Pemeriksaan Penunjang dalam Diagnosis Alergi


 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Salam sehat, keluarga Kejora! Topik bahasan kali ini adalah mengenai pemeriksaan laboratorium yang dapat diminta oleh dokter untuk memastikan diagnosis alergi pada anak. Apa saja pemeriksaan laboratorium yang dimaksud? Seperti apa pemeriksaannya?

Alergi merupakan reaksi peradangan berlebihan sebagai respon kekebalan tubuh terhadap suatu allergen (bahan penyebab alergi). Alergi ini hnya muncul pada individu yang mengalami hipersensitivitas terhadap alergen. Penyebab alergi berbeda-beda pada setiap orang, dapat berupa alergi terhadap makanan, obat-obatan, serbuk sari, dan lain-lain. Gejala klinis alergi juga bervariasi antar individu, dapat berupa ruam kemerahan disertai gatal, mata merah dan berair ketika terpapar alergen, batuk dan pilek, dan lain-lain.

Dalam mendiagnosis alergi, selain dari riwayat dan pemeriksaan fisik, dokter mungkin membutuhkan pemeriksaan tambahan, seperti kadar IgE dalam darah, uji tusuk (skin prick test), uji suntik intradermal, dan uji tempel. IgE merupakan antibodi yang dibentuk oleh tubuh sebagai respon terhadap alergen. Pada individu yang mengalami alergi, kadar IgE dalam darah akan meningkat. Kadar IgE ini dapat diukur secara jumlah total dalam tubuh (kadar IgE total) atau secara spesifik (kadar IgE spesifik). Pada pemeriksaan kadar IgE spesifik, diperiksa kadar IgE terhadap alergen tertentu.

Selain pemeriksaan kadar IgE, uji tusuk juga dapat dibutuhkan untuk mengetahui penyebab alergi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan meneteskan cairan yang mengandung alergen yang diperiksa pada kulit (biasanya dilakukan pada kulit lengan bawah). Setelah itu, kulit yang sudah diteteskan akan ditusuk dengan jarum kecil, sehingga alergen dapat masuk ke bawah permukaan kulit. Kulit akan dibiarkan selama 15-20 menit dan dievaluasi tanda alergi yang muncul. Pada pemeriksaan ini, biasanya dilakukan pemeriksaan alergi terhadap beberapa alergen sekaligus.

Gambar 1. Uji tusuk (skin prick test)

Serupa dengan uji tusuk, evaluasi alergi dapat dilakukan dengan melakukan penyuntikkan alergen secara intradermal. Setelah itu, ditunggu selama 15 menit dan dievaluasi reaksi alergi yang timbul. Kekurangan uji ini adalah dapat menyebabkan reaksi sistemik, sehingga uji ini lebih jarang dilakukan dibandingan dengan uji tusuk.

Pemeriksaan penunjang diagnosis alergi lainnya adalah uji tempel, terutama untuk evaluasi dermatitis kontak. Dermatitis kontak merupakan reaksi alergi yang timbul karena kontak dengan bahan tertentu. Uji tempel ini dilakukan dengan menempelkan plester yang mengandung alergen pada punggung. Evaluasi reaksi alergi dilakukan 48 jam setelah penempelan plester alergen. Selama 48-72 jam tersebut, pasien dianjurkan untuk tidak mandi atau berolahraga agar tidak berkeringat berlebihan.

Semoga pembahasan di atas membuat Ayah dan Ibu memiliki gambaran yang lebih baik tentang pemeriksaan penunjang untuk evaluasi alergi. Semoga bermanfaat!

Pilihan MP-ASI Pertama Untuk Si Kecil

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!
Ketika si Kecil sudah memasuki usia 6 bulan, berarti saatnya makan ya! Kita semua pasti sudah paham bahwa pemberian MP-ASI memang harus dimulai saat si Kecil masuk usia 6 bulan dan dapat diberikan lebih cepat pada kondisi khusus dan harus sudah atas pertimbangan dari dokter.

Ayah dan Ibu, ketika akan memulai MP-ASI seringkali kita khawatir apa yang kira-kira bisa diterima oleh si Kecil. Kalau dulu seringkali kita mendengar istilah menu MP-ASI tunggal, yang artinya bayi hanya diberikan satu jenis makanan terus-menerus selama sekitar 2 minggu. Sementara sebenarnya hal ini sudah tidak direkomendasikan lagi. Justru WHO menyarankan menu campuran sejak usia 6 bulan yang terdiri beraneka ragam sumber makanan agar kebutuhan nutrisi si Kecil terpenuhi, terutama zat besi yang memang kadarnya dalam ASI sudah jauh berkurang sehingga harus dipenuhi dari MP-ASI.

Pada tahap awal ini, biasanya si Kecil diberikan makanan lumat. Makanan lumat di sini adalah makanan yang diblender halus atau disaring sehingga tekstur makanan menjadi lumat dan kental. Di usia 6-8 bulan, biasanya si Kecil diberikan 2x makan utama dan 1x selingan. Untuk dapat menyiapkan makanan lumat ini, maka ayah dan ibu memerlukan peralatan sederhana berikut: panci dan kukusan, saringan, mangkok serta sendok. Nah, untuk menghaluskan daging biasanya akan sulit kalau hanya menghaluskan dengan saringan, maka ada baiknya ibu juga memiliki blender atau bisa juga menggunakan food grinder agar bayi 6 bulan tetap sudah bisa mengonsumsi daging.

Berikut ini salah satu contoh menu MP-ASI campuran yang bisa diberikan mulai usia 6 bulan, yaitu: bubur hati ayam brokoli.


Bahan-bahan yang diperlukan:

  • beras 30g
  • hati ayam 30g
  • brokoli secukupnya
  • unsalted butter 5g
  • daun jeruk, salam, dan serai secukupnya./li>

    Cara membuat:

  • Rebus beras dengan air secukupnya
  • Tumis bawang merah cincang dengan unsalted butter, tambahkan daun jeruk, daun salam, dan serai masing-masing 1 lembar. Baru masukkan hati ayam yang sudah dipotong-potong. Tambahkan air sedikit. Masak hati hingga matang betul. Ingat bahwa bahan makanan sumber protein hewani harus benar-benar matang ya. Masukkan brokoli yang sudah dipotong-potong secukupnya saja, tidak perlu terlalu banyak.
  • Setelah semuanya matang, haluskan dengan blender atau bisa juga gunakan saringan

Resep ini untuk 2 kali makan ya! Ayah dan Ibu dapat menyimpan MP-ASI dalam wadah tertutup rapat dan letakkan di kulkas bawah. Akan lebih mudah bila ibu menyimpan MP-ASI dalam wadah kaca sehingga saat menghangatkan cukup dengan merendam MP-ASI dalam wadah tersebut dalam panci berisi air hangat dan siap untuk diberikan pada si Kecil.

Ayah dan ibu, tentunya konsistensi MP-ASI sesuaikan dengan kemampuan si Kecil ya. Setelah usia 8 bulan tentunya sudah tidak perlu bubur lumat lagi. Naikkan konsistensinya secara bertahap. Nah, untuk sumber protein hewani bisa diganti dengan ikan dori/lele/gurame/salmon atau ayam atau daging sapi.
Selamat mencoba!

Editor: drg Rizki Amalia

Sumber:

  • WHO. Guiding principles for complementary feeding of the breastfed child.2001.
  • IDAI. Rekomendasi Praktek Pemberian Makan Berbasis Bukti pada Bayi dan Batita di Indonesia untuk Mencegah Malnutrisi. 2015

Ubah Mitos Kesehatan Gigi Anda di Hari Kesehatan Gigi Nasional

 

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

 

Halo Keluarga Kejora,

Memasuki bulan September ada sebuah selebrasi dari bidang kesehatan gigi di Indonesia. Semenjak tahun 2011,  tanggal 12 September diperingati sebagai Hari Kesehatan Gigi Nasional. Peringatan mengenai Hari Kesehatan Gigi Nasional pertama kali digagas oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH.,DR PH.

Momentum tersebut juga sebagai tanda dimulainya Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) untuk yang pertama kali. Kementerian Kesehatan  yang diwakili oleh Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Kesehatan, dr. Bambang Giyatno, MPH dan bekerja sama dengan berbagai elemen seperti Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia serta pihak swasta, membuka secara resmi Bulan Kesehatan gigi Nasional (BKGN) 2011 di Lapangan Gasibu, Bandung.

Salah satu tujuan dibentuknya kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan gigi dan mulut. Namun memasuki tahun ke-9 BKGN, masih terdapat masyarakat yang belum menyadari pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Selain itu, banyak mitos yang beredar terkait kesehatan gigi dan seringkali membuat masyarakat bingung, apakah tindakan perawatan gigi yang dilakukan selama ini sudah tepat atau hanya mitos belaka.

Berikut beberapa mitos yang sering timbul di masyarakat terkait kesehatan gigi dan mulut, seperti :

 

Mitos 1 : “Dok, saya terbiasa menyikat gigi langsung sehabis makan agar gigi menjadi bersih, benar kan?”

Fakta : Menyikat gigi 2x sehari pada pagi dan malam hari, memang sebaiknya dilakukan setelah makan. Namun anda harus memberi jeda sebanyak 30 – 60 menit setelah mengkonsumsi makanan, terutama makanan dengan kandungan asam. Karena hal ini akan menyebabkan bagian permukaan luar gigi (enamel) terpapar dan dapat mengikis permukaan tersebut dan berpotensi mempercepat proses kerusakan pada gigi. Minum air putih setelah makan dapat membantu agar sisa bahan makanan tidak terlalu lama melekat pada permukaan gigi.

 

Mitos 2 : “ Bu dokter, aku suka melihat Ayah menyikat gigi dengan keras. Kata Ayah supaya sisa makanan tidak tertinggal. Apa sikat gigi harus keras agar bersih?”

Fakta : Sikat gigi yang terlalu keras dengan jangka waktu lama dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan gusi dan gigi. Tekanan yang terlalu keras saat menyikat gigi akan membuat gusi mengalami resesi gingiva ( gusi turun ) dan kerusakan pada lapisan permukaan email ( permukaan luar gigi ).  Jadi hindari sikat gigi yang terlalu keras dan mulai menyikat gigi secara tepat untuk menjaga kesehatan gigi dan gusi anda

 

Mitos 3 : ” Dok gigi saya sedang sakit dan saya sudah tidak tahan lagi. Apa gigi yang sakit bisa dicabut saat ini juga?”

Fakta : Meski pencabutan gigi adalah sebuah prosedur yang cukup aman untuk dilakukan, namun hal tersebut bisa menjadi berbahaya apabila saat tindakan terdapat bakteri di dalam aliran darah. Jaringan gusi dapat berisiko mengalami infeksi. Salah satu tanda gigi bermasalah dan sedang mengalami infeksi adalah gigi tersebut sakit atau bengkak. Bila terjadi kondisi seperti itu, dokter gigi biasanya akan memberikan pengobatan terlebih dahulu sebelum dilakukan tindakan pencabutan gigi.

 

Mitos 4 : “Dok, memang benar cabut gigi dapat menyebabkan mata menjadi buta?”

Fakta : Gigi merupakan bagian dari organ tubuh yang saling berkaitan dengan organ tubuh lainnya. Pembuluh darah, serabut saraf yang berada pada gigi, menjadikan gigi dapat berkontak dengan bagian tubuh lain. Pertanyaan mengenai kebutaan pada mata yang terjadi setelah pencabutan gigi, sering dikeluhkan masyarakat awam terutama bila pencabutan gigi pada bagian rahang atas. Dugaan mitos ini muncul karena letak yang cukup dekat antara mata dan gigi di rahang atas.

Saraf kranial ke-5 yakni saraf trigeminus yang memiliki tiga buah cabang yakni, oftalmikus (mata), maksila (rahang atas dan sekitarnya) dan mandibula ( rahang bawah dan sekitarnya ). Sehingga saat anestesi dilakukan untuk pencabutan gigi rahang atas, maka saraf yang dituju adalah saraf maksila dan ini mengurangi kemungkinan terjadinya kerusakan pada organ mata terutama masalah kebutaan.

Namun perlu diingat, selalu ada kemungkinan atau komplikasi yang bisa terjadi apabila anestesi tidak berjalan dengan baik. Sehingga perlu untuk memberitahukan kondisi medis anda kepada dokter gigi untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

 

Mitos 5 : ” Dok, gigi susu anak saya yang bermasalah tidak perlu dirawat bukan? Nanti juga akan tumbuh gigi permanen?

Fakta : Meski rentang usia gigi susu hanya sebentar dan pada waktunya kelak akan tergantikan oleh gigi permanen, tetapi gigi susu anak anda harus tetap dijaga dan dirawat apabila mengalami masalah.

Karena gigi susu yang akan menjaga tempat gigi tetap. Tanpa gigi susu yang sehat, anak akan mengalami kesulitan saat mengunyah makanan, berbicara atau masalah saat gigi tetap tumbuh. Jadi penting sekali untuk menjaga kebersihan gigi susu, sehingga mengurangi potensi terjadinya karies dan masalah gigi pada buah hati anda.

 

Jadi dengan mengetahui fakta dari mitos yang ada di masyarakat mengenai gigi, ayah dan ibu Kejora lebih bisa meningkatkan kepedulian akan kesehatan gigi dan mulut keluarga agar lebih baik lagi di masa yang akan datang

 

Selamat Hari Kesehatan Gigi Nasional 2020

Kejora Indonesia

 

Sumber:

https://www.ada.org.au/Dental-Health-Week-2017/Oral-Health-for-Busy-Lives/Brushing

https://www.webmd.com/oral-health/guide/pulling-a-tooth-tooth-extraction

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5427453/

https://jada.ada.org/article/S0002-8177(14)65077-7/fulltext

https://www.webmd.com/parenting/baby/caring-babies-teeth

https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://promkes.kemkes.go.id/hari-kesehatan-gigi-dan-mulut-nasional&ved=2ahUKEwj68oCk1NbrAhWKyDgGHU2kDBAQFjAAegQIAhAB&usg=AOvVaw08ueQQIaMwXrYNyTZ9zOEc

https://www.unilever.co.id/news/press-releases/2011/12-september-sebagai-hari-kesehatan-gigi-nasional.html

 

 

 

 

Waspadai kerusakan mata akibat paparan sinar UV

 

 

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora… Apa kabar keluarga sehat Kejora?

Tak terasa pandemi COVID-19 sudah berjalan selama 6 bulan terhitung kasus pertama yang ditemukan di Indonesia pada awal bulan Maret 2020. Akibat pandemi COVID 19 ini tentunya ada beberapa perubahan yang terjadi dalam aktivitas kita sehari-hari antara lain menggunakan masker saat berada di luar rumah, rajin mencuci tangan, menjaga jarak 1-2 m dengan orang sekitar dan tentunya menjaga kebersihan diri dan sekitar.

Nah, akibat hal tersebut banyak nih ayah dan ibu kejora yang menggunakan lampu UV untuk disinfeksi udara, permukaan dan juga air di rumahnya. Lampu UV yang digunakan utk disinfeksi tersebut memiliki panjang gelombang dibawah 380 nm dimana tidak terlihat oleh mata kita namun tanpa disadari dapat merusak mata kita. Efek dari lampu UV tersebut ada yang akut (jangka waktu cepat) dan kronik (jangka waktu lama). Pada kesempatan kali ini saya akan membahas salah satu efek akut dari lampu UV disinfeksi yang sering terjadi pada mata yaitu photokeratitis. Yuk mari kita bahas.

 

Apa itu Photokeratitis?
Photokeratitis merupakan suatu kumpulan gejala/gangguan pada selaput bening mata/kornea yang terjadi secara akut setelah terkena paparan sinar UV tipe C (panjang gelombang 100-290 nm) dan tipe B (panjang gelombang 290-320 nm). Keluhan-keluhan pada kornea ini muncul setelah terjadi paparan UV. Sebetulnya paparan sinar UV ini tidak hanya mengakibatkan keluhan pada kornea saja namun juga pada bagain mata lain seperti konjungtiva, lensa dan retina mata (gambar 1). Pada kesempatan kali ini saya hanya akan membahas keluhan pada kornea karena sifatnya yang cepat/akut serta saat ini sedang marak digunakan lampu UV untuk disinfeksi rumah selama pandemi covid-19 ini berlangsung

Gambar 1 Penyerapan sinar UV pada beberapa struktur yang ada di dalam mata

 

Berapa lama waktu paparan yang dibutuhkan sampai terjadi photokeratitis ?
Sangat bervariasi dimulai dari 30 menit sampai 24 jam, namun rata-rata 6 sampai 12 jam paska paparan UV.

 

Apa saja sumber UV yang dapat mengakibatkan photokeratitis ?

  1. UV air disinfectant lamps -> saat ini sedang marak di gunakan untuk sterilisasi di rumah

Gambar 2. Air UV disinfectant lamps/germicidal UV lamps

  1. UV water disinfectant systems

Gambar 3. Water UV disinfectant system

  1. Aquarium UV sterilizer -> untuk menghilangkan lumut pada akuarium/kolam ikan

Gambar 4. Aquarium UV Sterilizer

  1. Tanning lamps -> biasanya di gunakan di salon-salon kecantikan

Gambar 5. Tanning lamps

  1. Sinar matahari
  2. Mesin las
  3. Sinar UV yang digunakan untuk sterilizer pada laboratorium dan rumah sakit

 

Apa tanda dan gejala dari photokeratitis ?

Tanda dan gejala yang dapat terjadi akibat photokeratitis antara lain :

  1. Mata perih merah dan berair
  2. Kelopak dan konjungtiva bengkak dan sulit dibuka
  3. Lapisan epitel kornea terkelupas  timbul bercak-bercak pada pewarnaan
  4. Pupil miosis
  5. Refleks kornea berubah
  6. Buram
  7. Fotofobia
  8. Mata terasa sensasi seperti terdapat benda asing

 

Tanda dan gejala diatas ditemukan pada kedua mata / BILATERAL

Gambar 6. Mata merah akibat photokeratitis

Gambar 7. Epitel kornea yang mengalami pengelupasan akibat paparan sinar UV

 

Bagaimana perawatan kondisi photokeratitis ?

  1. Istirahatkan mata
  2. STOP/Hindari re-exposure sinar UV tersebut
  3. Teteskan pelembab tetes air mata buatan -> pertolongan pertama
  4. Dapat diberikan kompres dingin pada mata
  5. Bawa ke IGD / dokter SpM bila gejala dirasa berat
  6. Dokter SpM akan menilai derajat keparahan photokeratitis dan memberikan
        • a. Antibiotik topikal
        • b. Anti radang/nyeri topikal
        • c. Sikloplegik -> bila dibutuhkan
        • d. Anti nyeri oral -> bila dibutuhkan

 

Bagaimana mencegah terjadinya photokeratitis ?

  1. DILARANG / TIDAK BOLEH berada di ruangan yang sedang MENYALAKAN UV DISINFECTANT LAMP apalagi digunakan sebagai lampu tidur atau dinayalakan pada saat bekerja
  2. LARANG PEMBANTU, ANAK, dan KELUARGA untuk berada di ruangan yang sedang menyalakan UV DISINFECTANT LAMP
  3. Gunakan kacamata anti UV bila berada di luar ruangan dengan paparan sinar UV
  4. Gunakan lensa kontak anti UV bila berada di luar ruangan dengan paparan sinar UV
  5. Gunakan topi yang lebar untuk melindungi area mata dan wajah pada saat berada di luar ruangan dengan paparan sinar UV
  6. Untuk pekerja-pekerja yang menggunakan alat LAS -> SELALU GUNAKAN PELINDUNG DIRI (wajah dan seluruh badan)

 

Referensi :

  1. Cullen AP. Photokeratitis and other Phototoxic effects on the Cornea and Conjunctiva. International J of Toxicology 2002, 21:455-64
  2. Banerjee S, Patwardhan, Savant VV. Mass photokeratitis following exposure to unprotected UV light. Journal of public Health Medicine 2003, 25(2) 160.
  3. Moore LA, Hussey M, Ferreirra JT, Wu B. Review of photokeratitis : corneal response to UV radiation exposure. S Afr optom 2010, 69(3) 123-31
  4. Citek K, Andre B, Bergmanson J, Butler JJ, Chou BR, et al. The eye and solar UV Radiation. Diunduh dari : https://www.pointsdevue.com/sites/default/files/UV-BlueLight-E-book-edition-2-web.pdf
  5. The College of Optometrist. Photokeratitis (UV Burn , Arc Eye, Snow blindness). Diunduh dari : https://www.college-optometrists.org/guidance/clinical-management-guidelines/photokeratitis-.html

Menumbuhkan Resiliensi pada Anak


 

 

 

 

oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora!
Kita tentu menyadari perkembangan jaman yang bergerak secara dinamis, berubah sangat cepat, dan kompetitif. Di satu sisi, hal ini memiliki dampak positif, yaitu makin banyak pilihan dan informasi semakin mudah didapatkan. Di sisi lain, tantangan dan kesulitan juga semakin banyak. Anak-anak kita, sebagai generasi berikutnya, perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan baik, agar siap menghadapi tantangan masa depan.

Untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan dan tantangan masa depan, bukan hanya diperlukan kompetensi saja, namun juga perlu memiliki karakter positif agar anak-anak kita bisa menjadi generasi yang siap menghadapi perkembangan jaman.

Salah satu karakter positif, yang bisa kita ajarkan sejak dini pada si kecil adalah Resiliensi. Anak yang tangguh / memiliki resilien akan tidak mudah menyerah dan bisa bangkit kembali saat menemui kesulitan dan tantangan. Yuk simak, penjelasan mengenai resiliensi dan bagaimana menumbuhkannya pada si kecil.

 

Apa itu Resiliensi pada Anak?
APA (American Psychological Association) menyatakan definisi resiliensi sebagai kemampuan untuk bisa beradaptasi dan bangkit dengan baik dalam menghadapi tantangan dan kesulitan yang dihadapi.

Resiliensi adalah bounce back atau bangkit kembali dari pengalaman sulit. Seperti trampolin, anak yang punya resilien, akan punya daya lenting yang baik. Self-resilience akan membuat individu terus maju menjalankan hidup bahkan dalam keadaan tersulit.

 

Mengapa Resiliensi Penting?
 Membantu anak mengantisipasi maupun mengenali peluang
 Mendorong anak mencapai goal-nya
 Mendorong tercapainya hidup sehat dan bahagia

Karakter resilien bukanlah karakter bawaan lahir yang berasal dari genetik, namun perlu diasah dan dilatih. Pada 5 tahun pertama kehidupannya, si kecil akan banyak mengembangkan dasar-dasar kepercayaan diri yang menjadi pondasi dalam menghadapi tantangan-tantangan tumbuh kembangnya. Maka dari itu, resiliensi perlu dilatih sejak dini.

 

Bagaimanakah Ciri Anak yang Resilien?
1. Emotional Well-Being: Mampu mengelola emosinya
2. Berani: Menghadapi rasa takutnya dan mau mencoba hal-hal baru
3. Autonomy: Mandiri, percaya diri (percaya kepada kemampuannya sendiri dalam kondisi tak terduga)
4. Problem Solving: Mampu memahami masalah dan bisa mengatasi atau memecahkan berbagai masalah
5. Social Competence: Bisa beradaptasi dan bersosialisasi dalam lingkungannya.

Rumus ABCDE Menumbuhkan Resiliensi pada Anak

1. A: Ada untuk anak
• Meluangkan waktu dan mendampingi anak bukan berarti mengambil alih secara penuh atau menghilangkan tantangan yang si kecil sedang hadapi. Kita bisa berikan contoh, tawarkan alternatif bantuan, dan berikan dukungan agar si kecil makin semangat dan merasa di dukung oleh kita.

2. B: Beri kesempatan
• Ciptakan lingkungan yang mendukung anak melalui tantangan dan peluang, akan melatih kemampuan adaptasi dan problem solving si kecil.

3. C: Cintai anak tanpa syarat
• Menerima anak apa adanya, bukan hanya ketika mereka pintar / sesuai harapan kita
• Mencintai anak dengan kasih sayang dan perhatian, namun tanpa memanjakan
• Cinta dari orangtua yang tulus dan tanpa syarat, akan membuat anak merasa aman, percaya diri, tidak ragu untuk mengeksplorasi dan belajar berbagai hal. Hal ini akan membantu anak dalam menghadapi berbagai proses (rintangan, kesulitan, dan tantangan).

“Behind every child who believes in himself is a parent who believed first”
– Matthew Jacobson –

4. D: Dukung secara positif
Artinya:
Berikan afirmasi positif. Contoh: “Kenapa sih salah terus!” diganti dengan “Ini susah ya, coba kamu lakukan pelan-pelan ya.. kamu pasti bisa, dek”
Fokus pada proses / usaha si kecil. Saat kita hanya fokus pada hasilnya, akan membuat si kecil merasa tertekan dan menghindari aktivitas menantang agar tidak mendapatkan respon negatif saat tidak berhasil.
• Dampingi si kecil menghadapi kegagalan. Jelaskan pada si kecil bahwa saat ia berbuat salah / gagal, adalah saat belajar sesuatu dan itu bukanlah hal yang menakutkan. Yang terpenting, mau mencoba kembali. Misal saat anak belajar makan sendiri, namun tumpah-tumpah. Sebisa mungkin jangan langsung memarahinya, ajari anak caranya dan kasih kesempatan coba lagi.


5. E: Emotional & Social wellbeing
Latih si kecil untuk bisa mengola emosinya. Ajarkan bahwa emosi boleh saja dirasakan dan diungkapkan, namun mereka pun perlu memikirkan tindakan yang harus dilakukan dalam meregulasi emosinya tersebut.
Latih keterampilan sosial si kecil agar ia mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Ajarkan bagaimana ia mendapatkan teman baru, membuka perbincangan dengan orang baru (baik lebih tua, sepantaran, hingga lebih muda darinya).

 

Aktivitas yang bisa Mengembangkan Karakter Resilien pada Anak
• Aktivitas untuk meningkatkan resiliensi pada anak, harus bersifat: Purposeful Exposure atau ‘tantangan’, tujuannya untuk memberikan perubahan positif (transformasi) pada anak.
 Memberi tantangan lebih. Risikonya atau tantangannya medium.
 Memunculkan perubahan positif / kreativitas anak untuk memecahkan masalah
 Anak berperan aktif.

• Note: Saat memberikan tantangan, kita harus menyesuaikannya dengan kapasitas dan usia si kecil agar ia tahu batas dirinya sampai mana, kemampuan dirinya sampai mana, dan apa yang ia miliki untuk menghadapi masalah. Tingkatan tantangan perlu dilakukan secara teratur dan dengan bimbingan oleh orang dewasa.

• Ide Kegiatan Purposeful Exposure:
o 1-3 tahun:
Traveling/berlibur: Saat berlibur, anak akan belajar situasi baru di luar rutinitasnya. Ini akan menstimulasi kemampuan adaptasinya.
Sensory-Motoric activities: aktivitas fisik yang sesuai dengan usianya, akan bisa memberikan kesempatan anak untuk eksplorasi dan bergerak aktif
 Games: Orangtua bisa bermain bersama si kecil, agar kemampuan interaksi dan kreativitasnya meningkat
Art and craft: Buat proyek sederhana bersama keluarga, akan menstimulasi kreativitas dan problem solving anak.

o Untuk 3-6 tahun:
 Belajar skills baru: eksplorasi berbagai bidang / minat
 Ikutkan anak dalam berbagai kompetisi agar semakin percaya diri
 Mencoba berbagai pengalaman baru. Misalnya: kegiatan bersama di akhir pekan, traveling, dll
Social activity untuk meningkakan keterampilan sosial anak

“If parents want to give their children a gift, the best thing they can do is to teach their children to love challenges, be intrigued by mistakes, enjoy effort, and keep on learning.”
-Carol S. Dweck-

Melatih resiliensi pada anak memang tidak mudah. Namun, dengan pola asuh yang konsisten, cinta kasih yang tulus, dan teladan yang baik dari Ayah dan Ibu, anak-anak kita bisa tumbuh menjadi generasi masa depan yang kuat dan tangguh!

Boleh Tidak Sih Jus Buah untuk Bayi/Anak?

oleh dr. Yohannessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinis

Halo, Ayah dan Ibu Sehat Kejora!

Apakah Ibu/Ayah Kejora pernah bertanya mengenai perlu tidaknya pemberian jus buah pada bayi dan anak? Tak jarang orangtua berpendapat bahwa jus buah pasti memiliki kandungan nutrisi dan bermanfaat bagi bayi dan anak, namun ternyata harus diketahui rekomendasi dan dicermati label komposisi nutrisi pada jus buah kemasan.

Sebelum lanjut membaca, perlu diketahui terlebih dahulu definisi dari jus buah (kemasan). Menurut US FDA, label kemasan ‘jus buah’ artinya produk tersebut mengandung 100% jus buah. Sedangkan, label tertulis ‘konsentrat’ buah artinya produk tersebut berasal dari konsentrat buah. Produk minuman kemasan berlabel ‘minuman’ artinya memiliki kandungan jus 10–99% serta pemanis tambahan, perisa, maupun fortifikasi misalnya vitamin C atau kalsium.

Di Indonesia, BPOM telah mengatur penamaan produk, juga label kandungan nutrisi. Terdapat 3 kategori minuman buah yaitu sari buah, minuman sari buah, dan minuman rasa buah. Sari buah mengandung minimal 80% jus buah asli. Sedangkan minuman sari buah mengandung 10–35% jus buah. Minuman rasa buah hanya memiliki kurang dari 10% jus buah asli; produk tersebut hanya berisi air dan gula atau pemanis.

Berikut rekomendasi dari AAP mengenai jus buah:

  1. Jus tidak direkomendasikan pada bayi di bawah usia 12 bulan, kecuali ada indikasi medis dari dokter spesialis. Jus buah tidak memberikan manfaat nutrisi bagi bayi di bawah usia 12 bulan. Kebutuhan cairan bagi bayi tercukupi dari ASI atau susu formula (sesuai indikasi medis). Hal di atas berlaku juga pada buah yang diperas hanya sarinya saja; misal air perasan jeruk saja. Air perasan jeruk dapat diberikan bila bersamaan dengan buah lain dengan tekstur sesuai usia, misal dicampur dengan pure alpukat bagi bayi 7 bulan.
  2. Buah dapat diberikan sebagai selingan dengan tekstur sesuai usia bayi dan bersifat sebagai mengenalkan buah pada bayi.
  3. Pemberian jus pada anak usia 1–3 tahun (balita) dibatasi maksimal 118 mL/hari (4 ounces/day)
  4. Pemberian jus pada anak 4–6 tahun dibatasi maksimal 118–177 mL/hari (4–6 ounces/day)
  5. Pemberian jus pada anak 7–18 tahun dibatasi maksimal 236 mL/hari (1 cup/day)
  6. Pemberian jus pada balita tidak direkomendasikan dalam wadah botol atau wadah lain yang mudah dibawa sehingga mencegah balita minum jus berlebihan sehari-hari. Juga tidak direkomendasikan pemberian jus kepada balita saat jam menjelang tidur.
  7. Anak-anak diupayakan untuk mengonsumsi buah potong untuk memenuhi kebutuhan asupan buah dan serat per hari
  8. Pemberian produk jus yang tidak dipasteurisasi tidak dianjurkan bagi bayi dan anak.

Jus buah juga meningkatkan risiko terjadinya karies gigi. Dari penelitian diketahui bahwa setelah 24 jam, pH jus buah berubah menjadi lebih asam dari pH awal. Jus nanas, anggur, dan tebu mengandung elemen pemicu timbulnya karies gigi antara lain selenium, besi, dan mangan.

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber: American Academy of Pediatrics (AAP) 2017, Community Dent Oral Epidemiol 2010;38:324-32.

Gigi pada Bayi Baru Lahir: Apakah Normal?

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Halo Ayah dan Ibu kejora,

Apakah pernah ada yang memiliki pengalaman bayi anda baru saja lahir namun sudah memiliki gigi dalam rongga mulutnya?

Apakah yang Dimaksud dengan Natal Teeth?

Gigi susu anak biasanya pertama kali mulai tumbuh paling cepat di usia 4-7 bulan. Gigi yang pertama kali tumbuh adalah gigi seri pada rahang bawah. Namun, apabila bayi anda sudah memiliki gigi sejak baru lahir, maka kondisi seperti ini memiliki istilah yang disebut “natal teeth”. Natal teeth ini cukup jarang terjadi, hanya terjadi sekitar 1 kasus dari 2000 kelahiran.

Apakakah Penyebab dan Faktor Risiko Natal Teeth?

Penyebab dari natal teeth belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa kondisi medis yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya natal teeth yaitu pada bayi dengan celah bibir dan langit-langit mulut, serta bayi yang lahir dengan kelainan pada struktur dentin (salah satu struktur pembentuk gigi). Ada pula beberapa sindrom yang dapat menyebabkan terjadinya natal teeth, yaitu sindrom: Sotos, Hallerman-Streiff, Pierre-Robin, dan Ellis-van Creveld.

Selain kondisi medis di atas, ada beberapa faktor risiko juga yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya natal teeth, yaitu faktor keturunan (biasanya ada anggota keluarga yang juga memiliki kejadian serupa), serta adanya malnutrisi selama masa kehamilan.

Apa sajakah Tipe-tipe Natal Teeth?

Kebanyakan kasus yang terjadi hanya melibatkan satu gigi saja. Gigi yang paling sering muncul adalah gigi seri rahang bawah, diikuti dengan gigi seri rahang atas. Sangat jarang sekali ditemukan natal teeth pada gigi geraham belakang.

Apabila bayi anda mengalaminya, dokter yang merawat dapat menentukan tipe mana yang dimiliki oleh bayi anda dari 4 tipe di bawah ini, yaitu:

  1. Natal teeth yang tumbuh dengan sempurna dan memiliki akar, walaupun gigi tersebut goyang.
  2. Gigi yang sangat goyang dan tidak memiliki akar.
  3. Gigi yang sudah terlihat baru muncul pada permukaan gusi.
  4. Gigi yang baru akan muncul dan masih sedikit tertutup permukaan gusi.

Tipe yang dimiliki oleh bayi anda akan sangat menentukan risiko untuk terjadinya komplikasi lebih lanjut, dan juga dapat membantu dokter untuk menentukan perlu atau tidaknya untuk melakukan perawatan.

Kapan Perlu Dilakukan Perawatan pada Natal Teeth?

Natal teeth yang tidak goyang biasanya tidak perlu dirawat, namun bila ada bagian mahkota yang tajam, maka bagian tersebut dapat diasah/dibulatkan oleh dokter gigi. Apabila tipe natal teeth goyang dan apalagi tidak memiliki akar, maka dapat dilakukan pencabutan. Hal ini dikarenakan tipe yang seperti ini dapat menyebabkan bayi anda mengalami peningkatan risiko tersedak karena tidak sengaja menelan gigi tersebut. Selain itu juga adanya gangguan menyusui, luka pada lidah, serta luka pada puting ibu pada saat menyusui.

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Sumber:

Menjaga Kebersihan Mainan di Rumah

 

 

 

 


oleh dr. Yulianto Santoso Kurniawan, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Ayah dan Ibu, apa kabar?

Dalam keadaan pandemi COVID-19 ini sudah menjadikebiasaan baru kita menjadi lebih rajin membersihkan peralatan di rumah. Kita juga semakin sering mendengar istilah disinfektan. Sebenarnya, apakah betul mainan anak perlu kita lakukan disinfeksi? Apa beda disinfeksi dengan sanitasi?

Proses pembersihan secara umum ternyata terbagi menjadi 3 tahapan, yaitu:

  1. Pembersihan dengan deterjen atau sabun dan air bertujuan untuk menyingkirkan debu atau kotoran dari permukaan benda. Misal lantai, dinding, karper, jendela.
  2. Sanitasi dilakukan untuk menyingkirkan kotoran dan sedikit kuman. Beberapa benda atau permukaan yang dibersihkan dari kotoran lalu dilakukan sanitasi adalah kamar mandi, mainan, alat makan
  3. Beberapa benda atau permukaan dilakukan tahapan tambahan yaitu disinfeksi setelah proses pembersihan untuk membunuh kuman di permukaan benda.

Pemutih (bleach) yang mengandung sodium hypochloritemerupakan bahan aktif yang bisa membunuh mikroorganisme,termasuk bakteri dan virus. Bahan aktif ini dapat digunakan untuk keperluan sanitasi atau disinfeksi. Pemutih rumahan dengan kadar 5,25% artinya mengandung bahan aktif sebanyak52.500 ppm (part per million). Konsentrasi bahan aktif dalampemutih rumahan, cukup dikalikan 10.000 untuk mengubah % menjadi ppm.

Berapa konsentrasi pemutih yang diperlukan untuk melakukan sanitasi?

Untuk melakukan sanitasi maka konsentrasi pemutih yang diperlukan adalah 50-200 ppm. Bila pemutih rumahan Anda memiliki konsentrasi 5,25%, maka untuk membuat 50 ppm adalah dengan membuat konsentrasi 50 / 10.000 = 0,005%. Untuk membuat 5,25% menjadi 0,005% artinya 1 bagian 5,25% diencerkan menjadi 1000x. Secara sederhana, ini berarti 1 mililiter pemutih diencerkan dengan air sampai volume larutan menjadi 1 liter (diencerkan 1 : 1000)

Untuk membuat 100 ppm, maka langkahnya adalah 100 / 10.000 = 0,01%; 1 mL pemutih 5,25% ditambah air sampai volume larutanya 500 mL.

Selain konsentrasi, kita juga perlu memperhatikan suhu dan waktu kontak antara larutan pemutih dengan permukaan benda yang dibersihkan. Untuk sanitasi diperlukan waktu kontak sekitar 2 menit dan kering dengan diangin-anginkan, serta suhu antara 13-49 derajat Celsius (dapat dilakukan pada suhu ruangan). Larutan pemutih tersebut harus diganti setiap 24 jam bila akan dipergunakan kembali karena jika sudah dilarutkan larutan tersebut tidak stabil.

Setelah membuat larutan tersebut maka Ayah dan Ibu bisa membersihkan mainan anak sebelum dan setelah digunakan. Semoga upaya ini akan menjaga kesehatan anak-anak kita.

Editor: dr. Sunita

Sumber:

https://hnhu.org/health-topic/chlorine/

https://www.rapidtables.com/convert/number/Percent_to_PPM.html

www.tchd.org/242/Child-Care

https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/prevention/Pages/Cleaners-Sanitizers-Disinfectants.aspx

Latihan Mindfulness Bersama Buah Hati untuk Menurunkan Stres

oleh Mellissa Catalina Trisnadi, M.Psi., Psikolog

Psikolog

Hai, Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah Ayah dan Ibu merasakan jenuh, lelah, stres, dan khawatir terhadap masa depan akibat pandemi Covid-19? Perasaan-perasaan tersebut merupakan hal yang wajar dialami ketika ayah dan ibu menghadapi ketidak pastian. Berbagai macam penyesuaian harus kita lakukan untuk menghadapi perubahan akibat pandemi ini, seperti bekerja dari rumah, pertemuan online, peran tambahan sebagai guru di rumah sembari tetap mengurus pekerjaan kantor dan rumah tangga serta berbagai penyesuaian lainnya. Ini bukan hal yang mudah dijalani dan sangat melelahkan ya Ayah dan Ibu Kejora.

Perasaan tidak nyaman pun dialami buah hati kita. Proses pembelajaran yang tadinya dilaksanakan di sekolah sekarang menjadi pembelajaran di rumah secara daring. Keterbatasan berinteraksi secara langsung cukup membuat buah hati kita tidak nyaman. Selama pandemi, buah hati kita tidak dapat bermain bebas dengan teman-teman dan bersenda gurau untuk mengatasi kebosanan mereka. Rasa rindu dengan teman-teman, guru dan lingkungan sekolah juga dapat membuat buah hati tertekan.

Buah hati kita mungkin tidak mengatakan secara langsung “Aku stres”, “Aku bosan” atau “Aku cemas”, namun ayah dan ibu dapat belajar peka untuk melihat perubahan tingkah laku buah hati. Simpan dalam pikiran ayah dan ibu bahwa buah hati bukan dengan sengaja berperilaku tidak kooperatif, malas ataupun negatif. Perubahan perilaku ini merupakan respon untuk bertahan dalam situasi yang tidak nyaman.

Empati Ayah dan Ibu Kejora sangat diperlukan untuk membantu buah hati melalui masa-masa sulit ini. Selain itu, Ayah dan Ibu Kejora dapat mengajarkan teknik mindfulness untuk membantu buah hati melalui situasi stres ini.

Apa itu mindfulness?

Mindfulness adalah kemampuan dasar manusia untuk hadir sepenuhnya, menyadari keberadaan dan apa yang sedang dilakukannya tanpa menjadi reaktif terhadap apa yang terjadi di sekeliling. Kuncinya adalah kesadaran penuh pada diri saat ini dan penerimaan. Praktik mindfulness menekankan pada sensasi pernafasan perut untuk mengurangi tekanan pikiran dan stres. Dalam praktiknya, buah hati diajak untuk menyadari sensasi tubuh dengan cara mengaktifkan panca indera mereka, serta menyadari perasaan dan pikirannya.

Apa manfaat berlatih mindfulness?

Mindfulness membantu anak untuk:

  • Fokus dan meningkatkan rentang perhatian
  • Mampu mengatur emosi dengan lebih baik dan belajar merespon dengan penuh perhatian
  • Lebih sabar
  • Mengontrol impuls yang berlebihan

Bagaimana cara sederhana dan menarik mengajarkan teknik mindfulness pada buah hati?

  1. Spiderman Meditation

Permainan ini mengajak untuk mengaktifkan kelima panca indera. Instruksikan buah hati Anda untuk menyalakan ‘kekuatan supernya’, yaitu mencium, melihat, mendengar, merasakan dan menyentuh, layaknya Spiderman mengawasi dunia di sekitarnya.

Ijinkan buah hati Anda untuk mengeksplor lingkungan rumah dan mulai menggunakan kekuatan supernya, lalu instruksikan:

  • Penglihatan: pelan-pelan dan tenang, minta buah hati untuk menyebutkan 5 benda yang dilihat
  • Sentuhan: cari 4 hal yang bisa disentuh dan rasakan sensasinya, misalnya selimut rasanya halus, meja kayu rasanya kasar, es rasanya dingin.
  • Pendengaran: perhatikan 3 hal yang bisa didengar.
  • Penciuman: coba cari 2 hal di sekitarmu yang bisa kamu hirup baunya, misalnya sabun mandi dan sampo
  • Perasa/pengecap: coba cari 1 hal yang bisa kamu kecap, misalnya permen rasanya manis.

Aktivitas ini mendorong buah hati untuk memfokuskan perhatian pada kondisi saat ini, membuka kesadaran mereka mengenai informasi yang diperoleh indera mereka.

  1. Yuk dengerin detakannya!!!

Fokus perhatian pada denyut jantung juga merupakan bentuk latihan mindfulness. Ajak buah hati untuk melakukan lompatan kecil beberapa kali. Setelah itu minta buah hati Anda duduk dengan relaks ataupun berbaring terlentang dan letakkan tangan di dada. Minta buah hati Anda untuk menutup mata dan memfokuskan pikiran pada detakan jantung yang dirasakan oleh tangan dan fokus pada pernafasan perut secara perlahan.

Lakukan hal ini bersama buah hati Anda agar ia bersemangat berlatih bersama Anda.

  1. Breathing buddies

Minta buah hati Anda berbaring di tempat yang nyaman, letakkan boneka kesayangannya di atas perutnya. Minta buah hati Anda untuk menarik nafas panjang 3 hitungan kemudian menghembuskan perlahan selama 4 hitungan. Ayah dan Ibu Kejora bisa membantu untuk menghitung sambil bersama-sama melihat boneka yang ada di atas perut naik dan turun sesuai tarikan nafas. Lakukan berulang 5-10 kali.

Aktivitas ini sangat membantu anak untuk belajar relaksasi pernafasan.

Praktik mindfulness ini bisa dilakukan saat buah hati dalam kondisi bosan atau lelah mengerjakan tugas sekolah ataupun saat istirahat. Ayah dan Ibu dapat praktik bersama buah hati setiap hari secara rutin sehingga menjadi kebiasaan baru bagi buah hati. Selain dapat menurunkan stres, kegiatan ini juga dapat mendekatkan ayah dan ibu pada buah hati. Yuk Ayah dan Ibu Kejora kita berlatih bersama.

Editor: drg. Rahmatul Hayati

Referensi:

https://www.mindfulmazing.com/how-to-teach-mindfulness-to-kids/?utm_source=google_plus
https://www.mindfulmazing.com/why-mindfulness-for-kids-is-so-important/
https://positivepsychology.com/mindfulness-for-children-kids-activities/
https://www.psychologytoday.com/us/blog/suffer-the-children/201809/7-ways-mindfulness-can-help-children-s-brains

Susu Sapi A2

 

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Salam Sehat, Keluarga Kejora!

Susu merupakan salah satu sumber protein hewani yang populer. Sumber susu dan produk susu termasuk sapi, domba, unta, kambing, dan lainnya. Baru-baru ini, susu sapi jenis baru telah muncul di pasaran. Produk ini, yang disebut susu sapi A2, telah menarik perhatian konsumen dan ilmuwan. Apakah Moms pernah mendengar tentang susu sapi A2 ? Apakah perbedaannya dengan susu sapi biasa? Berikut infonya.

Susu sapi mengandung 8 gram protein dalam setiap 250 ml susu. Terdapat dua protein utama dalam susu yaitu kasein dan whey. Kasein menyumbang sekitar 80% protein dalam susu. Kasein juga memiliki beberapa variasi, salah satunya disebut beta-kasein. Beta-kasein membentuk sekitar 30% protein dalam susu sapi dengan varian A1 dan A2.

Jaman dulu, sapi menghasilkan susu yang hanya mengandung bentuk A2 beta-kasein. Saat ini, sebagian besar susu yang tersedia di toko bahan makanan mengandung protein A1.

Protein A1 dan A2 mempengaruhi tubuh secara berbeda. Ketika protein A1 dicerna dalam usus kecil, ia menghasilkan peptida yang disebut beta-casomorphin-7 (BCM-7). Usus menyerap BCM-7, dan kemudian masuk ke dalam darah. Peneliti mengaitkan BCM-7 dengan ketidaknyamanan perut dan gejala yang mirip dengan yang dialami oleh orang dengan intoleransi laktosa. Struktur protein A2 lebih serupa dengan protein dalam ASI manusia, begitu pula susu dari kambing, domba, dan kerbau.

Pada tahun 2000, seorang ilmuwan di Selandia Baru mendirikan Perusahaan Susu A2. Perusahaan ini menyediakan susu dari sapi yang hanya menghasilkan protein A2. Perusahaan Susu A2 menguji DNA sapi mereka dengan menggunakan sampel rambut, untuk memastikan hewan tersebut hanya menghasilkan susu yang mengandung protein A2. Perusahaan juga menguji susu setelah produksi untuk memastikan susu tidak mengandung protein A1.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa BCM-7 mungkin berhubungan dengan diabetes tipe 1, penyakit jantung, kematian bayi, autisme, dan masalah pencernaan. Meskipun dapat mempengaruhi sistem pencernaan, masih belum jelas sejauh mana BCM-7 diserap secara utuh ke dalam darah.

Diabetes tipe 1 biasanya didiagnosis pada anak-anak dan ditandai dengan kekurangan insulin. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa minum susu A1 selama masa kanak-kanak meningkatkan risiko diabetes tipe 1. Namun, penelitian ini bersifat observasional. Mereka tidak dapat membuktikan bahwa A1 beta-casein menyebabkan diabetes tipe 1, hanya mereka yang mengonsumsi susu A1,  lebih banyak yang memiliki risiko lebih tinggi untuk terdiagnosis diabetes tipe 1.

Pada kasus lain yaitu Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) yang merupakan penyebab kematian paling umum pada bayi di bawah 12 bulan. SIDS adalah kematian tak terduga pada bayi tanpa penyebab yang jelas. Beberapa peneliti menduga bahwa BCM-7 mungkin terlibat dalam beberapa kasus SIDS. Satu studi menemukan kadar BCM-7 yang tinggi dalam darah bayi yang berhenti bernapas untuk sementara saat tidur. Kondisi ini, yang dikenal sebagai sleep apnea, dikaitkan dengan peningkatan risiko SIDS. Hasil ini menunjukkan bahwa beberapa anak mungkin sensitif terhadap kasein beta A1 yang ditemukan dalam susu sapi. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan sebelum kesimpulan yang pasti dapat dicapai.

Jumlah laktosa dalam susu A1 dan A2 sama. Namun, sebagian orang merasa bahwa susu A2 tidak menyebabkan kembung dibandingkan susu A1. Penelitian menunjukkan bahwa komponen susu selain laktosa dapat menyebabkan ketidaknyamanan pencernaan. Sebuah penelitian pada 41 orang menunjukkan bahwa susu A1 menyebabkan feses lebih lembek daripada susu A2 pada beberapa individu, sementara penelitian lain pada orang dewasa Cina menemukan bahwa susu A2 menyebabkan ketidaknyamanan pencernaan yang jauh lebih sedikit setelah makan.

Perdebatan mengenai efek kesehatan dari susu A1 dan A2 masih berlangsung. Penelitian telah menunjukkan bahwa A1 beta-kasein menyebabkan gejala pencernaan yang tidak nyaman pada individu tertentu. Tetapi bukti masih terlalu lemah untuk menarik kesimpulan tentang dugaan hubungan antara A1 beta-casein dan kondisi lain. Namun jika Moms tertarik untuk mencobanya, susu A2 bisa menjadi alternatiif,  jika mengalami kesulitan mencerna susu biasa.

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK