Tips Menyiasati Bingung Puting Pada Ibu Menyusui

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo ayah dan ibu Kejora

Setiap ibu menyusui memiliki tantangan masing-masing, salah satu diantara tantangan yang dihadapi adalah kondisi bayi yang menolak menyusu secara langsung setelah pemberian dot atau botol susu. Kondisi yang dikenal dengan bingung puting ini merupakan salah satu penyebab kecemasan pada ibu menyusui sehingga tingkat keberhasilan menyusui menjadi kurang maksimal. Lalu bagaimana menyiasati bingung puting pada bayi?

Pengertian Bingung Puting

Bingung puting adalah perilaku bayi yang kesulitan atau rewel menyusu pada payudara ibu setelah ada pemberian dot atau botol susu, sebelum proses menyusui antara ibu dan bayi terjalin dengan baik. Tidak semua kasus memiliki kesulitan berpindah dari menyusu langsung di payudara ibu dengan atau setelah minum dari botol atau dot. Namun beberapa di antara kasus yang terjadi pada bayi yang mengalami bingung puting memiliki kesulitan untuk kembali menyusu secara langsung pada payudara ibu

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari bingung puting:

  1. Beri waktu yang cukup sampai proses menyusui terjalin dengan baik dan terasa menjadi bagian dari keseharian ibu dan bayi
  2. Gendong bayi, meningkatkan kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayi
  3. Mencari posisi yang nyaman saat ibu menyusui bayi
  4. Beri pujian kepada buah hati anda apabila dapat menunjukkan keinginan untuk menyusu
  5. Kenali tanda-tanda bayi ingin menyusu, yakni menghisap pergelangan tangan atau kepalan jari, mencari sesuatu dengan mulutnya, terbangun dan rewel namun belum menangis.
  6. Apabila bayi perlu mendapat suplementasi ASI, ibu dapat mempertimbangkan alternatif metode pemberian ASI dengan sendok, cangkir, maupun alat suplementer
  7. Hubungi tenaga kesehatan atau konselor menyusui terlatih

Semoga artikel ini dapat meningkatkan semangat keluarga Kejora untuk terus menyusui dan memberikan ASI kepada buah hati anda tercinta.

Editor : drg. Annisa Sabhrina (@asabhrina)

 

Sumber:

https://www.llli.org/breastfeeding-info/nipple-confusion/

Bolehkah Ibu Hamil Mengonsumsi Pemanis Buatan?

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Hai Ayah dan Ibu Kejora!

Untuk mencegah kegemukan serta kejadian penyakit diabetes mellitus, maka pemanis buatan (artificial sweetener) sebagai pengganti gula tentunya semakin banyak digunakan termasuk oleh ibu hamil. Namun, apakah benar ini aman digunakan dalam kehamilan? Mari kita simak ulasan berikut ya.

Artificial sweetener merupakan pengganti gula sintetis, meskipun beberapa sweetener ini dibuat dari bahan-bahan alami, seperti stevia yang berasal dari tanaman dengan spesies Stevia rebaudiana ataupun sukralosa yang berasal dari gula.

Secara garis besar ada 2 jenis sweetener, yaitu nutritive sweetener (mengandung kalori) dan non-nutritive sweetener (tanpa kalori). Nutritive sweetener (termasuk gula pasir) disebut “empty calorie’ yang artinya mengandung kalori, tapi mengandung sangat sedikit vitamin dan mineral. Apabila dikonsumsi tanpa berlebihan, maka nutritive sweetener aman saja untuk digunakan. Akan tetapi, pada ibu hamil yang mengalami diabetes dalam kehamilan (diabetes gestasional), memiliki riwayat diabetes mellitus ataupun resistensi insulin sebelumnya, maka penggunaannya harus dibatasi. Nutritive sweetener termasuk berbagai macam gula seperti gula pasir, dekstrosa, madu, corn sugar, fruktosa dan maltosa. Selain itu, nutritive sweetener termasuk gula alkohol seperti sorbitol, xylitol, manitol, dan hydrogenated starch.

Non-nutritive sweetener tidak mengandung kalori, tapi memiliki rasa manis yang sangat kuat dibandingkan dengan gula pasir sehingga biasanya hanya ditambahkan sangat sedikit dalam makanan atau minuman. Berikut adalah sweetener yang dianggap aman oleh Food and Drug Association (FDA) untuk ibu hamil, yaitu stevia, acesulfam, aspartam, dan sukralosa. Aman di sini maksudnya adalah tidak menimbulkan risiko toksisitas, kelahiran prematur, ataupun masalah pada janin. Sedangkan sweetener yang dianggap TIDAK aman oleh FDA adalah sakarin dan siklamat. Meskipun sweetener tadi dianggap aman oleh FDA, namun penggunannya pun tidak boleh berlebihan, ya Ayah dan Ibu Kejora! Yang terbaik adalah tetap mengonsumsi air putih untuk mencukupi kebutuhan cairan ibu hamil

Editor: drg Rizki Amalia

 

Sumber:

Artificial sweetener and pregnancy. www.americanpregnancy.org

Sugar substitutes during pregnancy. Canadian Family Physician. 2014

Additional information about high intensity sweeteners permitted for use in food in the United States. FDA.

Berkenalan dengan Vaginismus

 

 

 

 

oleh dr. Darrel  Fernando, Sp.OG

Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora! Apakah Ayah dan Ibu pernah mendengar tentang vaginismus? Yuk, kita cari tahu lebih lanjut!

Vaginismus adalah kondisi ketika terjadi kontraksi involunter (tidak disengaja) pada otot-otot sekitar vagina saat terjadi penetrasi atau akan terjadi penetrasi. Akibatnya, terjadi kesulitan penetrasi dan timbul rasa nyeri. Gejala utama vaginismus yaitu timbul rasa nyeri saat berhubungan (pada perempuan) serta kesulitan penetrasi seperti “menabrak tembok / buntu” (pada laki-laki).

Penderita vaginismus seringkali mendapat stigma atau di-cap “kaku”, “tidak rileks”, “tidak mau melayani suami”, dan lain-lain. Stigma ini berasal dari banyak pihak, termasuk pasangan, keluarga, bahkan tenaga medis sendiri yang kurang paham mengenai vaginismus. Hal ini mengakibatkan banyak dampak psikososial, seperti depresi, kecemasan, kurang harmonisnya hubungan rumah tangga, yang akan semakin terakumulasi bila kondisi vaginismus tidak ditangani dengan baik.

Vaginismus dapat didiagnosis oleh dokter kandungan melalui wawancara (anamnesis) dengan pasien dan pemeriksaan fisik. Perlu dicari tahu apakah ada kondisi lain yang menyebabkan nyeri pada saat berhubungan seksual, seperti adanya infeksi, lecet, endometriosis (gangguan sistem reproduksi wanita yang menyebabkan jaringan pada lapisan dalam dinding rahim tumbuh di luar rongga rahim), atau bahkan keganasan (kanker). Vaginismus sendiri dibagi menjadi 5 derajat (1 s.d. 5). Terkadang pasien sudah mengetahui “sepertinya saya mengalami vaginismus”, tetapi tetap harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan di dokter kandungan.

Bila sudah didiagnosis vaginismus, penanganannya memerlukan pendekatan tim dan multidisiplin. Banyak modalitas terapi yang dapat dilakukan dan terkadang diperlukan kolaborasi dengan psikolog atau psikiater.

Setelah menjalankan terapi, penderita vaginismus dianggap “sembuh” jika berhasil mencapai penetrasi dengan nyaman dan tanpa rasa nyeri. Bila setelahnya mengalami kehamilan, ex-penderita vaginismus masih dapat melahirkan per vaginam (melalui persalinan normal), bila sesuai dengan preferensinya.

Bila tidak ditatalaksana dengan baik, dampak negatif vaginismus dapat terakumulasi seiring bertambahnya waktu. Oleh sebab itu, jika Ibu Kejora mengalami gejala serupa, segeralah berkonsultasi ke dokter kandungan.

Editor: drg. Agnesia Safitri

Mengenal Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK)

 

 

 

 

oleh dr. Devy Marischa Malik

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

 

Halo Ibu Kejora!

Apakah Ibu pernah mendengar Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK) atau yang lebih dikenal sebagai Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS)? Mungkin ada diantara para Ibu yang pernah melakukan pemeriksaan ke Dokter Kandungan lalu dikatakan terdapat ovarium polikistik?

Sindrom Ovarium Polikistik merupakan salah satu kelainan tersering pada perempuan di usia reproduktif dan juga seringkali menjadi penyebab masalah kesuburan (fertilitas). Diketahui bahwa 5% – 10% perempuan pada usia reproduktif menderita SOPK. Beberapa faktor risiko yang bisa menjadi penyebab timbulnya SOPK antara lain obesitas dan resistensi insulin.

Apa saja sih tanda-tanda dari SOPK ini?

Untuk dapat mendiagnosa SOPK, ada beberapa tanda yang dapat dikenali oleh Ibu, antara lain:

  • Pertumbuhan rambut pada wajah dan tubuh, ataupun jerawat yang berlebihan. Kondisi ini disebut juga hiperandrogenisme, atau hormon androgen yang berlebih.
  • Gangguan haid berupa oligomenorea atau siklus haid memanjang karena tidak adanya sel telur yang matang (anovulasi). Siklus haid satu ke selanjutnya akan menjadi sangat lama.

Pada pemeriksaan USG dengan Dokter Kandungan, akan tampak sel-sel folikel dalam jumlah banyak pada salah satu atau kedua indung telur. Seyogianya satu atau dua sel folikel ini akan terpilih untuk mengalami pematangan dan mencetuskan ovulasi, namun pada wanita dengan SOPK proses ini tidak terjadi.

Apa yang bisa dilakukan?

Lalu bagaimana bila kita ternyata mengalami SOPK ini? Jangan khawatir, berikut diantaranya yang dapat dilakukan:

  • Bila obesitas adalah salah satu faktor risiko yang ada, maka lakukan penurunan berat badan 5%-10% agar dapat memicu timbulnya ovulasi secara spontan. Lakukan olahraga secara teratur dan terapkan pola hidup sehat.
  • Konsultasikan ke dokter untuk pengaturan siklus haid dan pemicu ovulasi.

Perlu kita sadari bahwa dengan adanya gangguan haid, metabolisme tubuh mengalami ketidak-seimbangan karena terganggunya jalur hormonal. Hal ini akan memberikan dampak tidak hanya pada organ reproduksi, namun dapat juga meningkatkan faktor risiko terjadinya penyakit lain seperti diabetes mellitus, jantung bahkan hingga kanker endometrium.

Yuk Ibu Kejora, perhatikan siklus haid kita dan jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Dokter Kandungan jika dijumpai ada keluhan.

Editor: dr. Nurul Larasati

Yuk Mengenal Pertumbuhan Janin Terhambat!

 

 

 

 

oleh dr. Devy Marischa Malik

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

 

Halo Ibu Kejora!

Apakah Ibu pernah mendengar suatu kondisi yang disebut pertumbuhan janin terhambat (PJT)? PJT, atau dalam Bahasa Inggris disebut Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) ialah suatu keadaan dimana janin mengalami kegagalan mencapai potensi pertumbuhannya. Ini adalah suatu proses yang terjadi didalam kandungan dan ditandai dengan adanya pertumbuhan janin yang tidak sesuai dengan usia kehamilan atau biasanya lebih kecil dari usia kehamilan. PJT dapat terjadi disetiap usia kehamilan, oleh karenanya penting untuk ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan (antenatal care) secara teratur.

Mendeteksi PJT

Ibu, kondisi PJT dapat dideteksi sedari dini bila Ibu rutin melakukan pemeriksaan kehamilan. Untuk membantu penapisan PJT, beberapa faktor penting yang perlu Ibu perhatikan saat pemeriksaan kehamilan adalah sebagai berikut:

  1. Mengetahui usia kehamilan dengan pasti

Kesalahan mengetahui usia kehamilan dapat berakibat pada kesalahan penentuan taksiran berat janin. USG trimester pertama adalah saat yang paling tepat untuk mengetahui usia kehamilan.

  1. Pertambahan berat badan Ibu

Waspada bila Ibu tidak mengalami kenaikan berat badan pada kunjungan rutin.

  1. Kondisi umum Ibu

Kondisi umum yang perlu diperhatikan termasuk diantaranya adalah tekanan darah tinggi, penyakit metabolik, dan infeksi.

  1. Hasil pemeriksaan USG

Melalui pemeriksaan USG, Ibu dan dokter dapat mengetahui laju pertumbuhan janin dan juga taksiran beratnya, apakah sesuai dengan usia kehamilannya, ataukah lebih besar atau lebih kecil.

Semua bayi dengan berat lahir kecil disebabkan PJT?

Seperti yang diungkapkan sebelumnya, kondisi PJT dapat menyebabkan ukuran dan berat badan janin tidak sesuai usia kehamilannya. Namun tidak semua bayi yang terlahir kecil disebabkan oleh PJT. Bayi dengan berat lahir kecil dapat dikarenakan hal-hal di bawah ini, seperti:

  1. Bayi prematur atau kurang dari 37 minggu
  2. Bayi kecil masa kehamilan dimana sang bayi memang memiliki kecenderungan proporsi badan yang kecil namun sehat dan bugar
  3. Bayi dengan pertumbuhan janin terhambat
  4. Bayi dengan anomali atau kelainan.

Dari keempat hal di atas, hanya bayi dengan kecil masa kehamilan yang dianggap kondisinya normal.

Seberapa parah PJT?

Sebagai bagian dari usaha penapisan PJT, ada hal-hal penting yang baiknya Ibu tanyakan atau ketahui saat memeriksakan kandungan di dokter. Pada pemeriksaan USG Ibu bisa tanyakan:

  1. Apakah taksiran berat janin sesuai dengan usia kehamilan?
  2. Apakah jumlah air ketuban sesuai dengan usia kehamilan?
  3. Bagaimana laju pertumbuhan janin?
  4. Bagaimana arus darah janin?

Derajat keparahan PJT bervariasi mulai dari ringan hingga berat dan dapat berlangsung pada berbagai usia kehamilan. Pada PJT derajat ringan, dokter akan melakukan evaluasi ketat namun masih dapat dikoreksi tanpa harus melahirkan janin. Namun pada PJT yang berat, janin tidak mendapatkan cukup nutrisi dan oksigen sehingga terjadi suatu keadaan asfiksia dan janin sudah tidak bisa berkompensasi lagi. Kondisi seperti ini biasanya menjadi pertimbangan kuat untuk dilakukan terminasi kehamilan atau persalinan. Kondisi PJT yang berat harus dievaluasi ketat oleh dokter dan juga perlu persiapan support NICU jika ternyata usia kehamilan masih kurang dari 37 minggu. Dengan demikian, bukan hanya dokter kandungan saja yang dibutuhkan tapi juga dokter spesialis anak yang nantinya akan merawat sang bayi.

Jadi, Ibu jangan lupa untuk rutin melakukan pemeriksaan kehamilan ya! Tanyakan juga ke dokter mengenai empat hal di atas terkait kesesuaian pertumbuhan janin. Bila janin diketahui mengalami PJT, luangkan waktu lebih untuk berkonsultasi dengan dokter. Semoga Ibu dan janin selalu dalam keadaan baik dan sehat ya!

Editor: dr. Nurul Larasati

Donor ASI

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah ayah dan ibu mengetahui tentang donor ASI? Hal yang sering dibicarakan saat ini, terutama di kalangan keluarga yang baru memiliki bayi atau sedang dalam proses menyusui.

Kontributor Kejora Indonesia, dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC, CIMI, berbagi informasi penting mengenai donor ASI. Sebelum anda memutuskan untuk memberikan ASI atau menjadi donor ASI sebaiknya anda membaca poin di bawah ini.

Apa itu Donor ASI?

Donor ASI merupakan proses berbagi ASI, atau pemberian ASI seorang ibu untuk bayi yang bukan anak biologisnya. Mengapa kegiatan ini sering disebut sebagai donasi / donor ASI (breast milk donation), dan bukan berbagi ASI (breast milk sharing)? Karena ASI adalah cairan tubuh manusia, dan berpotensi membawa penyakit, risiko alergi, dan materi genetik seorang ibu, sehingga dunia kesehatan menempatkan donor ASI setara dengan donor darah. Oleh sebab itu proses donor ASI seharusnya dilakukan melalui proses penapisan dan pemeriksaan seperti layaknya proses donor darah.

Di Indonesia, sampai konten ini diterbitkan, belum ada Bank ASI yang terstandar. Praktik donor ASI yang banyak dilakukan di Indonesia merupakan praktik donor ASI informal melalui jaringan sosial, atau mulut ke mulut.

Meskipun proses informal, ada 4 pilar penting yang perlu diperhatikan dalam proses tukar-menukar atau berbagi ASI:

  1. Persetujuan tindakan

Semua pihak, baik yang memberi ASI (ibu donor) maupun ibu dan bayi dan keluarga penerima (resipien) harus memahami, mengerti, dan secara objektif menilai informasi terkait donor ASI termasuk keuntungan, risiko, konsekuensi medis, psikologis, dan sosiokultural pemberian ASI donor. Hal ini memudahkan para pihak untuk mengambil keputusan yang tepat. Dokter, bidan, konselor laktasi merupakan tenaga profesional yang tepat untuk berkonsultasi sebelum mengambil keputusan untuk donor ASI atau menerima donor ASI.

  1. Penapisan donor

Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang ibu donor ASI untuk dapat memberikan ASInya untuk bayi lain. Secara umum, penapisan donor ASI terdiri dari penapisan mandiri, pengkajian kesehatan dan gaya hidup (seperti risiko infeksi HIV, Hepatitis B, dan Hepatitis C, peminum alkohol, merokok, pengguna Narkoba, ataupun sedang menjalani pengobatan kemoterapi atau radioterapi), serta pemeriksaan darah untuk penyakit-penyakit yang dapat menular melalui darah (HIV, dan HTLV).

  1. Penanganan yang aman

Penanganan yang aman meliputi kebersihan tangan saat memerah ASI, proses memerah ASI yang baik, kulit ibu donor yang sehat, serta penyimpanan ASI perah yang memadai.

  1. Proses pasteurisasi ASI donor

Semua ASI donor harus melalui proses pasteurisasi untuk memastikan virus dan bakteri yang mungkin terkandung dalam ASI. Proses pasteurisasi ini dapat dilakukan secara mandiri di rumah dengan cara memanaskan ASI perah sampai suhu tertentu dan mempertahankannya dalam waktu tertentu. Pasteurisasi Holder memanaskan ASI perah dalam suhu 62.5°C selama 30 menit. Pasteurisasi pemanasan kilat (flash heating) menempatkan ASI perah pada suhu 72°C selama beberapa detik.

Demikian informasi mengenai donor ASI Keluarga Kejora, semoga bermanfaat terutama bagi anda yang sedang memiliki rencana untuk mencari donor ASI.

Editor: drg. Annisa Sabhrina

Referensi

The Four Pillars of Safe Breast Milk Sharing by Shell Walker and Maria Armstrong, from Midwifery Today (2012), 101, 34-37
https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/donor-asi

Apa Itu Cryptic Pregnancy?

 

 

 

 

oleh dr. Devi Marischa Malik

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

 

Halo Ibu dan Ayah Kejora! Apakah Ibu pernah dengar cerita yang sempat gempar di sosial media tentang ibu yang tidak tau dia hamil sampai waktunya persalinan? Hmmm.. Hamil tapi tidak merasakannya? Mungkinkah?

Mungkin sulit untuk dipercayai, namun pada beberapa perempuan terkadang tanda dan gejala kehamilan bisa sangat tersamarkan sehingga ia tidak mengetahui bahwa dirinya hamil. Hal seperti ini terjadi pada beberapa perempuan dan keadaan ini disebut sebagai cryptic pregnancy atau kehamilan cryptic. Istilah ini juga seringkali dikaitkan dengan denied-pregnancy.

Cryptic menurut kamus Merriam-Webster berarti sesuatu yang bersifat tersembunyi atau tidak diketahui. Kehamilan jenis ini, secara mencengangkan terjadi cukup sering, yaitu 1 dari 475 kehamilan. Sang Ibu biasanya baru menyadari kehamilannya antara usia kehamilan 20 minggu hingga saat persalinan. Ya benar, sang Ibu baru mengetahui bahwa dirinya hamil saat persalinan! Pada salah satu jurnal juga disebutkan bahwa kehamilan ini terjadi pada 1 dari 2500 kehamilan pada “Dunia Barat Modern”. Mengejutkan bukan?!

Pada beberapa jurnal kedokteran didapatkan laporan kasus mengenai seorang perempuan yang mengeluh mengalami nyeri perut hebat dan setelah dilakukan pemeriksaan di IGD ternyata perempuan tersebut mengalami keadaan persalinan.

Penyebab Cryptic Pregnancy

Beberapa penyebab terjadinya cryptic pregnancy antara lain:

  1. Siklus haid tidak normal. Ibu sebelumnya telah memiliki siklus haid yang tidak normal, sehingga ia menjadi biasa saja saat dirinya tidak mengalami haid selama beberapa bulan.
  2. Ibu dalam fase peri-menopause. Pada beberapa wanita yang berada dalam fase peri-menopause (fase menjelang menopause) seringkali terjadi haid yang tidak teratur dan selama beberapa bulan tidak haid. Sehingga seringkali sang Ibu merasa baik-baik saja saat tidak haid. Bahkan pada perempuan dalam fase ini atau yang merasa “sudah tua” sudah memiliki pemikiran bahwa dirinya tidak mungkin hamil, sehingga kehamilan sama sekali tidak pernah dibayangkan oleh mereka.
  3. Tidak tampak tanda hamil. Ibu tidak mengalami mual muntah pada trimester awal, dan juga ia tidak mengalami pertumbuhan berat badan yang cukup berbeda selama kehamilan.
  4. Tidak terasa gerakan janin. Pada kasus seperti ini, bisa jadi persepsi seorang perempuan yang tidak menyangka dirinya hamil sehingga menyangka bahwa gerakan tersebut adalah gerakan saluran pencernaan biasa.

Apakah Cryptic Pregnancy Berbahaya?

Seperti yang kita ketahui bahwa dalam kehamilan terjadi banyak perubahan pada Ibu dan janin, dimana kesejahteraan keduanya saling terhubung. Sehingga kegagalan untuk menyadari kehamilan akan memberi dampak buruk pada Ibu dan/atau janin, seperti berikut ini:

  1. Tidak dilakukan kunjungan antenatal secara baik. Hal ini dapat berakibat tidak diketahuinya beberapa komplikasi seperti berat janin kurang, air ketuban berkurang dan sebagainya.
  2. Tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium awal. Kondisi anemia, infeksi, dan sebagainya diketahui dapat mengakibatkan komplikasi pada kehamilan. Contohnya, infeksi saluran kemih pada ibu hamil dapat memicu terjadinya kontraksi yang jika dibiarkan dapat menimbulkan persalinan prematur.
  3. Tidak dilakukannya skrining terhadap Ibu, terutama hipertensi yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya pre-eklampsia dan eklampsia
  4. Komplikasi pada bayi, seperti lahir prematur, berat lahir kecil (Kurang Masa Kehamilan/ KMK) hingga Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT).

Apa Yang Sebaiknya Dilakukan?

Pada Ibu yang masih dalam usia produktif perlu disadari bahwa kehamilan bisa terjadi kapanpun, bahkan saat Ibu dalam proteksi kontrasepsi. Ingat kan pembahasan sebelumnya mengenai alat kontrasepsi termasuk angka persentase kegagalannya? Berikut tips & trick untuk menghindari terjadinya cryptic pregnancy:

  1. Ketahui pola haid normal.
  2. Kenali tanda-tanda perubahan pada tubuh kita, misalnya mudah merasa lelah, nyeri pinggang, sering berkemih, atau rasa tidak nyaman pada daerah perut.
  3. Ibu yang dalam proteksi kontrasepsi dapat memeriksakan diri ke tenaga medis secara berkala, misalnya setiap 3 bulan, 6 bulan atau satu kali setahun.

Jadi, cryptic pregnancy itu benar bisa terjadi ya. Kenali tubuh kita dengan baik dan selalu waspada.

Editor: dr. Nurul Larasati

Pekan Menyusui Sedunia 2020

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora!

Di tengah pandemi COVID-19, kita merayakan Pekan Menyusui Sedunia (World Breastfeeding Week) yang jatuh pada minggu pertama bulan Agustus 2020. Pekan Menyusui Sedunia yang diselenggarakan setiap tahun pada tanggal 1-7 Agustus, merayakan peran ibu menyusui dan meningkatkan kepekaan masyarakat awam terhadap menyusui.

Pada tahun 2020 ini, World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) menentukan tema “Support Breastfeeding for a Healthier Planet” sebagai bentuk dukungan menyusui terhadap lingkungan hidup.

Berikut manfaat menyusui terhadap lingkungan hidup dan kehidupan bermasyarakat:

  • Menyusui dapat mengurangi sampah botol, plastik, kardus kemasan serta mengurangi polusi yang diakibatkan proses produksi dan konsumsi Pengganti ASI (PASI). ASI adalah sumber daya terbarukan alami yang tidak memerlukan proses pengemasan, pemasaran, pengiriman, dan pembuangan.
  • Menurunkan kebutuhan listrik dan bahan bakar minyak yang diperlukan untuk produksi, pemasaran, distribusi, dan pembuangan PASI.
  • Menyusui eksklusif dapat menjadi metode kontrasepsi alami dan dapat menjarakkan kehamilan.
  • Bayi yang menyusu ASI menunjukkan respons imunologis yang lebih baik terhadap vaksin oral maupun suntikan.
  • Menurunkan biaya kebutuhan pokok keluarga. Pemberian PASI memakan biaya Rp. 300.000,00-800.000,00 per bulan.
  • Menyusui menurunkan angka kematian maupun kesakitan bayi sehingga menurunkan biaya pelayanan kesehatan yang harus ditanggung baik keluarga, asuransi, maupun pemerintah.
  • Menurunkan premi asuransi yang harus dibayar orang tua maupun pemberi kerja.
  • Meningkatkan produktivitas kerja orang tua karena bayi yang menyusu eksklusif rata-rata lebih jarang sakit.

Editor: drg. Annisa Sabhrina

Sumber:

http://www.tensteps.org/benefits-of-breastfeeding-for-the-environment-society.shtml#:~:text=Breastfeeding%20does%20not%20waste%20scarce,packaging%2C%20shipping%2C%20or%20disposal.&text=Though%20less%20of%20a%20factor,sibling%20and%20the%20new%20infant.

Bolehkah Minum Kopi Decaf saat Hamil?

 

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Keluarga Sehat Kejora!

Belakangan ini, minuman berbasis kopi semakin populer sehingga dapat kita temukan di mana-mana. Dahulu, minuman berbasis kafein ini dikonsumsi untuk alasan meningkatkan energi dan mengurangi rasa kantuk.  Bukan hanya kopi hitam pahit dan es kopi susu, saat ini banyak kombinasi kopi dengan berbagai sirup, teh, susu, hingga kopi decaf. Bahkan, kopi ini bukan hanya dijual dalam bentuk biji kopi, kopi bubuk, atau minuman siap saji dalam gelas – saat ini banyak gerai yang menjual kopi dalam kemasan botol 1 liter, sehingga memudahkan siapapun untuk mengonsumsinya.

Ibu hamil biasanya akan memilih untuk mengurangi konsumsi kopi atau bahkan tidak mengonsumsi kopi sama sekali untuk menghindari risiko kesehatan. Nah, mungkin ada yang bertanya-tanya, bagaimana dengan kopi decaf, ya? Kan, kopi decaf memiliki kandungan kafein rendah. Apakah kopi decaf boleh dikonsumsi saat sedang hamil?

 

KAFEIN DAN KEHAMILAN

Kafein adalah stimulan yang sebetulnya dapat ditemukan dalam berbagai tumbuhan. Selain kopi, beberapa tumbuhan lain yang mengandung kafein antara lain adalah teh, kokoa/coklat, dan guarana. Beberapa penelitian juga menemukan manfaat dari konsumsi kafein terhadap penyakit jantung, penyakit hati/liver, diabetes, dan beberapa jenis kanker.

Selama kehamilan, proses metabolisme kafein akan berjalan lebih lambat, dan kafein juga dapat menembus plasenta- hingga dapat masuk ke dalam aliran darah janin- disana kafein tidak dapat dimetabolisme.

Walaupun mekanismenya belum diketahui secara pasti, beberapa penelitian dengan hewan mencoba menunjukkan bahwa konsumsi kafein yang tinggi selama kehamilan berhubungan dengan berat badan lahir bayi yang rendah, restriksi pertumbuhan, keguguran, dan peningkatan risiko overweight pada masa pertumbuhan anak. Saat ini penelitian masih terus berjalan, dan hubungan antara konsumsi kafein dengan risiko negatif selama kehamilan bervariasi pada setiap orang. Dengan informasi yang diketahui saat ini, perhimpunan kedokteran obstetri ginekologi American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) memberikan rekomendasi konsumsi kafein pada wanita hamil yaitu kurang dari 200 mg dari total konsumsi kafein per hari.

Satu gelas (240 ml) kopi hitam mengandung sekitar 96 mg kafein, sehingga berbagai rekomendasi memberikan batas maksimal konsumsi kopi hitam adalah 2 gelas (475 ml) per hari.

 

BERAPA BANYAK KAFEIN DALAM KOPI DECAF?

Kata “decaf” merujuk pada decaffeinated, artinya sekitar 97% kafein dalam biji kopi telah diekstrak sehingga hanya sedikit sekali kafein yang terdapat dalam kopi decaf.

Satu cangkir (240 ml) kopi decaf mengandung sekitar 2,4 mg kafein, sedangkan 1 sajian espresso decaf (60 ml)  mengandung sekitar 0,6 mg kafein.

Bisa kita bandingkan jumlah kafein dalam jenis minuman kopi lainnya:

  • Espresso reguler: 127 mg dalam 1 sajian 60 ml
  • Kopi hitam reguler: 96 mg dalam 1 sajian 240 ml
  • Dark chocolate: 80 mg dalam 1 sajian 100 gram
  • Energy drinks: 72 mg dalam 1 sajian 240 ml
  • Teh hitam: 47 mg dalam 1 sajian 240 ml
  • Cola: 33 mg dalam 1 sajian 355 ml
  • Hot chocolate: 7 mg dalam 1 sajian 240 ml

Tentu saja jumlah kafein dalam kopi decaf jauh lebih kecil dibandingkan dengan jenis minuman kopi, teh, dan minuman olahan sumber kafein lainnya.

Namun perlu kita ingat juga, setiap jenis kopi memiliki kandungan kafein yang berbeda-beda. Salah satu penelitian pada kopi decaf menunjukkan kadar kafein hingga 14 mg dalam 1 sajian 475 ml. Walaupun jumlah ini masih sangat kecil, sebaiknya kita selalu memperhatikan jumlah kafein yang terdapat dalam minuman kafein yang kita gunakan.

Sampai saat ini belum ada anjuran resmi mengenai berapa banyak kopi decaf yang boleh dikonsumsi oleh ibu hamil. Sebuah penelitian tahun 1997 menemukan bahwa wanita yang mengonsumsi >= 3 gelas (710 ml) kopi decaf selama trimester pertama memiliki risiko keguguran hingga 2,4 kali lebih tinggi dibandingkan wanita yang tidak mengonsumsi kopi sama sekali. Sebuah penelitian lain tahun 2018 juga menunjukkan hasil yang serupa, yaitu wanita hamil yang mengonsumsi 400 mg kafein/hari mengalami peningkatan risiko aborsi spontan (terutama saat usia kandungan 9-19 minggu) hingga 20% dibandingkan dengan mereka yg mengonsumsi <50 mg kafein/hari. Perlu diperhatikan bahwa dalam penelitian ini peneliti juga menyertakan kemungkinan bias yang ada (kelangsungan hidup janin, gejala mual-muntah selama kehamilan, dan pola makan pada setiap ibu hamil).

Mengganti minuman kopi dengan kopi decaf tentu saja akan menurunkan jumlah konsumsi kafein harian. Namun jika ingin menghindari konsumsi kafein selama kehamilan sama sekali, Ibu bisa memilih minuman teh herbal atau teh buah, infused water dengan buah-buahan citrus dan madu, ataupun golden milk (campuran susu dengan turmerik yg terdapat dalam bubuk kunyit).

Editor: drg. Valeria Widita W

Referensi

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31818639/

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/9270953/

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27573467/

 

Mengenal Ragam Kontrasepsi

 

 

 

 

oleh dr. Devi Marischa Malik

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

 

Halo Ibu dan Ayah Kejora! Apakah Ibu dan Ayah sudah tau ragam-ragam kontrasepsi? Mari kita kenali jenis-jenisnya agar Ibu dan Ayah dapat menentukan jenis kontrasepsi yang nyaman.

Tujuan dari digunakannya kontrasepsi adalah untuk menunda kehamilan, mengatur atau menjarangkan kehamilan, dan mengakhiri masa kehamilan. Idealnya, kontrasepsi memiliki harga yang tidak terlampau mahal, mudah digunakan dengan efek samping yang minimal, siklus menstruasi dapat segera kembali normal saat dihentikan, mudah didapatkan, memiliki tingkat efektivitas yang tinggi, dan dapat digunakan oleh orang non medis.

Jenis-jenis kontrasepsi yang tersedia saat ini ada bermacam-macam:

  1. Alami:

Contoh kontrasepsi alami adalah seperti metode kalender, pantang berkala, dan pemeriksaan lendir serviks. Pada dasarnya, kontrasepsi jenis ini bertujuan agar Ibu dapat mengetahui kapan masa subur sehingga dapat mencegah terjadinya pembuahan dan tidak terjadi kehamilan.

  1. Penghalang atau barrier:

Jenis kontrasepsi yang termasuk penghalang adalah spermisida atau kondom. Pemakaian kondom selain cukup efektif dalam mencegah kehamilan, juga bisa mencegah dari terjadinya Penyakit Menular Seksual.

  1. Hormonal:

Contoh kontrasepsi yang mengandung hormon yaitu pil, suntikan seperti DMPA, atau implan. Kontrasepsi hormonal dapat mengandung satu jenis hormone atau dua (kombinasi). Hormon tunggal hanya mengandung hormon progestin seperti pil, suntikan berupa DMPA, dan implan. Sedangkan, kontrasepsi hormonal kombinasi mengandung hormon progestin dan estrogen, seperti pil dan suntikan.

Kontrasepsi hormonal memiliki tingkat efektivitas yang cukup tinggi hingga 99%. Namun, perlu diingat bahwa pemakaian kontrasepsi ini tidak melindungi dari penyakit menular seksual. Pil dan suntikan relatif sangat mudah untuk digunakan, namun untuk implant membutuhkan tenaga medis untuk pemasangannya.

  1. Non hormonal:

Spiral atau intrauterine device (IUD) adalah jenis kontrasepsi non hormonal. Jenis ini memiliki tingkat efektivitas yang cukup tinggi, yaitu > 97%. Namun, pemasangannya membutuhkan keterampilan dari tenaga medis.

  1. Kontrasepsi mantap:

Kontrasepsi mantap adalah tindakan sterilisasi yang dapat terdiri atas vasektomi (pada laki-laki) dan tubektomi (pada perempuan). Jenis kontrasepsi ini bersifat permanen, meskipun pernah tercatat terjadi kehamilan pada penggunanya. Angka kegagalannya berkisar antara 0,8% sampai dengan 3,7%. Untuk membuka kembali kontrasepsi jenis ini membutuhkan tindakan operatif dengan angka keberhasilan yang relatif kecil.

Bila Ibu dan Ayah ingin menunda masa kehamilan, mengatur atau menjarangkan kehamilan, Ibu dapat menggunakan jenis kontrasepsi pil, IUD, suntik, atau implan. Sedangkan, untuk mengakhiri kehamilan, pilihan yang paling tepat adalah kontrasepsi mantap atau steril. Namun selain itu Ibu juga dapat menggunakan IUD.

Pada keadaan khusus seperti Ibu menyusui, pasca melahirkan, pasca keguguran, atau kedaruratan, maka pilihan kontrasepsinya pun khusus. Maka dari itu, Ibu harus berkonsultasi lebih dahulu ke tenaga kesehatan terdekat, misalnya bidan, dokter umum, atau dokter spesialis kandungan.

Metode kontrasepsi ternyata ada banyak jenisnya ya, Ayah dan Ibu. Semoga dengan mengetahui ragamnya, Ayah dan Ibu dapat menentukan pilihan yang terbaik.

Editor: dr. Nurul Larasati