Lenting pada anak: Herpes atau bukan?

 

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Hai Ayah Ibu Kejora!

Topik kali ini adalah meembahas mengenai lenting pada anak. Akhir – akhir ini sering kali Ayah dan Ibu Kejora mungkin risau dengan munculnya lesi di kulit anak ini merupakan infeksi Herpes atau bukan.

Oleh karena itu kali ini kita akan mengenal lebih jauh mengenai infeksi herpes dan apa bedanya dengan lesi lenting lain yang mirip dengan infeksi herpes.

 

Apa itu virus Herpes?

Virus herpes simpleks (HSV), adalah infeksi yang menyebabkan herpes. Kondisi ini dapat menyebabkan anak memiliki luka di mulut dan area wajah lainnya.
Terdapat dua jenis virus herpes simpleks, di antaranya adalah:

  • HSV-1: Virus ini menyebabkan luka di sekitar mulut dan wajah. Sering terjadi pada anak dan orang dewasa.
  • HSV-2: Virus ini dapat menyebabkan luka genital, menular lewat hubungan seksual.

Ada juga jenis herpes lain, yaitu herpes zoster atau cacar ular. Herpes zoster biasanya terjadi pada anak yang pernah mengalami cacar. Virus cacar atau varisela zoster dapat kambuh kembali ketika daya tahan tubuh turun, namun hanya menimbulkan gejala di satu area tubuh dan biasanya hanya satu sisi. Berbeda dengan herpes simpleks, herpes zoster dapat terjadi dibagian tubuh manapun, termasuk area wajah, kepala, badan dan ekstremitas.

 

Bagaimana ciri-ciri herpes pada anak?

Herpes biasanya menimbulkan keluhan lenting berisi air yang terasa perih atau panas. Kadang diawali dengan kulit terasa perih dan kemerahan, baru kemudian muncul lenting berisi air.

Lenting biasanya pecah atau mengering menjadi luka dalam 1-2 minggu. Penyakit herpes biasanya dapat sembuh sendiri. Meski demikian, apabila penanganannya tidak tepat, seringkali terjadi infeksi bakter pada luka tersebut, sehingga menyebabkan bekas luka menjadi kehitaman, jaringan parut atau bopeng.

 

Bagaimana herpes pada anak menyebar?

Virus herpes simpleks dapat menular dari orang ke orang melalui kontak langsung. Herpes pada anak atau yang secara umum disebut dengan herpes simpleks merupakan infeksi virus yang sangat menular. HSV-1 merupakan virus yang rentan menyerang anak-anak yang ditularkan dari orang dewasa yang terinfeksi. Virus ini dapat menyebar melalui air liur, kontak dari kulit ke kulit, atau dengan menyentuh suatu benda yang telah terjangkiti virus.

 

Apakah herpes bisa berulang?

Setelah seorang anak terinfeksi virus herpes simpleks, virus akan menjadi tidak aktif dan bersembunyi di jaringan saraf tepi. Virus ini dapat muncul kembali pada saat sistem kekebalan tubuh menurun atau iritasi pada kulit yang dapat disebabkan oleh faktor lain. Namun rekurensi sangat bervariatif, ada anak yang tidak pernah mengalami kekambuhan, ada yang mengalami kekambuhan dalam beberapa bulan sampai tahun.

Beberapa faktor pemicu kekambuhan lesi herpes adalah:

  • Kelelahan dan stres
  • Paparan sinar matahari yang intens, panas,
  • Udara dingin, atau kering
  • Luka atau kerusakan pada kulit
  • Penyakit lain, seperti flu atau batuk pilek
  • Dehidrasi dan diet yang buruk
  • Hormon yang berfluktuasi (misalnya, selama periode menstruasi remaja, dll)

 

Apa yang harus dilakukan kalau anak mengalami lesi kulit seperti herpes?

Lesi khas herpes adalah lenting berisi air di area tertentu. Seringkali sulit membedakan antara herpes dengan kondisi kulit lain yang menyebabkan lenting berisi air seperti dermatitis venenata, infeksi bakterti atau impetigo, dermatitis kontak iritan, alergi obat, infeksi jamur dan lain-lain.

 

Hindari mendiamkan lesi kulit tersebut pada anak atau mengobati sendiri dengan bahan dapur atau membeli obat salep sendiri di apotek. Sebaiknya apabila curiga anak mengalami herpes, konsultasikan ke dokter spesialis kulit dan kelamin, agar mendapat penanganan yang tepat dan tidak menimbulkan komplikasi. Obat herpes yang utama adalah antivirus oral, dan sebaiknya diberikan dalam 72 jam pertama ada keluhan. Karena itu sebaiknya tidak menunda untuk berkonsultasi ke dokter.
Sebelum berkonsultasi dengan dokter kulit dan kelamin, yang bisa dilakukan orang tua adalah:

 

Mencegah penularan atau rekurensi

  • Biasanya anak tertular dari orang dewasa atau anak lain yang sedang mengalami herpes juga. Jangan mencium anak apabila orang tua sedang memiliki lesi aktif.
  • Anak tidak boleh berbagi minuman atau peralatan, handuk, pasta gigi, atau barang lainnya untuk menghindari penyebaran infeksi
  • Penularan terutama dengan kontak kulit, apabila tidak yakin anak bisa menghindar kontak kulit selama ada lesi herpes, sebaiknya tidak usah beraktivitas di luar rumah.

 

Cara meringankan gejala

  • Berikan kompres dingin atau air bersih pada luka untuk mengurangi rasa perih.
  • Tetap bersihkan area yang mengalami luka/lenting dengan air dan sabun saat mandi
  • Usahakan agar anak tidak menggaruk atau mengelupas lenting atau luka. Hal ini bisa memicu infeksi bakteri di luka tersebut.

Referensi

  • SH James and RJ Whitley. Treatment of Herpes Simplex Virus Infections in Pediatric Patients: Current Status and Future Needs. Clin Pharmacol Ther. 2010 Nov; 88(5): 720–724.
  • Klatte, JM. Pediatric Herpes Simplex Virus Infection. https://emedicine.medscape.com/article/964866-overview

Apa itu Maskne?

 

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Hai Ayah dan Ibu Kejora, belakangan ini, setelah berlaku masa transisi dari PSBB ke New Normal, masyarakat digalakkan untuk memakai masker, baik masker bedah ataupun masker kain, ketika beraktivitas di luar rumah. Namun beberapa masalah kulit dapat muncul pada pemakaian masker jangka panjang, termasuk iritasi, alergi dan  yang belakangan banyak dikeluhkan adalah jerawat  di area wajah yang tertutup masker atau bisa disebut “maskne.

Apa itu Maskne?

Maskne  atau  jerawat masker (mask acne) sebenarnya adalah suatu bentuk akne, yang sering disebut sebagai akne mekanika, atau akne yang timbul karena gesekan berulang di kulit. Gesekan berulang pada satu area kulit dapat menyebabkan kerusakan sawar kulit atau microtear yang mempermudah bakteri dan kotoran untuk masuk kedalam pori-pori kulit dan memicu terjadinya infeksi. Selain itu, napas kita yang teroklusi di balik masker akan menyebabkan lingkungan yang lembab dan memudahkan bakteri berkembang biak.

Siapa saja yang dapat mengalami Maskne?

Maskne terutama dialami oleh para pekerja kesehatan yang harus menggunakan beberapa lapis masker dan alat pelindung diri dalam jangka waktu lama (lebih dari 6 jam). Namun maskne juga bisa terjadi pada semua orang yang rutin memakai masker dan memiliki kulit yang cenderung berminyak atau sensitive.

Bagaimana cara mencegah timbulnya Maskne?

Meskipun begitu, penggunaan masker tetap diperlukan untuk mencegah penularan virus Corona pada kondisi pandemik saat ini. Untuk mencegah terjadinya maskne, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

  1. Gunakan masker yang terbuat dari bahan yang halus dan natural, misalnya katun. Selain itu, pilih bahan yang dapat meyerap keringat dan halus, sehingga mengurangi faktor kelembapan dan gesekan pada kulit. Jangan gunakan bahan sintetik seperti rayon, polyester atau nilon.
  2. Ganti masker tiap 4 jam dan bersihkan wajah dengan facial wash atau micellar water yang lembut. Cuci masker tiap selesai pemakaian.
  3. Gunakan produk pelembap atau sunscreen yang ringan dan non-komedogenik, dengan formulasi gel atau lotion.
  4. Hindari pemakaian makeup atau skin care yang terlalu creamy, atau oil-based pada area yang tertutup masker. Hindari pemakainan produk seperti foundation, Cushion dan bedak padat yang dapat menyumbat pori-pori pada kulit yang tertutup masker.
  5. Saat ini jangan mencoba produk baru, terutama produk yang dapat mengeksfoliasi kulit, seperti AHA, BHA, benzoyl peroxide dan retinoid. Oklusi oleh masker dapat meningkatkan penyerapan zat aktif dan memicu iritasi dan peradangan.
  6. Jangan menyentuh wajah dibalik area yang tertutup masker. Jari kita dapat mentransfer bakteri dan virus ke area tersebut.

Apabila timbul maskne atau keluhan kulit lain yang cukup berat dan tidak bisa diatasi dengan skin care over the counter dan langkah pencegahan di atas, konsultasikan masalah kamu dengan dokter spesialis kulit dan kelamin, baik online maupun offline. Terkadang diperlukan obat minum atau obat yang harus diresepkan untuk membantu mengurangi maskne tersebut.

Editor: Saka Winias, drg., M.Kes., Sp.PM

Sumber:

  1. https://www.aad.org/public/everyday-care/injured-skin/burns/face-mask-skin-problems-treatment
  2. https://www.aad.org/public/everyday-care/skin-care-secrets/face/prevent-face-mask-skin-problems
  3. Plewig G., Kligman A.M. (2000) Acne Mechanica. In: ACNE and ROSACEA. Springer, Berlin, Heidelberg. https://doi.org/10.1007/978-3-642-59715-2_27

Penyakit Kuning Pada Bayi Baru Lahir

 

 

 

 

 

oleh Dr. dr. Ariani Widodo, SpA(K)

Dokter Spesialis Anak

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora! Adakah Ayah dan Ibu yang bayinya pernah mengalami penyakit kuning? Penyakit kuning pada bayi baru lahir atau neonatal jaundice adalah perubahan warna kuning yang terutama tampak pada kulit dan mata akibat penumpukan bilirubin. Penyakit kuning ini merupakan kondisi umum terutama pada bayi usia 2-4 hari setelah dilahirkan, pada bayi prematur yang lahir sebelum usia 37 minggu kehamilan dan pada bayi yang konsumsi ASI-nya kurang. Hampir 60% bayi cukup bulan dan 80% bayi prematur akan mengalami kuning.

Pada umumnya penyakit kuning pada bayi tidak berbahaya dan dapat pulih dengan sendirinya dalam hitungan hari hingga minggu. Bayi yang terkena penyakit kuning tidak membutuhkan pengobatan. Pemeriksaan laboratorium dan perawatan lainnya mungkin juga diperlukan jika ditemukan penyebab yang lebih serius.

 

Penyebab penyakit kuning pada bayi

Penyakit kuning ini terjadi karena bayi memiliki kelebihan bilirubin pada darahnya. Bayi baru lahir memiliki kadar sel darah yang tinggi sehingga memicu produksi bilirubin. Bilirubin sendiri terbentuk ketika sel-sel darah merah yang tua dihancurkan.

Organ hati bayi yang belum berkembang sempurna menyebabkan proses metabolisme bilirubin terhambat. Kondisi ini disebut penyakit kuning fisiologis. Bayi akan mulai menguning sekitar 24 jam setelah lahir dan akan memburuk setelah empat hari, setelah itu kembali membaik ketika berusia sekitar 1-2 minggu.

Penyakit kuning juga bisa disebabkan oleh hal lain, seperti infeksi, anemia hemolitik, kekurangan enzim, masalah pada sistem pencernaan bayi (terutama hati), atau masalah pada jenis darah ibu dan bayi (inkompatibilitas golongan darah dan rhesus (ABO dan Rh)), tetapi hal ini jarang terjadi. Bayi Ayah dan Ibu mungkin bisa mengalami masalah ini jika awitan timbul sebelum usia 24 jam.

 

Tanda bahaya pada penyakit kuning adalah:

  • Awitan timbul sebelum usia 24 jam.
  • Bayi tampak lebih mengantuk dari biasanya.
  • Penyakit kuning yang membutuhkan fototerapi.
  • Kadar bilirubin serum lebih dari 5 mg/dl per 24 jam.
  • Bayi menunjukkan tanda sakit.
  • Kuning yang menetap lebih dari 2 minggu.
  • Bayi mengalami demam lebih dari 37,8 derajat Celsius.

 

Faktor risiko

Bayi yang berisiko tinggi memiliki penyakit kuning adalah:

  • Bayi prematur (bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu).
  • Bayi yang tidak mendapatkan ASI atau susu formula yang cukup, biasanya kuning muncul pada hari kedua atau ketiga saat produksi ASI belum banyak.
  • Bayi yang memiliki golongan darah yang tidak sama dengan golongan darah ibunya. Biasanya timbul pada ibu dengan golongan darah O namun bayinya memiliki golongan darah A atau B, karena antibodi pada ibu yang masuk lewat plasenta menghancurkan sel darah merah bayi dan menyebabkan peningkatan kadar bilirubin.
  • Memiliki saudara kandung yang mengalami penyakit kuning sebelumnya.
  • Mengalami trauma saat persalinan (karena vaccum, atau persalinan yang lama).
  • Memiliki gangguan genetik tertentu.

 

Tanda dan gejala penyakit kuning

Umumnya, kondisi bayi kuning akan dimulai dari wajah, kemudian mulai turun ke dada, perut, serta tangan dan kaki. Kondisi ini bisa semakin sulit dideteksi jika bayi memiliki kulit gelap, sehingga hanya bisa dilihat di bawah sinar matahari.

 

Penanganan penyakit kuning

Penyakit kuning ringan pada bayi biasanya akan hilang dengan sendirinya dalam waktu 1-2 minggu, sehingga tidak memerlukan pengobatan atau tindakan medis khusus. Untuk mencegah kenaikan bilirubin berlebihan bisa dilakukan dengan memberikan asupan ASI yang cukup. Asupan tersebut bisa membantu bayi mengeluarkan bilirubin pada tubuhnya. Pemberian ASI bisa dilakukan sebanyak 8 hingga 12 kali dalam 24 jam. Jika memberikan susu formula, biasanya bisa diberikan sekitar 6 hingga 10 botol dalam 24 jam.

