Benarkah Minum Susu Botol dalam Posisi Berbaring dapat Menyebabkan Radang Telinga?

 

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Halo, Ayah Ibu Kejora!

Apakah Ayah dan Ibu tahu bahwa pemberian susu melalui botol dalam posisi berbaring dapat menyebabkan terjadinya peradangan dan terbentuknya cairan pada telinga bagian tengah ? Hal ini disebut otitis media efusi.

Tenggorok memiliki hubungan dengan telinga bagian tengah melalui sebuah saluran yang bernama tuba eustaschius. Letak saluran tuba eustaschius pada anak lebih mendatar sehingga anak-anak lebih berisiko mengalami otitis media efusi. Pemberian susu botol saat berbaring berisiko menyebabkan air susu tersebut mengalir ke dalam saluran tersebut sehingga menimbulkan reaksi radang sehingga terbentuk cairan di dalam telinga tengah.

Penggunaan botol susu konvensional tanpa ventilasi saat ini sudah mulai ditinggalkan karena memberikan efek tekanan negatif pada telinga tengah saat bayi menyedot. Pemilihan jenis botol susu yang digunakan juga mempengaruhi tekanan pada telinga tengah. Berdasarkan penelitian penggunaan botol susu dengan ventilasi akan memberikan tekanan positif pada telinga tengah sehingga risiko terjadinya peradangan pada telinga tengah lebih rendah. Botol susu yang memiliki ventilasi tekanan positif memiliki efek seperti breastfeeding.

Oleh karena itu:

  1. Hindari pemberian susu melalui botol dengan posisi berbaring / sampai anak tertidur
  2. Pemberian susu melalui botol dilakukan pada posisi tegak

  1. Gunakan botol dengan ventilasi

Otitis media efusi merupakan salah satu faktor risiko menyebabkan terjadinya infeksi telinga tengah berulang pada anak. Otitis media efusi juga merupakan salah satu penyebab terbanyak gangguan pendengaran pada anak. Gangguan pendengaran pada anak dapat berakibat pada penurunan performa belajar, gangguan tumbuh kembang, dan gangguan bersosialisasi.

Editor: drg. Rizki Amalia

Referensi:

  1. Di Francesco, R. C., Barros, V. B., & Ramos, R. (2016). Otite média com efusão em crianças menores de um ano [Otitis media with effusion in children younger than 1 year]. Revista paulista de pediatria : orgao oficial da Sociedade de Pediatria de Sao Paulo34(2), 148–153. https://doi.org/10.1016/j.rpped.2015.08.005
  2. Brown, Craig & Magnuson, Bengt. (2000). On the physics of the infant feeding bottle and middle ear sequela: Ear disease in infants can be associated with bottle feeding. International journal of pediatric otorhinolaryngology. 54. 13-20. 10.1016/S0165-5876(00)00330-X.
  3. Susan B. Tully, Yehuda Bar-Haim, Richard L. Bradley. (1995). Abnormal tympanography after supine bottle feeding. The Journal of Pediatrics, Volume 126, Issue 6, Pages S105-S111. (http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S002234769590249X).

SIRKUMSISI DI MASA PANDEMI

 

oleh dr. Nilam Permatasari Bmed.Sc, SpBP-RE

Dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah Ayah dan Ibu Kejora sedang merencanakan jadwal sirkumsisi si buah hati dalam waktu dekat? Jika iya, apakah Ayah dan Ibu Kejora merasa khawatir akan keamanan tindakan tersebut selama masa pandemi Covid-19? Mengingat sirkumsisi merupakan suatu tindakan bedah, Ayah dan Ibu Kejora tentu bertanya-tanya apakah tepat untuk melakukannya di saat pandemi ini. Bahkan mungkin ada yang memutuskan untuk menundanya. Oleh karena itu, mari kita simak penjelasan mengenai sirkumsisi di masa pandemi berikut ini ya, Ayah dan Ibu Kejora!

 

Apa Itu Sirkumsisi?

Sirkumsisi atau yang lebih sering dikenal dengan istilah sunat atau khitan adalah tindakan membuang kulit yang menutupi glans (kepala) penis hingga keseluruhan glans terbuka. Tindakan ini populer dilakukan di berbagai belahan dunia dan dapat dikatakan salah satu tindakan bedah tertua yang pernah ada.

Gambar 1. Gambaran penis sebelum dan sesudah sirkumsisi

Sumber gambar: https://www.babycenter.com

 

Mengapa Sirkumsisi Perlu Dilakukan?

Saat ini, sirkumsisi tidak hanya dilakukan atas dorongan agama atau sosiokultur tertentu. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, tindakan ini semakin umum dilakukan karena indikasi kesehatan. Indikasi kesehatan sirkumsisi dapat berupa usaha pencegahan atau untuk kesembuhan.
Untuk langkah pencegahan, penelitian mendapati bahwa sirkumsisi membuat perawatan kebersihan penis menjadi lebih mudah dan menurunkan risiko terjadinya infeksi saluran kemih, terutama bagi pasien yang diharuskan memakai kateter berkemih dalam waktu yang lama. Selain itu, dapat pula menurunkan risiko penyakit menular seksual di kemudian hari.

Selain itu, terdapat beberapa indikasi kesehatan untuk kesembuhan. Pertama, pada kondisi fimosis di mana kulit penis yang menutupi kepala penis menempel dan tidak dapat dibuka secara manual (dengan bantuan jari), disertai dengan keluhan nyeri berkemih, demam, atau gejala lain, maka tindakan sirkumsisi menjadi penting dilakukan.

Gambar 2. Ballooning karena fimosis akibat urin sulit keluar melalui celah sempit

Kondisi lain yang termasuk dalam emergensi yaitu parafimosis, di mana kulit tidak dapat dikembalikan untuk menutupi kepala penis setelah sebelumnya ditarik untuk membuka glans sehingga menjepit dan mengganggu aliran darah ke glans penis. Selain itu, infeksi penis berulang (balanoposthitis) juga merupakan indikasi sirkumsisi untuk kesembuhan.

Gambar 3. Glans penis menjadi bengkak dan bila tidak ditangani dengan baik dapat terjadi kematian jaringan glans penis

Selain indikasinya, kontraindikasi sirkumsisi juga perlu menjadi perhatian, yaitu kelainan genitalia eksterna seperti hipospadia, epispadia, mikropenis dan lain-lain yang mana kulit penis dibutuhkan untuk rekonstruksi. Kontraindikasi lainnya yaitu pasien tidak dalam keadaan sehat, kelainan pembekuan darah, penis dalam keadaan infeksi dan bayi yang masih prematur.

 

Kapan Waktu Terbaik Sirkumsisi?

Bila didapati tidak ada kontraindikasi, maka sirkumsisi dapat dilakukan sedini mungkin sejak lahir. Adapun keuntungan sirkumsisi saat awal kehidupan adalah penyembuhan luka yang relatif lebih baik, perdarahan yang lebih terkontrol saat tindakan sehingga waktu pengerjaan lebih singkat, anak tidak ada memori takut atas tindakan, dan keuntungan pencegahan kelainan medis didapat sejak dini.

Pada usia Usia 2-6 tahun, anak sedang sangat aktif bereksplorasi dan masih sulit untuk kooperatif sehingga dapat menjadi tantangan baik saat tindakan maupun perawatan setelah sunat. Untuk melancarkan tindakan, teknis bius umum akan memberikan hasil tindakan yang maksimal.

Perhatian lain yaitu pada usia 3-6 tahun di mana anak mengalami fase phallic, ditandai dengan castration anxiety atau kekhawatiran atas sesuatu terjadi pada organ genital. Untuk itu, perlu diberi pemahaman yang baik mengenai makna dan manfaat sirkumsisi pada anak.

 

Tips Sunat Aman di Masa Pandemi

  • Lebih baik memilih fasilitas kesehatan yang memiliki layanan kekhususan (RS ibu anak, fasilitas kesehatan khusus sunat, dll)
  • Memilih dokter yang berpengalaman dalam tindakan dan fasilitas kesehatan yang telah memiliki layanan sirkumsisi.
  • Menerapkan 3M dan mengikuti protokol kesehatan yang diterapkan fasilitas kesehatan, termasuk screening sesuai anjuran.
  • Konsultasi terlebih dahulu untuk membangun kepercayaan anak dengan dokter.
  • Meminimalisasi jumlah pengantar pasien.
  • Bila tidak emergensi, tindakan dilakukan dengan perencanaan dengan pihak fasilitas kesehatan sehingga menghindari waktu tunggu di fasilitas kesehatan telalu lama.

Editor: drg. Rahmatul Hayat

 

Referensi:

  1. U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Background, methods, and synthesis of scientific information used to inform the recommendations for providers counseling male patients and parents regarding male circumcision and the prevention of HIV infection, STIs, and other health outcomes. 2014.
  2. American Academy of Pediatrics Task Force on Circumcision. Male circumcision. Pediatrics. 2012; 130(3):e756–e785. 10.1542/peds.2012-1990.
  3. Frisch M, Earp BD. Circumcision of male infants and children as a public health measure in developed countries: a critical assessment of recent evidence. Glob Public Health. 2016.

Jadwal Imunisasi IDAI 2020

 

 

 

 

 

oleh Dr. dr. Ariani Widodo, SpA(K)

Dokter Spesialis Anak

 

Halo, Keluarga Kejora! Apakah Ayah dan Ibu sudah tahu mengenai rekomendasi terbaru imunisasi anak? Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) secara berkala meninjau ulang jadwal imunisasi untuk anak di Indonesia dengan mempertimbangkan berbagai program imunisasi di Indonesia dan rekomendasi WHO. Jadwal imunisasi rekomendasi IDAI tahun 2020 mempertimbangkan WHO position paper terbaru dan Permenkes No. 12 tahun 2017.

Perubahan-perubahan pada jadwal imunisasi meliputi imunisasi Hepatitis B; Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV); Bacillus Calmette Guerine (BCG); Difteri, Tetanus, Pertusis (DTP); Haemophilus Influenzae B (Hib); Pneumokokus; Rotavirus; Influenza; Campak dan Rubela; Japanese Encephalitis (JE); Varisela; Hepatitis A; Dengue; dan Human Papiloma Virus (HPV).

 

Yuk, kita bahas bersama-sama, Ayah dan Ibu Kejora!

1. Hepatitis B

Pada jadwal imunisasi IDAI tahun 2017, pemberian imunisasi hepatitis B (HB) disarankan untuk dilakukan dalam waktu 12 jam setelah lahir. Sedangkan, di dalam jadwal imunisasi tahun 2020 sebaiknya diberikan segera setelah lahir pada semua bayi sebelum berumur 24 jam.

Namun untuk bayi dengan berat kurang dari 2.000 gram, imunisasi HB ditunda sampai umur bayi 1 bulan atau lebih. Hal ini dikarenakan sebagian besar bayi kurang dari 2.000 gram tidak dapat memberikan respon imun seperti bayi cukup bulan dan berat lahir normal. Namun mulai umur kronologis 1 bulan, bayi baru dapat memberikan respon imun yang baik.

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2020, imunisasi HB selain diberikan pada umur 2, 3 dan 4 bulan, juga diberikan pada umur 18 bulan bersama dengan DTP. Dengan tambahan pada umur 18 bulan diharapkan menghasilkan proteksi lebih tinggi pada umur sekolah dan remaja.

2. Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV)

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 IPV paling sedikit harus diberikan 1 kali saja. Pada jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 IPV minimal diberikan 2 kali sebelum berumur 1 tahun. Pemberian ini diharapkan memberikan perlindungan lebih tinggi terhadap polio serotipe 2. Mengingat cakupan IPV di Indonesia masih sangat rendah, sedangkan OPV tidak mengandung polio serotipe 2 dan cVDPD2 masih ditemukan di beberapa negara, sehingga dianjurkan memberikan IPV minimal 2 kali sebelum berumur 1 tahun.

3. Bacillus Calmette Guerine (BCG)

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017, BCG optimal diberikan umur 2 bulan. Pada jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 sebaiknya diberikan segera setelah lahir atau sesegera mungkin sebelum bayi berumur 1 bulan.

Bila tidak dapat diberikan tepat pada waktu lahir, sebaiknya diberikan segera tidak ditunda sebelum terpapar infeksi. Bila berumur 3 bulan atau lebih vaksin diberikan jika uji tuberkulin negatif, bila uji tuberkulin tidak tersedia BCG dapat diberikan.

4. Difteri, Tetanus, Pertusis (DTP)

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 booster DTP diberikan pada umur 5 tahun, sedangkan di jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 booster diberikan pada umur 5-7 tahun (setara dengan program BIAS kelas 1), umur 10-11 tahun (setara dengan program BIAS kelas 5), dan selanjutnya pada umur 18 tahun. Hal ini mengingat perlindungan terhadap pertusis dengan vaksin aseluler akan menurun sebelum berumur 6 tahun, maka diperlukan booster sebelum berumur 6 tahun.

5. Haemophilus Influenzae B (Hib)

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 booster Hib diberikan pada umur 15-18 bulan, sedangkan di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 diberikan pada umur 18 bulan bersama dengan DTP.

6. Pneumokokus (PCV)

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017, bila vaksin PCV diberikan pada umur 7-12 bulan, maka vaksin diberikan 2 kali dengan interval 2 bulan; dan pada umur lebih dari 1 tahun diberikan 1 kali. Keduanya perlu booster pada umur lebih dari 12 bulan atau minimal 2 bulan setelah dosis terakhir. Pada anak umur di atas 2 tahun PCV diberikan cukup satu kali.

Di jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 jika belum pernah diberikan pada umur 7-12 bulan, PCV diberikan 2 kali dengan jarak minimal 1 bulan dan booster setelah umur 12 bulan dengan jarak minimal 2 bulan dari dosis sebelumnya. Jika belum pernah diberikan pada umur 1-2 tahun, PCV diberikan 2 kali dengan jarak 2 bulan. Jika belum pernah diberikan pada umur 2-5 tahun untuk PCV-10 diberikan 2 kali dengan jarak minimal 2 bulan, sedangkan jika memakai PCV-13 diberikan 1 kali saja.

7. Rotavirus

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 vaksin rotavirus monovalent (RV1) diberikan 2 dosis, dosis pertama diberikan mulai umur 6 minggu, dosis kedua diberikan dengan interval minimal 4 minggu dan diselesaikan paling lambat 24 minggu.

Jika memakai vaksin rotavirus pentavalent (RV5) diberikan dalam 3 dosis, dosis pertama diberikan pada umur 6-12 minggu, dosis kedua interval antar dosis 4-10 minggu, dan dosis ketiga diselesaikan maksimal pada umur 32 minggu.

8. Influenza

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017, imunisasi influenza diberikan pada umur lebih dari 6 bulan, sedangkan dalam jadwal imunisasi tahun 2020 dapat diberikan sejak umur 6 bulan.

9. Campak dan Rubella

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 pada umur 9 bulan diberikan imunisasi campak, sedangkan di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 diberikan tambahan imunisasi rubella (MR). Bila sampai umur 12 bulan belum mendapat vaksin MR, dapat diberikan MMR (mumps tidak boleh diberikan sebelum umur 1 tahun).

10. Japanese Encephalitis (JE)

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 imunisasi JE diberikan mulai umur 12 bulan, sedangkan di dalam jadwal 2020 mulai diberikan pada umur 9 bulan. Imunisasi JE direkomendasikan untuk daerah endemis atau yang akan bepergian ke daerah endemis. Surveilans JE di Indonesia tahun 2016 terdapat 9 provinsi melaporkan kasus JE, yaitu Bali, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Kepulauan Riau.

11. Varisela

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 imunisasi varisela diberikan setelah umur 12 bulan, terbaik pada umur sebelum masuk sekolah dasar. Apabila diberikan pada umur lebih dari 13 tahun perlu 2 dosis dengan interval minimum 4 minggu.

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 imunisasi varisela diberikan mulai umur 12-18 bulan. Pada umur 1 -12 tahun diberikan 2 dosis dengan interval 6 minggu sampai 3 bulan. Pada umur 13 tahun atau lebih diberikan 2 dosis dengan interval 4 sampai 6 minggu.

12. Hepatitis A

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 imunisasi Hepatitis A diberikan mulai umur 2 tahun, diberikan sebanyak 2 kali dengan interval 6-12 bulan. Sedangkan, di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 diberikan mulai umur 1 tahun, dengan dosis kedua diberikan setelah 6 bulan sampai 12 bulan kemudian.

13. Dengue

Pada jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 imunisasi dengue diberikan pada umur 9-16 tahun dengan jadwal 0, 6 dan 12 bulan. Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 ditambahkan prasyarat diberikan pada anak umur 9-16 tahun yang pernah dirawat dengan diagnosis dengue dan konfirmasi dengan deteksi antigen (NS-1 atau PCR ELISA) atau IgM anti dengue. Bila tidak ada konfirmasi tersebut dilakukan pemeriksaan serologi IgG anti dengue untuk membuktikan apakah pernah terinfeksi dengue.

14. Human Papilloma Virus (HPV)

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 imunisasi HPV diberikan pada anak perempuan mulai umur 10 tahun. Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 diberikan umur 9-14 tahun sebanyak 2 kali dengan jarak 6-15 bulan (atau pada program BIAS kelas 5 dan 6). Umur 15 tahun atau lebih diberikan 3 kali dengan jadwal 0, 1 dan 6 bulan (vaksin bivalen) atau jadwal 0, 2 dan 6 bulan (vaksin quadrivalen).

Imunisasi adalah upaya pemberian bahan antigen untuk mendapatkan kekebalan pada tubuh manusia terhadap agen biologis penyebab penyakit. Imunisasi bertujuan agar tubuh dapat melindungi dirinya sendiri. Penting untuk memenuhi jadwal imunisasi agar anak terhindar dari penyakit berbahaya.

Sumber

Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal Imunisasi Anak Umur 0-18 tahun Rekomendasi IDAI tahun 2020. Desember 2020.

Tips Menyiasati Bingung Puting Pada Ibu Menyusui

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo ayah dan ibu Kejora

Setiap ibu menyusui memiliki tantangan masing-masing, salah satu diantara tantangan yang dihadapi adalah kondisi bayi yang menolak menyusu secara langsung setelah pemberian dot atau botol susu. Kondisi yang dikenal dengan bingung puting ini merupakan salah satu penyebab kecemasan pada ibu menyusui sehingga tingkat keberhasilan menyusui menjadi kurang maksimal. Lalu bagaimana menyiasati bingung puting pada bayi?

Pengertian Bingung Puting

Bingung puting adalah perilaku bayi yang kesulitan atau rewel menyusu pada payudara ibu setelah ada pemberian dot atau botol susu, sebelum proses menyusui antara ibu dan bayi terjalin dengan baik. Tidak semua kasus memiliki kesulitan berpindah dari menyusu langsung di payudara ibu dengan atau setelah minum dari botol atau dot. Namun beberapa di antara kasus yang terjadi pada bayi yang mengalami bingung puting memiliki kesulitan untuk kembali menyusu secara langsung pada payudara ibu

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari bingung puting:

  1. Beri waktu yang cukup sampai proses menyusui terjalin dengan baik dan terasa menjadi bagian dari keseharian ibu dan bayi
  2. Gendong bayi, meningkatkan kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayi
  3. Mencari posisi yang nyaman saat ibu menyusui bayi
  4. Beri pujian kepada buah hati anda apabila dapat menunjukkan keinginan untuk menyusu
  5. Kenali tanda-tanda bayi ingin menyusu, yakni menghisap pergelangan tangan atau kepalan jari, mencari sesuatu dengan mulutnya, terbangun dan rewel namun belum menangis.
  6. Apabila bayi perlu mendapat suplementasi ASI, ibu dapat mempertimbangkan alternatif metode pemberian ASI dengan sendok, cangkir, maupun alat suplementer
  7. Hubungi tenaga kesehatan atau konselor menyusui terlatih

Semoga artikel ini dapat meningkatkan semangat keluarga Kejora untuk terus menyusui dan memberikan ASI kepada buah hati anda tercinta.

Editor : drg. Annisa Sabhrina (@asabhrina)

 

Sumber:

https://www.llli.org/breastfeeding-info/nipple-confusion/

Mengajarkan Pendidikan Seksual untuk Anak Balita


 

 

 

 

oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

Hallo Ayah Bunda Kejora!

Pendidikan seksual itu penting sepanjang usia; dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Pendidikan seksual itu tidak hanya diberikan ketika anak mulai remaja, Ayah dan Bunda! Anak usia dini juga bisa mulai diberikan pendidikan seksual, asalkan materi yang disampaikan sesuai dengan tahapan perkembangannya. Sebab, pendidikan seksual bukan sesuatu yang tabu. Yuk, simak cara memberikan pendidikan seksual dan materi pendidikan seksual yang cocok bagi anak usia dini!

 

Kapan Waktu yang Tepat?

Pendidikan seksual itu tidak hanya diberikan ketika anak mulai remaja. Bunda dan Ayah juga bisa mulai memberikan pendidikan seksual pada anak usia dini, asalkan materi yang disampaikan sesuai dengan tahapan perkembangannya.

Pada usia balita (3-4 tahun), anak biasanya mulai mengeksplorasi lingkungan sekitarnya dan mulai belajar tentang lingkungan sosial. Mereka akan mulai memperhatikan dan membandingkan dirinya dengan orang lain/temannya. Usia balita adalah usia yang tepat bagi orangtua untuk memperkenalkan mengenai pendidikan seksual pada si kecil.

 

Mengapa Pendidikan Seksual untuk Anak itu Penting?

  • Mencegah dan menghadapi era teknologi yang semakin maju: Seiring perkembangan teknologi, anak makin mudah mendapatkan akses internet dan informasi dari berbagai sumber, termasuk sosial media. Membahas seks dapat melindungi dan mencegah berbagai efek negatif yang diakibatkan dari perkembangan informasi tersebut.
  • Mendukung perkembangan dan pemahaman anak: Pendidikan seksual yang tepat dapat membantu si kecil melindungi dan menghargai tubuhnya sendiri.
  • Membangun kepercayaan dan kasih sayang: Dengan pendidikan seksual, orangtua dapat menjadi tempat yang aman bagi anak untuk bisa terbuka dan berdiskusi hal yang paling pribadi sekalipun. Sehingga anak tidak mencari informasi sendiri/dari orang lain (yang belum tentu tepat dan aman).
  • Membantu si kecil melindungi dirinya sendiri: Dengan pendidikan seksual, anak akan lebih sadar dengan situasi lingkungannya dan mampu melindungi diri ketika ada orang yang memperlakukan pelecehan seksual, baik secara verbal ataupun tindakan.

 

Tahapan 3P dalam Memberikan Pendidikan Seksual terhadap Anak:

1. Persiapan Materi

Sebelum kita memberikan pendidikan seksual pada pada anak, Ayah dan Bunda harus terlebih dahulu paham tentang materi yang akan diajarkan. Ayah dan Bunda bisa mencari informasi pendidikan dari sumber terpercaya.

2. Pahami Perkembangan Anak

Ayah dan Bunda perlu mengetahui perkembangan kognitif anak di usia balita supaya tahu bagaimana cara menjelaskan tentang seks kepada anak balita. Pada usia balita, anak berada dalam tahapan belajar menggunakan konsep konkret. Berikut tips saat mengenalkan bagian-bagian tubuh, terutama alat vital pada si kecil:

  • Alat peraga/media, seperti boneka/buku bergambar yang sesuai dengan usia anak.
  • Suasana pengajaran harus menyenangkan, bisa dengan mendongeng.
  • Gunakan bahasa yang sederhana, singkat, dan mudah dimengerti.

3. Penjelasan Sebaik Mungkin

Saat si kecil bertanya, Ayah dan Bunda perlu menjelaskan dengan sebaik mungkin. Jika kita tidak tahu jawabannya atau bingung menjelaskannya, Ayah dan Bunda bisa minta waktu pada anak, misalnya: “Wah pertanyaan adik bagus sekali, Mama jelaskan besok ya. Mama cari tahu dulu, biar nanti Mama bisa jelasin ke adik”.

 

Materi Pendidikan Seksual untuk Anak Balita

1. Nama dan Fungsi Bagian Tubuh

2. Perbedaan Jenis Kelamin

Ayah dan Bunda bisa mengajarkan perbedaan laki-laki dan perempuan secara umum. Contoh: laki-laki biasanya bisa berkumis dan berjanggut. Rambut perempuan biasanya lebih panjang dari laki-laki. Kita juga bisa menambahkan jika ada atribut keagamaan yang bisa dijelaskan, misalnya perempuan memakai jilbab, laki-laki memakai peci.

3. Bagian Pribadi

– Berikan pengertian kepada anak mengenai bagian tubuh yang harus dilindungi/bagian pribadi, yaitu: bagian yang tertutup baju (harus selalu tertutup dan tidak boleh disentuh orang lain), yaitu: mulut, dada (pada perempuan namanya payudara), alat kelamin, dan pantat.

– Berikan peraturan siapa saja yang boleh menyentuh dirinya. Contoh:

  • Anak boleh mendapatkan pelukan dari keluarga dan ciuman hanya dari keluarga inti (atau dengan seijin orangtua).
  • Dokter, jika bagian tubuh pribadi terluka/perlu diobati.
  • Orangtua (dengan seijin dari anak): jika ingin membantu mereka mengenakan pakaian/membersihkan tubuh.

4. Cara Menjaga Tubuh

Ajarkan anak:

  • Tidak boleh membuka/menunjukkan bagian tubuh pribadinya kepada orang lain (pengecualian: dokter karena bagian tubuh pribadi terluka/perlu diobati dan orangtua atau pengasuh dengan seijin dari anak jika ingin membantu mereka mengenakan pakaian/membersihkan tubuh).
  • Tidak boleh melihat bagian tubuh orang lain.
  • Melindungi tubuhnya dengan memakai baju, baik di rumah maupun di luar rumah.

5. Ajarkan 3 Tahap jika Anak Mengalami Pelecehan Seksual (Verbal maupun Perilaku):

  • Say No (Katakan TIDAK!): ajarkan anak untuk berani menolak pelecehan seksual dengan suara yang lantang dan tegas.
  • GO (Pergi): pergi ke tempat yang lebih aman/lebih ramai orang.
  • Tell (Beritahu): ajarkan anak menceritakan secara terbuka pada orangtua/orang dewasa yang dipercaya anak.

6. Tumbuhkan Rasa Percaya Anak pada Ayah dan Bunda

Ajarkan si kecil untuk tidak menyembunyikan apapun dari Ayah dan Bunda apabila ia ingin bertanya mengenai pendidikan seksual maupun saat mengalami pelecehan seksual; meskipun anak mendapatkan ancaman dari si pelaku.

 

Memberikan pendidikan seksual pada si kecil memang tidak mudah, Ayah dan Bunda. Namun percayalah, dengan metode yang tepat, konsistensi, kesabaran, dan interaksi yang positif, kita bisa memberikan edukasi yang tepat baginya. Sehat selalu ya Ayah dan Bunda.

Editor : drg. Sita Rose Nandiasa, M.Si

 

 

Bolehkah Ibu Hamil Mengonsumsi Pemanis Buatan?

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Hai Ayah dan Ibu Kejora!

Untuk mencegah kegemukan serta kejadian penyakit diabetes mellitus, maka pemanis buatan (artificial sweetener) sebagai pengganti gula tentunya semakin banyak digunakan termasuk oleh ibu hamil. Namun, apakah benar ini aman digunakan dalam kehamilan? Mari kita simak ulasan berikut ya.

Artificial sweetener merupakan pengganti gula sintetis, meskipun beberapa sweetener ini dibuat dari bahan-bahan alami, seperti stevia yang berasal dari tanaman dengan spesies Stevia rebaudiana ataupun sukralosa yang berasal dari gula.

Secara garis besar ada 2 jenis sweetener, yaitu nutritive sweetener (mengandung kalori) dan non-nutritive sweetener (tanpa kalori). Nutritive sweetener (termasuk gula pasir) disebut “empty calorie’ yang artinya mengandung kalori, tapi mengandung sangat sedikit vitamin dan mineral. Apabila dikonsumsi tanpa berlebihan, maka nutritive sweetener aman saja untuk digunakan. Akan tetapi, pada ibu hamil yang mengalami diabetes dalam kehamilan (diabetes gestasional), memiliki riwayat diabetes mellitus ataupun resistensi insulin sebelumnya, maka penggunaannya harus dibatasi. Nutritive sweetener termasuk berbagai macam gula seperti gula pasir, dekstrosa, madu, corn sugar, fruktosa dan maltosa. Selain itu, nutritive sweetener termasuk gula alkohol seperti sorbitol, xylitol, manitol, dan hydrogenated starch.

Non-nutritive sweetener tidak mengandung kalori, tapi memiliki rasa manis yang sangat kuat dibandingkan dengan gula pasir sehingga biasanya hanya ditambahkan sangat sedikit dalam makanan atau minuman. Berikut adalah sweetener yang dianggap aman oleh Food and Drug Association (FDA) untuk ibu hamil, yaitu stevia, acesulfam, aspartam, dan sukralosa. Aman di sini maksudnya adalah tidak menimbulkan risiko toksisitas, kelahiran prematur, ataupun masalah pada janin. Sedangkan sweetener yang dianggap TIDAK aman oleh FDA adalah sakarin dan siklamat. Meskipun sweetener tadi dianggap aman oleh FDA, namun penggunannya pun tidak boleh berlebihan, ya Ayah dan Ibu Kejora! Yang terbaik adalah tetap mengonsumsi air putih untuk mencukupi kebutuhan cairan ibu hamil

Editor: drg Rizki Amalia

 

Sumber:

Artificial sweetener and pregnancy. www.americanpregnancy.org

Sugar substitutes during pregnancy. Canadian Family Physician. 2014

Additional information about high intensity sweeteners permitted for use in food in the United States. FDA.

Penyakit Jantung pada Wanita

oleh dr. Adelin Dhivi Kemalasari, BMedSci, SpJP, FIHA

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

 

Keluarga Kejora, tahukah kalian? Pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia di tahun 1959, Presiden Soekarno meresmikan 22 Desember sebagai Hari Ibu secara nasional. Dalam rangka mengapresiasi setiap wanita yang berjasa di hidup kita, kali ini mari kita mengenal lebih jauh penyakit jantung pada wanita. 1 dari 3 kematian pada wanita disebabkan oleh penyakit jantung dan stroke. Angka kematian yang disebabkan kedua penyakit tersebut setiap tahunnya lebih tinggi dari penyebab kematian gabungan karena semua jenis kanker. Tantangan lain yang dihadapi yaitu gejala penyakit jantung pada wanita yang seringkali terabaikan. Berbeda dengan laki-laki, beberapa tanda dan gejala tampak samar dan tidak khas sehingga sering diartikan sebagai gejala penyakit lain yang tak berbahaya. Beberapa gejala serangan jantung pada wanita seringkali bukan rasa nyeri dada yang khas, melainkan rasa tidak nyaman pada perut, punggung, nafas tersengal – sengal, nyeri pada lengan, mual, muntah, berkeringat, pusing, kelelahan, pingsan, atau gangguan pencernaan.

Keluarga Kejora mungkin sudah sering mendengar faktor risiko tradisional yang akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner baik pada pria maupun wanita, antara lain diabetes mellitus, tekanan darah tinggi, merokok, kolesterol tinggi, obesitas maupun overweight. Pria juga lebih berisiko terkena penyakit jantung koroner dibandingkan wanita. Namun tahukah Anda bahwa risiko penyakit jantung koroner menjadi sama besarnya antara pria dan wanita ketika wanita telah mengalami menopause? Hal ini disebabkan oleh peran estrogen yang memiliki beberapa efek kardioprotektif, seperti meningkatkan high density lipoprotein (HDL) yang merupakan “kolesterol baik”, dan menurunkan low density lipoprotein (LDL) atau “kolesterol jahat”. Dengan menurunnya kadar estrogen yang terjadi pada saat mulai menopause, maka risiko untuk terjadi kerusakan dinding pembuluh darah dan penyakit kardiovaskular pun akan meningkat.

Apakah pada wanita yang belum menopause dan tidak memiliki faktor risiko tradisional sudah pasti aman dari penyakit jantung? Beberapa kondisi ternyata menunjukkan meningkatnya risiko kejadian kardiovaskular khususnya pada wanita.

Faktor Risiko Non Tradisional pada Wanita

  • Persalinan prematur

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa persalinan prematur merupakan faktor risiko independen untuk penyakit kardiovaskular dalam jangka panjang. Risiko penyakit kardiovaskular meningkat terutama pada wanita dengan riwayat persalinan prematur dini (<34 minggu). Penyebab dan mekanisme yang mendasari meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular pada populasi ini belum diketahui secara pasti. Mekanisme utama yang dipikirkan yaitu peradangan, infeksi, dan penyakit pembuluh darah.

  • Gangguan kehamilan hipertensi

Gangguan pada kelompok ini meliputi hipertensi yang terjadi sebelum kehamilan maupun hipertensi yang hanya terjadi saat kehamilan dan preeklampsia. Sebuah penelitian besar menunjukkan wanita yang memiliki riwayat preeklampsia berisiko 3.7 kali lipat lebih tinggi menderita hipertensi hingga 14 tahun setelah persalinan, 2.16 kali lipat lebih tinggi mengalami penyakit jantung koroner, dan 1.81 kali lipat lebih tinggi risiko terjadi stroke dibandingkan wanita tanpa riwayat preeklampsia.

  • Diabetes gestasional

Diabetes gestasional didefinisikan sebagai diabetes mellitus (DM) yang baru didiagnosis setelah trimester pertama kehamilan, dan hanya berlangsung hingga proses melahirkan. Penelitian menunjukkan wanita dengan diabetes gestasional berisiko hingga 7 kali lipat tetap mengalami DM yang menetap di kemudian hari, yang merupakan faktor risiko utama untuk penyakit kardiovaskular lainnya. Risiko stroke juga meningkat 2 kali lipat dan risiko penyakit jantung meningkat 4 kali lipat pada wanita dengan riwayat diabetes gestasional walaupun gula darah mereka kembali normal paska melahirkan.

  • Penyakit autoimun

Pada penyakit autoimun, respon imun berlebih yang terjadi menyebabkan kerusakan jaringan yang dapat terjadi secara sistemik atau memengaruhi sistem organ tertentu pada tubuh penderita. Disfungsi yang terjadi pada pembuluh darah memiliki peran penting dalam perkembangan penyakit kardiovaskular pada penderita autoimun. Pasien dengan rheumatoid arthritis (RA) berisiko 2-3 kali lipat lebih tinggi mengalami serangan jantung dan risiko stroke 50% lebih tinggi. Pada penderita systemic lupus erythematosus (SLE), risiko penyakit jantung koroner meningkat antara 9 hingga 50 kali lipat dibandingkan populasi umum.

  • Polycystic ovary syndrome (PCOS)

Wanita dengan PCOS memiliki risiko 19% lebih tinggi untuk menderita penyakit kardiovaskular dibandingkan wanita tanpa PCOS. Hal ini mungkin disebabkan karena wanita dengan PCOS cenderung mengalami kelebihan berat badan, tekanan darah yang tinggi, dan gangguan metabolisme glukosa hingga diabetes.

  • Radioterapi dan/atau kemoterapi pada kanker payudara

Radioterapi pada kanker payudara (terutama pada payudara sebelah kiri) seringkali melibatkan paparan radiasi pengion terhadap organ jantung, yang mempercepat proses penyakit jantung iskemik di kemudian hari. Radioterapi dan beberapa jenis obat kemoterapi juga dapat bermanifestasi menjadi penyakit jantung katup dan kardiomiopati (kelemahan otot jantung).

  • Kenaikan berat badan yang menetap setelah kehamilan

Berat badan satu tahun pascapersalinan merupakan prediktor kuat untuk kemungkinan kelebihan berat badan 15 tahun kemudian.  Penelitian menunjukkan pada wanita yang tidak menurunkan berat badan antara 3 sampai 12 bulan setelah melahirkan memiliki profil kardiometabolik yang kurang baik, seperti kadar kolesterol dan resistensi insulin yang berpengaruh dalam progresivitas penyakit jantung.

  • Gangguan stress dan depresi

Depresi pada wanita merupakan faktor risiko yang signifikan untuk penyakit jantung dan stroke, dan wanita yang sudah memiliki penyakit jantung lebih cenderung mengalami depresi dibandingkan pria.

Penerapan pola hidup sehat masih dan akan selalu menjadi kunci dalam mencegah dan memperlambat proses penyakit kardiovaskular. Jaga berat badan ideal, atur pola makan gizi berimbang, berolahraga secara teratur, serta tidak merokok merupakan langkah – langkah yang harus dilakukan setiap anggota keluarga di segala usia, baik pria maupun wanita. Lalu bagaimana jika Anda termasuk wanita dengan faktor risiko yang tinggi? Konsultasi dengan dokter mengenai risiko Anda, beberapa kondisi pasien memerlukan pemantauan dan pengobatan lebih dini dan lebih ketat dengan tujuan memperlambat proses inflamasi / peradangan yang terjadi pada tubuh Anda. Skrining jantung dan kesehatan lengkap secara berkala akan sangat bermanfaat untuk deteksi lebih dini.

Editor: drg. Valeria Widita

Referensi:
1. Cardiovascular Disease in Women: Clinical Perspectives. Diunduh dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4834856/
2. The protective role of estrogen and estrogen receptors in cardiovascular disease and the controversial use of estrogen therapy. Diunduh dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5655818/https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5655818/
3. Young women with polycystic ovary syndrome have raised risk of heart disease. Diunduh dari: https://www.escardio.org/The-ESC/Press-Office/Press-releases/Young-women-with-polycystic-ovary-syndrome-have-raised-risk-of-heart-disease

Trauma Kimia pada Mata

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

Halo keluarga Kejora… apa kabar nya? Kembali lagi ke topik Mata yaa…. Kali ini saya akan membahas perihal salah satu kegawatdaruratan pada mata yaitu trauma kimia pada mata. Meskipun insidensnya di dunia hanya sekitar 7-9.9%, namun trauma kimia ini membutuhkan pertolongan pertama yang cepat dan adekuat untuk mencegah risiko terjadinya kebutaan pada mata. Trauma kimia ini bisa terjadi di mana saja seperti di rumah, kantor, sekolah dan di kawasan industri walaupun pada banyak kepustakaan menyebutkan insidens di pabrik industri lebih tinggi dibandingkan di rumah, kantor maupun sekolah tapi harus tetap waspada ya ayah dan ibu Kejora apalagi bila masih punya bayi atau anak yang sedang suka menjelajah barang-barang di sekitar rumah atau kaum lanjut usia yang matanya sudah mengalami penurunan penglihatan. Yuk sekarang mari kita bahas tentang apa saja jenis-jenis trauma kimia, bagaimana tanda dan gejalanya serta apa pertolongan pertama yang harus segera dilakukan apabila terkena trauma kimia.

Apa itu TRAUMA KIMIA MATA?

Trauma kimia mata merupakan trauma (sengaja ataupun tidak disengaja) yang mengenai bola mata akibat paparan cairan kimia yang dapat mengakibatkan kerusakan struktur bola mata. Trauma kimia terbagi menjadi dua yaitu, trauma kimia asam (pH < 7) dan trauma kimia basa (pH > 7). Trauma kimia pada mata ini dapat merusak pada permukaan bola mata saja ataupun bisa sampai masuk ke dalam struktur lebih dalam. Tingkat keparahannya pada mata tergantung dari (1) jenis cairan kimia (asam atau basa), (2) jumlah cairan kimia yang terpapar, (3) durasi/berapa lama cairan kimia tersebut terpapar pada bola mata, dan (4) pH dari cairan kimia tersebut.

Bagaimana epidemiologi dari trauma kimia?

Beberapa kepustakaan melaporkan trauma kimia mata memiliki insidens sekitar 7-9.9% dari seluruh trauma pada mata. Trauma kimia basa ditemukan lebih banyak daripada trauma kimia asam. Sebagian besar trauma kimia terjadi pada kelompok usia dewasa muda antara 20-40 tahun dan laki-laki lebih banyak ditemukan dibandingkan perempuan. Rumah (kejadian trauma kimia mata sebesar 37%), pabrik-pabrik industri (kejadian trauma kimia mata sebesar 61%) dan area medan perang merupakan tempat-tempat yang memiliki risiko untuk terjadinya trauma kimia pada mata.

Apa saja jenis-jenis cairan kimia yang dapat mengakibatkan trauma kimia pada mata ?

Trauma kimia terbagi menjadi dua yaitu trauma kimia asam ( pH<7) dan trauma kimia basa ( ph>7).

Trauma kimia asam antara lain :

  1. Asam sulfat (H2SO4) : baterai mobil, pembuatan pupuk, pembuatan alumunium sulfat, dan banyak digunakan untuk menghilangkan karat pada industri otomotif
  2. Asam sulfit (H2SO3) : zat pemutih pakaian (bleaching)
  3. Asam flourida (HF) : zat pemoles kaca, semprotan aerosol, produksi silicon, dan zat untuk menghilangkan noda
  4. Asam asetat (CH3COOH) : asam cuka untuk konsumsi rumah tangga, pengawet makanan, digunakan pada industri tekstil, dan untuk pestisida, serta untuk pelarut tinta dan cat
  5. Asam klorida (HCl) : pembersih kerak rumah tangga (toilet & noda keramik kamar mandi), pengawetan baja, penghilang kerak / karat besi, pengolahan limbah dan air kolam renang, serta digunakan dalam pengawet makanan

Trauma kimia basa antara lain :

  1. Ammonia (NH3) : bahan pembersih alat perkakas rumah tangga, bahan dasar pembuatan bahan peledak, kertas, plastik, detergen, bahan pembuatan baterai, zat pendingin dan bahan bakar roket
  2. Kalium hidroksida (KOH) : bahan pembuatan sabun kalium, suplemen makanan ternak, bahan pembuatan garam kalium
  3. Natrium hidroksida (NaOH) : drain cleaner, bahan produksi sabun, deterjen, air minum, kertas dan tekstil
  4. Magnesium hidroksida (Mg(OH)2 ) : flame retardant, penetralisir asam lambung, pencahar, deodorant, dan senyawa yang digunakan dalam pasata gigi
  5. Kalsium hidroksida (Ca(OH)2 ) : bahan pengolahan limbah dan air tawar, untuk pestisida

Manakah yang lebih berat terkena trauma kimia asam atau basa pada mata ?

Pada saat terjadi trauma kimia asam, cairan asam akan berikatan dengan protein. Ikatan ini akan menyebabkan koagulasi protein. Proses koagulasi ini membentuk penahan/barrier untuk mencegah masuknya cairan asam tersebut ke organ mata lebih dalam sehingga pada trauma kimia asam efek yang terjadi hanya pada permukaan luar saja dan tidak seberat cairan basa kecuali pada asam flourida (HF) yang tetap bisa menembus masuk ke dalam mata.

Sementara cairan basa bersifat lipofilik dan proses penetrasi cairan basa sangat cepat masuk ke organ dalam bola mata dan membentuk kerusakan yang lebih berat melalui reaksi saponifikasi. Efek yang terjadi adalah dapat terjadi kekeruhan pada mata, peningkatan tekanan bola mata akut, peradangan berat, pembentukan jaringan parut yang mengakibatkan terjadinya risiko kebutaan yang permanen apabila tidak dilakukan tatalaksana segera.

Bagaimana tanda dan gejala dari trauma kimia pada mata ?

Tanda dan gejala yang dapat terjadi akibat trauma kimia antara lain:

  1. Mata terasa sakit, nyeri dan rasa terbakar
  2. Mata merah
  3. Mata berair
  4. Kelopak bengkak
  5. Pandangan buram
  6. Silau saat melihat cahaya (fotofobia)
  7. Sulit untuk membuka mata (Blefarospasme)

Trauma kimia pada mata memiliki 4 derajat yang berhubungan dengan tatalaksana yang diberikan dan prognosis ke depannya.

  • Derajat 1 : kerusakan minimal (kerusakan pada lapisan epitel kornea) , prognosis : sangat baik
  • Derajat 2 : Bagian kornea mengalami kekeruhan sebagian , prognosis : baik
  • Derajat 3 : Kerusakan epitel total, kekeruhan kornea yang lebih luas, bagian coklat mata/iris tidak terlalu jelas, prognosis : tidak pasti (guarded prognosis)
  • Derajat 4 : Kekeruhan kornea total, bagian coklat mata + pupil mata tidak dapat terlihat , prognosis : buruk

Bagaimana tatalaksana dari trauma kimia asam dan basa ?

  1. Bersihkan/siram (IRIGASI) mata dengan air bersih steril yang ada di sekitar kita selama kurang lebih 20-30 menit dengan tujuan membersihkan cairan kimia yang kontak dengan mata kita semaksimal mungkin.
  2. Apabila di rumah memiliki obat tetes antibiotik atau air mata buatan dapat diberikan selama perjalanan ke Instalasai Gawat Darurat (IGD)/dokter SpM
  3. HINDARI memberikan cairan lain selain air steril, tetes mata antibiotik dan tetes air mata buatan
  4. SEGERA bawa ke IGD Rumah sakit / dokter Spesialis Mata karena pada trauma kimia, waktu paparan merupakan hal yang sangat PENTING dan berhubungan erat dengan derajat keparahan, tatalaksana dan prognosisnya. Semakin lama/ditunda, kemungkinan risiko kerusakan pada mata akan semakin besar
  5. Dokter SpM akan melakukan
    1. Irigasi ulang dengan cairan steril yang memiliki osmolaritas tinggi atau larutan garam isotonik (normal saline, ringer lactate solution, Balance Salt Solution) ke seluruh permukaan bola mata selama kurang lebih 30 menit hingga didapatkan pH ideal yaitu sekitar 7 dan sebelumnya akan diberikan anti nyeri terlebih dahulu
    2. Pemeriksaan bola mata menyeluruh
    3. Pasien akan dianjurkan untuk dirawat apabila terkena trauma asam pada kedua mata atau trauma basa pada salah satu mata (sesuai dengan penjelesan di atas trauma kimia basa lebih parah dibandingkan trauma asam) = hal ini akan disesuaikan dengan derajat keparahan trauma kimia
    4. Antibiotik tetes
    5. Anti radang/nyeri tetes
    6. Sikloplegik tetes
    7. Vitamin C oral
    8. Tatalaksana lain / tindakan operasi disesuaikan dengan derajat trauma kimia (biasanya pada trauma kimia derajat 3 dan 4 membutuhkan tatalaksana khusus)

*Trauma kimia memiliki 3 fase penyembuhan (fase akut (0-7 hari paska trauma), fase pemulihan dini (7-21 hari paska trauma) dan fase pemulihan akhir (>21 hari)) sehingga pada trauma kimia derajat 1 dan 2 diharapkan untuk tetap kontrol 1 minggu paska trauma untuk dilihat perkembangannya meskipun tidak ada keluhan, sementara pada trauma kimia derajat 3 dan 4 waktu kontrol disesuaikan dengan tingkat keparahan mata.

Apa saja KOMPLIKASI dari trauma kimia ?

  • Menempelnya bagian kelopak mata dengan selaput bening mata àistilah : simblefaron
  • Lapisan bening mata/kornea menjadi rusak
  • Katarak akibat trauma
  • Kebutaan permanen pada mata yang lama kelamaan mata kita akan menjadi kecil dari ukuran normal

Bagaimana saran-saran agar tidak terjadi trauma kimia ??

  1. DILARANG / TIDAK BOLEH meletakkan cairan kimia rumah tangga (pembersih kamar mandi, pemutih pakaian ataupun cairan baterai mobil) yang mudah dijangkau oleh anak-anak
  2. Gunakan kacamata pelindung ataupun sarung tangan setiap menggunakan cairan kimia berbahaya
  3. Pelajari dengan baik tentang sifat-sifat dari senyawa kimia yang akan kita gunakan sebelum menggunakan cairan kimia tertentu agar dapat mengantisipasi segala kemungkinan yang dapat membahayakan diri kita
  4. Apabila secara tidak sengaja terkena cairan kimia àIRIGASI SEGERA!!! /siram mata kita dengan cairan bersih apapun yang ada di sekitar kita untuk menghilangkan cairan kimia secepat mungkin guna mencegah efek cairan kimia pada mata

Referensi :

  1. Sing P, Tyagi M, Kumar Y, Gupta K, Sharma P. Ocular Chemical Injuries and their management. Oman J Ophthalmol. 2013;6(2):83-6
  2. Adepoju FG, Adeboye A, Adigun IA. Chemical Eye Injuries : Presentation and Management difficulties. Annals of African Med. 2007;6(1):7-11
  3. Mishra BP, Mahapatra A, Kumar S, Naik C, Dany SS. Incidence and management of Chemical Injuries of eye. Journal of Medical Science and Clincial research. 2019; 7(6):807-12
  4. Trudo EW, Rimm W. Management of chemical injuries of the eye. Indian J Ophthalmol. 2014; 6:115-35
  5. Pfister RR. Chemical injuries of the eye. Ophthalmology. 1983; 90(10): 1246-53

Kupas Tuntas Perkembangan Anak Berusia Kurang dari 1 Tahun

 

 

 

 

oleh dr. Ellen Wijaya, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Keluarga Sehat Kejora!
Pandemi COVID-19 yang sudah berlangsung hampir 9 bulan membuat kita lebih sering berada di rumah dan tentunya meningkatkan durasi interaksi bersama Sang Buah Hati. Kesempatan tersebut sebaiknya dimanfaatkan untuk stimulasi perkembangan anak dan mendeteksi secara dini, jika terjadi gangguan perkembangan. Pada diskusi kali ini, Kejora akan membahas perkembangan anak yang berusia di bawah 1 tahun.


Apa yang dimaksud dengan perkembangan anak?
Selain tubuh yang bertambah tinggi dan besar, perubahan yang dapat dinilai seiring bertambahnya usia anak adalah perubahan kemampuan. Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan struktur dan fungsi tubuh menjadi  lebih kompleks yang merupakan hasil kematangan dari hubungan berbagai sistem tubuh. Secara garis besar, perkembangan anak meliputi 4 ranah, yaitu gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian.


Bagaimana perkembangan anak di bawah 1 tahun?
Ayah dan Bunda dapat memperhatikan kemajuan kemampuan anak di bawah usia 1 tahun secara signifikan. Pada ranah gerak/motorik kasar terlihat kemampuan bayi tengkurap, duduk dan mulai belajar berdiri. Perkembangan gerak/motorik halus dapat terlihat dari kemampuan mata bayi mengikuti gerak benda, kemampuan memegang dan menggenggam serta menjimpit. Perkembangan bicara dan bahasa bisa tampak sejak awal, yaitu bayi hanya mengoceh tanpa arti, kemudian mulai mengucap satu kata, serta akhirnya mulai beberapa suku kata. Bayi awalnya mudah tersenyum ketika sedang tidur nyenyak pada usia di bawah 2 bulan, dengan bertambahnya usia maka bayi mulai dapat mengenali orang di sekitarnya dan memberikan senyum sosial sebagai respons kegembiran atau sebaliknya menangis ketika mengetahui kondisi lingkungan yang berbeda dari biasanya.

 

Apakah perkembangan tiap anak selalu sama?
Perkembangan setiap anak memiliki keunikan tersendiri dan kecepatan pencapaian perkembangan pun bisa berbeda. Jadi tidak perlu kuatir jika Sang Buah Hati baru bisa duduk tanpa pegangan di usia 6 bulan, sedangkan sepupunya sudah bisa melakukan hal serupa sejak usia 5 bulan. Meskipun demikian, tiap orang tua tentu perlu mengenali tanda bahaya adanya gangguan perkembangan.


Bagaimana mengenali adanya gangguan perkembangan?
Bayi dengan dan tanpa faktor risiko tetap memerlukan pemantauan perkembangan yang dianjurkan tiap bulan sampai dengan usia 1 tahun. Contoh bayi risiko tinggi  adalah bayi yang  mempunyai riwayat  lahir kurang bulan, berat lahir rendah, bayi baru lahir yang  mengalami infeksi, sesak napas, atau riwayat kejang dan sebagainya.

Semakin terlambat deteksi adanya gangguan perkembangan, maka makin sulit penanganannya. Tersedia kuesioner praskrining perkembangan (KPSP) yang berisi 9-10 pertanyaan tentang kemampuan perkembangan yang telah dicapai anak sesuai kelompok usianya. Kuesioner ini mudah dipahami orang tua dan dapat diakses melalui ponsel dengan aplikasi Primaku dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jika ada kecurigaan keterlambatan perkembangan anak, maka segera ajak anak untuk periksa ke dokter.

Selain menggunakan kuesioner, orang tua perlu mengenal tanda bahaya (red flags) perkembangan anak yang sederhana. Tanda bahaya gerak kasar, diantaranya adalah adanya gerakan yang asimetris atau tidak seimbang misalnya antara anggota tubuh bagian kiri dan kanan, gerakan yang tidak terkontrol , menetapnya refleks primitif (refleks yang muncul saat bayi) hingga lebih dari usia 6 bulan. Contoh tanda bahaya gerak halus, diantaranya bayi masih menggenggam setelah usia 4 bulan, dominasi satu tangan sebelum usia 1 tahun. Tanda bahaya pada ranah bahasa, seperti respons yang tidak konsisten terhadap suara atau bunyi serta tanda bahaya adanya gangguan di ranah sosialisasi diantaranya jarang tersenyum atau ekspresi kesenangan lain pada usia 6 bulan, kurang bersuara dan menunjukkan ekspresi wajah pada usia 9 bulan, bahkan tidak merespon panggilan namanya saat usia 1 tahun.

Seorang anak dapat mengalami keterlambatan perkembangan hanya satu ranah saja, atau bahkan keterlambatan perkembangan yang bermakna pada dua atau lebih ranah yang dikenal dengan keterlambatan perkembangan umum atau global developmental delay.


Bagaimana mencegah terjadinya gangguan perkembangan?
Kebutuhan dasar anak berupa asuh, asih, dan asah harus dipenuhi untuk mencegah terjadinya gangguan perkembangan. Asuh adalah kebutuhan fisik-biomedis meliputi pemberian ASI eksklusif, dilanjutkan makanan pendamping ASI dengan pola gizi yang sesuai, kelengkapan imunisasi,  pengobatan bila anak sakit, kebersihan individu dan lingkungan yang baik dan sebagainya. Asih meliputi kebutuhan emosi dan kasih sayang, sedangkan asah merupakan kebutuhan stimulasi yang merupakan cikal bakal untuk proses belajar anak.

Stimulasi yang dilakukan juga terkait dengan usia anak, misalnya pada usia kurang dari 6 bulan maka bermain bersama Sang Buah Hati menggunakan mainan dengan warna mencolok atau mainan yang memiliki bunyi sangat menarik karena pada usia tersebut fungsi penglihatan dan pendengaran bayi mulai berkembang.

Bayi di atas 6 bulan sampai dengan 1 tahun mulai senang bergerak seperti rolling, duduk, merangkak, dan berdiri karena kemampuan gerak/motor kasarnya lebih berkembang. Oleh karena itu aneka permainan yang diberikan sebagai stimulasi pun juga lebih bervariasi. Kita dapat berikan bola, mainan kubus, boneka dan sebagainya. Makin banyak stimulasi yang dilakukan bersama orang tua tentu perkembangan anak akan menjadi makin optimal.
Mari bersama, kita kenali perkembangan Sang Buah Hati dan selalu semangat dalam memberikan stimulai yang kreatif dan inovatif, meskipun #dirumahaja supaya anak dapat menjadi generasi penerus bangsal yang unggul.

 

Referensi
Sekartini R, medise BE. Cerdas memilih mainan anak dan remaja. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2015.

Hageman RJ. Brain growth. Dalam: Hay WW, Groothuis JR, Hayward AR, Levin MJ, penyunting. Current pediatric diagnosis and treatment. Denver: Prentice-Hall; 1995. h. 69.

Feldman HM. Language disorders. Dalam: Berman S, penyunting. Pediatric Decision Making. Edisi ke-4. Philadelphia: Mosby, 2003.h.94-7.

Pit and Fissure Sealant

 

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora! Semoga sehat selalu ya..
Apakah sudah pernah mendengar istilah pit and fissure sealant sebelumnya?
Atau malah masih asing dengan istilah tersebut? Pit and fissure sealant itu dapat melindungi gigi dari proses gigi berlubang loh Ayah dan Ibu. Yuk kita bahas lebih lanjut..

 

Apakah sealant itu dan bagaimana cara kerjanya?

Sealant adalah salah satu cara yang aman dan tanpa rasa sakit yang dilakukan untuk melindungi gigi Anda maupun si kecil dari proses gigi berlubang. Sealant merupakan lapisan pelindung yang diaplikasikan pada permukaan kunyah gigi-gigi geraham yang memiliki ceruk-ceruk yang sempit dan dalam (pit dan fissure). Kondisi gigi dengan pit dan fissure yang dalam sangat berpotensi menjadi tempat menumpuknya sisa makanan. Jika tidak dibersihkan, maka akan berubah menjadi pusat berkembangnya bakteri, yang lama kelamaan bisa menyebabkan karies. Dengan kata lain, pit dan fissure yang dalam merupakan habitat utama bakteri Streptococcus mutans. Lapisan sealant ini dapat menjadi pelindung dari sisa makanan serta bakteri agar tidak masuk dan terjebak dalam ceruk-ceruk tadi, sehingga menyebabkan terjadinya karies. Bahan yang digunakan yaitu resin komposit dan ionomer kaca fuji VII.

 

Kapan pit and fissure sealant dapat dilakukan?

Sealant dapat dilakukan segera setelah gigi geraham permanen pertama tumbuh, yaitu saat anak berusia 6-7 tahun. Selain itu, selanjutnya pada saat gigi geraham permanen kedua tumbuh, yaitu saat anak berusia 11-14 tahun.

 

Apakah setelah melakukan prosedur sealant, gigi harus tetap dibersihkan?

Hal yang harus diperhatikan adalah bahwa prosedur ini tidak dapat menggantikan sikat gigi maupun flossing. Namun, prosedur ini dapat mencegah timbulnya lubang dan menghentikan proses karies di tahap awal sehingga lubang gigi tidak bertambah besar dan parah. Faktanya, sealant dapat menurunkan risiko lubang pada gigi geraham belakang hingga 80%. Pada Oktober 2016, CDC (Centers for Disease Control) melaporkan pentingnya sealant pada anak usia sekolah. Menurut CDC, anak usia sekolah tanpa sealant berisiko 3 kali lebih besar untuk mengalami lubang pada gigi dibandingkan dengan anak yang telah menjalani prosedur sealant.

 

Sumber:

https://www.ada.org/en/member-center/oral-health-topics/dental-sealants

https://www.mouthhealthy.org/en/az-topics/s/sealants

https://jada.ada.org/action/showPdf?pii=S0002-8177%2814%2961434-3

https://www.dentalhealth.org/pit-and-fissure-sealants