oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

 

Halo Keluarga Kejora,

Memasuki bulan September ada sebuah selebrasi dari bidang kesehatan gigi di Indonesia. Semenjak tahun 2011,  tanggal 12 September diperingati sebagai Hari Kesehatan Gigi Nasional. Peringatan mengenai Hari Kesehatan Gigi Nasional pertama kali digagas oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH.,DR PH.

Momentum tersebut juga sebagai tanda dimulainya Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) untuk yang pertama kali. Kementerian Kesehatan  yang diwakili oleh Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Kesehatan, dr. Bambang Giyatno, MPH dan bekerja sama dengan berbagai elemen seperti Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia serta pihak swasta, membuka secara resmi Bulan Kesehatan gigi Nasional (BKGN) 2011 di Lapangan Gasibu, Bandung.

Salah satu tujuan dibentuknya kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan gigi dan mulut. Namun memasuki tahun ke-9 BKGN, masih terdapat masyarakat yang belum menyadari pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Selain itu, banyak mitos yang beredar terkait kesehatan gigi dan seringkali membuat masyarakat bingung, apakah tindakan perawatan gigi yang dilakukan selama ini sudah tepat atau hanya mitos belaka.

Berikut beberapa mitos yang sering timbul di masyarakat terkait kesehatan gigi dan mulut, seperti :

 

Mitos 1 : “Dok, saya terbiasa menyikat gigi langsung sehabis makan agar gigi menjadi bersih, benar kan?”

Fakta : Menyikat gigi 2x sehari pada pagi dan malam hari, memang sebaiknya dilakukan setelah makan. Namun anda harus memberi jeda sebanyak 30 – 60 menit setelah mengkonsumsi makanan, terutama makanan dengan kandungan asam. Karena hal ini akan menyebabkan bagian permukaan luar gigi (enamel) terpapar dan dapat mengikis permukaan tersebut dan berpotensi mempercepat proses kerusakan pada gigi. Minum air putih setelah makan dapat membantu agar sisa bahan makanan tidak terlalu lama melekat pada permukaan gigi.

 

Mitos 2 : “ Bu dokter, aku suka melihat Ayah menyikat gigi dengan keras. Kata Ayah supaya sisa makanan tidak tertinggal. Apa sikat gigi harus keras agar bersih?”

Fakta : Sikat gigi yang terlalu keras dengan jangka waktu lama dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan gusi dan gigi. Tekanan yang terlalu keras saat menyikat gigi akan membuat gusi mengalami resesi gingiva ( gusi turun ) dan kerusakan pada lapisan permukaan email ( permukaan luar gigi ).  Jadi hindari sikat gigi yang terlalu keras dan mulai menyikat gigi secara tepat untuk menjaga kesehatan gigi dan gusi anda

 

Mitos 3 : ” Dok gigi saya sedang sakit dan saya sudah tidak tahan lagi. Apa gigi yang sakit bisa dicabut saat ini juga?”

Fakta : Meski pencabutan gigi adalah sebuah prosedur yang cukup aman untuk dilakukan, namun hal tersebut bisa menjadi berbahaya apabila saat tindakan terdapat bakteri di dalam aliran darah. Jaringan gusi dapat berisiko mengalami infeksi. Salah satu tanda gigi bermasalah dan sedang mengalami infeksi adalah gigi tersebut sakit atau bengkak. Bila terjadi kondisi seperti itu, dokter gigi biasanya akan memberikan pengobatan terlebih dahulu sebelum dilakukan tindakan pencabutan gigi.

 

Mitos 4 : “Dok, memang benar cabut gigi dapat menyebabkan mata menjadi buta?”

Fakta : Gigi merupakan bagian dari organ tubuh yang saling berkaitan dengan organ tubuh lainnya. Pembuluh darah, serabut saraf yang berada pada gigi, menjadikan gigi dapat berkontak dengan bagian tubuh lain. Pertanyaan mengenai kebutaan pada mata yang terjadi setelah pencabutan gigi, sering dikeluhkan masyarakat awam terutama bila pencabutan gigi pada bagian rahang atas. Dugaan mitos ini muncul karena letak yang cukup dekat antara mata dan gigi di rahang atas.

Saraf kranial ke-5 yakni saraf trigeminus yang memiliki tiga buah cabang yakni, oftalmikus (mata), maksila (rahang atas dan sekitarnya) dan mandibula ( rahang bawah dan sekitarnya ). Sehingga saat anestesi dilakukan untuk pencabutan gigi rahang atas, maka saraf yang dituju adalah saraf maksila dan ini mengurangi kemungkinan terjadinya kerusakan pada organ mata terutama masalah kebutaan.

Namun perlu diingat, selalu ada kemungkinan atau komplikasi yang bisa terjadi apabila anestesi tidak berjalan dengan baik. Sehingga perlu untuk memberitahukan kondisi medis anda kepada dokter gigi untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

 

Mitos 5 : ” Dok, gigi susu anak saya yang bermasalah tidak perlu dirawat bukan? Nanti juga akan tumbuh gigi permanen?

Fakta : Meski rentang usia gigi susu hanya sebentar dan pada waktunya kelak akan tergantikan oleh gigi permanen, tetapi gigi susu anak anda harus tetap dijaga dan dirawat apabila mengalami masalah.

Karena gigi susu yang akan menjaga tempat gigi tetap. Tanpa gigi susu yang sehat, anak akan mengalami kesulitan saat mengunyah makanan, berbicara atau masalah saat gigi tetap tumbuh. Jadi penting sekali untuk menjaga kebersihan gigi susu, sehingga mengurangi potensi terjadinya karies dan masalah gigi pada buah hati anda.

 

Jadi dengan mengetahui fakta dari mitos yang ada di masyarakat mengenai gigi, ayah dan ibu Kejora lebih bisa meningkatkan kepedulian akan kesehatan gigi dan mulut keluarga agar lebih baik lagi di masa yang akan datang

 

Selamat Hari Kesehatan Gigi Nasional 2020

Kejora Indonesia

 

Sumber:

https://www.ada.org.au/Dental-Health-Week-2017/Oral-Health-for-Busy-Lives/Brushing

https://www.webmd.com/oral-health/guide/pulling-a-tooth-tooth-extraction

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5427453/

https://jada.ada.org/article/S0002-8177(14)65077-7/fulltext

https://www.webmd.com/parenting/baby/caring-babies-teeth

https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://promkes.kemkes.go.id/hari-kesehatan-gigi-dan-mulut-nasional&ved=2ahUKEwj68oCk1NbrAhWKyDgGHU2kDBAQFjAAegQIAhAB&usg=AOvVaw08ueQQIaMwXrYNyTZ9zOEc

https://www.unilever.co.id/news/press-releases/2011/12-september-sebagai-hari-kesehatan-gigi-nasional.html

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *