Obstruksi Duktus Nasolakrimal Kongenital (ODNLK)

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

 

Halo Keluarga Kejora… Apa kabar semua?

Kali ini saya mendapat kesempatan untuk membahas topik dengan judul Obstruksi Duktus Nasolakrimal Kongenital (ODNLK). Saat membaca judul ini, sepertinya sulit ya Ayah dan Ibu Kejora memahaminya. Namun sebetulnya kelainan ini cukup sering ditemukan, terutama pada bayi-bayi baru lahir sampai 1 tahun pertama kehidupan. Supaya lebih mudah memahami, ODNLK itu merupakan sumbatan pada saluran keluar air mata. Ayah dan Ibu mungkin pernah mendengar atau mempunyai pengalaman seorang bayi atau batita/balita dengan keluhan matanya berair dan belekan tanpa adanya mata merah. Terkadang pada beberapa kasus sampai terjadi bengkak di pangkal hidung dekat mata bagian dalam. Nah, ini merupakan salah satu tanda dari ODNLK.

Yuk, sekarang mari kita coba bahas…

Definisi

Ayah  dan Ibu Kejora, obstruksi duktus nasolakrimal kongenital adalah suatu kelainan berupa adanya sumbatan pada sistem pengeluaran air mata dari mata ke hidung.1 Hal ini terjadi akibat kegagalan membran suatu katup (katup hasner) yang terletak pada area hidung untuk terbuka, sehingga air mata yang seharusnya mengalir dari mata ke hidung tidak bisa mengalir.1-3 Kondisi ini mengakibatkan air mata yang idealnya dikeluarkan ke hidung menjadi menumpuk pada mata/mata menjadi berair dan apabila terdapat kuman yang masuk dapat menyebabkan infeksi saluran keluar air mata. Sumbatan pada aliran keluar air mata dapat terjadi pada bagian atas dan bawah namun yang lebih berbahaya adalah sumbatan bagian bawah karena dapat menyebabkan infeksi. Gambar 1 kiri4 memperlihatkan gambaran air mata yang dihasilkan oleh kelenjar air mata (A), lalu dikeluarkan ke hidung melalui saluran keluar air mata (B-E). Sumbatan aliran keluar air mata bagian atas terjadi apabila terjadi sumbatan pada point B dan C, dan sumbatan aliran keluar air mata bagian bawah terjadi sumbatan pada poin E yang saya bahas saat ini (gambar 1 kanan5).

Gambar 1. Kiri adalah gambaran perjalanan air mata normal dari mulai dihasilkan oleh kelenjar air mata (A) sampai dikeluarkan ke hidung melelalui saluran keluar air mata (B-E); Kanan adalah gambaran yang terjadi pada ODNLK.

Jumlah Kasus dan Penyebab

Di Amerika Serikat dan dunia dikatakan obstruksi duktus nasolakrimal kongenital (ODNLK) ini terjadi pada 2-4% bayi baru lahir6 dan menurut penelitian terakhir, jumlahnya cukupt inggi pada anak dengan Down Syndrome yaitu antara 22% dan 36% dan meningkat pada bayi-bayi lahir premature.7 ODNLK mengalami resolusi sempurna pada 4-6 minggu setelah lahir.1 Kepustakaan lain mengatakan ODNLK terjadi pada 2%-6% bayi cukup bulan usia 3-4 minggu dan pada 1/3 pasien terjadi obstruksi pada kedua mata.8 Pada umumnya 80-90% kasus memberikan gejala saat usia 1 bulan.1 Jadi Ayah dan Ibu Kejora, dapat dikatakan bahwa sebagian besar pasien dengan ODNLK muncul semenjak lahir atau usia 1 bulan dan biasanya obstruksi ini akan sembuh spontan pada usia 1 tahun pertama.

Obstruksi duktus nasolakrimal kongenital disebabkan oleh sumbatan pada membran katup (katup hasner) yang membungkus saluran keluar air mata pada area hidung (gambar 2).1 Sumbatan pada katup tersebut dapat disebabkan karena kegagalan proses perkembangan organ saluran keluar air mata pada usia 4 bulan masa kehamilan (embriologi pembentukan saluran keluar air mata).9 Sumbatan ini dapat menyerang siapa saja (sporadik), tetapi dapat juga dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko antara lain: genetik, kelahiran prematur, kelainan kongenital, obat yang dikonsumsi Ibu pada saat hamil (antibiotik), konsumsi alkohol dan infeksi saat hamil.7 Kelainan sistemik dapat menyertai pada hampir 25% pasien dengan obstruksi duktus nasolakrimal kongenital berat.

Gambar 2. Letak sumbatan pada ODNLK (katup hasner) pada saluaran keluar air mata di area hidung.10

Tanda dan Gejala

  1. Mata berair (gambar 3)
  2. Banyak kotoran mata (belek) (gambar 4)
  3. Pembengkakan pada area pangkal hidung dekat ujung mata bagian dalam (gambar 4 & 5)
  4. Keluar cairan kental pada saat penekanan di daerah pangkal hidung dekat dengan ujung mata bagian dalam1-3

Jadi Ayah dan Ibu Kejora, apabila menemukan teman, tetangga atau pun anak yang mengalami mata berair tetapi tanpa disertai mata merah, sebaiknya segera periksakan ke dokter mata untuk diketahui apakah berair. Hal tersebut dikarenakan sumbatan atau penyebab lain seperti infeksi pada mata. Satu hal lagi, sebaiknya jangan sampai baru di bawa ke dokter apabila sudah bengkak/infeksi.

Gambar 3. Mata berair karena ada hambatan pada saluran keluar air mata.

Gambar 4. Panah biru menunjukkan sekret/ belek, panah hitam menunjukkan pembengkakan pada area pangkal hidung (saluran keluar air mata).

Gambar 5. ODNLK yang terjadi pada kedua mata.

Tatalaksana

Penatalaksanaan pada ODNLK terbagi menjadi 2 yaitu terapi konservatif atau non bedah dan terapi pembedahan.11 Terapi secara konservatif merupakan terapi utama pada ODNLK karena kelainan ini dapat sembuh spontan pada 90% kasus pada usia 1 tahun pertama.1-3 Resolusi spontan pada obstruksi duktus lakrimal kongenital terjadi pada 80-100% pasien pada usia 1 tahun pertama. Meskipun lebih dari 50% kasus mengalami resolusi spontan pada usia 6 bulan pertama tetapi ada beberapa kasus yang sembuh spontan pada usia 1 tahun.

Terapi konservatif yang dilakukan adalah teknik pemijatan (digital massage) pada daerah sakuslakrimal/area pangkal hidung dekat bagian dalam mata. Teknik pemijatan ini memiliki 2 tujuan yaitu: 11,12

  1. Untuk mengosongkan sakus sebagai upaya untuk mencegah pertumbuhan bakteri
  2. Memberikan tekanan positif pada daerah yang mengalami obstruksi sebagai upaya untuk membuka sumbatan pada membran katup hasner dan menjaga agar tetap terbuka secara permanen11-12

Gambar 6. Teknik pemijatan pada bayi dengan ODNLK. A. Pijatan dilakukan pada area pangkal hidung dekat dengan area mata bagian dalam (panah merah) ke arah dalam, B. Tujuan dari pijatan memberikan tekanan positif sehingga katup yang tersumbat (panah biru) akan terbuka.

Teknik pemijatan dilakukan dengan cara melakukan penekanan pada daerah sakus di atas kantus medial dengan jari dan digerakkan ke arah bawah.1,11 Pemijatan dilakukan sebanyak lima kali dengan frekuensi sekurang-kurangnya dua kali dalam sehari. Berdasarkan Randomized Clinical Trial (RCT), Kushner menunjukkan teknik pemijatan untuk membuka sumbatan pada membran hasner memiliki efektifitas lebih baik dibandingkan dengan tidak dilakukan sama sekali dalam penatalaksanaan ODNLK ini. Foster et al13 menyatakan dengan Lacrimal Scintigraphy bahwa aliran air mata dalam sistem duktus nasolakrimal tampak lancar setelah dilakukan teknik pemijatan sakus lakrimal, meskipun hasil penelitian secara statistik tidak signifikan dibandingkan dengan pasien tanpa obstruksi duktus nasolakrimal kongenital ini.

Selain teknik pemijatan dapat juga diberikan antibiotik topikal sebagai pengobatan ODNLK apabila terdapat infeksi sekunder.11 Apabila tidak ditemukan infeksi sekunder, maka tidak dianjurkan pemberian antibiotik topikal ini karena flora bakteri pada pasien-pasien ODNLK ini identik dengan flora pada individu normal. Penggunaan antibiotik dapat mengubah flora bakteri yang normal menjadi flora bakteri yang resisten dan sistem imunitas pada bayi itu belum sempurna, sehingga kemampuan untuk membunuh bakteri yang resisten tersebut kurang.

Apabila dengan terapi konservatif tidak terjadi resolusi spontan, maka dibutuhkan terapi pembedahan antara lain: Teknik probing, dilatasi dengan balon, intubasi atau Dacryocystorhinostomy (DCR) pada saluran keluar air mata.1,11

Referensi :

  1. American Academy of Ophthalmology. Chapter 13: Abnormalities of the Lacrimal Secretory and Drainage System. In: American Academy of Ophthalmology Orbit, Eyelids and lacrimal system. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology 2007-2008. p.265-66.
  2. Hughes RK, Fitzgerald DE. Congenital Nasolacrimal Duct Obstruction: An Optometric Perspective. Journal of behavioral Optometry 2000; 11(4): 94-6.
  3. Kakizaki H, Takahashi Y, Kinoshita S, Shiraki K, Iwaki M. The Rate of Symptomatic Improvement of Congenital Nasolacrimal Duct Obstruction in Japanese Infants Treated with Conservative Management during 1st Year of Age. Clinical Ophthalmology 2008 ; 2(2): 291-4.
  4. Ophthalmic Consultant of Vermont. Tear Duct Surgery. 2019. Available from : http://ocvermont.com/oculoplastic-orbital-surgery/eyelid-surgery/tear-duct-surgery/.
  5. Belsare G. Endoscopic DCR. 2017 Available from : https://www.belsareenthospital.com/endoscopic-dcr-dacrocystorhinostomy/.
  6. American Academy of Ophthalmology Staff. Examination Techniques for the External Eye and Cornea. In: American Academy of Ophthalmology Staff, Editor. External Disease and Cornea. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2013. p. 21-5.
  7. Mounir Bashour, MD. Congenital Anomalies of Nasolacrimal Duct. In Medsca Preferance. Updated 15 Feb 2012. Diunduh : http://emedicine.medscape.com/article/1210252-overview#showall (26/03/2013).
  8. American Society of Ophthalmic Plastic and Reconstructive Surgery. Congenital Lacrimal Obstruction-Tearing in Children. 2005; 1-2.
  9. Hurwitz JJ. Disease of the Sac and Duct. In: Hurwitz JJ, ed. The Lacrimal System. Lipincott Raven 1995; 9-28.
  10. Prukopich CL. Elliot DB. Nasolacrimal Stenosis or Blockage. 2007. Available from: https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/epiphora.
  11. American Academy of Ophthalmology. Chapter 17: The Lacrimal Drainage System. In: American Academy of Ophthalmology Pediatric Ophthalmology and Strabismus. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology 2007-2008; p.241-3
  12. Calhoun JH. Disorders of the Lacrimal Apparatus in Infancy and Childhood. In: Nelson LB, Calhoun JH, Harley RD, editors. Pediatric Ophthalmology. 3rd edition. Philadelphia: W.B. Saunders Company 1991; 329-33.
  13. Yasuhiro T, Hirohiko K, Weng O, Dinesh S. Management of Congenital Nasolacrimal Duct Obstruction. Acta Ophthalmologica 2010; 88: 506-13.

82total visits,2visits today