Waspadai kerusakan mata akibat paparan sinar UV

 

 

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora… Apa kabar keluarga sehat Kejora?

Tak terasa pandemi COVID-19 sudah berjalan selama 6 bulan terhitung kasus pertama yang ditemukan di Indonesia pada awal bulan Maret 2020. Akibat pandemi COVID 19 ini tentunya ada beberapa perubahan yang terjadi dalam aktivitas kita sehari-hari antara lain menggunakan masker saat berada di luar rumah, rajin mencuci tangan, menjaga jarak 1-2 m dengan orang sekitar dan tentunya menjaga kebersihan diri dan sekitar.

Nah, akibat hal tersebut banyak nih ayah dan ibu kejora yang menggunakan lampu UV untuk disinfeksi udara, permukaan dan juga air di rumahnya. Lampu UV yang digunakan utk disinfeksi tersebut memiliki panjang gelombang dibawah 380 nm dimana tidak terlihat oleh mata kita namun tanpa disadari dapat merusak mata kita. Efek dari lampu UV tersebut ada yang akut (jangka waktu cepat) dan kronik (jangka waktu lama). Pada kesempatan kali ini saya akan membahas salah satu efek akut dari lampu UV disinfeksi yang sering terjadi pada mata yaitu photokeratitis. Yuk mari kita bahas.

 

Apa itu Photokeratitis?
Photokeratitis merupakan suatu kumpulan gejala/gangguan pada selaput bening mata/kornea yang terjadi secara akut setelah terkena paparan sinar UV tipe C (panjang gelombang 100-290 nm) dan tipe B (panjang gelombang 290-320 nm). Keluhan-keluhan pada kornea ini muncul setelah terjadi paparan UV. Sebetulnya paparan sinar UV ini tidak hanya mengakibatkan keluhan pada kornea saja namun juga pada bagain mata lain seperti konjungtiva, lensa dan retina mata (gambar 1). Pada kesempatan kali ini saya hanya akan membahas keluhan pada kornea karena sifatnya yang cepat/akut serta saat ini sedang marak digunakan lampu UV untuk disinfeksi rumah selama pandemi covid-19 ini berlangsung

Gambar 1 Penyerapan sinar UV pada beberapa struktur yang ada di dalam mata

 

Berapa lama waktu paparan yang dibutuhkan sampai terjadi photokeratitis ?
Sangat bervariasi dimulai dari 30 menit sampai 24 jam, namun rata-rata 6 sampai 12 jam paska paparan UV.

 

Apa saja sumber UV yang dapat mengakibatkan photokeratitis ?

  1. UV air disinfectant lamps -> saat ini sedang marak di gunakan untuk sterilisasi di rumah

Gambar 2. Air UV disinfectant lamps/germicidal UV lamps

  1. UV water disinfectant systems

Gambar 3. Water UV disinfectant system

  1. Aquarium UV sterilizer -> untuk menghilangkan lumut pada akuarium/kolam ikan

Gambar 4. Aquarium UV Sterilizer

  1. Tanning lamps -> biasanya di gunakan di salon-salon kecantikan

Gambar 5. Tanning lamps

  1. Sinar matahari
  2. Mesin las
  3. Sinar UV yang digunakan untuk sterilizer pada laboratorium dan rumah sakit

 

Apa tanda dan gejala dari photokeratitis ?

Tanda dan gejala yang dapat terjadi akibat photokeratitis antara lain :

  1. Mata perih merah dan berair
  2. Kelopak dan konjungtiva bengkak dan sulit dibuka
  3. Lapisan epitel kornea terkelupas  timbul bercak-bercak pada pewarnaan
  4. Pupil miosis
  5. Refleks kornea berubah
  6. Buram
  7. Fotofobia
  8. Mata terasa sensasi seperti terdapat benda asing

 

Tanda dan gejala diatas ditemukan pada kedua mata / BILATERAL

Gambar 6. Mata merah akibat photokeratitis

Gambar 7. Epitel kornea yang mengalami pengelupasan akibat paparan sinar UV

 

Bagaimana perawatan kondisi photokeratitis ?

  1. Istirahatkan mata
  2. STOP/Hindari re-exposure sinar UV tersebut
  3. Teteskan pelembab tetes air mata buatan -> pertolongan pertama
  4. Dapat diberikan kompres dingin pada mata
  5. Bawa ke IGD / dokter SpM bila gejala dirasa berat
  6. Dokter SpM akan menilai derajat keparahan photokeratitis dan memberikan
        • a. Antibiotik topikal
        • b. Anti radang/nyeri topikal
        • c. Sikloplegik -> bila dibutuhkan
        • d. Anti nyeri oral -> bila dibutuhkan

 

Bagaimana mencegah terjadinya photokeratitis ?

  1. DILARANG / TIDAK BOLEH berada di ruangan yang sedang MENYALAKAN UV DISINFECTANT LAMP apalagi digunakan sebagai lampu tidur atau dinayalakan pada saat bekerja
  2. LARANG PEMBANTU, ANAK, dan KELUARGA untuk berada di ruangan yang sedang menyalakan UV DISINFECTANT LAMP
  3. Gunakan kacamata anti UV bila berada di luar ruangan dengan paparan sinar UV
  4. Gunakan lensa kontak anti UV bila berada di luar ruangan dengan paparan sinar UV
  5. Gunakan topi yang lebar untuk melindungi area mata dan wajah pada saat berada di luar ruangan dengan paparan sinar UV
  6. Untuk pekerja-pekerja yang menggunakan alat LAS -> SELALU GUNAKAN PELINDUNG DIRI (wajah dan seluruh badan)

 

Referensi :

  1. Cullen AP. Photokeratitis and other Phototoxic effects on the Cornea and Conjunctiva. International J of Toxicology 2002, 21:455-64
  2. Banerjee S, Patwardhan, Savant VV. Mass photokeratitis following exposure to unprotected UV light. Journal of public Health Medicine 2003, 25(2) 160.
  3. Moore LA, Hussey M, Ferreirra JT, Wu B. Review of photokeratitis : corneal response to UV radiation exposure. S Afr optom 2010, 69(3) 123-31
  4. Citek K, Andre B, Bergmanson J, Butler JJ, Chou BR, et al. The eye and solar UV Radiation. Diunduh dari : https://www.pointsdevue.com/sites/default/files/UV-BlueLight-E-book-edition-2-web.pdf
  5. The College of Optometrist. Photokeratitis (UV Burn , Arc Eye, Snow blindness). Diunduh dari : https://www.college-optometrists.org/guidance/clinical-management-guidelines/photokeratitis-.html

Computer Vision Syndrome

 

 

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

 

Halo ayah dan ibu Kejora

Apa kabar keluarga sehat Kejora?

Tak terasa sudah hampir 3 bulan selama pandemi COVID-19 ini kita berada di rumah saja guna memutus rantai penularan infeksi COVID-19. Hal ini pasti membuat ayah dan ibu Kejora harus bekerja dari rumah (work from home) dengan menggunakan komputer/laptop/ipad sementara adik-adik kejora otomatis harus sekolah juga dari rumah (school from home) yang tentu saja menggunakan media komputer ataupun laptop. Pada generasi millennial, teknologi elektronik seperti komputer sangatlah popular apalagi di masa pandemi ini, anak-anak menggunakan komputer selain untuk sarana rekreasi/bermain games juga untuk belajar karena tidak memungkinkan untuk datang ke sekolah Sebelum adanya pandemic COVID-19 saat ini, laporan oleh “The Vision Council” pada tahun 2015 dikatakan bahwa 1 diantara 4 anak di US menghabiskan waktu di depan komputer/alat elektronik digital lebih dari 3 jam dalam 1 hari. Peningkatan penggunaan media-media elektronik ini mengakibatkan terjadinya kondisi yang disebut Computer Vision Syndrome (CVS) yang akan saya bahas kali ini., apa itu Computer Vision Syndrome, penyebabnya dan bagaimana gejalanya serta apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi CVS ini. Yuk mari kita mulai…

 

Apa itu Computer Vision Syndrome (CVS)?

Computer Vision Syndrome (CVS) merupakan suatu kumpulan/kelompok gejala pada mata dan penglihatan akibat penggunaan komputer, laptop, ipad, tablet, notebook dan handphone yang lama. Computer Vision Syndrome ini tidak hanya menyerang pada orang dewasa saja namun anak-anak juga dapat mengalami ini. Pada suatu penelitian dikatakan jika seseorang menghabiskan waktu lebih dari 2 jam di depan komputer/laptop/handphone/ipad/notebook memiliki risiko 90 % untuk menderita CVS. Menurut penelitian di Universitas California (Berkeley School of Optometry) terdapat hubungan / korelasi yang kuat antara lama waktu anak di depan komputer dengan risiko miopia (rabun jauh), jadi anak yang menggunakan komputer dalam jangka waktu yang lama dan terus menerus memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menderita miopia (rabun jauh).

 

Apa tanda dan gejala CVS?

Tanda dan gejala yang dapat terjadi akibat CVS antara lain :

  1. Kelelahan pada mata

Gambar 1. Gambaran kelelahan pada mata karena terlalu lama menatap layar komputer

  1. Penglihatan buram

Gambar 2.  Gambaran anak yang berusaha menutup mata sementara karena penglihatan buram akibat terlalu lama menatap komputer

  1. Penglihatan dobel
  2. Mata berair
  3. Mata merah

Gambar 3.  Gambaran mata merah

  1. Mata gatal dan berair pada anak-anak sering dilakukan mengucek-ucek mata

Gambar 4.  Gambaran khas mata kering pada anak yaitu anak mengucek matanya

  1. Sakit Kepala

Gambar 5.  Gambaran anak sakit kepala akibat terlalu lama akomodasi di depan komputer

Apa saja penyebab dari CVS ini ?

  1. Kelainan refraksi yang tidak terkoreksi
  2. Jarang berkedip
  3. Penerangan yang redup/kurang
  4. Glare pada layar komputer/tablet/notebook/laptop/handphone/ipad
  5. Terlalu lama menatap layar komputer/tablet/notebook/laptop/handphone/ipad tanpa adanya jeda/istirahat
  6. Jarak antara mata dengan layar komputer/tablet/notebook/laptop/handphone/ ipad terlalu dekat
  7. Posisi duduk yang salah/tidak ergonomis
  8. Kombinasi dari faktor-faktor di atas

 

 Bagaimana cara mengatasi CVS ?

  1. Lakukan rule of 20-20-20 yang berarti : Setiap 20 menit , istirahat/hentikan menatap layar selama 20 detik untuk melihat 20 feet/6 meter. Pada saat anak sedang belajar (SFH) ingatkan untuk melakukan jeda selama kurang lebih 20 detik dengan cara melihat ke arah luar jendela (penglihatan >6 meter memberikan istirahat pada otot mata).
  2. Pada anak-anak usia 2-5 tahun  screen time disarankan maksimal 1 jam/hari dengan waktu yang dipisah-pisah/terbagi (tidak disarankan langsung 1 jam)
  3. Pastikan pencahayaan cukup pada saat anak sedang belajar ataupun bermain dengan komputer/tablet/notebook/laptop/handphone/ipad dan disarankan untuk tidak menghadap sumber cahaya ataupun membelakangi (paling baik sumber cahaya dari samping)

  1. Pada layar computer dapat diberi anti glare atau bagi anak yang sudah menggunakan kacamata dapat memasang anti refelective coating pada kacamatanya untuk mengurangi risiko glare yang berasal dari komputer

  1. Posisikan layar komputer berjarak 40-75 cm dari mata dan 15 derajat di bawah eye level anak serta posisi meja di sesuaikan dengan posisi duduk anak yaitu tidak terlalu tinggi maupun tidak terlalu rendah serta kaki anak tidak menggantung. Tinggi kursi yang ideal yaitu setinggi lutut anak.

  1. Ingatkan posisi duduk anak yang baik (jangan membungkuk atupun kaki menggantung)

  1. Lakukan berkedip sesering mungkin (1 menit = 15-20 kali) dan strectching pada saat istirahat/jeda melihat layar komputer (anak dapat berdiri ataupun melakukan gerakan senam kecil) seperti contoh di bawah ini

  1. Gunakan kacamata apabila memiliki kelainan refraksi
  2. Kontrol ke dokter ahli mata untuk dilakukan screening mata apabila memiliki kelainan refraksi sebaiknya kontrol rutin setiap 1 tahun sekali
  3. Makan-makanan dengan gizi yang seimbang (kaya akan vitamin A)

 

Referensi :

  1. Kozeis N. Impact of Computer use on Children’s vision. Hippokratia; 2009; 13: (4) : 230-231
  2. Valcheva K.P, Valcheva E K, Stateva DV, Statev KN. Computer Eye Syndrome in Children Aged 3 to 6 years. J IMAB 2016, 22(1):1075-77
  3. American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus AAPOS. Computer Vision Syndrome and Children . Diunduh dari : https://aapos.org/HigherLogic/System/DownloadDocumentFile.ashx?DocumentFileKey=3d8ebe8d-3a8a-b2cf-0d16-d7db044d61ef
  4. A Colorado Eye Center Practice. Children and Computer Vision Syndrome. Diunduh dari : https://www.sunrisevisioncare.com/children-computer-vision-syndrome/

 

Apa itu Lasik?

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

 

Halo ayah dan ibu Kejora. Apa kabar keluarga sehat Kejora? Kalau di bulan-bulan kemarin saya membahas tentang kelainan yang dapat terjadi pada mata, pada bulan Maret ini saya akan bahas tentang salah satu prosedur operasi mata yang paling popular di antara orang awam yaitu LASIK. Pasti ayah dan ibu akan bertanya-tanya, kapan sih dok anak saya boleh di LASIK ? Minimal ukuran kacamatanya berapa ya dok? Apakah sakit dok di LASIK? Berapa lama prosesnya? Setelah LASIK bisa balik lagikah dok pakai kacamata lagi? dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sering ditanyakan oleh orang tua ataupun pasien sendiri. LASIK ini merupakan prosedur operasi paling popular di dunia, menurut American Academy Ophthalmology (AAO) dilakukan sekitar 700.000 prosedur LASIK setiap tahunnya di US karena hamper setengah dari populasi yang berusia 20 tahun ke atas di US menderita kelainan refraksi. Sementara di Indonesia sendiri kelainan refraksi menjadi penyebab kebutaan ketiga terbanyak setelah katarak dan Glaukoma. Yuk mari sedikit kita bahas tentang Apa itu LASIK?, Apa saja syarat untuk menjadi kandidat LASIK? Bagaimana prosedur/tahapan-tahapan LASIK? Apa saja kontraindikasi dan komplikasi dari tindakan LASIK?

Definisi

LASIK sendiri berasal dari bahasa Yunani dan merupakan kepanjangan dari Laser In Situ Keratomileusis. LASIK merupakan salah satu prosedur operasi mata yang digunakan untuk mengkoreksi kelainan refraksi dengan menggunakan teknologi laser. Kelainan refraksi yang dimaksud adalah rabun dekat (hypermetropia), rabun jauh (miopia) dan silinder (astigmatisma). Tujuan dari LASIK adalah pasien dapat terbebas dari kacamata ataupun lensa kontak untuk dapat melihat jelas.

Anatomi

Tindakan operasi LASIK dilakukan pada organ mata yang disebut kornea. Kornea memliki 5 lapis antara lain:

  1. Epitel
  2. Membran bowman
  3. Stroma
  4. Membran Descemet
  5. Endotel

Tahapan-tahapan pada LASIK

Tindakan LASIK memerlukan waktu kurang lebih 20 menit untuk kedua mata. Walaupun tindakan LASIK ini membutuhkan waktu yang singkat, namun penting sekali bagi pasien untuk kooperatif terhadap instruksi dari operator selama tindakan. Anestesi yang digunakan pada prosedur LASIK adalah anestesi topikal yaitu obat tetes.

Tahapan-tahapan LASIK antara lain:

    1. Tahap pertama adalah membuat lapisan pada kornea yang disebut flap dengan menggunakan teknologi femtosecond laser. Femtosecond laser adalah sinar infra red yang memiliki kemampuan sangat akurat dengan tingkat panas yang sangat rendah. Femtosecond laser bekerja dalam ultra short impulses of light dan dapat membuat lubang sekecil 1/100 mm hanya dalam ¼ triliun per detik.
    2. Tahap kedua setelah flap terbuka maka dilakukan penyinaran laser pada bagian stroma kornea untuk mengubah bentuk kornea yang bertujuan untuk menghilangkan kelainan refraksi (minus, plus dan silinder) dengan teknologi Excimer Laser
    3. Tahap ketiga setelah penyinaran selesai, flap dikembalikan ke posisi awal.
    4. Dalam waktu kurang dari 3 menit, flap akan melekat dengan kornea kembali tanpa perlu dijahit

Kandidat LASIK yang ideal

  1. Disarankan pada usia minimal 18 tahun dan memiliki ukuran kacamata/lensa kontak yang stabil selama paling tidak 1 tahun terakhir
  2. Kedua mata harus dalam keadaan sehat
  3. Melepas lensa kontak lunak (soft contact-lens) selama 14 hari atau lensa kontak keras (hard contact-lens) selama 30 hari berturut-turut sebelum dilakukan tindakan LASIK
  4. Tidak sedang hamil atau menyusui
  5. Sudah mendapatkan
    informasi yang adekuat tentang keuntungan dan risiko dari prosedur LASIK

Kandidat LASIK yang kurang ideal (Less than ideal)

  1. Pasien -pasien dengan mata kering (dry eyes) karena setelah tindakan LASIK akan memperberat keadaan mata keringnya
  2. Pasien-pasien yang memiliki kelainan autoimun, pasien yang mengonsumsi obat steroid atau imunosupressan: dapat memperlambat proses penyembuhan
  3. Pasien pasien yang memiliki luka/jaringan parut pada kornea: hasil tidak akan maksimal
  4. Pasien – pasien yang memiliki risiko trauma tinggi seperti atlit-atlit olahraga dengan kontak (contact sports): risiko terjadi dislokasi dari flap LASIK

Kontraindikasi LASIK/non kandidat LASIK

  1. Pasien yang memiliki kelainan katarak
  2. Pasien yang memiliki kelainan glaukoma stadium akhir
  3. Pasien yang memiliki kelainan kornea dan penipisan kornea (Keratoconus atau pellucid Marginal Degeneration)
  4. Patients with unrealistic expectations

LASIK itu bisa mengkoreksi sampai berapa dioptri?

  1. Pada pasien miopia: sampai -12 D
  2. Pada pasien hipermetropia: sampai +6 D
  3. Pada pasien astigmatism: sampai silinder 6 D

Namun 3 hal di atas ini tidak mutlak melainkan disesuaikan dengan keadaan kornea mata kita melalui pemeriksaan pre-LASIK. Pemeriksaan pre LASIK yang dibutuhkan:

  1. Pemeriksaan tajam penglihatan terbaik
  2. Pemeriksaan tekanan bola mata
  3. Pemeriksaan segmen anterior mata
  4. Pemeriksaan topografi kornea
  5. Pemeriksaan ketebalan kornea
  6. Pemeriksaan pupil
  7. Pemeriksaan saraf mata (retina)
  8. Assessment for Dry Eye Syndrome

Semua pemeriksaan ini harus dilakukan sebelum tindakan LASIK dilakukan.

Komplikasi dan efek samping LASIK

  1. Koreksi yang berlebihan atau kurang (over/under correction)
  2. Pandangan glare/halos
  3. Dry Eye Syndrome
  4. Infeksi pada kornea
  5. Inflamasi
  6. Masalah pada flap (flap bolong, flap berlipat atau flap hilang)
  7. Ectasia atau bulging of cornea
  8. Sensitif terhadap cahaya
  9. Rasa tidak nyaman /nyeri
  10. Penglihatan malam yang buruk/kesulitan untuk berkendara pada malam hari
  11. Penurunan sensitivitas kontras penglihatan

Editor: Saka Winias, drg., M.Kes., Sp.PM

Referensi :

1. American Academy of Ophthalmology. Is LASIK for Me? A Patient’s Guide to Refractive Surgery. San Francisco: American Academy of Ophthalmology, 2008. Available at: http://www.aao.org/upload/LASIK_guide.pdf
2. American Academy of Ophthalmology. Refractive Errors & Refractive Surgery, Preferred Practice Pattern. San Francisco: American Academy of Ophthalmology, 2007. Available at: http://one.aao.org/CE/PracticeGuidelines/PPP_Content.aspx?cid=e6930284-2c41-48d5-afd2- 631dec58628
3. Sakimoto T, Rosenblatt MI, Azar DT. Laser eye surgery for refractive errors. Lancet. 2006 Apr 29;367(9520):1432-47. PubMed PMID: 16650653
4. Vitale S, Ellwein L, Cotch MF, Ferris FL 3rd, Sperduto R. Prevalence of refractive error in the United States, 1999-2004. Arch Ophthalmol. 2008 Aug;126(8):1111-9. PubMed PMID: 18695106
5. Steinert RF, Koch D, Lane S, Stulting R. Lasik Surgery Screening Guidelines For Patients. Eye Surgery Education Council. Available at : https://med.virginia.edu/ophthalmology/wp-content/uploads/sites/295/2018/01/LASIK-guidelines-for-patients.pdf

Ptosis Kongenital

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

 

Halo ayah dan ibu Kejora. Apa kabar keluarga sehat Kejora? Kalau di beberapa bulan sebelum ini saya membahas tentang infeksi dan trauma , kali ini saya akan coba membahas mengenai salah satu kelainan bawaan yang dapat terjadi pada mata anak, yaitu ptosis kongenital. Kelainan kongenital merupakan suatu kondisi yang tidak normal/cacat bawaan yang terjadi saat lahir atau pada masa perkembangan janin. Kelainan kongenital itu banyak sekali, salah satu yang bisa terjadi pada mata adalah kondisi yang dinamakan ptosis. Mungkin ayah dan ibu Kejora jarang mendengar tentang kelainan ini karena jumlah kasus tidak banyak seperti kasus infeksi ataupun trauma namun kondisi ini penting untuk diketahui apabila terjadi pada anak kita sendiri ataupun keluarga kita, karena dapat mempengaruhi perkembangan penglihatan seorang anak. Ayah dan ibu kejora yuk mari kita bahas apa itu ptosis, penyebab dan apa yang harus dilakukan apabila menemukan kasus ptosis ini.

Definisi

Ptosis merupakan keadaan turunnya kelopak mata atas di bawah kedudukan normal yang dapat terjadi pada satu atau kedua mata dan dapat menutupi jalur penglihatan ataupun tidak. Ptosis kongenital merupakan ptosis yang terjadi akibat kegagalan pertumbuhan dari otot yang berfungsi untuk membuka kelopak mata (levator palpebra superior) seperti pada gambar 1 yang diberi kotak merah.

Gambar 1. Gambaran anatomi kelopak mata

Ptosis kongenital ini muncul pada saat lahir atau pada usia 1 tahun pertama. Ptosis memiliki jenis/etiologi yang beragam namun kali ini saya hanya membahas ptosis kongenital karena ptosis ini banyak ditemukan pada anak-anak. Ptosis kongenital ini jarang, angka kejadiannya di katakan 1 banding 842 kelahiran. Dari kepustakaan lain disebutkan prevalensi ptosis kongenital pada populasi umum sebesar 0,18-1,41%. Gambar 2 di bawah ini merupakan gambaran ptosis unilateral/satu mata dan ptosis bilateral/kedua mata.

Gambar 2. Gambaran Ptosis kongenita. A. Ptosis unilateral , B. Ptosis bilateral

Tanda dan Gejala

  1. Kelopak mata turun pada salah satu ataupun kedua mata/ kelopak mata tidak simetris (gambar 2)
  2. Kelopak mata yang turun dapat menutupi sebagian/seluruh pupil (anak mata) (gambar 3)

Gambar 3. Gambaran A. Ptosis yang muntupi seluruh pupil  , B. Ptosis yang menutupi sebagian pupil

  1. Tidak ditemukan lipatan kelopak/lid crease
  2. Pada saat melihat kebawah di dapatkan kedudukan kelopak mata yang lebih tinggi pada mata yang mengalami ptosis (lid lag)
  3. Penglihatan tidak optimal/buram/tidak jelas à terutama pada ptosis yang berat/yang sudah menutupi pupil/jalur penglihatan

Tatalaksana

Ayah dan ibu kejora tatalaksana dari ptosis kongenital ini ada 2 , yaitu:

  1. Tindakan bedah/ operasi.
  2. Observasi : pada kasus dimana kondisi ptosisnya tidak berat/tidak menutupi pupil/jalur penglihatan

Pada ptosis kongenital ini yang paling ditakutkan adalah ptosis ini dapat menutupi jalur penglihatan sehingga dapat mengakibatkan gangguan pada perkembangan penglihatan mata anak atau dapat menjadi mata malas. Kondisi ini terutama terjadi pada pasien ptosis unilateral/pada satu mata.

Yang paling penting untuk diketahui oleh ayah dan ibu kejora adalah (1) kenali kelainan ptosis ini dan (2) apabila anak atau sanak saudara ada yang memiliki kelainan ini segeralah bawa ke dokter Mataà jangan menunda!!!. Karena apabila terlambat dan sudah terjadi mata malas àkondisi penglihatan anak sudah tidak dapat optimal kembali, hal ini dapat mempengaruhi kemampuan belajar dan masa depan anak di sekolah.

Yang paling banyak di tanyakan oleh orang tua pasien apabila kondisi ptosisnya sudah berat adalah kapan waktu yang tepat untuk dilakukan operasi ptosis??

  • Apabila anak menderita ptosis unilateral: operasi harus dilakukan segera karena dapat mengancam perkembangan penglihatan / risiko untuk menjadi mata malas.
  • Apabila anak menderita ptosis bilateral: operasi dapat ditunda sampai anak usia 4 tahun atau sebelum masuk sekolah karena pada ptosis bilateral terdapat mekanisme chin-up sehingga risiko menjadi mata malas lebih kecil dan pada usia 4 tahun sehingga pengukuran dan pemeriksaan kelopak mata dapat dilakukan lebih akurat.

Editor: drg. Saka Winias, M.Kes, Sp.PM

Referensi:

  1. American Academy of Ophthalmology staff. Eyelid disorder. In: American Academy of Ophthalmology Staff, editor. Pediatric ophthalmology and Strabismus. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2014. p. 200-1
  2. American Academy of Ophthalmology staff. Periocular Malpositon and Involutional Changes. In: American Academy of Ophthalmology Staff, editor. Orbit, eyelid and Lacrimal System. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2014. p. 201-6
  3. Marenco M, Macchi I, Galassi E, Giordano M, Lambiase A. Clinical presentation and management of congenital ptosis. Clin Ophthalmol.2017;11:453-63
  4. Wang Y, Xu Y, Liu X, Lou L, Ye J. Amblyopia, Starbismus and refractive errors in Congenital Ptosis : a systematic review and metanalysis. Sci Rep 2018; 8: 8320
  5. SooHoo JR, Davies BW, Allard FD, Durairaj VD. Congenital Ptosis. Surv ophthalmol ; 2014;59(8): 483-92
  6. Raj A, Maitreya A, Bahadur H. Congenital ptosis : etiology and its management. Int J Ocular Oncology and Oculoplasty 2017; 3(1):8-13

 

Apakah Perdarahan Subkonjungtiva pada Anak Berbahaya?

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

 

Halo ayah dan ibu Kejora. Apa kabar keluarga sehat Kejora?

Bulan September ini topik mata yang akan dibahas adalah tentang perdarahan subkonjungtiva.

Apakah ayah dan ibu kejora tahu tentang perdarahan subkonjungtiva ?

Kenapa saya mengangkat topik ini karena kelainan ini sering membuat orang-orang khawatir apalagi bila terjadi pada anak kita sendiri. Kelainan ini dapat terjadi tiba-tiba tanpa disadari dan karena kelainan ini tidak terasa nyeri/sakit dan tidak mengakibatkan penurunan penglihatan kadang anak tidak menyadari namun orang lain seperti orang tua atau guru di sekolah yang panik melihat mata anak tiba-tiba tampak berdarah di bagian putihnya. Perdarahan subkonjungtiva ini terjadi pada lapisan di bawah konjungtiva (antara konjungtiva dan episklera). Pada lapisan tersebut banyak terdapat pembuluh darah sehingga apabila terjadi gesekan dapat pecah dan timbul perdarahan. Ayah dan ibu kejora yuk mari kita bahas apa itu perdarahan subkonjungtiva, penyebabnya dan faktor risiko apa saja dan bagaimana penanganannya.

Apa yang dimaksud perdarahan subkonjungtiva ?

Perdarahan subkonjungtiva merupakan suatu keadaan pecahnya pembuluh darah pada lapisan antara konjungtiva dan episklera. Kelainan ini timbul tiba-tiba/akut, tanpa disertai nyeri dan buram pada mata. Insiden perdarahan subkonjungtiva ini dilaporkan sebesar 2.9% diantara 8726 pasien dan meningkat seiring dengan pertambahan usia banyak ditemukan pada sisi temporal mata. Perdarahan subkonjungtiva dikatakan lebih banyak ditemukan pada laki-laki pada tipe traumatik dan pada perempuan pada perdarahan subkonjungtiva non traumatik. Meskipun dari kepustakaan dikatakan lebih banyak terjadi pada usia dewasa tua namun kondisi ini cukup membuat kepanikan terutama bila terjadi pada anak-anak.

 

Gambar 1. Gambaran lapisan konjungtiva pada mata normal

Apa penyebab dari perdarahan subkonjungtiva?

Penyebab perdarahan subkonjungtiva antara lain :

  1. Trauma mekanik (paling sering) àterkena benturan mainan, tersikut teman saat bermain , terkena lemparan bola, terpukul, terbentur, ataupun mengucek mata
  2. Infeksi konjungtiva /konjungtivitis
  3. Batuk kencang
  4. Bersin
  5. Muntah
  6. Mengedan/mengejan
  7. Mengangkat barang berat

Seperti yang dijelaskan di atas bahwa kelainan ini sebetulnya lebih banyak ditemukan pada usia dewasa-tua. Sehingga ada beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan perdarahan subkonjungtiva ini antara  lain :

  1. Tekanan darah tinggi
  2. Kencing manis
  3. Konsumsi obat pengencer darah (aspilet, aspirin, clopidogrel, Plavix)
  4. Gangguan jantung
  5. Gangguan darah

Apa saja tanda dan gejala dari perdarahan subkonjungtiva?

  1. Gambaran perdarahan/merah darah pada bagian putih mata
  2. Tidak terasa sakit
  3. Tidak mengganggu penglihatan
  4. Terjadi secara tiba-tiba (setelah trauma atau penyebab lain)

Gambar 2. Gambaran perdarahan subkonjungtiva yang ringan (sebagian konjungtiva)

Gambar 3. Gambaran perdarahan subkonjungtiva yang berat (seluruh konjungtiva)

Bagaimana menangani perdarahan subkonjungtiva pada anak?

Ayah dan ibu kejora, perdarahan konjungtiva ini memang tidak sering terjadi namun seperti yang saya tuliskan di atas kondisi ini cukup mengakibatkan kepanikan pada setiap orang yang mengalaminya terutama bila terjadi pada anak-anak.

Sebenarnya perdarahan subkonjungtiva ini dapat sembuh sendiri tanpa obat namun membutuhkan waktu yang tidak cepat yaitu kurang lebih 14 hari atau 2 minggu. Mekanismenya adalah darah pada lapisan subkonjungtiva tersebut akan diserap perlahan oleh tubuh kita sendiri. Terapi-terapi yang diberikan bertujuan untuk mempercepat terjadinya penyerapan dari darah tersebut. Terapi yang biasa diberikan oleh dokter mata adalah terapi konservatif antara lain :

  1. Air mata buatan/ Artificial tears
  2. Antibiotik tetes : untuk mencegah infeksi sekunder
  3. Agen-agen untuk pembekuan darah : asam traneksamat
  4. Obat untuk mengecilkan pembuluh darah (vasokonstriktor)

Gambar 3. Gambaran kuning pada bagian atas konjungtiva menunjukkan proses penyerapan/penyembuhan

Jadi ayah dan ibu Kejora jangan panik bila menemukan mata anak tampak berdarah setelah bermain/jatuh, tetap tenang dan segeralah bawa ke dokter mata untuk memastikan kondisi tersebut

Referensi :

  1. Keskek NS, Cevher S, Ergin A. Analysis of subconjunctival hemorrhage. Pak J Med Sci 2013; 29(1):132-4
  2. Tarlan B, Kiratli H. Subconjunvtival haemorrhage : risk factor and potential indicators. Clinical ophthalmol 2013;7 : 1163-70
  3. Oxford eye hospital staff. Subconjunctival haemorrhage. 2009. Available from : https://www.ouh.nhs.uk/patient-guide/leaflets/files/100322haemorrhage.pdf
  4. Manchester university staff. Subconjunctival haemorrhage. 2017. Available from : https://mft.nhs.uk/app/uploads/sites/2/2018/04/REH-104.pdf

Erosi Kornea, Cedera Mata yang Sering Terjadi pada Anak

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

Halo ayah dan ibu Kejora… Apa kabar keluarga sehat Kejora?

Oh ya ayah dan ibu Kejora erosi kornea ini cukup sering terjadi pada anak-anak, karena anak masih belum awas terhadap barang-barang yang mereka mainkan apalagi bila sedang bermain dengan teman-teman di sekolah maupun di tempat umum. Erosi kornea bisa terjadi jika tercolok jari teman sekolah, tidak sengaja terkena lemparan mainan teman dan lain sebagainya. Erosi kornea terjadi pada salah satu bagian dari organ mata yang penting untuk penglihatan yaitu kornea. Kornea adalah lapisan mata yang tidak memiliki warna/bening yang berada paling depan. Erosi atau abrasi kornea sering terjadi dimana 80% kasus mata yang datang ke unit gawat darurat, adalah karena erosi ini. Nah ayah dan ibu kejora yuk mari kita bahas apa sih erosi/abrasi kornea itu dan penyebabnya apa saja dan bagaimana penanganannya.

Apa yang dimaksud dengan Erosi Kornea?

Erosi atau abrasi kornea merupakan terkelupasnya/robeknya lapisan paling atas/depan dari kornea yaitu lapisan epitel. Lapisan kornea terdiri dari banyak ujung-ujung saraf sehingga apabila terjadi erosi maka akan terasa sakit dan perih sekali. Jadi Ayah dan ibu kejora jika sang buah hati menangis kencang setelah bermain dengan teman-temannya dan tidak mau membuka matanya karena sakit waspadalah mungkin matanya mengalami erosi kornea ini.

Gambar 1. Gambaran lapisan-lapisan pada kornea, erosi kornea terjadi pada lapisan epitel (diberi tanda box)

Gambar 2. Gambaran erosi atau abrasi kornea

Apa saja yang dapat menyebabkan Erosi kornea?

Erosi kornea biasanya terjadi akibat trauma mekanik yang antara lain adalah :

  1. Tercolok jari/fingernails (paling sering)
  2. Terkena lemparan benda asing ke arah mata dengan kecepatan yang tinggi
  3. Menggosok-gosok mata terlalu kuat
  4. Terkelupas pada saat mencopot lensa kontak (biasanya pada pengguna lensa kontak, jarang terjadi pada anak)

Apa saja tanda dan gejala jika sang buah hati mengalami Erosi kornea?

  1. Sangat nyeri/sakit -> kadang sampai mata sulit untuk dibuka
  2. Mata menjadi berair
  3. Mata menjadi merah
  4. Mata terasa perih
  5. Pandangan buram
  6. Mata menjadi sensitive terhadap cahaya/sinar (fotofobia)

Gambar 3. Tanda erosi kornea -> mata merah, berair, erosi (gambaran warna hijau merupakan area yang mengalami erosi)

Apa penanganan yang dilakukan jika sang buah hati mengalami Erosi kornea?

Ayah dan ibu kejora, erosi kornea cukup sering terjadi pada anak-anak karena kadang kita tidak dapat mengontrol anak 100 persen bila mereka sedang bermain di sekolah maupaun di tempat bermain umum dan kadang anak-anak masih belum tahu bahaya dari mainan yang mereka mainkan. Apabila anak-anak ayah dan ibu kejora tiba-tiba menangis kesakitan setelah terlempar mainan oleh temannya atau tidak sengaja tercolok jari temannya, segeralah bawa ke dokter mata. Erosi kornea dapat sembuh sempurna tanpa meninggalkan bekas.

Penanganan yang dilakukan dokter jika terjadi erosi kornea adalah :

  1. Dilakukan patching kencang dengan perban selama 8 jam

Gambar 4. Patching therapy

  1. Dipasang bandage contact lens selama 1-3 hari


Gambar 5. Bandage lens therapy

  1. Diberikan obat tetes antibiotik
  2. Diberikan obat tetes pelembab (artificial tears).

Penggunaan patching atau lensa kontak ditentukan dari luasnya erosi kornea dan apakah si anak kooperatif atau tidak. Biasanya bila erosinya luas dan anak kooperatif dapat dilakukan pemasangan lensa kontak. Pemasangan lensa kontak atau pemberian patching kencang bertujuan untuk memberikan ruang dan waktu bagi epitel kornea untuk melakukan regenerasi. Penyembuhan/ regenerasi dari epitel kornea antara 24 – 48 jam.

Sumber :

  1. American Academy of Ophthalmology staff. The eye. In: American Academy of Ophthalmology Staff, editor. Fundamental and principle of ophthalmology. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2014. p. 38-9
  2. Boyd K. What is corneal erosion ?. 2019. Available from https://www.aao.org/eye-health/diseases/what-is-corneal-erosion
  3. Wilman D, Melnason SW. Corneal injury . Available from : https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459283/
  4. Guy’ and St Thomas’ NHS staff. Corneal abrasion. 2018. Available from : https://www.guysandstthomas.nhs.uk/resources/patient-information/eye/corneal-abrasion.pdf
  5. Wilson E. Pediatric cataracts : overview. 2015. Available from : https://www.aao.org/disease-review/pediatric-cataracts-overview

Obstruksi Duktus Nasolakrimal Kongenital (ODNLK)

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

 

Halo Keluarga Kejora… Apa kabar semua?

Kali ini saya mendapat kesempatan untuk membahas topik dengan judul Obstruksi Duktus Nasolakrimal Kongenital (ODNLK). Saat membaca judul ini, sepertinya sulit ya Ayah dan Ibu Kejora memahaminya. Namun sebetulnya kelainan ini cukup sering ditemukan, terutama pada bayi-bayi baru lahir sampai 1 tahun pertama kehidupan. Supaya lebih mudah memahami, ODNLK itu merupakan sumbatan pada saluran keluar air mata. Ayah dan Ibu mungkin pernah mendengar atau mempunyai pengalaman seorang bayi atau batita/balita dengan keluhan matanya berair dan belekan tanpa adanya mata merah. Terkadang pada beberapa kasus sampai terjadi bengkak di pangkal hidung dekat mata bagian dalam. Nah, ini merupakan salah satu tanda dari ODNLK.

Yuk, sekarang mari kita coba bahas…

Definisi

Ayah  dan Ibu Kejora, obstruksi duktus nasolakrimal kongenital adalah suatu kelainan berupa adanya sumbatan pada sistem pengeluaran air mata dari mata ke hidung.1 Hal ini terjadi akibat kegagalan membran suatu katup (katup hasner) yang terletak pada area hidung untuk terbuka, sehingga air mata yang seharusnya mengalir dari mata ke hidung tidak bisa mengalir.1-3 Kondisi ini mengakibatkan air mata yang idealnya dikeluarkan ke hidung menjadi menumpuk pada mata/mata menjadi berair dan apabila terdapat kuman yang masuk dapat menyebabkan infeksi saluran keluar air mata. Sumbatan pada aliran keluar air mata dapat terjadi pada bagian atas dan bawah namun yang lebih berbahaya adalah sumbatan bagian bawah karena dapat menyebabkan infeksi. Gambar 1 kiri4 memperlihatkan gambaran air mata yang dihasilkan oleh kelenjar air mata (A), lalu dikeluarkan ke hidung melalui saluran keluar air mata (B-E). Sumbatan aliran keluar air mata bagian atas terjadi apabila terjadi sumbatan pada point B dan C, dan sumbatan aliran keluar air mata bagian bawah terjadi sumbatan pada poin E yang saya bahas saat ini (gambar 1 kanan5).

Gambar 1. Kiri adalah gambaran perjalanan air mata normal dari mulai dihasilkan oleh kelenjar air mata (A) sampai dikeluarkan ke hidung melelalui saluran keluar air mata (B-E); Kanan adalah gambaran yang terjadi pada ODNLK.

Jumlah Kasus dan Penyebab

Di Amerika Serikat dan dunia dikatakan obstruksi duktus nasolakrimal kongenital (ODNLK) ini terjadi pada 2-4% bayi baru lahir6 dan menurut penelitian terakhir, jumlahnya cukupt inggi pada anak dengan Down Syndrome yaitu antara 22% dan 36% dan meningkat pada bayi-bayi lahir premature.7 ODNLK mengalami resolusi sempurna pada 4-6 minggu setelah lahir.1 Kepustakaan lain mengatakan ODNLK terjadi pada 2%-6% bayi cukup bulan usia 3-4 minggu dan pada 1/3 pasien terjadi obstruksi pada kedua mata.8 Pada umumnya 80-90% kasus memberikan gejala saat usia 1 bulan.1 Jadi Ayah dan Ibu Kejora, dapat dikatakan bahwa sebagian besar pasien dengan ODNLK muncul semenjak lahir atau usia 1 bulan dan biasanya obstruksi ini akan sembuh spontan pada usia 1 tahun pertama.

Obstruksi duktus nasolakrimal kongenital disebabkan oleh sumbatan pada membran katup (katup hasner) yang membungkus saluran keluar air mata pada area hidung (gambar 2).1 Sumbatan pada katup tersebut dapat disebabkan karena kegagalan proses perkembangan organ saluran keluar air mata pada usia 4 bulan masa kehamilan (embriologi pembentukan saluran keluar air mata).9 Sumbatan ini dapat menyerang siapa saja (sporadik), tetapi dapat juga dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko antara lain: genetik, kelahiran prematur, kelainan kongenital, obat yang dikonsumsi Ibu pada saat hamil (antibiotik), konsumsi alkohol dan infeksi saat hamil.7 Kelainan sistemik dapat menyertai pada hampir 25% pasien dengan obstruksi duktus nasolakrimal kongenital berat.

Gambar 2. Letak sumbatan pada ODNLK (katup hasner) pada saluaran keluar air mata di area hidung.10

Tanda dan Gejala

  1. Mata berair (gambar 3)
  2. Banyak kotoran mata (belek) (gambar 4)
  3. Pembengkakan pada area pangkal hidung dekat ujung mata bagian dalam (gambar 4 & 5)
  4. Keluar cairan kental pada saat penekanan di daerah pangkal hidung dekat dengan ujung mata bagian dalam1-3

Jadi Ayah dan Ibu Kejora, apabila menemukan teman, tetangga atau pun anak yang mengalami mata berair tetapi tanpa disertai mata merah, sebaiknya segera periksakan ke dokter mata untuk diketahui apakah berair. Hal tersebut dikarenakan sumbatan atau penyebab lain seperti infeksi pada mata. Satu hal lagi, sebaiknya jangan sampai baru di bawa ke dokter apabila sudah bengkak/infeksi.

Gambar 3. Mata berair karena ada hambatan pada saluran keluar air mata.

Gambar 4. Panah biru menunjukkan sekret/ belek, panah hitam menunjukkan pembengkakan pada area pangkal hidung (saluran keluar air mata).

Gambar 5. ODNLK yang terjadi pada kedua mata.

Tatalaksana

Penatalaksanaan pada ODNLK terbagi menjadi 2 yaitu terapi konservatif atau non bedah dan terapi pembedahan.11 Terapi secara konservatif merupakan terapi utama pada ODNLK karena kelainan ini dapat sembuh spontan pada 90% kasus pada usia 1 tahun pertama.1-3 Resolusi spontan pada obstruksi duktus lakrimal kongenital terjadi pada 80-100% pasien pada usia 1 tahun pertama. Meskipun lebih dari 50% kasus mengalami resolusi spontan pada usia 6 bulan pertama tetapi ada beberapa kasus yang sembuh spontan pada usia 1 tahun.

Terapi konservatif yang dilakukan adalah teknik pemijatan (digital massage) pada daerah sakuslakrimal/area pangkal hidung dekat bagian dalam mata. Teknik pemijatan ini memiliki 2 tujuan yaitu: 11,12

  1. Untuk mengosongkan sakus sebagai upaya untuk mencegah pertumbuhan bakteri
  2. Memberikan tekanan positif pada daerah yang mengalami obstruksi sebagai upaya untuk membuka sumbatan pada membran katup hasner dan menjaga agar tetap terbuka secara permanen11-12

Gambar 6. Teknik pemijatan pada bayi dengan ODNLK. A. Pijatan dilakukan pada area pangkal hidung dekat dengan area mata bagian dalam (panah merah) ke arah dalam, B. Tujuan dari pijatan memberikan tekanan positif sehingga katup yang tersumbat (panah biru) akan terbuka.

Teknik pemijatan dilakukan dengan cara melakukan penekanan pada daerah sakus di atas kantus medial dengan jari dan digerakkan ke arah bawah.1,11 Pemijatan dilakukan sebanyak lima kali dengan frekuensi sekurang-kurangnya dua kali dalam sehari. Berdasarkan Randomized Clinical Trial (RCT), Kushner menunjukkan teknik pemijatan untuk membuka sumbatan pada membran hasner memiliki efektifitas lebih baik dibandingkan dengan tidak dilakukan sama sekali dalam penatalaksanaan ODNLK ini. Foster et al13 menyatakan dengan Lacrimal Scintigraphy bahwa aliran air mata dalam sistem duktus nasolakrimal tampak lancar setelah dilakukan teknik pemijatan sakus lakrimal, meskipun hasil penelitian secara statistik tidak signifikan dibandingkan dengan pasien tanpa obstruksi duktus nasolakrimal kongenital ini.

Selain teknik pemijatan dapat juga diberikan antibiotik topikal sebagai pengobatan ODNLK apabila terdapat infeksi sekunder.11 Apabila tidak ditemukan infeksi sekunder, maka tidak dianjurkan pemberian antibiotik topikal ini karena flora bakteri pada pasien-pasien ODNLK ini identik dengan flora pada individu normal. Penggunaan antibiotik dapat mengubah flora bakteri yang normal menjadi flora bakteri yang resisten dan sistem imunitas pada bayi itu belum sempurna, sehingga kemampuan untuk membunuh bakteri yang resisten tersebut kurang.

Apabila dengan terapi konservatif tidak terjadi resolusi spontan, maka dibutuhkan terapi pembedahan antara lain: Teknik probing, dilatasi dengan balon, intubasi atau Dacryocystorhinostomy (DCR) pada saluran keluar air mata.1,11

Referensi :

  1. American Academy of Ophthalmology. Chapter 13: Abnormalities of the Lacrimal Secretory and Drainage System. In: American Academy of Ophthalmology Orbit, Eyelids and lacrimal system. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology 2007-2008. p.265-66.
  2. Hughes RK, Fitzgerald DE. Congenital Nasolacrimal Duct Obstruction: An Optometric Perspective. Journal of behavioral Optometry 2000; 11(4): 94-6.
  3. Kakizaki H, Takahashi Y, Kinoshita S, Shiraki K, Iwaki M. The Rate of Symptomatic Improvement of Congenital Nasolacrimal Duct Obstruction in Japanese Infants Treated with Conservative Management during 1st Year of Age. Clinical Ophthalmology 2008 ; 2(2): 291-4.
  4. Ophthalmic Consultant of Vermont. Tear Duct Surgery. 2019. Available from : http://ocvermont.com/oculoplastic-orbital-surgery/eyelid-surgery/tear-duct-surgery/.
  5. Belsare G. Endoscopic DCR. 2017 Available from : https://www.belsareenthospital.com/endoscopic-dcr-dacrocystorhinostomy/.
  6. American Academy of Ophthalmology Staff. Examination Techniques for the External Eye and Cornea. In: American Academy of Ophthalmology Staff, Editor. External Disease and Cornea. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2013. p. 21-5.
  7. Mounir Bashour, MD. Congenital Anomalies of Nasolacrimal Duct. In Medsca Preferance. Updated 15 Feb 2012. Diunduh : http://emedicine.medscape.com/article/1210252-overview#showall (26/03/2013).
  8. American Society of Ophthalmic Plastic and Reconstructive Surgery. Congenital Lacrimal Obstruction-Tearing in Children. 2005; 1-2.
  9. Hurwitz JJ. Disease of the Sac and Duct. In: Hurwitz JJ, ed. The Lacrimal System. Lipincott Raven 1995; 9-28.
  10. Prukopich CL. Elliot DB. Nasolacrimal Stenosis or Blockage. 2007. Available from: https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/epiphora.
  11. American Academy of Ophthalmology. Chapter 17: The Lacrimal Drainage System. In: American Academy of Ophthalmology Pediatric Ophthalmology and Strabismus. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology 2007-2008; p.241-3
  12. Calhoun JH. Disorders of the Lacrimal Apparatus in Infancy and Childhood. In: Nelson LB, Calhoun JH, Harley RD, editors. Pediatric Ophthalmology. 3rd edition. Philadelphia: W.B. Saunders Company 1991; 329-33.
  13. Yasuhiro T, Hirohiko K, Weng O, Dinesh S. Management of Congenital Nasolacrimal Duct Obstruction. Acta Ophthalmologica 2010; 88: 506-13.

Katarak pada Anak

 

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

Apa kabar Keluarga Kejora? Bulan Februari ini topik mata yang akan dibahas adalah tentang katarak. Mungkin Ayah dan Ibu bingung, “Emangnya katarak bisa terjadi pada anak?Bukannya katarak itu identik dengan penyakit pada orang tua?”

Nah, mari kita simak perbincangan kita kali ini dengan dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM.

Dok, benarkah katarak bisa terjadi pada anak?

Ya, betul sekali…katarak bisa terjadi dari usia berapapun, bahkan pada bayi yang baru lahir.

katarak yang terjadi pada anak ini biasanya dikenal dengan istilah pediatric cataract.

Katarak itu apa sih Dok?

Katarak adalah suatu kondisi kekeruhan lensa mata saat seharusnya lensa ini jernih dan transparan. Kekeruhan lensa ini mencegah munculnya bayangan yang jelas pada retina.1,2

Oh begitu… boleh diceritakan lebih lanjut mengenai katarak, Dok?

Tentu saja boleh… Katarak pada anak merupakan penyebab 5-20% kebutaan pada anak di dunia.3 Katarak dapat terjadi pada satu mata (unilateral) atau 2 mata sekaligus (bilateral).

Penyakit bisa terjadi pada bayi baru lahir hingga 1 tahun pertama (disebut juga katarak kongenital) ataupun pada anak diatas 1 tahun (disebut juga katarak didapat/acquired).

Katarak juga dapat berhubungan dengan penyakit sistemik, dapat muncul pada sebagian lensa (parsial) ataupun seluruh lensa (komplit).1-4

Gambar 1. Gambaran katarak pada anak: A. katarak satu mata (unilateral), B. katarak dua mata (bilateral)

Wah… kompleks juga ya kedengarannya, Dok.

Dok, kalau penyebab katarak sendiri itu apa?

Katarak memiliki penyebab yang bermacam-macam. Penyebab katarak yang terjadi pada kedua mata antara lain:

  1. Tidak diketahui sebabnya (50%) atau disebut idiopatik
  2. Ada riwayat keluarga
  3. Berhubungan dengan kelainan kromosom (Sindrom Down, Edward, atau Patau)
  4. Berhubungan dengan infeksi (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes (TORCH))
  5. Berhubungan dengan penyakit metabolik (galaktosemia, hipoparatiroid)
  6. Berhubungan dengan kelainan musculoskeletal (myotonic dystrophy)
  7. Berhubungan dengan kelainan mata lain (aniridia)

Penyebab katarak pada 1 mata (unilateral) adalah

  1. Tidak diketahui sebabnya
  2. Tanpa ada riwayat keluarga
  3. Berhubungan dengan trauma (trauma tumpul / tajam)
  4. Kelainan mata lain (Persistent fetal vasculature/PFV, posterior segment tumor)1,2,4

Oh banyak juga penyebabnya ya Dok… Lalu, bagaimana sih kita mengenali tanda dan gejala katarak itu Dok?

  1. Pandangan buram -> tidak ada fiksasi terhadap cahaya atau benda yang diberikan
  2. Tampak gambaran putih pada pupil (bagian hitam di tengah bola mata)
  3. Tampak mata menjadi juling/jereng (strabismus) -> bila terjadi katarak pada 1 mata
  4. Tampak mata bergoyang-goyang cepat (nystagmus) -> bila terjadi katarak pada 2 mata

 Gambar 2 . Perbandingan gambaran yang dilihat mata normal dan mata katarak

Nah, untuk mengetahui dan mengenali tanda dan gejala katarak pada anak memang agak sulit. Hal ini disebabkan karena anak masih terlalu kecil, anak belum mengerti, dan anak belum mampu untuk berkomunikasi. Oleh sebab itu, sangatlah penting untuk menilai/mengetahui jika terdapat katarak pada anak sejak dini, karena katarak pada anak dapat mengakibatkan mata malas atau penglihatan yang tidak optimal di kemudian hari. Perlu kita ingat bahwa 80% informasi yang diterima oleh otak berasal dari mata. Sehingga, penglihatan seorang anak yang tidak optimal tentu akan mengganggu masa depan anak tersebut kelak.

Pemeriksaan awal yang dilakukan itu biasanya bagaimana Dok?

Biasanya, setiap anak yang baru lahir dilakukan skrining pemeriksaan mata yaitu ada tidaknya refleks merah (red reflex) dan pemeriksaan retina dengan retinoskopi oleh dokter, dokter anak ataupun dokter spesialis mata karena kekeruhan lensa yang minimal/sebagian kadang sulit untuk diketahui dengan mata telanjang.2

Gambar 3. Red reflexpostif pada mata kanan (A) dan red reflexnegatif pada mata kiri (B)6

Gambar 4. Perbandingan antara gambaran red reflexpada mata normal (A), pada mata dengan katarak yang minimal/sebagian (B) dan pada katarak total (C)7

Apabila ada kecurigaan ke arah katarak, Dokter akan bertanya kepada Ayah atau Ibu tentang riwayat tumbuh kembang anak, adakah riwayat keluarga dengan katarak, apakah saat ibu sedang hamil mengalami infeksi TORCH, dan adakah penyakit sistemik yang diderita oleh anak.

Baiklah Dok.. lalu apakah katarak ini bisa disembuhkan dok? Bagaimana penanganannya?

Tatalaksana katarak pada anak maupun dewasa sama yaitu operasi.1-4 Pada beberapa kasus katarak yang berukuran kecil dan tidak menutupi aksis penglihatan, dapat dilakukan observasi dulu.

Duh… apakah memang harus dilakukan operasi dok? Kapan sebaiknya dilakukan operasi ini?

Operasi katarak pada anak harus dilakukan sesegara/sedini mungkin karena dapat berisiko terjadinya mata malas. Tindakan operasi pada anak dengan katarak pada 1 mata (unilateral) optimal dilakukan sebelum usia 6 minggu dan katarak pada kedua mata (bilateral) optimal dilakukan sebelum usia 10 minggu.1,2

Apakah operasi yang dilakukan sama seperti operasi pada katarak dewasa?

Terdapat sedikit perbedaan antara operasi katarak pada anak dan dewasa.

Operasi katarak pada anak usia di bawah 2 tahun dilakukan tanpa pemasangan lensa tanam, jadi hanya lensa kataraknya saja yang diambil. Selanjutnya pasien akan menggunakan kacamata afakia atau lensa kontak sebagai alat bantu untuk melihat.

Jadi, Ayah dan Ibu jangan terkejut atau heran ya bila operasi katarak pada anak dapat dilakukan lebih dari satu kali.2

Wah dok, adakah hal yang dapat kami lakukan untuk mencegah terjadinya katarak?

Sayangnya, sebagian besar kelainan katarak pada anak tidak dapat dicegah kecuali apabila penyebabnya adalah infeksi TORCH. Jadi bagi ibu yang sedang hamil, jangan lupa untuk melakukan screening TORCH yaa.. Karena infeksi TORCH yang terjadi pada saat hamil dapat mengakibatkan katarak pada bayi yang baru lahir.

Wah informasinya lengkap sekali dok.. kami jadi belajar banyak mengenai katarak pada anak. Terima kasih banyak ya dok!

Referensi :

  1. American Academy of Ophthalmology staff. Embryology and developmental defect. In: American Academy of Ophthalmology Staff, editor. Lens and cataract. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2014. p. 30
  2. American Academy of Ophthalmology staff. Childhood cataract and other pediatric lens disorder. In: American Academy of Ophthalmology Staff, editor. Pediatric ophthalmology and strabismus. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2014. p. 291-303
  3. Sheeladevi S, Lawrenson JG, Fielder AR, Suttle CM. Global prevalence of childhood cataract : a systematic review. Eye (Lond). 2016 Sep; 30(9): 1160–1169.
  4. Wilson E. Pediatric cataracts : overview. 2015. Available from : https://www.aao.org/disease-review/pediatric-cataracts-overview
  5. Eye stimulation . Available from : https://discoveryeye.org/resources/vision-simulations/
  6. JR Ainswoth. How to test for the red reflex in a child. Community eye health Journal; 2014:27(86):1
  7. Pandit S. Cuases of absent red reflex in newborns. Available from : https://aptparenting.com/causes-of-absent-red-reflex-in-newborns
  8. Yorston D. Surgery for congenital cataract. Community eye health. 2004; 17(50): 23-5

Konjungtivitis

 

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

Halo ayah dan ibu Kejora !

Kembali lagi ke topik tentang mata, bulan ini kita akan membahas tentang salah satu penyakit mata merah yang tersering yaitu konjungtivitis. Kalau Ayah dan Ibu sering mendengar “eh dia sakit mata, jangan dekat-dekat yah” seringkali orang tersebut mengalami penyakit konjungtivitis ini. Secara garis besar, penyebab konjungtivitis dibagi menjadi infeksi dan non infeksi. Namun yang lebih sering terjadi di masyarakat adalah karena infeksi. Konjungtivitis ini bisa terjadi pada siapa saja tanpa memandang usia (bayi, anak, dewasa, maupun lansia), tingkat sosial ekonomi, lokasi, maupun waktu; sehingga penting sekali menjaga kebersihan diri sejak dini untuk menjaga higienitas serta mencegah penyakit menular

Yuk, mari kita mulai bahas tentang konjungtivitis ini…

Definisi

Ayah dan Ibu Kejora, salah satu penyebab mata merah yang paling sering terjadi adalah konjungtivitis. Konjungtivitis adalah suatu infeksi atau peradangan yang terjadi pada konjungtiva, suatu lapisan/membran tipis yang terletak pada bagian terdepan mata.

Gambar 1. Perbandingan mata yang normal dengan mata yang mengalami konjungtivitis

Etiologi

Konjungtivitis dapat terjadi melalui proses infeksi (oleh virus dan bakteri) maupun non infeksi. Beberapa penyebab non infeksi antara lain: alergi, mekanik/toksik/iritatif, berhubungan dengan sistem imun, serta keganasan. Konjungtivitis akibat infeksi lebih banyak ditemukan dibandingkan yang non infeksi.3

Virus penyebab konjungtivitis antara lain adalah adenovirus, herpes simpleks, varicella zoster/herpes zosterdan molluscum contagiosum.Adenovirusmerupakan penyebab konjungtivitis virus yang terbanyak (65-90%). Umumnya, konjungtivitis virus disertai dengan batuk, flu dan radang tenggorokan yang juga bersifat sangat menular. Konjungtivitis sering ditularkan melalui kontak langsung oleh jari tangan yang terkontaminasi cairan mata, penularan peralatan medis, kolam renang umum, sekolah, tempat kerja, atau tempat-tempat yang padat populasi.

Gambar 2. Gambaran konjungtivitis virus (merah, berair , dan jarang ada sekret/kotoran/belek)

Konjungtivitis yang disebabkan oleh bakteri juga sangat menular dan biasanya menghasilkan kotoran/sekret/belek yang banyak. Penyebab konjungtivitis bakteri ini antara lain adalah bakteri Streptococcus, Staphylococcus, H. influenzae, Moraxella catarrhalis, N. gonorrhea,dan Chlamydia trachomatis.

Gambar 3. Gambaran konjungtivitis bakteri (merah, berair, dan banyak sekret/kotoran/belek yang kental)

Jenis konjungtivitis non infeksi yang paling sering terjadi adalah konjungtivitis alergi, dengan beberapa tipenya antara lain: konjungtivitis vernal, atopic, seasonal allergicdan giant papillary conjunctivitis. Konjungtivitis alergi ini tidak menular seperti yang terjadi pada jenis infeksi. Gejala yang dominan pada konjungtivitis alergi biasanya adalah rasa gatal, mata merah, berair, dan bengkak. Penting sekali untuk mengetahui pencetus/alergen yang menyebabkan konjungtivitis ini.

Gambar 4. Gambaran konjungtivitis alergi: merah, berair, dan banyak folikel (berupa tonjolan) di bagian tarsal konjungtiva

Tanda dan Gejala

  1. Mata merah
  2. Kelopak mata bengkak
  3. Mata terasa mengganjal/ sensasi benda asing
  4. Mata berair
  5. Mata terasa gatal atau perih
  6. Mata keluar banyak kotoran /sekret/belek
  7. Mata terasa lebih silau / sensitif terhadap cahaya

Gambar 5. Perbandingan gambaran tanda dan gejala antara mata normal dan konjungtivitis

Tatalaksana

Tata laksana konjungtivitis disesuaikan dengan penyebabnya.

Pada konjungtivitis virus, gejala terberat terjadi pada 3-5 hari pertama dan pada umumnya akan sembuh dalam 7-14 hari. Ayah dan Ibu Kejora, tahukah Anda kalau konjungtivitis virus berhubungan erat dengan kondisi imunitas tubuh? Jadi, anak yang mengalami konjungtivitis disertai dengan infeksi saluran pernapasan (batuk, pilek, dan/atau radang tenggorokan) harus mendapatkan pengobatan untuk infeksi saluran pernapasannya juga. Untuk mengembalikan imunitas tubuh, Si Kecil membutuhkan istirahat dan makan yang cukup dengan pola makan teratur. Sedangkan, pengobatan untuk mata konjungtivitis sendiri pada umumnya berupa obat tetes mata antibiotik dan anti radang untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, juga air mata buatan (artificial tears) untuk mempercepat penyembuhan.

Pada konjungtivitis bakteri, meskipun keadaan lebih berat namun penyembuhannya lebih cepat yaitu antara 2-5 hari. Pengobatan yang diberikan berupa obat tetes antibiotik dan antiradang serta air mata buatan.

Tata laksana yang utama pada konjungtivitis alergi adalah menghindari pencetus atau alergen. Ayah dan Ibu Kejora yang memiliki anak dengan alergi harus mencari tahu penyebab alerginya. Si Kecil akan diberikan tetes mata anti alergi dan anti radang serta air mata buatan, dan apabila memiliki alergi berat dapat ditambahkan obat anti alergi oral.

Pencegahan

Ayah dan Ibu Kejora, mengingat sifat konjungtivitis yang sangat menular, penting sekali melakukan pencegahan terutama pada usia anak-anak yang rentan sekali terkena infeksi. Infeksi ini umumnya terjadi saat mereka sedang melakukan eksplorasi di lingkungan sekitarnya.

Jadi, berikut ini adalah beberapa hal yang harus dilakukan untuk pencegahan konjungtivitis:

    • Ajari anak untuk selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang mata
    • Ajari anak untuk tidak mengucek-ucek mata, katakan untuk sebisa mungkin tidak memegang mata dan sekitarnya karena kita tidak bisa menjamin kondisi tangan kita selalu bersih
    • Ajari anak untuk tidak berbagi sesuatu yang digunakan pada badan dengan teman (handuk, baju, topi, kacamata) untuk menghindari penularan
    • Jaga kesehatan tubuh (makan makanan yang bergizi dengan pola makan dan tidur yang cukup) agar sistem imun tetap terjaga sempurna sehingga terhindar dari infeksi apapun termasuk konjungtivitis.

Referensi :

  1. American Academy of Ophthalmology and preferred pattern staff. Conjunctivitis. In: American Academy of Ophthalmology Staff, editor. Conjunctivits. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2013. p. 5-11. Available from : https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwiImb_R8s3eAhUDbn0KHSrKDHgQFjAAegQIBxAC&url=https%3A%2F%2Fwww.aao.org%2FAssets%2F07524e1e-859e-4862-a32f-0235f076ede0%2F635200264565170000%2Fconjunctivitis-ppp-pdf&usg=AOvVaw29zGLlA1vTHEyiGo3tZaa9
  2. Goodman DM, Rogers J, Livingstone EH. Conjunctivitis. JAMA. 2013;309(20) : 2176
  3. Boyd K. Conjunctivitis : what is pink eye ?. 2018. Available from : https://www.aao.org/eye-health/diseases/pink-eye-conjunctivitis
  4. American Academy of Ophthalmology staff. Examination techniques for the External Eye and Cornea. In: American Academy of Ophthalmology Staff, editor. External Disease and Cornea. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2013. p. 21-5
  5. Teeple R. Seasonal Allergic Conjunctivitis. 2016. Available from : http://teepleoptometry.com/seasonal-allergic-conjunctivitis/
  6. Azari AA, Barney NP. Conjunctivitis A Systematic Review of Diagnosis and Treatment. JAMA. 2013;310(16):1721-29.

Ambliopia

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

Halo Ayah dan Ibu Kejora! Bulan lalu kita sudah sedikit membahas tentang beberapa kelainan refraksi, kali ini kita akan membahas tentang ambliopia atau yang biasa disebut mata malas (lazy eye). Mata malas ini banyak terjadi pada anak-anak dan dapat disembuhkan apabila dapat diketahui sejak awal usia sekolah. Namun apabila ditangani terlambat, ambliopia dapat menjadi permanen. Tentunya Ayah dan Ibu tidak menginginkan anak-anak yang kita sebut sebagai aset masa depan akan memiliki penglihatan yang tidak maksimal dan nantinya mempengaruhi prestasi sekolah maupun pekerjaannya kelak, bukan?

Definisi

Ayah dan ibu mungkin jarang mendengar mengenai mata malas ini. Mata malas dalam bahasa kedokteran disebut juga sebagai ambliopia. Ambliopia adalah suatu keadaan dimana mata tidak dapat melihat sempurna setelah diberikan koreksi terbaik (dengan kacamata, lensa kontak ataupun prosedur operasi) tanpa disertai kelainan organik dari mata itu sendiri1 (gambar 1).

Gambar 1. A. Gambaran yang dilihat oleh mata ambliopia , B. Gambaran yang dilihat oleh mata normal

Ambliopia lebih sering terjadi pada 1 mata walaupun dapat terjadi pada kedua mata dengan jumlah penderita yang lebih sedikit.1 Ambliopia terjadi akibat jalur saraf penglihatan dari mata menuju otak tidak mendapatkan stimulasi yang sempurna atau tidak berkembang dengan baik selama periode kritis pertumbuhan penglihatan anak, yaitu <6 tahun.2 Dari penelitian Cowdin3 dkk. dikatakan jumlah kasus ambliopia sebesar 1,81% di Asia dan sebesar 0.35% di Yogyakarta, Indonesia.  

Derajat

Ayah dan Ibu Kejora, seperti penyakit pada umumnya, derajat ambliopia bervariasi dari ringan hingga berat (gambar 2). Ambliopia dikatakan berderajat ringan-sedang apabila didapatkan tajam penglihatan terbaik 6/9-6/24 (Gambar 2B), dan memiliki derajat berat apabila didapatkan tajam penglihatan terbaik lebih buruk atau sama dengan 6/30 (Gambar 2C)4.

Gambar 2. A.Gambaran yang terlihat pada anak normal B. Gambaran yang dilihat oleh anak ambliopia ringan C. Gambaran yang dilihat oleh anak ambliopia berat

Tipe dan etiologi

Ambliopia memiliki 3 tipe, antara lain :

(a) Ambliopia Refraktif

Gambar 3. Gambaran anak dengan ambliopia refraktif (anisometropia) yang mendapatkan terapi kacamata dan terapi oklusi

Merupakan jenis ambliopia yang muncul karena kelainan refraksi yang tidak dikoreksi secara sempurna. Ambliopia refraksi ini dapat terjadi pada kedua mata akibat kelainan refraksi berat yang sama antara kedua mata (isometropia) atau akibat perbedaan kelainan refraksi yang tidak sama (≥ 2.00 D) antara kedua mata (anisometropia)1 sehingga otak hanya memproses gambaran dari mata yang dengan koreksi yang lebih kecil atau mata yang status refraksinya lebih baik. Ambliopia jenis ini sering tidak disadari oleh anak dan orang tua karena umumnya anak tidak pernah mengeluh adanya pandangan buram dan mata tampak normal. Ambliopia jenis ini baru bisa dideteksi saat anak menjalani tes penglihatan dan mungkin terjadi secara permanen bila tidak dideteksi dan diterapi sejak awal.5,6

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya ambliopia tipe ini, antara lain7,8:

  • Ambliopia pada kedua mata :
    • Miopia sebesar ≥ -3.00 D
    • Hipermetropia sebesar ≥ +4.50 D tanpa disertai strabismus dan sebesar ≥+1.50 D disertai strabismus
    • Astigmatisme sebesar ≥ 2.00 D
  • Ambliopia pada satu mata :
    • Miopia sebesar ≥ -2.00 D
    • Hipermetropia ≥ +1.50 D
    • Astigmatisme ≥ 2.00 D

(b) Ambliopia Strabismus

Gambar 4. A. strabismus kearah dalam (esotropia), B. strabismus ke arah luar (eksotropia), C. strabismus ke arah atas (hipertropia), D. strabismus ke arah bawah (hipotropi)

Gambar 5. A.Gambaran yang dihasilkan pada kedua mata normal, B. gambaran yang dihasilkan pada mata kanan normal dan mata kiri strabismus → tidak didapatkan gambar yang optimal akibatnya otak mengabaikan gambaran mata kiri

Ambliopia yang terjadi karena salah satu mata juling atau mengalami deviasi (kemiringan) ke dalam, ke luar, ke atas ataupun bawah (gambar 4). Tidak semua strabismus menyebabkan ambliopia. Strabismus yang menetap/konstan saja yang dapat mengakibatkan ambliopia.1

(c) Ambliopia stimulus deprivation

Gambar 6. Kelopak mata kiri turun

Gambar 7. Katarak mata kanan

Gambar 8. Jaringan parut pada lapisan bening mata

Ambliopia yang terjadi akibat adanya halangan/penutupan pada jalur penglihatan anak (kelopak, lapisan bening mata sampai lensa). Halangan tersebut mengakibatkan terjadinya stimulasi yang abnormal pada jalur penglihatan. Sebagai contoh untuk (1) kelopak → kelopak mata jatuh atau dalam bahasa kedokteran ptosis (gambar 6), lalu tumor/benjolan pada kelopak yang besar sehingga menutupi jalur penglihatan, (2) lapisan bening mata (kornea)(gambar 8) → adanya jaringan parut pada lapisan bening mata, (3) lensa → katarak (gambar 7)1

Tatalaksana

Tatalaksana pada ambliopia tergantung dari tipe/penyebab yang telah dijelaskan di atas. Pada ambliopia strabismus dan stimulus deprivation dilakukan tindakan operasi namun untuk ambliopia refraktif ada beberapa pilihan terapi antara lain kacamata, terapi oklusi (penutupan), dan obat-obatan. Yang paling sering digunakan adalah terapi kacamata dan terapi oklusi.9

Kacamata diberikan pada anak dengan ambliopia pada satu maupun kedua mata. Terapi kacamata saja dikatakan dapat meningkatkan tajam penglihatan pada 25-33% pasien ambliopia refraktif tipe anisometropia (keadaan status refraksi yang tidak sama antara kedua mata/timpang). Penelitian oleh Chen et al, pada 60 pasien anak usia antara 3-7 tahun yang mengalami ambliopia, didapatkan 50% pasien mengalami kesembuhan.

Terapi kacamata juga dapat dikombinasi dengan terapi oklusi (gambar 3) pada kasus ambliopia refraktif tipe anisometropia. Pada kasus ambliopia tipe ini, pasien diberikan 2 kacamata yaitu kacamata terapi disertai oklusi pada mata dengan tajam penglihatan lebih baik dan kacamata toleransi.5

Terapi oklusi dilakukan pada mata yang memiliki status refraksi lebih baik yang dilakukan selama 2 jam/hari. Hal ini dilakukan untuk merangsang mata ambliopia untuk melihat dengan optimal karena apabila tidak di lakukan terapi oklusi otak cenderung mengabaikan mata yang memiliki status refraksi lebih buruk. Tidak kalah penting pada ambliopia untuk melakukan follw-up atau kontrol rutin ke dokter spesialis mata 3 bulan, 6 bulan, dan satu tahun setelah terapi lalu selanjutnya tergantung dari perkembangan hasil status refraksi paska terapi. 1,5

JADI ……Ayah dan ibu Kejora sangatlah penting untuk mengenali dan melakukan tatalaksana ambliopia sejak dini pada saat usia masih muda karena akan memberikan hasil yang lebih stabil dan lebih baik dibandingkan apabila dilakukan pada anak dengan usia lebih tua. Hal ini berkaitan dengan periode kritis perkembangan penglihatan. Periode ini dimulai saat usia 4 bulan, mencapai puncak di usia 2 tahun kemudian menurun di usia 5 tahun, setelah itu mengalami penurunan yang ketat dan berhenti pada usia 12 tahun.10  Oleh sebab itu, penting sekali ayah dan ibu Kejora untuk melakukan skrining tajam penglihatan pada anak-anak usia antara 3-5 tahun untuk mendeteksi ambliopia lebih awal agar efek terapi menjadi maksimal.

Edited by dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Referensi :

  1. American Academy of Ophthalmology staff. Amblyopia. In: American Academy of Ophthalmology Staff, editor. Pediatric Ophthalmology and Strabismus. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2007-2008. p. 61
  2. American association for Pediatric Ophthalmology and strabismus staff. Amblyopia. March 2017. Available from https://www.aapos.org/terms/conditions/21
  3. Cowdin MK, Cotter SA, Tarczy HK, Wen G, Kim J et al. Prevalence of amblyopia or strabismus in Asian and non-hispanic white preschool children : multi ethnic pediatric eye disease study. Ophthalmology. 2013 Oct;120(10):2117-24
  4. Warris A, Amitava AK, Akhtar N, Malakar M, Kritima. Amount of anisometropia and degree of amblyopia, a correlation. India : AMU Institute of Ophthalmology. 2013; 8(1): 28-31
  5. Dadeya Subhash, Khurana Charu, Verma Lalit. Diagnosis and Treatment of Childhood Amblyopia. In : Jayadev Chaitra, editor. All India Ophthalmological Society. India : AIOS CME Series ; 2009. p.1-2
  6. Magram I. Amblyopia : Etiology, Detection, and Treatment. Pediatrics in Review. 1992 ; 13 : 7-14
  7. Collins N, Mizuiri D, Raveto J, Lum FC. Amblyopia PPP. In : Garret S, editor. American Academy of Ophthalmology Pediatric Ophthalmology/Strabismus Panel Preferred Practice Pattern® Guidelines. San Fransisco : American Academy of Ophthalmology; 2012. P. 5-13
  8. Warris A, Amitava AK, Akhtar N, Malakar M, Kritima. Amount of anisometropia and degree of amblyopia, a correlation. India : AMU Institute of Ophthalmology. 2013; 8(1): 28-31
  9. Spiegel PH, Wright KW. Visual Development and Amblyopia. In : Thompson LS, editor. Handbook of Pediatric Strabismus and Amblyopia. Chicago USA : Springer Science ; 2006. p.108-110
  10. DeSantis D. Amblyopia. In : McGregor ML, editor. Pediatric Clinics of North America. USA : Elsevier ; 2014 : 61(3); 505-6