Pentingnya Memperhatikan Tulang Panggul Anak

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, BMedSc

Dokter Umum

Halo, Ayah dan Ibu! Kali ini kita akan membahas mengenai tulang panggul si kecil yang kadang terlewati untuk diperhatikan. Apakah Ayah dan Ibu juga tahu bahwa membedong dapat memperberat kondisi bayi dengan kelainan tulang panggul? Yuk, kita simak bersama.

Pembentukan dan perkembangan sel tulang yang tidak beraturan disebut juga sebagai displasia dalam bahasa medis. Bila hal ini terjadi pada tulang panggul, maka disebutnya displasia panggul atau Developmental Dysplasia of the Hip (DDH). Displasia panggul merupakan kondisi dimana sendi panggul menjadi longgar dan tidak stabil. Gangguan ini dapat muncul dan berkembang setelah kelahiran dengan derajat keparahan yang variatif. Displasia panggul cukup sering ditemukan pada bayi baru lahir, terutama pada anak pertama, jenis kelamin perempuan, atau memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit yang sama.

Dislokasi sendi panggul (tulang keluar dari engselnya), nyeri, kelainan bentuk, tungkai pendek sebelah, tidak stabil berjalan adalah beberapa konsekuensi yang dapat terjadi apabila displasia panggul tidak ditangani dengan baik. Bahkan, kondisi ini akan mempengaruhi dampak buruk bagi struktur tulang lainnya. Kelainan itu akan mempengaruhi aktivitas sang anak sehari-hari serta kualitas hidup yang buruk, dan pada akhirnya menyebabkan proses pengapuran sendi panggul dini.

Penyebab displasia panggul

Mengapa penyakit ini dapat terjadi? Hal ini disebabkan pada saat proses persalinan dimana tubuh sang ibu akan melepaskan hormon yang membuat otot dan ligamen bayi menjadi lentur agar dapat melewati jalan lahir. Pada beberapa bayi yang sangat responsif terhadap hormon ini, otot dan ligamennya akan menjadi terlalu lentur walau kualitas tulang bayi sebenarnya sudah bersifat empuk dan fleksibel. Alhasil, kelahiran bayi, terutama dengan posisi sungsang (presentasi bokong), memiliki resiko lebih besar untuk terjadinya displasia panggul ini.

Gambar 1: (Kiri) Posisi normal bayi dalam kandungan, (Kanan) Posisi bayi lahir sungsang

Pembedongan bayi

Terkadang gangguan pada bayi tidak seberapa dan menyebabkan tidak terdeteksinya pada saat segera setelah lahir. Namun, oleh karena faktor perawatan dan alat-alat yang kita gunakan terhadap sang bayi, displasia panggul dapat menjadi lebih parah. Contoh tindakan yang paling sering adalah pembedongan. Bayi dengan kecurigaan displasia panggul tidak direkomendasikan untuk dibedong. Tindakan pembedongan yang terlalu kencang menyebabkan tungkai bayi dalam posisi “terpaksa” lurus. Hal ini dapat membuat otot dan ligamen yang menjaga kestabilan sendi panggul menjadi semakin tertarik. Mekanisme yang serupa juga dapat terjadi pada pemakaian alat gendong yang membuat tungkai sang buah hati dalam kondisi “terpaksa” lurus ini.

Gambar 2: Ilustrasi mekanisme terjadinya displasia panggul yang disebabkan oleh pembedongan

Gambar 3: Posisi menggendong bayi yang TIDAK dianjurkan karena dapat memicu displasia panggul

Gambar 4: Posisi menggendong bayi yang dianjurkan karena dapat mencegah displasia panggul

Deteksi dini

Seiring dengan pertumbuhan menjadi dewasa, tulang manusia akan menjadi semakin keras, otot dan ligamen pun semakin kencang dan kuat. Tulang panggul yang tumbuh dan berkembang secara normal akan sangat membantu dalam menjaga kestabilan sendi panggul. Oleh sebab itu, deteksi dini dari displasia panggul menjadi sangat penting agar dapat menghindari kelainan bentuk (deformitas) yang menetap. Semakin awal terdeteksi, penanganan terhadap penyakit ini semakin dapat diupayakan tanpa tindakan operasi. Walaupun, ada kalanya meskipun penanganan tanpa operasi sudah dilakukan, kelenturan yang sangat tinggi menyebabkan diperlukannya tindakan operasi.

Umumnya, setelah bayi lahir akan dilakukan “screening” atau “penyaringan” pada kondisi ini. Namun ada kalanya proses tersebut tidak menangkap kelainan displasia panggul saat baru lahir. Ayah dan Ibu Kejora yang merawat sang buah hati sehari-hari dapat membantu deteksi dini dengan memperhatikan gejala berikut:

  1. Bunyi klik pada area panggul. Hal ini dapat menandakan sendi panggul tidak stabil pada tempatnya.
  2. Panjang tungkai yang tidak sama. Gejala ini dapat dilihat dari perbedaan lipatan kulit di area bokong dan paha, atau dengan melihat tinggi lutut pada saat ditekuk. Hal ini menandakan sendi panggul yang tidak pada tempatnya sehingga tungkai yang sakit menjadi terkesan lebih pendek.

Gambar 5: Berbagai cara untuk mengevaluasi displasia panggul berdasarkan panjang tungkai

Pemeriksaan oleh dokter

Setelah menyadari adanya kelainan tersebut, bawalah sang buah hati ke dokter. Pemeriksaan fisik lebih lanjut oleh dokter disertai pemeriksaan rontgen dan ultrasonografi dapat mengkonfirmasi kestabilan sendi panggul. Tujuan dari terapi medis adalah mengupayakan agar sendi panggul tersebut dapat terjaga stabil pada tempatnya dan mencegah komplikasi. Berbagai macam terapi dapat diterapkan, mulai dari penggunaan baju kekang, gips, operasi pembedahan rekonstruksi otot/ligamen hingga tulang. Pilihan terapi ini tidak sama pada semua pasien, dan akan ditentukan oleh dokter tergantung pada usia saat terdeteksi penyakit dan stabilitas dari sendi panggul tersebut.

Ayah dan Ibu, mulai sekarang kita harus lebih perhatian dengan kondisi panggul si kecil ya. Pastikan juga kita tidak memaksakan penggunaan bedong bila si kecil dicurigai ada kelainan pada panggulnya dan segera diperiksakan ke dokter.

Referensi

Kotlarsky P, Haber R, Bialik V, Eidelman M. Developmental dysplasia of the hip: What has changed in the last 20 years? World J Orthop. 2015 Dec 18; 6(11): 886–901.

Kelainan Kulit Alergi pada Anak

oleh dr. Nico Gandha, SpDV

Dokter Spesialis Dermatologi dan Venerologi

Halo Ayah dan Ibu semua! Tentu Ayah Ibu pernah mendengar istilah alergi. Tapi, apa sih sebenarnya alergi itu? Mengapa alergi bisa terjadi pada anak? Untuk mengenal lebih dalam tentang alergi, mari kita simak perbincangan dengan dr. Nico Gandha, SpDV berikut ini tentang kelainan kulit alergi pada anak.

Dok, apa sih alergi itu? Mengapa alergi bisa muncul?

Alergi merupakan respons peradangan berlebihan yang dibuat sistem imun tubuh terhadap suatu bahan penyebab alergi (disebut juga alergen). Hanya individu dengan sistem imun yang hipersensitif yang memunculkan gejala alergi apabila terpajan/terpapar dengan suatu alergen. Hal ini menyebabkan alergen penyebab alergi pada setiap orang dapat berbeda-beda. Secara garis besar, penyebab kelainan kulit alergi dapat dibedakan berdasarkan asalnya, yaitu dari dalam (misalnya, setelah memakan makanan atau obat tertentu) dan dari luar tubuh (sebagai contoh, setelah terkena bahan alergen dari lingkungan).

Apa saja bentuk kelainan kulit alergi, Dok? Apakah alergi pada anak selalu berupa ruam kemerahan pada kulit?

Istilah alergi sebenarnya tidak terbatas hanya pada kulit. Organ lain di tubuh kita juga dapat terkena alergi, misalnya saluran cerna dan saluran napas. Pada kulit, alergi dapat memberikan gambaran kelainan kulit yang beragam, mulai dari urtika (atau biduran), eksim, hingga lenting yang timbul pada tubuh. Tidak selalu berupa ruam kemerahan ya.

Bentuk kelainan kulit akibat alergi yang umum ditemukan pada anak antara lain eksim atopik, urtikaria, eksim kontak alergi, serta ruam alergi obat. Eksim atopik pada anak memiliki bentuk kelainan yang karakteristik, yaitu bercak merah gatal pada tempat tertentu di tubuh. Anak dengan eksim atopik memiliki bakat atopik (terdiri dari eksim atopik, rinitis alergi, atau asma) yang kemungkinan diturunkan dari orang tuanya. Kulit anak dengan bakat atopik, walaupun secara sepintas normal, sesungguhnya terjadi kelainan pada kulit mereka yang menyebabkan pelembap alami kulit berkurang jumlahnya. Oleh karena itu, kulit mereka rentan kering dan mengalami gangguan berupa eksim. Eksim yang terjadi pada anak dengan bakat atopik dapat dicetuskan (atau kambuh) baik dari makanan tertentu (misalnya telur, susu, kacang, makanan laut) maupun lingkungan, misalnya keringat, udara kering, bahan pakaian kasar/wol, sabun.

Bentuk kelainan kulit alergi lain yang dapat terjadi adalah urtikaria (bentol, biduran). Bila anak memiliki alergi bentuk ini, harus dilihat apakah keluhan masih akut (<6 minggu) atau sudah kronik (>6 minggu). Urtikaria yang akut pada anak umumnya disebabkan infeksi, baik saluran napas atas, gigi, atau saluran kemih. Jadi anak yang kulitnya biduran belum tentu sedang mengalami alergi, walaupun sebagian biduran pada anak memang dapat disebabkan oleh alergi, baik alergi terhadap makanan maupun obat. Apabila urtikaria sudah kronik, kemungkinan penyebab alerginya berasal dari faktor lingkungan, misalnya udara dingin, tungau debu rumah, bulu hewan, atau dapat pula disebabkan makanan tertentu. Urtikaria yang lebih parah dapat pula menimbulkan angioedema, yang lokasi proses peradangannya lebih dalam dibandingkan urtikaria. Angioedema ditandai dengan pembengkakan kulit pada kelopak mata, atau bibir. Pada kasus yang lebih berat, angioedema dapat menyerang saluran napas (laring) yang menimbulkan kegawatdaruratan medis dan membutuhkan penanganan segera. Urtikaria dan angioedema dapat muncul bersamaan ataupun sendiri-sendiri.

Gambar 1. Urtikaria pada lengan (gambar didapat dari allergyuk.org)

Gambar 2. Angioedema pada kelopak mata (gambar didapat dari en.wikipedia.org)

Selain itu, kelainan kulit alergi pada anak dapat pula berbentuk eksim kontak alergi. Cirinya adalah bercak merah timbul akibat penggunaan atau kontak langsung dengan suatu alergen. Misalnya, bercak gatal pada daun telinga pada anak dengan alergi anting nikel, bercak merah di sekitar mulut pada anak dengan kontak alergi terhadap pasta gigi, eksim di daerah kaki pada anak yang alergi terhadap bahan karet, kimia, atau pewarna sepatu, serta penggunaan bahan oles misalnya minyak tawon, kayu putih, balsem, atau obat oles antibiotik neomisin. Eksim kontak alergi perlu dibedakan dengan eksim kontak iritan, karena proses peradangan yang mendasarinya berbeda. Pada eksim kontak alergi, peradangan kulit didasari proses alergi, sedangkan pada eksim kontak iritan proses peradangannya disebabkan proses iritasi terhadap bahan tertentu, misalnya sabun antiseptik, feses dan urin pada popok bayi, dan minyak atau balsem.

Gambar 3. Eksim kontak alergi akibat penggunaan perhiasan dari nikel (gambar didapat dari medicinenet.com)

Selain berupa biduran (atau urtikaria), obat dapat menyebabkan kelainan kulit berupa ruam alergi obat. Bila urtikaria/angioedema akibat obat muncul beberapa menit hingga jam setelah konsumsi obat, ruam alergi obat umumnya timbul lebih lama setelah konsumsi obat, dapat beberapa hari atau minggu setelahnya. Ruam alergi obat juga dapat menyerupai ruam yang timbul akibat demam misalnya akibat infeksi virus. Untuk itu, perlu diperhatikan kondisi anak sebelum dan saat timbul keluhan, serta mengetahui pasti nama obat-obatan apa saja yang dikonsumsi anak sebelum terjadi keluhan ruam kulit.

Gambar 4. Ruam alergi obat (gambar didapat dari intranet.tdmu.edu.ua)

Bentuk kelainan kulit alergi yang lebih jarang ditemukan antara lain fixed drug eruption (kelainan lenting berulang pada tempat sama di tubuh yang disebabkan obat tertentu) dan sindrom steven-johnson. Sindrom ini merupakan reaksi alergi obat berat. Beberapa penyakit autoimun dapat pula dicetuskan kekambuhannya oleh makanan dan obat, misalnya eksim herpetiformis, penyakit autoimun berupa lenting di tubuh yang kekambuhannya dapat dicetuskan makanan mengandung gluten.

Kalau kemerahan pada pipi bayi atau sering disebut eksim susu itu apa ya, Dok? Apakah itu merupakan suatu bentuk alergi juga?

Eksim susu merupakan suatu bentuk eksim atopik yang banyak ditemukan pada bayi, ditandai dengan bercak kemerahan pada pipi. Pada bayi dengan eksim susu, susu dapat menjadi pencetus kambuhnya kelainan kulit eksim atopik pada pipinya (alergi terhadap faktor dari dalam tubuh). Namun, hal ini tidak berarti bayi dengan eksim atopik tidak boleh mengkonsumsi air susu ibu (ASI). Pada bayi dengan ASI eksklusif, eksim ini lebih mungkin disebabkan oleh bahan makanan yang dimakan ibu, misalnya kacang, makanan laut, telur, atau susu yang diminum ibu. Eksim susu ini biasanya diperberat dengan iritasi terhadap susu yang menempel langsung pada kulit pipi. Oleh karena itu, orangtua atau pengasuh sangat disarankan untuk membasuh susu yang menempel pada kulit pipi bayi dengan handuk halus.

Dok, apakah eksim atopik ini akan berlanjut hingga dewasa?

Eksim atopik ini memiliki tiga fase sesuai usia anak. Pada fase infantil (2 bulan – 2 tahun), kelainan kulit terutama ditemukan pada lokasi kedua pipi, leher, atau di tonjolan siku dan/atau lutut pada bayi yang telah merangkak.

Gambar 5. Eksim atopik pada bayi (gambar oleh Thomas Habif didapat dari merckmanuals.com)

Pada fase usia anak yang lebih besar (di atas 2 tahun hingga remaja), kelainan kulit umumnya ditemukan pada lipatan siku dan/atau lutut. Selain itu, dapat pula terjadi pada daerah leher. Umumnya daerah lipatan tersebut menjadi tebal karena garukan yang sering atau menyisakan bekas peradangan yang menghitam apabila kelainan kulitnya sedang mereda. Garukan berulang pada anak dengan eksim atopik juga dapat menyebabkan infeksi pada kulitnya.

Pada fase usia yang lebih besar (dewasa), eksim atopik dapat ditemukan dengan jumlah kasus yang lebih sedikit. Bila eksim atopik berlanjut pada usia dewasa, dapat disertai dengan rinitis alergi (radang selaput lendir hidung) atau asma. Oleh karena itu, eksim atopik harus dikontrol dengan terapi sejak dini untuk mencegah kelainan ikutan pada organ lain tersebut atau yang disebut dengan atopic march. Satu hal yang perlu diketahui, eksim atopik tidak dapat sembuh total 100% karena bakat atopik tersebut tetap ada, namun eksim atopik dapat dikontrol dengan menggunakan pelembap secara rutin dan menghindari penyebab kekambuhannya, baik penyebab dari faktor makanan maupun lingkungan.

Gambar 6. Eksim atopik pada anak (gambar didapat dari bestonlinemd.com)

Lalu, kapan orang tua perlu mencurigai bahwa suatu kelainan kulit pada anak disebabkan oleh alergi?

Secara umum, kelainan kulit alergi bisa dibedakan berdasarkan penyebab yang sering terjadi. Alergi terhadap makanan tertentu dapat menyebabkan kelainan kulit berbentuk urtikaria, eksim atopik, atau eksim herpetiformis, sedangkan alergi terhadap obat dapat menyebabkan urtikaria, ruam alergi obat, fixed drug eruption atau sindrom steven-johnson. Alergi yang disebabkan oleh faktor lingkungan dapat mencetuskan urtikaria, eksim atopik, atau eksim kontak. Oleh karena itu, riwayat dan cerita apa yang dialami, dimakan, dan riwayat perjalanan kelainan kulit anak, dan faktor yang kira-kira dapat menjadi penyebab amat penting dan perlu diperhatikan oleh orangtua atau pengasuh anak.

Jika anak dicurigai mengalami alergi, apa yang sebaiknya dilakukan orang tua?

Jika Ayah atau Ibu mencurigai si kecil mengalami alergi, sebaiknya periksakan kondisi si kecil dan konsultasikan dengan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Dermatologi dan Venereologi). Selain untuk mendiagnosis alergi, konsultasi ini penting untuk mengeksplorasi penyebab kelainan kulit alergi tersebut. Jika betul merupakan suatu alergi, maka dokter akan memberikan terapi yang sesuai dengan penyebab alergi dan untuk mengurangi gejala yang dirasakan, misalnya memberikan obat golongan antihistamin untuk mengatasi keluhan gatal.

Untuk terapi pasti penyebab, perlu diketahui terlebih dahulu penyebab alergi atau alergennya. Jika diperlukan, dokter juga akan menyarankan uji alergi untuk membantu mengetahui penyebab kelainan kulit alergi pada anak, misalnya uji tusuk, uji tempel, dan tes darah (IgE RAST). Setelah diketahui alergennya, dokter akan memberikan pengobatan yang sesuai. Satu hal lagi, yang terpenting dalam penanganan alergi adalah menghindari faktor penyebab alergi tersebut.

Gambar 7. Uji tusuk pada lengan (gambar didapat dari drhuiallergist.com)
Gambar 8. Uji tempel pada punggung (gambar didapat dari welcomecure.com)

Editor: dr. Sunita

Nutrisi Prakonsepsi

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Hai, Keluarga Sehat Kejora! Kali ini, kita akan membahas mengenai Nutrisi Prakonsepsi, atau nutrisi yang kita konsumsi sebelum terjadinya proses pembuahan (konsepsi). Tahukah Ayah dan Ibu bahwa makanan yang Ayah dan Ibu konsumsi dapat memengaruhi kesuburan? Ya, ternyata makanan yang Ayah dan Ibu konsumsi dapat memengaruhi bukan hanya lingkungan sel telur dan sperma terbentuk, namun juga kadar hormon yang terlibat dalam proses reproduksi, lho!

Mari kita simak sesi tanya jawab mengenai Nutrisi Prakonsepsi dengan dr. Arti Indira, MGizi, SpGK yaa..

Dok, saya pernah mendengar kalau status gizi tertentu dapat memengaruhi gangguan fertilitas. Benarkah demikian?

“Betul sekali. Seorang calon ibu yang mengalami obesitas akan menghasilkan beberapa jenis hormon (estrogen, leptin, dan androgen) yang lebih banyak. hormon-hormon ini dapat mengganggu siklus haid dan juga memengaruhi fertilitas. Sebaliknya, seorang calon ibu yang kekurangan gizi kronis juga bisa melahirkan bayi yang kecil dengan risiko kematian yang tinggi selama 1 tahun pertama kehidupan sang bayi. Seorang calon ibu yang mengalami gizi akut, misalnya pada situasi kelaparan/bencana/peperangan, dapat mengalami gangguan fertilitas, namun hal ini dapat teratasi ketika asupan sang calon ibu diperbaiki.”

Oh begitu dok.. jadi sebaiknya seorang calon Ibu betul-betul menjaga status gizinya sebelum hamil ya Dok… Nah, selain status gizi, apakah ada bahan makanan atau cara diet tertentu yang mengganggu kesuburan seseorang, Dok?

“Ya, ada. Seorang calon ibu sebaiknya memperhatikan konsumsi kafeinnya.. Asupan kafein sebanyak 300 mg sehari dapat menurunkan konsepsi (proses bersatunya sel telur dengan sperma) hingga 27%, sedangkan jika kafein ini dikonsumsi hingga 500 mg/hari, maka kemungkinan terjadinya konsepsi bisa berkurang hingga 50%.”

“Selain kafein, alkohol juga dapat menurunkan kadar estrogen dan testosterone, bahkan mengganggu siklus menstruasi. Asupan alkoholo 1-5 gelas per hari menurunkan konsepsi 39%, asupan alcohol > 10 gelas per hari menurunkan konsepsi hingga 66%.”

“Beberapa diet seperti diet vegetarian, diet dengan asupan lemak rendah dan asupan serat terlalu tinggi juga terbukti dapat memengaruhi hormon reproduksi.”

Oh begitu dok… Wah saya jadi terpikir, selain makanan atau status gizi apakah ada jenis olahraga yang dapat mengganggu kesuburan seorang calon Ibu?

“Pertanyaan yang bagus. Seorang calon Ibu yang melakukan olahraga dengan intensitas tinggi dapat mengalami gangguan hormonal ataupun metabolik. Hal ini dapat terlihat dari pubertas yang terlambat maupun siklus menstruasi yang kacau. Massa lemak tubuh yang terlalu rendah juga berkaitan dengan penurunan densitas tulang, sehingga sang calon Ibu rentan mengalami patah tulang atau osteoporosis.”

Jadi ternyata makanan dan kegiatan yang kita lakukan sangat berperan untuk mendukung terjadinya konsepsi ya dok…

“Iya, benar sekali..”

Berapa lama sebelum hamilkah sebaiknya Ayah dan Ibu Kejora menjaga nutrisi ini Dok?

“Rekomendasi nutrisi yang disarankan untuk prakonsepsi adalah 3-6 bulan sebelum terjadinya konsepsi. Sebaiknya calon ayah dan ibu melakukan diet gizi seimbang yang sesuai dengan kebutuhan tubuh masing-masing, dengan target berat badan yang sesuai dengan indeks massa tubuh (IMT) yang normal. Jangan lupa perhatikan dan kurangi konsumsi kafein dan alkohol ya…”

Baik dok.. Dokter Arti, untuk pertanyaan terakhir, apakah ada vitamin yang harus diminum untuk menyiapkan kehamilan ini dok?

“Nah ini dia pertanyaan yang saya tunggu-tunggu. Walaupun dibutuhkan dalam jumlah yang kecil (dalam satuan microgram hingga milligram), seorang calon Ibu harus memastikan kecukupan asupan asam folat, kalsium, dan zat besi.

  • Asam folat sebanyak 400 mcg per hari, dapat mengurangi risiko cacat pada janin seperti spina bifida. Asam folat secara alami terutama terdapat dalam sayuran daun hijau gelap (contohnya bayam), buah sitrus, kacang-kacangan, legume, whole grains dan roti atau sereal fortifikasi. Apabila tidak dapat memenuhi asupan asam folat secara alami, dapat diberikan suplementasi.
  • Kalsium dalam jumlah 1000 mg dapat diperoleh dari 3 gelas @250 ml susu skim. Selain itu kalsium juga mudah didapatkan dari bahan makanan seperti yogurt rendah lemak, salmon, sardin, nasi, dan keju.
  • Zat besi juga disarankan untuk diberikan karena angka kejadian anemia di Indonesia yang cukup tinggi. Suplementasi zat besi 30-60 mg disarankan diberikan bersama dengan asam folat. Secara alami, zat besi dapat diperoleh dari sumber hewani (heme iron) seperti daging, hati ayam, ayam, dan ikan ataupun sumber nabati (non-heme iron) seperti sayuran hijau tua. Asupan bahan makanan zat besi tersebut sebaiknya dikonsumsi bersama dengan vitamin C (jeruk, kiwi, tomat, dll) sehingga akan meningkatkan penyerapan zat besi.

Wah baiklah dok, terima kasih banyak atas informasinya ya… Sangat bermanfaat sekali untuk calon Ayah dan Ibu Kejora yang berencana untuk menambah momongan.. Sampai jumpa lagi di lain kesempatan ya dok…

Sama-sama, terima kasih kembali…

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Batuk dan Pilek (Common Cold)

 

 

 

oleh dr. Yulianto Santoso Kurniawan, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

Halo Ayah dan Ibu, apa kabar? Semoga selalu sehat dalam tahun baru 2019 ini.

Saat ini sudah masuk musim penghujan, dan umumnya di musim penghujan ini banyak penyakit yang kembali bermunculan. Salah satu penyakit yang sering muncul adalah batuk pilek (common cold). Ya, batuk pilek adalah penyakit harian anak (dewasa juga).

Yuk, kita simak tanya jawab dengan dr. Yulianto Santoso Kurniawan, Sp.A yang akan menjelaskan lebih lanjut tentang batuk pilek.

Dok, apa sih yang dimaksud dengan batuk pilek (common cold)?

Common cold adalah infeksi saluran pernapasan akut yang umumnya disebabkan oleh virus (66-75% kasus). Virus yang menyebabkan infeksi tersebut umumnya adalah rhinovirus (25-80%) yang diikuti oleh koronavirus (10-20%), influenza (10-15%) dan adenovirus (5%). Common cold (selesma) atau batuk pilek dapat menyerang anak sebanyak 8-12 kali setahun. Yang menarik adalah, common cold adalah self-limiting disease, artinya sembuh sendiri. Diri kita sendiri yang akan memberikan kesembuhan, kita hanya memerlukan waktu. Ya, waktu dan kesabaran.

Berapa lama penyakit akan sembuh sendiri?

Common cold akan sirna dalam 3-7 hari. Penyembuhan diawali dengan demam, hidung beringus, awalnya berwarna putih, lalu kuning, lalu hijau, lalu sembuh. Jadi, ingus hijau adalah bagian dari perjalanan penyakit, bukan tanda infeksi perburukan.

Dok, bagaimana bila belum sembuh juga?

Apabila demam reda kemudian muncul kembali dan durasi sakit lebih dari 7 hari, maka dapat dipertimbangkan diagnosis lain berupa sinusitis. Bila hanya kurang dari 7 hari, ingus hijau adalah bagian dari common cold.

Bagaimana terapi untuk common cold?

Pantau apakah ada sesak napas, bila ada, maka diskusikan dengan dokter. Sesak napas dapat diperiksa sendiri dengan menghitug jumlah napas. Berikut adalah indikatornya yaitu pada anak usia 1-12 bulan jumlah napas >50x/menit; pada anak usia 1-5 tahun jumlah napas >40x/menit; pada anak di atas 5 tahun jumlah napas >30x/menit. Bila tidak ada sesak napas, maka anak dapat dipantau selama 72 jam. Ya, dipantau. Berikan kepada anak banyak cairan, minum hangat, makanan yang disukai, dan parasetamol bila demam. Deman adalah bila suhu >38/39 derajat celcius atau bila anak rewel.

Dok, apa boleh diberikan obat batuk dan pilek?

Ayah dan Ibu, rekomendasi dari FDA, Canada atau Inggris tidak menyarankan pemberian obat batuk pilek kepada anak<6 tahun. Hal tersebut disebabkan karena tidak ada bukti bermanfaat mempercepat kesembuhan.

Lalu, bagaimana dengan antibiotik, dok?

Pada dasarnya virus tidak dapat dibunuh dengan antibiotik, jadi common cold atau selesma tidak perlu diberikan antibiotik. Ingat ya Ayah dan Ibu, jangan pernah minta antibiotik pada infeksi virus. Karena, kita malah bisa membuat bakteri baik di tubuh kita mati atau bahkan berubah menjadi bakteri yang kebal atau resisten terhadap obat.

Semoga informasi di atas sudah cukup jelas ya, Ayah dan Ibu. Satu hal lagi, jangan lupa tentang pencegahan sakit ya. Pakai masker, cuci tangan, dan pisahkan anak yang sakit dari adik atau kakaknya.

Salam sehat!

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Sumber:

https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/ear-nose-throat/Pages/Children-and-Colds.aspx
https://www.aap.org/en-us/about-the-aap/aap-press-room/aap-press-room-media-center/Pages/Cough-and-Cold-Medicine-Not-for-Children.aspx
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2776795/
https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/ear-nose-throat/Pages/Children-and-Colds.aspx
https://kidshealth.org/en/parents/childs-cough.html

Baby Bottle Tooth Decay

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Halo Ayah dan Ibu Kejora…

Ada anggapan bahwa, “Gigi sulung kan hanya sementara, dok… Nanti juga kalau rusak akan diganti dengan gigi permanen.”

Gigi sulung memang hanya sementara, namun tetap sangat penting untuk dijaga. Coba Ayah dan Ibu pikirkan lagi ya..

Anak-anak membutuhkan gigi yang sehat dan kuat untuk mengunyah makanan, berbicara, serta tersenyum. Gigi sulung juga berguna sebagai pemandu agar gigi permanen dapat tumbuh dengan benar. Oleh karena itu, sangat penting untuk mulai memperkenalkan cara menjaga kebersihan gigi dan mulut pada anak sejak dini. Kebiasaan ini diharapkan akan berlanjut hingga anak beranjak dewasa.

Lubang pada gigi sulung sangat rentan untuk terjadi. Bila lubang pada gigi sulung tidak dirawat, maka bisa timbul rasa sakit dan infeksi. Bahkan, apabila lubang pada gigi sudah sangat parah, maka gigi sulung harus dicabut. Hal ini akan menyebabkan beberapa masalah seperti asupan nutrisi anak yang dapat terganggu akibat anak kesulitan untuk makan, masalah dalam berbicara, serta dapat mengganggu perkembangan gigi permanen. Selain itu, kemungkinan gigi permanen tumbuh berantakan atau berjejal, akan semakin besar.

Apakah itu “baby bottle tooth decay”?

Proses pembusukan atau lubang gigi pada bayi dan anak di usia yang sangat muda disebut dengan “Baby bottle tooth decay” atau “Early childhood caries”. Kondisi ini terjadi saat cairan yang manis atau bergula alami, seperti susu (ASI, susu formula, susu UHT) atau jus buah, menempel pada gigi bayi dan anak dalam waktu yang lama.

Bakteri dalam rongga mulut akan tumbuh dengan subur pada lingkungan yang kaya akan gula tersebut, kemudian akan menghasilkan produk asam yang akan menyerang dan melemahkan struktur gigi.

Apa penyebabnya?

Salah satu penyebab tersering adalah frekuensi cairan manis yang terlalu lama berkontak dengan gigi. Hal ini dapat terjadi saat bayi tertidur dengan menggunakan botol yang diisi dengan cairan manis, atau empeng yang telah dicelup pada cairan gula atau sirup.  Memberikan cairan manis baik saat tidur siang maupun malam hari sangat berbahaya. Hal tersebut dikarenakan jumalh aliran saliva atau air liur berkurang pada saat tidur. Kurangnya aliran saliva menyebabkan pembersihan sisa cairan manis tidak berjalan dengan baik.

Lubang pada gigi juga dapat disebabkan oleh bakteri yang ditularkan oleh ibu atau pengasuh kepada anak melalui saliva. Saat ibu atau pengasuh memasukkan sendok makan atau empeng bersih anak ke dalam mulutnya, kemudian memberikannya kepada anak, maka bakteri ini dapat berpindah ke rongga mulut anak.

Bagaimana cara pencegahannya?

Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir ya… Berita baiknya, lubang pada gigi dapat dicegah dengan menerapkan kebersihan gigi dan mulut sedini mungkin, dengan cara:

  • Bersihkan gusi bayi dengan kasa atau kain lap bersih yang telah dibasahi dengan air hangat setiap selesai menyusui.
  • Saat gigi pertama anak mulai tumbuh, mulailah untuk menyikat gigi anak secara perlahan dengan menggunakan sikat gigi ukuran anak, serta selapis tipis (seukuran biji beras) pasta gigi yang mengandung fluoride, hingga usia anak 3 tahun. Tetap bersihkan dan lakukan pemijatan ringan pada area gusi yang belum ditumbuhi gigi.
  • Sikat gigi anak dengan pasta gigi ber-fluoride sebesar biji kacang polong pada anak usia 3-6 tahun.
  • Awasi kegiatan sikat gigi anak hingga gerakan motorik halusnya sudah berkembang dengan baik (umumnya hingga anak berusia 8-9 tahun).
  • Mulailah untuk menggunakan dental floss saat seluruh gigi telah tumbuh.
  • Pastikan anak mendapat cukup fluoride, yang dapat membantu mencegah terbentukknya lubang pada gigi. Bila sumber air lokal tidak mengandung fluoride, konsultasikan lebih lanjut pada dokter gigi mengenai bagaimana cara mendapat asupan fluoride (bisa dengan suplemen atau aplikasi fluoride topikal).
  • Buatlah jadwal kunjungan rutin ke dokter gigi yang dimulai saat anak menginjak usia 1 tahun. Yang perlu Ayah dan Ibu ingat, memulai kebiasaan baik sedini mungkin adalah kunci untuk menjaga kesehatan gigi jangka panjang.

Ada pun beberapa cara lain, yaitu:

  • Hindari mengisi botol susu dengan cairan manis dan minuman soda. Botol susu hanya digunakan untuk susu (asi perah maupun susu formula) dan air putih. Minuman soda tidak dianjurkan untuk anak, karena tidak mengandung nutrisi dan memiliki kandungan gula yang tinggi. Apabila anak sudah terlanjur memiliki kebiasaan mengkonsumsi cairan manis dan minuman soda, maka mulailah secara perlahan untuk mengurangi kandungan gula pada cairan manis secara bertahap selama 2-3 minggu. Lakukan hingga akhirnya botol hanya diisi dengan air putih saja.
  • Hindari membiarkan anak tertidur dengan botol susu yang berisi cairan selain air putih.
  • Hindari memberikan empeng yang dicelupkan dalam cairan apapun yang mengandung gula.
  • Kurangi asupan gula pada makanan anak, terutama snack di antara waktu makan utama.
  • Latih anak untuk mulai menggunakan cangkir saat anak sudah berusia 1 tahun.

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Sumber:

https://www.webmd.com/oral-health/guide/what-is-baby-bottle-tooth-decay#2
https://www.mouthhealthy.org/en/az-topics/b/baby-bottle-tooth-decay

Sumber gambar:

https://askthedentist.com/baby-bottle-tooth-decay/

Pentingnya Newborn Screening untuk Kesehatan Ananda

 

 

 

oleh dr. Yulianto Santoso Kurniawan, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

Halo Ayah dan Ibu Kejora…

Kali ini kita akan membahas mengenai pemeriksaan pada setiap bayi baru lahir. Ayah dan Ibu apakah mengetahui pemeriksaan apa saja yang perlu dilakukan pada bayi baru lahir? Apa pentingnya kita melakukan pemeriksaan tambahan pada bayi baru lahir padahal, bayi dalam kondisi sehat? Kita akan rugi, atau malah untung?

Pemeriksaan penyaring rutin (laboratorium atau penunjang) pada bayi baru lahir disebut dengan newborn screening. Pemeriksaan laboratorium rutin pada bayi baru lahir sudah menjadi kebijakan umum di negara maju. Tujuannya adalah untuk mendeteksi secara dini penyakit-penyakit yang berhubungan dengan hormon dan metabolisme tubuh, sehingga bayi tidak mengalami kejadian yang membahayakan hidupnya, atau komplikasi yang tidak bisa disembuhkan lagi.

Pemeriksaan pertama adalah pemeriksaan pada hormon tiroid. Hormon tiroid sangat penting perannya dalam kehidupan, salah satunya adalah berperan dalam perkembangan otak bayi. Apabila terdapat kekurangan hormon tiroid, akan terjadi gangguan kekurangan hormon tiroid bawaan (congenital hypothyroidism). Insidensi congenital hypothyroidism adalah sebesar 1 dalam 3.000-4.000 kelahiran. Congenital hypothyroidism dapat menyebabkan gangguan intelektualitas yang menetap dan kegagalan pertumbuhan. Hal ini menjadikan diagnosis dan terapi congenital hypothyroidism harus dilakukan sedini mungkin dan menjadi prioritas. Pemeriksaan dapat dilakukan saat bayi berusia 48 jam, dengan pemeriksaan thyroid stimulating hormone (TSH).

Pemeriksaan berikutnya adalah pemeriksaan G6PD. Glocose-6-phosphate dehydrogenase (G6PD) adalah enzim yang bertujuan melindungi sel darah merah agar tidak pecah. Sel darah merah yang tidak memiliki enzim G6PD dalam jumlah cukup akan mudah pecah bila terkena infeksi, obat, atau makanan, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kondisi anemia. Hal tersebut dapat diketahui sedini mungkin melalui pemeriksaan enzim G6PD sejak bayi lahir. Pemeriksaan enzim G6PD dari darah dapat dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan TSH.

Pemeriksaan telinga juga menjadi salah satu bagian pemeriksaan rutin pada bayi baru lahir. Perkembangan bicara sangat penting dalam 2 tahun pertama. Apabila terdapat gangguan pendengaran maka perkembangan otak bagian bicara akan terganggu dan sulit untuk melakukan stimulasi untuk mengembalikan kemampuan berbicara. Untuk itu terdapat pemeriksaan OAE (otoacoustic emissions) untuk memeriksan telinga bagian dalam. Alat OAE akan mendeteksi suara dari getaran sel rambut di telinga dalam. Bila terdapat gangguan pendengaran lebih dari 25-30 desibel, maka tidak akan terdapat produksi OAE. Pemeriksaan OAE dapat dilakukan sejak awal kehidupan, sehingga kita dapat mendeteksi secara dini apabila terdapat gangguan pendengaran.

Penting sekali apabila kita melakukan pemeriksaan laboratorium dan telinga untuk bayi baru lahir. Tujuannya adalah agar kita dapat mendeteksi kelainan sedini mungkin, sehingga generasi penerus bangsa dapat tumbuh dan berkembang sepenuhnya dengan sangat baik.

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Referensi:
https://www.asha.org/public/hearing/otoacoustic-emissions/
https://kidshealth.org/en/parents/g6pd.html
https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/Glands-Growth-Disorders/Pages/Congenital–Hypothyroidism-Infants.aspx

Sekilas Mengenai Hepatitis A

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

Halo Ayah Ibu Kejora! Sudahkah buah hati Ayah Ibu mendapatkan vaksinasi hepatitis A? Apa itu hepatitis A?

Hepatitis A merupakan suatu penyakit menular di mana terjadi peradangan pada hati atau liver. Penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis A ini ditularkan melalui konsumsi makanan atau minuman yang tercemar tinja penderita hepatitis A atau dikenal dengan istilah transmisi faecal-oral. Penyakit hepatitis A dapat terjadi 2-7 minggu setelah individu yang rentan terpapar dengan makanan atau minuman yang tercemar virus tersebut.

Gejala yang dapat ditemukan pada penderita hepatitis A, antara lain: demam, nyeri perut, nyeri sendi, mual, muntah, lemah, dan kuning pada kulit dan mata. Pada mata, kuning ini terlihat pada bagian mata yang semula berwarna putih (sklera). Selain itu, warna urin juga biasanya berubah menjadi lebih gelap atau berwarna seperti teh. Gejala pada penyakit ini timbul akibat respons kekebalan tubuh terhadap infeksi hepatitis A. Walaupun langka, hepatitis A dapat berkembang menjadi gagal hati akut yang bisa berakibat fatal. Pada anak berusia kurang dari 6 tahun dengan kekebalan tubuh yang belum terbentuk sempurna, gejala hepatitis A biasanya tidak khas atau hanya sebagian saja yang muncul.

Pengobatan penderita hepatitis A lebih bersifat suportif, antara lain dengan mengobati gejala demam, mual atau muntah. Tidak ada pengobatan khusus untuk membunuh virus hepatitis A. Selain itu, tatalaksana juga lebih diutamakan dengan menjaga kecukupan cairan tubuh (hidrasi). Penderita juga disarankan untuk memakan makanan yang sehat dan bergizi dan memperbanyak istirahat untuk meningkatkan kekebalan tubuhnya. Pemulihan dari infeksi hepatitis A biasanya dapat memakan waktu, berkisar dari hitungan minggu atau bahkan bulan. Berbeda dengan hepatitis B yang dapat menimbulkan efek jangka panjang, hepatitis A dapat sembuh total dan tidak menimbulkan gejala sisa atau efek di kemudian hari.

Lalu, bagaimana mencegah penyakit hepatitis A? Selain pemberian vaksin hepatitis A, menjaga kebersihan diri dan makanan yang dikonsumsi merupakan dua hal yang penting untuk diperhatikan. Terkait vaksinasi, Ikatan Dokter Anak Indonesia merekomendasikan pemberian suntik vaksin hepatitis A pada anak berusia di atas dua tahun sebanyak dua kali dengan jarak antar pemberian vaksin hepatitis A 6-12 bulan.

Tautan gambar: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017

Pastikan si kecil sudah mendapat vaksinasi hepatitis A ya, Ayah Ibu! Salam sehat Kejora!

Sumber:

http://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hepatitis-a
https://www.cdc.gov/hepatitis/hav/afaq.htm
http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/mengenal-hepatitis-a-pada-anak

Mengatasi Sembelit

 

 

 

oleh Dr. dr. Ariani Widodo, SpA(K)

Dokter Spesialis Anak

Andi tau bahwa ia harus buang air besar (BAB) saat ini. Tapi ketika ia duduk di toilet, tidak ada feses yang keluar. Dia menunggu lagi hingga hampir 15 menit tapi tetap tidak terjadi apa-apa. Akhirnya dia mencoba untuk mengedan dengan kuat, namun terasa sakit. Setelah beberapa saat, feses berukuran kecil dan keras seperti kelereng keluar. Andi lalu menyiram kotorannya dan cuci tangan, namun ia tidak merasa lebih nyaman. Kenapa? Dia mengalami konstipasi.

Ayah dan Ibu, mungkin kisah di atas sudah tidak asing lagi terdengar. Sembelit, atau konstipasi, merupakan masalah kesehatan yang sangat umum terjadi pada anak. Anak mungkin mengalami sembelit apabila dalam seminggu buang air besar kurang dari 3 kali, terdapat kesulitan dalam memulai buang air besar, atau fesesnya sangat besar, keras, dan kering.

Gejala apa yang muncul ketika anak mengalami sembelit?

Setiap anak memiliki pola buang air besar yang berbeda. Salah satu anak mungkin bisa buang air besar hingga 2-3 kali per hari sementara anak lainnya mungkin buang air besar setiap 2 hari. Secara umum anak dapat dicurigai mengalami sembelit bila mengalami gejala berikut, yaitu:

  1. BAB dengan frekuensi yang kurang dari biasanya
  2. Sulit BAB atau nyeri ketika BAB
  3. Merasa kembung, begah, atau mengalami sakit perut
  4. Mengedan ketika BAB
  5. Terdapat sedikit darah pada saat BAB
  6. Ditemukan feses dalam celana anak
  7. Berubah postur atau posisi misal berdiri dengan tumit, menyempitkan otot bokong, atau gerakan-gerakan tidak biasa lainnya
  8. Pada keadaan yang lebih jarang, anak jadi sering mengompol/tidak bisa menahan kencing karena tekanan usus yang terisi penuh pada kandung kemih

Apa yang menyebabkan sembelit pada anak?

Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan sembelit. Dari segi pola makan, anak bisa mengalami sembelit apabila tidak minum cukup air dan makan cukup serat. Anak yang terbiasa menunda atau menahan buang air besar hampir selalu mengalami sembelit. Biasanya anak yang seperti ini menunda BAB karena tidak ingin menggunakan toilet selain toilet di rumah, karena tidak ingin berhenti bermain atau mungkin karena ia takut izin atau perlu ditemani ke toilet.

Stres juga merupakan salah satu faktor penyebab sembelit. Ada sebuah keadaan yang disebut irritable bowel syndrome, yang dapat dipicu oleh stres, yang menyebabkan anak mengalami sembelit atau diare. Penggunaan beberapa obat-obatan seperti suplemen zat besi, antasida, dan antidepresan dapat menyebabkan sembelit juga.

Walaupun jarang, sembelit juga bisa merupakan sebuah tanda dari penyakit lain yang lebih serius, seperti tumor atau penyakit saraf pada usus. Sehingga, orang tua tetap perlu konsultasi kepada dokter bila anak mengalami sembelit.

Apa yang harus dilakukan orang tua untuk mencegah dan menangani sembelit?

  1. Ajak dan berikan anak lebih banyak air minum.

Air/cairan yang cukup akan membantu feses agar dapat bergerak dengan mulus di dalam rongga usus.

  1. Berikan serat yang lebih untuk anak.

Makanan tinggi serat seperti buah dan sayur sulit untuk dicerna sehingga akan membantu mengeluarkan isi usus, sehingga dapat mencegah konstipasi.

  1. Pastikan anak cukup beraktivitas dan berolahraga.

Aktivitas fisik juga membantu usus untuk bekerja, sehingga doronglah anak untuk sering-sering berolahraga atau bergerak. Aktivitasnya dapat berupa aktivitas yang sederhana seperti bermain tangkap-tangkapan, naik sepeda, dan lain-lain.

  1. Ubah kebiasaan anak untuk pergi ke kamar mandi.

Biasakan anak untuk tidak menahan BAB bila sudah terasa akan BAB. Selain itu, bentuklah pola dan kebiasaan anak untuk BAB secara teratur misalnya dengan membiasakannya untuk duduk di toilet selama 10 menit setiap hari di waktu yang sama.

Bila kondisi sembelit terlanjur berat, maka atas saran dari dokter, anak mungkin perlu diberikan pencahar untuk mengatasi sembelit tersebut sambil memperbaiki pola BABnya. Di sisi lain, bila sembelit disebabkan oleh penyakit lain, maka penanganannya akan tergantung kepada penyakit yang mendasari.

Risiko apa yang dapat terjadi bila anak mengalami sembelit berkepanjangan?

Sembelit berkepanjangan akan menyebabkan penumpukan feses di dalam rongga usus. Feses yang tertahan ini mengalami penyerapan kembali sehingga menjadi semakin keras. Penumpukan berlebih kotoran yang keras tersebut membuat proses BAB menjadi sulit.

Ada banyak konsekuensi yang muncul akibat proses ini. Nafsu makan anak dapat terganggu akibatnya. Selain itu, ketika anak mengedan sangat keras untuk mengeluarkan kotorannya, anus dapat terluka dan timbul lecet, sehingga akan semakin mempersulit proses buang air besar berikutnya. Lecet ini jugalah yang memungkinkan ditemukannya darah pada saat BAB.

Kadang-kadang, ketika sembelit cukup berat, kotoran berair seperti diare dapat keluar dengan sendirinya. Hal ini akan sangat membuat malu anak dan dapat mengganggu kepercayaan dirinya. Walaupun jarang, turunnya isi usus (rektum) sehingga dapat terlihat dari luar dapat terjadi pada anak yang mengalami sembelit.

Jadi, kapan harus ke dokter?

Ayah dan Ibu perlu membawa si kecil ke dokter apabila sembelit telah berlangsung 1 minggu atau lebih, BAB di celana, si kecil mengalami nyeri perut yang berat, muntah, kurang makan, atau bila Ayah dan Ibu telah mencoba melakukan upaya perbaikan diatas namun belum ada perbaikan pada sembelit yang dialami anak.

Edited by dr. Nurul Larasati

Vitamin D untuk Anak

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo Keluarga Kejora! Mungkin Ayah dan Ibu sering mendengar bahwa anak-anak membutuhkan vitamin D, dan salah satu cara untuk mendapatkan vitamin D ini adalah dengan berjemur di sinar matahari. Sebetulnya apa sih vitamin D itu? Apakah kita hanya bisa mendapatkan vitamin D dari sinar matahari? Yuk kita bahas ya…

  • Apa sih vitamin D itu?

Vitamin D merupakan vitamin larut lemak yang penting untuk kesehatan tulang karena berperan dalam penyerapan kalsium dari dalam darah. Selain itu, vitamin D juga berperan untuk pengaturan sistem imun dan anti-peradangan. Vitamin D penting pada setiap tahap kehidupan manusia terutama sewaktu pertumbuhan cepat pada bayi dan remaja, juga ibu hamil dan menyusui. Sinar matahari merupakan sumber utama vitamin D, oleh karena itu kulit kita harus terpapar sinar matahari untuk mendapatkan vitamin D.

  • Bagaimana bila seseorang mengalami kekurangan/defisiensi vitamin D?

Kekurangan vitamin D yang berat pada anak dapat menyebabkan penyakit riketsia nutrisional. Riketsia memiliki gejala kelemahan otot, keterlambatan gerak motorik, pembesaran area pergelangan tangan dan lutut, tungkai berbentuk O, gangguan bentuk kepala, keterlambatan pertumbuhan gigi, penurunan kepadatan tulang dan rentannya infeksi.

  • Apa makanan sumber vitamin D?

Sebetulnya, makanan sumber vitamin D tidak terlalu banyak tersedia, contohnya adalah ikan salmon, tuna, sarden, makarel dan telur. Dalam 1 butir telur mengandung 20-40 IU vitamin D. Namun, terdapat beberapa bahan makanan yang difortifikasi dengan vitamin D seperti susu formula, yogurt, dan sereal. ASI mengandung vitamin D dalam jumlah yang kecil sehingga pemberian ASI saja belum dapat mencukupi kebutuhan vitamin D untuk anak-anak.

  • Indonesia termasuk negara tropis, apakah banyak anak-anak yang kekurangan vitamin D?

Berdasarkan hasil survei di Indonesia terdapat 43% anak perkotaan dan 44% anak pedesaan mengalami defisiensi vitamin D (kadar vitamin D darah <30 nmol/L). Defisiensi vitamin D tersebut terjadi karena kurangnya paparan sinar matahari, asupan makanan yang sedikit mengandung vitamin D, dan pemberian ASI berkepanjangan tanpa suplementasi vitamin D. Kurangnya paparan sinar matahari disebabkan karena gaya hidup anak yang sebagian besar berada dalam ruangan, kebiasaan menjemur bayi atau anak di pagi hari, dan penggunaan tabir surya.

  • Apakah semua anak perlu di skrining untuk pemeriksaan kadar vitamin D dalam darah?

Tidak, skrining kadar vitamin D dalam darah tidak disarankan untuk anak sehat yang tidak memiliki gejala, namun dapat dipertimbangkan pada anak yang berisiko tinggi atau memiliki gejala. Faktor risiko tersebut adalah kulit gelap, jarang terpapar sinar matahari, riwayat keluarga dengan defisiensi vitamin D, dan asupan kalsium rendah.

  • Bagaimana dosis suplementasi vitamin D untuk anak?

Suplementasi vitamin D untuk bayi (0-12 bulan) diberikan sebanyak 400 IU per hari, tanpa memandang jenis makanannya (ASI eksklusif atau tidak). Suplementasi vitamin D untuk anak >12 bulan diberikan sebanyak 600 IU per hari. Sedangkan untuk dosis suplementasi vitamin D pada anak dengan defisiensi vitamin D sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis anak atau gizi klinik.

  • Bagaimana rekomendasi berjemur untuk mendapatkan vitamin D?

Waktu yang dianjurkan untuk mendapatkan paparan sinar matahari langsung adalah pukul 10.00 sampai 15.00. Sinar matahari yang mengandung ultraviolet B berfungsi mengubah provitamin D di kulit menjadi vitamin D. Orang berkulit gelap memerlukan paparan sinar matahari yang lebih tinggi dibanding orang berkulit putih. Lama paparan sinar matahari belum terdapat kesepakatan karena dipengaruhi oleh postur tubuh, waktu berjemur, aktivitas fisik, musim, dan pemakaian tabir surya. Namun, disarankan paparan sinar matahari dalam jangka cukup tidak menyebabkan kulit terbakar (sunburn) sehingga tidak meningkatkan risiko kanker kulit.

Edited by dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Faktor yang Mempengaruhi Seorang Perempuan untuk Hamil

 

 

 

oleh dr. Danny Maesadatu, Sp.OG

Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan

Halo keluarga Kejora, tahukah kamu apa saja yang mempengaruhi seorang perempuan untuk bisa hamil?

Kehamilan umumnya terjadi secara alamiah dan merupakan harapan semua pasangan suami istri menunggu kelahiran si buah hati. Meski begitu, tidak semua perempuan dapat segera mengalami kehamilan. Berikut adalah hal-hal yang mempengaruhi:

  1. Faktor suami, yaitu adanya sperma yang memenuhi kriteria normal dan mampu membuahi sel telur (oosit).

Sumber: UNSW Embrology

  1. Kondisi mulut rahim (serviks) yang sehat, yang membantu jalannya sperma ke dalam rahim dan saluran indung telur.
  2. Adanya ovarium (indung telur) yang normal, yang mampu menghasilkan sel telur yang akan ditangkap ke dalam saluran indung telur.
  3. Saluran indung telur yang sehat, yang menangkap sel telur, membantu pergerakan sperma untuk dapat bertemu sel telur agar terjadi pembuahan dan membantu pergerakan hasil pembuahan (embrio) tersebut ke dalam rahim.
  4. Rahim yang sehat, yang akan menjadi tempat melekatnya bakal janin dan mendukung pertumbuhan dan perkembangan normal selanjutnya.

Sumber: Anatomy-Medicine.com

Lalu, apa yang disebut masalah kesuburan dan kapankah dikatakan mengalami masalah kesuburan?

Sekitar 10-15% pasangan suami istri mengalami masalah kesuburan. Ada beberapa istilah medis terkait masalah kesuburan, yaitu infertilitas dan subfertilitas. Infertilitas secara umum merupakan kondisi di mana tidak terjadinya kehamilan selama satu tahun pada pasangan suami istri yang berhubungan seksual secara rutin tanpa adanya penggunaan kontrasepsi. Selain itu, beberapa klinisi lebih menyukai istilah subfertilitas yaitu kondisi perempuan atau pasangan yang tidak mandul tetapi mengalami kemampuan reproduksi yang rendah.

Sumber: Fritz MA, Speroff L, editors. Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility 8th Edition.

Bila pasangan suami istri yang sudah satu tahun menikah dan tidak menunda untuk memiliki buah hati belum juga hamil, sebaiknya melakukan konsultasi lebih lanjut ke ahli terkait. Mengingat ada sejumlah pemeriksaan yang perlu dilakukan untuk identifikasi masalah dari pasangan tersebut.

Editor: dr. Sunita22

Sumber:

Fritz MA, Speroff L, editors. Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility 8th Edition. 2011. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. p:1137-90.