oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah ayah dan ibu mengetahui tentang donor ASI? Hal yang sering dibicarakan saat ini, terutama di kalangan keluarga yang baru memiliki bayi atau sedang dalam proses menyusui.

Kontributor Kejora Indonesia, dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC, CIMI, berbagi informasi penting mengenai donor ASI. Sebelum anda memutuskan untuk memberikan ASI atau menjadi donor ASI sebaiknya anda membaca poin di bawah ini.

Apa itu Donor ASI?

Donor ASI merupakan proses berbagi ASI, atau pemberian ASI seorang ibu untuk bayi yang bukan anak biologisnya. Mengapa kegiatan ini sering disebut sebagai donasi / donor ASI (breast milk donation), dan bukan berbagi ASI (breast milk sharing)? Karena ASI adalah cairan tubuh manusia, dan berpotensi membawa penyakit, risiko alergi, dan materi genetik seorang ibu, sehingga dunia kesehatan menempatkan donor ASI setara dengan donor darah. Oleh sebab itu proses donor ASI seharusnya dilakukan melalui proses penapisan dan pemeriksaan seperti layaknya proses donor darah.

Di Indonesia, sampai konten ini diterbitkan, belum ada Bank ASI yang terstandar. Praktik donor ASI yang banyak dilakukan di Indonesia merupakan praktik donor ASI informal melalui jaringan sosial, atau mulut ke mulut.

Meskipun proses informal, ada 4 pilar penting yang perlu diperhatikan dalam proses tukar-menukar atau berbagi ASI:

  1. Persetujuan tindakan

Semua pihak, baik yang memberi ASI (ibu donor) maupun ibu dan bayi dan keluarga penerima (resipien) harus memahami, mengerti, dan secara objektif menilai informasi terkait donor ASI termasuk keuntungan, risiko, konsekuensi medis, psikologis, dan sosiokultural pemberian ASI donor. Hal ini memudahkan para pihak untuk mengambil keputusan yang tepat. Dokter, bidan, konselor laktasi merupakan tenaga profesional yang tepat untuk berkonsultasi sebelum mengambil keputusan untuk donor ASI atau menerima donor ASI.

  1. Penapisan donor

Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang ibu donor ASI untuk dapat memberikan ASInya untuk bayi lain. Secara umum, penapisan donor ASI terdiri dari penapisan mandiri, pengkajian kesehatan dan gaya hidup (seperti risiko infeksi HIV, Hepatitis B, dan Hepatitis C, peminum alkohol, merokok, pengguna Narkoba, ataupun sedang menjalani pengobatan kemoterapi atau radioterapi), serta pemeriksaan darah untuk penyakit-penyakit yang dapat menular melalui darah (HIV, dan HTLV).

  1. Penanganan yang aman

Penanganan yang aman meliputi kebersihan tangan saat memerah ASI, proses memerah ASI yang baik, kulit ibu donor yang sehat, serta penyimpanan ASI perah yang memadai.

  1. Proses pasteurisasi ASI donor

Semua ASI donor harus melalui proses pasteurisasi untuk memastikan virus dan bakteri yang mungkin terkandung dalam ASI. Proses pasteurisasi ini dapat dilakukan secara mandiri di rumah dengan cara memanaskan ASI perah sampai suhu tertentu dan mempertahankannya dalam waktu tertentu. Pasteurisasi Holder memanaskan ASI perah dalam suhu 62.5°C selama 30 menit. Pasteurisasi pemanasan kilat (flash heating) menempatkan ASI perah pada suhu 72°C selama beberapa detik.

Demikian informasi mengenai donor ASI Keluarga Kejora, semoga bermanfaat terutama bagi anda yang sedang memiliki rencana untuk mencari donor ASI.

Editor: drg. Annisa Sabhrina

Referensi

The Four Pillars of Safe Breast Milk Sharing by Shell Walker and Maria Armstrong, from Midwifery Today (2012), 101, 34-37
https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/donor-asi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *