Pola Makan Sehat Anak Usia Sekolah

oleh dr. Pratama Wicaksana, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

 

Halo, Ayah dan Ibu! Anak usia sekolah cenderung sudah dapat memilih makanan yang mereka sukai. Selain dari preferensi anak, pilihan makanan tersebut terkadang dipengaruhi oleh kawan dan tawaranan makanan jajanan di luar rumah. Pengaruh yang kurang baik dapat menyebabkan asupan nutrisi yang tidak seimbang, yang dalam waktu panjang dapat menyebabkan masalah malnutrisi, baik obesitas maupun stunting. Pada pembahasan kali ini, Kejora mengangkat tema pola makan sehat pada anak usia sekolah yang akan membahas lebih dalam mengenai pola makan sehat pada anak usia sekolah, fungsi nutrisi, dan makanan yang perlu dihindari.

Pola makan sehat merupakan perilaku mengatur jumlah dan jenis makanan sesuai kebutuhan kalori, makronutrien, dan mikronutrien. Anak usia sekolah memiliki aktivitas yang tinggi, keterpaparan yang tinggi terhadap sumber penyakit infeksi, serta memasuki masa pertumbuhan cepat pra-pubertas, sehingga kebutuhan terhadap zat gizi mulai meningkat secara bermakna. Kebutuhan kalori anak usia sekolah berkisar antara 1.200 hingga 1.800 kilokalori per hari. Asupan lemak dibatasi antara 25-35% dari kebutuhan kalori total dengan persentasi lemak trans atau lemak jenuh kurang dari 10%. Konsumsi protein hewani mencakup 70% dari total asupan protein. Konsumsi serat per hari sekitar 25-30 gram dan garam tidak melebihi 2 gram per hari.

American Heart Association menekankan asupan penting bagi anak usia di atas 2 tahun yaitu sayur dan buah, serelia utuh (whole grain), susu atau produk susu tanpa atau rendah lemak, kacang-kacangan, ikan, dan daging tanpa lemak. Beberapa asupan yang perlu dibatasi adalah jus buah (tidak lebih dari 240-360 mL per hari), produk serelia olahan (refined grain), makanan dan minuman dengan pemanis tambahan (gula kurang dari 50 gram per hari), garam, kulit unggas, serta saos berkalori tinggi (saos krim atau saos keju).

Daging memegang peranan penting untuk asupan anak karena selain menyediakan energi dan protein juga mengandung mikronutrien seperti besi, zink, vitamin A, vitamin B kompleks, dan iodin. Besi dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah; zink berperan dalam pertumbuhan sel; vitamin A penting untuk kesehatan mata serta kekebalan tubuh, dan iodin bersama besi berperan dalam optimalisasi jaringan saraf. Dianjurkan setidaknya anak usia sekolah dalam seminggu mengkonsumsi dua porsi ikan (140 gram) per minggu. Ikan salmon, kembung, lele, dan gabus mengandung asam lemak omega 3 yang cukup tinggi yang baik untuk perkembangan fungsi kognitif dan penglihatan, kesehatan jantung dan pembuluh darah, serta sistem kekebalan tubuh. Konsumsi susu rendah atau tanpa lemak 2-3 gelas per hari dapat membantu mencukupi kebutuhan kalsium dan vitamin D harian. Kudapan sehat seperti buah segar, sayur, keju, produk roti, dan yogurt diberikan 3-4 kali per hari dan mencakup ¼ total asupan harian. Suplementasi vitamin dan mineral tidak rutin diberikan pada anak dengan riwayat pertumbuhan yang baik.

Selain kebutuhan nutrisi anak, orang tua juga perlu memperhatikan hal-hal teknis dalam pemberian nutrisi. Makanan yang disiapkan perlu dimasak hingga matang untuk menghindari kuman yang terdapat pada bahan makanan yang masih mentah. Selain itu, orang tua juga sebaiknya menciptakan suasana makan tanpa distraksi dan membiasakan makan bersama dalam keluarga yang dapat membantu menciptakan perilaku dan kebiasaan makan yang sehat.

Asupan nutrisi dan perilaku yang makan sehat juga sebaiknya diikuti dengan aktivitas fisik yang cukup untuk menunjang kesehatan anak. Anak usia sekolah disarankan untuk melakukan aktivitas fisik selama 60 menit per hari. Penggunaan gawai oleh anak juga sebaiknya dibatasi agar anak tetap tertarik untuk bergerak aktif dalam keseharian.

Editor: Sunita

 

Sumber:

Duryea TK. Dietary recommendations for toddlers, preschool, and school-age children. Diunduh dari:https://www.uptodate.com/contents/dietary-recommendations-for-toddlers-preschool-and-school-age-children. Diakses pada 20 Maret 2021

Gidding SS, Dennison BA, Birch LL, Daniels SR, Gilman MW, Lichtenstein AH, et al. Dietary recommendations for children and adolescents: A guide for practitioners. Pediatrics. 2006;117:544-59

Cleghorn G. Role of red meat in the diet for children and adolescents. Nutr Diet. 2007;64:s143-6

P2PTM Kemenkes RI. Tips Pencegahan Obesitas untuk Anak & Remaja. Diunduh dari: http://www.p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/obesitas/page/37/tips-pencegahan-obesitas-untuk-anak-remaja. Diakses pada 10 April 2021

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nutrisi bagi Anak Penderita Kanker

oleh dr. Yohannessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinis

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora.

Tahukah Ayah dan Ibu Kejora, sekitar 8-60% anak-anak penderita kanker mengalami status gizi kurang/buruk (malnutrisi). Gizi kurang/buruk tersebut dapat menurunkan fungsi imunitas tubuh, menghambat dan memperlambat proses penyembuhan, serta mengurangi efektivitas obat antikanker. Oleh karena itu, asupan nutrisi perlu diperhatikan ya..

Selera makan yang kurang sering dialami anak-anak penderita kanker. Penyebabnya antara lain:

  • Efek samping dari kemoterapi atau radiasi
  • Nyeri saat makan
  • Perubahan dalam merasakan makanan
  • Mual, muntah, diare
  • Suasana rumah sakit
  • Depresi

Anak-anak penderita kanker dengan status gizi kurang/buruk memerlukan makanan yang tinggi kalori, juga protein, tak lupa lemak dan karbohidrat. Protein dibutuhkan untuk pertumbuhan dan membantu tubuh untuk dapat mendukung proses penyembuhan penyakit. Kalori yang cukup sesuai kebutuhan anak, diperlukan untuk mencegah penurunan berat badan, juga untuk mendukung pertumbuhan anak.

Berikut hal-hal yang dapat dilakukan bila anak mengalami keluhan akibat kanker/terapi antikanker:

  • Hilangnya/kurangnya selera makan
    • Berikan porsi kecil namun sering (termasuk pada jam snack)
    • Mencoba tempat dan suasana baru saat makan
    • Ajak anak dalam menyiapkan menu makanan
    • Berikan snack padat kalori dan tinggi protein
    • Upayakan tidak memaksa anak untuk makan. Hal ini dapat memperburuk selera makannya
    • Ciptakan suasana menyenangkan saat makan
  • Nyeri pada mulut
    • Berikan makanan lunak/lembut yang mudah dikunyah
    • Hindari makanan yang mengiritasi antara lain: buah/jus jeruk (asam), makanan pedas atau asin, makanan kering, kasar (contoh sayuran kering, kraker, roti panggang, keripik)
    • Sajikan makanan dalam potongan kecil
    • Sajikan makanan dalam keadaan dingin di suhu ruangan. Makanan panas dapat mengiritasi mulut dan kerongkongan
    • Gunakan blender untuk membuat makanan lebih lembut dan mudah dikunyah
    • Tambahkan saus (gravies) pada makanan agar lebih mudah ditelan
  • Perubahan rasa
    • Berikan makanan asin atau berbumbu
    • Gunakan bumbu penyedap pada makanan
    • Bumbui daging dengan perasan buah, saus teriyaki, atau
    • Sajikan makanan dengan penampilan menarik dan bau menggugah selera
  • Mulut kering
    • Berikan permen, popsicles, es batu, atau permen karet
    • Berikan makanan lembut yang mudah untuk ditelan
    • Jaga kelembaban bibir dengan memberikan lipbalm khusus anak
    • Berikan minum air dalam volume kecil dan sering
    • Berikan makanan berkuah
  • Mual dan muntah
    • Hindari makanan yang digoreng, berminyak, terlalu manis/pedas/panas/berbumbu
    • Berikan makanan dalam porsi kecil namun sering
    • Berikan minuman dalam volume kecil dan sering
  • Diare
    • Hindari makanan terlalu berminyak, berlemak atau gorengan
    • Batasi makanan yang dapat memproduksi gas seperti kacang-kacangan, kembang kol, brokoli, kubis, bawang Bombay
    • Berikan makanan porsi kecil namun sering
    • Berikan minuman sesering mungkin
    • Bila intoleransi terhadap laktosa, batasi susu dan produk susu

Selalu konsultasikan kepada dokter yang menangani terlebih dahulu dalam memberikan nutrisi bagi anak-anak penderita kanker.

Editor: dr. Sunita

Referensi:

  1. Gokcebay DG, et al. Pediatr Hematol Oncol 2015;32:423-32.
  2. Kadir RAA, et al. Arch Can Res 2017,5;1:1-9
  3. Paul CJ. J Clin Oncol 2014;32;13:1293-4
  4. standfordchildren.org

Tips Menyiasati Bingung Puting Pada Ibu Menyusui

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo ayah dan ibu Kejora

Setiap ibu menyusui memiliki tantangan masing-masing, salah satu diantara tantangan yang dihadapi adalah kondisi bayi yang menolak menyusu secara langsung setelah pemberian dot atau botol susu. Kondisi yang dikenal dengan bingung puting ini merupakan salah satu penyebab kecemasan pada ibu menyusui sehingga tingkat keberhasilan menyusui menjadi kurang maksimal. Lalu bagaimana menyiasati bingung puting pada bayi?

Pengertian Bingung Puting

Bingung puting adalah perilaku bayi yang kesulitan atau rewel menyusu pada payudara ibu setelah ada pemberian dot atau botol susu, sebelum proses menyusui antara ibu dan bayi terjalin dengan baik. Tidak semua kasus memiliki kesulitan berpindah dari menyusu langsung di payudara ibu dengan atau setelah minum dari botol atau dot. Namun beberapa di antara kasus yang terjadi pada bayi yang mengalami bingung puting memiliki kesulitan untuk kembali menyusu secara langsung pada payudara ibu

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari bingung puting:

  1. Beri waktu yang cukup sampai proses menyusui terjalin dengan baik dan terasa menjadi bagian dari keseharian ibu dan bayi
  2. Gendong bayi, meningkatkan kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayi
  3. Mencari posisi yang nyaman saat ibu menyusui bayi
  4. Beri pujian kepada buah hati anda apabila dapat menunjukkan keinginan untuk menyusu
  5. Kenali tanda-tanda bayi ingin menyusu, yakni menghisap pergelangan tangan atau kepalan jari, mencari sesuatu dengan mulutnya, terbangun dan rewel namun belum menangis.
  6. Apabila bayi perlu mendapat suplementasi ASI, ibu dapat mempertimbangkan alternatif metode pemberian ASI dengan sendok, cangkir, maupun alat suplementer
  7. Hubungi tenaga kesehatan atau konselor menyusui terlatih

Semoga artikel ini dapat meningkatkan semangat keluarga Kejora untuk terus menyusui dan memberikan ASI kepada buah hati anda tercinta.

Editor : drg. Annisa Sabhrina (@asabhrina)

 

Sumber:

https://www.llli.org/breastfeeding-info/nipple-confusion/

Bolehkah Ibu Hamil Mengonsumsi Pemanis Buatan?

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Hai Ayah dan Ibu Kejora!

Untuk mencegah kegemukan serta kejadian penyakit diabetes mellitus, maka pemanis buatan (artificial sweetener) sebagai pengganti gula tentunya semakin banyak digunakan termasuk oleh ibu hamil. Namun, apakah benar ini aman digunakan dalam kehamilan? Mari kita simak ulasan berikut ya.

Artificial sweetener merupakan pengganti gula sintetis, meskipun beberapa sweetener ini dibuat dari bahan-bahan alami, seperti stevia yang berasal dari tanaman dengan spesies Stevia rebaudiana ataupun sukralosa yang berasal dari gula.

Secara garis besar ada 2 jenis sweetener, yaitu nutritive sweetener (mengandung kalori) dan non-nutritive sweetener (tanpa kalori). Nutritive sweetener (termasuk gula pasir) disebut “empty calorie’ yang artinya mengandung kalori, tapi mengandung sangat sedikit vitamin dan mineral. Apabila dikonsumsi tanpa berlebihan, maka nutritive sweetener aman saja untuk digunakan. Akan tetapi, pada ibu hamil yang mengalami diabetes dalam kehamilan (diabetes gestasional), memiliki riwayat diabetes mellitus ataupun resistensi insulin sebelumnya, maka penggunaannya harus dibatasi. Nutritive sweetener termasuk berbagai macam gula seperti gula pasir, dekstrosa, madu, corn sugar, fruktosa dan maltosa. Selain itu, nutritive sweetener termasuk gula alkohol seperti sorbitol, xylitol, manitol, dan hydrogenated starch.

Non-nutritive sweetener tidak mengandung kalori, tapi memiliki rasa manis yang sangat kuat dibandingkan dengan gula pasir sehingga biasanya hanya ditambahkan sangat sedikit dalam makanan atau minuman. Berikut adalah sweetener yang dianggap aman oleh Food and Drug Association (FDA) untuk ibu hamil, yaitu stevia, acesulfam, aspartam, dan sukralosa. Aman di sini maksudnya adalah tidak menimbulkan risiko toksisitas, kelahiran prematur, ataupun masalah pada janin. Sedangkan sweetener yang dianggap TIDAK aman oleh FDA adalah sakarin dan siklamat. Meskipun sweetener tadi dianggap aman oleh FDA, namun penggunannya pun tidak boleh berlebihan, ya Ayah dan Ibu Kejora! Yang terbaik adalah tetap mengonsumsi air putih untuk mencukupi kebutuhan cairan ibu hamil

Editor: drg Rizki Amalia

 

Sumber:

Artificial sweetener and pregnancy. www.americanpregnancy.org

Sugar substitutes during pregnancy. Canadian Family Physician. 2014

Additional information about high intensity sweeteners permitted for use in food in the United States. FDA.

PERLUKAH SUPLEMEN MINYAK IKAN UNTUK ANAK?

oleh dr. Yohannessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinis

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora.

Ayah dan Ibu tentu sudah pernah mendengar tentang minyak ikan. Apakah Ibu/Ayah Kejora termasuk orangtua yang bertanya-tanya haruskah pemberian suplemen minyak ikan untuk anak? Sebelumnya, mari kita bahas apa kandungan dari minyak ikan.

Minyak ikan merupakan salah satu sumber dari EPA DHA yang termasuk dalam asam lemak omega-3 (asam lemak tak jenuh ganda rantai panjang/PUFA). Baik EPA maupun DHA, sangat penting bagi perkembangan otak janin, perkembangan motorik dan penglihatan bayi, fungsi kognitif, juga sistem imun anak. Ayah dan Ibu Kejora dapat mengetahui peran DHA dalam kehamilan dengan klik artikel ini ya.

Mengenai pemberian suplemen minyak ikan (sirup/kapsul lunak), telah ada kajian literatur ilmiah (systematic review) yang menyimpulkan bahwa tidak ada manfaat pemberian suplemen PUFA rantai panjang pada bayi cukup bulan juga bayi prematur, namun juga dikatakan tidak ada efek samping berbahaya.

Penelitian lain juga menyatakan bahwa agar PUFA rantai panjang memberikan manfaat kesehatan yang optimal, sebaiknya diberikan dalam bentuk alami (dari sumber bahan makanan).

Selain minyak ikan, sumber PUFA lainnya adalah ASI, fatty fish, kacang kedelai, minyak kanola, minyak flaxseed, daging sapi, unggas, telur. Ikan yang mengandung tinggi EPA DHA pun tak hanya salmon, namun ikan tuna, bawal, tenggiri, kembung, patin, lele, juga belut juga tak kalah besar kandungannya. Berikut rincian jumlah kandungan EPA dan DHA dalam ikan:

Bagi Ibu/Ayah Kejora yang ingin memberikan suplemen minyak ikan, selalu konsultasikan terlebih dahulu pada dokter spesialis ya.

 

Sumber:

  • Long chain polyunsaturated fatty acid supplementation in infants born at term. Cochrane Database of Systematic Reviews 2017.
  • Longchain polyunsaturated fatty acid supplementation in preterm infants. Cochrane Database of Systematic Reviews 2016.
  • Fat content and EPA and DHA levels of selected marine, freshwater fish and shellfish species from the east coast of Peninsular Malaysia. IFRJ 2012;19:815-21.

Konsumsi Probiotik untuk Ibu Hamil?

 

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Keluarga Kejora!

Setiap Ibu pasti ingin memberikan nutrisi terbaik bagi bayinya. Tentunya, nutrisi yang terbaik ini bukan hanya dimulai dari makanan pertama bayi, namun juga sudah dimulai sejak masa kehamilan. Dari berbagai jenis makanan dan suplemen yang dipasarkan dengan manfaat kesehatan, probiotik sudah banyak diketahui bermanfaat untuk kesehatan saluran cerna. Makanan dan minuman yang mengandung probiotik semakin banyak dapat kita temukan di berbagai toko, supermarket, atau tempat perbelanjaan daring. Makanan hasil fermentasi seperti tempe, kimchi, kombucha, yogurt, kefir sudah semakin banyak diproduksi oleh home-industry maupun pabrik dan mudah didapatkan.

Nah, bagaimana dengan manfaat konsumsi probiotik selama kehamilan? Apakah probiotik yang berupa bakteri ini aman untuk dikonsumsi selama kehamilan?

Berdasarkan National Library of Medicine (NLM) dan National Institute of Health (NIH), probiotik mungkin aman selama kehamilan. Probiotik tidak bisa dikatakan aman secara pasti karena terdapat banyak sekali variasi probiotik dan penelitan yang masih terbatas. Secara umum, probiotik dikatakan aman untuk dikonsumsi karena suplementasi probiotik ini jarang diabsorpsi. Kemungkinan terjadinya infeksi dari probiotik ini dikatakan sangat kecil,  sekitar 1 banding 1 juta orang (kemungkinan infeksi Lactobacillus), dan 1 banding 5.6 juta orang yang mengonsumsi probiotik. Konsumsi probiotik juga tidak terbukti menyebabkan keguguran, kelainan janin, berat badan janin rendah atau dibutuhkannya operasi Caesar.

Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang secara alami terdapat sepanjang saluran cerna kita, dengan mayoritas berupa bakteria dan ragi. Berbagai penelitian menemukan bahwa jumlah mikroorganisme yang terdapat di seluruh tubuh kita sepuluh kali lipat lebih banyak daripada jumlah sel tubuh kita. Apa saja fungsi probiotik ini? Probiotik dapat membantu menghentikan diare akibat infeksi maupun antibiotik, mencegah keluhan sembelit, membantu mengatasi irritable bowel syndrome dan inflammatory bowel disease. Selama kehamilan, mikroorganisme yang mempengaruhi kesehatan bayi bukan hanya ditentukan oleh probiotik dalam saluran cerna ibu, namun juga pada probiotik yang berasal dari kulit, vagina dan ASI.  Walaupun saat ini mekanisme transfer probiotik dari ibu ke bayi ini masih diperdebatkan (apakah terjadi selama janin masih berada dalam kandungan atau setelah bayi dilahirkan), namun periode kehamilan adalah saat pertama probiotik ibu dapat mempengaruhi imunitas janin.

Mikroorganisme dari Ibu akan diberikan kepada bayi melalui proses kelahiran, air susu ibu (ASI), dan nantinya dari jenis makanan yang diberikan selama tumbuh kembang.

Probiotik yang berada dalam saluran cerna berhubungan dengan sistem imun. Probiotik bersifat anti-inflamasi atau anti radang dan mendukung sistem imun dalam kehamilan. Suplementasi probiotik selama kehamilan juga meningkatkan sel-sel imun dalam ASI, sehingga sel imun ini akan diturunkan kepada bayi, dan membentuk koloni bakteri baik dalam sistem pencernaan bayi tersebut. Dalam sebuah penelitian awal, probiotik yang dikonsumsi ibu hamil berhubungan dengan penurunan risiko pre-eklampsia dan kelahiran bayi prematur.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa probiotik mungkin aman selama kehamilan dan dapat dikonsumsi karena memberikan manfaat yang banyak sekali bagi ibu hamil dan bayi selama di masa kandungan.

Semoga artikel ini bermanfaat, ya, Keluarga Kejora. Salam sehat selalu!

 

Pilihan MP-ASI Pertama Untuk Si Kecil

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!
Ketika si Kecil sudah memasuki usia 6 bulan, berarti saatnya makan ya! Kita semua pasti sudah paham bahwa pemberian MP-ASI memang harus dimulai saat si Kecil masuk usia 6 bulan dan dapat diberikan lebih cepat pada kondisi khusus dan harus sudah atas pertimbangan dari dokter.

Ayah dan Ibu, ketika akan memulai MP-ASI seringkali kita khawatir apa yang kira-kira bisa diterima oleh si Kecil. Kalau dulu seringkali kita mendengar istilah menu MP-ASI tunggal, yang artinya bayi hanya diberikan satu jenis makanan terus-menerus selama sekitar 2 minggu. Sementara sebenarnya hal ini sudah tidak direkomendasikan lagi. Justru WHO menyarankan menu campuran sejak usia 6 bulan yang terdiri beraneka ragam sumber makanan agar kebutuhan nutrisi si Kecil terpenuhi, terutama zat besi yang memang kadarnya dalam ASI sudah jauh berkurang sehingga harus dipenuhi dari MP-ASI.

Pada tahap awal ini, biasanya si Kecil diberikan makanan lumat. Makanan lumat di sini adalah makanan yang diblender halus atau disaring sehingga tekstur makanan menjadi lumat dan kental. Di usia 6-8 bulan, biasanya si Kecil diberikan 2x makan utama dan 1x selingan. Untuk dapat menyiapkan makanan lumat ini, maka ayah dan ibu memerlukan peralatan sederhana berikut: panci dan kukusan, saringan, mangkok serta sendok. Nah, untuk menghaluskan daging biasanya akan sulit kalau hanya menghaluskan dengan saringan, maka ada baiknya ibu juga memiliki blender atau bisa juga menggunakan food grinder agar bayi 6 bulan tetap sudah bisa mengonsumsi daging.

Berikut ini salah satu contoh menu MP-ASI campuran yang bisa diberikan mulai usia 6 bulan, yaitu: bubur hati ayam brokoli.


Bahan-bahan yang diperlukan:

  • beras 30g
  • hati ayam 30g
  • brokoli secukupnya
  • unsalted butter 5g
  • daun jeruk, salam, dan serai secukupnya./li>

    Cara membuat:

  • Rebus beras dengan air secukupnya
  • Tumis bawang merah cincang dengan unsalted butter, tambahkan daun jeruk, daun salam, dan serai masing-masing 1 lembar. Baru masukkan hati ayam yang sudah dipotong-potong. Tambahkan air sedikit. Masak hati hingga matang betul. Ingat bahwa bahan makanan sumber protein hewani harus benar-benar matang ya. Masukkan brokoli yang sudah dipotong-potong secukupnya saja, tidak perlu terlalu banyak.
  • Setelah semuanya matang, haluskan dengan blender atau bisa juga gunakan saringan

Resep ini untuk 2 kali makan ya! Ayah dan Ibu dapat menyimpan MP-ASI dalam wadah tertutup rapat dan letakkan di kulkas bawah. Akan lebih mudah bila ibu menyimpan MP-ASI dalam wadah kaca sehingga saat menghangatkan cukup dengan merendam MP-ASI dalam wadah tersebut dalam panci berisi air hangat dan siap untuk diberikan pada si Kecil.

Ayah dan ibu, tentunya konsistensi MP-ASI sesuaikan dengan kemampuan si Kecil ya. Setelah usia 8 bulan tentunya sudah tidak perlu bubur lumat lagi. Naikkan konsistensinya secara bertahap. Nah, untuk sumber protein hewani bisa diganti dengan ikan dori/lele/gurame/salmon atau ayam atau daging sapi.
Selamat mencoba!

Editor: drg Rizki Amalia

Sumber:

  • WHO. Guiding principles for complementary feeding of the breastfed child.2001.
  • IDAI. Rekomendasi Praktek Pemberian Makan Berbasis Bukti pada Bayi dan Batita di Indonesia untuk Mencegah Malnutrisi. 2015

Boleh Tidak Sih Jus Buah untuk Bayi/Anak?

oleh dr. Yohannessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinis

Halo, Ayah dan Ibu Sehat Kejora!

Apakah Ibu/Ayah Kejora pernah bertanya mengenai perlu tidaknya pemberian jus buah pada bayi dan anak? Tak jarang orangtua berpendapat bahwa jus buah pasti memiliki kandungan nutrisi dan bermanfaat bagi bayi dan anak, namun ternyata harus diketahui rekomendasi dan dicermati label komposisi nutrisi pada jus buah kemasan.

Sebelum lanjut membaca, perlu diketahui terlebih dahulu definisi dari jus buah (kemasan). Menurut US FDA, label kemasan ‘jus buah’ artinya produk tersebut mengandung 100% jus buah. Sedangkan, label tertulis ‘konsentrat’ buah artinya produk tersebut berasal dari konsentrat buah. Produk minuman kemasan berlabel ‘minuman’ artinya memiliki kandungan jus 10–99% serta pemanis tambahan, perisa, maupun fortifikasi misalnya vitamin C atau kalsium.

Di Indonesia, BPOM telah mengatur penamaan produk, juga label kandungan nutrisi. Terdapat 3 kategori minuman buah yaitu sari buah, minuman sari buah, dan minuman rasa buah. Sari buah mengandung minimal 80% jus buah asli. Sedangkan minuman sari buah mengandung 10–35% jus buah. Minuman rasa buah hanya memiliki kurang dari 10% jus buah asli; produk tersebut hanya berisi air dan gula atau pemanis.

Berikut rekomendasi dari AAP mengenai jus buah:

  1. Jus tidak direkomendasikan pada bayi di bawah usia 12 bulan, kecuali ada indikasi medis dari dokter spesialis. Jus buah tidak memberikan manfaat nutrisi bagi bayi di bawah usia 12 bulan. Kebutuhan cairan bagi bayi tercukupi dari ASI atau susu formula (sesuai indikasi medis). Hal di atas berlaku juga pada buah yang diperas hanya sarinya saja; misal air perasan jeruk saja. Air perasan jeruk dapat diberikan bila bersamaan dengan buah lain dengan tekstur sesuai usia, misal dicampur dengan pure alpukat bagi bayi 7 bulan.
  2. Buah dapat diberikan sebagai selingan dengan tekstur sesuai usia bayi dan bersifat sebagai mengenalkan buah pada bayi.
  3. Pemberian jus pada anak usia 1–3 tahun (balita) dibatasi maksimal 118 mL/hari (4 ounces/day)
  4. Pemberian jus pada anak 4–6 tahun dibatasi maksimal 118–177 mL/hari (4–6 ounces/day)
  5. Pemberian jus pada anak 7–18 tahun dibatasi maksimal 236 mL/hari (1 cup/day)
  6. Pemberian jus pada balita tidak direkomendasikan dalam wadah botol atau wadah lain yang mudah dibawa sehingga mencegah balita minum jus berlebihan sehari-hari. Juga tidak direkomendasikan pemberian jus kepada balita saat jam menjelang tidur.
  7. Anak-anak diupayakan untuk mengonsumsi buah potong untuk memenuhi kebutuhan asupan buah dan serat per hari
  8. Pemberian produk jus yang tidak dipasteurisasi tidak dianjurkan bagi bayi dan anak.

Jus buah juga meningkatkan risiko terjadinya karies gigi. Dari penelitian diketahui bahwa setelah 24 jam, pH jus buah berubah menjadi lebih asam dari pH awal. Jus nanas, anggur, dan tebu mengandung elemen pemicu timbulnya karies gigi antara lain selenium, besi, dan mangan.

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber: American Academy of Pediatrics (AAP) 2017, Community Dent Oral Epidemiol 2010;38:324-32.

Susu Sapi A2

 

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Salam Sehat, Keluarga Kejora!

Susu merupakan salah satu sumber protein hewani yang populer. Sumber susu dan produk susu termasuk sapi, domba, unta, kambing, dan lainnya. Baru-baru ini, susu sapi jenis baru telah muncul di pasaran. Produk ini, yang disebut susu sapi A2, telah menarik perhatian konsumen dan ilmuwan. Apakah Moms pernah mendengar tentang susu sapi A2 ? Apakah perbedaannya dengan susu sapi biasa? Berikut infonya.

Susu sapi mengandung 8 gram protein dalam setiap 250 ml susu. Terdapat dua protein utama dalam susu yaitu kasein dan whey. Kasein menyumbang sekitar 80% protein dalam susu. Kasein juga memiliki beberapa variasi, salah satunya disebut beta-kasein. Beta-kasein membentuk sekitar 30% protein dalam susu sapi dengan varian A1 dan A2.

Jaman dulu, sapi menghasilkan susu yang hanya mengandung bentuk A2 beta-kasein. Saat ini, sebagian besar susu yang tersedia di toko bahan makanan mengandung protein A1.

Protein A1 dan A2 mempengaruhi tubuh secara berbeda. Ketika protein A1 dicerna dalam usus kecil, ia menghasilkan peptida yang disebut beta-casomorphin-7 (BCM-7). Usus menyerap BCM-7, dan kemudian masuk ke dalam darah. Peneliti mengaitkan BCM-7 dengan ketidaknyamanan perut dan gejala yang mirip dengan yang dialami oleh orang dengan intoleransi laktosa. Struktur protein A2 lebih serupa dengan protein dalam ASI manusia, begitu pula susu dari kambing, domba, dan kerbau.

Pada tahun 2000, seorang ilmuwan di Selandia Baru mendirikan Perusahaan Susu A2. Perusahaan ini menyediakan susu dari sapi yang hanya menghasilkan protein A2. Perusahaan Susu A2 menguji DNA sapi mereka dengan menggunakan sampel rambut, untuk memastikan hewan tersebut hanya menghasilkan susu yang mengandung protein A2. Perusahaan juga menguji susu setelah produksi untuk memastikan susu tidak mengandung protein A1.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa BCM-7 mungkin berhubungan dengan diabetes tipe 1, penyakit jantung, kematian bayi, autisme, dan masalah pencernaan. Meskipun dapat mempengaruhi sistem pencernaan, masih belum jelas sejauh mana BCM-7 diserap secara utuh ke dalam darah.

Diabetes tipe 1 biasanya didiagnosis pada anak-anak dan ditandai dengan kekurangan insulin. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa minum susu A1 selama masa kanak-kanak meningkatkan risiko diabetes tipe 1. Namun, penelitian ini bersifat observasional. Mereka tidak dapat membuktikan bahwa A1 beta-casein menyebabkan diabetes tipe 1, hanya mereka yang mengonsumsi susu A1,  lebih banyak yang memiliki risiko lebih tinggi untuk terdiagnosis diabetes tipe 1.

Pada kasus lain yaitu Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) yang merupakan penyebab kematian paling umum pada bayi di bawah 12 bulan. SIDS adalah kematian tak terduga pada bayi tanpa penyebab yang jelas. Beberapa peneliti menduga bahwa BCM-7 mungkin terlibat dalam beberapa kasus SIDS. Satu studi menemukan kadar BCM-7 yang tinggi dalam darah bayi yang berhenti bernapas untuk sementara saat tidur. Kondisi ini, yang dikenal sebagai sleep apnea, dikaitkan dengan peningkatan risiko SIDS. Hasil ini menunjukkan bahwa beberapa anak mungkin sensitif terhadap kasein beta A1 yang ditemukan dalam susu sapi. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan sebelum kesimpulan yang pasti dapat dicapai.

Jumlah laktosa dalam susu A1 dan A2 sama. Namun, sebagian orang merasa bahwa susu A2 tidak menyebabkan kembung dibandingkan susu A1. Penelitian menunjukkan bahwa komponen susu selain laktosa dapat menyebabkan ketidaknyamanan pencernaan. Sebuah penelitian pada 41 orang menunjukkan bahwa susu A1 menyebabkan feses lebih lembek daripada susu A2 pada beberapa individu, sementara penelitian lain pada orang dewasa Cina menemukan bahwa susu A2 menyebabkan ketidaknyamanan pencernaan yang jauh lebih sedikit setelah makan.

Perdebatan mengenai efek kesehatan dari susu A1 dan A2 masih berlangsung. Penelitian telah menunjukkan bahwa A1 beta-kasein menyebabkan gejala pencernaan yang tidak nyaman pada individu tertentu. Tetapi bukti masih terlalu lemah untuk menarik kesimpulan tentang dugaan hubungan antara A1 beta-casein dan kondisi lain. Namun jika Moms tertarik untuk mencobanya, susu A2 bisa menjadi alternatiif,  jika mengalami kesulitan mencerna susu biasa.

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Mengapa Anak Harus Makan Protein Hewani?

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Ayah dan Ibu Kejora, pernahkah terpikir apakah protein hewani seperti ikan, ayam daging, makanan laut, dan telur dapat digantikan oleh protein nabati saja? Sebelum kita memutuskan hal tersebut, mari simak penjelasan berikut ini ya!

Dalam memenuhi kebutuhan protein pada anak, maka sebaiknya kita tidak hanya berpikir bagaimana mencukupi jumlahnya saja, tetapi lebih rinci lagi kita harus juga mempertimbangkan kualitas protein agar anak terhindar dari malnutrisi. Kualitas protein ini mencakup ketersediaan serta kemudahan dicernanya asam amino setelah makanan dikonsumsi, dicerna, hingga diserap oleh tubuh kita. Ingat ya Ibu dan Ayah, asam amino merupakan zat terkecil yang menyusun protein. Bisa kita andaikan bahwa protein seperti tembok rumah, dan asam amino merupakan batu bata serta semen yang menyusun protein tersebut.

Nah, bahan makanan sumber protein yang berasal dari nabati memiliki kualitas protein serta kemampuan cerna yang lebih rendah daripada protein hewani, serta mengandung lebih sedikit mineral seperti seng, zat besi, dan kalsium. Sebaliknya protein dari sumber hewani memiliki kualitas protein lebih baik serta mengandung vitamin B12, besi heme, vitamin A, seng, dan kalsium. Dalam suatu penelitian pada anak usia 12-36 bulan didapatkan bahwa konsumsi protein hewani berkaitan dengan peningkatan tinggi badan anak yang lebih baik sehingga berpotensi dalam menurunkan angka kejadian stunting.

Selanjutnya apakah protein nabati menjadi tidak penting? Nah, protein nabati seperti misalnya tahu, tempe, kacang hijau, kacang merah, dan kedelai tentu saja tetap penting diberikan karena selain melengkapi kebutuhan protein, bahan makanan tersebut juga mengandung serat yang sangat baik untuk kesehatan pencernaan anak serta mengandung berbagai fitonutrien yang berperan dalam pencegahan penyakit.

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber:

  1. Kaimila Y, Divala O, Agapova SE, et.al. Consumption of Animal-Source Protein is Associated with Improved Height-for-Age Z scores in Rural Malawian Children Aged 12-36 Months, Nutrients 2019.
  2. Mahan LK, Escott-Stump S. Krause’s Food & Nutrition Therapy. 2008.