Mengapa Anak Harus Makan Protein Hewani?

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Ayah dan Ibu Kejora, pernahkah terpikir apakah protein hewani seperti ikan, ayam daging, makanan laut, dan telur dapat digantikan oleh protein nabati saja? Sebelum kita memutuskan hal tersebut, mari simak penjelasan berikut ini ya!

Dalam memenuhi kebutuhan protein pada anak, maka sebaiknya kita tidak hanya berpikir bagaimana mencukupi jumlahnya saja, tetapi lebih rinci lagi kita harus juga mempertimbangkan kualitas protein agar anak terhindar dari malnutrisi. Kualitas protein ini mencakup ketersediaan serta kemudahan dicernanya asam amino setelah makanan dikonsumsi, dicerna, hingga diserap oleh tubuh kita. Ingat ya Ibu dan Ayah, asam amino merupakan zat terkecil yang menyusun protein. Bisa kita andaikan bahwa protein seperti tembok rumah, dan asam amino merupakan batu bata serta semen yang menyusun protein tersebut.

Nah, bahan makanan sumber protein yang berasal dari nabati memiliki kualitas protein serta kemampuan cerna yang lebih rendah daripada protein hewani, serta mengandung lebih sedikit mineral seperti seng, zat besi, dan kalsium. Sebaliknya protein dari sumber hewani memiliki kualitas protein lebih baik serta mengandung vitamin B12, besi heme, vitamin A, seng, dan kalsium. Dalam suatu penelitian pada anak usia 12-36 bulan didapatkan bahwa konsumsi protein hewani berkaitan dengan peningkatan tinggi badan anak yang lebih baik sehingga berpotensi dalam menurunkan angka kejadian stunting.

Selanjutnya apakah protein nabati menjadi tidak penting? Nah, protein nabati seperti misalnya tahu, tempe, kacang hijau, kacang merah, dan kedelai tentu saja tetap penting diberikan karena selain melengkapi kebutuhan protein, bahan makanan tersebut juga mengandung serat yang sangat baik untuk kesehatan pencernaan anak serta mengandung berbagai fitonutrien yang berperan dalam pencegahan penyakit.

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber:

  1. Kaimila Y, Divala O, Agapova SE, et.al. Consumption of Animal-Source Protein is Associated with Improved Height-for-Age Z scores in Rural Malawian Children Aged 12-36 Months, Nutrients 2019.
  2. Mahan LK, Escott-Stump S. Krause’s Food & Nutrition Therapy. 2008.

Susu

 

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Salam Sehat, Keluarga Kejora! Semoga di tengah pandemi COVID-19 ini kita semua masih tetap sehat dan semangat, ya… Semoga kita semua mendapatkan nutrisi yang optimal sehingga semua dalam kondisi yang sehat.

Bicara mengenai nutrisi, tentunya kita tidak asing dengan bahan makanan berupa susu. Seringkali kita bingung untuk mengetahui susu mana yang terbaik untuk diberikan bagi si Kecil. Susu memang memiliki peran penting dalam nutrisi anak, mulai dari bayi yang minum ASI, balita yang makan sereal dengan susu, hingga remaja yang memasukkan susu ke dalam smoothie.

Berikut adalah beberapa pilihan susu bagi anak:

  • Susu sapi murni (3,25% lemak susu) dan susu kambing yang dipasteurisasi diperkaya dengan vitamin D dan asam folat adalah susu pilihan yang cocok untuk anak-anak di bawah usia dua tahun.
  • Setelah usia dua tahun, susu kedelai yang diperkaya (fortifikasi) dapat digunakan sebagai pengganti susu sapi.
  • Pilihan seperti almond, kelapa, beras, rami dan minuman nabati lainnya, tidak mengandung cukup protein dan lemak untuk memenuhi kebutuhan balita yang sedang tumbuh.
  • Sementara susu almond yang diperkaya dan minuman nabati lainnya dapat ditawarkan setelah usia dua tahun, namun tidak dihitung sebagai alternatif dari susu sapi.

Macam-macam Jenis Susu

  1. Susu Sapi: telah ada selama berabad-abad dan merupakan pilihan konsumen yang paling populer. Berasal dari kelenjar susu sapi. Perbedaan antara jenis-jenis susu sapi adalah persentase lemak yaitu whole milk, (mengandung) 2% lemak, 1% lemak, atau skim. Dari susu murni hingga susu skim, konsistensi susu menjadi lebih encer/cair dan rasanya menjadi lebih manis. Susu sapi adalah sumber protein, kalsium, dan vitamin B12. Vitamin B12 adalah nutrisi yang ditemukan secara alami dalam produk hewani yang sangat penting untuk fungsi otak, sistem saraf, dan pembentukan sel darah baru. Susu sapi adalah satu-satunya susu yang mengandung vitamin B12.
  2. Susu Almond: adalah pilihan bebas susu sapi yang dibuat dengan merendam dan menggiling almond dengan air. Susu almond mengandung tinggi magnesium, selenium, dan vitamin E. Susu almond dapat mendukung fungsi kekebalan tubuh, tulang, dan menyediakan banyak antioksidan. Untuk anak yang sensitif terhadap laktosa, susu almond adalah alternatif yang baik karena bebas laktosa dan kolesterol.
  3. Susu Kedelai: terdiri dari kedelai kering dan ditumbuk dengan air. Susu kedelai adalah sumber protein dan kalsium bagi yang memiliki intoleransi terhadap laktosa.
  4. Susu Rami/Hemp: dibuat dengan merendam benih rami dalam air dan kemudian menggilingnya. Pilihan ini lebih tinggi protein dan lemak sehat. Lemak dalam sebagian besar susu rami adalah asam lemak esensial tak jenuh seperti omega-6 dan omega-3 yang membantu membangun jaringan baru. Rami juga merupakan sumber vitamin B yang baik
  5. Susu Oat: terdiri dari gandum dan air. Susu oat mengandung tinggi serat larut dan beta-glukan. Beta-glukan sangat bagus untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.. Namun, susu gandum memiliki kandungan protein yang rendah.
  6. Susu Beras/Air tajin: dianggap paling hipoalergenik dari semua pilihan susu. Susu berat dibuat dengan merebus nasi, beras merah, atau pati beras merah. Susu ini adalah pilihan baik untuk mengontrol tekanan darah karena tingginya kadar magnesium.
  7. Santan: dibuat dengan mengambil daging bagian dalam kelapa, dididihkan dan kemudian disaring. Tekstur santan yang lebih kental, mengandung trigliserida rantai menengah (MCT) yang memberikan energi dan asam laurat untuk meningkatkan fungsi kekebalan tubuh.

Jika anak-anak tidak menyukai susu sapi cair, memiliki intoleransi laktosa, atau pada keluarga vegan, kandungan nutrisi yang ditemukan dalam susu sapi dapat tersedia dalam bahan makanan lain. Anak-anak masih dapat memenuhi kebutuhan nutrisi harian mereka tanpa susu dengan melalui asupan makan yang terencana dengan baik termasuk makanan lain yang kaya protein, kalsium, kalium, dan vitamin A dan D. Makanan yang terbuat dari susu sapi, seperti yogurt, kefir, dan keju, juga dapat memberikan pilihan untuk memasukkan nutrisi dari susu ke dalam makanan anak bahkan jika anak itu tidak suka susu sapi cair.

Menggunakan hanya susu untuk mencapai rekomendasi kebutuhan kalsium bukanlah ide yang bijaksana. Kebutuhan kalsium dari susu baru dapat terpenuhi jika minum lebih dari tiga cangkir susu sehari. Hal ini, dapat membuat anak kekenyangan sehingga tidak mau makanan anak, yang berakibat berisiko terhadap anemia defisiensi zat besi serta ketidakseimbangan nutrisi lainnya.

Jika anak Anda lebih memilih alternatif susu non-susu, seperti susu almond atau beras, pilihlah versi yang diperkaya dengan kalsium dan vitamin D. Kemudian, Anda harus memastikan untuk menawarkan makanan lain sepanjang hari yang mengandung protein, karena sebagian besar susu-susu alternatif mengandung protein sangat rendah.

Secara umum, sebagian besar anak mendapat manfaat dari mengonsumsi susu sapi, atau produk susu sapi, setelah mereka berusia 12 bulan (jika mereka tidak memiliki alergi susu). Perlu diingat bahwa balita yang masih menyusui 2-3 kali sehari atau yang masih minum susu formula, tidak memerlukan susu sapi tambahan.

Berapa Banyak Susu yang Dibutuhkan Anak-Anak?

Hal ini tergantung dari usia dan kebutuhan anak, tetapi rekomendasi yang biasa adalah:

1 hingga 2 tahun         : 2 gelas susu setiap hari

Usia 3 tahun ke atas    : 3 gelas susu setiap hari

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Pemberian Makan Bayi dan Anak selama Pandemi

oleh dr. Yohannessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinis

Halo, Ayah dan Ibu Sehat Kejora!

Ayah dan Ibu tentu tahu bahwa nutrisi menjaga pertumbuhan sehat, meningkatkan perkembangan otak bayi dan anak, dan memperkuat sistem imun, sehingga mengurangi risiko terinfeksi virus atau penyakit terlebih lagi di saat pandemic seperti sekarang ini.

Nutrisi sangat penting pada 2 tahun pertama kehidupan anak. Nutrisi yang sesuai dengan usia anak akan mengurangi risiko overweight atau obesitas di kemudian hari, juga terhindar dari penyakit kronis di masa depan kehidupan.

Tetap teruskan pemberian ASI eksklusif bagi bayi hingga usia 2 tahun. Bagi bayi usia 6 bulan ke atas, mulai berikan MP-ASI dari bahan makanan segar dan bukan makanan olahan mengandung komposisi dari 4 grup jenis makanan (karbohidrat, protein dan lemak dari lauk hewani, nabati, sayur, serta buah) setiap harinya.

Nutrisi yang beragam dapat meningkatkan sistem imun anak. Berikan pola makan sehat seimbang terdiri dari karbohidrat, lemak, protein, tak lupa sayur dan buah-buahan berwarna oranye/kuning, juga sayuran berwarna hijau tua. Ingatkan anak untuk minum air 8–10 gelas setiap harinya (termasuk dari makanan, misal sup, buah dan sayur berair seperti timun, tomat, bayam, jamur, melon, brokoli, jeruk, apel). Hindari pemberian makan makanan mengandung gula, garam, dan lemak jenuh/trans berlebihan.

Selalu utamakan makan makanan yang berasal dari masakan rumah dari bahan segar alami secara higienis untuk menjaga kualitas makanan keluarga. Dengan memasak makanan sendiri di rumah, Ayah dan Ibu mengetahui dengan jelas apa saja bahan-bahan masakan yang digunakan, dibandingkan membeli makanan jadi/junk food dari luar rumah. Ajak anak yang berusia lebih besar untuk membantu di dapur atau menyiapkan makanan di meja. Makan makanan rumah bersama keluarga mengurangi risiko kontak dengan virus.

Berikut panduan pemberian makan bagi bayi dan anak sesuai usia:

  • Usia 6–8 bulan: berikan makan 2–3 kali per hari dengan porsi setiap makan 2–3 sendok makan bertahap hingga ½ gelas atau 125 ml, konsistensi lumat/saring. Siapkan bubur saring/lumat dan tambahkan telur/daging matang, dan sayur. Buah dapat diberikan di jam selingan/snack. Jika bahan makanan segar tidak tersedia karena pembatasan sosial berskala besar (PSBB), maka dapat digantikan dengan makanan keluarga yang ditumbuk (mashed) atau dibuat puree. Bila terpaksa, dapat digunakan produk kalengan/frozen dengan kandungan gula dan garamnya rendah. Konsistensi makanan lumat/saring yang diharapkan yaitu makanan cukup kental sehingga dapat menempel pada sendok. Makanan lumat/saring yang terlalu encer akan cepat membuat perut bayi terasa kenyang.
  • Usia 9–11 bulan: berikan makan 3–4 kali per hari dengan porsi setiap makan ½ gelas bertahap hingga ¾ gelas atau 200 ml, konsistensi lembik. Usia 9–11 bulan, bayi mulai belajar mengunyah makanan sehingga dapat mengonsumsi lauk yang dipotong kecil-kecil.
  • Usia 12–24 bulan: berikan makan 3–4 kali per hari dengan porsi setiap kali makan nasi ¾ gelas, lauk hewani 1 potong kecil, lauk nabati 1 potong kecil, ¼ gelas sayur, 1 potong buah. Anak mulai makan makanan keluarga dan makan sendiri dari piringnya. Tambahkan 1–2 selingan/snack sehat berupa buah atau sayur berupa potongan kecil-kecil dan lembut agar dapat digunakan sebagai finger foods. Pisang merupakan contoh yang dapat digunakan sebagai snack Hindari pemberian cemilan asin seperti keripik kemasan atau manis (kue kering, cake, coklat) atau minuman soda/konsentrat jus buah/sirup atau susu dengan rasa yang dapat dibeli dengan harga murah. Jenis makanan/minuman tersebut membahayakan kesehatan anak karena mengandung tinggi gula, garam, lemak trans, dan bahan kimiawi.
  • Jika terpaksa, bijak dalam memilih makanan instan bagi bayi/anak. Perhatikan kandungan nutrisi, pilihlah makanan yang tidak mengandung tinggi gula, garam, atau lemak trans/jenuh, serta seimbangkan dengan masakan rumah dari bahan segar.

Berikut panduan pemberian makan sesuai jenis makanan:

  • Protein diberikan sebanyak 2–3 porsi sehari. Protein hewani ikan (salah satunya jenis oily fish) minimal 2 kali per minggu. Kacang-kacangan merupakan protein nabati dan disarankan bagi anak di atas usia 5 tahun.
  • Buah untuk anak usia 2–3 tahun sebanyak 200 ml per hari, usia 4–13 tahun sebanyak 350 ml
  • Sayur untuk anak usia 2–3 tahun sebanyak 200 ml per hari, usia 4–8 tahun sebayak 350 ml per hari. Variasikan sayuran antara lain sayuran dengan daun berwarna hijau, sayuran warna merah dan oranye.
  • Usahakan /tidak memasak sayur dan buah ovecooked karena dapat kehilangan beberapa sumber vitamin.
  • Jika terpaksa harus memakan sayur buah kalengan/kering, pilihlah tanpa tambahan garam atau gula.

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber: Unicef, WHO EMRO, Perinasia Pelatihan MPASI

Menyusui dan Covid-19

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Menyusui merupakan kebutuhan eksklusif bayi selama 6 bulan pertama kehidupan. ASI memberikan kecukupan dan kelengkapan nutrisi serta perlindungan terhadap berbagai penyakit.

 

Berikut rekomendasi para ahli mengenai menyusui di tengah pandemik COVID 19 :

 

Banyak yang belum diketahui tentang sifat dan penyebaran penyakit COVID 19 serta virus penyebab penyakit ini, yakni SARS-COV 2.  Belum diketahui apakah seorang ibu dapat menularkan COVID-19 pada bayinya melalui ASI atau tidak. Namun, penularan virus sakit pernafasan melalui ASI tergolong rendah, sehingga WHO ( World Health Organization) tetap memberikan rekomendasi bagi ibu yang terinfeksi flu maupun COVID-19 untuk tetap menyusui. Hal ini juga berlaku bagi ibu dengan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) lainnya.

 

Seorang ibu yang positif COVID-19 atau yang tergolong Pasien dalam Pengawasan (PDP) dapat menerapkan langkah-langkah berikut ini:

  • Cuci tangan sebelum bersentuhan dengan bayi, peralatan pompa, dan peralatan minum bayi
  • Ikuti semua petunjuk cara membersihkan peralatan pompa dan minum bayi
  • Gunakan masker wajah saat menyusui bayi
  • Apabila ibu harus dalam perawatan terpisah dengan bayi, cari informasi terkait donor asi / orang sehat yang dapat memberikan ASI perah kepada bayi

 

Editor : drg. Annisa Sabhrina (@asabhrina)

 

Referensi:

https://www.bfmed.org/abm-statement-coronavirus

https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/specific-groups/pregnancy-guidance-breastfeeding.html

https://www.ilca.org/main/learning/covid-19

 

WELLNESS is the solution to prevent ILLNESS

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo Keluarga Kejora… Di tengah maraknya wabah COVID-19 ini, tentu penting bagi kita untuk meningkatkan dan menjaga imunitas agar terhindar dari penyakit berbahaya tersebut. Bagaimana caranya, ya? Makan makanan yang sehat sangat penting untuk menjaga imunitas. Selain itu, perlu juga ditunjang dengan minum air putih yang cukup, dan berolahraga.

Sekarang, kita bahas satu-satu, ya!

A) Makan Makanan yang sehat

  1. Karbohidrat

Untuk pemenuhan karbohidrat, pilihlah karbohidrat yang kompleks dan usahakan dari bahan yang alami. Contoh karbohidrat yang dimaksud adalah ubi, jagung, kentang, singkong, dan nasi. Kalau nasi kuning yang diberi kunyit itu, bagaimana? Tentu saja boleh. Karbohidrat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan ini mengandung banyak vitamin dan mineral yang disediakan alam. Sebisa mungkin batasi karbohidrat dari processed foods, seperti mie instan, roti, produk hasil tepung dan gula, semua kue dan minuman yang tinggi gula. Walaupun kebanyakan dari produk-produk ini ditambahkan vitamin dan mineral, tetap saja kita memiliki risiko mengonsumsi garam, gula, pengawet, pewarna, dan bahan aditif lain secara berlebihan.

  1. Protein dan Lemak
  • Protein hewani

Ikan merupakan protein hewani dengan kandungan lemak terbaik. Untuk protein hewani yang bersumber dari daging kambing, ayam, sapi, carilah yang memiliki kandungan lemak yang rendah. Lemak hewani yang terlalu banyak dapat meningkatkan risiko radang dalam tubuh kita. Hindari pengolahan secara deep fry dan bagian yang  gosong jika diolah dengan cara dibakar atau dipanggang. Bagian gosong ini mengandung nitrosamine yang sangat berbahaya, karena dapat menyebabkan kanker.

  • Protein nabati

Protein nabati tentu sangat baik untuk tubuh kita. Sumber protein nabati  yang dapat kita konsumsi adalah kacang hijau, kacang merah, tauge, dan biji-bijian. Cara konsumsinya pun beragam, bisa dijadikan sayur seperti sup kacang merah. Untuk cara yang lebih menyenangkan, kacang hijau dapat dibuat menjadi bubur kemudian langsung dikonsumsi, atau dimasukkan ke dalam plastik kecil dan dibekukan menjadi es. Untuk tauge dan biji-bijian diketahui sangat baik karena mengandung banyak vitamin E dan mineral-mineral.

  • Lemak

Lemak yang baik sangat penting untuk komponen membran sel kita. Makanlah lemak dari bahan makanan sumber lemak sehat seperti alpukat, ikan salmon, cemilan kacang almond, walnut dan kacang lainnya. Tentu lemak baik ini perlu dikonsumsi dengan benar. Hindari mengonsumsi coklat yang mengandung almond, jus alpukat dengan susu kental manis, dan granola bars, karena lebih banyak gulanya daripada lemak baik itu sendiri.

  1. Serat, Vitamin, dan Mineral

Sumber vitamin dan mineral yang sangat dibutuhkan dalam menjaga sistem imun juga berasal dari konsumsi sayur dan buah-buahan. Mengonsumsi sayur dan buah-buahan yang bervariasi sangat penting karena setiap jenis sayuran dan buah-buahan memiliki kandungan vitamin dan mineral yang berbeda, dan semuanya dibutuhkan untuk metabolisme tubuh kita.

Variasi buah dan sayuran ini juga sebaiknya memperhatikan berbagai warna yang menandakan jenis kandungan antioksidan yang berbeda juga: baik yang berwarna merah seperti tomat, apel, buah bit, bayam merah; atau yang berwarna oranye dan kuning: seperti labu, ubi, jeruk, wortel; warna hijau: bayam, bok choy, selada, brokoli; putih: sawi, kecambah, lobak, kembang kol; biru dan ungu: anggur, plum, bit, kol ungu, ubi ungu, terong.

Buah dan sayuran mengandung vitamin, mineral, dan antioksidan alami dengan bioavailability yang baik. Artinya, vitamin dan mineral ini dapat diserap dan digunakan dalam sistem pertahanan tubuh dengan baik.

Buah-buahan seperti jambu biji, kiwi, jeruk, mangga, tomat, paprika merupakan buah-buahan dan sayuran yang mengandung vitamin C dan sangat baik dikonsumsi pada saat wabah COVID19. Vitamin C adalah antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas, serta digunakan dalam berbagai enzim dalam proses metabolisme tubuh kita. Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang kekurangan vitamin C mengalami penurunan imunitas dan lebih rentan terhadap infeksi.

Walaupun banyak orang telah mengetahui peranan vitamin D untuk pembentukan dan kekuatan tulang dan gigi, masih banyak orang yang belum mengetahui peranan vitamin D untuk imunitas. Vitamin D dalam tubuh dibentuk dari sinar UV B matahari melalui kulit dan juga didapatkan dari bahan makanan sumber vitamin D. Hasil penelitian menunjukkan, orang-orang yang memiliki kadar vitamin D yang rendah lebih berisiko mengalami infeksi (infeksi saluran pernafasan, virus influenza, maupun infeksi bakteri) dibandingkan mereka yang memiliki kadar vitamin D yang lebih tinggi. Beberapa makanan sumber kaya vitamin D: ikan salmon, jamur, beberapa makanan yang difortifikasi (susu sapi, susu soya, tahu, yogurt, cereal, jus jeruk), kuning telur.

B) Minum Air Putih

Minum air putih atau air mineral juga tidak kalah penting dalam menjaga imunitas, karena semua proses metabolisme yang terjadi dalam tubuh kita sangat membutuhkan sekali air putih. 60% tubuh kita juga terdiri dari air, lho! Berapa banyak air putih yang dibutuhkan oleh seseorang? Jumlah air putih yang dibutuhkan untuk seorang dewasa sehat berkisar 25-30ml/kgBB/hari. Sedangkan lansia membutuhkan cairan lebih sedikit, yaitu sekitar 1500 ml/hari.

C) Aktivitas fisik, olahraga dan menjaga kebersihan

Aktivitas fisik dan olahraga dengan intensitas ringan-sedang juga sangat berperan menjaga sistem imun kita. Berjalan sebanyak 10.000 langkah sehari dan melakukan olahraga dengan intensitas ringan-sedang selama 30 menit per hari (atau 150 menit per minggu) adalah gaya hidup aktif yang disarankan. Menjalankan gaya hidup aktif ini dapat meningkatkan imunitas kita.

Editor: drg. Valeria Widita W

Cegah Anemia, Cegah Stunting

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Tahukah Ayah dan Ibu bahwa ternyata 1 dari 2 ibu hamil di Indonesia masih mengalami anemia? Lebih tepatnya 48.9% ibu hamil di Indonesia mengalami anemia. Salah satu penyebab anemia yang sering terjadi adalah anemia karena kekurangan zat besi atau yang sering disebut anemia defisiensi besi.

Zat besi merupakan salah satu unsur terpenting yang membentuk hemoglobin dalam sel darah merah yang akan membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Selama kehamilan, kebutuhan zat besi meningkat untuk dapat mencukupi kebutuhan pasokan oksigen yang diangkut oleh darah ke janin. Apabila hemoglobin tidak cukup, maka kapasitas darah untuk mengangkut oksigen ke janin akan menurun dan mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin. Kondisi ini dapat meningkatkan kejadian kelahiran prematur serta berat badan janin yang rendah, yang pada akhirnya meningkatkan risiko stunting. Oleh sebab itu, intervensi gizi spesifik pada ibu hamil menjadi salah satu sasaran prioritas dalam Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting 2018-2024

Anemia tidak hanya disebabkan oleh kekurangan zat besi, namun dapat juga karena kekurangan zat gizi lain seperti asam folat dan vitamin B12. Tetapi, yang akan dibahas lebih lanjut mengenai kecukupan zat besi pada ibu hamil. Pada trimester 2 dan 3, ibu hamil membutuhkan tambahan 9 dan 13 mg zat besi dibandingkan dengan kebutuhan sebelum hamil. Biasanya dokter kandungan atau bidan akan memberikan suplementasi tambahan zat besi untuk ibu hamil.

Zat besi dalam bahan makanan terdapat dalam dua bentuk, yaitu besi heme dan besi non-heme. Besi heme terdapat dalam bahan makanan hewani, seperti daging sapi, ati ayam dan ati sapi, seafood, ikan, kerang, dan unggas. Sekitar 50 sampai 60% besi dalam daging sapi, ikan, dan unggas merupakan besi heme, dan sisanya merupakan besi non-heme. Sedangkan besi non-heme terutama terdapat pada bahan makanan nabati (kacang-kacangan, buah, sayur, biji-bijian, dan tahu), dan produk dairy (susu, keju, telur). Selain dari sumber alamiah tersebut, zat besi juga bisa didapatkan dari bahan makanan yang difortifikasi atau diperkaya seperti roti, pasta, dan sereal.

Besi heme lebih mudah diserap oleh saluran cerna dibandingkan dengan besi non-heme. Sedangkan untuk besi non-heme terdapat beberapa faktor yang dapat membantu penyerapannya (enhancer), seperti fruktosa (gula buah), asam askorbat (vitamin C), dan asam sitrat. Pahami pula bahwa penyerapan besi non-heme juga bisa dihambat oleh zat tanin yang ada pada teh dan kopi, oksalat pada bayam, cokelat dan teh, serta mineral lain seperti kalsium, zinc dan mangan. Bahkan minum kopi saat makan atau segera setelah makan dapat menurunkan penyerapan besi hingga 40% lho, Ayah dan Ibu!

Penyerapan besi non-heme (termasuk yang ada pada suplemen) membutuhkan kondisi yang asam pada lambung dan penyerapannya mudah dihambat oleh berbagai faktor, maka mengonsumsi suplemen besi sebaiknya dalam kondisi perut kosong dan tidak dikonsumsi bersama dengan suplemen lain. Selain itu saat makan, ada baiknya Ibu tidak mengonsumsi teh, minuman cokelat atau kopi agar penyerapan zat besi dapat optimal, dan gantilah dengan minuman tinggi vitamin C seperti jus buah ataupun buah potong!

Editor: drg Rizki Amalia

 

Sumber:

  1. Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting 2018-2024. Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan.
  2. Maternal Anemia and Pregnancy outcomes: a Systematic Review and Meta-analysis. Int J of Pediatrics 2016.
  3. The International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO) recommendation on adolscent, preconception, and maternal nutrition: “Think Nutrition First”. Int J of Gynecology and Obstetrics 2015.
  4. Essential Trace and Ultratrace Minerals. Advanced Nutrition and Human Metabolism, 6 edition. 2013.

 

 

Diet Bebas Gluten

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, M.Gizi. Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo Keluarga Kejora…

Saat ini kita sering sekali mendengar adanya makanan bebas gluten. Para influencer yang melakukan diet bebas gluten juga banyak yang memberikan testimonial bahwa tubuh menjadi terasa lebih sehat. Benarkah makanan bebas gluten itu lebih sehat? Apakah semua orang atau anak dapat mengikuti diet bebas gluten?

Apa itu gluten?

Gluten adalah protein yang ditemukan pada biji-bijian (grains) seperti gandum, rye, spelt dan barley. Protein utama pada gluten adalah glutenin dan gliadin. Gliadin inilah yang sering ditemukan pada masalah kesehatan.

Saat tepung terigu dicampurkan dengan air, protein gluten akan membentuk jaringan lengket dengan konsistensi seperti lem. Bentuk seperti lem tersebut yang membuat adonan elastis dan membuat roti mengembang ketika dipanggang dan juga enak dikunyah, memberikan tekstur empuk.

Bahan makanan bebas gluten yang berkembang dekade terakhir ini memiliki tingkat penjualan yang terus meroket. Penjualan makanan bebas gluten secara global diperkirakan mencapai $4,89 milyar pada tahun 2021, meningkat tajam dari $2,84 milyar pada tahun 2012. Peningkatan penjualan makanan bebas gluten ini terjadi bukan hanya karena banyaknya peningkatan konsumen yang memang membutuhkan diet bebas gluten, namun juga pada jumlah konsumen yang tidak membutuhkan diet bebas gluten, pembeli dengan alasan kesehatan, hingga trend yang juga meningkat.

Apakah semua orang dapat mengikuti diet bebas gluten?

Banyak sekali orang menerapkan diet bebas gluten untuk dirinya dan bahkan anaknya. Makanan bebas gluten memang aman untuk dimakan, tapi bukan berarti memiliki nilai kalori yang rendah. Banyak makanan dan snack bebas gluten memiliki kalori dan lemak yang tinggi. Selain itu, makanan ini seringkali juga tidak diperkaya dengan vitamin dan mineral. Sehingga, seseorang yang melakukan diet bebas gluten tanpa diawasi dokter gizi klinik tentunya akan meningkastkan risiko orang tersebut tidak mendapatkan beberapa zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Makanan bebas gluten seringkali rendah zat besi,kalsium, zinc, vitamin B12, folat dan juga serat.

Siapa saja yang membutuhkan diet bebas gluten?

Terdapat beberapa kondisi yang memerlukan diet bebas gluten yaitu:

  • Penyakit seliak (celiac disease)

Merupakan reaksi autoimun terhadap gluten. Diagnosis penyakit seliak dilakukan oleh dokter melalui serangkaian pemeriksaan mulai dari riwayat medis, pemeriksaan fisik hingga pemeriksaan darah atau biopsi. Anak-anak biasanya terdiagnosis penyakit seliak usia 6 bulan–2 tahun pada saat mulai MPASI mencoba makanan yang mengandung gluten. Gejala penyakit seliak tersering adalah diare, penurunan selera makan, sakit perut dan kembung, pertumbuhan terganggu, dan berat badan turun. Terapi satu-satunya untuk penyakit seliak adalah diet bebas gluten secara ketat.

  • Alergi gandum

Orang dengan alergi gandum memiliki reaksi imun terhadap protein di dalam gandum. Reaksi terhadap gandum tersebut dapat terjadi dalam beberapa menit hingga beberapa jam setelah mengonsumsi gandum. Reaksi yang dapat dialami antara lain: mual, nyeri perut, gatal, bengkak pada bibir dan lidah, sulit bernafas atau anafilaksis. Orang dengan alergi gandum tidak dapat makan bahan makanan dari gandum tapi masih bisa mengonsumsi gluten dari bahan makanan selain gandum. Anak-anak dengan alergi gandum dapat mengalami perbaikan setelah dewasa, tapi satu-satunya yang harus dilakukan adalah diet bebas gandum.

  • Non-celiac gluten sensitivity

NCGS bukan merupakan respon autoimun (seperti penyakit seliak) ataupun bukan respon imun (seperti alergi gandum). Saat ini belum terdapat tes untuk menegakkan diagnosis sensitivitas gluten, namun dapat dilakukan pemeriksaan biopsy dan tes alergi untuk menyingkirkan diagnosis penyakit seliak atau alergi gandum. Selain itu, jika gejala yang dialami anak mengalami perbaikan setelah menjalani diet bebas gluten seringkali diagnosis sensitivitas gluten ditegakkan.

Bahan Makanan yang mengandung gluten

  • Makanan berbasis gandum seperti dedak gandum, tepung terigu, spelt, durum, kamut dan semolina
  • Jelai / barley
  • Gandum hitam/ rye
  • Triticale
  • Malt
  • Ragi

Di bawah ini adalah beberapa makanan yang mengandung bahan-bahan yang mengandung gluten:

  • Semua roti berbasis gandum.
  • Semua pasta berbasis gandum.
  • Kecuali berlabel bebas gluten.
  • Makanan panggang. Kue, muffin, pizza, remah roti dan kue kering.
  • Makanan ringan. Permen, bar muesli, kerupuk, makanan siap saji, kacang panggang, keripik rasa dan popcorn, pretzel.
  • Kecap asin, saus teriyaki, saus hoisin, bumbu, saus salad.
  • Bir, minuman beralkohol rasa.
  • Makanan lainnya. Couscous, kaldu (kecuali berlabel bebas gluten).

Cara termudah untuk menghindari gluten adalah dengan mengonsumsi makanan yang mengandung bahan tunggal. Jika tidak, kita harus membaca label makanan dari sebagian besar makanan yang dibeli.

Oat sebenarnya merupakan bahan makanan bebas gluten secara alami. Namun, seringkali terkontaminasi dengan gluten, karena mungkin diproses di pabrik yang sama dengan makanan berbasis gandum.

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Sumber

  1. Transparency Market Research. Gluten-free Food Products Market
    to reach US$4.89 bn by 2021; Driven by Rising Number of Celiac Disease Patients across the globe: TMR. 2017.
  2. Elliott C. The Nutritional Quality of Gluten-Free Pro- ducts for Children. 2018;142(2):e20180525

PERLUKAH SUSU UNTUK BATITA?

 

 

 

 

oleh dr. Nessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Ayah dan Ibu sehat Kejora!
Pernahkah Ayah dan Ibu bertanya, apakah anak saya perlu diberi susu? Harus diingat bahwa rekomendasi menyatakan susu terbaik bagi bayi/anak usia 0–2 tahun adalah ASI. Usia 0–6 bulan wajib memberikan ASI eksklusif jika memungkinkan. Di atas 6 bulan, ASI dilengkapi dengan MPASI.

Susu berguna sebagai pelengkap makanan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi anak dengan maksimal 500 mL per hari. Perlu tidaknya susu sebagai nutrisi tambahan bagi anak batita harus disesuaikan dengan status gizi anak (termasuk status zat besi dan kalsium), oleh karena itu sebelum memberikan susu bagi anak selalu konsultasikan ke dokter.

Jenis susu untuk balita ada bermacam-macam, yaitu:

• Susu sapi cair:

  1. Susu jenis pasteurisasi
    Pasteurisasi merupakan proses pengolahan susu sapi berupa pemanasan. Pemanasan tersebut bertujuan untuk mengurangi jumlah bakteri/mikro-organisme yang bersifat merugikan bagi tubuh manusia (patogen) sehingga tidak lagi membahayakan kesehatan. Suhu pemanasan berkisar 630C selama 30 menit atau 720C selama 15–30 detik. Hasil dari pengolahan jenis pasteurisasi dapat menghasilkan susu full cream (lemak susu minimal 3,25%), low-fat milk (lemak 1%), juga skim milk (lemak 0,1%), dengan kandungan nutrisi berbeda-beda
  2. Susu jenis UHT
    UHT merupakan singkatan dari ultra high temperature. Proses UHT merupakan pengolahan susu sapi berupa pemanasan yang dikombinasi dengan proses sterilisasi pengemasan. Proses tersebut bertujuan untuk menghilangkan bakteri agar tidak mampu tumbuh berkembang di dalam kemasan tertutup pada suhu normal ruang. Suhu yang digunakan dalam proses UHT yaitu 135–1500C selama 2–5 detik. Hasil dari pengolahan jenis UHT dapat menghasilkan susu full cream (lemak susu minimal 3,25%), low-fat milk (lemak 1%), juga skim milk (lemak 0,1%), dengan kandungan nutrisi berbeda-beda. Setelah melalui proses UHT, tidak terjadi perbedaan nilai nutrisi pada lemak, protein kasein, laktosa dan garam mineral dibandingkan susu sapi perah, namun beberapa jenis vitamin hilang akibat pemanasan UHT seperti vitamin B1, B6, B9, B12 dan vitamin C.

Susu formula untuk batita (growing up milk/toddler milk): susu diperuntukkan untuk anak usia 1–3 tahun, umumnya untuk menggantikan susu sapi. Memiliki kandungan kadar zat besi, vitamin C dan vitamin D lebih banyak dibandingkan susu sapi.

Susu segar atau susu yang langsung berasal dari sapi dan tidak melalui proses pemanasan adalah jenis susu yang tidak direkomendasikan untuk anak.

Sebelum memilih susu sapi atau growing up milk untuk batita Anda, konsultasi terlebih dahulu kepada dokter, perlukah pemberian tambahan susu? Perlu tidaknya pemberian tambahan susu untuk batita dipengaruhi oleh status gizi dan pola makan anak. Jika perlu, pemilihannya juga sebaiknya dikonsultasikan ke dokter sesuai kebutuhan batita Anda, karena kondisi setiap anak berbeda satu sama lain.

Ayah dan Ibu juga perlu memperhatikan juga kebersihan gigi dan mulut anak apabila mengonsumsi growing up milk atau susu sapi cair non-plain/memiliki rasa, karena kedua susu tersebut mengandung sukrosa/gula yang meningkatkan risiko gigi berlubang.

Editor : drg. Rizki Amalia

Sumber: WHO codex alimentarius, dairy processing handbook, IDAI.

Tips Menyusui Di Saat Musim Hujan dan Banjir

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Ayah dan Ibu Kejora, di tengah musim hujan dan kondisi banjir, mari simak tips menyusui dari kami:

 

Tepis mitos bahwa Ibu yang sedang menyusui dalam keadaan stress, lelah, dan trauma memiliki kendala atau bahkan tidak bisa menyusui. Ubah pemikiran dan fokus pada penyelesaian masalah, karena secara umum Ibu menyusui dapat memproduksi ASI yang cukup untuk bayinya.

Oleh karena itu, sangat perlu dibedakan produksi ASI yang memang kurang atau persepsi bahwa produksi ASI tidak cukup. Produksi ASI relatif tidak terpengaruh jumlah dan kualitasnya, kecuali pada Ibu yang mengalami malnutrisi berat. Keadaan malnutrisi berat hanya ditemukan pada 1% ibu menyusui.

 

Beberapa hal yang perlu diperhatikan Ayah dan Ibu Kejora:

  • Jaga kebersihan diri
    • Pastikan kebersihan tangan dengan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama setidaknya 20 detik. Apabila tidak tersedia fasilitas untuk cuci tangan, bisa gunakan hand-rub.

 

  • Jaga kelanjutan mengASIhi
    • Teruskan mengASIhi bayi Ayah dan Ibu Kejora apapun metodenya. Menyusui langsung adalah metode yang paling alami dan mudah. Meski sedang mengalami kondisi bencana.

 

  • Menggendong bayi
    • Kegiatan menggendong bayi dapat menurunkan tingkat stress Ibu dan bayi, dan membuat proses menyusui lebih nyaman.

 

  • Belajar perah ASI dengan jari tangan
    • Dalam keterbatasan sarana dan tempat, teknik perah ASI dengan jari tangan, atau “marmet” dapat menjadi andalan.

 

  • Mempersiapkan tempat/rencana untuk menyimpan ASI Perah
    • Persiapkan wadah cadangan serta tempat pendingin untuk memindahkan stok ASI perah. Selain itu, bisa memindahkan stok ASI Perah ke lemari pendingin yang aman (dititipkan di rumah kerabat, kantor, atau tempat penitipan)

 

Editor : drg. Annisa Sabhrina

Sumber

http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/menyusui-dalam-keadaan-bencana

 

 

Mengenal Ultra-Processed Foods (UPF bagian I)

 

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo Keluarga Sehat Kejora! Kali ini, kita akan membahas mengenai ultra-processed foods(UPF). Melalui terjemahan bahasa yang sederhana, UPF adalah makanan yang diproses “ultra”. Arti dari “processed foods” atau makanan-yang-telah-melalui-pemrosesan sendiri adalah bahan makanan yang telah diubah dari bentuk alaminya. International Food Information Council menjelaskan arti pemrosesan (makanan) sebagai “perubahan bahan makanan dalam bentuk apapun sebelum makanan itu siap dimakan”.  Proses pemanasan, pasteurisasi, pengalengan, dan pengeringa nsemuanya dapat dikategorikan sebagai pemrosesan makanan. Jadi, selain memetik apel dari pohon dan langsung memakannya atau memerah susu sapi segar dan langsung meminumnya, sesungguhnya sebagian besar makanan yang kita konsumsi merupakan makanan pemrosesan (processed foods, PF). Nah, lalu apa sih perbedaan makanan proses (PF) dengan makanan proses ultra (UPF)?

 

NOVA adalah salah satu alat yang telah divalidasi oleh Food and Agriculture Organization (FAO) dan Pan American Health Organization untuk penelitian gizi dan kesehatan masyarakat yang membagi klasifikasi makanan berdasarkan pemrosesan makanan. Penelitian dan publikasi mengenai NOVA telah dilakukan sejak tahun 2009 karena kesadaran terhadap tingginya (pandemi) angka kejadian penyakit tidak menular yang berhubungan dengan diet/makanan, khususnya mengenai pemrosesan makanan.

 

NOVA mengkategorikan makanan menjadi 4 grup:

1. “Unprocessed or minimally processed foods” yaitu makanan yang tidak melalui pemrosesan atau sedikit sekali mengalami pemrosesan. Bahan makanan alami ini dapat merupakan bagian dari tumbuhan (biji, daging buah, daun, tunas, akar) atau hewan (otot, telur, susu), dan juga jenis jamur, ganggang, dan air.

Makanan dalam grup ini dapat dikonsumsi setelah melalui proses sederhana seperti membuang bagian yang tidak diperlukan, mengeringkan, memecahkan, menggiling, memotong, memfilter, memanggang, merebus, pasteurisasi, mendinginkan, membekukan, memasukkan dalam tempat makanan, di-vacuum, atau fermentasi non-alkoholik.

Contoh: buah/sayuransegar, perasan sari buah/sayur, buah/sayur yang didinginkan, dibekukan, dikeringkan; jagungutuh; legumes seperti kacang merah, kacang hijau, dll; akar-akaran seperti kentang dan singkong; jamur segar atau jamur kering; ikan dan makanan laut; telur; susu; bahkan dalam grup 1 ini juga termasuk granola yang terbuat dari sereal, kacang yang dikeringkan tanpa penambahan gula, minyak dan madu.

 

2. “Processed culinary ingredientsyaitu makanan dari grup 1 atau dari alam yang diproses dengan pressing (penekanan), refining, grinding (penggilingan), milling, spray drying.

Tujuan dari pengolahan bahan makanan grup 2 ini adalah untuk menciptakan produk yang digunakan di dapur rumah/restoran yang telah siap untuk digunakan untuk memberikan bumbu, rasa dan memasak makanan di grup 1.

contoh: gula dan molasses dari tebu atau bit, garam yang diolah dari air laut, madu yang diekstrak dari sarang lebah dan sirup dari pohon maple, minyak dari zaitun dan biji-bijian, mentega dari susu dan lemak hewani, juga starch(pati) dari jagung/tumbuhan lainnya.

 

3. “Processed foodsyaitu produk makanan yang ditambahkan gula, garam, minyak, atau makanan grup 2 ke dalam makanan grup 1. Kebanyakan makanan dalam grup ini memiliki 2 atau 3 bahan dalam komposisi makanannya. Proses yang dimaksud dalam grup ini termasuk berbagai jenis pengawetan atau cara memasak.

Tujuan pengolahan makanan di grup ini adalah untuk meningkatkan ketahanan makanan grup 1, atau untuk meningkatkan kualitas rasa.

contoh: sayuran dalam kaleng, kacang dan biji-bijian yang telah diberi garam atau gula/madu, buah dalam sirup yang dikalengkan, ikan kalengan, daging asap, dll.

 

4. “Ultra-processed foodsyaitu kelompok makanan yang pada umumnya merupakan hasil formulasi industri dengan komposisi makanan yang sangat banyak (biasanya lebih dari 5 jenis). Beberapa jenis bahan komposisi yang terdapat di dalam UPF: gula, minyak, lemak, garam, antioksidan, penyeimbang, pengawet. Bahan yang hanya dapat ditemukan dalam grup ini termasuk bahan yang biasanya tidak digunakan dalam proses memasak, juga zat aditif yang bertujuan untuk imitasi rasa dari grup 1 atau menyamarkan bau/rasa/warna yang tidak diinginkan. Biasanya bahan makanan dari grup 1 hanya memiliki proporsi sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali dari grup ini.

Bahan yang hanya ada pada produk UPF seringkali merupakan ekstrak dari makanan grup 1, seperti kasein, laktosa, whey, gluten, minyak hidrogenasi atau interesterifikasi, protein hidrolisat, isolate protein kedelai, maltodextrin, high fructose corn syrup; sedangkan aditif yang hanya bisa ditemukan dalam grup ini: pewarna, penstabil pewarna, perasa, peningkat perasa, pemanis non-gula, dan berbagai tambahan agen karbonasi, pengelmusi, dan lain-lain.

Tujuan utama industri UPF ini adalah menciptakan produk yang siap saji, untuk diminum atau dimakan, atau dipanaskan. Beberapa karakteristik makanan dalam grup ini adalah: hyperpalatibility (sangat gurih, sangat sedap), memiliki kemasan yang sangat menarik, menggunakan cara marketing yang agresif terhadap anak dan konsumen dewasa muda, klaim kesehatan, memiliki banyak keuntungan, penggunaan branding.

contoh: minuman soda, cemilan dalam kemasan, eskrim, coklat, permen, roti hasil produksi masal, margarin, biskuit, kue tart, “breakfast cereal”, “cereal” dan “energy bar”, minuman susu, “fruit yogurt”, minuman coklat, ekstrak daging dan saus instan, susu formula, “health” and “slimming” products, “nuggets”, sosis, burger, hot dog, pizza, hasil olahan daging, sup instan, mie instan, makanan penutup instan.

 

Editor: drg. Valeria Widita W