Pit and Fissure Sealant

 

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora! Semoga sehat selalu ya..
Apakah sudah pernah mendengar istilah pit and fissure sealant sebelumnya?
Atau malah masih asing dengan istilah tersebut? Pit and fissure sealant itu dapat melindungi gigi dari proses gigi berlubang loh Ayah dan Ibu. Yuk kita bahas lebih lanjut..

 

Apakah sealant itu dan bagaimana cara kerjanya?

Sealant adalah salah satu cara yang aman dan tanpa rasa sakit yang dilakukan untuk melindungi gigi Anda maupun si kecil dari proses gigi berlubang. Sealant merupakan lapisan pelindung yang diaplikasikan pada permukaan kunyah gigi-gigi geraham yang memiliki ceruk-ceruk yang sempit dan dalam (pit dan fissure). Kondisi gigi dengan pit dan fissure yang dalam sangat berpotensi menjadi tempat menumpuknya sisa makanan. Jika tidak dibersihkan, maka akan berubah menjadi pusat berkembangnya bakteri, yang lama kelamaan bisa menyebabkan karies. Dengan kata lain, pit dan fissure yang dalam merupakan habitat utama bakteri Streptococcus mutans. Lapisan sealant ini dapat menjadi pelindung dari sisa makanan serta bakteri agar tidak masuk dan terjebak dalam ceruk-ceruk tadi, sehingga menyebabkan terjadinya karies. Bahan yang digunakan yaitu resin komposit dan ionomer kaca fuji VII.

 

Kapan pit and fissure sealant dapat dilakukan?

Sealant dapat dilakukan segera setelah gigi geraham permanen pertama tumbuh, yaitu saat anak berusia 6-7 tahun. Selain itu, selanjutnya pada saat gigi geraham permanen kedua tumbuh, yaitu saat anak berusia 11-14 tahun.

 

Apakah setelah melakukan prosedur sealant, gigi harus tetap dibersihkan?

Hal yang harus diperhatikan adalah bahwa prosedur ini tidak dapat menggantikan sikat gigi maupun flossing. Namun, prosedur ini dapat mencegah timbulnya lubang dan menghentikan proses karies di tahap awal sehingga lubang gigi tidak bertambah besar dan parah. Faktanya, sealant dapat menurunkan risiko lubang pada gigi geraham belakang hingga 80%. Pada Oktober 2016, CDC (Centers for Disease Control) melaporkan pentingnya sealant pada anak usia sekolah. Menurut CDC, anak usia sekolah tanpa sealant berisiko 3 kali lebih besar untuk mengalami lubang pada gigi dibandingkan dengan anak yang telah menjalani prosedur sealant.

 

Sumber:

https://www.ada.org/en/member-center/oral-health-topics/dental-sealants

https://www.mouthhealthy.org/en/az-topics/s/sealants

https://jada.ada.org/action/showPdf?pii=S0002-8177%2814%2961434-3

https://www.dentalhealth.org/pit-and-fissure-sealants

PERLUKAH SUPLEMEN MINYAK IKAN UNTUK ANAK?

oleh dr. Yohannessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinis

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora.

Ayah dan Ibu tentu sudah pernah mendengar tentang minyak ikan. Apakah Ibu/Ayah Kejora termasuk orangtua yang bertanya-tanya haruskah pemberian suplemen minyak ikan untuk anak? Sebelumnya, mari kita bahas apa kandungan dari minyak ikan.

Minyak ikan merupakan salah satu sumber dari EPA DHA yang termasuk dalam asam lemak omega-3 (asam lemak tak jenuh ganda rantai panjang/PUFA). Baik EPA maupun DHA, sangat penting bagi perkembangan otak janin, perkembangan motorik dan penglihatan bayi, fungsi kognitif, juga sistem imun anak. Ayah dan Ibu Kejora dapat mengetahui peran DHA dalam kehamilan dengan klik artikel ini ya.

Mengenai pemberian suplemen minyak ikan (sirup/kapsul lunak), telah ada kajian literatur ilmiah (systematic review) yang menyimpulkan bahwa tidak ada manfaat pemberian suplemen PUFA rantai panjang pada bayi cukup bulan juga bayi prematur, namun juga dikatakan tidak ada efek samping berbahaya.

Penelitian lain juga menyatakan bahwa agar PUFA rantai panjang memberikan manfaat kesehatan yang optimal, sebaiknya diberikan dalam bentuk alami (dari sumber bahan makanan).

Selain minyak ikan, sumber PUFA lainnya adalah ASI, fatty fish, kacang kedelai, minyak kanola, minyak flaxseed, daging sapi, unggas, telur. Ikan yang mengandung tinggi EPA DHA pun tak hanya salmon, namun ikan tuna, bawal, tenggiri, kembung, patin, lele, juga belut juga tak kalah besar kandungannya. Berikut rincian jumlah kandungan EPA dan DHA dalam ikan:

Bagi Ibu/Ayah Kejora yang ingin memberikan suplemen minyak ikan, selalu konsultasikan terlebih dahulu pada dokter spesialis ya.

 

Sumber:

  • Long chain polyunsaturated fatty acid supplementation in infants born at term. Cochrane Database of Systematic Reviews 2017.
  • Longchain polyunsaturated fatty acid supplementation in preterm infants. Cochrane Database of Systematic Reviews 2016.
  • Fat content and EPA and DHA levels of selected marine, freshwater fish and shellfish species from the east coast of Peninsular Malaysia. IFRJ 2012;19:815-21.

Konsumsi Probiotik untuk Ibu Hamil?

 

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Keluarga Kejora!

Setiap Ibu pasti ingin memberikan nutrisi terbaik bagi bayinya. Tentunya, nutrisi yang terbaik ini bukan hanya dimulai dari makanan pertama bayi, namun juga sudah dimulai sejak masa kehamilan. Dari berbagai jenis makanan dan suplemen yang dipasarkan dengan manfaat kesehatan, probiotik sudah banyak diketahui bermanfaat untuk kesehatan saluran cerna. Makanan dan minuman yang mengandung probiotik semakin banyak dapat kita temukan di berbagai toko, supermarket, atau tempat perbelanjaan daring. Makanan hasil fermentasi seperti tempe, kimchi, kombucha, yogurt, kefir sudah semakin banyak diproduksi oleh home-industry maupun pabrik dan mudah didapatkan.

Nah, bagaimana dengan manfaat konsumsi probiotik selama kehamilan? Apakah probiotik yang berupa bakteri ini aman untuk dikonsumsi selama kehamilan?

Berdasarkan National Library of Medicine (NLM) dan National Institute of Health (NIH), probiotik mungkin aman selama kehamilan. Probiotik tidak bisa dikatakan aman secara pasti karena terdapat banyak sekali variasi probiotik dan penelitan yang masih terbatas. Secara umum, probiotik dikatakan aman untuk dikonsumsi karena suplementasi probiotik ini jarang diabsorpsi. Kemungkinan terjadinya infeksi dari probiotik ini dikatakan sangat kecil,  sekitar 1 banding 1 juta orang (kemungkinan infeksi Lactobacillus), dan 1 banding 5.6 juta orang yang mengonsumsi probiotik. Konsumsi probiotik juga tidak terbukti menyebabkan keguguran, kelainan janin, berat badan janin rendah atau dibutuhkannya operasi Caesar.

Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang secara alami terdapat sepanjang saluran cerna kita, dengan mayoritas berupa bakteria dan ragi. Berbagai penelitian menemukan bahwa jumlah mikroorganisme yang terdapat di seluruh tubuh kita sepuluh kali lipat lebih banyak daripada jumlah sel tubuh kita. Apa saja fungsi probiotik ini? Probiotik dapat membantu menghentikan diare akibat infeksi maupun antibiotik, mencegah keluhan sembelit, membantu mengatasi irritable bowel syndrome dan inflammatory bowel disease. Selama kehamilan, mikroorganisme yang mempengaruhi kesehatan bayi bukan hanya ditentukan oleh probiotik dalam saluran cerna ibu, namun juga pada probiotik yang berasal dari kulit, vagina dan ASI.  Walaupun saat ini mekanisme transfer probiotik dari ibu ke bayi ini masih diperdebatkan (apakah terjadi selama janin masih berada dalam kandungan atau setelah bayi dilahirkan), namun periode kehamilan adalah saat pertama probiotik ibu dapat mempengaruhi imunitas janin.

Mikroorganisme dari Ibu akan diberikan kepada bayi melalui proses kelahiran, air susu ibu (ASI), dan nantinya dari jenis makanan yang diberikan selama tumbuh kembang.

Probiotik yang berada dalam saluran cerna berhubungan dengan sistem imun. Probiotik bersifat anti-inflamasi atau anti radang dan mendukung sistem imun dalam kehamilan. Suplementasi probiotik selama kehamilan juga meningkatkan sel-sel imun dalam ASI, sehingga sel imun ini akan diturunkan kepada bayi, dan membentuk koloni bakteri baik dalam sistem pencernaan bayi tersebut. Dalam sebuah penelitian awal, probiotik yang dikonsumsi ibu hamil berhubungan dengan penurunan risiko pre-eklampsia dan kelahiran bayi prematur.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa probiotik mungkin aman selama kehamilan dan dapat dikonsumsi karena memberikan manfaat yang banyak sekali bagi ibu hamil dan bayi selama di masa kandungan.

Semoga artikel ini bermanfaat, ya, Keluarga Kejora. Salam sehat selalu!

 

Lenting pada anak: Herpes atau bukan?

 

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Hai Ayah Ibu Kejora!

Topik kali ini adalah meembahas mengenai lenting pada anak. Akhir – akhir ini sering kali Ayah dan Ibu Kejora mungkin risau dengan munculnya lesi di kulit anak ini merupakan infeksi Herpes atau bukan.

Oleh karena itu kali ini kita akan mengenal lebih jauh mengenai infeksi herpes dan apa bedanya dengan lesi lenting lain yang mirip dengan infeksi herpes.

 

Apa itu virus Herpes?

Virus herpes simpleks (HSV), adalah infeksi yang menyebabkan herpes. Kondisi ini dapat menyebabkan anak memiliki luka di mulut dan area wajah lainnya.
Terdapat dua jenis virus herpes simpleks, di antaranya adalah:

  • HSV-1: Virus ini menyebabkan luka di sekitar mulut dan wajah. Sering terjadi pada anak dan orang dewasa.
  • HSV-2: Virus ini dapat menyebabkan luka genital, menular lewat hubungan seksual.

Ada juga jenis herpes lain, yaitu herpes zoster atau cacar ular. Herpes zoster biasanya terjadi pada anak yang pernah mengalami cacar. Virus cacar atau varisela zoster dapat kambuh kembali ketika daya tahan tubuh turun, namun hanya menimbulkan gejala di satu area tubuh dan biasanya hanya satu sisi. Berbeda dengan herpes simpleks, herpes zoster dapat terjadi dibagian tubuh manapun, termasuk area wajah, kepala, badan dan ekstremitas.

 

Bagaimana ciri-ciri herpes pada anak?

Herpes biasanya menimbulkan keluhan lenting berisi air yang terasa perih atau panas. Kadang diawali dengan kulit terasa perih dan kemerahan, baru kemudian muncul lenting berisi air.

Lenting biasanya pecah atau mengering menjadi luka dalam 1-2 minggu. Penyakit herpes biasanya dapat sembuh sendiri. Meski demikian, apabila penanganannya tidak tepat, seringkali terjadi infeksi bakter pada luka tersebut, sehingga menyebabkan bekas luka menjadi kehitaman, jaringan parut atau bopeng.

 

Bagaimana herpes pada anak menyebar?

Virus herpes simpleks dapat menular dari orang ke orang melalui kontak langsung. Herpes pada anak atau yang secara umum disebut dengan herpes simpleks merupakan infeksi virus yang sangat menular. HSV-1 merupakan virus yang rentan menyerang anak-anak yang ditularkan dari orang dewasa yang terinfeksi. Virus ini dapat menyebar melalui air liur, kontak dari kulit ke kulit, atau dengan menyentuh suatu benda yang telah terjangkiti virus.

 

Apakah herpes bisa berulang?

Setelah seorang anak terinfeksi virus herpes simpleks, virus akan menjadi tidak aktif dan bersembunyi di jaringan saraf tepi. Virus ini dapat muncul kembali pada saat sistem kekebalan tubuh menurun atau iritasi pada kulit yang dapat disebabkan oleh faktor lain. Namun rekurensi sangat bervariatif, ada anak yang tidak pernah mengalami kekambuhan, ada yang mengalami kekambuhan dalam beberapa bulan sampai tahun.

Beberapa faktor pemicu kekambuhan lesi herpes adalah:

  • Kelelahan dan stres
  • Paparan sinar matahari yang intens, panas,
  • Udara dingin, atau kering
  • Luka atau kerusakan pada kulit
  • Penyakit lain, seperti flu atau batuk pilek
  • Dehidrasi dan diet yang buruk
  • Hormon yang berfluktuasi (misalnya, selama periode menstruasi remaja, dll)

 

Apa yang harus dilakukan kalau anak mengalami lesi kulit seperti herpes?

Lesi khas herpes adalah lenting berisi air di area tertentu. Seringkali sulit membedakan antara herpes dengan kondisi kulit lain yang menyebabkan lenting berisi air seperti dermatitis venenata, infeksi bakterti atau impetigo, dermatitis kontak iritan, alergi obat, infeksi jamur dan lain-lain.

 

Hindari mendiamkan lesi kulit tersebut pada anak atau mengobati sendiri dengan bahan dapur atau membeli obat salep sendiri di apotek. Sebaiknya apabila curiga anak mengalami herpes, konsultasikan ke dokter spesialis kulit dan kelamin, agar mendapat penanganan yang tepat dan tidak menimbulkan komplikasi. Obat herpes yang utama adalah antivirus oral, dan sebaiknya diberikan dalam 72 jam pertama ada keluhan. Karena itu sebaiknya tidak menunda untuk berkonsultasi ke dokter.
Sebelum berkonsultasi dengan dokter kulit dan kelamin, yang bisa dilakukan orang tua adalah:

 

Mencegah penularan atau rekurensi

  • Biasanya anak tertular dari orang dewasa atau anak lain yang sedang mengalami herpes juga. Jangan mencium anak apabila orang tua sedang memiliki lesi aktif.
  • Anak tidak boleh berbagi minuman atau peralatan, handuk, pasta gigi, atau barang lainnya untuk menghindari penyebaran infeksi
  • Penularan terutama dengan kontak kulit, apabila tidak yakin anak bisa menghindar kontak kulit selama ada lesi herpes, sebaiknya tidak usah beraktivitas di luar rumah.

 

Cara meringankan gejala

  • Berikan kompres dingin atau air bersih pada luka untuk mengurangi rasa perih.
  • Tetap bersihkan area yang mengalami luka/lenting dengan air dan sabun saat mandi
  • Usahakan agar anak tidak menggaruk atau mengelupas lenting atau luka. Hal ini bisa memicu infeksi bakteri di luka tersebut.

Referensi

  • SH James and RJ Whitley. Treatment of Herpes Simplex Virus Infections in Pediatric Patients: Current Status and Future Needs. Clin Pharmacol Ther. 2010 Nov; 88(5): 720–724.
  • Klatte, JM. Pediatric Herpes Simplex Virus Infection. https://emedicine.medscape.com/article/964866-overview

Cermat dan Tepat Menggunakan Antibiotik

 

 

 

 

 

oleh Jodi Tiara Rahmania, S.Farm, Apt

Apoteker/ Farmasis

 

Halo, Keluarga Kejora! Keluarga Kejora tentunya sudah kenal dengan istilah antibiotik kan? Antibiotik digunakan secara luas untuk mengatasi infeksi bakteri dengan gejala ringan sampai berat. Sayangnya, Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa dewasa ini ditemukan banyak kekeliruan dalam penggunaan antibiotik di masyarakat umum, yang justru berdampak negatif terhadap kesehatan tubuh. Perlu diingat bahwa antibiotik akan berkerja secara efektif dan aman bagi tubuh hanya apabila digunakan secara tepat serta berada di bawah anjuran dan pengawasan dokter. Sebaliknya, penggunaan antibiotik yang salah justru dapat menimbulkan efek jangka panjang yang dapat merugikan di kemudian hari. Keluarga Kejora pasti tidak mau menanggung kerugian tersebut di masa depan kan? Oleh karena itu, yuk mulai kita bangun kesadaran mengenai penggunaan antibiotik yang tepat dan rasional, supaya kesehatan anggota Keluarga Kejora tetap terjaga!

Sebelum masuk ke pembahasan yang lebih jauh lagi, sebetulnya apa sih yang dimaksud dengan antibiotik? Antibiotik merupakan senyawa organik yang dihasilkan oleh bakteri hidup. Pada penggunaan dosis tertentu, antibiotik akan bekerja dengan menghambat dan/atau membunuh bakteri lain melalui suatu mekanisme kerja spesifik dengan mengganggu atau merusak rantai metabolisme bakteri. Saat ini banyak sekali jenis antibiotik yang tersedia di pasaran dengan berbagai macam bentuk sediaan, misalnya tablet Amoxicillin, kapsul Clindamycin, sirup Cefadroxil, dan salep Gentamisin.

Kemudian, bagaimana pemilihan obat yang rasional? Rasional di sini berarti pasien menerima pengobatan sesuai kondisi klinisnya dengan dosis dan periode waktu konsumsi obat yang sesuai dengan kebutuhannya. Aspek lain yang perlu juga diperhatikan adalah biaya obat harus dapat dijangkau oleh pasien. Hal tersebut berlaku pula bagi penggunaan antibiotik. Antibiotik semestinya dikonsumsi berdasarkan anjuran dan di bawah pengawasan dokter, terutama pada pasien-pasien khusus, seperti balita, ibu hamil, ibu menyusui, lansia, serta individu lain dengan kondisi kesehatan tertentu. Selain itu, penilaian objektif terhadap penyebab dan jenis infeksi yang dialami juga tidak dapat dilakukan sendiri oleh pasien, melainkan memerlukan kompetensi seorang dokter. Dokter akan memutuskan apakah sakit yang dialami pasien disebabkan oleh bakteri, virus, atau infeksi lainnya. Kemudian, dokter akan menentukan jenis obat yang diperlukan untuk mengatasi sakit tersebut, dapat berupa antibiotik, antivirus, atau bahkan tidak memerlukan obat sama sekali, sangat tergantung dari kondisi tiap individu.

Keluarga Kejora juga perlu memahami bahwa antibiotik itu bagaikan dua sisi mata uang, loh! Apa maksudnya? Jadi, selain dapat memberikan manfaat, konsumsi antibiotik yang tidak tepat dan tidak rasional malah dapat memberikan dampak yang merugikan bagi tubuh, di antaranya memicu reaksi alergi, meningkatkan risiko efek samping karena kesalahan terapi (memilih dan membeli antibiotik tanpa resep dokter, dilakukan hanya berdasarkan pengalaman sebelumnya atau pengalaman orang lain yang sembuh menggunakan antibiotik tersebut, padahal sakit yang dialami saat ini belum tentu sama dengan yang sebelumnya), dan meningkatkan risiko resistensi atau kebal terhadap antibiotik. Resistensi antibiotik dapat muncul akibat penghentian konsumsi antibiotik sebelum antibiotik tersebut habis karena sudah merasa atau tampak lebih sehat. Kebiasaan ini sangat sering ditemukan di masyarakat, padahal tindakan tersebut dapat menyebabkan bakteri sehat kembali dan membangun kekebalan terhadap antibiotik, sehingga kondisi kesehatan semakin memburuk dan sakit menjadi sukar diobati. Risiko resistensi antibiotik ini sudah menjadi perhatian khusus Organisasi Kesehatan Dunia, karena jumlah individu yang resisten terhadap antibiotik sudah cukup tinggi, sementara pengembangan antibiotik jenis baru itu sulit, mahal serta membutuhkan waktu yang lama.

Nah, setelah mengetahui informasi mengenai penggunaan antibiotik yang benar dan efek samping yang dapat timbul dari penggunaan antibiotik yang tidak tepat, Keluarga Kejora sudah siap ya untuk bersikap cermat dalam menggunakan antibiotik? Apabila ada anggota keluarga yang sakit, Ayah dan Ibu Kejora jangan langsung memutuskan untuk mengonsumsi antibiotik tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu! Selain itu, patuhi pula anjuran dokter dalam penggunaan antibiotik ya!

 

Editor  : drg. Dinda Laras Chitadianti

 

Sumber:

“Antibiotic Resistance.” WHO Fact Sheet. 2018. World Health Organization.5 Feb.2018
<https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/antibiotic-resistance>

“The Pursuit of Responsible Use of Medicine: Sharing and Learning from Country Experiences” Essential medicine and health products. 2012. World Health Organization. October. 2012
<https://www.who.int/medicines/areas/rational_use/en/>

Tips Membantu Si Kecil agar Tetap Sehat Mental Selama Pandemi

 

 

 

 

 

oleh Nurhuzaifah Amini, M.Psi, Psikolog

Psikolog

 

Halo, Keluarga Sehat Kejora!


Seperti yang Ayah dan Ibu Kejora ketahui, adanya pandemi COVID-19 telah memberikan banyak dampak pada berbagai aspek kehidupan, termasuk kesehatan mental si kecil. Beberapa dampak pada kesehatan mental yang umum ditemui pada anak karena wabah ini diantaranya masalah kecemasan, stres, takut, marah, kesedihan, gangguan makan dan gangguan tidur. Selain itu, kemudahan anak dalam mengakses informasi melalui berbagai platform digital ternyata dapat memicu stres dan kecemasan pada anak meningkat. Faktor risiko lainnya yang dapat memperburuk kondisi kesehatan mental anak adalah kondisi #dirumahaja dengan minim interaksi serta aktivitas yang menyenangkan. Bahkan dalam beberapa kondisi tertentu, situasi #dirumahaja dapat meningkatkan risiko terjadinya pelecehan dan berbagai bentuk kekerasan pada anak.


Tentu ayah dan ibu tidak ingin agar hal-hal tersebut terjadi pada si kecil. Namun, ayah dan ibu perlu tenang dulu. Perlu ayah dan ibu ketahui bahwa sebenarnya normal saja bagi anak-anak untuk merasa khawatir, cemas atau stres saat ini karena memang ada berbagai perubahan dalam hidup hingga rutinitas. Hanya saja, jika kondisi tersebut berlangsung lama dan si kecil tidak disiapkan dengan baik oleh orangtua untuk menghadapi situasi ini, maka bisa berdampak lebih buruk lagi pada kesehatan mentalnya. Oleh karena itu, ada beberapa tips yang bisa ayah dan ibu lakukan untuk membantu si kecil agar tetap sehat mental selama pandemi.


1. Kelola stres Ayah dan Ibu terlebih dahulu

Kebanyakan orangtua tentunya berharap agar anak-anaknya tidak mengalami dampak buruk dari adanya pandemi ini. Namun, orangtua sendiri sering dilanda perasaan cemas dan stres. Kecemasan atau stres itu “menular” sehingga anak-anak dapat merasakan dan mengetahui bahwa ayah dan ibu stres meskipun sudah berusaha menyembunyikannya. Jadi bagaimana agar ayah dan ibu bisa tetap terlepas dari rasa cemas dan stres selama pandemi ? Berikut beberapa hal yang dapat membantu:

  • Jalani pola hidup sehat seperti makan teratur dan bergizi, tidur yang cukup dan olahraga yang rutin.
  • Dapatkan informasi dari sumber yang kredibel dan batasi akses informasi yang dapat memicu kekhawatiran.
  • Kuatkan hubungan antara ayah dan ibu. Bangun komunikasi dan kerjasama yang baik selama #dirumahaja.
  • Buat jadwal secara rutin setiap harinya, yakni jadwal untuk bekerja (jika working mom-dad), jadwal mengerjakan urusan rumah tangga dan jadwal dengan anak.
  • Perjelas pembagian peran antara ayah dan ibu dalam bekerja, termasuk mengasuh anak.
  • Coba lakukan aktivitas dengan mindfulness.
  • Jangan lupa untuk seimbangkan waktu untuk bekerja dan beristirahat hingga me time untuk ayah dan ibu.
  • Tetap menjalin komunikasi dengan kerabat atau sahabat.


2. Tanyakan hal yang diketahui si kecil

Sebagian besar anak pasti sudah mendengar tentang COVID-19, terutama anak-anak usia sekolah dan remaja. Mereka mungkin telah membaca berbagai hal dari TV, internet atau mendengar teman atau guru membicarakan hal tersebut. Namun, ingat bahwa semua informasi yang diterima anak belum tentu benar sehingga sebisa mungkin ayah dan ibu kembali membuka komunikasi dengan anak untuk membahas terkait hal yang anak pahami. Untuk membantu, ayah dan ibu bisa mengajukan beberapa pertanyaan berikut pada si kecil :

    • “Apa yang adik ketahui tertang virus Corona?”
    • “Di mana adik mendengarnya?”
    • “Ada tidak yang adik khawatirkan? Kalau ada, apa yang adik khawatirkan akhir-akhir ini?”
    • “Bagaimana perasaan adik saat ini selama di rumah aja?”
    • “Ada tidak yang ayah atau ibu bisa bantu untuk adik?”

Setelah mengetahui informasi yang anak miliki, maka ayah dan ibu dapat membantu membenahi apabila ada hal yang kurang tepat. Ingat, jika si kecil bertanya apakah ayah dan ibu khawatir, jujur saja! Anak bisa mengetahui jika ayah da ibu tidak mengatakan yang sebenarnya kepada mereka. Ayah dan ibu bisa mengatakan hal-hal seperti: “Iya, ayah khawatir tentang virus ini, tetapi ayah tahu kok kalau ada cara untuk mencegah penyebarannya jadi adik tenang dulu, ya. ”


3. Bantu si kecil mengenali emosinya

Ketika anak-anak merasakan suatu emosi, mereka paling mudah menunjukkannya melalui perilaku. Ada alasan mengapa anak-anak mungkin bertingkah dengan cara yang belum pernah ayah dan ibu lihat sebelumnya. Nah, dari situasi ini ayah dan ibu perlu untuk memahami bahwa si kecil tidak memiliki keterampilan berpikir dan bernalar ketika mereka dibanjiri emosi. Jika anak tidak dapat fokus pada tugas-tugas sekolah, mengamuk, atau menarik diri, kemungkinan terjadi sesuatu dalam diri mereka. Kenali tanda-tanda perubahan dalam diri anak. Sebagai contoh, jika si kecil berteriak, “Saya tidak suka belajar (platform pembelajaran virtual).” Perlu ayah dan ibu pahami bahwa anak-anak akan menolak ketika mereka merasa kewalahan. Perlawanan adalah puncak gunung es dari kesedihan, frustrasi, atau emosi besar lainnya yang mungkin ada di bawah permukaan dan sulit untuk diekspresikan oleh anak.

Coba luangkan waktu seperti ini untuk membantu anak mengasah kemampuan memahami emosi mereka. Alih-alih menekan dan memaksa mereka untuk menyelesaikan pekerjaan mereka, coba membantu mereka menggali lebih dalam dengan mengajukan pertanyaan seperti “Apa itu tentang (platform pembelajaran virtual) yang tidak disukai?” Arahkan si kecil untuk mengupas lebih dalam emosi yang ia rasakan untuk memahami apa yang sebenarnya memicu perilakunya.


4. Validasi perasaan si kecil

Anak-anak mungkin memiliki segala macam reaksi terhadap COVID-19 bahkan situasi #dirumahaja. Beberapa diantara mereka ada yang bisa memahami, namun beberapa anak lainnya mungkin membesar-besarkan hal yang mereka pahami, Kekhawatiran atau bentuk emosi lainnya perlu diterima dan divalidasi dulu. Misalnya, mereka mungkin pernah mendengar bahwa orang yang lebih tua lebih rentan untuk terkena virus daripada orang yang lebih muda. Ayah dan ibu dapat mengatakan bahwa emosi kekhawatiran tersebut wajar agar si kecil merasa diperhatikan dan dianggap, tetapi perlu juga diyakinkan bahwa orang tua juga bisa mendapatkan perawatan medis untuk menghadapi virus tersebut. Contoh lain, seorang anak mungkin takut bahwa hewan peliharaannya juga bisa terkena virus. Ayah dan ibu perlu menanggapi perasaan si kecil dengan serius, tetapi kemudian yakinkan hewan peliharaan mereka tidak akan terkena virus, sehingga tidak perlu khawatir tentang hal ini.


5. Bersedia untuk diberi pertanyaan

Situasi ini kemungkinan akan berlangsung lama sehingga komunikasi dengan anak tidak akan berlangsung sekali. Biarkan anak tahu bahwa mereka dapat mendatangi ayah dan ibu kapan saja dengan pertanyaan terkait kekhawatiran mereka. Hal ini juga dapat dijadikan kesempatan untuk melakukan check kondisi anak, karena mereka mungkin tidak akan mendekati ayah dan ibu terlebih dahulu jika mereka takut. Saat menjawab dengan memberikan informasi baru, jangan berasumsi bahwa si kecil dapat memahami secara langsung dan sepenuhnya hal yang ayah dan ibu katakan. Minta mereka untuk menjelaskan kembali kepada ayah dan ibu dengan bahasa mereka sendiri untuk mengetahui seberapa banyak yang mereka pahami.


6. Pastikan anak mengetahui cara melindungi diri mereka dari bahaya virus

Penting untuk ayah dan ibu untuk menunjukkan cara menjaga kebersihan dalam upaya melindungi diri agar dapat menjadi role model yang baik bagi si kecil seperti rajin mencuci tangan, etika bersin/batuk, tidak berjabat tangan, dll. Beri tahu anak-anak semua hal positif yang dapat mereka lakukan setiap hari, daripada menekankan hal-hal negatif untuk menurunkan tingkat stres bagi seluruh keluarga.


7. Batasi paparan media

Pantau seberapa banyak anak terpapar pada cakupan pandemi. Minimalisasi akses ke TV atau media sosial jika perlu. Anak-anak dapat dengan mudah mengartikan informasi dan membayangkan yang terburuk tanpa pengawasan dari orangtua.


8. Buat jadwal secara rutin dan konsisten

Memiliki jadwal yang rutin akan mengurangi stres mereka bagi si kecil. Jadwal yang rutin dapat menjadi petunjuk bagi si kecil dalam menjalani aktivitas #dirumahaja seperti hari normal. Ketidakpastian tentang apa yang terjadi selanjutnya hanya menumbuhkan kecemasan dan ketakutan akan hal yang tidak diketahui. Jadilah kreatif dan fleksibel dengan jadwal itu. Tetapkan waktu untuk tugas sekolah dan belajar, serta untuk bersantai bersama, mendapatkan udara segar dan melakukan beberapa latihan fisik bersama.


9. Buat aktivitas yang menyenangkan bersama si kecil

Situasi yang mengharuskan SFH (School from Home) tentu sedikit banyak membatasi kebebasan dan kebutuhan anak untuk bermain, berbeda jika benar-benar berada di sekolah. Oleh karena itu, usahakan agar ayah dan ibu menciptakan kegiatan-kegiatan menyenangkan seperti yang anak temukan di sekolah agar anak tetap bisa merasa senang dan nyaman meski #dirumahaja seperti olahraga bersama, jadwalkan video call bersama dengan teman-teman si kecil, mencoba virtual museum, dll. Pada prinsipnya, tetap seimbangkan kebutuhan belajar dan bermain anak.


10. Bagaimana jika ada keluarga yang terkena virus?

Peristiwa traumatis dapat membuat anak-anak sangat rentan sehingga memicu ketakutan dalam dirinya. Namun, ingat bahwa anak-anak akan belajar dari lingkungannya, terutama orangtua dalam mengupayakan keselamatan. Oleh karena itu, orangtua perlu yakin dan percaya bahwa dirinya aman sehingga anak juga dapat merasa aman meski mengetahui dirinya terkena virus. Ayah dan ibu bisa membantu si kecil dengan mengatakan, “Situasi seperti ini sama kok dengan masalah yang lain. Kita hanya perlu belajar tenang, kemudian mencari cara untuk menghadapinya dan belajar untuk mencegahnya agar tidak tertular. Adik perlu tahu bahwa banyak orang-orang di luar sana seperti dokter dan perawat yang bekerja keras dalam menghadapi virus ini, jadi kita perlu percaya mereka. Jadi, tenang ya.”


11. Yang paling penting, gunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami

Perhatikan selalu gaya bahasa yang digunakan positif dan tidak condong menakut-nakuti. Selain itu, dalam memberi pengertian, pastikan informasi yang disampaikan merupakan fakta dari sumber yang terpercaya. Sebelum disampaikan, penting untuk mengolah fakta tersebut ke dalam kalimat sederhana agar mudah dicerna oleh si kecil. Tanamkan kepada anak untuk aktif bertanya, dan mencari tahu bersama apabila ada situasi yang tidak dipahami.

Editor : drg. Valeria Widita W

 

Referensi:

https://www.mghclaycenter.org/hot-topics/7-ways-to-support-kids-and-teens-through-the-coronavirus-pandemic/

https://www.mother.ly/child/pandemic-mental-health-effect-on-children

 

Mencegah Infeksi corona, Hindari Kelirumologi Disinfektan!

 

 

 

 

oleh dr. Yulianto Santoso Kurniawan, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

Halo Ayah dan Ibu,

Saat ini infeksi virus corona menjadi ancaman bagi kita semua. Virus corona dapat bertahan sampai dengan 72 jam di permukaan dan untuk membasminya diperlukan upaya pembersihan. Namun banyak orang yang menjadi terlalu khawatir dengan hal tersebut sehingga menggunakan disinfektan secara berlebihan dan melupakan prinsip utama pencegahan infeksi virus corona.

Virus corona ditularkan melalui droplet atau percikan udara pernapasan, percikan tersebut akan jatuh sesuai gaya gravitasi sejauh 1-2 meter. Untuk itu pencegahan yang utama adalah:

    1. Mencegah percikan droplet
      1. Gunakan masker jika sakit
      2. Tutup mulut dan hidung saat bersin dan/atau batuk dengan tangan, siku bagian dalam atau tisu
      3. Jaga jarak >1 meter dengan orang lain
      4. Hindari bertemu dengan orang lain jika tidak diperlukan
    2. Cegah penularan melalui perantaraan tangan
      1. Tidak bersalaman
      2. Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun selama 20 detik setelah terkena percikan batuk/bersin atau dengan bahan dasar alkohol >60%
    3. Bersihkan lingkungan, terutama permukaan yang sering disentuh seperti gagang pintu, meja, tombol saklar lampu, dan pegangan tangga

Kapan kita perlu menggunakan disinfektan?

Kita gunakan disinfektan bila ada kemungkinan kita sudah terpapar oleh orang yang sakit/terinfeksi virus corona. Bila ada kemungkinan telah kontak dengan virus corona, bersihkan rumah dengan cara:

  • Bersihkan dengan cara kering (sapu, lap dengan bahan microfiber) untuk membersihkan bahan yang ringan
  • Bersihkan permukaan dengan cara basah, menggunakan air hangat dan detergen. Bersihkan dengan menggosok untuk menghilangkan cairan tubuh atau kotoran yang menempel
  • Bilas dengan air bersih
  • Biarkan kering
  • Bersihkan dengan larutan disinfektan dengan konsentrasi yang sesuai, dan waktu kontak (biarkan tetap basah untuk waktu tertentu untuk membunuh bakteri/virus) umumnya 5-10 menit.
  • Bilas kembali dengan air bersihKita gunakan disinfektan bila ada kemungkinan kita sudah terpapar oleh orang yang sakit/terinfeksi virus corona.  Bila ada kemungkinan telah kontak dengan virus corona, bersihkan rumah dengan cara:

Bahan disinfektan yang dapat digunakan adalah klorin dengan konsentrasi 0,1% (1 bagian klorin 5,25% diencerkan 49 bagian air – 1 mL klorin 5,25% ditambah 49 mL air). Sementara untuk bahan yang berpori (misalnya, karpet) dapat dilakukan pencucian dengan suhu 60-70 derajat Celsius.

Tidak ada rekomendasi yang menyatakan penyemprotan dengan disinfektan kepada manusia atau jalanan akan efektif mencegah penularan virus corona.

Untuk menjaga agar keluarga kita tetap sehat maka kembali kepada pencegahan utama: memakai masker, tutup mulut dan hidung saat batuk, cuci tangan setelah kontak dengan batuk dan sebelum memegang mata/hidung/mulut, jaga jarak 1-2 meter,hindari keluar atau berkerumun bila tidak diperlukan, serta bersihkan ruangan secara teratur.

Semoga kita selalu sehat ya!

Editor: dr. Sunita

Sumber:

https://www.aaha.org/aaha-guidelines/infection-control-configuration/protocols/cleaning-and-disinfection2

https://www.nea.gov.sg/our-services/public-cleanliness/environmental-cleaning-guidelines/guidelines/guidelines-for-environmental-cleaning-and-disinfection

 

Disinfeksi

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Halo, Keluarga Kejora! Di masa pandemi COVID-19 seperti ini, tetap tinggal di rumah merupakan salah satu pilihan terbaik untuk dilakukan. Tentu Ayah dan Ibu juga tau bahwa kebersihan rumah merupakan hal yang tidak kalah pentingnya. Oleh karena itu, Kejora ingin berbagi informasi dan tips mengenai disinfeksi.

 

Disinfeksi merupakan suatu proses yang dilakukan untuk mengurangi atau membasmi mikroorganisme pathogen pada benda tidak bergerak. Diharapkan proses disinfeksi ini dapat menurunkan risiko penyebaran infeksi. Disinfeksi berbeda dengan sterilisasi. Sterilisasi dimaksudkan untuk membasmi semua mikrooganisme dan biasanya dilakukan pada peralatan dan fasilitas kesehatan. Disinfeksi rumah tangga dilakukan pada permukaan datar (misalnya pada lantai, dinding, perabot rumah tangga, pegangan pintu, dsb), permukaan lunak atau berpori (misalnya tirai, karpet, dsb), dan pakaian.

 

Untuk melakukan disinfeksi permukaan datar, beberapa larutan yang umum digunakan, antara lain:

  • Pemutih (larutkan 1 Liter air dengan 2 sendok makan)
  • Karbol (larutkan 1 Liter air dengan 1 sendok makan)
  • Pembersih lantai (larutkan 5 Liter air dengan 1 tutup botol)

 

Dalam melakukan disinfeksi permukaan datar, sebaiknya digunakan sarung tangan, masker, ataupun pelindung kaki (seperti sepatu boot). Disinfeksi dilakukan dengan pengelapan kain mikrofiber yang direndam larutan disinfektan. Cara lain yang dapat digunakan untuk melakukan disinfeksi adalah dengan menggunakan cairan yang disemprotkan ke tisu berlapis atau kain. Lakukan pengelapan dengan gerakan zig zag atau memutar dari tengah keluar. Biarkan permukaan hingga kering. Proses disinfeksi ini dapat dilakukan 2 kali sehari.

 

Mainan anak juga sebaiknya kebih sering dibersihkan. Larutan yang dapat digunakan untuk membersihkan mainan anak adalah larutan pemutih (larutkan 1 Liter air dengan 2 sendok makan) atau alkohol dengan kadar 70%. Ini terutama untuk mainan yang sering disentuh. Gunakan kain lap atau tisu berlapis untuk membersihkan dan biarkan hingga kering.

 

Untuk karpet, tirai, atau boneka anak, gunakan larutan pembersih yang sesuai yang tersedia di pasaran. Disinfeksi dilakukan dengan mencucinya dengan air yang paling hangat, dengan tetap memperhatikan instruksi cuci dari pabrik. Hal yang sama juga disarankan untuk proses disinfeksi pakaian. Gunakan deterjen yang sesuai dan air yang paling hangat sesuai dengan instruksi pencucian yang tertera pada pakaian. Selain itu, sebaiknya pakaian kotor tidak diaduk dengan tujuan meminimalisir kemungkinan penyebaran virus melalui udara. Jika ada anggota keluarga yang sakit, maka pakaiannya sebaiknya dicuci secara terpisah. Keranjang dan tas pakaian juga jangan lupa untuk dibersihkan dengan cara disinfeksi untuk permukaan datar. Setelah melakukan disinfeksi, jangan lupa juga untuk melepaskan alat pelindung dan cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.

 

Jangan lupa untuk melakukan disinfeksi pada barang pribadi, seperti telepon genggam dan laptop ya, Ayah dan Ibu! Disinfeksi dapat dilakukan dengan pembersih khusus yang dijual di pasaran.

 

Semoga tips disinfeksi di atas bermanfaat dan semakin menjauhkan kita dari infeksi COVID-19. Sehat selalu, Keluarga Kejora!

 

Sumber:

https://www.cdc.gov/infectioncontrol/guidelines/disinfection/introduction.html

https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/prepare/cleaning-disinfection.html

Panduan Disinfeksi Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.

https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/key-messages-and-actions-for-covid-19-prevention-and-control-in-schools-march-2020.pdf?sfvrsn=baf81d52_4

 

 

 

 

Kenalkan dan Ajarkan 5 Bahasa Kasih Bagi Si Kecil di Hari Kasih Sayang


 

 

 

oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

Hallo Keluarga Sehat Kejora Indonesia!
Bulan Februari merupakan bulan penuh kasih sayang karena kita merayakan Valentine. Valentine adalah momen yang berkesan bagi para pasangan kekasih untuk saling mengungkapkan cinta. Ayah dan Bunda juga bisa ikut merayakan hari kasih sayang ini bersama keluarga.

Ayah dan Bunda bisa mengungkapkan kasih sayang kita bagi si kecil dengan berbagai cara. Dr. Gary Chapman dalam bukunya, The 5 Love Languages merumuskan 5 bahasa kasih. Dengan memberikan anak bahasa kasih, anak akan merasa dicintai oleh orangtuanya. Seperti tangki, kasih sayang kita pada anak perlu terus diisi sehingga kebutuhan anak kita akan kasih sayang dapat terpenuhi. Yuk Kenali 5 bahasa kasih yang bisa Ayah dan Bunda berikan dan ajarkan bagi si kecil!

5 Bahasa Kasih (5 Love Languages):
1. Touch (Sentuhan Fisik)
Sentuhan fisik merupakan bahasa cinta yang paling mudah diterapkan oleh Ayah dan Bunda dan akan langsung dirasakan oleh si kecil. Contoh sentuhan fisik kepada anak: memberi pelukan hangat, ciuman, usapan, belaian lembut di rambut dan punggung, tepukan ringan di punggung / lengan, dan bergandengan tangan.

2. Word of Affirmation (Kata-kata Cinta)
Word of affirmation merupakan cara penyampaian kasih melalui kata-kata positif dan dipenuhi kasih sayang kepada anak. Kata-kata yang positif dalam membuat self-esteem anak meningkat. Jangan lupa, untuk memberikan kata-kata cinta dengan nada dan suara yang lembut ya, Ayah dan Bunda. Contoh word affirmation yang bisa diberikan pada si kecil:
• Kata-kata penuh kasih: “Mama sayang kamu”; “Papa peduli padamu”
• Kata-kata yang memotivasi anak: “Ayah dan Bunda bangga padamu”; “Ayah yakin kamu pasti bisa”
• Kata-kata pujian:“Wah kamu pintar!”

3. Quality Time (Waktu Berkualitas)
Waktu berkualitas adalah waktu kebersamaan dimana Ayah dan Bunda memperhatikan si kecil secara penuh. Sesibuk apa pun Ayah dan Bunda, jangan lupa untuk memberikan waktu berkualitas bagi si kecil supaya si kecil merasa bahwa kita ada untuk mereka. Contoh quality time bersama si kecil: makan bersama anak, belajar bersama, bermain bersama, berbincang dan bercerita bersama anak.

4. Gift (Hadiah)
Gift merupakan bahasa kasih dengan memberikan hadiah sebagai ungkapan kasih sayang Ayah dan Bunda untuk si kecil. Ketika memberikan hadiah bagi si kecil, berikut tips yang bisa Ayah dan Bunda lakukan:
• Memberi barang yang dibutuhkan anak
• Memberi barang hasil karya sendiri, misalnya membuatkan anak mainan
•Yang penting bukanlah seberapa mahal hadiah yang diberikan. Tapi, seberapa tulus pemberian hadiah tersebut.

5. Act of Service (Tindakan Membantu / Melayani)
Act of service adalah bentuk bahasa kasih di mana Ayah dan Bunda menunjukkan sikap melayani si kecil dengan penuh kasih sayang, dengan sukarela bukan karena keterpaksaan. Ketika Ayah dan Bunda menunjukkan sikap mau membantu dan melayani si kecil, anak akan belajar juga melayani dan membantu orang lain. Selain itu, dengan membantu si kecil mengerjakan sesuatu, mereka akan makin percaya kepada Ayah dan Bunda, sehingga ikatan erat antara Ayah dan Bunda dengan si kecil semakin erat. Ayah dan Bunda bisa membantu si kecil melakukan hal yang belum bisa ia lakukan sendiri atau membantu si kecil ketika menghadapi kesulitan. Contoh act of service: memasak / membuat sarapan untuk si kecil, membantu si kecil mengerjakan tugas yang sulit.

Bagaimana Menerapkan Bahasa Kasih bagi si kecil?
Ayah dan Bunda bisa gunakan rumus sederhana 2T + 2K untuk menerapkan kelima bahasa kasih bagi si kecil:

1. TANPA Syarat: Berikan 5 bahasa kasih Ayah dan Bunda pada si kecil dengan memberikan Kasih Tanpa Syarat. Tunjukkan bahwa Ayah dan Bunda mengasihi si kecil dengan tulus.

2. TIDAK Takut Salah: Menjadi orangtua merupakan proses belajar terus-menerus. Ayah dan Bunda perlu tidak takut ketika masih ada kesalahan / hal yang kurang tepat yang kita lakukan dalam menunjukkan kasih sayang kita pada si kecil. Yang terpenting, Ayah dan Bunda terus-menerus mau belajar dalam memberikan kasih sayang bagi si kecil!

3. KENALI Bahasa Kasih Si Kecil: Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan si kecil, biasanya ada satu hingga dua bentuk bahasa kasih yang menonjol pada anak. Ayah dan Bunda perlu tahu bahasa kasih yang cocok dengan si kecil, supaya si kecil merasa disayangi oleh kita.

4. KONSISTEN: Berikan kelima bahasa kasih tersebut secara konsisten supaya si kecil mengenal berbagai bentuk kasih sayang dan cara mengungkapkan kasih sayang.

Ketika si kecil merasa dicintai dengan utuh dan penuh, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan lebih sehat secara sosioemosional!

Selamat merayakan rasa kasih sayang bersama keluarga tercinta, ya Ayah dan Bunda!

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

MENGATASI SKABIES/KUDIS PADA ANAK

 

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Salam sehat keularga sehat Kejora!
Pada pertemuan kali ini kita akan membahas salah satu kelainan kulit yang sering terjadi pada anak yaitu Skabies atau yang lebih dikenal dengan Kudis. Seringkali, ketika anak pulang dari asrama atau acara menginap beramai-ramai, dan beberapa hari kemudian mengeluhkan gatal dan bintil – bintil di kulit, terutama area lipatan, kemungkinan anak tertular infeksi scabies atau kudis.

Kudis atau dikenal juga dengan nama skabies (scabies) adalah penyakit kulit yang disebabkan tungau bernama Sarcoptes scabiei. Serangga ini berukuran sangat kecil sehingga tidak terlihat dengan mata telanjang.

Dari permukaan kulit, tungau masuk ke lapisan dalam kulit untuk bertelur, hidup, dan makan. Kondisi ini bisa menyebabkan kulit terasa sangat gatal di area yang terinfeksi sebagai reaksi alergi.

Kudis atau skabies biasanya ditandai dengan bintil-bintil gatal yang tidak sembuh, menyerang anggota keluarga/teman serumah, dan rasa gatal terutama meningkat di malam hari.

Bagaimana cara skabies menular?

Skabies menular melalui kontak kulit yang lama dengan penderita skabies. Terkadang skabies juga bisa menular melalui kontak dengan barang seperti baju, sprei dan handuk yang sebelumnya dipakai penderita skabies dan terinfestasi kutu. Skabies dapat menyebar dengan cepat melalui kontak fisik yang dekat dalam keluarga, play group anak, kelas sekolah, panti jompo, asrama, pesantren atau penjara.

Bagaimana mengetahui apakah anak mengalami skabies?

Tanda yang khas dari skabies adalah gatal di malam hari, anggota keluarga/serumah mengalami keluhan yang sama, terdapat terowongan di kulit yang dibentuk oleh kutu skabies dan ditemukannya kutu skabies di kulit. Bisa ditemukan bintil-bintil dan luka pada area lipat jari, ketiak, pantat, lipat siku dan lutut, serta area sekitar pusar. Apabila luka garukan terinfeksi, bisa muncul nanah, demam dan pembesaran kelenjar, yang menandakan sudah terjadi infeksi sekunder.

Dokter spesialis kulit biasanya bisa mendiagnosis dengan tepat dan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain dengan pemeriksaan yang nyaman dan tidak invasif seperti dermoskopi (menggunakan alat pembesar khusus untuk menemukan kutu) atau pewarnaan kerokan kulit untuk menemukan kutu skabies

Bagaimana mengobati scabies dan mecegahnya?

Hal yang harus segera dilakukan jika ditemukan gejala adalah berobat ke tenaga kesehatan terdekat untuk mendapat penanganan. Jika ada anggota keluarga yang terkena, kurangi kontak fisik dengan pasien seperti tidur bersama, pemakaian handuk bersama dan lain sebagainya. Seprai, handuk dan selimut penderita skabies dan orang rumah sebaiknya dicuci di air panas, dijemur dan disetrika.

Terdapat beberapa jenis krim atau obat oles yang dapat diresepkan oleh dokter, bergantung pada kondisi dan usia anak.

  1. Salep/Krim belerang. Penggunaannya tidak boleh kurang dari 3 hari karena tidak efektif terhadap stadium telur. Obat ini dapat digunakan pada pasien bayi berumur kurang dari 2 tahun.
  2. Emulsi benzyl-benzoas 20-25%. Obat ini digunakan selama 3 hari setiap malam hari. Kekurangan obat ini adalah menyebabkan iritasi, sulit diperoleh, dan pada beberapa orang menyebabkan gatal setelah dipakai.
  3. Gama Benzena Heksa Klorida (gemeksan=gammexane) 1% dengan sediaan krim atau losio. Obat ini diberikan cukup sekali, jika masih ditemukan gejala maka diulangi satu minggu kemudian. Kelebihan obat ini adalah efektif untuk semua stadium, mudah digunakan, dan jarang menimbulkan iritasi. Kontraindikasi penggunaanya adalah ibu hamil dan anak di bawah 6 tahun karena bersifat toksik terhaap susunan saraf pusat.
  4. Krim/losio krotamiton 10% mempunyai efek sebagai antiskabies dan antigatal. Pemberiannya harus dijauhkan dari mata, mulut, dan uretra
  5. Krim permetrin 5%. Jika dibandingkan dengan gameksan, permetrin lebih aman dan efektifitasnya sama. Pemberian dilakukan cukup sekali dan dihapus dalam 10 jam. Bila belum sembuh maka diulangi setelah seminggu kemudian. Kontraindikasi pemberian permetrin adalah pada bayi dibawah usia 2 bulan.

Idealnya, pengobatan dilakukan kepada seluruh anggota keluarga atau orang yang tinggal serumah, secara bersamaan, baik dengan ataupun tanpa gejala. Hal ini dapat mencegah penularan ulang

Rujukan 

  1. Gilson RL, Crane JS. Scabies (Sarcoptes Scabiei) [Updated 2019 Dec 13]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020 Jan. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK544306/
  2. A Banerji; Canadian Paediatric Society, First Nations, Inuit and Métis Health Committee. Scabies. Paediatr Child Health 2015;20(7):395-402.
  3. Golant AK, Levitt JO. Scabies: a review of diagnosis and management based on mite biology. Pediatr Rev. 2012 Jan;33(1):e1-e12. doi: 10.1542/pir.33-1-e1.