Skrining Hipotiroid Kongenital

 

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Salam sehat keluarga Kejora! Tahukah Ayah Ibu bahwa bayi yang baru lahir perlu menjalani pemeriksaan skrining? Salah satu pemeriksaan skrining yang sudah menjadi program nasional adalah skrining hipotiroid kongenital. Berikut adalah informasi selengkapnya mengenai hipotiroid kongenital dan pemeriksaan skriningnya.

Hipotiroid kongenital (HK) merupakan suatu kelainan bawaan yang ditandai dengan defisiensi hormon tiroid pada neonatus. Hormon ini sangat penting karena berperan dalam pertumbuhan tulang dan perkembangan otak. Selain itu, hormon ini juga berfungsi untuk mengatur produksi panas tubuh, metabolisme, kerja jantung, dan saraf. HK dilaporkan sebagai penyebab terbesar retardasi mental yang dapat dicegah di Indonesia dengan insidens HK sekitar 1:2916 kelahiran.

Gejala yang dapat terlihat pada HK terutama berupa lemas, tampak kuning, lidah besar (makroglosia), mudah kedinginan, perut buncit, serta penurunan tonus otot. Gejala-gejala tersebut biasanya tidak terlihat saat lahir dan baru dideteksi setelah bayi berusia 6-12 minggu. Selain itu, juga dapat ditemui hambatan pertumbuhan dan perkembangan yang mulai tampak nyata pada umur 3–6 bulan, disertai dengan gejala HK yang lebih jelas. Jika tidak diobati, dapat terjadi keterlambatan perkembangan, misalnya terlambat duduk, berdiri, serta belajar bicara, dan dapat berlanjut menjadi keterbelakangan mental. Deteksi dini yang diikuti dengan penatalaksanaan yang tepat, diketahui dapat mencegah dampak negatif yang dapat diakibatkan kelainan kongenital ini, terutama dampak negatif terhadap perkembangan otak. Oleh karena itu, dikembangkan program skrining nasional untuk mendeteksi dini HK.

Di Indonesia, program skrining nasional HK telah dikembangkan sejak tahun 2014. Berdasarkan Pedoman Skrining Hipotiroid Kongenital yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2014, skrining HK idealnya dilakukan pada bayi berusia 2-3 hari, namun masih baik dilakukan hingga bayi berusia 4-5 hari . Sebelum dilakukan pengambilan sampel darah, orang tua akan diberikan penjelasan mengenai tujuan dan prosedur pemeriksaan ini. Pengambilan sampel darah dilakukan melalui tumit bayi (heel prick) yang kemudian diteteskan pada kertas saring khusus dan dikirim ke laboratorium. Di laboratorium, sampel darah pada kertas saring akan diperiksa kadar TSH (Thyroid Stimulating Hormone). TSH merupakan hormon yang berfungsi untuk melepaskan hormon tiroid ke dalam darah. Jika hasil kadar TSH < 20 uU/mL, maka hasil dikatakan normal, namun jika hasil TSH > 20 uU/mL, maka perlu dilakukan konsultasi dengan dokter. Bergantung pada kondisi bayi, dapat dipertimbangkan pengambilan darah ulang untuk melakukan pemeriksaan lagi atau dilakukan tes konfirmasi pemeriksaan kadar hormon TSH dan T4 bebas dari dalam darah. Tes konfirmasi ini dilakukan untuk menegakkan kondisi hipotiroid kongenital.

Semoga informasi tersebut bermanfaat untuk Ayah dan Ibu Kejora!

Sumber:

Kemenkes RI. Pedoman Skrining Hipotiroid Kongenital. 2014.

Banjir dan Kaitannya dengan Kesehatan Anak

 

 

 

 

oleh dr. Ellen Wijaya, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Keluarga Sehat Kejora!

Pada awal bulan Januari 2020, Jakarta sempat dihebohkan dengan terjadinya bencana banjir. Bahkan sampai pertengahan bulan ini pun, kita tetap diingatkan untuk selalu waspada karena musim hujan masih berlangsung. Oleh karena itu, Kejora akan mengajak Ayah dan Ibu untuk mengenal ‘serba serbi’ banjir dan kaitannya dengan kesehatan anak.

 

Mengenal beragam penyakit pada anak yang bisa terjadi akibat banjir

Terdapat beberapa penyakit yang bisa terjadi pada anak akibat banjir, diantaranya adalah:

  1. DiareBanjir bisa meningkatkan risiko terjadinya penyakit yang disebarkan lewat air yang terkontaminasi (waterborne diseases) oleh virus ataupun bakteri. Bahkan tidak hanya melalui air, namun juga melalui penularan secara oral akibat lingkungan pengungsian yang padat dan higienitas yang kurang. Diare ditandainya dengan adanya peningkatan frekuensi buang air besar dan atau disertai dengan perubahan konsistensi feses. Hal yang perlu diperhatikan adalah anak tidak boleh kekurangan cairan (dehidrasi).
  1. Infeksi saluran pernapasan akutKondisi ini dapat disebabkan oleh virus yang ditandai dengan adanya keluhan demam dan batuk serta pilek.
  1. Infeksi kulit dan mataPenyakit kulit dapat disebabkan oleh berbagai organisme seperti bakteri, virus, jamur, parasit, atau kutu yang menginfeksi kulit. Anak merasakan gatal, kulit kemerahan akibat iritasi dan tanda infeksi lain pada kulit. Infeksi mata juga bisa ditularkan melalui air, seperti moluskum kontagiosum atau penyakit pada kelopak mata dan konjungtivitis yang ditandai dengan mata merah.
  1. Otitis eksternaAnak yang terkena air banjir yang kotor juga meningkatkan risiko terjadinya infeksi pada kulit tipis yang membungkus saluran telinga luar.
  1. Demam dengue dan malariaWaspada terhadap penyakit yang bisa ditularkan oleh nyamuk. Demam dengue dan malaria diperantarai oleh 2 jenis nyamuk yang berbeda dengan keluhan klinis yang tidak sama. Namun keduanya dapat menimbulkan keluhan demam disertai dengan gejala penyerta lainnya. Kondisi ini perlu diwaspadai terutama pasca-banjir karena akan terjadi banyak genangan air yang dapat menjadi tempat berkembangnya nyamuk.
  1. LeptospirosisLeptospirosis disebabkan bakteri leptospira yang menyebar luas pada saat curah hujan tinggi di tempat yang sanitasinya buruk dan sistem drainasenya kurang baik. Penularannya terjadi pada anak yang terpapar air kencing binatang pengerat seperti tikus. Gejala pada leptospirosis, diantaranya demam, nyeri kepala, diare dan nyeri tekan di area betis.
  1. Demam tifoid dan hepatitis ADemam tifoid disebabkan oleh bakteri salmonella typhi, sedangkan hepatitis A disebabkan oleh virus. Kedua penyakit ini dapat menimbulkan keluhan demam dan gangguan pencernaan yang disebabkan karena kurangnya higienitas, diantaranya adalah penyajian makanan yang tidak bersih.

 

Apa yang perlu diperhatikan Ayah dan Ibu pada saat banjir supaya anak tetap sehat?

  • Bagi ibu yang sedang menyusui, maka pemberian ASI harus tetap dilanjutkan.
  • Konsumsi makanan dan minuman yang higienis.
  • Selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah makan, ataupun pasca-buang air besar.
  • Jauhkan anak dari aktivitas bermain di dalam air dan tidak merendam kaki dalam air banjir. Hindari paparan luka terbuka dengan air banjir yang berpotensi jadi akses masuknya kuman.
  • Gunakan sarung tangan dan sepatu bot, jika harus beraktivitas di tengah air banjir.
  • Segera mengganti pakaian basah dengan pakaian kering untuk mencegah hipotermia.

 

Apa yang bisa dilakukan pasca-banjir untuk mempertahankan kesehatan anak?

Aspek kebersihan merupakan hal yang utama. Kondisi rumah biasanya sangat kotor dan berantakan pasca-banjir, bahkan terdapat sisa air banjir dan lumpur. Oleh karena itu bersihkan seluruh area rumah dengan baik menggunakan disinfektan dan gunakan masker saat membersihkan rumah dari sisa banjir. Pastikan kondisi mainan anak dalam keadaan bersih sebelum digunakan kembali. Anak sebaiknya diungsikan ke tempat yang lebih bersih untuk sementara waktu hingga rumah dalam kondisi bersih. Jangan lupa untuk selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir terutama saat menyiapkan makanan atau susu. Perhatikan juga saat membuang popok sekali pakai si kecil dengan dibungkus terlebih dahulu dalam kantong plastik.

 

Lebih baik mencegah daripada mengobati!

Anak sangat rentan terhadap berbagai infeksi dan kita sudah paham bahwa begitu banyak penyakit yang bisa terjadi pada anak dalam kondisi banjir. Oleh karena itu, Ayah dan Ibu perlu memahami upaya untuk mencegah anak sakit, diantaranya adalah :

  • Mengkonsumsi makanan dan minuman yang bersih dan bergizi, terutama pemberian ASI pada bayi secara eksklusif dan dilanjutkan sampai dengan usia 2 tahun.
  • Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, memastikan bahan makanan dan juga berbagai perabotan bersih sebelum digunakan.
  • Menjaga kebersihan rumah dan meningkatkan upaya 3 M Plus (menguras tempat penampungan air, menutup tempat penyimpanan air, menyingkirkan atau mendaur ulang barang bekas untuk mencegah penyebaran nyamuk dan plus: menggunakan kelambu saat tidur, menaburkan bubuk abate, dan sebagainya)
  • Melengkapi vaksin Sang Buah Hati, diantaranya dengan vaksin hepatitis A, demam tifoid, serta influenza.

 

Kita semua tentunya berharap dampak dari banjir dapat segera teratasi dan banjir tidak terulang lagi. Namun tetap waspada dan selalu ingat untuk menjaga kebersihan dan membiasakan anak untuk membuang sampah pada tempatnya sebagai salah satu upaya kecil yang berdampak besar demi pencegahan banjir.

 

Referensi

  1. World Health Organization. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit: Pedoman Bagi RS Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten/Kota 2009:World Health Organization; 2009.
  2. Departemen IKA FKUI-RSCM. Panduan Praktik Klinis. Jakarta: FKUI-RSCM; 2015.

 

Cukupkah ASI Saya?

 

 

 

 

oleh dr. Yulianto Santoso Kurniawan, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Ayah dan Ibu, apa kabar?  Ingatkah saat dahulu si kecil lahir? Umumnya kita semua akan dihinggapi pertanyaan yang sama, cukupkah ASI saya? Hal ini seringkali menjadi momok bagi semua orang tua, apakah setiap tangisan bayi berarti dia lapar? Kapan saatnya kita memberikan tambahan nutrisi selain ASI?

Terdapat beberapa hal yang bisa menjadi panduan untuk menilai kecukupan ASI seorang bayi. Parameter yang bisa dipakai adalah penurunan berat badan bayi, warna feses/BAB, jumlah BAK dan perilaku bayi.

Bayi akan mengalami perubahan berat badan saat 3-5 hari pertama kehidupan. Secara normal bayi akan mengalami penurunan berat badan. Umumnya penurunan berat badan yang dapat diterima adalah 7% dari berat lahir. Bila terdapat penurunan berat badan ≥10% dari berat badan lahir, maka kita pertimbangkan pemberian tambahan nutrisi/cairan selain ASI. Namun, keputusan memberikan nutrisi/cairan lain ini sebaiknya didahului konsultasi dengan dokter yang merawat bayi.

Feses atau tinja bayi akan mengalami perubahan warna seiring dengan jumlah ASI yang dikonsumsi bayi. Perubahan warna adalah dari berwarna gelap (hitam, hijau) menuju warna kuning keemasan dengan perubahan bentuk dari pasta lengket ke bubur berbiji kekuningan. Perubahan warna umumnya terjadi di hari ke-4 dan 5 kehidupan, bila tidak terjadi perubahan warna tinja maka kita perlu mengevaluasi apakah ASI yang diberikan cukup untuk bayi.

Pipis atau BAK juga menggambarkan kecukupan cairan. Umumnya seorang bayi akan mengalami BAK sesuai usia bayi. Saat usia bayi >5 hari maka diharapkan jumlah bak >6x/hari dengan warna kuning jernih.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah perilaku bayi. Seorang bayi akan tidur tenang selama 2-3 jam bila dalam kondisi kenyang. Menyusu efektif adalah menyusu dengan durasi 20-40 menit setiap kalinya. Bila seorang bayi menyusu selama >40 menit atau mudah sekali terbangun sekalipun telah menyusu selama >40 menit, maka kita harus melakukan evaluasi ulang kecukupan ASI. Rangkuman dapat dilihat pada tabel 1. Perubahan normal pada bayi baru lahir.

Semoga informasi ini dapat membantu Ayah dan Ibu dalam menilai kecukupan ASI untuk bayi tercinta.

 

Tabel 1. Perubahan normal pada bayi baru lahir

Usia (jam) Jumlah frekuensi menyusui Jumlah popok basah Frekuensi buang air besar (BAB) Warna tinja Kosistensi tinja Berat badan bayi
0-24 8 jam pertama: 1 atau lebih

8 jam kedua: 2 atau lebih

8 jam ketiga: 2 atau lebih

1 atau lebih 1-2 hitam Lengket Kehilangan 7% dari berat lahir (maksimal 10% dari berat lahir)
24-48 8-12 2 atau lebih 1-2 Kehijauan/hitam kemudian kecoklatan Lembek
48-72 8-12 3 atau lebih 3-4 Kehijauan/kuning Lembek
72-96 8-12 4 atau lebih 4 banyak atau 10 sedikit Kuning/berbiji Lembek/cair
Akhir minggu pertama 8-12 6 atau lebih 4 banyak atau 10 sedikit Kuning/berbiji Lembek/cair Berat mulai naik

Editor: dr. Sunita

Sumber

https://www.health.qld.gov.au/__data/assets/pdf_file/0033/139965/g-bf.pdf

 

 

 

 

Berteman dengan Demam

 

 

 

oleh dr. Yulianto Santoso Kurniawan, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

Halo Ayah dan Ibu Kejora, Apa kabar?

Semoga selalu dalam keadaan sehat. Dalam tiga bulan awal di tahun 2019 banyak sekali yang mengalami demam. Mulai dari demam berdarah dengue atau demam-batuk-pilek yang bisa menyebabkan sesak napas. Semua keadaan ini selalu didahului dengan gejala demam.

Sebetulnya apakah demam itu berbahaya? Atau apakah kita bisa berteman dengan demam?

Sebelum berbicara tentang demam, kita perlu mengetahui bagaimana suhu tubuh kita diatur. Suhu tubuh kita diatur oleh hipotalamus, yang berada di dalam kepala kita. Hipotalamus akan mengatur suhu tubuh kita menetap di kisaran 37oC. Hipotalamus mendapat informasi mengenai suhu dari kulit dan darah. Bila hipotalamus mendapat informasi bahwa suhu lingkungan lebih dingin dari patokan suhu normal, maka tubuh akan memproduksi dan mempertahankan panas. Sebaliknya, bila informasi yang didapat bahwa suhu terlalu tinggi maka hipotalamus akan meminta tubuh untuk mengurangi panas dengan berkeringat dan melebarkan pembuluh darah sehingga permukaan kulit akan memerah sehingga panas bisa keluar dari dalam tubuh.

Demam adalah proses naiknya suhu tubuh di atas normal. Sumber menyatakan bahwa demam adalah suhu tubuh di atas 38oC. Patokan suhu tubuh di hipotalamus dapat berubah menjadi tinggi bila terdapat pyrogen (zat yang dapat menyebabkan demam, bisa mikroorganisme atau bagian dari toksinnya atau sinyal kimia). Suhu tubuh yang meningkat akibat adanya pyrogen akan menyebabkan patokan suhu naik, sehingga suhu tubuh dirasakan lebih rendah dari suhu yang diharapkan, akibatnya seseorang akan menggigil dalam upaya untuk menaikan suhu tubuh dan terjadi demam.

Apa saja efek demam?

Ternyata salah satu efek demam adalah mengaktifkan sel  B dan T. Sel B dan T merupakan bagian dari sel leukosit yang berfungsi sebagai pertahanan tubuh. Dengan adanya demam, maka tubuh akan lebih aktif dalam melawan infeksi yang masuk sehingga membantu dalam mengatasi infeksi. Setelah beberapa jam demam terjadi maka akan terjadi pengurangan pyrogen, sehingga patokan suhu tubuh akan kembali normal ke 37oC. Sehingga tubuh yang sudah menjadi panas akan berupaya mendinginkan dirinya dengan berkeringat dan melebarkan pembuluh darah.

Demam akan tetap terjadi selama proses infeksi tetap ada dalam tubuh. Dengan melihat baiknya fungsi demam, maka kita perlu berteman dengan demam. Jadi, Ayah dan Ibu Kejora jangan panik bila terjadi demam, namun coba cari penyebab dari demam tersebut dan mari berteman dengan demam.

Sumber:

  1. https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/fever/Pages/default.aspx
  2. https://www.rch.org.au/kidsinfo/fact_sheets/Fever_in_children/
  3. https://kidshealth.org/en/parents/fever.html

Editor : drg. Saka Winias., M.Kes., Sp.PM

 

Bila Si Kecil Diare

 

 

 

oleh Dr. dr. Ariani Widodo, SpA(K)

Dokter Spesialis Anak

Ayah dan Ibu, apakah si kecil pernah mengalami perubahan BAB menjadi cair? BAB cair yang seperti apa yang termasuk diare? Apakah mungkin diare disebabkan oleh selain kuman? Diare adalah salah satu penyakit yang cukup sering ditemui pada anak. Maka dari itu, penting sekali bagi Ayah dan Ibu untuk mengenali gejala diare dan penanganannya.

Apakah diare?

Diare adalah buang air besar cair sebanyak 3 atau lebih dalam sehari. Diare akut merupakan masalah umum yang berlangsung kurang dari 7 hari dan dapat sembuh sendiri. Bila diare berlangsung antara 7-14 hari, maka diare disebut diare memanjang, sedangkan lebih dari 14 hari disebut diare kronik.

Apa yang menyebabkan diare?

Ada banyak hal yang dapat menyebabkan diare, mulai dari infeksi bakteri, virus atau parasit hingga gangguan pencernaan yang tidak terkait infeksi seperti intoleransi terhadap zat-zat makanan, malabsorbsi dan maldigesti, gangguan fungsional seperti irritable bowel syndrome (IBS), dan berbagai penyakit lainnya. Beberapa diare juga disebabkan oleh reaksi terhadap obat-obatan yang dikonsumsi.

Seringkali, penyebab diare tidak dapat diidentifikasi. Selama anak tetap terjaga hidrasinya, serta diare berhenti dengan sendirinya, mengetahui penyebab diare tidaklah terlalu penting.

Gejala lain apa yang dapat menyertai diare?

Diare dapat disertai gejala lain berupa nyeri perut, keram, mual dan muntah. Beberapa penyebab diare dapat menyebabkan demam, rasa menggigil ataupun BAB berdarah.

Hal yang sangat terkait dengan diare dan harus diwaspadai adalah dehidrasi. Dehidrasi perlu segera ditangani untuk menghindari masalah kesehatan yang lebih serius seperti kerusakan fungsi organ, syok atau koma.

Tanda dehidrasi pada Anak adalah:

  1. Mulut dan lidah kering
  2. Tidak ada air mata ketika menangis
  3. Popok tidak basah selama 3 jam atau lebih
  4. Mata cekung
  5. Adanya cekungan yang halus di tengkorak kepala
  6. Demam tinggi
  7. Gelisah
  8. Kulit tidak kembali mendatar dengan cepat ketika dicubit dengan pelan

Dehidrasi dapat terjadi pada setiap diare, berapapun lama durasinya. Dehidrasi menyebabkan tubuh kekurangan cairan dan elektrolit, sehingga dapat mengganggu fungsi tubuh bahkan mengancam jiwa.

Kapan anak harus dibawa berobat ke Dokter?

Segera bawa anak Anda ke dokter apabila terdapat tanda dan gejala dibawah ini:

  1. Tanda dehidrasi
  2. Diare lebih dari 24 jam
  3. Demam lebih dari 38,5oC
  4. BAB berdarah
  5. BAB berwarna hitam

Bila anak mengalami diare, jangan ragu untuk membawa anak pergi ke Dokter. Diare sangat berbahaya terutama bagi balita dan bayi baru lahir, dan sudah dapat menyebabkan dehidrasi meskipun diare tersebut baru berlangsung sekitar 1 hingga 2 hari. Banyak anak yang meninggal karena diare, dan sebagian diantaranya meninggal meskipun durasi diarenya singkat.

Anak yang mengalami dehidrasi akibat diare mungkin perlu dirawat di rumah sakit, tergantung berat ringannya derajat dehidrasi. Minum air putih penting untuk mencegah dehidrasi, namun pada saat anak mengalami diare, minum air putih saja tidaklah cukup. Cairan pengganti yang diminum harus mengandung elektrolit dan larutan yang paling baik serta kandungannya cocok untuk anak dengan diare adalah oralit.

Bagaimana mengobati diare?

Oralit dan zink adalah pengobatan yang saat ini direkomendasikan untuk diberikan pada kasus diare. Tujuan pengobatan ini adalah untuk menggantikan cairan serta elektrolit yang hilang serta membantu pemulihan usus. Obat anti-diare yang dijual bebas tidak boleh diberikan pada anak. Apabila diare disebabkan oleh infeksi bakteri atau parasit, Dokter anda mungkin akan meresepkan antibiotik.

Makanan, Diet dan Nutrisi

Balita yang menderita diare harus tetap diberikan ASI seperti biasa, disertai dengan oralit. Pada anak yang lebih besar, makanan dengan menu yang sama sesuai umur seperti saat anak sehat tetap diberikan. Jangan puasakan anak, dan berikan makanan dalam porsi sedikit namun sering.

Bagaimana pencegahan diare?

Diare dapat dicegah dengan menjaga kebersihan makanan dan minuman. Cucilah tangan anak sebelum makan. Pemberian ASI eksklusif juga membantu mencegah diare. Pada anak, saat ini tersedia vaksin rotavirus yang dapat diberikan pada balita untuk membantu mencegah dan mengurangi beratnya diare.

Mengenal Antibiotik

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

Halo Keluarga Sehat Kejora! Pernahkah Ayah atau Ibu memeriksakan si kecil yang sakit ke Dokter dan mendapatkan resep antibiotik? Lalu, pernahkah Dokter tidak meresepkan antibiotik ketika si kecil sakit? Apakah antibiotik selalu ampuh dalam pengobatan anak yang sakit? Nah, untuk paham mengenai antibiotik, mari kita simak pembahasan Kejora mengenai antibiotik berikut ini.

Antibiotik atau dikenal juga dengan antibakterial adalah golongan obat yang pemberiannya bertujuan untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri. Dokter akan meresepkan obat ini jika pada pemeriksaan terdapat tanda atau gejala infeksi bakteri pada pasien. Apabila penyakit disebabkan oleh infeksi virus (seperti pada flu biasa), pemberian antibiotik tidak akan meredakan gejala penyakit yang dialami. Berikut ini adalah beberapa penyakit yang penanganannya mungkin membutuhkan antibiotik.

Gambar 1. Beberapa penyakit yang sering ditemui dan penyebabnya, serta perlu tidaknya antibiotik dalam kondisi penyakit yang dimaksud.

Sumber: https://www.cdc.gov/features/antibioticuse/index.html

Selain itu, antibiotik dapat diberikan sebagai pencegahan jika terdapat resiko tinggi untuk mengalami infeksi bakteri, misalnya pada pasien yang hendak menjalani pembedahan tertentu, pada pasien yang sedang menjalani kemoterapi, atau pasien yang mengalami kelainan darah tertentu.

Meskipun sangat berguna dalam penanganan infeksi bakteri, penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan petunjuk Dokter dapat berbahaya. Sebagai contoh, dokter meresepkan antibiotik untuk 5 hari, tetapi pasien hanya mengonsumsi selama 3 atau 4 hari saja. Walaupun gejala penyakit sudah membaik, antibiotik tetap harus diminum hingga tuntas sesuai dengan anjuran dokter. Dalam contoh ini, antibiotik perlu diminum selama 5 hari berturut-turut. Selain itu, penggunaan antibiotik yang tidak sesuai mungkin terjadi ketika terdapat opini yang berkembang di masyarakat bahwa pemberian antibiotik dapat meredakan gejala dan menyembuhkan penyakit lebih cepat. Pendapat ini kurang tepat sebab hanya penyakit yang disebabkan oleh bakteri saja yang akan membaik dengan pemberian antibiotik. Mengonsumsi antibiotik secara tidak tepat dapat memicu perkembangan bakteri yang kebal terhadap antibiotik (resistensi terhadap antibiotik).

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), resistensi terhadap antibiotik merupakan salah satu ancaman terbesar di bidang kesehatan saat ini. Terdapat kekhawatiran bahwa resistensi terhadap antibiotik mengakibatkan semakin banyak penyakit infeksi yang sulit diatasi dengan pemberian antibiotik, dan akan berujung pada biaya kesehatan yang semakin membengkak, durasi perawatan di rumah sakit yang panjang, dan peningkatan angka kematian akibat infeksi bakteri. Resistensi terhadap antibiotik dapat dicegah dengan pemakaian antibiotik yang benar dan aman, antara lain dengan:

  1. Mengikuti anjuran dokter dengan membeli antibiotik hanya dengan resep dokter dan mengonsumsinya sesuai dosis, frekuensi, dan durasi pemberian yang disarankan
  2. Tidak meminta dokter untuk meresepkan antibiotik jika tidak dibutuhkan
  3. Tidak memberikan antibiotik yang bersisa kepada orang lain
  4. Jika antibiotik bersisa, sebaiknya dibuang dengan aman

Semoga pembahasan ini membuat Ayah dan Ibu semakin paham mengenai antibiotik, penggunaan, dan bahaya penyimpangan penggunaan antibiotik.

Referensi:

https://www.nhs.uk/conditions/antibiotics/

https://www.nhs.uk/conditions/antibiotics/uses/

https://www.cdc.gov/features/antibioticuse/index.html

http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/bahaya-membeli-antibiotik-sendiri

https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/antibiotic-resistance

Sekilas Mengenai Hepatitis A

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

Halo Ayah Ibu Kejora! Sudahkah buah hati Ayah Ibu mendapatkan vaksinasi hepatitis A? Apa itu hepatitis A?

Hepatitis A merupakan suatu penyakit menular di mana terjadi peradangan pada hati atau liver. Penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis A ini ditularkan melalui konsumsi makanan atau minuman yang tercemar tinja penderita hepatitis A atau dikenal dengan istilah transmisi faecal-oral. Penyakit hepatitis A dapat terjadi 2-7 minggu setelah individu yang rentan terpapar dengan makanan atau minuman yang tercemar virus tersebut.

Gejala yang dapat ditemukan pada penderita hepatitis A, antara lain: demam, nyeri perut, nyeri sendi, mual, muntah, lemah, dan kuning pada kulit dan mata. Pada mata, kuning ini terlihat pada bagian mata yang semula berwarna putih (sklera). Selain itu, warna urin juga biasanya berubah menjadi lebih gelap atau berwarna seperti teh. Gejala pada penyakit ini timbul akibat respons kekebalan tubuh terhadap infeksi hepatitis A. Walaupun langka, hepatitis A dapat berkembang menjadi gagal hati akut yang bisa berakibat fatal. Pada anak berusia kurang dari 6 tahun dengan kekebalan tubuh yang belum terbentuk sempurna, gejala hepatitis A biasanya tidak khas atau hanya sebagian saja yang muncul.

Pengobatan penderita hepatitis A lebih bersifat suportif, antara lain dengan mengobati gejala demam, mual atau muntah. Tidak ada pengobatan khusus untuk membunuh virus hepatitis A. Selain itu, tatalaksana juga lebih diutamakan dengan menjaga kecukupan cairan tubuh (hidrasi). Penderita juga disarankan untuk memakan makanan yang sehat dan bergizi dan memperbanyak istirahat untuk meningkatkan kekebalan tubuhnya. Pemulihan dari infeksi hepatitis A biasanya dapat memakan waktu, berkisar dari hitungan minggu atau bahkan bulan. Berbeda dengan hepatitis B yang dapat menimbulkan efek jangka panjang, hepatitis A dapat sembuh total dan tidak menimbulkan gejala sisa atau efek di kemudian hari.

Lalu, bagaimana mencegah penyakit hepatitis A? Selain pemberian vaksin hepatitis A, menjaga kebersihan diri dan makanan yang dikonsumsi merupakan dua hal yang penting untuk diperhatikan. Terkait vaksinasi, Ikatan Dokter Anak Indonesia merekomendasikan pemberian suntik vaksin hepatitis A pada anak berusia di atas dua tahun sebanyak dua kali dengan jarak antar pemberian vaksin hepatitis A 6-12 bulan.

Tautan gambar: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017

Pastikan si kecil sudah mendapat vaksinasi hepatitis A ya, Ayah Ibu! Salam sehat Kejora!

Sumber:

http://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hepatitis-a
https://www.cdc.gov/hepatitis/hav/afaq.htm
http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/mengenal-hepatitis-a-pada-anak

Pertolongan Pertama Untuk Luka Bakar Ringan-Sedang

 

 

 

oleh dr. Nurul Larasati

Dokter Umum

Ayah dan Ibu, apa yang akan kita lakukan bila si kecil tiba-tiba terkena air panas? Atau terciprat minyak panas saat menemani Ayah dan Ibu memasak? Mungkin kita sudah banyak mendengar saran dari berbagai orang untuk penanganan pertamanya, tapi seperti apa yang dibenarkan dari segi medis?

Luka bakar tidak selalu disebabkan oleh api sebagaimana ungkapannya menggambarkan. Luka bakar adalah kerusakan pada jaringan tubuh yang penyebabnya bermacam-macam. Selain melukai kulit, kerusakan dapat pula mengenai bagian otot, pembuluh darah, syaraf, dll. Hal-hal yang dapat menyebabkan luka bakar antara lain air panas, minyak panas, sengatan listrik, sinar matahari, gesekan, radiasi, zat kimia mengandung asam dan basa, dan sebagainya.

Keparahan luka bakar sendiri dibagi menjadi tiga derajat berdasarkan:

  1. kedalaman lapisan kulit yang terluka,
  2. ukuran dan lokasinya,
  3. penyebabnya, dan
  4. usia anak.

Semua hal ini akan menentukan apakah si kecil mengalami luka bakar derajat 1 (ringan), derajat 2 (sedang), derajat 3 atau derajat 4 (berat).

  • Luka bakar derajat 1 memiliki karakteristik luka yang superfisial (hanya di lapisan epidermis). Luka tampak kemerahan dan pucat bila ditekan, kering, tidak ada gelembung (bula) dan nyeri yang tidak terlalu bermakna.
  • Luka bakar derajat 2 mengenai lapisan kulit dermis dan tampak adanya bula (gelembung di kulit) dengan dasar berwarna pucat atau kemerahan. Dapat disertai dengan bengkak lokal dan rasa nyeri yang bermakna.
  • Luka bakar derajat 3 ditandai dengan luka yang lebih luas dan dalam hingga mengenai lapisan subkutan dengan ciri tampak putih atau menghitam.
  • Luka bakar derajat 4 merusak organ tubuh yang lebih dalam hingga otot, tulang dan sendi. Pada kategori ini, bagian tubuh yang luka sudah mati rasa karena mengenai ujung-ujung syaraf.

Tindakan pertama yang dapat dilakukan oleh Ayah dan Ibu atau pengasuh ketika mendapati si kecil mengalami luka bakar adalah segera menjauhkannya dari sumber panas. Setelah itu, alirkan luka dengan air mengalir (air keran) selama 10 menit sambil menilai keparahan luka bakar. Mungkin sekali dalam satu kejadian terdapat derajat luka yang bervariasi. Tidak disarankan untuk memberikan bahan lain seperti mentega, kecap, air es atau lainnya ke luka karena dapat mengiritasi kulit lebih lanjut.

Bila Ayah dan Ibu menilai si kecil mengalami luka bakar ringan, lanjutkan aliran air hingga 20 menit. Sedangkan, bila tampak ada bula, luka yang lebih dalam, luka yang mengenai alat kelamin, sendi utama tubuh, telapak tangan dan kaki, daerah muka atau curiga anak menghirup hawa atau asap panas, segera bawa si kecil ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Lalu, obat apa saja yang aman diberikan? Salep pelembab, misalnya yang mengandung aloe vera, boleh dioleskan ke luka bila derajatnya ringan tanpa harus ditutupi kasa atau plester. Luka akan berangsur pulilh dalam enam hari bila derajatnya ringan, namun lebih lama, sekitar 20 hari, bila derajatnya sedang.

Ayah dan Ibu, fase pemulihan luka bakar sangat bergantung pada pertolongan pertama saat kejadian. Maka dari itu, jangan ragu untuk memberikan pertolongan pertama yang sesuai dan maksimal.

Referensi:

Judith Berry, M. M. (2018). Classification of Burns. Retrieved from University of Rochester Medical Center: https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?ContentTypeID=90&ContentID=P09575

Marianti. (n.d.). Luka Bakar. Retrieved from Alodokter: https://www.alodokter.com/luka-bakar.html

Puspaningtyas, N. (2015, 05 15). IDAI – Pertolongan Pertama pada Luka Bakar Ringan-Sedang. Retrieved from IDAI: http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pertolongan-pertama-pada-luka-bakar-ringan-sedang

Mengenal Penyakit Polio

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

Halo Keluarga Kejora! Tahukah Ayah Ibu tentang penyakit polio? Mari simak pembahasan Kejora berikut ini untuk mengenal lebih dekat tentang penyakit polio.

Polio merupakan salah satu penyakit yang dapat menyerang anak-anak yang disebabkan oleh infeksi virus polio. Virus polio masuk ke dalam tubuh melalui saluran cerna. Penularan penyakit ini biasanya terjadi melalui kontak dengan tinja seseorang yang terinfeksi virus polio atau melalui air liur dari orang yang terinfeksi virus polio saat bersin atau batuk. Setelah masuk ke saluran cerna, bakteri ini akan berkembang biak dan selanjutnya masuk ke dalam darah dan menyerang saraf.

Gejala yang dijumpai pada anak yang menderita penyakit polio serupa dengan gejala infeksi virus pada umumnya, antara lain demam, lesu, nyeri perut, nyeri kepala, dan mual. Selain itu, kelumpuhan pada kaki dan tangan juga bisa terjadi, karena virus polio dapat menyerang saraf di otak dan sumsum tulang belakang. Kelumpuhan ini bersifat permanen dan akan menyebabkan disabilitas pada penderitanya. Pada beberapa kasus, virus polio juga menyerang saraf otot yang berperan dalam pernafasan, yang dapat mengakibatkan kesulitan bernafas dan kematian.

Sampai dengan saat ini, polio belum dapat disembuhkan. Pada anak yang menderita penyakit polio, penanganan yang diberikan bersifat suportif atau mengurangi disabilitas jangka panjang, seperti fisioterapi, terapi okupasi, maupun pembedahan untuk mengoreksi kelainan pada tulang akibat virus polio. Meskipun demikian, penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian vaksinasi polio pada anak sebanyak 5 kali, yaitu pada saat baru lahir, pada usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, dan 18 bulan.

Saat ini, di Indonesia tersedia dua jenis vaksin polio, yaitu vaksin yang diteteskan melalui mulut (oral) dan yang disuntikkan. Selain perbedaan cara pemberian, perbedaan kedua vaksin ini juga terletak pada jenis virus di dalamnya. Vaksin polio tetes berisi virus polio hidup yang sudah dilemahkan. Setelah diteteskan dan ditelan, virus yang telah dilemahkan tersebut akan berkembang biak di usus dan membentuk kekebalan terhadap virus polio liar. Sedangkan, vaksin polio yang disuntikkan mengandung virus polio yang sudah mati. Virus ini hanya membentuk kekebalan di dalam darah. Jika anak yang mendapat vaksin polio suntik terinfeksi virus polio liar, virus tersebut tetap bisa berkembang biak di usus dan virus yang terkandung dalam tinja bisa menginfeksi anak lain di sekitarnya. Namun, infeksi ini tidak menyebabkan anak sakit karena sudah memiliki kekebalan di dalam darah. Hal inilah yang mendasari pemberian vaksin polio tetes di negara yang masih mengalami penularan vaksin polio liar. Pemberian vaksin polio tetes akan beralih ke pemberian vaksin suntik kalau selama ≥ 5 tahun tidak ditemukan virus polio liar.

Jadi, sudahkah buah hati Ayah Ibu mendapatkan vaksinasi polio? Jika belum, konsultasikan dengan Dokter mengenai pemberian imunisasi polio untuk si kecil ya. Dengan memastikan pemberian imunisasi polio untuk si kecil, maka Ayah dan Ibu sudah berpartisipasi untuk mewujudkan dunia bebas polio yang diharapkan tercapai pada tahun 2020.

Sumber:
https://www.nhs.uk/conditions/polio/
https://www.cdc.gov/polio/about/
http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/tanya-jawab-polio
http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017

Cacingan

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

Halo Ayah Ibu! Dalam kesempatan kali ini, Kejora ingin berbagi informasi tentang cacingan pada anak. Walaupun terkesan sederhana, cacingan yang tidak diatasi ternyata dapat menganggu tumbuh kembang si kecil lho. Yuk, kita simak pembahasan cacingan berikut ini!

Cacingan pada anak cukup sering terjadi, terutama pada anak berusia 5-14 tahun. Cacingan terjadi akibat menelan telur cacing, baik karena mengonsumsi makanan atau minuman yang sudah tercemar telur cacing ataupun karena kurangnya menjaga kebersihan. Ada 4 jenis cacing yang biasa menyebabkan cacingan pada anak, yaitu cacing gelang, cacing cambuk, cacing tambang, dan cacing kremi. Cacingan pada anak dapat menimbulkan kerusakan pada lapisan usus halus dan mengganggu penyerapan nutrisi penting yang dikonsumsi, termasuk karbohidrat, protein, zat besi, dan lain-lain.

Anak yang mengalami cacingan pada awalnya akan mengalami gejala yang ringan. Gejala ringan tersebut biasanya tidak khas dan dapat berupa lemas, kurang bersemangat, mudah mengantuk, dan pucat. Gejala-gejala tersebut muncul karena asupan nutrisi yang diserap tubuh anak berkurang. Cacingan juga dapat menyebabkan anemia pada anak, diare, dan menurunkan kekebalan tubuh anak. Jika tidak diatasi, cacingan dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang dan gangguan belajar pada anak.

Sama seperti penyakit lainnya, prinsip mencegah lebih baik daripada mengobati. Pencegahan cacingan pada anak dapat dilakukan dengan mengajarkan dan menerapkan perilaku hidup bersih pada anak, seperti membiasakan mencuci tangan dengan sabun dan air bersih terutama sebelum makan dan sesudah bermain, menggunting kuku setiap 1 minggu, dan memastikan semua buah-buahan dan sayuran yang dikonsumsi sudah dicuci. Selain itu, pencegahan juga dilakukan dengan pemberian obat cacing yang dapat dimulai sejak anak berusia 2 tahun dan diulang setiap 6 bulan. Diberikan pada anak berusia 2 tahun karena pada usia tersebut, anak biasanya mulai bermain-main dengan tanah di mana banyak terdapat cacing dan telur cacing. Jika ada anggota keluarga yang mengalami cacingan, maka anggota keluarga yang lain juga disarankan untuk meminum obat cacing.

Cacingan pada anak perlu dicurigai jika anak mengalami gejala tidak khas yang telah dijelaskan di atas, diare yang tidak disertai maupun disertai lendir dan darah, berat badan anak yang tidak sesuai dengan kurva pertumbuhan. Jika Ayah Ibu melihat si kecil mengalami gejala tersebut, sebaiknya periksakan ke Dokter agar dicari tahu penyebabnya. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik dan meminta pemeriksaan tinja. Jika ditemukan telur cacing pada tinja, maka Dokter akan meresepkan obat cacing.

Sumber:
www.idaijogja.or.id/kecacingan/
www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/kapan-balita-perlu-minum-obat-cacing