Perasaan Bahagia Bisa Meningkatkan Sistem Imun, Benarkah?

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Salam sehat, Keluarga Kejora!

Selama pandemi COVID-19 ini, kita mungkin telah banyak mendengar sejumlah kiat yang dapat dilakukan untuk menghindarkan diri dari infeksi SARS-CoV-2. Salah satu dari tips tersebut adalah dengan merasa bahagia sebab perasaan bahagia dianggap dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Namun, apakah pendapat tersebut benar? Apakah ada bukti ilmiah yang mendukung opini tersebut? Mari kita simak pembahasan berikut ini.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). Kata bahagia sering digunakan untuk mendeskripsikan kondisi mental atau emosional seseorang yang bersifat positif. Dari studi yang mempelajari tentang kaitan antara perilaku manusia dan kesehatan diketahui bahwa kondisi emosi seseorang dapat mempengaruhi perilakunya yang berkaitan dengan cara kerja berbagai organ di dalam tubuh, termasuk kekebalan tubuh, yang diperantarai oleh sistem saraf pusat. Perilaku yang dimaksud mencakup perilaku diri terhadap kebiasaan merokok, pola makan, atau olahraga, yang dapat meningkatkan atau merusak kesehatan seseorang.

Bukti ilmiah lain mengenai pengaruh faktor emosi terhadap kesehatan seseorang terlihat dari adanya pengaruh emosi terhadap perubahan biologis, misalnya kondisi stres pada seseoarang yang menyebabkan peningkatan tekanan darah, detak jantung, serta peningkatan aktivitas sistem saraf simpatik. Ketiga hal tersebut selanjutnya dapat menyebabkan perubahan pada aliran darah yang berkaitan secara langsung terhadap risiko hipertensi dan penyakit jantung. Selain pada perubahan kerja organ, studi lain menunjukkan bahwa rasa cemas yang berlebihan dapat menurunkan fungsi imun tubuh. Sebaliknya, kondisi emosional yang positif dapat meningkatkan kekebalan tubuh sebagaimana ditunjukkan dalam sebuah studi lain yang mengungkapkan adanya peningkatan kadar antibodi dalam saliva setelah seseorang diminta untuk menonton video humor. Hal serupa juga terlihat dalam sebuah studi yang menunjukkan respon imun yang lebih lemah pada individu yang divaksinasi dan dengan kondisi emosi yang negatif dibandingkan dengan individu yang divaksinasi namun memiliki kondisi emosional yang lebih positif.

Jadi, baik secara langsung maupun tidak langsung, terdapat sejumlah keterkaitan antara perasaan bahagia dengan sistem imun yang lebih baik dalam mengurangi risiko timbulnya penyakit. Namun, hingga saat ini belum terdapat bukti yang cukup untuk mendukung adanya kaitan langsung antara kondisi emosi positif terhadap penurunan risiko infeksi SARS-CoV-2.

Sumber:

Barak, Y. The immune system and happiness. Autoimmunity Reviews 5 (2006) p 523-527.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tips Menyiasati Bingung Puting Pada Ibu Menyusui

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo ayah dan ibu Kejora

Setiap ibu menyusui memiliki tantangan masing-masing, salah satu diantara tantangan yang dihadapi adalah kondisi bayi yang menolak menyusu secara langsung setelah pemberian dot atau botol susu. Kondisi yang dikenal dengan bingung puting ini merupakan salah satu penyebab kecemasan pada ibu menyusui sehingga tingkat keberhasilan menyusui menjadi kurang maksimal. Lalu bagaimana menyiasati bingung puting pada bayi?

Pengertian Bingung Puting

Bingung puting adalah perilaku bayi yang kesulitan atau rewel menyusu pada payudara ibu setelah ada pemberian dot atau botol susu, sebelum proses menyusui antara ibu dan bayi terjalin dengan baik. Tidak semua kasus memiliki kesulitan berpindah dari menyusu langsung di payudara ibu dengan atau setelah minum dari botol atau dot. Namun beberapa di antara kasus yang terjadi pada bayi yang mengalami bingung puting memiliki kesulitan untuk kembali menyusu secara langsung pada payudara ibu

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari bingung puting:

  1. Beri waktu yang cukup sampai proses menyusui terjalin dengan baik dan terasa menjadi bagian dari keseharian ibu dan bayi
  2. Gendong bayi, meningkatkan kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayi
  3. Mencari posisi yang nyaman saat ibu menyusui bayi
  4. Beri pujian kepada buah hati anda apabila dapat menunjukkan keinginan untuk menyusu
  5. Kenali tanda-tanda bayi ingin menyusu, yakni menghisap pergelangan tangan atau kepalan jari, mencari sesuatu dengan mulutnya, terbangun dan rewel namun belum menangis.
  6. Apabila bayi perlu mendapat suplementasi ASI, ibu dapat mempertimbangkan alternatif metode pemberian ASI dengan sendok, cangkir, maupun alat suplementer
  7. Hubungi tenaga kesehatan atau konselor menyusui terlatih

Semoga artikel ini dapat meningkatkan semangat keluarga Kejora untuk terus menyusui dan memberikan ASI kepada buah hati anda tercinta.

Editor : drg. Annisa Sabhrina (@asabhrina)

 

Sumber:

https://www.llli.org/breastfeeding-info/nipple-confusion/

Mengajarkan Pendidikan Seksual untuk Anak Balita


 

 

 

 

oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

Hallo Ayah Bunda Kejora!

Pendidikan seksual itu penting sepanjang usia; dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Pendidikan seksual itu tidak hanya diberikan ketika anak mulai remaja, Ayah dan Bunda! Anak usia dini juga bisa mulai diberikan pendidikan seksual, asalkan materi yang disampaikan sesuai dengan tahapan perkembangannya. Sebab, pendidikan seksual bukan sesuatu yang tabu. Yuk, simak cara memberikan pendidikan seksual dan materi pendidikan seksual yang cocok bagi anak usia dini!

 

Kapan Waktu yang Tepat?

Pendidikan seksual itu tidak hanya diberikan ketika anak mulai remaja. Bunda dan Ayah juga bisa mulai memberikan pendidikan seksual pada anak usia dini, asalkan materi yang disampaikan sesuai dengan tahapan perkembangannya.

Pada usia balita (3-4 tahun), anak biasanya mulai mengeksplorasi lingkungan sekitarnya dan mulai belajar tentang lingkungan sosial. Mereka akan mulai memperhatikan dan membandingkan dirinya dengan orang lain/temannya. Usia balita adalah usia yang tepat bagi orangtua untuk memperkenalkan mengenai pendidikan seksual pada si kecil.

 

Mengapa Pendidikan Seksual untuk Anak itu Penting?

  • Mencegah dan menghadapi era teknologi yang semakin maju: Seiring perkembangan teknologi, anak makin mudah mendapatkan akses internet dan informasi dari berbagai sumber, termasuk sosial media. Membahas seks dapat melindungi dan mencegah berbagai efek negatif yang diakibatkan dari perkembangan informasi tersebut.
  • Mendukung perkembangan dan pemahaman anak: Pendidikan seksual yang tepat dapat membantu si kecil melindungi dan menghargai tubuhnya sendiri.
  • Membangun kepercayaan dan kasih sayang: Dengan pendidikan seksual, orangtua dapat menjadi tempat yang aman bagi anak untuk bisa terbuka dan berdiskusi hal yang paling pribadi sekalipun. Sehingga anak tidak mencari informasi sendiri/dari orang lain (yang belum tentu tepat dan aman).
  • Membantu si kecil melindungi dirinya sendiri: Dengan pendidikan seksual, anak akan lebih sadar dengan situasi lingkungannya dan mampu melindungi diri ketika ada orang yang memperlakukan pelecehan seksual, baik secara verbal ataupun tindakan.

 

Tahapan 3P dalam Memberikan Pendidikan Seksual terhadap Anak:

1. Persiapan Materi

Sebelum kita memberikan pendidikan seksual pada pada anak, Ayah dan Bunda harus terlebih dahulu paham tentang materi yang akan diajarkan. Ayah dan Bunda bisa mencari informasi pendidikan dari sumber terpercaya.

2. Pahami Perkembangan Anak

Ayah dan Bunda perlu mengetahui perkembangan kognitif anak di usia balita supaya tahu bagaimana cara menjelaskan tentang seks kepada anak balita. Pada usia balita, anak berada dalam tahapan belajar menggunakan konsep konkret. Berikut tips saat mengenalkan bagian-bagian tubuh, terutama alat vital pada si kecil:

  • Alat peraga/media, seperti boneka/buku bergambar yang sesuai dengan usia anak.
  • Suasana pengajaran harus menyenangkan, bisa dengan mendongeng.
  • Gunakan bahasa yang sederhana, singkat, dan mudah dimengerti.

3. Penjelasan Sebaik Mungkin

Saat si kecil bertanya, Ayah dan Bunda perlu menjelaskan dengan sebaik mungkin. Jika kita tidak tahu jawabannya atau bingung menjelaskannya, Ayah dan Bunda bisa minta waktu pada anak, misalnya: “Wah pertanyaan adik bagus sekali, Mama jelaskan besok ya. Mama cari tahu dulu, biar nanti Mama bisa jelasin ke adik”.

 

Materi Pendidikan Seksual untuk Anak Balita

1. Nama dan Fungsi Bagian Tubuh

2. Perbedaan Jenis Kelamin

Ayah dan Bunda bisa mengajarkan perbedaan laki-laki dan perempuan secara umum. Contoh: laki-laki biasanya bisa berkumis dan berjanggut. Rambut perempuan biasanya lebih panjang dari laki-laki. Kita juga bisa menambahkan jika ada atribut keagamaan yang bisa dijelaskan, misalnya perempuan memakai jilbab, laki-laki memakai peci.

3. Bagian Pribadi

– Berikan pengertian kepada anak mengenai bagian tubuh yang harus dilindungi/bagian pribadi, yaitu: bagian yang tertutup baju (harus selalu tertutup dan tidak boleh disentuh orang lain), yaitu: mulut, dada (pada perempuan namanya payudara), alat kelamin, dan pantat.

– Berikan peraturan siapa saja yang boleh menyentuh dirinya. Contoh:

  • Anak boleh mendapatkan pelukan dari keluarga dan ciuman hanya dari keluarga inti (atau dengan seijin orangtua).
  • Dokter, jika bagian tubuh pribadi terluka/perlu diobati.
  • Orangtua (dengan seijin dari anak): jika ingin membantu mereka mengenakan pakaian/membersihkan tubuh.

4. Cara Menjaga Tubuh

Ajarkan anak:

  • Tidak boleh membuka/menunjukkan bagian tubuh pribadinya kepada orang lain (pengecualian: dokter karena bagian tubuh pribadi terluka/perlu diobati dan orangtua atau pengasuh dengan seijin dari anak jika ingin membantu mereka mengenakan pakaian/membersihkan tubuh).
  • Tidak boleh melihat bagian tubuh orang lain.
  • Melindungi tubuhnya dengan memakai baju, baik di rumah maupun di luar rumah.

5. Ajarkan 3 Tahap jika Anak Mengalami Pelecehan Seksual (Verbal maupun Perilaku):

  • Say No (Katakan TIDAK!): ajarkan anak untuk berani menolak pelecehan seksual dengan suara yang lantang dan tegas.
  • GO (Pergi): pergi ke tempat yang lebih aman/lebih ramai orang.
  • Tell (Beritahu): ajarkan anak menceritakan secara terbuka pada orangtua/orang dewasa yang dipercaya anak.

6. Tumbuhkan Rasa Percaya Anak pada Ayah dan Bunda

Ajarkan si kecil untuk tidak menyembunyikan apapun dari Ayah dan Bunda apabila ia ingin bertanya mengenai pendidikan seksual maupun saat mengalami pelecehan seksual; meskipun anak mendapatkan ancaman dari si pelaku.

 

Memberikan pendidikan seksual pada si kecil memang tidak mudah, Ayah dan Bunda. Namun percayalah, dengan metode yang tepat, konsistensi, kesabaran, dan interaksi yang positif, kita bisa memberikan edukasi yang tepat baginya. Sehat selalu ya Ayah dan Bunda.

Editor : drg. Sita Rose Nandiasa, M.Si

 

 

Pit and Fissure Sealant

 

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora! Semoga sehat selalu ya..
Apakah sudah pernah mendengar istilah pit and fissure sealant sebelumnya?
Atau malah masih asing dengan istilah tersebut? Pit and fissure sealant itu dapat melindungi gigi dari proses gigi berlubang loh Ayah dan Ibu. Yuk kita bahas lebih lanjut..

 

Apakah sealant itu dan bagaimana cara kerjanya?

Sealant adalah salah satu cara yang aman dan tanpa rasa sakit yang dilakukan untuk melindungi gigi Anda maupun si kecil dari proses gigi berlubang. Sealant merupakan lapisan pelindung yang diaplikasikan pada permukaan kunyah gigi-gigi geraham yang memiliki ceruk-ceruk yang sempit dan dalam (pit dan fissure). Kondisi gigi dengan pit dan fissure yang dalam sangat berpotensi menjadi tempat menumpuknya sisa makanan. Jika tidak dibersihkan, maka akan berubah menjadi pusat berkembangnya bakteri, yang lama kelamaan bisa menyebabkan karies. Dengan kata lain, pit dan fissure yang dalam merupakan habitat utama bakteri Streptococcus mutans. Lapisan sealant ini dapat menjadi pelindung dari sisa makanan serta bakteri agar tidak masuk dan terjebak dalam ceruk-ceruk tadi, sehingga menyebabkan terjadinya karies. Bahan yang digunakan yaitu resin komposit dan ionomer kaca fuji VII.

 

Kapan pit and fissure sealant dapat dilakukan?

Sealant dapat dilakukan segera setelah gigi geraham permanen pertama tumbuh, yaitu saat anak berusia 6-7 tahun. Selain itu, selanjutnya pada saat gigi geraham permanen kedua tumbuh, yaitu saat anak berusia 11-14 tahun.

 

Apakah setelah melakukan prosedur sealant, gigi harus tetap dibersihkan?

Hal yang harus diperhatikan adalah bahwa prosedur ini tidak dapat menggantikan sikat gigi maupun flossing. Namun, prosedur ini dapat mencegah timbulnya lubang dan menghentikan proses karies di tahap awal sehingga lubang gigi tidak bertambah besar dan parah. Faktanya, sealant dapat menurunkan risiko lubang pada gigi geraham belakang hingga 80%. Pada Oktober 2016, CDC (Centers for Disease Control) melaporkan pentingnya sealant pada anak usia sekolah. Menurut CDC, anak usia sekolah tanpa sealant berisiko 3 kali lebih besar untuk mengalami lubang pada gigi dibandingkan dengan anak yang telah menjalani prosedur sealant.

 

Sumber:

https://www.ada.org/en/member-center/oral-health-topics/dental-sealants

https://www.mouthhealthy.org/en/az-topics/s/sealants

https://jada.ada.org/action/showPdf?pii=S0002-8177%2814%2961434-3

https://www.dentalhealth.org/pit-and-fissure-sealants

PERLUKAH SUPLEMEN MINYAK IKAN UNTUK ANAK?

oleh dr. Yohannessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinis

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora.

Ayah dan Ibu tentu sudah pernah mendengar tentang minyak ikan. Apakah Ibu/Ayah Kejora termasuk orangtua yang bertanya-tanya haruskah pemberian suplemen minyak ikan untuk anak? Sebelumnya, mari kita bahas apa kandungan dari minyak ikan.

Minyak ikan merupakan salah satu sumber dari EPA DHA yang termasuk dalam asam lemak omega-3 (asam lemak tak jenuh ganda rantai panjang/PUFA). Baik EPA maupun DHA, sangat penting bagi perkembangan otak janin, perkembangan motorik dan penglihatan bayi, fungsi kognitif, juga sistem imun anak. Ayah dan Ibu Kejora dapat mengetahui peran DHA dalam kehamilan dengan klik artikel ini ya.

Mengenai pemberian suplemen minyak ikan (sirup/kapsul lunak), telah ada kajian literatur ilmiah (systematic review) yang menyimpulkan bahwa tidak ada manfaat pemberian suplemen PUFA rantai panjang pada bayi cukup bulan juga bayi prematur, namun juga dikatakan tidak ada efek samping berbahaya.

Penelitian lain juga menyatakan bahwa agar PUFA rantai panjang memberikan manfaat kesehatan yang optimal, sebaiknya diberikan dalam bentuk alami (dari sumber bahan makanan).

Selain minyak ikan, sumber PUFA lainnya adalah ASI, fatty fish, kacang kedelai, minyak kanola, minyak flaxseed, daging sapi, unggas, telur. Ikan yang mengandung tinggi EPA DHA pun tak hanya salmon, namun ikan tuna, bawal, tenggiri, kembung, patin, lele, juga belut juga tak kalah besar kandungannya. Berikut rincian jumlah kandungan EPA dan DHA dalam ikan:

Bagi Ibu/Ayah Kejora yang ingin memberikan suplemen minyak ikan, selalu konsultasikan terlebih dahulu pada dokter spesialis ya.

 

Sumber:

  • Long chain polyunsaturated fatty acid supplementation in infants born at term. Cochrane Database of Systematic Reviews 2017.
  • Longchain polyunsaturated fatty acid supplementation in preterm infants. Cochrane Database of Systematic Reviews 2016.
  • Fat content and EPA and DHA levels of selected marine, freshwater fish and shellfish species from the east coast of Peninsular Malaysia. IFRJ 2012;19:815-21.

Konsumsi Probiotik untuk Ibu Hamil?

 

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Keluarga Kejora!

Setiap Ibu pasti ingin memberikan nutrisi terbaik bagi bayinya. Tentunya, nutrisi yang terbaik ini bukan hanya dimulai dari makanan pertama bayi, namun juga sudah dimulai sejak masa kehamilan. Dari berbagai jenis makanan dan suplemen yang dipasarkan dengan manfaat kesehatan, probiotik sudah banyak diketahui bermanfaat untuk kesehatan saluran cerna. Makanan dan minuman yang mengandung probiotik semakin banyak dapat kita temukan di berbagai toko, supermarket, atau tempat perbelanjaan daring. Makanan hasil fermentasi seperti tempe, kimchi, kombucha, yogurt, kefir sudah semakin banyak diproduksi oleh home-industry maupun pabrik dan mudah didapatkan.

Nah, bagaimana dengan manfaat konsumsi probiotik selama kehamilan? Apakah probiotik yang berupa bakteri ini aman untuk dikonsumsi selama kehamilan?

Berdasarkan National Library of Medicine (NLM) dan National Institute of Health (NIH), probiotik mungkin aman selama kehamilan. Probiotik tidak bisa dikatakan aman secara pasti karena terdapat banyak sekali variasi probiotik dan penelitan yang masih terbatas. Secara umum, probiotik dikatakan aman untuk dikonsumsi karena suplementasi probiotik ini jarang diabsorpsi. Kemungkinan terjadinya infeksi dari probiotik ini dikatakan sangat kecil,  sekitar 1 banding 1 juta orang (kemungkinan infeksi Lactobacillus), dan 1 banding 5.6 juta orang yang mengonsumsi probiotik. Konsumsi probiotik juga tidak terbukti menyebabkan keguguran, kelainan janin, berat badan janin rendah atau dibutuhkannya operasi Caesar.

Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang secara alami terdapat sepanjang saluran cerna kita, dengan mayoritas berupa bakteria dan ragi. Berbagai penelitian menemukan bahwa jumlah mikroorganisme yang terdapat di seluruh tubuh kita sepuluh kali lipat lebih banyak daripada jumlah sel tubuh kita. Apa saja fungsi probiotik ini? Probiotik dapat membantu menghentikan diare akibat infeksi maupun antibiotik, mencegah keluhan sembelit, membantu mengatasi irritable bowel syndrome dan inflammatory bowel disease. Selama kehamilan, mikroorganisme yang mempengaruhi kesehatan bayi bukan hanya ditentukan oleh probiotik dalam saluran cerna ibu, namun juga pada probiotik yang berasal dari kulit, vagina dan ASI.  Walaupun saat ini mekanisme transfer probiotik dari ibu ke bayi ini masih diperdebatkan (apakah terjadi selama janin masih berada dalam kandungan atau setelah bayi dilahirkan), namun periode kehamilan adalah saat pertama probiotik ibu dapat mempengaruhi imunitas janin.

Mikroorganisme dari Ibu akan diberikan kepada bayi melalui proses kelahiran, air susu ibu (ASI), dan nantinya dari jenis makanan yang diberikan selama tumbuh kembang.

Probiotik yang berada dalam saluran cerna berhubungan dengan sistem imun. Probiotik bersifat anti-inflamasi atau anti radang dan mendukung sistem imun dalam kehamilan. Suplementasi probiotik selama kehamilan juga meningkatkan sel-sel imun dalam ASI, sehingga sel imun ini akan diturunkan kepada bayi, dan membentuk koloni bakteri baik dalam sistem pencernaan bayi tersebut. Dalam sebuah penelitian awal, probiotik yang dikonsumsi ibu hamil berhubungan dengan penurunan risiko pre-eklampsia dan kelahiran bayi prematur.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa probiotik mungkin aman selama kehamilan dan dapat dikonsumsi karena memberikan manfaat yang banyak sekali bagi ibu hamil dan bayi selama di masa kandungan.

Semoga artikel ini bermanfaat, ya, Keluarga Kejora. Salam sehat selalu!

 

Lenting pada anak: Herpes atau bukan?

 

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Hai Ayah Ibu Kejora!

Topik kali ini adalah meembahas mengenai lenting pada anak. Akhir – akhir ini sering kali Ayah dan Ibu Kejora mungkin risau dengan munculnya lesi di kulit anak ini merupakan infeksi Herpes atau bukan.

Oleh karena itu kali ini kita akan mengenal lebih jauh mengenai infeksi herpes dan apa bedanya dengan lesi lenting lain yang mirip dengan infeksi herpes.

 

Apa itu virus Herpes?

Virus herpes simpleks (HSV), adalah infeksi yang menyebabkan herpes. Kondisi ini dapat menyebabkan anak memiliki luka di mulut dan area wajah lainnya.
Terdapat dua jenis virus herpes simpleks, di antaranya adalah:

  • HSV-1: Virus ini menyebabkan luka di sekitar mulut dan wajah. Sering terjadi pada anak dan orang dewasa.
  • HSV-2: Virus ini dapat menyebabkan luka genital, menular lewat hubungan seksual.

Ada juga jenis herpes lain, yaitu herpes zoster atau cacar ular. Herpes zoster biasanya terjadi pada anak yang pernah mengalami cacar. Virus cacar atau varisela zoster dapat kambuh kembali ketika daya tahan tubuh turun, namun hanya menimbulkan gejala di satu area tubuh dan biasanya hanya satu sisi. Berbeda dengan herpes simpleks, herpes zoster dapat terjadi dibagian tubuh manapun, termasuk area wajah, kepala, badan dan ekstremitas.

 

Bagaimana ciri-ciri herpes pada anak?

Herpes biasanya menimbulkan keluhan lenting berisi air yang terasa perih atau panas. Kadang diawali dengan kulit terasa perih dan kemerahan, baru kemudian muncul lenting berisi air.

Lenting biasanya pecah atau mengering menjadi luka dalam 1-2 minggu. Penyakit herpes biasanya dapat sembuh sendiri. Meski demikian, apabila penanganannya tidak tepat, seringkali terjadi infeksi bakter pada luka tersebut, sehingga menyebabkan bekas luka menjadi kehitaman, jaringan parut atau bopeng.

 

Bagaimana herpes pada anak menyebar?

Virus herpes simpleks dapat menular dari orang ke orang melalui kontak langsung. Herpes pada anak atau yang secara umum disebut dengan herpes simpleks merupakan infeksi virus yang sangat menular. HSV-1 merupakan virus yang rentan menyerang anak-anak yang ditularkan dari orang dewasa yang terinfeksi. Virus ini dapat menyebar melalui air liur, kontak dari kulit ke kulit, atau dengan menyentuh suatu benda yang telah terjangkiti virus.

 

Apakah herpes bisa berulang?

Setelah seorang anak terinfeksi virus herpes simpleks, virus akan menjadi tidak aktif dan bersembunyi di jaringan saraf tepi. Virus ini dapat muncul kembali pada saat sistem kekebalan tubuh menurun atau iritasi pada kulit yang dapat disebabkan oleh faktor lain. Namun rekurensi sangat bervariatif, ada anak yang tidak pernah mengalami kekambuhan, ada yang mengalami kekambuhan dalam beberapa bulan sampai tahun.

Beberapa faktor pemicu kekambuhan lesi herpes adalah:

  • Kelelahan dan stres
  • Paparan sinar matahari yang intens, panas,
  • Udara dingin, atau kering
  • Luka atau kerusakan pada kulit
  • Penyakit lain, seperti flu atau batuk pilek
  • Dehidrasi dan diet yang buruk
  • Hormon yang berfluktuasi (misalnya, selama periode menstruasi remaja, dll)

 

Apa yang harus dilakukan kalau anak mengalami lesi kulit seperti herpes?

Lesi khas herpes adalah lenting berisi air di area tertentu. Seringkali sulit membedakan antara herpes dengan kondisi kulit lain yang menyebabkan lenting berisi air seperti dermatitis venenata, infeksi bakterti atau impetigo, dermatitis kontak iritan, alergi obat, infeksi jamur dan lain-lain.

 

Hindari mendiamkan lesi kulit tersebut pada anak atau mengobati sendiri dengan bahan dapur atau membeli obat salep sendiri di apotek. Sebaiknya apabila curiga anak mengalami herpes, konsultasikan ke dokter spesialis kulit dan kelamin, agar mendapat penanganan yang tepat dan tidak menimbulkan komplikasi. Obat herpes yang utama adalah antivirus oral, dan sebaiknya diberikan dalam 72 jam pertama ada keluhan. Karena itu sebaiknya tidak menunda untuk berkonsultasi ke dokter.
Sebelum berkonsultasi dengan dokter kulit dan kelamin, yang bisa dilakukan orang tua adalah:

 

Mencegah penularan atau rekurensi

  • Biasanya anak tertular dari orang dewasa atau anak lain yang sedang mengalami herpes juga. Jangan mencium anak apabila orang tua sedang memiliki lesi aktif.
  • Anak tidak boleh berbagi minuman atau peralatan, handuk, pasta gigi, atau barang lainnya untuk menghindari penyebaran infeksi
  • Penularan terutama dengan kontak kulit, apabila tidak yakin anak bisa menghindar kontak kulit selama ada lesi herpes, sebaiknya tidak usah beraktivitas di luar rumah.

 

Cara meringankan gejala

  • Berikan kompres dingin atau air bersih pada luka untuk mengurangi rasa perih.
  • Tetap bersihkan area yang mengalami luka/lenting dengan air dan sabun saat mandi
  • Usahakan agar anak tidak menggaruk atau mengelupas lenting atau luka. Hal ini bisa memicu infeksi bakteri di luka tersebut.

Referensi

  • SH James and RJ Whitley. Treatment of Herpes Simplex Virus Infections in Pediatric Patients: Current Status and Future Needs. Clin Pharmacol Ther. 2010 Nov; 88(5): 720–724.
  • Klatte, JM. Pediatric Herpes Simplex Virus Infection. https://emedicine.medscape.com/article/964866-overview

Cermat dan Tepat Menggunakan Antibiotik

 

 

 

 

 

oleh Jodi Tiara Rahmania, S.Farm, Apt

Apoteker/ Farmasis

 

Halo, Keluarga Kejora! Keluarga Kejora tentunya sudah kenal dengan istilah antibiotik kan? Antibiotik digunakan secara luas untuk mengatasi infeksi bakteri dengan gejala ringan sampai berat. Sayangnya, Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa dewasa ini ditemukan banyak kekeliruan dalam penggunaan antibiotik di masyarakat umum, yang justru berdampak negatif terhadap kesehatan tubuh. Perlu diingat bahwa antibiotik akan berkerja secara efektif dan aman bagi tubuh hanya apabila digunakan secara tepat serta berada di bawah anjuran dan pengawasan dokter. Sebaliknya, penggunaan antibiotik yang salah justru dapat menimbulkan efek jangka panjang yang dapat merugikan di kemudian hari. Keluarga Kejora pasti tidak mau menanggung kerugian tersebut di masa depan kan? Oleh karena itu, yuk mulai kita bangun kesadaran mengenai penggunaan antibiotik yang tepat dan rasional, supaya kesehatan anggota Keluarga Kejora tetap terjaga!

Sebelum masuk ke pembahasan yang lebih jauh lagi, sebetulnya apa sih yang dimaksud dengan antibiotik? Antibiotik merupakan senyawa organik yang dihasilkan oleh bakteri hidup. Pada penggunaan dosis tertentu, antibiotik akan bekerja dengan menghambat dan/atau membunuh bakteri lain melalui suatu mekanisme kerja spesifik dengan mengganggu atau merusak rantai metabolisme bakteri. Saat ini banyak sekali jenis antibiotik yang tersedia di pasaran dengan berbagai macam bentuk sediaan, misalnya tablet Amoxicillin, kapsul Clindamycin, sirup Cefadroxil, dan salep Gentamisin.

Kemudian, bagaimana pemilihan obat yang rasional? Rasional di sini berarti pasien menerima pengobatan sesuai kondisi klinisnya dengan dosis dan periode waktu konsumsi obat yang sesuai dengan kebutuhannya. Aspek lain yang perlu juga diperhatikan adalah biaya obat harus dapat dijangkau oleh pasien. Hal tersebut berlaku pula bagi penggunaan antibiotik. Antibiotik semestinya dikonsumsi berdasarkan anjuran dan di bawah pengawasan dokter, terutama pada pasien-pasien khusus, seperti balita, ibu hamil, ibu menyusui, lansia, serta individu lain dengan kondisi kesehatan tertentu. Selain itu, penilaian objektif terhadap penyebab dan jenis infeksi yang dialami juga tidak dapat dilakukan sendiri oleh pasien, melainkan memerlukan kompetensi seorang dokter. Dokter akan memutuskan apakah sakit yang dialami pasien disebabkan oleh bakteri, virus, atau infeksi lainnya. Kemudian, dokter akan menentukan jenis obat yang diperlukan untuk mengatasi sakit tersebut, dapat berupa antibiotik, antivirus, atau bahkan tidak memerlukan obat sama sekali, sangat tergantung dari kondisi tiap individu.

Keluarga Kejora juga perlu memahami bahwa antibiotik itu bagaikan dua sisi mata uang, loh! Apa maksudnya? Jadi, selain dapat memberikan manfaat, konsumsi antibiotik yang tidak tepat dan tidak rasional malah dapat memberikan dampak yang merugikan bagi tubuh, di antaranya memicu reaksi alergi, meningkatkan risiko efek samping karena kesalahan terapi (memilih dan membeli antibiotik tanpa resep dokter, dilakukan hanya berdasarkan pengalaman sebelumnya atau pengalaman orang lain yang sembuh menggunakan antibiotik tersebut, padahal sakit yang dialami saat ini belum tentu sama dengan yang sebelumnya), dan meningkatkan risiko resistensi atau kebal terhadap antibiotik. Resistensi antibiotik dapat muncul akibat penghentian konsumsi antibiotik sebelum antibiotik tersebut habis karena sudah merasa atau tampak lebih sehat. Kebiasaan ini sangat sering ditemukan di masyarakat, padahal tindakan tersebut dapat menyebabkan bakteri sehat kembali dan membangun kekebalan terhadap antibiotik, sehingga kondisi kesehatan semakin memburuk dan sakit menjadi sukar diobati. Risiko resistensi antibiotik ini sudah menjadi perhatian khusus Organisasi Kesehatan Dunia, karena jumlah individu yang resisten terhadap antibiotik sudah cukup tinggi, sementara pengembangan antibiotik jenis baru itu sulit, mahal serta membutuhkan waktu yang lama.

Nah, setelah mengetahui informasi mengenai penggunaan antibiotik yang benar dan efek samping yang dapat timbul dari penggunaan antibiotik yang tidak tepat, Keluarga Kejora sudah siap ya untuk bersikap cermat dalam menggunakan antibiotik? Apabila ada anggota keluarga yang sakit, Ayah dan Ibu Kejora jangan langsung memutuskan untuk mengonsumsi antibiotik tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu! Selain itu, patuhi pula anjuran dokter dalam penggunaan antibiotik ya!

 

Editor  : drg. Dinda Laras Chitadianti

 

Sumber:

“Antibiotic Resistance.” WHO Fact Sheet. 2018. World Health Organization.5 Feb.2018
<https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/antibiotic-resistance>

“The Pursuit of Responsible Use of Medicine: Sharing and Learning from Country Experiences” Essential medicine and health products. 2012. World Health Organization. October. 2012
<https://www.who.int/medicines/areas/rational_use/en/>

Tips Membantu Si Kecil agar Tetap Sehat Mental Selama Pandemi

 

 

 

 

 

oleh Nurhuzaifah Amini, M.Psi, Psikolog

Psikolog

 

Halo, Keluarga Sehat Kejora!


Seperti yang Ayah dan Ibu Kejora ketahui, adanya pandemi COVID-19 telah memberikan banyak dampak pada berbagai aspek kehidupan, termasuk kesehatan mental si kecil. Beberapa dampak pada kesehatan mental yang umum ditemui pada anak karena wabah ini diantaranya masalah kecemasan, stres, takut, marah, kesedihan, gangguan makan dan gangguan tidur. Selain itu, kemudahan anak dalam mengakses informasi melalui berbagai platform digital ternyata dapat memicu stres dan kecemasan pada anak meningkat. Faktor risiko lainnya yang dapat memperburuk kondisi kesehatan mental anak adalah kondisi #dirumahaja dengan minim interaksi serta aktivitas yang menyenangkan. Bahkan dalam beberapa kondisi tertentu, situasi #dirumahaja dapat meningkatkan risiko terjadinya pelecehan dan berbagai bentuk kekerasan pada anak.


Tentu ayah dan ibu tidak ingin agar hal-hal tersebut terjadi pada si kecil. Namun, ayah dan ibu perlu tenang dulu. Perlu ayah dan ibu ketahui bahwa sebenarnya normal saja bagi anak-anak untuk merasa khawatir, cemas atau stres saat ini karena memang ada berbagai perubahan dalam hidup hingga rutinitas. Hanya saja, jika kondisi tersebut berlangsung lama dan si kecil tidak disiapkan dengan baik oleh orangtua untuk menghadapi situasi ini, maka bisa berdampak lebih buruk lagi pada kesehatan mentalnya. Oleh karena itu, ada beberapa tips yang bisa ayah dan ibu lakukan untuk membantu si kecil agar tetap sehat mental selama pandemi.


1. Kelola stres Ayah dan Ibu terlebih dahulu

Kebanyakan orangtua tentunya berharap agar anak-anaknya tidak mengalami dampak buruk dari adanya pandemi ini. Namun, orangtua sendiri sering dilanda perasaan cemas dan stres. Kecemasan atau stres itu “menular” sehingga anak-anak dapat merasakan dan mengetahui bahwa ayah dan ibu stres meskipun sudah berusaha menyembunyikannya. Jadi bagaimana agar ayah dan ibu bisa tetap terlepas dari rasa cemas dan stres selama pandemi ? Berikut beberapa hal yang dapat membantu:

  • Jalani pola hidup sehat seperti makan teratur dan bergizi, tidur yang cukup dan olahraga yang rutin.
  • Dapatkan informasi dari sumber yang kredibel dan batasi akses informasi yang dapat memicu kekhawatiran.
  • Kuatkan hubungan antara ayah dan ibu. Bangun komunikasi dan kerjasama yang baik selama #dirumahaja.
  • Buat jadwal secara rutin setiap harinya, yakni jadwal untuk bekerja (jika working mom-dad), jadwal mengerjakan urusan rumah tangga dan jadwal dengan anak.
  • Perjelas pembagian peran antara ayah dan ibu dalam bekerja, termasuk mengasuh anak.
  • Coba lakukan aktivitas dengan mindfulness.
  • Jangan lupa untuk seimbangkan waktu untuk bekerja dan beristirahat hingga me time untuk ayah dan ibu.
  • Tetap menjalin komunikasi dengan kerabat atau sahabat.


2. Tanyakan hal yang diketahui si kecil

Sebagian besar anak pasti sudah mendengar tentang COVID-19, terutama anak-anak usia sekolah dan remaja. Mereka mungkin telah membaca berbagai hal dari TV, internet atau mendengar teman atau guru membicarakan hal tersebut. Namun, ingat bahwa semua informasi yang diterima anak belum tentu benar sehingga sebisa mungkin ayah dan ibu kembali membuka komunikasi dengan anak untuk membahas terkait hal yang anak pahami. Untuk membantu, ayah dan ibu bisa mengajukan beberapa pertanyaan berikut pada si kecil :

    • “Apa yang adik ketahui tertang virus Corona?”
    • “Di mana adik mendengarnya?”
    • “Ada tidak yang adik khawatirkan? Kalau ada, apa yang adik khawatirkan akhir-akhir ini?”
    • “Bagaimana perasaan adik saat ini selama di rumah aja?”
    • “Ada tidak yang ayah atau ibu bisa bantu untuk adik?”

Setelah mengetahui informasi yang anak miliki, maka ayah dan ibu dapat membantu membenahi apabila ada hal yang kurang tepat. Ingat, jika si kecil bertanya apakah ayah dan ibu khawatir, jujur saja! Anak bisa mengetahui jika ayah da ibu tidak mengatakan yang sebenarnya kepada mereka. Ayah dan ibu bisa mengatakan hal-hal seperti: “Iya, ayah khawatir tentang virus ini, tetapi ayah tahu kok kalau ada cara untuk mencegah penyebarannya jadi adik tenang dulu, ya. ”


3. Bantu si kecil mengenali emosinya

Ketika anak-anak merasakan suatu emosi, mereka paling mudah menunjukkannya melalui perilaku. Ada alasan mengapa anak-anak mungkin bertingkah dengan cara yang belum pernah ayah dan ibu lihat sebelumnya. Nah, dari situasi ini ayah dan ibu perlu untuk memahami bahwa si kecil tidak memiliki keterampilan berpikir dan bernalar ketika mereka dibanjiri emosi. Jika anak tidak dapat fokus pada tugas-tugas sekolah, mengamuk, atau menarik diri, kemungkinan terjadi sesuatu dalam diri mereka. Kenali tanda-tanda perubahan dalam diri anak. Sebagai contoh, jika si kecil berteriak, “Saya tidak suka belajar (platform pembelajaran virtual).” Perlu ayah dan ibu pahami bahwa anak-anak akan menolak ketika mereka merasa kewalahan. Perlawanan adalah puncak gunung es dari kesedihan, frustrasi, atau emosi besar lainnya yang mungkin ada di bawah permukaan dan sulit untuk diekspresikan oleh anak.

Coba luangkan waktu seperti ini untuk membantu anak mengasah kemampuan memahami emosi mereka. Alih-alih menekan dan memaksa mereka untuk menyelesaikan pekerjaan mereka, coba membantu mereka menggali lebih dalam dengan mengajukan pertanyaan seperti “Apa itu tentang (platform pembelajaran virtual) yang tidak disukai?” Arahkan si kecil untuk mengupas lebih dalam emosi yang ia rasakan untuk memahami apa yang sebenarnya memicu perilakunya.


4. Validasi perasaan si kecil

Anak-anak mungkin memiliki segala macam reaksi terhadap COVID-19 bahkan situasi #dirumahaja. Beberapa diantara mereka ada yang bisa memahami, namun beberapa anak lainnya mungkin membesar-besarkan hal yang mereka pahami, Kekhawatiran atau bentuk emosi lainnya perlu diterima dan divalidasi dulu. Misalnya, mereka mungkin pernah mendengar bahwa orang yang lebih tua lebih rentan untuk terkena virus daripada orang yang lebih muda. Ayah dan ibu dapat mengatakan bahwa emosi kekhawatiran tersebut wajar agar si kecil merasa diperhatikan dan dianggap, tetapi perlu juga diyakinkan bahwa orang tua juga bisa mendapatkan perawatan medis untuk menghadapi virus tersebut. Contoh lain, seorang anak mungkin takut bahwa hewan peliharaannya juga bisa terkena virus. Ayah dan ibu perlu menanggapi perasaan si kecil dengan serius, tetapi kemudian yakinkan hewan peliharaan mereka tidak akan terkena virus, sehingga tidak perlu khawatir tentang hal ini.


5. Bersedia untuk diberi pertanyaan

Situasi ini kemungkinan akan berlangsung lama sehingga komunikasi dengan anak tidak akan berlangsung sekali. Biarkan anak tahu bahwa mereka dapat mendatangi ayah dan ibu kapan saja dengan pertanyaan terkait kekhawatiran mereka. Hal ini juga dapat dijadikan kesempatan untuk melakukan check kondisi anak, karena mereka mungkin tidak akan mendekati ayah dan ibu terlebih dahulu jika mereka takut. Saat menjawab dengan memberikan informasi baru, jangan berasumsi bahwa si kecil dapat memahami secara langsung dan sepenuhnya hal yang ayah dan ibu katakan. Minta mereka untuk menjelaskan kembali kepada ayah dan ibu dengan bahasa mereka sendiri untuk mengetahui seberapa banyak yang mereka pahami.


6. Pastikan anak mengetahui cara melindungi diri mereka dari bahaya virus

Penting untuk ayah dan ibu untuk menunjukkan cara menjaga kebersihan dalam upaya melindungi diri agar dapat menjadi role model yang baik bagi si kecil seperti rajin mencuci tangan, etika bersin/batuk, tidak berjabat tangan, dll. Beri tahu anak-anak semua hal positif yang dapat mereka lakukan setiap hari, daripada menekankan hal-hal negatif untuk menurunkan tingkat stres bagi seluruh keluarga.


7. Batasi paparan media

Pantau seberapa banyak anak terpapar pada cakupan pandemi. Minimalisasi akses ke TV atau media sosial jika perlu. Anak-anak dapat dengan mudah mengartikan informasi dan membayangkan yang terburuk tanpa pengawasan dari orangtua.


8. Buat jadwal secara rutin dan konsisten

Memiliki jadwal yang rutin akan mengurangi stres mereka bagi si kecil. Jadwal yang rutin dapat menjadi petunjuk bagi si kecil dalam menjalani aktivitas #dirumahaja seperti hari normal. Ketidakpastian tentang apa yang terjadi selanjutnya hanya menumbuhkan kecemasan dan ketakutan akan hal yang tidak diketahui. Jadilah kreatif dan fleksibel dengan jadwal itu. Tetapkan waktu untuk tugas sekolah dan belajar, serta untuk bersantai bersama, mendapatkan udara segar dan melakukan beberapa latihan fisik bersama.


9. Buat aktivitas yang menyenangkan bersama si kecil

Situasi yang mengharuskan SFH (School from Home) tentu sedikit banyak membatasi kebebasan dan kebutuhan anak untuk bermain, berbeda jika benar-benar berada di sekolah. Oleh karena itu, usahakan agar ayah dan ibu menciptakan kegiatan-kegiatan menyenangkan seperti yang anak temukan di sekolah agar anak tetap bisa merasa senang dan nyaman meski #dirumahaja seperti olahraga bersama, jadwalkan video call bersama dengan teman-teman si kecil, mencoba virtual museum, dll. Pada prinsipnya, tetap seimbangkan kebutuhan belajar dan bermain anak.


10. Bagaimana jika ada keluarga yang terkena virus?

Peristiwa traumatis dapat membuat anak-anak sangat rentan sehingga memicu ketakutan dalam dirinya. Namun, ingat bahwa anak-anak akan belajar dari lingkungannya, terutama orangtua dalam mengupayakan keselamatan. Oleh karena itu, orangtua perlu yakin dan percaya bahwa dirinya aman sehingga anak juga dapat merasa aman meski mengetahui dirinya terkena virus. Ayah dan ibu bisa membantu si kecil dengan mengatakan, “Situasi seperti ini sama kok dengan masalah yang lain. Kita hanya perlu belajar tenang, kemudian mencari cara untuk menghadapinya dan belajar untuk mencegahnya agar tidak tertular. Adik perlu tahu bahwa banyak orang-orang di luar sana seperti dokter dan perawat yang bekerja keras dalam menghadapi virus ini, jadi kita perlu percaya mereka. Jadi, tenang ya.”


11. Yang paling penting, gunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami

Perhatikan selalu gaya bahasa yang digunakan positif dan tidak condong menakut-nakuti. Selain itu, dalam memberi pengertian, pastikan informasi yang disampaikan merupakan fakta dari sumber yang terpercaya. Sebelum disampaikan, penting untuk mengolah fakta tersebut ke dalam kalimat sederhana agar mudah dicerna oleh si kecil. Tanamkan kepada anak untuk aktif bertanya, dan mencari tahu bersama apabila ada situasi yang tidak dipahami.

Editor : drg. Valeria Widita W

 

Referensi:

https://www.mghclaycenter.org/hot-topics/7-ways-to-support-kids-and-teens-through-the-coronavirus-pandemic/

https://www.mother.ly/child/pandemic-mental-health-effect-on-children

 

Mencegah Infeksi corona, Hindari Kelirumologi Disinfektan!

 

 

 

 

oleh dr. Yulianto Santoso Kurniawan, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

Halo Ayah dan Ibu,

Saat ini infeksi virus corona menjadi ancaman bagi kita semua. Virus corona dapat bertahan sampai dengan 72 jam di permukaan dan untuk membasminya diperlukan upaya pembersihan. Namun banyak orang yang menjadi terlalu khawatir dengan hal tersebut sehingga menggunakan disinfektan secara berlebihan dan melupakan prinsip utama pencegahan infeksi virus corona.

Virus corona ditularkan melalui droplet atau percikan udara pernapasan, percikan tersebut akan jatuh sesuai gaya gravitasi sejauh 1-2 meter. Untuk itu pencegahan yang utama adalah:

    1. Mencegah percikan droplet
      1. Gunakan masker jika sakit
      2. Tutup mulut dan hidung saat bersin dan/atau batuk dengan tangan, siku bagian dalam atau tisu
      3. Jaga jarak >1 meter dengan orang lain
      4. Hindari bertemu dengan orang lain jika tidak diperlukan
    2. Cegah penularan melalui perantaraan tangan
      1. Tidak bersalaman
      2. Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun selama 20 detik setelah terkena percikan batuk/bersin atau dengan bahan dasar alkohol >60%
    3. Bersihkan lingkungan, terutama permukaan yang sering disentuh seperti gagang pintu, meja, tombol saklar lampu, dan pegangan tangga

Kapan kita perlu menggunakan disinfektan?

Kita gunakan disinfektan bila ada kemungkinan kita sudah terpapar oleh orang yang sakit/terinfeksi virus corona. Bila ada kemungkinan telah kontak dengan virus corona, bersihkan rumah dengan cara:

  • Bersihkan dengan cara kering (sapu, lap dengan bahan microfiber) untuk membersihkan bahan yang ringan
  • Bersihkan permukaan dengan cara basah, menggunakan air hangat dan detergen. Bersihkan dengan menggosok untuk menghilangkan cairan tubuh atau kotoran yang menempel
  • Bilas dengan air bersih
  • Biarkan kering
  • Bersihkan dengan larutan disinfektan dengan konsentrasi yang sesuai, dan waktu kontak (biarkan tetap basah untuk waktu tertentu untuk membunuh bakteri/virus) umumnya 5-10 menit.
  • Bilas kembali dengan air bersihKita gunakan disinfektan bila ada kemungkinan kita sudah terpapar oleh orang yang sakit/terinfeksi virus corona.  Bila ada kemungkinan telah kontak dengan virus corona, bersihkan rumah dengan cara:

Bahan disinfektan yang dapat digunakan adalah klorin dengan konsentrasi 0,1% (1 bagian klorin 5,25% diencerkan 49 bagian air – 1 mL klorin 5,25% ditambah 49 mL air). Sementara untuk bahan yang berpori (misalnya, karpet) dapat dilakukan pencucian dengan suhu 60-70 derajat Celsius.

Tidak ada rekomendasi yang menyatakan penyemprotan dengan disinfektan kepada manusia atau jalanan akan efektif mencegah penularan virus corona.

Untuk menjaga agar keluarga kita tetap sehat maka kembali kepada pencegahan utama: memakai masker, tutup mulut dan hidung saat batuk, cuci tangan setelah kontak dengan batuk dan sebelum memegang mata/hidung/mulut, jaga jarak 1-2 meter,hindari keluar atau berkerumun bila tidak diperlukan, serta bersihkan ruangan secara teratur.

Semoga kita selalu sehat ya!

Editor: dr. Sunita

Sumber:

https://www.aaha.org/aaha-guidelines/infection-control-configuration/protocols/cleaning-and-disinfection2

https://www.nea.gov.sg/our-services/public-cleanliness/environmental-cleaning-guidelines/guidelines/guidelines-for-environmental-cleaning-and-disinfection