Pilihan MP-ASI Pertama Untuk Si Kecil

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!
Ketika si Kecil sudah memasuki usia 6 bulan, berarti saatnya makan ya! Kita semua pasti sudah paham bahwa pemberian MP-ASI memang harus dimulai saat si Kecil masuk usia 6 bulan dan dapat diberikan lebih cepat pada kondisi khusus dan harus sudah atas pertimbangan dari dokter.

Ayah dan Ibu, ketika akan memulai MP-ASI seringkali kita khawatir apa yang kira-kira bisa diterima oleh si Kecil. Kalau dulu seringkali kita mendengar istilah menu MP-ASI tunggal, yang artinya bayi hanya diberikan satu jenis makanan terus-menerus selama sekitar 2 minggu. Sementara sebenarnya hal ini sudah tidak direkomendasikan lagi. Justru WHO menyarankan menu campuran sejak usia 6 bulan yang terdiri beraneka ragam sumber makanan agar kebutuhan nutrisi si Kecil terpenuhi, terutama zat besi yang memang kadarnya dalam ASI sudah jauh berkurang sehingga harus dipenuhi dari MP-ASI.

Pada tahap awal ini, biasanya si Kecil diberikan makanan lumat. Makanan lumat di sini adalah makanan yang diblender halus atau disaring sehingga tekstur makanan menjadi lumat dan kental. Di usia 6-8 bulan, biasanya si Kecil diberikan 2x makan utama dan 1x selingan. Untuk dapat menyiapkan makanan lumat ini, maka ayah dan ibu memerlukan peralatan sederhana berikut: panci dan kukusan, saringan, mangkok serta sendok. Nah, untuk menghaluskan daging biasanya akan sulit kalau hanya menghaluskan dengan saringan, maka ada baiknya ibu juga memiliki blender atau bisa juga menggunakan food grinder agar bayi 6 bulan tetap sudah bisa mengonsumsi daging.

Berikut ini salah satu contoh menu MP-ASI campuran yang bisa diberikan mulai usia 6 bulan, yaitu: bubur hati ayam brokoli.


Bahan-bahan yang diperlukan:

  • beras 30g
  • hati ayam 30g
  • brokoli secukupnya
  • unsalted butter 5g
  • daun jeruk, salam, dan serai secukupnya./li>

    Cara membuat:

  • Rebus beras dengan air secukupnya
  • Tumis bawang merah cincang dengan unsalted butter, tambahkan daun jeruk, daun salam, dan serai masing-masing 1 lembar. Baru masukkan hati ayam yang sudah dipotong-potong. Tambahkan air sedikit. Masak hati hingga matang betul. Ingat bahwa bahan makanan sumber protein hewani harus benar-benar matang ya. Masukkan brokoli yang sudah dipotong-potong secukupnya saja, tidak perlu terlalu banyak.
  • Setelah semuanya matang, haluskan dengan blender atau bisa juga gunakan saringan

Resep ini untuk 2 kali makan ya! Ayah dan Ibu dapat menyimpan MP-ASI dalam wadah tertutup rapat dan letakkan di kulkas bawah. Akan lebih mudah bila ibu menyimpan MP-ASI dalam wadah kaca sehingga saat menghangatkan cukup dengan merendam MP-ASI dalam wadah tersebut dalam panci berisi air hangat dan siap untuk diberikan pada si Kecil.

Ayah dan ibu, tentunya konsistensi MP-ASI sesuaikan dengan kemampuan si Kecil ya. Setelah usia 8 bulan tentunya sudah tidak perlu bubur lumat lagi. Naikkan konsistensinya secara bertahap. Nah, untuk sumber protein hewani bisa diganti dengan ikan dori/lele/gurame/salmon atau ayam atau daging sapi.
Selamat mencoba!

Editor: drg Rizki Amalia

Sumber:

  • WHO. Guiding principles for complementary feeding of the breastfed child.2001.
  • IDAI. Rekomendasi Praktek Pemberian Makan Berbasis Bukti pada Bayi dan Batita di Indonesia untuk Mencegah Malnutrisi. 2015

Boleh Tidak Sih Jus Buah untuk Bayi/Anak?

oleh dr. Yohannessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinis

Halo, Ayah dan Ibu Sehat Kejora!

Apakah Ibu/Ayah Kejora pernah bertanya mengenai perlu tidaknya pemberian jus buah pada bayi dan anak? Tak jarang orangtua berpendapat bahwa jus buah pasti memiliki kandungan nutrisi dan bermanfaat bagi bayi dan anak, namun ternyata harus diketahui rekomendasi dan dicermati label komposisi nutrisi pada jus buah kemasan.

Sebelum lanjut membaca, perlu diketahui terlebih dahulu definisi dari jus buah (kemasan). Menurut US FDA, label kemasan ‘jus buah’ artinya produk tersebut mengandung 100% jus buah. Sedangkan, label tertulis ‘konsentrat’ buah artinya produk tersebut berasal dari konsentrat buah. Produk minuman kemasan berlabel ‘minuman’ artinya memiliki kandungan jus 10–99% serta pemanis tambahan, perisa, maupun fortifikasi misalnya vitamin C atau kalsium.

Di Indonesia, BPOM telah mengatur penamaan produk, juga label kandungan nutrisi. Terdapat 3 kategori minuman buah yaitu sari buah, minuman sari buah, dan minuman rasa buah. Sari buah mengandung minimal 80% jus buah asli. Sedangkan minuman sari buah mengandung 10–35% jus buah. Minuman rasa buah hanya memiliki kurang dari 10% jus buah asli; produk tersebut hanya berisi air dan gula atau pemanis.

