oleh dr. Selly Christina Anggoro, SpKFR

Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

 

Halo Keluarga Kejora!

Di masa pandemi Covid-19 seperti ini, para Ibu pastinya khawatir bila si kecil terkena gangguan pernapasan, seperti halnya batuk, sulit bernapas, atau adanya slym atau reak yang sulit dikeluarkan.

Apakah batuk menandakan reaksi yang baik?

Perlu Ibu ketahui, bahwa sesungguhnya batuk merupakan mekanisme refleks kompleks tubuh yang sangat penting. Batuk menandakan tubuh anak sedang berusaha untuk meproteksi saluran pernapasannya sendiri dengan cara mengeluarkan suatu zat iritan, yang biasanya berupa lendir atau benda asing. Seorang anak usia sekolah yang sehat umumnya dapat batuk hingga 34 kali dalam sehari. Meskipun demikian, batuk yang berkepanjangan dapat menyebabkan gangguan tidur dan akitivitas anak sehari-hari, sehingga menjadi salah satu penyebab tersering perlunya berkonsultasi dengan dokter anak. (1)

Batuk juga merupakan salah satu dari gejala adanya infeksi saluran pernapasan atas maupun bawah. Infeksi saluran napas bawah, terutama pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar anak di bawah 5 tahun di seluruh dunia. Penyakit saluran napas dapat meningkatkan jumlah dan kekentalan sekret atau cairan paru, sehingga menyebabkan gangguan gerakan silia (bulu getar paru-paru) dan batuk menjadi kurang efektif, sehingga bersihan jalan napas terganggu dan pada kondisi lanjut dapat menyebabkan sumbatan jalan napas. (2)

Bagaimanakan cara mencegah sumbatan jalan napas?

Terapi fisik dada dapat membantu mengatasi masalah sumbatan jalan napas, karena pada dasarnya, pada anak yang lebih kecil, kemampuan batuknya belum berkembang optimal. Melalui terapi fisik dada diharapkan dapat mencegah komplikasi penyakit lebih lanjut serta mengurangi kerusakan jaringan akibat radang. (3) Terapi fisik dada yang dikenal sebagai Airway Clearance Therapy (ACT) menggunakan gerakan pasif dan aktif.

Bagaimanakah Airway Clearance Therapy (ACT) dengan teknik pasif?

Gerakan pasif adalah gerakan yang dilakukan secara manual oleh tenaga ahli yang sudah terlatih, pada umumnya dilakukan oleh seorang fisioterapis anak. Teknik pasif ini dikenal dengan nama drainase postural, yang berupa pengaturan anak pada posisi tertentu untuk mengalirkan sekret jalan napas turun akibat pengaruh gravitasi. Drainase postural ini umumnya disertai teknik bersihan jalan napas perkusi dan vibrasi.(2) Teknik perkusi dilakukan dengan posisi telapak tangan membentuk kubah sambil menepuk bagian punggung ataupun dada anak. Sedangkan teknik vibrasi dilakukan dengan menempelkan telapak tangan Ibu pada dada atau punggung anak, seraya menggetarkan permukaan tubuh melalui telapak tangan Ibu. Kedua teknik ini bertujuan untuk melepaskan sekret yang lengket dari saluran napas bawah sehingga dapat lebih mudah keluar dari saluran napas atas melalui mekanisme batuk. (4)

Bagaimanakah Airway Clearance Therapy (ACT) dengan teknik aktif?

Di samping gerakan pasif, teknik ACT disertai pula dengan gerakan aktif berupa latihan pernapasan yang dapat dilakukan sendiri oleh anak terutama anak yang sudah lebih kooperatif. Untuk anak yang masih kecil, agar sesi latihan menjadi lebih menyenangkan, Ibu bisa melakukannya sambil mengajak anak bermain, menggelitik dada atau badannya, atau dengan cara bermain cilukba dengan boneka atau mainan anak sambil memposisikan anak sedikit miring atau tengkurap sehingga drainase postural menjadi lebih efektif. Anda dapat pula bermain pura-pura seraya memberi instruksi dengan suara yang aneh atau lucu sehingga anak menjadi lebih nyaman. Cara lain yang dapat digunakan misalnya dengan meminta anak untuk meniup gelembung sabun, tisu ataupun kain, sehingga dengan demikian pengembangan dada anak bertambah dan sekret lebih mudah keluar.

Beberapa teknik pernapasan aktif lainnya seperti Active Cycle of Breathing Technique (ACBT), teknik Autogenic Drainage (AD) dan Positive Expiratory Pressure (PEP) dapat diajarkan pada anak yang lebih besar sehingga pengeluaran dahak menjadi lebih optimal.

Ketiga teknik ini nanti akan kita bahas secara lebih detil pada kesempatan yang lain yaa Ibu Kejoraa.

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Daftar Pustaka:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *