Donor ASI

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah ayah dan ibu mengetahui tentang donor ASI? Hal yang sering dibicarakan saat ini, terutama di kalangan keluarga yang baru memiliki bayi atau sedang dalam proses menyusui.

Kontributor Kejora Indonesia, dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC, CIMI, berbagi informasi penting mengenai donor ASI. Sebelum anda memutuskan untuk memberikan ASI atau menjadi donor ASI sebaiknya anda membaca poin di bawah ini.

Apa itu Donor ASI?

Donor ASI merupakan proses berbagi ASI, atau pemberian ASI seorang ibu untuk bayi yang bukan anak biologisnya. Mengapa kegiatan ini sering disebut sebagai donasi / donor ASI (breast milk donation), dan bukan berbagi ASI (breast milk sharing)? Karena ASI adalah cairan tubuh manusia, dan berpotensi membawa penyakit, risiko alergi, dan materi genetik seorang ibu, sehingga dunia kesehatan menempatkan donor ASI setara dengan donor darah. Oleh sebab itu proses donor ASI seharusnya dilakukan melalui proses penapisan dan pemeriksaan seperti layaknya proses donor darah.

Di Indonesia, sampai konten ini diterbitkan, belum ada Bank ASI yang terstandar. Praktik donor ASI yang banyak dilakukan di Indonesia merupakan praktik donor ASI informal melalui jaringan sosial, atau mulut ke mulut.

Meskipun proses informal, ada 4 pilar penting yang perlu diperhatikan dalam proses tukar-menukar atau berbagi ASI:

  1. Persetujuan tindakan

Semua pihak, baik yang memberi ASI (ibu donor) maupun ibu dan bayi dan keluarga penerima (resipien) harus memahami, mengerti, dan secara objektif menilai informasi terkait donor ASI termasuk keuntungan, risiko, konsekuensi medis, psikologis, dan sosiokultural pemberian ASI donor. Hal ini memudahkan para pihak untuk mengambil keputusan yang tepat. Dokter, bidan, konselor laktasi merupakan tenaga profesional yang tepat untuk berkonsultasi sebelum mengambil keputusan untuk donor ASI atau menerima donor ASI.

  1. Penapisan donor

Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang ibu donor ASI untuk dapat memberikan ASInya untuk bayi lain. Secara umum, penapisan donor ASI terdiri dari penapisan mandiri, pengkajian kesehatan dan gaya hidup (seperti risiko infeksi HIV, Hepatitis B, dan Hepatitis C, peminum alkohol, merokok, pengguna Narkoba, ataupun sedang menjalani pengobatan kemoterapi atau radioterapi), serta pemeriksaan darah untuk penyakit-penyakit yang dapat menular melalui darah (HIV, dan HTLV).

  1. Penanganan yang aman

Penanganan yang aman meliputi kebersihan tangan saat memerah ASI, proses memerah ASI yang baik, kulit ibu donor yang sehat, serta penyimpanan ASI perah yang memadai.

  1. Proses pasteurisasi ASI donor

Semua ASI donor harus melalui proses pasteurisasi untuk memastikan virus dan bakteri yang mungkin terkandung dalam ASI. Proses pasteurisasi ini dapat dilakukan secara mandiri di rumah dengan cara memanaskan ASI perah sampai suhu tertentu dan mempertahankannya dalam waktu tertentu. Pasteurisasi Holder memanaskan ASI perah dalam suhu 62.5°C selama 30 menit. Pasteurisasi pemanasan kilat (flash heating) menempatkan ASI perah pada suhu 72°C selama beberapa detik.

Demikian informasi mengenai donor ASI Keluarga Kejora, semoga bermanfaat terutama bagi anda yang sedang memiliki rencana untuk mencari donor ASI.

Editor: drg. Annisa Sabhrina

Referensi

The Four Pillars of Safe Breast Milk Sharing by Shell Walker and Maria Armstrong, from Midwifery Today (2012), 101, 34-37
https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/donor-asi

Pekan Menyusui Sedunia 2020

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora!

Di tengah pandemi COVID-19, kita merayakan Pekan Menyusui Sedunia (World Breastfeeding Week) yang jatuh pada minggu pertama bulan Agustus 2020. Pekan Menyusui Sedunia yang diselenggarakan setiap tahun pada tanggal 1-7 Agustus, merayakan peran ibu menyusui dan meningkatkan kepekaan masyarakat awam terhadap menyusui.

Pada tahun 2020 ini, World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) menentukan tema “Support Breastfeeding for a Healthier Planet” sebagai bentuk dukungan menyusui terhadap lingkungan hidup.

Berikut manfaat menyusui terhadap lingkungan hidup dan kehidupan bermasyarakat:

  • Menyusui dapat mengurangi sampah botol, plastik, kardus kemasan serta mengurangi polusi yang diakibatkan proses produksi dan konsumsi Pengganti ASI (PASI). ASI adalah sumber daya terbarukan alami yang tidak memerlukan proses pengemasan, pemasaran, pengiriman, dan pembuangan.
  • Menurunkan kebutuhan listrik dan bahan bakar minyak yang diperlukan untuk produksi, pemasaran, distribusi, dan pembuangan PASI.
  • Menyusui eksklusif dapat menjadi metode kontrasepsi alami dan dapat menjarakkan kehamilan.
  • Bayi yang menyusu ASI menunjukkan respons imunologis yang lebih baik terhadap vaksin oral maupun suntikan.
  • Menurunkan biaya kebutuhan pokok keluarga. Pemberian PASI memakan biaya Rp. 300.000,00-800.000,00 per bulan.
  • Menyusui menurunkan angka kematian maupun kesakitan bayi sehingga menurunkan biaya pelayanan kesehatan yang harus ditanggung baik keluarga, asuransi, maupun pemerintah.
  • Menurunkan premi asuransi yang harus dibayar orang tua maupun pemberi kerja.
  • Meningkatkan produktivitas kerja orang tua karena bayi yang menyusu eksklusif rata-rata lebih jarang sakit.

Editor: drg. Annisa Sabhrina

Sumber:

http://www.tensteps.org/benefits-of-breastfeeding-for-the-environment-society.shtml#:~:text=Breastfeeding%20does%20not%20waste%20scarce,packaging%2C%20shipping%2C%20or%20disposal.&text=Though%20less%20of%20a%20factor,sibling%20and%20the%20new%20infant.

Gangguan Mood pada Ibu Menyusui

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Menyusui  merupakan bentuk kerjasama tim. Bukan hanya membutuhkan partisipasi aktif seorang ibu dan bayinya, namun juga perlu disokong oleh beberapa faktor seperti pasangan, keluarga besar, kebijakan di lingkungan kerja dan komunitas.1

Salah satu cara memberdayakan ibu untuk bisa mencapai keberhasilan menyusui adalah dengan mengenali kondisi mental ibu yang  dapat menjadi hambatan dalam menyusui.

Gangguan psikiatri postpartum secara umum dibagi menjadi 3, yakni baby blues, postpartum psychosis, dan postpartum depression (depresi postpartum). Baby blues memiliki insidens global 300-750 per 1000 ibu. Kondisi ini merupakan gangguan psikiatri paling dini karena rasa sedih ibu saat bersama bayi dan akan hilang dengan sendirinya dalam waktu satu minggu. Namun pada 10-15% kasus, 1 kondisi ibu yang mengalami baby blues dapat berkembang menjadi depresi postpartum.2

Depresi post partum terjadi pada 100-150 per 1000 ibu baru melahirkan dan perlu ditangani. Psikosis post partum merupakan kondisi psikosis yang muncul dalam empat minggu pertama postpartum dan memerlukan perawatan di rumah sakit. Di negara maju, gangguan psikiatri postpartum termasuk depresi postpartum diperkirakan mencapai 18.6% (interval kepercayaan 95% , 18.0-19.2%).2 Depresi postpartum ini bila dibiarkan dapat mengganggu hubungan ibu dengan bayinya. Anak-anak dengan ibu yang mengalami depresi postpartum memiliki masalah kognitif, perilaku, dan interpersonal dibanding anak lainnya dengan ibu yang tidak memiliki kondisi yang sama. Anak-anak ini juga memiliki risiko lebih tinggi menderita berat badan kurang dan stunting.

Apabila seorang ibu menyusui merasakan ketidaksesuaian mood, segera cari pertolongan orang terdekat (suami, keluarga) maupun tenaga profesional (konselor, dokter, psikolog).

 

Editor : drg. Annisa Sabhrina

 

1 Webber E, Benedict J. Postpartum depression: A multi-disciplinary approach to screening, management and breastfeeding support.
Archives of Psychiatric Nursing, 2019;33(3):284-289.

2 Upadhyay RP, et al. Postpartum depression in India: a systematic review and meta-analysis. Bull World Health Organ 2017;95:706–717B
al.cfm.

Tahapan Menyusui Buah Hati

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo Keluarga Kejora,

Kelenjar ASI pada payudara ibu sudah mulai aktif sejak minggu ke-16 kehamilan. Hormon kehamilan secara otomatis akan menghambat keluarnya ASI untuk menjaga kehamilan sampai cukup bulan. Setelah bayi dan ari-ari lahir peran hormon kehamilan mulai berkurang. Di sisi lain peran hormon menyusui akan meningkat yakni oksitosin dan prolaktin, yang bekerja untuk mengeluarkan dan menjaga lancarnya produksi ASI.

Kolostrum adalah ASI pertama yang keluar setelah bayi lahir. Kolostrum mengandung antibodi IgA sekretoris, laktoferin, sel darah putih, dan faktor-faktor pertumbuhan. Kolostrum memiliki fungsi utama untuk menyokong daya tahan tubuh dan pertumbuhan bayi di hari-hari pertama kehidupan.

ASI transisi / peralihan muncul saat kandungan laktosa di dalam ASI meningkat menjelang akhir minggu pertama setelah bayi lahir atau berkisar pada akhir minggu pertama setelah kelahiran bayi.

ASI matur mulai dihasilkan tubuh ibu sekitar minggu kedua setelah persalinan. Kandungan ASI matur kaya makronutrien seperti laktosa (karbohidrat), protein, dan lemak untuk mencukup kebutuhan nutrisi bayi. ASI juga mengandung cukup cairan untuk memenuhi kebutuhan cairan harian bayi.

Penggolongan ASI ini penting diketahui untuk dapat memahami tahapan menyusui. Ayah dan Ibu Kejora perlu mengetahui bahwa tahapan produksi ASI ini akan sejalan dengan kebutuhan minum bayi. Bayi cukup bulan yang lahir pada usia kehamilan 37-40 minggu dengan rentang berat 2500g-4000g memiliki kapasitas lambung lebih kurang 5-7 mL (1 sendok teh) pada hari pertama hidupnya. Volume ini akan meningkat menjadi sekitar 22-27 mL pada hari ketiga, dan 45-60 mL pada minggu pertama. Saat bayi berumur 1 bulan, bayi dapat menampung kurang lebih 80-150 mL dalam lambungnya.

Pastikan teknik menyusui yang tepat serta nutrisi Ibu dan Ayah yang paripurna untuk menjaga kesinambungan menyusui si kecil.

Editor: drg. Annisa Sabhrina

Referensi:
Ballard OJ, Morrow AR. Human Milk Composition: Nutrients and Bioactive Factors. as: Pediatr Clin North Am. 2013 Feb; 60(1): 49–74.

5 Tips Sukses Menyusui selama Bulan Ramadhan

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

Halo Keluarga Kejora,

Tidak terasa bulan Ramadhan sudah didepan mata. Bagi anda yang ingin menjalankan kewajiban untuk berpuasa namun masih ingin menyusui si kecil, Kejora memiliki tips bagaimana cara mensiasati agar anda tetap bugar saat menyusui selama menjalankan ibadah puasa

  • Pilih menu sahur dan berbuka dengan gizi seimbang karbohidrat protein lemak dalam jumlah yang cukup. jangan lupa untuk memasukkan porsi sayur buah-buahan harian anda. menghindari makanan mengiritasi lambung seperti terlalu pedas atau berminyak.
  • Jaga asupan cairan tubuh. Tingkatkan asupan air putih 2 hari sebelum puasa dimulai. Jaga asupan cairan 2 Liter per hari selama puasa. Sumber cairan dapat diperoleh dari air putih, buah-buahan dan sari buah, sup, dll. Hal ini bertujuan agar tubuh ibu terhidrasi dengan baik pada saat mulai puasa. Dehidrasi berat memang dapat mengurangi pasokan ASI, namun puasa selama bulan Ramadhan digolongkan menjadi puasa jangka pendek. Penelitian menunjukan bahwa puasa jangka pendek tidak menurunkan pasokan ASI.
  • Untuk mengurangi hilangnya energi berlebih, kurangi aktivitas yang tidak perlu dan pajanan panas maupun sinar matahari berlebih.
  • Perhatikan pola BAB dan BAK bayi anda untuk memantau asupan cairannya. Kandungan ASI selama ibu puasa dapat mengalami beberapa perubahan, namun perubahan ini berjangka pendek dan dilaporkan tidak menimbulkan efek klinis maupun mempengaruhi pertumbuhan bayi.
  • Ibu-ibu menyusui dengan kelainan metabolisme seperti diabetes atau riwayat gula darah rendah, atau masalah kesehatan lain seperti kurang darah (anemia) dapat berkonsultasi dengan dokter. Konsultasi juga kepada dokter apabila anda memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai puasa dan menyusui.

Produksi Asi Optimal

 

 

 

oleh dr. Nessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Hai ibu sehat Kejora, pernahkah/sedang atau khawatir produksi ASI berkurang atau sedikit? Yuk, kita belajar tentang apa saja sih faktor-faktor yang memengaruhi produksi ASI.  

Produksi ASI melalui 2 proses terkait yaitu rangsangan hormon-hormon, juga stimulasi isapan bayi/let-down reflex (juga pengosongan payudara dengan perah ASI). Produksi ASI juga dapat dipengaruhi faktor psikologis ibu seperti rasa cemas, stres, kelelahan.  

Nutrisi ibu sebelum, selama hamil, juga selama menyusui akan memengaruhi kualitas dan jumlah ASI yang dikeluarkan. Selama menyusui, ibu memerlukan 2300–2400 kkal/hari dengan komposisi sumber hidrat arang, protein, lemak, vitamin, mineral, serat yang seimbang.

Selama ibu menyusui, ibu memerlukan total sekitar 2300–2400 kkal per hari yang dapat dibagi menjadi 5–6 kali makan (makan utama dan selingan/snack). Kebutuhan protein ibu menyusui juga akan meningkat, sehingga membutuhkan total sekitar 76 g protein setiap harinya.

Bagi ibu yang sedang menyusui, disarankan konsumsi cairan 2–3 liter per hari yang dapat diperoleh dari makanan (sup) dan minuman.

Galaktogogue adalah zat/substansi yang dipercaya membantu merangsang, mempertahankan, meningkatkan produksi ASI. Nah, galaktogogue bisa dibedakan dari jenisnya yaitu farmakologis (obat-obatan) dan alami. Konsumsi galaktogogue yang berasal dari obat-obatan tentu saja harus berdasar atas konsultasi dengan dokter, ya ibu..  

Galaktogogue alami contohnya fenugreek, shavatari (asparagus), goat’s rue, milk thistle, anise basil, blessed thistle, biji fennel, alfalfa. Di Indonesia, khususnya di daerah Batak dikenal daun bangun-bangun (atau torbangun), di daerah Jawa umumnya menggunakan daun katuk, sedangkan di Sulawesi Utara seringkali menggunakan jantung pisang untuk meningkatkan produksi ASI.

Fenugreek (Trigonella foenum-graecum) termasuk kacang-kacangan (pea family). Fenugreek telah dikenal sebagai booster ASI sejak tahun 1945. Mekanisme kerjanya belum diketahui, namun fenugreek dapat memengaruhi produksi ASI dengan merangsang produksi payudara. Pada penelitian 1200 ibu yang menggunakan fenugreek, dilaporkan peningkatan produksi ASI dalam 24–72 jam setelah pemberian.

Daun katuk (Sauropus androgynus) banyak digunakan secara tradisional di Indonesia. Suatu penelitian menunjukkan kenaikan produksi ASI sebanyak 50,7% lebih banyak pada ibu yang mengonsumsi ekstrak daun katuk dibandingkan kelompok ibu yang tidak mengonsumsi daun katuk.

Ibu sehat Kejora, setelah mempelajari tentang faktor-faktor yang memengaruhi produksi ASI, alangkah baiknya sebelum mengonsumsi galaktogogue, sebaiknya kembali memperhatikan apakah teknik menyusui sudah benar, apakah ada kelainan/gangguan dari payudara ibu maupun si Kecil, juga faktor-faktor lain yang dapat menjadi penyebab kurangnya produksi ASI (misal aspek psikologis). Ibu sehat Kejora, hingga kini, belum ada rekomendasi penggunaan sumber-sumber bahan alami/herbal di atas sebagai galagtogogue.

Sumber:

Modern Nutrition in Health and Disease, Krause’s Food & Nutrition Therapy

IDAI, Journal of Human Lactation, The Annals of Pharmacotherapy

Fungsi ASI Sebagai Efek Penahan Nyeri pada Bayi Baru Lahir

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

Halo ayah dan ibu kejora,

Tahukah anda bahwa Air Susu Ibu (ASI) memiliki efek penahan nyeri pada bayi baru lahir?

Bayi baru lahir (newborn) dapat merasakan nyeri, dan bahkan lebih sensitif terhadap nyeri dibanding orang dewasa. Nyeri pada bayi baru lahir dapat mempengaruhi sistem saraf pusat dan berdampak pada perkembangannya. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa pemberian ASI pada bayi baru lahir saat prosedur medis ringan seperti pengambilan darah atau penyuntikan obat/imunisasi merupakan salah satu metode untuk mengurangi nyeri non-farmakologis (tanpa obat).1 Bayi baru lahir yang mendapatkan ASI dengan menyusu langsung pada ibunya menunjukkan penurunan nyeri yang lebih efektif dibandingkan dengan bayi baru lahir yang diberikan Air Susu Ibu Perah (ASIP).

ASI mengandung pro-endorfin , yakni zat kimia sejenis morfin yang diproduksi tubuh manusia. Zat inilah yang diduga memiliki efek penahan nyeri pada bayi. Selama bayi menyusu langsung pada payudara ibunya, bayi akan mendapat rasa nyaman yang berasal dari hisapannya dan dekapan dari ibunya. Hal ini pun dapat menambah efek penahan rasa nyeri yang berasal dari ASI2, tentu dengan kondisi ibu menyusui dalam keadaan sehat untuk memberikan ASI.

Jadi, Ayah dan Ibu Kejora, penting diingat bahwa ASI bukan obat definitif (drug). Apabila Si Kecil Kejora sakit, ayo diperiksakan ke dokter untuk mendapat penanganan yang sesuai.

Sumber:

1 Shah PS, Aliwalas L, Shah V. Breastfeeding or breastmilk to alleviate procedural pain in neonates: A systematic review. Breastfeeding Medicine 2007; 2(2): 74-82.

2 Brovedani P. Analgesic effect of mother’s milk. In Davanzo R: Nutrition with human milk. Research and practice. 2010. Medela AG: Italy.

Editor : drg. Annisa Sabhrina

Hubungan Ibu Menyusui dan Hepatitis B

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

Hai Ayah dan Ibu

Tahukah anda,

Bahwa ibu hamil berisiko menularkan virus hepatitis pada bayi yang dikandungnya. Penularan ini terjadi pada 25-30% wanita carrier hepatitis B berusia produktif. Penularan hepatitis B paling banyak terjadi pada saat atau segera setelah persalinan, saat terjadi kontak antara bayi dengan cairan darah atau cairan tubuh ibu.

Belum terdapat cukup bukti penelitian untuk mendukung atau menyanggah penularan hepatitis B melalui aktivitas menyusui. Secara umum, semua bayi yang lahir dari ibu carrier(pembawa) hepatitis B boleh menyusu serta harus mendapatkan antibodi terhadap hepatitis B (imunoglobulin hepatitis B) pada 24 jam pertama kehidupan. Imunoglobulin ini merupakan antibodi yang aktif memerangi virus hepatitis B, berbeda dengan imunisasi hepatitis B yang mengandung protein virus hepatitis B bisa merangsang tubuh untuk menghasilkan antibodi terhadap hepatitis B. Imunisasi hepatitis B pada bayi dari ibu carrier (pembawa) harus tetap dilakukan sesuai jadwal demi menjamin terbentuknya antibodi hepatitis B.

Lantas bagaimana apabila puting ibu lecet dan berdarah dikala menyusui? Pada ibu carrier (pembawa) hepatitis B, ASI dapat mengandung virus. Karena itu, lembaga penanganan dan pencegahan infeksi di Amerika Serikat (Center for Disease Control and Prevention, CDC) merekomendasikan teknik pump and dump untuk kasus seperti ini. Selama puting luka berdarah, ibu disarankan untuk memerah ASI dan membuang hasil perahan tersebut. Ibu dapat kembali menyusui buah hatinya kembali apabila luka sudah sembuh. Selama tidak memberikan ASI, ibu dapat memberikan ASI perah sendiri, ASI donor yang sudah dipasteurisasi atau susu formula pada bayinya. Tentunya luka pada puting perlu dijaga kebersihannya dan bila perlu mendapat pengobatan.

Edited by drg. Annisa Sabhrina

Sumber:

http://www.who.int/maternal_child_adolescent/documents/pdfs/hepatitis_b_and_breastfeeding.pdf
https://www.cdc.gov/breastfeeding/breastfeeding-special-circumstances/maternal-or-infant-illnesses/hepatitis.html
http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/menyusui-pada-ibu-penderita-hepatitis-b

Pola Makan Tepat Bagi Ibu Menyusui

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

Periode menyusui merupakan saat yang tepat untuk membuat pola makan anda menjadi lebih sehat. Hal ini akan memberikan manfaat bagi Ibu menyusui, bayi anda dan keluarga mulai sekarang hingga di masa yang akan datang.

Prinsip utama pola makan selama menyusui adalah makan bahan makanan yang sehat dengan gizi seimbang, karena pada dasarnya tidak ada pola makan khusus yang harus dijalani selama menyusui. Namun perlu diingat, selama menyusui anda diharapkan dapat menambah asupan energi sebesar 500 kkal di luar kebutuhan energi dasar anda.

Sebagai gambaran, 1 butir telur ceplok mengandung 92 kkal, 1 porsi roti burger dengan daging, saus, sayuran dan roti mengandung 300 kkal, 1 gelas minuman kopi susu mengandung 200-300 kkal. Namun apakah bahan-bahan makanan ini diperlukan ibu menyusui? Mari kita telusuri.

Untuk memilih menu makanan anda sehari-hari, gunakan selalu prinsip pola makan yang tepat dalam pemilihan sumber bahan makanan yang akan dikonsumsi. Berikut merupakan contoh bahan makanan yang baik untuk anda konsumsi selama periode menyusui :

  1. Buat prioritas untuk mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran, terutama buah dan sayur yang berwarna merah, hijau tua, dan ungu (bit, kale, paprika, pepaya, anggur) karena kaya akan vitamin, mineral dan antioksidan.
  2. Pilih protein berkualitas seperti daging rendah lemak, ikan, telur, serta kacang-kacangan. Anda juga dapat memasukkan biji-bijian seperti gandum, biji selasih, chia seed, flaxseed, ataupun quinoa sebagai sumber serat dan protein dalam menu anda sehari-hari.
  3. Jika harus mengkonsumsi karbohidrat kompleks seperti sereal, roti atau pasta, pilihlah yang mengandung biji gandum utuh (whole grain) untuk menambah asupan serat.
  4. Konsumsi produk susu yang rendah lemak dan gula, serta asupan kecil lemak tak jenuh dari berbagai jenis minyak sayur bagi tubuh anda.

Selalu ingat untuk makan dengan porsi secukupnya dalam interval waktu yang tetap, yakni sarapan atau makan pagi, makan siang, makan malam, serta makanan selingan. Untuk makanan selingan, buat prioritas untuk mengkonsumsi buah atau kacang-kacangan. Hindari makanan yang mengandung gula dan lemak tinggi seperti kue, coklat, atau minuman manis. Hal yang tak kalah pentingnya adalah kebutuhan akan cairan. Pastikan tubuh anda cukup akan cairan, dengan cara minum air putih sebagai sumber cairan utama.

Edited by drg. Annisa Sabhrina

Sumber: https://www.nutrition.org.uk/healthyliving/nutrition4baby/feeding.html?start=1

Hindari Depresi Pasca Melahirkan dengan Mengenal Trimester Keempat Kehamilan

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

Halo Ayah dan Ibu,

Tahukah anda bahwa saat ini periode setelah melahirkan dikenal dengan istilah “trimester keempat”. Persatuan dokter kebidanan dan kandungan Amerika Serikat (American College of Obstetricians and Gynecologists, ACOG)  pada Bulan April 2018 mengeluarkan pernyataan baru tentang pentingnya perawatan ibu setelah melahirkan. ACOG merekomendasikan kunjungan kontrol setelah melahirkan yaitu satu kali dalam waktu 6 minggu setelah persalinan. Data ACOG menyebutkan bahwa sebanyak 40% ibu setelah melahirkan sering lalai melakukan kunjungan kontrol setelah persalinan.

Padahal banyak sekali perubahan fisik dan emosional yang dialami para ibu setelah melahirkan. Sehingga kontrol setelah persalinan ke dokter kandungan dan kebidanan (obstetri-ginekologi) atau tenaga kesehatan lain (dokter anak, konselor menyusui, bidan, atau perawat) sangat dianjurkan  dalam tiga minggu pertama setelah persalinan dan diharapkan dapat berkelanjutan.

Di beberapa awal pekan pertama setelah persalinan menjadi waktu yang paling menantang bagi seorang ibu. Bagaimana tidak? Dengan adanya bekas luka persalinan baik spontan maupun melalui bedah sesar yang mulai bereaksi terhadap tubuh, juga tubuh seorang ibu baru sedang beradaptasi terhadap perubahan hormon. Yakni, hilangnya hormon progesteron dalam kehamilan dan mulai bekerjanya hormon oksitosin dan prolaktin untuk menyusui. Selain itu seorang ibu juga membutuhkan waktu khusus untuk merawat dan menyusui bayinya. Untuk itulah kondisi fisik, nutrisi, serta kondisi mental ibu harus dipastikan terjaga dengan baik.

Pastikan anda mengetahui berbagai hal berikut ini dari para tenaga kesehatan:

  • Perubahan emosi yang berlebihan setelah melahirkan
  • Pemulihan fisik setelah persalinan
  • Kebutuhan nutrisi ibu
  • Teknik menyusui dan perawatan bayi
  • Penanganan penyakit kronis yang berhubungan dengan kehamilan seperti eclampsia, dan diabetes
  • Perencanaan kehamilan dan kontrasepsi

Jadi Ayah dan Ibu, jangan anggap enteng trimester keempat kehamilan. Pastikan anda tidak ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, karena periode ini begitu kritis untuk pemulihan kondisi ibu dan merupakan fondasi awal dalam membina hubungan ibu dan bayi.

Edited by drg. Annisa Sabhrina

Sumber:
https://www.acog.org/About-ACOG/News-Room/News-Releases/2018/ACOG-Redesigns-Postpartum-Care