Berikut rekomendasi dari AAP mengenai jus buah:

  1. Jus tidak direkomendasikan pada bayi di bawah usia 12 bulan, kecuali ada indikasi medis dari dokter spesialis. Jus buah tidak memberikan manfaat nutrisi bagi bayi di bawah usia 12 bulan. Kebutuhan cairan bagi bayi tercukupi dari ASI atau susu formula (sesuai indikasi medis). Hal di atas berlaku juga pada buah yang diperas hanya sarinya saja; misal air perasan jeruk saja. Air perasan jeruk dapat diberikan bila bersamaan dengan buah lain dengan tekstur sesuai usia, misal dicampur dengan pure alpukat bagi bayi 7 bulan.
  2. Buah dapat diberikan sebagai selingan dengan tekstur sesuai usia bayi dan bersifat sebagai mengenalkan buah pada bayi.
  3. Pemberian jus pada anak usia 1–3 tahun (balita) dibatasi maksimal 118 mL/hari (4 ounces/day)
  4. Pemberian jus pada anak 4–6 tahun dibatasi maksimal 118–177 mL/hari (4–6 ounces/day)
  5. Pemberian jus pada anak 7–18 tahun dibatasi maksimal 236 mL/hari (1 cup/day)
  6. Pemberian jus pada balita tidak direkomendasikan dalam wadah botol atau wadah lain yang mudah dibawa sehingga mencegah balita minum jus berlebihan sehari-hari. Juga tidak direkomendasikan pemberian jus kepada balita saat jam menjelang tidur.
  7. Anak-anak diupayakan untuk mengonsumsi buah potong untuk memenuhi kebutuhan asupan buah dan serat per hari
  8. Pemberian produk jus yang tidak dipasteurisasi tidak dianjurkan bagi bayi dan anak.

Jus buah juga meningkatkan risiko terjadinya karies gigi. Dari penelitian diketahui bahwa setelah 24 jam, pH jus buah berubah menjadi lebih asam dari pH awal. Jus nanas, anggur, dan tebu mengandung elemen pemicu timbulnya karies gigi antara lain selenium, besi, dan mangan.

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber: American Academy of Pediatrics (AAP) 2017, Community Dent Oral Epidemiol 2010;38:324-32.

Susu Sapi A2

 

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Salam Sehat, Keluarga Kejora!

Susu merupakan salah satu sumber protein hewani yang populer. Sumber susu dan produk susu termasuk sapi, domba, unta, kambing, dan lainnya. Baru-baru ini, susu sapi jenis baru telah muncul di pasaran. Produk ini, yang disebut susu sapi A2, telah menarik perhatian konsumen dan ilmuwan. Apakah Moms pernah mendengar tentang susu sapi A2 ? Apakah perbedaannya dengan susu sapi biasa? Berikut infonya.

Susu sapi mengandung 8 gram protein dalam setiap 250 ml susu. Terdapat dua protein utama dalam susu yaitu kasein dan whey. Kasein menyumbang sekitar 80% protein dalam susu. Kasein juga memiliki beberapa variasi, salah satunya disebut beta-kasein. Beta-kasein membentuk sekitar 30% protein dalam susu sapi dengan varian A1 dan A2.

Jaman dulu, sapi menghasilkan susu yang hanya mengandung bentuk A2 beta-kasein. Saat ini, sebagian besar susu yang tersedia di toko bahan makanan mengandung protein A1.

Protein A1 dan A2 mempengaruhi tubuh secara berbeda. Ketika protein A1 dicerna dalam usus kecil, ia menghasilkan peptida yang disebut beta-casomorphin-7 (BCM-7). Usus menyerap BCM-7, dan kemudian masuk ke dalam darah. Peneliti mengaitkan BCM-7 dengan ketidaknyamanan perut dan gejala yang mirip dengan yang dialami oleh orang dengan intoleransi laktosa. Struktur protein A2 lebih serupa dengan protein dalam ASI manusia, begitu pula susu dari kambing, domba, dan kerbau.

Pada tahun 2000, seorang ilmuwan di Selandia Baru mendirikan Perusahaan Susu A2. Perusahaan ini menyediakan susu dari sapi yang hanya menghasilkan protein A2. Perusahaan Susu A2 menguji DNA sapi mereka dengan menggunakan sampel rambut, untuk memastikan hewan tersebut hanya menghasilkan susu yang mengandung protein A2. Perusahaan juga menguji susu setelah produksi untuk memastikan susu tidak mengandung protein A1.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa BCM-7 mungkin berhubungan dengan diabetes tipe 1, penyakit jantung, kematian bayi, autisme, dan masalah pencernaan. Meskipun dapat mempengaruhi sistem pencernaan, masih belum jelas sejauh mana BCM-7 diserap secara utuh ke dalam darah.

Diabetes tipe 1 biasanya didiagnosis pada anak-anak dan ditandai dengan kekurangan insulin. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa minum susu A1 selama masa kanak-kanak meningkatkan risiko diabetes tipe 1. Namun, penelitian ini bersifat observasional. Mereka tidak dapat membuktikan bahwa A1 beta-casein menyebabkan diabetes tipe 1, hanya mereka yang mengonsumsi susu A1,  lebih banyak yang memiliki risiko lebih tinggi untuk terdiagnosis diabetes tipe 1.

Pada kasus lain yaitu Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) yang merupakan penyebab kematian paling umum pada bayi di bawah 12 bulan. SIDS adalah kematian tak terduga pada bayi tanpa penyebab yang jelas. Beberapa peneliti menduga bahwa BCM-7 mungkin terlibat dalam beberapa kasus SIDS. Satu studi menemukan kadar BCM-7 yang tinggi dalam darah bayi yang berhenti bernapas untuk sementara saat tidur. Kondisi ini, yang dikenal sebagai sleep apnea, dikaitkan dengan peningkatan risiko SIDS. Hasil ini menunjukkan bahwa beberapa anak mungkin sensitif terhadap kasein beta A1 yang ditemukan dalam susu sapi. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan sebelum kesimpulan yang pasti dapat dicapai.

Jumlah laktosa dalam susu A1 dan A2 sama. Namun, sebagian orang merasa bahwa susu A2 tidak menyebabkan kembung dibandingkan susu A1. Penelitian menunjukkan bahwa komponen susu selain laktosa dapat menyebabkan ketidaknyamanan pencernaan. Sebuah penelitian pada 41 orang menunjukkan bahwa susu A1 menyebabkan feses lebih lembek daripada susu A2 pada beberapa individu, sementara penelitian lain pada orang dewasa Cina menemukan bahwa susu A2 menyebabkan ketidaknyamanan pencernaan yang jauh lebih sedikit setelah makan.

Perdebatan mengenai efek kesehatan dari susu A1 dan A2 masih berlangsung. Penelitian telah menunjukkan bahwa A1 beta-kasein menyebabkan gejala pencernaan yang tidak nyaman pada individu tertentu. Tetapi bukti masih terlalu lemah untuk menarik kesimpulan tentang dugaan hubungan antara A1 beta-casein dan kondisi lain. Namun jika Moms tertarik untuk mencobanya, susu A2 bisa menjadi alternatiif,  jika mengalami kesulitan mencerna susu biasa.

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Mengapa Anak Harus Makan Protein Hewani?

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Ayah dan Ibu Kejora, pernahkah terpikir apakah protein hewani seperti ikan, ayam daging, makanan laut, dan telur dapat digantikan oleh protein nabati saja? Sebelum kita memutuskan hal tersebut, mari simak penjelasan berikut ini ya!

Dalam memenuhi kebutuhan protein pada anak, maka sebaiknya kita tidak hanya berpikir bagaimana mencukupi jumlahnya saja, tetapi lebih rinci lagi kita harus juga mempertimbangkan kualitas protein agar anak terhindar dari malnutrisi. Kualitas protein ini mencakup ketersediaan serta kemudahan dicernanya asam amino setelah makanan dikonsumsi, dicerna, hingga diserap oleh tubuh kita. Ingat ya Ibu dan Ayah, asam amino merupakan zat terkecil yang menyusun protein. Bisa kita andaikan bahwa protein seperti tembok rumah, dan asam amino merupakan batu bata serta semen yang menyusun protein tersebut.

Nah, bahan makanan sumber protein yang berasal dari nabati memiliki kualitas protein serta kemampuan cerna yang lebih rendah daripada protein hewani, serta mengandung lebih sedikit mineral seperti seng, zat besi, dan kalsium. Sebaliknya protein dari sumber hewani memiliki kualitas protein lebih baik serta mengandung vitamin B12, besi heme, vitamin A, seng, dan kalsium. Dalam suatu penelitian pada anak usia 12-36 bulan didapatkan bahwa konsumsi protein hewani berkaitan dengan peningkatan tinggi badan anak yang lebih baik sehingga berpotensi dalam menurunkan angka kejadian stunting.

Selanjutnya apakah protein nabati menjadi tidak penting? Nah, protein nabati seperti misalnya tahu, tempe, kacang hijau, kacang merah, dan kedelai tentu saja tetap penting diberikan karena selain melengkapi kebutuhan protein, bahan makanan tersebut juga mengandung serat yang sangat baik untuk kesehatan pencernaan anak serta mengandung berbagai fitonutrien yang berperan dalam pencegahan penyakit.

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber:

  1. Kaimila Y, Divala O, Agapova SE, et.al. Consumption of Animal-Source Protein is Associated with Improved Height-for-Age Z scores in Rural Malawian Children Aged 12-36 Months, Nutrients 2019.
  2. Mahan LK, Escott-Stump S. Krause’s Food & Nutrition Therapy. 2008.

Susu

 

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Salam Sehat, Keluarga Kejora! Semoga di tengah pandemi COVID-19 ini kita semua masih tetap sehat dan semangat, ya… Semoga kita semua mendapatkan nutrisi yang optimal sehingga semua dalam kondisi yang sehat.

Bicara mengenai nutrisi, tentunya kita tidak asing dengan bahan makanan berupa susu. Seringkali kita bingung untuk mengetahui susu mana yang terbaik untuk diberikan bagi si Kecil. Susu memang memiliki peran penting dalam nutrisi anak, mulai dari bayi yang minum ASI, balita yang makan sereal dengan susu, hingga remaja yang memasukkan susu ke dalam smoothie.

Berikut adalah beberapa pilihan susu bagi anak:

  • Susu sapi murni (3,25% lemak susu) dan susu kambing yang dipasteurisasi diperkaya dengan vitamin D dan asam folat adalah susu pilihan yang cocok untuk anak-anak di bawah usia dua tahun.
  • Setelah usia dua tahun, susu kedelai yang diperkaya (fortifikasi) dapat digunakan sebagai pengganti susu sapi.
  • Pilihan seperti almond, kelapa, beras, rami dan minuman nabati lainnya, tidak mengandung cukup protein dan lemak untuk memenuhi kebutuhan balita yang sedang tumbuh.
  • Sementara susu almond yang diperkaya dan minuman nabati lainnya dapat ditawarkan setelah usia dua tahun, namun tidak dihitung sebagai alternatif dari susu sapi.

Macam-macam Jenis Susu

  1. Susu Sapi: telah ada selama berabad-abad dan merupakan pilihan konsumen yang paling populer. Berasal dari kelenjar susu sapi. Perbedaan antara jenis-jenis susu sapi adalah persentase lemak yaitu whole milk, (mengandung) 2% lemak, 1% lemak, atau skim. Dari susu murni hingga susu skim, konsistensi susu menjadi lebih encer/cair dan rasanya menjadi lebih manis. Susu sapi adalah sumber protein, kalsium, dan vitamin B12. Vitamin B12 adalah nutrisi yang ditemukan secara alami dalam produk hewani yang sangat penting untuk fungsi otak, sistem saraf, dan pembentukan sel darah baru. Susu sapi adalah satu-satunya susu yang mengandung vitamin B12.
  2. Susu Almond: adalah pilihan bebas susu sapi yang dibuat dengan merendam dan menggiling almond dengan air. Susu almond mengandung tinggi magnesium, selenium, dan vitamin E. Susu almond dapat mendukung fungsi kekebalan tubuh, tulang, dan menyediakan banyak antioksidan. Untuk anak yang sensitif terhadap laktosa, susu almond adalah alternatif yang baik karena bebas laktosa dan kolesterol.
  3. Susu Kedelai: terdiri dari kedelai kering dan ditumbuk dengan air. Susu kedelai adalah sumber protein dan kalsium bagi yang memiliki intoleransi terhadap laktosa.
  4. Susu Rami/Hemp: dibuat dengan merendam benih rami dalam air dan kemudian menggilingnya. Pilihan ini lebih tinggi protein dan lemak sehat. Lemak dalam sebagian besar susu rami adalah asam lemak esensial tak jenuh seperti omega-6 dan omega-3 yang membantu membangun jaringan baru. Rami juga merupakan sumber vitamin B yang baik
  5. Susu Oat: terdiri dari gandum dan air. Susu oat mengandung tinggi serat larut dan beta-glukan. Beta-glukan sangat bagus untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.. Namun, susu gandum memiliki kandungan protein yang rendah.
  6. Susu Beras/Air tajin: dianggap paling hipoalergenik dari semua pilihan susu. Susu berat dibuat dengan merebus nasi, beras merah, atau pati beras merah. Susu ini adalah pilihan baik untuk mengontrol tekanan darah karena tingginya kadar magnesium.
  7. Santan: dibuat dengan mengambil daging bagian dalam kelapa, dididihkan dan kemudian disaring. Tekstur santan yang lebih kental, mengandung trigliserida rantai menengah (MCT) yang memberikan energi dan asam laurat untuk meningkatkan fungsi kekebalan tubuh.

Jika anak-anak tidak menyukai susu sapi cair, memiliki intoleransi laktosa, atau pada keluarga vegan, kandungan nutrisi yang ditemukan dalam susu sapi dapat tersedia dalam bahan makanan lain. Anak-anak masih dapat memenuhi kebutuhan nutrisi harian mereka tanpa susu dengan melalui asupan makan yang terencana dengan baik termasuk makanan lain yang kaya protein, kalsium, kalium, dan vitamin A dan D. Makanan yang terbuat dari susu sapi, seperti yogurt, kefir, dan keju, juga dapat memberikan pilihan untuk memasukkan nutrisi dari susu ke dalam makanan anak bahkan jika anak itu tidak suka susu sapi cair.

Menggunakan hanya susu untuk mencapai rekomendasi kebutuhan kalsium bukanlah ide yang bijaksana. Kebutuhan kalsium dari susu baru dapat terpenuhi jika minum lebih dari tiga cangkir susu sehari. Hal ini, dapat membuat anak kekenyangan sehingga tidak mau makanan anak, yang berakibat berisiko terhadap anemia defisiensi zat besi serta ketidakseimbangan nutrisi lainnya.

Jika anak Anda lebih memilih alternatif susu non-susu, seperti susu almond atau beras, pilihlah versi yang diperkaya dengan kalsium dan vitamin D. Kemudian, Anda harus memastikan untuk menawarkan makanan lain sepanjang hari yang mengandung protein, karena sebagian besar susu-susu alternatif mengandung protein sangat rendah.

Secara umum, sebagian besar anak mendapat manfaat dari mengonsumsi susu sapi, atau produk susu sapi, setelah mereka berusia 12 bulan (jika mereka tidak memiliki alergi susu). Perlu diingat bahwa balita yang masih menyusui 2-3 kali sehari atau yang masih minum susu formula, tidak memerlukan susu sapi tambahan.

Berapa Banyak Susu yang Dibutuhkan Anak-Anak?

Hal ini tergantung dari usia dan kebutuhan anak, tetapi rekomendasi yang biasa adalah:

1 hingga 2 tahun         : 2 gelas susu setiap hari

Usia 3 tahun ke atas    : 3 gelas susu setiap hari

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Pemberian Makan Bayi dan Anak selama Pandemi

oleh dr. Yohannessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinis

Halo, Ayah dan Ibu Sehat Kejora!

Ayah dan Ibu tentu tahu bahwa nutrisi menjaga pertumbuhan sehat, meningkatkan perkembangan otak bayi dan anak, dan memperkuat sistem imun, sehingga mengurangi risiko terinfeksi virus atau penyakit terlebih lagi di saat pandemic seperti sekarang ini.

Nutrisi sangat penting pada 2 tahun pertama kehidupan anak. Nutrisi yang sesuai dengan usia anak akan mengurangi risiko overweight atau obesitas di kemudian hari, juga terhindar dari penyakit kronis di masa depan kehidupan.

Tetap teruskan pemberian ASI eksklusif bagi bayi hingga usia 2 tahun. Bagi bayi usia 6 bulan ke atas, mulai berikan MP-ASI dari bahan makanan segar dan bukan makanan olahan mengandung komposisi dari 4 grup jenis makanan (karbohidrat, protein dan lemak dari lauk hewani, nabati, sayur, serta buah) setiap harinya.

Nutrisi yang beragam dapat meningkatkan sistem imun anak. Berikan pola makan sehat seimbang terdiri dari karbohidrat, lemak, protein, tak lupa sayur dan buah-buahan berwarna oranye/kuning, juga sayuran berwarna hijau tua. Ingatkan anak untuk minum air 8–10 gelas setiap harinya (termasuk dari makanan, misal sup, buah dan sayur berair seperti timun, tomat, bayam, jamur, melon, brokoli, jeruk, apel). Hindari pemberian makan makanan mengandung gula, garam, dan lemak jenuh/trans berlebihan.

Selalu utamakan makan makanan yang berasal dari masakan rumah dari bahan segar alami secara higienis untuk menjaga kualitas makanan keluarga. Dengan memasak makanan sendiri di rumah, Ayah dan Ibu mengetahui dengan jelas apa saja bahan-bahan masakan yang digunakan, dibandingkan membeli makanan jadi/junk food dari luar rumah. Ajak anak yang berusia lebih besar untuk membantu di dapur atau menyiapkan makanan di meja. Makan makanan rumah bersama keluarga mengurangi risiko kontak dengan virus.

Berikut panduan pemberian makan bagi bayi dan anak sesuai usia:

  • Usia 6–8 bulan: berikan makan 2–3 kali per hari dengan porsi setiap makan 2–3 sendok makan bertahap hingga ½ gelas atau 125 ml, konsistensi lumat/saring. Siapkan bubur saring/lumat dan tambahkan telur/daging matang, dan sayur. Buah dapat diberikan di jam selingan/snack. Jika bahan makanan segar tidak tersedia karena pembatasan sosial berskala besar (PSBB), maka dapat digantikan dengan makanan keluarga yang ditumbuk (mashed) atau dibuat puree. Bila terpaksa, dapat digunakan produk kalengan/frozen dengan kandungan gula dan garamnya rendah. Konsistensi makanan lumat/saring yang diharapkan yaitu makanan cukup kental sehingga dapat menempel pada sendok. Makanan lumat/saring yang terlalu encer akan cepat membuat perut bayi terasa kenyang.
  • Usia 9–11 bulan: berikan makan 3–4 kali per hari dengan porsi setiap makan ½ gelas bertahap hingga ¾ gelas atau 200 ml, konsistensi lembik. Usia 9–11 bulan, bayi mulai belajar mengunyah makanan sehingga dapat mengonsumsi lauk yang dipotong kecil-kecil.
  • Usia 12–24 bulan: berikan makan 3–4 kali per hari dengan porsi setiap kali makan nasi ¾ gelas, lauk hewani 1 potong kecil, lauk nabati 1 potong kecil, ¼ gelas sayur, 1 potong buah. Anak mulai makan makanan keluarga dan makan sendiri dari piringnya. Tambahkan 1–2 selingan/snack sehat berupa buah atau sayur berupa potongan kecil-kecil dan lembut agar dapat digunakan sebagai finger foods. Pisang merupakan contoh yang dapat digunakan sebagai snack Hindari pemberian cemilan asin seperti keripik kemasan atau manis (kue kering, cake, coklat) atau minuman soda/konsentrat jus buah/sirup atau susu dengan rasa yang dapat dibeli dengan harga murah. Jenis makanan/minuman tersebut membahayakan kesehatan anak karena mengandung tinggi gula, garam, lemak trans, dan bahan kimiawi.
  • Jika terpaksa, bijak dalam memilih makanan instan bagi bayi/anak. Perhatikan kandungan nutrisi, pilihlah makanan yang tidak mengandung tinggi gula, garam, atau lemak trans/jenuh, serta seimbangkan dengan masakan rumah dari bahan segar.

Berikut panduan pemberian makan sesuai jenis makanan:

  • Protein diberikan sebanyak 2–3 porsi sehari. Protein hewani ikan (salah satunya jenis oily fish) minimal 2 kali per minggu. Kacang-kacangan merupakan protein nabati dan disarankan bagi anak di atas usia 5 tahun.
  • Buah untuk anak usia 2–3 tahun sebanyak 200 ml per hari, usia 4–13 tahun sebanyak 350 ml
  • Sayur untuk anak usia 2–3 tahun sebanyak 200 ml per hari, usia 4–8 tahun sebayak 350 ml per hari. Variasikan sayuran antara lain sayuran dengan daun berwarna hijau, sayuran warna merah dan oranye.
  • Usahakan /tidak memasak sayur dan buah ovecooked karena dapat kehilangan beberapa sumber vitamin.
  • Jika terpaksa harus memakan sayur buah kalengan/kering, pilihlah tanpa tambahan garam atau gula.

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber: Unicef, WHO EMRO, Perinasia Pelatihan MPASI

Menyusui dan Covid-19

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Menyusui merupakan kebutuhan eksklusif bayi selama 6 bulan pertama kehidupan. ASI memberikan kecukupan dan kelengkapan nutrisi serta perlindungan terhadap berbagai penyakit.

 

Berikut rekomendasi para ahli mengenai menyusui di tengah pandemik COVID 19 :

 

Banyak yang belum diketahui tentang sifat dan penyebaran penyakit COVID 19 serta virus penyebab penyakit ini, yakni SARS-COV 2.  Belum diketahui apakah seorang ibu dapat menularkan COVID-19 pada bayinya melalui ASI atau tidak. Namun, penularan virus sakit pernafasan melalui ASI tergolong rendah, sehingga WHO ( World Health Organization) tetap memberikan rekomendasi bagi ibu yang terinfeksi flu maupun COVID-19 untuk tetap menyusui. Hal ini juga berlaku bagi ibu dengan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) lainnya.

 

Seorang ibu yang positif COVID-19 atau yang tergolong Pasien dalam Pengawasan (PDP) dapat menerapkan langkah-langkah berikut ini:

  • Cuci tangan sebelum bersentuhan dengan bayi, peralatan pompa, dan peralatan minum bayi
  • Ikuti semua petunjuk cara membersihkan peralatan pompa dan minum bayi
  • Gunakan masker wajah saat menyusui bayi
  • Apabila ibu harus dalam perawatan terpisah dengan bayi, cari informasi terkait donor asi / orang sehat yang dapat memberikan ASI perah kepada bayi

 

Editor : drg. Annisa Sabhrina (@asabhrina)

 

Referensi:

https://www.bfmed.org/abm-statement-coronavirus

https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/specific-groups/pregnancy-guidance-breastfeeding.html

https://www.ilca.org/main/learning/covid-19

 

WELLNESS is the solution to prevent ILLNESS

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo Keluarga Kejora… Di tengah maraknya wabah COVID-19 ini, tentu penting bagi kita untuk meningkatkan dan menjaga imunitas agar terhindar dari penyakit berbahaya tersebut. Bagaimana caranya, ya? Makan makanan yang sehat sangat penting untuk menjaga imunitas. Selain itu, perlu juga ditunjang dengan minum air putih yang cukup, dan berolahraga.

Sekarang, kita bahas satu-satu, ya!

A) Makan Makanan yang sehat

  1. Karbohidrat

Untuk pemenuhan karbohidrat, pilihlah karbohidrat yang kompleks dan usahakan dari bahan yang alami. Contoh karbohidrat yang dimaksud adalah ubi, jagung, kentang, singkong, dan nasi. Kalau nasi kuning yang diberi kunyit itu, bagaimana? Tentu saja boleh. Karbohidrat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan ini mengandung banyak vitamin dan mineral yang disediakan alam. Sebisa mungkin batasi karbohidrat dari processed foods, seperti mie instan, roti, produk hasil tepung dan gula, semua kue dan minuman yang tinggi gula. Walaupun kebanyakan dari produk-produk ini ditambahkan vitamin dan mineral, tetap saja kita memiliki risiko mengonsumsi garam, gula, pengawet, pewarna, dan bahan aditif lain secara berlebihan.

  1. Protein dan Lemak
  • Protein hewani

Ikan merupakan protein hewani dengan kandungan lemak terbaik. Untuk protein hewani yang bersumber dari daging kambing, ayam, sapi, carilah yang memiliki kandungan lemak yang rendah. Lemak hewani yang terlalu banyak dapat meningkatkan risiko radang dalam tubuh kita. Hindari pengolahan secara deep fry dan bagian yang  gosong jika diolah dengan cara dibakar atau dipanggang. Bagian gosong ini mengandung nitrosamine yang sangat berbahaya, karena dapat menyebabkan kanker.

  • Protein nabati

Protein nabati tentu sangat baik untuk tubuh kita. Sumber protein nabati  yang dapat kita konsumsi adalah kacang hijau, kacang merah, tauge, dan biji-bijian. Cara konsumsinya pun beragam, bisa dijadikan sayur seperti sup kacang merah. Untuk cara yang lebih menyenangkan, kacang hijau dapat dibuat menjadi bubur kemudian langsung dikonsumsi, atau dimasukkan ke dalam plastik kecil dan dibekukan menjadi es. Untuk tauge dan biji-bijian diketahui sangat baik karena mengandung banyak vitamin E dan mineral-mineral.

  • Lemak

Lemak yang baik sangat penting untuk komponen membran sel kita. Makanlah lemak dari bahan makanan sumber lemak sehat seperti alpukat, ikan salmon, cemilan kacang almond, walnut dan kacang lainnya. Tentu lemak baik ini perlu dikonsumsi dengan benar. Hindari mengonsumsi coklat yang mengandung almond, jus alpukat dengan susu kental manis, dan granola bars, karena lebih banyak gulanya daripada lemak baik itu sendiri.

  1. Serat, Vitamin, dan Mineral

Sumber vitamin dan mineral yang sangat dibutuhkan dalam menjaga sistem imun juga berasal dari konsumsi sayur dan buah-buahan. Mengonsumsi sayur dan buah-buahan yang bervariasi sangat penting karena setiap jenis sayuran dan buah-buahan memiliki kandungan vitamin dan mineral yang berbeda, dan semuanya dibutuhkan untuk metabolisme tubuh kita.

Variasi buah dan sayuran ini juga sebaiknya memperhatikan berbagai warna yang menandakan jenis kandungan antioksidan yang berbeda juga: baik yang berwarna merah seperti tomat, apel, buah bit, bayam merah; atau yang berwarna oranye dan kuning: seperti labu, ubi, jeruk, wortel; warna hijau: bayam, bok choy, selada, brokoli; putih: sawi, kecambah, lobak, kembang kol; biru dan ungu: anggur, plum, bit, kol ungu, ubi ungu, terong.

Buah dan sayuran mengandung vitamin, mineral, dan antioksidan alami dengan bioavailability yang baik. Artinya, vitamin dan mineral ini dapat diserap dan digunakan dalam sistem pertahanan tubuh dengan baik.

Buah-buahan seperti jambu biji, kiwi, jeruk, mangga, tomat, paprika merupakan buah-buahan dan sayuran yang mengandung vitamin C dan sangat baik dikonsumsi pada saat wabah COVID19. Vitamin C adalah antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas, serta digunakan dalam berbagai enzim dalam proses metabolisme tubuh kita. Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang kekurangan vitamin C mengalami penurunan imunitas dan lebih rentan terhadap infeksi.

Walaupun banyak orang telah mengetahui peranan vitamin D untuk pembentukan dan kekuatan tulang dan gigi, masih banyak orang yang belum mengetahui peranan vitamin D untuk imunitas. Vitamin D dalam tubuh dibentuk dari sinar UV B matahari melalui kulit dan juga didapatkan dari bahan makanan sumber vitamin D. Hasil penelitian menunjukkan, orang-orang yang memiliki kadar vitamin D yang rendah lebih berisiko mengalami infeksi (infeksi saluran pernafasan, virus influenza, maupun infeksi bakteri) dibandingkan mereka yang memiliki kadar vitamin D yang lebih tinggi. Beberapa makanan sumber kaya vitamin D: ikan salmon, jamur, beberapa makanan yang difortifikasi (susu sapi, susu soya, tahu, yogurt, cereal, jus jeruk), kuning telur.

B) Minum Air Putih

Minum air putih atau air mineral juga tidak kalah penting dalam menjaga imunitas, karena semua proses metabolisme yang terjadi dalam tubuh kita sangat membutuhkan sekali air putih. 60% tubuh kita juga terdiri dari air, lho! Berapa banyak air putih yang dibutuhkan oleh seseorang? Jumlah air putih yang dibutuhkan untuk seorang dewasa sehat berkisar 25-30ml/kgBB/hari. Sedangkan lansia membutuhkan cairan lebih sedikit, yaitu sekitar 1500 ml/hari.

C) Aktivitas fisik, olahraga dan menjaga kebersihan

Aktivitas fisik dan olahraga dengan intensitas ringan-sedang juga sangat berperan menjaga sistem imun kita. Berjalan sebanyak 10.000 langkah sehari dan melakukan olahraga dengan intensitas ringan-sedang selama 30 menit per hari (atau 150 menit per minggu) adalah gaya hidup aktif yang disarankan. Menjalankan gaya hidup aktif ini dapat meningkatkan imunitas kita.

Editor: drg. Valeria Widita W

Cegah Anemia, Cegah Stunting

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Tahukah Ayah dan Ibu bahwa ternyata 1 dari 2 ibu hamil di Indonesia masih mengalami anemia? Lebih tepatnya 48.9% ibu hamil di Indonesia mengalami anemia. Salah satu penyebab anemia yang sering terjadi adalah anemia karena kekurangan zat besi atau yang sering disebut anemia defisiensi besi.

Zat besi merupakan salah satu unsur terpenting yang membentuk hemoglobin dalam sel darah merah yang akan membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Selama kehamilan, kebutuhan zat besi meningkat untuk dapat mencukupi kebutuhan pasokan oksigen yang diangkut oleh darah ke janin. Apabila hemoglobin tidak cukup, maka kapasitas darah untuk mengangkut oksigen ke janin akan menurun dan mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin. Kondisi ini dapat meningkatkan kejadian kelahiran prematur serta berat badan janin yang rendah, yang pada akhirnya meningkatkan risiko stunting. Oleh sebab itu, intervensi gizi spesifik pada ibu hamil menjadi salah satu sasaran prioritas dalam Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting 2018-2024

Anemia tidak hanya disebabkan oleh kekurangan zat besi, namun dapat juga karena kekurangan zat gizi lain seperti asam folat dan vitamin B12. Tetapi, yang akan dibahas lebih lanjut mengenai kecukupan zat besi pada ibu hamil. Pada trimester 2 dan 3, ibu hamil membutuhkan tambahan 9 dan 13 mg zat besi dibandingkan dengan kebutuhan sebelum hamil. Biasanya dokter kandungan atau bidan akan memberikan suplementasi tambahan zat besi untuk ibu hamil.

Zat besi dalam bahan makanan terdapat dalam dua bentuk, yaitu besi heme dan besi non-heme. Besi heme terdapat dalam bahan makanan hewani, seperti daging sapi, ati ayam dan ati sapi, seafood, ikan, kerang, dan unggas. Sekitar 50 sampai 60% besi dalam daging sapi, ikan, dan unggas merupakan besi heme, dan sisanya merupakan besi non-heme. Sedangkan besi non-heme terutama terdapat pada bahan makanan nabati (kacang-kacangan, buah, sayur, biji-bijian, dan tahu), dan produk dairy (susu, keju, telur). Selain dari sumber alamiah tersebut, zat besi juga bisa didapatkan dari bahan makanan yang difortifikasi atau diperkaya seperti roti, pasta, dan sereal.

Besi heme lebih mudah diserap oleh saluran cerna dibandingkan dengan besi non-heme. Sedangkan untuk besi non-heme terdapat beberapa faktor yang dapat membantu penyerapannya (enhancer), seperti fruktosa (gula buah), asam askorbat (vitamin C), dan asam sitrat. Pahami pula bahwa penyerapan besi non-heme juga bisa dihambat oleh zat tanin yang ada pada teh dan kopi, oksalat pada bayam, cokelat dan teh, serta mineral lain seperti kalsium, zinc dan mangan. Bahkan minum kopi saat makan atau segera setelah makan dapat menurunkan penyerapan besi hingga 40% lho, Ayah dan Ibu!

Penyerapan besi non-heme (termasuk yang ada pada suplemen) membutuhkan kondisi yang asam pada lambung dan penyerapannya mudah dihambat oleh berbagai faktor, maka mengonsumsi suplemen besi sebaiknya dalam kondisi perut kosong dan tidak dikonsumsi bersama dengan suplemen lain. Selain itu saat makan, ada baiknya Ibu tidak mengonsumsi teh, minuman cokelat atau kopi agar penyerapan zat besi dapat optimal, dan gantilah dengan minuman tinggi vitamin C seperti jus buah ataupun buah potong!

Editor: drg Rizki Amalia

 

Sumber:

  1. Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting 2018-2024. Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan.
  2. Maternal Anemia and Pregnancy outcomes: a Systematic Review and Meta-analysis. Int J of Pediatrics 2016.
  3. The International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO) recommendation on adolscent, preconception, and maternal nutrition: “Think Nutrition First”. Int J of Gynecology and Obstetrics 2015.
  4. Essential Trace and Ultratrace Minerals. Advanced Nutrition and Human Metabolism, 6 edition. 2013.

 

 

Diet Bebas Gluten

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, M.Gizi. Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo Keluarga Kejora…

Saat ini kita sering sekali mendengar adanya makanan bebas gluten. Para influencer yang melakukan diet bebas gluten juga banyak yang memberikan testimonial bahwa tubuh menjadi terasa lebih sehat. Benarkah makanan bebas gluten itu lebih sehat? Apakah semua orang atau anak dapat mengikuti diet bebas gluten?

Apa itu gluten?

Gluten adalah protein yang ditemukan pada biji-bijian (grains) seperti gandum, rye, spelt dan barley. Protein utama pada gluten adalah glutenin dan gliadin. Gliadin inilah yang sering ditemukan pada masalah kesehatan.

Saat tepung terigu dicampurkan dengan air, protein gluten akan membentuk jaringan lengket dengan konsistensi seperti lem. Bentuk seperti lem tersebut yang membuat adonan elastis dan membuat roti mengembang ketika dipanggang dan juga enak dikunyah, memberikan tekstur empuk.

Bahan makanan bebas gluten yang berkembang dekade terakhir ini memiliki tingkat penjualan yang terus meroket. Penjualan makanan bebas gluten secara global diperkirakan mencapai $4,89 milyar pada tahun 2021, meningkat tajam dari $2,84 milyar pada tahun 2012. Peningkatan penjualan makanan bebas gluten ini terjadi bukan hanya karena banyaknya peningkatan konsumen yang memang membutuhkan diet bebas gluten, namun juga pada jumlah konsumen yang tidak membutuhkan diet bebas gluten, pembeli dengan alasan kesehatan, hingga trend yang juga meningkat.

Apakah semua orang dapat mengikuti diet bebas gluten?

Banyak sekali orang menerapkan diet bebas gluten untuk dirinya dan bahkan anaknya. Makanan bebas gluten memang aman untuk dimakan, tapi bukan berarti memiliki nilai kalori yang rendah. Banyak makanan dan snack bebas gluten memiliki kalori dan lemak yang tinggi. Selain itu, makanan ini seringkali juga tidak diperkaya dengan vitamin dan mineral. Sehingga, seseorang yang melakukan diet bebas gluten tanpa diawasi dokter gizi klinik tentunya akan meningkastkan risiko orang tersebut tidak mendapatkan beberapa zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Makanan bebas gluten seringkali rendah zat besi,kalsium, zinc, vitamin B12, folat dan juga serat.

Siapa saja yang membutuhkan diet bebas gluten?

Terdapat beberapa kondisi yang memerlukan diet bebas gluten yaitu:

  • Penyakit seliak (celiac disease)

Merupakan reaksi autoimun terhadap gluten. Diagnosis penyakit seliak dilakukan oleh dokter melalui serangkaian pemeriksaan mulai dari riwayat medis, pemeriksaan fisik hingga pemeriksaan darah atau biopsi. Anak-anak biasanya terdiagnosis penyakit seliak usia 6 bulan–2 tahun pada saat mulai MPASI mencoba makanan yang mengandung gluten. Gejala penyakit seliak tersering adalah diare, penurunan selera makan, sakit perut dan kembung, pertumbuhan terganggu, dan berat badan turun. Terapi satu-satunya untuk penyakit seliak adalah diet bebas gluten secara ketat.

  • Alergi gandum

Orang dengan alergi gandum memiliki reaksi imun terhadap protein di dalam gandum. Reaksi terhadap gandum tersebut dapat terjadi dalam beberapa menit hingga beberapa jam setelah mengonsumsi gandum. Reaksi yang dapat dialami antara lain: mual, nyeri perut, gatal, bengkak pada bibir dan lidah, sulit bernafas atau anafilaksis. Orang dengan alergi gandum tidak dapat makan bahan makanan dari gandum tapi masih bisa mengonsumsi gluten dari bahan makanan selain gandum. Anak-anak dengan alergi gandum dapat mengalami perbaikan setelah dewasa, tapi satu-satunya yang harus dilakukan adalah diet bebas gandum.

  • Non-celiac gluten sensitivity

NCGS bukan merupakan respon autoimun (seperti penyakit seliak) ataupun bukan respon imun (seperti alergi gandum). Saat ini belum terdapat tes untuk menegakkan diagnosis sensitivitas gluten, namun dapat dilakukan pemeriksaan biopsy dan tes alergi untuk menyingkirkan diagnosis penyakit seliak atau alergi gandum. Selain itu, jika gejala yang dialami anak mengalami perbaikan setelah menjalani diet bebas gluten seringkali diagnosis sensitivitas gluten ditegakkan.

Bahan Makanan yang mengandung gluten

  • Makanan berbasis gandum seperti dedak gandum, tepung terigu, spelt, durum, kamut dan semolina
  • Jelai / barley
  • Gandum hitam/ rye
  • Triticale
  • Malt
  • Ragi

Di bawah ini adalah beberapa makanan yang mengandung bahan-bahan yang mengandung gluten:

  • Semua roti berbasis gandum.
  • Semua pasta berbasis gandum.
  • Kecuali berlabel bebas gluten.
  • Makanan panggang. Kue, muffin, pizza, remah roti dan kue kering.
  • Makanan ringan. Permen, bar muesli, kerupuk, makanan siap saji, kacang panggang, keripik rasa dan popcorn, pretzel.
  • Kecap asin, saus teriyaki, saus hoisin, bumbu, saus salad.
  • Bir, minuman beralkohol rasa.
  • Makanan lainnya. Couscous, kaldu (kecuali berlabel bebas gluten).

Cara termudah untuk menghindari gluten adalah dengan mengonsumsi makanan yang mengandung bahan tunggal. Jika tidak, kita harus membaca label makanan dari sebagian besar makanan yang dibeli.

Oat sebenarnya merupakan bahan makanan bebas gluten secara alami. Namun, seringkali terkontaminasi dengan gluten, karena mungkin diproses di pabrik yang sama dengan makanan berbasis gandum.

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Sumber

  1. Transparency Market Research. Gluten-free Food Products Market
    to reach US$4.89 bn by 2021; Driven by Rising Number of Celiac Disease Patients across the globe: TMR. 2017.
  2. Elliott C. The Nutritional Quality of Gluten-Free Pro- ducts for Children. 2018;142(2):e20180525