Menumbuhkan Resiliensi pada Anak


 

 

 

 

oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora!
Kita tentu menyadari perkembangan jaman yang bergerak secara dinamis, berubah sangat cepat, dan kompetitif. Di satu sisi, hal ini memiliki dampak positif, yaitu makin banyak pilihan dan informasi semakin mudah didapatkan. Di sisi lain, tantangan dan kesulitan juga semakin banyak. Anak-anak kita, sebagai generasi berikutnya, perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan baik, agar siap menghadapi tantangan masa depan.

Untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan dan tantangan masa depan, bukan hanya diperlukan kompetensi saja, namun juga perlu memiliki karakter positif agar anak-anak kita bisa menjadi generasi yang siap menghadapi perkembangan jaman.

Salah satu karakter positif, yang bisa kita ajarkan sejak dini pada si kecil adalah Resiliensi. Anak yang tangguh / memiliki resilien akan tidak mudah menyerah dan bisa bangkit kembali saat menemui kesulitan dan tantangan. Yuk simak, penjelasan mengenai resiliensi dan bagaimana menumbuhkannya pada si kecil.

 

Apa itu Resiliensi pada Anak?
APA (American Psychological Association) menyatakan definisi resiliensi sebagai kemampuan untuk bisa beradaptasi dan bangkit dengan baik dalam menghadapi tantangan dan kesulitan yang dihadapi.

Resiliensi adalah bounce back atau bangkit kembali dari pengalaman sulit. Seperti trampolin, anak yang punya resilien, akan punya daya lenting yang baik. Self-resilience akan membuat individu terus maju menjalankan hidup bahkan dalam keadaan tersulit.

 

Mengapa Resiliensi Penting?
 Membantu anak mengantisipasi maupun mengenali peluang
 Mendorong anak mencapai goal-nya
 Mendorong tercapainya hidup sehat dan bahagia

Karakter resilien bukanlah karakter bawaan lahir yang berasal dari genetik, namun perlu diasah dan dilatih. Pada 5 tahun pertama kehidupannya, si kecil akan banyak mengembangkan dasar-dasar kepercayaan diri yang menjadi pondasi dalam menghadapi tantangan-tantangan tumbuh kembangnya. Maka dari itu, resiliensi perlu dilatih sejak dini.

 

Bagaimanakah Ciri Anak yang Resilien?
1. Emotional Well-Being: Mampu mengelola emosinya
2. Berani: Menghadapi rasa takutnya dan mau mencoba hal-hal baru
3. Autonomy: Mandiri, percaya diri (percaya kepada kemampuannya sendiri dalam kondisi tak terduga)
4. Problem Solving: Mampu memahami masalah dan bisa mengatasi atau memecahkan berbagai masalah
5. Social Competence: Bisa beradaptasi dan bersosialisasi dalam lingkungannya.

Rumus ABCDE Menumbuhkan Resiliensi pada Anak

1. A: Ada untuk anak
• Meluangkan waktu dan mendampingi anak bukan berarti mengambil alih secara penuh atau menghilangkan tantangan yang si kecil sedang hadapi. Kita bisa berikan contoh, tawarkan alternatif bantuan, dan berikan dukungan agar si kecil makin semangat dan merasa di dukung oleh kita.

2. B: Beri kesempatan
• Ciptakan lingkungan yang mendukung anak melalui tantangan dan peluang, akan melatih kemampuan adaptasi dan problem solving si kecil.

3. C: Cintai anak tanpa syarat
• Menerima anak apa adanya, bukan hanya ketika mereka pintar / sesuai harapan kita
• Mencintai anak dengan kasih sayang dan perhatian, namun tanpa memanjakan
• Cinta dari orangtua yang tulus dan tanpa syarat, akan membuat anak merasa aman, percaya diri, tidak ragu untuk mengeksplorasi dan belajar berbagai hal. Hal ini akan membantu anak dalam menghadapi berbagai proses (rintangan, kesulitan, dan tantangan).

“Behind every child who believes in himself is a parent who believed first”
– Matthew Jacobson –

4. D: Dukung secara positif
Artinya:
Berikan afirmasi positif. Contoh: “Kenapa sih salah terus!” diganti dengan “Ini susah ya, coba kamu lakukan pelan-pelan ya.. kamu pasti bisa, dek”
Fokus pada proses / usaha si kecil. Saat kita hanya fokus pada hasilnya, akan membuat si kecil merasa tertekan dan menghindari aktivitas menantang agar tidak mendapatkan respon negatif saat tidak berhasil.
• Dampingi si kecil menghadapi kegagalan. Jelaskan pada si kecil bahwa saat ia berbuat salah / gagal, adalah saat belajar sesuatu dan itu bukanlah hal yang menakutkan. Yang terpenting, mau mencoba kembali. Misal saat anak belajar makan sendiri, namun tumpah-tumpah. Sebisa mungkin jangan langsung memarahinya, ajari anak caranya dan kasih kesempatan coba lagi.


5. E: Emotional & Social wellbeing
Latih si kecil untuk bisa mengola emosinya. Ajarkan bahwa emosi boleh saja dirasakan dan diungkapkan, namun mereka pun perlu memikirkan tindakan yang harus dilakukan dalam meregulasi emosinya tersebut.
Latih keterampilan sosial si kecil agar ia mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Ajarkan bagaimana ia mendapatkan teman baru, membuka perbincangan dengan orang baru (baik lebih tua, sepantaran, hingga lebih muda darinya).

 

Aktivitas yang bisa Mengembangkan Karakter Resilien pada Anak
• Aktivitas untuk meningkatkan resiliensi pada anak, harus bersifat: Purposeful Exposure atau ‘tantangan’, tujuannya untuk memberikan perubahan positif (transformasi) pada anak.
 Memberi tantangan lebih. Risikonya atau tantangannya medium.
 Memunculkan perubahan positif / kreativitas anak untuk memecahkan masalah
 Anak berperan aktif.

• Note: Saat memberikan tantangan, kita harus menyesuaikannya dengan kapasitas dan usia si kecil agar ia tahu batas dirinya sampai mana, kemampuan dirinya sampai mana, dan apa yang ia miliki untuk menghadapi masalah. Tingkatan tantangan perlu dilakukan secara teratur dan dengan bimbingan oleh orang dewasa.

• Ide Kegiatan Purposeful Exposure:
o 1-3 tahun:
Traveling/berlibur: Saat berlibur, anak akan belajar situasi baru di luar rutinitasnya. Ini akan menstimulasi kemampuan adaptasinya.
Sensory-Motoric activities: aktivitas fisik yang sesuai dengan usianya, akan bisa memberikan kesempatan anak untuk eksplorasi dan bergerak aktif
 Games: Orangtua bisa bermain bersama si kecil, agar kemampuan interaksi dan kreativitasnya meningkat
Art and craft: Buat proyek sederhana bersama keluarga, akan menstimulasi kreativitas dan problem solving anak.

o Untuk 3-6 tahun:
 Belajar skills baru: eksplorasi berbagai bidang / minat
 Ikutkan anak dalam berbagai kompetisi agar semakin percaya diri
 Mencoba berbagai pengalaman baru. Misalnya: kegiatan bersama di akhir pekan, traveling, dll
Social activity untuk meningkakan keterampilan sosial anak

“If parents want to give their children a gift, the best thing they can do is to teach their children to love challenges, be intrigued by mistakes, enjoy effort, and keep on learning.”
-Carol S. Dweck-

Melatih resiliensi pada anak memang tidak mudah. Namun, dengan pola asuh yang konsisten, cinta kasih yang tulus, dan teladan yang baik dari Ayah dan Ibu, anak-anak kita bisa tumbuh menjadi generasi masa depan yang kuat dan tangguh!

Latihan Mindfulness Bersama Buah Hati untuk Menurunkan Stres

oleh Mellissa Catalina Trisnadi, M.Psi., Psikolog

Psikolog

Hai, Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah Ayah dan Ibu merasakan jenuh, lelah, stres, dan khawatir terhadap masa depan akibat pandemi Covid-19? Perasaan-perasaan tersebut merupakan hal yang wajar dialami ketika ayah dan ibu menghadapi ketidak pastian. Berbagai macam penyesuaian harus kita lakukan untuk menghadapi perubahan akibat pandemi ini, seperti bekerja dari rumah, pertemuan online, peran tambahan sebagai guru di rumah sembari tetap mengurus pekerjaan kantor dan rumah tangga serta berbagai penyesuaian lainnya. Ini bukan hal yang mudah dijalani dan sangat melelahkan ya Ayah dan Ibu Kejora.

Perasaan tidak nyaman pun dialami buah hati kita. Proses pembelajaran yang tadinya dilaksanakan di sekolah sekarang menjadi pembelajaran di rumah secara daring. Keterbatasan berinteraksi secara langsung cukup membuat buah hati kita tidak nyaman. Selama pandemi, buah hati kita tidak dapat bermain bebas dengan teman-teman dan bersenda gurau untuk mengatasi kebosanan mereka. Rasa rindu dengan teman-teman, guru dan lingkungan sekolah juga dapat membuat buah hati tertekan.

Buah hati kita mungkin tidak mengatakan secara langsung “Aku stres”, “Aku bosan” atau “Aku cemas”, namun ayah dan ibu dapat belajar peka untuk melihat perubahan tingkah laku buah hati. Simpan dalam pikiran ayah dan ibu bahwa buah hati bukan dengan sengaja berperilaku tidak kooperatif, malas ataupun negatif. Perubahan perilaku ini merupakan respon untuk bertahan dalam situasi yang tidak nyaman.

Empati Ayah dan Ibu Kejora sangat diperlukan untuk membantu buah hati melalui masa-masa sulit ini. Selain itu, Ayah dan Ibu Kejora dapat mengajarkan teknik mindfulness untuk membantu buah hati melalui situasi stres ini.

Apa itu mindfulness?

Mindfulness adalah kemampuan dasar manusia untuk hadir sepenuhnya, menyadari keberadaan dan apa yang sedang dilakukannya tanpa menjadi reaktif terhadap apa yang terjadi di sekeliling. Kuncinya adalah kesadaran penuh pada diri saat ini dan penerimaan. Praktik mindfulness menekankan pada sensasi pernafasan perut untuk mengurangi tekanan pikiran dan stres. Dalam praktiknya, buah hati diajak untuk menyadari sensasi tubuh dengan cara mengaktifkan panca indera mereka, serta menyadari perasaan dan pikirannya.

Apa manfaat berlatih mindfulness?

Mindfulness membantu anak untuk:

  • Fokus dan meningkatkan rentang perhatian
  • Mampu mengatur emosi dengan lebih baik dan belajar merespon dengan penuh perhatian
  • Lebih sabar
  • Mengontrol impuls yang berlebihan

Bagaimana cara sederhana dan menarik mengajarkan teknik mindfulness pada buah hati?

  1. Spiderman Meditation

Permainan ini mengajak untuk mengaktifkan kelima panca indera. Instruksikan buah hati Anda untuk menyalakan ‘kekuatan supernya’, yaitu mencium, melihat, mendengar, merasakan dan menyentuh, layaknya Spiderman mengawasi dunia di sekitarnya.

Ijinkan buah hati Anda untuk mengeksplor lingkungan rumah dan mulai menggunakan kekuatan supernya, lalu instruksikan:

  • Penglihatan: pelan-pelan dan tenang, minta buah hati untuk menyebutkan 5 benda yang dilihat
  • Sentuhan: cari 4 hal yang bisa disentuh dan rasakan sensasinya, misalnya selimut rasanya halus, meja kayu rasanya kasar, es rasanya dingin.
  • Pendengaran: perhatikan 3 hal yang bisa didengar.
  • Penciuman: coba cari 2 hal di sekitarmu yang bisa kamu hirup baunya, misalnya sabun mandi dan sampo
  • Perasa/pengecap: coba cari 1 hal yang bisa kamu kecap, misalnya permen rasanya manis.

Aktivitas ini mendorong buah hati untuk memfokuskan perhatian pada kondisi saat ini, membuka kesadaran mereka mengenai informasi yang diperoleh indera mereka.

  1. Yuk dengerin detakannya!!!

Fokus perhatian pada denyut jantung juga merupakan bentuk latihan mindfulness. Ajak buah hati untuk melakukan lompatan kecil beberapa kali. Setelah itu minta buah hati Anda duduk dengan relaks ataupun berbaring terlentang dan letakkan tangan di dada. Minta buah hati Anda untuk menutup mata dan memfokuskan pikiran pada detakan jantung yang dirasakan oleh tangan dan fokus pada pernafasan perut secara perlahan.

Lakukan hal ini bersama buah hati Anda agar ia bersemangat berlatih bersama Anda.

  1. Breathing buddies

Minta buah hati Anda berbaring di tempat yang nyaman, letakkan boneka kesayangannya di atas perutnya. Minta buah hati Anda untuk menarik nafas panjang 3 hitungan kemudian menghembuskan perlahan selama 4 hitungan. Ayah dan Ibu Kejora bisa membantu untuk menghitung sambil bersama-sama melihat boneka yang ada di atas perut naik dan turun sesuai tarikan nafas. Lakukan berulang 5-10 kali.

Aktivitas ini sangat membantu anak untuk belajar relaksasi pernafasan.

Praktik mindfulness ini bisa dilakukan saat buah hati dalam kondisi bosan atau lelah mengerjakan tugas sekolah ataupun saat istirahat. Ayah dan Ibu dapat praktik bersama buah hati setiap hari secara rutin sehingga menjadi kebiasaan baru bagi buah hati. Selain dapat menurunkan stres, kegiatan ini juga dapat mendekatkan ayah dan ibu pada buah hati. Yuk Ayah dan Ibu Kejora kita berlatih bersama.

Editor: drg. Rahmatul Hayati

Referensi:

https://www.mindfulmazing.com/how-to-teach-mindfulness-to-kids/?utm_source=google_plus
https://www.mindfulmazing.com/why-mindfulness-for-kids-is-so-important/
https://positivepsychology.com/mindfulness-for-children-kids-activities/
https://www.psychologytoday.com/us/blog/suffer-the-children/201809/7-ways-mindfulness-can-help-children-s-brains

Tips Mengajarkan Tanggung Jawab pada Anak Selama Masa School from Home

 

 

 

 

oleh Nurhuzaifah Amini M.Psi., Psikolog

Psikolog

Hai, Keluarga Sehat Kejora!

Tidak terasa, ya, sudah 5 bulan kita #dirumahaja. Hampir seluruh aktivitas dilakukan di rumah saja, termasuk kegiatan persekolahan (School from Home) yang sudah mulai diberlakukan beberapa minggu lalu. Pasti ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan buat para Ayah dan Ibu, terlebih dengan adanya aktivitas lain yang juga menuntut untuk diselesaikan. Bila tidak terbiasa mendampingi anak belajar di rumah, situasi ini akan menjadi kegiatan menantang sekaligus menguras energi bagi orangtua. Perasaan kesal dan lelah saat mendampingi anak belajar di rumah adalah hal yang wajar, kok, karena beradaptasi dengan situasi baru memang tidak pernah mudah. Oleh karena itu, diperlukan penerimaan dan kesabaran yang luas dalam menghadapinya.

Kondisi belajar mengajar di kelas yang diawasi secara langsung oleh guru membuat anak lebih bisa mengontrol perilakunya, berbeda dengan di rumah yang minim pengawasan dari orangtua. Anak-anak cenderung lebih bebas melakukan tindakan yang ia inginkan sehingga tidak fokus terhadap materi yang diberikan. Hal paling ekstremnya mungkin anak sampai tidak mau belajar dari rumah. Hal ini tentu jadi masalah karnea membuat proses belajar menjadi kurang efektif dan anak ketinggalan pelajaran.  Oleh karena itu, dalam mendampingi anak untuk proses belajar, orangtua juga bisa sambil mengajarkan sikap disiplin dan tanggung jawab pada anak. Bertanggung jawab artinya melakukan sesuatu sesuai dengan harapan dan menerima hal yang menjadi konsekuensi dari perbuatan. Dengan anak belajar tanggung jawab, anak dapat mengetahui konsekuensi dari setiap pilihan yang ia lakukan. Hal ini akan melatih anak untuk mempertimbangkan terlebih dahulu setiap tindakannya. Beberapa prinsip yang perlu orangtua pahami ketika hendak mengajarkan tanggung jawab kepada anak diantaranya:

  1. Pastikan emosi orangtua stabil ketika sedang mendampingi anak.

Orangtua yang mendampingi anak dalam kondisi emosi tidak stabil dapat membuat anak merasa tidak nyaman dan tidak aman sehingga ayah dan Ibu perlu menjaga kestabilan emosi agar tidak memberi dampak negatif terhadap anak.

  1. Bangun koneksi dengan anak.

Agar anak merasa nyaman dengan perlakuan yang ia terima, orangtua perlu membangun koneksi dengan anak terutama secara emosional. Mulailah dengan memvalidasi perasaan anak jika mereka sedang sedih, marah, takut, lelah, dll, misalnya “ Adek lagi ngerasa capek ya? Ga apa-apa kok. Adek boleh istirahat dulu”.

  1. Beri kesempatan anak belajar bertanggung jawab

Sebagian orangtua menganggap anak belum mampu melakukan apapun sehingga segala kebutuhan mereka selalu dipenuhi. Padahal situasi ini dapat membuat anak kehilangan kesempatan untuk belajar bertanggung jawab. Coba beri kesempatan kepada anak untuk melakukan hal yang ia inginkan dan membantu mereka menyiapkan diri untuk menghadapi resiko yang mungkin akan terjadi.

  1. Samakan persepsi dengan pasangan dalam membuat aturan.

Tiap orangtua memiliki ekspektasi yang berbeda kepada anaknya. Memiliki ekspektasi itu boleh, tapi pastikan ekspektasi tersebut realistis untuk anak. Diskusikan secara pribadi dengan pasangan terkait harapan, metode bertanya dan konsekuensi yang akan dikenakan jika anak tidak patuh. Ketika anak tidak patuh atau bermasalah, usahakan agar orangtua berdua hadir untuk bernegosiasi terhadap permintaan anak.

  1. Cari waktu yang tepat untuk berkomunikasi dengan anak.

Cari waktu yang tepat untuk mendiskusikan harapan maupun permintaan Ayah dan Ibu kepada anak. Perhatikan kondisi anak secara fisik dan psikis sebelum mengajak mereka berdiskusi. Selain itu, minta persetujuan mereka apakah mereka mau dan siap untuk diajak berdisksusi atau tidak.

Selanjutnya, dalam mengajarkan sikap tanggung jawab pada anak terutama selama masa belajar dari rumah, ada beberapa cara yang Ayah dan Ibu bisa lakukan, diantaranya:

  1. Pahami keinginan anak.

Tidak semua hal yang menjadi harapan orangtua itu sesuai dengan harapan maupun kebutuhan anak. Anak terkadang memiliki kebutuhan dan harapan sendiri terkait hal yang membuatnya nyaman dan merasa aman… Dalam proses ini, orangtua perlu belajar memahami keingianan anak terutama yang berkaitan dengan proses belajar di rumah. Ayah dan Ibu bisa menanyakan  “Dek, gimana rasanya selama belajar dari rumah? Ada tidak hal yang adek mau sampaikan kepada Ibu? Ada tidak hal adek rasa tidak nyaman? Ada hal yang Ibu bisa bantu buat adek?”

  1. Komunikasikan perilaku yang diharapkan.

Setelah mengetahui keinginan anak, Ayah dan Ibu perlu untuk menerima emosinya terlebih dahulu. Apresiasi usaha anak yang telah terbuka mengutarakan keinginannya. Kemudian, Ayah dan Ibu dapat membangun diskusi dengan anak dengan mengkomunikasikan perilaku spesifik yang Ayah dan Ibu harapkan beserta aturannya, tanpa mengabaikan harapan anak. Dalam hal ini, Ayah dan Ibu bisa mengatakan “Terima kasih adek sudah terbuka dengan ayah dan Ibu untuk menyampaikan perasaan adek selama belajar di rumah. Ayah paham ini bukan hal yang mudah buat adek. Namun, ayah berharap adek mau coba lagi buat belajar sama Ibu X ya. Adek bisa menghadap ke depan laptop selama beberapa … menit. Jika adek merasa capek, adek boleh ngomong dan izin ke Ibu  X untuk menutup kameranya dulu agar adek bisa istirahat sebentar, baru setelah itu dilanjut lagi”.

  1. Jelaskan konsekuensi yang akan diperoleh pada anak

Saat mengajarkan sikap disiplin kepada anak, anak perlu memahami arti konsekuensi dari setiap tindakan yang mereka lakukan. Jelaskan dengan bahasa yang sederhana dan fokus pada manfaat dan kerugian yang akan anak peroleh, misalnya “ Kalau adek mendengarkan penjelasan Ibu X dengan baik, adek akan lebih mudah untuk mengerjakan PRnya. Selain itu,  waktu adek untuk bermain bisa ditambah nanti jadi….menit. Namun, jika tidak  mendengarkan penjelasan dari  Ibu X, nanti adek akan kesulitan sendiri untuk mengerjakan PR yang diberikan. Selain itu, untuk sementara penggunaan handphone adek juga akan dibatasi”.

  1. Gunakan kalimat positif dan spesifik.

Perlu dipahami bahwa pemahaman anak masih terbatas. Selain itu, mereka belum diberi kemampuan untuk menganalisa informasi dengan baik sehingga pemilihan kata yang digunakan saat memberi tahu anak sangat menentukan tingkat pemahaman anak. Menggunakan kalimat yang cenderung negatif hanya akan membuat pemaknaan anak juga  menjadi negatif. Oleh karena itu, coba gunakan kalimat yang lebih positif dengan instruksi yang spesifik. Selain itu, kalimat yang diucapkan juga perlu masuk akal alias realistis. Misalnya “Dek, jangan main-main. Dengerin tuh gurunya ngomong”, mungkin bisa diganti dengan “Dek, kalau gurunya lagi menjelaskan, mama pengen adek bisa duduk tenang, menghadap ke laptop sambil membuka halaman buku yang Ibu gurunya minta untuk buka”. Ibu dapat meminta anak mengulangi instruksinya untuk memastikan anak sudah paham atau belum.

  1. Jelaskan sambil mencontohkan perilakunya.

Perlu dipahami bahwa anak lebih mudah belajar dengan cara meniru. Oleh  karena itu, memberikan pelajaran tanggung jawab kepada anak juga perlu ditunjukkan dengan perbuatan maupun perilaku dari orangtuanya. Misalnya, Ibu ingin agar anak membereskan buku/laptopnya setelah belajar. Ibu dapat membantu anak memahami maksud Ibu dengan menjelaskan sambil menunjukkan cara membereskan buku/laptop itu setelah belajar.

  1. Berikan apresiasi terhadap usaha yang sudah dilakukan.

Dalam mengerjakan sesuatu, anak mengeluarkan energi sehingga anak membutuhkan apresiasi atau penghargaan atas hal yang sudah ia kerjakan. Ciptakan suasana agar anak-anak merasa dihargai baik sebagai dirinya maupun usaha yang ia lakukan, misalnya dengan mengatakan “ Wah, adek hebat. Terima kasih hari ini sudah mau belajar dengan baik”.

Semoga tips kali ini dapat membantu Ayah dan Ibu mendampingi anak selama masa School from Home, ya! Tetap semangat, Keluarga Kejora!

Editor: drg. Valeria Widita W

Sumber:

https://www.ahaparenting.com/parenting-tools/character/responsibility

https://www.verywellfamily.com/teaching-responsibility-to-your-child-3288496

https://pursuit.unimelb.edu.au/articles/five-tips-for-keeping-kids-learning-at-home

https://www.positivediscipline.com/articles/teaching-responsibility-when-does-it-happen

https://www.positivediscipline.com/articles/teaching-responsibility-when-does-it-happen

Tips Membantu Si Kecil agar Tetap Sehat Mental Selama Pandemi

 

 

 

 

 

oleh Nurhuzaifah Amini, M.Psi, Psikolog

Psikolog

 

Halo, Keluarga Sehat Kejora!


Seperti yang Ayah dan Ibu Kejora ketahui, adanya pandemi COVID-19 telah memberikan banyak dampak pada berbagai aspek kehidupan, termasuk kesehatan mental si kecil. Beberapa dampak pada kesehatan mental yang umum ditemui pada anak karena wabah ini diantaranya masalah kecemasan, stres, takut, marah, kesedihan, gangguan makan dan gangguan tidur. Selain itu, kemudahan anak dalam mengakses informasi melalui berbagai platform digital ternyata dapat memicu stres dan kecemasan pada anak meningkat. Faktor risiko lainnya yang dapat memperburuk kondisi kesehatan mental anak adalah kondisi #dirumahaja dengan minim interaksi serta aktivitas yang menyenangkan. Bahkan dalam beberapa kondisi tertentu, situasi #dirumahaja dapat meningkatkan risiko terjadinya pelecehan dan berbagai bentuk kekerasan pada anak.


Tentu ayah dan ibu tidak ingin agar hal-hal tersebut terjadi pada si kecil. Namun, ayah dan ibu perlu tenang dulu. Perlu ayah dan ibu ketahui bahwa sebenarnya normal saja bagi anak-anak untuk merasa khawatir, cemas atau stres saat ini karena memang ada berbagai perubahan dalam hidup hingga rutinitas. Hanya saja, jika kondisi tersebut berlangsung lama dan si kecil tidak disiapkan dengan baik oleh orangtua untuk menghadapi situasi ini, maka bisa berdampak lebih buruk lagi pada kesehatan mentalnya. Oleh karena itu, ada beberapa tips yang bisa ayah dan ibu lakukan untuk membantu si kecil agar tetap sehat mental selama pandemi.


1. Kelola stres Ayah dan Ibu terlebih dahulu

Kebanyakan orangtua tentunya berharap agar anak-anaknya tidak mengalami dampak buruk dari adanya pandemi ini. Namun, orangtua sendiri sering dilanda perasaan cemas dan stres. Kecemasan atau stres itu “menular” sehingga anak-anak dapat merasakan dan mengetahui bahwa ayah dan ibu stres meskipun sudah berusaha menyembunyikannya. Jadi bagaimana agar ayah dan ibu bisa tetap terlepas dari rasa cemas dan stres selama pandemi ? Berikut beberapa hal yang dapat membantu:

  • Jalani pola hidup sehat seperti makan teratur dan bergizi, tidur yang cukup dan olahraga yang rutin.
  • Dapatkan informasi dari sumber yang kredibel dan batasi akses informasi yang dapat memicu kekhawatiran.
  • Kuatkan hubungan antara ayah dan ibu. Bangun komunikasi dan kerjasama yang baik selama #dirumahaja.
  • Buat jadwal secara rutin setiap harinya, yakni jadwal untuk bekerja (jika working mom-dad), jadwal mengerjakan urusan rumah tangga dan jadwal dengan anak.
  • Perjelas pembagian peran antara ayah dan ibu dalam bekerja, termasuk mengasuh anak.
  • Coba lakukan aktivitas dengan mindfulness.
  • Jangan lupa untuk seimbangkan waktu untuk bekerja dan beristirahat hingga me time untuk ayah dan ibu.
  • Tetap menjalin komunikasi dengan kerabat atau sahabat.


2. Tanyakan hal yang diketahui si kecil

Sebagian besar anak pasti sudah mendengar tentang COVID-19, terutama anak-anak usia sekolah dan remaja. Mereka mungkin telah membaca berbagai hal dari TV, internet atau mendengar teman atau guru membicarakan hal tersebut. Namun, ingat bahwa semua informasi yang diterima anak belum tentu benar sehingga sebisa mungkin ayah dan ibu kembali membuka komunikasi dengan anak untuk membahas terkait hal yang anak pahami. Untuk membantu, ayah dan ibu bisa mengajukan beberapa pertanyaan berikut pada si kecil :

    • “Apa yang adik ketahui tertang virus Corona?”
    • “Di mana adik mendengarnya?”
    • “Ada tidak yang adik khawatirkan? Kalau ada, apa yang adik khawatirkan akhir-akhir ini?”
    • “Bagaimana perasaan adik saat ini selama di rumah aja?”
    • “Ada tidak yang ayah atau ibu bisa bantu untuk adik?”

Setelah mengetahui informasi yang anak miliki, maka ayah dan ibu dapat membantu membenahi apabila ada hal yang kurang tepat. Ingat, jika si kecil bertanya apakah ayah dan ibu khawatir, jujur saja! Anak bisa mengetahui jika ayah da ibu tidak mengatakan yang sebenarnya kepada mereka. Ayah dan ibu bisa mengatakan hal-hal seperti: “Iya, ayah khawatir tentang virus ini, tetapi ayah tahu kok kalau ada cara untuk mencegah penyebarannya jadi adik tenang dulu, ya. ”


3. Bantu si kecil mengenali emosinya

Ketika anak-anak merasakan suatu emosi, mereka paling mudah menunjukkannya melalui perilaku. Ada alasan mengapa anak-anak mungkin bertingkah dengan cara yang belum pernah ayah dan ibu lihat sebelumnya. Nah, dari situasi ini ayah dan ibu perlu untuk memahami bahwa si kecil tidak memiliki keterampilan berpikir dan bernalar ketika mereka dibanjiri emosi. Jika anak tidak dapat fokus pada tugas-tugas sekolah, mengamuk, atau menarik diri, kemungkinan terjadi sesuatu dalam diri mereka. Kenali tanda-tanda perubahan dalam diri anak. Sebagai contoh, jika si kecil berteriak, “Saya tidak suka belajar (platform pembelajaran virtual).” Perlu ayah dan ibu pahami bahwa anak-anak akan menolak ketika mereka merasa kewalahan. Perlawanan adalah puncak gunung es dari kesedihan, frustrasi, atau emosi besar lainnya yang mungkin ada di bawah permukaan dan sulit untuk diekspresikan oleh anak.

Coba luangkan waktu seperti ini untuk membantu anak mengasah kemampuan memahami emosi mereka. Alih-alih menekan dan memaksa mereka untuk menyelesaikan pekerjaan mereka, coba membantu mereka menggali lebih dalam dengan mengajukan pertanyaan seperti “Apa itu tentang (platform pembelajaran virtual) yang tidak disukai?” Arahkan si kecil untuk mengupas lebih dalam emosi yang ia rasakan untuk memahami apa yang sebenarnya memicu perilakunya.


4. Validasi perasaan si kecil

Anak-anak mungkin memiliki segala macam reaksi terhadap COVID-19 bahkan situasi #dirumahaja. Beberapa diantara mereka ada yang bisa memahami, namun beberapa anak lainnya mungkin membesar-besarkan hal yang mereka pahami, Kekhawatiran atau bentuk emosi lainnya perlu diterima dan divalidasi dulu. Misalnya, mereka mungkin pernah mendengar bahwa orang yang lebih tua lebih rentan untuk terkena virus daripada orang yang lebih muda. Ayah dan ibu dapat mengatakan bahwa emosi kekhawatiran tersebut wajar agar si kecil merasa diperhatikan dan dianggap, tetapi perlu juga diyakinkan bahwa orang tua juga bisa mendapatkan perawatan medis untuk menghadapi virus tersebut. Contoh lain, seorang anak mungkin takut bahwa hewan peliharaannya juga bisa terkena virus. Ayah dan ibu perlu menanggapi perasaan si kecil dengan serius, tetapi kemudian yakinkan hewan peliharaan mereka tidak akan terkena virus, sehingga tidak perlu khawatir tentang hal ini.


5. Bersedia untuk diberi pertanyaan

Situasi ini kemungkinan akan berlangsung lama sehingga komunikasi dengan anak tidak akan berlangsung sekali. Biarkan anak tahu bahwa mereka dapat mendatangi ayah dan ibu kapan saja dengan pertanyaan terkait kekhawatiran mereka. Hal ini juga dapat dijadikan kesempatan untuk melakukan check kondisi anak, karena mereka mungkin tidak akan mendekati ayah dan ibu terlebih dahulu jika mereka takut. Saat menjawab dengan memberikan informasi baru, jangan berasumsi bahwa si kecil dapat memahami secara langsung dan sepenuhnya hal yang ayah dan ibu katakan. Minta mereka untuk menjelaskan kembali kepada ayah dan ibu dengan bahasa mereka sendiri untuk mengetahui seberapa banyak yang mereka pahami.


6. Pastikan anak mengetahui cara melindungi diri mereka dari bahaya virus

Penting untuk ayah dan ibu untuk menunjukkan cara menjaga kebersihan dalam upaya melindungi diri agar dapat menjadi role model yang baik bagi si kecil seperti rajin mencuci tangan, etika bersin/batuk, tidak berjabat tangan, dll. Beri tahu anak-anak semua hal positif yang dapat mereka lakukan setiap hari, daripada menekankan hal-hal negatif untuk menurunkan tingkat stres bagi seluruh keluarga.


7. Batasi paparan media

Pantau seberapa banyak anak terpapar pada cakupan pandemi. Minimalisasi akses ke TV atau media sosial jika perlu. Anak-anak dapat dengan mudah mengartikan informasi dan membayangkan yang terburuk tanpa pengawasan dari orangtua.


8. Buat jadwal secara rutin dan konsisten

Memiliki jadwal yang rutin akan mengurangi stres mereka bagi si kecil. Jadwal yang rutin dapat menjadi petunjuk bagi si kecil dalam menjalani aktivitas #dirumahaja seperti hari normal. Ketidakpastian tentang apa yang terjadi selanjutnya hanya menumbuhkan kecemasan dan ketakutan akan hal yang tidak diketahui. Jadilah kreatif dan fleksibel dengan jadwal itu. Tetapkan waktu untuk tugas sekolah dan belajar, serta untuk bersantai bersama, mendapatkan udara segar dan melakukan beberapa latihan fisik bersama.


9. Buat aktivitas yang menyenangkan bersama si kecil

Situasi yang mengharuskan SFH (School from Home) tentu sedikit banyak membatasi kebebasan dan kebutuhan anak untuk bermain, berbeda jika benar-benar berada di sekolah. Oleh karena itu, usahakan agar ayah dan ibu menciptakan kegiatan-kegiatan menyenangkan seperti yang anak temukan di sekolah agar anak tetap bisa merasa senang dan nyaman meski #dirumahaja seperti olahraga bersama, jadwalkan video call bersama dengan teman-teman si kecil, mencoba virtual museum, dll. Pada prinsipnya, tetap seimbangkan kebutuhan belajar dan bermain anak.


10. Bagaimana jika ada keluarga yang terkena virus?

Peristiwa traumatis dapat membuat anak-anak sangat rentan sehingga memicu ketakutan dalam dirinya. Namun, ingat bahwa anak-anak akan belajar dari lingkungannya, terutama orangtua dalam mengupayakan keselamatan. Oleh karena itu, orangtua perlu yakin dan percaya bahwa dirinya aman sehingga anak juga dapat merasa aman meski mengetahui dirinya terkena virus. Ayah dan ibu bisa membantu si kecil dengan mengatakan, “Situasi seperti ini sama kok dengan masalah yang lain. Kita hanya perlu belajar tenang, kemudian mencari cara untuk menghadapinya dan belajar untuk mencegahnya agar tidak tertular. Adik perlu tahu bahwa banyak orang-orang di luar sana seperti dokter dan perawat yang bekerja keras dalam menghadapi virus ini, jadi kita perlu percaya mereka. Jadi, tenang ya.”


11. Yang paling penting, gunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami

Perhatikan selalu gaya bahasa yang digunakan positif dan tidak condong menakut-nakuti. Selain itu, dalam memberi pengertian, pastikan informasi yang disampaikan merupakan fakta dari sumber yang terpercaya. Sebelum disampaikan, penting untuk mengolah fakta tersebut ke dalam kalimat sederhana agar mudah dicerna oleh si kecil. Tanamkan kepada anak untuk aktif bertanya, dan mencari tahu bersama apabila ada situasi yang tidak dipahami.

Editor : drg. Valeria Widita W

 

Referensi:

https://www.mghclaycenter.org/hot-topics/7-ways-to-support-kids-and-teens-through-the-coronavirus-pandemic/

https://www.mother.ly/child/pandemic-mental-health-effect-on-children

 

Si Kecil dalam Menghadapi Kehilangan Orang Tua

oleh Nurhuzaifah Amini, M.Psi, Psikolog

Psikolog

 

Halo, keluarga sehat Kejora Indonesia!

Kehadiran ayah dan bunda merupakan hal utama yang sangat dibutuhkan bagi perkembangan si kecil. Ayah dan bunda adalah orang pertama yang seharusnya memberikan kasih sayang dan mengajarkan si kecil dalam banyak hal. Namun, dalam beberapa kondisi, beberapa anak harus dihadapkan  pada situasi kehilangan orangtua karena kematian.

Menghadapi kehilangan orangtua bukanlah hal yang mudah bagi si kecil  Kematian orang tua dapat menjadi salah satu peristiwa paling traumatis yang dialami seorang anak. Efek psikologis dari kematian orang tua dapat memengaruhi perkembangan anak selama sisa hidupnya. Yuk, kenali beberapa dampak yang bisa muncul pada si kecil ketika mengalami kehilangan orang tua :

Aspek Emosional

  1. Kecemasan dan ketakutan

Figur ayah diidentikkan sebagai sosok pelindung bagi keluarga.  Oleh karena itu, kehilangan seorang ayah dapat menyebabkan kebingungan dan ketidakpercayaan yang besar pada si kecil. Si kecil berpotensi tumbuh menjadi anak yang tidak tahu bagaimana melindungi diri mereka sendiri atau bagaimana menghadapi tantangan dalam hidup yang dapat memengaruhi munculnya kecemasan dan ketakutan dalam menghadapi masalah.

  1. Kurang kasih sayang

Salah satu kebutuhan mendasar manusia adalah cinta. Kehilangan orang tua dapat membuat kebutuhan kasih sayang si kecil tidak terpenuhi. Situasi ini dapat membuat si kecil mengalami perasaan hampa dan kosong hingga dewasa.

  1. Perasaan inferior dan kurang berharga

Kehilangan orangtua dapat membuat si kecil berpikir bahwa diri mereka lemah dan lebih rendah dibandingkan dengan teman sebayanya yang memiliki keluarga utuh. Selain itu, tidak adanya figur orang tua dapat membuat si kecil menyalahkan diri sendiri, merasa tidak berharga, dan tidak berdaya dibanding anak-anak lain, sehingga memengaruhi keberhargaan diri dan kepercayaan diri si kecil.

  1. Permasalahan psikologis lainnya
    • Gangguan dalam pengembangan bahasa.
    • Kesulitan bicara.
    • Gangguan psikosomatis
    • Depresi, kecemasan, fobia, kemarahan, stress.
    • Asma, sakit kepala, masalah perut.
    • Bunuh diri.

Aspek Perilaku

  1. Kurangnya keterampilan

Salah satu proses pembelajaran si kecil adalah melalui modeling orang tuanya. Kehilangan role model membuat si kecil tidak lagi dapat belajar skill yang sesuai dengan tahap perkembangannya.

  1. Kriminalitas dan penggunaan obat-obatan terlarang

Perasaan marah, sedih dan sakit akibat kehilangan orangtua dapat membuat si kecil melampiaskan perasaannya terhadap tindakan amoral seperti kriminalitas dan penggunaan obat terlarang.

  1. Masalah seksual

Dampak seksual akibat kematian orangtua dapat memberikan respon yang berbeda pada anak laki-laki dan perempuan. Anak perempuan cenderung mencari figur ayah pada orang lain khususnya dalam hubungan romantik. Sedangkan pada anak laki-laki, bisa memengaruhi perkembangan seksualitas dan dapat menyebabkan masalah identitas seksual.

  1. Kegagalan akademik

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa nilai akademik anak dengan orang tua tunggal lebih rendah dibanding anak yang memiliki keluarga lengkap.

Aspek Sosial

  1. Sulit bersosialisasi

Dalam lingkungan yang ideal, orang tua menjadi pengasuh, panutan dan pemimpin yang mendisiplinkan kehidupan si kecil. Si kecil mempelajari aturan dan nilai pertama melalui orang tua mereka terlebih dahulu. Tanpa figur orangtua, si kecil menjadi bingung dan tidak memiliki pengetahuan serta keterampilan sosial.

Bagaimana seharusnya Ayah atau Bunda membantu menghadapi si kecil yang kehilangan?

  1. Perhatikan bahasa yang digunakan saat menjelaskan kematian.

Gunakan bahasa yang sederhana dan langsung. Jangan takut untuk menggunakan kata-kata seperti “meninggal” dan “mati” . Untuk anak yang lebih muda, bunda juga dapat mengatakan “Jantung ayah berhenti berdetak,” dan menekankan kalau jantung dan pernapasan itu hal yang dibutuhkan agar tetap hidup.

  1. Dengarkan dan hibur.

Setiap anak bereaksi berbeda ketika mengetahui bahwa orang yang dikasihinya meninggal. Ada yang menangis, dan ada mengajukan pertanyaan. Ada juga yang tidak bereaksi sama sekali. Tidak apa-apa. Tetap bersama si kecil, tawarkan pelukan, sediakan diri untuk mendengarkan ceritanya, jawab pertanyaan atau dampingi meskipun dalam keadaan diam.

  1. Refleksikan perasaannya.

Dorong anak-anak untuk mengatakan apa yang mereka pikirkan dan rasakan  setelah kehilangan. Terbuka pada si kecil terkait perasaan sendiri karena hal ini dapat membantu si kecil untuk merasa nyaman dengan perasaan mereka. Katakan hal-hal seperti, “Bunda tahu kamu merasa sangat sedih. Bunda juga sangat sedih. Kita berdua sangat mencintai ayah, dan ayah juga pasti mencintai kita.”

  1. Lakukan aktivitas yang membuat perasaan si kecil lebih baik.

Berikan kenyamanan yang dibutuhkan si kecil. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan kegiatan atau membicarakan topik yang membantu perasaan si kecil merasa sedikit lebih baik misalnya bermain, membuat karya seni atau pergi ke suatu tempat bersama.

  1. Beri si kecil waktu untuk sembuh dari kehilangan.

Menyembuhkan kesedihan itu membutuhkan waktu. Pastikan Bunda atau Ayah juga pelan-pelan menyembuhkan dirinya agar bisa membantu anak untuk kembali pulih. Tetap buat percakapan dengan si kecil untuk melihat bagaimana perasaan dan tindakannya terkait kesedihan tersebut.

Editor: drg. Valeria Widita W

Sumber :

https://insamer.com/en/the-effect-of-parental-death-on-child_2264.html

https://kidshealth.org/en/parents/death.html

 

Kenalkan dan Ajarkan 5 Bahasa Kasih Bagi Si Kecil di Hari Kasih Sayang


 

 

 

oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

Hallo Keluarga Sehat Kejora Indonesia!
Bulan Februari merupakan bulan penuh kasih sayang karena kita merayakan Valentine. Valentine adalah momen yang berkesan bagi para pasangan kekasih untuk saling mengungkapkan cinta. Ayah dan Bunda juga bisa ikut merayakan hari kasih sayang ini bersama keluarga.

Ayah dan Bunda bisa mengungkapkan kasih sayang kita bagi si kecil dengan berbagai cara. Dr. Gary Chapman dalam bukunya, The 5 Love Languages merumuskan 5 bahasa kasih. Dengan memberikan anak bahasa kasih, anak akan merasa dicintai oleh orangtuanya. Seperti tangki, kasih sayang kita pada anak perlu terus diisi sehingga kebutuhan anak kita akan kasih sayang dapat terpenuhi. Yuk Kenali 5 bahasa kasih yang bisa Ayah dan Bunda berikan dan ajarkan bagi si kecil!

5 Bahasa Kasih (5 Love Languages):
1. Touch (Sentuhan Fisik)
Sentuhan fisik merupakan bahasa cinta yang paling mudah diterapkan oleh Ayah dan Bunda dan akan langsung dirasakan oleh si kecil. Contoh sentuhan fisik kepada anak: memberi pelukan hangat, ciuman, usapan, belaian lembut di rambut dan punggung, tepukan ringan di punggung / lengan, dan bergandengan tangan.

2. Word of Affirmation (Kata-kata Cinta)
Word of affirmation merupakan cara penyampaian kasih melalui kata-kata positif dan dipenuhi kasih sayang kepada anak. Kata-kata yang positif dalam membuat self-esteem anak meningkat. Jangan lupa, untuk memberikan kata-kata cinta dengan nada dan suara yang lembut ya, Ayah dan Bunda. Contoh word affirmation yang bisa diberikan pada si kecil:
• Kata-kata penuh kasih: “Mama sayang kamu”; “Papa peduli padamu”
• Kata-kata yang memotivasi anak: “Ayah dan Bunda bangga padamu”; “Ayah yakin kamu pasti bisa”
• Kata-kata pujian:“Wah kamu pintar!”

3. Quality Time (Waktu Berkualitas)
Waktu berkualitas adalah waktu kebersamaan dimana Ayah dan Bunda memperhatikan si kecil secara penuh. Sesibuk apa pun Ayah dan Bunda, jangan lupa untuk memberikan waktu berkualitas bagi si kecil supaya si kecil merasa bahwa kita ada untuk mereka. Contoh quality time bersama si kecil: makan bersama anak, belajar bersama, bermain bersama, berbincang dan bercerita bersama anak.

4. Gift (Hadiah)
Gift merupakan bahasa kasih dengan memberikan hadiah sebagai ungkapan kasih sayang Ayah dan Bunda untuk si kecil. Ketika memberikan hadiah bagi si kecil, berikut tips yang bisa Ayah dan Bunda lakukan:
• Memberi barang yang dibutuhkan anak
• Memberi barang hasil karya sendiri, misalnya membuatkan anak mainan
•Yang penting bukanlah seberapa mahal hadiah yang diberikan. Tapi, seberapa tulus pemberian hadiah tersebut.

5. Act of Service (Tindakan Membantu / Melayani)
Act of service adalah bentuk bahasa kasih di mana Ayah dan Bunda menunjukkan sikap melayani si kecil dengan penuh kasih sayang, dengan sukarela bukan karena keterpaksaan. Ketika Ayah dan Bunda menunjukkan sikap mau membantu dan melayani si kecil, anak akan belajar juga melayani dan membantu orang lain. Selain itu, dengan membantu si kecil mengerjakan sesuatu, mereka akan makin percaya kepada Ayah dan Bunda, sehingga ikatan erat antara Ayah dan Bunda dengan si kecil semakin erat. Ayah dan Bunda bisa membantu si kecil melakukan hal yang belum bisa ia lakukan sendiri atau membantu si kecil ketika menghadapi kesulitan. Contoh act of service: memasak / membuat sarapan untuk si kecil, membantu si kecil mengerjakan tugas yang sulit.

Bagaimana Menerapkan Bahasa Kasih bagi si kecil?
Ayah dan Bunda bisa gunakan rumus sederhana 2T + 2K untuk menerapkan kelima bahasa kasih bagi si kecil:

1. TANPA Syarat: Berikan 5 bahasa kasih Ayah dan Bunda pada si kecil dengan memberikan Kasih Tanpa Syarat. Tunjukkan bahwa Ayah dan Bunda mengasihi si kecil dengan tulus.

2. TIDAK Takut Salah: Menjadi orangtua merupakan proses belajar terus-menerus. Ayah dan Bunda perlu tidak takut ketika masih ada kesalahan / hal yang kurang tepat yang kita lakukan dalam menunjukkan kasih sayang kita pada si kecil. Yang terpenting, Ayah dan Bunda terus-menerus mau belajar dalam memberikan kasih sayang bagi si kecil!

3. KENALI Bahasa Kasih Si Kecil: Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan si kecil, biasanya ada satu hingga dua bentuk bahasa kasih yang menonjol pada anak. Ayah dan Bunda perlu tahu bahasa kasih yang cocok dengan si kecil, supaya si kecil merasa disayangi oleh kita.

4. KONSISTEN: Berikan kelima bahasa kasih tersebut secara konsisten supaya si kecil mengenal berbagai bentuk kasih sayang dan cara mengungkapkan kasih sayang.

Ketika si kecil merasa dicintai dengan utuh dan penuh, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan lebih sehat secara sosioemosional!

Selamat merayakan rasa kasih sayang bersama keluarga tercinta, ya Ayah dan Bunda!

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Membangun Ikatan Dengan Si Buah Hati

 

 

 

 

oleh dr. Grace Hananta, C.Ht

Dokter Umum

 

Halo, keluarga sehat Kejora! Apakah Ayah dan Ibu sudah memeluk si buah hati hari ini? Tahukah, Ayah dan Ibu… Pertumbuhan dan perkembangan otak bayi terjadi sangat pesat di dua tahun pertama kehidupan mereka. Proses ini erat juga hubungannya dengan ikatan (bonding) penuh cinta kasih atau hubungan yang nyaman dengan pengasuh utamanya. Salah satu contoh ikatan ini adalah sebuah pelukan.

 

Pada usia 3 tahun, ukuran otak kita telah mencapai sekitar 90% ukuran otak orang dewasa. Sepanjang masa emas ini, interaksi yang berulang dan komunikasi yang terjalin dengan pengasuhnya akan membentuk memori dan kepercayaan, dan menjadi dasar kehidupan sang buah hati kelak. Anak-anak yang selama tumbuh kembangnya tidak mendapatkan pengalaman yang positif dan kurang stimulasi yang cukup dari pengasuh dan lingkungan sekitarnya berisiko menjadi anak-anak yang memiliki gangguan bahasa dan emosi yang tidak stabil, contohnya depresi, gangguan kecemasan, gangguan memori, dan gangguan belajar. Hal ini pun berdampak pada kemampuan anak untuk membangun dan mempertahankan hubungan yang sehat dengan sekitarnya.

 

Pada zaman orang tua kita, mungkin “pelajaran” mengasuh anak didapatkan dari lingkungan, yaitu dengan melihat atau terjun langsung dalam mengasuh adik, keponakan atau anak-anak kerabatnya. Namun di era modern saat ini mungkin kebiasaan itu mulai memudar. Persiapan untuk menjadi orang tua baru dimulai sejak kehamilan yang hanya sekitar 9 bulan, sehingga banyak yang mengalami shock dan tidak nyaman dengan peran barunya sebagai orang tua. Post-natal mood disorders sampai gangguan bonding dengan sang bayi juga mulai kerap ditemui.

 

Dari sebuah penelitian tahun 2012 oleh Essential Parent Company menunjukkan bahwa sekitar 80% orang tua baru merasa cemas dan tidak siap dengan keterampilan mereka dalam mengasuh bayi. Yang mengejutkan, pada saat itu Inggris termasuk salah satu negara yang rendah angka menyusuinya di Eropa. Hal ini disebabkan oleh sedikit atau tidak pernahnya melihat anggota keluarga yang menyusui. Walaupun menyusui tampak seperti keterampilan yang datang secara alamiah, namun dengan tidak pernah adanya paparan membuat aktifitas ini menjadi sesuatu yang sulit dan tidak menyenangkan. Pada akhirnya, ikatan antara ibu dan anak pun terganggu.

 

Beberapa hal yang dapat membantu terbentuknya ikatan antara ibu dan anak adalah sebagai berikut:

  • Masa hamil (antenatal): Ibu hamil sangat disarankan untuk menggali informasi melalui berbagai macam sumber. Misalnya mengikuti kelas ibu hamil, menonton video perawatan bayi, dll untuk menyiapkan keterampilan yang dapat meningkatkan bonding dengan bayi baik selama dalam kandungan ataupun setelah melahirkan.
  • Masa pasca melahirkan (post-natal): Ibu dianjurkan untuk terus mengasah keterampilan tersebut melalui sentuhan kulit (skin-to-skin contact), inisiasi menyusui dini, berpelukan, dan menggendong bayi. Ibu harus meluangkan waktu yang cukup untuk bertemu dan bertatap muka dengan si kecil sebagai salah satu cara berkomunikasi non-verbal. Yang juga penting adalah Ibu harus mencari support dari orang-orang terdekat, terutama apabila merasa belum dapat beradaptasi dengan baik. Sebagian orang tua baru terkadang merasa menjadi orang tua yang ‘gagal’, walau sebenarnya bayi dan anak usia dini tidak memahami makna “kegagalan” yang Ibu pikirkan atau rasakan. Dukungan yang adekuat akan membantu Ibu untuk memberikan kasih sayang yang penuh kepada sang buah hati.

 

Salah satu cara membangun ikatan dengan si buah hati adalah melalui pelukan. Menurut Paul Zak, seorang neuroeconomist, delapan pelukan per hari dapat membuat hidup dan hubungan lebih bahagia. Pelukan dapat merangsang pengeluaran hormon oksitosin yang mampu mengatasi stress.

 

Jadi, luangkanlah waktu setidaknya 15 detik untuk setiap pelukan yang kita berikan kepada anak-anak, bahkan lebih lama lagi. Tambahkan kata-kata penuh kasih sayang agar pelukan semakin bermakna. Misalnya, katakan pada si buah hati, “Nak, Ayah dan Ibu menyayangi kamu. Kamu adalah anak yang berharga dan berarti bagi Ayah/Ibu”.

 

Ayah dan Ibu, dapat kita lihat bersama bahwa ikatan antara orang tua dan anak sangat penting bagi tumbuh kembangnya dan masa yang akan datang. Bukan berapa banyak mainan atau gadget mahal yang mereka butuhkan, tetapi hadiah terindah dan terbaik baginya adalah kasih sayang, perhatian, dan dukungan yang tiada henti.

 

Yuk, Ayah dan Ibu, kita terus bangun dan perkuat ikatan dengan si kecil!

 

Sumber :

  1. https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/17571472.2015.1133012?scroll=top&needAccess=true&
  2. https://www.yourmodernfamily.com/science-says-hug-child-15-seconds/

Yuk Kenali Apa itu Separation Anxiety pada Anak dan Cara Mengatasinya!


 

 

 

oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

Hallo Keluarga Sehat Kejora Indonesia!

Pernahkah Ayah dan Bunda mengalami masa di mana anak-anak sulit dipisahkan dari orangtua atau pengasuhnya? Misalkan ketika si kecil mulai masuk sekolah, daycare, atau ketika Bunda bekerja. Si kecil menjadi enggan berpisah dengan orangtua/pengasuhnya, menangis, memeluk erat, bahkan meronta-ronta ketika Ayah, Bunda, atau pengasuhnya hendak berpisah dari pergi dari si kecil?

Kondisi tersebut sering dikenal dengan istilah separation anxiety. Yuk, kenali lebih lanjut mengenai kondisi separation anxiety dan tips mengatasinya!

 

Apa itu Separation Anxiety?

Separation Anxiety merupakan rasa kecemasan dan ketakutan yang dirasakan anak ketika berpisah dengan figur lekatnya, seperti ayah / ibu /pengasuh yang paling dekat dengannya.

 

Apakah Separation Anxiety wajar terjadi pada anak?

Kondisi separation anxiety normal dialami oleh anak usia batita berusia 9-10 bulan dan mulai berangsur-angsur membaik di usia 2 tahun. Menjelang usia 8 atau 9 bulan, anak biasanya mulai bisa memahami figur lekatnya, misalnya ibu / ayahnya. Pada usia ini, anak mulai ingin lekat dengan ibu dan enggan diasuh oleh orang baru.  Biasanya, ketika ibu bekerja atau ada pengasuh baru, si kecil menjadi rewel.

Tidak semua anak mengalami separation anxiety. Sebagian anak mudah menghadapi perpisahan. Selain itu, ada anak yang sulit berpisah di awal saja, setelah beberapa kali sudah tidak sulit lagi ketika berpisah dengan figur lekatnya. Ada juga anak yang baru menunjukkan kecemasan berpisah ketika berusia 5-6 tahun.

Ayah dan Bunda tidak perlu langsung khawatir. Tidak semua anak yang mengalami rasa cemas / takut ketika berpisah dengan figur lekatnya, lantas menjadi permasalahan psikologis, atau dikenal dengan istilah separation anxiety disorder.

 

Lalu apa tanda-tanda separation anxiety pada anak?

  • Kecemasan / rasa khawatir ketika hendak berpisah dengan figur lekatnya
  • Tantrum ketika berpisah dengan figur lekatnya.
  • Menolak untuk sekolah, atau pergi ke tempat lain supaya bisa dekat dengan figur lekatnya.
  • Munculnya mimpi buruk yang berkaitan dengan masalah perpisahan
  • Takut sendirian
  • Munculnya masalah fisik, seperti pusing, sakit kepala, mual dan sebagainya, ketika berpisah dengan figur utama.

Jika tanda-tanda kecemasan tersebut dialami anak secara berlebihan dan sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, Ayah dan Bunda bisa berkonsultasi dengan professional terdekat untuk penanganan lebih lanjut.

 

Penyebab separation anxiety disorder pada anak:

  • Genetik

Orangtua atau sanak saudara yang punya sejarah gangguan kecemasan dapat menurunkan potensi gangguan kecemasan tersebut pada anaknya.

  • Temperamen anak

Anak dengan temperamen yang memiliki mood yang cenderung lebih sering negatif, lebih mudah mengalami kecemasan dan kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

  • Peristiwa traumatis

Peristiwa traumtatis yang dialami anak, seperti penyakit / kematian seseorang atau hewan peliharaan, lingkungan rumah / sekolah yang baru pada anak, perceraian orangtua, peristiwa buruk ketika bersama orang baru, bencana alam, dan lain sebagainya dapat membuat si kecil mengalami separation anxiety.

  • Pola asuh orangtua

Orangtua yang sangat protektif pada anak bisa memicu terjadinya separation anxiety pada si kecil.

 

Tips mengatasi separation anxiety pada anak:

 

  • Beri waktu adaptasi

Berikan waktu anak hingga merasa betah dan nyaman dengan suasana / lingkungan baru.

  • Menunjukkan dukungan positif

Berpisah dengan figur lekat anak tentu bukan hal yang mudah ya bagi mereka. Ayah dan Bunda bisa memberikan dukungan positif pada anak. Dorong si kecil untuk bisa menjalani dan beradaptasi dengan situasi / pengalaman baru. Ayah dan Bunda juga perlu sabar dalam mendampingi anak beradaptasi.

  • Beri pengertian

Hindari meninggalkan anak secara mendadak atau sembunyi-sembunyi karena justru akan membuat anak kaget dan dapat mengurangi kepercayaan anak pada Ayah dan Bunda. Sebaiknya, jika akan berpisah dengan anak, orangtua bisa menjelaskan secara perlahan-lahan, misalkan akan pergi selama berapa jam dan akan kembali berapa jam kemudian. Setelah itu, Ayah dan Bunda bisa berpamitan, berpelukan, mencium anak, dan mengucapkan selamat tinggal dengan baik-baik pada anak.

  • Bersikap positif

Jangan lupa untuk menunjukkan sikap positif kepada anak sebelum berpisah denganya. Mengapa? Karena jika kita terlihat sangat sedih dan cemas, anak juga akan merasa sedih dan cemas ketika berpisah dengan figur lekatnya. Tunjukkanlah senyum, keceriaan, bersikap santai, dan semangat sehingga si kecil menjadi lebih tenang saat menghadapi perpisahan.

  • Buat aktivitas yang menyenangkan sebelum berpisah

Buatlah aktivitas yang menyenangkan setiap kali akan berpisah dengan si kecil. Misalnya: sarapan bersama, bermain, berpelukan, dan lain sebagainya.

  • Berikan perhatian penuh saat bersama si kecil

Jika Ayah dan Bunda dapat memberikan kasih sayang dan perhatian yang penuh ketika bersama anak, mereka akan merasa disayangi dan tidak merasa kurang perhatian. Hal ini bisa membuat si kecil merasa lebih aman dan percaya diri ketika berpisah dari figur lekatnya karena merasa disayangi dan diperhatikan meskipun sedang tidak bersama figur lekatnya.

  • Perkenalkan si kecil dengan berbagai macam lingkungan

Ajaklah si kecil di berbagai macam situasi sosial yang baru. Misalkan, diajak ke daycare, playdate, perkumpulan ibu-ibu, berkunjung ke rumah saudara, bermain dengan tetangga / ke rumah teman, dan lain sebagainya.

  • Jadikan rutinitas

Ayah dan Bunda bisa melatih si kecil untuk belajar mandiri dari hal-hal yang sederhana, misalkan meninggalkan anak sejenak untuk pergi ke pasar, lalu naikkan durasi dan jaraknya. Selain itu, rutinitas yang teratur akan membantu anak dalam membangun kepercayaannya terhadap orangtua, dan dengan sendirinya ia akan tidak akan mudah rewel jika berpisah dengan orangtua.

  • Konsultasikan kepada profesional

Jika kecemasan pada anak makin parah dan sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan ragu untuk konsultasikan kepada professional terdekat supaya si kecil segera mendapatkan penanganan yang tepat.

 

Ayah dan Bunda, separation anxiety bukan hal yang harus ditakuti. Namun, Ayah dan Bunda perlu sabar dan selalu bersikap positif untuk membantusi kecil. Fase ini juga merupakan fase yang tepat untuk mengajarkan pada si kecil, bahwa ada waktu tertentu di mana kita tidak bisa selalu bersamanya.

Sehat selalu Ayah dan Bunda!

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Ketika Si Kecil Suka Melamun

 

 

 

 

oleh Amanda Triwulandari, M. Psi.

Psikolog

 

Halo, Keluarga Sehat Kejora!

Ayah dan Ibu Kejora, pernahkah kebingungan ketika melihat si kecil kerap kali termenung saat mengerjakan sesuatu di rumah? Atau, pernahkah Ayah dan Ibu mendapat laporan dari sekolah bahwa si kecil sering termenung saat di kelas? Seringkali, kita kebingungan untuk menilai, apakah si kecil melamun karena daya imaginasinya yang luar biasa, atau dikarenakan si kecil mudah terdistraksi atau terganggu dengan pikirannya sendiri?

Fakta positif tentang melamun

Dalam Bahasa Inggris, melamun dikenal dengan sebutan daydreaming, mind-wandering, dan beberapa istilah lainnya. Sekalipun terkadang mengganggu aktivitas, berikut ini adalah beberapa fakta positif mengenai daydreaming.

  • Beberapa penelitian dalam neuroscience mengatakan bahwa anak yang melamun memiliki daya kreativitas yang lebih baik, dibandingkan dengan anak yang jarang melamun.
  • Saat daydreaming, anak kerap kali menemukan berbagai ide dan dapat membuat hubungan-hubungan dari ide itu dan menghasilkan sesuatu yang menarik.
  • Daydreaming dapat membuat anak menghasilkan skenario tertentu ketika menghadapi sesuatu. Hal ini dapat membuat anak menjadi siap ketika menghadapi tantangan tertentu.
  • Walaupun tidak terlihat melakukan apa-apa atau “zoning out”, sebenarnya si kecil melakukan aktivitas otak juga saat melamun. Aktivitas tersebut berguna untuk memproses informasi yang ia terima.

Walaupun memiliki fakta yang positif, orang tua tetap harus mengarahkan anak untuk melakukan daydreaming atau mind-wandering pada konteks yang tepat. Arahkan anak untuk berada di alam terbuka, hal ini membuat imajinasinya makin kaya dan positif bila ia termenung. Berikan buku bacaan fiksi yang positif dan bermanfaat, maka hal ini juga akan menjadi bahan imajinasi yang juga baik dan berguna.

Kapan melamun dapat menimbulkan masalah?

Dibalik segudang fakta menarik, maka tentu melamun juga dapat menimbulkan masalah. Berikut ini adalah tanda ketika Ayah dan Ibu dapat lebih memberikan perhatian atau bantuan pada anak ketika melamun.

  1. Ketika saat si kecil melamun, aktivitas sehari-harinya terganggu. Misalnya, selalu terlambat menyelesaikan PR, atau selalu tidak paham apa yang dibicarakan oleh guru atau orang tua karena asyik melamun.
  2. Ketika anak cenderung lebih memilih melamun sendiri dan enggan melakukan sosialisasi dengan orang lain.
  3. Ketika anak sering sekali melamun atau lupa akan sesuatu dan berujung kepada waktu yang terbuang, sehingga kesempatan belajar pun terbuang.
  4. Ketika anak yang sering melamun juga disertai dengan sangat mudah terdistraksi atau teralih perhatiannya.

Hal-hal diatas, perlu orang tua perhatikan dan menjadi bahan untuk melakukan observasi lanjutan kepada anak. Apabila mengalami kendala atau kebingungan, orang tua sebaiknya juga berdiskusi dengan pihak profesional, seperti psikolog di sekolah atau klinik terdekat.

Semoga artikel ini dapat membantu Ayah dan Ibu untuk mengarahkan si kecil melamun pada konteks yang tepat, ya! Tetap semangat, Keluarga Sehat Kejora!

Editor: drg. Valeria Widita Wairooy

Referensi:
Zedelius, C. M & Schooler, J. W. (2006). The Richness of Inner Experience: Relating Styles of Daydreaming to Creative Processes. Front Psychol. 2015; 6: 2063. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4735674/

Mengasuh anak yang memasuki masa “Threenager”

 

 

 

oleh Marcelina Melisa, M.Psi

Psikolog Anak

Halo, Keluarga Sehat Kejora!

Saat anak berusia dua tahun tentunya Ayah dan Ibu senang dengan perkembangan bahasa anak. Umumnya, pada usia satu hingga dua tahun adalah usia dimana anak bisa berbicara satu kata dengan utuh untuk pertama kalinya. Sementara itu, pada usia dua hingga tiga tahun adalah usia dimana anak banyak bertanya mengenai nama benda di sekitarnya, cara kerja benda yang dilihatnya, dan berbagai hal. Memasuki usia tiga tahun, atau yang biasa disebut usia threenager, mulai terlihat perbedaan pada perkembangan anak. Pada usia ini, terdapat beberapa ciri utama anak yang membuat mereka seperti usia remaja.

Pertama, anak yang sudah dapat berkomunikasi dua arah dengan lancar mulai meningkatkan rasa ingin tahu yang dimilikinya dengan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Salah satunya terlihat dari jenis permainan yaitu berubah dari bermain sendiri menjadi bermain dengan melibatkan teman lain, baik terlibat secara tidak langsung (parallel play), maupun secara langsung meskipun dengan jalan cerita masing-masing (associative play). Anak juga mulai mempelajari aturan dan norma di sekitarnya. Dalam mempelajari aturan ini, tidak jarang ditemui anak menjadi senang melakukan argumen. Penting bagi orangtua untuk memfasilitasi keinginan eksplorasi anak, namun tetap memberikan batasan sesuai dengan aturan yang ingin diterapkan pada anak.

Kedua, anak pada usia ini sangat ingin berusaha untuk mencoba berbagai hal dengan usaha sendiri. Tak jarang dalam melakukan aktivitas yang tadinya dibantu atau bersama dengan orangtua, sekarang anak menjadi ingin untuk mencoba melakukannya sendiri. Hal ini merupakan hal yang baik bagi perkembangan anak, dan orangtua sebaiknya memfasilitasi anak dengan memberikan bantuan dengan teknik scaffolding. Orangtua melihat sejauh mana kemampuan yang dimiliki anak saat ini, dan memberi sedikit bantuan agar anak dapat menguasai kemampuan yang satu level lebih sulit. Misalnya, saat anak sudah dapat menggosok badan menggunakan sabun, namun, belum dapat membilas tubuh dengan bersih. Maka hal yang harus dibantu oleh orangtua yaitu memperhatikan bagian tubuh yang terdapat lipatan atau mempunyai potensi kurang bersih saat anak membilasnya.

Ketiga, anak mulai memiliki preferensi dalam berbagai hal yang terkadang menyulitkan orangtua. Jika anak sudah mulai menunjukkan bahwa ia memiliki preferensi, maka hal tersebut menunjukkan anak berani memberikan pilihan, dapat mengekspresikan diri melalui hal yang disukainya. Orangtua dapat membiarkan anak memilih, namun anak diminta untuk membantu menyiapkan atau membuat sesuai dengan preferensinya. Misalnya : saat anak ingin makan roti yang dibakar terlebih dahulu sebelum diolesi selai cokelat. Tujuannya agar anak mengetahui usaha yang dibutuhkan untuk menyiapkan hal yang diinginkannya, dan agar ia lebih memiliki komitmen untuk menghabiskan makanan tersebut.

Meskipun pada tahap usia ini muncul berbagai hal baru yang menantang bagi oragntua, namun jika kita menjadikan moment ini sebagai moment anak untuk belajar, ternyata bisa sangat berguna lho.

Editor: drg. Valeria Widita Wairooy