Hanya penyakit kuning yang cukup berat yang memerlukan penanganan medis berupa fototerapi. Fototerapi dilakukan dengan memberikan sinar cahaya spektrum biru-kehijauan dengan panjang gelombang 460-490 nm. Saat dilakukan fototerapi, mata bayi akan diberikan pelindung khusus dan hanya memakai popok saja sehingga permukaan tubuh bayi maksimal terpapar cahaya. Terapi ini relatif aman dan jarang menimbulkan efek samping.

Pada kasus bayi kuning yang sangat berat dan tidak berespon walaupun sudah dilakukan fototerapi, diperlukan terapi transfusi tukar. Transfusi darah dilakukan untuk mengganti darah bayi yang rusak dengan sel darah merah yang sehat. Selain itu, transfusi darah juga dilakukan untuk meningkatkan jumlah sel darah merah bayi dan mengurangi tingkat bilirubin.

 

Komplikasi

Komplikasi terjadi bila kadar bilirubin darah terlalu tinggi dan tidak kunjung turun. Bilirubin bisa melewati sawar darah-otak, menyebabkan otak keracunan bilirubin. Bayi menunjukkan tanda penurunan kesadaran dan bila dibiarkan akan menyebabkan gangguan perkembangan otak permanen.

 

Daftar Pustaka

  1. Ansong-Assoku B, Ankola P. Neonatal Jaundice. [Updated 2019 Dec 5]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing;2020 Jan- Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK532930/
  2. Brits H, Adendorff J, Huisamen D, Beukes D, Botha K, Herbst H, et al. The prevalence of neonatal jaundice and risk factors in healthy term neonates at National District Hospital in Bloemfontein. Afr J Prm Heal Care Fam Med. 2018;10(1):1–6.
  3. Mitra S, Rennie J. Neonatal jaundice: aetiology, diagnosis and treatment. Br J Hosp Med. 2017;78(12):699–704.
  4. Hegar B, Juffrie M, Mulyani NS, Widowati T, Damayanti W. Hiperbilirubinemia. In: Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Idris NS, Gandaputra EP, Harmoniati ED, et al., editors. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2nd ed. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2011. p. 114–22.
  5. Ullah S, Rahman K, Hedayati M. Hyperbilirubinemia in Neonates : Types , Causes , Clinical Examinations , Preventive Measures and Treatments : A Narrative Review Article. Iran J Public Health. 2016;45(5):558–68.
  6. Canadian Pediatric Society. Jaundice in newborns. Paediatr Child Health. 2007;12(5):409–20.
  7. Wan ASL, Mat Daud S, Teh SH, Choo YM, Kutty FM. Management of neonatal jaundice in primary care. Malays Fam Physician. 2016;11(2–3):16–9.

Keluhan Kulit pada Infeksi Covid-19: Haruskah Panik?

 

 

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Salam Sehat Ayah Ibu Kejora. Saat ini, seluruh dunia sedang mengalami pandemic penyakit infeksi Covid-19. Hampir 3 juta orang telah terinfeksi di seluruh dunia, dan 200.000 orang meninggal karena penyakit ini. Sebagian besar pasien tidak memiliki gejala, dan gejala yang ditemukan pun tidak sama pada semua pasien. Mayoritas pasien mengalami gejala demam, gangguan sistem pernapasan seperti batuk, sesak napas, gangguan penciuman dan indra perasa. Namun belakangan ini, terdapat banyak sumber dan berita yang menyatakan bahwa ruam kulit atau kelainan kulit merupakan salah satu gejala klinis infeksi Covid-19. Hal ini menyebabkan orang tua banyak yang panik ketika anak mengalami ruam kemerahan atau lesi kulit lainnya.

 

Apakah kuman Covid-19 dapat menyerang kulit dan menimbulkan kelainan kulit?

Berdasarkan data dari berbagai negara, kelainan kulit merupakan gejala Covid-19 yang cukup jarang ditemukan dan dilaporkan. Laporan mengenai gejala kulit yang pertama adalah di Cina, ditemukan 2 kasus dari 1099 kasus. Meski demikian, lesi kulit dan perkembangan lesi pada pasien tersebut tidak dilaporkan.

Setelah itu, berbagai laporan kasus dan serial kasus mulai bermunculan mengenai lesi kulit pada pasien Covid-19. Yang pertama adalah di Itali, yang mendeskripsikan kelainan kulit sebanyak 20% pada pasien Covid-19 di rumah sakit (18 dari 84 kasus). Terdapat beberapa kasus dimana kelainan kulit mendahului gejala lainnya. Sampai saat ini belum ada penelitian yang melihat apakah pada lesi kulit tersebut ditemukan Virus novel SARS-COV2 penyebab Covid-19 ini.

 

Apa saja kelainan kulit yang dapat ditemukan pada pasien anak Covid-19?

Lesi kulit yang ditemukan pada pasien Covid-19 cukup bervariatif dan tidak terlalu khas. Lesi kulit yang telah dilaporkan biasanya berupa :

  1. ruam atau lesi yang sering ditemukan pada kondisi demam, alergi atau infeksi virus lain (ruam merah tidak gatal, biduran, lenting seperti cacar, dan bintik-bintik merah karena perdarahan atau petechie)

    Ruam merah tidak gatal                                           biduran

  1. lesi kulit karena gangguan pembuluh darah (ujung jari kebiruan atau kematian jaringan, ruam merah keunguan seperti pembuluh darah dan bintil kemerahan di ujung jari atau tumit yang disebut chillblain). Terdapat keluhan nyeri atau gatal.

bintil kemerahan di ujung jari atau tumit yang disebut chillblain

ruam merah keunguan seperti pembuluh darah (Livedo reticularis)

 

Kelainan kulit pada anak yang mengalami Covid-19 sampai saat ini baru dilaporkan sebanyak 2 kasus. Satu kasus anak berusia 8 tahun dengan keluhan ruam dan bintil merah diseluruh tubuh, seperti pada infeksi campak. Kasus lainnya terjadi pada anak usia 13 tahun dengan keluhan ruam merah keunguan di jari kaki, yang kemudian menjadi keropeng kehitaman (chillblain). Namun angka ini kemungkinan akan terus bertambah dan akan didapatkan data yang lebih lengkap.

Selain chilblain, kelainan kulit yang ditemukan tidak terlalu khas, gangguan pembuluh darah dan bisa ditemukan pada penyakit lain, misalnya alergi obat, demam berdarah dengue, infeksi virus seperti cacar, campak dan kelainan pada pembuluh darah.  Perlu diingat bahwa pasien Covid-19 biasanya mendapatkan banyak terapi obat, sehingga harus dipikirkan juga kemungkinan reaksi alergi terhadap obat.

 

Jika pada anak timbul lesi tersebut, bagaimana menyikapinya?

Apabila anak mengalami ruam kulit atau kelainan kulit lainnya, tidak perlu panik dan terlalu takut akan infeksi Covid-19, namun juga jangan dianggap tidak penting. Konsultasikan kepada dokter spesialis kulit dan kelamin melalui konsultasi online (telemedicine) terlebih dahulu untuk dilihat apakah:

  1. Terdapat keluhan yang menjurus ke arah infeksi Covid-19 seperti demam, batuk, sesak napas, hidung tersumbat, flu, gangguan perasa dan penciuman
  2. Terdapat riwayat kontak dengan pasien Covid-19 atau pasien dalam pengawasan dalam 2 minggu terakhir, atau pasien yang telah sembuh kurang dari 2 minggu.
  3. Terdapat riwayat berpergian keluar kota/negeri dalam 2 minggu terakhir dan/atau kontak dengan orang dengan riwayat bepergian
  4. Orang tua atau orang di rumah merupakan orang dengan risiko tinggi, misalnya tenaga kesehatan atau pekerja esensial lainnya yang masih kontak dengan banyak orang.
  5. Keluhan kulit lebih mungkin disebabkan oleh hal lain seperti alergi obat, iritasi, ataupun infeksi virus lain, jamur atau bakteri.

 

Apabila ada kecurigaan kearah Covid-19, akan dianjurkan untuk pemeriksaan lebih lanjut, seperti pemeriksaan darah, rontgen ataupun pemeriksaan mikrobiologi. Sebaiknya bawa anak ke rumah sakit yang sudah memiliki prosedur pemeriksaan Covid-19 (swab PCR, Rontgen atau CT Scan, Rapid test) dan memiliki protocol keamanan yang baik (konsultasi dengan perjanjian, desinfektan pada alat pemeriksaan, alat pelindung diri yang sesuai pada tenaga medis dan anak, dan konsultasi dengan social distancing).

 

Referensi

  1. World Health Organization. Coronavirus disease 2019 (COVID-19) Situation Report. https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200419-sitrep-90-covid19.pdf?sfvrsn=551d47fd_2
  2. Guan WJ, Ni ZY, Hu Y, et al. Clinical Characteristics of Coronavirus Disease 2019 in China. N Engl J Med. 2020.
  3. Suchonwanit P, Leerunyakul K, Kositkuljorn C. Cutaneous manifestations in COVID-19: Lessons learned from current evidence. J Am Acad Derm. 2020
  4. Recalcati S. Cutaneous manifestations in COVID-19: a first perspective. J Eur Acad Dermatol Venereol. 2020.
  5. Marzano AV, Genovese G, Fabbrocini G, Pigatto P, Monfrecola G, PiracciniBM, Veraldi S, Rubegni P, Cusini M, Caputo V, Rongioletti F, Berti E, Calzavara-Pinton P, Varicella-like exanthem as a specific COVID-19-associated skin manifestation: multicenter case series of22 patients, Journal of the American Academy of Dermatology (2020)

 

MENGATASI SKABIES/KUDIS PADA ANAK

 

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Salam sehat keularga sehat Kejora!
Pada pertemuan kali ini kita akan membahas salah satu kelainan kulit yang sering terjadi pada anak yaitu Skabies atau yang lebih dikenal dengan Kudis. Seringkali, ketika anak pulang dari asrama atau acara menginap beramai-ramai, dan beberapa hari kemudian mengeluhkan gatal dan bintil – bintil di kulit, terutama area lipatan, kemungkinan anak tertular infeksi scabies atau kudis.

Kudis atau dikenal juga dengan nama skabies (scabies) adalah penyakit kulit yang disebabkan tungau bernama Sarcoptes scabiei. Serangga ini berukuran sangat kecil sehingga tidak terlihat dengan mata telanjang.

Dari permukaan kulit, tungau masuk ke lapisan dalam kulit untuk bertelur, hidup, dan makan. Kondisi ini bisa menyebabkan kulit terasa sangat gatal di area yang terinfeksi sebagai reaksi alergi.

Kudis atau skabies biasanya ditandai dengan bintil-bintil gatal yang tidak sembuh, menyerang anggota keluarga/teman serumah, dan rasa gatal terutama meningkat di malam hari.

Bagaimana cara skabies menular?

Skabies menular melalui kontak kulit yang lama dengan penderita skabies. Terkadang skabies juga bisa menular melalui kontak dengan barang seperti baju, sprei dan handuk yang sebelumnya dipakai penderita skabies dan terinfestasi kutu. Skabies dapat menyebar dengan cepat melalui kontak fisik yang dekat dalam keluarga, play group anak, kelas sekolah, panti jompo, asrama, pesantren atau penjara.

Bagaimana mengetahui apakah anak mengalami skabies?

Tanda yang khas dari skabies adalah gatal di malam hari, anggota keluarga/serumah mengalami keluhan yang sama, terdapat terowongan di kulit yang dibentuk oleh kutu skabies dan ditemukannya kutu skabies di kulit. Bisa ditemukan bintil-bintil dan luka pada area lipat jari, ketiak, pantat, lipat siku dan lutut, serta area sekitar pusar. Apabila luka garukan terinfeksi, bisa muncul nanah, demam dan pembesaran kelenjar, yang menandakan sudah terjadi infeksi sekunder.

Dokter spesialis kulit biasanya bisa mendiagnosis dengan tepat dan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain dengan pemeriksaan yang nyaman dan tidak invasif seperti dermoskopi (menggunakan alat pembesar khusus untuk menemukan kutu) atau pewarnaan kerokan kulit untuk menemukan kutu skabies

Bagaimana mengobati scabies dan mecegahnya?

Hal yang harus segera dilakukan jika ditemukan gejala adalah berobat ke tenaga kesehatan terdekat untuk mendapat penanganan. Jika ada anggota keluarga yang terkena, kurangi kontak fisik dengan pasien seperti tidur bersama, pemakaian handuk bersama dan lain sebagainya. Seprai, handuk dan selimut penderita skabies dan orang rumah sebaiknya dicuci di air panas, dijemur dan disetrika.

Terdapat beberapa jenis krim atau obat oles yang dapat diresepkan oleh dokter, bergantung pada kondisi dan usia anak.

  1. Salep/Krim belerang. Penggunaannya tidak boleh kurang dari 3 hari karena tidak efektif terhadap stadium telur. Obat ini dapat digunakan pada pasien bayi berumur kurang dari 2 tahun.
  2. Emulsi benzyl-benzoas 20-25%. Obat ini digunakan selama 3 hari setiap malam hari. Kekurangan obat ini adalah menyebabkan iritasi, sulit diperoleh, dan pada beberapa orang menyebabkan gatal setelah dipakai.
  3. Gama Benzena Heksa Klorida (gemeksan=gammexane) 1% dengan sediaan krim atau losio. Obat ini diberikan cukup sekali, jika masih ditemukan gejala maka diulangi satu minggu kemudian. Kelebihan obat ini adalah efektif untuk semua stadium, mudah digunakan, dan jarang menimbulkan iritasi. Kontraindikasi penggunaanya adalah ibu hamil dan anak di bawah 6 tahun karena bersifat toksik terhaap susunan saraf pusat.
  4. Krim/losio krotamiton 10% mempunyai efek sebagai antiskabies dan antigatal. Pemberiannya harus dijauhkan dari mata, mulut, dan uretra
  5. Krim permetrin 5%. Jika dibandingkan dengan gameksan, permetrin lebih aman dan efektifitasnya sama. Pemberian dilakukan cukup sekali dan dihapus dalam 10 jam. Bila belum sembuh maka diulangi setelah seminggu kemudian. Kontraindikasi pemberian permetrin adalah pada bayi dibawah usia 2 bulan.

Idealnya, pengobatan dilakukan kepada seluruh anggota keluarga atau orang yang tinggal serumah, secara bersamaan, baik dengan ataupun tanpa gejala. Hal ini dapat mencegah penularan ulang

Rujukan 

  1. Gilson RL, Crane JS. Scabies (Sarcoptes Scabiei) [Updated 2019 Dec 13]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020 Jan. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK544306/
  2. A Banerji; Canadian Paediatric Society, First Nations, Inuit and Métis Health Committee. Scabies. Paediatr Child Health 2015;20(7):395-402.
  3. Golant AK, Levitt JO. Scabies: a review of diagnosis and management based on mite biology. Pediatr Rev. 2012 Jan;33(1):e1-e12. doi: 10.1542/pir.33-1-e1.

Jerawat pada Anak

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Hai Keluarga Sehat Kejora!

Topik kali ini akan membahas mengenai Jerawat pada Anak. Banyak dari Ayah dan Ibu Kejora yang mengeluhkan adanya jerawat pada sang buah hati, padahal masih belia. Oleh karena itu, mari kita mengenal lebih jelas mengenai jerawat pada anak.

Apa itu Jerawat?

Jerawat (akne) adalah penyakit kulit kronik yang paling sering menyerang anak dan remaja. Jerawat terjadi karena sumbatan di saluran kelenjar minyak yang memicu peradangan dan infeksi. Sekitar 85% pasien jerawat berusia 12-24 tahun. Namun saat ini seringkali keluhan jerawat terjadi pada usia yang lebih muda, dan berikut terdapat pembagian jerawat pada anak berdasarkan usia :
1. Akne neonatus (bayi baru lahir): dari lahir sampai usia 1 bulan
2. Akne infantile : mulai terjadi dari usia 6 bulan sampai 16 bulan.
3. Akne pada masa anak-anak : dari usia 1 tahun sampai 7 tahun
4. Akne prepubertal: dari usia 7 tahun (wanita) dan 8 tahun (laki-laki)

Mengapa bisa terjadi jerawat pada anak?

Akne pada bayi baru lahir biasanya disebabkan hormon androgen dari ibu. Hormon tersebut akan merangsang kelenjar minyak bayi, sehingga menimbulkan keluhan berupa bintil kemerahan di wajah, leher dan punggung bayi. Hormon androgen tersebut bisa terus meningkat sampai usia 1 tahun, kemudian turun lagi hingga pubertas. Akne neonatus dan akne infantil biasanya dapat hilang sendiri.

Gambar 1. Akne infantile

Namun, pada anak-anak usia 1-7 tahun, apabila muncul keluhan jerawat, harus segera diperiksakan ke dokter dan dilakukan pemeriksaan lengkap. Anak harus diperiksa perkembangan seks sekunder untuk mencari kemungkinan pubertas dini, pengukuran kurva tumbuh kembang dan usia tulang. Perlu dilakukan juga pemeriksan hormon FSH, LH, testosterone, DHEA, prolactin, kortisol, dan 17 a-hydroxyprogesterone. Apabila terdapat hasil yang tidak normal, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis endokrinologi dan tumbuh kembang anak karena biasanya terdapat kondisi sistemik yang mendasari.

Bagaimana mengobati jerawat pada anak?

Pengobatan jerawat pada anak tergantung pada tingkat keparahan jerawat. Pada kasus yang ringan dengan jumlah lesi sedikit, biasanya tidak diperlukan terapi atau hanya menggunakan krim yang mengandung benzoyl peroxide, tretinoin dan azelaic acid. Pada anak usia prepubertal, dapat diedukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan mencuci wajah 2-3x sehari dengan sabun yang lembut. Pada kasus sedang hingga berat kadang diperlukan antibiotic minum.

Sampai saat ini belum ada penelitian yang dapat menyimpulkan hubungan makanan dengan jerawat. Namun makanan dengan karbohidrat atau indeks glikemik yang tinggi dihubungkan dengan peradangan pada jerawat. Selain itu kadar zink yang rendah juga berhubungan dengan jerawat, sehingga suplemen zinc dapat diberikan pada anak yang mengalami jerawat.

Terkadang anak dengan riwayat akne infantile lebih berisiko untuk mengalami jerawat yang lebih parah dan jaringan parut atau bopeng pada saat usia pubertas, Namun jangan khawatir, apabila ada keluhan jerawat pada sang buah hati, Ayah dan Ibu Kejora dapat mengkonsultasikan kepada dokter spesialis kulit dan kelamin untuk memastikan diagnosis dan merancang terapi yang sesuai dengan keluhan dan usia anak. Semoga pembahasan kali ini dapat membantu Ayah dan Ibu Kejora dalam menghadapi keluhan pada anak berkaitan dengan jerawat. Sampai jumpa pada topik kesehatan lainnya.

Salam Keluarga Sehat Kejora!

Editor: drg. Saka Winias, M.Kes, Sp.PM

Sumber
1. Evidence-Based Recommendations for the Diagnosis and Treatment of Pediatric Acne. 2013. https://pediatrics.aappublications.org/content/pediatrics/131/Supplement_3/S163.full.pdf
2. Acne in childhood: Clinical presentation, evaluation and treatmen. 2015. http://www.ijpd.in/article.asp?issn=23197250;year=2015;volume=16;issue=1;spage=1;epage=4;aulast=Jain
3. Acne in childhood. 2019. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S1751722219300046

Waspada Infeksi Monkeypox

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

Halo Ayah dan Ibu Kejora..

Akhir – akhir ini banyak pemberitaan mengenai waspada Monkeypox, karena di bandara Singapura telah ditemukan 1 orang dikarantina karena mengalami Monkeypox. Berbagai upaya dilakukan untuk memutus rantai penularan penyakit tersebut, sebenarnya Apa itu Monkeypox, Apa gejalanya dan bagaimana penanganannya? Berikut akan kita bahas bersama.

Apa sih penyakit monkeypox atau cacar monyet?

Monkeypox adalah penyakit karena virus yang langka, terutama ditemukan di Afrika Tengah dan Barat. Virus dan gejala penyakit monkeypox ini mirip dengan smallpox atau cacar api yang sudah dieradikasi di tahun 1980.

Bagaimana cara penularannya?

Virus penyebab monkeypox ini adalah virus zoonosis, yaitu ditularkan dari hewan ke manusia. Hewan yang bisa menularkan biasanya monyet dan binatang pengerat. Penularan bisa terjadi jika manusia berkontak dengan darah, cairan tubuh atau lesi kulit hewan yang terinfeksi. Memakan daging hewan yang terkontaminasi tanpa dimasak dengan matang juga berisiko menyebakan penularan.

Penularan antar manusa sangat jarang terjadi. Penularan terjadi melalui cairan tubuh seperti dahak dan ingus, lesi kulit dan benda yang terkontaminasi dengan cairan tubuh penderita dalam jangka waktu lama.

Apa sih Gejalanya?

Gejala monkeypox mirip dengan infeksi virus pada umumnya. Infeksi monkeypox dibagi menjadi 2 periode:

  1. Periode infasi (0-5 hari) demam, sakit kepala berat, pembesaran kelenjar getah bening, pegal dan badan terasa sangat lemas.
  2. Periode lesi kulit (1-3 hari dari demam) muncul lesi mulai dari bintik merah seperti cacar (makulopapula), lepuh berisi cairan bening, lepuh berisi nanah, kemudian menjadi krusta/keropeng. Biasanya diperlukan waktu hingga 3 minggu sampai ruam tersebut menghilang. Seluruh area kulit bisa terkena, termasuk mukosa mulut, kelamin dan mata.

Monkeypox biasanya dapat sembuh sendiri dalam 2-3 minggu. Namun dapat terjadi komplikasi, terutama pada anak atau pasien dengan gangguan daya tahan tubuh.

Bagaimana penanganannya?

Sampai saat ini belum ada obat atau vaksinasi yang spesifik untuk monkeypox. Vaksin chickenpox 85% efektif dalam mencegah monkeypox, namun saat ini vaksin tersebut sudah tidak diproduksi luas.

Bagaimana cara pencegahan agar tidak terinfeksi Monkeypox?

  • Mengurangi risiko transmisi hewan ke manusia pada daerah endemis:
    • Menghindari kontak dengan hewan liar terutama monyet, primata dan hewan pengerat.
    • Memasak daging hewan sampai matang sebelum dikonsumsi
    • Menggunakan sarung tangan dan proteksi tubuh saat kontak dengan hewan yang sakit
  • Mengurangi risiko transmisi manusa ke manusia:
    • Tidak kontak dengan pasien yang terinfeksi monkeypox dan cairan tubuhnya.
    • Memakai sarung tangan ketika merawat pasien atau anggota keluarga yang sakit
    • Cuci tangan setiap berkontak dengan pasien atau anggota keluarga yang sakit
    • Apabila curiga anggota keluarga menderita monkeypox segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk diperiksa dan diisolasi bila perlu.

Sumber:

Kenali Dermatitis Atopik pada Anak

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora,

Ada cerita yang sempat viral di media sosial yang menceritakan bahwa buah hatinya mengalami dermatitis atopik karena dipegang oleh sembarang orang. Artikel kali ini akan mengulas mengenai dermatitis atopik dan cara penanganannya.

Apa itu dermatitis atopik?

Dermatitis atopik adalah kondisi radang kronis di kulit yang menyebabkan kulit menjadi mudah gatal, timbul bercak dan bintil merah dan cenderung kering. Dermatitis atopik adalah kondisi yang umum terjadi, terutama pada anak dibawah usia 2 tahun. Sebagian besar (75%) pasien dermatitis atopik mengalami remisi/sembuh seiring bertambahnya usia. Namun sebagian kecil dapat berlanjut sampai dewasa atau mengalami relaps/kekambuhan.

Apakah dermatitis atopik disebabkan karena dipegang – pegang atau dicium oleh sembarang orang?

Penyebab dermatitis atopik sangat kompleks. Faktor genetik dan mutasi gen filagrin merupakan penyebab utama individu menjadi rentan terhadap faktor pencetus yang ada di lingkungan normal. Apabila salah satu orang tua memiliki kondisi atopik (rinitis alergi, asma, dermatitis atopik atau konjungtivitis alergi), terdapat kemungkinan 50% anaknya juga mengalami kondisi tersebut. Mutasi gen menyebabkan sawar kulit menjadi tidak intak, seperti dinding tanpa semen, sehingga cenderung kering dan gampang gatal. Dermatitis atopik lebih banyak dialami anak di area perkotaan dan negara maju dan dari keluarga dengan sosioekonomi tinggi sehingga terdapat teori bahwa lingkungan yang terlalu bersih dapat mempengaruhi perkembangan sistem imun yang tidak sempurna pada dermatitis atopik (Hygiene Theory).

Selain disebabkan oleh hal tersebut, dermatitis atopik dapat muncul oleh beberapa faktor pencetus berikut :

  1. Makanan

Terutama untuk anak di bawah 2 tahun, paling sering susu sapı, gandum, telur dll. Hal ini masih kontroversi dan apabila tidak terbukti dengan food challenge test, sebaiknya hindari restriksi makanan yang bisa menyebabkan malnutrisi.

  1. Keringat
  1. Garukan/gesekan
  1. Kutu Debu Rumah

Sering disebut siklus gatal-garuk. Kondisi kulit atopik yang kering dapat memicu rasa gatal. Ketika anak mulai menggaruk, terjadi respon radang yang menyebabkan rasa gatal bertambah parah. Kadang walaupun pemicu awal sudah tidak ada, karena garukan/gesekan, rasa gatal dan eksim tidak sembuh-sembuh dan bertambah parah.

  1. Infeksi bakteri atau jamur
  1. Iritan – bahan wol, nylon, deterjen, parfum, alkohol, klorin, dll
  1. Kontak alergi

Produk oles yang sudah dipakai dalam jangka waktu tertentu dapat memicu sensitisasi dan akhirnya timbul alergi. Pasien dermatitis atopik biasanya rutin memakai pelembap dan salep/obat, dan bisa timbul sensitisasi setelah periode pemakaian tertentu.

  1. Stress
  1. Cuaca/iklim
  1. Hewan peliharaan

Bagaimana cara mengatasi dermatitis atopik pada anak?
Terdapat 5 hal utama yang penting diperhatikan dalam perawatan dermatitis atopik pada anak:

  1. Edukasi pasien/orangtua/caregiver
  1. Menghindari pencetus.

Pencetus dermatitis atopik bisa bermacam-macam, karena itu penting untuk memidifikasi gaya hidup secara keseluruhan. Seringkali tidak ada satu pencetus yang spesifik saat dermatitis atopik kambuh. Hindari bahan pakaian yang tebal, minyak kayu putih, parfum, antiseptik, tisu basah, pewangi pakaian.

  1. Memperbaiki fungsi sawar kulit.

Menggunakan sabun mandi yang mengandung pelembap (tanpa pewangi) dan pelembab yang mengandung bahan antiradang dan dikhususkan untuk kulit dermatitis/sensitif/eksim (biasanya mengandung ceramid, asam hyaluronic, urea, dll) dan tanya pewangi.

  1. Mengobati lesi radang di kulit

Apabila muncul keluhan, segura konsultasikan ke dokter specialist kulit kelamin. Hindari mengobati sendiri dengan bahan-bahan yang belum terbukti. Diskusikan pilihan terapi dengan dokter, kemungkinan pencetus dan pemeriksaan yang diperlukan, serta perawatan kulit anak sehari-hari

  1. Mengontrol/eliminasi siklus gatal-garuk

Diskusikan dengan dokter, apakah perlu menggunakan obat sistemik antihistamin untuk mengurangi rasa gatal dan mencegah garukan

Tatalaksana dermatitis atopik kadang tidak cukup hanya dengan pemberian obat salep atau oles, melainkan ada modifikasi gaya hidup. Apabila sudah bolak – balik tidak sembuh, sebaiknya konsultasikan dengan dokter spesialis kulit kelamin konsultan anak atau alergi imunologi.

Sumber :

  1. Chow, S., Seow, CS., Dizon MV et al. 2018. A clinician’s reference guide for the management of atopic dermatitis in Asians. Asia Pac Allergy. Oct; 8(4): pp 1-18
  2. Kaneko, Sakae. 2018. “Approach for Aggrivating Factors in Atopic Dermatitis”. In Evolution of Atopic Dermatitis in the 21st Century. Singapore : Springer. Part VII. Bab 24. Pp: 311-8

 

Prurigo atau Darah Manis – Bekas Luka yang Sulit Hilang

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Halo Sahabat Kejora..

Sahabat Kejora mungkin sudah sering mendengar istilah darah manis. Istilah ini seringkali diberikan pada anak ataupun orang dewasa yang kulitnya rentan gatal-gatal, sampai memiliki bekas luka yang susah hilang. Dalam dunia medis, kondisi “darah manis” ini dikenal sebagai prurigo.

Apa sih yang dimaksud dengan prurigo, atau darah manis?

Prurigo adalah bintil-bintil yang biasanya muncul pada kulit bagian lengan bawah, dahi, pipi, perut, dan bokong. Benjolan ini dapat membuat kulit terasa sangat gatal. Karena rasa gatal yang sangat hebat, biasanya lesi akan digaruk sampai luka, sehingga memicu peradangan terus-menerus. Pada area di mana kulit mengalami peradangan dalam waktu yang lama, akan terjadi penambahan jumlah melanin di bawah kulit yang merupakan respon alami sistem kulit. Melanin yang bertambah inilah yang membuat bekas hitam di kulit, sayangnya bekas hitam ini sulit hilang. Penyakit ini tidak berbahaya, tetapi terkadang membuat risih, tidak nyaman, bahkan menimbulkan rasa tidak percaya diri.

Apakah prurigo bisa sembuh atau akan muncul lagi?

Penyebab prurigo belum diketahui secara pasti. Kondisi ini biasanya diturunkan dan didasari oleh penyakit seperti dermatitis atopik. Rasa gatal biasanya timbul terutama di malam hari atau saat menggunakan pakaian yang bahannya dapat memicu gatal atau ketika berkeringat. Kondisi ini juga dapat dipicu oleh beberapa hal seperti gigitan serangga, eksim, pemakaian produk kulit yang mengiritasi. Semakin digaruk, saraf-saraf kulit akan menjadi semakin sensitif dan memicu gatal yang berkepanjangan. Garukan juga menimbulkan infeksi luka, sehingga akan semakin parah dan meninggalkan bekas luka yang susah hilang.

Prurigo tidak bisa sembuh, namun bisa dikontrol dengan cara:

  1. Menjaga kelembapan kulit – hindari mandi air panas, pakai sabun yang mengandung pelembap dan gunakan pelembap khusus kulit sensitif yang tidak mengandung pewangi
  2. Hindari menggunakan bahan kimia yang mengandung pewangi seperti minyak kayu putih atau balsam
  3. Mencegah gigitan serangga – memakai baju yang menutupi lengan dan tungkai dan berbahan tipis dan menyerap keringat. Gunakan insect repellant bila perlu.
  4. Hindari menggaruk kulit yang terasa gatal – menggunakan sarung tangan saat tidur, menggunakan kompres dingin di area kulit yang gatal
  5. Gunting kuku anak sehingga tidak menyebabkan luka garukan
  6. Konsultasi ke SpKK untuk diberikan obat minum dan salep anti iritasi yang dapat mengurangi rasa gatal dan antibiotik apabila ada luka yang terinfeksi. Selain itu perlu disingkirkan juga kemungkinan penyakit lain seperti skabies (kutu) atau infeksi jamur.

 

Bagaimana cara menghilangkan bekas kehitaman pada prurigo?

Bekas kehitaman pada prurigo akan pudar dengan sendirinya apabila tidak muncul lesi baru. Hindari menggunakan produk yang iritatif seperti scrub pada kulit anak. Gunakan pelembap khusus kulit sensitif dan mengandung anti inflamasi. Apabila bekas kehitaman sangat menggangu, dapat konsultasi ke SpKK untuk pemakaian produk anti hiperpigmentasi yang mengandung AHA, azaleic acid, arbutin, vitamin C, niacinamid atau hidroquinon yang disesuaikan dengan kondisi kulit anak. Hati-hati ketika memakai produk pencerah over the counter karena dapat memicu rasa gatal kembali.

Kelainan Kulit Alergi pada Anak

oleh dr. Nico Gandha, SpDV

Dokter Spesialis Dermatologi dan Venerologi

Halo Ayah dan Ibu semua! Tentu Ayah Ibu pernah mendengar istilah alergi. Tapi, apa sih sebenarnya alergi itu? Mengapa alergi bisa terjadi pada anak? Untuk mengenal lebih dalam tentang alergi, mari kita simak perbincangan dengan dr. Nico Gandha, SpDV berikut ini tentang kelainan kulit alergi pada anak.

Dok, apa sih alergi itu? Mengapa alergi bisa muncul?

Alergi merupakan respons peradangan berlebihan yang dibuat sistem imun tubuh terhadap suatu bahan penyebab alergi (disebut juga alergen). Hanya individu dengan sistem imun yang hipersensitif yang memunculkan gejala alergi apabila terpajan/terpapar dengan suatu alergen. Hal ini menyebabkan alergen penyebab alergi pada setiap orang dapat berbeda-beda. Secara garis besar, penyebab kelainan kulit alergi dapat dibedakan berdasarkan asalnya, yaitu dari dalam (misalnya, setelah memakan makanan atau obat tertentu) dan dari luar tubuh (sebagai contoh, setelah terkena bahan alergen dari lingkungan).

Apa saja bentuk kelainan kulit alergi, Dok? Apakah alergi pada anak selalu berupa ruam kemerahan pada kulit?

Istilah alergi sebenarnya tidak terbatas hanya pada kulit. Organ lain di tubuh kita juga dapat terkena alergi, misalnya saluran cerna dan saluran napas. Pada kulit, alergi dapat memberikan gambaran kelainan kulit yang beragam, mulai dari urtika (atau biduran), eksim, hingga lenting yang timbul pada tubuh. Tidak selalu berupa ruam kemerahan ya.

Bentuk kelainan kulit akibat alergi yang umum ditemukan pada anak antara lain eksim atopik, urtikaria, eksim kontak alergi, serta ruam alergi obat. Eksim atopik pada anak memiliki bentuk kelainan yang karakteristik, yaitu bercak merah gatal pada tempat tertentu di tubuh. Anak dengan eksim atopik memiliki bakat atopik (terdiri dari eksim atopik, rinitis alergi, atau asma) yang kemungkinan diturunkan dari orang tuanya. Kulit anak dengan bakat atopik, walaupun secara sepintas normal, sesungguhnya terjadi kelainan pada kulit mereka yang menyebabkan pelembap alami kulit berkurang jumlahnya. Oleh karena itu, kulit mereka rentan kering dan mengalami gangguan berupa eksim. Eksim yang terjadi pada anak dengan bakat atopik dapat dicetuskan (atau kambuh) baik dari makanan tertentu (misalnya telur, susu, kacang, makanan laut) maupun lingkungan, misalnya keringat, udara kering, bahan pakaian kasar/wol, sabun.

Bentuk kelainan kulit alergi lain yang dapat terjadi adalah urtikaria (bentol, biduran). Bila anak memiliki alergi bentuk ini, harus dilihat apakah keluhan masih akut (<6 minggu) atau sudah kronik (>6 minggu). Urtikaria yang akut pada anak umumnya disebabkan infeksi, baik saluran napas atas, gigi, atau saluran kemih. Jadi anak yang kulitnya biduran belum tentu sedang mengalami alergi, walaupun sebagian biduran pada anak memang dapat disebabkan oleh alergi, baik alergi terhadap makanan maupun obat. Apabila urtikaria sudah kronik, kemungkinan penyebab alerginya berasal dari faktor lingkungan, misalnya udara dingin, tungau debu rumah, bulu hewan, atau dapat pula disebabkan makanan tertentu. Urtikaria yang lebih parah dapat pula menimbulkan angioedema, yang lokasi proses peradangannya lebih dalam dibandingkan urtikaria. Angioedema ditandai dengan pembengkakan kulit pada kelopak mata, atau bibir. Pada kasus yang lebih berat, angioedema dapat menyerang saluran napas (laring) yang menimbulkan kegawatdaruratan medis dan membutuhkan penanganan segera. Urtikaria dan angioedema dapat muncul bersamaan ataupun sendiri-sendiri.

Gambar 1. Urtikaria pada lengan (gambar didapat dari allergyuk.org)

Gambar 2. Angioedema pada kelopak mata (gambar didapat dari en.wikipedia.org)

Selain itu, kelainan kulit alergi pada anak dapat pula berbentuk eksim kontak alergi. Cirinya adalah bercak merah timbul akibat penggunaan atau kontak langsung dengan suatu alergen. Misalnya, bercak gatal pada daun telinga pada anak dengan alergi anting nikel, bercak merah di sekitar mulut pada anak dengan kontak alergi terhadap pasta gigi, eksim di daerah kaki pada anak yang alergi terhadap bahan karet, kimia, atau pewarna sepatu, serta penggunaan bahan oles misalnya minyak tawon, kayu putih, balsem, atau obat oles antibiotik neomisin. Eksim kontak alergi perlu dibedakan dengan eksim kontak iritan, karena proses peradangan yang mendasarinya berbeda. Pada eksim kontak alergi, peradangan kulit didasari proses alergi, sedangkan pada eksim kontak iritan proses peradangannya disebabkan proses iritasi terhadap bahan tertentu, misalnya sabun antiseptik, feses dan urin pada popok bayi, dan minyak atau balsem.

Gambar 3. Eksim kontak alergi akibat penggunaan perhiasan dari nikel (gambar didapat dari medicinenet.com)

Selain berupa biduran (atau urtikaria), obat dapat menyebabkan kelainan kulit berupa ruam alergi obat. Bila urtikaria/angioedema akibat obat muncul beberapa menit hingga jam setelah konsumsi obat, ruam alergi obat umumnya timbul lebih lama setelah konsumsi obat, dapat beberapa hari atau minggu setelahnya. Ruam alergi obat juga dapat menyerupai ruam yang timbul akibat demam misalnya akibat infeksi virus. Untuk itu, perlu diperhatikan kondisi anak sebelum dan saat timbul keluhan, serta mengetahui pasti nama obat-obatan apa saja yang dikonsumsi anak sebelum terjadi keluhan ruam kulit.

Gambar 4. Ruam alergi obat (gambar didapat dari intranet.tdmu.edu.ua)

Bentuk kelainan kulit alergi yang lebih jarang ditemukan antara lain fixed drug eruption (kelainan lenting berulang pada tempat sama di tubuh yang disebabkan obat tertentu) dan sindrom steven-johnson. Sindrom ini merupakan reaksi alergi obat berat. Beberapa penyakit autoimun dapat pula dicetuskan kekambuhannya oleh makanan dan obat, misalnya eksim herpetiformis, penyakit autoimun berupa lenting di tubuh yang kekambuhannya dapat dicetuskan makanan mengandung gluten.

Kalau kemerahan pada pipi bayi atau sering disebut eksim susu itu apa ya, Dok? Apakah itu merupakan suatu bentuk alergi juga?

Eksim susu merupakan suatu bentuk eksim atopik yang banyak ditemukan pada bayi, ditandai dengan bercak kemerahan pada pipi. Pada bayi dengan eksim susu, susu dapat menjadi pencetus kambuhnya kelainan kulit eksim atopik pada pipinya (alergi terhadap faktor dari dalam tubuh). Namun, hal ini tidak berarti bayi dengan eksim atopik tidak boleh mengkonsumsi air susu ibu (ASI). Pada bayi dengan ASI eksklusif, eksim ini lebih mungkin disebabkan oleh bahan makanan yang dimakan ibu, misalnya kacang, makanan laut, telur, atau susu yang diminum ibu. Eksim susu ini biasanya diperberat dengan iritasi terhadap susu yang menempel langsung pada kulit pipi. Oleh karena itu, orangtua atau pengasuh sangat disarankan untuk membasuh susu yang menempel pada kulit pipi bayi dengan handuk halus.

Dok, apakah eksim atopik ini akan berlanjut hingga dewasa?

Eksim atopik ini memiliki tiga fase sesuai usia anak. Pada fase infantil (2 bulan – 2 tahun), kelainan kulit terutama ditemukan pada lokasi kedua pipi, leher, atau di tonjolan siku dan/atau lutut pada bayi yang telah merangkak.

Gambar 5. Eksim atopik pada bayi (gambar oleh Thomas Habif didapat dari merckmanuals.com)

Pada fase usia anak yang lebih besar (di atas 2 tahun hingga remaja), kelainan kulit umumnya ditemukan pada lipatan siku dan/atau lutut. Selain itu, dapat pula terjadi pada daerah leher. Umumnya daerah lipatan tersebut menjadi tebal karena garukan yang sering atau menyisakan bekas peradangan yang menghitam apabila kelainan kulitnya sedang mereda. Garukan berulang pada anak dengan eksim atopik juga dapat menyebabkan infeksi pada kulitnya.

Pada fase usia yang lebih besar (dewasa), eksim atopik dapat ditemukan dengan jumlah kasus yang lebih sedikit. Bila eksim atopik berlanjut pada usia dewasa, dapat disertai dengan rinitis alergi (radang selaput lendir hidung) atau asma. Oleh karena itu, eksim atopik harus dikontrol dengan terapi sejak dini untuk mencegah kelainan ikutan pada organ lain tersebut atau yang disebut dengan atopic march. Satu hal yang perlu diketahui, eksim atopik tidak dapat sembuh total 100% karena bakat atopik tersebut tetap ada, namun eksim atopik dapat dikontrol dengan menggunakan pelembap secara rutin dan menghindari penyebab kekambuhannya, baik penyebab dari faktor makanan maupun lingkungan.

Gambar 6. Eksim atopik pada anak (gambar didapat dari bestonlinemd.com)

Lalu, kapan orang tua perlu mencurigai bahwa suatu kelainan kulit pada anak disebabkan oleh alergi?

Secara umum, kelainan kulit alergi bisa dibedakan berdasarkan penyebab yang sering terjadi. Alergi terhadap makanan tertentu dapat menyebabkan kelainan kulit berbentuk urtikaria, eksim atopik, atau eksim herpetiformis, sedangkan alergi terhadap obat dapat menyebabkan urtikaria, ruam alergi obat, fixed drug eruption atau sindrom steven-johnson. Alergi yang disebabkan oleh faktor lingkungan dapat mencetuskan urtikaria, eksim atopik, atau eksim kontak. Oleh karena itu, riwayat dan cerita apa yang dialami, dimakan, dan riwayat perjalanan kelainan kulit anak, dan faktor yang kira-kira dapat menjadi penyebab amat penting dan perlu diperhatikan oleh orangtua atau pengasuh anak.

Jika anak dicurigai mengalami alergi, apa yang sebaiknya dilakukan orang tua?

Jika Ayah atau Ibu mencurigai si kecil mengalami alergi, sebaiknya periksakan kondisi si kecil dan konsultasikan dengan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Dermatologi dan Venereologi). Selain untuk mendiagnosis alergi, konsultasi ini penting untuk mengeksplorasi penyebab kelainan kulit alergi tersebut. Jika betul merupakan suatu alergi, maka dokter akan memberikan terapi yang sesuai dengan penyebab alergi dan untuk mengurangi gejala yang dirasakan, misalnya memberikan obat golongan antihistamin untuk mengatasi keluhan gatal.

Untuk terapi pasti penyebab, perlu diketahui terlebih dahulu penyebab alergi atau alergennya. Jika diperlukan, dokter juga akan menyarankan uji alergi untuk membantu mengetahui penyebab kelainan kulit alergi pada anak, misalnya uji tusuk, uji tempel, dan tes darah (IgE RAST). Setelah diketahui alergennya, dokter akan memberikan pengobatan yang sesuai. Satu hal lagi, yang terpenting dalam penanganan alergi adalah menghindari faktor penyebab alergi tersebut.

Gambar 7. Uji tusuk pada lengan (gambar didapat dari drhuiallergist.com)
Gambar 8. Uji tempel pada punggung (gambar didapat dari welcomecure.com)

Editor: dr. Sunita