oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

>Haii Ayah dan Bunda Kejora!

Tidak hanya perkembangan fisik dan psikologis, si kecil juga memiliki periode perkembangan psikoseksual. Menurut Sigmund Freud, masing-masing indvidu akan melewati beberapa fase psikoseksual dalam hidupnya, dimulai sejak tahapan bayi. Freud membagi perkembangan psikoseksual pada individu terbagi menjadi lima fase, yaitu fase oral, anal, phalic, laten, dan genital. Salah satu fase yang sering membuat orangtua khawatir adalah fase phalic. Yuk, simak penjelasannya lebih lanjut!

  1. Apa itu Fase Phalic pada Perkembangan Psikoseksual Anak?

Fase phalic terjadi ketika si kecil berusia 3 – 5 tahun. Pada fase ini si kecil akan memperhatikan dan memegang alat kelaminnya sendiri. Hal ini dikarenakan pusat kenikmatan anak terletak di sekitar alat genitalnya.

Banyak orangtua menjadi bingung dan terkejut karena mungkin melihat si kecil:

  • Mulai penasaran akan perbedaan gender dan alat kelamin
  • Pernah menstimulasi alat kelaminnya secara ringan
  • Memegang dan memainkan alat kelaminnya

Ayah dan Bunda tak perlu langsung panik ya saat melihat hal tersebut. Mengapa? Perilaku anak tersebut didasarkan baik pada rasa ingin tahu karena penglihatan atas alat kelaminnya, maupun mulai adanya edukasi seks yang diajarkan terkait jenis kelamin. Pada usia 3 tahun, anak mulai memperhatikan dan membedakan perbedaan jenis kelamin antara anak laki-laki dan perempuan. Hal ini memicu anak untuk mulai mengeksplorasi tubuhnya. Keingintahuan dan eksplorasi si kecil akan tubuhnya, termasuk alat kelaminnya, tidaklah didasarkan pada hasrat seksualnya ya, Ayah dan Bunda. Pada usia tersebut, hasrat seksual anak seharusnya belum terbentuk.

  1. Bagaimana Menghadapi Fase Phalic pada Si Kecil?

Jangan langsung khawatir dan marah

Ayah dan Bunda mungkin akan khawatir dan bingung saat melihat si kecil memegang dan memainkan alat kelaminnya. Tak jarang orangtua langsung membentak dan memarahi si kecil. Jika orangtua langsung marah, justru akan membuat si kecil takut dan makin penasaran. Selain itu, dapat terekam dalam memori si kecil sehingga akan berpotensi menimbulkan persepsi buruk bagi anak akan konsep seksual di masa depannya. Seperti penjelasan di atas, perilaku tersebut adalah hal yang normal dan wajar, asalkan tidak berlebihan.

Alihkan perhatian anak

Alih-alih membentak, Ayah dan Bunda bisa mengalihkan perhatian si kecil dengan aktivitas lainnya. Misalnya dengan bermain, berolahraga, atau melakukan hobi yang disukai anak.

Jika si kecil bukan hanya menggesek-gesekkan kelaminnya, namun sudah berlebihan atau bertelanjang dan memegang-megang kelaminnya di depan orang lain. Tentu hal ini membuat orangtua tidak nyaman. Tak perlu langsung membentak si kecil di depan orang lain, Ayah dan Bunda bisa mengajak si kecil langsung ke tempat tenang/masuk ke kamar (jika di rumah) dan alihkan perhatiannya untuk melakukan aktivitas yang lain.

Beri penjelasan dengan baik pada si kecil

Saat situasi sedang tenang, cobalah untuk membangun interaksi positif dengan si kecil. Lalu Ayah dan Bunda bisa mulai member penjelasan pada si kecil. Jelaskan bahwa alat kelamin anak adalah bagian yang sensitif dan berharga, sehingga akan lecet jika dipegang terus-menerus. Selain itu, penting bagi anak untuk menjaga kesehatan dan higienitas alat kelamin.

Buat aktivitas yang produktif dan berikan lingkungan positif bagi si kecil

Rutinitas produktif dan positif, seperti belajar, berolahraga melakukan hobi, bisa menyalurkan energi anak ke arah yang positif. Pastikan juga lingkungan sosial si kecil positif ya, Ayah dan Bunda. Awasi lingkungan di mana si kecil beraktivitas dan ajarkanlah pentingnya menjaga dan menghormati tubuhnya dan tubuh orang lain.

  1. Apakah Fase Phalic akan Hilang dengan Sendirinya?

Ayah dan Bunda tidak perlu khawatir, fase phalic akan lewat dengan sendirinya ketika si kecil berusia 6 tahun ke atas. Pada usia ini, si kecil akan memasuki fase laten, di mana anak sudah akan lebih terfokus pada tumbuh kembang fisik dan kognitifnya.

Selama melewati fase phalic ini, Ayah dan Bunda sama-sama berperan penting untuk menciptakan suasana keterbukaan dan kenyamanan bagi si kecil. Ayah dan Bunda juga berperan penting untuk bisa memiliki waktu berkualitas agar dapat membangun komunikasi yang baik dengan si kecil. Dengan kenyamanan dan interaksi yang baik, akan lebih mudah bagi Ayah dan Bunda dalam memberikan edukasi seks yang tepat bagi si kecil.

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa, M.Si

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *