oleh Dr. dr. Ariani Widodo, SpA(K)

Dokter Spesialis Anak

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Pengalaman pertama menjadi orang tua tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Ayah dan Ibu Kejora. Ketika memiliki bayi, tentu Ayah dan Ibu sudah memelajari terlebih dahulu bagaimana cara merawatnya, apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta pertolongan pertama yang harus dilakukan Ketika buah hati sakit. Namun, terkadang ada kondisi tertentu yang sering membuat orang tua baru bingung, misalnya ketika bayi cegukan tapi tidak berhenti dalam waktu singkat.

Cegukan atau hiccups adalah kontraksi tiba-tiba yang tak disengaja dari diafragma dan otot sela iga. Akibatnya, timbul hisapan udara secara mendadak ke dalam paru melewati ruang antar pita suara, sehingga terjadi suara “hik” yang khas. Cegukan bisa terjadi pada orang dewasa, anak, bayi, bahkan janin dalam kandungan dan biasanya akan hilang dengan sendirinya atau hilang saat bayi tidur.

Cegukan sangat wajar terjadi pada bayi baru lahir. Sebagian bayi sudah mengalami cegukan sejak masih dalam kandungan, mulai sekitar bulan ke-6 kehamilan ketika paru sudah mulai berkembang. Cegukan juga merupakan suatu tahapan tumbuh kembang bayi, jadi bukanlah hal yang aneh dan tidak perlu dikhawatirkan.

 

Apa Penyebab Cegukan dan Apa Akibatnya?

Penyebab cegukan pada bayi baru lahir belum dapat dipastikan. Beberapa teori menyebutkan cegukan pada bayi baru lahir disebabkan oleh udara yang terperangkap di lambung selama menyusui, rangsangan mendadak pada diafragma seperti menyusu terlalu banyak dan cepat, pemberian susu yang terlalu dingin, iritasi akibat susu yang terlalu panas, mengajak bercanda sehingga bayi tertawa saat menyusu, dan batuk terlalu keras.

Cegukan berdasarkan lamanya dibagi menjadi akut, persisten dan intraktabel. Cegukan akut bila terjadi kurang dari 48 jam, cegukan persisten bila lebih dari 2 hari dan intraktabel berlangsung selama lebih dari 1 bulan.

Cegukan yang berlangsung lebih dari 48 jam harus diwaspadai dan sebaiknya segera diperiksakan ke dokter untuk memastikan apakah terdapat kelainan yang serius. Beberapa kelainan yang dapat menimbulkan cegukan lebih dari 48 jam antara lain gangguan saraf diafragma, radang paru, kelainan pada otak seperti radang otak dan radang selaput otak, penyakit ginjal, atau gangguan keseimbangan elektrolit.

Cegukan akut dapat memberikan rasa yang tidak nyaman, refluks, gangguan emosi, bahkan kadang menyebabkan aspirasi, yaitu cairan masuk ke paru. Dalam jangka panjang cegukan yang berlanjut terus menerus dapat mempengaruhi kualitas hidup anak, karena dapat mengurangi asupan makanan sehingga menyebabkan dehidrasi, malnutrisi, kehilangan berat badan, dan gagal tumbuh.

 

Pemeriksaan pada Bayi dengan Cegukan

Cegukan akut biasanya tidak memerlukan evaluasi lebih lanjut karena akan membaik dengan sendirinya. Pemeriksaan lebih lanjut dilakukan bila terjadi cegukan persisten dan intraktabel. Dokter anak akan menanyakan riwayat, melakukan pemeriksaan menyeluruh, dan apabila perlu melakukan pemeriksaan laboratorium untuk mencari penyebabnya. Terkadang pemeriksaan X-ray dada dapat membantu mencari kelainan pada paru yang menyebabkan cegukan. Pemeriksaan CT scan dan MRI mungkin dilakukan bila cegukan dicurigai disebabkan oleh kelainan pada otak.

 

Penanganan Cegukan

Bila bayi mengalami cegukan, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mempercepat berhentinya cegukan, antara lain sering mengubah posisi saat sedang menyusui, menyendawakan bayi terlebih dahulu sebelum menyusui lagi, dan jika masih cegukan tetap berikan susu hingga bayi tenang. Jika bayi sering cegukan saat diberikan susu, maka berikan susu dalam jumlah sedikit namun sering. Bisa juga dicoba memberikan minum air hangat, atau ditidurkan berbaring dengan lutut ditekuk. Pada cegukan yang terus berlanjut, dokter mungkin akan memberikan beberapa obat, namun biasanya ini tidak dilakukan pada bayi baru lahir.

 

Bagaimana Mencegah Cegukan pada Bayi?

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya cegukan antara lain jangan memberikan makan atau minum terlalu cepat, memberikan air putih satu sampai dua sendok teh kepada bayi setelah minum susu, tidak mengajak bayi bercanda sesaat setelah minum susu, dan memberikan jeda waktu istirahat sekitar setengah jam setelah si bayi minum susu. Posisi saat menyusui atau minum dengan dot harus benar sehingga udara tidak masuk terlalu banyak saat minum susu. Jangan lupa sendawakan bayi setelah menyusu, ya.

 

Jadi, secara umum cegukan akut pada bayi dan anak merupakan hal yang tidak perlu dikhawatirkan. Meskipun demikian, jangan anggap sepele cegukan yang berlangsung terus menerus lebih dari 48 jam ya, Ayah dan Ibu Kejora.

Editor: drg. Rahmatul Hayati

 

Referensi

  1. Chang FY, Lu CL. Hiccup: Mystery, Nature, and Treatment. J Neurogastroenterol Motil. 2012;18(2):123-30.
  2. Howes D. Hiccups: A new explanation for the mysterious reflex. Bioessays. 2012;34:451-3.
  3. de Hoyos A, Esparza EA, Cervantes-Sodi M. Non-erosive reflux disease manifested exclusively by protractedhiccups. J Neurogastroenterol Motil. 2010 Oct;16(4):424-7.
  4. García Callejo FJ, Redondo Martínez J, Pérez Carbonell T, Monzó Gandía R, Martínez Beneyto MP, Rincón Piedrahita I. Hiccups. Attitude in Otorhinolaryngology Towards Consulting Patients. A Diagnostic and Therapeutic Approach. Acta Otorrinolaringol Esp. 2017 Mar-Apr;68(2):98-105.
  5. Rey E, Elola-Olaso CM, Rodríguez-Artalejo F, Locke GR, Díaz-Rubio M. Prevalence of atypical symptoms andtheir association with typical symptoms of gastroesophageal reflux in Spain. Eur J Gastroenterol Hepatol. 2006Sep;18(9):969-75.
  6. Steger M, Schneemann M, Fox M. Systemic review: the pathogenesis and pharmacological treatment of hiccups. Aliment Pharmacol Ther. 2015 Nov;42(9):1037-50.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *