Pertolongan Pertama dan Manajemen Trauma pada Gigi Anak

 

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora,

Kecelakaan dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Kecelakaan dapat terjadi baik dalam skala kecil seperti terjatuh atau bisa juga berakibat fatal. Efek dari kecelakaan memiliki hal yang cukup serius, salah satunya terjadi pada gigi.

Trauma kecelakaan pada anak sering terjadi pada usia dini, seperti terjatuh saat anak belajar berjalan atau berlari. Hal ini karena kemampuan motorik pada usia tersebut masih sangat minim. Selain itu, memasuki usia pra sekolah anak juga seringkali mengalami trauma pada gigi seperti terdorong saat bermain dengan teman, bermain dengan benda keras dengan berbagai resiko lain. Namun, bukan hanya pada usia dini saja, pada usia 8-12 tahun kecenderungan gigi mengalami trauma karena terjatuh saat bermain sepeda, sepatu roda dan aktivitas lain dapat terjadi.

Beberapa aktivitas di atas dapat menimbulkan reaksi trauma pada gigi salah satunya adalah avulsi. ​Kondisi dimana gigi keluar dari tempatnya (soket/ruang gigi) karena trauma dikenal dengan avulsi​. ​Dimana pada kasus avulsi, gigi lepas secara utuh akibat adanya benturan​. Gigi avulsi terjadi pada 1% – 16% kejadian trauma pada gigi permanen anak. Bila hal ini terjadi pada gigi susu maka gigi tersebut tidak dapat dipasang kembali. Hal yang dapat dilakukan hanya observasi dan menunggu hingga gigi permanennya tumbuh, atau jika tidak mau terlihat ada gigi yang hilang maka dapat dipertimbangkan dibuatkan gigi buatan.

Bila hal ini terjadi pada gigi permanen maka yang dapat ayah ibu lakukan sebagai bentuk pertolongan pertama adalah

    1. Cari gigi yang lepas, kemudian cuci bersihkan. Usahakan untuk memegang bagian mahkota gigi bukan pada bagian akar gigi.
    2. Letakkan kembali pada gusi dimana gigi tersebut seharusnya berada, namun bila orang tua ragu segeralah ke dokter gigi. Gigi dapat direndam dalam wadah berisi susu (susu cair apapun) atau air liur.

Waktu yang paling baik untuk memasukkan gigi kembali ke gusinya adalah sesegera mungkin, namun periode waktu terbaiknya (golden period) adalah 60 menit pasca kejadian.

Selain posisi gigi yang terlepas dari soket, salah satu masalah yang dapat terjadi pada gigi anak saat trauma yakni fraktur gigi atau gigi patah. Fraktur dapat terjadi pada gigi susu maupun gigi permanen. Bagian gigi yang hilang dapat terjadi pada enamel, dentin, pulpa gigi, serta bisa juga fraktur pada bagian akar.

Perawatan yang dapat dilakukan

Alternatif perawatan dapat dilakukan tergantung pada stabilitas dari gigi yang terpapar trauma.

    • Bila gigi masih kokoh dan tidak menimbulkan sakit, anda dapat melakukan observasi dan mengecek berkala kondisi gigi anak
    • Bila terjadi rasa sakit cek ke dokter gigi, kompres es apabila terjadi perdarahan pada gigi dan berikan obat pereda nyeri untuk meredakan sakit
    • Bila gigi goyang dan terjadi rasa sakit, segera cek ke dokter gigi untuk dilihat derajat kegoyangannya. Pada gigi susu jika kegoyangan cukup parah dapat dipertimbangkan pencabutan gigi. Pada gigi permanen dapat dilakukan stabilisasi (menahan gigi dengan bantuan alat sehingga tidak goyang lagi), namun ini juga dilihat derajat keparahannya.

Segera konsultasikan dengan dokter gigi terdekat bila hal-hal diatas terjadi ya, ayah dan ibu..

Editor : drg. Stella Lesmana, SpKGA

Sumber :

https://www.ada.org.au/Your-Dental-Health/Children-0-11/Dental-Trauma
https://www.dentalcare.com/en-us/professional-education/ce-courses/ce98/root-fracture
https://www.ncbi.nlm.nih.gov
Replantation of an Avulsed Maxillary Incisor after 12 Hours: Three-Year Follow-Up – NCBI

Ibu, Mengapa Gigi Aku Berwarna Kuning?

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

Hai Keluarga Kejora,

Apakah anda pernah mendapatkan pertanyaan si buah hati mengapa warna gigi tidak putih melainkan kuning? Atau saat gigi dewasa yang erupsi (tumbuh) warna gigi menjadi lebih kuning dibandingkan gigi anak sebelumnya? Atau mungkin Ayah dan Ibu pernah menyadari warna gigi anda terlihat lebih gelap dari beberapa tahun lalu?

Apa penyebab gigi berwarna kuning?

Sebelumnya, memang terdapat perbedaan paling mendasar dalam segi anatomi maupun warna baik dari gigi anak maupun gigi tetap. Pada gigi anak, lapisan permukaan email cenderung lebih tipis dan berwarna lebih putih. Hal ini yang menyebabkan gigi anak sering dinamakan gigi susu, karena warna gigi anak putih seperti susu. Sementara gigi tetap atau gigi dewasa memiliki warna lebih kekuningan dibandingkan gigi anak, karena lapisan permukaan yang lebih tebal dan warna dentin yang lebih kuning. Oleh karena itu, gigi permanen terlihat lebih kekuningan dibanding gigi susu.

Namun, selain dari perbedaan mendasar pada warna antara gigi susu dan gigi tetap, ada hal lain yang juga berpotensi membuat gigi mengalami perubahan warna. Beberapa hal dibawah ini dapat menyebabkan terjadinya perubahan warna pada gigi:

  1. Makanan dan minuman

Beberapa jenis makanan dan minuman dapat menyebabkan perubahan warna pada gigi. Seperti teh, kopi, minuman bersoda dapat menyebabkan stain pada gigi.

  1. Tembakau dan kebiasaan merokok, bahan ini juga mengakibatkan terjadinya stain pada gigi dan menyebabkan terjadinya perubahan warna pada gigi
  2. Kesehatan mulut yang buruk

Tidak memperhatikan kebersihan gigi dan mulut, seringkali membuat kesehatan gigi dan mulut menjadi buruk. Rajin melakukan sikat gigi 2 kali sehari, membersihkan sisa makanan disela gigi dengan dengan dental floss, berkumur dengan cairan antiseptik untuk menghilangkan plak dan mengurangi produksi stain yang menyebabkan terjadinya perubahan warna pada gigi.

  1. Menderita penyakit

Beberapa penyakit dapat mengakibatkan perubahan warna gigi terutama berkaitan dengan perawatan yang dilakukan. Sebagai contoh ; radiasi kepala dan leher, kemoterapi yang bisa menyebabkan terjadinya perubahan warna gigi.

  1. Pengobatan

Beberapa obat seperti antibiotik tetracycline, doxycycline dapat menyebabkan perubahan warna gigi, terutama bila diberikan pada usia anak-anak masa pertumbuhan. Chlorhexidine, Cetylpyridinium chloride juga dapat menyebabkan stain pada gigi. Beberapa obat golongan antihistamin dan obat hipertensi juga dapat menyebabkan perubahan warna gigi.

  1. Bahan Material Gigi

Beberapa bahan material yang digunakan dalam kedokteran gigi terutama dalam penambalan seperti restorasi amalgam, seringkali dalam waktu lama dapat menyebabkan warna hitam keabu-abuan pada gigi.

  1. Penambahan Usia

Semakin bertambahnya usia, lapisan email bagian luar menjadi semakin tipis atau usang, sehingga warna kuning yang berasal dari lapisan dentin tampak lebih terlihat.

  1. Genetik

Pada beberapa orang sering terdapat email gigi dengan warna lebih gelap, terang maupun lapisan permukaan yang lebih keras.

  1. Lingkungan

Konsumsi kandungan fluoride yang cukup tinggi dari lingkungan, seperti kadar fluoride dalam air atau kadar penggunaan yang tinggi seperti aplikasi fluoride di pasta gigi, suplemen fluoride dapat menyebabkan terjadinya perubahan warna.

  1. Trauma

Mengalami trauma seperti terjatuh yang mengenai bagian gigi sehingga menyebabkan kerusakan cukup berat terutama pada usia anak-anak. Gigi yang mengalami trauma cukup berat seringkali menimbulkan perubahan warna pada gigi.

Bagaimana caranya agar kita bisa mencegah terjadinya perubahan warna pada gigi?

    • Menjaga kebersihan gigi dan mulut yang baik dan benar merupakan salah satu cara mencegah perubahan warna pada gigi, seperti sikat gigi 2x sehari, melakukan dental flossing untuk mengambil sisa makanan yang tersisa di sela gigi serta rajin melakukan kontrol ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali.
    • Melakukan perubahan gaya hidup seperti mengurangi konsumsi kopi, teh dan minuman bersoda juga menghentikan kebiasaan merokok agar gigi tidak mudah berubah warna.
    • Apabila penampakan gigi anda terlihat tidak normal karena perubahan warna yang terlalu besar mungkin anda bisa mengunjungi dokter gigi untuk melakukan konsultasi mengenai permasalahan gigi anda.

      Berikut beberapa perawatan yang dapat dilakukan untuk gigi yang mengalami perubahan warna:

      A. Veneer gigi

      B. Whitening office

      C. Home bleaching

      D. Bonding

Sumber :

https://www.webmd.com/oral-health/guide/tooth-discoloration
http://dentalresource.org/topic53stainedteeth.html

Hand, foot, and mouth disease/ flu Singapura

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

 

Halo Keluarga Kejora..

Ayah dan Ibu pasti sudah pernah mendengar istilah “flu Singapura, kan? Sebenarnya seperti apa sih “flu Singapura” itu dan bagaimana ciri-cirinya?

 

Apa sih penyebab flu Singapura?

Flu Singapura, dengan nama lain hand, foot, and mouth disease (HFMD) atau penyakit tangan, kaki, dan mulut, umumnya disebabkan oleh Coxsackievirus tipe A16 dan Human Enterovirus 71.

 

Bagaimana penyebaran flu Singapura?

Penyebaran flu Singapura atau HFMD di lingkungan sekolah dapat terjadi di dalam ruang kelas. Infeksi tidak hanya dapat dialami oleh siswa, namun juga guru atau orangtua.

Penyebaran virus HFMD dari penderita dapat terjadi melalui cairan hidung (ingus), tenggorokan (ludah atau dahak), lesi kulit yang pecah, dan feses. Peningkatan kemungkinan penyebaran virus dapat terjadi akibat beberapa hal seperti kontak erat dengan penderita (berbicara, memeluk, mencium), terpapar melalui udara (bersin atau batuk), kontak dengan feses penderita, dan kontak dengan objek atau permukaan yang tercemar oleh virus HFMD (gagang pintu, permukaan meja, perabotan, dll).

Virus sangat mudah ditularkan oleh penderita HFMD di minggu pertama gejala muncul atau sakit. Terkadang virus masih dapat ditularkan setelah beberapa hari atau minggu, bahkan setelah gejala dan tanda infeksi pada penderita telah hilang.

 

Bagaimana tanda dan gejalanya?

  • Umumnya menyerang anak-anak.
  • Periode inkubasi sekitar 3-10 hari.
  • Diawali dengan demam, tidak enak badan, nyeri tenggorokan/menelan, nafsu makan menurun.
  • Setelah demam 1-2 hari, timbul bintik-bintik merah di rongga mulut (umumnya berawal di bagian belakang langit-langit mulut dan dapat menyebar ke area lidah) yang kemudian pecah menjadi sariawan. Kemudian timbul ruam kulit dan bintik-bintik dengan batas kemerahan di telapak tangan dan kaki dalam 1-2 hari.

  • Ruam juga dapat muncul di tungkai, lengan, bokong, dan kulit sekitar kemaluan.

 

Bagaimakah cara mengobatinya?

  • Fase penyembuhan umumnya terjadi dalam 10 hari.
  • Tidak ada pengobatan khusus untuk HFMD, pengobatan bersifat simptomatik untuk mengatasi keluhan yang ditimbulkannya. Parasetamol dapat diberikan untuk mengatasi demam dan nyeri.
  • Kompres hangat dan pemberian minum yang lebih sering juga membantu menurunkan demam anak. Pada anak yang lebih besar, kumur-kumur dengan obat kumur dapat mengurangi nyeri akibat luka-luka di mulut.

 

Sumber:

  • Cameron AC, Widmer RP. Handbook of Pediatric Dentistry, 4thed. Mosby Elsevier; 2013.
  • Greenberg MS, Glick M. Burket’s Oral Medicine Diagnosis and Treatment, 10th ed.  BC Decker Inc; 2003.

Manajemen Perawatan Gigi pada Ibu Hamil

 

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

Hai Ayah dan Ibu Kejora

Apakah Ibu sedang hamil?

Apakah selama masa kehamilan, Ibu memiliki masalah kesehatan gigi?

Apakah Ibu hamil boleh melakukan perawatan gigi?

Yuk, mari kita cari tahu

Perawatan gigi seperti kontrol secara rutin dan melakukan pembersihan gigi pada ibu hamil tidak hanya aman, tetapi sangat dianjurkan untuk tetap menjaga kebersihan gigi dan mulut selama kehamilan. Peningkatan kadar hormon selama kehamilan sering menyebabkan gusi mudah bengkak, berdarah dan sisa makanan yang terselip di jaringan gusi maupun gigi mengakibatkan iritasi maupun infeksi. Perawatan gigi secara preventif sangat baik untuk dilakukan. Hal ini untuk menghindari infeksi rongga mulut yang dapat mengakibatkan kontraksi pada kehamilan anda.

Perawatan gigi seperti penambalan, pembersihan karang gigi, perawatan saluran akar, pencabutan gigi, bisa dilakukan saat hamil. Berdasarkan ADA dan ACOG untuk pengambilan radiologi gigi juga dapat dilakukan, namun sebaiknya melakukan konsultasi kepada dokter kandungan dengan pilihan terbaik yakni menunda hingga proses persalinan tiba. Sebaiknya juga Ibu hamil menunda perawatan gigi seperti pemutihan gigi, perawatan kosmetik gigi serta tindakan operasi gigi selama kehamilan.

Meskipun perawatan gigi secara preventif masih dapat dilakukan selama kehamilan, namun pilihan terbaik adalah menunda hingga proses persalinan. Hal ini agar mengurangi resiko pada janin meskipun dengan jumlah kecil

Waktu melakukan perawatan gigi bagi ibu hamil

Waktu terbaik untuk melakukan perawatan gigi, yaitu trimester kedua kehamilan. Karena memasuki trimester ketiga kehamilan, biasanya posisi duduk di dental unit dengan waktu yang lama membuat ibu hamil menjadi tidak nyaman. Tentu saja, waktu terbaik melakukan tindakan adalah menunda hingga proses kelahiran, apabila kondisi tidak terlalu mendesak

Rekomendasi Perawatan Gigi berdasarkan usia kehamilan

Trimester Pertama : Edukasi pasien, menjaga oral hygiene (kebersihan gigi dan mulut) dengan baik, lakukan kontrol plak, lakukan pembatasan perawatan gigi untuk kasus periodontal dan tindakan darurat karena janin yang masih terlalu dini

Trimester Kedua : Menjaga ​oral hygiene​, kontrol plak, dapat melakukan perawatan seperti pembersihan karang gigi, kuretase, pencabutan gigi, perawatan saluran akar, penambalan dengan konsultasi terlebih dahulu kepada dokter kandungan. Lakukan kontrol untuk penyakit mulut dan hindari paparan radiologi bila tidak terlalu dibutuhkan

Trimester Ketiga : Biasanya ibu hamil merasa sangat tidak nyaman karena janin semakin membesar. Buatlah perjanjian singkat di pagi hari bila anda ingin melakukan perawatan gigi. Tetap menjaga kebersihan gigi dan mulut / ​oral hygiene, pembersihan karang gigi, hindari perawatan dengan menggunakan radiologi.

Selama trimester ke-2 dan ke-3 pada beberapa ibu hamil sering terjadi penurunan tekanan darah. Usahakan posisi ibu hamil lebih tinggi dari posisi kaki. Untuk mengatasinya, sebaiknya ibu hamil berada dalam posisi miring ke kiri sekitar 10-12 cm atau menempatkan pasien 5% ke 15% pada posisi miring ke sisi kiri untuk meringankan tekanan pada vena cava inferior. Gunakan bantal kecil untuk menopang posisi tersebut agar lebih nyaman.

Peningkatan kadar hormon dan iritasi gusi yang berasal dari faktor lokal seperti plak gigi, menyebabkan beberapa kondisi penyakit mulut dan gusi muncul pada trimester pertama kehamilan hingga setelah melahirkan. Beberapa kondisi penyakit gigi dan mulut yang sering terjadi seperti gingivitis gravidarum, granuloma piogenik serta perubahan saliva.

Penting untuk diketahui, bahwa kehamilan tidak menyebabkan langsung penyakit periodontitis, tetapi semakin memperburuk kondisi yang telah ada selain karena peningkatan kadar hormon. Karena peningkatan kadar estrogen pada saliva, proliferasi di mukosa mulut dapat menyebabkan rongga mulut menjadi tempat yang baik untuk bakteri dapat tumbuh. Bila bakteri terus berada di dalam rongga mulut dan tidak ditangani secara tepat dapat menyebabkan karies / lubang pada gigi.

page2image4914208

Tips Perawatan Gigi selama Periode Kehamilan

    • ADA ( American Dental Association) merekomendasikan wanita hamil untuk melakukan konsumsi makanan secara seimbang, menyikat gigi menggunakan pasta gigi berfluoride dua kali sehari dan memakai dental floss
    • Melakukan perawatan secara preventif dan rutin melakukan kontrol gigi selama kehamilan
    • Informasikan kepada dokter gigi anda bahwa anda sedang hamil
    • Menunda segala tindakan perawatan gigi hingga trimester kedua, atau lebih baik menunda hingga proses persalinan
    • Usahakan posisi duduk selama perawatan gigi nyaman, jangan buat posisi menyilang selama duduk di ​dental chair
    • Bawa bantal kecil untuk menopang tubuh anda saat melakukan perawatan gigi
    • Buat diri anda nyaman selama perawatan gigi berlangsung

 

Sumber :

www.americanpregnancy.org/pregnancy-health/dental-work-and-pregnancy/

www.ada.org/en/member-centre/oral-health-topics/pregnancy

www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3768073/#!po=43.7500

Bagaimana Membatasi Camilan Manis pada Anak?

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Halo ayah dan ibu kejora..!

Kali ini saya akan membahas tentang konsumsi camilan manis pada si Kecil ya. Camilan manis tersebut seperti, permen, kue, biskuit, dan makanan atau minuman manis yang dikonsumsi oleh anak diantara waktu makan utama ternyata dapat menyebabkan terjadinya lubang pada gigi lho.

Bagaimana gula dapat menyerang gigi?

Kuman yang sering kita sebut bakteri, tidak terlihat oleh kasat mata ini hidup dalam rongga mulut kita. Sebagian besar bakteri ini dapat membentuk lapisan lengket yang disebut ‘plak’ pada permukaan gigi. Sukrosa (salah satu jenis gula) merupakan ‘makanan’ bagi bakteri. Saat si Kecil mengonsumsi camilan manis, bakteri dalam plak akan mengubah gula menjadi zat asam yang akhirnya akan melemahkan struktur gigi. Zat asam ini cukup kuat untuk menghancurkan lapisan email pada gigi. Proses inilah yang mengawali terjadinya lubang pada gigi. Bila si Kecil tidak mengonsumsi camilan manis dalam jumlah yang banyak, maka bakteri tidak akan memproduksi banyak zat asam sehingga proses lubang gigi dapat dicegah.

Bagaimana agar camilan manis yang dikonsumsi si Kecil tidak menyebabkan lubang pada gigi?

Ketahuilah batasannya

  • U.S. Food Drug Administration (FDA) merekomendasikan bahwa anak usia 3 tahun keatas tidak boleh mengonsumsi lebih dari 12.5 sendok teh gula tambahan (sama dengan 1 kaleng soda). World Health Organization (WHO) merekomendasikan bahwa orang dewasa tidak boleh mengonsumsi lebih dari 6 sendok teh gula tambahan, sedangkan anak-anak tidak lebih dari 3 sendok teh gula tambahan. Saat memilih camilan, perhatikan label komposisi gula pada camilan tersebut. Biasanya kandungan gula tertulis dalam satuan gram. Karena 1 sendok teh gula setara dengan 4 gram,pastikan agar camilan manis yang dikonsumsi si Kecil berkisar antara 12-50 gram/hari.
  • Memperbanyak konsumsi camilan yang mengandung gula alami seperti susu dan buah.

Hindari konsumsi minuman bersoda

Minuman bersoda sangat buruk bagi kesehatan gigi. Kandungan gula yang terdapat pada sekaleng soda dikatakan setara dengan jumlah gula yang direkomendasikan untuk anak selama 3 hari. Beberapa penelitian pun menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara minuman soda yang dikonsumsi dengan kesehatan gigi yang buruk pada remaja.

Berhati – hatilah dengan kudapan manis yang lengket pada gigi

Apabila anda beranggapan bahwa kudapan buah yang dikeringkan (contoh/; kismis) merupakan kudapan sehat untuk anak, maka anda harus berhati-hati. Banyak orangtua kaget bahwa kudapan jenis ini lebih mirip dengan permen dibanding dengan buah. Bahkan, kudapan ini lebih buruk dibandingkan dengan permen karena konsistensinya yang lengket dapat melekat lebih lama pada permukaan gigi bila dibandingkan susu cokelat yang lebih mudah larut.

Jadilah contoh bagi si Kecil

Ayah dan ibu pasti akan melakukan apapun untuk sang buah hati, kan? Kalau begitu, apakah ayah dan ibu sanggup untuk melakukan hal-hal diatas pada diri sendiri? Memberi teladan bagi anak dapat membuat perbedaan besar dalam kesehatan seluruh keluarga. Apabila anda ingin mengubah kebiasaan si Kecil, maka lakukanlah hal yang sama dengan mereka dan jadilah teladan yang baik.

Sumber :

Editor : drg. Saka Winias,. M.Kes., Sp.PM

Apakah Karang Gigi Bisa Terjadi pada Anak?

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

Halo Ayah dan Ibu Kejora,

Periode masa kanak-kanak adalah waktu yang tepat bagi Ayah dan Ibu untuk mempersiapkan pertumbuhan dan perkembangan buah hati, tidak terkecuali dengan kesehatan gigi dan mulut. Menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan baik dan benar, merupakan salah satu kebiasaan penting yang bisa dilakukan oleh Ananda. Karena kesehatan mulut yang buruk, bisa mendatangkan penyakit gigi, bahkan menyebabkan kehilangan gigi secara dini. Gigi anak memang bersifat sementara dan akan diganti oleh gigi tetap, namun bila tidak dirawat dengan baik bisa menimbulkan penyakit ataupun kelainan pada gigi dan mulut. Salah satu kelainan yang bisa terjadi pada gigi anak adalah karang gigi (​tartar/kalkulus) yang melekat pada permukaan gigi anak.

Bagaimana bisa terjadi karang gigi pada gigi anak?

Tentu Ayah dan Ibu sebagai orang tua berpikir, bahwa karang gigi atau yang biasa disebut dengan kalkulus, hanya terdapat pada kondisi gigi dan mulut tertentu atau hanya terjadi pada orang dewasa. Namun, karang gigi dan penyakit gusi bisa juga terjadi pada anak.

Karang gigi merupakan mineral keras yang melekat pada permukaan gigi, celah gigi, atau di atas garis gusi. Karang gigi dapat terjadi di semua usia, bahkan pada anak sekalipun.

Apa penyebab karang gigi?

Penyebab karang gigi adalah plak. Plak adalah suatu akumulasi lapisan lunak yang terdiri dari bakteri dan sisa makanan yang tertinggal, terutama karbohidrat, yang menutupi permukaan gigi. Bila plak tidak dibersihkan dengan baik oleh sikat gigi maupun ​dental floss, plak yang terkena kandungan mineral di dalam saliva (air liur) dapat mengeras, sehingga membentuk lapisan karang gigi.

Bagaimana karang gigi dapat berpengaruh terhadap gigi dan gusi?

Kehadiran karang gigi dapat mempersulit proses pembersihan gigi, seperti saat menyikat gigi atau ​dental ​flossing. Karang gigi yang melekat pada permukaan gigi dan tidak terangkat bisa menyebabkan terjadinya lubang pada gigi serta bau mulut.

Karang gigi yang berada di bawah permukaan gigi bisa mengakibatkan efek samping. Efek samping tersebut dikarenakan bakteri yang terkandung di dalam karang gigi dapat membuat infeksi dan merusak gigi. Selain itu, dalam jangka waktu panjang, dapat menyebabkan penyakit gusi atau penyakit periodontal.

Bentuk paling ringan dari penyakit gusi adalah gingivitis. Gingivitis adalah radang pada gusi yang bisa terjadi pada semua tingkatan usia. Ciri yang sering terlihat adalah gusi berwarna kemerahan, bengkak dan mudah berdarah. Bila gingivitis tidak segera ditangani, dapat menimbulkan poket. Poket adalah celah di antara gigi dan gusi yang dapat melebar dan menyebabkan infeksi lanjutan. Infeksi tersebut dapat berlanjut ke infeksi jaringan periodontal atau yang disebut dengan periodontitis.

Apakah karang gigi harus dibersihkan? Dan bagaimana cara menghilangkan plak?

Ya, tentu saja. Ayah, Ibu dan Ananda harus membersihkan karang gigi secara rutin ke dokter gigi. Karena struktur yang keras, karang gigi sulit dibersihkan hanya dengan menyikat gigi ataupun dental flossing.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghilangkan plak dan mencegah terjadinya karang gigi seperti berikut ini:

  • Sikat gigi 2 kali sehari secara tepat, yaitu bulu sikat mengarah ke arah gusi dengan sudut 45 derajat
  • Gunakan pasta gigi ber-fluoride
  • Gunakan ​dental floss ​ untuk menghilangkan sisa makanan di sela gigi
  • Kurangi konsumsi makanan manis
  • Melakukan kontrol rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali

Jadi, karang gigi dapat terjadi pada gigi buah hati Ayah dan Ibu. Selalu cek kondisi gigi secara rutin ke dokter gigi, agar Ayah dan Ibu mengetahui kondisi gigi dan mulut Ananda.

Sumber:
https://www.webmd.com/oral-health/guide/tartar-dental-calculus-overview
https://www.livestrong.com/article/516832-pediatric-tartar-on-teeth/
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4253289/#!po=19.5652

Kebiasaan yang Baik untuk Kesehatan Gigi Bayi dan Balita

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Hai Ayah dan Ibu Kejora..

Apakah Ayah dan Ibu tahu, bahwa gigi pada anak sudah memiliki risiko untuk menjadi berlubang sejak pertama kali tumbuh?

Proses lubang/pembusukkan gigi pada bayi dan anak di usia yang sangat muda seringkali disebut dengan “baby bottle tooth decay”atau “early childhood caries”. Namun, Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir. Berita baiknya, lubang pada gigi anak dapat dicegah, terutama dengan cara menjaga kebiasaan yang baik sedini mungkin.

Yuk, kita simak tanya jawab dengan drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA yang akan menjelaskan lebih lanjut tentang kesehatan gigi  pada bayi dan balita.

Dok, seperti apa sih proses tumbuh gigi (teething) itu?

Tumbuh gigi merupakan salah satu ritual awal dalam fase kehidupan. Biasanya, gigi sulung pada anak akan lengkap berjumlah 20 gigi pada saat anak sudah berusia 3 tahun. Seiring dengan bertumbuhnya anak, rahang mereka juga akan berkembang dan memberi ruang bagi tumbuhnya gigi permanen. Gigi depan anak (4 gigi pertama) biasanya mulai tumbuh saat usia 6 bulan, walaupun ada pula anak-anak yang belum memiliki gigi sampai usia 12 atau 14 bulan. Saat gigi mulai tumbuh, beberapa bayi akan rewel dan mudah marah, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, atau mengiler lebih banyak daripada biasanya. Diare, ruam, dan demam bukanlah gejala normal dari bayi yang akan tumbuh gigi. Maka, apabila bayi mengalami gejala tersebut, segeralah hubungi dokter. Ayah dan Ibu, urutan pertumbuhan gigi sulung pada anak dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Dok, apakah ada langkah mudah untuk menjaga kesehatan gigi?

Ada lima langkah yang dapat dilakukan yaitu menyikat gigi dengan pasta gigi mengandung fluoride, membatasi penggunaan alat makan bersama dan empeng, makan makanan sehat (sayur dan buah), berkunjung rutin ke dokter gigi dan mintalah dokter gigi untuk melakukan pelapisan ceruk gigi pada anak.

Dok, bagaimana sih cara menjaga kesehatan mulut bayi?

Mulailah membersihkan rongga mulut bayi sejak beberapa hari setelah proses kelahiran. Caranya adalah dengan mengusap gusi bayi dengan kasa atau kain lap bersih yang telah dibasahi dengan air hangat setiap selesai menyusui.

Lalu dok, bagaimana cara membersihkan gigi pada anak?

  • Untuk anak dengan usia kurang dari 3 tahun, orangtua/pengasuh harus mulai menyikat gigi anak segera setelah gigi pertama tumbuh secara perlahan. Caranya adalah dengan menggunakan sikat gigi ukuran anak serta selapis tipis (seukuran biji beras) pasta gigi yang mengandung Tetap bersihkan dan lakukan pemijatan ringan pada area gusi yang belum ditumbuhi gigi.

  • Sikatlah gigi dengan menggunakan sikat gigi anak dan pasta gigi yang mengandung fluoride sebesar biji kacang polong pada anak usia 3-6 tahun. Apabila anak sudah memiliki 2 gigi yang saling berkontak satu sama lain, mulailah untuk menggunakan dental floss. Cara ini dilakukan hingga Ayah dan Ibu yakin bahwa anak dapat menyikat gigi sendiri, yaitu saat gerakan motorik halusnya sudah berkembang dengan baik saat anak sudah berusia 8-9 tahun. Setelah itu, dianjutkan dengan mengawasi kegiatan sikat gigi anak.

  • Kegiatan menyikat gigi dilakukan 2 kali sehari (pagi dan malam hari) atau sesuai dengan saran dokter gigi. Selalu awasi anak saat menyikat gigi dan ingatkan agar tidak menelan pasta gigi secara berlebihan.

Kapan dilakukan kunjungan pertama ke dokter gigi?

Mulailah jadwalkan kunjungan ke dokter gigi segera setelah gigi sulung anak pertama kali muncul. ADA (American Dental Association) merekomendasikan kunjungan pertama ke dokter gigi 6 bulan setelah gigi pertama anak mulai tumbuh dan paling lambat dilakukan saat anak berusia 1 tahun. Untuk membuat kunjungan terasa menyenangkan, lakukan hal berikut:

  • Pertimbangkan untuk membuat kunjungan di pagi hari saat anak cenderung tenang dan kooperatif.
  • Simpan kekhawatiran/kecemasan yang Ayah dan Ibu miliki dan jangan tunjukkan kepada anak. Anak dapat merasakan emosi Ayah dan Ibu, sehingga harus ditunjukkan emosi yang positif.
  • Hindari menggunakan kunjungan sebagai hukuman atau ancaman.
  • Hindari menyuap/menyogok anak.
  • Komunikasikan pada anak mengenai kunjungan ke dokter gigi.

 

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Sumber:

https://www.mouthhealthy.org/en/babies-and-kids/healthy-habits

Penyebab Bau Mulut pada Anak

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

Halo Ayah dan Ibu Kejora,

Pernahkah anda menemukan kondisi buah hati saat berbicara kepada anda atau orang lain tercium aroma tidak sedap dari dalam mulutnya? Atau ia sendiri mengeluhkan bau yang tidak nyaman keluar dari rongga mulut? Bisa saja si kecil anda mengalami masalah bau mulut atau dalam dunia medis dikenal dengan nama halitosis.

Berbicara mengenai halitosis, kita akan menemukan berbagai pencetus bau mulut yang bisa terjadi baik pada usia dewasa maupun anak-anak. Faktor kesehatan gigi dan mulut yang buruk, atau mengonsumsi jenis makanan yang sarat akan aroma tertentu, seringkali menjadi patokan penyebab bau mulut. Nyatanya, bukan hanya faktor kesehatan gigi dan mulut serta aroma dari makanan saja, ada berbagai faktor pencetus lainnya yang seringkali luput dari perhatian kita.

Pada dasarnya, setiap makanan yang masuk di tubuh akan diurai pertama kali melalui organ gigi dan mulut. Jika anda atau si kecil tidak memperhatikan mengenai kebersihan gigi, seperti rajin menyikat gigi dan menggunakan ​dental floss, sisa makanan tersebut akan menempel pada permukaan gigi dengan waktu yang lebih lama dan hal ini menjadi pemicu hadirnya bau mulut.

Berikut beberapa penyebab bau mulut pada anak :

  1. Bakteri pada mulut

Bau mulut bisa terjadi kapan saja, salah satu penyebabnya adalah bakteri yang ada pada mulut. Sisa makanan menjadi sarang bakteri tumbuh di dalam mulut.

  1. Mulut kering (Dry Mouth)

Rongga mulut anda bisa saja tidak memproduksi cukup banyak saliva (air liur) dan menyebabkan mulut menjadi kering. Saliva merupakan elemen penting yang berfungsi untuk membersihkan sisa makanan secara alami di dalam mulut anda. Bila kadar saliva berkurang, mulut kita akan terasa kering bahkan terasa kurang bersih. Salah satu penyebab mulut kering yakni dalam pengobatan tertentu, masalah pada ​glandula saliva, dan bernafas melalui mulut.

  1. Bernafas melalui mulut

Saat seorang anak berbicara melalui mulut (karena hidung tersumbat atau kebiasaan tidur yang salah), hal ini memicu terjadinya ​xerostomia atau yang biasa dikenal mulut kering yaitu gejala yang terjadi saat produksi saliva berkurang atau berhenti memproduksi saliva. Hal ini menyebabkan saliva tidak bisa berfungsi membersihkan sisa makanan dan menyebabkan bau mulut.

  1. Kesehatan rongga mulut yang buruk

Bila anak anda tidak rajin menyikat gigi secara teratur, bisa mengakibatkan bau mulut. Karena dengan tidak teratur, sangat berpotensi membuat lubang pada gigi dan plak yang tidak dibersihkan bisa mengiritasi gusi. Selain itu, bagian lidah yang tidak dibersihkan juga menjadi tempat melekatnya sisa makanan yang berpotensi menghasilkan bau mulut. Jadi pastikan, anak anda menyikat gigi secara teratur dan membersihkan bagian lidah.

  1. Infeksi di rongga mulut

Bau nafas yang sulit hilang hingga periode cukup lama bisa saja disebabkan adanya lubang pada gigi, infeksi gigi, plak, serta lesi sariawan di dalam mulut.

  1. Objek asing

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar, salah satunya melalui permainan. Mereka sangat suka bermain apa saja tidak terkecuali bermain dengan barang yang ukurannya kecil (mainan kecil, bahan makanan atau barang lain). Bila barang ini tersangkut di area hidung dan tidak segera diambil dapat berpotensi menjadi penyebab bau mulut.

  1. Makanan

Beberapa jenis makanan tertentu memiliki aroma yang kuat seperti; bawang putih, bawang bombay dan beberapa jenis bahan makanan lainnya yang berpotensi mengurangi kesegaran nafas buah hati tercinta

  1. Kondisi sakit atau dalam pengobatan medis

Apabila si kecil memiliki riwayat penyakit tonsilitis, penyakit sinus, alergi atau sedang dalam pengobatan penyakit tertentu, hal ini bisa membuat nafasnya menjadi tidak segar.

Terkadang kondisi bau mulut sering tidak disadari oleh setiap individu. Biasanya lawan bicara yang akan lebih merasakan efek dari nafas yang kurang baik. Sebagai orangtua, tentu anda tidak menginginkan hal ini terjadi pada anak anda bukan?

Karena selain anda merasa tidak nyaman, bisa saja hal ini mengurangi kadar percaya diri buah hati anda. Berikut tips menghilangkan bau mulut:

  1. Sikat gigi dan membersihkan sela gigi dengan ​dental floss

Lakukan sikat gigi secara teratur 2 kali sehari yakni pada pagi hari dan malam hari menurut aturan dari ​ADA (American Dental Association). Guna sikat gigi secara teratur yakni menghilangkan sisa makanan serta plak yang menempel pada permukaan gigi. Beri penjelasan kepada buah hati anda untuk tidak menelan pasta gigi yang digunakan.

  1. Sikat bagian lidah

Beri pemahaman bagi si kecil, bahwa sikat bagian lidah bersamaan saat menyikat gigi. Sisa makanan bisa saja melekat pada permukaan lidah dan berpotensi menimbulkan bakteri pada mulutnya.

  1. Ganti sikat gigi setiap 3 bulan sekali

Periksa kondisi bulu sikat secara teratur dan buat jadwal untuk mengganti sikat gigi setiap 3 bulan sekali. Karena dengan bulu sikat yang kondisinya baik, diharapkan dapat mengambil sisa-sisa makanan dengan efektif.

  1. Jaga agar cairan saliva cukup

Mengkonsumsi makanan sehat yang kaya akan serat dan air membantu menjaga kadar saliva tetap cukup didalam mulut. Selain itu, kebiasaan semakin sering mengunyah juga membantu meningkatkan kadar saliva.

  1. Minum air putih

Penuhi kebutuhan konsumsi air putih agar menjaga kondisi mulut tidak kering.

  1. Kontrol rutin ke dokter gigi

Cek secara rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali, untuk mengetahui apakah ada gigi berlubang, plak dan karang gigi bahkan infeksi gigi yang dapat menimbulkan bau mulut.

Sumber :

https://www.webmd.com/oral-health/guide/bad-breath https://www.mouthhealthy.org/en/az-topics/b/bad-breath

Baby Bottle Tooth Decay

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Halo Ayah dan Ibu Kejora…

Ada anggapan bahwa, “Gigi sulung kan hanya sementara, dok… Nanti juga kalau rusak akan diganti dengan gigi permanen.”

Gigi sulung memang hanya sementara, namun tetap sangat penting untuk dijaga. Coba Ayah dan Ibu pikirkan lagi ya..

Anak-anak membutuhkan gigi yang sehat dan kuat untuk mengunyah makanan, berbicara, serta tersenyum. Gigi sulung juga berguna sebagai pemandu agar gigi permanen dapat tumbuh dengan benar. Oleh karena itu, sangat penting untuk mulai memperkenalkan cara menjaga kebersihan gigi dan mulut pada anak sejak dini. Kebiasaan ini diharapkan akan berlanjut hingga anak beranjak dewasa.

Lubang pada gigi sulung sangat rentan untuk terjadi. Bila lubang pada gigi sulung tidak dirawat, maka bisa timbul rasa sakit dan infeksi. Bahkan, apabila lubang pada gigi sudah sangat parah, maka gigi sulung harus dicabut. Hal ini akan menyebabkan beberapa masalah seperti asupan nutrisi anak yang dapat terganggu akibat anak kesulitan untuk makan, masalah dalam berbicara, serta dapat mengganggu perkembangan gigi permanen. Selain itu, kemungkinan gigi permanen tumbuh berantakan atau berjejal, akan semakin besar.

Apakah itu “baby bottle tooth decay”?

Proses pembusukan atau lubang gigi pada bayi dan anak di usia yang sangat muda disebut dengan “Baby bottle tooth decay” atau “Early childhood caries”. Kondisi ini terjadi saat cairan yang manis atau bergula alami, seperti susu (ASI, susu formula, susu UHT) atau jus buah, menempel pada gigi bayi dan anak dalam waktu yang lama.

Bakteri dalam rongga mulut akan tumbuh dengan subur pada lingkungan yang kaya akan gula tersebut, kemudian akan menghasilkan produk asam yang akan menyerang dan melemahkan struktur gigi.

Apa penyebabnya?

Salah satu penyebab tersering adalah frekuensi cairan manis yang terlalu lama berkontak dengan gigi. Hal ini dapat terjadi saat bayi tertidur dengan menggunakan botol yang diisi dengan cairan manis, atau empeng yang telah dicelup pada cairan gula atau sirup.  Memberikan cairan manis baik saat tidur siang maupun malam hari sangat berbahaya. Hal tersebut dikarenakan jumalh aliran saliva atau air liur berkurang pada saat tidur. Kurangnya aliran saliva menyebabkan pembersihan sisa cairan manis tidak berjalan dengan baik.

Lubang pada gigi juga dapat disebabkan oleh bakteri yang ditularkan oleh ibu atau pengasuh kepada anak melalui saliva. Saat ibu atau pengasuh memasukkan sendok makan atau empeng bersih anak ke dalam mulutnya, kemudian memberikannya kepada anak, maka bakteri ini dapat berpindah ke rongga mulut anak.

Bagaimana cara pencegahannya?

Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir ya… Berita baiknya, lubang pada gigi dapat dicegah dengan menerapkan kebersihan gigi dan mulut sedini mungkin, dengan cara:

  • Bersihkan gusi bayi dengan kasa atau kain lap bersih yang telah dibasahi dengan air hangat setiap selesai menyusui.
  • Saat gigi pertama anak mulai tumbuh, mulailah untuk menyikat gigi anak secara perlahan dengan menggunakan sikat gigi ukuran anak, serta selapis tipis (seukuran biji beras) pasta gigi yang mengandung fluoride, hingga usia anak 3 tahun. Tetap bersihkan dan lakukan pemijatan ringan pada area gusi yang belum ditumbuhi gigi.
  • Sikat gigi anak dengan pasta gigi ber-fluoride sebesar biji kacang polong pada anak usia 3-6 tahun.
  • Awasi kegiatan sikat gigi anak hingga gerakan motorik halusnya sudah berkembang dengan baik (umumnya hingga anak berusia 8-9 tahun).
  • Mulailah untuk menggunakan dental floss saat seluruh gigi telah tumbuh.
  • Pastikan anak mendapat cukup fluoride, yang dapat membantu mencegah terbentukknya lubang pada gigi. Bila sumber air lokal tidak mengandung fluoride, konsultasikan lebih lanjut pada dokter gigi mengenai bagaimana cara mendapat asupan fluoride (bisa dengan suplemen atau aplikasi fluoride topikal).
  • Buatlah jadwal kunjungan rutin ke dokter gigi yang dimulai saat anak menginjak usia 1 tahun. Yang perlu Ayah dan Ibu ingat, memulai kebiasaan baik sedini mungkin adalah kunci untuk menjaga kesehatan gigi jangka panjang.

Ada pun beberapa cara lain, yaitu:

  • Hindari mengisi botol susu dengan cairan manis dan minuman soda. Botol susu hanya digunakan untuk susu (asi perah maupun susu formula) dan air putih. Minuman soda tidak dianjurkan untuk anak, karena tidak mengandung nutrisi dan memiliki kandungan gula yang tinggi. Apabila anak sudah terlanjur memiliki kebiasaan mengkonsumsi cairan manis dan minuman soda, maka mulailah secara perlahan untuk mengurangi kandungan gula pada cairan manis secara bertahap selama 2-3 minggu. Lakukan hingga akhirnya botol hanya diisi dengan air putih saja.
  • Hindari membiarkan anak tertidur dengan botol susu yang berisi cairan selain air putih.
  • Hindari memberikan empeng yang dicelupkan dalam cairan apapun yang mengandung gula.
  • Kurangi asupan gula pada makanan anak, terutama snack di antara waktu makan utama.
  • Latih anak untuk mulai menggunakan cangkir saat anak sudah berusia 1 tahun.

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Sumber:

https://www.webmd.com/oral-health/guide/what-is-baby-bottle-tooth-decay#2
https://www.mouthhealthy.org/en/az-topics/b/baby-bottle-tooth-decay

Sumber gambar:

https://askthedentist.com/baby-bottle-tooth-decay/

Makanan untuk Gigi yang Kuat

 

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

Halo Ayah dan Ibu Kejora…

Memiliki gigi susu yang sehat dan kuat merupakan keinginan setiap orang tua terhadap anaknya. Berbagai cara bisa dilakukan untuk mempertahankan kesehatan gigi anak seperti; pengecekan secara rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali, penutupan lubang pada gigi, menjaga kebersihan mulut dengan berkumur sehabis makan, dan rajin menyikat gigi dua kali sehari yaitu pada pagi hari dan malam hari sebelum tidur.

Asupan bahan makanan yang baik juga tidak kalah pentingnya dalam menunjang kesehatan gigi. Ada banyak sumber makanan sehat yang bisa dikonsumsi, salah satunya yang mengandung sumber makanan kalsium.

Kalsium merupakan salah satu nutrisi penting untuk kesehatan gigi dan tulang. Pada gigi, kalsium dapat memperkuat lapisan luar permukaan gigi yakni email. Permukaan email gigi rentan terhadap adanya lubang (​karies)​ juga erosi. Karena email merupakan lapisan terluar dan menjadi pertahanan paling penting dalam kekuatan gigi. Dalam upaya menjaga gigi agar tetap kuat, dibutuhkan 1000-2000 mg jumlah kalsium per hari untuk dikonsumsi.

Tentu anda sering mendengar, sumber makanan yang memiliki kalsium cukup banyak berasal dari produk susu. Susu dan berbagai jenis makanan olahannya memang memiliki nilai kalsium yang cukup tinggi. Namun ternyata kalsium tidak hanya terdapat pada susu, banyak sumber makanan lain yang memiliki jumlah kandungan kalsium cukup tinggi. Beberapa jenis sumber makanan tersebut dapat menjadi alternatif pilihan bagi buah hati anda terutama yang memiliki intoleransi laktosa atau alergi terhadap susu dan produk olahannya, namun tetap ingin mendapatkan nutrisi kalsium untuk tumbuh kembangnya.

Berikut merupakan jenis sumber bahan makanan yang memiliki nilai kandungan kalsium tinggi, seperti:

  1. Susu
  2. Keju
  3. Yoghurt
  4. Tahu. Bisa menjadi pilihan untuk kekuatan gigi.
  5. Ikan. Beberapa jenis seperti ikan sarden dan ikan salmon memiliki kandungan kalsiumtinggi
  6. Kacang-kacangan. Jenis kacang-kacangan banyak mengandung protein, serat vitamin,serta mineral. Kacang Almond, kacang kedelai merupakan jenis kacang yang tingginutrisi kalsium
  7. Sayuran hijau seperti kale, bayam
  8. Gandum. Cereal seperti corn flakes, roti
  9. Susu kedelai

Beberapa jenis makanan di atas baik untuk dikonsumsi, terutama bagi buah hati anda karena sedang mengalami masa tumbuh kembang. Namun apakah mereka masih bisa mengonsumsi jenis makanan kudapan yang manis atau ​snack ​yang terkadang memiliki kadar gula tinggi dan sangat berpotensi menjadi karies pada gigi? Tentu saja sebagai variasi konsumsi menu makan si kecil; snack, kudapan manis, boleh diberikan namun tetap harus memperhatikan batasan pemberian makanan tersebut.

Hal lain yang perlu diingat adalah selalu mengonsumsi air putih setiap hari, khususnya setelah mengonsumsi makanan manis. Tujuannya adalah agar tubuh anak terhindar dari dehidrasi dan menghindari sisa makanan tidak terlalu lama melekat pada permukaan gigi yang berpotensi membuat lubang pada gigi anak anda.

Sumber :

https://www.mouthhealthy.org/en/nutrition/food-tips/8-non-dairy-calcium-rich-foods-for-your-teeth