Stunting: Apakah Masalah Gizi Semata?

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

Stunting adalah kondisi tubuh anak yang lebih pendek daripada normal. Dikatakan stunting jika tinggi anak menurut usia berada di bawah -3 simpang baku pada kurva pertumbuhan WHO. Kurva pertumbuhan WHO dapat dilihat melalui link di bawah ini:

  1. Anak laki-laki
  2. Anak perempuan

Pada anak yang mengalami stunting biasanya juga kurang mendapat stimulasi perkembangan. Kondisi stunting dapat berlanjut hingga masa anak-anak dan berhubungan dengan gangguan perkembangan yang mencakup kemampuan kognitif, bahasa, dan motorik serta meningkatkan mortalitas dan morbiditas pada anak. Pengaruh stunting tidak berhenti pada masa anak-anak dan dapat mempengaruhi kesehatan pada saat anak beranjak dewasa.

Untuk menghindari terjadinya stunting pada anak terutama pada usia di bawah 2 tahun, ayah dan ibu dapat memperhatikan beberapa hal antara lain:

  1. Memastikan kecukupan nutrisi saat hamil
  2. Menyusui ASI eksklusif terutama sampai dengan usia 6 bulan
  3. Responsif terhadap tanda bayi atau anak lapar
  4. Menjaga kebersihan dalam kehidupan sehari-hari
  5. Memantau pertumbuhan bayi atau anak sebisa mungkin 1 kali dalam sebulan

Semoga anak ayah dan ibu selalu dijaga kebersihannya setiap hari, nutrisi pun selalu terpenuhi.

Sumber: link berikut

Tanda-tanda Gigi Akan Tumbuh

 

 

 

oleh drg. Stella Lesmana, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Halo ayah dan ibu, sebagai orang tua tentunya perlu mengetahui tanda-tanda gigi yang akan tumbuh. Tanda tersebut antara lain:

  1. Gusi bengkak dan kemerahan
  2. Gusi yang digesek-gesekkan dengan jari atau menghisap ibu jari
  3. Menggigit-gigit benda apapun untuk membantu mengurangi rasa tidak nyaman pada gusi
  4. Anak tidak mau makan
  5. Anak mengeces atau kelar air liur lebih banyak
  6. Demam
  7. Sulit tidur
  8. Menggosok-gosok area pipi atau telinga terutama jika gigi yang mau tumbuh adalah gigi geraham (berada di area belakang, lebih ke arah pipi samping atau telinga)

Yang dapat ayah dan ibu lakukan antara lain:

  1. Memeluk anak untuk memberikan rasa nyaman, berikan distraksi dengan mengajak bermain atau mendongeng
  2. Pastikan gusi dalam keadaan bersih meskipun gigi belum tumbuh
  3. Gosokkan jari kita yang bersih ke gusi bayi untuk mengurani rasa tidak nyaman pada gusi, pijat lembut selama 1-2 menit dan dapat pula digunakan teething gel
  4. Berikan teether
  5. Berikan biskuit dingin rendah gula yang bertekstur lembut

Nah itulah beberapa tanda dan tips menghadapi bayi yang akan tumbuh gigi. Selamat mencoba, ayah dan ibu!

Gigi Pada Bayi yang Baru Lahir

 

 

 

oleh drg. Stella Lesmana, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Ayah dan ibu mungkin pernah mendengar ada anak kerabatnya yang langsung memiliki gigi saat lahir. Gigi ini disebut natal teeth. Selain natal teeth juga ada neonatal teeth, yaitu gigi yang tumbuh dalam rentang waktu 30 hari pasca kelahiran. Natal teeth tiga kali lebih sering terjadi dibandingkan neonatal teeth. Penyebabnya masih diteliti namun diduga penyebabnya antara lain posisi benih gigi yang memang letaknya lebih dekat ke permukaan gusi, demam tinggi, gangguan hormon, infeksi, malnutrisi, dan kondisi kehamilan ibu yang kurang sehat.

Sebanyak 10% natal atau neonatal teeth adalah gigi yang berlebih (jika dicabut akan tumbuh lagi gigi susu yang sebenarnya), namun sebanyak 90% natal atau neonatal teeth ini adalah gigi susu yang tumbuh dini. Dokter gigi akan mengevaluasi terlebih dulu apakah gigi yang tumbuh perlu dicabut atau tidak. Gigi aka dicabut  jika mengganggu proses menyusui baik membuat si bayi sulit menyusu atau mengganggu ibu (menimbulkan rasa sakit) saat menyusui apalagi biasanya natal atau neonatal teeth tumbuh pada area depan rahang bawah. Yang terpenting jangan sampai gigi tersebut menghambat asupan nutrisi bagi bayi. Jika demkian maka harus dilakukan pencabutan gigi. Sebaiknya bawalah ke dokter gigi spesialis anak dan jangan lupa infokan jika bayi memiliki kelainan darah.

Tips Pembiayaan Perawatan Gigi Anak

 

 

 

oleh drg. Eva Yuli Andari, MA

Dokter Gigi Umum, Master of Arts in Health Management, Planning, and Policy

Berbicara soal perawatan gigi tentu tidak lepas dari masalah pembiayaannya. Sudah bukan rahasia lagi kalau perawatan gigi itu cukup mahal harganya. Kenapa bisa mahal? Karena dalam perawatan gigi, terdapat alat dan bahan yang digunakan. Biasanya semakin bagus quality bahannya, semakin mahal harganya. Di jaman sekarang ini, perawatan gigi sebenarnya dapat lebih terjangkau dengan adanya BPJS. Namun tentu saja, semua pilihan ada plus-minusnya. Memang menggunakan fasilitas BPJS cukup mengirit biaya perawatan gigi, hanya saja, untuk beberapa kasus tertentu, perawatan gigi dengan BPJS harus melewati alur-alur fasilitas kesehatan tertentu yang cukup memakan waktu dan tenaga (sistem rujukan). Karena itu pada akhirnya beberapa keluarga memutuskan untuk lebih memilih perawatan swasta yang lebih cepat dan ringkas dari segi antrian. Nah di artikel kali ini, Kejora mau membahas tips and trick dalam merencanakan pembiayaan perawatan gigi anak untuk keluarga sehat Kejora. Yuk kita mulai!

PERAWATAN PREVENTIF (PENCEGAHAN)

Pastinya keluarga Kejora sudah familiar dong dengan istilah “mencegah lebih baik daripada mengobati”? Nah di dunia kesehatan gigi, ini betul sekali! Seperti sudah dibahas di artikel sebelumnya, membawa anak ke dokter gigi sebaiknya dimulai dari sejak gigi anak pertama keluar atau setahun pertama usia anak kita. Selain baik untuk menjaga agar giginya tetap sehat hingga dewasa nanti, tentunya hal ini juga menghemat biaya lho!
Mending mana, keluar biaya sekitar dibawah 500 ribu per 6 bulan untuk biaya konsultasi (atau bahkan gratis bila menggunakan BPJS) dibanding membayar biaya perawatan disaat giginya keburu berlubang? Tentu pilih pencegahan kan, keluarga Kejora?

PERAWATAN KURATIF (PENGOBATAN)

Merasa telat membaca artikel ini karena keburu gigi anaknya sudah pada berlubang semuanya? Hmm… sedih sih, tapi jangan khawatir karena kita bisa cari solusinya bersama-sama! Apabila gigi anak sudah keburu rusak banyak, inilah langkah-langkah yang harus keluarga Kejora lakukan:

  1. Datang periksa ke dokter gigi untuk melakukan medical check up
  2. Minta dokter gigi anda untuk membuatkan daftar kasus beserta perkiraan biaya perawatannya hingga selesai
  3. Cek sumber pembiayaan kesehatan gigi keluarga anda! Apakah ditanggung kantor? Asuransi? Pribadi? Ataukah BPJS?
  4. Apabila ditanggung kantor/asuransi, cek limit yang anda punya untuk memperkirakan berapa biaya tambahan yang kira-kira akan anda keluarkan untuk perawatan ini
  5. Apabila mempunyai budget yang sangat terbatas (dan juga waktu yang terbatas), kombinasikan antara perawatan yang bisa dilakukan di klinik BPJS dengan perawatan yang ingin dilakukan di klinik swasta

Nah dari tips di atas, biasanya akan muncul pertanyaan selanjutnya, emang apa sih bedanya perawatan di klinik BPJS dengan non-BPJS (swasta)?

Begini Mom, Dad, sesuai dengan peraturan dari pihak BPJS, perawatan yang bisa dilakukan di klinik BPJS hanya boleh 1 perawatan per 1 kali kunjungan. Jadi kalau giginya bolong 4, ya harus 4 kali bolak-balik. Selain itu, untuk beberapa pilihan perawatan, biasanya harus dirujuk ke rumah sakit sehingga harus juga bolak balik untuk minta rujukan dari faskes 1 perawatan, ke rumah sakit yang dituju. Bagi anda yang waktunya terbatas, tentu ini menghabiskan waktu dan tenaga, sehingga perawatan di klinik swasta menjadi pilihan yang lebih baik. Namun tentu saja akan ada biaya tambahan yang dikeluarkan apabila tidak menggunakan BPJS.

Jadi begitulah tips dari Kejora bagi keluarga Kejora yang ingin melakukan perencanaan pembiayaan perawatan gigi buah hatinya. Semoga berguna ya!