Pit and Fissure Sealant

 

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora! Semoga sehat selalu ya..
Apakah sudah pernah mendengar istilah pit and fissure sealant sebelumnya?
Atau malah masih asing dengan istilah tersebut? Pit and fissure sealant itu dapat melindungi gigi dari proses gigi berlubang loh Ayah dan Ibu. Yuk kita bahas lebih lanjut..

 

Apakah sealant itu dan bagaimana cara kerjanya?

Sealant adalah salah satu cara yang aman dan tanpa rasa sakit yang dilakukan untuk melindungi gigi Anda maupun si kecil dari proses gigi berlubang. Sealant merupakan lapisan pelindung yang diaplikasikan pada permukaan kunyah gigi-gigi geraham yang memiliki ceruk-ceruk yang sempit dan dalam (pit dan fissure). Kondisi gigi dengan pit dan fissure yang dalam sangat berpotensi menjadi tempat menumpuknya sisa makanan. Jika tidak dibersihkan, maka akan berubah menjadi pusat berkembangnya bakteri, yang lama kelamaan bisa menyebabkan karies. Dengan kata lain, pit dan fissure yang dalam merupakan habitat utama bakteri Streptococcus mutans. Lapisan sealant ini dapat menjadi pelindung dari sisa makanan serta bakteri agar tidak masuk dan terjebak dalam ceruk-ceruk tadi, sehingga menyebabkan terjadinya karies. Bahan yang digunakan yaitu resin komposit dan ionomer kaca fuji VII.

 

Kapan pit and fissure sealant dapat dilakukan?

Sealant dapat dilakukan segera setelah gigi geraham permanen pertama tumbuh, yaitu saat anak berusia 6-7 tahun. Selain itu, selanjutnya pada saat gigi geraham permanen kedua tumbuh, yaitu saat anak berusia 11-14 tahun.

 

Apakah setelah melakukan prosedur sealant, gigi harus tetap dibersihkan?

Hal yang harus diperhatikan adalah bahwa prosedur ini tidak dapat menggantikan sikat gigi maupun flossing. Namun, prosedur ini dapat mencegah timbulnya lubang dan menghentikan proses karies di tahap awal sehingga lubang gigi tidak bertambah besar dan parah. Faktanya, sealant dapat menurunkan risiko lubang pada gigi geraham belakang hingga 80%. Pada Oktober 2016, CDC (Centers for Disease Control) melaporkan pentingnya sealant pada anak usia sekolah. Menurut CDC, anak usia sekolah tanpa sealant berisiko 3 kali lebih besar untuk mengalami lubang pada gigi dibandingkan dengan anak yang telah menjalani prosedur sealant.

 

Sumber:

https://www.ada.org/en/member-center/oral-health-topics/dental-sealants

https://www.mouthhealthy.org/en/az-topics/s/sealants

https://jada.ada.org/action/showPdf?pii=S0002-8177%2814%2961434-3

https://www.dentalhealth.org/pit-and-fissure-sealants

Apa itu Radang pada Gusi?

 

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

 

Halo Keluarga Kejora,

Apakah anda pernah mengalami situasi berikut? Saat anda sedang sikat gigi, gusi mengeluarkan darah? Atau gusi terlihat berdarah tanpa ada rangsangan seperti luka atau trauma?

Ada banyak penyebab gusi mengalami pendarahan, salah satunya adalah penyakit pada jaringan gusi. Gingivitis merupakan penyakit jaringan gusi yang terjadi akibat bakteri pada plak yang menempel pada permukaan gigi. Apabila plak melekat dalam waktu lama dan mengeras maka terbentuk karang gigi. Calculus atau karang gigi ini yang menjadi pencetus terjadinya peradangan pada gusi. Bila peradangan pada gusi semakin lanjut, kondisi tersebut dapat mengakibatkan periodontitis atau peradangan pada jaringan penyangga gigi.

Jika ayah dan ibu Kejora mengalami gingivitis, gusi akan mengalami perubahan dari bentuk normal. Warna gusi menjadi lebih merah, ukuran menjadi lebih besar dan terjadi penurunan gusi. Kondisi lain yang sering terjadi apabila seseorang mengalami gingivitis adalah bau mulut, perdarahan pada gusi baik spontan saat sedang menyikat gigi atau tanpa disadari.

Plak merupakan penyebab utama dari gingivitis, namun beberapa hal lain juga dapat memicu terjadi gingivitis seperti ;

  • Kebiasaan merokok
  • Kebersihan gigi dan mulut yang buruk
  • Kondisi mulut yang kering
  • Kekurangan nutrisi terutama vitamin c
  • Beberapa kondisi penyakit imunitas seperti leukimia, HIV/AIDS, pengobatan kanker
  • Perubahan hormonal seperti kehamilan, siklus menstruasi
  • Restorasi/ Penambalan gigi yang kurang baik sehingga mengakibatkan sisa makanan terselip dan sulit untuk dibersihkan

Cara terbaik untuk perawatan gingivitis adalah meningkatkan kebersihan gigi dan mulut dengan menyikat gigi dengan benar dan penggunaan dental floss. Tujuannya adalah menghilangkan plak yang menempel pada permukaan gigi. Pembersihan karang gigi dengan cara scalling terutama di sekitar gusi yang mengalami peradangan, juga merupakan cara efektif untuk menghilangkan gingivitis. Jangan lupa untuk kontrol rajin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali untuk mengetahui kondisi gigi dan mulut anda agar terhindar dari penyakit gusi dan mulut.

Sumber:

https://www.webmd.com/oral-health/guide/gingivitis-periodontal-disease#1
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279593/

Ubah Mitos Kesehatan Gigi Anda di Hari Kesehatan Gigi Nasional

 

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

 

Halo Keluarga Kejora,

Memasuki bulan September ada sebuah selebrasi dari bidang kesehatan gigi di Indonesia. Semenjak tahun 2011,  tanggal 12 September diperingati sebagai Hari Kesehatan Gigi Nasional. Peringatan mengenai Hari Kesehatan Gigi Nasional pertama kali digagas oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH.,DR PH.

Momentum tersebut juga sebagai tanda dimulainya Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) untuk yang pertama kali. Kementerian Kesehatan  yang diwakili oleh Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Kesehatan, dr. Bambang Giyatno, MPH dan bekerja sama dengan berbagai elemen seperti Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia serta pihak swasta, membuka secara resmi Bulan Kesehatan gigi Nasional (BKGN) 2011 di Lapangan Gasibu, Bandung.

Salah satu tujuan dibentuknya kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan gigi dan mulut. Namun memasuki tahun ke-9 BKGN, masih terdapat masyarakat yang belum menyadari pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Selain itu, banyak mitos yang beredar terkait kesehatan gigi dan seringkali membuat masyarakat bingung, apakah tindakan perawatan gigi yang dilakukan selama ini sudah tepat atau hanya mitos belaka.

Berikut beberapa mitos yang sering timbul di masyarakat terkait kesehatan gigi dan mulut, seperti :

 

Mitos 1 : “Dok, saya terbiasa menyikat gigi langsung sehabis makan agar gigi menjadi bersih, benar kan?”

Fakta : Menyikat gigi 2x sehari pada pagi dan malam hari, memang sebaiknya dilakukan setelah makan. Namun anda harus memberi jeda sebanyak 30 – 60 menit setelah mengkonsumsi makanan, terutama makanan dengan kandungan asam. Karena hal ini akan menyebabkan bagian permukaan luar gigi (enamel) terpapar dan dapat mengikis permukaan tersebut dan berpotensi mempercepat proses kerusakan pada gigi. Minum air putih setelah makan dapat membantu agar sisa bahan makanan tidak terlalu lama melekat pada permukaan gigi.

 

Mitos 2 : “ Bu dokter, aku suka melihat Ayah menyikat gigi dengan keras. Kata Ayah supaya sisa makanan tidak tertinggal. Apa sikat gigi harus keras agar bersih?”

Fakta : Sikat gigi yang terlalu keras dengan jangka waktu lama dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan gusi dan gigi. Tekanan yang terlalu keras saat menyikat gigi akan membuat gusi mengalami resesi gingiva ( gusi turun ) dan kerusakan pada lapisan permukaan email ( permukaan luar gigi ).  Jadi hindari sikat gigi yang terlalu keras dan mulai menyikat gigi secara tepat untuk menjaga kesehatan gigi dan gusi anda

 

Mitos 3 : ” Dok gigi saya sedang sakit dan saya sudah tidak tahan lagi. Apa gigi yang sakit bisa dicabut saat ini juga?”

Fakta : Meski pencabutan gigi adalah sebuah prosedur yang cukup aman untuk dilakukan, namun hal tersebut bisa menjadi berbahaya apabila saat tindakan terdapat bakteri di dalam aliran darah. Jaringan gusi dapat berisiko mengalami infeksi. Salah satu tanda gigi bermasalah dan sedang mengalami infeksi adalah gigi tersebut sakit atau bengkak. Bila terjadi kondisi seperti itu, dokter gigi biasanya akan memberikan pengobatan terlebih dahulu sebelum dilakukan tindakan pencabutan gigi.

 

Mitos 4 : “Dok, memang benar cabut gigi dapat menyebabkan mata menjadi buta?”

Fakta : Gigi merupakan bagian dari organ tubuh yang saling berkaitan dengan organ tubuh lainnya. Pembuluh darah, serabut saraf yang berada pada gigi, menjadikan gigi dapat berkontak dengan bagian tubuh lain. Pertanyaan mengenai kebutaan pada mata yang terjadi setelah pencabutan gigi, sering dikeluhkan masyarakat awam terutama bila pencabutan gigi pada bagian rahang atas. Dugaan mitos ini muncul karena letak yang cukup dekat antara mata dan gigi di rahang atas.

Saraf kranial ke-5 yakni saraf trigeminus yang memiliki tiga buah cabang yakni, oftalmikus (mata), maksila (rahang atas dan sekitarnya) dan mandibula ( rahang bawah dan sekitarnya ). Sehingga saat anestesi dilakukan untuk pencabutan gigi rahang atas, maka saraf yang dituju adalah saraf maksila dan ini mengurangi kemungkinan terjadinya kerusakan pada organ mata terutama masalah kebutaan.

Namun perlu diingat, selalu ada kemungkinan atau komplikasi yang bisa terjadi apabila anestesi tidak berjalan dengan baik. Sehingga perlu untuk memberitahukan kondisi medis anda kepada dokter gigi untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

 

Mitos 5 : ” Dok, gigi susu anak saya yang bermasalah tidak perlu dirawat bukan? Nanti juga akan tumbuh gigi permanen?

Fakta : Meski rentang usia gigi susu hanya sebentar dan pada waktunya kelak akan tergantikan oleh gigi permanen, tetapi gigi susu anak anda harus tetap dijaga dan dirawat apabila mengalami masalah.

Karena gigi susu yang akan menjaga tempat gigi tetap. Tanpa gigi susu yang sehat, anak akan mengalami kesulitan saat mengunyah makanan, berbicara atau masalah saat gigi tetap tumbuh. Jadi penting sekali untuk menjaga kebersihan gigi susu, sehingga mengurangi potensi terjadinya karies dan masalah gigi pada buah hati anda.

 

Jadi dengan mengetahui fakta dari mitos yang ada di masyarakat mengenai gigi, ayah dan ibu Kejora lebih bisa meningkatkan kepedulian akan kesehatan gigi dan mulut keluarga agar lebih baik lagi di masa yang akan datang

 

Selamat Hari Kesehatan Gigi Nasional 2020

Kejora Indonesia

 

Sumber:

https://www.ada.org.au/Dental-Health-Week-2017/Oral-Health-for-Busy-Lives/Brushing

https://www.webmd.com/oral-health/guide/pulling-a-tooth-tooth-extraction

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5427453/

https://jada.ada.org/article/S0002-8177(14)65077-7/fulltext

https://www.webmd.com/parenting/baby/caring-babies-teeth

https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://promkes.kemkes.go.id/hari-kesehatan-gigi-dan-mulut-nasional&ved=2ahUKEwj68oCk1NbrAhWKyDgGHU2kDBAQFjAAegQIAhAB&usg=AOvVaw08ueQQIaMwXrYNyTZ9zOEc

https://www.unilever.co.id/news/press-releases/2011/12-september-sebagai-hari-kesehatan-gigi-nasional.html

 

 

 

 

Peran dan Efek Radiografi dalam Perawatan Gigi Anak

 

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi

Halo Ayah dan Ibu Keluarga Kejora!

Pernahkah saat menemani si kecil ke dokter gigi, kemudian dokter gigi anda meminta untuk melakukan rujukan pemeriksaan radiografi pada gigi yang sedang dilakukan perawatan atau menjadi keluhan si kecil?

Mungkin ini kali pertama bagi anda sebagai orang tua menghadapi  tindakan pengambilan radiografi pada gigi anak. Hal ini bisa saja menimbulkan berbagai pertanyaan dalam benak anda, seperti apakah hal tersebut akan menyakiti si kecil, bagaimana prosedur pengambilan foto radiografi gigi atau efek radiasi yang akan ditimbulkan.

Mari kita bahas Ayah dan Ibu,

Radiografi pada kedokteran gigi merupakan hal yang penting dalam membantu proses penegakkan diagnosa, salah satunya pada kasus gigi anak. Diagnosa awal pada beberapa kasus seperti karies yang tersembunyi, abses pada gigi, kerusakan tulang rahang akibat trauma, fraktur pada gigi ( gigi patah ), dapat terlihat pada gambaran foto radiografi. Sehingga hal ini dapat membantu dokter gigi dalam mendeteksi masalah dan melakukan tindakan perencanaan perawatan gigi pada anak.

Meski terdapat risiko radiasi yang ditimbulkan dari paparan sinar x atau x-ray, baik pada pasien dewasa maupun anak. Berdasarkan paparan penelitian ilmiah, radiografi pada kedokteran gigi sangat aman untuk digunakan baik melalui permukaan luar atau dalam tubuh. Selain itu jumlah radiasi yang digunakan pada anak tergolong sangat rendah.

Terdapat 2 jenis pilihan radiografi pada gigi yang dapat dipilih berdasarkan kebutuhan jenis perawatan :

  1. Intra oral ( dalam mulut ) : Bitewing, Foto Periapikal, Foto Occlusal
  2. Ekstra oral ( di luar mulut ) : Panoramik, Cephalometri,  Cone Beam Computed Tomography (CBCT)

Sementara bila anda khawatir dengan jumlah paparan sinar x-ray yang dapat masuk ke dalam tubuh si kecil, mungkin gambaran berikut dapat mengurangi rasa cemas anda bahwa tingkat radiasi pada radiografi gigi anak cukup aman:

  1. Radiasi radiografi pada radiografi intra oral berkisar di 1,5 μSV
  2. Radiasi pada radiografi panoramik berkisar 2,7 μSV – 24 μSV
  3. Berdasarkan data ilmiah, batas maksimum sinar x-ray yang dapat diterima seseorang dalam kurun waktu satu tahun sekitar 5000  μSV

Selain dari tingkat radiasi yang tergolong cukup rendah, beberapa hal dilakukan agar tubuh si kecil tidak langsung terpapar sinar radiasi x-ray. ADA ( American Dental Association) merekomendasikan penggunaan apron/ rompi yang menutupi bagian dada dan lead collar atau penutup bagian leher untuk melindungi kelenjar tiroid.

Lalu bagaimana apabila si kecil terlihat takut dan cemas saat pengambilan foto radiografi, berikut tips yang bisa dilakukan:

  1. Terkadang peralatan radiografi terlihat menyeramkan dan membuat anak menjadi takut jadi beri pemahaman dan komunikasi yang baik dengan si kecil, seperti bercerita mengenai bentuk film yang digunakan, tata cara pengambilan foto
  2. Komunikasi dengan dokter gigi terkait pemilihan jenis foto radiografi serta metode yang digunakan dengan melihat usia anak, tingkat kooperatif pasien dan kondisi gigi atau bagian di dalam rongga mulut yang sedang dilakukan perawatan
  3. Anestesi lokal bisa dilakukan, bila si kecil terasa sangat sakit atau mual saat pengambilan foto secara intra oral
  4. Konsultasi lebih lanjut dengan dokter spesialis gigi anak, bila si kecil memiliki kebutuhan khusus

Sumber :

https://www.ecronicon.com › PDF
Web results
Dental Radiography and Radiation Damage to Children Article Review – ECronicon

Menjaga Kebersihan Rongga Mulut Diri dan Keluarga di Masa Pandemi

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Halo ayah dan ibu kejora, pandemi virus Corona yang terjadi hampir di seluruh belahan dunia benar-benar telah mengubah cara kita dalam mengakses pelayanan kesehatan yah.. Tidak terkecuali dalam hal perawatan gigi.

Virus ini tidak pandang bulu dan dapat mengenai siapapun, dapat ditularkan melalui droplet yang dapat menyebar melalui batuk atau bersin. Bahkan saat seseorang sedang melakukan pembicaraan normal (yang seringkali kita abaikan). Partikel droplet yang besar (yang dapat terlihat / kasat mata) dapat mendarat dalam jarak beberapa meter dari kita, namun partikel yang lebih kecil dapat melayang di udara dan jatuh pada jarak yang lebih jauh. Oleh karena itulah, penting bagi kita untuk selalu menggunakan masker saat bepergian, sering mencuci tangan sebelum menyentuh area wajah,  serta mengatur jarak aman dengan orang sekitar. Selain itu, kebiasaan buruk meludah sembarangan juga harus dihentikan. Hal-hal tersebut sangat penting, tidak hanya untuk melindungi diri sendiri, tetapi juga untuk melindungi orang-orang di sekitar kita terlebih lagi keluarga yang kita sayangi.

Bisakah kita tetap pergi ke dokter gigi dalam masa pandemi ini?

Hampir semua pelayanan gigi hanya melayani tindakan kegawatdaruratan untuk meminimalkan penyebaran virus Corona. Oleh karena itu, apabila ingin melakukan kunjungan ke dokter gigi, terlebih dahulu pastikan perawatan apa saja yang masih bisa dilakukan di fasilitas kesehatan terdekat maupun yang biasa dikunjungi. Sebisa mungkin, hindari melakukan kunjungan tanpa melakukan perjanjian. Bersiaplah apabila mengalami penundaan ataupun pembatalan, bahkan untuk jadwal perawatan yang telah dibuat jauh hari.

Apa yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut di masa pandemi ini?

Pandemi COVID-19 ini sepertinya akan tetap berada di sekitar kita selama beberapa bulan ke depan, atau terburuknya, bahkan dalam jangka waktu tahunan. Oleh karena itu, selama Anda tidak memiliki kasus kegawatdaruratan, maka menjaga kebersihkan gigi dan mulut sangatlah penting.

Hal-hal yang dapat dilakukan, antara lain adalah:

  • Jangan pernah berbagi sikat gigi dengan orang lain

Tidak peduli seberapa dekat hubungan anda dengan orang sekitar yang tinggal serumah dengan Anda (bahkan dengan keluarga terdekat sekalipun), jangan pernah bertukar / berbagi sikat gigi Anda dengan siapapun. Sikat gigi adalah barang personal yang tidak seharusnya dapat dipinjamkan / diberikan pada orang lain. Hal ini merupakan salah satu cara baik virus, maupun penyakit lain dapat ditularkan. Pastikan juga untuk menyimpan sikat dalam gelas secara terpisah satu sama lain dengan anggota keluarga lainnya, dan jangan menyimpan sikat gigi dalam wadah tertutup terutama bila baru saja digunakan agar tidak lembab.

  • Gantilah sikat gigi Anda secara rutin

Gantilah sikat gigi paling tidak 3 bulan sekali atau bahkan lebih cepat apabila bulu sikat sudah terlihat rusak sebelum jangka waktu tersebut. Hal ini sangat penting agar Anda dapat tetap menyikat gigi dengan efektif, karena bulu sikat yang telah rusak tidak dapat membersihkan dengan maksimal. Mengganti sikat gigi Anda secara rutin dapat meminimalkan penyebaran bakteri. Apabila sebelumnya Anda telah terinfeksi virus Corona, maka segera ganti sikat gigi Anda.

  • Pastikan untuk menutup penutup toilet sebelum disiram

Tempat penyimpanan sikat gigi pada saat tidak dipakai sangatlah penting. Bila tempat penyimpanannya dekat dengan toilet, maka setiap seseorang melakukan prosedur penyiraman / flushing, maka ada kemungkinan cipratan beserta virus maupun bakteri yang dapat keluar dari toilet dan mendarat pada permukaan sikat gigi. Oleh karena itu, pastikan letak sikat gigi anda tidak berdekatan dengan toilet dan lebih baik lagi tutuplah penutup toilet sebelum disiram.

  • Bersihkan kamar mandi secara rutin

Kamar mandi kita adalah tempat dimana kita biasanya membersihkan diri, serta menyimpan sikat gigi, handuk, dan beberapa barang personal lainnya. Oleh karena itu, bersihkan kamar mandi secara teratur dengan produk berbahan dasar pemutih.

  • Jangan lupa untuk tetap melakukan hal-hal mendasar

Sikat gigi Anda 2 kali sehari (saat pagi dan malam menjelang tidur) dengan pasta gigi yang mengandung fluoride. Gunakan dental floss untuk membersihkan sela-sela gigi yang tidak dapat terjangkau sikat gigi. Selain itu, perbanyak minum air putih dan kurangi asupan makanan dan minuman yang mengandung gula.

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Sumber:

Manajemen Kesehatan Gigi selama Bulan Ramadan dalam Kondisi Pandemi Covid-19

 

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi

Halo keluarga Kejora!

Ramadan adalah bulan ke-9 dalam penanggalan hijriah. Bulan suci yang dinantikan oleh umat muslim di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Hal ini disebabkan dalam bulan Ramadan ada aktivitas penting yang dilakukan oleh seorang muslim dalam waktu sebulan penuh yakni, berpuasa.

Puasa merupakan salah satu rukun islam, yakni melakukan ibadah dengan menahan diri dari makan, minum dan segala yang membatalkan mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun bulan Ramadan kali ini cukup berbeda, dengan adanya pandemi wabah penyakit Covid-19. Beberapa kebijakan diberlakukan seperti pembatasan sosial, menjaga jarak, hingga bekerja, bersekolah dan beribadah dari rumah dengan tujuan mengurangi jumlah orang terkena virus Covid-19,

Meski harus melakukan kegiatan dari rumah, namun kita tetap harus menjaga kondisi kesehatan dan kebersihan tubuh agar selalu sehat dan keluar rumah seperlunya. Salah satu organ tubuh yang harus dijaga kebersihannya selama bulan puasa adalah kesehatan gigi.

Sakit gigi disaat menjalankan ibadah puasa tentu tidak nyaman, karena akan mempengaruhi kualitas ibadah saat sakit timbul. Namun, dokter gigi saat ini menjadi salah satu profesi yang memiliki risiko tinggi dapat terinfeksi virus Covid-19. Hal ini disebabkan kontak yang terlalu erat antara dokter gigi dan pasien serta percikan ludah atau air liur pasien yang dapat melekat pada permukaan alat, fasilitas kesehatan bahkan dokter gigi itu sendiri

Oleh karena itu, terdapat anjuran dari PDGI ( Persatuan Dokter Gigi Indonesia) bahwa dokter gigi dapat membantu pasien yang membutuhkan perawatan dengan menggunakan Alat Pelindung Diri level 3 ( gambar terlampir ) dan hanya dapat menangani tindakan yang bersifat gawat darurat seperti ;

  1. Gusi bengkak karena infeksi
  2. Sakit atau nyeri gigi yang tidak tertahankan
  3. Pendarahan yang tidak terkontrol
  4. Trauma pada gigi dan tulang wajah akibat kecelakaan

Jadi bila terdapat keluhan pada gigi yang bersifat gawat darurat, anda tetap bisa melakukan perawatan. Tetapi bila tidak ada kondisi darurat sebaiknya anda menunda jadwal kunjungan ke dokter gigi di situasi pandemi. Beberapa hal dibawah ini juga harus diingat sebelum datang ke praktik dokter gigi :

  • Konsultasi keluhan gigi terlebih dahulu ke dokter gigi, untuk menentukan apakah perawatan bisa dilakukan atau tunda
  • Peralatan APD ( Alat Pelindung Diri ) dokter gigi dalam praktik menggunakan APD level 3
  • Buat perjanjian ke jadwal kunjungan untuk menghindari kontak dengan pasien lain
  • Tetap menjaga kebersihan saat datang ke dokter gigi dengan menggunakan masker, menjaga jarak dan etika cuci tangan dengan bersih

Selain itu tetap jaga kebersihan gigi secara teratur agar mengurangi risiko sakit sehingga harus datang ke praktik dokter gigi.

Berikut tips yang bisa dilakukan untuk menjaga kebersihan gigi di bulan Ramadan :

  1. Bau mulut

Ibadah puasa dengan tidak makan atau minum dalam waktu cukup lama, membuat mulut kering. Hal ini karena produksi saliva menurun dan tidak bisa menetralkan asam di dalam mulut sehingga timbul halitosis atau bau mulut. Untuk menghindari bau mulut tetap lakukan sikat gigi 2x sehari pada waktu pagi dan malam hari dan jaga kebersihan gigi dan mulut

  1. Beri jeda untuk sikat gigi setelah makan

Banyak orang berpikiran bahwa setelah makan harus langsung menyikat gigi agar sisa makanan tidak melekat di permukaan gigi dan membuat mulut menjadi segar. Namun, anggapan ini ternyata keliru. Setelah makan sebaiknya seseorang memberi jeda sekitar 30 menit sebelum sikat gigi. Hal ini agar menetralkan asam yang berasal dari konsumsi makanan, sehingga tidak merusak lapisan enamel

  1. Gunakan Dental Floss

Seringkali sisa makanan terdapat di sela gigi dan sulit dijangkau oleh sikat gigi. Jangan menggunakan tusuk gigi untuk membersihkannya karena akan mengiritasi gusi, namun gunakan benang gigi atau dental floss untuk membersihkan sisa makanan pada sela gigi

  1. Minum cukup air putih

Tubuh harus memiliki cukup cairan, saat puasa pun tetap harus menjaga konsumsi air agar tidak terjadi dehidrasi. Sebaiknya konsumsi 8 gelas air setiap hari, dengan pembagian 2 saat berbuka puasa, 4 malam dan 2 saat sahur

  1. Pemberian obat

Bila ada rasa sakit atau infeksi, dapat menghubungi dokter gigi anda untuk melakukan pengecekan terhadap gigi yang bermasalah. Apabila diberikan resep obat, bisa dikonsumsi dengan periode waktu tertentu seperti sahur, berbuka puasa atau saat menjelang tidur

  1. Konsumsi buah dan sayur dengan cukup

Kebutuhan nutrisi vitamin dan mineral dibutuhkan tubuh selama berpuasa. Sayur dan buah dapat memberikan vitamin dan mineral untuk menghindari penyakit mulut

  1. Hindari konsumsi makanan dengan bau berlebihan

Hal ini untuk mengurangi risiko bau mulut selama menjalankan ibadah puasa

Sumber :

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26147170/
https://www.researchgate.net/publication/279195908_Ramadan_fasting_and_dental_treatment_considerations_A_review
PB PDGI ( Pengurus Besar –  Persatuan Dokter Gigi Indonesia )

5 Hal Pentingnya Persetujuan Medis dalam Praktik Kedokteran Gigi (Informed Consent)

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

 

Halo Keluarga Kejora

Pernah tidak Anda mengalami suatu keadaan dimana saat Anda berhadapan dengan seorang dokter gigi dan berencana melakukan tindakan gigi, namun setelah dokter gigi memberikan informasi Anda diminta mengisi surat pernyataan sesaat sebelum tindakan dimulai?

Anda tidak perlu khawatir, surat pernyataan medis atau yang dikenal dengan informed consent merupakan salah satu elemen penting dalam tindakan kedokteran gigi terutama tindakan yang memiliki risiko tinggi.

Berikut merupakan informasi yang perlu anda ketahui mengenai persetujuan medis (informed consent) dalam praktik kedokteran gigi:

  1. Persetujuan medis (informed consent) adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarganya atas tindakan kedokteran gigi yang diajukan oleh dokter gigi setelah menerima informasi dan segala risiko yang akan terjadi.
  1. Persetujuan tindakan medis biasanya dilakukan pada tindakan kedokteran gigi yang memiliki risiko tinggi
  1. Persetujuan tindakan medis dianggap sah, apabila:
    • Pasien telah diberi penjelasan/informasi
    • Pasien atau wali dalam keadaan cakap (kompeten) untuk memberikan keputusan/persetujuan
    • Persetujuan diberikan secara sukarela

Selain itu persetujuan medis dapat disampaikan melalui berbagai cara:

    • Persetujuan tersirat atau tidak dinyatakan (implied consent)
    • Persetujuan yang dinyatakan (express consent) baik secara lisan (oral consent) dan tertulis (written consent)
  1. Fungsi penting Informed Consent :

Bagi dokter gigi, informed consent membuat rasa aman dalam menjalankan tindakan medis kepada pasien dan sebagai bahan pembelaan apabila terjadi gugatan yang timbul dari akibat yang tidak dikehendaki. Bagi pasien merupakan penghargaan atas haknya memperoleh hak informasi dan keputusan untuk menolak atau menyetujui suatu tindakan kedokteran gigi.

  1. Tindakan dalam praktek kedokteran gigi yang membutuhkan informed consent

Ada beberapa tindakan yang memiliki resiko tinggi, sehingga membutuhkan informed consent seperti :

    • Perawatan saluran akar
    • Pencabutan gigi
    • Anestesi untuk pencabutan gigi
    • Operasi gigi

Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi anda, terutama perlindungan terhadap risiko saat tindakan dalam praktik kedokteran gigi

Salam Sehat Kejora

Cari Tahu Perbedaan Dokter Gigi, Ahli Gigi, Teknisi Gigi, Salon Kecantikan Gigi dan Tukang Gigi

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

 

Halo Keluarga Kejora

Mungkin anda familiar dengan situasi seperti ini, ada banyak sekali profesi menggunakan kata gigi dan membuat anda bingung mana yang seharusnya melakukan perawatan bila mengalami sakit gigi, penambalan gigi, pencabutan gigi atau pembuatan gigi tiruan. Ilustrasi yang sering anda temui di ruas jalan, seperti Salon Kecantikan Gigi, Tukang Gigi, Teknisi Gigi, Dokter Gigi, Ahli Gigi, Dokter Spesialis Gigi, Klinik Gigi, Rumah Sakit Gigi dan Mulut, hampir mirip satu dengan lainnya. Hal ini sering membuat masyarakat bertanya mana siapa yang akan melakukan perawatan pada gigi mereka. Tentu tidak ada yang salah dengan mencari informasi sebanyak mungkin, namun Kejora Indonesia membantu anda untuk memastikan bahwa tempat yang akan anda kunjungi untuk melakukan perawatan gigi sudah tepat.

Lantas apa yang membedakan?

Profesi

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 512/Menkes/PER/IV/2007 mengenai Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran

Dokter dan Dokter gigi adalah Dokter, Dokter spesialis, Dokter gigi, Dokter gigi spesialis, lulusan pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Selain itu setiap Dokter atau Dokter Gigi yang melakukan praktik kedokteran wajib memiliki SIP, yakni surat izin praktik sebagai bukti tertulis  bahwa Dokter tersebut telah memenuhi persyaratan untuk menjalankan praktik kedokteran. Anda pun bisa melakukan pengecekan memiliki melalui laman www.kki.go.id/cekdokter/form.

Lalu apa perbedaan antara Dokter gigi umum dan Dokter gigi spesialis? Perbedaan paling mendasar yakni cakupan jenis pelayanan yang dilakukan. Dokter gigi umum memiliki tugas pokok yang berperan dalam memberikan pelayanan tindakan dasar kedokteran gigi salah satu diantaranya yakni memberikan pelayanan promotif (promosi kesehatan), preventif (pencegahan penyakit), kuratif (pengobatan penyakit) dan rehabilitatif (pengembalian fungsi) serta melakukan pelayanan rujukan. Sementara Dokter gigi spesialis adalah orang yang melakukan tindakan penegakan diagnosa serta pelayanan gigi  lebih lanjut sesuai dengan bidang spesialisasinya ( Dokter Gigi Spesialis Gigi Anak, Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut, Dokter Gigi Spesialis Periodonsia, Dokter Gigi Spesialis Prostodonsia, Dokter Gigi Spesialis Konservasi Gigi, Dokter Gigi Spesialis Penyakit Mulut, Dokter Gigi Spesialis Ortodonti, dan Dokter Gigi Spesialis Radiologi Kesehatan Gigi).

Bagaimana dengan Salon kecantikan gigi, Tukang gigi, Ahli gigi, atau Teknisi gigi?

  1. Teknisi Gigi

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 372/Menkes/SK/III/2007

Teknisi gigi adalah orang yang telah menyelesaikan diploma 3 Teknik Gigi sesuai aturan yang berlaku. Teknisi gigi mempunyai tugas pokok dalam melaksanakan pelayanan laboratorium, yang meliputi bidang pembuatan prothesa cekat (gigi tiruan cekat), prothesa lepasan ( gigi tiruan lepasan), alat orthodonti dan prothesa maxillofacial

  1. Tukang Gigi

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 39/2014

Tukang Gigi adalah orang yang mampu membuat dan memasang gigi tiruan lepasan. Gigi tiruan lepasan sebagian dan atau penuh yang terbuat dari bahan heat curing acrylic yang memenuhi ketentuan persyaratan kesehatan, salah satunya dengan tidak menutupi sisa akar gigi.

  1. Sementara Salon Kecantikan Gigi, Ahli Gigi tidak memiliki dasar kompetensi yang diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia

Fasilitas Kesehatan

Bila anda ingin melakukan perawatan gigi dan bertemu dengan Dokter gigi atau Dokter Gigi Spesialis ada berbagai macam fasilitas kesehatan yang bisa anda kunjungi seperti Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskemas), Praktek Dokter Gigi Pribadi atau Praktek Dokter Gigi Bersama, Klinik, Rumah Sakit Swasta, RSUD, RS Pusat,atau bahkan Rumah Sakit Pendidikan yang biasanya bekerja sama dengan institusi pendidikan (Universitas). Hindari melakukan penanganan kesehatan gigi oleh oknum yang tidak memiliki kompetensi dengan alasan apapun, karena akan membahayakan kesehatan gigi bahkan nyawa anda.

Biaya

Biaya perawatan kesehatan gigi bervariasi namun identik dengan jumlah yang cukup besar. Sehingga banyak orang yang mengabaikan keluhan dan kebutuhan akan kesehatan gigi. Bukan hanya dari segi biaya saja, kontrol berulang atau bahkan keinginan untuk melakukan perawatan secara instan, bujuk rayu iklan di media sosial oleh oknum yang tidak kompetensi, membuat mind set sebagian orang untuk mencari alternatif perawatan gigi selain fasilitas dan tenaga kesehatan yang resmi sering dicari.

Sebetulnya ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan gigi dengan biaya lebih terjangkau saat ini, seperti layanan gratis pada beberapa bantuan kemanusiaan, Lembaga Keagamaan, Rumah Sakit Pendidikan dan kini ada Program Kesehatan berdasarkan UU No.24 th.2011 yakni BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) yang memberikan pelayanan kesehatan gigi baik dari tingkat 1 hingga tingkat lanjutan dengan biaya cukup terjangkau.

Sebagai gambaran dalam Pelayanan BPJS tingkat primer, berbagai hal berikut dapat dilakukan seperti; pemeriksaan, pengobatan, konsultasi medis, gawat darurat oro dental, pencabutan gigi sulung, pencabutan gigi permanen tanpa penyulit, obat pasca pencabutan gigi, tumpatan komposit atau GIC, pembersihan karang gigi ( 1 kali dalam setahun) hingga pembuatan gigi tiruan dengan limitasi/ plafon tertentu.

Harapan kami, informasi di atas dapat memudahkan anda keluarga Kejora Indonesia untuk memilih Fasilitas serta Tenaga Kesehatan Gigi yang kompetensi, tepat, dan bukan tempat yang tidak semestinya.

Untuk Indonesia yang lebih sehat. Salam, Kejora Indonesia.

Sumber

Http://www.kki.go.id
Http://www.bpjs-kesehatan.go.id
Http://www.persi.or.id
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 512/Menkes/PER/IV/2007
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 39 /2014
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 372/Menkes/SK/III/2007

Cara Membuat Kegiatan Sikat Gigi Terasa Menyenangkan untuk Anak-anak

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

 

Hai Ayah dan Ibu Kejora..

Salah satu keterampilan yang wajib dimiliki setiap anak adalah menyikat gigi sendiri. Apakah Ayah dan Ibu pernah mengalami kesulitan saat menyuruh anak untuk menyikat giginya? Kira-kira bagaimana caranya ya agar anak dapat melakukan kegiatan ini dengan senang hati? 

Membantu anak Anda agar dapat menyikat giginya sendiri memang bukanlah hal yang mudah, namun sedikit kreativitas dari orangtua nantinya sangat membantu dalam pemeliharaan kesehatan gigi anak untuk jangka panjang. Beberapa contoh kreativitas yang dapat dilakukan adalah:

  1. Ciptakan 2 menit yang menyenangkan

    Hindari hanya sekedar menyalakan penghitung waktu (timer) selama 2 menit dalam 2 kali sehari dan mengawasi anak saat menyikat gigi. Putarlah lagu kesayangan anak dan menarilah bersama anak Anda selama durasi menyikat gigi berlangsung. Selain lagu kesayangan, video kartun lucu atau aplikasi tentang sikat gigi juga dapat membuat waktu berlalu dengan cepat. Coba bacakan cerita apapun yang berdurasi 2 menit dengan menggunakan segala suara terbaik Anda. Anda juga dapat memberikan sikat sendiri pada anak Anda untuk bermain, biarkan ia menyikat boneka karakter kesayangannya sembari Anda menyikatkan giginya. Apapun caranya, buatlah sekreatif mungkin sehingga kegiatan menyikat gigi dapat selalu terasa menyenangkan.

  2. Mulailah kebiasaan dan tanamkan sikap disiplin

    Sebagai orangtua, mungkin Anda tergoda untuk membiarkan anak melewatkan kegiatan menyikat gigi setelah seharian beraktivitas atau saat sedang berlibur bersama. Namun, tetaplah konsisten terhadap kebiasaan yang telah terbentuk. Semakin sering kegiatan menyikat gigi dilakukan secara natural / alami, maka akan lebih mudah untuk memastikan bahwa nantinya anak Anda akan tetap melakukan kegiatan ini selama 2 menit dalam 2 kali sehari.

  3. Beri pujian atau hadiah kecil terhadap kebiasaan menyikat gigi yang baik

    Tidak perlu memberikan hadiah yang berlebihan, namun hal-hal kecil yang sekiranya dapat menambah motivasi sudahlah cukup. Apa yang memotivasi anak Anda? Bila stiker, maka buatlah tabel reward dan biarkan anak Anda menambahkan 1 stiker setiap ia menyikat gigi. Bila anak Anda suka membaca, maka biarkan ia memilih sendiri cerita pengantar tidurnya. Atau mungkin juga pujian dapat sangat sederhana, yaitu berupa ajakan untuk melihat gigi anak yang telah bersih sambil berkata “Wah, Ibu bangga padamu”, yang diikuti dengan pelukan atau tepukan hangat.

  4. Karakter kesukaan anak dapat berpengaruh

    Siapakah karakter cerita atau kartun yang sangat disukai oleh anak Anda? Banyak sekali buku anak-anak serta pertunjukan seperti Sesame Street yang memiliki cerita tentang menyikat gigi. Tonton dan bacalah cerita tersebut bersama dengan anak Anda. Pada saat waktu menyikat gigi tiba, Anda dapat menggunakan karakter tersebut sebagai contoh yang baik.

  5. Karanglah cerita

    Apabila Anda menemukan kesulitan cerita atau karakter yang dapat menginspirasi anak Anda, maka karanglah sendiri. Anak Anda bisa saja menjadi satu-satunya superhero yang dapat menyikat dan membasmi kuman-kuman (penjahat) penyebab gigi berlubang.

  6. Biarkan anak memilih

    Biarkan anak Anda memilih sendiri sikat dan pasta gigi yang mereka sukai. Memilih sikat gigi dengan karakter tertentu dapat membuat kegiatan sikat gigi lebih menyenangkan. Selain itu, pasta gigi yang mengandung fluoride juga tersedia dalam berbagai macam warna maupun rasa.

  7. Buat kegiatan menyikat gigi menjadi suatu kegiatan wajib seluruh keluarga

    Anak-anak mencontoh dari orangtuanya, maka jadilah teladan yang baik. Orangtua harus dapat membantu anaknya dalam menggunakan sikat gigi serta dental floss dengan baik dan benar untuk membersihkan seluruh area gigi-geligi dari debris dan plak sedari usia muda.

Editor : drg. Sita Rose Nandiasa

 

Sumber:

  • https://www.mouthhealthy.org/en/babies-and-kids/fun-ways-to-encourage-kids-to-brush
  • https://www.healthhub.sg/live-healthy/1102/6-tips-to-make-brushing-teeth-fun-for-kids
  • https://www.colgate.com/en-us/oral-health/basics/brushing-and-flossing/simple-ways-to-make-brushing-teeth-fun-1013
  • https://www.exceptionaldentistryca.com/7-ways-to-make-brushing-teeth-fun-for-your-child/

Gigi Susu Anak Tertelan, Bahaya atau Tidak?

 

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

 

Gigi susu ( deciduous teeth ) yang terdapat pada anak-anak suatu saat akan berganti dengan gigi tetap. Dimulai dari usia 6-7 tahun, gigi dewasa ( permanent teeth ) mulai mengalami fase erupsi. Salah satu tanda waktu erupsi gigi tetap atau yang biasa dikenal dengan waktu pertumbuhan gigi tetap adalah gigi susu menjadi goyang, karena akar gigi susu terdesak oleh gigi dewasa.

 

Gigi susu yang telah goyang karena terdesak oleh gigi dewasa, sebaiknya segera dilakukan pencabutan. Hal ini dilakukan, agar tidak menghalangi gigi dewasa untuk keluar. Tetapi tidak semua anak setuju untuk melakukan hal tersebut, seringkali yang terjadi adalah gigi susu yang sudah goyang masih dipertahankan di dalam mulut karena rasa takut untuk mencabut gigi.

 

Namun, apa yang terjadi bila gigi goyang tiba-tiba ditemukan sudah tidak ada saat bangun di pagi hari, karena tidak sengaja tertelan atau saat makan makanan yang keras sehingga gigi lepas dan tertelan? Apakah ini berbahaya?Karena sering menjadi pertanyaan pada sebagian orang tua yang khawatir, saat melihat gigi goyang anak diketahui tertelan tidak sengaja?

 

Menurut NHS (National Health Service, Hull University Teaching Hospital), pada dasarnya organ tubuh yang tidak sengaja tertelan akan berakhir di sistem pencernaan tanpa meninggalkan rasa sakit, meskipun memiliki bentuk tajam. Tetapi observasi ke dokter merupakan cara terbaik untuk mengetahui kondisi buah hati.

 

Beberapa hal berikut dapat menjadi acuan untuk orang tua, apabila buah hati tidak sengaja menelan giginya :

  1. Mengetahui waktu yang tepat ke dokter

Beberapa objek kecil yang tidak sengaja tertelan akan mudah melewati sistem pencernaan dan keluar bersama sisa makanan. Hal ini disebabkan karena bentuk yang kecil sehingga tidak melakukan hambatan berarti. Namun, bila terjadi hal seperti muntah, batuk berdengung, kesulitan saat menelan atau bernafas, timbul bercak saat BAB, sesak

  1. Cek BAB anak

Dibutuhkan waktu 12-14 jam untuk suatu makanan atau objek asing melewati proses di saluran pencernaan

  1. Mengkonsumsi buah dan sayur

Hal ini dilakukan untuk mempermudah proses di saluran cerna

  1. Rileks
  2. Minum air putih
  3. Hindari larutan pencahar

Karena proses di saluran pencernaan membutuhkan waktu cukup lama

 

Berikut tips yang bisa dilakukan, untuk menghindari gigi susu goyang dapat lepas tanpa sadar sehingga mencegah resiko gigi tertelan :

  1. Instruksi kepada anak untuk memberi informasi kepada orang tua bila gigi mereka telah goyang
  2. Mengunyah saat makan terutama dengan makanan keras dalam kondisi gigi goyang akan menimbulkan reaksi gigi terlepas. Beri tahu anak untuk berhati-hati saat mengunyah makanan
  3. Beri anak pengertian bahwa mencabut gigi yang goyang penting untuk dilakukan agar menghindari gigi lepas dan tertelan. Selain itu beri anak semangat untuk berani melakukan pencabutan gigi

 

https://www.healthdirect.gov.au/swallowed-object

https://www.hey.nhs.uk/patient-leaflet/swallowed-objects/?_ga=2.267013961.612726637.1573776555-815845611.1573612733

https://m.wikihow.com/Remove-a-Swallowed-Tooth