Kupas Tuntas Perkembangan Anak Berusia Kurang dari 1 Tahun

 

 

 

 

oleh dr. Ellen Wijaya, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Keluarga Sehat Kejora!
Pandemi COVID-19 yang sudah berlangsung hampir 9 bulan membuat kita lebih sering berada di rumah dan tentunya meningkatkan durasi interaksi bersama Sang Buah Hati. Kesempatan tersebut sebaiknya dimanfaatkan untuk stimulasi perkembangan anak dan mendeteksi secara dini, jika terjadi gangguan perkembangan. Pada diskusi kali ini, Kejora akan membahas perkembangan anak yang berusia di bawah 1 tahun.


Apa yang dimaksud dengan perkembangan anak?
Selain tubuh yang bertambah tinggi dan besar, perubahan yang dapat dinilai seiring bertambahnya usia anak adalah perubahan kemampuan. Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan struktur dan fungsi tubuh menjadi  lebih kompleks yang merupakan hasil kematangan dari hubungan berbagai sistem tubuh. Secara garis besar, perkembangan anak meliputi 4 ranah, yaitu gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian.


Bagaimana perkembangan anak di bawah 1 tahun?
Ayah dan Bunda dapat memperhatikan kemajuan kemampuan anak di bawah usia 1 tahun secara signifikan. Pada ranah gerak/motorik kasar terlihat kemampuan bayi tengkurap, duduk dan mulai belajar berdiri. Perkembangan gerak/motorik halus dapat terlihat dari kemampuan mata bayi mengikuti gerak benda, kemampuan memegang dan menggenggam serta menjimpit. Perkembangan bicara dan bahasa bisa tampak sejak awal, yaitu bayi hanya mengoceh tanpa arti, kemudian mulai mengucap satu kata, serta akhirnya mulai beberapa suku kata. Bayi awalnya mudah tersenyum ketika sedang tidur nyenyak pada usia di bawah 2 bulan, dengan bertambahnya usia maka bayi mulai dapat mengenali orang di sekitarnya dan memberikan senyum sosial sebagai respons kegembiran atau sebaliknya menangis ketika mengetahui kondisi lingkungan yang berbeda dari biasanya.

 

Apakah perkembangan tiap anak selalu sama?
Perkembangan setiap anak memiliki keunikan tersendiri dan kecepatan pencapaian perkembangan pun bisa berbeda. Jadi tidak perlu kuatir jika Sang Buah Hati baru bisa duduk tanpa pegangan di usia 6 bulan, sedangkan sepupunya sudah bisa melakukan hal serupa sejak usia 5 bulan. Meskipun demikian, tiap orang tua tentu perlu mengenali tanda bahaya adanya gangguan perkembangan.


Bagaimana mengenali adanya gangguan perkembangan?
Bayi dengan dan tanpa faktor risiko tetap memerlukan pemantauan perkembangan yang dianjurkan tiap bulan sampai dengan usia 1 tahun. Contoh bayi risiko tinggi  adalah bayi yang  mempunyai riwayat  lahir kurang bulan, berat lahir rendah, bayi baru lahir yang  mengalami infeksi, sesak napas, atau riwayat kejang dan sebagainya.

Semakin terlambat deteksi adanya gangguan perkembangan, maka makin sulit penanganannya. Tersedia kuesioner praskrining perkembangan (KPSP) yang berisi 9-10 pertanyaan tentang kemampuan perkembangan yang telah dicapai anak sesuai kelompok usianya. Kuesioner ini mudah dipahami orang tua dan dapat diakses melalui ponsel dengan aplikasi Primaku dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jika ada kecurigaan keterlambatan perkembangan anak, maka segera ajak anak untuk periksa ke dokter.

Selain menggunakan kuesioner, orang tua perlu mengenal tanda bahaya (red flags) perkembangan anak yang sederhana. Tanda bahaya gerak kasar, diantaranya adalah adanya gerakan yang asimetris atau tidak seimbang misalnya antara anggota tubuh bagian kiri dan kanan, gerakan yang tidak terkontrol , menetapnya refleks primitif (refleks yang muncul saat bayi) hingga lebih dari usia 6 bulan. Contoh tanda bahaya gerak halus, diantaranya bayi masih menggenggam setelah usia 4 bulan, dominasi satu tangan sebelum usia 1 tahun. Tanda bahaya pada ranah bahasa, seperti respons yang tidak konsisten terhadap suara atau bunyi serta tanda bahaya adanya gangguan di ranah sosialisasi diantaranya jarang tersenyum atau ekspresi kesenangan lain pada usia 6 bulan, kurang bersuara dan menunjukkan ekspresi wajah pada usia 9 bulan, bahkan tidak merespon panggilan namanya saat usia 1 tahun.

Seorang anak dapat mengalami keterlambatan perkembangan hanya satu ranah saja, atau bahkan keterlambatan perkembangan yang bermakna pada dua atau lebih ranah yang dikenal dengan keterlambatan perkembangan umum atau global developmental delay.


Bagaimana mencegah terjadinya gangguan perkembangan?
Kebutuhan dasar anak berupa asuh, asih, dan asah harus dipenuhi untuk mencegah terjadinya gangguan perkembangan. Asuh adalah kebutuhan fisik-biomedis meliputi pemberian ASI eksklusif, dilanjutkan makanan pendamping ASI dengan pola gizi yang sesuai, kelengkapan imunisasi,  pengobatan bila anak sakit, kebersihan individu dan lingkungan yang baik dan sebagainya. Asih meliputi kebutuhan emosi dan kasih sayang, sedangkan asah merupakan kebutuhan stimulasi yang merupakan cikal bakal untuk proses belajar anak.

Stimulasi yang dilakukan juga terkait dengan usia anak, misalnya pada usia kurang dari 6 bulan maka bermain bersama Sang Buah Hati menggunakan mainan dengan warna mencolok atau mainan yang memiliki bunyi sangat menarik karena pada usia tersebut fungsi penglihatan dan pendengaran bayi mulai berkembang.

Bayi di atas 6 bulan sampai dengan 1 tahun mulai senang bergerak seperti rolling, duduk, merangkak, dan berdiri karena kemampuan gerak/motor kasarnya lebih berkembang. Oleh karena itu aneka permainan yang diberikan sebagai stimulasi pun juga lebih bervariasi. Kita dapat berikan bola, mainan kubus, boneka dan sebagainya. Makin banyak stimulasi yang dilakukan bersama orang tua tentu perkembangan anak akan menjadi makin optimal.
Mari bersama, kita kenali perkembangan Sang Buah Hati dan selalu semangat dalam memberikan stimulai yang kreatif dan inovatif, meskipun #dirumahaja supaya anak dapat menjadi generasi penerus bangsal yang unggul.

 

Referensi
Sekartini R, medise BE. Cerdas memilih mainan anak dan remaja. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2015.

Hageman RJ. Brain growth. Dalam: Hay WW, Groothuis JR, Hayward AR, Levin MJ, penyunting. Current pediatric diagnosis and treatment. Denver: Prentice-Hall; 1995. h. 69.

Feldman HM. Language disorders. Dalam: Berman S, penyunting. Pediatric Decision Making. Edisi ke-4. Philadelphia: Mosby, 2003.h.94-7.

Aktif Bergerak Bersama Anak di Masa Pandemi

 

 

 

 

 

oleh dr. Selly Christina Anggoro, SpKFR

Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

 

Masa kanak-kanak dan remaja merupakan periode kritis dalam membentuk keterampilan motorik, sensorik serta membangun fondasi yang kuat untuk kesehatan fisik dan mental. Pada masa ini, terjadi perkembangan fisik dan kognitif yang pesat dimana kebiasaan anak terbentuk, berubah, dan terus beradaptasi. Aktivitas fisik yang rutin akan meningkatkan kesehatan dan kebugaran. Durasi kondisi fisik yang aktif dan non-aktif (tidur, sedentary) yang seimbang dan teratur dapat menjamin baiknya kualitas kesehatan fisik dan mental.

Selama pandemi Covid-19, sesuai anjuran Pemerintah, dilakukan physical distancing (dikenal juga sebagai social distancing atau safe spacing) untuk mencegah penyebaran penyakit di komunitas. Dengan adanya physical distancing ini berarti anak harus membatasi kontak dengan orang lain, termasuk tidak bersekolah, diadakannya kelas virtual atau pekerjaan rumah (PR). Olahraga atau bermain outdoor juga harus dibatasi, interaksi sosial hanya bisa dilakukan secara virtual, baik melalui telepon seluler, komputer, atau video games.

Tantangan bagi orangtua adalah untuk menjaga anak tetap aktif dan sehat, agar daya tahan tubuh baik dan tahan terhadap penyakit. Perilaku hidup sehat juga penting untuk mengurangi risiko depresi dan kecemasan yang dapat timbul akibat isolasi diri di rumah.

 

Mengapa anak tetap harus aktif bermain di masa Pandemi Covid-19 ini?

Pentingnya anak tetap melakukan aktivitas fisik dan bermain pada masa pandemi ini adalah sbb:

  • Membantu melalui proses “new normal” selama masa yang penuh ketidakpastian.
  • Bermain penting untuk membantu anak menjalani proses respon emosi terhadap tantangan dan stress.
  • Aktivitas fisik outdoor dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak dalam mengontrol keinginan dan kemampuan, serta membangun keterampilan fisik dan emosi.
  • Bermain dan aktivitas fisik dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih “sehat” dibandingkan dengan hanya sedentary screen time. Selain itu memperbaiki kualitas tidur akibat keluarnya energi yang optimal selama anak aktif bermain.

 

Bagaimanakah rekomendasi aktivitas fisik menurut WHO?        

WHO merekomendasikan durasi waktu yang dibutuhkan oleh anak-anak dalam melakukan aktivitas fisik bagi anak usia kurang dari 1 tahun adalah 30 menit. Untuk anak berusia 1-5 tahun adalah selama 180 menit (3 jam). Sedangkan untuk anak usia 6-17 tahun sebanyak 60 menit.

Berikut ini adalah manfaat aktivitas fisik bagi anak secara umum menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO):

  • Membangun jaringan muskuloskeletal (tulang, otot, dan sendi) yang sehat.
  • Membangun sistem kardiovaskuler (jantung, paru) yang sehat.
  • Meningkatkan keseimbangan, koordinasi, dan kontrol gerak saraf dan otot (neuromuskuler).
  • Menjaga berat badan yang optimal.
  • Meningkatkan fungsi kognitif dari otak.
  • Efek psikologis: mengontrol gejala kecemasan dan depresi (fun and happy).
  • Perkembangan sosial (membangun percaya diri, kemampuan ekspresi diri, interaksi sosial, dan integrasi).

 

(Gambar Rekomendasi WHO)

 

 

 

Apakah ada latihan fisik tertentu untuk anak?

Tubuh anak terdiri dari ratusan tulang dan otot yang diatur oleh begitu banyak saraf dan dikontrol oleh otak. Otak berfungsi sebagai programmer dari gerakan-gerakan tersebut. Dalam buku Physical Activity Guidelines for Americans, dikatakan bahwa jenis aktivitas fisik pada anak dapat berupa latihan aerobik, latihan penguatan otot dan tulang, latihan fleksibilitas, serta latihan keseimbangan yang akan banyak melatih otot-otot besar demi meningkatkan keterampilan motorik kasar anak.

Latihan aerobik disebut juga aktivitas daya tahan atau kardio. Menggunakan otot-otot besar tubuh yang bergerak dalam gerakan ritmis dalam suatu periode waktu tertentu. Contoh aktivitas pada anak misalnya berjalan, berlari, lompat tali, bersepeda, berbaris atau berjalan di tempat, dan berenang. Aktivitas bermain pura-pura, seperti mencari harta karun, latihan halang rintang dengan barang-barang yang ada di dalam rumah, serta membersihkan mainan dengan menggunakan balon panjang yang diletakkan di depan wajah sehingga menyerupai seekor gajah juga dapat dijadikan contoh untuk jenis latihan ini.

Latihan penguatan otot dan tulang mencakup latihan resistensi (tahanan) dan weight lifting (angkat beban). Pada latihan ini, otot tubuh bekerja atau menahan beban dengan melawan suatu gaya atau berat tertentu. Dapat dilakukan dengan mengangkat benda (barbel, dll) selama beberapa kali pengulangan untuk grup otot tertentu atau dengan menggunakan tali elastis khusus. Selain itu dapat pula dengan cara menahan berat badan sendiri, seperti halnya berlari, naik turun tangga, memanjat pohon, push-up, jongkok bangun (squatting), dan jumping jacks.

Latihan fleksibilitas seperti halnya stretching atau latihan kelenturan dapat meningkatkan kemampuan sendi dalam bergerak melalui lingkup gerak sendi yang penuh. Pada anak-anak umumnya tingkat kelenturan sendi masih cukup baik, namun demikian dengan jenis latihan ini, akan semakin meningkatkan elastisitas jaringan tubuh dan performa anak dalam melakukan aktivitas. Bermain yoga dengan berbagai pose binatang, seperti halnya kupu-kupu, macan, sapi, ular, dan lain-lain dapat menjadi alternative untuk jenis latihan ini.

Latihan keseimbangan dapat memperbaiki kemampuan menahan gaya yang berada di dalam ataupun di luar tubuh, sehingga tidak terjatuh saat diam ataupun bergerak. Contoh aktivitas ini misalnya berjalan mundur, berdiri pada satu kaki, lompat kelinci, berdiri dengan menggunakan wobble board atau papan titian yang dibuat sendiri dari barang di sekitar rumah. Latihan penguatan pada otot punggung, perut dan kaki juga dapat memperbaiki keseimbangan, karena selain berfokus pada penguatan otot juga membantu meningkatkan kerja organ proprioseptif pada tubuh anak.

 

Jadi, cukup banyak kan jenis aktivitas fisik anak yang tetap dapat dilakukan di rumah meskipun pada masa pandemi ini? Artinya berada di rumah, bukan berarti kita harus membatasi gerak anak, namun kita sebagai orangtua tetap harus memberikan kesempatan anak untuk berpartisipasi dalam aktivitas fisik “bermain“ yang bervariasi, aman, dan menyenangkan sesuai dengan usianya.

Stay safe and healthy!!

 

Editor              : drg. Sita Rose Nandiasa

 

Terapi Fisik Dada pada Anak

oleh dr. Selly Christina Anggoro, SpKFR

Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

 

Halo Keluarga Kejora!

Di masa pandemi Covid-19 seperti ini, para Ibu pastinya khawatir bila si kecil terkena gangguan pernapasan, seperti halnya batuk, sulit bernapas, atau adanya slym atau reak yang sulit dikeluarkan.

Apakah batuk menandakan reaksi yang baik?

Perlu Ibu ketahui, bahwa sesungguhnya batuk merupakan mekanisme refleks kompleks tubuh yang sangat penting. Batuk menandakan tubuh anak sedang berusaha untuk meproteksi saluran pernapasannya sendiri dengan cara mengeluarkan suatu zat iritan, yang biasanya berupa lendir atau benda asing. Seorang anak usia sekolah yang sehat umumnya dapat batuk hingga 34 kali dalam sehari. Meskipun demikian, batuk yang berkepanjangan dapat menyebabkan gangguan tidur dan akitivitas anak sehari-hari, sehingga menjadi salah satu penyebab tersering perlunya berkonsultasi dengan dokter anak. (1)

Batuk juga merupakan salah satu dari gejala adanya infeksi saluran pernapasan atas maupun bawah. Infeksi saluran napas bawah, terutama pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar anak di bawah 5 tahun di seluruh dunia. Penyakit saluran napas dapat meningkatkan jumlah dan kekentalan sekret atau cairan paru, sehingga menyebabkan gangguan gerakan silia (bulu getar paru-paru) dan batuk menjadi kurang efektif, sehingga bersihan jalan napas terganggu dan pada kondisi lanjut dapat menyebabkan sumbatan jalan napas. (2)

Bagaimanakan cara mencegah sumbatan jalan napas?

Terapi fisik dada dapat membantu mengatasi masalah sumbatan jalan napas, karena pada dasarnya, pada anak yang lebih kecil, kemampuan batuknya belum berkembang optimal. Melalui terapi fisik dada diharapkan dapat mencegah komplikasi penyakit lebih lanjut serta mengurangi kerusakan jaringan akibat radang. (3) Terapi fisik dada yang dikenal sebagai Airway Clearance Therapy (ACT) menggunakan gerakan pasif dan aktif.

Bagaimanakah Airway Clearance Therapy (ACT) dengan teknik pasif?

Gerakan pasif adalah gerakan yang dilakukan secara manual oleh tenaga ahli yang sudah terlatih, pada umumnya dilakukan oleh seorang fisioterapis anak. Teknik pasif ini dikenal dengan nama drainase postural, yang berupa pengaturan anak pada posisi tertentu untuk mengalirkan sekret jalan napas turun akibat pengaruh gravitasi. Drainase postural ini umumnya disertai teknik bersihan jalan napas perkusi dan vibrasi.(2) Teknik perkusi dilakukan dengan posisi telapak tangan membentuk kubah sambil menepuk bagian punggung ataupun dada anak. Sedangkan teknik vibrasi dilakukan dengan menempelkan telapak tangan Ibu pada dada atau punggung anak, seraya menggetarkan permukaan tubuh melalui telapak tangan Ibu. Kedua teknik ini bertujuan untuk melepaskan sekret yang lengket dari saluran napas bawah sehingga dapat lebih mudah keluar dari saluran napas atas melalui mekanisme batuk. (4)

Bagaimanakah Airway Clearance Therapy (ACT) dengan teknik aktif?

Di samping gerakan pasif, teknik ACT disertai pula dengan gerakan aktif berupa latihan pernapasan yang dapat dilakukan sendiri oleh anak terutama anak yang sudah lebih kooperatif. Untuk anak yang masih kecil, agar sesi latihan menjadi lebih menyenangkan, Ibu bisa melakukannya sambil mengajak anak bermain, menggelitik dada atau badannya, atau dengan cara bermain cilukba dengan boneka atau mainan anak sambil memposisikan anak sedikit miring atau tengkurap sehingga drainase postural menjadi lebih efektif. Anda dapat pula bermain pura-pura seraya memberi instruksi dengan suara yang aneh atau lucu sehingga anak menjadi lebih nyaman. Cara lain yang dapat digunakan misalnya dengan meminta anak untuk meniup gelembung sabun, tisu ataupun kain, sehingga dengan demikian pengembangan dada anak bertambah dan sekret lebih mudah keluar.

Beberapa teknik pernapasan aktif lainnya seperti Active Cycle of Breathing Technique (ACBT), teknik Autogenic Drainage (AD) dan Positive Expiratory Pressure (PEP) dapat diajarkan pada anak yang lebih besar sehingga pengeluaran dahak menjadi lebih optimal.

Ketiga teknik ini nanti akan kita bahas secara lebih detil pada kesempatan yang lain yaa Ibu Kejoraa.

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Daftar Pustaka:

Mengenal Cerebral Palsy

 

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, SpOT, BMedSc

Dokter Spesialis Orthopedi

 

Salam sehat, Ayah dan Ibu Kejora! Dua tahun pertama anak adalah masa perkembangan yang pesat dan krusial. Gangguan perkembangan yang terjadi pada periode tersebut dapat berdampak besar pada masa depannya. Pada anak yang mengalami keterbatasan permanen dalam hal pergerakan dan postur, Ayah dan Ibu perlu memeriksakannya ke dokter untuk diteliti karena ada kemungkinan ia menderita cerebral palsy, atau yang sering disingkat sebagai CP. Saat ini CP merupakan salah satu penyebab disabilitas yang paling sering ditemukan pada anak-anak di dunia.

Selain disebabkan oleh kelainan genetik, infeksi saat kehamilan dan persalinan (walau jarang sekali), CP juga seringkali disebabkan oleh gangguan perkembangan pada usia 2 tahun pertama atau kerusakan pada area tertentu di organ otak sang anak, misalnya karena benturan kepala atau infeksi otak. Bentuk permasalahan disabilitas yang biasa dialami oleh anak dengan CP antara lain:

    • Kesulitan untuk mobilisasi
    • Kelemahan tangan/kaki
    • Kekakuan anggota badan tertentu
    • Koordinasi gerak yang buruk
    • Sulit untuk mengontrol gerakan
    • Mudah gemetar
    • Refleks yang lambat
    • Keseimbangan yang buruk.

Anggota badan yang paling sering terkena adalah area panggul, tulang belakang, dan tungkai bawah. Penyakit CP dapat diklasifikasikan berdasarkan:

    1. Bagian tubuh yang terkena (quadriplegi, hemiplegi, diplegi, atau monoplegia), atau
    2. Gangguan pola gerakan tubuh yang diderita (spastik, hipotoni, atetosis atau ataksik).

Gangguan lain yang mungkin dapat diderita juga oleh anak dengan CP antara lain:

    • Gangguan dalam berbicara, pendengaran, dan penglihatan
    • Epilepsi
    • Kesulitan belajar, makan dan menelan
    • Penyakit yang berhubungan dengan saluran cerna, infeksi paru berulang, kesulitan mengontrol air liur, penyakit tulang otot dan sendi
    • Masalah tingkah laku
    • Tingkat kecerdasan (walau dapat sangat bervariasi mulai dari sangat buruk hingga normal).

Mendiagnosis CP terutama pada usia sebelum 12 bulan adalah hal yang tidak mudah dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Anak dengan kecacatan motorik permanen hingga usia 5 tahun dapat dicurigai memiliki CP. Kerusakan otak pada CP tidak bersifat progresif atau tidak memburuk seiring dengan usia. Artinya, ketidakmampuan sang anak untuk mengontrol gerakan tubuhnya akan tetap sama sepanjang hidupnya. Akan tetapi, permasalahan tumbuh kembang akan muncul seiring dengan pertumbuhan tulang dan otot.

Merawat Anak Dengan CP

Sampai sekarang belum ada terapi yang dapat menyembuhkan CP. Program penanganan CP pun bersifat personal alias berbeda untuk setiap penderita. Penanganan penyakit CP berfokus pada permasalahan mobilitas, kualitas hidup, dan pengontrolan otot. Deteksi awal dan penanganannya penting untuk hasil terapi yang lebih baik dan membantu sang anak mencapai potensi terbaiknya.

Merawat anak dengan CP memiliki tantangannya tersendiri. Sebagai orang tua atau keluarga dari anak yang memiliki CP, pemahaman mengenai penyakitnya serta dukungan sangatlah penting. Terapi berupa kolaborasi tim antara pasien, keluarga, dan petugas kesehatan yang terdiri mulai dari dokter, fisioterapis, terapi okupasi, terapi wicara, perawat, ahli nutrisi hingga guru khusus.

Kesulitan yang biasa dihadapi dalam merawat anak dengan CP adalah dalam hal kekakuan atau kelemahan otot, nyeri, tidur, makan, menelan, dan nutrisi. Terapi modern berupa terapi oksigen hiperbarik atau terapi sel punca juga dapat menjadi pilihan, walaupun terapi-terapi tersebut masih dalam tahap evaluasi.

Program perawatan anak yang diusung oleh Rosenbaum dan Gorter mengedepankan 6 tujuan utama dalam merawat anak dengan CP:

    • Function: membantu anak dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan baik, misalnya dengan menyediakan alat bantu gerak.
    • Family: keluarga memiliki peran penting dalam memberikan dukungan dan bantuan.
    • Fitness: sang anak harus tetap sehat dan aktif dengan segala keterbatasannya.
    • Fun: membuat masa kanak-kanak tetap menyenangkan.
    • Friends: pergaulan sosial tetaplah penting untuk menstimulasi perkembangan anak.
    • Future: mempersiapkan masa depan yang baik dengan merancang target dan harapan.

Ayah dan Ibu, penanganan sedini mungkin yang tepat dan melibatkan tim suportif dari berbagai pihak dapat memberikan kesempatan yang baik bagi sang anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Carilah komunitas, baik online atau offline, dimana Ayah dan Ibu dapat bertukar informasi dan juga mendapatkan dukungan yang positif. Ayah dan Ibu yang positif akan memberikan energi positif juga pada anak. Yuk, Ayah dan Ibu, kenali cerebral palsy dan Bersama-sama kita bantu orang-orang yang kita sayangi.

Sumber:
Graham D, Paget SP, Wimalasundera N. Current thinking in the health care management of children with cerebral palsy. Med J Aust. 2019 Feb;210(3):129-135. doi: 10.5694/mja2.12106. Epub 2019 Feb 10.

 

Serba-Serbi Tas Sekolah Anak

oleh dr. Selly Christina Anggoro, SpKFR

Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

 

Halo Keluarga Kejora!

Ayah dan Ibu Kejora pastinya sudah tahu akan tingginya tuntutan kurikulum dan jam sekolah yang panjang saat ini telah menuntut anak sekolah untuk mempersenjatai diri dengan berbagai benda yang harus dibawa setiap hari di dalam tasnya. Seperti contohnya adalah buku-buku, pakaian olahraga, bekal makanan dan minuman, tugas-tugas ketrampilan, bahkan laptop atau tablet. Barang tersebut sudah menjadi hal umum yang ditemukan di dalam tas seorang anak sekolah.

Lantas, tas seperti apakah yang sebaiknya dipilih untuk anak? Ayah dan Ibu Kejora, mari kita simak ulasannya..

 

Seperti apakah kriteria tas yang baik?

Pemilihan tas ransel dengan dua tali bahu tentunya lebih baik ketimbang tas sandang/tas selempang. Karena pada tas sandang/tas selempang seluruh beban tas tersebut akan dipikul pada satu bahu saja, sedangkan pada tas ransel dengan dua tali bahu, beban akan didistribusikan secara lebih merata pada tulang belakang anak. Beberapa artikel kesehatan dan penelitian menunjukkan tas sekolah yang terlalu berat dapat menimbulkan risiko timbulnya berbagai keluhan medis pada tubuh pemikulnya terutama pada anak-anak. Bentuk keluhan yang terjadi dapat berupa kaku otot dan leher, kemiringan pada tulang belakang,1 maupun nyeri pada punggung (back pain).2

 

Berapakah berat tas yang diperbolehkan?

Belum ada batasan yang mutlak dan pasti mengenai standard berat tas yang diperbolehkan. Gabungan dari studi dan artikel-artikel yang ada selama ini menunjukkan variasi berat maksimal tas yang diperbolehkan berkisar antara 5-20% berat badan anak pada penggunaan tas ransel.3 Sementara pada penggunaan tas dengan satu tali berat yang diperbolehkan hanya setengahnya saja.1

 

Bagaimanakah cara memilih dan menggunakan tas yang baik?

Berikut adalah rekomendasi dari American Chiropractic Association mengenai pemilihan dan penggunaan tas ransel yang baik untuk anak dan dapat dianjurkan ke orang tua.4

  1. Bantulah anak untuk mengemas tasnya setiap hari, dan pastikan mereka tidak membawa beban lebih dari 5-10% berat badannya. Sebagai contoh apabila berat anak 20 kg, maka beban yang dibawa di dalam tas ransel mereka sebaiknya tidak melebihi 2 kg.
  2. Pilihlah ransel yang ukurannya sesuai. Ransel berukuran besar akan memungkinkan anak membawa beban yang lebih banyak dari yang ia mampu, dan ini memerlukan kehati-hatian dari orangtua.
  3. Panjang dan lebar ransel sebaiknya tidak melebihi batang tubuh (dada dan perut) anak dan tidak menggantung lebih dari 10 cm di bawah garis pinggang. Bila menggantung terlalu berat maka akan meningkatkan beban di pundak.
  4. Pilih ransel yang tali bahunya memiliki bantalan lebar di pundak dan dapat diatur panjang dan kekencangannya. Ransel yang menggantung dengan tidak pas dapat menyebabkan posisi tulang belakang menjadi tidak lurus dan menimbulkan rasa nyeri.
  5. Ransel dengan bantalan punggung akan lebih nyaman dipakai dan melindungi punggung anak dari benda-benda tajam seperti ujung pensil / pulpen, tepian buku dan penggaris.
  6. Gunakan tali pinggang yang ada pada ransel agar berat beban bisa didistribusikan secara merata tidak hanya ke bahu dan punggung tapi juga ke seluruh batang tubuh dan pinggul.
  7. Ransel dengan kompartemen khusus dapat membantu memposisikan benda-benda di dalamnya secara lebih efektif, pastikan benda yang berat dimasukkan ke dalam kompartemen yang paling dekat dengan tubuh.
  8. Bila mungkin, tanyakan kepada guru sekolah anak, apakah dapat meninggalkan buku atau benda yang cukup berat di sekolah saja, dan hanya membawa pulang benda-benda yang penting saja.
  9. Selalu ingatkan anak untuk menggunakan kedua tali bahu secara benar dan tanyakan pada anak secara berkala apakah ada rasa nyeri akibat membawa tas mereka. Dan bila ada nyeri yang terus berlangsung segera hubungi dokter untuk berkonsultasi.

Editor : drg. Sita Rose Nandiasa

Referensi:

  1. Hong Y, Fong DT, Li JX. 4. The effect of school bag design and load on spinal posture during stair use by children [abstract]. Ergonomics. 2011 Dec;54(12):1207-13.
  2. Oviedo PR, Ravina AR, Rios MP, et all. School children’s backpacks, back pain and back pathologies. Archives of Diseases in Childhood. 2012;97:730-732.
  3. Dockrell S, Simms C, Blake C. Schoolbag weight limit: can it be defined?[Abstract]. Journal of School Health. 2013 May;83(5):368-77.
  4. American Chiropractic Association. Backpack Safety Tips. Diunduh dari https://www.acatoday.org/Patients/Health-Wellness-Information/Backpack-Safety

Mengenali Skoliosis

oleh dr. Selly Christina Anggoro, SpKFR

Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

Halo Ayah dan Ibu Kejora Indonesia.

Ayah dan Ibu pasti sudah pernah mendengar mengenai skoliosis, ya? Mungkin dulu saat masih di bangku sekolah, saat kita mendapatkan pelajaran IPA. Nah, untuk Ayah dan Ibu yang belum tahu dan penasaran sebenarnya skoliosis itu apa sih, mari simak artikel berikut ini.

Apakah Skoliosis itu?

Skoliosis adalah suatu kondisi dimana tulang belakang tidak lurus atau bengkok. Skoliosis cukup banyak terjadi pada anak, terutama yang sedang dalam masa pertumbuhan (growth spurt). Pada masa ini anak-anak tumbuh dengan pesat. Gangguan pada masa ini dapat menimbulkan risiko terjadinya kelainan pada batang tubuh (trunk) anak, termasuk pada tulang belakang. Salah satu risiko tersebut adalah Skoliosis atau yang kita kenal dengan Adolescent Idiopathic Scoliosis (AIS).

Kelainan skoliosis terjadi apabila derajat kemiringan tulang belakang kita lebih dari sepuluh derajat. Derajat tersebut dinilai dari arah belakang melalui pemeriksaan foto roentgen vertebra (tulang belakang). Skoliosis memiliki tiga derajat berdasarkan sudut kemiringannya yang disebut sebagai sudut Cobb. Derajat Ringan apabila sudut Cobb di bawah 20 derajat. Derajat sedang apabila sudut Cobb antara 20-40 derajat. Sedangkan derajat berat apabila sudut Cobb lebih dari 40 derajat.

Apakah skoliosis itu berbahaya?

Ayah dan Ibu, skoliosis itu sebenarnya tidak berbahaya, namun skoliosis dapat menimbulkan beberapa kondisi. Kondisi tersebut antara lain gangguan pernapasan, keterbatasan aktivitas fisik serta beberapa keluhan lain seperti nyeri, rasa pegal, cepat lelah, ataupun kelumpuhan pada anak.

Lalu, bagaimanakah cara mendeteksi Skoliosis?

Sebenarnya skoliosis bisa dideteksi sejak dini, sebelum derajat kemiringannya bertambah berat. Ayah dan Ibu bisa memeriksa tulang belakang anak dengan cara melihat dari arah belakang tubuh anak, yaitu apakah tulang belakang anak lurus posisinya dari atas hingga bawah. Cara mendeteksinya dimulai dari area leher, punggung, pinggang, sampai tulang ekornya. Selain itu, Ayah dan Ibu juga dapat membandingkan ketinggian bagian-bagian tubuh anak antara sisi kanan dan kiri seperti area bahu, tulang belikat, panggul, ataupun lutut. Penting untuk membandingkan apakah kedua sisi kanan dan kiri anak sama tingginya di beberapa area tersebut, atau apakah terjadi perbedaan tinggi di area tertentu yang dapat dicurigai sebagai skoliosis.

Bagaimanakah perawatan Skoliosis?

Tatalaksana skoliosis anak tergantung dari derajat skoliosisnya. Pada derajat ringan, anak disarankan untuk melakukan olahraga atau latihan peregangan dan latihan penguatan pada otot-otot tulang belakang yang bermasalah. Untuk skoliosis derajat sedang, disarankan penggunaan alat bantu pada tulang belakang yang disebut sebagai brace, brace memiliki bermacam jenis sesuai indikasi medis, di samping anak harus tetap aktif melakukan latihan. Sedangkan untuk derajat berat, terkadang diperlukan tindakan operasi untuk mengoreksi letak tulang belakangnya. Selain itu diperlukan penggunaan brace paska operasi dan latihan peregangan dan penguatan otot-otot tulang belakang.

Nah Ayah dan Ibu Kejora, ingat untuk mengecek tulang belakang anak sejak dini ya.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya..

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

SUMBER:

  1. Staheli, Lynn T. Fundamentals of Pediatric Orthopedics. 4th edition. Philadeplhia: Lippincott Williams&Wilkins. 2008.
  2. Molnar GE, Alexander MA. Pediatric Rehabilitation. 3th edition. Philadeplhia: Hanley&Belfus Inc. 1999.

Si Buah Hati dan Pola Tidurnya

 

 

 

 

oleh dr. Grace Hananta, C.Ht

Dokter Umum

Halo Keluarga Kejora. Bagaimana tidurnya semalam? Tahukah Ayah dan Ibu kalau tidur memiliki dampak jangka pendek dan panjang pada pertumbuhan si kecil? Sebagian Ayah dan Ibu mungkin mengalami kesulitan dalam mengatur rutinitas tidur si kecil. Dengan akses gadget yang terkadang sulit dibatasi, kebiasaan menonton TV yang lama, atau aktivitas di luar yang padat, pola tidur si kecil dapat menjadi tidak teratur. Tanpa disadari, hal ini pun dapat berpengaruh terhadap kuantitas bahkan kualitas tidur dan kesehatan Ayah dan Ibu. Lantas bagaimana caranya agar si kecil bisa mendapatkan pola tidur yang efisien? Yuk kita lihat tipsnya.

Jumlah waktu tidur sesuai usia anak

Usia Rata-rata waktu tidur malam Rata-rata waktu tidur siang
Newborn – 3 bulan 8-9 jam (dengan terbangun di tengah malam untuk menyusu) 8 jam
6-12 bulan 10 – 12 jam (bisa tidur semalaman) 5 jam
2 tahun 10 jam – 12 jam 4 jam
3 tahun 10 jam 1 jam
4-6 tahun 10 jam Biasanya tidak tidur

Mengatur Pola Tidur Anak

Tidur malam yang nyenyak dan berkualitas sangat penting pada setiap usia, terlebih bagi si kecil yang masih dalam masa tumbuh kembang. Bila si kecil kekurangan jumlah waktu tidur atau tidak berhasil mendapatkan kualitas tidur yang baik, kadar hormon pertumbuhannya (growth hormone) juga akan menurun. Sebagaimana dinyatakan oleh penelitian-penelitian, kadar hormon pertumbuhan tertinggi didapat pada saat tidur, terutama pada tidur malam.

Selain itu, kurangnya tidur juga dapat mengganggu perkembangan dan kerja otak terutama bagian belakang dan samping yang diantaranya bertanggung jawab untuk pergerakan terencana (planned movements), kemampuan spasial, dan atensi/ perhatian. Oleh karenanya, kekurangan tidur dapat berdampak negatif pada kegiatan si kecil di sekolah, seperti menghafal materi pelajaran dan menganalisa tugas.

Penelitian juga menemukan dampak jangka panjang, yaitu adanya hubungan kekurangan tidur saat kecil dengan potensi terjadinya gangguan emosi, seperti depresi, kelak saat dewasa. Dampak dari pola tidur si kecil yang tidak baik bahkan dapat menjadi salah satu penyebab turunnya kondisi kesehatan orang tua.

Namun, bila Ayah dan Ibu dapat bekerjasama dengan si kecil untuk menciptakan pola tidur yang efektif, hal-hal tersebut dapat diminimalisir. Ayah dan Ibu dapat mencoba kiat-kiat seperti di bawah ini:

  • Luangkan waktu tenang 20 – 30 menit sebelum jam tidur yang diharapkan dengan mengisi waktu mendengarkan musik yang tenang, bertukar cerita, atau membaca buku. TV dan gadget sebaiknya tidak menjadi bagian dari waktu tenang. Hal ini akan menyiapkan anak atau memberikan sinyal bahwa waktu tidur akan tiba.
  • Setelah waktu tenang, lanjutkan dengan rutinitas waktu tidur (bedtime routine) misalnya menggosok gigi, mengganti diaper, atau buang air kecil di kamar mandi. Selimut atau boneka dapat menjadi benda yang menyenangkan pada waktu ini.
  • Batasi waktu tenang dan rutinitas waktu tidur sehingga anak dapat terbiasa tanpa meminta perpanjangan waktu yang dapat menyita jumlah waktu tidur.
  • Berikan si kecil waktu untuk belajar tertidur dengan sendirinya di tempat tidurnya.
  • Disarankan agar anak tidak tidur dengan botol susu karena dapat mengganggu kesehatan gigi dan mulut atau gangguan kesehatan lainnya seperti infeksi telinga.

Membuat jadwal tidur yang konsisten

Selain membiasakan anak dengan waktu tenang dan bedtime routine, penting juga bagi Ayah dan Ibu untuk mengatur jadwal tidur yang konsisten. Sesuaikan waktu tidur dan bangun dengan jumlah jam tidur yang diharapkan.

Untuk anak 3 – 5 tahun, jumlah waktu tidur yang disarankan adalah sekitar 10-13 jam. Biasanya di usia ini ada beberapa anak yang mengalami kesulitan untuk tertidur dan tidur nyenyak semalaman. Hal ini dikarenakan  di usia ini mereka cenderung untuk mimpi buruk, atau tidur berjalan, dll.

Bagi anak usia sekolah, anak disarankan untuk mendapatkan tidur 10 – 11 jam tiap harinya. Di usia ini si kecil cenderung mulai banyak mengahabiskan waktunya dengan gadget yang dapat mengurangi waktu istirahat mereka. Selain itu, si kecil biasanya akan mulai terpapar dengan minuman dan makanan yang mengandung kafein yang akhirnya dapat mengganggu pola tidur mereka. Minuman mengandung kafein tidak hanya pada kopi, tetapi juga pada soda, teh dan cokelat.

Apabila saat ini pola tidur si kecil masih terlalu malam, mulai dengan memajukan persiapan tidur 15 menit lebih awal dari jam tidur yang diharapkan dan bertahap terus sampai tercapai waktu tidur yang ideal untuk usianya.

Yang tidak kalah penting adalah untuk mengajak si kecil untuk berolahraga atau aktivitas fisik yang telah disesuaikan dengan usianya.

Masa transisi

Percobaan pengaturan pola tidur pada anak tidak selalu berjalan mulus. Ketidaksiapan dari kedua pihak, orang tua dan anak, biasanya yang menjadi kendala utama. Bisa jadi orang tua belum cukup sabar dalam menghadapi tangisan si kecil, atau anak mempunya banyak tuntutan untuk tetap dapat memenuhi kenyamanannya, dan lain sebagainya. Untuk beberapa kondisi, Ayah dan Ibu dapat mencoba tips berikut ini:

  • Tetap tenang saat anak berteriak atau menangis ketika diminta untuk tidur. Yakinkan si kecil dengan tenang, sabar, dan penuh kasih sayang bahwa sudah waktunya tidur. Misalnya, “Anak baik, sekarang sudah waktunya tidur…”
  • Jangan digendong atau diangkat dari ranjangnya.
  • Ayah dan Ibu harus bersedia untuk konsisten, terutama dalam mengatasi situasi sulit, sehingga lama kelamaan si kecil akan terbiasa.
  • Apabila anak masih terbiasa menyusu dengan botol sebelum tertidur, cobalah untuk mengurangi secara bertahap 20-40 cc setiap beberapa hari sampai habis dan tidak perlu susu lagi.
  • Saat pola tidur terganggu akibat traveling atau kegiatan di luar kebiasaan, jadwal tetap harus diatur kembali dengan konsisten.
  • Berikan reward atau hadiah pada si kecil setelah ia mampu untuk tidur sendiri di jadwal yang telah di tetapkan Ayah dan Ibu.

Siapa sangka tidur ternyata memiliki dampak penting terhadap tumbuh kembang dan kesehatan si kecil. Bila si kecil belum memiliki pola tidur yang baik, yuk Ayah dan Ibu, kita perbaiki dari sekarang. Melakukan perbaikan untuk anak secara konsisten bukanlah hal yang mudah, tetapi akan sangat indah apabila kita selalu memberikan seluruh hati dan perhatian kita kepada si buah hati untuk kebaikannya. Anak akan dapat menangkap bahasa cinta kita dan ia pun akan tumbuh menjadi anak yang bahagia.

Referensi:

  1. Sleep and Your Child. https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=sleep-and-your-child-1-2909
  2. Healthy Sleep Habits. https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=healthy-sleep-habits-90-P02286
  3. Bazian. Lack of sleep may disrupt development of a child’s brain. https://www.nhs.uk/news/neurology/lack-of-sleep-may-disrupt-development-of-a-childs-brain

Flat Foot pada Anak-anak

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, BMedSc

Dokter Umum

Halo, Keluarga Sehat Kejora! Apakah Ayah dan Ibu pernah melihat telapak kaki yang datar tanpa lengkungan? Bagaimana kita tahu itu normal atau tidak? Kita simak ulasannya ya.

Flat foot adalah kondisi dimana kaki kehilangan lengkungnya. Kondisi ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu fleksibel dan kaku. Pada jenis yang fleksibel, lengkung kaki nampak pada saat posisi menapak (berdiri), namun hilang pada saat duduk atau menjinjit. Sedangkan pada jenis yang kaku, lengkungan kaki tidak nampak dan biasanya disertai dengan rasa nyeri dan kekakuan pada sendi-sendi di kaki. Jenis fleksibel adalah jenis yang paling sering ditemukan pada kelompok anak.

Kaki dengan flat foot cenderung memberikan fokus tumpuan lebih miring ke sisi tengah kaki pada saat bertumpu. Hal ini berbeda dengan kaki normal, yang dimana tumpuan beban tersebar merata ke seluruh kaki. Oleh sebab itu, Ayah dan Ibu dapat melihat gaya berjalan sang anak pun menjadi tidak seperti pada umumnya.

Perbandingan bentuk kaki normal dan flat foot.

Sumber: http://pivotalpodiatry.com.au/foot-problems/flat-feet-fallen-arches-treatment-melbourne/

Pusat tumpuan kaki dengan flat foot cenderung lebih miring ke sisi tengah kaki

Sumber: https://orthoinfo.aaos.org/en/diseases–conditions/flexible-flatfoot-in-children

Faktor resiko

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kondisi flat foot, seperti:

  1. Keturunan
  2. Bantalan lemak pada kaki
  3. Jenis sepatu yang biasa dipakai
  4. Kekakuan tendon Achilles di belakang tumit atau kalus (kapalan) pada kaki.

Kebanyakan orang tua biasanya khawatir bahwa kondisi flat foot pada anaknya dapat menyebabkan disabilitas atau kesulitan berjalan. Namun pada umumnya, flat foot fleksibel tidak memberikan masalah hingga usia dewasa, dan sang anak pun dapat tetap berjalan dengan baik atau bahkan mengikuti kegiatan olahraga.

Flat foot fleksibel merupakan variasi normal dari perkembangan kaki. Otot dan sendi dari kaki dapat berfungsi secara normal. Seiring dengan pertumbuhan dan kegiatan berjalan, jaringan lunak di sekitar kaki ini akan mengencang dan membentuk lengkung kaki. Biasanya kondisi flat foot ini menghilang pada sekitar usia 5-10 tahun, namun dapat juga tidak terbentuk sampai usia remaja. Terkadang, kondisi flat foot yang tidak hilang memang dapat menimbulkan keluhan nyeri atau mudah pegal. Kondisi inilah yang perlu diperiksakan ke dokter anda.

Penanganan flat foot

Tatalaksana lebih lanjut hanya diperlukan apabila anak merasa tidak nyaman dengan kakinya, atau timbul keluhan seperti nyeri setelah aktivitas. Dokter akan mengajari anak cara peregangan otot-otot kaki, terutama tendon Achilles, seperti gerakan heel cord stretch.

Heel cord stretch

Sumber: https://kansascityfootandankle.com/are-you-a-loud-walker-you-may-have-tight-heel-cords/

Jika keluhan masih berlanjut, maka dapat disarankan juga menggunakan ganjalan sol sepatu. Ganjalan sol harus empuk namun juga cukup kuat untuk dapat menahan dan membentuk lengkungan pada telapak kaki. Selain itu, fisioterapi lebih lanjut atau pemasangan gips mungkin diperlukan jika tendon Achilles anak terlalu tegang.

Terapi bedah sangat jarang diperlukan, kecuali bagi anak-anak remaja dengan rasa nyeri yang berlanjut. Tujuan dari operasi adalah membentuk lengkungan telapak kaki, dan memanjangkan tendon/urat yang tegang. Operasi ini sendiri mungkin dilakukan bertahap / tidak dalam satu waktu.

 Editor: dr. Nurul Larasati

Olahraga bagi Kesehatan Anak

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, BMedSc

Dokter Umum

Mungkin ayah dan ibu sudah sering mendengar bahwa aktivitas fisik atau olahraga secara teratur selalu dianjurkan oleh para praktisi kesehatan. Manfaatnya sangat besar bagi tumbuh kembang yang normal serta kesehatan dan kebugaran bagi tubuh anak-anak dan remaja. Bersama dengan nutrisi yang baik, aktivitas fisik akan membuat kadar lemak dalam tubuh, pertumbuhan jaringan otot dan tulang menjadi lebih optimal. Di sisi lain, aktivitas fisik yang kurang seringkali dapat menyebabkan berat badan berlebih sampai obesitas. Walaupun femonena ini sering ditemukan pada negara maju, namun belakangan ini juga sering ditemukan di negara berkembang.

Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik minimal 60 menit sehari pada kelompok usia 5-17 tahun cukup untuk memberikan banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Antara lain, peningkatan kesehatan fisik, menurunkan kadar lemak tubuh, menurunkan resiko penyakit jantung, metabolik, dan meningkatkan kesehatan tulang.1 Jenis aktivitas yang disarankan pun merupakan olahraga yang bersifat bertumpu pada beban badan (weight-bearing). Aktivitas jenis ini terutama baik untuk pertumbuhan optimal dari otot dan tulang, membentuk komposisi lemak tubuh yang baik dan mengontrol berat badan, serta mencegah tekanan darah tinggi.

Pertumbuhan kesehatan tulang dimulai sejak masa kanak-kanak dan remaja. Aktivitas fisik memberikan beban mekanik pada tulang, dan memicu pertumbuhan yang lebih optimal, baik dari panjang, bentuk, masa, kepadatan, hingga kekuatan. Pada masa akil balik, kapasitas mineral dan kekuatan tulang sangat dapat beradaptasi, sehingga pada periode inilah terdapat puncak dari pertumbuhan masa tulang. Disamping olahraga yang cukup, konsumsi makanan dan minuman tinggi akan kalsium dapat semakin meningkatkan kesehatan tulang ini.2

Melihat dari segi kesehatan psikososial, sebuah meta analisa menemukan bahwa partisipasi olahraga rutin dapat meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan sosialisasi yang lebih baik, mengurangi gejala depresi, dan lebih kompeten pada berbagai macam bidang olahraga lainnya.3

Manfaat lain dari berolahraga adalah anak-anak juga mendapatkan rangsangan eksternal (seperti visual, perabaan, dan pendengaran), serta internal (vestibular dan kinestetik). Pellegrini dan Smith membagi tipe aktivitas fisik yang cenderung dan gemar dilakukan oleh anak-anak berdasarkan kelompok usia, antara lain:4

  • Usia 6 bulan-2 tahun: rythmic stereotypes: gerakan motorik kasar berulang seperti gerakan menendang atau menggoyang tubuh.
  • Usia 2-5 tahun: exercise play: gerakan motorik kasar sembari bermain
  • Usia 4-10 tahun: rough and tumble play: gerakan yang lebih kuat seperti bergulat, menendang, dan melompat

Aktivitas fisik perlu dilakukan sedini mungkin, karena penelitian menemukan bahwa partisipasi aktivitas fisik di masa kanak-kanak dapat mempengaruhi aktivitas fisik disaat dewasa. Kegiatan olahraga tersebut harus diadakan dalam suasana yang positif dan menyenangkan. Sehingga, dapat tumbuh sendiri rasa keinginan untuk melanjutkan dan menikmati aktivitas pada diri anak tersebut. Agar anak dapat merasa betah menjalaninya, diperlukan juga suasana sukses atau keberhasilan melakukan aktivitas tersebut.2

Kegiatan olahraga ini juga dapat dimulai dari mendorong sang anak untuk ikut berpartisipasi pada kegiatan ekstrakurikuler olahraga di sekolahnya. Ekstrakurikuler ini dapat memberikan berbagai manfaat sosial, seperti membangun kedekatan dengan pelatih/guru, mendapat teman-teman baru diluar teman kelas sehari-harinya, dan membangun kemampuan bekerja dalam tim. Disamping itu, penelitian juga menemukan efek terhadap pembangunan kepribadian sang anak, seperti kemampuan mengontrol emosi yang lebih baik, mendorong anak untuk mengeksplorasi, meningkatkan kepercayaan diri dan disiplin, membantu meningkatkan performa akademis, kesibukan yang teratur, serta berat badan yang terkontrol.5

Jadi, sudahkah ayah dan ibu mendorong anak-anak untuk aktif berolahraga? Jangan dilupakan juga, ayah dan ibu adalah role model yang penting bagi anak untuk berolahraga. Dengan member contoh dan panutan hidup yang sehat, anak-anak pasti akan mengikutinya. Mari mulai bergerak hidup sehat, belajar untuk begerak, dan belajar melalui pergerakan.

Edited by dr. Nurul Larasati

Referensi

  1. US Department of Health and Human Serices: Physical activity guidelines advisory Committee report; 2008. Available from http://www.health.gov/paguidelines/report/
  2. Hills AP, King NA, Armstrong TP. The contribution of physical activity and sedentary behaviours to the growth and development of children and adolescents: implications for overweight and obesity. Sports Med. 2007;37(6):533-45.
  3. Eime RM, Young JA, Harvey JT, Charity MJ, Payne WR. A systematic review of the psychological and social benefits of participation in sport for adults: informing development of a conceptual model of health through sport. Int J BehavNutrPhys Act. 2013 Dec 7;10:135.
  4. Pellegrini AD, Smith PK. Physical activity play: the nature and function of a neglected aspect of play. Child Dev 1998; 69(3): 577-98
  5. Holt N, Kingsley B, Tink L, Scherer J. Benefits and challenges associated with sport participation by children and parents from low-income families. Psychol Sport Eerc 2011, 12:490-499.

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

KIPI adalah salah satu reaksi tubuh pasien yang tidak diinginkan, muncul setelah pemberian vaksin. KIPI dapat terjadi dengan tanda atau kondisi yang berbeda-beda, mulai dari gejala efek samping ringan yang bersifat lokal berupa rasa nyeri, kemerahan dan pembengkakan area tubuh, hingga reaksi yang serius seperti anafilaktik.

KIPI berdasarkan jenis imunisasi:

  • BCG
    Orangtua perlu diberitahu bahwa dalam waktu 2-6 minggu setelah imunisasi BCG dapat timbul bisul kecil (papula) yang semakin membesar dan dapat terjadi ulserasi selama 2-4 bulan, kemudian menyembuh perlahan dengan menimbulkan jaringan parut. Bila ulkus mengeluarkan cairan orangtua dapat mengkompres dengan cairan antiseptik. Bila cairan bertambah banyak, koreng semakin membesar atau timbul pembesaran kelenjar regional (aksila), orangtua harus membawanya ke dokter.
  • Hepatitis B
    Kejadian ikutan pasca imunisasi pada hepatitis B jarang terjadi, segera setelah imunisasi dapat timbul demam yang tidak tinggi, pada tempat penyuntikan timbul kemerahan, pembengkakan, nyeri, rasa mual dan nyeri sendi.
  • DPT
    Reaksi  yang dapat terjadi segera setelah vaksinasi DPT antara lain demam tinggi, rewel, di tempat suntikan  timbul kemerahan, nyeri dan pembengkakan, yang akan hilang dalam 2 hari.
  • DT
    Reaksi yang dapat terjadi pasca vaksinasi DT antara lain kemerahan, pembengkakan dan nyeri pada bekas suntikan. Bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres dengan air dingin.
  • Polio Oral
    Sangat jarang terjadi reaksi sesudah imunisasi polio, oleh karena itu orangtua / pengasuh tidak perlu melakukan tindakan apapun.
  • Campak dan MMR
    Reaksi yang dapat terjadi pasca vaksinasi campak dan MMR berupa rasa tidak nyaman di bekas penyuntikan vaksin. Selain itu dapat terjadi gejala-gejala lain yang timbul 5-12 hari setelah penyuntikan, yaitu demam tidak tinggi atau erupsi kulit halus/tipis yang berlangsung kurang dari 48 jam. Pembengkakan kelenjar getah bening di belakang telinga dapat terjadi sekitar 3 minggu pasca imunisasi MMR.KIPI tidak selalu terjadi pada setiap orang yang diimunisasi. Ayah & Ibu perlu mengetahui bahwa setelah imunisasi dapat timbul reaksi lokal di tempat penyuntikan atau reaksi umum berupa keluhan dan gejala tertentu, tergantung pada jenis vaksinnya. Reaksi tersebut umumnya ringan, mudah diatasi oleh orangtua atau pengasuh, dan akan hilang dalam 1 – 2 hari. Di tempat suntikan kadang-kadang timbul kemerahan, pembekakan, gatal, nyeri selama 1 sampai 2 hari. Kompres hangat dapat mengurangi keadaan tersebut. Kadang-kadang teraba benjolan kecil yang agak keras selama beberapa minggu atau lebih, tetapi umumnya tidak perlu dilakukan tindakan apapun.

Sebelum imunisasi, Ayah Ibu harus mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan kontra atau risiko terjadinya kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI):

  • Pernah mengalami KIPI yang berat pada imunisasi sebelumnya,
  • Alergi terhadap bahan yang juga terdapat di dalam vaksin,
  • Sedang mendapat pengobatan steroid, radioterapi atau kemoterapi,
  • Menderita sakit yang menurunkan imunitas (leukemia, kanker, HIV/AIDS),
  • Tinggal serumah dengan orang lain yang imunitasnya menurun (leukimia, kanker, HIV / AIDS),
  • Tinggal serumah dengan orang lain dalam pengobatan yang menurunkan imunitas (radioterapi, kemoterapi, atau terapi steroid)
  • pada bulan lalu mendapat imunisasi yang berisi vaksin virus hidup (vaksin campak, poliomielitis, rubela)
  • pada 3 bulan sebelumnya mendapat imunoglobulin atau transfusi darah

Setelah diimunisasi, sebaiknya dipantau kondisi anak baik yang menimbulkan rasa tidak nyaman atau keabnormalan pada bagian tubuh tertentu. Untuk mengurangi ketidaknyamanan pasca vaksinasi, dipertimbangkan untuk pemberian parasetamol 15 mg/kgbb kepada bayi/anak setelah imunisasi, terutama pasca vaksinasi DPT. Kemudian dilanjutkan setiap 3-4 jam sesuai kebutuhan, maksimal 4 kali dalam 24 jam. Jika keluhan masih berlanjut, diminta segera kembali kepada dokter.