Pemeriksaan Penunjang dalam Diagnosis Alergi


 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Salam sehat, keluarga Kejora! Topik bahasan kali ini adalah mengenai pemeriksaan laboratorium yang dapat diminta oleh dokter untuk memastikan diagnosis alergi pada anak. Apa saja pemeriksaan laboratorium yang dimaksud? Seperti apa pemeriksaannya?

Alergi merupakan reaksi peradangan berlebihan sebagai respon kekebalan tubuh terhadap suatu allergen (bahan penyebab alergi). Alergi ini hnya muncul pada individu yang mengalami hipersensitivitas terhadap alergen. Penyebab alergi berbeda-beda pada setiap orang, dapat berupa alergi terhadap makanan, obat-obatan, serbuk sari, dan lain-lain. Gejala klinis alergi juga bervariasi antar individu, dapat berupa ruam kemerahan disertai gatal, mata merah dan berair ketika terpapar alergen, batuk dan pilek, dan lain-lain.

Dalam mendiagnosis alergi, selain dari riwayat dan pemeriksaan fisik, dokter mungkin membutuhkan pemeriksaan tambahan, seperti kadar IgE dalam darah, uji tusuk (skin prick test), uji suntik intradermal, dan uji tempel. IgE merupakan antibodi yang dibentuk oleh tubuh sebagai respon terhadap alergen. Pada individu yang mengalami alergi, kadar IgE dalam darah akan meningkat. Kadar IgE ini dapat diukur secara jumlah total dalam tubuh (kadar IgE total) atau secara spesifik (kadar IgE spesifik). Pada pemeriksaan kadar IgE spesifik, diperiksa kadar IgE terhadap alergen tertentu.

Selain pemeriksaan kadar IgE, uji tusuk juga dapat dibutuhkan untuk mengetahui penyebab alergi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan meneteskan cairan yang mengandung alergen yang diperiksa pada kulit (biasanya dilakukan pada kulit lengan bawah). Setelah itu, kulit yang sudah diteteskan akan ditusuk dengan jarum kecil, sehingga alergen dapat masuk ke bawah permukaan kulit. Kulit akan dibiarkan selama 15-20 menit dan dievaluasi tanda alergi yang muncul. Pada pemeriksaan ini, biasanya dilakukan pemeriksaan alergi terhadap beberapa alergen sekaligus.

Gambar 1. Uji tusuk (skin prick test)

Serupa dengan uji tusuk, evaluasi alergi dapat dilakukan dengan melakukan penyuntikkan alergen secara intradermal. Setelah itu, ditunggu selama 15 menit dan dievaluasi reaksi alergi yang timbul. Kekurangan uji ini adalah dapat menyebabkan reaksi sistemik, sehingga uji ini lebih jarang dilakukan dibandingan dengan uji tusuk.

Pemeriksaan penunjang diagnosis alergi lainnya adalah uji tempel, terutama untuk evaluasi dermatitis kontak. Dermatitis kontak merupakan reaksi alergi yang timbul karena kontak dengan bahan tertentu. Uji tempel ini dilakukan dengan menempelkan plester yang mengandung alergen pada punggung. Evaluasi reaksi alergi dilakukan 48 jam setelah penempelan plester alergen. Selama 48-72 jam tersebut, pasien dianjurkan untuk tidak mandi atau berolahraga agar tidak berkeringat berlebihan.

Semoga pembahasan di atas membuat Ayah dan Ibu memiliki gambaran yang lebih baik tentang pemeriksaan penunjang untuk evaluasi alergi. Semoga bermanfaat!

LUKA BAKAR PADA ANAK: APA YANG PENTING DIKETAHUI?

 

oleh dr. Nilam Permatasari Bmed.Sc, SpBP-RE

Dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik

 

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah buah hati Anda pernah mengalami luka bakar? Sudahkah Ayah dan Ibu Kejora tau cara penanganan pertama jika anak terkena luka bakar? Yuk, simak penjelasan di bawah ini supaya Ayah dan Ibu Kejora lebih paham apa saja yang perlu diketahui jika hal ini terjadi pada buah hati Anda.

 

Penyebab Luka Bakar Pada Anak
Mayoritas cedera luka bakar pada anak terjadi di rumah (84%), dengan memasak sebagai kegiatan yang paling umum. Selama masa pandemi ini tentu kegiatan Ayah dan Ibu Kejora serta anak lebih banyak terpusat di rumah sehingga perlu perhatian lebih untuk mencegah kemungkinan ini. Luka bakar pada anak dengan usia yang lebih muda paling sering disebabkan oleh air panas. Seiring bertambahnya usia, angka penyebab luka bakar pada anak karena api meningkat.

Ayah dan Ibu Kejora harus memahami bahwa anak bukanlah mini dewasa. Dengan demikian, anak lebih tidak berdaya dalam mencegah kecelakaan luka bakar. Selain itu, lapisan kulit anak lebih tipis dibandingkan dewasa, sehingga anak lebih sering mengalami luka bakar dalam (full thickness).

 

Pertolongan Pertama Luka Bakar pada Anak

1. Hentikan proses bakar dengan menjauhkan/mematikan sumber panas.
STOP, DROP, ROLL AND COVER (Hentikan, Jatuhkan diri, Berguling, Lindungi)

    1. Stop – hentikan sumber kebakaran. Contoh: menghentikan sumber listrik pada kecelakaan listrik, tutup api dengan kain basah.
    2. Drop – jatuhkan diri ke lantai, tengkurap bila memungkinkan.
    3. Roll – berguling di lantai untuk menghentikan api.
    4. Cover – lindungi wajah dari paparan api.

Ayah dan Ibu Kejora bisa berlatih gerakan ini di rumah bersama buah hati, ya.

Cara Berlatih Stop, Drop & Roll Bersama Anak
Sumber gambar: https://www.household-management-101.com/stop-drop-and-roll.html

2. Mendinginkan luka bakar dengan irigasi menggunakan air mengalir, dapat berupa air keran (suhu 2-15oC) selama 20 menit. Waktu yang efektif dilakukan tindakan irigasi adalah dalam 3 jam setelah kejadian. Selain untuk mendinginkan luka bakar, irigasi dapat mengurangi nyeri dan mengurangi edema (bengkak).

Anak lebih rentan mengalami hipotermia sehingga sangat penting untuk tetap menjaga kehangatan anak setelah irigasi. Jika luka bakar sangat luas, kurangi lama irigasi.

Don’ts:

  • Hindari menggunakan air yang terlalu dingin!
  • Jangan memberikan pertolongan pertama dengan kopi, batu es, pemberian pasta gigi/kecap, sabun colek, mentega, dll.

3. Buka semua yang menempel di badan dan tutup dengan kain yang bersih.
Berikan berlapis dan cek berkala agar memastikan anak hangat.

4. Pertolongan Nyeri
Pendinginan dan penutupan luka dapat menurunkan rasa nyeri. Untuk tambahan dapat diberi medikasi yang mudah didapat di rumah, seperti paracetamol atau anti-inflamasi ibuprofen.

5. Penutupan Luka
Proteksi sementara di rumah dapat menggunakan polyvinyl chloride (cling film) karena tidak melekat dan transparan sehingga memudahkan pemeriksaan.

6. Segera ke fasilitas kesehatan terdekat.

 

Kena Luka Bakar: Harus Kemana?

1. Datang ke fasilitas kesehatan yang memiliki dokter bedah plastik.
Bedah plastik dapat memberikan layanan gawat darurat, perawatan luka bakar hingga pencegahan dan penanganan komplikasi dengan tujuan fungsi dan tampilan bekas luka bakar yang baik. Kenali dokter bedah plastik di area sekitar tempat tinggal Ayah dan Ibu Kejora melalui situs www.perapi.org/doctor . Bila tidak memungkinkan, dapat datang ke dokter bedah umum.

2. Kenali nomor telepon jasa penanganan keadaan darurat

  • Ambulans: 118 dan 119
  • Pemadam kebakaran: 113 dan 1131
  • Nomer darurat standar GSM melalui jaringan seluler dan satelit: 112
  • Polisi: 110
  • Posko becana alam: 129
  • Perusahaan Listrik Negara: 123
  • Keracunan: (021) 4250767
  • Pencegahan bunuh diri (021) 7256526, (021) 7257826, (021) 7221810
  • Konseling masalah kejiwaan Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa Kemenkes RI Hotline 500-454

Referensi:
1. Herndon, David N., Total Burn Care. 4th edition. Saunders El. London: 2012.
2. Australia and New Zealand Burns Association. Emergency management of severe burns (EMSB). 2013.
3. Siobhan Conolly MB, et al. Clinical Practice Guidelines: Burn Wound Management NSW Health. NSW Health. 2009.

Menjaga Kebersihan Mainan di Rumah

 

 

 

 


oleh dr. Yulianto Santoso Kurniawan, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Ayah dan Ibu, apa kabar?

Dalam keadaan pandemi COVID-19 ini sudah menjadikebiasaan baru kita menjadi lebih rajin membersihkan peralatan di rumah. Kita juga semakin sering mendengar istilah disinfektan. Sebenarnya, apakah betul mainan anak perlu kita lakukan disinfeksi? Apa beda disinfeksi dengan sanitasi?

Proses pembersihan secara umum ternyata terbagi menjadi 3 tahapan, yaitu:

  1. Pembersihan dengan deterjen atau sabun dan air bertujuan untuk menyingkirkan debu atau kotoran dari permukaan benda. Misal lantai, dinding, karper, jendela.
  2. Sanitasi dilakukan untuk menyingkirkan kotoran dan sedikit kuman. Beberapa benda atau permukaan yang dibersihkan dari kotoran lalu dilakukan sanitasi adalah kamar mandi, mainan, alat makan
  3. Beberapa benda atau permukaan dilakukan tahapan tambahan yaitu disinfeksi setelah proses pembersihan untuk membunuh kuman di permukaan benda.

Pemutih (bleach) yang mengandung sodium hypochloritemerupakan bahan aktif yang bisa membunuh mikroorganisme,termasuk bakteri dan virus. Bahan aktif ini dapat digunakan untuk keperluan sanitasi atau disinfeksi. Pemutih rumahan dengan kadar 5,25% artinya mengandung bahan aktif sebanyak52.500 ppm (part per million). Konsentrasi bahan aktif dalampemutih rumahan, cukup dikalikan 10.000 untuk mengubah % menjadi ppm.

Berapa konsentrasi pemutih yang diperlukan untuk melakukan sanitasi?

Untuk melakukan sanitasi maka konsentrasi pemutih yang diperlukan adalah 50-200 ppm. Bila pemutih rumahan Anda memiliki konsentrasi 5,25%, maka untuk membuat 50 ppm adalah dengan membuat konsentrasi 50 / 10.000 = 0,005%. Untuk membuat 5,25% menjadi 0,005% artinya 1 bagian 5,25% diencerkan menjadi 1000x. Secara sederhana, ini berarti 1 mililiter pemutih diencerkan dengan air sampai volume larutan menjadi 1 liter (diencerkan 1 : 1000)

Untuk membuat 100 ppm, maka langkahnya adalah 100 / 10.000 = 0,01%; 1 mL pemutih 5,25% ditambah air sampai volume larutanya 500 mL.

Selain konsentrasi, kita juga perlu memperhatikan suhu dan waktu kontak antara larutan pemutih dengan permukaan benda yang dibersihkan. Untuk sanitasi diperlukan waktu kontak sekitar 2 menit dan kering dengan diangin-anginkan, serta suhu antara 13-49 derajat Celsius (dapat dilakukan pada suhu ruangan). Larutan pemutih tersebut harus diganti setiap 24 jam bila akan dipergunakan kembali karena jika sudah dilarutkan larutan tersebut tidak stabil.

Setelah membuat larutan tersebut maka Ayah dan Ibu bisa membersihkan mainan anak sebelum dan setelah digunakan. Semoga upaya ini akan menjaga kesehatan anak-anak kita.

Editor: dr. Sunita

Sumber:

https://hnhu.org/health-topic/chlorine/

https://www.rapidtables.com/convert/number/Percent_to_PPM.html

www.tchd.org/242/Child-Care

https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/prevention/Pages/Cleaners-Sanitizers-Disinfectants.aspx

Apa itu Maskne?

 

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Hai Ayah dan Ibu Kejora, belakangan ini, setelah berlaku masa transisi dari PSBB ke New Normal, masyarakat digalakkan untuk memakai masker, baik masker bedah ataupun masker kain, ketika beraktivitas di luar rumah. Namun beberapa masalah kulit dapat muncul pada pemakaian masker jangka panjang, termasuk iritasi, alergi dan  yang belakangan banyak dikeluhkan adalah jerawat  di area wajah yang tertutup masker atau bisa disebut “maskne.

Apa itu Maskne?

Maskne  atau  jerawat masker (mask acne) sebenarnya adalah suatu bentuk akne, yang sering disebut sebagai akne mekanika, atau akne yang timbul karena gesekan berulang di kulit. Gesekan berulang pada satu area kulit dapat menyebabkan kerusakan sawar kulit atau microtear yang mempermudah bakteri dan kotoran untuk masuk kedalam pori-pori kulit dan memicu terjadinya infeksi. Selain itu, napas kita yang teroklusi di balik masker akan menyebabkan lingkungan yang lembab dan memudahkan bakteri berkembang biak.

Siapa saja yang dapat mengalami Maskne?

Maskne terutama dialami oleh para pekerja kesehatan yang harus menggunakan beberapa lapis masker dan alat pelindung diri dalam jangka waktu lama (lebih dari 6 jam). Namun maskne juga bisa terjadi pada semua orang yang rutin memakai masker dan memiliki kulit yang cenderung berminyak atau sensitive.

Bagaimana cara mencegah timbulnya Maskne?

Meskipun begitu, penggunaan masker tetap diperlukan untuk mencegah penularan virus Corona pada kondisi pandemik saat ini. Untuk mencegah terjadinya maskne, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

  1. Gunakan masker yang terbuat dari bahan yang halus dan natural, misalnya katun. Selain itu, pilih bahan yang dapat meyerap keringat dan halus, sehingga mengurangi faktor kelembapan dan gesekan pada kulit. Jangan gunakan bahan sintetik seperti rayon, polyester atau nilon.
  2. Ganti masker tiap 4 jam dan bersihkan wajah dengan facial wash atau micellar water yang lembut. Cuci masker tiap selesai pemakaian.
  3. Gunakan produk pelembap atau sunscreen yang ringan dan non-komedogenik, dengan formulasi gel atau lotion.
  4. Hindari pemakaian makeup atau skin care yang terlalu creamy, atau oil-based pada area yang tertutup masker. Hindari pemakainan produk seperti foundation, Cushion dan bedak padat yang dapat menyumbat pori-pori pada kulit yang tertutup masker.
  5. Saat ini jangan mencoba produk baru, terutama produk yang dapat mengeksfoliasi kulit, seperti AHA, BHA, benzoyl peroxide dan retinoid. Oklusi oleh masker dapat meningkatkan penyerapan zat aktif dan memicu iritasi dan peradangan.
  6. Jangan menyentuh wajah dibalik area yang tertutup masker. Jari kita dapat mentransfer bakteri dan virus ke area tersebut.

Apabila timbul maskne atau keluhan kulit lain yang cukup berat dan tidak bisa diatasi dengan skin care over the counter dan langkah pencegahan di atas, konsultasikan masalah kamu dengan dokter spesialis kulit dan kelamin, baik online maupun offline. Terkadang diperlukan obat minum atau obat yang harus diresepkan untuk membantu mengurangi maskne tersebut.

Editor: Saka Winias, drg., M.Kes., Sp.PM

Sumber:

  1. https://www.aad.org/public/everyday-care/injured-skin/burns/face-mask-skin-problems-treatment
  2. https://www.aad.org/public/everyday-care/skin-care-secrets/face/prevent-face-mask-skin-problems
  3. Plewig G., Kligman A.M. (2000) Acne Mechanica. In: ACNE and ROSACEA. Springer, Berlin, Heidelberg. https://doi.org/10.1007/978-3-642-59715-2_27

Skrining Hipotiroid Kongenital

 

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Salam sehat keluarga Kejora! Tahukah Ayah Ibu bahwa bayi yang baru lahir perlu menjalani pemeriksaan skrining? Salah satu pemeriksaan skrining yang sudah menjadi program nasional adalah skrining hipotiroid kongenital. Berikut adalah informasi selengkapnya mengenai hipotiroid kongenital dan pemeriksaan skriningnya.

Hipotiroid kongenital (HK) merupakan suatu kelainan bawaan yang ditandai dengan defisiensi hormon tiroid pada neonatus. Hormon ini sangat penting karena berperan dalam pertumbuhan tulang dan perkembangan otak. Selain itu, hormon ini juga berfungsi untuk mengatur produksi panas tubuh, metabolisme, kerja jantung, dan saraf. HK dilaporkan sebagai penyebab terbesar retardasi mental yang dapat dicegah di Indonesia dengan insidens HK sekitar 1:2916 kelahiran.

Gejala yang dapat terlihat pada HK terutama berupa lemas, tampak kuning, lidah besar (makroglosia), mudah kedinginan, perut buncit, serta penurunan tonus otot. Gejala-gejala tersebut biasanya tidak terlihat saat lahir dan baru dideteksi setelah bayi berusia 6-12 minggu. Selain itu, juga dapat ditemui hambatan pertumbuhan dan perkembangan yang mulai tampak nyata pada umur 3–6 bulan, disertai dengan gejala HK yang lebih jelas. Jika tidak diobati, dapat terjadi keterlambatan perkembangan, misalnya terlambat duduk, berdiri, serta belajar bicara, dan dapat berlanjut menjadi keterbelakangan mental. Deteksi dini yang diikuti dengan penatalaksanaan yang tepat, diketahui dapat mencegah dampak negatif yang dapat diakibatkan kelainan kongenital ini, terutama dampak negatif terhadap perkembangan otak. Oleh karena itu, dikembangkan program skrining nasional untuk mendeteksi dini HK.

Di Indonesia, program skrining nasional HK telah dikembangkan sejak tahun 2014. Berdasarkan Pedoman Skrining Hipotiroid Kongenital yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2014, skrining HK idealnya dilakukan pada bayi berusia 2-3 hari, namun masih baik dilakukan hingga bayi berusia 4-5 hari . Sebelum dilakukan pengambilan sampel darah, orang tua akan diberikan penjelasan mengenai tujuan dan prosedur pemeriksaan ini. Pengambilan sampel darah dilakukan melalui tumit bayi (heel prick) yang kemudian diteteskan pada kertas saring khusus dan dikirim ke laboratorium. Di laboratorium, sampel darah pada kertas saring akan diperiksa kadar TSH (Thyroid Stimulating Hormone). TSH merupakan hormon yang berfungsi untuk melepaskan hormon tiroid ke dalam darah. Jika hasil kadar TSH < 20 uU/mL, maka hasil dikatakan normal, namun jika hasil TSH > 20 uU/mL, maka perlu dilakukan konsultasi dengan dokter. Bergantung pada kondisi bayi, dapat dipertimbangkan pengambilan darah ulang untuk melakukan pemeriksaan lagi atau dilakukan tes konfirmasi pemeriksaan kadar hormon TSH dan T4 bebas dari dalam darah. Tes konfirmasi ini dilakukan untuk menegakkan kondisi hipotiroid kongenital.

Semoga informasi tersebut bermanfaat untuk Ayah dan Ibu Kejora!

Sumber:

Kemenkes RI. Pedoman Skrining Hipotiroid Kongenital. 2014.

Cermat dan Tepat Menggunakan Antibiotik

 

 

 

 

 

oleh Jodi Tiara Rahmania, S.Farm, Apt

Apoteker/ Farmasis

 

Halo, Keluarga Kejora! Keluarga Kejora tentunya sudah kenal dengan istilah antibiotik kan? Antibiotik digunakan secara luas untuk mengatasi infeksi bakteri dengan gejala ringan sampai berat. Sayangnya, Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa dewasa ini ditemukan banyak kekeliruan dalam penggunaan antibiotik di masyarakat umum, yang justru berdampak negatif terhadap kesehatan tubuh. Perlu diingat bahwa antibiotik akan berkerja secara efektif dan aman bagi tubuh hanya apabila digunakan secara tepat serta berada di bawah anjuran dan pengawasan dokter. Sebaliknya, penggunaan antibiotik yang salah justru dapat menimbulkan efek jangka panjang yang dapat merugikan di kemudian hari. Keluarga Kejora pasti tidak mau menanggung kerugian tersebut di masa depan kan? Oleh karena itu, yuk mulai kita bangun kesadaran mengenai penggunaan antibiotik yang tepat dan rasional, supaya kesehatan anggota Keluarga Kejora tetap terjaga!

Sebelum masuk ke pembahasan yang lebih jauh lagi, sebetulnya apa sih yang dimaksud dengan antibiotik? Antibiotik merupakan senyawa organik yang dihasilkan oleh bakteri hidup. Pada penggunaan dosis tertentu, antibiotik akan bekerja dengan menghambat dan/atau membunuh bakteri lain melalui suatu mekanisme kerja spesifik dengan mengganggu atau merusak rantai metabolisme bakteri. Saat ini banyak sekali jenis antibiotik yang tersedia di pasaran dengan berbagai macam bentuk sediaan, misalnya tablet Amoxicillin, kapsul Clindamycin, sirup Cefadroxil, dan salep Gentamisin.

Kemudian, bagaimana pemilihan obat yang rasional? Rasional di sini berarti pasien menerima pengobatan sesuai kondisi klinisnya dengan dosis dan periode waktu konsumsi obat yang sesuai dengan kebutuhannya. Aspek lain yang perlu juga diperhatikan adalah biaya obat harus dapat dijangkau oleh pasien. Hal tersebut berlaku pula bagi penggunaan antibiotik. Antibiotik semestinya dikonsumsi berdasarkan anjuran dan di bawah pengawasan dokter, terutama pada pasien-pasien khusus, seperti balita, ibu hamil, ibu menyusui, lansia, serta individu lain dengan kondisi kesehatan tertentu. Selain itu, penilaian objektif terhadap penyebab dan jenis infeksi yang dialami juga tidak dapat dilakukan sendiri oleh pasien, melainkan memerlukan kompetensi seorang dokter. Dokter akan memutuskan apakah sakit yang dialami pasien disebabkan oleh bakteri, virus, atau infeksi lainnya. Kemudian, dokter akan menentukan jenis obat yang diperlukan untuk mengatasi sakit tersebut, dapat berupa antibiotik, antivirus, atau bahkan tidak memerlukan obat sama sekali, sangat tergantung dari kondisi tiap individu.

Keluarga Kejora juga perlu memahami bahwa antibiotik itu bagaikan dua sisi mata uang, loh! Apa maksudnya? Jadi, selain dapat memberikan manfaat, konsumsi antibiotik yang tidak tepat dan tidak rasional malah dapat memberikan dampak yang merugikan bagi tubuh, di antaranya memicu reaksi alergi, meningkatkan risiko efek samping karena kesalahan terapi (memilih dan membeli antibiotik tanpa resep dokter, dilakukan hanya berdasarkan pengalaman sebelumnya atau pengalaman orang lain yang sembuh menggunakan antibiotik tersebut, padahal sakit yang dialami saat ini belum tentu sama dengan yang sebelumnya), dan meningkatkan risiko resistensi atau kebal terhadap antibiotik. Resistensi antibiotik dapat muncul akibat penghentian konsumsi antibiotik sebelum antibiotik tersebut habis karena sudah merasa atau tampak lebih sehat. Kebiasaan ini sangat sering ditemukan di masyarakat, padahal tindakan tersebut dapat menyebabkan bakteri sehat kembali dan membangun kekebalan terhadap antibiotik, sehingga kondisi kesehatan semakin memburuk dan sakit menjadi sukar diobati. Risiko resistensi antibiotik ini sudah menjadi perhatian khusus Organisasi Kesehatan Dunia, karena jumlah individu yang resisten terhadap antibiotik sudah cukup tinggi, sementara pengembangan antibiotik jenis baru itu sulit, mahal serta membutuhkan waktu yang lama.

Nah, setelah mengetahui informasi mengenai penggunaan antibiotik yang benar dan efek samping yang dapat timbul dari penggunaan antibiotik yang tidak tepat, Keluarga Kejora sudah siap ya untuk bersikap cermat dalam menggunakan antibiotik? Apabila ada anggota keluarga yang sakit, Ayah dan Ibu Kejora jangan langsung memutuskan untuk mengonsumsi antibiotik tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu! Selain itu, patuhi pula anjuran dokter dalam penggunaan antibiotik ya!

 

Editor  : drg. Dinda Laras Chitadianti

 

Sumber:

“Antibiotic Resistance.” WHO Fact Sheet. 2018. World Health Organization.5 Feb.2018
<https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/antibiotic-resistance>

“The Pursuit of Responsible Use of Medicine: Sharing and Learning from Country Experiences” Essential medicine and health products. 2012. World Health Organization. October. 2012
<https://www.who.int/medicines/areas/rational_use/en/>

Pergi ke Dokter Jantung saat Pandemi Covid-19, Kapan Waktu yang Tepat?

oleh dr. Adelin Dhivi Kemalasari, BMedSci, SpJP, FIHA

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

 

Halo, keluarga Kejora. Semoga selalu dalam keadaan sehat dan semangat ya walaupun #dirumahaja. Mungkin beberapa Ayah dan Ibu Kejora memiliki kerabat dengan penyakit jantung dan sempat mengalami kebingungan selama pandemi ini, mengingat himbauan untuk membatasi aktivitas luar rumah yang non-esensial, termasuk menunda kunjungan ke dokter, kecuali mengalami beberapa kondisi darurat.

Sebelum kita membahas mengenai kunjungan ke dokter jantung selama pandemi, perlu diketahui mengapa pasien dengan penyakit jantung termasuk dalam golongan yang rentan untuk mengalami gejala yang berat saat mengalami infeksi, termasuk Covid-19 ini. Pada pasien jantung, sudah terdapat abnormalitas struktur dan/atau fungsi (kekuatan) jantung. Pada keadaan stabil tanpa infeksi saja, kemampuan fisik pasien sudah berkurang dan terbatas karena keluhan sesak nafas dan/atau nyeri dada yang dirasakan pasien. Dalam keadaan infeksi virus maupun bakteri yang menyerang saluran napas secara umum, keadaan demam akan menyebabkan metabolisme meningkat, kebutuhan oksigen bertambah, produksi lendir di saluran nafas dapat merangsang refleks batuk lebih banyak. Kumpulan keadaan ini akan membuat pasien jantung yang awalnya stabil menjadi merasakan keluhan yang lebih berat, lebih cepat mengalami perburukan kondisi yang akibatnya penyembuhan akan lebih sulit dan risiko kematian lebih tinggi.

Lalu bagaimana dengan pasien yang sebelumnya rutin berobat ke poliklinik jantung? Apakah semua kunjungan ke dokter harus ditunda termasuk menunda obat – obatan rutin?

Pasien dengan penyakit jantung sebaiknya tetap menjaga kondisi jantung agar selalu stabil dan terkontrol, dengan cara tetap melanjutkan obat – obatan rutin tanpa perubahan. Bila persediaan obat rutin mendekati habis, ikuti waktu kontrol sesuai instruksi dokter. Tetap jaga kekebalan tubuh dengan mencukupi nutrisi dengan gizi yang seimbang, rutin mengkonsumsi buah dan sayur mayur, hindari stress, istirahat yang cukup, olahraga dengan intensitas ringan-sedang dengan durasi 20-30 menit, secara teratur 3-4x/minggu. Tidak perlu melakukan olahraga yang melelahkan. Dapat juga melakukan jalan cepat, berlari, bersepeda santai, bahkan melatih kekuatan otot dengan beban apabila sudah terlatih dan terbiasa. Apabila merasa kurang asupan buah dan sayur, dapat dilengkapi dengan suplemen yang memiliki kandungan komposisi vitamin A, C, D, dan E, serta mineral seperti selenium dan zinc. Pada pasien yang dianjurkan untuk restriksi jumlah cairan, tetap mengikuti saran dokter.

Hingga pada saat artikel ini ditulis, tindakan operasi, kateterisasi jantung, pemasangan ring jantung yang tidak darurat banyak yang ditunda hingga batas waktu yang belum dapat ditentukan, terutama di daerah zona merah Covid-19. Pembatasan ini bertujuan untuk menekan penyebaran Covid-19 di fasilitas kesehatan.

Namun prosedur dan pengobatan yang bersifat life-saving (menolong jiwa) atau darurat tetap dilakukan. Setiap orang yang dicurigai mengalami serangan jantung harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan secepat mungkin. Kekuatiran akan Covid-19 tidak boleh memperlambat penderita serangan jantung mendapat penanganan, karena semakin lambat pengobatan, semakin tinggi risiko komplikasi dan kematian akibat kerusakan otot jantung.

Kenali keluhan yang masuk dalam kategori gawat dan darurat di bidang jantung untuk menghindari keterlambatan penanganan. Beberapa kondisi kegawatdaruratan jantung dewasa antara lain:

  • Rasa sesak yang:
    • Memberat dengan posisi tidur, dan/atau
    • Tidak bisa tidur posisi rata (harus >2 bantal atau posisi duduk), dan/atau
    • Disertai batuk riak berdahak berwarna pink
  • Nyeri dada yang:
      • Seperti ditindih/ditimpa beban berat, dan/atau
      • Menjalar ke lengan atau punggung dan/atau leher,
      • Disertai mual, muntah, dan keringat dingin
  • Keluhan berdebar yang disertai pandangan gelap, rasa ingin pingsan, atau hingga hilang kesadaran

Untuk heart warrior (pasien anak dengan penyakit jantung bawaan), tetap lanjutkan obat rutin di rumah, kecuali mengalami kondisi gawat darurat jantung anak seperti:

  • Anak terlihat kebiruan semakin lama semakin biru
  • Sesak nafas sehingga terlihat tarikan dinding dada ke dalam
  • Anak berdebar-debar
  • Anak rewel yang sulit untuk ditenangkan
    • Anak dengan penyakit jantung bawaan kadangkala mengalami keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan, termasuk terlambat bicara. Terutama pada bayi yang tidak dapat menjelaskan keluhan mereka, seringkali keadaan rewel yang sulit ditenangkan merupakan manifestasi dari keluhan sesak nafas atau tidak nyaman yang disebabkan masalah jantung mereka.

 

Apabila gejala – gejala tersebut terjadi pada orang – orang terdekat di sekitar Anda, segera periksakan ke dokter. Jika tidak ada dokter spesialis jantung yang sedang praktik saat itu, Anda dapat memeriksakan diri ke Unit Gawat Darurat terdekat untuk penanganan awal.

Rumah sakit sudah menjalankan berbagai protokol ketat bagi seluruh pengunjung, dimulai dari pemeriksaan suhu di pintu masuk, memberikan jarak antarkursi, mewajibkan penggunaan masker, hingga menyediakan fasilitas untuk mencuci tangan. Jika aturan ini diikuti, sambil terus menjaga jarak ke orang lain, tidak perlu kuatir untuk berobat ke rumah sakit. Beberapa rumah sakit juga saat ini menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan jarak jauh (telemedicine) yang sudah didukung oleh peraturan Konsil Kedokteran Indonesia dalam kondisi pandemi. Layanan ini dapat Anda gunakan pada kondisi yang stabil atau mengalami keraguan untuk berkunjung ke rumah sakit. Perlu diingat bahwa dengan adanya keterbatasan pemeriksaan fisik dan penunjang, layanan telemedicine di bidang kardiovaskular tidak untuk penegakkan diagnosis pasti. Namun dokter dapat memberikan saran apakah gejala yang Anda alami memerlukan pemeriksaan lebih lanjut serta timing yang baik untuk konsultasi ke dokter apabila diperlukan untuk meminimalisir dari pajanan yang mungkin didapat di rumah sakit.

Saat ini pemerintah sedang mengkaji kesiapan fase kenormalan baru, yang memungkinkan beberapa kelonggaran dari aturan pembatasan sebelumnya. Fase apapun yang akan kita hadapi nantinya, pencegahan adalah hal yang utama. Karena jika sudah terinfeksi, manajemen Covid-19 menjadi lebih rumit pada penderita penyakit jantung. Lindungi kelompok rentan dengan cara selalu menjalani protokol kesehatan dan langkah pencegahan dengan ketat. Semoga keluarga Kejora selalu sehat, ya!

 

Editor  : drg. Valeria Widita W

Sumber:

 

 

Pemeriksaan Rapid Test dan PCR Swab COVID-19

 

 

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Halo, keluarga Kejora! Semoga semuanya dalam keadaan sehat ya!

Di masa pandemik COVID-19 ini, banyak pihak yang menawarkan pemeriksaan untuk penapisan atau mendiagnosis COVID-19. Sebenarnya apa saja pemeriksaan COVID-19? Berikut pembahasannya ya.

COVID-19 (Corona Virus Disease-19) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus corona dan pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina pada Desember 2019 lalu. Sejak awal dideteksi di Cina, penyakit ini menyebar ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia, COVID-19 telah ditetapkan sebagai bencana nasional. Saat ini, banyak pihak menawarkan pemeriksaan penapisan dan diagnostik COVID-19, antara lain pemeriksaan rapid test dan swab.

Pemeriksaan rapid test COVID-19 merupakan metode pemeriksaan yang dipakai untuk melakukan penapisan COVID-19. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan darah dari ujung jari atau pembuluh darah vena dan bertujuan untuk mendeteksi antibodi (IgG dan/atau IgM) yang diproduksi tubuh sebagai bentuk perlawanan tubuh terhadap infeksi virus corona. Hasil pemeriksaan rapid test dikatakan positif jika terdapat garis pada tempat pemeriksaan IgG dan/atau IgM. Hasil pemeriksaan rapid test yang positif mengindikasikan bahwa orang tersebut pernah atau sedang terinfeksi dengan virus corona. IgG menandakan infeksi yang terjadi sudah lama, sedangkan IgM menandakan infeksi yang baru.

Gambar skematik pemeriksaan rapid test COVID-19

Sumber: https://antibody-antibodies.com/featured/accu-tell-covid-19-igg-igm-rapid-test-cassette-whole-blood-serum-plasma-coronavirus-test/

 

Hasil pemeriksaan rapid test yang negatif menunjukkan bahwa darah yang diperiksa tidak mengandung antibodi virus corona. Meskipun demikian, sebaiknya pemeriksaan dengan hasil yang negatif diulang setelah 7-10 hari untuk memastikan hasilnya benar negatif. Pengulangan dilakukan karena tubuh membutuhkan waktu untuk memproduksi antibodi setelah virus masuk ke dalam tubuh. Hasil pemeriksaan positif pada IgM mengindikasikan bahwa orang tersebut pernah terinfeksi dengan virus corona. Hasil pemeriksaan positif pada IgG menandakan bahwa kemungkinan terdapat infeksi virus corona yang baru. Pemeriksaan positif pada IgG perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan swab.

Sementara itu, untuk memastikan apakah seseorang terinfeksi virus corona atau tidak atau untuk kepentingan diagnosis COVID-19, pemeriksaan yang digunakan adalah pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) dari sampel swab. Sampel dapat diambil dari swab atau apusan bagian dalam hidung (nasofaring) atau bagian dalam mulut (orofaring). Pada orang sakit, pemeriksaan PCR dapat menggunakan sampel dahak. Meskipun demikian, sampel dahak biasanya digunakan jika pasien sulit diambil apusan nasofaring atau orofaringnya. Dengan pemeriksaan PCR, materi genetik virus diperbanyak, sehingga dapat dideteksi. Hasil pemeriksaan swab yang positif menandakan bahwa seseorang terinfeksi virus corona. Sementara hasil pemeriksaan yang negatif menandakan bahwa orang tersebut tidak terinfeksi virus corona.

Kedua pemeriksaan ini biasanya akan disarankan oleh dokter jika pasien mengalami gejala-gejala yang dapat dicurigai sebagai gejala COVID-19, antara lain: batuk, sesak nafas, atau demam. Tentu saja tidak selalu gejala-gejala tersebut mengindikasikan infeksi virus corona. Selalu konsultasikan dengan dokter sebelum melakukan pemeriksaan. Selain itu, pemeriksaan ini juga seringkali diminta oleh Perusahaan atau pemberi kerja untuk menapis atau mendiagnosis penyakit COVID-19.

Semoga informasi tersebut bermanfaat untuk keluarga Kejora semua!

 

Sumber:

Click to access Testing-Guidance.pdf


https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/symptoms-testing/testing.html

Perlukah Konsumsi Suplemen Vitamin C untuk Mencegah COVID-19?

oleh dr. Paramita Khairan, SpPD

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Halo, Keluarga Kejora! Tidak terasa ya, sudah lebih dari dua bulan sejak kasus pertama COVID-19 di Indonesia. Ayah dan Ibu Kejora pasti sudah mengetahui saat ini belum ada vaksin untuk mencegah penyakit ini. Ayah dan Ibu Kejora mungkin juga bertanya-tanya, “Apakah ada suplemen yang dapat dikonsumsi untuk mencegah penyakit ini?”. Salah satu suplemen yang banyak dipertanyakan oleh masyarakat adalah vitamin C. Bagaimana sebenarnya faktanya? Apakah konsumsi suplemen vitamin C dapat mencegah COVID-19?

Vitamin C adalah mikronutrien penting yang berperan sebagai antioksidan dan telah terbukti dapat mencegah terjadinya berbagai kanker. Vitamin C secara alami bisa didapatkan dari konsumsi buah dan sayuran seperti jeruk, anggur, kiwi, tomat, brokoli, dan bayam. Kadar vitamin C yang diperoleh dari mengonsumsi 5 porsi buah dan sayuran per hari adalah sebesar 200 mg; cukup untuk kebutuhan tubuh kita, karena kadar vitamin C minimal yang kita butuhkan adalah 100-120 mg/hari. Lalu, apakah suplemen vitamin C dalam bentuk tablet ataupun injeksi berguna dalam mencegah infeksi? Ada sebuah literatur yang mengumpulkan dan menganalisis berbagai penelitian mengenai hubungan antara suplemen vitamin C dengan common cold alias batuk pilek. Ternyata, literatur tersebut menyimpulkan tidak adanya peran yang bermakna dari konsumsi suplemen vitamin C dosis tinggi (dosis 200 mg atau lebih) dalam mencegah timbulnya common cold. Selain itu, diketahui pula bahwa tidak terdapat hubungan antara konsumsi suplemen vitamin C dengan tingkat keparahan dan lama infeksi common cold, baik pada orang dewasa maupun anak-anak.

Kemudian, bagaimana sih pengaruh suplemen vitamin C pada pasien-pasien COVID-19? Mengingat bahwa penyakit ini masih sangat baru, maka berbagai obat dan suplemen yang berpotensi dapat meringankan dan/atau menyembuhkan penyakit ini, masih sedang diteliti, sehingga belum dapat ditarik suatu kesimpulan. Salah satu penelitian yang akan dilakukan adalah sebuah penelitian di Amerika Serikat yang memberikan vitamin C melalui infus pada pasien COVID-19 dewasa yang tergolong berat. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah suplementasi vitamin C dapat membantu menurunkan jumlah kematian dan menurunkan tingkat keparahan pasien COVID-19. Sayangnya, hingga saat ini belum ada penelitian yang menganalisis peran suplemen vitamin C untuk mencegah COVID-19. Oleh karena itu, belum diketahui apakah konsumsi suplemen vitamin C dapat mencegah seseorang tertular dan terinfeksi COVID-19. Semoga hasil penelitian-penelitian yang sedang berlangsung nantinya membawa kabar baik untuk kita semua ya, Keluarga Kejora!

Nah, sembari menunggu hasil penelitian vaksin yang dapat mencegah penyakit COVID-19, Keluarga Kejora tetap dapat menerapkan prinsip hidup sehat seperti tidur cukup, menjaga kebersihan diri dan tempat tinggal, makan makanan yang bergizi dan seimbang, melakukan physical distancing, selalu memakai masker apabila terpaksa bepergian, dan rajin mencuci tangan dengan cara yang benar.

Sehat selalu ya, Keluarga Kejora!

Editor: drg. Dinda Laras Chitadianti

Referensi

  1. Hemilä, H. Vitamin C and infections. Nutrients 2017;9(339):1-28
  2. Hemilä H, Chalker E, Treacy B, Douglas B. Vitamin C for preventing and treating the common cold. Cochrane Database of Systematic Reviews. In: The Cochrane Library, Issue 3, Art. No. CD000980. DOI: 10.1002/14651858.CD000980.pub1
  3. Kashioris MG. Early infusion of Vitamin C for treatment of novel COVID-19 acute lung injury (EVICT-CORONA-ALI). ClinicalTrials.gov
  4. National Institutes of Health. Vitamin C- fact sheet for health professionals. Available at https://ods.od.nih.gov/factsheets/VitaminC-HealthProfessional/#h3

Parenting during Pandemic


 

 

 

oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

Hallo Keluarga Sehat Kejora Indonesia! Bagaimana kabar Ayah dan Bunda? Semoga selalu diberikan perlindungan dan kesehatan oleh Tuhan YME.

Saat ini kita bersama-sama sedang mengalami pandemi Covid-19 secara global. Tentu, pendemi ini membawa banyak perubahan ya. Kita harus bekerja, belajar, beraktivitas, dan beribadah dari rumah. Ayah dan Bunda harus bekerja dari rumah, mengurus kebutuhan rumah tangga, menemani dan mendampingi si kecil yang belajar di rumah. Belum lagi jika si kecil rewel dan kita sedang banyak sekali pekerjaan, sambil terus menjaga kesehatan keluarga kita.

Perubahan dan tekanan yang kita hadapi ini, bisa membuat Ayah dan Bunda, serta si kecil menjadi rentan terhadap stress. Untuk itu, kita perlu bisa beradaptasi dengan situasi seperti ini, termasuk beradaptasi dengan perubahan peran dalam parenting. Yuk, simak bagaimana Ayah dan Bunda bisa beradaptasi dan ber-partner dalam proses parenting selama pandemi global ini!

Parenting = Partnering

Pertama-tama, Ayah dan Bunda perlu memahami, bahwa parenting adalah partnering. Artinya, Ayah dan Bunda memiliki peran yang sama penting dan perlu bekerja sama dalam merawat dan mendidik si kecil. Hubungan yang positif dalam ber-partner bersama pasangan, akan memudahkan Ayah dan Bunda menjadi partner yang baik dalam parenting. Apalagi, di tengah situasi seperti ini, penting sekali bagi Ayah dan Bunda untuk bisa saling ber-partner demi menciptakan sinergi positif selama #dirumahaja. Bagaimana bisa ber-partner dalam parenting di situasi pandemi seperti ini?

  1. Saling Mendukung. Dalam parenting, apalagi di saat seperti sekarang ini, dukungan emosional dari pasangan adalah hal yang amat diperlukan agar Ayah dan Bunda bisa selalu kuat dalam menghadapi ini semua. Jangan lupa untuk saling menghargai dan mengapresiasi pasangan kita ya, Ayah dan Bunda.
  2. Saling Berkomunikasi. Ayah dan Bunda perlu saling terbuka dan berdiskusi tentang pembagian peran, kesepakatan, dan aturan dalam mengurus si kecil di rumah. Komunikasi penting dibangun, sebagai antisipasi perubahan situasi yang sulit seperti sekarang ini. Selain itu, dengan komunikasi yang terbuka, akan memudahkan Ayah dan Bunda dalam membagi peran dan tanggung jawab selama #dirumahaja.
  3. Aktif Berpartisipasi. Dalam situasi pandemi global, Ayah dan Bunda perlu sama-sama saling mendukung dan aktif berpartisipasi dalam mengurus rumah tangga dan merawat si kecil. Dengan aktif berpartisipasi dan saling berbagi tanggungjawab, tentu pekerjaan rumah tangga dan merawat si kecil tentu bisa lebih mudah dilakukan, bukan?
  4. Quality Time dengan Pasangan. Jangan lupa untuk tetap menyediakan waktu berkualitas bersama pasangan ya, Ayah dan Bunda agar keharmonisan dalam rumah tanga tetap bisa terjaga. Sempatkan waktu untuk ngobrol berdua dengan pasangan, nonton di rumah, atau melakukan hobi dan aktivitas menyenangkan berdua.

 

Selanjutnya, bagaimana tips dalam merawat si kecil selama pandemi ini?

  1. Berikan Briefing pada Si Kecil

Ayah dan Bunda bisa menjelaskan pada si kecil mengenai:

  • Situasi dan perubahan saat ini
  • Perbedaan belajar di rumah vs sekolah
  • Perubahan rutinitas, termasuk bila Ayah dan Bunda bekerja dari rumah

Hal ini akan membantu anak untuk antisipasi terhadap perubahan.

  1. Atur Schedule dan Kesepakatan

Mengatur ulang rutinitas harian, membuat schedule, dan kesepakatan bersama selama #dirumahsaja bisa membantu si kecil lebih disiplin. Hal ini juga membantu mengantisipasi masalah-masalah yang akan terjadi selama Ayah, Bunda, dan si kecil berada di rumah saja. Tips:

  • Buat rutinitas yang fleksibel namun konsisten
  • Buat jadwal (time line) yang jelas
  • Buat kesepakatan: apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak selama #dirumahsaja
  1. Team Work

Berkegiatan #dirumahsaja, bisa jadi sarana untuk Ayah dan Bunda memperkenalkan tanggung jawab dan melatih kemandirian si kecil, loh! Ajarkan si kecil mengenai daily life skill ya, Ayah dan Bunda! Lalu, ajak si kecil untuk bekerjasama dalam membangun kebiasaan selama di rumah.

  1. Work Station

Jika Ayah dan Bunda juga bekerja dari rumah, dan si kecil juga sekolah di rumah; Ayah dan Bunda bisa membuat suasana belajar dan bekerja yang kondusif. Misalnya, dengan menyiapkan ruangan / meja khusus untuk belajar dan bekerja yang minim distraksi. Hal ini akan membantu Ayah, Bunda, dan si kecil lebih fokus dan produktif selama beraktivitas #dirumahsaja.

  1. Ciptakan Jam Kerja Bersama

Atur jam kerja bersama agar Ayah, Bunda, dan si kecil bisa bersama-sama menyelesaikan tugas masing-masing.

  1. Siapkan Anak Belajar (dan Kita Bekerja)

Sebelum sekolah / kerja online, siapkan diri layaknya ketika kita dan si kecil harus ke kantor dan sekolah. Jangan lupa untuk, mandi yang bersih, pakai baju rapi, dan sarapan agar kita dan si kecil siap untuk belajar dan bekerja.

  1. Family Time

Meskipun rasanya ribet dan bikin pusing, momen #dirumahaja bisa jadi sarana untuk meningkatkan waktu kebersamaan dengan keluarga. Ciptakan waktu berkualitas bersama si kecil ya. Selama family time, Ayah dan Bunda perlu fokus pada interaksi dan afeksi si kecil. Berikan pelukan, kata-kata kasih sayang, dan luangkan waktu beraktivitas bersama, ya. Momen ini bisa merekatkan keluarga, loh!

  1. Me-Time

Secapek-capeknya mengurus pekerjaan, rumah tangga, dan si kecil di tengah situasi penuh tekanan seperti ini, Ayah dan Bunda tetap perlu melakukan self-care ya, demi menjaga kesehatan mental kita. Karena, mental yang sehat juga akan mendorong kita lebih produktif, lebih positif, dan menjaga imunitas tubuh kita. Jangan lupa istirahat dan ambil waktu untuk me-time ya, Ayah dan Bunda!

  1. Tetap Tenang dan Kelola Stress

Masa-masa ini adalah masa saat stress mudah menyerang. Ayah dan Bunda perlu bisa mengelola stress, merawat diri dengan baik, agar kita bisa merawat anak-anak kita.

  1. Anda Tidak Sendiri

Saat ini, ada jutaan orangtua yang mengalami hal sama dengan Ayah dan Bunda. We’re in this together! Ayah dan Bunda akan bisa melewati ini semua!

Terakhir, kami selaku tim Kejora, ingin mememberikan apresiasi sebesar-besarnya pada semua Ayah dan Bunda!

Terima kasih, karena Bunda bisa:

  • Bekerja dari rumah, sambil urus rumah, suami, dan anak (jangan lupa urus diri sendiri ya, Bunda!).
  • Meeting online sama bos, sambil gendong si kecil atau nemenin si kecil sekolah
  • Mendampingi si kecil sekolah dan belajar, ikut beradaptasi dengan sistem sekolah online yang masih membingungkan, sambil adaptasi juga sama sistem WFH (Work from Home).
  • Berkoordinasi dengan guru sekolah si kecil, sambil berkoordinasi dengan suami, Pak bos di tempat kerja, dan bapak GoFood yang lagi kirim makanan buat keluarga.
  • Masak di rumah, cari resep-resep kekinian di instagram / youtube, agar keluarga tetap terpenuhi gizi dan kesehatannya.
  • Tetap ber-partner bersama suami, bekerja bersama, demi keluarga, meski sama-sama repot, belum lagi urus mertua.
  • Menahan emosi dan amarah demi keharmonisan keluarga, meski susah dan capek sekali rasanya.

Bunda tidak perlu sempurna (Tidak mungkin juga bisa sempurna), tapi Bunda bisa! Bunda hebat! Terima kasih, Bunda!

Terimakasih, karena Ayah bisa:

  • Ikut nemenin si kecil main, sambil jaga-jaga kalau bos telpon.
  • Fokus kerja di rumah, dengar meeting online kantor, sambil dengar istri dan anak ramai di rumah, apalagi kalau si kecil lagi nangis dan istri lagi emosi.
  • Bantuin pekerjaan rumah istri, untuk cuci piring, bikin kopi, menyapu, jemur pakaian. Sambil bolak-balik urus kerjaan kantor.
  • Bekerjasama dengan istri mengurus si kecil, untuk bikinin susu, ganti popok, menyuapi si kecil makan, sambil mengatur karyawan.
  • Menahan emosi dan tekanan kerja demi menjaga ekonomi dan kebutuhan keluarga, meskipun rasanya capek dan entah kapan berakhir.
  • Memberi support dan tetap hadir secara emosi untuk keluarga.

Ayah tidak perlu sempurna, tapi Ayah keren! Ayah kuat! Terima kasih Ayah!

Semoga artikel ini dapat membantu Ayah dan Ibu dalam menjalankan parenting bagi si kecil selama pandemi global ini. We are in this together. This too shall pass. There is always a rainbow after the rain. Stay safe & healthy, Ayah dan Bunda!

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa