari informasi mengenai tenaga profesional/psikolog anak yang dapat membantu ayah dan ibu menangani permasalahan psikologis buah hati
  3. Berikan informasi sejelas mungkin pada buah hati mengenai apa saja yang akan dilalui bersama
  4. Bangun kembali kepercayaan dengan anak dan ayah serta ibu akan selalu ada bersama mereka
  5. Aktif berkonsultasi dengan psikolog karena proses terapi akan berjalan dengan baik apabila orang tua juga terlibat di dalamnya
  6. Hargai setiap perubahan-perubahan kecil dari proses terapi yang sedang dilakukan buah hati dan jangan patah semangat

 

Keterbukaan dan kebersamaan sebagai sebuah keluarga dalam menghadapi pengalaman yang sulit akan lebih meringankan beban ayah dan ibu. Ayah dan ibu juga dapat mencari support system untuk saling menguatkan satu sama lain. Mungkin di depan ayah dan ibu akan menemui banyak tantangan namun bukan berarti tidak dapat dilalui bersama.

 

Referensi:

Douglas, Ann. Parenting Through the Storm: Find Help, Hope, and Strength When Your Child Has Psychological Problems. New York: Guilford Press, 2016.

Menumbuhkan Resiliensi pada Anak


 

 

 

 

oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora!
Kita tentu menyadari perkembangan jaman yang bergerak secara dinamis, berubah sangat cepat, dan kompetitif. Di satu sisi, hal ini memiliki dampak positif, yaitu makin banyak pilihan dan informasi semakin mudah didapatkan. Di sisi lain, tantangan dan kesulitan juga semakin banyak. Anak-anak kita, sebagai generasi berikutnya, perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan baik, agar siap menghadapi tantangan masa depan.

Untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan dan tantangan masa depan, bukan hanya diperlukan kompetensi saja, namun juga perlu memiliki karakter positif agar anak-anak kita bisa menjadi generasi yang siap menghadapi perkembangan jaman.

Salah satu karakter positif, yang bisa kita ajarkan sejak dini pada si kecil adalah Resiliensi. Anak yang tangguh / memiliki resilien akan tidak mudah menyerah dan bisa bangkit kembali saat menemui kesulitan dan tantangan. Yuk simak, penjelasan mengenai resiliensi dan bagaimana menumbuhkannya pada si kecil.

 

Apa itu Resiliensi pada Anak?
APA (American Psychological Association) menyatakan definisi resiliensi sebagai kemampuan untuk bisa beradaptasi dan bangkit dengan baik dalam menghadapi tantangan dan kesulitan yang dihadapi.

Resiliensi adalah bounce back atau bangkit kembali dari pengalaman sulit. Seperti trampolin, anak yang punya resilien, akan punya daya lenting yang baik. Self-resilience akan membuat individu terus maju menjalankan hidup bahkan dalam keadaan tersulit.

 

Mengapa Resiliensi Penting?
 Membantu anak mengantisipasi maupun mengenali peluang
 Mendorong anak mencapai goal-nya
 Mendorong tercapainya hidup sehat dan bahagia

Karakter resilien bukanlah karakter bawaan lahir yang berasal dari genetik, namun perlu diasah dan dilatih. Pada 5 tahun pertama kehidupannya, si kecil akan banyak mengembangkan dasar-dasar kepercayaan diri yang menjadi pondasi dalam menghadapi tantangan-tantangan tumbuh kembangnya. Maka dari itu, resiliensi perlu dilatih sejak dini.

 

Bagaimanakah Ciri Anak yang Resilien?
1. Emotional Well-Being: Mampu mengelola emosinya
2. Berani: Menghadapi rasa takutnya dan mau mencoba hal-hal baru
3. Autonomy: Mandiri, percaya diri (percaya kepada kemampuannya sendiri dalam kondisi tak terduga)
4. Problem Solving: Mampu memahami masalah dan bisa mengatasi atau memecahkan berbagai masalah
5. Social Competence: Bisa beradaptasi dan bersosialisasi dalam lingkungannya.

Rumus ABCDE Menumbuhkan Resiliensi pada Anak

1. A: Ada untuk anak
• Meluangkan waktu dan mendampingi anak bukan berarti mengambil alih secara penuh atau menghilangkan tantangan yang si kecil sedang hadapi. Kita bisa berikan contoh, tawarkan alternatif bantuan, dan berikan dukungan agar si kecil makin semangat dan merasa di dukung oleh kita.

2. B: Beri kesempatan
• Ciptakan lingkungan yang mendukung anak melalui tantangan dan peluang, akan melatih kemampuan adaptasi dan problem solving si kecil.

3. C: Cintai anak tanpa syarat
• Menerima anak apa adanya, bukan hanya ketika mereka pintar / sesuai harapan kita
• Mencintai anak dengan kasih sayang dan perhatian, namun tanpa memanjakan
• Cinta dari orangtua yang tulus dan tanpa syarat, akan membuat anak merasa aman, percaya diri, tidak ragu untuk mengeksplorasi dan belajar berbagai hal. Hal ini akan membantu anak dalam menghadapi berbagai proses (rintangan, kesulitan, dan tantangan).

“Behind every child who believes in himself is a parent who believed first”
– Matthew Jacobson –

4. D: Dukung secara positif
Artinya:
Berikan afirmasi positif. Contoh: “Kenapa sih salah terus!” diganti dengan “Ini susah ya, coba kamu lakukan pelan-pelan ya.. kamu pasti bisa, dek”
Fokus pada proses / usaha si kecil. Saat kita hanya fokus pada hasilnya, akan membuat si kecil merasa tertekan dan menghindari aktivitas menantang agar tidak mendapatkan respon negatif saat tidak berhasil.
• Dampingi si kecil menghadapi kegagalan. Jelaskan pada si kecil bahwa saat ia berbuat salah / gagal, adalah saat belajar sesuatu dan itu bukanlah hal yang menakutkan. Yang terpenting, mau mencoba kembali. Misal saat anak belajar makan sendiri, namun tumpah-tumpah. Sebisa mungkin jangan langsung memarahinya, ajari anak caranya dan kasih kesempatan coba lagi.


5. E: Emotional & Social wellbeing
Latih si kecil untuk bisa mengola emosinya. Ajarkan bahwa emosi boleh saja dirasakan dan diungkapkan, namun mereka pun perlu memikirkan tindakan yang harus dilakukan dalam meregulasi emosinya tersebut.
Latih keterampilan sosial si kecil agar ia mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Ajarkan bagaimana ia mendapatkan teman baru, membuka perbincangan dengan orang baru (baik lebih tua, sepantaran, hingga lebih muda darinya).

 

Aktivitas yang bisa Mengembangkan Karakter Resilien pada Anak
• Aktivitas untuk meningkatkan resiliensi pada anak, harus bersifat: Purposeful Exposure atau ‘tantangan’, tujuannya untuk memberikan perubahan positif (transformasi) pada anak.
 Memberi tantangan lebih. Risikonya atau tantangannya medium.
 Memunculkan perubahan positif / kreativitas anak untuk memecahkan masalah
 Anak berperan aktif.

• Note: Saat memberikan tantangan, kita harus menyesuaikannya dengan kapasitas dan usia si kecil agar ia tahu batas dirinya sampai mana, kemampuan dirinya sampai mana, dan apa yang ia miliki untuk menghadapi masalah. Tingkatan tantangan perlu dilakukan secara teratur dan dengan bimbingan oleh orang dewasa.

• Ide Kegiatan Purposeful Exposure:
o 1-3 tahun:
Traveling/berlibur: Saat berlibur, anak akan belajar situasi baru di luar rutinitasnya. Ini akan menstimulasi kemampuan adaptasinya.
Sensory-Motoric activities: aktivitas fisik yang sesuai dengan usianya, akan bisa memberikan kesempatan anak untuk eksplorasi dan bergerak aktif
 Games: Orangtua bisa bermain bersama si kecil, agar kemampuan interaksi dan kreativitasnya meningkat
Art and craft: Buat proyek sederhana bersama keluarga, akan menstimulasi kreativitas dan problem solving anak.

o Untuk 3-6 tahun:
 Belajar skills baru: eksplorasi berbagai bidang / minat
 Ikutkan anak dalam berbagai kompetisi agar semakin percaya diri
 Mencoba berbagai pengalaman baru. Misalnya: kegiatan bersama di akhir pekan, traveling, dll
Social activity untuk meningkakan keterampilan sosial anak

“If parents want to give their children a gift, the best thing they can do is to teach their children to love challenges, be intrigued by mistakes, enjoy effort, and keep on learning.”
-Carol S. Dweck-

Melatih resiliensi pada anak memang tidak mudah. Namun, dengan pola asuh yang konsisten, cinta kasih yang tulus, dan teladan yang baik dari Ayah dan Ibu, anak-anak kita bisa tumbuh menjadi generasi masa depan yang kuat dan tangguh!

Latihan Mindfulness Bersama Buah Hati untuk Menurunkan Stres

oleh Mellissa Catalina Trisnadi, M.Psi., Psikolog

Psikolog

Hai, Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah Ayah dan Ibu merasakan jenuh, lelah, stres, dan khawatir terhadap masa depan akibat pandemi Covid-19? Perasaan-perasaan tersebut merupakan hal yang wajar dialami ketika ayah dan ibu menghadapi ketidak pastian. Berbagai macam penyesuaian harus kita lakukan untuk menghadapi perubahan akibat pandemi ini, seperti bekerja dari rumah, pertemuan online, peran tambahan sebagai guru di rumah sembari tetap mengurus pekerjaan kantor dan rumah tangga serta berbagai penyesuaian lainnya. Ini bukan hal yang mudah dijalani dan sangat melelahkan ya Ayah dan Ibu Kejora.

Perasaan tidak nyaman pun dialami buah hati kita. Proses pembelajaran yang tadinya dilaksanakan di sekolah sekarang menjadi pembelajaran di rumah secara daring. Keterbatasan berinteraksi secara langsung cukup membuat buah hati kita tidak nyaman. Selama pandemi, buah hati kita tidak dapat bermain bebas dengan teman-teman dan bersenda gurau untuk mengatasi kebosanan mereka. Rasa rindu dengan teman-teman, guru dan lingkungan sekolah juga dapat membuat buah hati tertekan.

Buah hati kita mungkin tidak mengatakan secara langsung “Aku stres”, “Aku bosan” atau “Aku cemas”, namun ayah dan ibu dapat belajar peka untuk melihat perubahan tingkah laku buah hati. Simpan dalam pikiran ayah dan ibu bahwa buah hati bukan dengan sengaja berperilaku tidak kooperatif, malas ataupun negatif. Perubahan perilaku ini merupakan respon untuk bertahan dalam situasi yang tidak nyaman.

Empati Ayah dan Ibu Kejora sangat diperlukan untuk membantu buah hati melalui masa-masa sulit ini. Selain itu, Ayah dan Ibu Kejora dapat mengajarkan teknik mindfulness untuk membantu buah hati melalui situasi stres ini.

Apa itu mindfulness?

Mindfulness adalah kemampuan dasar manusia untuk hadir sepenuhnya, menyadari keberadaan dan apa yang sedang dilakukannya tanpa menjadi reaktif terhadap apa yang terjadi di sekeliling. Kuncinya adalah kesadaran penuh pada diri saat ini dan penerimaan. Praktik mindfulness menekankan pada sensasi pernafasan perut untuk mengurangi tekanan pikiran dan stres. Dalam praktiknya, buah hati diajak untuk menyadari sensasi tubuh dengan cara mengaktifkan panca indera mereka, serta menyadari perasaan dan pikirannya.

Apa manfaat berlatih mindfulness?

Mindfulness membantu anak untuk:

  • Fokus dan meningkatkan rentang perhatian
  • Mampu mengatur emosi dengan lebih baik dan belajar merespon dengan penuh perhatian
  • Lebih sabar
  • Mengontrol impuls yang berlebihan

Bagaimana cara sederhana dan menarik mengajarkan teknik mindfulness pada buah hati?

  1. Spiderman Meditation

Permainan ini mengajak untuk mengaktifkan kelima panca indera. Instruksikan buah hati Anda untuk menyalakan ‘kekuatan supernya’, yaitu mencium, melihat, mendengar, merasakan dan menyentuh, layaknya Spiderman mengawasi dunia di sekitarnya.

Ijinkan buah hati Anda untuk mengeksplor lingkungan rumah dan mulai menggunakan kekuatan supernya, lalu instruksikan:

  • Penglihatan: pelan-pelan dan tenang, minta buah hati untuk menyebutkan 5 benda yang dilihat
  • Sentuhan: cari 4 hal yang bisa disentuh dan rasakan sensasinya, misalnya selimut rasanya halus, meja kayu rasanya kasar, es rasanya dingin.
  • Pendengaran: perhatikan 3 hal yang bisa didengar.
  • Penciuman: coba cari 2 hal di sekitarmu yang bisa kamu hirup baunya, misalnya sabun mandi dan sampo
  • Perasa/pengecap: coba cari 1 hal yang bisa kamu kecap, misalnya permen rasanya manis.

Aktivitas ini mendorong buah hati untuk memfokuskan perhatian pada kondisi saat ini, membuka kesadaran mereka mengenai informasi yang diperoleh indera mereka.

  1. Yuk dengerin detakannya!!!

Fokus perhatian pada denyut jantung juga merupakan bentuk latihan mindfulness. Ajak buah hati untuk melakukan lompatan kecil beberapa kali. Setelah itu minta buah hati Anda duduk dengan relaks ataupun berbaring terlentang dan letakkan tangan di dada. Minta buah hati Anda untuk menutup mata dan memfokuskan pikiran pada detakan jantung yang dirasakan oleh tangan dan fokus pada pernafasan perut secara perlahan.

Lakukan hal ini bersama buah hati Anda agar ia bersemangat berlatih bersama Anda.

  1. Breathing buddies

Minta buah hati Anda berbaring di tempat yang nyaman, letakkan boneka kesayangannya di atas perutnya. Minta buah hati Anda untuk menarik nafas panjang 3 hitungan kemudian menghembuskan perlahan selama 4 hitungan. Ayah dan Ibu Kejora bisa membantu untuk menghitung sambil bersama-sama melihat boneka yang ada di atas perut naik dan turun sesuai tarikan nafas. Lakukan berulang 5-10 kali.

Aktivitas ini sangat membantu anak untuk belajar relaksasi pernafasan.

Praktik mindfulness ini bisa dilakukan saat buah hati dalam kondisi bosan atau lelah mengerjakan tugas sekolah ataupun saat istirahat. Ayah dan Ibu dapat praktik bersama buah hati setiap hari secara rutin sehingga menjadi kebiasaan baru bagi buah hati. Selain dapat menurunkan stres, kegiatan ini juga dapat mendekatkan ayah dan ibu pada buah hati. Yuk Ayah dan Ibu Kejora kita berlatih bersama.

Editor: drg. Rahmatul Hayati

Referensi:

https://www.mindfulmazing.com/how-to-teach-mindfulness-to-kids/?utm_source=google_plus
https://www.mindfulmazing.com/why-mindfulness-for-kids-is-so-important/
https://positivepsychology.com/mindfulness-for-children-kids-activities/
https://www.psychologytoday.com/us/blog/suffer-the-children/201809/7-ways-mindfulness-can-help-children-s-brains

Tips Mengajarkan Tanggung Jawab pada Anak Selama Masa School from Home

 

 

 

 

oleh Nurhuzaifah Amini M.Psi., Psikolog

Psikolog

Hai, Keluarga Sehat Kejora!

Tidak terasa, ya, sudah 5 bulan kita #dirumahaja. Hampir seluruh aktivitas dilakukan di rumah saja, termasuk kegiatan persekolahan (School from Home) yang sudah mulai diberlakukan beberapa minggu lalu. Pasti ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan buat para Ayah dan Ibu, terlebih dengan adanya aktivitas lain yang juga menuntut untuk diselesaikan. Bila tidak terbiasa mendampingi anak belajar di rumah, situasi ini akan menjadi kegiatan menantang sekaligus menguras energi bagi orangtua. Perasaan kesal dan lelah saat mendampingi anak belajar di rumah adalah hal yang wajar, kok, karena beradaptasi dengan situasi baru memang tidak pernah mudah. Oleh karena itu, diperlukan penerimaan dan kesabaran yang luas dalam menghadapinya.

Kondisi belajar mengajar di kelas yang diawasi secara langsung oleh guru membuat anak lebih bisa mengontrol perilakunya, berbeda dengan di rumah yang minim pengawasan dari orangtua. Anak-anak cenderung lebih bebas melakukan tindakan yang ia inginkan sehingga tidak fokus terhadap materi yang diberikan. Hal paling ekstremnya mungkin anak sampai tidak mau belajar dari rumah. Hal ini tentu jadi masalah karnea membuat proses belajar menjadi kurang efektif dan anak ketinggalan pelajaran.  Oleh karena itu, dalam mendampingi anak untuk proses belajar, orangtua juga bisa sambil mengajarkan sikap disiplin dan tanggung jawab pada anak. Bertanggung jawab artinya melakukan sesuatu sesuai dengan harapan dan menerima hal yang menjadi konsekuensi dari perbuatan. Dengan anak belajar tanggung jawab, anak dapat mengetahui konsekuensi dari setiap pilihan yang ia lakukan. Hal ini akan melatih anak untuk mempertimbangkan terlebih dahulu setiap tindakannya. Beberapa prinsip yang perlu orangtua pahami ketika hendak mengajarkan tanggung jawab kepada anak diantaranya:

  1. Pastikan emosi orangtua stabil ketika sedang mendampingi anak.

Orangtua yang mendampingi anak dalam kondisi emosi tidak stabil dapat membuat anak merasa tidak nyaman dan tidak aman sehingga ayah dan Ibu perlu menjaga kestabilan emosi agar tidak memberi dampak negatif terhadap anak.

  1. Bangun koneksi dengan anak.

Agar anak merasa nyaman dengan perlakuan yang ia terima, orangtua perlu membangun koneksi dengan anak terutama secara emosional. Mulailah dengan memvalidasi perasaan anak jika mereka sedang sedih, marah, takut, lelah, dll, misalnya “ Adek lagi ngerasa capek ya? Ga apa-apa kok. Adek boleh istirahat dulu”.

  1. Beri kesempatan anak belajar bertanggung jawab

Sebagian orangtua menganggap anak belum mampu melakukan apapun sehingga segala kebutuhan mereka selalu dipenuhi. Padahal situasi ini dapat membuat anak kehilangan kesempatan untuk belajar bertanggung jawab. Coba beri kesempatan kepada anak untuk melakukan hal yang ia inginkan dan membantu mereka menyiapkan diri untuk menghadapi resiko yang mungkin akan terjadi.

  1. Samakan persepsi dengan pasangan dalam membuat aturan.

Tiap orangtua memiliki ekspektasi yang berbeda kepada anaknya. Memiliki ekspektasi itu boleh, tapi pastikan ekspektasi tersebut realistis untuk anak. Diskusikan secara pribadi dengan pasangan terkait harapan, metode bertanya dan konsekuensi yang akan dikenakan jika anak tidak patuh. Ketika anak tidak patuh atau bermasalah, usahakan agar orangtua berdua hadir untuk bernegosiasi terhadap permintaan anak.

  1. Cari waktu yang tepat untuk berkomunikasi dengan anak.

Cari waktu yang tepat untuk mendiskusikan harapan maupun permintaan Ayah dan Ibu kepada anak. Perhatikan kondisi anak secara fisik dan psikis sebelum mengajak mereka berdiskusi. Selain itu, minta persetujuan mereka apakah mereka mau dan siap untuk diajak berdisksusi atau tidak.

Selanjutnya, dalam mengajarkan sikap tanggung jawab pada anak terutama selama masa belajar dari rumah, ada beberapa cara yang Ayah dan Ibu bisa lakukan, diantaranya:

  1. Pahami keinginan anak.

Tidak semua hal yang menjadi harapan orangtua itu sesuai dengan harapan maupun kebutuhan anak. Anak terkadang memiliki kebutuhan dan harapan sendiri terkait hal yang membuatnya nyaman dan merasa aman… Dalam proses ini, orangtua perlu belajar memahami keingianan anak terutama yang berkaitan dengan proses belajar di rumah. Ayah dan Ibu bisa menanyakan  “Dek, gimana rasanya selama belajar dari rumah? Ada tidak hal yang adek mau sampaikan kepada Ibu? Ada tidak hal adek rasa tidak nyaman? Ada hal yang Ibu bisa bantu buat adek?”

  1. Komunikasikan perilaku yang diharapkan.

Setelah mengetahui keinginan anak, Ayah dan Ibu perlu untuk menerima emosinya terlebih dahulu. Apresiasi usaha anak yang telah terbuka mengutarakan keinginannya. Kemudian, Ayah dan Ibu dapat membangun diskusi dengan anak dengan mengkomunikasikan perilaku spesifik yang Ayah dan Ibu harapkan beserta aturannya, tanpa mengabaikan harapan anak. Dalam hal ini, Ayah dan Ibu bisa mengatakan “Terima kasih adek sudah terbuka dengan ayah dan Ibu untuk menyampaikan perasaan adek selama belajar di rumah. Ayah paham ini bukan hal yang mudah buat adek. Namun, ayah berharap adek mau coba lagi buat belajar sama Ibu X ya. Adek bisa menghadap ke depan laptop selama beberapa … menit. Jika adek merasa capek, adek boleh ngomong dan izin ke Ibu  X untuk menutup kameranya dulu agar adek bisa istirahat sebentar, baru setelah itu dilanjut lagi”.

  1. Jelaskan konsekuensi yang akan diperoleh pada anak

Saat mengajarkan sikap disiplin kepada anak, anak perlu memahami arti konsekuensi dari setiap tindakan yang mereka lakukan. Jelaskan dengan bahasa yang sederhana dan fokus pada manfaat dan kerugian yang akan anak peroleh, misalnya “ Kalau adek mendengarkan penjelasan Ibu X dengan baik, adek akan lebih mudah untuk mengerjakan PRnya. Selain itu,  waktu adek untuk bermain bisa ditambah nanti jadi….menit. Namun, jika tidak  mendengarkan penjelasan dari  Ibu X, nanti adek akan kesulitan sendiri untuk mengerjakan PR yang diberikan. Selain itu, untuk sementara penggunaan handphone adek juga akan dibatasi”.

  1. Gunakan kalimat positif dan spesifik.

Perlu dipahami bahwa pemahaman anak masih terbatas. Selain itu, mereka belum diberi kemampuan untuk menganalisa informasi dengan baik sehingga pemilihan kata yang digunakan saat memberi tahu anak sangat menentukan tingkat pemahaman anak. Menggunakan kalimat yang cenderung negatif hanya akan membuat pemaknaan anak juga  menjadi negatif. Oleh karena itu, coba gunakan kalimat yang lebih positif dengan instruksi yang spesifik. Selain itu, kalimat yang diucapkan juga perlu masuk akal alias realistis. Misalnya “Dek, jangan main-main. Dengerin tuh gurunya ngomong”, mungkin bisa diganti dengan “Dek, kalau gurunya lagi menjelaskan, mama pengen adek bisa duduk tenang, menghadap ke laptop sambil membuka halaman buku yang Ibu gurunya minta untuk buka”. Ibu dapat meminta anak mengulangi instruksinya untuk memastikan anak sudah paham atau belum.

  1. Jelaskan sambil mencontohkan perilakunya.

Perlu dipahami bahwa anak lebih mudah belajar dengan cara meniru. Oleh  karena itu, memberikan pelajaran tanggung jawab kepada anak juga perlu ditunjukkan dengan perbuatan maupun perilaku dari orangtuanya. Misalnya, Ibu ingin agar anak membereskan buku/laptopnya setelah belajar. Ibu dapat membantu anak memahami maksud Ibu dengan menjelaskan sambil menunjukkan cara membereskan buku/laptop itu setelah belajar.

  1. Berikan apresiasi terhadap usaha yang sudah dilakukan.

Dalam mengerjakan sesuatu, anak mengeluarkan energi sehingga anak membutuhkan apresiasi atau penghargaan atas hal yang sudah ia kerjakan. Ciptakan suasana agar anak-anak merasa dihargai baik sebagai dirinya maupun usaha yang ia lakukan, misalnya dengan mengatakan “ Wah, adek hebat. Terima kasih hari ini sudah mau belajar dengan baik”.

Semoga tips kali ini dapat membantu Ayah dan Ibu mendampingi anak selama masa School from Home, ya! Tetap semangat, Keluarga Kejora!

Editor: drg. Valeria Widita W

Sumber:

https://www.ahaparenting.com/parenting-tools/character/responsibility

https://www.verywellfamily.com/teaching-responsibility-to-your-child-3288496

https://pursuit.unimelb.edu.au/articles/five-tips-for-keeping-kids-learning-at-home

https://www.positivediscipline.com/articles/teaching-responsibility-when-does-it-happen

https://www.positivediscipline.com/articles/teaching-responsibility-when-does-it-happen

Tips Membantu Si Kecil agar Tetap Sehat Mental Selama Pandemi

 

 

 

 

 

oleh Nurhuzaifah Amini, M.Psi, Psikolog

Psikolog

 

Halo, Keluarga Sehat Kejora!


Seperti yang Ayah dan Ibu Kejora ketahui, adanya pandemi COVID-19 telah memberikan banyak dampak pada berbagai aspek kehidupan, termasuk kesehatan mental si kecil. Beberapa dampak pada kesehatan mental yang umum ditemui pada anak karena wabah ini diantaranya masalah kecemasan, stres, takut, marah, kesedihan, gangguan makan dan gangguan tidur. Selain itu, kemudahan anak dalam mengakses informasi melalui berbagai platform digital ternyata dapat memicu stres dan kecemasan pada anak meningkat. Faktor risiko lainnya yang dapat memperburuk kondisi kesehatan mental anak adalah kondisi #dirumahaja dengan minim interaksi serta aktivitas yang menyenangkan. Bahkan dalam beberapa kondisi tertentu, situasi #dirumahaja dapat meningkatkan risiko terjadinya pelecehan dan berbagai bentuk kekerasan pada anak.


Tentu ayah dan ibu tidak ingin agar hal-hal tersebut terjadi pada si kecil. Namun, ayah dan ibu perlu tenang dulu. Perlu ayah dan ibu ketahui bahwa sebenarnya normal saja bagi anak-anak untuk merasa khawatir, cemas atau stres saat ini karena memang ada berbagai perubahan dalam hidup hingga rutinitas. Hanya saja, jika kondisi tersebut berlangsung lama dan si kecil tidak disiapkan dengan baik oleh orangtua untuk menghadapi situasi ini, maka bisa berdampak lebih buruk lagi pada kesehatan mentalnya. Oleh karena itu, ada beberapa tips yang bisa ayah dan ibu lakukan untuk membantu si kecil agar tetap sehat mental selama pandemi.


1. Kelola stres Ayah dan Ibu terlebih dahulu

Kebanyakan orangtua tentunya berharap agar anak-anaknya tidak mengalami dampak buruk dari adanya pandemi ini. Namun, orangtua sendiri sering dilanda perasaan cemas dan stres. Kecemasan atau stres itu “menular” sehingga anak-anak dapat merasakan dan mengetahui bahwa ayah dan ibu stres meskipun sudah berusaha menyembunyikannya. Jadi bagaimana agar ayah dan ibu bisa tetap terlepas dari rasa cemas dan stres selama pandemi ? Berikut beberapa hal yang dapat membantu:

  • Jalani pola hidup sehat seperti makan teratur dan bergizi, tidur yang cukup dan olahraga yang rutin.
  • Dapatkan informasi dari sumber yang kredibel dan batasi akses informasi yang dapat memicu kekhawatiran.
  • Kuatkan hubungan antara ayah dan ibu. Bangun komunikasi dan kerjasama yang baik selama #dirumahaja.
  • Buat jadwal secara rutin setiap harinya, yakni jadwal untuk bekerja (jika working mom-dad), jadwal mengerjakan urusan rumah tangga dan jadwal dengan anak.
  • Perjelas pembagian peran antara ayah dan ibu dalam bekerja, termasuk mengasuh anak.
  • Coba lakukan aktivitas dengan mindfulness.
  • Jangan lupa untuk seimbangkan waktu untuk bekerja dan beristirahat hingga me time untuk ayah dan ibu.
  • Tetap menjalin komunikasi dengan kerabat atau sahabat.


2. Tanyakan hal yang diketahui si kecil

Sebagian besar anak pasti sudah mendengar tentang COVID-19, terutama anak-anak usia sekolah dan remaja. Mereka mungkin telah membaca berbagai hal dari TV, internet atau mendengar teman atau guru membicarakan hal tersebut. Namun, ingat bahwa semua informasi yang diterima anak belum tentu benar sehingga sebisa mungkin ayah dan ibu kembali membuka komunikasi dengan anak untuk membahas terkait hal yang anak pahami. Untuk membantu, ayah dan ibu bisa mengajukan beberapa pertanyaan berikut pada si kecil :

    • “Apa yang adik ketahui tertang virus Corona?”
    • “Di mana adik mendengarnya?”
    • “Ada tidak yang adik khawatirkan? Kalau ada, apa yang adik khawatirkan akhir-akhir ini?”
    • “Bagaimana perasaan adik saat ini selama di rumah aja?”
    • “Ada tidak yang ayah atau ibu bisa bantu untuk adik?”

Setelah mengetahui informasi yang anak miliki, maka ayah dan ibu dapat membantu membenahi apabila ada hal yang kurang tepat. Ingat, jika si kecil bertanya apakah ayah dan ibu khawatir, jujur saja! Anak bisa mengetahui jika ayah da ibu tidak mengatakan yang sebenarnya kepada mereka. Ayah dan ibu bisa mengatakan hal-hal seperti: “Iya, ayah khawatir tentang virus ini, tetapi ayah tahu kok kalau ada cara untuk mencegah penyebarannya jadi adik tenang dulu, ya. ”


3. Bantu si kecil mengenali emosinya

Ketika anak-anak merasakan suatu emosi, mereka paling mudah menunjukkannya melalui perilaku. Ada alasan mengapa anak-anak mungkin bertingkah dengan cara yang belum pernah ayah dan ibu lihat sebelumnya. Nah, dari situasi ini ayah dan ibu perlu untuk memahami bahwa si kecil tidak memiliki keterampilan berpikir dan bernalar ketika mereka dibanjiri emosi. Jika anak tidak dapat fokus pada tugas-tugas sekolah, mengamuk, atau menarik diri, kemungkinan terjadi sesuatu dalam diri mereka. Kenali tanda-tanda perubahan dalam diri anak. Sebagai contoh, jika si kecil berteriak, “Saya tidak suka belajar (platform pembelajaran virtual).” Perlu ayah dan ibu pahami bahwa anak-anak akan menolak ketika mereka merasa kewalahan. Perlawanan adalah puncak gunung es dari kesedihan, frustrasi, atau emosi besar lainnya yang mungkin ada di bawah permukaan dan sulit untuk diekspresikan oleh anak.

Coba luangkan waktu seperti ini untuk membantu anak mengasah kemampuan memahami emosi mereka. Alih-alih menekan dan memaksa mereka untuk menyelesaikan pekerjaan mereka, coba membantu mereka menggali lebih dalam dengan mengajukan pertanyaan seperti “Apa itu tentang (platform pembelajaran virtual) yang tidak disukai?” Arahkan si kecil untuk mengupas lebih dalam emosi yang ia rasakan untuk memahami apa yang sebenarnya memicu perilakunya.


4. Validasi perasaan si kecil

Anak-anak mungkin memiliki segala macam reaksi terhadap COVID-19 bahkan situasi #dirumahaja. Beberapa diantara mereka ada yang bisa memahami, namun beberapa anak lainnya mungkin membesar-besarkan hal yang mereka pahami, Kekhawatiran atau bentuk emosi lainnya perlu diterima dan divalidasi dulu. Misalnya, mereka mungkin pernah mendengar bahwa orang yang lebih tua lebih rentan untuk terkena virus daripada orang yang lebih muda. Ayah dan ibu dapat mengatakan bahwa emosi kekhawatiran tersebut wajar agar si kecil merasa diperhatikan dan dianggap, tetapi perlu juga diyakinkan bahwa orang tua juga bisa mendapatkan perawatan medis untuk menghadapi virus tersebut. Contoh lain, seorang anak mungkin takut bahwa hewan peliharaannya juga bisa terkena virus. Ayah dan ibu perlu menanggapi perasaan si kecil dengan serius, tetapi kemudian yakinkan hewan peliharaan mereka tidak akan terkena virus, sehingga tidak perlu khawatir tentang hal ini.


5. Bersedia untuk diberi pertanyaan

Situasi ini kemungkinan akan berlangsung lama sehingga komunikasi dengan anak tidak akan berlangsung sekali. Biarkan anak tahu bahwa mereka dapat mendatangi ayah dan ibu kapan saja dengan pertanyaan terkait kekhawatiran mereka. Hal ini juga dapat dijadikan kesempatan untuk melakukan check kondisi anak, karena mereka mungkin tidak akan mendekati ayah dan ibu terlebih dahulu jika mereka takut. Saat menjawab dengan memberikan informasi baru, jangan berasumsi bahwa si kecil dapat memahami secara langsung dan sepenuhnya hal yang ayah dan ibu katakan. Minta mereka untuk menjelaskan kembali kepada ayah dan ibu dengan bahasa mereka sendiri untuk mengetahui seberapa banyak yang mereka pahami.


6. Pastikan anak mengetahui cara melindungi diri mereka dari bahaya virus

Penting untuk ayah dan ibu untuk menunjukkan cara menjaga kebersihan dalam upaya melindungi diri agar dapat menjadi role model yang baik bagi si kecil seperti rajin mencuci tangan, etika bersin/batuk, tidak berjabat tangan, dll. Beri tahu anak-anak semua hal positif yang dapat mereka lakukan setiap hari, daripada menekankan hal-hal negatif untuk menurunkan tingkat stres bagi seluruh keluarga.


7. Batasi paparan media

Pantau seberapa banyak anak terpapar pada cakupan pandemi. Minimalisasi akses ke TV atau media sosial jika perlu. Anak-anak dapat dengan mudah mengartikan informasi dan membayangkan yang terburuk tanpa pengawasan dari orangtua.


8. Buat jadwal secara rutin dan konsisten

Memiliki jadwal yang rutin akan mengurangi stres mereka bagi si kecil. Jadwal yang rutin dapat menjadi petunjuk bagi si kecil dalam menjalani aktivitas #dirumahaja seperti hari normal. Ketidakpastian tentang apa yang terjadi selanjutnya hanya menumbuhkan kecemasan dan ketakutan akan hal yang tidak diketahui. Jadilah kreatif dan fleksibel dengan jadwal itu. Tetapkan waktu untuk tugas sekolah dan belajar, serta untuk bersantai bersama, mendapatkan udara segar dan melakukan beberapa latihan fisik bersama.


9. Buat aktivitas yang menyenangkan bersama si kecil

Situasi yang mengharuskan SFH (School from Home) tentu sedikit banyak membatasi kebebasan dan kebutuhan anak untuk bermain, berbeda jika benar-benar berada di sekolah. Oleh karena itu, usahakan agar ayah dan ibu menciptakan kegiatan-kegiatan menyenangkan seperti yang anak temukan di sekolah agar anak tetap bisa merasa senang dan nyaman meski #dirumahaja seperti olahraga bersama, jadwalkan video call bersama dengan teman-teman si kecil, mencoba virtual museum, dll. Pada prinsipnya, tetap seimbangkan kebutuhan belajar dan bermain anak.


10. Bagaimana jika ada keluarga yang terkena virus?

Peristiwa traumatis dapat membuat anak-anak sangat rentan sehingga memicu ketakutan dalam dirinya. Namun, ingat bahwa anak-anak akan belajar dari lingkungannya, terutama orangtua dalam mengupayakan keselamatan. Oleh karena itu, orangtua perlu yakin dan percaya bahwa dirinya aman sehingga anak juga dapat merasa aman meski mengetahui dirinya terkena virus. Ayah dan ibu bisa membantu si kecil dengan mengatakan, “Situasi seperti ini sama kok dengan masalah yang lain. Kita hanya perlu belajar tenang, kemudian mencari cara untuk menghadapinya dan belajar untuk mencegahnya agar tidak tertular. Adik perlu tahu bahwa banyak orang-orang di luar sana seperti dokter dan perawat yang bekerja keras dalam menghadapi virus ini, jadi kita perlu percaya mereka. Jadi, tenang ya.”


11. Yang paling penting, gunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami

Perhatikan selalu gaya bahasa yang digunakan positif dan tidak condong menakut-nakuti. Selain itu, dalam memberi pengertian, pastikan informasi yang disampaikan merupakan fakta dari sumber yang terpercaya. Sebelum disampaikan, penting untuk mengolah fakta tersebut ke dalam kalimat sederhana agar mudah dicerna oleh si kecil. Tanamkan kepada anak untuk aktif bertanya, dan mencari tahu bersama apabila ada situasi yang tidak dipahami.

Editor : drg. Valeria Widita W

 

Referensi:

https://www.mghclaycenter.org/hot-topics/7-ways-to-support-kids-and-teens-through-the-coronavirus-pandemic/

https://www.mother.ly/child/pandemic-mental-health-effect-on-children