Kesehatan Saluran Cerna Anak

 

 

 

 

 

oleh Dr. dr. Ariani Widodo, SpA(K)

Dokter Spesialis Anak

 

Halo, Keluarga Kejora! Pernahkah Ayah dan Ibu bertanya apa ada fungsi lain dari saluran cerna kita selain untuk mencerna makanan? Nah, ternyata ada lho! Ayah dan Ibu pasti sudah tahu bahwa saluran cerna memiliki fungsi mengolah dan mencerna makanan yang kita makan, membantu proses penyerapan nutrisi yang baik bagi tubuh, dan mengolah sisa makanan yang tidak dapat dicerna dalam bentuk feses. Namun, selain berfungsi untuk pencernaan dan penyerapan, ternyata 80% sistem kekebalan tubuh manusia terdapat di saluran cerna. Maka dari itu, saluran pencernaan merupakan sistem imun paling besar.

Gangguan pada saluran cerna bisa menyebabkan gangguan penyerapan nutrisi sehingga tumbuh kembang anak tidak optimal, anak menjadi rentan sakit karena imun yang rendah, perilaku anak menjadi lebih agresif, dan bisa menyebabkan gangguan mood pada anak.

Ciri-ciri saluran cerna yang sehat pada anak adalah nafsu makan anak baik, nutrisi yang masuk dapat terserap dengan baik, pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan yang direkomendasikan, buang air besar teratur, kekebalan tubuh baik, mood dan suasana hati stabil, dan kulit anak tampak cerah dan sehat.

Salah satu cara untuk menjaga kesehatan saluran cerna adalah dengan memastikan jumlah mikrobiota baik dalam saluran cerna anak lebih banyak dibandingkan mikrobiota yang jahat. Di saluran cerna terdapat lebih dari 100.000 miliar mikroorganisme termasuk bakteri, virus, dan jamur yang kita kenal dengan mikrobiota usus. Perbandingan jumlah mikrobiota usus yang baik dengan yang jahat untuk menjaga kesehatan saluran cerna adalah 80% : 20%.

 

Perkembangan saluran cerna
Saluran cerna mulai berkembang sejak dari kandungan ibu. Setelah lahir, perkembangan saluran cerna dibagi menjadi beberapa fase:

  • Fase 1 dimulai 1-2 minggu setelah lahir
  • Fase 2 merupakan masa pemberian ASI untuk perkembangan
  • Fase 3 adalah fase pengenalan makanan lunak dan pengurangan frekuensi ASI
  • Fase 4 merupakan masa peralihan ke makanan dewasa
  • Fase 5 merupakan fase saluran cerna anak sudah matang seperti saluran cerna dewasa

Bila terjadi gangguan proses perkembangan saluran cerna ini, maka penyakit-penyakit pada saluran cerna dapat timbul.

ASI memiliki peran pada perkembangan saluran cerna di fase 1 dan 2. ASI berperan dalam membantu perkembangan mikroflora usus, pertumbuhan dan perkembangan fungsi pelindung, dan sistem imun dari saluran cerna. Kandungan laktoferin, oligosakarida dan imunoglobulin mencegah pertumbuhan bakteri jahat di saluran cerna, memberikan antibodi dan enzim yang baik untuk saluran cerna bayi, dan membantu mempercepat proses pematangan saluran cerna terutama pada bayi-bayi prematur.

 

Pembentukan mikrobiota usus pada bayi

Pembentukan mikrobiota usus berbarengan dengan proses perkembangan saluran cerna. Mikrobiota usus sudah mulai terbentuk sejak masih dalam kandungan dan berlanjut sampai 18 bulan dan 3 tahun setelah lahir.

Salah satu faktor yang memengaruhi komposisi mikrobiota usus pada bayi adalah metode persalinan. Bayi yang lahir secara normal akan mendapatkan mikroba yang kaya dengan Lactobacillus selama hari pertama kehidupan, jenis bakteri yang berbeda didapatkan oleh bayi yang lahir secara sectio cesaria.

Faktor lainnya adalah diet (ASI vs susu formula dan MPASI). ASI mengandung 107 sel bakteri/800 ml termasuk Lactobacillus dan Bifidobacterium yang merupakan bakteri baik untuk bayi. Selain itu ASI juga mengandung Human milk oligosaccharides (HMOs) yang merupakan sumber makanan bagi mikrobiota usus.

Penggunaan antibiotik, faktor genetik, dan lingkungan juga diketahui memengaruhi komposisi mikrobiota usus.

 

Cara meningkatkan kesehatan saluran cerna anak

Beberapa cara untuk meningkatkan kesehatan saluran cerna pada anak adalah:

    1. Perkenalkan anak dengan makanan yang mengandung banyak bakteri baik, contohnya makanan yang difermentasi seperti keju, tahu dan tempe.
    2. Berikan makanan yang banyak mengandung serat.
    3. Hindari makanan yang mengandung terlalu banyak gula.
    4. Hindari pemberian makanan kaleng dan siap saji (junk food).
    5. Hindari penggunaan antibiotik tanpa resep dokter.
    6. Jangan takut untuk membiarkan anak bermain di kebun dan dengan binatang.

Ayo, Ayah dan Ibu, kita jaga kesehatan saluran cerna anak-anak agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal.

Bila Si Kecil Diare

 

 

 

oleh Dr. dr. Ariani Widodo, SpA(K)

Dokter Spesialis Anak

Ayah dan Ibu, apakah si kecil pernah mengalami perubahan BAB menjadi cair? BAB cair yang seperti apa yang termasuk diare? Apakah mungkin diare disebabkan oleh selain kuman? Diare adalah salah satu penyakit yang cukup sering ditemui pada anak. Maka dari itu, penting sekali bagi Ayah dan Ibu untuk mengenali gejala diare dan penanganannya.

Apakah diare?

Diare adalah buang air besar cair sebanyak 3 atau lebih dalam sehari. Diare akut merupakan masalah umum yang berlangsung kurang dari 7 hari dan dapat sembuh sendiri. Bila diare berlangsung antara 7-14 hari, maka diare disebut diare memanjang, sedangkan lebih dari 14 hari disebut diare kronik.

Apa yang menyebabkan diare?

Ada banyak hal yang dapat menyebabkan diare, mulai dari infeksi bakteri, virus atau parasit hingga gangguan pencernaan yang tidak terkait infeksi seperti intoleransi terhadap zat-zat makanan, malabsorbsi dan maldigesti, gangguan fungsional seperti irritable bowel syndrome (IBS), dan berbagai penyakit lainnya. Beberapa diare juga disebabkan oleh reaksi terhadap obat-obatan yang dikonsumsi.

Seringkali, penyebab diare tidak dapat diidentifikasi. Selama anak tetap terjaga hidrasinya, serta diare berhenti dengan sendirinya, mengetahui penyebab diare tidaklah terlalu penting.

Gejala lain apa yang dapat menyertai diare?

Diare dapat disertai gejala lain berupa nyeri perut, keram, mual dan muntah. Beberapa penyebab diare dapat menyebabkan demam, rasa menggigil ataupun BAB berdarah.

Hal yang sangat terkait dengan diare dan harus diwaspadai adalah dehidrasi. Dehidrasi perlu segera ditangani untuk menghindari masalah kesehatan yang lebih serius seperti kerusakan fungsi organ, syok atau koma.

Tanda dehidrasi pada Anak adalah:

  1. Mulut dan lidah kering
  2. Tidak ada air mata ketika menangis
  3. Popok tidak basah selama 3 jam atau lebih
  4. Mata cekung
  5. Adanya cekungan yang halus di tengkorak kepala
  6. Demam tinggi
  7. Gelisah
  8. Kulit tidak kembali mendatar dengan cepat ketika dicubit dengan pelan

Dehidrasi dapat terjadi pada setiap diare, berapapun lama durasinya. Dehidrasi menyebabkan tubuh kekurangan cairan dan elektrolit, sehingga dapat mengganggu fungsi tubuh bahkan mengancam jiwa.

Kapan anak harus dibawa berobat ke Dokter?

Segera bawa anak Anda ke dokter apabila terdapat tanda dan gejala dibawah ini:

  1. Tanda dehidrasi
  2. Diare lebih dari 24 jam
  3. Demam lebih dari 38,5oC
  4. BAB berdarah
  5. BAB berwarna hitam

Bila anak mengalami diare, jangan ragu untuk membawa anak pergi ke Dokter. Diare sangat berbahaya terutama bagi balita dan bayi baru lahir, dan sudah dapat menyebabkan dehidrasi meskipun diare tersebut baru berlangsung sekitar 1 hingga 2 hari. Banyak anak yang meninggal karena diare, dan sebagian diantaranya meninggal meskipun durasi diarenya singkat.

Anak yang mengalami dehidrasi akibat diare mungkin perlu dirawat di rumah sakit, tergantung berat ringannya derajat dehidrasi. Minum air putih penting untuk mencegah dehidrasi, namun pada saat anak mengalami diare, minum air putih saja tidaklah cukup. Cairan pengganti yang diminum harus mengandung elektrolit dan larutan yang paling baik serta kandungannya cocok untuk anak dengan diare adalah oralit.

Bagaimana mengobati diare?

Oralit dan zink adalah pengobatan yang saat ini direkomendasikan untuk diberikan pada kasus diare. Tujuan pengobatan ini adalah untuk menggantikan cairan serta elektrolit yang hilang serta membantu pemulihan usus. Obat anti-diare yang dijual bebas tidak boleh diberikan pada anak. Apabila diare disebabkan oleh infeksi bakteri atau parasit, Dokter anda mungkin akan meresepkan antibiotik.

Makanan, Diet dan Nutrisi

Balita yang menderita diare harus tetap diberikan ASI seperti biasa, disertai dengan oralit. Pada anak yang lebih besar, makanan dengan menu yang sama sesuai umur seperti saat anak sehat tetap diberikan. Jangan puasakan anak, dan berikan makanan dalam porsi sedikit namun sering.

Bagaimana pencegahan diare?

Diare dapat dicegah dengan menjaga kebersihan makanan dan minuman. Cucilah tangan anak sebelum makan. Pemberian ASI eksklusif juga membantu mencegah diare. Pada anak, saat ini tersedia vaksin rotavirus yang dapat diberikan pada balita untuk membantu mencegah dan mengurangi beratnya diare.

Mengatasi Sembelit

 

 

 

oleh Dr. dr. Ariani Widodo, SpA(K)

Dokter Spesialis Anak

Andi tau bahwa ia harus buang air besar (BAB) saat ini. Tapi ketika ia duduk di toilet, tidak ada feses yang keluar. Dia menunggu lagi hingga hampir 15 menit tapi tetap tidak terjadi apa-apa. Akhirnya dia mencoba untuk mengedan dengan kuat, namun terasa sakit. Setelah beberapa saat, feses berukuran kecil dan keras seperti kelereng keluar. Andi lalu menyiram kotorannya dan cuci tangan, namun ia tidak merasa lebih nyaman. Kenapa? Dia mengalami konstipasi.

Ayah dan Ibu, mungkin kisah di atas sudah tidak asing lagi terdengar. Sembelit, atau konstipasi, merupakan masalah kesehatan yang sangat umum terjadi pada anak. Anak mungkin mengalami sembelit apabila dalam seminggu buang air besar kurang dari 3 kali, terdapat kesulitan dalam memulai buang air besar, atau fesesnya sangat besar, keras, dan kering.

Gejala apa yang muncul ketika anak mengalami sembelit?

Setiap anak memiliki pola buang air besar yang berbeda. Salah satu anak mungkin bisa buang air besar hingga 2-3 kali per hari sementara anak lainnya mungkin buang air besar setiap 2 hari. Secara umum anak dapat dicurigai mengalami sembelit bila mengalami gejala berikut, yaitu:

  1. BAB dengan frekuensi yang kurang dari biasanya
  2. Sulit BAB atau nyeri ketika BAB
  3. Merasa kembung, begah, atau mengalami sakit perut
  4. Mengedan ketika BAB
  5. Terdapat sedikit darah pada saat BAB
  6. Ditemukan feses dalam celana anak
  7. Berubah postur atau posisi misal berdiri dengan tumit, menyempitkan otot bokong, atau gerakan-gerakan tidak biasa lainnya
  8. Pada keadaan yang lebih jarang, anak jadi sering mengompol/tidak bisa menahan kencing karena tekanan usus yang terisi penuh pada kandung kemih

Apa yang menyebabkan sembelit pada anak?

Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan sembelit. Dari segi pola makan, anak bisa mengalami sembelit apabila tidak minum cukup air dan makan cukup serat. Anak yang terbiasa menunda atau menahan buang air besar hampir selalu mengalami sembelit. Biasanya anak yang seperti ini menunda BAB karena tidak ingin menggunakan toilet selain toilet di rumah, karena tidak ingin berhenti bermain atau mungkin karena ia takut izin atau perlu ditemani ke toilet.

Stres juga merupakan salah satu faktor penyebab sembelit. Ada sebuah keadaan yang disebut irritable bowel syndrome, yang dapat dipicu oleh stres, yang menyebabkan anak mengalami sembelit atau diare. Penggunaan beberapa obat-obatan seperti suplemen zat besi, antasida, dan antidepresan dapat menyebabkan sembelit juga.

Walaupun jarang, sembelit juga bisa merupakan sebuah tanda dari penyakit lain yang lebih serius, seperti tumor atau penyakit saraf pada usus. Sehingga, orang tua tetap perlu konsultasi kepada dokter bila anak mengalami sembelit.

Apa yang harus dilakukan orang tua untuk mencegah dan menangani sembelit?

  1. Ajak dan berikan anak lebih banyak air minum.

Air/cairan yang cukup akan membantu feses agar dapat bergerak dengan mulus di dalam rongga usus.

  1. Berikan serat yang lebih untuk anak.

Makanan tinggi serat seperti buah dan sayur sulit untuk dicerna sehingga akan membantu mengeluarkan isi usus, sehingga dapat mencegah konstipasi.

  1. Pastikan anak cukup beraktivitas dan berolahraga.

Aktivitas fisik juga membantu usus untuk bekerja, sehingga doronglah anak untuk sering-sering berolahraga atau bergerak. Aktivitasnya dapat berupa aktivitas yang sederhana seperti bermain tangkap-tangkapan, naik sepeda, dan lain-lain.

  1. Ubah kebiasaan anak untuk pergi ke kamar mandi.

Biasakan anak untuk tidak menahan BAB bila sudah terasa akan BAB. Selain itu, bentuklah pola dan kebiasaan anak untuk BAB secara teratur misalnya dengan membiasakannya untuk duduk di toilet selama 10 menit setiap hari di waktu yang sama.

Bila kondisi sembelit terlanjur berat, maka atas saran dari dokter, anak mungkin perlu diberikan pencahar untuk mengatasi sembelit tersebut sambil memperbaiki pola BABnya. Di sisi lain, bila sembelit disebabkan oleh penyakit lain, maka penanganannya akan tergantung kepada penyakit yang mendasari.

Risiko apa yang dapat terjadi bila anak mengalami sembelit berkepanjangan?

Sembelit berkepanjangan akan menyebabkan penumpukan feses di dalam rongga usus. Feses yang tertahan ini mengalami penyerapan kembali sehingga menjadi semakin keras. Penumpukan berlebih kotoran yang keras tersebut membuat proses BAB menjadi sulit.

Ada banyak konsekuensi yang muncul akibat proses ini. Nafsu makan anak dapat terganggu akibatnya. Selain itu, ketika anak mengedan sangat keras untuk mengeluarkan kotorannya, anus dapat terluka dan timbul lecet, sehingga akan semakin mempersulit proses buang air besar berikutnya. Lecet ini jugalah yang memungkinkan ditemukannya darah pada saat BAB.

Kadang-kadang, ketika sembelit cukup berat, kotoran berair seperti diare dapat keluar dengan sendirinya. Hal ini akan sangat membuat malu anak dan dapat mengganggu kepercayaan dirinya. Walaupun jarang, turunnya isi usus (rektum) sehingga dapat terlihat dari luar dapat terjadi pada anak yang mengalami sembelit.

Jadi, kapan harus ke dokter?

Ayah dan Ibu perlu membawa si kecil ke dokter apabila sembelit telah berlangsung 1 minggu atau lebih, BAB di celana, si kecil mengalami nyeri perut yang berat, muntah, kurang makan, atau bila Ayah dan Ibu telah mencoba melakukan upaya perbaikan diatas namun belum ada perbaikan pada sembelit yang dialami anak.

Edited by dr. Nurul Larasati

Cacingan

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

Halo Ayah Ibu! Dalam kesempatan kali ini, Kejora ingin berbagi informasi tentang cacingan pada anak. Walaupun terkesan sederhana, cacingan yang tidak diatasi ternyata dapat menganggu tumbuh kembang si kecil lho. Yuk, kita simak pembahasan cacingan berikut ini!

Cacingan pada anak cukup sering terjadi, terutama pada anak berusia 5-14 tahun. Cacingan terjadi akibat menelan telur cacing, baik karena mengonsumsi makanan atau minuman yang sudah tercemar telur cacing ataupun karena kurangnya menjaga kebersihan. Ada 4 jenis cacing yang biasa menyebabkan cacingan pada anak, yaitu cacing gelang, cacing cambuk, cacing tambang, dan cacing kremi. Cacingan pada anak dapat menimbulkan kerusakan pada lapisan usus halus dan mengganggu penyerapan nutrisi penting yang dikonsumsi, termasuk karbohidrat, protein, zat besi, dan lain-lain.

Anak yang mengalami cacingan pada awalnya akan mengalami gejala yang ringan. Gejala ringan tersebut biasanya tidak khas dan dapat berupa lemas, kurang bersemangat, mudah mengantuk, dan pucat. Gejala-gejala tersebut muncul karena asupan nutrisi yang diserap tubuh anak berkurang. Cacingan juga dapat menyebabkan anemia pada anak, diare, dan menurunkan kekebalan tubuh anak. Jika tidak diatasi, cacingan dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang dan gangguan belajar pada anak.

Sama seperti penyakit lainnya, prinsip mencegah lebih baik daripada mengobati. Pencegahan cacingan pada anak dapat dilakukan dengan mengajarkan dan menerapkan perilaku hidup bersih pada anak, seperti membiasakan mencuci tangan dengan sabun dan air bersih terutama sebelum makan dan sesudah bermain, menggunting kuku setiap 1 minggu, dan memastikan semua buah-buahan dan sayuran yang dikonsumsi sudah dicuci. Selain itu, pencegahan juga dilakukan dengan pemberian obat cacing yang dapat dimulai sejak anak berusia 2 tahun dan diulang setiap 6 bulan. Diberikan pada anak berusia 2 tahun karena pada usia tersebut, anak biasanya mulai bermain-main dengan tanah di mana banyak terdapat cacing dan telur cacing. Jika ada anggota keluarga yang mengalami cacingan, maka anggota keluarga yang lain juga disarankan untuk meminum obat cacing.

Cacingan pada anak perlu dicurigai jika anak mengalami gejala tidak khas yang telah dijelaskan di atas, diare yang tidak disertai maupun disertai lendir dan darah, berat badan anak yang tidak sesuai dengan kurva pertumbuhan. Jika Ayah Ibu melihat si kecil mengalami gejala tersebut, sebaiknya periksakan ke Dokter agar dicari tahu penyebabnya. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik dan meminta pemeriksaan tinja. Jika ditemukan telur cacing pada tinja, maka Dokter akan meresepkan obat cacing.

Sumber:
www.idaijogja.or.id/kecacingan/
www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/kapan-balita-perlu-minum-obat-cacing

Pertolongan Pertama Bila Anak Tersedak

 

 

 

oleh dr. Nurul Larasati

Dokter Umum

Ayah dan Ibu, apa yang dapat kita lakukan bila si kecil tersedak? Cukupkah waktu bila mengharapkan pertolongan dari rumah sakit atau klinik terdekat? Sebelum kita meminta pertolongan dari tim medis, pada situasi darurat seperti ini Ayah dan Ibu (atau siapa saja yang sedang bersama si kecil) adalah penolong pertama yang wajib memberikan bantuan. Sebelum dapat memberikan bantuan, jangan lupa untuk menenangkan diri agar pertolongan menjadi efektif.

Tersedak adalah tertutupnya saluran pernafasan bagian atas oleh makanan atau benda asing yang menyebabkan pernafasan menjadi terganggu. (Cunha, 2017) Hal ini berpotensi besar menimbulkan kematian bila tidak segera dilakukan pertolongan awal. (Somasetia, 2017)

Tanda yang paling mudah dikenali bila si kecil tersedak adalah batuk dan sulit bicara (pada anak bayi ditandai dengan merintih). (Cunha, 2017) Cermati segera apakah si kecil dapat batuk secara efektif atau tidak untuk mengetahui seberapa parah sumbatan jalan nafas (sebagian atau penuh). Batuk yang efektif adalah batuk yang responsif dan keras tanpa disertai kesulitan bernafas. Sedangkan, batuk yang tidak efektif tidak akan mengeluarkan suara dan disertai kesulitan bernafas, bibir kebiruan juga penurunan kesadaran. (Somasetia, 2017)

Bila si kecil masih dapat batuk secara efektif, biarkan ia batuk hingga sumbatan bersih. Namun, bila si kecil tidak dapat batuk efektif dan dalam keadaan sadar, berikan lima hentakan pada punggung (back blow) dengan kuat menggunakan pangkal telapak tangan yang dilakukan di antara dua tulang belikat.
Back blow yang diberikan kepada bayi yang tersedak dilakukan dengan posisi bayi telungkup di pangkuan atau lengan penolong, dengan posisi kepala bayi lebih rendah. Penolong dapat menopang kepala bayi dengan menahan rahangnya menggunakan ibu jari dan jari telunjuk dan tengah (lihat Gambar 1), hal ini biasanya tidak diperlukan bila anak berusia diatas 1 tahun atau bila sudah menopang kepala sendiri.

Gambar 1: Penanganan tersedak dengan cara back blow pada bayi. (Sumber gambar)

Pada kasus dimana back blow tidak efektif, posisikan si kecil dalam keadaan telentang di atas pangkuan dan lakukan lima hentakan dada (chest thrust) menggunakan jari telunjuk dan tengah di tengah-tengah tulang dada. Posisikan bayi tetap dengan prinsip kepala si kecil lebih rendah dibanding badannya dan topang kepala bayi dengan memegang bagian ubun-ubun dengan tangan. Ulangi dari awal bila benda asing belum keluar.

Pada anak yang lebih besar (diatas 1 tahun), pertolongan dapat dilakukan dengan cara manuver Heimlich. Penolong berdiri atau berlutut dibelakang si kecil sambil lengan mengelilingi pinggangnya. Kepalkan salah satu tangan dan letakkan di antara pusar dan tulang dadanya. Raih kepalan tangan dengan tangan lainnya dan hentakkan ke arah atas dengan kuat sebanyak lima kali. Ulangi dari awal bila benda asing belum keluar. (lihat Gambar 2) (Somasetia, 2017)

Gambar 2: Cara melakukan manuver Heimlich untuk anak diatas 1 tahun (Sumber gambar)

Berbeda halnya bila kejadian tersedak menyebabkan si kecil kehilangan kesadaran atau berhenti bernafas. Pada kondisi seperti ini, segera hubungi layanan gawat darurat dan lakukan bantuan hidup dasar (BHD) hingga tim medis datang. Keluarkan benda asing dari mulut si kecil bila tampak saat mulut dibuka. Bila tidak, segera lakukan tindakan BHD dengan memberikan kompresi dada sebanyak 30 kali dan dilanjutkan dengan pemberian dua nafas bantuan. Satu rangkaian ini dilakukan sebanyak lima siklus atau dua menit. (Somasetia, 2017)

Penting sekali bagi Ayah dan Ibu, juga pengasuh si kecil, untuk memerhatikan si kecil saat makan dan bermain. Usahakan untuk tidak membiasakan memberikan makanan saat si kecil bermain dan mengawasinya saat bermain dengan benda-benda yang kecil untuk menghindari kemungkinan tersedak. Salam sehat, Keluarga Kejora!

Sumber:

Cunha, J. P. (2017, 11 21). Choking Symptoms, Causes, Treatment. Retrieved from EMedicineHealth: http://www.emedicinehealth.com/choking/article_em.htm#
Somasetia, D. H. (2017, 08 21). Yang Harus Dilakukan Jika Anak Tersedak. Retrieved from IDAI: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/yang-harus-dilakukan-jika-anak-tersedak