Apa Itu Cryptic Pregnancy?

 

 

 

 

oleh dr. Devi Marischa Malik

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

 

Halo Ibu dan Ayah Kejora! Apakah Ibu pernah dengar cerita yang sempat gempar di sosial media tentang ibu yang tidak tau dia hamil sampai waktunya persalinan? Hmmm.. Hamil tapi tidak merasakannya? Mungkinkah?

Mungkin sulit untuk dipercayai, namun pada beberapa perempuan terkadang tanda dan gejala kehamilan bisa sangat tersamarkan sehingga ia tidak mengetahui bahwa dirinya hamil. Hal seperti ini terjadi pada beberapa perempuan dan keadaan ini disebut sebagai cryptic pregnancy atau kehamilan cryptic. Istilah ini juga seringkali dikaitkan dengan denied-pregnancy.

Cryptic menurut kamus Merriam-Webster berarti sesuatu yang bersifat tersembunyi atau tidak diketahui. Kehamilan jenis ini, secara mencengangkan terjadi cukup sering, yaitu 1 dari 475 kehamilan. Sang Ibu biasanya baru menyadari kehamilannya antara usia kehamilan 20 minggu hingga saat persalinan. Ya benar, sang Ibu baru mengetahui bahwa dirinya hamil saat persalinan! Pada salah satu jurnal juga disebutkan bahwa kehamilan ini terjadi pada 1 dari 2500 kehamilan pada “Dunia Barat Modern”. Mengejutkan bukan?!

Pada beberapa jurnal kedokteran didapatkan laporan kasus mengenai seorang perempuan yang mengeluh mengalami nyeri perut hebat dan setelah dilakukan pemeriksaan di IGD ternyata perempuan tersebut mengalami keadaan persalinan.

Penyebab Cryptic Pregnancy

Beberapa penyebab terjadinya cryptic pregnancy antara lain:

  1. Siklus haid tidak normal. Ibu sebelumnya telah memiliki siklus haid yang tidak normal, sehingga ia menjadi biasa saja saat dirinya tidak mengalami haid selama beberapa bulan.
  2. Ibu dalam fase peri-menopause. Pada beberapa wanita yang berada dalam fase peri-menopause (fase menjelang menopause) seringkali terjadi haid yang tidak teratur dan selama beberapa bulan tidak haid. Sehingga seringkali sang Ibu merasa baik-baik saja saat tidak haid. Bahkan pada perempuan dalam fase ini atau yang merasa “sudah tua” sudah memiliki pemikiran bahwa dirinya tidak mungkin hamil, sehingga kehamilan sama sekali tidak pernah dibayangkan oleh mereka.
  3. Tidak tampak tanda hamil. Ibu tidak mengalami mual muntah pada trimester awal, dan juga ia tidak mengalami pertumbuhan berat badan yang cukup berbeda selama kehamilan.
  4. Tidak terasa gerakan janin. Pada kasus seperti ini, bisa jadi persepsi seorang perempuan yang tidak menyangka dirinya hamil sehingga menyangka bahwa gerakan tersebut adalah gerakan saluran pencernaan biasa.

Apakah Cryptic Pregnancy Berbahaya?

Seperti yang kita ketahui bahwa dalam kehamilan terjadi banyak perubahan pada Ibu dan janin, dimana kesejahteraan keduanya saling terhubung. Sehingga kegagalan untuk menyadari kehamilan akan memberi dampak buruk pada Ibu dan/atau janin, seperti berikut ini:

  1. Tidak dilakukan kunjungan antenatal secara baik. Hal ini dapat berakibat tidak diketahuinya beberapa komplikasi seperti berat janin kurang, air ketuban berkurang dan sebagainya.
  2. Tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium awal. Kondisi anemia, infeksi, dan sebagainya diketahui dapat mengakibatkan komplikasi pada kehamilan. Contohnya, infeksi saluran kemih pada ibu hamil dapat memicu terjadinya kontraksi yang jika dibiarkan dapat menimbulkan persalinan prematur.
  3. Tidak dilakukannya skrining terhadap Ibu, terutama hipertensi yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya pre-eklampsia dan eklampsia
  4. Komplikasi pada bayi, seperti lahir prematur, berat lahir kecil (Kurang Masa Kehamilan/ KMK) hingga Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT).

Apa Yang Sebaiknya Dilakukan?

Pada Ibu yang masih dalam usia produktif perlu disadari bahwa kehamilan bisa terjadi kapanpun, bahkan saat Ibu dalam proteksi kontrasepsi. Ingat kan pembahasan sebelumnya mengenai alat kontrasepsi termasuk angka persentase kegagalannya? Berikut tips & trick untuk menghindari terjadinya cryptic pregnancy:

  1. Ketahui pola haid normal.
  2. Kenali tanda-tanda perubahan pada tubuh kita, misalnya mudah merasa lelah, nyeri pinggang, sering berkemih, atau rasa tidak nyaman pada daerah perut.
  3. Ibu yang dalam proteksi kontrasepsi dapat memeriksakan diri ke tenaga medis secara berkala, misalnya setiap 3 bulan, 6 bulan atau satu kali setahun.

Jadi, cryptic pregnancy itu benar bisa terjadi ya. Kenali tubuh kita dengan baik dan selalu waspada.

Editor: dr. Nurul Larasati

Pekan Menyusui Sedunia 2020

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora!

Di tengah pandemi COVID-19, kita merayakan Pekan Menyusui Sedunia (World Breastfeeding Week) yang jatuh pada minggu pertama bulan Agustus 2020. Pekan Menyusui Sedunia yang diselenggarakan setiap tahun pada tanggal 1-7 Agustus, merayakan peran ibu menyusui dan meningkatkan kepekaan masyarakat awam terhadap menyusui.

Pada tahun 2020 ini, World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) menentukan tema “Support Breastfeeding for a Healthier Planet” sebagai bentuk dukungan menyusui terhadap lingkungan hidup.

Berikut manfaat menyusui terhadap lingkungan hidup dan kehidupan bermasyarakat:

  • Menyusui dapat mengurangi sampah botol, plastik, kardus kemasan serta mengurangi polusi yang diakibatkan proses produksi dan konsumsi Pengganti ASI (PASI). ASI adalah sumber daya terbarukan alami yang tidak memerlukan proses pengemasan, pemasaran, pengiriman, dan pembuangan.
  • Menurunkan kebutuhan listrik dan bahan bakar minyak yang diperlukan untuk produksi, pemasaran, distribusi, dan pembuangan PASI.
  • Menyusui eksklusif dapat menjadi metode kontrasepsi alami dan dapat menjarakkan kehamilan.
  • Bayi yang menyusu ASI menunjukkan respons imunologis yang lebih baik terhadap vaksin oral maupun suntikan.
  • Menurunkan biaya kebutuhan pokok keluarga. Pemberian PASI memakan biaya Rp. 300.000,00-800.000,00 per bulan.
  • Menyusui menurunkan angka kematian maupun kesakitan bayi sehingga menurunkan biaya pelayanan kesehatan yang harus ditanggung baik keluarga, asuransi, maupun pemerintah.
  • Menurunkan premi asuransi yang harus dibayar orang tua maupun pemberi kerja.
  • Meningkatkan produktivitas kerja orang tua karena bayi yang menyusu eksklusif rata-rata lebih jarang sakit.

Editor: drg. Annisa Sabhrina

Sumber:

http://www.tensteps.org/benefits-of-breastfeeding-for-the-environment-society.shtml#:~:text=Breastfeeding%20does%20not%20waste%20scarce,packaging%2C%20shipping%2C%20or%20disposal.&text=Though%20less%20of%20a%20factor,sibling%20and%20the%20new%20infant.

Bolehkah Minum Kopi Decaf saat Hamil?

 

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Keluarga Sehat Kejora!

Belakangan ini, minuman berbasis kopi semakin populer sehingga dapat kita temukan di mana-mana. Dahulu, minuman berbasis kafein ini dikonsumsi untuk alasan meningkatkan energi dan mengurangi rasa kantuk.  Bukan hanya kopi hitam pahit dan es kopi susu, saat ini banyak kombinasi kopi dengan berbagai sirup, teh, susu, hingga kopi decaf. Bahkan, kopi ini bukan hanya dijual dalam bentuk biji kopi, kopi bubuk, atau minuman siap saji dalam gelas – saat ini banyak gerai yang menjual kopi dalam kemasan botol 1 liter, sehingga memudahkan siapapun untuk mengonsumsinya.

Ibu hamil biasanya akan memilih untuk mengurangi konsumsi kopi atau bahkan tidak mengonsumsi kopi sama sekali untuk menghindari risiko kesehatan. Nah, mungkin ada yang bertanya-tanya, bagaimana dengan kopi decaf, ya? Kan, kopi decaf memiliki kandungan kafein rendah. Apakah kopi decaf boleh dikonsumsi saat sedang hamil?

 

KAFEIN DAN KEHAMILAN

Kafein adalah stimulan yang sebetulnya dapat ditemukan dalam berbagai tumbuhan. Selain kopi, beberapa tumbuhan lain yang mengandung kafein antara lain adalah teh, kokoa/coklat, dan guarana. Beberapa penelitian juga menemukan manfaat dari konsumsi kafein terhadap penyakit jantung, penyakit hati/liver, diabetes, dan beberapa jenis kanker.

Selama kehamilan, proses metabolisme kafein akan berjalan lebih lambat, dan kafein juga dapat menembus plasenta- hingga dapat masuk ke dalam aliran darah janin- disana kafein tidak dapat dimetabolisme.

Walaupun mekanismenya belum diketahui secara pasti, beberapa penelitian dengan hewan mencoba menunjukkan bahwa konsumsi kafein yang tinggi selama kehamilan berhubungan dengan berat badan lahir bayi yang rendah, restriksi pertumbuhan, keguguran, dan peningkatan risiko overweight pada masa pertumbuhan anak. Saat ini penelitian masih terus berjalan, dan hubungan antara konsumsi kafein dengan risiko negatif selama kehamilan bervariasi pada setiap orang. Dengan informasi yang diketahui saat ini, perhimpunan kedokteran obstetri ginekologi American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) memberikan rekomendasi konsumsi kafein pada wanita hamil yaitu kurang dari 200 mg dari total konsumsi kafein per hari.

Satu gelas (240 ml) kopi hitam mengandung sekitar 96 mg kafein, sehingga berbagai rekomendasi memberikan batas maksimal konsumsi kopi hitam adalah 2 gelas (475 ml) per hari.

 

BERAPA BANYAK KAFEIN DALAM KOPI DECAF?

Kata “decaf” merujuk pada decaffeinated, artinya sekitar 97% kafein dalam biji kopi telah diekstrak sehingga hanya sedikit sekali kafein yang terdapat dalam kopi decaf.

Satu cangkir (240 ml) kopi decaf mengandung sekitar 2,4 mg kafein, sedangkan 1 sajian espresso decaf (60 ml)  mengandung sekitar 0,6 mg kafein.

Bisa kita bandingkan jumlah kafein dalam jenis minuman kopi lainnya:

  • Espresso reguler: 127 mg dalam 1 sajian 60 ml
  • Kopi hitam reguler: 96 mg dalam 1 sajian 240 ml
  • Dark chocolate: 80 mg dalam 1 sajian 100 gram
  • Energy drinks: 72 mg dalam 1 sajian 240 ml
  • Teh hitam: 47 mg dalam 1 sajian 240 ml
  • Cola: 33 mg dalam 1 sajian 355 ml
  • Hot chocolate: 7 mg dalam 1 sajian 240 ml

Tentu saja jumlah kafein dalam kopi decaf jauh lebih kecil dibandingkan dengan jenis minuman kopi, teh, dan minuman olahan sumber kafein lainnya.

Namun perlu kita ingat juga, setiap jenis kopi memiliki kandungan kafein yang berbeda-beda. Salah satu penelitian pada kopi decaf menunjukkan kadar kafein hingga 14 mg dalam 1 sajian 475 ml. Walaupun jumlah ini masih sangat kecil, sebaiknya kita selalu memperhatikan jumlah kafein yang terdapat dalam minuman kafein yang kita gunakan.

Sampai saat ini belum ada anjuran resmi mengenai berapa banyak kopi decaf yang boleh dikonsumsi oleh ibu hamil. Sebuah penelitian tahun 1997 menemukan bahwa wanita yang mengonsumsi >= 3 gelas (710 ml) kopi decaf selama trimester pertama memiliki risiko keguguran hingga 2,4 kali lebih tinggi dibandingkan wanita yang tidak mengonsumsi kopi sama sekali. Sebuah penelitian lain tahun 2018 juga menunjukkan hasil yang serupa, yaitu wanita hamil yang mengonsumsi 400 mg kafein/hari mengalami peningkatan risiko aborsi spontan (terutama saat usia kandungan 9-19 minggu) hingga 20% dibandingkan dengan mereka yg mengonsumsi <50 mg kafein/hari. Perlu diperhatikan bahwa dalam penelitian ini peneliti juga menyertakan kemungkinan bias yang ada (kelangsungan hidup janin, gejala mual-muntah selama kehamilan, dan pola makan pada setiap ibu hamil).

Mengganti minuman kopi dengan kopi decaf tentu saja akan menurunkan jumlah konsumsi kafein harian. Namun jika ingin menghindari konsumsi kafein selama kehamilan sama sekali, Ibu bisa memilih minuman teh herbal atau teh buah, infused water dengan buah-buahan citrus dan madu, ataupun golden milk (campuran susu dengan turmerik yg terdapat dalam bubuk kunyit).

Editor: drg. Valeria Widita W

Referensi

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31818639/

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/9270953/

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27573467/

 

Mengenal Ragam Kontrasepsi

 

 

 

 

oleh dr. Devi Marischa Malik

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

 

Halo Ibu dan Ayah Kejora! Apakah Ibu dan Ayah sudah tau ragam-ragam kontrasepsi? Mari kita kenali jenis-jenisnya agar Ibu dan Ayah dapat menentukan jenis kontrasepsi yang nyaman.

Tujuan dari digunakannya kontrasepsi adalah untuk menunda kehamilan, mengatur atau menjarangkan kehamilan, dan mengakhiri masa kehamilan. Idealnya, kontrasepsi memiliki harga yang tidak terlampau mahal, mudah digunakan dengan efek samping yang minimal, siklus menstruasi dapat segera kembali normal saat dihentikan, mudah didapatkan, memiliki tingkat efektivitas yang tinggi, dan dapat digunakan oleh orang non medis.

Jenis-jenis kontrasepsi yang tersedia saat ini ada bermacam-macam:

  1. Alami:

Contoh kontrasepsi alami adalah seperti metode kalender, pantang berkala, dan pemeriksaan lendir serviks. Pada dasarnya, kontrasepsi jenis ini bertujuan agar Ibu dapat mengetahui kapan masa subur sehingga dapat mencegah terjadinya pembuahan dan tidak terjadi kehamilan.

  1. Penghalang atau barrier:

Jenis kontrasepsi yang termasuk penghalang adalah spermisida atau kondom. Pemakaian kondom selain cukup efektif dalam mencegah kehamilan, juga bisa mencegah dari terjadinya Penyakit Menular Seksual.

  1. Hormonal:

Contoh kontrasepsi yang mengandung hormon yaitu pil, suntikan seperti DMPA, atau implan. Kontrasepsi hormonal dapat mengandung satu jenis hormone atau dua (kombinasi). Hormon tunggal hanya mengandung hormon progestin seperti pil, suntikan berupa DMPA, dan implan. Sedangkan, kontrasepsi hormonal kombinasi mengandung hormon progestin dan estrogen, seperti pil dan suntikan.

Kontrasepsi hormonal memiliki tingkat efektivitas yang cukup tinggi hingga 99%. Namun, perlu diingat bahwa pemakaian kontrasepsi ini tidak melindungi dari penyakit menular seksual. Pil dan suntikan relatif sangat mudah untuk digunakan, namun untuk implant membutuhkan tenaga medis untuk pemasangannya.

  1. Non hormonal:

Spiral atau intrauterine device (IUD) adalah jenis kontrasepsi non hormonal. Jenis ini memiliki tingkat efektivitas yang cukup tinggi, yaitu > 97%. Namun, pemasangannya membutuhkan keterampilan dari tenaga medis.

  1. Kontrasepsi mantap:

Kontrasepsi mantap adalah tindakan sterilisasi yang dapat terdiri atas vasektomi (pada laki-laki) dan tubektomi (pada perempuan). Jenis kontrasepsi ini bersifat permanen, meskipun pernah tercatat terjadi kehamilan pada penggunanya. Angka kegagalannya berkisar antara 0,8% sampai dengan 3,7%. Untuk membuka kembali kontrasepsi jenis ini membutuhkan tindakan operatif dengan angka keberhasilan yang relatif kecil.

Bila Ibu dan Ayah ingin menunda masa kehamilan, mengatur atau menjarangkan kehamilan, Ibu dapat menggunakan jenis kontrasepsi pil, IUD, suntik, atau implan. Sedangkan, untuk mengakhiri kehamilan, pilihan yang paling tepat adalah kontrasepsi mantap atau steril. Namun selain itu Ibu juga dapat menggunakan IUD.

Pada keadaan khusus seperti Ibu menyusui, pasca melahirkan, pasca keguguran, atau kedaruratan, maka pilihan kontrasepsinya pun khusus. Maka dari itu, Ibu harus berkonsultasi lebih dahulu ke tenaga kesehatan terdekat, misalnya bidan, dokter umum, atau dokter spesialis kandungan.

Metode kontrasepsi ternyata ada banyak jenisnya ya, Ayah dan Ibu. Semoga dengan mengetahui ragamnya, Ayah dan Ibu dapat menentukan pilihan yang terbaik.

Editor: dr. Nurul Larasati

Program Hamil: Merencanakan Kehamilan dengan Baik

 

 

 

 

 

oleh dr. Darrel Fernando, Sp.OG

Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi

 

Kehamilan adalah sebuah proses luar biasa yang menyebabkan perubahan pada ibu, perkembangan janin, dan dinamika keluarga. Oleh sebab itu kehamilan harus direncanakan dan dipersiapkan dengan optimal. Berikut beberapa tips untuk merencanakan kehamilan dengan baik.

 

Waktu Program Hamil

  • Diskusikan dengan pasangan kapan waktu yang tepat untuk mulai mempersiapkan kehamilan. Terkadang ada pasangan yang ingin langsung memiliki keturunan setelah menikah, ada yang ingin menunda. Sesuaikan dengan kondisi rumah tangga masing-masing dan jangan terbebani tekanan sosial.
  • Kenali kondisi tubuh masing-masing. Kehamilan akan lebih mudah dicapai dan lebih baik bila kondisi istri dan suami sehat, baik secara jasmani maupun mental-emosional. Jika ada kondisi medis atau riwayat penyakit sebelumnya, sebaiknya kondisi tersebut diatasi atau dikontrol terlebih dahulu dengan dokter sebelum merencanakan kehamilan.
  • Asupan nutrisi yang baik dan seimbang tentunya juga akan mendukung terjadinya pembuahan, mempengaruhi pembentukan janin dan dapat mengurangi risiko penyakit pada ibu maupun janin selama masa kehamilan.

 

Hubungan Seksual saat Program Hamil

  • Waktu berhubungan seksual yang dianjurkan pada saat program hamil adalah setiap 2-3 hari.
  • Posisi berhubungan seksual & pencapaian orgasme pada perempuan tidak berhubungan dengan keberhasilan kehamilan.

 

Gaya Hidup saat Program Hamil

  • Selama program hamil, makanan sebaiknya bergizi lengkap dan seimbang (lihat contoh Isi Piringku). Kurangi konsumsi makanan instan, makanan yang banyak zat oksidatif seperti makanan yang banyak bagian gosongnya. Pilihlah jenis makanan yang berasal dari bahan makanan segar sehingga memiliki kandungan nutrisi tinggi, dengan memperhatikan porsi setiap jenis zat makro (karbohidrat, protein, lemak) dan mikro (vitamin dan mineral), dan jangan lupa untuk memperhatikan asupan cairan dan melakukan aktivitas fisik.
  • Salah satu suplementasi yang dianjurkan pada saat program hamil adalah asam folat. Ibu hamil dapat mengonsumsi bahan makanan sumber yang mengandung asam folat tinggi seperti edamame, sayuran berdaun hijau seperti bayam atau selada, brokoli, alpukat, mangga, jeruk, jagung manis, kacang-kacangan dan biji-bijian.
  • Suplementasi vitamin lainnya harus dipertimbangkan terutama pada ibu malnutrisi dan ibu yang sering mengalami mual dan muntah sehingga asupannya berkurang. contoh: kalsium, zat besi, vitamin B6, vitamin D, seng, dll.
  • Ibu hamil harus memperhatikan berat badan sebelum hamil, serta rutin memperhatikan kenaikan berat badan selama kehamilan. Kenaikan berat badan yang terlalu berlebihan atau kurang akan berisiko pada kesehatan ibu dan janin.
  • Upayakan gaya hidup sehat. Kebiasaan seperti merokok (termasuk rokok elektrik) dan konsumsi alkohol sebaiknya dihentikan pada istri dan suami pada saat program hamil. Konsumsi kafein dibatasi menjadi 1-2 gelas per hari.

 

 

Kapan Harus Program Hamil ke Dokter?

  • Sekitar 50% pasangan baru menikah akan hamil dalam 6 bulan pertama, dan 80% akan hamil dalam 1 tahun pertama pernikahan.
  • Bila sudah 1 tahun menikah dan berhubungan seksual rutin tanpa menggunakan kontrasepsi dan belum hamil, kondisi ini disebut infertilitas. Infertilitas terjadi pada sekitar 1 dari 7 pasangan (sekitar 15%).
  • Penyebab infertilitas adalah 30-40% faktor perempuan, 30% faktor laki-laki, dan 30% tidak diketahui penyebabnya.
  • Dianjurkan untuk program hamil ke dokter kandungan, bila:
    1. Sebelum 1 tahun: usia > 35 tahun, terdapat riwayat gangguan haid, perdarahan, nyeri haid hebat pada perempuan
    2. Setelah 1 tahun berhubungan seksual rutin tanpa menggunakan kontrasepsi.

  

Editor: @dr.kristinajoy

 

https://www.nhs.uk/common-health-questions/pregnancy/how-can-i-increase-my-chances-of-getting-pregnant/

https://www.rcog.org.uk/en/patients/fertility/problems/

https://www.nhs.uk/conditions/infertility/

 

Gangguan Mood pada Ibu Menyusui

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Menyusui  merupakan bentuk kerjasama tim. Bukan hanya membutuhkan partisipasi aktif seorang ibu dan bayinya, namun juga perlu disokong oleh beberapa faktor seperti pasangan, keluarga besar, kebijakan di lingkungan kerja dan komunitas.1

Salah satu cara memberdayakan ibu untuk bisa mencapai keberhasilan menyusui adalah dengan mengenali kondisi mental ibu yang  dapat menjadi hambatan dalam menyusui.

Gangguan psikiatri postpartum secara umum dibagi menjadi 3, yakni baby blues, postpartum psychosis, dan postpartum depression (depresi postpartum). Baby blues memiliki insidens global 300-750 per 1000 ibu. Kondisi ini merupakan gangguan psikiatri paling dini karena rasa sedih ibu saat bersama bayi dan akan hilang dengan sendirinya dalam waktu satu minggu. Namun pada 10-15% kasus, 1 kondisi ibu yang mengalami baby blues dapat berkembang menjadi depresi postpartum.2

Depresi post partum terjadi pada 100-150 per 1000 ibu baru melahirkan dan perlu ditangani. Psikosis post partum merupakan kondisi psikosis yang muncul dalam empat minggu pertama postpartum dan memerlukan perawatan di rumah sakit. Di negara maju, gangguan psikiatri postpartum termasuk depresi postpartum diperkirakan mencapai 18.6% (interval kepercayaan 95% , 18.0-19.2%).2 Depresi postpartum ini bila dibiarkan dapat mengganggu hubungan ibu dengan bayinya. Anak-anak dengan ibu yang mengalami depresi postpartum memiliki masalah kognitif, perilaku, dan interpersonal dibanding anak lainnya dengan ibu yang tidak memiliki kondisi yang sama. Anak-anak ini juga memiliki risiko lebih tinggi menderita berat badan kurang dan stunting.

Apabila seorang ibu menyusui merasakan ketidaksesuaian mood, segera cari pertolongan orang terdekat (suami, keluarga) maupun tenaga profesional (konselor, dokter, psikolog).

 

Editor : drg. Annisa Sabhrina

 

1 Webber E, Benedict J. Postpartum depression: A multi-disciplinary approach to screening, management and breastfeeding support.
Archives of Psychiatric Nursing, 2019;33(3):284-289.

2 Upadhyay RP, et al. Postpartum depression in India: a systematic review and meta-analysis. Bull World Health Organ 2017;95:706–717B
al.cfm.

Pergi ke Dokter Jantung saat Pandemi Covid-19, Kapan Waktu yang Tepat?

oleh dr. Adelin Dhivi Kemalasari, BMedSci, SpJP, FIHA

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

 

Halo, keluarga Kejora. Semoga selalu dalam keadaan sehat dan semangat ya walaupun #dirumahaja. Mungkin beberapa Ayah dan Ibu Kejora memiliki kerabat dengan penyakit jantung dan sempat mengalami kebingungan selama pandemi ini, mengingat himbauan untuk membatasi aktivitas luar rumah yang non-esensial, termasuk menunda kunjungan ke dokter, kecuali mengalami beberapa kondisi darurat.

Sebelum kita membahas mengenai kunjungan ke dokter jantung selama pandemi, perlu diketahui mengapa pasien dengan penyakit jantung termasuk dalam golongan yang rentan untuk mengalami gejala yang berat saat mengalami infeksi, termasuk Covid-19 ini. Pada pasien jantung, sudah terdapat abnormalitas struktur dan/atau fungsi (kekuatan) jantung. Pada keadaan stabil tanpa infeksi saja, kemampuan fisik pasien sudah berkurang dan terbatas karena keluhan sesak nafas dan/atau nyeri dada yang dirasakan pasien. Dalam keadaan infeksi virus maupun bakteri yang menyerang saluran napas secara umum, keadaan demam akan menyebabkan metabolisme meningkat, kebutuhan oksigen bertambah, produksi lendir di saluran nafas dapat merangsang refleks batuk lebih banyak. Kumpulan keadaan ini akan membuat pasien jantung yang awalnya stabil menjadi merasakan keluhan yang lebih berat, lebih cepat mengalami perburukan kondisi yang akibatnya penyembuhan akan lebih sulit dan risiko kematian lebih tinggi.

Lalu bagaimana dengan pasien yang sebelumnya rutin berobat ke poliklinik jantung? Apakah semua kunjungan ke dokter harus ditunda termasuk menunda obat – obatan rutin?

Pasien dengan penyakit jantung sebaiknya tetap menjaga kondisi jantung agar selalu stabil dan terkontrol, dengan cara tetap melanjutkan obat – obatan rutin tanpa perubahan. Bila persediaan obat rutin mendekati habis, ikuti waktu kontrol sesuai instruksi dokter. Tetap jaga kekebalan tubuh dengan mencukupi nutrisi dengan gizi yang seimbang, rutin mengkonsumsi buah dan sayur mayur, hindari stress, istirahat yang cukup, olahraga dengan intensitas ringan-sedang dengan durasi 20-30 menit, secara teratur 3-4x/minggu. Tidak perlu melakukan olahraga yang melelahkan. Dapat juga melakukan jalan cepat, berlari, bersepeda santai, bahkan melatih kekuatan otot dengan beban apabila sudah terlatih dan terbiasa. Apabila merasa kurang asupan buah dan sayur, dapat dilengkapi dengan suplemen yang memiliki kandungan komposisi vitamin A, C, D, dan E, serta mineral seperti selenium dan zinc. Pada pasien yang dianjurkan untuk restriksi jumlah cairan, tetap mengikuti saran dokter.

Hingga pada saat artikel ini ditulis, tindakan operasi, kateterisasi jantung, pemasangan ring jantung yang tidak darurat banyak yang ditunda hingga batas waktu yang belum dapat ditentukan, terutama di daerah zona merah Covid-19. Pembatasan ini bertujuan untuk menekan penyebaran Covid-19 di fasilitas kesehatan.

Namun prosedur dan pengobatan yang bersifat life-saving (menolong jiwa) atau darurat tetap dilakukan. Setiap orang yang dicurigai mengalami serangan jantung harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan secepat mungkin. Kekuatiran akan Covid-19 tidak boleh memperlambat penderita serangan jantung mendapat penanganan, karena semakin lambat pengobatan, semakin tinggi risiko komplikasi dan kematian akibat kerusakan otot jantung.

Kenali keluhan yang masuk dalam kategori gawat dan darurat di bidang jantung untuk menghindari keterlambatan penanganan. Beberapa kondisi kegawatdaruratan jantung dewasa antara lain:

  • Rasa sesak yang:
    • Memberat dengan posisi tidur, dan/atau
    • Tidak bisa tidur posisi rata (harus >2 bantal atau posisi duduk), dan/atau
    • Disertai batuk riak berdahak berwarna pink
  • Nyeri dada yang:
      • Seperti ditindih/ditimpa beban berat, dan/atau
      • Menjalar ke lengan atau punggung dan/atau leher,
      • Disertai mual, muntah, dan keringat dingin
  • Keluhan berdebar yang disertai pandangan gelap, rasa ingin pingsan, atau hingga hilang kesadaran

Untuk heart warrior (pasien anak dengan penyakit jantung bawaan), tetap lanjutkan obat rutin di rumah, kecuali mengalami kondisi gawat darurat jantung anak seperti:

  • Anak terlihat kebiruan semakin lama semakin biru
  • Sesak nafas sehingga terlihat tarikan dinding dada ke dalam
  • Anak berdebar-debar
  • Anak rewel yang sulit untuk ditenangkan
    • Anak dengan penyakit jantung bawaan kadangkala mengalami keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan, termasuk terlambat bicara. Terutama pada bayi yang tidak dapat menjelaskan keluhan mereka, seringkali keadaan rewel yang sulit ditenangkan merupakan manifestasi dari keluhan sesak nafas atau tidak nyaman yang disebabkan masalah jantung mereka.

 

Apabila gejala – gejala tersebut terjadi pada orang – orang terdekat di sekitar Anda, segera periksakan ke dokter. Jika tidak ada dokter spesialis jantung yang sedang praktik saat itu, Anda dapat memeriksakan diri ke Unit Gawat Darurat terdekat untuk penanganan awal.

Rumah sakit sudah menjalankan berbagai protokol ketat bagi seluruh pengunjung, dimulai dari pemeriksaan suhu di pintu masuk, memberikan jarak antarkursi, mewajibkan penggunaan masker, hingga menyediakan fasilitas untuk mencuci tangan. Jika aturan ini diikuti, sambil terus menjaga jarak ke orang lain, tidak perlu kuatir untuk berobat ke rumah sakit. Beberapa rumah sakit juga saat ini menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan jarak jauh (telemedicine) yang sudah didukung oleh peraturan Konsil Kedokteran Indonesia dalam kondisi pandemi. Layanan ini dapat Anda gunakan pada kondisi yang stabil atau mengalami keraguan untuk berkunjung ke rumah sakit. Perlu diingat bahwa dengan adanya keterbatasan pemeriksaan fisik dan penunjang, layanan telemedicine di bidang kardiovaskular tidak untuk penegakkan diagnosis pasti. Namun dokter dapat memberikan saran apakah gejala yang Anda alami memerlukan pemeriksaan lebih lanjut serta timing yang baik untuk konsultasi ke dokter apabila diperlukan untuk meminimalisir dari pajanan yang mungkin didapat di rumah sakit.

Saat ini pemerintah sedang mengkaji kesiapan fase kenormalan baru, yang memungkinkan beberapa kelonggaran dari aturan pembatasan sebelumnya. Fase apapun yang akan kita hadapi nantinya, pencegahan adalah hal yang utama. Karena jika sudah terinfeksi, manajemen Covid-19 menjadi lebih rumit pada penderita penyakit jantung. Lindungi kelompok rentan dengan cara selalu menjalani protokol kesehatan dan langkah pencegahan dengan ketat. Semoga keluarga Kejora selalu sehat, ya!

 

Editor  : drg. Valeria Widita W

Sumber:

 

 

Parenting during Pandemic


 

 

 

oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

Hallo Keluarga Sehat Kejora Indonesia! Bagaimana kabar Ayah dan Bunda? Semoga selalu diberikan perlindungan dan kesehatan oleh Tuhan YME.

Saat ini kita bersama-sama sedang mengalami pandemi Covid-19 secara global. Tentu, pendemi ini membawa banyak perubahan ya. Kita harus bekerja, belajar, beraktivitas, dan beribadah dari rumah. Ayah dan Bunda harus bekerja dari rumah, mengurus kebutuhan rumah tangga, menemani dan mendampingi si kecil yang belajar di rumah. Belum lagi jika si kecil rewel dan kita sedang banyak sekali pekerjaan, sambil terus menjaga kesehatan keluarga kita.

Perubahan dan tekanan yang kita hadapi ini, bisa membuat Ayah dan Bunda, serta si kecil menjadi rentan terhadap stress. Untuk itu, kita perlu bisa beradaptasi dengan situasi seperti ini, termasuk beradaptasi dengan perubahan peran dalam parenting. Yuk, simak bagaimana Ayah dan Bunda bisa beradaptasi dan ber-partner dalam proses parenting selama pandemi global ini!

Parenting = Partnering

Pertama-tama, Ayah dan Bunda perlu memahami, bahwa parenting adalah partnering. Artinya, Ayah dan Bunda memiliki peran yang sama penting dan perlu bekerja sama dalam merawat dan mendidik si kecil. Hubungan yang positif dalam ber-partner bersama pasangan, akan memudahkan Ayah dan Bunda menjadi partner yang baik dalam parenting. Apalagi, di tengah situasi seperti ini, penting sekali bagi Ayah dan Bunda untuk bisa saling ber-partner demi menciptakan sinergi positif selama #dirumahaja. Bagaimana bisa ber-partner dalam parenting di situasi pandemi seperti ini?

  1. Saling Mendukung. Dalam parenting, apalagi di saat seperti sekarang ini, dukungan emosional dari pasangan adalah hal yang amat diperlukan agar Ayah dan Bunda bisa selalu kuat dalam menghadapi ini semua. Jangan lupa untuk saling menghargai dan mengapresiasi pasangan kita ya, Ayah dan Bunda.
  2. Saling Berkomunikasi. Ayah dan Bunda perlu saling terbuka dan berdiskusi tentang pembagian peran, kesepakatan, dan aturan dalam mengurus si kecil di rumah. Komunikasi penting dibangun, sebagai antisipasi perubahan situasi yang sulit seperti sekarang ini. Selain itu, dengan komunikasi yang terbuka, akan memudahkan Ayah dan Bunda dalam membagi peran dan tanggung jawab selama #dirumahaja.
  3. Aktif Berpartisipasi. Dalam situasi pandemi global, Ayah dan Bunda perlu sama-sama saling mendukung dan aktif berpartisipasi dalam mengurus rumah tangga dan merawat si kecil. Dengan aktif berpartisipasi dan saling berbagi tanggungjawab, tentu pekerjaan rumah tangga dan merawat si kecil tentu bisa lebih mudah dilakukan, bukan?
  4. Quality Time dengan Pasangan. Jangan lupa untuk tetap menyediakan waktu berkualitas bersama pasangan ya, Ayah dan Bunda agar keharmonisan dalam rumah tanga tetap bisa terjaga. Sempatkan waktu untuk ngobrol berdua dengan pasangan, nonton di rumah, atau melakukan hobi dan aktivitas menyenangkan berdua.

 

Selanjutnya, bagaimana tips dalam merawat si kecil selama pandemi ini?

  1. Berikan Briefing pada Si Kecil

Ayah dan Bunda bisa menjelaskan pada si kecil mengenai:

  • Situasi dan perubahan saat ini
  • Perbedaan belajar di rumah vs sekolah
  • Perubahan rutinitas, termasuk bila Ayah dan Bunda bekerja dari rumah

Hal ini akan membantu anak untuk antisipasi terhadap perubahan.

  1. Atur Schedule dan Kesepakatan

Mengatur ulang rutinitas harian, membuat schedule, dan kesepakatan bersama selama #dirumahsaja bisa membantu si kecil lebih disiplin. Hal ini juga membantu mengantisipasi masalah-masalah yang akan terjadi selama Ayah, Bunda, dan si kecil berada di rumah saja. Tips:

  • Buat rutinitas yang fleksibel namun konsisten
  • Buat jadwal (time line) yang jelas
  • Buat kesepakatan: apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak selama #dirumahsaja
  1. Team Work

Berkegiatan #dirumahsaja, bisa jadi sarana untuk Ayah dan Bunda memperkenalkan tanggung jawab dan melatih kemandirian si kecil, loh! Ajarkan si kecil mengenai daily life skill ya, Ayah dan Bunda! Lalu, ajak si kecil untuk bekerjasama dalam membangun kebiasaan selama di rumah.

  1. Work Station

Jika Ayah dan Bunda juga bekerja dari rumah, dan si kecil juga sekolah di rumah; Ayah dan Bunda bisa membuat suasana belajar dan bekerja yang kondusif. Misalnya, dengan menyiapkan ruangan / meja khusus untuk belajar dan bekerja yang minim distraksi. Hal ini akan membantu Ayah, Bunda, dan si kecil lebih fokus dan produktif selama beraktivitas #dirumahsaja.

  1. Ciptakan Jam Kerja Bersama

Atur jam kerja bersama agar Ayah, Bunda, dan si kecil bisa bersama-sama menyelesaikan tugas masing-masing.

  1. Siapkan Anak Belajar (dan Kita Bekerja)

Sebelum sekolah / kerja online, siapkan diri layaknya ketika kita dan si kecil harus ke kantor dan sekolah. Jangan lupa untuk, mandi yang bersih, pakai baju rapi, dan sarapan agar kita dan si kecil siap untuk belajar dan bekerja.

  1. Family Time

Meskipun rasanya ribet dan bikin pusing, momen #dirumahaja bisa jadi sarana untuk meningkatkan waktu kebersamaan dengan keluarga. Ciptakan waktu berkualitas bersama si kecil ya. Selama family time, Ayah dan Bunda perlu fokus pada interaksi dan afeksi si kecil. Berikan pelukan, kata-kata kasih sayang, dan luangkan waktu beraktivitas bersama, ya. Momen ini bisa merekatkan keluarga, loh!

  1. Me-Time

Secapek-capeknya mengurus pekerjaan, rumah tangga, dan si kecil di tengah situasi penuh tekanan seperti ini, Ayah dan Bunda tetap perlu melakukan self-care ya, demi menjaga kesehatan mental kita. Karena, mental yang sehat juga akan mendorong kita lebih produktif, lebih positif, dan menjaga imunitas tubuh kita. Jangan lupa istirahat dan ambil waktu untuk me-time ya, Ayah dan Bunda!

  1. Tetap Tenang dan Kelola Stress

Masa-masa ini adalah masa saat stress mudah menyerang. Ayah dan Bunda perlu bisa mengelola stress, merawat diri dengan baik, agar kita bisa merawat anak-anak kita.

  1. Anda Tidak Sendiri

Saat ini, ada jutaan orangtua yang mengalami hal sama dengan Ayah dan Bunda. We’re in this together! Ayah dan Bunda akan bisa melewati ini semua!

Terakhir, kami selaku tim Kejora, ingin mememberikan apresiasi sebesar-besarnya pada semua Ayah dan Bunda!

Terima kasih, karena Bunda bisa:

  • Bekerja dari rumah, sambil urus rumah, suami, dan anak (jangan lupa urus diri sendiri ya, Bunda!).
  • Meeting online sama bos, sambil gendong si kecil atau nemenin si kecil sekolah
  • Mendampingi si kecil sekolah dan belajar, ikut beradaptasi dengan sistem sekolah online yang masih membingungkan, sambil adaptasi juga sama sistem WFH (Work from Home).
  • Berkoordinasi dengan guru sekolah si kecil, sambil berkoordinasi dengan suami, Pak bos di tempat kerja, dan bapak GoFood yang lagi kirim makanan buat keluarga.
  • Masak di rumah, cari resep-resep kekinian di instagram / youtube, agar keluarga tetap terpenuhi gizi dan kesehatannya.
  • Tetap ber-partner bersama suami, bekerja bersama, demi keluarga, meski sama-sama repot, belum lagi urus mertua.
  • Menahan emosi dan amarah demi keharmonisan keluarga, meski susah dan capek sekali rasanya.

Bunda tidak perlu sempurna (Tidak mungkin juga bisa sempurna), tapi Bunda bisa! Bunda hebat! Terima kasih, Bunda!

Terimakasih, karena Ayah bisa:

  • Ikut nemenin si kecil main, sambil jaga-jaga kalau bos telpon.
  • Fokus kerja di rumah, dengar meeting online kantor, sambil dengar istri dan anak ramai di rumah, apalagi kalau si kecil lagi nangis dan istri lagi emosi.
  • Bantuin pekerjaan rumah istri, untuk cuci piring, bikin kopi, menyapu, jemur pakaian. Sambil bolak-balik urus kerjaan kantor.
  • Bekerjasama dengan istri mengurus si kecil, untuk bikinin susu, ganti popok, menyuapi si kecil makan, sambil mengatur karyawan.
  • Menahan emosi dan tekanan kerja demi menjaga ekonomi dan kebutuhan keluarga, meskipun rasanya capek dan entah kapan berakhir.
  • Memberi support dan tetap hadir secara emosi untuk keluarga.

Ayah tidak perlu sempurna, tapi Ayah keren! Ayah kuat! Terima kasih Ayah!

Semoga artikel ini dapat membantu Ayah dan Ibu dalam menjalankan parenting bagi si kecil selama pandemi global ini. We are in this together. This too shall pass. There is always a rainbow after the rain. Stay safe & healthy, Ayah dan Bunda!

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Kapan Harus Ke Dokter OBGYN Saat Pandemi?

oleh dr. Devy Marischa Malik

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

 

Halo Keluarga Kejora! Dikala pandemi ini kita semua dihimbau oleh pemerintah untuk melakukan physical distancing dan berdiam di rumah kecuali terdapat kebutuhan yang mendesak. Hal ini berlaku bagi yang tinggal di kawasan zona merah pandemi Covid-19 ataupun tidak.

 

Nah, bagaimana dengan para Ibu yang sedang hamil? Mungkin terdapat keraguan pada Ibu untuk datang ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya untuk kontak dengan dokter dan tenaga medis. Tapi tenang, Persatuan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) cabang Jakarta sudah mengeluarkan himbauan untuk menunda kunjungan ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan (OBGYN), kecuali terdapat kondisi darurat.

 

Yuk, kita kenali apa saja sih yang termasuk kondisi darurat dalam kehamilan:

  1. Mual muntah hebat

Atau disebut juga hiperemesis gravidarum. Paling sering terjadi pada trimester awal kehamilan dimana mual dan muntah lebih hebat dan lebih berat dibanding morning sickness. Kondisi ini dapat mengakibatkan kekurangan cairan atau dehidrasi dengan skala yang berbeda. Selain itu hiperemesisgravidarum juga bisa menyebabkan gangguan elektrolit tubuh, syok, dan penurunan kesadaran.

 

  1. Perdarahan

Adanya perdarahan dapat terjadi pada trimester berapapun dengan penyebab yang beragam. Jika terjadi pada trimester pertama, maka penyebabnya antara lain adalah keguguran atau hamil anggur (mola hidatidosa).

Perdarahan yang terjadi pada trimester kedua atau ketiga biasanya disebabkan karena:

  • Plasenta previae: suatu keadaan dimana ari-ari (plasenta) menutupi jalan lahir bagian dalam, baik seluruhnya ataupun sebagian. Keluhan perdarahan ini tanpa disertai kontraksi atau nyeri perut yang hebat. Lokasi plasenta dapat diketahui melalui pemeriksaan USG.
  • Solusio plasenta: suatu keadaan dimana terlepasnya sebagian plasenta di dalam rahim. Kondisi ini membahayakan sekali! Bayangkan bahwa plasenta adalah pemasok semua kebutuhan janin. Jika plasenta terlepas maka suplai oksigen dan kebutuhan nutrisi lain untuk janin bisa berkurang atau bahkan terhenti. Adanya solusio plasenta ini biasanya disebabkan oleh trauma seperti benturan pada perut Ibu atau karena penyakit penyulit seperti tekanan darah tinggi.

Perdarahan yang terjadi pada trimester dua atau tiga juga bisa menjadi pertanda dimulainya proses persalinan terutama jika disertai adanya kontraksi yang teratur.

 

  1. Kontraksi atau nyeri perut hebat

Kontraksi atau nyeri perut hebat dapat terjadi pada setiap trimester. Jika terjadi pada trimester pertama, maka kemungkinan terbesarnya ialah keguguran yang mengancam, terutama jika disertai dengan perdarahan. Namun, hal ini juga bisa disebabkan oleh keadaan darurat yang disebut sebagai kehamilan ektopik atau hamil di luar kandungan, misalnya di saluran telur. Kehamilan ektopik ini dapat menyebabkan pecahnya lokasi penempelan janin, sehingga dapat menyebabkan timbulnya perdarahan hebat di dalam perut yang memicu timbulnya nyeri hebat.

Pada trimester kedua atau ketiga, kontraksi atau nyeri perut hebat juga dapat menjadi tanda persalinan. Jika usia kehamilan masih kurang dari 37 minggu, maka keadaan ini dapat mengarah pada kondisi persalinan prematur.

Nyeri perut hebat juga bisa menjadi tanda adanya kelainan seperti usus buntu, kista terpuntir, atau infeksi saluran kemih. Maka dari itu jika Ibu merasakan hal ini segera periksakan diri ke dokter ya!

 

  1. Pecah ketuban

Hal ini dapat terjadi pada usia kehamilan berapapun. Ketuban yang telah pecah dapat menjadi pintu masuk terjadi infeksi, sehingga diperlukan penanganan dengan antibiotik yang tepat. Komplikasi yang dapat terjadi ialah infeksi, timbulnya kontraksi, hingga tali pusat yang ikut terlahir.

 

  1. Tekanan darah tinggi

Tekanan darah tinggi ditandai dengan adanya pemeriksaan tekanan darah dengan hasil diatas 140/90 mmHg. Keadaan ini dapat timbul hanya pada saat kehamilan dan menghilang perlahan sampai dengan setelah 1 bulan. Adanya tekanan darah tinggi yang disertai dengan adanya hasil protein dalam urin menandakan bahwa Ibu mengalami keadaan serius yang disebut preeklamsia. Karenanya, tekanan darah tinggi dalam kehamilan memerlukan pemantauan dan pengaturan, dan juga evaluasi urin secara berkala.

Preeklamsi dapat menjadi awal dari komplikasi yang lebih serius seperti solusio plasenta, kerusakan ginjal, kerusakan liver, rendahnya trombosit hingga kejang.

 

  1. Nyeri kepala hebat

Nyeri kelapa hebat terutama pada trimester tiga seringkali menjadi tanda akan timbulnya kejang, terutama pada Ibu yang mengalami tekanan darah tinggi dalam kehamilan dan tidak terkontrol.

 

  1. Tidak merasakan gerakan janin

Gerakan janin umumnya bervariasi antara satu dengan lainnya. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah letak plasenta. Rata-rata janin dapat bergerak hingga 32 kali dalam 1 jam, namun janin juga mempunyai kebiasaan seperti waktu untuk tidur. Jika Ibu merasakan adanya pengurangan gerakan janin, coba pantau gerakannya selama 2 jam; jika tidak terdapat gerakan, segera periksakan ke dokter.

 

  1. Kejang

Kejang terjadi dikarenakan kondisi yang disebut eklamsia, yang disertai dengan adanya tekanan darah tinggi dan dari pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya protein dalam urin. Terkadang sebelum kejang dapat diawali dengan nyeri kepala hebat. Jika hal ini terjadi, segera datang ke rumah sakit terdekat.

 

Selain hal-hal tersebut, ada pula beberapa kondisi lainnya yang membutuhkan pemantauan berkala dengan dokter OBGYN, antara lain:

  1. Berat Janin Kecil

Berat janin kecil yang tidak tertangani dengan baik dapat mengarah pada pertumbuhan janin terhambat. Penanganan dan skrining sedini mungkin dapat memberikan koreksi pada berat janin dan pencegahan pada keadaan yang lebih berat.

 

  1. Pertumbuhan janin terhambat

Pertumbuhan janin terhambat bukan hanya berat janin yang kecil (di bawah persentil 5), namun juga disertai pengurangan air ketuban dan tanda abnormalitas pembuluh darah janin. Pada keadaan berat, terminasi kehamilan atau persalinan adalah salah satu upaya yang ditempuh untuk meyelamatkan janin.

 

  1. Air ketuban berkurang

Air ketuban yang berkurang menjadi pertanda dari kondisi plasenta yang kurang baik atau kondisi janin yang kurang baik. Ibu harus memperbaiki asupan cairan agar dapat mengatasi pengurangan air ketuban ini.

 

  1. Anemia berat

Anemia berat yang terjadi pada Ibu tidak hanya berdampak pada sang Ibu tapi juga pada janin, bahkan sangat mungkin janin mengalami anemia di dalam kandungan. Penyebab anemia harus dapat diketahui dan dilakukan koreksi. Anemia pun dapat menjadi kontribusi timbulnya persalinan premature dan juga perdarahan pasca persalinan.

 

 

Cegah Anemia, Cegah Stunting

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Tahukah Ayah dan Ibu bahwa ternyata 1 dari 2 ibu hamil di Indonesia masih mengalami anemia? Lebih tepatnya 48.9% ibu hamil di Indonesia mengalami anemia. Salah satu penyebab anemia yang sering terjadi adalah anemia karena kekurangan zat besi atau yang sering disebut anemia defisiensi besi.

Zat besi merupakan salah satu unsur terpenting yang membentuk hemoglobin dalam sel darah merah yang akan membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Selama kehamilan, kebutuhan zat besi meningkat untuk dapat mencukupi kebutuhan pasokan oksigen yang diangkut oleh darah ke janin. Apabila hemoglobin tidak cukup, maka kapasitas darah untuk mengangkut oksigen ke janin akan menurun dan mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin. Kondisi ini dapat meningkatkan kejadian kelahiran prematur serta berat badan janin yang rendah, yang pada akhirnya meningkatkan risiko stunting. Oleh sebab itu, intervensi gizi spesifik pada ibu hamil menjadi salah satu sasaran prioritas dalam Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting 2018-2024

Anemia tidak hanya disebabkan oleh kekurangan zat besi, namun dapat juga karena kekurangan zat gizi lain seperti asam folat dan vitamin B12. Tetapi, yang akan dibahas lebih lanjut mengenai kecukupan zat besi pada ibu hamil. Pada trimester 2 dan 3, ibu hamil membutuhkan tambahan 9 dan 13 mg zat besi dibandingkan dengan kebutuhan sebelum hamil. Biasanya dokter kandungan atau bidan akan memberikan suplementasi tambahan zat besi untuk ibu hamil.

Zat besi dalam bahan makanan terdapat dalam dua bentuk, yaitu besi heme dan besi non-heme. Besi heme terdapat dalam bahan makanan hewani, seperti daging sapi, ati ayam dan ati sapi, seafood, ikan, kerang, dan unggas. Sekitar 50 sampai 60% besi dalam daging sapi, ikan, dan unggas merupakan besi heme, dan sisanya merupakan besi non-heme. Sedangkan besi non-heme terutama terdapat pada bahan makanan nabati (kacang-kacangan, buah, sayur, biji-bijian, dan tahu), dan produk dairy (susu, keju, telur). Selain dari sumber alamiah tersebut, zat besi juga bisa didapatkan dari bahan makanan yang difortifikasi atau diperkaya seperti roti, pasta, dan sereal.

Besi heme lebih mudah diserap oleh saluran cerna dibandingkan dengan besi non-heme. Sedangkan untuk besi non-heme terdapat beberapa faktor yang dapat membantu penyerapannya (enhancer), seperti fruktosa (gula buah), asam askorbat (vitamin C), dan asam sitrat. Pahami pula bahwa penyerapan besi non-heme juga bisa dihambat oleh zat tanin yang ada pada teh dan kopi, oksalat pada bayam, cokelat dan teh, serta mineral lain seperti kalsium, zinc dan mangan. Bahkan minum kopi saat makan atau segera setelah makan dapat menurunkan penyerapan besi hingga 40% lho, Ayah dan Ibu!

Penyerapan besi non-heme (termasuk yang ada pada suplemen) membutuhkan kondisi yang asam pada lambung dan penyerapannya mudah dihambat oleh berbagai faktor, maka mengonsumsi suplemen besi sebaiknya dalam kondisi perut kosong dan tidak dikonsumsi bersama dengan suplemen lain. Selain itu saat makan, ada baiknya Ibu tidak mengonsumsi teh, minuman cokelat atau kopi agar penyerapan zat besi dapat optimal, dan gantilah dengan minuman tinggi vitamin C seperti jus buah ataupun buah potong!

Editor: drg Rizki Amalia

 

Sumber:

  1. Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting 2018-2024. Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan.
  2. Maternal Anemia and Pregnancy outcomes: a Systematic Review and Meta-analysis. Int J of Pediatrics 2016.
  3. The International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO) recommendation on adolscent, preconception, and maternal nutrition: “Think Nutrition First”. Int J of Gynecology and Obstetrics 2015.
  4. Essential Trace and Ultratrace Minerals. Advanced Nutrition and Human Metabolism, 6 edition. 2013.