oleh dr. Paramita Khairan, SpPD

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Pasti Ayah dan Ibu Kejora sudah sering mendengar istilah diabetes. Diabetes adalah suatu penyakit kronik yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula dalam darah karena metabolisme gula yang terganggu. Saat ini, angka pasien diabetes di Indonesia mencapai 7%, angka ini meningkat tajam jika dibandingkan angka pasien diabetes pada tahun 1980-an. Diabetes merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah yang merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Kabar baiknya, penyakit diabetes dapat dicegah. Yuk, simak caranya!

Sebelum mengetahui cara pencegahannya, mari kenali dulu beberapa tipe diabetes:

  1. Diabetes tipe 1, merupakan gangguan autoimun yang menyebabkan sistem ketahanan tubuh menyerang dan merusak sel-sel di organ pankreas, sehingga pankreas tidak dapat memproduksi hormon insulin.
  2. Diabetes tipe 2, merupakan diabetes yang terjadi karena organ pankreas memproduksi hormon insulin, namun jumlahnya tidak mencukupi, sehingga kerja hormon insulin menjadi tidak efektif.
  3. Diabetes gestasional, merupakan diabetes yang hanya terjadi pada saat kehamilan.
  4. Diabetes tipe lain, merupakan diabetes yang disebabkan oleh pemakaian obat, penyakit lain-lain, dsb.

Diabetes tipe 2 adalah tipe diabetes yang paling banyak diderita, yuk simak pembahasannya lebih lanjut!

Gejala utama yang dapat dirasakan oleh penderita diabetes tipe 2 antara lain:

  1. Frekuensi buang air kecil meningkat, disebut juga dengan poliuri
  2. Sering merasa haus, disebut juga dengan polidipsi
  3. Sering merasa lapar, disebut juga dengan polifagi

Selain tiga gejala tersebut, gejala dan tanda lain juga dapat terjadi seperti turunnya berat badan (walaupun makan cukup banyak atau tidak sedang menjalankan program diet), sering merasa lelah, pandangan kabur, dan sering kesemutan.

Seringkali, gejala dan tanda diabetes belum tampak atau tidak dirasakan oleh penderita (disebut juga asimtomatik), sehingga perlu dilakukan pemeriksaan untuk orang-orang yang berisiko tinggi mengalami diabetes tipe 2. Caranya cukup mudah untuk menilai apakah Ayah dan Ibu Kejora memiliki risiko tinggi terkena diabetes yaitu dengan menjawab pertanyaan tabel risiko di bawah ini:

 

Tes Risiko Diabetes Skor
1.     Berapa usia anda?

·        Kurang dari 40 tahun (0 poin)

·        40–49  tahun (1 poin)

·        50–59   tahun (2 poin)

·        60 tahun atau lebih (3 poin)

2.     Apakah anda laki-laki atau perempuan?

·        Laki-laki (1 poin)

·        Perempuan (0 poin)

3.     Bila anda perempuan, apakah anda pernah didiagnosis menderita diabetes gestasional (diabetes saat kehamilan)?

·        Pernah (1 poin)

·        Tidak pernah (0 poin)

4.     Apakah ayah, ibu, atau saudara kandung anda memiliki riwayat diabetes?

·        Ya (1 poin)

·        Tidak (0 poin)

5.     Apakah anda pernah didiagnosis menderita tekanan darah tinggi?

·        Ya (1 poin)

·        Tidak (0 poin)

6.     Apakah anda aktif secara fisik?

·        Ya (0 poin)

·        Tidak (1 poin)

7.     Termasuk dalam kategori apakah berat badan anda? (Silakan lihat dari tabel di bawah ini)
Total skor

Catatan: berat dan tinggi badan dalam satuan feet dan pound

Apabila skor Ayah dan Ibu Kejora 5 atau lebih, artinya berisiko tinggi terkena diabetes. Namun, hanya dokter yang dapat memastikan diagnosis tersebut adalah diabetes mellitus, ya!

Selain itu, jika Ayah dan Ibu Kejora memiliki karakteristik sebagai berikut:

    1. Indeks massa tubuh (IMT) ≥ 23 kg/m2. IMT dapat dihitung dengan cara:

    1. Kadar kolesterol baik (High Density Lipoprotein) < 35 mg/dL atau kadar trigliserida (lemak yang ada di dalam darah) > 250 mg/dL
    2. Perempuan dengan sindrom polikistik ovarium (gangguan hormon yang terjadi pada wanita usia subur)
    3. Memiliki ayah, ibu, dan/atau saudara kandung dengan penyakit diabetes
    4. Memiliki riwayat penyakit stroke
    5. Memiliki riwayat tekanan darah tinggi
    6. Tidak aktif secara fisik

Maka, segeralah periksakan diri ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan gula darah.

Bagaimana jika Ayah dan Ibu Kejora tidak memiliki satu dari kriteria di atas atau memiliki skor risiko rendah (kurang dari 5)? Selamat! Berarti Ayah dan Ibu Kejora berisiko rendah terkena diabetes, tetapi untuk Ayah dan Ibu Kejora yang berusia 45 tahun ke atas, dianjurkan untuk tetap melakukan pemeriksaan diabetes sedini mungkin, ya!

Untuk memeriksa apakah seseorang terkena diabetes atau tidak, dokter akan menyarankan pemeriksaan gula darah sebagai berikut:

  1. Gula Darah Puasa (GDP)

Dilakukan setelah tidak makan dan minum, kecuali air putih selama 8-10 jam sebelum pemeriksaan.

  1. Gula Darah 2 Jam Setelah Makan

Dilakukan setelah mengonsumsi 75 g glukosa.

  1. Hemoglobin A1C

Mengetahui jumlah gula darah dalam 3 bulan terakhir.

Sebelum terjadi diabetes, terdapat keadaan yang disebut dengan prediabetes yaitu keadaan di mana sudah mulai terjadi gangguan metabolisme gula darah, namun belum terjadi diabetes. Berikut tanda-tanda prediabetes:

      1. Kadar gula darah puasa (GDP) sebesar 100–125 mg/dL, atau
      2. Kadar gula darah 2 jam setelah makan atau konsumsi 75 g glukosa sebesar 140–199 mg/dL, atau
      3. Kadar hemoglobin A1C sebesar 5.7%–6.4%.

Apabila Ayah dan Ibu Kejora memenuhi kriteria tersebut, jangan panik dulu karena ada hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah atau memperlambat terjadinya diabetes.

Berikut program untuk penderita prediabetes guna mencegah dan memperlambat timbulnya penyakit diabetes:

  1. Turunkan berat badan hingga minimal 7% dalam 6 bulan pertama. Penurunan berat badan yang dianjurkan sebesar 0.5–1 kg per bulan.
  2. Lakukan aktivitas fisik dengan intensitas moderat minimal 150 menit per minggu, setara dengan intensitas jalan cepat (kecepatan 6.5 km/jam) atau 75 menit latihan otot. Aktivitas ini dapat dibagi menjadi 3 kali seminggu, minimal selama 10 menit per sesi. Aktivitas fisik yang termasuk dalam intensitas moderat, seperti:
    • berjalan ke toko atau tempat kerja,
    • berjalan dengan membawa barang bawaan kurang dari 25 kg,
    • bersepeda di jalan dengan beberapa tanjakan atau bersepeda statis,
    • bermain sepatu roda, basket, atau tenis,
    • berenang,
    • menari,
    • hiking,
    • yoga,
    • membersihkan rumah,
    • mengecat rumah, dan lain sebagainya.
    • Tidak merokok.

Apabila Ayah dan Ibu Kejora dapat mencegah diabetes, maka kemungkinan untuk menjalani hidup yang sehat dan berkualitas pun akan meningkat, sehingga dapat senantiasa menemani sang buah hati. Semoga informasi ini bermanfaat untuk Ayah dan Ibu Kejora, salam sehat!

Editor: drg. Agnesia Safitri

Sumber:

      1. World Health Organization (WHO). Diabetes-Country profile: Indonesia. 2016
      2. World Health Organization (WHO). Noncommunicable Diseases-Country profile: Indonesia. 2016
      3. American Diabetes Association. Standards of medical care in diabetes-2020. Diabetes Care January 2020; vol 43 (suppl 1).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *