Tips Menyiasati Bingung Puting Pada Ibu Menyusui

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo ayah dan ibu Kejora

Setiap ibu menyusui memiliki tantangan masing-masing, salah satu diantara tantangan yang dihadapi adalah kondisi bayi yang menolak menyusu secara langsung setelah pemberian dot atau botol susu. Kondisi yang dikenal dengan bingung puting ini merupakan salah satu penyebab kecemasan pada ibu menyusui sehingga tingkat keberhasilan menyusui menjadi kurang maksimal. Lalu bagaimana menyiasati bingung puting pada bayi?

Pengertian Bingung Puting

Bingung puting adalah perilaku bayi yang kesulitan atau rewel menyusu pada payudara ibu setelah ada pemberian dot atau botol susu, sebelum proses menyusui antara ibu dan bayi terjalin dengan baik. Tidak semua kasus memiliki kesulitan berpindah dari menyusu langsung di payudara ibu dengan atau setelah minum dari botol atau dot. Namun beberapa di antara kasus yang terjadi pada bayi yang mengalami bingung puting memiliki kesulitan untuk kembali menyusu secara langsung pada payudara ibu

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari bingung puting:

  1. Beri waktu yang cukup sampai proses menyusui terjalin dengan baik dan terasa menjadi bagian dari keseharian ibu dan bayi
  2. Gendong bayi, meningkatkan kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayi
  3. Mencari posisi yang nyaman saat ibu menyusui bayi
  4. Beri pujian kepada buah hati anda apabila dapat menunjukkan keinginan untuk menyusu
  5. Kenali tanda-tanda bayi ingin menyusu, yakni menghisap pergelangan tangan atau kepalan jari, mencari sesuatu dengan mulutnya, terbangun dan rewel namun belum menangis.
  6. Apabila bayi perlu mendapat suplementasi ASI, ibu dapat mempertimbangkan alternatif metode pemberian ASI dengan sendok, cangkir, maupun alat suplementer
  7. Hubungi tenaga kesehatan atau konselor menyusui terlatih

Semoga artikel ini dapat meningkatkan semangat keluarga Kejora untuk terus menyusui dan memberikan ASI kepada buah hati anda tercinta.

Editor : drg. Annisa Sabhrina (@asabhrina)

 

Sumber:

https://www.llli.org/breastfeeding-info/nipple-confusion/

Bolehkah Ibu Hamil Mengonsumsi Pemanis Buatan?

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Hai Ayah dan Ibu Kejora!

Untuk mencegah kegemukan serta kejadian penyakit diabetes mellitus, maka pemanis buatan (artificial sweetener) sebagai pengganti gula tentunya semakin banyak digunakan termasuk oleh ibu hamil. Namun, apakah benar ini aman digunakan dalam kehamilan? Mari kita simak ulasan berikut ya.

Artificial sweetener merupakan pengganti gula sintetis, meskipun beberapa sweetener ini dibuat dari bahan-bahan alami, seperti stevia yang berasal dari tanaman dengan spesies Stevia rebaudiana ataupun sukralosa yang berasal dari gula.

Secara garis besar ada 2 jenis sweetener, yaitu nutritive sweetener (mengandung kalori) dan non-nutritive sweetener (tanpa kalori). Nutritive sweetener (termasuk gula pasir) disebut “empty calorie’ yang artinya mengandung kalori, tapi mengandung sangat sedikit vitamin dan mineral. Apabila dikonsumsi tanpa berlebihan, maka nutritive sweetener aman saja untuk digunakan. Akan tetapi, pada ibu hamil yang mengalami diabetes dalam kehamilan (diabetes gestasional), memiliki riwayat diabetes mellitus ataupun resistensi insulin sebelumnya, maka penggunaannya harus dibatasi. Nutritive sweetener termasuk berbagai macam gula seperti gula pasir, dekstrosa, madu, corn sugar, fruktosa dan maltosa. Selain itu, nutritive sweetener termasuk gula alkohol seperti sorbitol, xylitol, manitol, dan hydrogenated starch.

Non-nutritive sweetener tidak mengandung kalori, tapi memiliki rasa manis yang sangat kuat dibandingkan dengan gula pasir sehingga biasanya hanya ditambahkan sangat sedikit dalam makanan atau minuman. Berikut adalah sweetener yang dianggap aman oleh Food and Drug Association (FDA) untuk ibu hamil, yaitu stevia, acesulfam, aspartam, dan sukralosa. Aman di sini maksudnya adalah tidak menimbulkan risiko toksisitas, kelahiran prematur, ataupun masalah pada janin. Sedangkan sweetener yang dianggap TIDAK aman oleh FDA adalah sakarin dan siklamat. Meskipun sweetener tadi dianggap aman oleh FDA, namun penggunannya pun tidak boleh berlebihan, ya Ayah dan Ibu Kejora! Yang terbaik adalah tetap mengonsumsi air putih untuk mencukupi kebutuhan cairan ibu hamil

Editor: drg Rizki Amalia

 

Sumber:

Artificial sweetener and pregnancy. www.americanpregnancy.org

Sugar substitutes during pregnancy. Canadian Family Physician. 2014

Additional information about high intensity sweeteners permitted for use in food in the United States. FDA.

PERLUKAH SUPLEMEN MINYAK IKAN UNTUK ANAK?

oleh dr. Yohannessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinis

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora.

Ayah dan Ibu tentu sudah pernah mendengar tentang minyak ikan. Apakah Ibu/Ayah Kejora termasuk orangtua yang bertanya-tanya haruskah pemberian suplemen minyak ikan untuk anak? Sebelumnya, mari kita bahas apa kandungan dari minyak ikan.

Minyak ikan merupakan salah satu sumber dari EPA DHA yang termasuk dalam asam lemak omega-3 (asam lemak tak jenuh ganda rantai panjang/PUFA). Baik EPA maupun DHA, sangat penting bagi perkembangan otak janin, perkembangan motorik dan penglihatan bayi, fungsi kognitif, juga sistem imun anak. Ayah dan Ibu Kejora dapat mengetahui peran DHA dalam kehamilan dengan klik artikel ini ya.

Mengenai pemberian suplemen minyak ikan (sirup/kapsul lunak), telah ada kajian literatur ilmiah (systematic review) yang menyimpulkan bahwa tidak ada manfaat pemberian suplemen PUFA rantai panjang pada bayi cukup bulan juga bayi prematur, namun juga dikatakan tidak ada efek samping berbahaya.

Penelitian lain juga menyatakan bahwa agar PUFA rantai panjang memberikan manfaat kesehatan yang optimal, sebaiknya diberikan dalam bentuk alami (dari sumber bahan makanan).

Selain minyak ikan, sumber PUFA lainnya adalah ASI, fatty fish, kacang kedelai, minyak kanola, minyak flaxseed, daging sapi, unggas, telur. Ikan yang mengandung tinggi EPA DHA pun tak hanya salmon, namun ikan tuna, bawal, tenggiri, kembung, patin, lele, juga belut juga tak kalah besar kandungannya. Berikut rincian jumlah kandungan EPA dan DHA dalam ikan:

Bagi Ibu/Ayah Kejora yang ingin memberikan suplemen minyak ikan, selalu konsultasikan terlebih dahulu pada dokter spesialis ya.

 

Sumber:

  • Long chain polyunsaturated fatty acid supplementation in infants born at term. Cochrane Database of Systematic Reviews 2017.
  • Longchain polyunsaturated fatty acid supplementation in preterm infants. Cochrane Database of Systematic Reviews 2016.
  • Fat content and EPA and DHA levels of selected marine, freshwater fish and shellfish species from the east coast of Peninsular Malaysia. IFRJ 2012;19:815-21.

Konsumsi Probiotik untuk Ibu Hamil?

 

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Keluarga Kejora!

Setiap Ibu pasti ingin memberikan nutrisi terbaik bagi bayinya. Tentunya, nutrisi yang terbaik ini bukan hanya dimulai dari makanan pertama bayi, namun juga sudah dimulai sejak masa kehamilan. Dari berbagai jenis makanan dan suplemen yang dipasarkan dengan manfaat kesehatan, probiotik sudah banyak diketahui bermanfaat untuk kesehatan saluran cerna. Makanan dan minuman yang mengandung probiotik semakin banyak dapat kita temukan di berbagai toko, supermarket, atau tempat perbelanjaan daring. Makanan hasil fermentasi seperti tempe, kimchi, kombucha, yogurt, kefir sudah semakin banyak diproduksi oleh home-industry maupun pabrik dan mudah didapatkan.

Nah, bagaimana dengan manfaat konsumsi probiotik selama kehamilan? Apakah probiotik yang berupa bakteri ini aman untuk dikonsumsi selama kehamilan?

Berdasarkan National Library of Medicine (NLM) dan National Institute of Health (NIH), probiotik mungkin aman selama kehamilan. Probiotik tidak bisa dikatakan aman secara pasti karena terdapat banyak sekali variasi probiotik dan penelitan yang masih terbatas. Secara umum, probiotik dikatakan aman untuk dikonsumsi karena suplementasi probiotik ini jarang diabsorpsi. Kemungkinan terjadinya infeksi dari probiotik ini dikatakan sangat kecil,  sekitar 1 banding 1 juta orang (kemungkinan infeksi Lactobacillus), dan 1 banding 5.6 juta orang yang mengonsumsi probiotik. Konsumsi probiotik juga tidak terbukti menyebabkan keguguran, kelainan janin, berat badan janin rendah atau dibutuhkannya operasi Caesar.

Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang secara alami terdapat sepanjang saluran cerna kita, dengan mayoritas berupa bakteria dan ragi. Berbagai penelitian menemukan bahwa jumlah mikroorganisme yang terdapat di seluruh tubuh kita sepuluh kali lipat lebih banyak daripada jumlah sel tubuh kita. Apa saja fungsi probiotik ini? Probiotik dapat membantu menghentikan diare akibat infeksi maupun antibiotik, mencegah keluhan sembelit, membantu mengatasi irritable bowel syndrome dan inflammatory bowel disease. Selama kehamilan, mikroorganisme yang mempengaruhi kesehatan bayi bukan hanya ditentukan oleh probiotik dalam saluran cerna ibu, namun juga pada probiotik yang berasal dari kulit, vagina dan ASI.  Walaupun saat ini mekanisme transfer probiotik dari ibu ke bayi ini masih diperdebatkan (apakah terjadi selama janin masih berada dalam kandungan atau setelah bayi dilahirkan), namun periode kehamilan adalah saat pertama probiotik ibu dapat mempengaruhi imunitas janin.

Mikroorganisme dari Ibu akan diberikan kepada bayi melalui proses kelahiran, air susu ibu (ASI), dan nantinya dari jenis makanan yang diberikan selama tumbuh kembang.

Probiotik yang berada dalam saluran cerna berhubungan dengan sistem imun. Probiotik bersifat anti-inflamasi atau anti radang dan mendukung sistem imun dalam kehamilan. Suplementasi probiotik selama kehamilan juga meningkatkan sel-sel imun dalam ASI, sehingga sel imun ini akan diturunkan kepada bayi, dan membentuk koloni bakteri baik dalam sistem pencernaan bayi tersebut. Dalam sebuah penelitian awal, probiotik yang dikonsumsi ibu hamil berhubungan dengan penurunan risiko pre-eklampsia dan kelahiran bayi prematur.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa probiotik mungkin aman selama kehamilan dan dapat dikonsumsi karena memberikan manfaat yang banyak sekali bagi ibu hamil dan bayi selama di masa kandungan.

Semoga artikel ini bermanfaat, ya, Keluarga Kejora. Salam sehat selalu!

 

Pilihan MP-ASI Pertama Untuk Si Kecil

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!
Ketika si Kecil sudah memasuki usia 6 bulan, berarti saatnya makan ya! Kita semua pasti sudah paham bahwa pemberian MP-ASI memang harus dimulai saat si Kecil masuk usia 6 bulan dan dapat diberikan lebih cepat pada kondisi khusus dan harus sudah atas pertimbangan dari dokter.

Ayah dan Ibu, ketika akan memulai MP-ASI seringkali kita khawatir apa yang kira-kira bisa diterima oleh si Kecil. Kalau dulu seringkali kita mendengar istilah menu MP-ASI tunggal, yang artinya bayi hanya diberikan satu jenis makanan terus-menerus selama sekitar 2 minggu. Sementara sebenarnya hal ini sudah tidak direkomendasikan lagi. Justru WHO menyarankan menu campuran sejak usia 6 bulan yang terdiri beraneka ragam sumber makanan agar kebutuhan nutrisi si Kecil terpenuhi, terutama zat besi yang memang kadarnya dalam ASI sudah jauh berkurang sehingga harus dipenuhi dari MP-ASI.

Pada tahap awal ini, biasanya si Kecil diberikan makanan lumat. Makanan lumat di sini adalah makanan yang diblender halus atau disaring sehingga tekstur makanan menjadi lumat dan kental. Di usia 6-8 bulan, biasanya si Kecil diberikan 2x makan utama dan 1x selingan. Untuk dapat menyiapkan makanan lumat ini, maka ayah dan ibu memerlukan peralatan sederhana berikut: panci dan kukusan, saringan, mangkok serta sendok. Nah, untuk menghaluskan daging biasanya akan sulit kalau hanya menghaluskan dengan saringan, maka ada baiknya ibu juga memiliki blender atau bisa juga menggunakan food grinder agar bayi 6 bulan tetap sudah bisa mengonsumsi daging.

Berikut ini salah satu contoh menu MP-ASI campuran yang bisa diberikan mulai usia 6 bulan, yaitu: bubur hati ayam brokoli.


Bahan-bahan yang diperlukan:

  • beras 30g
  • hati ayam 30g
  • brokoli secukupnya
  • unsalted butter 5g
  • daun jeruk, salam, dan serai secukupnya./li>

    Cara membuat:

  • Rebus beras dengan air secukupnya
  • Tumis bawang merah cincang dengan unsalted butter, tambahkan daun jeruk, daun salam, dan serai masing-masing 1 lembar. Baru masukkan hati ayam yang sudah dipotong-potong. Tambahkan air sedikit. Masak hati hingga matang betul. Ingat bahwa bahan makanan sumber protein hewani harus benar-benar matang ya. Masukkan brokoli yang sudah dipotong-potong secukupnya saja, tidak perlu terlalu banyak.
  • Setelah semuanya matang, haluskan dengan blender atau bisa juga gunakan saringan

Resep ini untuk 2 kali makan ya! Ayah dan Ibu dapat menyimpan MP-ASI dalam wadah tertutup rapat dan letakkan di kulkas bawah. Akan lebih mudah bila ibu menyimpan MP-ASI dalam wadah kaca sehingga saat menghangatkan cukup dengan merendam MP-ASI dalam wadah tersebut dalam panci berisi air hangat dan siap untuk diberikan pada si Kecil.

Ayah dan ibu, tentunya konsistensi MP-ASI sesuaikan dengan kemampuan si Kecil ya. Setelah usia 8 bulan tentunya sudah tidak perlu bubur lumat lagi. Naikkan konsistensinya secara bertahap. Nah, untuk sumber protein hewani bisa diganti dengan ikan dori/lele/gurame/salmon atau ayam atau daging sapi.
Selamat mencoba!

Editor: drg Rizki Amalia

Sumber:

  • WHO. Guiding principles for complementary feeding of the breastfed child.2001.
  • IDAI. Rekomendasi Praktek Pemberian Makan Berbasis Bukti pada Bayi dan Batita di Indonesia untuk Mencegah Malnutrisi. 2015

Boleh Tidak Sih Jus Buah untuk Bayi/Anak?

oleh dr. Yohannessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinis

Halo, Ayah dan Ibu Sehat Kejora!

Apakah Ibu/Ayah Kejora pernah bertanya mengenai perlu tidaknya pemberian jus buah pada bayi dan anak? Tak jarang orangtua berpendapat bahwa jus buah pasti memiliki kandungan nutrisi dan bermanfaat bagi bayi dan anak, namun ternyata harus diketahui rekomendasi dan dicermati label komposisi nutrisi pada jus buah kemasan.

Sebelum lanjut membaca, perlu diketahui terlebih dahulu definisi dari jus buah (kemasan). Menurut US FDA, label kemasan ‘jus buah’ artinya produk tersebut mengandung 100% jus buah. Sedangkan, label tertulis ‘konsentrat’ buah artinya produk tersebut berasal dari konsentrat buah. Produk minuman kemasan berlabel ‘minuman’ artinya memiliki kandungan jus 10–99% serta pemanis tambahan, perisa, maupun fortifikasi misalnya vitamin C atau kalsium.

Di Indonesia, BPOM telah mengatur penamaan produk, juga label kandungan nutrisi. Terdapat 3 kategori minuman buah yaitu sari buah, minuman sari buah, dan minuman rasa buah. Sari buah mengandung minimal 80% jus buah asli. Sedangkan minuman sari buah mengandung 10–35% jus buah. Minuman rasa buah hanya memiliki kurang dari 10% jus buah asli; produk tersebut hanya berisi air dan gula atau pemanis.

Berikut rekomendasi dari AAP mengenai jus buah:

  1. Jus tidak direkomendasikan pada bayi di bawah usia 12 bulan, kecuali ada indikasi medis dari dokter spesialis. Jus buah tidak memberikan manfaat nutrisi bagi bayi di bawah usia 12 bulan. Kebutuhan cairan bagi bayi tercukupi dari ASI atau susu formula (sesuai indikasi medis). Hal di atas berlaku juga pada buah yang diperas hanya sarinya saja; misal air perasan jeruk saja. Air perasan jeruk dapat diberikan bila bersamaan dengan buah lain dengan tekstur sesuai usia, misal dicampur dengan pure alpukat bagi bayi 7 bulan.
  2. Buah dapat diberikan sebagai selingan dengan tekstur sesuai usia bayi dan bersifat sebagai mengenalkan buah pada bayi.
  3. Pemberian jus pada anak usia 1–3 tahun (balita) dibatasi maksimal 118 mL/hari (4 ounces/day)
  4. Pemberian jus pada anak 4–6 tahun dibatasi maksimal 118–177 mL/hari (4–6 ounces/day)
  5. Pemberian jus pada anak 7–18 tahun dibatasi maksimal 236 mL/hari (1 cup/day)
  6. Pemberian jus pada balita tidak direkomendasikan dalam wadah botol atau wadah lain yang mudah dibawa sehingga mencegah balita minum jus berlebihan sehari-hari. Juga tidak direkomendasikan pemberian jus kepada balita saat jam menjelang tidur.
  7. Anak-anak diupayakan untuk mengonsumsi buah potong untuk memenuhi kebutuhan asupan buah dan serat per hari
  8. Pemberian produk jus yang tidak dipasteurisasi tidak dianjurkan bagi bayi dan anak.

Jus buah juga meningkatkan risiko terjadinya karies gigi. Dari penelitian diketahui bahwa setelah 24 jam, pH jus buah berubah menjadi lebih asam dari pH awal. Jus nanas, anggur, dan tebu mengandung elemen pemicu timbulnya karies gigi antara lain selenium, besi, dan mangan.

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber: American Academy of Pediatrics (AAP) 2017, Community Dent Oral Epidemiol 2010;38:324-32.

Susu Sapi A2

 

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Salam Sehat, Keluarga Kejora!

Susu merupakan salah satu sumber protein hewani yang populer. Sumber susu dan produk susu termasuk sapi, domba, unta, kambing, dan lainnya. Baru-baru ini, susu sapi jenis baru telah muncul di pasaran. Produk ini, yang disebut susu sapi A2, telah menarik perhatian konsumen dan ilmuwan. Apakah Moms pernah mendengar tentang susu sapi A2 ? Apakah perbedaannya dengan susu sapi biasa? Berikut infonya.

Susu sapi mengandung 8 gram protein dalam setiap 250 ml susu. Terdapat dua protein utama dalam susu yaitu kasein dan whey. Kasein menyumbang sekitar 80% protein dalam susu. Kasein juga memiliki beberapa variasi, salah satunya disebut beta-kasein. Beta-kasein membentuk sekitar 30% protein dalam susu sapi dengan varian A1 dan A2.

Jaman dulu, sapi menghasilkan susu yang hanya mengandung bentuk A2 beta-kasein. Saat ini, sebagian besar susu yang tersedia di toko bahan makanan mengandung protein A1.

Protein A1 dan A2 mempengaruhi tubuh secara berbeda. Ketika protein A1 dicerna dalam usus kecil, ia menghasilkan peptida yang disebut beta-casomorphin-7 (BCM-7). Usus menyerap BCM-7, dan kemudian masuk ke dalam darah. Peneliti mengaitkan BCM-7 dengan ketidaknyamanan perut dan gejala yang mirip dengan yang dialami oleh orang dengan intoleransi laktosa. Struktur protein A2 lebih serupa dengan protein dalam ASI manusia, begitu pula susu dari kambing, domba, dan kerbau.

Pada tahun 2000, seorang ilmuwan di Selandia Baru mendirikan Perusahaan Susu A2. Perusahaan ini menyediakan susu dari sapi yang hanya menghasilkan protein A2. Perusahaan Susu A2 menguji DNA sapi mereka dengan menggunakan sampel rambut, untuk memastikan hewan tersebut hanya menghasilkan susu yang mengandung protein A2. Perusahaan juga menguji susu setelah produksi untuk memastikan susu tidak mengandung protein A1.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa BCM-7 mungkin berhubungan dengan diabetes tipe 1, penyakit jantung, kematian bayi, autisme, dan masalah pencernaan. Meskipun dapat mempengaruhi sistem pencernaan, masih belum jelas sejauh mana BCM-7 diserap secara utuh ke dalam darah.

Diabetes tipe 1 biasanya didiagnosis pada anak-anak dan ditandai dengan kekurangan insulin. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa minum susu A1 selama masa kanak-kanak meningkatkan risiko diabetes tipe 1. Namun, penelitian ini bersifat observasional. Mereka tidak dapat membuktikan bahwa A1 beta-casein menyebabkan diabetes tipe 1, hanya mereka yang mengonsumsi susu A1,  lebih banyak yang memiliki risiko lebih tinggi untuk terdiagnosis diabetes tipe 1.

Pada kasus lain yaitu Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) yang merupakan penyebab kematian paling umum pada bayi di bawah 12 bulan. SIDS adalah kematian tak terduga pada bayi tanpa penyebab yang jelas. Beberapa peneliti menduga bahwa BCM-7 mungkin terlibat dalam beberapa kasus SIDS. Satu studi menemukan kadar BCM-7 yang tinggi dalam darah bayi yang berhenti bernapas untuk sementara saat tidur. Kondisi ini, yang dikenal sebagai sleep apnea, dikaitkan dengan peningkatan risiko SIDS. Hasil ini menunjukkan bahwa beberapa anak mungkin sensitif terhadap kasein beta A1 yang ditemukan dalam susu sapi. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan sebelum kesimpulan yang pasti dapat dicapai.

Jumlah laktosa dalam susu A1 dan A2 sama. Namun, sebagian orang merasa bahwa susu A2 tidak menyebabkan kembung dibandingkan susu A1. Penelitian menunjukkan bahwa komponen susu selain laktosa dapat menyebabkan ketidaknyamanan pencernaan. Sebuah penelitian pada 41 orang menunjukkan bahwa susu A1 menyebabkan feses lebih lembek daripada susu A2 pada beberapa individu, sementara penelitian lain pada orang dewasa Cina menemukan bahwa susu A2 menyebabkan ketidaknyamanan pencernaan yang jauh lebih sedikit setelah makan.

Perdebatan mengenai efek kesehatan dari susu A1 dan A2 masih berlangsung. Penelitian telah menunjukkan bahwa A1 beta-kasein menyebabkan gejala pencernaan yang tidak nyaman pada individu tertentu. Tetapi bukti masih terlalu lemah untuk menarik kesimpulan tentang dugaan hubungan antara A1 beta-casein dan kondisi lain. Namun jika Moms tertarik untuk mencobanya, susu A2 bisa menjadi alternatiif,  jika mengalami kesulitan mencerna susu biasa.

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Mengapa Anak Harus Makan Protein Hewani?

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Ayah dan Ibu Kejora, pernahkah terpikir apakah protein hewani seperti ikan, ayam daging, makanan laut, dan telur dapat digantikan oleh protein nabati saja? Sebelum kita memutuskan hal tersebut, mari simak penjelasan berikut ini ya!

Dalam memenuhi kebutuhan protein pada anak, maka sebaiknya kita tidak hanya berpikir bagaimana mencukupi jumlahnya saja, tetapi lebih rinci lagi kita harus juga mempertimbangkan kualitas protein agar anak terhindar dari malnutrisi. Kualitas protein ini mencakup ketersediaan serta kemudahan dicernanya asam amino setelah makanan dikonsumsi, dicerna, hingga diserap oleh tubuh kita. Ingat ya Ibu dan Ayah, asam amino merupakan zat terkecil yang menyusun protein. Bisa kita andaikan bahwa protein seperti tembok rumah, dan asam amino merupakan batu bata serta semen yang menyusun protein tersebut.

Nah, bahan makanan sumber protein yang berasal dari nabati memiliki kualitas protein serta kemampuan cerna yang lebih rendah daripada protein hewani, serta mengandung lebih sedikit mineral seperti seng, zat besi, dan kalsium. Sebaliknya protein dari sumber hewani memiliki kualitas protein lebih baik serta mengandung vitamin B12, besi heme, vitamin A, seng, dan kalsium. Dalam suatu penelitian pada anak usia 12-36 bulan didapatkan bahwa konsumsi protein hewani berkaitan dengan peningkatan tinggi badan anak yang lebih baik sehingga berpotensi dalam menurunkan angka kejadian stunting.

Selanjutnya apakah protein nabati menjadi tidak penting? Nah, protein nabati seperti misalnya tahu, tempe, kacang hijau, kacang merah, dan kedelai tentu saja tetap penting diberikan karena selain melengkapi kebutuhan protein, bahan makanan tersebut juga mengandung serat yang sangat baik untuk kesehatan pencernaan anak serta mengandung berbagai fitonutrien yang berperan dalam pencegahan penyakit.

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber:

  1. Kaimila Y, Divala O, Agapova SE, et.al. Consumption of Animal-Source Protein is Associated with Improved Height-for-Age Z scores in Rural Malawian Children Aged 12-36 Months, Nutrients 2019.
  2. Mahan LK, Escott-Stump S. Krause’s Food & Nutrition Therapy. 2008.

Susu

 

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Salam Sehat, Keluarga Kejora! Semoga di tengah pandemi COVID-19 ini kita semua masih tetap sehat dan semangat, ya… Semoga kita semua mendapatkan nutrisi yang optimal sehingga semua dalam kondisi yang sehat.

Bicara mengenai nutrisi, tentunya kita tidak asing dengan bahan makanan berupa susu. Seringkali kita bingung untuk mengetahui susu mana yang terbaik untuk diberikan bagi si Kecil. Susu memang memiliki peran penting dalam nutrisi anak, mulai dari bayi yang minum ASI, balita yang makan sereal dengan susu, hingga remaja yang memasukkan susu ke dalam smoothie.

Berikut adalah beberapa pilihan susu bagi anak:

  • Susu sapi murni (3,25% lemak susu) dan susu kambing yang dipasteurisasi diperkaya dengan vitamin D dan asam folat adalah susu pilihan yang cocok untuk anak-anak di bawah usia dua tahun.
  • Setelah usia dua tahun, susu kedelai yang diperkaya (fortifikasi) dapat digunakan sebagai pengganti susu sapi.
  • Pilihan seperti almond, kelapa, beras, rami dan minuman nabati lainnya, tidak mengandung cukup protein dan lemak untuk memenuhi kebutuhan balita yang sedang tumbuh.
  • Sementara susu almond yang diperkaya dan minuman nabati lainnya dapat ditawarkan setelah usia dua tahun, namun tidak dihitung sebagai alternatif dari susu sapi.

Macam-macam Jenis Susu

  1. Susu Sapi: telah ada selama berabad-abad dan merupakan pilihan konsumen yang paling populer. Berasal dari kelenjar susu sapi. Perbedaan antara jenis-jenis susu sapi adalah persentase lemak yaitu whole milk, (mengandung) 2% lemak, 1% lemak, atau skim. Dari susu murni hingga susu skim, konsistensi susu menjadi lebih encer/cair dan rasanya menjadi lebih manis. Susu sapi adalah sumber protein, kalsium, dan vitamin B12. Vitamin B12 adalah nutrisi yang ditemukan secara alami dalam produk hewani yang sangat penting untuk fungsi otak, sistem saraf, dan pembentukan sel darah baru. Susu sapi adalah satu-satunya susu yang mengandung vitamin B12.
  2. Susu Almond: adalah pilihan bebas susu sapi yang dibuat dengan merendam dan menggiling almond dengan air. Susu almond mengandung tinggi magnesium, selenium, dan vitamin E. Susu almond dapat mendukung fungsi kekebalan tubuh, tulang, dan menyediakan banyak antioksidan. Untuk anak yang sensitif terhadap laktosa, susu almond adalah alternatif yang baik karena bebas laktosa dan kolesterol.
  3. Susu Kedelai: terdiri dari kedelai kering dan ditumbuk dengan air. Susu kedelai adalah sumber protein dan kalsium bagi yang memiliki intoleransi terhadap laktosa.
  4. Susu Rami/Hemp: dibuat dengan merendam benih rami dalam air dan kemudian menggilingnya. Pilihan ini lebih tinggi protein dan lemak sehat. Lemak dalam sebagian besar susu rami adalah asam lemak esensial tak jenuh seperti omega-6 dan omega-3 yang membantu membangun jaringan baru. Rami juga merupakan sumber vitamin B yang baik
  5. Susu Oat: terdiri dari gandum dan air. Susu oat mengandung tinggi serat larut dan beta-glukan. Beta-glukan sangat bagus untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.. Namun, susu gandum memiliki kandungan protein yang rendah.
  6. Susu Beras/Air tajin: dianggap paling hipoalergenik dari semua pilihan susu. Susu berat dibuat dengan merebus nasi, beras merah, atau pati beras merah. Susu ini adalah pilihan baik untuk mengontrol tekanan darah karena tingginya kadar magnesium.
  7. Santan: dibuat dengan mengambil daging bagian dalam kelapa, dididihkan dan kemudian disaring. Tekstur santan yang lebih kental, mengandung trigliserida rantai menengah (MCT) yang memberikan energi dan asam laurat untuk meningkatkan fungsi kekebalan tubuh.

Jika anak-anak tidak menyukai susu sapi cair, memiliki intoleransi laktosa, atau pada keluarga vegan, kandungan nutrisi yang ditemukan dalam susu sapi dapat tersedia dalam bahan makanan lain. Anak-anak masih dapat memenuhi kebutuhan nutrisi harian mereka tanpa susu dengan melalui asupan makan yang terencana dengan baik termasuk makanan lain yang kaya protein, kalsium, kalium, dan vitamin A dan D. Makanan yang terbuat dari susu sapi, seperti yogurt, kefir, dan keju, juga dapat memberikan pilihan untuk memasukkan nutrisi dari susu ke dalam makanan anak bahkan jika anak itu tidak suka susu sapi cair.

Menggunakan hanya susu untuk mencapai rekomendasi kebutuhan kalsium bukanlah ide yang bijaksana. Kebutuhan kalsium dari susu baru dapat terpenuhi jika minum lebih dari tiga cangkir susu sehari. Hal ini, dapat membuat anak kekenyangan sehingga tidak mau makanan anak, yang berakibat berisiko terhadap anemia defisiensi zat besi serta ketidakseimbangan nutrisi lainnya.

Jika anak Anda lebih memilih alternatif susu non-susu, seperti susu almond atau beras, pilihlah versi yang diperkaya dengan kalsium dan vitamin D. Kemudian, Anda harus memastikan untuk menawarkan makanan lain sepanjang hari yang mengandung protein, karena sebagian besar susu-susu alternatif mengandung protein sangat rendah.

Secara umum, sebagian besar anak mendapat manfaat dari mengonsumsi susu sapi, atau produk susu sapi, setelah mereka berusia 12 bulan (jika mereka tidak memiliki alergi susu). Perlu diingat bahwa balita yang masih menyusui 2-3 kali sehari atau yang masih minum susu formula, tidak memerlukan susu sapi tambahan.

Berapa Banyak Susu yang Dibutuhkan Anak-Anak?

Hal ini tergantung dari usia dan kebutuhan anak, tetapi rekomendasi yang biasa adalah:

1 hingga 2 tahun         : 2 gelas susu setiap hari

Usia 3 tahun ke atas    : 3 gelas susu setiap hari

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Pemberian Makan Bayi dan Anak selama Pandemi

oleh dr. Yohannessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinis

Halo, Ayah dan Ibu Sehat Kejora!

Ayah dan Ibu tentu tahu bahwa nutrisi menjaga pertumbuhan sehat, meningkatkan perkembangan otak bayi dan anak, dan memperkuat sistem imun, sehingga mengurangi risiko terinfeksi virus atau penyakit terlebih lagi di saat pandemic seperti sekarang ini.

Nutrisi sangat penting pada 2 tahun pertama kehidupan anak. Nutrisi yang sesuai dengan usia anak akan mengurangi risiko overweight atau obesitas di kemudian hari, juga terhindar dari penyakit kronis di masa depan kehidupan.

Tetap teruskan pemberian ASI eksklusif bagi bayi hingga usia 2 tahun. Bagi bayi usia 6 bulan ke atas, mulai berikan MP-ASI dari bahan makanan segar dan bukan makanan olahan mengandung komposisi dari 4 grup jenis makanan (karbohidrat, protein dan lemak dari lauk hewani, nabati, sayur, serta buah) setiap harinya.

Nutrisi yang beragam dapat meningkatkan sistem imun anak. Berikan pola makan sehat seimbang terdiri dari karbohidrat, lemak, protein, tak lupa sayur dan buah-buahan berwarna oranye/kuning, juga sayuran berwarna hijau tua. Ingatkan anak untuk minum air 8–10 gelas setiap harinya (termasuk dari makanan, misal sup, buah dan sayur berair seperti timun, tomat, bayam, jamur, melon, brokoli, jeruk, apel). Hindari pemberian makan makanan mengandung gula, garam, dan lemak jenuh/trans berlebihan.

Selalu utamakan makan makanan yang berasal dari masakan rumah dari bahan segar alami secara higienis untuk menjaga kualitas makanan keluarga. Dengan memasak makanan sendiri di rumah, Ayah dan Ibu mengetahui dengan jelas apa saja bahan-bahan masakan yang digunakan, dibandingkan membeli makanan jadi/junk food dari luar rumah. Ajak anak yang berusia lebih besar untuk membantu di dapur atau menyiapkan makanan di meja. Makan makanan rumah bersama keluarga mengurangi risiko kontak dengan virus.

Berikut panduan pemberian makan bagi bayi dan anak sesuai usia:

  • Usia 6–8 bulan: berikan makan 2–3 kali per hari dengan porsi setiap makan 2–3 sendok makan bertahap hingga ½ gelas atau 125 ml, konsistensi lumat/saring. Siapkan bubur saring/lumat dan tambahkan telur/daging matang, dan sayur. Buah dapat diberikan di jam selingan/snack. Jika bahan makanan segar tidak tersedia karena pembatasan sosial berskala besar (PSBB), maka dapat digantikan dengan makanan keluarga yang ditumbuk (mashed) atau dibuat puree. Bila terpaksa, dapat digunakan produk kalengan/frozen dengan kandungan gula dan garamnya rendah. Konsistensi makanan lumat/saring yang diharapkan yaitu makanan cukup kental sehingga dapat menempel pada sendok. Makanan lumat/saring yang terlalu encer akan cepat membuat perut bayi terasa kenyang.
  • Usia 9–11 bulan: berikan makan 3–4 kali per hari dengan porsi setiap makan ½ gelas bertahap hingga ¾ gelas atau 200 ml, konsistensi lembik. Usia 9–11 bulan, bayi mulai belajar mengunyah makanan sehingga dapat mengonsumsi lauk yang dipotong kecil-kecil.
  • Usia 12–24 bulan: berikan makan 3–4 kali per hari dengan porsi setiap kali makan nasi ¾ gelas, lauk hewani 1 potong kecil, lauk nabati 1 potong kecil, ¼ gelas sayur, 1 potong buah. Anak mulai makan makanan keluarga dan makan sendiri dari piringnya. Tambahkan 1–2 selingan/snack sehat berupa buah atau sayur berupa potongan kecil-kecil dan lembut agar dapat digunakan sebagai finger foods. Pisang merupakan contoh yang dapat digunakan sebagai snack Hindari pemberian cemilan asin seperti keripik kemasan atau manis (kue kering, cake, coklat) atau minuman soda/konsentrat jus buah/sirup atau susu dengan rasa yang dapat dibeli dengan harga murah. Jenis makanan/minuman tersebut membahayakan kesehatan anak karena mengandung tinggi gula, garam, lemak trans, dan bahan kimiawi.
  • Jika terpaksa, bijak dalam memilih makanan instan bagi bayi/anak. Perhatikan kandungan nutrisi, pilihlah makanan yang tidak mengandung tinggi gula, garam, atau lemak trans/jenuh, serta seimbangkan dengan masakan rumah dari bahan segar.

Berikut panduan pemberian makan sesuai jenis makanan:

  • Protein diberikan sebanyak 2–3 porsi sehari. Protein hewani ikan (salah satunya jenis oily fish) minimal 2 kali per minggu. Kacang-kacangan merupakan protein nabati dan disarankan bagi anak di atas usia 5 tahun.
  • Buah untuk anak usia 2–3 tahun sebanyak 200 ml per hari, usia 4–13 tahun sebanyak 350 ml
  • Sayur untuk anak usia 2–3 tahun sebanyak 200 ml per hari, usia 4–8 tahun sebayak 350 ml per hari. Variasikan sayuran antara lain sayuran dengan daun berwarna hijau, sayuran warna merah dan oranye.
  • Usahakan /tidak memasak sayur dan buah ovecooked karena dapat kehilangan beberapa sumber vitamin.
  • Jika terpaksa harus memakan sayur buah kalengan/kering, pilihlah tanpa tambahan garam atau gula.

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber: Unicef, WHO EMRO, Perinasia Pelatihan MPASI