Strain Baru Virus Corona Penyebab COVID-19: Apakah itu?

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Salam sehat, Keluarga Kejora! Tentunya Ayah dan Ibu tidak asing dengan penyakit COVID-19 yang disebabkan oleh infeksi SARS-CoV-2. Beberapa minggu yang lalu, diberitakan adanya strain baru SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab COVID-19. Sebenarnya apa yang dimaksud strain baru virus corona? Apa bedanya dengan strain SARS-CoV-2 yang telah diketahui sebelumnya?

Berita mengenai penemuan adanya strain baru SARS-CoV-2 ini pertama kali diumumkan oleh Sekretasis Kesehatan Inggris Raya. Oleh karena virus strain baru ini ditemukan oleh para ilmuwan di Inggris, virus strain baru ini dikenal juga dengan UK Coronavirus Strain. Dibandingkan dengan SARS-CoV-2 yang telah diketahui sebelumnya, para ilmuwan menemukan adanya perubahan atau mutasi pada UK coronavirus strain. Salah satu mutasi yang dianggap signifikan adalah mutasi N501Y yang merupakan mutasi pada protein spike (S). Protein S ini merupakan bagian dari virus corona yang berikatan dengan reseptor ACE-2 pada manusia sebagai pejamu.

Sampai dengan tanggal 13 Desember 2020, telah ditemukan 1108 kasus COVID-19 di Inggris Raya. Para ilmuwan juga menyatakan bahwa tidak ada data bahwa virus strain tersebut diimpor dari luar Inggris, sehingga diperkirakan virus strain tersebut muncul di Inggris Raya. Telah diketahui sebelumnya bahwa SARS-CoV-2 merupakan virus RNA. Secara umum, virus RNA dapat mengalami mutasi seiring dengan proses replikasi virus. Hasil proses mutasi dapat bersifat menguntungkan host (pejamu) jika mutasi tersebut menyebabkan virus lebih sulit menginfeksi sel pejamu atau menguntungkan virus jika mutasi membuat virus menjadi lebih virulen atau berbahaya.

Lalu, bagaimana dengan mutasi yang terjadi pada UK Coronavirus strain ini? Apa makna lebih dari adanya temuan virus strain baru ini? Mengingat bahwa virus SARS-CoV-2 ini menjadi penyebab pandemi yang telah berlangsung kurang lebih 9 bulan terakhir, informasi mengenai temuan virus strain baru ini dapat menjadi suatu cara untuk memantau persebaran atau penularan, sehingga dapat dilakukan langkah untuk menghentikan peningkatan kasus secara tiba-tiba di suatu daerah. Hal lain yang menjadi perhatian dari temuan virus strain baru ini adalah apakah strain virus yang baru ini lebih berbahaya dibandingkan dengan strain virus yang telah diketahui sebelumnya. Adanya penemuan strain baru ini memang bersamaan dengan peningkatan jumlah kasus COVID-19 di Inggris, sehingga mungkin ada kaitan antara keduanya. Namun, belum diketahui secara pasti apakah peningkatan jumlah kasus tersebut disebabkan oleh virus strain baru ini. Selain itu, belum ada bukti data yang menyatakan bahwa virus strain baru ini menyebabkan COVID-19 yang lebih berat.

Selain kedua hal di atas, tentu menjadi pertanyaan banyak pihak apakah vaksin yang telah dibuat tetap dapat digunakan untuk mencegah infeksi SARS-CoV-2. Walaupun beberapa vaksin yang telah berhasil dibuat menargetkan protein S dan pada strain baru ditemukan mutasi protein S, para ahli masih optimis bahwa vaksin akan tetap efektif. Hal ini didasarkan pada teori bahwa vaksin memproduksi antibodi terhadap beberapa bagian dari protein S, sehingga sebuah mutasi pada bagian protein S tidak menjadikan vaksin tidak efektif. Meskipun demikian, para ahli juga menekankan bahwa jika mutasi virus tersebut terjadi terus-menerus, ada kemungkinan vaksin perlu disesuaikan dengan strain virus yang ditemukan di masyarakat.

Sumber:

Covid-19: New coronavirus variant is identified in UK. BMJ 2020;371:m4857 http://dx.doi.org/10.1136/bmj.m4857

Panduan Isolasi Mandiri untuk Orang Tanpa Gejala

oleh dr. Paramita Khairan, SpPD

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

 

Halo, Keluarga Kejora!

Di tengah pandemi COVID-19 ini, mungkin beberapa di antara Keluarga Kejora harus melakukan isolasi mandiri karena merupakan kontak erat* dengan pasien COVID-19 atau sudah terkonfirmasi COVID-19 namun tanpa gejala (Orang Tanpa Gejala/OTG). OTG melakukan isolasi mandiri di rumah selama 10 hari sejak terkonfirmasi. Setelah 10 hari, OTG dapat kontrol ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) untuk dilakukan pemantauan klinis. Nah, apa saja ya yang perlu diperhatikan saat isolasi mandiri untuk menjaga kesehatan OTG dan keluarga?

 

Beberapa hal yang perlu diperhatikan OTG atau orang yang menjalani isolasi mandiri

  1. Tinggal di kamar terpisah dari anggota keluarga lainnya, namun apabila tidak memungkinkan maka gunakan masker medis dan jaga jarak minimal 1 meter dari orang lain.
  2. Jaga aliran ventilasi ruangan dengan cara membuka jendela kamar secara berkala.
  3. Selalu menggunakan masker jika keluar kamar dan saat berinteraksi dengan keluarga.
  4. Mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer sesering mungkin.
  5. Tinggal di rumah, tidak pergi bekerja, ke sekolah, atau ke tempat-tempat umum.
  6. Beristirahat, minum air dalam jumlah cukup, dan makan makanan bergizi.
  7. Apabila memungkinkan, gunakan kamar mandi dan toilet yang berbeda dengan anggota keluarga lainnya.
  8. Saat batuk atau bersin, tutupi mulut dan hidung dengan siku yang tertekuk atau gunakan tisu sekali pakai dan buang setelah memakainya.
  9. Ukur dan catat suhu tubuh 2 kali sehari, setiap pagi dan malam hari.
  10. Apabila sulit bernapas atau suhu tubuh meningkat lebih dari 38o celcius, segera hubungi fasilitas kesehatan atau petugas pemantau.

 

Beberapa hal yang penting dilakukan bagi orang yang merawat atau tinggal satu rumah dengan orang yang menjalani isolasi mandiri

  1. Bagi anggota keluarga yang berkontak erat dengan pasien, sebaiknya memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
  2. Pastikan orang yang menjalani isolasi mandiri cukup istirahat, minum air dalam jumlah cukup, dan mengonsumsi makanan bergizi.
  3. Selalu menggunakan masker medis terutama saat satu ruangan dengan OTG. Hindari menyentuh masker saat menggunakannya dan segera buang masker setelah dipakai.
  4. Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer sesering mungkin: saat setelah kontak dengan OTG atau dengan barang-barang di sekitarnya; sebelum, saat, dan setelah menyiapkan makanan; sebelum dan sesudah makan; setelah menggunakan toilet; setelah batuk atau bersin; atau ketika tangan terlihat kotor.
  5. Sediakan peralatan makan, handuk, dan seprai khusus untuk OTG. Pisahkan dengan peralatan yang dipakai oleh anggota keluarga lain.
  6. Bersihkan dan lakukan disinfeksi permukaan barang terutama barang-barang yang sering disentuh oleh OTG, seperti gagang pintu, tombol lampu, tempat tidur, dan perabot lain.
  7. Bersihkan dan lakukan disinfeksi kamar mandi dan toilet setiap hari. Gunakan sabun atau deterjen, kemudian disinfeksi dengan cairan disinfektan yang mengandung sodium hipoklorit 0,1% dengan cara mengelap permukaan ruangan dan permukaan barang.
  8. Hubungi fasilitas kesehatan terdekat apabila OTG mengalami gejala yang memburuk atau kesulitan bernapas.
  9. Saat batuk atau bersin, tutupi mulut dan hidung dengan siku yang ditekuk atau gunakan tisu sekali pakai.
  10. Hindari menyentuh area wajah sebelum mencuci tangan.
  11. Jaga ventilasi udara di rumah.
  12. Pantau kesehatan setiap anggota keluarga dan penghuni rumah dengan mengukur suhu tubuh setiap hari dan amati apakah ada batuk atau sesak. Hubungi fasilitas kesehatan apabila terdapat gejala tersebut.

Selain hal tersebut, cara mencuci pakaian juga penting untuk diperhatikan karena pakaian adalah barang yang paling lama bersentuhan dengan OTG.

 

Beberapa hal yang harus diperhatikan saat mencuci pakaian OTG atau pasien suspek

  1. Cuci baju, handuk, dan seprai orang tersebut secara terpisah.
  2. Gunakan sarung tangan karet tebal sebelum menyentuh pakaian dan kain tersebut.
  3. Hindari membawa tumpukan pakaian dan kain tersebut dengan cara menyangganya dengan tubuh.
  4. Tempatkan pakaian dan kain kotor di wadah tertutup yang sudah ditandai agar tidak digunakan utnuk keperluan lain.
  5. Sebelum meletakkan pakaian dan kain kotor di wadah khusus, jika terdapat sisa muntah atau tinja bersihkan dahulu dengan alat yang datar dan keras lalu buang di toilet yang khusus digunakan oleh OTG.
  6. Cuci dan lakukan disinfeksi pakaian dan kain menggunakan mesin cuci dengan air bersuhu 60o-90o celcius dan deterjen. Sebagai alternatif, rendam pakaian dan kain kotor di air hangat dalam tabung atau ember besar, aduk menggunakan tongkat, lakukan dengan hati-hati agar air tidak terciprat keluar. Jika tidak ada air hangat, maka rendam pakaian dan kain kotor di cairan klorin 0.05% selama 30 menit.
  7. Cuci dan jemur pakaian dan kain di bawah sinar matahari.
  8. Segera cuci tangan setelah mencuci pakaian dan kain kotor tersebut.

*Kontak erat adalah orang yang terpapar dengan pasien terkonfirmasi COVID-19 pada saat 2 hari sebelum dan 14 hari setelah gejala timbul pertama kali pada pasien terkonfirmasi COVID-19, dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Kontak tatap muka dengan pasien suspek atau terkonfirmasi COVID-19 dengan jarak 1 meter selama 15 menit atau lebih.
  2. Kontak fisik langsung dengan pasien suspek atau terkonfirmasi COVID-19.
  3. Merawat pasien suspek atau terkonfirmasi COVID-19.

Demikian hal-hal yang dapat dilakukan oleh OTG maupun keluarga atau orang yang merawat OTG secara langsung maupun yang tidak. Semoga informasi ini bermanfaat, salam sehat untuk Keluarga Kejora!

Editor : drg. Agnesia Safitri

 

Sumber:

  1. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Panduan Tatalaksana COVID-19. 2020
  2. World Health Organization. Home care for patients with suspected or confirmed COVID-19 and management of their contacts: interim guidance. August 2020.

SIRKUMSISI DI MASA PANDEMI

 

oleh dr. Nilam Permatasari Bmed.Sc, SpBP-RE

Dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah Ayah dan Ibu Kejora sedang merencanakan jadwal sirkumsisi si buah hati dalam waktu dekat? Jika iya, apakah Ayah dan Ibu Kejora merasa khawatir akan keamanan tindakan tersebut selama masa pandemi Covid-19? Mengingat sirkumsisi merupakan suatu tindakan bedah, Ayah dan Ibu Kejora tentu bertanya-tanya apakah tepat untuk melakukannya di saat pandemi ini. Bahkan mungkin ada yang memutuskan untuk menundanya. Oleh karena itu, mari kita simak penjelasan mengenai sirkumsisi di masa pandemi berikut ini ya, Ayah dan Ibu Kejora!

 

Apa Itu Sirkumsisi?

Sirkumsisi atau yang lebih sering dikenal dengan istilah sunat atau khitan adalah tindakan membuang kulit yang menutupi glans (kepala) penis hingga keseluruhan glans terbuka. Tindakan ini populer dilakukan di berbagai belahan dunia dan dapat dikatakan salah satu tindakan bedah tertua yang pernah ada.

Gambar 1. Gambaran penis sebelum dan sesudah sirkumsisi

Sumber gambar: https://www.babycenter.com

 

Mengapa Sirkumsisi Perlu Dilakukan?

Saat ini, sirkumsisi tidak hanya dilakukan atas dorongan agama atau sosiokultur tertentu. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, tindakan ini semakin umum dilakukan karena indikasi kesehatan. Indikasi kesehatan sirkumsisi dapat berupa usaha pencegahan atau untuk kesembuhan.
Untuk langkah pencegahan, penelitian mendapati bahwa sirkumsisi membuat perawatan kebersihan penis menjadi lebih mudah dan menurunkan risiko terjadinya infeksi saluran kemih, terutama bagi pasien yang diharuskan memakai kateter berkemih dalam waktu yang lama. Selain itu, dapat pula menurunkan risiko penyakit menular seksual di kemudian hari.

Selain itu, terdapat beberapa indikasi kesehatan untuk kesembuhan. Pertama, pada kondisi fimosis di mana kulit penis yang menutupi kepala penis menempel dan tidak dapat dibuka secara manual (dengan bantuan jari), disertai dengan keluhan nyeri berkemih, demam, atau gejala lain, maka tindakan sirkumsisi menjadi penting dilakukan.

Gambar 2. Ballooning karena fimosis akibat urin sulit keluar melalui celah sempit

Kondisi lain yang termasuk dalam emergensi yaitu parafimosis, di mana kulit tidak dapat dikembalikan untuk menutupi kepala penis setelah sebelumnya ditarik untuk membuka glans sehingga menjepit dan mengganggu aliran darah ke glans penis. Selain itu, infeksi penis berulang (balanoposthitis) juga merupakan indikasi sirkumsisi untuk kesembuhan.

Gambar 3. Glans penis menjadi bengkak dan bila tidak ditangani dengan baik dapat terjadi kematian jaringan glans penis

Selain indikasinya, kontraindikasi sirkumsisi juga perlu menjadi perhatian, yaitu kelainan genitalia eksterna seperti hipospadia, epispadia, mikropenis dan lain-lain yang mana kulit penis dibutuhkan untuk rekonstruksi. Kontraindikasi lainnya yaitu pasien tidak dalam keadaan sehat, kelainan pembekuan darah, penis dalam keadaan infeksi dan bayi yang masih prematur.

 

Kapan Waktu Terbaik Sirkumsisi?

Bila didapati tidak ada kontraindikasi, maka sirkumsisi dapat dilakukan sedini mungkin sejak lahir. Adapun keuntungan sirkumsisi saat awal kehidupan adalah penyembuhan luka yang relatif lebih baik, perdarahan yang lebih terkontrol saat tindakan sehingga waktu pengerjaan lebih singkat, anak tidak ada memori takut atas tindakan, dan keuntungan pencegahan kelainan medis didapat sejak dini.

Pada usia Usia 2-6 tahun, anak sedang sangat aktif bereksplorasi dan masih sulit untuk kooperatif sehingga dapat menjadi tantangan baik saat tindakan maupun perawatan setelah sunat. Untuk melancarkan tindakan, teknis bius umum akan memberikan hasil tindakan yang maksimal.

Perhatian lain yaitu pada usia 3-6 tahun di mana anak mengalami fase phallic, ditandai dengan castration anxiety atau kekhawatiran atas sesuatu terjadi pada organ genital. Untuk itu, perlu diberi pemahaman yang baik mengenai makna dan manfaat sirkumsisi pada anak.

 

Tips Sunat Aman di Masa Pandemi

  • Lebih baik memilih fasilitas kesehatan yang memiliki layanan kekhususan (RS ibu anak, fasilitas kesehatan khusus sunat, dll)
  • Memilih dokter yang berpengalaman dalam tindakan dan fasilitas kesehatan yang telah memiliki layanan sirkumsisi.
  • Menerapkan 3M dan mengikuti protokol kesehatan yang diterapkan fasilitas kesehatan, termasuk screening sesuai anjuran.
  • Konsultasi terlebih dahulu untuk membangun kepercayaan anak dengan dokter.
  • Meminimalisasi jumlah pengantar pasien.
  • Bila tidak emergensi, tindakan dilakukan dengan perencanaan dengan pihak fasilitas kesehatan sehingga menghindari waktu tunggu di fasilitas kesehatan telalu lama.

Editor: drg. Rahmatul Hayat

 

Referensi:

  1. U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Background, methods, and synthesis of scientific information used to inform the recommendations for providers counseling male patients and parents regarding male circumcision and the prevention of HIV infection, STIs, and other health outcomes. 2014.
  2. American Academy of Pediatrics Task Force on Circumcision. Male circumcision. Pediatrics. 2012; 130(3):e756–e785. 10.1542/peds.2012-1990.
  3. Frisch M, Earp BD. Circumcision of male infants and children as a public health measure in developed countries: a critical assessment of recent evidence. Glob Public Health. 2016.

Eksim di Tangan karena Sabun atau Hand Sanitizer

 

 

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Halo, Keluarga Kejora!

Sejak pandemi Covid-19, banyak sekali perubahan kebiasaan yang sudah kita jalani untuk mencegah penularan virus ini, salah satunya adalah menjaga kebersihan tangan. Virus corona rentan terhadap sabun yang mengandung surfaktan, alkohol dengan konsentrasi minimal 60%, dan beberapa bahan lainnya. WHO dan organisasi kesehatan besar lainnya menganjurkan untuk sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama 20 detik atau menggunakan hand sanitizer yang mengandung alkohol 60%.

Praktik mencuci tangan ini dianjurkan untuk dilakukan setelah memegang barang atau permukaan benda yang tidak steril, setelah bersin/batuk dan menutup dengan tangan, sebelum makan, sebelum menyentuh wajah, setelah dari kamar mandi, dan ketika tangan terlihat kotor. Karena rekomendasi ini, belakangan terjadi peningkatan kasus eksim di tangan yang ditandai dengan ruam merah, gatal/perih, tangan terasa kering dan kasar sampai luka-luka.

 

Apakah eksim di tangan bisa terjadi pada anak?

Eksim pada tangan karena penggunaan sabun dan hand sanitizer dapat terjadi pada anak dan orang dewasa. Beberapa negara yang sudah memperbolehkan sekolah tatap muka, anak dianjurkan mencuci tangan setiap 2 jam sekali atau setelah berkontak dengan benda di tempat umum, bersin, batuk, sebelum dan setelah makan, serta keluar dari toilet. Di Denmark, survey yang dilakukan pada 30000 lebih anak menunjukan bahwa, insiden eksim di tangan pada anak meningkat dari 14.4% menjadi 50.1% saat sekolah mulai masuk. Sebagian besar terjadi dalam 3 hari pertama masuk sekolah. Risiko akan meningkat pada anak dengan kulit kering dan dermatitis atopik.

 

 

Kenapa bisa terjadi eksim di tangan karena sabun/hand sanitizer?

Eksim pada tangan ini dapat timbul karena dua reaksi. Reaksi yang pertama adalah reaksi dermatitis kontak iritan yaitu iritasi yang terjadi karena bahan yang terkandung pada sabun atau hand sanitizer, seperti deterjen dan alkohol. Bahan tersebut dapat merusak lapisan terluar kulit dan lapisan lemak di atas kulit sehingga ketahanan (barrier) kulit terganggu serta air mudah menguap dari kulit, hal ini menyebabkan kulit menjadi kering. Bahan tersebut juga dapat masuk ke lapisan kulit yang lebih dalam dan menimbulkan reaksi radang. Keparahan reaksi iritasi tergantung pada dosis dan frekuensi pemakaian produk penyebab iritasi tersebut. Kulit akan mengalami perbaikan apabila kontak dengan bahan penyebab dihentikan.

Reaksi yang kedua adalah reaksi alergi. Reaksi alergi terjadi karena proses imunologi dari tubuh. Setiap orang bisa memiliki respon yang berbeda terhadap bahan yang berbeda. Reaksi alergi dapat dipicu oleh berbagai bahan yang terkandung pada sabun atau hand sanitizer, seperti alkohol, parfum, antiseptik, bahkan zat tidak aktif seperti pengawet dan pewarna yang terkandung dalam produk. Reaksi alergi biasanya tidak langsung terjadi dan walaupun penggunaan produk sudah dihentikan, keluhan masih tetap ada atau bertambah parah setelah beberapa saat.

 

Bagaimana cara mengatasi eksim di tangan karena sabun/hand sanitizer?

Meski demikian, mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer tetap dianjurkan karena dapat mencegah penularan Covid-19. Terdapat beberapa cara untuk mengurangi keluhan eksim pada tangan yaitu memilih produk yang tidak mengandung iritan kuat, menghindari tindakan yang memperparah iritasi, dan menggunakan pelembap setelah mencuci tangan.

American Contact Dermatitis Society telah memberikan rekomendasi yang dapat membantu mengurangi keluhan eksim pada tangan karena produk hand hygiene, antara lain:

  1. Cuci tangan dengan air dingin atau suhu ruang dan hindari air panas.
  2. Keringkan tangan dengan handuk/tisu halus dan jangan menggosok tangan keras-keras.
  3. Sabun tidak harus mengandung antibakteri.
  4. Hindari sabun/hand sanitizer dengan bahan yang dapat memicu alergi, seperti zat pewangi dan pewarna.
  5. Pilih sabun atau hand sanitizer yang mengandung pelembap, seperti glyserin.
  6. Gunakan pelembap krim atau salep setelah mencuci tangan.
  7. Pada malam hari, gunakan pelembap yang lengket dan tutup dengan sarung tangan setelahnya.
  8. Hindari penggunaan salep yang mengandung antibiotik atau antiseptik.
  9. Hindari pemakaian plester, terutama yang mengandung antibiotik dan antiseptik.
  10. Hindari menggaruk sampai luka atau mengopek kulit mati di tangan.

Apabila keluhan eksim pada tangan atau kulit kering tidak membaik setelah melakukan langkah-langkah tersebut, segera konsultasikan ke Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin. Pada beberapa kasus, perlu dilakukan uji tempel untuk mengetahui bahan penyebab reaksi alergi pada kulit. Pada kasus yang berat dan tidak membaik dengan pelembap, perlu diberikan obat-obat antiiritasi seperti kortikosteroid yang harus digunakan dalam pengawasan dokter. Memakai obat antiiritasi atau salep antiiritasi/antijamur/antibiotik yang dibeli sendiri dan tidak diawasi dokter dapat memperparah keluhan dan menyebabkan efek samping, seperti kulit menjadi tipis dan mudah luka bila pemakaian tidak tepat.

Editor: drg. Agnesia Safitri

 

Referensi:

  1. WHO Guidelines on Hand Hygiene in Health Care: First Global Patient Safety Challenge Clean Care Is Safer Care. Geneva: World Health Organization; 2009. 14, Skin reactions related to hand hygiene. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK144008/
  2. Rundle CW, dkk. Hand hygiene during COVID-19: Recommendations from the American Contact Dermatitis Society. J Am Acad Dermatol.83(6). 2020
  3. Anne B. Simonsen, Iben F. Ruge, Anna S. Quaade, Jeanne D. Johansen, Jacob P. Thyssen, Claus Zachariae, Increased occurrence of hand eczema in young children following the Danish hand hygiene recommendations during the COVID ‐19 pandemic , Contact Dermatitis, 10.1111/cod.13727, (2020)

Jadwal Imunisasi IDAI 2020

 

 

 

 

 

oleh Dr. dr. Ariani Widodo, SpA(K)

Dokter Spesialis Anak

 

Halo, Keluarga Kejora! Apakah Ayah dan Ibu sudah tahu mengenai rekomendasi terbaru imunisasi anak? Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) secara berkala meninjau ulang jadwal imunisasi untuk anak di Indonesia dengan mempertimbangkan berbagai program imunisasi di Indonesia dan rekomendasi WHO. Jadwal imunisasi rekomendasi IDAI tahun 2020 mempertimbangkan WHO position paper terbaru dan Permenkes No. 12 tahun 2017.

Perubahan-perubahan pada jadwal imunisasi meliputi imunisasi Hepatitis B; Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV); Bacillus Calmette Guerine (BCG); Difteri, Tetanus, Pertusis (DTP); Haemophilus Influenzae B (Hib); Pneumokokus; Rotavirus; Influenza; Campak dan Rubela; Japanese Encephalitis (JE); Varisela; Hepatitis A; Dengue; dan Human Papiloma Virus (HPV).

 

Yuk, kita bahas bersama-sama, Ayah dan Ibu Kejora!

1. Hepatitis B

Pada jadwal imunisasi IDAI tahun 2017, pemberian imunisasi hepatitis B (HB) disarankan untuk dilakukan dalam waktu 12 jam setelah lahir. Sedangkan, di dalam jadwal imunisasi tahun 2020 sebaiknya diberikan segera setelah lahir pada semua bayi sebelum berumur 24 jam.

Namun untuk bayi dengan berat kurang dari 2.000 gram, imunisasi HB ditunda sampai umur bayi 1 bulan atau lebih. Hal ini dikarenakan sebagian besar bayi kurang dari 2.000 gram tidak dapat memberikan respon imun seperti bayi cukup bulan dan berat lahir normal. Namun mulai umur kronologis 1 bulan, bayi baru dapat memberikan respon imun yang baik.

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2020, imunisasi HB selain diberikan pada umur 2, 3 dan 4 bulan, juga diberikan pada umur 18 bulan bersama dengan DTP. Dengan tambahan pada umur 18 bulan diharapkan menghasilkan proteksi lebih tinggi pada umur sekolah dan remaja.

2. Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV)

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 IPV paling sedikit harus diberikan 1 kali saja. Pada jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 IPV minimal diberikan 2 kali sebelum berumur 1 tahun. Pemberian ini diharapkan memberikan perlindungan lebih tinggi terhadap polio serotipe 2. Mengingat cakupan IPV di Indonesia masih sangat rendah, sedangkan OPV tidak mengandung polio serotipe 2 dan cVDPD2 masih ditemukan di beberapa negara, sehingga dianjurkan memberikan IPV minimal 2 kali sebelum berumur 1 tahun.

3. Bacillus Calmette Guerine (BCG)

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017, BCG optimal diberikan umur 2 bulan. Pada jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 sebaiknya diberikan segera setelah lahir atau sesegera mungkin sebelum bayi berumur 1 bulan.

Bila tidak dapat diberikan tepat pada waktu lahir, sebaiknya diberikan segera tidak ditunda sebelum terpapar infeksi. Bila berumur 3 bulan atau lebih vaksin diberikan jika uji tuberkulin negatif, bila uji tuberkulin tidak tersedia BCG dapat diberikan.

4. Difteri, Tetanus, Pertusis (DTP)

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 booster DTP diberikan pada umur 5 tahun, sedangkan di jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 booster diberikan pada umur 5-7 tahun (setara dengan program BIAS kelas 1), umur 10-11 tahun (setara dengan program BIAS kelas 5), dan selanjutnya pada umur 18 tahun. Hal ini mengingat perlindungan terhadap pertusis dengan vaksin aseluler akan menurun sebelum berumur 6 tahun, maka diperlukan booster sebelum berumur 6 tahun.

5. Haemophilus Influenzae B (Hib)

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 booster Hib diberikan pada umur 15-18 bulan, sedangkan di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 diberikan pada umur 18 bulan bersama dengan DTP.

6. Pneumokokus (PCV)

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017, bila vaksin PCV diberikan pada umur 7-12 bulan, maka vaksin diberikan 2 kali dengan interval 2 bulan; dan pada umur lebih dari 1 tahun diberikan 1 kali. Keduanya perlu booster pada umur lebih dari 12 bulan atau minimal 2 bulan setelah dosis terakhir. Pada anak umur di atas 2 tahun PCV diberikan cukup satu kali.

Di jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 jika belum pernah diberikan pada umur 7-12 bulan, PCV diberikan 2 kali dengan jarak minimal 1 bulan dan booster setelah umur 12 bulan dengan jarak minimal 2 bulan dari dosis sebelumnya. Jika belum pernah diberikan pada umur 1-2 tahun, PCV diberikan 2 kali dengan jarak 2 bulan. Jika belum pernah diberikan pada umur 2-5 tahun untuk PCV-10 diberikan 2 kali dengan jarak minimal 2 bulan, sedangkan jika memakai PCV-13 diberikan 1 kali saja.

7. Rotavirus

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 vaksin rotavirus monovalent (RV1) diberikan 2 dosis, dosis pertama diberikan mulai umur 6 minggu, dosis kedua diberikan dengan interval minimal 4 minggu dan diselesaikan paling lambat 24 minggu.

Jika memakai vaksin rotavirus pentavalent (RV5) diberikan dalam 3 dosis, dosis pertama diberikan pada umur 6-12 minggu, dosis kedua interval antar dosis 4-10 minggu, dan dosis ketiga diselesaikan maksimal pada umur 32 minggu.

8. Influenza

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017, imunisasi influenza diberikan pada umur lebih dari 6 bulan, sedangkan dalam jadwal imunisasi tahun 2020 dapat diberikan sejak umur 6 bulan.

9. Campak dan Rubella

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 pada umur 9 bulan diberikan imunisasi campak, sedangkan di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 diberikan tambahan imunisasi rubella (MR). Bila sampai umur 12 bulan belum mendapat vaksin MR, dapat diberikan MMR (mumps tidak boleh diberikan sebelum umur 1 tahun).

10. Japanese Encephalitis (JE)

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 imunisasi JE diberikan mulai umur 12 bulan, sedangkan di dalam jadwal 2020 mulai diberikan pada umur 9 bulan. Imunisasi JE direkomendasikan untuk daerah endemis atau yang akan bepergian ke daerah endemis. Surveilans JE di Indonesia tahun 2016 terdapat 9 provinsi melaporkan kasus JE, yaitu Bali, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Kepulauan Riau.

11. Varisela

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 imunisasi varisela diberikan setelah umur 12 bulan, terbaik pada umur sebelum masuk sekolah dasar. Apabila diberikan pada umur lebih dari 13 tahun perlu 2 dosis dengan interval minimum 4 minggu.

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 imunisasi varisela diberikan mulai umur 12-18 bulan. Pada umur 1 -12 tahun diberikan 2 dosis dengan interval 6 minggu sampai 3 bulan. Pada umur 13 tahun atau lebih diberikan 2 dosis dengan interval 4 sampai 6 minggu.

12. Hepatitis A

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 imunisasi Hepatitis A diberikan mulai umur 2 tahun, diberikan sebanyak 2 kali dengan interval 6-12 bulan. Sedangkan, di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 diberikan mulai umur 1 tahun, dengan dosis kedua diberikan setelah 6 bulan sampai 12 bulan kemudian.

13. Dengue

Pada jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 imunisasi dengue diberikan pada umur 9-16 tahun dengan jadwal 0, 6 dan 12 bulan. Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 ditambahkan prasyarat diberikan pada anak umur 9-16 tahun yang pernah dirawat dengan diagnosis dengue dan konfirmasi dengan deteksi antigen (NS-1 atau PCR ELISA) atau IgM anti dengue. Bila tidak ada konfirmasi tersebut dilakukan pemeriksaan serologi IgG anti dengue untuk membuktikan apakah pernah terinfeksi dengue.

14. Human Papilloma Virus (HPV)

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 imunisasi HPV diberikan pada anak perempuan mulai umur 10 tahun. Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 diberikan umur 9-14 tahun sebanyak 2 kali dengan jarak 6-15 bulan (atau pada program BIAS kelas 5 dan 6). Umur 15 tahun atau lebih diberikan 3 kali dengan jadwal 0, 1 dan 6 bulan (vaksin bivalen) atau jadwal 0, 2 dan 6 bulan (vaksin quadrivalen).

Imunisasi adalah upaya pemberian bahan antigen untuk mendapatkan kekebalan pada tubuh manusia terhadap agen biologis penyebab penyakit. Imunisasi bertujuan agar tubuh dapat melindungi dirinya sendiri. Penting untuk memenuhi jadwal imunisasi agar anak terhindar dari penyakit berbahaya.

Sumber

Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal Imunisasi Anak Umur 0-18 tahun Rekomendasi IDAI tahun 2020. Desember 2020.

Perasaan Bahagia Bisa Meningkatkan Sistem Imun, Benarkah?

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Salam sehat, Keluarga Kejora!

Selama pandemi COVID-19 ini, kita mungkin telah banyak mendengar sejumlah kiat yang dapat dilakukan untuk menghindarkan diri dari infeksi SARS-CoV-2. Salah satu dari tips tersebut adalah dengan merasa bahagia sebab perasaan bahagia dianggap dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Namun, apakah pendapat tersebut benar? Apakah ada bukti ilmiah yang mendukung opini tersebut? Mari kita simak pembahasan berikut ini.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). Kata bahagia sering digunakan untuk mendeskripsikan kondisi mental atau emosional seseorang yang bersifat positif. Dari studi yang mempelajari tentang kaitan antara perilaku manusia dan kesehatan diketahui bahwa kondisi emosi seseorang dapat mempengaruhi perilakunya yang berkaitan dengan cara kerja berbagai organ di dalam tubuh, termasuk kekebalan tubuh, yang diperantarai oleh sistem saraf pusat. Perilaku yang dimaksud mencakup perilaku diri terhadap kebiasaan merokok, pola makan, atau olahraga, yang dapat meningkatkan atau merusak kesehatan seseorang.

Bukti ilmiah lain mengenai pengaruh faktor emosi terhadap kesehatan seseorang terlihat dari adanya pengaruh emosi terhadap perubahan biologis, misalnya kondisi stres pada seseoarang yang menyebabkan peningkatan tekanan darah, detak jantung, serta peningkatan aktivitas sistem saraf simpatik. Ketiga hal tersebut selanjutnya dapat menyebabkan perubahan pada aliran darah yang berkaitan secara langsung terhadap risiko hipertensi dan penyakit jantung. Selain pada perubahan kerja organ, studi lain menunjukkan bahwa rasa cemas yang berlebihan dapat menurunkan fungsi imun tubuh. Sebaliknya, kondisi emosional yang positif dapat meningkatkan kekebalan tubuh sebagaimana ditunjukkan dalam sebuah studi lain yang mengungkapkan adanya peningkatan kadar antibodi dalam saliva setelah seseorang diminta untuk menonton video humor. Hal serupa juga terlihat dalam sebuah studi yang menunjukkan respon imun yang lebih lemah pada individu yang divaksinasi dan dengan kondisi emosi yang negatif dibandingkan dengan individu yang divaksinasi namun memiliki kondisi emosional yang lebih positif.

Jadi, baik secara langsung maupun tidak langsung, terdapat sejumlah keterkaitan antara perasaan bahagia dengan sistem imun yang lebih baik dalam mengurangi risiko timbulnya penyakit. Namun, hingga saat ini belum terdapat bukti yang cukup untuk mendukung adanya kaitan langsung antara kondisi emosi positif terhadap penurunan risiko infeksi SARS-CoV-2.

Sumber:

Barak, Y. The immune system and happiness. Autoimmunity Reviews 5 (2006) p 523-527.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengenal Obat Tradisional

 

 

 

 

 

oleh Jodi Tiara Rahmania, S.Farm, Apt

Apoteker/ Farmasis

 

Halo, Keluarga Kejora! Pernahkah Keluarga Kejora menggunakan obat-obatan tradisional yang umumnya berbasis tanaman dalam kehidupan sehari-hari? Baik hanya sebagai suplemen makanan untuk menjaga imunitas maupun sebagai pengobatan untuk indikasi suatu keluhan penyakit? Selama masa pandemi covid-19 ini, penggunaan obat-obatan berbasis tanaman tampaknya semakin menjadi favorit banyak keluarga di Indonesia. Karena meningkatnya minat keluarga Indonesia terhadap penggunaan obat tradisional, mulai banyak juga bermunculan produk obat-obatan tradisional baru di pasaran dengan klaim memiliki berjuta manfaat bagi kesehatan. Tapi tahukah keluarga kejora bahwa sebetulnya agar dapat mengklaim keamanan dan manfaat suatu obat berbasis tanaman itu memerlukan berbagai tahapan proses yang tidak mudah? Walaupun dianggap aman, penggunaan obat tradisional apabila berlebihan dan tidak cermat justru dapat membahayakan kesehatan di kemudian hari. Keluarga Kejora pasti tidak mau menanggung kerugian tersebut di masa depan, kan? Oleh karena itu, yuk kita cari tahu lebih lanjut apa yang harus Keluarga Kejora perhatikan dalam memilih produk obat tradisional agar kesehatan keluarga kejora tetap terjaga!

Sebetulnya apa sih yang dimaksud dengan obat tradisional? Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang biasanya terdiri dari bahan tumbuhan, hewan, mineral, ekstrak atau kombinasi dari bahan-bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan. Di Indonesia, obat tradisional yang memiliki izin edar dari Badan Pemeriksaan Obat dan Makanan diklasifikasi dalam 3 kategori produk yaitu:

  1. Jamu
    Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara tradisional, umumnya masih tersedia dalam bentuk serbuk seduhan, dijadikan dalam pil atau cairan dan sudah digunakan secara turun menurun selama bertahun-tahun untuk tujuan kesehatan tertentu. Produk jamu yang memiliki izin edar dari BPOM biasanya memiliki logo lingkaran hijau dengan ranting daun hijau di bagian kemasannya.
  2. Obat Herbal Terstandar (OHT)
    OHT adalah obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau penyarian bahan alam (dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral). Proses produksi OHT dilakukan dengan teknologi maju. Studi khasiat OHT sudah ditunjang oleh pembuktian ilmiah untuk kandungan berkhasiat, memenuhi standar pembuatan esktrak, pembuatan obat tradisional yang higienis dan uji toksisitas. Produk OHT di pasaran biasanya diidentifikasi dengan adanya logo jari-jari daun dalam lingkaran hijau pada bagian kemasannya.
  3. Fitofarmaka
    Fitofarmaka adalah kategori obat tradisional yang paling tinggi, masih tetap berasal dari bahan alam akan tetapi tingkat kualitasnya dapat disejajarkan dengan obat modern kimia karena proses pembutannya telah terstandar, khasiatnya sudah ditunjang adanya bukti ilmiah sampai sudah dilakukan uji klinis pada manusia. Kategori fitofarmaka banyak digunakan di sarana pelayanan kesehatan. Produk kategori fitofarmaka di pasaran biasanya memiliki logo berupa kepingan salju dalam lingkaran hijau.

Tahukah keluarga kejora walaupun obat tradisional itu alami dan terlihat mudah karena berasal dari alam, ternyata pengembangannya tidak mudah, loh. Bahkan faktanya per bulan Maret 2020, tercatat hanya terdapat 62 produk kategori OHT dan 24 fitofarmaka. Oleh sebab itu, kelurga kejora harus tetap cermat ya saat memilih produk obat tradisional. sama seperti memilih obat konvensional, keluarga kejora sangat disarankan hanya memilih produk yang memiliki izin edar dan terdaftar di BPOM agar keamanan dan efektifitasnya terjamin sehingga tidak membahayakan kesehatan, terutama untuk anak-anak. Gunakan produk yang terjamin kandungan kebersihannya dan keamanannya. Sebisa mungkin selalu konsultasikan dengan dokter apabila ayah dan ibu ingin menggunakan obat tradisional untuk anak-anak yah!

Studi yang dilakukan khususnya di negara-negara berkembang, menunjukan bahwa penggunaan obat tradisional itu lebih dipilih dan mengalahkan penggunaan obat-obatan konvensional, bahwa obat tradisional itu 2 sampai 3 tingkat lebih diminati. Umumnya karena harga obat tradisional umumnya jauh lebih murah, akses untuk memperoleh yang jauh lebih mudah, serta banyak orang yang menganggap bahwa tanaman obat atau obat yang berbasis tanaman pasti lebih aman dan resiko efek samping yang merugikan juga lebih rendah daripada obat konvensional. Padahal, faktanya kalau kita tidak hati-hati dan rasional dalam penggunaan obat tradisional juga dapat berdampak negatif atau bahkan memperburuk kondisi kesehatan. Agar tetap aman dalam kondisi obat tradisional keluarga kejora dapat mengikut anjuran dari badan pemeriksaan obat dan makanan saat mengkonsumsi obat tradisional, yaitu:

  • Baiknya dalam penggunaan obat tradisional jangan dilakukan bersamaan dengan obat konvensional
  • Patut waspada apabila saat mengkonsumsi obat tradisional efek yang ditimbulkan cepat karena ada kemungkinan penambahan zat kimia di dalamnya
  • Perhatikan informasi peringatan atau perhatian khususnya apabila ada efek samping yang rentan dengan kondisi kesehatan serta baca aturan pakai sebelum mengkonsumsi obat tradisional.

Nah, setelah mengenal obat tradisional dan mengetahui cara penggunaan obat tradisional yang baik, Keluarga Kejora sudah siap ya untuk lebih cermat dan selektif dalam memilih obat tradisional, baik untuk sekedar menjaga kesehatan atau mengobati keluhan yang dirasakan. Apabila ada anggota keluarga yang sakit, Ayah dan Ibu Kejora ingin menggunakan obat tradisional jangan lupa untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu ya! Selain itu, patuhi pula anjuran dokter dalam penggunaan obat ya!

 

Editor : drg. Rahmatul Hayati (@rahmatulhayati)

 

Sumber:

Materi edukasi tentang peduli obat dan pangan aman, BPOM – 2015

Herbal medicine: current status and the future, Sanjoy Kumar pal, Yogeshwer Shukla (Pal & Shukla, 2002)

Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan No. 32 tahun 2019 tentang persyaratan keamanan dan mutu obat tradisional, BPOM – 2019

Deteksi Dini dan Pencegahan Diabetes

oleh dr. Paramita Khairan, SpPD

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Pasti Ayah dan Ibu Kejora sudah sering mendengar istilah diabetes. Diabetes adalah suatu penyakit kronik yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula dalam darah karena metabolisme gula yang terganggu. Saat ini, angka pasien diabetes di Indonesia mencapai 7%, angka ini meningkat tajam jika dibandingkan angka pasien diabetes pada tahun 1980-an. Diabetes merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah yang merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Kabar baiknya, penyakit diabetes dapat dicegah. Yuk, simak caranya!

Sebelum mengetahui cara pencegahannya, mari kenali dulu beberapa tipe diabetes:

  1. Diabetes tipe 1, merupakan gangguan autoimun yang menyebabkan sistem ketahanan tubuh menyerang dan merusak sel-sel di organ pankreas, sehingga pankreas tidak dapat memproduksi hormon insulin.
  2. Diabetes tipe 2, merupakan diabetes yang terjadi karena organ pankreas memproduksi hormon insulin, namun jumlahnya tidak mencukupi, sehingga kerja hormon insulin menjadi tidak efektif.
  3. Diabetes gestasional, merupakan diabetes yang hanya terjadi pada saat kehamilan.
  4. Diabetes tipe lain, merupakan diabetes yang disebabkan oleh pemakaian obat, penyakit lain-lain, dsb.

Diabetes tipe 2 adalah tipe diabetes yang paling banyak diderita, yuk simak pembahasannya lebih lanjut!

Gejala utama yang dapat dirasakan oleh penderita diabetes tipe 2 antara lain:

  1. Frekuensi buang air kecil meningkat, disebut juga dengan poliuri
  2. Sering merasa haus, disebut juga dengan polidipsi
  3. Sering merasa lapar, disebut juga dengan polifagi

Selain tiga gejala tersebut, gejala dan tanda lain juga dapat terjadi seperti turunnya berat badan (walaupun makan cukup banyak atau tidak sedang menjalankan program diet), sering merasa lelah, pandangan kabur, dan sering kesemutan.

Seringkali, gejala dan tanda diabetes belum tampak atau tidak dirasakan oleh penderita (disebut juga asimtomatik), sehingga perlu dilakukan pemeriksaan untuk orang-orang yang berisiko tinggi mengalami diabetes tipe 2. Caranya cukup mudah untuk menilai apakah Ayah dan Ibu Kejora memiliki risiko tinggi terkena diabetes yaitu dengan menjawab pertanyaan tabel risiko di bawah ini:

 

Tes Risiko Diabetes Skor
1.     Berapa usia anda?

·        Kurang dari 40 tahun (0 poin)

·        40–49  tahun (1 poin)

·        50–59   tahun (2 poin)

·        60 tahun atau lebih (3 poin)

2.     Apakah anda laki-laki atau perempuan?

·        Laki-laki (1 poin)

·        Perempuan (0 poin)

3.     Bila anda perempuan, apakah anda pernah didiagnosis menderita diabetes gestasional (diabetes saat kehamilan)?

·        Pernah (1 poin)

·        Tidak pernah (0 poin)

4.     Apakah ayah, ibu, atau saudara kandung anda memiliki riwayat diabetes?

·        Ya (1 poin)

·        Tidak (0 poin)

5.     Apakah anda pernah didiagnosis menderita tekanan darah tinggi?

·        Ya (1 poin)

·        Tidak (0 poin)

6.     Apakah anda aktif secara fisik?

·        Ya (0 poin)

·        Tidak (1 poin)

7.     Termasuk dalam kategori apakah berat badan anda? (Silakan lihat dari tabel di bawah ini)
Total skor

Catatan: berat dan tinggi badan dalam satuan feet dan pound

Apabila skor Ayah dan Ibu Kejora 5 atau lebih, artinya berisiko tinggi terkena diabetes. Namun, hanya dokter yang dapat memastikan diagnosis tersebut adalah diabetes mellitus, ya!

Selain itu, jika Ayah dan Ibu Kejora memiliki karakteristik sebagai berikut:

    1. Indeks massa tubuh (IMT) ≥ 23 kg/m2. IMT dapat dihitung dengan cara:

    1. Kadar kolesterol baik (High Density Lipoprotein) < 35 mg/dL atau kadar trigliserida (lemak yang ada di dalam darah) > 250 mg/dL
    2. Perempuan dengan sindrom polikistik ovarium (gangguan hormon yang terjadi pada wanita usia subur)
    3. Memiliki ayah, ibu, dan/atau saudara kandung dengan penyakit diabetes
    4. Memiliki riwayat penyakit stroke
    5. Memiliki riwayat tekanan darah tinggi
    6. Tidak aktif secara fisik

Maka, segeralah periksakan diri ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan gula darah.

Bagaimana jika Ayah dan Ibu Kejora tidak memiliki satu dari kriteria di atas atau memiliki skor risiko rendah (kurang dari 5)? Selamat! Berarti Ayah dan Ibu Kejora berisiko rendah terkena diabetes, tetapi untuk Ayah dan Ibu Kejora yang berusia 45 tahun ke atas, dianjurkan untuk tetap melakukan pemeriksaan diabetes sedini mungkin, ya!

Untuk memeriksa apakah seseorang terkena diabetes atau tidak, dokter akan menyarankan pemeriksaan gula darah sebagai berikut:

  1. Gula Darah Puasa (GDP)

Dilakukan setelah tidak makan dan minum, kecuali air putih selama 8-10 jam sebelum pemeriksaan.

  1. Gula Darah 2 Jam Setelah Makan

Dilakukan setelah mengonsumsi 75 g glukosa.

  1. Hemoglobin A1C

Mengetahui jumlah gula darah dalam 3 bulan terakhir.

Sebelum terjadi diabetes, terdapat keadaan yang disebut dengan prediabetes yaitu keadaan di mana sudah mulai terjadi gangguan metabolisme gula darah, namun belum terjadi diabetes. Berikut tanda-tanda prediabetes:

      1. Kadar gula darah puasa (GDP) sebesar 100–125 mg/dL, atau
      2. Kadar gula darah 2 jam setelah makan atau konsumsi 75 g glukosa sebesar 140–199 mg/dL, atau
      3. Kadar hemoglobin A1C sebesar 5.7%–6.4%.

Apabila Ayah dan Ibu Kejora memenuhi kriteria tersebut, jangan panik dulu karena ada hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah atau memperlambat terjadinya diabetes.

Berikut program untuk penderita prediabetes guna mencegah dan memperlambat timbulnya penyakit diabetes:

  1. Turunkan berat badan hingga minimal 7% dalam 6 bulan pertama. Penurunan berat badan yang dianjurkan sebesar 0.5–1 kg per bulan.
  2. Lakukan aktivitas fisik dengan intensitas moderat minimal 150 menit per minggu, setara dengan intensitas jalan cepat (kecepatan 6.5 km/jam) atau 75 menit latihan otot. Aktivitas ini dapat dibagi menjadi 3 kali seminggu, minimal selama 10 menit per sesi. Aktivitas fisik yang termasuk dalam intensitas moderat, seperti:
    • berjalan ke toko atau tempat kerja,
    • berjalan dengan membawa barang bawaan kurang dari 25 kg,
    • bersepeda di jalan dengan beberapa tanjakan atau bersepeda statis,
    • bermain sepatu roda, basket, atau tenis,
    • berenang,
    • menari,
    • hiking,
    • yoga,
    • membersihkan rumah,
    • mengecat rumah, dan lain sebagainya.
    • Tidak merokok.

Apabila Ayah dan Ibu Kejora dapat mencegah diabetes, maka kemungkinan untuk menjalani hidup yang sehat dan berkualitas pun akan meningkat, sehingga dapat senantiasa menemani sang buah hati. Semoga informasi ini bermanfaat untuk Ayah dan Ibu Kejora, salam sehat!

Editor: drg. Agnesia Safitri

Sumber:

      1. World Health Organization (WHO). Diabetes-Country profile: Indonesia. 2016
      2. World Health Organization (WHO). Noncommunicable Diseases-Country profile: Indonesia. 2016
      3. American Diabetes Association. Standards of medical care in diabetes-2020. Diabetes Care January 2020; vol 43 (suppl 1).

Rekomendasi Penggunaan Masker pada Anak Selama Pandemi COVID-19

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

Halo, Keluarga Kejora! Pandemi COVID-19 masih berlangsung hingga saat ini. Upaya pencegahan untuk menghindari infeksi virus SARS-CoV-2 terus digalakkan oleh pemerintah, instansi kesehatan, dan berbagai pihak lainnya. Tentu Ayah dan Ibu juga tidak asing dengan istilah 3M pada era Pandemi COVID-19 ini, yaitu menggunakan masker, mencuci tangan, serta menjaga jarak. Hal ini tentu mudah dilakukan oleh orang dewasa, namun bagaimana dengan anak? Jika ada kondisi mendesak yang mengharuskan anak diajak keluar rumah, apakah harus menggunakan masker? Apakah semua anak perlu menggunakan masker? Apakah masker bisa diganti dengan face shield pada anak agar anak lebih merasa nyaman?

Pada dasarnya, penggunaan masker merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghindarkan diri dari penularan COVID-19. Panduan dari WHO mengenai penggunaan masker pada anak menyatakan bahwa anak dibawah 5 tahun tidak disarankan untuk menggunakan masker. Hal ini berdasarkan alasan keamanan, kenyamanan, serta kemampuan anak untuk menggunakan masker dengan baik dan benar tanpa supervisi orang dewasa. Namun, dalam panduan tersebut juga dijelaskan bahwa penggunaan masker hendaknya menyesuaikan dengan rekomendasi lokal yang dikeluarkan pemerintah atau ahli kesehatan.

Di Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tidak merekomendasikan pada anak di bawah usia 2 tahun karena dikhawatirkan dapat mengganggu pernafasan mereka. Pada kelompok usia ini, penggunaan face shield lebih disarankan, meskipun tidak memberikan efek proteksi yang sama dengan penggunaan masker. Jika anak menggunakan face shield, maka face shield hendaknya menutupi seluruh wajah dengan panjang sampai dengan bawah dagu. Selama pemakaian face shield, anak harus selalu di bawah pengawasan orang tua. Pada bayi, yang lebih dianjurkan adalah penggunaan kereta dorong dengan penutup dalam pengawasan orang dewasa, serta penggunaan masker oleh orang-orang dewasa di sekitar bayi, disamping menerapkan etika batuk dan memperhatikan kebersihan tangan.

IDAI menyarankan penggunaan masker pada anak di atas 2 tahun untuk meminimalisir kemungkinan penularan COVID-19 di era pandemi ini. Masker yang sesuai untuk anak adalah Penggunaan masker juga perlu disesuaikan pada anak yang memiliki kondisi medis tertentu yang berpengaruh terhadap pernafasannya, misalnya menderita penyakit jantung bawaan, penyakit paru kronik. Pada anak-anak dengan kondisi medis tersebut, penggunaan masker harus selalu di bawah pendampingan orang tua atau orang dewasa lain, serta sesuai dengan saran dari dokter yang merawat. Pada anak dengan kondisi medis tertentu yang membuatnya lebih rentan mengalami infeksi atau tertular COVID-19, penggunaan masker perlu dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter yang merawat. Penggunaan masker pada anak juga harus memperhatikan ukuran serta cara penggunaannya, sehingga memberikan memberikan efek perlindungan yang efektif.

Mari kita terus menerapkan 3M untuk mencegah penularan COVID-19! Salam sehat Kejora!

Sumber:

https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/question-and-answers-hub/q-a-detail/q-a-children-and-masks-related-to-covid-19
https://www.idai.or.id/about-idai/idai-statement/faq-pemakaian-masker
https://www.idai.or.id/about-idai/idai-statement/pandangan-ikatan-dokter-anak-indonesia-mengenai-pencegahan-infeksi-covid-19-pada-anak

World Heart Day 2020: Use Heart to Beat Heart Disease

oleh dr. Adelin Dhivi Kemalasari, BMedSci, SpJP, FIHA

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

 

Halo, Keluarga Kejora!
Tanggal 29 September diperingati sebagai World Heart Day (WHD) atau Hari Jantung Sedunia, sebuah kampanye global untuk meningkatkan kesadaran akan penyakit kardiovaskular yang hingga saat ini masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Tahukah Ayah dan Ibu Kejora bahwa proses penumpukan lemak di dinding pembuluh darah arteri sudah dapat dimulai sejak masa kanak-kanak dan dapat berdampak serius pada kehidupan dewasa mereka?

Dan tahukah Anda bahwa risiko penyakit kardiovaskular ini dapat dicegah dan diturunkan dengan cara menerapkan gaya hidup sehat?
Sesuai dengan kampanye Hari Jantung Sedunia tahun ini yaitu:

Mari menjadi bagian dalam memerangi penyakit kardiovaskular dengan menerapkan beberapa strategi di bawah ini, dimulai dari lingkaran terdekat kita, yaitu keluarga tercinta.

1. Stop rokok
Bahan kimia yang terkandung dalam rokok / tembakau dapat merusak jantung dan pembuluh darah Anda. Asap rokok mengurangi oksigen dalam darah, sehingga dapat meningkatkan tekanan darah dan detak jantung karena jantung Anda harus bekerja lebih keras untuk memasok cukup oksigen ke seluruh tubuh. Menurut penelitian, risiko penyakit jantung mulai menurun sehari setelah berhenti merokok. Setelah setahun tanpa rokok, risiko penyakit jantung turun menjadi setengah dari risiko perokok. Tidak peduli berapa lama atau berapa banyak Anda merokok, Anda akan mulai menuai hasilnya segera setelah berhenti.

2. Aktif bergerak
Aktivitas fisik harian yang teratur membantu Anda mengontrol berat badan dan dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kondisi lain yang dapat membebani jantung, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes mellitus. American Heart Associations memberikan pedoman aktivitas fisik untuk menjaga kesehatan berdasar pada bukti ilmiah terkini;
Rekomendasi aktivitas fisik untuk dewasa:

  • Lakukan aktivitas aerobik intensitas sedang sedikitnya 150 menit per minggu atau aktivitas aerobik berat (intensitas tinggi) sebanyak 75 menit per minggu, atau kombinasi keduanya
  • Tambahkan latihan beban atau resistensi (weight resistance training) setidaknya dua sesi per minggu
  • Kurangi waktu duduk
  • Dapatkan lebih banyak manfaat dengan menjadi aktif setidaknya 300 menit (5 jam) per minggu

Rekomendasi untuk anak – anak:

  • Anak – anak berusia 3 – 5 tahun harus aktif secara fisik dan memiliki banyak kesempatan untuk bergerak sepanjang hari
  • Anak – anak berusia di atas 5 tahun harus mendapatkan setidaknya 60 menit per hari aktivitas fisik intensitas sedang hingga tinggi. Durasi ini dapat dibagi menjadi dua (@ 30 menit) hingga tiga (@ 20 menit) periode sepanjang hari

Tetapkan batasan dalam menonton TV, penggunaan komputer dan gawai dalam menerapkan kebiasaan bergerak secara aktif. Hindari makanan sebagai hadiah (reward) atas prestasi anak; sebaliknya, rencanakan aktivitas fisik yang akan mereka nikmati.

Apabila Anda belum dapat memenuhi pedoman tersebut, jangan menyerah. Anda tidak harus berolahraga keras untuk mendapatkan manfaat, tetapi Anda dapat melihat manfaat yang lebih besar dengan meningkatkan intensitas, durasi, dan frekuensi latihan secara bertahap seiring waktu. Bagi anggota keluarga dengan penyakit jantung atau kondisi khusus lainnya, konsultasikan dengan dokter Anda sebelum memulai program berolahraga.

3. Terapkan pola makan sehat
Pola makan yang sehat dapat membantu melindungi jantung Anda, melindungi dari peningkatan tekanan darah dan kolesterol, serta mengurangi risiko diabetes tipe 2.

Makanan yang direkomendasikan antara lain: sayur dan buah yang bervariasi, kacang – kacangan, daging dan ikan tanpa lemak, makanan olahan susu yang rendah lemak atau bebas lemak, karbohidrat kompleks, dan lemak baik (contoh: minyak zaitun, alpukat).

Sedangkan yang harus dibatasi yaitu: garam, gula, alkohol, processed foods, lemak jenuh (daging merah dan makanan olahan susu full fat) dan lemak trans (makanan cepat saji, keripik).

Kemenkes Republik Indonesia memiliki panduan piring makan gizi seimbang; yaitu:

  • ½ dari piring makan terdiri dari sayuran dan buah
  • ¼ dari piring makan dipenuhi dengan biji – bijian utuh dari beras, gandum, atau pasta
  • ¼ dari piring makan diisi dengan protein

Bagaimana dengan piring makan Keluarga Kejora? Apakah sudah mendekati panduan piring makan yang telah direkomendasikan? 😉

4. Jaga Berat Badan Ideal
Salah satu cara untuk mengetahui apakah berat badan Anda sehat adalah dengan menghitung indeks massa tubuh (IMT). IMT > 25 dianggap kelebihan berat badan dan umumnya dikaitkan dengan kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, dan peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke.

Lingkar pinggang juga bisa menjadi alat yang berguna untuk mengukur seberapa banyak lemak perut yang Anda miliki. Risiko penyakit jantung Anda lebih tinggi jika ukuran pinggang Anda lebih besar dari 40 inci (101.6 cm) untuk pria dan 35 inci (88.9 cm) untuk wanita.

Penurunan berat badan sekecil 3 – 5 % dapat membantu menurunkan trigliserida, menurunkan kadar glukosa, dan mengurangi risiko diabetes. Penurunan berat badan lebih banyak dapat membantu menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol darah Anda.

5. Tidur yang Berkualitas
Orang yang kurang tidur memiliki risiko lebih tinggi mengalami obesitas, tekanan darah tinggi, serangan jantung, diabetes, dan depresi. Tetapkan jadwal tidur dan patuhi dengan pergi tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari. Jagalah agar kamar tidur tetap gelap dan tenang, agar lebih mudah untuk tidur. Jika Anda merasa sudah cukup tidur tetapi masih lelah sepanjang hari, tanyakan kepada dokter apakah Anda perlu dievaluasi untuk memiliki obstructive sleep apnea (OSA), suatu kondisi yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Tanda – tanda OSA termasuk mendengkur keras, berhenti bernapas untuk waktu yang singkat selama tidur dan bangun terengah – engah.

6. Kelola Stres dan Emosi
Beberapa orang mengatasi stres dengan cara yang tidak sehat – seperti makan berlebihan, konsumsi alkohol, atau merokok. Menemukan cara alternatif untuk mengelola stres – seperti aktivitas fisik, latihan relaksasi atau meditasi – dapat membantu meningkatkan kesehatan Anda.

7. Lakukan pemeriksaan secara berkala
Kita telah mengetahui tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol tinggi mempercepat proses kerusakan jantung dan pembuluh darah. Tetapi tanpa pemeriksaan, Anda mungkin tidak akan tahu apakah Anda memiliki kondisi ini. Pemeriksaan berkala dapat memberi tahu keadaan tubuh Anda dan apakah perlu diambil tindakan selanjutnya.

  • Tekanan darah
    Mulai usia 18 tahun, tekanan darah Anda harus diukur setidaknya sekali setiap dua tahun. Jika Anda berusia 40 tahun ke atas, atau usia antara 18 – 39 tahun dan memiliki faktor risiko hipertensi, sebaiknya skrining tekanan darah dilakukan setahun sekali.
  • Kadar kolesterol
    Orang dewasa umumnya memeriksa kadar kolesterol mereka setidaknya sekali setiap empat hingga enam tahun. Skrining kolesterol biasanya dimulai pada usia 20, atau lebih awal apabila terdapat faktor risiko lain, seperti riwayat keluarga penyakit jantung yang menyerang lebih awal.
  • Skrining diabetes mellitus
    Jika berat badan Anda normal dan Anda tidak memiliki riwayat diabetes dalam keluarga, skrining disarankan dimulai pada usia 45, dengan tes ulang setiap tiga tahun. Namun jika Anda memiliki faktor risiko diabetes, pemeriksaan lebih awal sangat direkomendasikan.

Menerapkan pola hidup sehat merupakan target jangka panjang yang sebaiknya dilakukan seumur hidup. Perubahan kecil namun konsisten akan memberikan dampak yang berkelanjutan dan terhindar dari fenomena rebound (kembali ke titik awal).

Anak – anak merupakan peniru ulung. Memberikan contoh kebiasaan hidup sehat merupakan sebuah investasi besar terbaik yang dapat kita berikan bagi mereka dan generasi mendatang. Berapapun usia Anda saat ini, tidak pernah ada kata terlambat atau bahkan terlalu dini untuk mencegah penyakit kardiovaskular. Masa pandemi ini merupakan saat terbaik untuk memulai perubahan gaya hidup sehat, karena seluruh strategi di atas tentunya dapat meningkatkan kekebalan tubuh kita dari berbagai penyakit lain.

Semoga Keluarga Kejora selalu dalam keadaan sehat, ya.

Referensi:

  1. Mayo Clinic. Strategies to Prevent Heart Disease. Diunduh dari: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/heart-disease/in-depth/heart-disease-prevention/art-20046502
  2. American Heart Association Recommendations for Physical Activity in Adults and Kids. Diunduh dari: https://www.heart.org/en/healthy-living/fitness/fitness-basics/aha-recs-for-physical-activity-in-adults
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular. http://www.p2ptm.kemkes.go.id/