Kenali Fistul Preaurikula

 

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Halo, Keluarga Kejora!

Apakah Ayah dan Ibu pernah mendengar tentang fistul preaurikula? Kali ini, mari kita cari tahu tentang fistul preaurikula.

Fistul preaurikula adalah lubang di depan telinga. Lubang ini normalnya tidak ada sehingga keberadaannya merupakan suatu kelainan bawaan. Lubang ini merupakan muara dari saluran yang mengarah ke liang telinga dan dapat terinfeksi. Pada prinsipnya, apabila tidak terjadi infeksi, maka lubang ini hanya merupakan kelainan yang tidak perlu ditindak lanjuti.

Gambar 1. Fistul preaurikula atau lubang di depan telinga

Sumber Gambar: https://dragonsurgery.com/ear-pits/

Tetapi, apabila terdapat tanda-tanda infeksi pada fistul preaurikula, Ayah dan Ibu harus melakukan konsultasi ke dokter THT, ya? Berikut tanda-tanda infeksi yang harus diwaspadai, yaitu:

  • Bengkak
  • Kemerahan
  • Nyeri
  • Bernanah
  • Demam

Gambar 2. Pembengkakan pada preaurikula

Sumber Gambar: https://www.healio.com/news/pediatrics/20120325/a-13-month-old-girl-with-pre-auricular-swelling

Tatalaksana yang biasa dilakukan pada fistul preaurikula adalah memastikan kebersihan daerah terinfeksi disertai obat-obatan anti radang atau antibiotik jika diperlukan. Jika terdapat infeksi berulang, maka dokter akan mempertimbangkan tindakan pembedahan untuk mengangkat saluran dan menutup lubang tersebut.

Referensi:

https://www.chop.edu/conditions-diseases/preauricular-pits

Hidung Tersumbat

 

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Halo, Keluarga Sehat Kejora! Kali ini kita akan mencari tahu tentang mengapa hidung kita bisa tersumbat.

 

Ayah dan Ibu Kejora atau bahkan si Buah Hati pasti pernah ya merasakan hidung tersumbat, yaitu hidung terasa penuh sehingga sulit bernapas melalui hidung alias mampet. Hidung tersumbat dapat sangat mengganggu. Selain dapat menyebabkan kesulitan bernapas saat beraktifitas, kesulitan bernapas juga terjadi pada saat tidur sehingga menyebabkan gangguan tidur. Hidung tersumbat menyebabkan aliran udara yang terhirup ke dalam hidung menurun dan mengganggu fungsi penghidu, karena udara yang membawa bau/ aroma ke dalam hidung tidak dapat masuk sepenuhnya ke dalam area penghidu di dalam hidung.

 

Hidung tersumbat biasanya terjadi karena adanya reaksi peradangan di dalam hidung akibat infeksi virus/ bakteri, polip hidung, reaksi alergi, atau adanya kelainan struktur hidung.

 

Peradangan yang terjadi pada hidung menyebabkan terjadinya: 1) pembengkakan pada lapisan permukaan, serta 2) pelebaran pembuluh darah di dalam hidung. Pembengkakan ini juga terkadang disertai dengan adanya produksi cairan/ ingus yang menyebabkan hidung semakin tersumbat.  Pada kasus-kasus tertentu peradangan yang berlangsung lama dapat menyebabkan terjadinya polip pada hidung terutama pada kasus-kasus alergi.

Gambar 1. Peradangan pada hidung

 

Kelainan pada struktur hidung juga dapat menyebabkan terjadinya sumbatan pada hidung, kelainan yang paling sering antara lain septum deviasi (tulang hidung bengkok), pembesaran amandel di belakang hidung dan beberapa kelainan bawaan seperti sumbing pada langit-langit mulut serta atresia koana (rongga hidung bagian belakang tidak terbentuk).

Gambar 2. Septum deviasi (tulang hidung bengkok)

 

Apa yang Ayah dan Ibu harus dilakukan apabila mengalami hidung tersumbat ? Hidung tersumbat yang terjadi sementara dan sebagai bagian dari suatu gejala peradangan dapat sembuh dengan sendirinya terutama bila penyebabnya adalah virus. Untuk kasus-kasus yang disebabkan karena alergi dan kelainan struktur hidung, hidung tersumbat biasanya akan terjadi secara berkepanjangan. Apabila terdapat hidung tersumbat yang berkepanjangan lebih dari 2 minggu dan menyebabkan gangguan aktifitas atau gangguan tidur, sebaiknya dilakukan konsultasi dengan dokter untuk mencari penyebabnya.

 

Editor: drg. Rizki Amalia (@rizkiamalia234)

 

Sumber : Naclerio, RM, Bachert C, Baraniuk, JN. Pathophysiology of nasal congestion. International Journal of General Medicine 2010:3 47–57

 

Sumber Gambar:

  1. https://www.google.com/search?q=nasal+congestion+&tbm=isch&ved=2ahUKEwiEk8b7-_HoAhVU8DgGHTqdDaIQ2-cCegQIABAA&oq=nasal+congestion+&gs_lcp=CgNpbWcQAzIECCMQJzICCAAyAggAMgIIADICCAAyAggAMgIIADICCAAyAggAMgIIADoHCCMQ6gIQJzoECAAQQ1DsrQNYuOUDYK7mA2gEcAB4BoABnAiIAaovkgEPNS42LjMuMy4xLjAuMi4xmAEAoAEBqgELZ3dzLXdpei1pbWewAQo&sclient=img&ei=f_GaXsTXBdTg4-EPurq2kAo&bih=618&biw=1333&safe=strict#imgrc=gorcuDoZ4SqEAM
  2. https://www.stlsinuscenter.com/common-sinus-problems/septal-deviation/

 

Otitis Media Efusi

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah Ayah dan Ibu Kejoara sudah pernah mendengar mengenai Otitis Media Efusi atau OME? Otitis media efusi (OME) merupakan suatu keadaan adanya cairan non- infeksi yang terkumpul di dalam telinga tengah. Keadaan ini terjadi karena akumulasi cairan akibat terjadi radang berulang pada daerah saluran napas atas. Otitis media efusi umumnya dapat sembuh sendiri dalam waktu 4-6 minggu.

Gambar 1. Level udara-cairan di dalam telinga

OME terjadi karena adanya gangguan fungsi tuba eustaschius (saluran yang menghubungkan telinga tengah dengan daerah hidung dan tenggorok) sehingga cairan pada telinga tengah tidak dapat mengalir dengan baik. Keadaan tersebut menyebabkan cairan menetap lebih lama dan menyebabkan terjadinya penurunan pendengaran. Keadaan- keadaan yang menyebabkan adanya gangguan fungsi tuba, antara lain:

  • Fungsi tuba belum berkembang sempurna pada anak
  • Pembesaran adenoid
  • Batuk pilek atau alergi yang menyebabkan pembengkakan pada lapisan telinga, tuba eustashius, hidung dan tenggorok

Otitis media efusi (OME) paling sering terjadi pada anak-anak usia 6 bulan – 3 tahun. Keadaan ini umumnya sulit untuk diketahui karena tidak terdapat gejala akut yang jelas. Gejala-gejala yang dapat terjadi antara lain:

  • Gangguan pendengaran
  • Anak tampak sering menarik atau memegang telinga dan terlihat tidak nyaman
  • Gangguan keseimbangan
  • Hambatan bicara

Keadaan ini dapat membaik dengan sendirinya dalam waktu 4-6 minggu. Antibiotik tidak diperlukan jika tidak ditemukan adanya tanda-tanda infeksi akut pada telinga. Apabila keadaan tidak membaik dalam waktu 2-3 bulan dan mengganggu perkembangan bicara serta performa si buah hati di sekolah, maka perlu dilakukan tindakan pemasangan pipa ventilasi pada gendang telinga untuk mengalirkan cairan keluar.

Tindakan pemasangan pipa ventilasi pada anak – anak umumnya dilakukan dalam pembiusan. Setelah pemasangan pipa dilakukan dan cairan di telinga tengah dikeluarkan maka pendengaran akan segera membaik. Pipa ventilasi akan terlepas dengan sendirinya dalam waktu kurang lebih 6-12 bulan dan gendang telinga akan menutup kembali.

Gambar 2. Prosedur pemasangan pipa ventilasi

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber:

  1. Forest, et al. Improving Adherence to Otitis Media Guidelines With Clinical Decision Support and Physician Feedback. Pediatrics Apr 2013, 131 (4) e1071-e1081; DOI: 10.1542/peds.2012-1988
  2. Bailey’s Head & Neck Surgery Otolaryngology 5th edition, 2014.
  3. Usatine, R.P. Air-fluid levels in ear. J Fam Pract. 2013 September;62(9), diakses dari https://www.mdedge.com/familymedicine/article/77660/air-fluid-levels-ear pada tanggal 12 Januari 2020.
  4. Donaldson, JD. Ear Tubes, diakses dari https://www.emedicinehealth.com/ear_tubes/article_em.htm#what_are_ear_tubes pada tanggal 12 Januari 2020.

Cara Membersihkan Telinga

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah Ayah dan Ibu pernah mendengar istilah serumen/earwax? Apakah sama dengan congek? Bagaimana cara membersihkannya ya? Simak penjelasan berikut, ya!

Serumen atau earwax merupakan kotoran yang dihasilkan oleh telinga, terdiri dari produksi kelenjar serumen, kelenjar minyak, kelenjar lemak, sel kulit mati dan sisa rambut. Kotoran telinga pada setiap individu bermacam-macam jenisnya, yaitu basah, keras, lengket, berkerak, dan kering. Perbedaan terjadi karena setiap orang memiliki jumlah kelenjar-kelenjar, sel kulit mati dan sisa rambut yang berbeda-beda.

Gambar 1. Serumen atau earwax (Sumber: Medlineplus)

Serumen/earwax berbeda dengan congek. Congek merupakan cairan infeksi yg dihasilkan karena adanya suatu proses infeksi di telinga tengah. Umumnya berwarna keputihan seperti nanah. Nah, apabila ada cairan seperti ini, Ayah dan Ibu harus segera konsultasi ke dokter untuk dibersihkan dan diobati.
Sebenarnya serumen/earwax memiliki beberapa fungsi tersendiri yang sangat penting dalam menjaga kesehatan telinga. Fungsi serumen antara lain:

  • Melindungi telinga dari kuman dan jamur
  • Menjaga agar kulit liang telinga tidak kering
  • Mengusir serangga yang masuk ke telinga
  • Mengeluarkan sisa rambut dan sel kulit mati dari liang telinga

Telinga sudah memiliki mekanisme untuk membersihkan diri. Serumen/earwax yang sudah dihasilkan akan perlahan-lahan bergerak keluar dibantu oleh pergerakan otot-otot di sekitar telinga saat rahang kita bergerak ketika mengunyah atau berbicara.

Jadi, telinga perlu dibersihkan tidak, ya?

Telinga hanya perlu dibersihkan di bagian daun telinga dan bagian luar liang telinga saja. Tidak perlu dibersihkan ke dalam liang telinga. Daun telinga dapat dibersihkan dengan menggunakan kain/ lap/ tissue basah yang diusap ke bagian daun telinga dan bagian belakang telinga.

Membersihkan telinga dengan mengorek telinga tidak dianjurkan karena memiliki beberapa dampak. Ayah dan Ibu perlu tahu apa saja dampak negatif yang dapat terjadi bila kita mengorek telinga, yaitu:

  1. Kotoran telinga menjadi menumpuk
  2. Gangguan pendengaran
  3. Infeksi liang telinga
  4. Telinga berdenging/ berdengung
  5. Gendang telinga pecah

Gambar 2. Bagian luar liang telinga yang ditekan (lihat anak panah, sumber: Livescience.com)

Sekarang Ayah dan Ibu sudah tahu ya bagaimana cara membersihkan telinga. Untuk mengetahui keadaan telinga, Ayah dan Ibu dianjurkan untuk membawa anaknya ke dokter THT setiap 6 bulan.

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber:

1. Bailey’s Head & Neck Surgery Otolaryngology 5th edition, 2014.
2. F. Beatrice, S. Bucolo, r. cavallo. Earwax, clinical practice. Acta Otorhinolaryngologica Italica 2009;29(SuPPL. 1):1-20

Mengenal Amandel pada Anak

 

 

 

 

oleh dr. Ellen Wijaya, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Keluarga Sehat Kejora!

Topik kali ini kita akan membahas tonsil palatina atau AMANDEL pada anak. Banyak pertanyaan seputar amandel yang disampaikan orangtua pada praktek dokter sehari-hari. Bahkan tidak jarang yang periksa ke dokter dengan keluhan sang buah hati “sakit amandel”, atau menanyakan apakah amandel anaknya yang besar perlu dioperasi. Oleh karena itu, mari kita mengenal lebih jelas mengenai amandel pada anak.

Apa itu amandel?

Amandel atau tonsil palatina merupakan bagian dari kelenjar getah bening yang berfungsi sebagai sistem pertahanan tubuh agar kuman tidak mudah masuk ke saluran pernapasan manusia. Amandel terlihat seperti benda bulat yang menyerupai bakso di kanan dan kiri ujung belakang rongga mulut yang dapat dilihat bila anak membuka mulut lebar sambil menjulurkan lidahnya.

Bahayakah jika amandel anak besar?

Sistem kelenjar getah bening, termasuk amandel mengalami perkembangan pesat saat anak berusia 5-15 tahun. Pada usia tersebut ukuran normal amandel anak dapat mencapai dua kali ukuran dewasa sehingga orang tua tidak perlu kuatir jika ukuran amandel anak besar, asalkan tidak disertai gejala peradangan.

Apakah itu radang amandel?

Radang amandel atau yang dikenal dengan tonsilitis merupakan infeksi pada saluran napas bagian atas yang dapat disebabkan oleh bakteri atau virus. Gejala yang dapat ditemukan diantaranya adalah amandel terlihat merah, nyeri dan bengkak sehingga tampak lebih membesar. Keluhan tersebut dapat disertai dengan demam, nyeri menelan, batuk, atau pun pembengkakan kelenjar getah bening di area leher.

Bagaimana penanganan radang amandel?

Radang amandel yang disebabkan akibat virus akan pulih dengan sendirinya. Hal yang perlu dilakukan oleh Ayah dan Ibu Kejora adalah memastikan buah hati lebih banyak minum air putih untuk mengurangi nyeri pada tenggorokan dan mencegah dehidrasi. Berikan anak makanan bergizi yang bertekstur lembut, jika terdapat keluhan nyeri menelan dan pastikan anak beristirahat yang cukup untuk memulihkan sistem kekebalan tubuhnya. Jika radang amandel disebabkan oleh bakteri, maka dokter akan memberikan antibiotik. Pastikan anak minum antibiotik sesuai anjuran yang diberikan oleh dokter.

Apakah amandel yang besar perlu dioperasi?

Ukuran amandel yang besar pada anak bukan merupakan alasan untuk dioperasi. Penyebab amandel perlu dioperasi adalah adanya gangguan napas saat anak tidur yang disebut obstructive sleep apnea syndrome (OSAS). Anak diduga mengalami OSAS, jika lebih dari 3 hari dalam seminggu tidurnya mendengkur, terdapat gejala henti napas saat tidur yang diikuti gelagapan seperti hendak terbangun, namun kemudian anak kembali tidur. Gejala lain yang bisa terjadi adalah sering mengantuk pada siang hari dan bahkan adanya gangguan prestasi belajar sekolah. Pemeriksaan khusus yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis OSAS pada anak menggunakan polisomnografi (PSG).

Alasan kedua perlunya operasi adalah radang amandel dan tenggorokan (tonsilofaringitis) akibat kuman streptokokus yang terjadi hingga 7 kali atau lebih dalam 1 tahun terakhir, atau 5 kali per tahun dalam dua tahun berturut, atau 3 kali pertahun dalam 3 tahun berturut. Gejala radang amandel akibat kuman streptokokus, diantaranya adalah demam tinggi dengan nyeri tenggorokan yang berat, dan amandel terlihat sangat merah disertai bercak putih pada permukaannya sehingga anak memerlukan terapi antibiotik yang adekuat.

Jadi operasi amandel dilakukan hanya dengan indikasi yang sangat jelas. Apakah masih perlu kuatir dengan amandel sang buah hati? Semoga pembahasan ini bisa membantu Ayah dan Ibu Kejora dalam menghadapi keluhan pada anak berkaitan dengan amandel. Sampai bertemu pada topik ilmu kesehatan anak lainnya. 

 

Editor : Saka Winias

Sumber :

  1. Naning R, Triasih R, Setyati A. Faringitis, Tonsilitis, Tonsilofaringitis Akut. Dalam: Rahajoe NN, Supriyatno B, Setyanto DB, penyunting. Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi ke-1. Jakarta: IDAI; 2008.h.289-95.
  2. Supriyatno B. Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) pada anak. Dalam: Rahajoe NN, Supriyatno B, Setyanto DB, penyunting. Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi ke-1. Jakarta: IDAI; 2008.h.402-11.

Noise Induced Hearing Loss (NIHL)

 

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Hai, Keluarga Kejora!

Apakah Ayah dan Ibu Kejora sudah pernah mendengar tentang Noise Induced Hearing Loss?

Noise Induced Hearing Loss (NIHL) adalah gangguan pendengaran yang disebabkan karena paparan bising yang berlebihan. Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai gangguan tersebut, mari kita lihat dulu struktur telinga secara keseluruhan!

Telinga terdiri dari 3 bagian besar, yaitu telinga bagian luar, tengah dan dalam. Telinga bagian luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga. Gendang telinga membatasi telinga bagian luar dan tengah. Pada telinga bagian tengah terdapat tulang-tulang pendengaran yang berfungsi menghantarkan getaran bunyi yang diterima oleh gendang telinga. Pada telinga bagian dalam terdapat organ pendengaran yang disebut koklea yang terdiri dari sel-sel rambut yang berhubungan dengan saraf pendengaran yang akan berjalan membawa informasi bunyi yang diterima ke otak.

Gambar 1. Anatomi telinga

Terdapat 2 mekanisme utama yang terjadi pada NIHL, yaitu:

  1. Gangguan pendengaran karena trauma akustik akibat paparan bunyi yang sangat keras dapat merusak gendang telinga atau tulang-tulang pendengaran secara langsung, misalnya bising di daerah perang
  2. Gangguan pendengaran karena rusaknya struktur-struktur pada telinga bagian dalam, terutama sel rambut di dalam koklea serta saraf pendengaran. Sel rambut (stereocilia) pada koklea akan kehilangan rigiditas dan bentuknya akan melebar apabila terus menerus terpapar oleh intensitas bunyi yang tinggi.

Gambar2. Gambaran sel rambut yang normal dan sel rambut yang rusak akibat paparan bising

Noise Induced Hearing Loss ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa, melainkan dapat juga terjadi pada anak-anak. Kejadian NIHL pada anak saat ini meningkat seiring dengan berkembangnya industri musik dan hiburan yang tersedia untuk anak-anak dan remaja. Banyak tempat-tempat dan perangkat hiburan yang menghasilkan bunyi yang tinggi.

Gejala-gejala yang dapat diwaspadai antara lain:

  1. Telinga berdenging setelah berada di tempat dengan musik yang bising
  2. Anak perlu mengeraskan volume saat sedang nonton TV untuk mendengar lebih jelas
  3. Anak tidak dapat memahami lawan bicara apabila terdapat bising di sekitar
  4. Anak perlu duduk di dekat guru di kelas untuk dapat mendengar lebih jelas
  5. Anak merasa lawan bicara atau orang di sekitar bicara terlalu cepat atau seperti bergumam

Berikut beberapa contoh intensitas bunyi yang dihasilkan oleh beberapa perangkat serta berapa lama telinga dapat terpapar oleh bunyi tersebut tanpa menggunakan alat pelindung telinga:

Desibel Berapa lama telinga dapat terpapar tanpa alat pelindung Contoh sumber bunyi
130++ Melebihi batas kemampuan telinga Bom, pesawat jet lepas landas
120 Berbahaya ! Klub dansa
115 Kurang dari 1 menit Konser musik, arena olah raga
109 Kurang dari 2 menit Klakson mobil, gergaji listrik
106 3,75 menit Pemutar CD/MP3 portabel (volume tinggi)
100 15 menit Pesta dansa sekolah, mesin pabrik
97 30 menit Mainan berbunyi, motor
94 1 jam Bor elektrik
91 2 jam Suara teriak, blender, traktor, mesin pemotong rumput
85 8 jam Vacuum cleaner
55 aman Suara bicara normal

Nah, sekarang keluarga Kejora sudah tahu ‘kan bahwa bunyi yang berlebihan ternyata tidak aman untuk telinga kita. Untuk menghindari kerusakan telinga akibat bunyi, maka kita perlu menghindari tempat-tempat yang kira-kira menghasilkan bunyi yang mengganggu  atau menggunakan alat pelindung telinga saat mendengar bunyi yang keras.

Sumber:

  1. Harrison, Robert V. “Noise-induced hearing loss in children: A ‘less than silent’ environmental danger.” Paediatrics & child health vol. 13,5 (2008): 377-82. doi:10.1093/pch/13.5.377
  2. Harrison, Robert V. “The prevention of noise induced hearing loss in children.” International journal of pediatrics vol. 2012 (2012): 473541. doi:10.1155/2012/473541

Editor: drg. Rizki Amalia

Cuci Hidung

 

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

 

Halo, Keluarga Sehat Kejora!

Pada artikel sebelumnya mengenai sinusitis sudah disebutkan mengenai cuci hidung sebagai salah satu tatalaksana untuk mengatasi rinosinusitis. Nah, kali ini kita akan membahas mengenai cuci hidung!

Sebenarnya apa sih cuci hidung itu?

Cuci hidung merupakan kegiatan membilas hidung dari kuman, bakteri dan udara kotor dengan menggunakan air garam normal. Pengetahuan mengenai cuci hidung pertama kali ditemukan pada abad 19 dan terus berkembang di seluruh dunia. Pada anak-anak, cuci hidung penting dilakukan untuk mencegah dan mengatasi infeksi saluran napas atas.

Hidung kita merupakan organ paling kotor di tubuh manusia setelah telapak tangan. Setiap hari hidung kita dilewati 10.000 sampai 15.000 liter udara dan setiap liter udara mengandung berjuta-juta partikel. Partikel ini kemudian hinggap di hidung dan dapat memicu peradangan. Cuci hidung dapat dilakukan setidaknya 1 kali sehari.

Cuci hidung memiliki berbagai macam manfaat, di antaranya:

  • Membantu melancarkan sistem pembersihan hidung
  • Mengurangi gejala alergi dan sinusitis
  • Mencegah peradangan dan infeksi pada rongga hidung
  • Membuat hidung lebih segar dan bersih

Manfaat-manfaat di atas dapat tercapai karena adanya beberapa mekanisme yang terjadi saat mencuci hidung, antara lain:

  • Intervensi mekanis dalam membersihkan sumbatan dan mediator-mediator inflamasi di dalam hidung
  • Cuci hidung dapat membantuk sistem pembersihan mukosiliar di dalam hidung sehingga dapat mengurangi jumlah antigen mikroba di dalam hidung
  • Cuci hidung memberikan efek positif terhadap integritas dan fungsi sel epitel karena adanya dampak dari ion-ion tambahan yang berasal dari cairan yang digunakan untuk mencuci hidung

Cuci hidung dapat dilakukan dengan menggunakan alat semprot hidung atau spuit. Volume dan frekuensi cairan yang disemprotkan untuk mencuci hidung dapat bervariasi tergantung usia dan kebutuhan. Ada yang menyemprotkan 2,5 mL sebanyak 3 kali sehari dan ada juga yang menyemprotkan sebanyak 20 mL 2 kali sehari. Salah satu bahan cuci hidung yang paling sederhana adalah menggunakan NaCl 0.9 % dan spuit untuk menyemprotkan cairan ke dalam hidung. Selain dengan menggunakan spuit, cuci hidung dapat dilakukan dengan menggunakan botol semprot berisi larutan garam fisiologis yang saat ini banyak dijual di pasaran.

 

Gambar 1. Spuit

Gambar 2. Alat Semprot Hidung

Gambar 3. NaCl

Cuci hidung dapat menggunakan cairan NaCl 0,9%. Caranya dengan menuangkan cairan NaCl ke wadah bersih, kemudian diambil dengan menggunakan spuit. Semprotkan cairan yang ada di dalam spuit ke dalam hidung dengan posisi lurus sambil memiringkan kepala agar cairan dapat mengalir keluar melalui hidung sisi lainnya serta dilakukan sambil membuka mulut agar cairan tidak tertelan. Setelah itu, sisihkan sisa cairan yang ada di dalam hidung.

Nah, sekarang Keluarga Sehat Kejora sudah tahu ya manfaat cuci hidung! Dengan melakukan cuci hidung, kita tidak hanya dapat mengobati, tetapi juga mencegah terjadinya alergi atau infeksi di hidung, sehingga dapat mengurangi frekuensi penggunaan obat! Selain itu, cuci hidung juga akan membuat hidung bersih dan terasa segar. Jadi, selamat mencoba!

Editor: drg. Rizki Amalia (@rizkiamalia234)

Sumber:

  • European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps 2012
  • Principi N, Esposito S. Nasal irrigation: an imprecisely defined medical procedure. Int J. Environ.Res. Public Health. 2017

Sinusitis

 

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Halo Keluarga Sehat Kejora!

Ayah dan Ibu pasti sering mendengar mengenai sinusitis. Sebenarnya, terdapat 2 istilah sebelumnya yaitu rinitis dan sinusitis. Rinitis artinya peradangan pada rongga hidung, sementara sinusitis merupakan peradangan pada sinus paranasal. Kedua hal tersebut umumnya terjadi bersamaan, sehingga saat ini terminologi yang digunakan adalah rinosinusitis. Artikel kali ini akan membahas mengenai apa yang terjadi sebenarnya pada rongga hidung dan sinus kita saat terjadi rinosinusitis dan apa saja yang harus dilakukan untuk mengatasinya.

Sebelum membahas mengenai rinosinusitis, Ayah dan Ibu Kejora harus tahu terlebih dahulu mengenai sinus paranasal. Sinus paranasal merupakan rongga-rongga yang terbentuk di dalam tulang wajah dan diberi nama sesuai dengan lokasinya, yaitu sinus maksila, sinus frontal, sinus ethmoid anterior, sinus ethmoid posterior, dan sinus sfenoid.

Berdasarkan gejala, European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps 2012 menyatakan bahwa terdapat kriteria gejala yang berbeda antara orang dewasa dan anak-anak. Rinosinusitis pada orang dewasa ditandai dengan adanya dua atau lebih gejala berikut, namun salah satu gejalanya harus berupa hidung tersumbat atau keluar ingus dari hidung atau pun ke belakang tenggorok (anterior/ posterior nasal discharge):

  1. nyeri tekan pada wajah
  2. gangguan penghidu (gangguan penciuman)

Rinosinusitis pada anak-anak ditandai dengan adanya dua atau lebih gejala berikut, namun salah satu gejalanya harus berupa hidung tersumbat atau keluar ingus dari hidung atau pun ke belakang tenggorok (anterior/ posterior nasal discharge):

  1. nyeri tekan pada wajah
  2. batuk

Berdasarkan lama gejalanya, rinosinusitis ini terbagi menjadi akut (< 12 minggu) dan kronis (≥12 minggu). Umumnya rinosinutis disebabkan oleh virus atau pun bakteri. Berdasarkan penyebabnya tersebut, akut rinosinusitis terbagi menjadi 3 macam:

  1. Rinosinusitis akut virus (common cold)
  • Apabila durasi kurang dari 10 hari
  1. Rinosinusitis aku post viral
  • Jika gejala meningkat setelah 5 hari atau gejala tidak membaik setelah 10 hari namun kurang dari 12 minggu
  1. Rinosinusitis bakteri
  • Apabila terdapat setidaknya 3 dari gejala berikut:
  • i. Ingus yang berubah warna (umumnya unilateral) atau sekret purulent dari hidung
  • ii. Nyeri lokal yang berat (umumnya unilateral)
  • iii. Demam (380C)
  • iv. Peningkatan LED/ CRP
  • v. “double sickening” (terdapat gejala yang memberat kembali setelah adanya perbaikan)

Tentunya Ayah dan Ibu ingin tahu apa yang harus dilakukan untuk mengatasi rinosinusitis tersebut. Tatalaksana rinosinusitis akut (kurang dari 5 hari) dapat diberikan obat nyeri (analgesic), irigasi/ cuci hidung dengan cairan fisiologis, serta pemberian dekongestan. Apabila gejala meningkat setelah 5 hari atau gejala tidak membaik setelah 10 hari namun kurang dari 12 minggu dapat ditambahkan dengan steroid topikal. Pemberian antibiotik dapat dipertimbangkan apabila terdapat gejala-gejala yang menandakan adanya infeksi bakteri.

Nah, apabila tidak terdapat perbaikan gejala dalam 2 minggu atau 48 jam setelah pemberian antibiotik, sebaiknya segera konsultasi ke dokter spesialis THT!

Sumber: European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps 2012

Pemeriksaan Penapisan Pendengaran pada Bayi

 

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Hai, Ayah dan Ibu Kejora! Artikel kali ini akan mengupas lebih dalam tentang topik bahasan bulan November lalu, yaitu gangguan pendengaran pada bayi. Kalau pada artikel sebelumnya telah dibahas mengenai gejala dan faktor risikonya, sekarang akan dibahas mengenai pemeriksaan penapisan (screening) pendengaran yang perlu dilakukan pada bayi baru lahir. Ayah dan Ibu tentunya penasaran bukan? Yuk kita simak penjelasan lebih lanjutnya!

Pemeriksaan penapisan pendengaran universal yang dilakukan pada bayi merupakan model 1-3-6, artinya pada setiap bayi baru lahir dilakukan pemeriksaan penapisan pendengaran saat bayi berusia maksimal 1 bulan, lalu dilanjutkan dengan evaluasi diagnostik pada usia 3 bulan. Apabila terdapat gangguan, maka harus sudah dilakukan intervensi sebelum bayi tersebut berusia 6 bulan. Pemeriksaan penapisan pendengaran umumnya dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut OAE (Otoacoustic Emissions) dan AABR (Automated Auditory Brainstem Response). Namun, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum pemeriksaan berlangsung, antara lain: mempersiapkan keadaan bayi agar tenang, memastikan keadaan lingkungan sekitar agar nyaman dan terhindar dari suara bising yang dapat mengganggu pemeriksaan, memeriksa keadaan telinga bayi untuk memastikan tidak adanya cairan atau kotoran yang menutupi, serta memastikan bahwa alat OAE dan AABR yang akan digunakan sudah dikalibrasi secara rutin.

Pertama-tama, akan dibahas mengenai OAE terlebih dahulu ya! OAE (Otoacoustic Emissions)  digunakan untuk menilai integritas koklear dan respon sel rambut luar terhadap stimulus berupa suara. Pemeriksaan dengan OAE dilakukan dengan memasukkan probe ke dalam lubang telinga untuk menghantarkan stimulus suara. Alat tersebut nantinya akan menilai emisi yang dihasilkan oleh sel rambut luar sebagai respon terhadap stimulus suara yang diberikan. Pemeriksaan OAE merupakan pemeriksaan yang dapat dilakukan dengan cepat dan efisien. Namun, perlu diingat pula bahwa efektivitas pemeriksaan ini dapat berkurang apabila terdapat beberapa keadaan yang mengganggu ketika pemeriksaan berlangsung, misalnya bising lingkungan, adanya substansi lemak di sekitar lubang telinga, atau kelainan pada telinga tengah.

Sementara itu, pada kelainan pendengaran yang disebabkan oleh gangguan saraf, pemeriksaan penapisan dengan OAE tidak dapat dilakukan, karena hasilnya menjadi tidak representatif. Pada kondisi tersebut, hasil pemeriksaan OAE tetap akan menunjukkan fungsi koklear yang normal. Oleh karena itu, evaluasi dilakukan dengan menggunakan metode lain, yaitu AABR.

Gambar 1. OAE (Otoacoustic Emissions)

AABR (Automated Auditory Brainstem Response)  merupakan pemeriksaan elektrofisiologis yang digunakan untuk menilai fungsi auditori dari saraf yang bertanggung jawab atas keseimbangan dan pendengaran hingga area auditori di batang otak.  AABR merupakan bentuk sederhana dari ABR (Auditory Brainstem Response). Pemeriksaan AABR dilakukan dengan menggunakan elektroda permukaan dan memberikan stimulus bunyi “klik” melalui earphone serta menunjukkan hasil kualitatif (pass/ failed).

Gambar 2. AABR (Automated Auditory Brainstem Response)

Adapun langkah-langkah penting yang harus diperhatikan setelah dilakukan OAE pada bayi baru lahir, antara lain:

  1. Bila hasil OAE pass dan bayi tanpa faktor risiko, maka dilakukan pemeriksaan AABR pada usia 1-3 bulan:
  • Bila hasilnya pass, maka tidak perlu ditindaklanjuti
  • Bila hasilnya refer, maka perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan
  1. Bila hasil OAE pass dan bayi mempunyai faktor risiko, atau  bila hasil OAE refer:

Pada usia 3 bulan, dilakukan pemeriksaan otoskopi, timpanometri, OAE, AABR

  • Bila hasilnya pass, maka perlu dilakukan pemantauan perkembangan bicara dan audiologi tiap 3-6 bulan sampai usia 3 tahun (sampai anak bisa bicara)
  • Bila hasilnya refer, maka perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan

Jadi, sekarang Ayah dan Ibu Kejora sudah mengetahui pentingnya dilakukan pemeriksaan penapisan pendengaran pada bayi baru lahir bukan? Hal ini tentunya dilakukan untuk menghindarkan si Kecil dari masalah-masalah psikososial, edukasi dan linguistik di kemudian hari.

Editor: drg. Dinda Laras Chitadianti

Sumber:
Chi DH, Sabo DL. Pediatric Audiology and Implantable Hearing Device. In Bailey Bailey BJ, Johson JT, Newlands SD, editors. Head & Neck Surgery Otolaryngology 5th edition,. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2014.p 1507 – 1520.
Newborn Hearing Screening. https://emedicine.medscape.com/article/836646-overview#a6
http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/%E2%80%9Cskrining%E2%80%9D-pada-bayi-baru-lahir-untuk-diketahui-oleh-orangtua

Deteksi Awal Gangguan Pendengaran pada Bayi

 

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Halo, Ayah dan Ibu Kejora! Apakah Ayah dan Ibu pernah mendengar mengenai gangguan pendengaran pada bayi? Gejala awal yang mungkin terlihat adalah tidak adanya respon anak terhadap bunyi-bunyian di sekitar atau adanya gangguan perkembangan bicara ketika anak sudah berusia 2 tahun. Gejala-gejala tersebut seringkali terlambat diketahui, sehingga proses penegakan diagnosis dan tata laksananya pun menjadi terhambat. Oleh karena itu, mari kita pelajari lebih lanjut mengenai deteksi awal gangguan pendengaran pada bayi!

Saat ini, berbagai negara di dunia telah menerapkan pemeriksaan penapisan pendengaran universal secara rutin pada setiap bayi yang baru lahir. Namun, pemeriksaan ini baru dilakukan di beberapa rumah sakit besar dengan fasilitas lengkap di Indonesia. Gangguan pendengaran pada anak merupakan kelainan kongenital yang sulit diidentifikasi, padahal sering terjadi, yaitu sebanyak 2-4 kejadian dari 1.000 bayi yang lahir. Sebelumnya, pemeriksaan penapisan pendengaran hanya dilakukan pada bayi-bayi dengan faktor risiko tinggi. Adapun beberapa faktor risiko menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) yang diidentifikasi dapat mengakibatkan gangguan pendengaran pada bayi baru lahir yaitu:

  • Riwayat keluarga dengan gangguan pendengaran
  • Kelainan bawaan bentuk telinga dan kelainan tulang tengkorak wajah
  • Infeksi janin ketika dalam kandungan (infeksi toksoplasmosis, rubella, sitomegalovirus, dan herpes)
  • Sindrom tertentu, seperti sindrom Down
  • Berat lahir kurang dari 1500 gram
  • Nilai apgar yang rendah
  • Perawatan di NICU
  • Penggunaan obat-obat tertentu yang bersifat toksik terhadap saraf pendengaran

Di samping itu, Joint Committee on Infant Hearing (JCIH) juga mengemukakan beberapa faktor risiko yang diduga mengakibatkan gangguan pendengaran pada anak, yang mana bila terdapat satu atau lebih faktor tersebut, pemeriksaan penapisan pendengaran harus dilakukan. Berikut merupakan faktor-faktor yang dimaksud:

  • Riwayat keluarga dengan gangguan pendengaran
  • Infeksi janin ketika dalam kandungan (infeksi toksoplasmosis, rubella, sitomegalovirus, dan herpes)
  • Kelainan bentuk dan sistem  pada telinga, hidung, dan tenggorok
  • Malformasi telinga dan kelainan celah bibir dan langit-langit (cleft lip palate)
  • Berat badan lahir kurang dari 1500 gram
  • Bilirubin lebih dari 20 mg/100 ml

Pada kenyataannya, 50% bayi yang lahir dengan gangguan pendengaran tidak memiliki faktor risiko yang tersebut di atas, sehingga bila hanya menggunakan kriteria faktor risiko saja, maka akan banyak bayi dengan gangguan pendengaran yang tidak terdiagnosis. Maka dari itu, pemeriksaan penapisan pendengaran universal harus dilakukan pada setiap bayi baru lahir dengan atau tanpa faktor risiko, sehingga identifikasi dan intervensi dini dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya masalah-masalah psikososial, edukasi dan linguistik di kemudian hari.

Selain itu, penting untuk diketahui Ayah dan Ibu Kejora bahwa periode kritis perkembangan pendengaran dan bicara dimulai dalam usia 6 bulan pertama kehidupan dan berlanjut sampai usia 2 tahun. Gangguan pendengaran yang tidak teridentifikasi sebelum usia 6 bulan dapat mengakibatkan terjadinya gangguan perkembangan bicara dan bahasa. Bayi dengan gangguan pendengaran yang diberikan intervensi ketika berusia 6 bulan atau sebelumnya akan berkesempatan lebih untuk memiliki kemampuan bicara dan bahasa yang normal dibandingkan dengan bayi yang baru mendapatkan intervensi setelah berusia 6 bulan.

Setelah mengetahui informasi di atas, Ayah dan Ibu tentunya sekarang sudah memahami pentingnya deteksi awal gangguan pendengaran pada bayi bukan? Untuk mengetahui dengan lebih seksama, nantikan artikel berikutnya ya. Pada artikel tersebut akan dibahas tentang metode deteksi awal gangguan pendengaran secara lengkap.

Sumber:

Chi DH, Sabo DL. Pediatric Audiology and Implantable Hearing Device. In Bailey Bailey BJ, Johson JT, Newlands SD, editors. Head & Neck Surgery Otolaryngology 5th edition,. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2014.p 1507 – 1520.
Newborn Hearing Screening. https://emedicine.medscape.com/article/836646-overview#a6
http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/%E2%80%9Cskrining%E2%80%9D-pada-bayi-baru-lahir-untuk-diketahui-oleh-orangtua