Yuk Mengenal Pertumbuhan Janin Terhambat!

 

 

 

 

oleh dr. Devy Marischa Malik

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

 

Halo Ibu Kejora!

Apakah Ibu pernah mendengar suatu kondisi yang disebut pertumbuhan janin terhambat (PJT)? PJT, atau dalam Bahasa Inggris disebut Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) ialah suatu keadaan dimana janin mengalami kegagalan mencapai potensi pertumbuhannya. Ini adalah suatu proses yang terjadi didalam kandungan dan ditandai dengan adanya pertumbuhan janin yang tidak sesuai dengan usia kehamilan atau biasanya lebih kecil dari usia kehamilan. PJT dapat terjadi disetiap usia kehamilan, oleh karenanya penting untuk ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan (antenatal care) secara teratur.

Mendeteksi PJT

Ibu, kondisi PJT dapat dideteksi sedari dini bila Ibu rutin melakukan pemeriksaan kehamilan. Untuk membantu penapisan PJT, beberapa faktor penting yang perlu Ibu perhatikan saat pemeriksaan kehamilan adalah sebagai berikut:

  1. Mengetahui usia kehamilan dengan pasti

Kesalahan mengetahui usia kehamilan dapat berakibat pada kesalahan penentuan taksiran berat janin. USG trimester pertama adalah saat yang paling tepat untuk mengetahui usia kehamilan.

  1. Pertambahan berat badan Ibu

Waspada bila Ibu tidak mengalami kenaikan berat badan pada kunjungan rutin.

  1. Kondisi umum Ibu

Kondisi umum yang perlu diperhatikan termasuk diantaranya adalah tekanan darah tinggi, penyakit metabolik, dan infeksi.

  1. Hasil pemeriksaan USG

Melalui pemeriksaan USG, Ibu dan dokter dapat mengetahui laju pertumbuhan janin dan juga taksiran beratnya, apakah sesuai dengan usia kehamilannya, ataukah lebih besar atau lebih kecil.

Semua bayi dengan berat lahir kecil disebabkan PJT?

Seperti yang diungkapkan sebelumnya, kondisi PJT dapat menyebabkan ukuran dan berat badan janin tidak sesuai usia kehamilannya. Namun tidak semua bayi yang terlahir kecil disebabkan oleh PJT. Bayi dengan berat lahir kecil dapat dikarenakan hal-hal di bawah ini, seperti:

  1. Bayi prematur atau kurang dari 37 minggu
  2. Bayi kecil masa kehamilan dimana sang bayi memang memiliki kecenderungan proporsi badan yang kecil namun sehat dan bugar
  3. Bayi dengan pertumbuhan janin terhambat
  4. Bayi dengan anomali atau kelainan.

Dari keempat hal di atas, hanya bayi dengan kecil masa kehamilan yang dianggap kondisinya normal.

Seberapa parah PJT?

Sebagai bagian dari usaha penapisan PJT, ada hal-hal penting yang baiknya Ibu tanyakan atau ketahui saat memeriksakan kandungan di dokter. Pada pemeriksaan USG Ibu bisa tanyakan:

  1. Apakah taksiran berat janin sesuai dengan usia kehamilan?
  2. Apakah jumlah air ketuban sesuai dengan usia kehamilan?
  3. Bagaimana laju pertumbuhan janin?
  4. Bagaimana arus darah janin?

Derajat keparahan PJT bervariasi mulai dari ringan hingga berat dan dapat berlangsung pada berbagai usia kehamilan. Pada PJT derajat ringan, dokter akan melakukan evaluasi ketat namun masih dapat dikoreksi tanpa harus melahirkan janin. Namun pada PJT yang berat, janin tidak mendapatkan cukup nutrisi dan oksigen sehingga terjadi suatu keadaan asfiksia dan janin sudah tidak bisa berkompensasi lagi. Kondisi seperti ini biasanya menjadi pertimbangan kuat untuk dilakukan terminasi kehamilan atau persalinan. Kondisi PJT yang berat harus dievaluasi ketat oleh dokter dan juga perlu persiapan support NICU jika ternyata usia kehamilan masih kurang dari 37 minggu. Dengan demikian, bukan hanya dokter kandungan saja yang dibutuhkan tapi juga dokter spesialis anak yang nantinya akan merawat sang bayi.

Jadi, Ibu jangan lupa untuk rutin melakukan pemeriksaan kehamilan ya! Tanyakan juga ke dokter mengenai empat hal di atas terkait kesesuaian pertumbuhan janin. Bila janin diketahui mengalami PJT, luangkan waktu lebih untuk berkonsultasi dengan dokter. Semoga Ibu dan janin selalu dalam keadaan baik dan sehat ya!

Editor: dr. Nurul Larasati

Donor ASI

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah ayah dan ibu mengetahui tentang donor ASI? Hal yang sering dibicarakan saat ini, terutama di kalangan keluarga yang baru memiliki bayi atau sedang dalam proses menyusui.

Kontributor Kejora Indonesia, dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC, CIMI, berbagi informasi penting mengenai donor ASI. Sebelum anda memutuskan untuk memberikan ASI atau menjadi donor ASI sebaiknya anda membaca poin di bawah ini.

Apa itu Donor ASI?

Donor ASI merupakan proses berbagi ASI, atau pemberian ASI seorang ibu untuk bayi yang bukan anak biologisnya. Mengapa kegiatan ini sering disebut sebagai donasi / donor ASI (breast milk donation), dan bukan berbagi ASI (breast milk sharing)? Karena ASI adalah cairan tubuh manusia, dan berpotensi membawa penyakit, risiko alergi, dan materi genetik seorang ibu, sehingga dunia kesehatan menempatkan donor ASI setara dengan donor darah. Oleh sebab itu proses donor ASI seharusnya dilakukan melalui proses penapisan dan pemeriksaan seperti layaknya proses donor darah.

Di Indonesia, sampai konten ini diterbitkan, belum ada Bank ASI yang terstandar. Praktik donor ASI yang banyak dilakukan di Indonesia merupakan praktik donor ASI informal melalui jaringan sosial, atau mulut ke mulut.

Meskipun proses informal, ada 4 pilar penting yang perlu diperhatikan dalam proses tukar-menukar atau berbagi ASI:

  1. Persetujuan tindakan

Semua pihak, baik yang memberi ASI (ibu donor) maupun ibu dan bayi dan keluarga penerima (resipien) harus memahami, mengerti, dan secara objektif menilai informasi terkait donor ASI termasuk keuntungan, risiko, konsekuensi medis, psikologis, dan sosiokultural pemberian ASI donor. Hal ini memudahkan para pihak untuk mengambil keputusan yang tepat. Dokter, bidan, konselor laktasi merupakan tenaga profesional yang tepat untuk berkonsultasi sebelum mengambil keputusan untuk donor ASI atau menerima donor ASI.

  1. Penapisan donor

Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang ibu donor ASI untuk dapat memberikan ASInya untuk bayi lain. Secara umum, penapisan donor ASI terdiri dari penapisan mandiri, pengkajian kesehatan dan gaya hidup (seperti risiko infeksi HIV, Hepatitis B, dan Hepatitis C, peminum alkohol, merokok, pengguna Narkoba, ataupun sedang menjalani pengobatan kemoterapi atau radioterapi), serta pemeriksaan darah untuk penyakit-penyakit yang dapat menular melalui darah (HIV, dan HTLV).

  1. Penanganan yang aman

Penanganan yang aman meliputi kebersihan tangan saat memerah ASI, proses memerah ASI yang baik, kulit ibu donor yang sehat, serta penyimpanan ASI perah yang memadai.

  1. Proses pasteurisasi ASI donor

Semua ASI donor harus melalui proses pasteurisasi untuk memastikan virus dan bakteri yang mungkin terkandung dalam ASI. Proses pasteurisasi ini dapat dilakukan secara mandiri di rumah dengan cara memanaskan ASI perah sampai suhu tertentu dan mempertahankannya dalam waktu tertentu. Pasteurisasi Holder memanaskan ASI perah dalam suhu 62.5°C selama 30 menit. Pasteurisasi pemanasan kilat (flash heating) menempatkan ASI perah pada suhu 72°C selama beberapa detik.

Demikian informasi mengenai donor ASI Keluarga Kejora, semoga bermanfaat terutama bagi anda yang sedang memiliki rencana untuk mencari donor ASI.

Editor: drg. Annisa Sabhrina

Referensi

The Four Pillars of Safe Breast Milk Sharing by Shell Walker and Maria Armstrong, from Midwifery Today (2012), 101, 34-37
https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/donor-asi

Apa Itu Cryptic Pregnancy?

 

 

 

 

oleh dr. Devi Marischa Malik

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

 

Halo Ibu dan Ayah Kejora! Apakah Ibu pernah dengar cerita yang sempat gempar di sosial media tentang ibu yang tidak tau dia hamil sampai waktunya persalinan? Hmmm.. Hamil tapi tidak merasakannya? Mungkinkah?

Mungkin sulit untuk dipercayai, namun pada beberapa perempuan terkadang tanda dan gejala kehamilan bisa sangat tersamarkan sehingga ia tidak mengetahui bahwa dirinya hamil. Hal seperti ini terjadi pada beberapa perempuan dan keadaan ini disebut sebagai cryptic pregnancy atau kehamilan cryptic. Istilah ini juga seringkali dikaitkan dengan denied-pregnancy.

Cryptic menurut kamus Merriam-Webster berarti sesuatu yang bersifat tersembunyi atau tidak diketahui. Kehamilan jenis ini, secara mencengangkan terjadi cukup sering, yaitu 1 dari 475 kehamilan. Sang Ibu biasanya baru menyadari kehamilannya antara usia kehamilan 20 minggu hingga saat persalinan. Ya benar, sang Ibu baru mengetahui bahwa dirinya hamil saat persalinan! Pada salah satu jurnal juga disebutkan bahwa kehamilan ini terjadi pada 1 dari 2500 kehamilan pada “Dunia Barat Modern”. Mengejutkan bukan?!

Pada beberapa jurnal kedokteran didapatkan laporan kasus mengenai seorang perempuan yang mengeluh mengalami nyeri perut hebat dan setelah dilakukan pemeriksaan di IGD ternyata perempuan tersebut mengalami keadaan persalinan.

Penyebab Cryptic Pregnancy

Beberapa penyebab terjadinya cryptic pregnancy antara lain:

  1. Siklus haid tidak normal. Ibu sebelumnya telah memiliki siklus haid yang tidak normal, sehingga ia menjadi biasa saja saat dirinya tidak mengalami haid selama beberapa bulan.
  2. Ibu dalam fase peri-menopause. Pada beberapa wanita yang berada dalam fase peri-menopause (fase menjelang menopause) seringkali terjadi haid yang tidak teratur dan selama beberapa bulan tidak haid. Sehingga seringkali sang Ibu merasa baik-baik saja saat tidak haid. Bahkan pada perempuan dalam fase ini atau yang merasa “sudah tua” sudah memiliki pemikiran bahwa dirinya tidak mungkin hamil, sehingga kehamilan sama sekali tidak pernah dibayangkan oleh mereka.
  3. Tidak tampak tanda hamil. Ibu tidak mengalami mual muntah pada trimester awal, dan juga ia tidak mengalami pertumbuhan berat badan yang cukup berbeda selama kehamilan.
  4. Tidak terasa gerakan janin. Pada kasus seperti ini, bisa jadi persepsi seorang perempuan yang tidak menyangka dirinya hamil sehingga menyangka bahwa gerakan tersebut adalah gerakan saluran pencernaan biasa.

Apakah Cryptic Pregnancy Berbahaya?

Seperti yang kita ketahui bahwa dalam kehamilan terjadi banyak perubahan pada Ibu dan janin, dimana kesejahteraan keduanya saling terhubung. Sehingga kegagalan untuk menyadari kehamilan akan memberi dampak buruk pada Ibu dan/atau janin, seperti berikut ini:

  1. Tidak dilakukan kunjungan antenatal secara baik. Hal ini dapat berakibat tidak diketahuinya beberapa komplikasi seperti berat janin kurang, air ketuban berkurang dan sebagainya.
  2. Tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium awal. Kondisi anemia, infeksi, dan sebagainya diketahui dapat mengakibatkan komplikasi pada kehamilan. Contohnya, infeksi saluran kemih pada ibu hamil dapat memicu terjadinya kontraksi yang jika dibiarkan dapat menimbulkan persalinan prematur.
  3. Tidak dilakukannya skrining terhadap Ibu, terutama hipertensi yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya pre-eklampsia dan eklampsia
  4. Komplikasi pada bayi, seperti lahir prematur, berat lahir kecil (Kurang Masa Kehamilan/ KMK) hingga Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT).

Apa Yang Sebaiknya Dilakukan?

Pada Ibu yang masih dalam usia produktif perlu disadari bahwa kehamilan bisa terjadi kapanpun, bahkan saat Ibu dalam proteksi kontrasepsi. Ingat kan pembahasan sebelumnya mengenai alat kontrasepsi termasuk angka persentase kegagalannya? Berikut tips & trick untuk menghindari terjadinya cryptic pregnancy:

  1. Ketahui pola haid normal.
  2. Kenali tanda-tanda perubahan pada tubuh kita, misalnya mudah merasa lelah, nyeri pinggang, sering berkemih, atau rasa tidak nyaman pada daerah perut.
  3. Ibu yang dalam proteksi kontrasepsi dapat memeriksakan diri ke tenaga medis secara berkala, misalnya setiap 3 bulan, 6 bulan atau satu kali setahun.

Jadi, cryptic pregnancy itu benar bisa terjadi ya. Kenali tubuh kita dengan baik dan selalu waspada.

Editor: dr. Nurul Larasati

Pekan Menyusui Sedunia 2020

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora!

Di tengah pandemi COVID-19, kita merayakan Pekan Menyusui Sedunia (World Breastfeeding Week) yang jatuh pada minggu pertama bulan Agustus 2020. Pekan Menyusui Sedunia yang diselenggarakan setiap tahun pada tanggal 1-7 Agustus, merayakan peran ibu menyusui dan meningkatkan kepekaan masyarakat awam terhadap menyusui.

Pada tahun 2020 ini, World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) menentukan tema “Support Breastfeeding for a Healthier Planet” sebagai bentuk dukungan menyusui terhadap lingkungan hidup.

Berikut manfaat menyusui terhadap lingkungan hidup dan kehidupan bermasyarakat:

  • Menyusui dapat mengurangi sampah botol, plastik, kardus kemasan serta mengurangi polusi yang diakibatkan proses produksi dan konsumsi Pengganti ASI (PASI). ASI adalah sumber daya terbarukan alami yang tidak memerlukan proses pengemasan, pemasaran, pengiriman, dan pembuangan.
  • Menurunkan kebutuhan listrik dan bahan bakar minyak yang diperlukan untuk produksi, pemasaran, distribusi, dan pembuangan PASI.
  • Menyusui eksklusif dapat menjadi metode kontrasepsi alami dan dapat menjarakkan kehamilan.
  • Bayi yang menyusu ASI menunjukkan respons imunologis yang lebih baik terhadap vaksin oral maupun suntikan.
  • Menurunkan biaya kebutuhan pokok keluarga. Pemberian PASI memakan biaya Rp. 300.000,00-800.000,00 per bulan.
  • Menyusui menurunkan angka kematian maupun kesakitan bayi sehingga menurunkan biaya pelayanan kesehatan yang harus ditanggung baik keluarga, asuransi, maupun pemerintah.
  • Menurunkan premi asuransi yang harus dibayar orang tua maupun pemberi kerja.
  • Meningkatkan produktivitas kerja orang tua karena bayi yang menyusu eksklusif rata-rata lebih jarang sakit.

Editor: drg. Annisa Sabhrina

Sumber:

http://www.tensteps.org/benefits-of-breastfeeding-for-the-environment-society.shtml#:~:text=Breastfeeding%20does%20not%20waste%20scarce,packaging%2C%20shipping%2C%20or%20disposal.&text=Though%20less%20of%20a%20factor,sibling%20and%20the%20new%20infant.

Bolehkah Minum Kopi Decaf saat Hamil?

 

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Keluarga Sehat Kejora!

Belakangan ini, minuman berbasis kopi semakin populer sehingga dapat kita temukan di mana-mana. Dahulu, minuman berbasis kafein ini dikonsumsi untuk alasan meningkatkan energi dan mengurangi rasa kantuk.  Bukan hanya kopi hitam pahit dan es kopi susu, saat ini banyak kombinasi kopi dengan berbagai sirup, teh, susu, hingga kopi decaf. Bahkan, kopi ini bukan hanya dijual dalam bentuk biji kopi, kopi bubuk, atau minuman siap saji dalam gelas – saat ini banyak gerai yang menjual kopi dalam kemasan botol 1 liter, sehingga memudahkan siapapun untuk mengonsumsinya.

Ibu hamil biasanya akan memilih untuk mengurangi konsumsi kopi atau bahkan tidak mengonsumsi kopi sama sekali untuk menghindari risiko kesehatan. Nah, mungkin ada yang bertanya-tanya, bagaimana dengan kopi decaf, ya? Kan, kopi decaf memiliki kandungan kafein rendah. Apakah kopi decaf boleh dikonsumsi saat sedang hamil?

 

KAFEIN DAN KEHAMILAN

Kafein adalah stimulan yang sebetulnya dapat ditemukan dalam berbagai tumbuhan. Selain kopi, beberapa tumbuhan lain yang mengandung kafein antara lain adalah teh, kokoa/coklat, dan guarana. Beberapa penelitian juga menemukan manfaat dari konsumsi kafein terhadap penyakit jantung, penyakit hati/liver, diabetes, dan beberapa jenis kanker.

Selama kehamilan, proses metabolisme kafein akan berjalan lebih lambat, dan kafein juga dapat menembus plasenta- hingga dapat masuk ke dalam aliran darah janin- disana kafein tidak dapat dimetabolisme.

Walaupun mekanismenya belum diketahui secara pasti, beberapa penelitian dengan hewan mencoba menunjukkan bahwa konsumsi kafein yang tinggi selama kehamilan berhubungan dengan berat badan lahir bayi yang rendah, restriksi pertumbuhan, keguguran, dan peningkatan risiko overweight pada masa pertumbuhan anak. Saat ini penelitian masih terus berjalan, dan hubungan antara konsumsi kafein dengan risiko negatif selama kehamilan bervariasi pada setiap orang. Dengan informasi yang diketahui saat ini, perhimpunan kedokteran obstetri ginekologi American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) memberikan rekomendasi konsumsi kafein pada wanita hamil yaitu kurang dari 200 mg dari total konsumsi kafein per hari.

Satu gelas (240 ml) kopi hitam mengandung sekitar 96 mg kafein, sehingga berbagai rekomendasi memberikan batas maksimal konsumsi kopi hitam adalah 2 gelas (475 ml) per hari.

 

BERAPA BANYAK KAFEIN DALAM KOPI DECAF?

Kata “decaf” merujuk pada decaffeinated, artinya sekitar 97% kafein dalam biji kopi telah diekstrak sehingga hanya sedikit sekali kafein yang terdapat dalam kopi decaf.

Satu cangkir (240 ml) kopi decaf mengandung sekitar 2,4 mg kafein, sedangkan 1 sajian espresso decaf (60 ml)  mengandung sekitar 0,6 mg kafein.

Bisa kita bandingkan jumlah kafein dalam jenis minuman kopi lainnya:

  • Espresso reguler: 127 mg dalam 1 sajian 60 ml
  • Kopi hitam reguler: 96 mg dalam 1 sajian 240 ml
  • Dark chocolate: 80 mg dalam 1 sajian 100 gram
  • Energy drinks: 72 mg dalam 1 sajian 240 ml
  • Teh hitam: 47 mg dalam 1 sajian 240 ml
  • Cola: 33 mg dalam 1 sajian 355 ml
  • Hot chocolate: 7 mg dalam 1 sajian 240 ml

Tentu saja jumlah kafein dalam kopi decaf jauh lebih kecil dibandingkan dengan jenis minuman kopi, teh, dan minuman olahan sumber kafein lainnya.

Namun perlu kita ingat juga, setiap jenis kopi memiliki kandungan kafein yang berbeda-beda. Salah satu penelitian pada kopi decaf menunjukkan kadar kafein hingga 14 mg dalam 1 sajian 475 ml. Walaupun jumlah ini masih sangat kecil, sebaiknya kita selalu memperhatikan jumlah kafein yang terdapat dalam minuman kafein yang kita gunakan.

Sampai saat ini belum ada anjuran resmi mengenai berapa banyak kopi decaf yang boleh dikonsumsi oleh ibu hamil. Sebuah penelitian tahun 1997 menemukan bahwa wanita yang mengonsumsi >= 3 gelas (710 ml) kopi decaf selama trimester pertama memiliki risiko keguguran hingga 2,4 kali lebih tinggi dibandingkan wanita yang tidak mengonsumsi kopi sama sekali. Sebuah penelitian lain tahun 2018 juga menunjukkan hasil yang serupa, yaitu wanita hamil yang mengonsumsi 400 mg kafein/hari mengalami peningkatan risiko aborsi spontan (terutama saat usia kandungan 9-19 minggu) hingga 20% dibandingkan dengan mereka yg mengonsumsi <50 mg kafein/hari. Perlu diperhatikan bahwa dalam penelitian ini peneliti juga menyertakan kemungkinan bias yang ada (kelangsungan hidup janin, gejala mual-muntah selama kehamilan, dan pola makan pada setiap ibu hamil).

Mengganti minuman kopi dengan kopi decaf tentu saja akan menurunkan jumlah konsumsi kafein harian. Namun jika ingin menghindari konsumsi kafein selama kehamilan sama sekali, Ibu bisa memilih minuman teh herbal atau teh buah, infused water dengan buah-buahan citrus dan madu, ataupun golden milk (campuran susu dengan turmerik yg terdapat dalam bubuk kunyit).

Editor: drg. Valeria Widita W

Referensi

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31818639/

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/9270953/

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27573467/

 

Mengenal Ragam Kontrasepsi

 

 

 

 

oleh dr. Devi Marischa Malik

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

 

Halo Ibu dan Ayah Kejora! Apakah Ibu dan Ayah sudah tau ragam-ragam kontrasepsi? Mari kita kenali jenis-jenisnya agar Ibu dan Ayah dapat menentukan jenis kontrasepsi yang nyaman.

Tujuan dari digunakannya kontrasepsi adalah untuk menunda kehamilan, mengatur atau menjarangkan kehamilan, dan mengakhiri masa kehamilan. Idealnya, kontrasepsi memiliki harga yang tidak terlampau mahal, mudah digunakan dengan efek samping yang minimal, siklus menstruasi dapat segera kembali normal saat dihentikan, mudah didapatkan, memiliki tingkat efektivitas yang tinggi, dan dapat digunakan oleh orang non medis.

Jenis-jenis kontrasepsi yang tersedia saat ini ada bermacam-macam:

  1. Alami:

Contoh kontrasepsi alami adalah seperti metode kalender, pantang berkala, dan pemeriksaan lendir serviks. Pada dasarnya, kontrasepsi jenis ini bertujuan agar Ibu dapat mengetahui kapan masa subur sehingga dapat mencegah terjadinya pembuahan dan tidak terjadi kehamilan.

  1. Penghalang atau barrier:

Jenis kontrasepsi yang termasuk penghalang adalah spermisida atau kondom. Pemakaian kondom selain cukup efektif dalam mencegah kehamilan, juga bisa mencegah dari terjadinya Penyakit Menular Seksual.

  1. Hormonal:

Contoh kontrasepsi yang mengandung hormon yaitu pil, suntikan seperti DMPA, atau implan. Kontrasepsi hormonal dapat mengandung satu jenis hormone atau dua (kombinasi). Hormon tunggal hanya mengandung hormon progestin seperti pil, suntikan berupa DMPA, dan implan. Sedangkan, kontrasepsi hormonal kombinasi mengandung hormon progestin dan estrogen, seperti pil dan suntikan.

Kontrasepsi hormonal memiliki tingkat efektivitas yang cukup tinggi hingga 99%. Namun, perlu diingat bahwa pemakaian kontrasepsi ini tidak melindungi dari penyakit menular seksual. Pil dan suntikan relatif sangat mudah untuk digunakan, namun untuk implant membutuhkan tenaga medis untuk pemasangannya.

  1. Non hormonal:

Spiral atau intrauterine device (IUD) adalah jenis kontrasepsi non hormonal. Jenis ini memiliki tingkat efektivitas yang cukup tinggi, yaitu > 97%. Namun, pemasangannya membutuhkan keterampilan dari tenaga medis.

  1. Kontrasepsi mantap:

Kontrasepsi mantap adalah tindakan sterilisasi yang dapat terdiri atas vasektomi (pada laki-laki) dan tubektomi (pada perempuan). Jenis kontrasepsi ini bersifat permanen, meskipun pernah tercatat terjadi kehamilan pada penggunanya. Angka kegagalannya berkisar antara 0,8% sampai dengan 3,7%. Untuk membuka kembali kontrasepsi jenis ini membutuhkan tindakan operatif dengan angka keberhasilan yang relatif kecil.

Bila Ibu dan Ayah ingin menunda masa kehamilan, mengatur atau menjarangkan kehamilan, Ibu dapat menggunakan jenis kontrasepsi pil, IUD, suntik, atau implan. Sedangkan, untuk mengakhiri kehamilan, pilihan yang paling tepat adalah kontrasepsi mantap atau steril. Namun selain itu Ibu juga dapat menggunakan IUD.

Pada keadaan khusus seperti Ibu menyusui, pasca melahirkan, pasca keguguran, atau kedaruratan, maka pilihan kontrasepsinya pun khusus. Maka dari itu, Ibu harus berkonsultasi lebih dahulu ke tenaga kesehatan terdekat, misalnya bidan, dokter umum, atau dokter spesialis kandungan.

Metode kontrasepsi ternyata ada banyak jenisnya ya, Ayah dan Ibu. Semoga dengan mengetahui ragamnya, Ayah dan Ibu dapat menentukan pilihan yang terbaik.

Editor: dr. Nurul Larasati

Program Hamil: Merencanakan Kehamilan dengan Baik

 

 

 

 

 

oleh dr. Darrel Fernando, Sp.OG

Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi

 

Kehamilan adalah sebuah proses luar biasa yang menyebabkan perubahan pada ibu, perkembangan janin, dan dinamika keluarga. Oleh sebab itu kehamilan harus direncanakan dan dipersiapkan dengan optimal. Berikut beberapa tips untuk merencanakan kehamilan dengan baik.

 

Waktu Program Hamil

  • Diskusikan dengan pasangan kapan waktu yang tepat untuk mulai mempersiapkan kehamilan. Terkadang ada pasangan yang ingin langsung memiliki keturunan setelah menikah, ada yang ingin menunda. Sesuaikan dengan kondisi rumah tangga masing-masing dan jangan terbebani tekanan sosial.
  • Kenali kondisi tubuh masing-masing. Kehamilan akan lebih mudah dicapai dan lebih baik bila kondisi istri dan suami sehat, baik secara jasmani maupun mental-emosional. Jika ada kondisi medis atau riwayat penyakit sebelumnya, sebaiknya kondisi tersebut diatasi atau dikontrol terlebih dahulu dengan dokter sebelum merencanakan kehamilan.
  • Asupan nutrisi yang baik dan seimbang tentunya juga akan mendukung terjadinya pembuahan, mempengaruhi pembentukan janin dan dapat mengurangi risiko penyakit pada ibu maupun janin selama masa kehamilan.

 

Hubungan Seksual saat Program Hamil

  • Waktu berhubungan seksual yang dianjurkan pada saat program hamil adalah setiap 2-3 hari.
  • Posisi berhubungan seksual & pencapaian orgasme pada perempuan tidak berhubungan dengan keberhasilan kehamilan.

 

Gaya Hidup saat Program Hamil

  • Selama program hamil, makanan sebaiknya bergizi lengkap dan seimbang (lihat contoh Isi Piringku). Kurangi konsumsi makanan instan, makanan yang banyak zat oksidatif seperti makanan yang banyak bagian gosongnya. Pilihlah jenis makanan yang berasal dari bahan makanan segar sehingga memiliki kandungan nutrisi tinggi, dengan memperhatikan porsi setiap jenis zat makro (karbohidrat, protein, lemak) dan mikro (vitamin dan mineral), dan jangan lupa untuk memperhatikan asupan cairan dan melakukan aktivitas fisik.
  • Salah satu suplementasi yang dianjurkan pada saat program hamil adalah asam folat. Ibu hamil dapat mengonsumsi bahan makanan sumber yang mengandung asam folat tinggi seperti edamame, sayuran berdaun hijau seperti bayam atau selada, brokoli, alpukat, mangga, jeruk, jagung manis, kacang-kacangan dan biji-bijian.
  • Suplementasi vitamin lainnya harus dipertimbangkan terutama pada ibu malnutrisi dan ibu yang sering mengalami mual dan muntah sehingga asupannya berkurang. contoh: kalsium, zat besi, vitamin B6, vitamin D, seng, dll.
  • Ibu hamil harus memperhatikan berat badan sebelum hamil, serta rutin memperhatikan kenaikan berat badan selama kehamilan. Kenaikan berat badan yang terlalu berlebihan atau kurang akan berisiko pada kesehatan ibu dan janin.
  • Upayakan gaya hidup sehat. Kebiasaan seperti merokok (termasuk rokok elektrik) dan konsumsi alkohol sebaiknya dihentikan pada istri dan suami pada saat program hamil. Konsumsi kafein dibatasi menjadi 1-2 gelas per hari.

 

 

Kapan Harus Program Hamil ke Dokter?

  • Sekitar 50% pasangan baru menikah akan hamil dalam 6 bulan pertama, dan 80% akan hamil dalam 1 tahun pertama pernikahan.
  • Bila sudah 1 tahun menikah dan berhubungan seksual rutin tanpa menggunakan kontrasepsi dan belum hamil, kondisi ini disebut infertilitas. Infertilitas terjadi pada sekitar 1 dari 7 pasangan (sekitar 15%).
  • Penyebab infertilitas adalah 30-40% faktor perempuan, 30% faktor laki-laki, dan 30% tidak diketahui penyebabnya.
  • Dianjurkan untuk program hamil ke dokter kandungan, bila:
    1. Sebelum 1 tahun: usia > 35 tahun, terdapat riwayat gangguan haid, perdarahan, nyeri haid hebat pada perempuan
    2. Setelah 1 tahun berhubungan seksual rutin tanpa menggunakan kontrasepsi.

  

Editor: @dr.kristinajoy

 

https://www.nhs.uk/common-health-questions/pregnancy/how-can-i-increase-my-chances-of-getting-pregnant/

https://www.rcog.org.uk/en/patients/fertility/problems/

https://www.nhs.uk/conditions/infertility/

 

Gangguan Mood pada Ibu Menyusui

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Menyusui  merupakan bentuk kerjasama tim. Bukan hanya membutuhkan partisipasi aktif seorang ibu dan bayinya, namun juga perlu disokong oleh beberapa faktor seperti pasangan, keluarga besar, kebijakan di lingkungan kerja dan komunitas.1

Salah satu cara memberdayakan ibu untuk bisa mencapai keberhasilan menyusui adalah dengan mengenali kondisi mental ibu yang  dapat menjadi hambatan dalam menyusui.

Gangguan psikiatri postpartum secara umum dibagi menjadi 3, yakni baby blues, postpartum psychosis, dan postpartum depression (depresi postpartum). Baby blues memiliki insidens global 300-750 per 1000 ibu. Kondisi ini merupakan gangguan psikiatri paling dini karena rasa sedih ibu saat bersama bayi dan akan hilang dengan sendirinya dalam waktu satu minggu. Namun pada 10-15% kasus, 1 kondisi ibu yang mengalami baby blues dapat berkembang menjadi depresi postpartum.2

Depresi post partum terjadi pada 100-150 per 1000 ibu baru melahirkan dan perlu ditangani. Psikosis post partum merupakan kondisi psikosis yang muncul dalam empat minggu pertama postpartum dan memerlukan perawatan di rumah sakit. Di negara maju, gangguan psikiatri postpartum termasuk depresi postpartum diperkirakan mencapai 18.6% (interval kepercayaan 95% , 18.0-19.2%).2 Depresi postpartum ini bila dibiarkan dapat mengganggu hubungan ibu dengan bayinya. Anak-anak dengan ibu yang mengalami depresi postpartum memiliki masalah kognitif, perilaku, dan interpersonal dibanding anak lainnya dengan ibu yang tidak memiliki kondisi yang sama. Anak-anak ini juga memiliki risiko lebih tinggi menderita berat badan kurang dan stunting.

Apabila seorang ibu menyusui merasakan ketidaksesuaian mood, segera cari pertolongan orang terdekat (suami, keluarga) maupun tenaga profesional (konselor, dokter, psikolog).

 

Editor : drg. Annisa Sabhrina

 

1 Webber E, Benedict J. Postpartum depression: A multi-disciplinary approach to screening, management and breastfeeding support.
Archives of Psychiatric Nursing, 2019;33(3):284-289.

2 Upadhyay RP, et al. Postpartum depression in India: a systematic review and meta-analysis. Bull World Health Organ 2017;95:706–717B
al.cfm.

Pergi ke Dokter Jantung saat Pandemi Covid-19, Kapan Waktu yang Tepat?

oleh dr. Adelin Dhivi Kemalasari, BMedSci, SpJP, FIHA

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

 

Halo, keluarga Kejora. Semoga selalu dalam keadaan sehat dan semangat ya walaupun #dirumahaja. Mungkin beberapa Ayah dan Ibu Kejora memiliki kerabat dengan penyakit jantung dan sempat mengalami kebingungan selama pandemi ini, mengingat himbauan untuk membatasi aktivitas luar rumah yang non-esensial, termasuk menunda kunjungan ke dokter, kecuali mengalami beberapa kondisi darurat.

Sebelum kita membahas mengenai kunjungan ke dokter jantung selama pandemi, perlu diketahui mengapa pasien dengan penyakit jantung termasuk dalam golongan yang rentan untuk mengalami gejala yang berat saat mengalami infeksi, termasuk Covid-19 ini. Pada pasien jantung, sudah terdapat abnormalitas struktur dan/atau fungsi (kekuatan) jantung. Pada keadaan stabil tanpa infeksi saja, kemampuan fisik pasien sudah berkurang dan terbatas karena keluhan sesak nafas dan/atau nyeri dada yang dirasakan pasien. Dalam keadaan infeksi virus maupun bakteri yang menyerang saluran napas secara umum, keadaan demam akan menyebabkan metabolisme meningkat, kebutuhan oksigen bertambah, produksi lendir di saluran nafas dapat merangsang refleks batuk lebih banyak. Kumpulan keadaan ini akan membuat pasien jantung yang awalnya stabil menjadi merasakan keluhan yang lebih berat, lebih cepat mengalami perburukan kondisi yang akibatnya penyembuhan akan lebih sulit dan risiko kematian lebih tinggi.

Lalu bagaimana dengan pasien yang sebelumnya rutin berobat ke poliklinik jantung? Apakah semua kunjungan ke dokter harus ditunda termasuk menunda obat – obatan rutin?

Pasien dengan penyakit jantung sebaiknya tetap menjaga kondisi jantung agar selalu stabil dan terkontrol, dengan cara tetap melanjutkan obat – obatan rutin tanpa perubahan. Bila persediaan obat rutin mendekati habis, ikuti waktu kontrol sesuai instruksi dokter. Tetap jaga kekebalan tubuh dengan mencukupi nutrisi dengan gizi yang seimbang, rutin mengkonsumsi buah dan sayur mayur, hindari stress, istirahat yang cukup, olahraga dengan intensitas ringan-sedang dengan durasi 20-30 menit, secara teratur 3-4x/minggu. Tidak perlu melakukan olahraga yang melelahkan. Dapat juga melakukan jalan cepat, berlari, bersepeda santai, bahkan melatih kekuatan otot dengan beban apabila sudah terlatih dan terbiasa. Apabila merasa kurang asupan buah dan sayur, dapat dilengkapi dengan suplemen yang memiliki kandungan komposisi vitamin A, C, D, dan E, serta mineral seperti selenium dan zinc. Pada pasien yang dianjurkan untuk restriksi jumlah cairan, tetap mengikuti saran dokter.

Hingga pada saat artikel ini ditulis, tindakan operasi, kateterisasi jantung, pemasangan ring jantung yang tidak darurat banyak yang ditunda hingga batas waktu yang belum dapat ditentukan, terutama di daerah zona merah Covid-19. Pembatasan ini bertujuan untuk menekan penyebaran Covid-19 di fasilitas kesehatan.

Namun prosedur dan pengobatan yang bersifat life-saving (menolong jiwa) atau darurat tetap dilakukan. Setiap orang yang dicurigai mengalami serangan jantung harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan secepat mungkin. Kekuatiran akan Covid-19 tidak boleh memperlambat penderita serangan jantung mendapat penanganan, karena semakin lambat pengobatan, semakin tinggi risiko komplikasi dan kematian akibat kerusakan otot jantung.

Kenali keluhan yang masuk dalam kategori gawat dan darurat di bidang jantung untuk menghindari keterlambatan penanganan. Beberapa kondisi kegawatdaruratan jantung dewasa antara lain:

  • Rasa sesak yang:
    • Memberat dengan posisi tidur, dan/atau
    • Tidak bisa tidur posisi rata (harus >2 bantal atau posisi duduk), dan/atau
    • Disertai batuk riak berdahak berwarna pink
  • Nyeri dada yang:
      • Seperti ditindih/ditimpa beban berat, dan/atau
      • Menjalar ke lengan atau punggung dan/atau leher,
      • Disertai mual, muntah, dan keringat dingin
  • Keluhan berdebar yang disertai pandangan gelap, rasa ingin pingsan, atau hingga hilang kesadaran

Untuk heart warrior (pasien anak dengan penyakit jantung bawaan), tetap lanjutkan obat rutin di rumah, kecuali mengalami kondisi gawat darurat jantung anak seperti:

  • Anak terlihat kebiruan semakin lama semakin biru
  • Sesak nafas sehingga terlihat tarikan dinding dada ke dalam
  • Anak berdebar-debar
  • Anak rewel yang sulit untuk ditenangkan
    • Anak dengan penyakit jantung bawaan kadangkala mengalami keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan, termasuk terlambat bicara. Terutama pada bayi yang tidak dapat menjelaskan keluhan mereka, seringkali keadaan rewel yang sulit ditenangkan merupakan manifestasi dari keluhan sesak nafas atau tidak nyaman yang disebabkan masalah jantung mereka.

 

Apabila gejala – gejala tersebut terjadi pada orang – orang terdekat di sekitar Anda, segera periksakan ke dokter. Jika tidak ada dokter spesialis jantung yang sedang praktik saat itu, Anda dapat memeriksakan diri ke Unit Gawat Darurat terdekat untuk penanganan awal.

Rumah sakit sudah menjalankan berbagai protokol ketat bagi seluruh pengunjung, dimulai dari pemeriksaan suhu di pintu masuk, memberikan jarak antarkursi, mewajibkan penggunaan masker, hingga menyediakan fasilitas untuk mencuci tangan. Jika aturan ini diikuti, sambil terus menjaga jarak ke orang lain, tidak perlu kuatir untuk berobat ke rumah sakit. Beberapa rumah sakit juga saat ini menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan jarak jauh (telemedicine) yang sudah didukung oleh peraturan Konsil Kedokteran Indonesia dalam kondisi pandemi. Layanan ini dapat Anda gunakan pada kondisi yang stabil atau mengalami keraguan untuk berkunjung ke rumah sakit. Perlu diingat bahwa dengan adanya keterbatasan pemeriksaan fisik dan penunjang, layanan telemedicine di bidang kardiovaskular tidak untuk penegakkan diagnosis pasti. Namun dokter dapat memberikan saran apakah gejala yang Anda alami memerlukan pemeriksaan lebih lanjut serta timing yang baik untuk konsultasi ke dokter apabila diperlukan untuk meminimalisir dari pajanan yang mungkin didapat di rumah sakit.

Saat ini pemerintah sedang mengkaji kesiapan fase kenormalan baru, yang memungkinkan beberapa kelonggaran dari aturan pembatasan sebelumnya. Fase apapun yang akan kita hadapi nantinya, pencegahan adalah hal yang utama. Karena jika sudah terinfeksi, manajemen Covid-19 menjadi lebih rumit pada penderita penyakit jantung. Lindungi kelompok rentan dengan cara selalu menjalani protokol kesehatan dan langkah pencegahan dengan ketat. Semoga keluarga Kejora selalu sehat, ya!

 

Editor  : drg. Valeria Widita W

Sumber:

 

 

Parenting during Pandemic


 

 

 

oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

Hallo Keluarga Sehat Kejora Indonesia! Bagaimana kabar Ayah dan Bunda? Semoga selalu diberikan perlindungan dan kesehatan oleh Tuhan YME.

Saat ini kita bersama-sama sedang mengalami pandemi Covid-19 secara global. Tentu, pendemi ini membawa banyak perubahan ya. Kita harus bekerja, belajar, beraktivitas, dan beribadah dari rumah. Ayah dan Bunda harus bekerja dari rumah, mengurus kebutuhan rumah tangga, menemani dan mendampingi si kecil yang belajar di rumah. Belum lagi jika si kecil rewel dan kita sedang banyak sekali pekerjaan, sambil terus menjaga kesehatan keluarga kita.

Perubahan dan tekanan yang kita hadapi ini, bisa membuat Ayah dan Bunda, serta si kecil menjadi rentan terhadap stress. Untuk itu, kita perlu bisa beradaptasi dengan situasi seperti ini, termasuk beradaptasi dengan perubahan peran dalam parenting. Yuk, simak bagaimana Ayah dan Bunda bisa beradaptasi dan ber-partner dalam proses parenting selama pandemi global ini!

Parenting = Partnering

Pertama-tama, Ayah dan Bunda perlu memahami, bahwa parenting adalah partnering. Artinya, Ayah dan Bunda memiliki peran yang sama penting dan perlu bekerja sama dalam merawat dan mendidik si kecil. Hubungan yang positif dalam ber-partner bersama pasangan, akan memudahkan Ayah dan Bunda menjadi partner yang baik dalam parenting. Apalagi, di tengah situasi seperti ini, penting sekali bagi Ayah dan Bunda untuk bisa saling ber-partner demi menciptakan sinergi positif selama #dirumahaja. Bagaimana bisa ber-partner dalam parenting di situasi pandemi seperti ini?

  1. Saling Mendukung. Dalam parenting, apalagi di saat seperti sekarang ini, dukungan emosional dari pasangan adalah hal yang amat diperlukan agar Ayah dan Bunda bisa selalu kuat dalam menghadapi ini semua. Jangan lupa untuk saling menghargai dan mengapresiasi pasangan kita ya, Ayah dan Bunda.
  2. Saling Berkomunikasi. Ayah dan Bunda perlu saling terbuka dan berdiskusi tentang pembagian peran, kesepakatan, dan aturan dalam mengurus si kecil di rumah. Komunikasi penting dibangun, sebagai antisipasi perubahan situasi yang sulit seperti sekarang ini. Selain itu, dengan komunikasi yang terbuka, akan memudahkan Ayah dan Bunda dalam membagi peran dan tanggung jawab selama #dirumahaja.
  3. Aktif Berpartisipasi. Dalam situasi pandemi global, Ayah dan Bunda perlu sama-sama saling mendukung dan aktif berpartisipasi dalam mengurus rumah tangga dan merawat si kecil. Dengan aktif berpartisipasi dan saling berbagi tanggungjawab, tentu pekerjaan rumah tangga dan merawat si kecil tentu bisa lebih mudah dilakukan, bukan?
  4. Quality Time dengan Pasangan. Jangan lupa untuk tetap menyediakan waktu berkualitas bersama pasangan ya, Ayah dan Bunda agar keharmonisan dalam rumah tanga tetap bisa terjaga. Sempatkan waktu untuk ngobrol berdua dengan pasangan, nonton di rumah, atau melakukan hobi dan aktivitas menyenangkan berdua.

 

Selanjutnya, bagaimana tips dalam merawat si kecil selama pandemi ini?

  1. Berikan Briefing pada Si Kecil

Ayah dan Bunda bisa menjelaskan pada si kecil mengenai:

  • Situasi dan perubahan saat ini
  • Perbedaan belajar di rumah vs sekolah
  • Perubahan rutinitas, termasuk bila Ayah dan Bunda bekerja dari rumah

Hal ini akan membantu anak untuk antisipasi terhadap perubahan.

  1. Atur Schedule dan Kesepakatan

Mengatur ulang rutinitas harian, membuat schedule, dan kesepakatan bersama selama #dirumahsaja bisa membantu si kecil lebih disiplin. Hal ini juga membantu mengantisipasi masalah-masalah yang akan terjadi selama Ayah, Bunda, dan si kecil berada di rumah saja. Tips:

  • Buat rutinitas yang fleksibel namun konsisten
  • Buat jadwal (time line) yang jelas
  • Buat kesepakatan: apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak selama #dirumahsaja
  1. Team Work

Berkegiatan #dirumahsaja, bisa jadi sarana untuk Ayah dan Bunda memperkenalkan tanggung jawab dan melatih kemandirian si kecil, loh! Ajarkan si kecil mengenai daily life skill ya, Ayah dan Bunda! Lalu, ajak si kecil untuk bekerjasama dalam membangun kebiasaan selama di rumah.

  1. Work Station

Jika Ayah dan Bunda juga bekerja dari rumah, dan si kecil juga sekolah di rumah; Ayah dan Bunda bisa membuat suasana belajar dan bekerja yang kondusif. Misalnya, dengan menyiapkan ruangan / meja khusus untuk belajar dan bekerja yang minim distraksi. Hal ini akan membantu Ayah, Bunda, dan si kecil lebih fokus dan produktif selama beraktivitas #dirumahsaja.

  1. Ciptakan Jam Kerja Bersama

Atur jam kerja bersama agar Ayah, Bunda, dan si kecil bisa bersama-sama menyelesaikan tugas masing-masing.

  1. Siapkan Anak Belajar (dan Kita Bekerja)

Sebelum sekolah / kerja online, siapkan diri layaknya ketika kita dan si kecil harus ke kantor dan sekolah. Jangan lupa untuk, mandi yang bersih, pakai baju rapi, dan sarapan agar kita dan si kecil siap untuk belajar dan bekerja.

  1. Family Time

Meskipun rasanya ribet dan bikin pusing, momen #dirumahaja bisa jadi sarana untuk meningkatkan waktu kebersamaan dengan keluarga. Ciptakan waktu berkualitas bersama si kecil ya. Selama family time, Ayah dan Bunda perlu fokus pada interaksi dan afeksi si kecil. Berikan pelukan, kata-kata kasih sayang, dan luangkan waktu beraktivitas bersama, ya. Momen ini bisa merekatkan keluarga, loh!

  1. Me-Time

Secapek-capeknya mengurus pekerjaan, rumah tangga, dan si kecil di tengah situasi penuh tekanan seperti ini, Ayah dan Bunda tetap perlu melakukan self-care ya, demi menjaga kesehatan mental kita. Karena, mental yang sehat juga akan mendorong kita lebih produktif, lebih positif, dan menjaga imunitas tubuh kita. Jangan lupa istirahat dan ambil waktu untuk me-time ya, Ayah dan Bunda!

  1. Tetap Tenang dan Kelola Stress

Masa-masa ini adalah masa saat stress mudah menyerang. Ayah dan Bunda perlu bisa mengelola stress, merawat diri dengan baik, agar kita bisa merawat anak-anak kita.

  1. Anda Tidak Sendiri

Saat ini, ada jutaan orangtua yang mengalami hal sama dengan Ayah dan Bunda. We’re in this together! Ayah dan Bunda akan bisa melewati ini semua!

Terakhir, kami selaku tim Kejora, ingin mememberikan apresiasi sebesar-besarnya pada semua Ayah dan Bunda!

Terima kasih, karena Bunda bisa:

  • Bekerja dari rumah, sambil urus rumah, suami, dan anak (jangan lupa urus diri sendiri ya, Bunda!).
  • Meeting online sama bos, sambil gendong si kecil atau nemenin si kecil sekolah
  • Mendampingi si kecil sekolah dan belajar, ikut beradaptasi dengan sistem sekolah online yang masih membingungkan, sambil adaptasi juga sama sistem WFH (Work from Home).
  • Berkoordinasi dengan guru sekolah si kecil, sambil berkoordinasi dengan suami, Pak bos di tempat kerja, dan bapak GoFood yang lagi kirim makanan buat keluarga.
  • Masak di rumah, cari resep-resep kekinian di instagram / youtube, agar keluarga tetap terpenuhi gizi dan kesehatannya.
  • Tetap ber-partner bersama suami, bekerja bersama, demi keluarga, meski sama-sama repot, belum lagi urus mertua.
  • Menahan emosi dan amarah demi keharmonisan keluarga, meski susah dan capek sekali rasanya.

Bunda tidak perlu sempurna (Tidak mungkin juga bisa sempurna), tapi Bunda bisa! Bunda hebat! Terima kasih, Bunda!

Terimakasih, karena Ayah bisa:

  • Ikut nemenin si kecil main, sambil jaga-jaga kalau bos telpon.
  • Fokus kerja di rumah, dengar meeting online kantor, sambil dengar istri dan anak ramai di rumah, apalagi kalau si kecil lagi nangis dan istri lagi emosi.
  • Bantuin pekerjaan rumah istri, untuk cuci piring, bikin kopi, menyapu, jemur pakaian. Sambil bolak-balik urus kerjaan kantor.
  • Bekerjasama dengan istri mengurus si kecil, untuk bikinin susu, ganti popok, menyuapi si kecil makan, sambil mengatur karyawan.
  • Menahan emosi dan tekanan kerja demi menjaga ekonomi dan kebutuhan keluarga, meskipun rasanya capek dan entah kapan berakhir.
  • Memberi support dan tetap hadir secara emosi untuk keluarga.

Ayah tidak perlu sempurna, tapi Ayah keren! Ayah kuat! Terima kasih Ayah!

Semoga artikel ini dapat membantu Ayah dan Ibu dalam menjalankan parenting bagi si kecil selama pandemi global ini. We are in this together. This too shall pass. There is always a rainbow after the rain. Stay safe & healthy, Ayah dan Bunda!

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa