oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Salam sehat, keluarga Kejora! Topik bahasan kali ini adalah mengenai pemeriksaan laboratorium yang dapat diminta oleh dokter untuk memastikan diagnosis alergi pada anak. Apa saja pemeriksaan laboratorium yang dimaksud? Seperti apa pemeriksaannya?

Alergi merupakan reaksi peradangan berlebihan sebagai respon kekebalan tubuh terhadap suatu allergen (bahan penyebab alergi). Alergi ini hnya muncul pada individu yang mengalami hipersensitivitas terhadap alergen. Penyebab alergi berbeda-beda pada setiap orang, dapat berupa alergi terhadap makanan, obat-obatan, serbuk sari, dan lain-lain. Gejala klinis alergi juga bervariasi antar individu, dapat berupa ruam kemerahan disertai gatal, mata merah dan berair ketika terpapar alergen, batuk dan pilek, dan lain-lain.

Dalam mendiagnosis alergi, selain dari riwayat dan pemeriksaan fisik, dokter mungkin membutuhkan pemeriksaan tambahan, seperti kadar IgE dalam darah, uji tusuk (skin prick test), uji suntik intradermal, dan uji tempel. IgE merupakan antibodi yang dibentuk oleh tubuh sebagai respon terhadap alergen. Pada individu yang mengalami alergi, kadar IgE dalam darah akan meningkat. Kadar IgE ini dapat diukur secara jumlah total dalam tubuh (kadar IgE total) atau secara spesifik (kadar IgE spesifik). Pada pemeriksaan kadar IgE spesifik, diperiksa kadar IgE terhadap alergen tertentu.

Selain pemeriksaan kadar IgE, uji tusuk juga dapat dibutuhkan untuk mengetahui penyebab alergi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan meneteskan cairan yang mengandung alergen yang diperiksa pada kulit (biasanya dilakukan pada kulit lengan bawah). Setelah itu, kulit yang sudah diteteskan akan ditusuk dengan jarum kecil, sehingga alergen dapat masuk ke bawah permukaan kulit. Kulit akan dibiarkan selama 15-20 menit dan dievaluasi tanda alergi yang muncul. Pada pemeriksaan ini, biasanya dilakukan pemeriksaan alergi terhadap beberapa alergen sekaligus.

Gambar 1. Uji tusuk (skin prick test)

Serupa dengan uji tusuk, evaluasi alergi dapat dilakukan dengan melakukan penyuntikkan alergen secara intradermal. Setelah itu, ditunggu selama 15 menit dan dievaluasi reaksi alergi yang timbul. Kekurangan uji ini adalah dapat menyebabkan reaksi sistemik, sehingga uji ini lebih jarang dilakukan dibandingan dengan uji tusuk.

Pemeriksaan penunjang diagnosis alergi lainnya adalah uji tempel, terutama untuk evaluasi dermatitis kontak. Dermatitis kontak merupakan reaksi alergi yang timbul karena kontak dengan bahan tertentu. Uji tempel ini dilakukan dengan menempelkan plester yang mengandung alergen pada punggung. Evaluasi reaksi alergi dilakukan 48 jam setelah penempelan plester alergen. Selama 48-72 jam tersebut, pasien dianjurkan untuk tidak mandi atau berolahraga agar tidak berkeringat berlebihan.

Semoga pembahasan di atas membuat Ayah dan Ibu memiliki gambaran yang lebih baik tentang pemeriksaan penunjang untuk evaluasi alergi. Semoga bermanfaat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *