oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Keluarga Sehat Kejora!

Belakangan ini, minuman berbasis kopi semakin populer sehingga dapat kita temukan di mana-mana. Dahulu, minuman berbasis kafein ini dikonsumsi untuk alasan meningkatkan energi dan mengurangi rasa kantuk.  Bukan hanya kopi hitam pahit dan es kopi susu, saat ini banyak kombinasi kopi dengan berbagai sirup, teh, susu, hingga kopi decaf. Bahkan, kopi ini bukan hanya dijual dalam bentuk biji kopi, kopi bubuk, atau minuman siap saji dalam gelas – saat ini banyak gerai yang menjual kopi dalam kemasan botol 1 liter, sehingga memudahkan siapapun untuk mengonsumsinya.

Ibu hamil biasanya akan memilih untuk mengurangi konsumsi kopi atau bahkan tidak mengonsumsi kopi sama sekali untuk menghindari risiko kesehatan. Nah, mungkin ada yang bertanya-tanya, bagaimana dengan kopi decaf, ya? Kan, kopi decaf memiliki kandungan kafein rendah. Apakah kopi decaf boleh dikonsumsi saat sedang hamil?

 

KAFEIN DAN KEHAMILAN

Kafein adalah stimulan yang sebetulnya dapat ditemukan dalam berbagai tumbuhan. Selain kopi, beberapa tumbuhan lain yang mengandung kafein antara lain adalah teh, kokoa/coklat, dan guarana. Beberapa penelitian juga menemukan manfaat dari konsumsi kafein terhadap penyakit jantung, penyakit hati/liver, diabetes, dan beberapa jenis kanker.

Selama kehamilan, proses metabolisme kafein akan berjalan lebih lambat, dan kafein juga dapat menembus plasenta- hingga dapat masuk ke dalam aliran darah janin- disana kafein tidak dapat dimetabolisme.

Walaupun mekanismenya belum diketahui secara pasti, beberapa penelitian dengan hewan mencoba menunjukkan bahwa konsumsi kafein yang tinggi selama kehamilan berhubungan dengan berat badan lahir bayi yang rendah, restriksi pertumbuhan, keguguran, dan peningkatan risiko overweight pada masa pertumbuhan anak. Saat ini penelitian masih terus berjalan, dan hubungan antara konsumsi kafein dengan risiko negatif selama kehamilan bervariasi pada setiap orang. Dengan informasi yang diketahui saat ini, perhimpunan kedokteran obstetri ginekologi American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) memberikan rekomendasi konsumsi kafein pada wanita hamil yaitu kurang dari 200 mg dari total konsumsi kafein per hari.

Satu gelas (240 ml) kopi hitam mengandung sekitar 96 mg kafein, sehingga berbagai rekomendasi memberikan batas maksimal konsumsi kopi hitam adalah 2 gelas (475 ml) per hari.

 

BERAPA BANYAK KAFEIN DALAM KOPI DECAF?

Kata “decaf” merujuk pada decaffeinated, artinya sekitar 97% kafein dalam biji kopi telah diekstrak sehingga hanya sedikit sekali kafein yang terdapat dalam kopi decaf.

Satu cangkir (240 ml) kopi decaf mengandung sekitar 2,4 mg kafein, sedangkan 1 sajian espresso decaf (60 ml)  mengandung sekitar 0,6 mg kafein.

Bisa kita bandingkan jumlah kafein dalam jenis minuman kopi lainnya:

  • Espresso reguler: 127 mg dalam 1 sajian 60 ml
  • Kopi hitam reguler: 96 mg dalam 1 sajian 240 ml
  • Dark chocolate: 80 mg dalam 1 sajian 100 gram
  • Energy drinks: 72 mg dalam 1 sajian 240 ml
  • Teh hitam: 47 mg dalam 1 sajian 240 ml
  • Cola: 33 mg dalam 1 sajian 355 ml
  • Hot chocolate: 7 mg dalam 1 sajian 240 ml

Tentu saja jumlah kafein dalam kopi decaf jauh lebih kecil dibandingkan dengan jenis minuman kopi, teh, dan minuman olahan sumber kafein lainnya.

Namun perlu kita ingat juga, setiap jenis kopi memiliki kandungan kafein yang berbeda-beda. Salah satu penelitian pada kopi decaf menunjukkan kadar kafein hingga 14 mg dalam 1 sajian 475 ml. Walaupun jumlah ini masih sangat kecil, sebaiknya kita selalu memperhatikan jumlah kafein yang terdapat dalam minuman kafein yang kita gunakan.

Sampai saat ini belum ada anjuran resmi mengenai berapa banyak kopi decaf yang boleh dikonsumsi oleh ibu hamil. Sebuah penelitian tahun 1997 menemukan bahwa wanita yang mengonsumsi >= 3 gelas (710 ml) kopi decaf selama trimester pertama memiliki risiko keguguran hingga 2,4 kali lebih tinggi dibandingkan wanita yang tidak mengonsumsi kopi sama sekali. Sebuah penelitian lain tahun 2018 juga menunjukkan hasil yang serupa, yaitu wanita hamil yang mengonsumsi 400 mg kafein/hari mengalami peningkatan risiko aborsi spontan (terutama saat usia kandungan 9-19 minggu) hingga 20% dibandingkan dengan mereka yg mengonsumsi <50 mg kafein/hari. Perlu diperhatikan bahwa dalam penelitian ini peneliti juga menyertakan kemungkinan bias yang ada (kelangsungan hidup janin, gejala mual-muntah selama kehamilan, dan pola makan pada setiap ibu hamil).

Mengganti minuman kopi dengan kopi decaf tentu saja akan menurunkan jumlah konsumsi kafein harian. Namun jika ingin menghindari konsumsi kafein selama kehamilan sama sekali, Ibu bisa memilih minuman teh herbal atau teh buah, infused water dengan buah-buahan citrus dan madu, ataupun golden milk (campuran susu dengan turmerik yg terdapat dalam bubuk kunyit).

Editor: drg. Valeria Widita W

Referensi

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31818639/

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/9270953/

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27573467/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *