oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Hipertensi dalam kehamilan (pregnancy-induced hypertension, PIH) adalah meningkatnya tekanan darah (sistolik ≥140 mmHg atau diastolik ≥90 mmHg) yang terjadi dalam masa kehamilan. Hipertensi yang terjadi selama kehamilan ini dibagi menjadi 3, yaitu:

  • Hipertensi kronis: mereka yang memiliki tekanan darah tinggi (di atas 140/90 mmHg) sebelum kehamilan hingga awal hamil (sebelum usia kehamilan 20 minggu), atau hipertensi yang menetap hingga setelah melahirkan.
  • Hipertensi Gestasional: hipertensi yang terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu dan hilang setelah ibu melahirkan,
  • Preeklampsia: Baik hipertensi kronis maupun hipertensi gestasional dapat berlanjut menjadi kondisi ini setelah usia kehamilan di atas 20 minggu. Gejala yang termasuk adalah hipertensi yang disertai adanya protein dalam urin ibu dan juga edema (pembengkakan) pada kedua kaki. Jika tidak ditangani dengan serius, pre-eklampsia ini dapat berlanjut menjadi eklampsia, dengan gejala yang mengancam nyawa seperti kejang hingga koma.

Terdapat ± 10% ibu hamil yang mengalami hipertensi gestasional selama kehamilannya, dan hipertensi gestasional ini harus diperhatikan dengan serius karena meningkatkan risiko kesakitan dan kematian bagi ibu maupun bayi setelah lahir. Hipertensi dapat menyebabkan plasenta tidak mendapatkan darah yang cukup, sehingga bayi dalam kandungan tidak mendapatkan nutrisi dan oksigen yang cukup, sehingga dapat terjadi kelahiran prematur dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Beberapa penelitian menemukan hubungan bahwa asupan kalsium dapat menyebabkan, mencegah, dan digunakan sebagai pengobatan untuk hipertensi. Contohnya, program diet Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) yang memberikan diet berisi 8-10 sajian sayuran dan buah-buahan dan hampir 3 sajian produk susu rendah lemak berhasil menurunkan tekanan darah sistolik hingga 5,5 mmHg dan diastolik 3,0 mmHg; jika dibandingkan dengan diet biasa yang rendah konsumsi sayuran, buah-buahan dan produk susunya. Efek suplementasi kalsium ini nampaknya paling relevan pada orang-orang yang sensitive terhadap garam natrium, mereka yang tidak tercukupi kebutuhan kalsiumnya, dan ibu hamil yang mengalami hipertensi gestasional.

Normalnya, dalam setiap kehamilan, terjadi penurunan tekanan darah dan secara perlahan kembali meningkat hingga akhir masa kehamilan. Dalam kehamilan, kalsium dibutuhkan untuk mineralisasi tulang janin. Oleh karena itu, kebutuhan kalsium ibu hamil meningkat sekitar 300 mg/hari. Bertambahnya volume darah pada ibu hamil dan bertambahnya ekskresi kalsium di urin juga menyebabkan peningkatan kebutuhan kalsium pada ibu hamil.

Siapa sajakah yang berisiko mengalami hipertensi gestasional?

  • ibu yang hamil pertama kalinya
  • riwayat keluarga (ibu atau saudara yang mengalami hipertensi gestasional)
  • kehamilan kembar
  • perempuan <20 th dan >40 th
  • obesitas
  • diabetes
  • konsumsi bahan makanan sumber kalsium yang rendah

Bagaimana cara mengetahui hipertensi gestasional?

Tekanan darah normal adalah 119/79 mmHg atau dibawahnya. Seorang yang mengalami tekanan darah tinggi ini pada umumnya tidak akan terlalu menunjukkan tanda atau gejala, sehingga pemeriksaan tekanan darah pada setiap kunjungan pemeriksaan harus dilakukan karena terkadang hipertensi dapat ditemukan pada seseorang tanpa tanda atau gejala apapun. Selain memeriksakan tumbuh-kembang janin dan aliran darah ke plasenta dalam kondisi yang baik, pastikan untuk memeriksa tekanan darah pada setiap pemeriksaan kehamilan, dan tanyakan pada dokter spesialis kandungan apakah pemeriksaan urin, fungsi ginjal dan fungsi pembekuan darah dibutuhkan untuk diperiksa.

Bagaimana cara untuk menghindari hipertensi gestasional?

Saat ini, belum ada cara yang pasti untuk menghindari hipertensi. Namun, terdapat beberapa faktor risiko yang dapat dikontrol untuk mencegah hipertensi gestasional:

  • tidak menggunakan garam secara berlebihan
  • lebih banyak menggunakan bumbu/bahan bumbu masakan natural tanpa pengawet
  • menghindari makanan kemasan tinggi garam/penyedap monosodium glutamat (MSG), contoh: bumbu mi instan, keripik kentang dan keripik singkong kemasan, daging yang diawetkan (sosis, kornet, sarden, dll)
  • membaca label makanan, pilih makanan dengan kadar natrium rendah
  • minum air putih sedikitnya 8 gelas sehari
  • menurunkan berat badan (lingkar perut pria <90 cm, lingkar perut wanita <80 cm) (setiap penurunan 1 kg BB akan menurunkan ± 1 mmHg)
  • kurangi asupan makanan berminyak yang digoreng dan junkfood.
  • makan makanan yang sehat (membuat jurnal makanan: mencatat apa saja yang kita makan, berapa banyak, kapan dan mengapa; banyak mengonsumsi sayuran dan buah-buahan tinggi kalium)
  • beristirahat dengan cukup
  • berolahraga secara teratur (150 menit/minggu atau 30 menit setiap hari) dapat menurunkan 5-8 mmHg
  • menaikkan posisi kaki beberapa kali sepanjang hari
  • berhenti merokok dapat menurunkan tekanan darah, mengurangi risiko penyakit jantung, dan meningkatkan kesehatan
  • hindari konsumsi alkohol
  • hindari konsumsi minuman yang mengandung kafein berlebihan (kopi, teh, coklat). Kafein dapat menaikkan tekanan darah hingga 10 mmHg
  • pada beberapa kondisi, dokter mungkin akan memberikan suplemen dan/atau obat.

Beberapa contoh makanan tinggi kalsium:

  • 1 gelas susu (276 mg)
  • 1 cup almond (367 mg)
  • 100 g tahu goreng (372 mg)
  • 1 cup bok choy (158 mg)
  • 1 gelas jus jeruk (72 mg)
  • 1 cup broccoli (74 mg)

Bagaimana dengan suplemen? Apakah suplementasi kalsium diperlukan?

Tidak semua orang membutuhkan suplementasi kalsium. Suplementasi kalsium dibutuhkan hanya pada ibu hamil yang tidak cukup mengonsumsi kalsium (<1000 mg) dari makanannya sehari-hari. Kebutuhan seorang ibu hamil adalah 1.200 – 1.400 mg kalsium per hari, dan disarankan tidak mengonsumsi kalsium >2.500 mg/hari. Konsumsi kalsium yang berlebihan dapat menyebabkan batu ginjal, juga mengganggu penyerapan seng (zinc) dan zat besi.

Untuk menentukan apakah seorang ibu hamil membutuhkan suplementasi, dapat dilakukan pemeriksaan kadar kalsium ion. Bila memang diperlukan, dokter akan memberikan suplementasi kalsium dan mungkin diberikan bersama dengan vitamin D, yang dapat membantu penyerapan kalsium.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *