Mencukupi Kebutuhan ASI untuk Si Kembar

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo Keluarga Kejora!

Dalam mempersiapkan kelahiran bayi kembar dua atau lebih, beberapa pertanyaan dan kekhawatiran tentang menyusui kerap muncul. Bagaimana mencukupi kebutuhan si kembar? Apa yang harus saya lakukan supaya ASI cukup? Dan banyak pertanyaan lainnya.

Yuk, kita bahas sedikit tentang definisi ASI dan menyusui. ASI (Air Susu Ibu) adalah cairan yang diproduksi oleh kelenjar ASI di payudara ibu selama hamil dan menyusui sebagai sumber makanan bagi bayi yang akan lahir. Kelenjar ASI sudah mulai aktif menghasilkan ASI pada minggu 16-19 kehamilan, namun karena tubuh ibu sedang fokus pada kehamilan, hormon kehamilan menekan produksi ASI ini sampai kelahiran bayi.

ASI eksklusif, atau dalam Bahasa Inggris disebut “exclusive breastfeeding” merupakan istilah yang dibuat oleh World Health Organization (WHO) sebagai bentuk rekomendasi pemberian makanan pada bayi dan anak. ASI eksklusif merupakan kondisi dimana bayi hanya minum ASI tanpa cairan atau makanan padat lainnya, kecuali cairan rehidrasi oral, sirup vitamin/mineral, ataupun obat.

Bayi direkomendasikan untuk mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan untuk kesehatan dan tumbuh kembang optimal. Selepas usia 6 bulan, bayi mendapatkan makanan komplementer dalam jumlah cukup dan aman berupa Makanan Pendamping ASI (MPASI), sementara ASI masih dapat dilanjutkan sampai usia 2 tahun.

Menyusui tetap merupakan bagian penting dari perjalanan seorang ibu dengan bayi kembarnya. ASI menjadi nutrisi penting bagi bayi kembar yang terkadang lahir dengan berat badan yang lebih rendah dibanding bayi tunggal. Karena hal ini, sangatlah penting bagi bayi kembar untuk mendapatkan ASI.

Berikut beberapa hal yang dapat ibu kejora lakukan sebagai persiapan untuk menyusui bayi kembar:

  1. Rencanakan Kelahiran dan Proses Menyusui

Carilah informasi dari dokter, bidan, rumah sakit atau sarana kesehatan tempat anda merencanakan akan menjalankan persalinan. Bicarakan dengan pasangan, keluarga dan penghuni rumah tentang rencana persalinan dan menyusui. Jaga kebugaran tubuh anda dengan makanan yang bergizi dan olahraga yang sesuai untuk kehamilan.

  1. Dekap, Gendong, Sentuh Si Kembar

Segera setelah persalinan, apabila kondisi memungkinkan segera lakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) yakni kontak kulit ke kulit dalam 1 jam pertama setelah si kembar lahir dengan tujuan supaya bayi mendapat kolostrum atau ASI pertama yang kaya zat gizi dan zat protektif untuk imunitas bayi. Selepas IMD, sebanyak mungkin, dekap, buai, gendong dan sentuh bayi anda sebagai bentuk bonding dan latihan menyusui.

  1. Menyusui dan Menghasilkan ASI yang Cukup

Teknik menyusui yang baik menjadi fondasi proses menyusui yang lancar. Dengan bayi kembar, usahakan ibu dan keluarga memahami cara menyusui bayi secara bersamaan (tandem) untuk manajemen waktu yang lebih efisien. Bayi kembar, seperti bayi-bayi lainnya menyusu sesuai kebutuhan (on-demand). Secara umum dengan persiapan dan bimbingan yang tepat, ibu dapat menghasilkan ASI yang cukup untuk bayi kembar. Namun demikian, kecukupan ASI utamanya diukur dari pertumbuhan bayi, bukan semata-mata dari jumlah ASI yang dapat dilihat dan diukur. Tenaga Kesehatan anda akan senantiasa memantau kondisi dan pertumbuhan si kembar pada bulan-bulan pertama kehidupannya.

  1. Menjaga Kondisi

Kebutuhan dan perawatan bayi kembar akan menyita waktu anda. Hal ini adalah sesuatu yang dipahami dan diterima ibu dan keluarga. Namun demikian, jangan lupa untuk menjaga diri anda sendiri dengan cara memahami kebutuhan anda. Makan, minum dan istirahat tetap menjadi kebutuhan utama. Sempatkan istirahat saat si kembar istirahat. Jangan sungkan untuk memanggil bantuan untuk mengerjakan pekerjaan domestik.

Pesan terakhir untuk ibu dan ayah kejora yang menanti kelahiran bayi kembar adalah jadilah diri sendiri. Pengalaman setiap orang tua dan bayi yang baru lahir sangatlah unik, terkadang tidak dapat dibandingkan satu dengan lainnya. Selamat menempuh perjalanan menyusui dengan si kembar!

Editor: Maulidina Nabilah T., drg.

Sumber:

World Health Organization, 2001, The World Health Organization’s Infant Feeding Recommendation.
Claire and Debby S., 2017, When There Are Two Breastfeeding Twins, England, La Leche League International.

Cara Mempersiapkan dan Menyiapkan ASI Perah

 

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Halo, Ayah dan Ibu!

Ada beberapa kondisi yang menyebabkan Ibu tidak memungkinkan untuk menyusui bayi secara langsung, baik karena alasan medis maupun non-medis. Dalam kondisi tersebut, ASI dapat diperah dan disimpan untuk diberikan kepada bayi saat dibutuhkan. Pembahasan kali ini akan mengulas tentang cara mempersiapkan dan menyimpan ASI perah, sehingga kualitas ASI tetap terjaga dan aman untuk dikonsumsi oleh bayi.

Apa saja yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan dan menyimpan ASI perah?

Hal yang paling utama yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan dan menyimpan ASI adalah kebersihan. Sebelum memerah atau mempersiapkan ASI, cucilah tangan dengan sabun dan air mengalir. ASI dapat diperah secara manual menggunakan tangan atau menggunakan pompa ASI. Jika menggunakan pompa ASI, pastikan pompa ASI dalam kondisi bersih.

Selain itu, hal lain yang perlu diperhatikan adalah tempat penyimpanan ASI perah. Jika ASI diperah menggunakan tangan, maka ASI dapat langsung dimasukkan ke dalam botol ASI atau plastik khusus untuk penyimpanan ASI. Baik botol maupun plastik ASI harus dalam kondisi bersih. Jika menggunakan botol ASI yang dipakai berulang, maka botol harus sudah dicuci dan disterilkan. Proses sterilisasi bisa menggunakan alat sterilisasi ataupun dengan air mendidih.

Selanjutnya, yang perlu diperhatikan adalah suhu penyimpanan ASI. ASI dapat disimpan di kulkas dengan suhu 4°C atau freezer. Suhu ini akan mempengaruhi lama penyimpanan ASI.

Bagaimana cara menyimpan ASI perah?

ASI perah dapat disimpan dalam botol atau plastik ASI, yang selanjutnya dapat disimpan di kulkas atau freezer. Sebaiknya ASI perah disimpan dalam jumlah yang dibutuhkan untuk 1 periode konsumsi oleh bayi sehingga tidak ada ASI yang terbuang. Sebelum disimpan, pastikan Ibu telah menulis tanggal pemerahan. Tanggal ini berguna untuk mengetahui lama ASI telah disimpan dan ASI perah mana yang sebaiknya digunakan terlebih dahulu.

Berapa lama ASI perah dapat disimpan?

Lama ASI dapat disimpan bergantung pada jenis ASI perah; apakah ASI baru diperah atau sudah pernah dibekukan dan dicairkan.

  Lokasi dan Suhu Penyimpanan
Jenis ASI perah Suhu ruang (25°C) Kulkas (4°C) Freezer ( -18°C)
ASI perah segar atau baru diperah 4 jam 4 hari Paling baik 6 bulan

Bisa bertahan sampai dengan 12 bulan

ASI perah cair yang sudah pernah dibekukan 1-2 jam 1 hari Tidak boleh dibekukan ulang

Tabel 1. Lokasi Penyimpanan dan Suhu Penyimpanan ASI Perah Berdasarkan Jenis ASI Perah

(sumber: https://www.cdc.gov/breastfeeding/recommendations/handling_breastmilk.htm)

Bagaimana cara mencairkan ASI perah yang sudah dibekukan?

Ada beberapa cara mencairkan ASI perah yang sudah dibekukan, antara lain:

  • Dipindahkan dari freezer ke kulkas biasa malam sebelumnya
  • Hangatkan botol atau plastik ASI dalam wadah berisi air hangat

Tidak disarankan untuk mencairkan ASI perah dalam microwave karena hal itu dapat merusak kandungan nutrisi di dalam ASI. Jika ASI sudah dihangatkan, ASI harus dikonsumsi dalam waktu 2 jam.

Semoga informasi tersebut dapat bermanfaat bagi Ibu yang akan menyimpan ASI perah untuk buah hati tercinta. Salam sehat Kejora!

Sumber:

https://www.cdc.gov/breastfeeding/recommendations/handling_breastmilk.htm

https://www.breastfeeding.asn.au/bf-info/breastfeeding-and-work/expressing-and-storing-breastmilk

Q&A Vaginal Birth After C-section (VBAC)

 

 

 

 

 

oleh dr. Devy Marischa Malik

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

 

  1. Untuk kriteria pasien yang diperbolehkan VBAC, apakah Indonesia menganut kriteria dari ACOG 2019 (atau mungkin ada yang terbaru) ataukah POGI memiliki kriteria sendiri?

 

Vaginal Birth After C-section (VBAC) adalah persalinan normal setelah operasi sesar—bisa dilakukan persis setelah operasi sesar pada kehamilan sebelumnya ataupun diselingi dengan persalinan normal. Ada juga yang mengenal istilah TOLAC (Trial of Labor After C-section), yaitu percobaan persalinan normal setelah adanya riwayat operasi sesar sebelumnya.

Di Indonesia kita mengenal banyak kriteria untuk memasukkan Ibu ke dalam kandidat VBAC/ TOLAC. Rujukan yang digunakan diantaranya panduan dari RCOG atau ACOG. Untuk VBAC score sendiri (untuk mengetahui kelayakan seorang ibu untuk VBAC), POGI mengenal beberapa score seperti Flamm & Geiger score atau Weinstein score.

VBAC score dan kriteria VBAC disusun dengan tujuan melindungi ibu dan bayi dari komplikasi yang dapat terjadi selama proses persalinan.

 

  1. Jika hamil pertama SC lalu yang kedua VBAC dan ketiga SC, apakah yang keempat memungkinkan untuk VBAC kembali bila kondisi pasien masuk ke dalam kriteria VBAC di atas?

 

Ada banyak faktor yang perlu dinilai dalam persiapan VBAC, diantaranya yang paling penting adalah tidak adanya kontraindikasi untuk persalinan normal. Contoh kontraindikasinya antara lain riwayat bekas sayatan rahim vertikal pada sesar sebelumnya, jarak persalinan terakhir, adanya plasenta previa, panggul sempit pada ibu dan lain sebagainya.

Angka keberhasilan VBA2C (vaginal birth after 2 c-section) menurut RCOG adalah sekitar 71% dan terdapat peningkatan risiko terjadinya robekan rahim, kebutuhan transfusi darah akibat perdarahan, sampai dengan pengangkatan rahim (histerektomi).

 

  1. Berapa persen kemungkinan kegagalan VBAC dan mengharuskan SC?

 

Data menunjukkan hasil yang berbeda-beda untuk keberhasilan VBAC. Ada yang menunjukkan angka 43%, 57% atau 72-75%. Hal ini tentunya bergantung pada kondisi kehamilan ibu dan kondisi bayi dalam kandungan. Karena persalinan adalah kondisi yang sangat dinamis, sehingga pemantauan ketat harus dilakukan selama prosesnya. Hal ini mewajibkan ibu yang mau melakukan VBAC untuk berkonsultasi terlebih dahulu dan persalinan harus dilakukan di rumah sakit.

Bila selama pemantauan VBAC ditemukan hal yang membahayakan, seperti tidak sejahteranya kondisi janin melalui perekaman jantung janin, tersendatnya pembukaan, adanya tanda rahim robek dan lainnya, maka tindakan sesar harus segera dilakukan.

Editor: dr. Nurul Larasati

Sakit Kepala Saat Hamil, Kira-Kira Kenapa Ya?

oleh dr. Felix Adrian, Bmed.Sc, Sp.N

Dokter Spesialis Neurologi

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Keluhan sakit kepala pada saat kehamilan merupakan keluhan yang sering ditemukan dalam praktek sehari-hari. Mayoritas keluhan nyeri kepala pada kehamilan merupakan nyeri kepala primer (migrain dan sakit kepala tipe tegang). Sedangkan sebagian kecil bisa disebabkan oleh sakit kepala yang lebih serius/berbahaya, seperti pre-eklampsia, tumor, infeksi otak, stroke dan gangguan pada kekentalan darah.

Pada nyeri kepala tipe migrain, sekitar 50-80% justru akan membaik, terutama pada trimester ke-2 dan 3 kehamilan. Hal ini berhubungan dengan peningkatan kadar hormon progesteron pada trimester ke-2 dan 3. Perbaikan migrain pada kehamilan ini terjadi terutama pada pasien migrain yang berhubungan dengan menstruasi. Pengobatan migrain pada kehamilan juga sebaiknya dikonsultasikan kepada ahlinya, karena pengobatan migrain pada kehamilan berbeda dengan migrain pada umumnya, sebab banyak obat yang kontraindikasi pada kehamilan. Obat pencegahan migrain wajib dipertimbangkan terutama bila Ibu Kejora merasa terapi serangan migrain kurang memberikan manfaat.

Sakit kepala tipe tegang juga sering terjadi pada kehamilan, hal ini terutama disebabkan oleh kakunya otot-otot pada leher yang diakibatkan oleh kurang istirahat maupun stress. Sakit kepala tipe tegang umumnya tidak dirasa terlalu berat sehingga Ibu Kejora masih dapat beraktivitas dan keluhan sakit kepala membaik dengan meminum obat nyeri sederhana dan juga dengan rajin melakukan olahraga.

Tips untuk keluarga kejora untuk mengetahui apakah sakit kepala yang dirasakan merupakan indikasi yang berbahaya atau tidak adalah dengan metode SNOPP, yaitu:

  • S- gejala Sistemik→ yang dimaksud dengan gejala sistemik adalah suatu sakit kepala yang disertai dengan gejala umum seperti demam, penurunan kesadaran, delirium, dan tensi darah tinggi.
  • N- gejala Neurologis→ adanya gejala suatu kelainan syaraf, gejala berupa kelemahan separuh tubuh, pandangan ganda, dan kejang.
  • O- Onset → Sakit kepala hebat yang muncul mendadak atau sakit kepala yang rasanya berbeda dengan tipe nyeri kepala sebelumnya dialami Ibu Kejora. Pada pasien dengan sakit kepala tipe migrain dan sakit kepala tipe tegang, biasanya sudah ada riwayat sakit kepala sebelumnya.
  • P- di-Perberat→ sakit kepala yang dirasakan semakin hebat bila Ibu Kejora batuk, bersin dan mengedan
  • P- Progresi→ sakit kepala yang dirasakan semakin lama semakin hebat. Sakit kepala biasanya membaik dengan beristirahat atau meminum obat nyeri yang dijual bebas , tetapi semakin lama dirasakan semakin berat sehingga sudah tidak membaik dengan meminum obat.

Apabila ada keluhan sesuai dengan SNOPP, apa yang sebaiknya dilakukan Ibu Kejora? Sangat disarankan bila ada keluhan tersebut, segera konsultasikan ke dokter anda. Karena penting dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab dari keluhan sakit kepala tersebut.

Editor : drg. Rizki Amalia (@rizkiamalia234)

 

Referensi:

  1. Flemming, Kelly, and Lyell Jones, eds. 2015. Mayo Clinic Neurology Board Review. New York, USA: Oxford University Press.
  2. Klein, Autumn, Christina Scifres, and Janet F. Waters, eds. 2016. Neurological ilness in Pregnancy Principle and practice. 1st ed. London, UK: John Wiley & Sons, Ltd.
  3. Marsh, Michael, and Peter Brex, eds. 2012. Neurology and Pregnancy Clinical Management. 1st ed. London, UK: informa Healthcare.
  4. PERDOSSI. 2018. Diagnosis dan penatalaksanaan Nyeri Kepala. Edited by Made O. Adnyana and Hasan Sjahrir. 5ed ed. Jakarta, Indonesia: POKDI Nyeri Kepala.

Tips Menyiasati Bingung Puting Pada Ibu Menyusui

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo ayah dan ibu Kejora

Setiap ibu menyusui memiliki tantangan masing-masing, salah satu diantara tantangan yang dihadapi adalah kondisi bayi yang menolak menyusu secara langsung setelah pemberian dot atau botol susu. Kondisi yang dikenal dengan bingung puting ini merupakan salah satu penyebab kecemasan pada ibu menyusui sehingga tingkat keberhasilan menyusui menjadi kurang maksimal. Lalu bagaimana menyiasati bingung puting pada bayi?

Pengertian Bingung Puting

Bingung puting adalah perilaku bayi yang kesulitan atau rewel menyusu pada payudara ibu setelah ada pemberian dot atau botol susu, sebelum proses menyusui antara ibu dan bayi terjalin dengan baik. Tidak semua kasus memiliki kesulitan berpindah dari menyusu langsung di payudara ibu dengan atau setelah minum dari botol atau dot. Namun beberapa di antara kasus yang terjadi pada bayi yang mengalami bingung puting memiliki kesulitan untuk kembali menyusu secara langsung pada payudara ibu

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari bingung puting:

  1. Beri waktu yang cukup sampai proses menyusui terjalin dengan baik dan terasa menjadi bagian dari keseharian ibu dan bayi
  2. Gendong bayi, meningkatkan kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayi
  3. Mencari posisi yang nyaman saat ibu menyusui bayi
  4. Beri pujian kepada buah hati anda apabila dapat menunjukkan keinginan untuk menyusu
  5. Kenali tanda-tanda bayi ingin menyusu, yakni menghisap pergelangan tangan atau kepalan jari, mencari sesuatu dengan mulutnya, terbangun dan rewel namun belum menangis.
  6. Apabila bayi perlu mendapat suplementasi ASI, ibu dapat mempertimbangkan alternatif metode pemberian ASI dengan sendok, cangkir, maupun alat suplementer
  7. Hubungi tenaga kesehatan atau konselor menyusui terlatih

Semoga artikel ini dapat meningkatkan semangat keluarga Kejora untuk terus menyusui dan memberikan ASI kepada buah hati anda tercinta.

Editor : drg. Annisa Sabhrina (@asabhrina)

 

Sumber:

https://www.llli.org/breastfeeding-info/nipple-confusion/

Bolehkah Ibu Hamil Mengonsumsi Pemanis Buatan?

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Hai Ayah dan Ibu Kejora!

Untuk mencegah kegemukan serta kejadian penyakit diabetes mellitus, maka pemanis buatan (artificial sweetener) sebagai pengganti gula tentunya semakin banyak digunakan termasuk oleh ibu hamil. Namun, apakah benar ini aman digunakan dalam kehamilan? Mari kita simak ulasan berikut ya.

Artificial sweetener merupakan pengganti gula sintetis, meskipun beberapa sweetener ini dibuat dari bahan-bahan alami, seperti stevia yang berasal dari tanaman dengan spesies Stevia rebaudiana ataupun sukralosa yang berasal dari gula.

Secara garis besar ada 2 jenis sweetener, yaitu nutritive sweetener (mengandung kalori) dan non-nutritive sweetener (tanpa kalori). Nutritive sweetener (termasuk gula pasir) disebut “empty calorie’ yang artinya mengandung kalori, tapi mengandung sangat sedikit vitamin dan mineral. Apabila dikonsumsi tanpa berlebihan, maka nutritive sweetener aman saja untuk digunakan. Akan tetapi, pada ibu hamil yang mengalami diabetes dalam kehamilan (diabetes gestasional), memiliki riwayat diabetes mellitus ataupun resistensi insulin sebelumnya, maka penggunaannya harus dibatasi. Nutritive sweetener termasuk berbagai macam gula seperti gula pasir, dekstrosa, madu, corn sugar, fruktosa dan maltosa. Selain itu, nutritive sweetener termasuk gula alkohol seperti sorbitol, xylitol, manitol, dan hydrogenated starch.

Non-nutritive sweetener tidak mengandung kalori, tapi memiliki rasa manis yang sangat kuat dibandingkan dengan gula pasir sehingga biasanya hanya ditambahkan sangat sedikit dalam makanan atau minuman. Berikut adalah sweetener yang dianggap aman oleh Food and Drug Association (FDA) untuk ibu hamil, yaitu stevia, acesulfam, aspartam, dan sukralosa. Aman di sini maksudnya adalah tidak menimbulkan risiko toksisitas, kelahiran prematur, ataupun masalah pada janin. Sedangkan sweetener yang dianggap TIDAK aman oleh FDA adalah sakarin dan siklamat. Meskipun sweetener tadi dianggap aman oleh FDA, namun penggunannya pun tidak boleh berlebihan, ya Ayah dan Ibu Kejora! Yang terbaik adalah tetap mengonsumsi air putih untuk mencukupi kebutuhan cairan ibu hamil

Editor: drg Rizki Amalia

 

Sumber:

Artificial sweetener and pregnancy. www.americanpregnancy.org

Sugar substitutes during pregnancy. Canadian Family Physician. 2014

Additional information about high intensity sweeteners permitted for use in food in the United States. FDA.

Berkenalan dengan Vaginismus

 

 

 

 

oleh dr. Darrel  Fernando, Sp.OG

Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora! Apakah Ayah dan Ibu pernah mendengar tentang vaginismus? Yuk, kita cari tahu lebih lanjut!

Vaginismus adalah kondisi ketika terjadi kontraksi involunter (tidak disengaja) pada otot-otot sekitar vagina saat terjadi penetrasi atau akan terjadi penetrasi. Akibatnya, terjadi kesulitan penetrasi dan timbul rasa nyeri. Gejala utama vaginismus yaitu timbul rasa nyeri saat berhubungan (pada perempuan) serta kesulitan penetrasi seperti “menabrak tembok / buntu” (pada laki-laki).

Penderita vaginismus seringkali mendapat stigma atau di-cap “kaku”, “tidak rileks”, “tidak mau melayani suami”, dan lain-lain. Stigma ini berasal dari banyak pihak, termasuk pasangan, keluarga, bahkan tenaga medis sendiri yang kurang paham mengenai vaginismus. Hal ini mengakibatkan banyak dampak psikososial, seperti depresi, kecemasan, kurang harmonisnya hubungan rumah tangga, yang akan semakin terakumulasi bila kondisi vaginismus tidak ditangani dengan baik.

Vaginismus dapat didiagnosis oleh dokter kandungan melalui wawancara (anamnesis) dengan pasien dan pemeriksaan fisik. Perlu dicari tahu apakah ada kondisi lain yang menyebabkan nyeri pada saat berhubungan seksual, seperti adanya infeksi, lecet, endometriosis (gangguan sistem reproduksi wanita yang menyebabkan jaringan pada lapisan dalam dinding rahim tumbuh di luar rongga rahim), atau bahkan keganasan (kanker). Vaginismus sendiri dibagi menjadi 5 derajat (1 s.d. 5). Terkadang pasien sudah mengetahui “sepertinya saya mengalami vaginismus”, tetapi tetap harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan di dokter kandungan.

Bila sudah didiagnosis vaginismus, penanganannya memerlukan pendekatan tim dan multidisiplin. Banyak modalitas terapi yang dapat dilakukan dan terkadang diperlukan kolaborasi dengan psikolog atau psikiater.

Setelah menjalankan terapi, penderita vaginismus dianggap “sembuh” jika berhasil mencapai penetrasi dengan nyaman dan tanpa rasa nyeri. Bila setelahnya mengalami kehamilan, ex-penderita vaginismus masih dapat melahirkan per vaginam (melalui persalinan normal), bila sesuai dengan preferensinya.

Bila tidak ditatalaksana dengan baik, dampak negatif vaginismus dapat terakumulasi seiring bertambahnya waktu. Oleh sebab itu, jika Ibu Kejora mengalami gejala serupa, segeralah berkonsultasi ke dokter kandungan.

Editor: drg. Agnesia Safitri

Yuk Mengenal Pertumbuhan Janin Terhambat!

 

 

 

 

oleh dr. Devy Marischa Malik

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

 

Halo Ibu Kejora!

Apakah Ibu pernah mendengar suatu kondisi yang disebut pertumbuhan janin terhambat (PJT)? PJT, atau dalam Bahasa Inggris disebut Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) ialah suatu keadaan dimana janin mengalami kegagalan mencapai potensi pertumbuhannya. Ini adalah suatu proses yang terjadi didalam kandungan dan ditandai dengan adanya pertumbuhan janin yang tidak sesuai dengan usia kehamilan atau biasanya lebih kecil dari usia kehamilan. PJT dapat terjadi disetiap usia kehamilan, oleh karenanya penting untuk ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan (antenatal care) secara teratur.

Mendeteksi PJT

Ibu, kondisi PJT dapat dideteksi sedari dini bila Ibu rutin melakukan pemeriksaan kehamilan. Untuk membantu penapisan PJT, beberapa faktor penting yang perlu Ibu perhatikan saat pemeriksaan kehamilan adalah sebagai berikut:

  1. Mengetahui usia kehamilan dengan pasti

Kesalahan mengetahui usia kehamilan dapat berakibat pada kesalahan penentuan taksiran berat janin. USG trimester pertama adalah saat yang paling tepat untuk mengetahui usia kehamilan.

  1. Pertambahan berat badan Ibu

Waspada bila Ibu tidak mengalami kenaikan berat badan pada kunjungan rutin.

  1. Kondisi umum Ibu

Kondisi umum yang perlu diperhatikan termasuk diantaranya adalah tekanan darah tinggi, penyakit metabolik, dan infeksi.

  1. Hasil pemeriksaan USG

Melalui pemeriksaan USG, Ibu dan dokter dapat mengetahui laju pertumbuhan janin dan juga taksiran beratnya, apakah sesuai dengan usia kehamilannya, ataukah lebih besar atau lebih kecil.

Semua bayi dengan berat lahir kecil disebabkan PJT?

Seperti yang diungkapkan sebelumnya, kondisi PJT dapat menyebabkan ukuran dan berat badan janin tidak sesuai usia kehamilannya. Namun tidak semua bayi yang terlahir kecil disebabkan oleh PJT. Bayi dengan berat lahir kecil dapat dikarenakan hal-hal di bawah ini, seperti:

  1. Bayi prematur atau kurang dari 37 minggu
  2. Bayi kecil masa kehamilan dimana sang bayi memang memiliki kecenderungan proporsi badan yang kecil namun sehat dan bugar
  3. Bayi dengan pertumbuhan janin terhambat
  4. Bayi dengan anomali atau kelainan.

Dari keempat hal di atas, hanya bayi dengan kecil masa kehamilan yang dianggap kondisinya normal.

Seberapa parah PJT?

Sebagai bagian dari usaha penapisan PJT, ada hal-hal penting yang baiknya Ibu tanyakan atau ketahui saat memeriksakan kandungan di dokter. Pada pemeriksaan USG Ibu bisa tanyakan:

  1. Apakah taksiran berat janin sesuai dengan usia kehamilan?
  2. Apakah jumlah air ketuban sesuai dengan usia kehamilan?
  3. Bagaimana laju pertumbuhan janin?
  4. Bagaimana arus darah janin?

Derajat keparahan PJT bervariasi mulai dari ringan hingga berat dan dapat berlangsung pada berbagai usia kehamilan. Pada PJT derajat ringan, dokter akan melakukan evaluasi ketat namun masih dapat dikoreksi tanpa harus melahirkan janin. Namun pada PJT yang berat, janin tidak mendapatkan cukup nutrisi dan oksigen sehingga terjadi suatu keadaan asfiksia dan janin sudah tidak bisa berkompensasi lagi. Kondisi seperti ini biasanya menjadi pertimbangan kuat untuk dilakukan terminasi kehamilan atau persalinan. Kondisi PJT yang berat harus dievaluasi ketat oleh dokter dan juga perlu persiapan support NICU jika ternyata usia kehamilan masih kurang dari 37 minggu. Dengan demikian, bukan hanya dokter kandungan saja yang dibutuhkan tapi juga dokter spesialis anak yang nantinya akan merawat sang bayi.

Jadi, Ibu jangan lupa untuk rutin melakukan pemeriksaan kehamilan ya! Tanyakan juga ke dokter mengenai empat hal di atas terkait kesesuaian pertumbuhan janin. Bila janin diketahui mengalami PJT, luangkan waktu lebih untuk berkonsultasi dengan dokter. Semoga Ibu dan janin selalu dalam keadaan baik dan sehat ya!

Editor: dr. Nurul Larasati

Donor ASI

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah ayah dan ibu mengetahui tentang donor ASI? Hal yang sering dibicarakan saat ini, terutama di kalangan keluarga yang baru memiliki bayi atau sedang dalam proses menyusui.

Kontributor Kejora Indonesia, dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC, CIMI, berbagi informasi penting mengenai donor ASI. Sebelum anda memutuskan untuk memberikan ASI atau menjadi donor ASI sebaiknya anda membaca poin di bawah ini.

Apa itu Donor ASI?

Donor ASI merupakan proses berbagi ASI, atau pemberian ASI seorang ibu untuk bayi yang bukan anak biologisnya. Mengapa kegiatan ini sering disebut sebagai donasi / donor ASI (breast milk donation), dan bukan berbagi ASI (breast milk sharing)? Karena ASI adalah cairan tubuh manusia, dan berpotensi membawa penyakit, risiko alergi, dan materi genetik seorang ibu, sehingga dunia kesehatan menempatkan donor ASI setara dengan donor darah. Oleh sebab itu proses donor ASI seharusnya dilakukan melalui proses penapisan dan pemeriksaan seperti layaknya proses donor darah.

Di Indonesia, sampai konten ini diterbitkan, belum ada Bank ASI yang terstandar. Praktik donor ASI yang banyak dilakukan di Indonesia merupakan praktik donor ASI informal melalui jaringan sosial, atau mulut ke mulut.

Meskipun proses informal, ada 4 pilar penting yang perlu diperhatikan dalam proses tukar-menukar atau berbagi ASI:

  1. Persetujuan tindakan

Semua pihak, baik yang memberi ASI (ibu donor) maupun ibu dan bayi dan keluarga penerima (resipien) harus memahami, mengerti, dan secara objektif menilai informasi terkait donor ASI termasuk keuntungan, risiko, konsekuensi medis, psikologis, dan sosiokultural pemberian ASI donor. Hal ini memudahkan para pihak untuk mengambil keputusan yang tepat. Dokter, bidan, konselor laktasi merupakan tenaga profesional yang tepat untuk berkonsultasi sebelum mengambil keputusan untuk donor ASI atau menerima donor ASI.

  1. Penapisan donor

Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang ibu donor ASI untuk dapat memberikan ASInya untuk bayi lain. Secara umum, penapisan donor ASI terdiri dari penapisan mandiri, pengkajian kesehatan dan gaya hidup (seperti risiko infeksi HIV, Hepatitis B, dan Hepatitis C, peminum alkohol, merokok, pengguna Narkoba, ataupun sedang menjalani pengobatan kemoterapi atau radioterapi), serta pemeriksaan darah untuk penyakit-penyakit yang dapat menular melalui darah (HIV, dan HTLV).

  1. Penanganan yang aman

Penanganan yang aman meliputi kebersihan tangan saat memerah ASI, proses memerah ASI yang baik, kulit ibu donor yang sehat, serta penyimpanan ASI perah yang memadai.

  1. Proses pasteurisasi ASI donor

Semua ASI donor harus melalui proses pasteurisasi untuk memastikan virus dan bakteri yang mungkin terkandung dalam ASI. Proses pasteurisasi ini dapat dilakukan secara mandiri di rumah dengan cara memanaskan ASI perah sampai suhu tertentu dan mempertahankannya dalam waktu tertentu. Pasteurisasi Holder memanaskan ASI perah dalam suhu 62.5°C selama 30 menit. Pasteurisasi pemanasan kilat (flash heating) menempatkan ASI perah pada suhu 72°C selama beberapa detik.

Demikian informasi mengenai donor ASI Keluarga Kejora, semoga bermanfaat terutama bagi anda yang sedang memiliki rencana untuk mencari donor ASI.

Editor: drg. Annisa Sabhrina

Referensi

The Four Pillars of Safe Breast Milk Sharing by Shell Walker and Maria Armstrong, from Midwifery Today (2012), 101, 34-37
https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/donor-asi

Apa Itu Cryptic Pregnancy?

 

 

 

 

oleh dr. Devi Marischa Malik

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

 

Halo Ibu dan Ayah Kejora! Apakah Ibu pernah dengar cerita yang sempat gempar di sosial media tentang ibu yang tidak tau dia hamil sampai waktunya persalinan? Hmmm.. Hamil tapi tidak merasakannya? Mungkinkah?

Mungkin sulit untuk dipercayai, namun pada beberapa perempuan terkadang tanda dan gejala kehamilan bisa sangat tersamarkan sehingga ia tidak mengetahui bahwa dirinya hamil. Hal seperti ini terjadi pada beberapa perempuan dan keadaan ini disebut sebagai cryptic pregnancy atau kehamilan cryptic. Istilah ini juga seringkali dikaitkan dengan denied-pregnancy.

Cryptic menurut kamus Merriam-Webster berarti sesuatu yang bersifat tersembunyi atau tidak diketahui. Kehamilan jenis ini, secara mencengangkan terjadi cukup sering, yaitu 1 dari 475 kehamilan. Sang Ibu biasanya baru menyadari kehamilannya antara usia kehamilan 20 minggu hingga saat persalinan. Ya benar, sang Ibu baru mengetahui bahwa dirinya hamil saat persalinan! Pada salah satu jurnal juga disebutkan bahwa kehamilan ini terjadi pada 1 dari 2500 kehamilan pada “Dunia Barat Modern”. Mengejutkan bukan?!

Pada beberapa jurnal kedokteran didapatkan laporan kasus mengenai seorang perempuan yang mengeluh mengalami nyeri perut hebat dan setelah dilakukan pemeriksaan di IGD ternyata perempuan tersebut mengalami keadaan persalinan.

Penyebab Cryptic Pregnancy

Beberapa penyebab terjadinya cryptic pregnancy antara lain:

  1. Siklus haid tidak normal. Ibu sebelumnya telah memiliki siklus haid yang tidak normal, sehingga ia menjadi biasa saja saat dirinya tidak mengalami haid selama beberapa bulan.
  2. Ibu dalam fase peri-menopause. Pada beberapa wanita yang berada dalam fase peri-menopause (fase menjelang menopause) seringkali terjadi haid yang tidak teratur dan selama beberapa bulan tidak haid. Sehingga seringkali sang Ibu merasa baik-baik saja saat tidak haid. Bahkan pada perempuan dalam fase ini atau yang merasa “sudah tua” sudah memiliki pemikiran bahwa dirinya tidak mungkin hamil, sehingga kehamilan sama sekali tidak pernah dibayangkan oleh mereka.
  3. Tidak tampak tanda hamil. Ibu tidak mengalami mual muntah pada trimester awal, dan juga ia tidak mengalami pertumbuhan berat badan yang cukup berbeda selama kehamilan.
  4. Tidak terasa gerakan janin. Pada kasus seperti ini, bisa jadi persepsi seorang perempuan yang tidak menyangka dirinya hamil sehingga menyangka bahwa gerakan tersebut adalah gerakan saluran pencernaan biasa.

Apakah Cryptic Pregnancy Berbahaya?

Seperti yang kita ketahui bahwa dalam kehamilan terjadi banyak perubahan pada Ibu dan janin, dimana kesejahteraan keduanya saling terhubung. Sehingga kegagalan untuk menyadari kehamilan akan memberi dampak buruk pada Ibu dan/atau janin, seperti berikut ini:

  1. Tidak dilakukan kunjungan antenatal secara baik. Hal ini dapat berakibat tidak diketahuinya beberapa komplikasi seperti berat janin kurang, air ketuban berkurang dan sebagainya.
  2. Tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium awal. Kondisi anemia, infeksi, dan sebagainya diketahui dapat mengakibatkan komplikasi pada kehamilan. Contohnya, infeksi saluran kemih pada ibu hamil dapat memicu terjadinya kontraksi yang jika dibiarkan dapat menimbulkan persalinan prematur.
  3. Tidak dilakukannya skrining terhadap Ibu, terutama hipertensi yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya pre-eklampsia dan eklampsia
  4. Komplikasi pada bayi, seperti lahir prematur, berat lahir kecil (Kurang Masa Kehamilan/ KMK) hingga Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT).

Apa Yang Sebaiknya Dilakukan?

Pada Ibu yang masih dalam usia produktif perlu disadari bahwa kehamilan bisa terjadi kapanpun, bahkan saat Ibu dalam proteksi kontrasepsi. Ingat kan pembahasan sebelumnya mengenai alat kontrasepsi termasuk angka persentase kegagalannya? Berikut tips & trick untuk menghindari terjadinya cryptic pregnancy:

  1. Ketahui pola haid normal.
  2. Kenali tanda-tanda perubahan pada tubuh kita, misalnya mudah merasa lelah, nyeri pinggang, sering berkemih, atau rasa tidak nyaman pada daerah perut.
  3. Ibu yang dalam proteksi kontrasepsi dapat memeriksakan diri ke tenaga medis secara berkala, misalnya setiap 3 bulan, 6 bulan atau satu kali setahun.

Jadi, cryptic pregnancy itu benar bisa terjadi ya. Kenali tubuh kita dengan baik dan selalu waspada.

Editor: dr. Nurul Larasati