oleh Nurhuzaifah Amini M.Psi., Psikolog

Psikolog

Hai, Keluarga Sehat Kejora!

Tidak terasa, ya, sudah 5 bulan kita #dirumahaja. Hampir seluruh aktivitas dilakukan di rumah saja, termasuk kegiatan persekolahan (School from Home) yang sudah mulai diberlakukan beberapa minggu lalu. Pasti ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan buat para Ayah dan Ibu, terlebih dengan adanya aktivitas lain yang juga menuntut untuk diselesaikan. Bila tidak terbiasa mendampingi anak belajar di rumah, situasi ini akan menjadi kegiatan menantang sekaligus menguras energi bagi orangtua. Perasaan kesal dan lelah saat mendampingi anak belajar di rumah adalah hal yang wajar, kok, karena beradaptasi dengan situasi baru memang tidak pernah mudah. Oleh karena itu, diperlukan penerimaan dan kesabaran yang luas dalam menghadapinya.

Kondisi belajar mengajar di kelas yang diawasi secara langsung oleh guru membuat anak lebih bisa mengontrol perilakunya, berbeda dengan di rumah yang minim pengawasan dari orangtua. Anak-anak cenderung lebih bebas melakukan tindakan yang ia inginkan sehingga tidak fokus terhadap materi yang diberikan. Hal paling ekstremnya mungkin anak sampai tidak mau belajar dari rumah. Hal ini tentu jadi masalah karnea membuat proses belajar menjadi kurang efektif dan anak ketinggalan pelajaran.  Oleh karena itu, dalam mendampingi anak untuk proses belajar, orangtua juga bisa sambil mengajarkan sikap disiplin dan tanggung jawab pada anak. Bertanggung jawab artinya melakukan sesuatu sesuai dengan harapan dan menerima hal yang menjadi konsekuensi dari perbuatan. Dengan anak belajar tanggung jawab, anak dapat mengetahui konsekuensi dari setiap pilihan yang ia lakukan. Hal ini akan melatih anak untuk mempertimbangkan terlebih dahulu setiap tindakannya. Beberapa prinsip yang perlu orangtua pahami ketika hendak mengajarkan tanggung jawab kepada anak diantaranya:

  1. Pastikan emosi orangtua stabil ketika sedang mendampingi anak.

Orangtua yang mendampingi anak dalam kondisi emosi tidak stabil dapat membuat anak merasa tidak nyaman dan tidak aman sehingga ayah dan Ibu perlu menjaga kestabilan emosi agar tidak memberi dampak negatif terhadap anak.

  1. Bangun koneksi dengan anak.

Agar anak merasa nyaman dengan perlakuan yang ia terima, orangtua perlu membangun koneksi dengan anak terutama secara emosional. Mulailah dengan memvalidasi perasaan anak jika mereka sedang sedih, marah, takut, lelah, dll, misalnya “ Adek lagi ngerasa capek ya? Ga apa-apa kok. Adek boleh istirahat dulu”.

  1. Beri kesempatan anak belajar bertanggung jawab

Sebagian orangtua menganggap anak belum mampu melakukan apapun sehingga segala kebutuhan mereka selalu dipenuhi. Padahal situasi ini dapat membuat anak kehilangan kesempatan untuk belajar bertanggung jawab. Coba beri kesempatan kepada anak untuk melakukan hal yang ia inginkan dan membantu mereka menyiapkan diri untuk menghadapi resiko yang mungkin akan terjadi.

  1. Samakan persepsi dengan pasangan dalam membuat aturan.

Tiap orangtua memiliki ekspektasi yang berbeda kepada anaknya. Memiliki ekspektasi itu boleh, tapi pastikan ekspektasi tersebut realistis untuk anak. Diskusikan secara pribadi dengan pasangan terkait harapan, metode bertanya dan konsekuensi yang akan dikenakan jika anak tidak patuh. Ketika anak tidak patuh atau bermasalah, usahakan agar orangtua berdua hadir untuk bernegosiasi terhadap permintaan anak.

  1. Cari waktu yang tepat untuk berkomunikasi dengan anak.

Cari waktu yang tepat untuk mendiskusikan harapan maupun permintaan Ayah dan Ibu kepada anak. Perhatikan kondisi anak secara fisik dan psikis sebelum mengajak mereka berdiskusi. Selain itu, minta persetujuan mereka apakah mereka mau dan siap untuk diajak berdisksusi atau tidak.

Selanjutnya, dalam mengajarkan sikap tanggung jawab pada anak terutama selama masa belajar dari rumah, ada beberapa cara yang Ayah dan Ibu bisa lakukan, diantaranya:

  1. Pahami keinginan anak.

Tidak semua hal yang menjadi harapan orangtua itu sesuai dengan harapan maupun kebutuhan anak. Anak terkadang memiliki kebutuhan dan harapan sendiri terkait hal yang membuatnya nyaman dan merasa aman… Dalam proses ini, orangtua perlu belajar memahami keingianan anak terutama yang berkaitan dengan proses belajar di rumah. Ayah dan Ibu bisa menanyakan  “Dek, gimana rasanya selama belajar dari rumah? Ada tidak hal yang adek mau sampaikan kepada Ibu? Ada tidak hal adek rasa tidak nyaman? Ada hal yang Ibu bisa bantu buat adek?”

  1. Komunikasikan perilaku yang diharapkan.

Setelah mengetahui keinginan anak, Ayah dan Ibu perlu untuk menerima emosinya terlebih dahulu. Apresiasi usaha anak yang telah terbuka mengutarakan keinginannya. Kemudian, Ayah dan Ibu dapat membangun diskusi dengan anak dengan mengkomunikasikan perilaku spesifik yang Ayah dan Ibu harapkan beserta aturannya, tanpa mengabaikan harapan anak. Dalam hal ini, Ayah dan Ibu bisa mengatakan “Terima kasih adek sudah terbuka dengan ayah dan Ibu untuk menyampaikan perasaan adek selama belajar di rumah. Ayah paham ini bukan hal yang mudah buat adek. Namun, ayah berharap adek mau coba lagi buat belajar sama Ibu X ya. Adek bisa menghadap ke depan laptop selama beberapa … menit. Jika adek merasa capek, adek boleh ngomong dan izin ke Ibu  X untuk menutup kameranya dulu agar adek bisa istirahat sebentar, baru setelah itu dilanjut lagi”.

  1. Jelaskan konsekuensi yang akan diperoleh pada anak

Saat mengajarkan sikap disiplin kepada anak, anak perlu memahami arti konsekuensi dari setiap tindakan yang mereka lakukan. Jelaskan dengan bahasa yang sederhana dan fokus pada manfaat dan kerugian yang akan anak peroleh, misalnya “ Kalau adek mendengarkan penjelasan Ibu X dengan baik, adek akan lebih mudah untuk mengerjakan PRnya. Selain itu,  waktu adek untuk bermain bisa ditambah nanti jadi….menit. Namun, jika tidak  mendengarkan penjelasan dari  Ibu X, nanti adek akan kesulitan sendiri untuk mengerjakan PR yang diberikan. Selain itu, untuk sementara penggunaan handphone adek juga akan dibatasi”.

  1. Gunakan kalimat positif dan spesifik.

Perlu dipahami bahwa pemahaman anak masih terbatas. Selain itu, mereka belum diberi kemampuan untuk menganalisa informasi dengan baik sehingga pemilihan kata yang digunakan saat memberi tahu anak sangat menentukan tingkat pemahaman anak. Menggunakan kalimat yang cenderung negatif hanya akan membuat pemaknaan anak juga  menjadi negatif. Oleh karena itu, coba gunakan kalimat yang lebih positif dengan instruksi yang spesifik. Selain itu, kalimat yang diucapkan juga perlu masuk akal alias realistis. Misalnya “Dek, jangan main-main. Dengerin tuh gurunya ngomong”, mungkin bisa diganti dengan “Dek, kalau gurunya lagi menjelaskan, mama pengen adek bisa duduk tenang, menghadap ke laptop sambil membuka halaman buku yang Ibu gurunya minta untuk buka”. Ibu dapat meminta anak mengulangi instruksinya untuk memastikan anak sudah paham atau belum.

  1. Jelaskan sambil mencontohkan perilakunya.

Perlu dipahami bahwa anak lebih mudah belajar dengan cara meniru. Oleh  karena itu, memberikan pelajaran tanggung jawab kepada anak juga perlu ditunjukkan dengan perbuatan maupun perilaku dari orangtuanya. Misalnya, Ibu ingin agar anak membereskan buku/laptopnya setelah belajar. Ibu dapat membantu anak memahami maksud Ibu dengan menjelaskan sambil menunjukkan cara membereskan buku/laptop itu setelah belajar.

  1. Berikan apresiasi terhadap usaha yang sudah dilakukan.

Dalam mengerjakan sesuatu, anak mengeluarkan energi sehingga anak membutuhkan apresiasi atau penghargaan atas hal yang sudah ia kerjakan. Ciptakan suasana agar anak-anak merasa dihargai baik sebagai dirinya maupun usaha yang ia lakukan, misalnya dengan mengatakan “ Wah, adek hebat. Terima kasih hari ini sudah mau belajar dengan baik”.

Semoga tips kali ini dapat membantu Ayah dan Ibu mendampingi anak selama masa School from Home, ya! Tetap semangat, Keluarga Kejora!

Editor: drg. Valeria Widita W

Sumber:

https://www.ahaparenting.com/parenting-tools/character/responsibility

https://www.verywellfamily.com/teaching-responsibility-to-your-child-3288496

https://pursuit.unimelb.edu.au/articles/five-tips-for-keeping-kids-learning-at-home

https://www.positivediscipline.com/articles/teaching-responsibility-when-does-it-happen

https://www.positivediscipline.com/articles/teaching-responsibility-when-does-it-happen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *