oleh dr. Nico Gandha, SpDV

Dokter Spesialis Dermatologi dan Venerologi

Halo Ayah dan Ibu semua! Tentu Ayah Ibu pernah mendengar istilah alergi. Tapi, apa sih sebenarnya alergi itu? Mengapa alergi bisa terjadi pada anak? Untuk mengenal lebih dalam tentang alergi, mari kita simak perbincangan dengan dr. Nico Gandha, SpDV berikut ini tentang kelainan kulit alergi pada anak.

Dok, apa sih alergi itu? Mengapa alergi bisa muncul?

Alergi merupakan respons peradangan berlebihan yang dibuat sistem imun tubuh terhadap suatu bahan penyebab alergi (disebut juga alergen). Hanya individu dengan sistem imun yang hipersensitif yang memunculkan gejala alergi apabila terpajan/terpapar dengan suatu alergen. Hal ini menyebabkan alergen penyebab alergi pada setiap orang dapat berbeda-beda. Secara garis besar, penyebab kelainan kulit alergi dapat dibedakan berdasarkan asalnya, yaitu dari dalam (misalnya, setelah memakan makanan atau obat tertentu) dan dari luar tubuh (sebagai contoh, setelah terkena bahan alergen dari lingkungan).

Apa saja bentuk kelainan kulit alergi, Dok? Apakah alergi pada anak selalu berupa ruam kemerahan pada kulit?

Istilah alergi sebenarnya tidak terbatas hanya pada kulit. Organ lain di tubuh kita juga dapat terkena alergi, misalnya saluran cerna dan saluran napas. Pada kulit, alergi dapat memberikan gambaran kelainan kulit yang beragam, mulai dari urtika (atau biduran), eksim, hingga lenting yang timbul pada tubuh. Tidak selalu berupa ruam kemerahan ya.

Bentuk kelainan kulit akibat alergi yang umum ditemukan pada anak antara lain eksim atopik, urtikaria, eksim kontak alergi, serta ruam alergi obat. Eksim atopik pada anak memiliki bentuk kelainan yang karakteristik, yaitu bercak merah gatal pada tempat tertentu di tubuh. Anak dengan eksim atopik memiliki bakat atopik (terdiri dari eksim atopik, rinitis alergi, atau asma) yang kemungkinan diturunkan dari orang tuanya. Kulit anak dengan bakat atopik, walaupun secara sepintas normal, sesungguhnya terjadi kelainan pada kulit mereka yang menyebabkan pelembap alami kulit berkurang jumlahnya. Oleh karena itu, kulit mereka rentan kering dan mengalami gangguan berupa eksim. Eksim yang terjadi pada anak dengan bakat atopik dapat dicetuskan (atau kambuh) baik dari makanan tertentu (misalnya telur, susu, kacang, makanan laut) maupun lingkungan, misalnya keringat, udara kering, bahan pakaian kasar/wol, sabun.

Bentuk kelainan kulit alergi lain yang dapat terjadi adalah urtikaria (bentol, biduran). Bila anak memiliki alergi bentuk ini, harus dilihat apakah keluhan masih akut (<6 minggu) atau sudah kronik (>6 minggu). Urtikaria yang akut pada anak umumnya disebabkan infeksi, baik saluran napas atas, gigi, atau saluran kemih. Jadi anak yang kulitnya biduran belum tentu sedang mengalami alergi, walaupun sebagian biduran pada anak memang dapat disebabkan oleh alergi, baik alergi terhadap makanan maupun obat. Apabila urtikaria sudah kronik, kemungkinan penyebab alerginya berasal dari faktor lingkungan, misalnya udara dingin, tungau debu rumah, bulu hewan, atau dapat pula disebabkan makanan tertentu. Urtikaria yang lebih parah dapat pula menimbulkan angioedema, yang lokasi proses peradangannya lebih dalam dibandingkan urtikaria. Angioedema ditandai dengan pembengkakan kulit pada kelopak mata, atau bibir. Pada kasus yang lebih berat, angioedema dapat menyerang saluran napas (laring) yang menimbulkan kegawatdaruratan medis dan membutuhkan penanganan segera. Urtikaria dan angioedema dapat muncul bersamaan ataupun sendiri-sendiri.

Gambar 1. Urtikaria pada lengan (gambar didapat dari allergyuk.org)

Gambar 2. Angioedema pada kelopak mata (gambar didapat dari en.wikipedia.org)

Selain itu, kelainan kulit alergi pada anak dapat pula berbentuk eksim kontak alergi. Cirinya adalah bercak merah timbul akibat penggunaan atau kontak langsung dengan suatu alergen. Misalnya, bercak gatal pada daun telinga pada anak dengan alergi anting nikel, bercak merah di sekitar mulut pada anak dengan kontak alergi terhadap pasta gigi, eksim di daerah kaki pada anak yang alergi terhadap bahan karet, kimia, atau pewarna sepatu, serta penggunaan bahan oles misalnya minyak tawon, kayu putih, balsem, atau obat oles antibiotik neomisin. Eksim kontak alergi perlu dibedakan dengan eksim kontak iritan, karena proses peradangan yang mendasarinya berbeda. Pada eksim kontak alergi, peradangan kulit didasari proses alergi, sedangkan pada eksim kontak iritan proses peradangannya disebabkan proses iritasi terhadap bahan tertentu, misalnya sabun antiseptik, feses dan urin pada popok bayi, dan minyak atau balsem.

Gambar 3. Eksim kontak alergi akibat penggunaan perhiasan dari nikel (gambar didapat dari medicinenet.com)

Selain berupa biduran (atau urtikaria), obat dapat menyebabkan kelainan kulit berupa ruam alergi obat. Bila urtikaria/angioedema akibat obat muncul beberapa menit hingga jam setelah konsumsi obat, ruam alergi obat umumnya timbul lebih lama setelah konsumsi obat, dapat beberapa hari atau minggu setelahnya. Ruam alergi obat juga dapat menyerupai ruam yang timbul akibat demam misalnya akibat infeksi virus. Untuk itu, perlu diperhatikan kondisi anak sebelum dan saat timbul keluhan, serta mengetahui pasti nama obat-obatan apa saja yang dikonsumsi anak sebelum terjadi keluhan ruam kulit.

Gambar 4. Ruam alergi obat (gambar didapat dari intranet.tdmu.edu.ua)

Bentuk kelainan kulit alergi yang lebih jarang ditemukan antara lain fixed drug eruption (kelainan lenting berulang pada tempat sama di tubuh yang disebabkan obat tertentu) dan sindrom steven-johnson. Sindrom ini merupakan reaksi alergi obat berat. Beberapa penyakit autoimun dapat pula dicetuskan kekambuhannya oleh makanan dan obat, misalnya eksim herpetiformis, penyakit autoimun berupa lenting di tubuh yang kekambuhannya dapat dicetuskan makanan mengandung gluten.

Kalau kemerahan pada pipi bayi atau sering disebut eksim susu itu apa ya, Dok? Apakah itu merupakan suatu bentuk alergi juga?

Eksim susu merupakan suatu bentuk eksim atopik yang banyak ditemukan pada bayi, ditandai dengan bercak kemerahan pada pipi. Pada bayi dengan eksim susu, susu dapat menjadi pencetus kambuhnya kelainan kulit eksim atopik pada pipinya (alergi terhadap faktor dari dalam tubuh). Namun, hal ini tidak berarti bayi dengan eksim atopik tidak boleh mengkonsumsi air susu ibu (ASI). Pada bayi dengan ASI eksklusif, eksim ini lebih mungkin disebabkan oleh bahan makanan yang dimakan ibu, misalnya kacang, makanan laut, telur, atau susu yang diminum ibu. Eksim susu ini biasanya diperberat dengan iritasi terhadap susu yang menempel langsung pada kulit pipi. Oleh karena itu, orangtua atau pengasuh sangat disarankan untuk membasuh susu yang menempel pada kulit pipi bayi dengan handuk halus.

Dok, apakah eksim atopik ini akan berlanjut hingga dewasa?

Eksim atopik ini memiliki tiga fase sesuai usia anak. Pada fase infantil (2 bulan – 2 tahun), kelainan kulit terutama ditemukan pada lokasi kedua pipi, leher, atau di tonjolan siku dan/atau lutut pada bayi yang telah merangkak.

Gambar 5. Eksim atopik pada bayi (gambar oleh Thomas Habif didapat dari merckmanuals.com)

Pada fase usia anak yang lebih besar (di atas 2 tahun hingga remaja), kelainan kulit umumnya ditemukan pada lipatan siku dan/atau lutut. Selain itu, dapat pula terjadi pada daerah leher. Umumnya daerah lipatan tersebut menjadi tebal karena garukan yang sering atau menyisakan bekas peradangan yang menghitam apabila kelainan kulitnya sedang mereda. Garukan berulang pada anak dengan eksim atopik juga dapat menyebabkan infeksi pada kulitnya.

Pada fase usia yang lebih besar (dewasa), eksim atopik dapat ditemukan dengan jumlah kasus yang lebih sedikit. Bila eksim atopik berlanjut pada usia dewasa, dapat disertai dengan rinitis alergi (radang selaput lendir hidung) atau asma. Oleh karena itu, eksim atopik harus dikontrol dengan terapi sejak dini untuk mencegah kelainan ikutan pada organ lain tersebut atau yang disebut dengan atopic march. Satu hal yang perlu diketahui, eksim atopik tidak dapat sembuh total 100% karena bakat atopik tersebut tetap ada, namun eksim atopik dapat dikontrol dengan menggunakan pelembap secara rutin dan menghindari penyebab kekambuhannya, baik penyebab dari faktor makanan maupun lingkungan.

Gambar 6. Eksim atopik pada anak (gambar didapat dari bestonlinemd.com)

Lalu, kapan orang tua perlu mencurigai bahwa suatu kelainan kulit pada anak disebabkan oleh alergi?

Secara umum, kelainan kulit alergi bisa dibedakan berdasarkan penyebab yang sering terjadi. Alergi terhadap makanan tertentu dapat menyebabkan kelainan kulit berbentuk urtikaria, eksim atopik, atau eksim herpetiformis, sedangkan alergi terhadap obat dapat menyebabkan urtikaria, ruam alergi obat, fixed drug eruption atau sindrom steven-johnson. Alergi yang disebabkan oleh faktor lingkungan dapat mencetuskan urtikaria, eksim atopik, atau eksim kontak. Oleh karena itu, riwayat dan cerita apa yang dialami, dimakan, dan riwayat perjalanan kelainan kulit anak, dan faktor yang kira-kira dapat menjadi penyebab amat penting dan perlu diperhatikan oleh orangtua atau pengasuh anak.

Jika anak dicurigai mengalami alergi, apa yang sebaiknya dilakukan orang tua?

Jika Ayah atau Ibu mencurigai si kecil mengalami alergi, sebaiknya periksakan kondisi si kecil dan konsultasikan dengan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Dermatologi dan Venereologi). Selain untuk mendiagnosis alergi, konsultasi ini penting untuk mengeksplorasi penyebab kelainan kulit alergi tersebut. Jika betul merupakan suatu alergi, maka dokter akan memberikan terapi yang sesuai dengan penyebab alergi dan untuk mengurangi gejala yang dirasakan, misalnya memberikan obat golongan antihistamin untuk mengatasi keluhan gatal.

Untuk terapi pasti penyebab, perlu diketahui terlebih dahulu penyebab alergi atau alergennya. Jika diperlukan, dokter juga akan menyarankan uji alergi untuk membantu mengetahui penyebab kelainan kulit alergi pada anak, misalnya uji tusuk, uji tempel, dan tes darah (IgE RAST). Setelah diketahui alergennya, dokter akan memberikan pengobatan yang sesuai. Satu hal lagi, yang terpenting dalam penanganan alergi adalah menghindari faktor penyebab alergi tersebut.

Gambar 7. Uji tusuk pada lengan (gambar didapat dari drhuiallergist.com)
Gambar 8. Uji tempel pada punggung (gambar didapat dari welcomecure.com)

Editor: dr. Sunita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *