oleh Nurhuzaifah Amini M.Psi., Psikolog

Psikolog

Hai, Ayah dan Ibu Kejora!

Sering tidak mengalami kebingungan menghadapi anak yang tiba-tiba menangis, menjerit, menendang, memukul-mukul atau melarikan diri? Dalam keilmuan psikologi, perilaku yang ditunjukkan oleh anak-anak ini disebut tantrum. Tantrum merupakan episode yang terjadi ketika ada rasa marah atau frustasi yang ditandai dengan tangisan, teriakan, gerakan tubuh yang kasar, termasuk melempar barang, jatuh ke lantai, membenturkan kepala, tangan dan kaki ke lantai. Perlu ayah dan ibu ketahui bahwa tantrum itu bukan hal yang negatif. Tantrum digunakan oleh anak sebagai salah satu cara untuk mengekspresikan kebutuhan dan mengelola perasaan mereka. Hal ini terjadi karena anak sering kali belum memiliki kata-kata dan pengetahuan yang cukup untuk mengekspresikan emosi dengan benar. Biasanya tantrum terjadi pada anak usia 1-3 tahun. Pada usia ini keterampilan sosial dan emosional anak baru mulai berkembang pada usia ini. Selain toddler, anak yang lebih besar juga masih bisa tantrum. Hal ini terjadi karena mereka belum mempelajari cara yang tepat untuk mengekspresikan atau mengelola perasaan.

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya tantrum pada anak diantaranya:

  1. Hal ini biasanya menurun dari genetik sehingga lebih mudah memengaruhi intensitas dan kecepatan reaksi anak terhadap hal-hal yang membuatnya frustrasi. Anak-anak yang memiliki kecenderungan mudah marah mungkin lebih mudah mengamuk.
  2. Stres, lapar, kelelahan dan stimulasi berlebihan. Hal ini dapat mempersulit anak-anak untuk mengekspresikan dan mengelola perasaan serta perilaku.
  3. Situasi yang tidak dapat diatasi oleh anak-anak, misalnya, balita mungkin kesulitan mengatasinya jika anak yang lebih besar mengambil mainan.
  4. Ada tekanan yang kuat. Hal ini terjadi ketika ada kekhawatiran, ketakutan, rasa malu dan amarah yang dapat menjadi beban bagi anak-anak.

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghadapi tantrumnya anak:

  1. Usahakan untuk tetap tenang. Luangkan waktu sejenak untuk diri Ayah dan Ibu jika perlu. Jika Ayah dan Ibu marah, hal tersebut hanya akan mempersulit situasi bagi Ayah dan Ibu serta bagi anak. Saat berbicara, usahakan agar suara tetap tenang dan datar, dan bertindak dengan tenang.
  2. Menunggu amukannya reda. Jika anak tantrum dan tidak melakukan hal yang destruktif atau membahayakan, coba dibiarkan saja agar anak bisa mengekspresikan emosinya. Namun, jika anak melakukan hal yang berbahaya, coba pindahkan anak pada tempat yang mungkin membosankan buatnya. Jangan lupa untuk berikan batas waktu agar anak tahu bahwa ia perlu segera menyelesaikan amukannya. Usahakan agar tidak mengajaknya berbicara hingga ia menyelesaikan amukannya.
  3. Usahakan untuk tetap berada di sekitar anak ketika anak tantrum. Hal ini dilakukan agar anak tahu bahwa Ayah dan Ibu ada di sana sehingga ia tetap merasa aman. Tetapi jangan mencoba untuk berdebat dengan anak atau mengalihkan perhatian mereka.
  4. Validasi perasaan anak. Misalnya, ‘Pasti kesel ya mainannya diambil kakak”. Hal ini dapat membantu mencegah perilaku anak tidak terkontrol dan memberi kesempatan pada anak untuk mengatur ulang emosi.
  5. Ajak anak berkomunikasi dan gali kebutuhannya jika sudah tenang. Coba tanyakan apa yang rasakan dan apa yang ia butuhkan. Coba pahami apa yang anak butuhkan, lalu ajarkan anak untuk menyampaikan dengan baik hal yang ia inginkan.
  6. Bersikap konsisten. Jika sikap Ayah dan Ibu kadang memberikan apa yang diinginkan anak saat mereka mengamuk dan kadang tidak, anak bias jadi mengalami kebingungan dan tidak bisa belajar.

Pada beberapa kondisi, terutama untuk Ayah dan Ibu yang memiliki kegiatan lain, pengasuhan anak perlu dibantu oleh oleh orang lain, termasuk Kakek ataupun Nenek. Namun, hal ini bisa menjadi masalah terutama jika Kakek dan Nenek memberikan pengasuhan yang berbeda dengan pola asuh yang orangtua terapkan. Jika dibiarkan, hal ini tentu bisa memengaruhi perkembangan psikologis anak. Oleh karena itu, Ayah dan Ibu perlu menjadi tim dan bekerjasama dengan kakek dan nenek dalam memberikan pengasuhan pada anak, termasuk ketika menghadapi anak yang tantrum. Ada beberapa hal yang bisa Ayah dan Ibu lakukan kepada Kakek dan Nenek agar bisa menjadi tim yang baik dalam menghadapi anak tantrum:

  1. Gali pengetahuan Kakek dan Nenek dalam mengasuh anak. Seringkali Kakek dan Nenek menggunakan pola pengasuhan berbeda termasuk dalam menghadapi anak tantrum karena berdasarkan pengetahuan dan pengalaman pribadi mereka tanpa benar-benar memahami dampaknya. Oleh karena itu, coba gali dan pahami lebih dalam hal yang mereka ketahui dan kemungkinan cara yang mereka pakai misalnya ketika anak tantrum, nenek langsung memberikan permen agar anak berhenti menangis tanpa tahu kebutuhan anak.
  2. Lakukan evaluasi pada pola pengasuhan yang diberikan oleh Kakek dan Nenek. Ayah dan Ibu dapat menyampaikan bahwa tindakan yang mereka lakukan bisa membuat anak belajar hal yang keliru misalnya sampaikan bahwa ketika anak tantrum artinya anak sedang mengekspresikan perasaan atau kebutuhannya sehingga sebagai orangtua, kita perlu belajar memahami kebutuhan tersebut. Jika langsung diberikan barang, tanpa benar-benar memahami kebutuhan anak, ada banyak dampak yang bisa muncul seperti anak bisa jadi akan menggunakan ‘tantrum’ tersebut sebagai strategi untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, anak juga jadi tidak mengerti arti proses untuk mendapatkan sesuatu, anak tidak belajar komunikasi dan anak belajar cara mengeskpresikan emosi dengan tidak sehat.
  3. Komunikasikan secara terbuka pola pengasuhan yang diinginkan beserta alasannya. Ayah dan Ibu perlu mengkomunikasikan kepada Kakek dan Nenek terkait tujuan yang ingin dicapai dalam pengasuhan beserta cara-cara yang perlu dilakukan dan tidak boleh dilakukan.
  4. Buat batasan (Boundaries) antara orangtua dengan kakek/nenek. Dalam melakukan pengasuhan bersama terutama pada Kakek dan Nenek, tentu tidak semua hal dapat berjalan semaksimal yang diinginkan. Sadari dan pahami bahwa meminta orang lain dalam hal ini kakek atau nenek dalam mengasuh anak sangat mungkin memiliki kelemahan sehingga coba belajar untuk memahami. Buat batasan pada diri sendiri hal-hal yang menjadi tanggung jawab sendiri dan yang menjadi urusan kakek dan nenek misalnya jika terjadi kesalahan dalam memberikan penyikapan ketika anak tantrum, Ibu tidak perlu memarahi Nenek. Pahami bahwa hal tersebut wajar, dan fokuskan perhatian pada hal yang perlu diperbaiki dan dibutuhkan oleh anak agar dampaknya tidak terlalu parah.

Nah, semoga artikel ini dapat membantu Ayah dan Ibu menangani si kecil yang tantrum, ya! Tetap semangat dan jaga kesehatan, Keluarga Kejora!

Editor: drg. Valeria Widita W.

Source:

https://www.parents.com/toddlers-preschoolers/discipline/tantrum/a-parents-guide-to-temper-tantrums/

https://www.askdrsears.com/topics/parenting/discipline-behavior/bothersome-behaviors/temper-tantrums/managing-tantrums-older

https://raisingchildren.net.au/toddlers/behaviour/crying-tantrums/tantrumsa

https://www.mayoclinic.org/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *