Deteksi Dini dan Pencegahan Diabetes

oleh dr. Paramita Khairan, SpPD

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Pasti Ayah dan Ibu Kejora sudah sering mendengar istilah diabetes. Diabetes adalah suatu penyakit kronik yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula dalam darah karena metabolisme gula yang terganggu. Saat ini, angka pasien diabetes di Indonesia mencapai 7%, angka ini meningkat tajam jika dibandingkan angka pasien diabetes pada tahun 1980-an. Diabetes merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah yang merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Kabar baiknya, penyakit diabetes dapat dicegah. Yuk, simak caranya!

Sebelum mengetahui cara pencegahannya, mari kenali dulu beberapa tipe diabetes:

  1. Diabetes tipe 1, merupakan gangguan autoimun yang menyebabkan sistem ketahanan tubuh menyerang dan merusak sel-sel di organ pankreas, sehingga pankreas tidak dapat memproduksi hormon insulin.
  2. Diabetes tipe 2, merupakan diabetes yang terjadi karena organ pankreas memproduksi hormon insulin, namun jumlahnya tidak mencukupi, sehingga kerja hormon insulin menjadi tidak efektif.
  3. Diabetes gestasional, merupakan diabetes yang hanya terjadi pada saat kehamilan.
  4. Diabetes tipe lain, merupakan diabetes yang disebabkan oleh pemakaian obat, penyakit lain-lain, dsb.

Diabetes tipe 2 adalah tipe diabetes yang paling banyak diderita, yuk simak pembahasannya lebih lanjut!

Gejala utama yang dapat dirasakan oleh penderita diabetes tipe 2 antara lain:

  1. Frekuensi buang air kecil meningkat, disebut juga dengan poliuri
  2. Sering merasa haus, disebut juga dengan polidipsi
  3. Sering merasa lapar, disebut juga dengan polifagi

Selain tiga gejala tersebut, gejala dan tanda lain juga dapat terjadi seperti turunnya berat badan (walaupun makan cukup banyak atau tidak sedang menjalankan program diet), sering merasa lelah, pandangan kabur, dan sering kesemutan.

Seringkali, gejala dan tanda diabetes belum tampak atau tidak dirasakan oleh penderita (disebut juga asimtomatik), sehingga perlu dilakukan pemeriksaan untuk orang-orang yang berisiko tinggi mengalami diabetes tipe 2. Caranya cukup mudah untuk menilai apakah Ayah dan Ibu Kejora memiliki risiko tinggi terkena diabetes yaitu dengan menjawab pertanyaan tabel risiko di bawah ini:

 

Tes Risiko Diabetes Skor
1.     Berapa usia anda?

·        Kurang dari 40 tahun (0 poin)

·        40–49  tahun (1 poin)

·        50–59   tahun (2 poin)

·        60 tahun atau lebih (3 poin)

2.     Apakah anda laki-laki atau perempuan?

·        Laki-laki (1 poin)

·        Perempuan (0 poin)

3.     Bila anda perempuan, apakah anda pernah didiagnosis menderita diabetes gestasional (diabetes saat kehamilan)?

·        Pernah (1 poin)

·        Tidak pernah (0 poin)

4.     Apakah ayah, ibu, atau saudara kandung anda memiliki riwayat diabetes?

·        Ya (1 poin)

·        Tidak (0 poin)

5.     Apakah anda pernah didiagnosis menderita tekanan darah tinggi?

·        Ya (1 poin)

·        Tidak (0 poin)

6.     Apakah anda aktif secara fisik?

·        Ya (0 poin)

·        Tidak (1 poin)

7.     Termasuk dalam kategori apakah berat badan anda? (Silakan lihat dari tabel di bawah ini)
Total skor

Catatan: berat dan tinggi badan dalam satuan feet dan pound

Apabila skor Ayah dan Ibu Kejora 5 atau lebih, artinya berisiko tinggi terkena diabetes. Namun, hanya dokter yang dapat memastikan diagnosis tersebut adalah diabetes mellitus, ya!

Selain itu, jika Ayah dan Ibu Kejora memiliki karakteristik sebagai berikut:

    1. Indeks massa tubuh (IMT) ≥ 23 kg/m2. IMT dapat dihitung dengan cara:

    1. Kadar kolesterol baik (High Density Lipoprotein) < 35 mg/dL atau kadar trigliserida (lemak yang ada di dalam darah) > 250 mg/dL
    2. Perempuan dengan sindrom polikistik ovarium (gangguan hormon yang terjadi pada wanita usia subur)
    3. Memiliki ayah, ibu, dan/atau saudara kandung dengan penyakit diabetes
    4. Memiliki riwayat penyakit stroke
    5. Memiliki riwayat tekanan darah tinggi
    6. Tidak aktif secara fisik

Maka, segeralah periksakan diri ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan gula darah.

Bagaimana jika Ayah dan Ibu Kejora tidak memiliki satu dari kriteria di atas atau memiliki skor risiko rendah (kurang dari 5)? Selamat! Berarti Ayah dan Ibu Kejora berisiko rendah terkena diabetes, tetapi untuk Ayah dan Ibu Kejora yang berusia 45 tahun ke atas, dianjurkan untuk tetap melakukan pemeriksaan diabetes sedini mungkin, ya!

Untuk memeriksa apakah seseorang terkena diabetes atau tidak, dokter akan menyarankan pemeriksaan gula darah sebagai berikut:

  1. Gula Darah Puasa (GDP)

Dilakukan setelah tidak makan dan minum, kecuali air putih selama 8-10 jam sebelum pemeriksaan.

  1. Gula Darah 2 Jam Setelah Makan

Dilakukan setelah mengonsumsi 75 g glukosa.

  1. Hemoglobin A1C

Mengetahui jumlah gula darah dalam 3 bulan terakhir.

Sebelum terjadi diabetes, terdapat keadaan yang disebut dengan prediabetes yaitu keadaan di mana sudah mulai terjadi gangguan metabolisme gula darah, namun belum terjadi diabetes. Berikut tanda-tanda prediabetes:

      1. Kadar gula darah puasa (GDP) sebesar 100–125 mg/dL, atau
      2. Kadar gula darah 2 jam setelah makan atau konsumsi 75 g glukosa sebesar 140–199 mg/dL, atau
      3. Kadar hemoglobin A1C sebesar 5.7%–6.4%.

Apabila Ayah dan Ibu Kejora memenuhi kriteria tersebut, jangan panik dulu karena ada hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah atau memperlambat terjadinya diabetes.

Berikut program untuk penderita prediabetes guna mencegah dan memperlambat timbulnya penyakit diabetes:

  1. Turunkan berat badan hingga minimal 7% dalam 6 bulan pertama. Penurunan berat badan yang dianjurkan sebesar 0.5–1 kg per bulan.
  2. Lakukan aktivitas fisik dengan intensitas moderat minimal 150 menit per minggu, setara dengan intensitas jalan cepat (kecepatan 6.5 km/jam) atau 75 menit latihan otot. Aktivitas ini dapat dibagi menjadi 3 kali seminggu, minimal selama 10 menit per sesi. Aktivitas fisik yang termasuk dalam intensitas moderat, seperti:
    • berjalan ke toko atau tempat kerja,
    • berjalan dengan membawa barang bawaan kurang dari 25 kg,
    • bersepeda di jalan dengan beberapa tanjakan atau bersepeda statis,
    • bermain sepatu roda, basket, atau tenis,
    • berenang,
    • menari,
    • hiking,
    • yoga,
    • membersihkan rumah,
    • mengecat rumah, dan lain sebagainya.
    • Tidak merokok.

Apabila Ayah dan Ibu Kejora dapat mencegah diabetes, maka kemungkinan untuk menjalani hidup yang sehat dan berkualitas pun akan meningkat, sehingga dapat senantiasa menemani sang buah hati. Semoga informasi ini bermanfaat untuk Ayah dan Ibu Kejora, salam sehat!

Editor: drg. Agnesia Safitri

Sumber:

      1. World Health Organization (WHO). Diabetes-Country profile: Indonesia. 2016
      2. World Health Organization (WHO). Noncommunicable Diseases-Country profile: Indonesia. 2016
      3. American Diabetes Association. Standards of medical care in diabetes-2020. Diabetes Care January 2020; vol 43 (suppl 1).

Rekomendasi Penggunaan Masker pada Anak Selama Pandemi COVID-19

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

Halo, Keluarga Kejora! Pandemi COVID-19 masih berlangsung hingga saat ini. Upaya pencegahan untuk menghindari infeksi virus SARS-CoV-2 terus digalakkan oleh pemerintah, instansi kesehatan, dan berbagai pihak lainnya. Tentu Ayah dan Ibu juga tidak asing dengan istilah 3M pada era Pandemi COVID-19 ini, yaitu menggunakan masker, mencuci tangan, serta menjaga jarak. Hal ini tentu mudah dilakukan oleh orang dewasa, namun bagaimana dengan anak? Jika ada kondisi mendesak yang mengharuskan anak diajak keluar rumah, apakah harus menggunakan masker? Apakah semua anak perlu menggunakan masker? Apakah masker bisa diganti dengan face shield pada anak agar anak lebih merasa nyaman?

Pada dasarnya, penggunaan masker merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghindarkan diri dari penularan COVID-19. Panduan dari WHO mengenai penggunaan masker pada anak menyatakan bahwa anak dibawah 5 tahun tidak disarankan untuk menggunakan masker. Hal ini berdasarkan alasan keamanan, kenyamanan, serta kemampuan anak untuk menggunakan masker dengan baik dan benar tanpa supervisi orang dewasa. Namun, dalam panduan tersebut juga dijelaskan bahwa penggunaan masker hendaknya menyesuaikan dengan rekomendasi lokal yang dikeluarkan pemerintah atau ahli kesehatan.

Di Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tidak merekomendasikan pada anak di bawah usia 2 tahun karena dikhawatirkan dapat mengganggu pernafasan mereka. Pada kelompok usia ini, penggunaan face shield lebih disarankan, meskipun tidak memberikan efek proteksi yang sama dengan penggunaan masker. Jika anak menggunakan face shield, maka face shield hendaknya menutupi seluruh wajah dengan panjang sampai dengan bawah dagu. Selama pemakaian face shield, anak harus selalu di bawah pengawasan orang tua. Pada bayi, yang lebih dianjurkan adalah penggunaan kereta dorong dengan penutup dalam pengawasan orang dewasa, serta penggunaan masker oleh orang-orang dewasa di sekitar bayi, disamping menerapkan etika batuk dan memperhatikan kebersihan tangan.

IDAI menyarankan penggunaan masker pada anak di atas 2 tahun untuk meminimalisir kemungkinan penularan COVID-19 di era pandemi ini. Masker yang sesuai untuk anak adalah Penggunaan masker juga perlu disesuaikan pada anak yang memiliki kondisi medis tertentu yang berpengaruh terhadap pernafasannya, misalnya menderita penyakit jantung bawaan, penyakit paru kronik. Pada anak-anak dengan kondisi medis tersebut, penggunaan masker harus selalu di bawah pendampingan orang tua atau orang dewasa lain, serta sesuai dengan saran dari dokter yang merawat. Pada anak dengan kondisi medis tertentu yang membuatnya lebih rentan mengalami infeksi atau tertular COVID-19, penggunaan masker perlu dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter yang merawat. Penggunaan masker pada anak juga harus memperhatikan ukuran serta cara penggunaannya, sehingga memberikan memberikan efek perlindungan yang efektif.

Mari kita terus menerapkan 3M untuk mencegah penularan COVID-19! Salam sehat Kejora!

Sumber:

https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/question-and-answers-hub/q-a-detail/q-a-children-and-masks-related-to-covid-19
https://www.idai.or.id/about-idai/idai-statement/faq-pemakaian-masker
https://www.idai.or.id/about-idai/idai-statement/pandangan-ikatan-dokter-anak-indonesia-mengenai-pencegahan-infeksi-covid-19-pada-anak

World Heart Day 2020: Use Heart to Beat Heart Disease

oleh dr. Adelin Dhivi Kemalasari, BMedSci, SpJP, FIHA

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

 

Halo, Keluarga Kejora!
Tanggal 29 September diperingati sebagai World Heart Day (WHD) atau Hari Jantung Sedunia, sebuah kampanye global untuk meningkatkan kesadaran akan penyakit kardiovaskular yang hingga saat ini masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Tahukah Ayah dan Ibu Kejora bahwa proses penumpukan lemak di dinding pembuluh darah arteri sudah dapat dimulai sejak masa kanak-kanak dan dapat berdampak serius pada kehidupan dewasa mereka?

Dan tahukah Anda bahwa risiko penyakit kardiovaskular ini dapat dicegah dan diturunkan dengan cara menerapkan gaya hidup sehat?
Sesuai dengan kampanye Hari Jantung Sedunia tahun ini yaitu:

Mari menjadi bagian dalam memerangi penyakit kardiovaskular dengan menerapkan beberapa strategi di bawah ini, dimulai dari lingkaran terdekat kita, yaitu keluarga tercinta.

1. Stop rokok
Bahan kimia yang terkandung dalam rokok / tembakau dapat merusak jantung dan pembuluh darah Anda. Asap rokok mengurangi oksigen dalam darah, sehingga dapat meningkatkan tekanan darah dan detak jantung karena jantung Anda harus bekerja lebih keras untuk memasok cukup oksigen ke seluruh tubuh. Menurut penelitian, risiko penyakit jantung mulai menurun sehari setelah berhenti merokok. Setelah setahun tanpa rokok, risiko penyakit jantung turun menjadi setengah dari risiko perokok. Tidak peduli berapa lama atau berapa banyak Anda merokok, Anda akan mulai menuai hasilnya segera setelah berhenti.

2. Aktif bergerak
Aktivitas fisik harian yang teratur membantu Anda mengontrol berat badan dan dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kondisi lain yang dapat membebani jantung, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes mellitus. American Heart Associations memberikan pedoman aktivitas fisik untuk menjaga kesehatan berdasar pada bukti ilmiah terkini;
Rekomendasi aktivitas fisik untuk dewasa:

  • Lakukan aktivitas aerobik intensitas sedang sedikitnya 150 menit per minggu atau aktivitas aerobik berat (intensitas tinggi) sebanyak 75 menit per minggu, atau kombinasi keduanya
  • Tambahkan latihan beban atau resistensi (weight resistance training) setidaknya dua sesi per minggu
  • Kurangi waktu duduk
  • Dapatkan lebih banyak manfaat dengan menjadi aktif setidaknya 300 menit (5 jam) per minggu

Rekomendasi untuk anak – anak:

  • Anak – anak berusia 3 – 5 tahun harus aktif secara fisik dan memiliki banyak kesempatan untuk bergerak sepanjang hari
  • Anak – anak berusia di atas 5 tahun harus mendapatkan setidaknya 60 menit per hari aktivitas fisik intensitas sedang hingga tinggi. Durasi ini dapat dibagi menjadi dua (@ 30 menit) hingga tiga (@ 20 menit) periode sepanjang hari

Tetapkan batasan dalam menonton TV, penggunaan komputer dan gawai dalam menerapkan kebiasaan bergerak secara aktif. Hindari makanan sebagai hadiah (reward) atas prestasi anak; sebaliknya, rencanakan aktivitas fisik yang akan mereka nikmati.

Apabila Anda belum dapat memenuhi pedoman tersebut, jangan menyerah. Anda tidak harus berolahraga keras untuk mendapatkan manfaat, tetapi Anda dapat melihat manfaat yang lebih besar dengan meningkatkan intensitas, durasi, dan frekuensi latihan secara bertahap seiring waktu. Bagi anggota keluarga dengan penyakit jantung atau kondisi khusus lainnya, konsultasikan dengan dokter Anda sebelum memulai program berolahraga.

3. Terapkan pola makan sehat
Pola makan yang sehat dapat membantu melindungi jantung Anda, melindungi dari peningkatan tekanan darah dan kolesterol, serta mengurangi risiko diabetes tipe 2.

Makanan yang direkomendasikan antara lain: sayur dan buah yang bervariasi, kacang – kacangan, daging dan ikan tanpa lemak, makanan olahan susu yang rendah lemak atau bebas lemak, karbohidrat kompleks, dan lemak baik (contoh: minyak zaitun, alpukat).

Sedangkan yang harus dibatasi yaitu: garam, gula, alkohol, processed foods, lemak jenuh (daging merah dan makanan olahan susu full fat) dan lemak trans (makanan cepat saji, keripik).

Kemenkes Republik Indonesia memiliki panduan piring makan gizi seimbang; yaitu:

  • ½ dari piring makan terdiri dari sayuran dan buah
  • ¼ dari piring makan dipenuhi dengan biji – bijian utuh dari beras, gandum, atau pasta
  • ¼ dari piring makan diisi dengan protein

Bagaimana dengan piring makan Keluarga Kejora? Apakah sudah mendekati panduan piring makan yang telah direkomendasikan? 😉

4. Jaga Berat Badan Ideal
Salah satu cara untuk mengetahui apakah berat badan Anda sehat adalah dengan menghitung indeks massa tubuh (IMT). IMT > 25 dianggap kelebihan berat badan dan umumnya dikaitkan dengan kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, dan peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke.

Lingkar pinggang juga bisa menjadi alat yang berguna untuk mengukur seberapa banyak lemak perut yang Anda miliki. Risiko penyakit jantung Anda lebih tinggi jika ukuran pinggang Anda lebih besar dari 40 inci (101.6 cm) untuk pria dan 35 inci (88.9 cm) untuk wanita.

Penurunan berat badan sekecil 3 – 5 % dapat membantu menurunkan trigliserida, menurunkan kadar glukosa, dan mengurangi risiko diabetes. Penurunan berat badan lebih banyak dapat membantu menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol darah Anda.

5. Tidur yang Berkualitas
Orang yang kurang tidur memiliki risiko lebih tinggi mengalami obesitas, tekanan darah tinggi, serangan jantung, diabetes, dan depresi. Tetapkan jadwal tidur dan patuhi dengan pergi tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari. Jagalah agar kamar tidur tetap gelap dan tenang, agar lebih mudah untuk tidur. Jika Anda merasa sudah cukup tidur tetapi masih lelah sepanjang hari, tanyakan kepada dokter apakah Anda perlu dievaluasi untuk memiliki obstructive sleep apnea (OSA), suatu kondisi yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Tanda – tanda OSA termasuk mendengkur keras, berhenti bernapas untuk waktu yang singkat selama tidur dan bangun terengah – engah.

6. Kelola Stres dan Emosi
Beberapa orang mengatasi stres dengan cara yang tidak sehat – seperti makan berlebihan, konsumsi alkohol, atau merokok. Menemukan cara alternatif untuk mengelola stres – seperti aktivitas fisik, latihan relaksasi atau meditasi – dapat membantu meningkatkan kesehatan Anda.

7. Lakukan pemeriksaan secara berkala
Kita telah mengetahui tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol tinggi mempercepat proses kerusakan jantung dan pembuluh darah. Tetapi tanpa pemeriksaan, Anda mungkin tidak akan tahu apakah Anda memiliki kondisi ini. Pemeriksaan berkala dapat memberi tahu keadaan tubuh Anda dan apakah perlu diambil tindakan selanjutnya.

  • Tekanan darah
    Mulai usia 18 tahun, tekanan darah Anda harus diukur setidaknya sekali setiap dua tahun. Jika Anda berusia 40 tahun ke atas, atau usia antara 18 – 39 tahun dan memiliki faktor risiko hipertensi, sebaiknya skrining tekanan darah dilakukan setahun sekali.
  • Kadar kolesterol
    Orang dewasa umumnya memeriksa kadar kolesterol mereka setidaknya sekali setiap empat hingga enam tahun. Skrining kolesterol biasanya dimulai pada usia 20, atau lebih awal apabila terdapat faktor risiko lain, seperti riwayat keluarga penyakit jantung yang menyerang lebih awal.
  • Skrining diabetes mellitus
    Jika berat badan Anda normal dan Anda tidak memiliki riwayat diabetes dalam keluarga, skrining disarankan dimulai pada usia 45, dengan tes ulang setiap tiga tahun. Namun jika Anda memiliki faktor risiko diabetes, pemeriksaan lebih awal sangat direkomendasikan.

Menerapkan pola hidup sehat merupakan target jangka panjang yang sebaiknya dilakukan seumur hidup. Perubahan kecil namun konsisten akan memberikan dampak yang berkelanjutan dan terhindar dari fenomena rebound (kembali ke titik awal).

Anak – anak merupakan peniru ulung. Memberikan contoh kebiasaan hidup sehat merupakan sebuah investasi besar terbaik yang dapat kita berikan bagi mereka dan generasi mendatang. Berapapun usia Anda saat ini, tidak pernah ada kata terlambat atau bahkan terlalu dini untuk mencegah penyakit kardiovaskular. Masa pandemi ini merupakan saat terbaik untuk memulai perubahan gaya hidup sehat, karena seluruh strategi di atas tentunya dapat meningkatkan kekebalan tubuh kita dari berbagai penyakit lain.

Semoga Keluarga Kejora selalu dalam keadaan sehat, ya.

Referensi:

  1. Mayo Clinic. Strategies to Prevent Heart Disease. Diunduh dari: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/heart-disease/in-depth/heart-disease-prevention/art-20046502
  2. American Heart Association Recommendations for Physical Activity in Adults and Kids. Diunduh dari: https://www.heart.org/en/healthy-living/fitness/fitness-basics/aha-recs-for-physical-activity-in-adults
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular. http://www.p2ptm.kemkes.go.id/

Pemeriksaan Penunjang dalam Diagnosis Alergi


 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Salam sehat, keluarga Kejora! Topik bahasan kali ini adalah mengenai pemeriksaan laboratorium yang dapat diminta oleh dokter untuk memastikan diagnosis alergi pada anak. Apa saja pemeriksaan laboratorium yang dimaksud? Seperti apa pemeriksaannya?

Alergi merupakan reaksi peradangan berlebihan sebagai respon kekebalan tubuh terhadap suatu allergen (bahan penyebab alergi). Alergi ini hnya muncul pada individu yang mengalami hipersensitivitas terhadap alergen. Penyebab alergi berbeda-beda pada setiap orang, dapat berupa alergi terhadap makanan, obat-obatan, serbuk sari, dan lain-lain. Gejala klinis alergi juga bervariasi antar individu, dapat berupa ruam kemerahan disertai gatal, mata merah dan berair ketika terpapar alergen, batuk dan pilek, dan lain-lain.

Dalam mendiagnosis alergi, selain dari riwayat dan pemeriksaan fisik, dokter mungkin membutuhkan pemeriksaan tambahan, seperti kadar IgE dalam darah, uji tusuk (skin prick test), uji suntik intradermal, dan uji tempel. IgE merupakan antibodi yang dibentuk oleh tubuh sebagai respon terhadap alergen. Pada individu yang mengalami alergi, kadar IgE dalam darah akan meningkat. Kadar IgE ini dapat diukur secara jumlah total dalam tubuh (kadar IgE total) atau secara spesifik (kadar IgE spesifik). Pada pemeriksaan kadar IgE spesifik, diperiksa kadar IgE terhadap alergen tertentu.

Selain pemeriksaan kadar IgE, uji tusuk juga dapat dibutuhkan untuk mengetahui penyebab alergi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan meneteskan cairan yang mengandung alergen yang diperiksa pada kulit (biasanya dilakukan pada kulit lengan bawah). Setelah itu, kulit yang sudah diteteskan akan ditusuk dengan jarum kecil, sehingga alergen dapat masuk ke bawah permukaan kulit. Kulit akan dibiarkan selama 15-20 menit dan dievaluasi tanda alergi yang muncul. Pada pemeriksaan ini, biasanya dilakukan pemeriksaan alergi terhadap beberapa alergen sekaligus.

Gambar 1. Uji tusuk (skin prick test)

Serupa dengan uji tusuk, evaluasi alergi dapat dilakukan dengan melakukan penyuntikkan alergen secara intradermal. Setelah itu, ditunggu selama 15 menit dan dievaluasi reaksi alergi yang timbul. Kekurangan uji ini adalah dapat menyebabkan reaksi sistemik, sehingga uji ini lebih jarang dilakukan dibandingan dengan uji tusuk.

Pemeriksaan penunjang diagnosis alergi lainnya adalah uji tempel, terutama untuk evaluasi dermatitis kontak. Dermatitis kontak merupakan reaksi alergi yang timbul karena kontak dengan bahan tertentu. Uji tempel ini dilakukan dengan menempelkan plester yang mengandung alergen pada punggung. Evaluasi reaksi alergi dilakukan 48 jam setelah penempelan plester alergen. Selama 48-72 jam tersebut, pasien dianjurkan untuk tidak mandi atau berolahraga agar tidak berkeringat berlebihan.

Semoga pembahasan di atas membuat Ayah dan Ibu memiliki gambaran yang lebih baik tentang pemeriksaan penunjang untuk evaluasi alergi. Semoga bermanfaat!

LUKA BAKAR PADA ANAK: APA YANG PENTING DIKETAHUI?

 

oleh dr. Nilam Permatasari Bmed.Sc, SpBP-RE

Dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik

 

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah buah hati Anda pernah mengalami luka bakar? Sudahkah Ayah dan Ibu Kejora tau cara penanganan pertama jika anak terkena luka bakar? Yuk, simak penjelasan di bawah ini supaya Ayah dan Ibu Kejora lebih paham apa saja yang perlu diketahui jika hal ini terjadi pada buah hati Anda.

 

Penyebab Luka Bakar Pada Anak
Mayoritas cedera luka bakar pada anak terjadi di rumah (84%), dengan memasak sebagai kegiatan yang paling umum. Selama masa pandemi ini tentu kegiatan Ayah dan Ibu Kejora serta anak lebih banyak terpusat di rumah sehingga perlu perhatian lebih untuk mencegah kemungkinan ini. Luka bakar pada anak dengan usia yang lebih muda paling sering disebabkan oleh air panas. Seiring bertambahnya usia, angka penyebab luka bakar pada anak karena api meningkat.

Ayah dan Ibu Kejora harus memahami bahwa anak bukanlah mini dewasa. Dengan demikian, anak lebih tidak berdaya dalam mencegah kecelakaan luka bakar. Selain itu, lapisan kulit anak lebih tipis dibandingkan dewasa, sehingga anak lebih sering mengalami luka bakar dalam (full thickness).

 

Pertolongan Pertama Luka Bakar pada Anak

1. Hentikan proses bakar dengan menjauhkan/mematikan sumber panas.
STOP, DROP, ROLL AND COVER (Hentikan, Jatuhkan diri, Berguling, Lindungi)

    1. Stop – hentikan sumber kebakaran. Contoh: menghentikan sumber listrik pada kecelakaan listrik, tutup api dengan kain basah.
    2. Drop – jatuhkan diri ke lantai, tengkurap bila memungkinkan.
    3. Roll – berguling di lantai untuk menghentikan api.
    4. Cover – lindungi wajah dari paparan api.

Ayah dan Ibu Kejora bisa berlatih gerakan ini di rumah bersama buah hati, ya.

Cara Berlatih Stop, Drop & Roll Bersama Anak
Sumber gambar: https://www.household-management-101.com/stop-drop-and-roll.html

2. Mendinginkan luka bakar dengan irigasi menggunakan air mengalir, dapat berupa air keran (suhu 2-15oC) selama 20 menit. Waktu yang efektif dilakukan tindakan irigasi adalah dalam 3 jam setelah kejadian. Selain untuk mendinginkan luka bakar, irigasi dapat mengurangi nyeri dan mengurangi edema (bengkak).

Anak lebih rentan mengalami hipotermia sehingga sangat penting untuk tetap menjaga kehangatan anak setelah irigasi. Jika luka bakar sangat luas, kurangi lama irigasi.

Don’ts:

  • Hindari menggunakan air yang terlalu dingin!
  • Jangan memberikan pertolongan pertama dengan kopi, batu es, pemberian pasta gigi/kecap, sabun colek, mentega, dll.

3. Buka semua yang menempel di badan dan tutup dengan kain yang bersih.
Berikan berlapis dan cek berkala agar memastikan anak hangat.

4. Pertolongan Nyeri
Pendinginan dan penutupan luka dapat menurunkan rasa nyeri. Untuk tambahan dapat diberi medikasi yang mudah didapat di rumah, seperti paracetamol atau anti-inflamasi ibuprofen.

5. Penutupan Luka
Proteksi sementara di rumah dapat menggunakan polyvinyl chloride (cling film) karena tidak melekat dan transparan sehingga memudahkan pemeriksaan.

6. Segera ke fasilitas kesehatan terdekat.

 

Kena Luka Bakar: Harus Kemana?

1. Datang ke fasilitas kesehatan yang memiliki dokter bedah plastik.
Bedah plastik dapat memberikan layanan gawat darurat, perawatan luka bakar hingga pencegahan dan penanganan komplikasi dengan tujuan fungsi dan tampilan bekas luka bakar yang baik. Kenali dokter bedah plastik di area sekitar tempat tinggal Ayah dan Ibu Kejora melalui situs www.perapi.org/doctor . Bila tidak memungkinkan, dapat datang ke dokter bedah umum.

2. Kenali nomor telepon jasa penanganan keadaan darurat

  • Ambulans: 118 dan 119
  • Pemadam kebakaran: 113 dan 1131
  • Nomer darurat standar GSM melalui jaringan seluler dan satelit: 112
  • Polisi: 110
  • Posko becana alam: 129
  • Perusahaan Listrik Negara: 123
  • Keracunan: (021) 4250767
  • Pencegahan bunuh diri (021) 7256526, (021) 7257826, (021) 7221810
  • Konseling masalah kejiwaan Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa Kemenkes RI Hotline 500-454

Referensi:
1. Herndon, David N., Total Burn Care. 4th edition. Saunders El. London: 2012.
2. Australia and New Zealand Burns Association. Emergency management of severe burns (EMSB). 2013.
3. Siobhan Conolly MB, et al. Clinical Practice Guidelines: Burn Wound Management NSW Health. NSW Health. 2009.

Menjaga Kebersihan Mainan di Rumah

 

 

 

 


oleh dr. Yulianto Santoso Kurniawan, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Ayah dan Ibu, apa kabar?

Dalam keadaan pandemi COVID-19 ini sudah menjadikebiasaan baru kita menjadi lebih rajin membersihkan peralatan di rumah. Kita juga semakin sering mendengar istilah disinfektan. Sebenarnya, apakah betul mainan anak perlu kita lakukan disinfeksi? Apa beda disinfeksi dengan sanitasi?

Proses pembersihan secara umum ternyata terbagi menjadi 3 tahapan, yaitu:

  1. Pembersihan dengan deterjen atau sabun dan air bertujuan untuk menyingkirkan debu atau kotoran dari permukaan benda. Misal lantai, dinding, karper, jendela.
  2. Sanitasi dilakukan untuk menyingkirkan kotoran dan sedikit kuman. Beberapa benda atau permukaan yang dibersihkan dari kotoran lalu dilakukan sanitasi adalah kamar mandi, mainan, alat makan
  3. Beberapa benda atau permukaan dilakukan tahapan tambahan yaitu disinfeksi setelah proses pembersihan untuk membunuh kuman di permukaan benda.

Pemutih (bleach) yang mengandung sodium hypochloritemerupakan bahan aktif yang bisa membunuh mikroorganisme,termasuk bakteri dan virus. Bahan aktif ini dapat digunakan untuk keperluan sanitasi atau disinfeksi. Pemutih rumahan dengan kadar 5,25% artinya mengandung bahan aktif sebanyak52.500 ppm (part per million). Konsentrasi bahan aktif dalampemutih rumahan, cukup dikalikan 10.000 untuk mengubah % menjadi ppm.

Berapa konsentrasi pemutih yang diperlukan untuk melakukan sanitasi?

Untuk melakukan sanitasi maka konsentrasi pemutih yang diperlukan adalah 50-200 ppm. Bila pemutih rumahan Anda memiliki konsentrasi 5,25%, maka untuk membuat 50 ppm adalah dengan membuat konsentrasi 50 / 10.000 = 0,005%. Untuk membuat 5,25% menjadi 0,005% artinya 1 bagian 5,25% diencerkan menjadi 1000x. Secara sederhana, ini berarti 1 mililiter pemutih diencerkan dengan air sampai volume larutan menjadi 1 liter (diencerkan 1 : 1000)

Untuk membuat 100 ppm, maka langkahnya adalah 100 / 10.000 = 0,01%; 1 mL pemutih 5,25% ditambah air sampai volume larutanya 500 mL.

Selain konsentrasi, kita juga perlu memperhatikan suhu dan waktu kontak antara larutan pemutih dengan permukaan benda yang dibersihkan. Untuk sanitasi diperlukan waktu kontak sekitar 2 menit dan kering dengan diangin-anginkan, serta suhu antara 13-49 derajat Celsius (dapat dilakukan pada suhu ruangan). Larutan pemutih tersebut harus diganti setiap 24 jam bila akan dipergunakan kembali karena jika sudah dilarutkan larutan tersebut tidak stabil.

Setelah membuat larutan tersebut maka Ayah dan Ibu bisa membersihkan mainan anak sebelum dan setelah digunakan. Semoga upaya ini akan menjaga kesehatan anak-anak kita.

Editor: dr. Sunita

Sumber:

https://hnhu.org/health-topic/chlorine/

https://www.rapidtables.com/convert/number/Percent_to_PPM.html

www.tchd.org/242/Child-Care

https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/prevention/Pages/Cleaners-Sanitizers-Disinfectants.aspx

Apa itu Maskne?

 

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Hai Ayah dan Ibu Kejora, belakangan ini, setelah berlaku masa transisi dari PSBB ke New Normal, masyarakat digalakkan untuk memakai masker, baik masker bedah ataupun masker kain, ketika beraktivitas di luar rumah. Namun beberapa masalah kulit dapat muncul pada pemakaian masker jangka panjang, termasuk iritasi, alergi dan  yang belakangan banyak dikeluhkan adalah jerawat  di area wajah yang tertutup masker atau bisa disebut “maskne.

Apa itu Maskne?

Maskne  atau  jerawat masker (mask acne) sebenarnya adalah suatu bentuk akne, yang sering disebut sebagai akne mekanika, atau akne yang timbul karena gesekan berulang di kulit. Gesekan berulang pada satu area kulit dapat menyebabkan kerusakan sawar kulit atau microtear yang mempermudah bakteri dan kotoran untuk masuk kedalam pori-pori kulit dan memicu terjadinya infeksi. Selain itu, napas kita yang teroklusi di balik masker akan menyebabkan lingkungan yang lembab dan memudahkan bakteri berkembang biak.

Siapa saja yang dapat mengalami Maskne?

Maskne terutama dialami oleh para pekerja kesehatan yang harus menggunakan beberapa lapis masker dan alat pelindung diri dalam jangka waktu lama (lebih dari 6 jam). Namun maskne juga bisa terjadi pada semua orang yang rutin memakai masker dan memiliki kulit yang cenderung berminyak atau sensitive.

Bagaimana cara mencegah timbulnya Maskne?

Meskipun begitu, penggunaan masker tetap diperlukan untuk mencegah penularan virus Corona pada kondisi pandemik saat ini. Untuk mencegah terjadinya maskne, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

  1. Gunakan masker yang terbuat dari bahan yang halus dan natural, misalnya katun. Selain itu, pilih bahan yang dapat meyerap keringat dan halus, sehingga mengurangi faktor kelembapan dan gesekan pada kulit. Jangan gunakan bahan sintetik seperti rayon, polyester atau nilon.
  2. Ganti masker tiap 4 jam dan bersihkan wajah dengan facial wash atau micellar water yang lembut. Cuci masker tiap selesai pemakaian.
  3. Gunakan produk pelembap atau sunscreen yang ringan dan non-komedogenik, dengan formulasi gel atau lotion.
  4. Hindari pemakaian makeup atau skin care yang terlalu creamy, atau oil-based pada area yang tertutup masker. Hindari pemakainan produk seperti foundation, Cushion dan bedak padat yang dapat menyumbat pori-pori pada kulit yang tertutup masker.
  5. Saat ini jangan mencoba produk baru, terutama produk yang dapat mengeksfoliasi kulit, seperti AHA, BHA, benzoyl peroxide dan retinoid. Oklusi oleh masker dapat meningkatkan penyerapan zat aktif dan memicu iritasi dan peradangan.
  6. Jangan menyentuh wajah dibalik area yang tertutup masker. Jari kita dapat mentransfer bakteri dan virus ke area tersebut.

Apabila timbul maskne atau keluhan kulit lain yang cukup berat dan tidak bisa diatasi dengan skin care over the counter dan langkah pencegahan di atas, konsultasikan masalah kamu dengan dokter spesialis kulit dan kelamin, baik online maupun offline. Terkadang diperlukan obat minum atau obat yang harus diresepkan untuk membantu mengurangi maskne tersebut.

Editor: Saka Winias, drg., M.Kes., Sp.PM

Sumber:

  1. https://www.aad.org/public/everyday-care/injured-skin/burns/face-mask-skin-problems-treatment
  2. https://www.aad.org/public/everyday-care/skin-care-secrets/face/prevent-face-mask-skin-problems
  3. Plewig G., Kligman A.M. (2000) Acne Mechanica. In: ACNE and ROSACEA. Springer, Berlin, Heidelberg. https://doi.org/10.1007/978-3-642-59715-2_27

Skrining Hipotiroid Kongenital

 

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Salam sehat keluarga Kejora! Tahukah Ayah Ibu bahwa bayi yang baru lahir perlu menjalani pemeriksaan skrining? Salah satu pemeriksaan skrining yang sudah menjadi program nasional adalah skrining hipotiroid kongenital. Berikut adalah informasi selengkapnya mengenai hipotiroid kongenital dan pemeriksaan skriningnya.

Hipotiroid kongenital (HK) merupakan suatu kelainan bawaan yang ditandai dengan defisiensi hormon tiroid pada neonatus. Hormon ini sangat penting karena berperan dalam pertumbuhan tulang dan perkembangan otak. Selain itu, hormon ini juga berfungsi untuk mengatur produksi panas tubuh, metabolisme, kerja jantung, dan saraf. HK dilaporkan sebagai penyebab terbesar retardasi mental yang dapat dicegah di Indonesia dengan insidens HK sekitar 1:2916 kelahiran.

Gejala yang dapat terlihat pada HK terutama berupa lemas, tampak kuning, lidah besar (makroglosia), mudah kedinginan, perut buncit, serta penurunan tonus otot. Gejala-gejala tersebut biasanya tidak terlihat saat lahir dan baru dideteksi setelah bayi berusia 6-12 minggu. Selain itu, juga dapat ditemui hambatan pertumbuhan dan perkembangan yang mulai tampak nyata pada umur 3–6 bulan, disertai dengan gejala HK yang lebih jelas. Jika tidak diobati, dapat terjadi keterlambatan perkembangan, misalnya terlambat duduk, berdiri, serta belajar bicara, dan dapat berlanjut menjadi keterbelakangan mental. Deteksi dini yang diikuti dengan penatalaksanaan yang tepat, diketahui dapat mencegah dampak negatif yang dapat diakibatkan kelainan kongenital ini, terutama dampak negatif terhadap perkembangan otak. Oleh karena itu, dikembangkan program skrining nasional untuk mendeteksi dini HK.

Di Indonesia, program skrining nasional HK telah dikembangkan sejak tahun 2014. Berdasarkan Pedoman Skrining Hipotiroid Kongenital yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2014, skrining HK idealnya dilakukan pada bayi berusia 2-3 hari, namun masih baik dilakukan hingga bayi berusia 4-5 hari . Sebelum dilakukan pengambilan sampel darah, orang tua akan diberikan penjelasan mengenai tujuan dan prosedur pemeriksaan ini. Pengambilan sampel darah dilakukan melalui tumit bayi (heel prick) yang kemudian diteteskan pada kertas saring khusus dan dikirim ke laboratorium. Di laboratorium, sampel darah pada kertas saring akan diperiksa kadar TSH (Thyroid Stimulating Hormone). TSH merupakan hormon yang berfungsi untuk melepaskan hormon tiroid ke dalam darah. Jika hasil kadar TSH < 20 uU/mL, maka hasil dikatakan normal, namun jika hasil TSH > 20 uU/mL, maka perlu dilakukan konsultasi dengan dokter. Bergantung pada kondisi bayi, dapat dipertimbangkan pengambilan darah ulang untuk melakukan pemeriksaan lagi atau dilakukan tes konfirmasi pemeriksaan kadar hormon TSH dan T4 bebas dari dalam darah. Tes konfirmasi ini dilakukan untuk menegakkan kondisi hipotiroid kongenital.

Semoga informasi tersebut bermanfaat untuk Ayah dan Ibu Kejora!

Sumber:

Kemenkes RI. Pedoman Skrining Hipotiroid Kongenital. 2014.

Cermat dan Tepat Menggunakan Antibiotik

 

 

 

 

 

oleh Jodi Tiara Rahmania, S.Farm, Apt

Apoteker/ Farmasis

 

Halo, Keluarga Kejora! Keluarga Kejora tentunya sudah kenal dengan istilah antibiotik kan? Antibiotik digunakan secara luas untuk mengatasi infeksi bakteri dengan gejala ringan sampai berat. Sayangnya, Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa dewasa ini ditemukan banyak kekeliruan dalam penggunaan antibiotik di masyarakat umum, yang justru berdampak negatif terhadap kesehatan tubuh. Perlu diingat bahwa antibiotik akan berkerja secara efektif dan aman bagi tubuh hanya apabila digunakan secara tepat serta berada di bawah anjuran dan pengawasan dokter. Sebaliknya, penggunaan antibiotik yang salah justru dapat menimbulkan efek jangka panjang yang dapat merugikan di kemudian hari. Keluarga Kejora pasti tidak mau menanggung kerugian tersebut di masa depan kan? Oleh karena itu, yuk mulai kita bangun kesadaran mengenai penggunaan antibiotik yang tepat dan rasional, supaya kesehatan anggota Keluarga Kejora tetap terjaga!

Sebelum masuk ke pembahasan yang lebih jauh lagi, sebetulnya apa sih yang dimaksud dengan antibiotik? Antibiotik merupakan senyawa organik yang dihasilkan oleh bakteri hidup. Pada penggunaan dosis tertentu, antibiotik akan bekerja dengan menghambat dan/atau membunuh bakteri lain melalui suatu mekanisme kerja spesifik dengan mengganggu atau merusak rantai metabolisme bakteri. Saat ini banyak sekali jenis antibiotik yang tersedia di pasaran dengan berbagai macam bentuk sediaan, misalnya tablet Amoxicillin, kapsul Clindamycin, sirup Cefadroxil, dan salep Gentamisin.

Kemudian, bagaimana pemilihan obat yang rasional? Rasional di sini berarti pasien menerima pengobatan sesuai kondisi klinisnya dengan dosis dan periode waktu konsumsi obat yang sesuai dengan kebutuhannya. Aspek lain yang perlu juga diperhatikan adalah biaya obat harus dapat dijangkau oleh pasien. Hal tersebut berlaku pula bagi penggunaan antibiotik. Antibiotik semestinya dikonsumsi berdasarkan anjuran dan di bawah pengawasan dokter, terutama pada pasien-pasien khusus, seperti balita, ibu hamil, ibu menyusui, lansia, serta individu lain dengan kondisi kesehatan tertentu. Selain itu, penilaian objektif terhadap penyebab dan jenis infeksi yang dialami juga tidak dapat dilakukan sendiri oleh pasien, melainkan memerlukan kompetensi seorang dokter. Dokter akan memutuskan apakah sakit yang dialami pasien disebabkan oleh bakteri, virus, atau infeksi lainnya. Kemudian, dokter akan menentukan jenis obat yang diperlukan untuk mengatasi sakit tersebut, dapat berupa antibiotik, antivirus, atau bahkan tidak memerlukan obat sama sekali, sangat tergantung dari kondisi tiap individu.

Keluarga Kejora juga perlu memahami bahwa antibiotik itu bagaikan dua sisi mata uang, loh! Apa maksudnya? Jadi, selain dapat memberikan manfaat, konsumsi antibiotik yang tidak tepat dan tidak rasional malah dapat memberikan dampak yang merugikan bagi tubuh, di antaranya memicu reaksi alergi, meningkatkan risiko efek samping karena kesalahan terapi (memilih dan membeli antibiotik tanpa resep dokter, dilakukan hanya berdasarkan pengalaman sebelumnya atau pengalaman orang lain yang sembuh menggunakan antibiotik tersebut, padahal sakit yang dialami saat ini belum tentu sama dengan yang sebelumnya), dan meningkatkan risiko resistensi atau kebal terhadap antibiotik. Resistensi antibiotik dapat muncul akibat penghentian konsumsi antibiotik sebelum antibiotik tersebut habis karena sudah merasa atau tampak lebih sehat. Kebiasaan ini sangat sering ditemukan di masyarakat, padahal tindakan tersebut dapat menyebabkan bakteri sehat kembali dan membangun kekebalan terhadap antibiotik, sehingga kondisi kesehatan semakin memburuk dan sakit menjadi sukar diobati. Risiko resistensi antibiotik ini sudah menjadi perhatian khusus Organisasi Kesehatan Dunia, karena jumlah individu yang resisten terhadap antibiotik sudah cukup tinggi, sementara pengembangan antibiotik jenis baru itu sulit, mahal serta membutuhkan waktu yang lama.

Nah, setelah mengetahui informasi mengenai penggunaan antibiotik yang benar dan efek samping yang dapat timbul dari penggunaan antibiotik yang tidak tepat, Keluarga Kejora sudah siap ya untuk bersikap cermat dalam menggunakan antibiotik? Apabila ada anggota keluarga yang sakit, Ayah dan Ibu Kejora jangan langsung memutuskan untuk mengonsumsi antibiotik tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu! Selain itu, patuhi pula anjuran dokter dalam penggunaan antibiotik ya!

 

Editor  : drg. Dinda Laras Chitadianti

 

Sumber:

“Antibiotic Resistance.” WHO Fact Sheet. 2018. World Health Organization.5 Feb.2018
<https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/antibiotic-resistance>

“The Pursuit of Responsible Use of Medicine: Sharing and Learning from Country Experiences” Essential medicine and health products. 2012. World Health Organization. October. 2012
<https://www.who.int/medicines/areas/rational_use/en/>

Pergi ke Dokter Jantung saat Pandemi Covid-19, Kapan Waktu yang Tepat?

oleh dr. Adelin Dhivi Kemalasari, BMedSci, SpJP, FIHA

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

 

Halo, keluarga Kejora. Semoga selalu dalam keadaan sehat dan semangat ya walaupun #dirumahaja. Mungkin beberapa Ayah dan Ibu Kejora memiliki kerabat dengan penyakit jantung dan sempat mengalami kebingungan selama pandemi ini, mengingat himbauan untuk membatasi aktivitas luar rumah yang non-esensial, termasuk menunda kunjungan ke dokter, kecuali mengalami beberapa kondisi darurat.

Sebelum kita membahas mengenai kunjungan ke dokter jantung selama pandemi, perlu diketahui mengapa pasien dengan penyakit jantung termasuk dalam golongan yang rentan untuk mengalami gejala yang berat saat mengalami infeksi, termasuk Covid-19 ini. Pada pasien jantung, sudah terdapat abnormalitas struktur dan/atau fungsi (kekuatan) jantung. Pada keadaan stabil tanpa infeksi saja, kemampuan fisik pasien sudah berkurang dan terbatas karena keluhan sesak nafas dan/atau nyeri dada yang dirasakan pasien. Dalam keadaan infeksi virus maupun bakteri yang menyerang saluran napas secara umum, keadaan demam akan menyebabkan metabolisme meningkat, kebutuhan oksigen bertambah, produksi lendir di saluran nafas dapat merangsang refleks batuk lebih banyak. Kumpulan keadaan ini akan membuat pasien jantung yang awalnya stabil menjadi merasakan keluhan yang lebih berat, lebih cepat mengalami perburukan kondisi yang akibatnya penyembuhan akan lebih sulit dan risiko kematian lebih tinggi.

Lalu bagaimana dengan pasien yang sebelumnya rutin berobat ke poliklinik jantung? Apakah semua kunjungan ke dokter harus ditunda termasuk menunda obat – obatan rutin?

Pasien dengan penyakit jantung sebaiknya tetap menjaga kondisi jantung agar selalu stabil dan terkontrol, dengan cara tetap melanjutkan obat – obatan rutin tanpa perubahan. Bila persediaan obat rutin mendekati habis, ikuti waktu kontrol sesuai instruksi dokter. Tetap jaga kekebalan tubuh dengan mencukupi nutrisi dengan gizi yang seimbang, rutin mengkonsumsi buah dan sayur mayur, hindari stress, istirahat yang cukup, olahraga dengan intensitas ringan-sedang dengan durasi 20-30 menit, secara teratur 3-4x/minggu. Tidak perlu melakukan olahraga yang melelahkan. Dapat juga melakukan jalan cepat, berlari, bersepeda santai, bahkan melatih kekuatan otot dengan beban apabila sudah terlatih dan terbiasa. Apabila merasa kurang asupan buah dan sayur, dapat dilengkapi dengan suplemen yang memiliki kandungan komposisi vitamin A, C, D, dan E, serta mineral seperti selenium dan zinc. Pada pasien yang dianjurkan untuk restriksi jumlah cairan, tetap mengikuti saran dokter.

Hingga pada saat artikel ini ditulis, tindakan operasi, kateterisasi jantung, pemasangan ring jantung yang tidak darurat banyak yang ditunda hingga batas waktu yang belum dapat ditentukan, terutama di daerah zona merah Covid-19. Pembatasan ini bertujuan untuk menekan penyebaran Covid-19 di fasilitas kesehatan.

Namun prosedur dan pengobatan yang bersifat life-saving (menolong jiwa) atau darurat tetap dilakukan. Setiap orang yang dicurigai mengalami serangan jantung harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan secepat mungkin. Kekuatiran akan Covid-19 tidak boleh memperlambat penderita serangan jantung mendapat penanganan, karena semakin lambat pengobatan, semakin tinggi risiko komplikasi dan kematian akibat kerusakan otot jantung.

Kenali keluhan yang masuk dalam kategori gawat dan darurat di bidang jantung untuk menghindari keterlambatan penanganan. Beberapa kondisi kegawatdaruratan jantung dewasa antara lain:

  • Rasa sesak yang:
    • Memberat dengan posisi tidur, dan/atau
    • Tidak bisa tidur posisi rata (harus >2 bantal atau posisi duduk), dan/atau
    • Disertai batuk riak berdahak berwarna pink
  • Nyeri dada yang:
      • Seperti ditindih/ditimpa beban berat, dan/atau
      • Menjalar ke lengan atau punggung dan/atau leher,
      • Disertai mual, muntah, dan keringat dingin
  • Keluhan berdebar yang disertai pandangan gelap, rasa ingin pingsan, atau hingga hilang kesadaran

Untuk heart warrior (pasien anak dengan penyakit jantung bawaan), tetap lanjutkan obat rutin di rumah, kecuali mengalami kondisi gawat darurat jantung anak seperti:

  • Anak terlihat kebiruan semakin lama semakin biru
  • Sesak nafas sehingga terlihat tarikan dinding dada ke dalam
  • Anak berdebar-debar
  • Anak rewel yang sulit untuk ditenangkan
    • Anak dengan penyakit jantung bawaan kadangkala mengalami keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan, termasuk terlambat bicara. Terutama pada bayi yang tidak dapat menjelaskan keluhan mereka, seringkali keadaan rewel yang sulit ditenangkan merupakan manifestasi dari keluhan sesak nafas atau tidak nyaman yang disebabkan masalah jantung mereka.

 

Apabila gejala – gejala tersebut terjadi pada orang – orang terdekat di sekitar Anda, segera periksakan ke dokter. Jika tidak ada dokter spesialis jantung yang sedang praktik saat itu, Anda dapat memeriksakan diri ke Unit Gawat Darurat terdekat untuk penanganan awal.

Rumah sakit sudah menjalankan berbagai protokol ketat bagi seluruh pengunjung, dimulai dari pemeriksaan suhu di pintu masuk, memberikan jarak antarkursi, mewajibkan penggunaan masker, hingga menyediakan fasilitas untuk mencuci tangan. Jika aturan ini diikuti, sambil terus menjaga jarak ke orang lain, tidak perlu kuatir untuk berobat ke rumah sakit. Beberapa rumah sakit juga saat ini menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan jarak jauh (telemedicine) yang sudah didukung oleh peraturan Konsil Kedokteran Indonesia dalam kondisi pandemi. Layanan ini dapat Anda gunakan pada kondisi yang stabil atau mengalami keraguan untuk berkunjung ke rumah sakit. Perlu diingat bahwa dengan adanya keterbatasan pemeriksaan fisik dan penunjang, layanan telemedicine di bidang kardiovaskular tidak untuk penegakkan diagnosis pasti. Namun dokter dapat memberikan saran apakah gejala yang Anda alami memerlukan pemeriksaan lebih lanjut serta timing yang baik untuk konsultasi ke dokter apabila diperlukan untuk meminimalisir dari pajanan yang mungkin didapat di rumah sakit.

Saat ini pemerintah sedang mengkaji kesiapan fase kenormalan baru, yang memungkinkan beberapa kelonggaran dari aturan pembatasan sebelumnya. Fase apapun yang akan kita hadapi nantinya, pencegahan adalah hal yang utama. Karena jika sudah terinfeksi, manajemen Covid-19 menjadi lebih rumit pada penderita penyakit jantung. Lindungi kelompok rentan dengan cara selalu menjalani protokol kesehatan dan langkah pencegahan dengan ketat. Semoga keluarga Kejora selalu sehat, ya!

 

Editor  : drg. Valeria Widita W

Sumber: