Tips Menghadapi Fase Phalic pada Anak, Fase Psikoseksual yang Sering Membuat Orangtua Khawatir


 

 

 

 

oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

>Haii Ayah dan Bunda Kejora!

Tidak hanya perkembangan fisik dan psikologis, si kecil juga memiliki periode perkembangan psikoseksual. Menurut Sigmund Freud, masing-masing indvidu akan melewati beberapa fase psikoseksual dalam hidupnya, dimulai sejak tahapan bayi. Freud membagi perkembangan psikoseksual pada individu terbagi menjadi lima fase, yaitu fase oral, anal, phalic, laten, dan genital. Salah satu fase yang sering membuat orangtua khawatir adalah fase phalic. Yuk, simak penjelasannya lebih lanjut!

  1. Apa itu Fase Phalic pada Perkembangan Psikoseksual Anak?

Fase phalic terjadi ketika si kecil berusia 3 – 5 tahun. Pada fase ini si kecil akan memperhatikan dan memegang alat kelaminnya sendiri. Hal ini dikarenakan pusat kenikmatan anak terletak di sekitar alat genitalnya.

Banyak orangtua menjadi bingung dan terkejut karena mungkin melihat si kecil:

  • Mulai penasaran akan perbedaan gender dan alat kelamin
  • Pernah menstimulasi alat kelaminnya secara ringan
  • Memegang dan memainkan alat kelaminnya

Ayah dan Bunda tak perlu langsung panik ya saat melihat hal tersebut. Mengapa? Perilaku anak tersebut didasarkan baik pada rasa ingin tahu karena penglihatan atas alat kelaminnya, maupun mulai adanya edukasi seks yang diajarkan terkait jenis kelamin. Pada usia 3 tahun, anak mulai memperhatikan dan membedakan perbedaan jenis kelamin antara anak laki-laki dan perempuan. Hal ini memicu anak untuk mulai mengeksplorasi tubuhnya. Keingintahuan dan eksplorasi si kecil akan tubuhnya, termasuk alat kelaminnya, tidaklah didasarkan pada hasrat seksualnya ya, Ayah dan Bunda. Pada usia tersebut, hasrat seksual anak seharusnya belum terbentuk.

  1. Bagaimana Menghadapi Fase Phalic pada Si Kecil?

Jangan langsung khawatir dan marah

Ayah dan Bunda mungkin akan khawatir dan bingung saat melihat si kecil memegang dan memainkan alat kelaminnya. Tak jarang orangtua langsung membentak dan memarahi si kecil. Jika orangtua langsung marah, justru akan membuat si kecil takut dan makin penasaran. Selain itu, dapat terekam dalam memori si kecil sehingga akan berpotensi menimbulkan persepsi buruk bagi anak akan konsep seksual di masa depannya. Seperti penjelasan di atas, perilaku tersebut adalah hal yang normal dan wajar, asalkan tidak berlebihan.

Alihkan perhatian anak

Alih-alih membentak, Ayah dan Bunda bisa mengalihkan perhatian si kecil dengan aktivitas lainnya. Misalnya dengan bermain, berolahraga, atau melakukan hobi yang disukai anak.

Jika si kecil bukan hanya menggesek-gesekkan kelaminnya, namun sudah berlebihan atau bertelanjang dan memegang-megang kelaminnya di depan orang lain. Tentu hal ini membuat orangtua tidak nyaman. Tak perlu langsung membentak si kecil di depan orang lain, Ayah dan Bunda bisa mengajak si kecil langsung ke tempat tenang/masuk ke kamar (jika di rumah) dan alihkan perhatiannya untuk melakukan aktivitas yang lain.

Beri penjelasan dengan baik pada si kecil

Saat situasi sedang tenang, cobalah untuk membangun interaksi positif dengan si kecil. Lalu Ayah dan Bunda bisa mulai member penjelasan pada si kecil. Jelaskan bahwa alat kelamin anak adalah bagian yang sensitif dan berharga, sehingga akan lecet jika dipegang terus-menerus. Selain itu, penting bagi anak untuk menjaga kesehatan dan higienitas alat kelamin.

Buat aktivitas yang produktif dan berikan lingkungan positif bagi si kecil

Rutinitas produktif dan positif, seperti belajar, berolahraga melakukan hobi, bisa menyalurkan energi anak ke arah yang positif. Pastikan juga lingkungan sosial si kecil positif ya, Ayah dan Bunda. Awasi lingkungan di mana si kecil beraktivitas dan ajarkanlah pentingnya menjaga dan menghormati tubuhnya dan tubuh orang lain.

  1. Apakah Fase Phalic akan Hilang dengan Sendirinya?

Ayah dan Bunda tidak perlu khawatir, fase phalic akan lewat dengan sendirinya ketika si kecil berusia 6 tahun ke atas. Pada usia ini, si kecil akan memasuki fase laten, di mana anak sudah akan lebih terfokus pada tumbuh kembang fisik dan kognitifnya.

Selama melewati fase phalic ini, Ayah dan Bunda sama-sama berperan penting untuk menciptakan suasana keterbukaan dan kenyamanan bagi si kecil. Ayah dan Bunda juga berperan penting untuk bisa memiliki waktu berkualitas agar dapat membangun komunikasi yang baik dengan si kecil. Dengan kenyamanan dan interaksi yang baik, akan lebih mudah bagi Ayah dan Bunda dalam memberikan edukasi seks yang tepat bagi si kecil.

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa, M.Si

Ketika Si Kecil Melihat Orang Tua Berhubungan Seksual

oleh Anastasia Hanifah, M.Psi.

Psikolog

Pernahkah Ayah dan Ibu Kejora mengalami hal tersebut?

Sebagai orang tua pastilah hal ini yang paling tidak diinginkan, namun terkadang orang tua lengah, sehingga hal tersebut tidak dapat dihindari. Ketika si kecil tanpa sengaja melihat orang tuanya sedang berhubungan seksual, apa saja ya yang harus dilakukan?

Yuk, simak pembahasannya!

  1. Kapan waktu yang tepat untuk menjelaskan pendidikan seksual pada si kecil?

Orang tua dapat menjelaskan pendidikan seksual pada si kecil sedini mungkin.

  • Usia 0–2 tahun, orang tua dapat mulai mengenalkan anatomi tubuh pada anak. Pengenalan anatomi tubuh dapat dilakukan saat anak sedang mandi, lalu orang tua dapat menjelaskan nama-nama anggota tubuh.
  • Usia 2–3 tahun, si kecil sudah mulai memiliki perasaan ingin tahu mengapa tubuhnya berbeda dengan anak lain, si kecil sudah mengetahui konsep anak perempuan dan laki-laki. Pada usia ini, orang tua dapat menjelaskan nama-nama anggota tubuh perempuan dan laki-laki.
  • Usia 4–5 tahun, si kecil sudah mulai menanyakan dari mana adik bayi berasal. Pada usia ini, anak sudah mulai dapat dijelaskan bahwa adik bayi tumbuh di dalam rahim dan dapat dijelaskan pula bahwa untuk membuat adik bayi dibutuhkan sperma (seperti sebuah biji kecil) yang berasal dari laki-laki dan ovum (seperti sebuah telur kecil) yang berasal dari perempuan.
  • Usia 6–8 tahun, si kecil akan bertanya lebih mendalam mengenai bagaimana adik bayi dibuat. Pada usia ini, orang tua dapat menjelaskan mengenai hubungan seksual. Bayi dibuat karena adanya hubungan seksual antara pria dan wanita, dengan cara pria memasukan penisnya ke dalam vagina wanita. Hal tersebut dilakukan ketika seseorang sudah dewasa dan menikah serta saat mereka menginginkan keberadaan adik bayi, sehingga hal ini bukan untuk anak kecil. Membaca buku bersama mengenai dari mana bayi berasal sangat penting dilakukan agar si kecil lebih mudah memahami.

Penting juga bagi orang tua untuk menanyakan pada si kecil, apa saja yang sudah mereka ketahui, sehingga orang tua tahu apa yang sebenarnya ingin diketahui si kecil dan seberapa jauh orang tua perlu menjelaskan.

  1. Bagaimana cara menjelaskan pada si kecil saat melihat orang tuanya berhubungan seksual?
  • Anak usia di bawah 3–4 tahun masih belum memiliki konsep yang jelas sehingga orang tua dapat menjelaskan bahwa ayah dan ibu berpelukan dan berciuman karena saling mencintai.
  • Anak usia di bawah 5 tahun, konsep yang dimiliki juga belum terlalu jelas, maka orang tua tidak perlu menjelaskan secara detil dan berlebihan.
  • Anak usia 5–6 tahun sudah memiliki logika berpikir yang lebih luas. Pada usia ini, akan lebih baik orang tua merespon dengan cara menjelaskan “bagaimana adik bayi dibuat” dibanding menanyakan kepada anak mengenai apa yang mereka tahu dan di mana melihat hal tersebut, hal itu justru dapat menimbulkan persepsi yang berbeda. Penting pula bagi orang tua untuk meminta maaf kepada anak akan situasi yang tidak sengaja terlihat oleh mereka, namun tidak perlu memunculkan perasaan bersalah terlalu lama karena hal tersebut akan membuat anak merasa bingung dan semakin tidak nyaman.

Kuncinya adalah bicarakan secara faktual seperti apa yang orang tua telah ajarkan kepada anak sesuai dengan usianya, terkait pendidikan seksual. Jangan menghindar dari topik dan menunggu anak terlebih dahulu mengangkat topiknya. Pastikan kepada si kecil bahwa mereka tidak membuat kesalahan saat mereka masuk ke dalam.

  1. Jika anak usia balita, akankah anak mengingatnya? Jika tidak, perlukah orang tua tetap memberi penjelasan dan bagaimanakah cara menjelaskannya?

Ya, pada usia 3 tahun anak dapat mengingat dengan baik. Orang tua dapat mengajarkan si kecil dengan menggunakan buku, hal ini akan sangat membantu. Si kecil dapat melihat gambar sambil menamai bagian tubuh sekaligus dapat melihat perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan.

  1. Bagaimanakah sebaiknya respon orang tua saat si kecil tanpa sengaja melihat orang tuanya berhubungan seksual?

Respon orang tua sebaiknya tetap tenang, namun saat berada pada situasi tersebut sering kali orang tua merasa panik dan malu. Akan lebih baik jika orang tua meminta waktu pada anak untuk menunggu sebentar agar orang tua bersiap, terutama anak yang sudah berusia 4 tahun ke atas karena mereka sudah dapat melihat situasi secara lebih mendalam. Jika orang tua terlalu bereaksi terhadap situasi tersebut, maka anak akan merasa bahwa hal yang dilakukan oleh orang tuanya salah dan dapat menimbulkan pertanyaan serta gangguan kepercayaan.

  1. Akankah si kecil menjadi trauma dan bagaimanakah cara mengantisipasinya?

Hal ini dapat menimbulkan ketakutan pada anak terutama saat anak tidak mendapatkan penjelasan secara benar. Hal ini dapat berdampak pada pemahaman anak mengenai hubungan seksual dan pandangan anak mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan. Penting untuk memberikan penjelasan sesuai tahap usianya, oleh karena itu pendidikan seksual sebaiknya diberikan sedini mungkin, sehingga orang tua tahu sejauh apa pemahaman yang dimiliki si kecil. Kurangi pemikiran bahwa berbicara tentang seks kepada anak adalah sebuah hal yang tabu. Orang tua harus memahami bahwa lebih aman jika si kecil mengetahui dari orang tuanya, dibandingkan dari media atau orang lain yang mungkin dapat membuat orang tua dan anak memiliki pandangan yang berbeda.

  1. Bagi ibu menyusui, bagaimanakah agar hubungan seksual dapat aman dan nyaman walau berdampingan dengan si kecil?

Hubungan seksual dapat dilakukan saat si kecil sedang tidur, namun perlu diperhatikan juga apakah anak merasa terganggu atau tidak. Hubungan seksual juga dapat dilakukan di area sekeliling bayi, sehingga orang tua tetap dapat melihat bayi dari area jangkauan dan tidak harus satu ranjang dengan bayi yang sedang tidur. Hal tersebut juga dapat meningkatkan excitement dalam suatu hubungan, pasangan dapat mengeksplorasi kedekatan mereka, namun bayi tetap dapat dalam pengawasan.

  1. Bagaimana jika orang tua dan si kecil masih co-sleeping (tidur satu ranjang)? 

Tidur satu ranjang dengan si kecil merupakan salah satu cara untuk menjaga kedekatan orang tua dan anak. Ketika orang tua memulai pola ini, orang tua juga harus menyiapkan waktu untuk dapat membuat anak tidur secara mandiri.

  • Usia newborn-18 bulan, orang tua dapat memulai sleep training. Awalnya, orang tua dapat tidur bersama anak, saat anak sudah tertidur, pindahkan anak secara perlahan. Pertahankan kedekatan ranjang orang tua dengan anak, sehingga anak tetap dapat merasakan kehadiran orang tua. Saat anak sudah merasa lebih nyaman, ranjang dapat diberikan jarak, yang terpenting adalah anak tetap merasa aman.
  • Usia 18 bulan-4 tahun, orang tua dapat mengomunikasikan bahwa si kecil akan tidur dengan lebih baik di ranjang mereka sendiri. Sebelum anak memulai, berikan waktu kepada anak untuk memahami ide tersebut. Jangan lupa untuk memberikan hal-hal yang dapat menyemangati anak agar dapat tidur sendiri, seperti memnerikan bed sheet atau dekorasi kamar yang mereka inginkan, berikan juga positive reinforcement akan pencapaian si buah hati.
  1. Sebaiknya pada usia berapakah anak pisah tidur dengan orang tua?

Anak disarankan untuk pisah tidur dengan orang tua maksimal di usia 5 tahun. Sejak usia 4 tahun, anak dapat mulai dilatih untuk tidur di kamar sendiri, namun untuk melatih si kecil dibutuhkan sebuah proses. Proses yang dijalani dapat berbeda pada masing-masing anak, sehingga lebih baik jika orang tua dapat mengomunikasikan pada anak perihal target waktu kapan anak dapat tidur secara mandiri.

  1. Apa saja antisipasi yang dapat dilakukan agar saat berhubungan seksual dapat aman dari si kecil?

Hal-hal yang penting dipertimbangkan saat akan berhubungan seksual, seperti:

  • pemilihan waktu yang tepat,
  • pemilihan tempat yang tepat, dan
  • ketahui hal apa saja yang dapat mengganggu anak, terutama saat anak sedang tidur.

Beberapa anak sangat sensitif akan suara, sehingga penting bagi orang tua untuk mempertimbangkan hal tersebut.

  1. Apa saja yang orang tua dapat lakukan agar hal tersebut tidak terulang lagi?
  • Kunci kamar saat akan melakukan hubungan seksual.
  • Tidak melakukan hubungan seksual saat jam bermain anak atau saat anak beraktivitas, lebih baik dilakukan saat anak sedang tidur.
  • Rencanakan waktu untuk melakukan hubungan seksual, misal di saat anak sedang sleepover atau menginap.
  • Ajari anak tentang waktu privasi ayah dan ibu, seperti membiasakan anak untuk mengetuk pintu dan menunggu hingga orang tua mengizinkan masuk.

Editor: drg. Agnesia Safitri

Teknik ABCD dalam Mengajarkan Kemandirian Anak


 

 

 

 

oleh Anita Carolina H, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

Hallo Ayah Bunda Kejora!

Seringkah Ayah dan Bunda mendengar bahkan mengalami tantangan dalam mengajarkan si kecil mandiri? Seperti “Anak jaman sekarang mudah menyerah” atau  “Anakku manja banget kalau di rumah”. Terlebih, selama pandemi, tantangan dalam mengajarkan kemandirian si kecil makin sulit, ya Ayah & Bund.

Kadangkali pikiran ini pun sering muncul seperti, “Repot urus anak, keluarga, pekerjaan” atau “Anakku makin sulit diatur selama sekolah online” atau ”Anak makin tidak disiplin selama pandemi” atau Rutinitas keluarga makin “kacau”.

Tapi… Pandemi tak selalu berdampak buruk, loh Ayah & Bunda! Dibandingkan masa sebelum pandemi, saat ini anak memiliki lebih banyak waktu luang di rumah. Jika dimanfaatkan dengan baik, ini bisa menjadi saat terbaik untuk bisa melatih kemandirian pada si kecil!

Apa sih Pentingnya Melatih Kemandirian pada Anak?

Melatih kemandirian pada anak sering dianggap sebagai hal sepele untuk diajarkan pada anak. Namun, sebenarnya kemandirian berperan penting bagi perkembangan anak. Beberapa alasan pentingnya melatih kemandirian pada anak antara lain:

  • Mengembangkan inisiatif anak
  • Mengembangkan kepercayaan diri anak
  • Menstimulasi kematangan emosi dan resiliensi anak
  • Mengembangkan social skill anak
  • Mengembangkan problem solving skill anak

Too much control and the child will not have sufficient opportunity to explore, too little control and the child will become unmanageable and fail to learn the social skill” -Bee-

Children become irresponsible only when we fail to give them opportunities to take on responsibility.” – Rudolf Dreikurs & Margaret Goldman –

Sejak Kapan Ayah dan Bunda Bisa Melatih Kemandirian Anak?

Ayah dan Bunda, sebenarnya kita bisa melatih kemandirian anak sejak dini loh, dari hal-hal yang mudah dan sederhana dulu. Pastikan, kita memberikan aktivitas kemandirian yang sesuai dengan perkembangan si kecil yah.

Apa Sajakah Aktivitas Kemandirian untuk Anak pada Usia Dini?

Ayah Bunda, kemandirian tidak selalu hanya mengajarkan daily life skill saja, tapi kemandirian punya beberapa aspek yang harus diajarkan pada si kecil:

  1. Aspek fisik: Keterampilan di mana anak sudah dapat melakukan hal-hal sederhana dalam rangka merawat dirinya tanpa / dengan bantuan minimum orang lain. Pada anak-anak usia dini, Ayah dan Bunda bisa mulai mengajarkan dail/practical life skill, seperti makan, minum, sikat gigi, membereskan mainan sendiri.
  2. Aspek Emosi: Kemampuan anak untuk meregulasi emosinya. Pada anak-anak usia dini, Ayah dan Bunda bisa mulai mengajarkan dan mencontohkan cara mengatur emosi secara sehat pada si kecil. Jangan lupa, berikan dukungan saat anak kita mengalami emosi negatif ya, Ayah & Bunda
  3. Aspek Sosial: Kemampuan anak untuk bisa beradaptasi di kehidupan sosial. Sebagai contoh adalah sabar menunggu giliran, dapat bergantian ketika bermain, dan mampu berinteraksi dalam sosial. Pada anak-anak usia dini, Ayah dan Bunda bisa dukung stimulasi kemandirian sosial si kecil dengan:
    • Bermain bersama
    • Team activities (bermain bola, grup menari, grup musik, dll).
  4. Aspek Kognitif: Kemampuan anak untuk memiliki kompetensi sesuai usianya dan memecahkan masalah sehari-hari. Contoh aktivitas ini berupa:
    • Bermain bersama si kecil
    • Family trip (dengan protokol kesehatan)
    • Membaca buku/menonton film bersama (yang berisi banyak nilai positif) lalu mendiskusikan secara sederhana
    • Belajar sambil bermain

Apakah yang Dimaksud dengan Teknik ABCD dalam Melatih Kemandirian Anak?

Ayah dan Bunda, kemandirian adalah sebuah skill/keterampilan. Kemandirian tidak bisa dimiliki anak secara cepat. Melainkan, harus dilatih dan “dibiasakan” agar anak menjadi terampil. Berikut teknik “ABCD” dalam melatih kemandirian anak:

  1. Ajarkan

Orangtua perlu mengajarkan dan memberikan contoh bagaimana cara melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.

  1. Beri Kesempatan

Berikan kesempatan pada anak sesering mungkin untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Berikan waktu juga ya parents, untuk si kecil menyelesaikan aktivitasnya secara mandiri tanpa tergesa-gesa.

  1. Ciptakan Rutinitas

Ciptakan rutinitas secara teratur pada anak dalam melakukan aktivitas sehari-harinya secara mandiri. Hal ini bisa membentuk kebiasaan mandiri sejak kecil pada anak.

  1. Dukung secara Emosional

Berikan apresiasi pada anak saat ia berhasil melakukan kemandirian. Dukungan secara positif saat anak belum berhasil melakukan kemandirian dengan baik dan berikan bantuan yang dibutuhkan anak (secukupnya).  Parents, jangan lupa juga untuk memberikan 5  Love Language anak (Gift, word affirmation, touch, act of service, & quality time) seperti yang pernah dibahas pada sesi sebelumnya.

Mengajarkan dan melatih aspek-aspek kemandirian pada anak memang tidak mudah, Ayah dan Bunda. Butuh kesabaran, konsistensi, dan interaksi positif antara Ayah, Bunda, dan si kecil. Jangan lupa, Ayah, Ibu dan seluruh caregiver yang terlibat dalam pengasuhan anak perlu “BAPER” (BAGI PERAN) untuk bisa melatih kemandirian anak dengan baik dan konsisten agar si kecil bisa mengembangkan kemandiriannya!

Sehat selalu ya Ayah dan Bunda.

Editor: Sita Rose Nandiasa, drg., M.Si

Tips bagi Orangtua Menghadapi Si Kecil yang Mengalami Penyakit Serius

 

 

 

 

oleh Nurhuzaifah Amini M.Psi., Psikolog

Psikolog

Hai, Ayah dan Ibu Kejora!

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya lahir dan tumbuh dengan kondisi fisik dan mental yang sehat. Hal tersebut membuat banyak orangtua sangat menjaga kondisi kesehatannya ketika sedang mengandung hingga mengusahakan untuk memberi nutrisi dan asupan yang sehat selama anak proses pertumbuhan. Namun, dalam kondisi tertentu beberapa anak terlahir atau tumbuh dengan kondisi kesehatan yang tidak cukup baik.

Tidak banyak orang tua yang bisa menerima dengan lapang dada ketika mengetahui anaknya mengalami sakit tertentu. Rasa khawatir, cemas, takut dan stres merupakan respon yang paling sering ditunjukkan oleh orangtua dalam masa-masa adaptasi. Perlu dipahami bahwa hal tersebut sangat wajar dirasakan oleh orangtua karena berpikir tentang banyak hal terkait masa depan anak. Selain itu, melihat anak yang perlu berjuang dan mengikuti prosedur medis tentu bukanlah yang mudah untuk dihadapi. Hal ini dapat meningkatkan rasa sakit bagi orang tua, terutama jika anaknya kesakitan karena harus menjalani pengobatan, operasi, suntikan dan perawatan lainnya.

Kondisi mental orangtua sangat mempengaruhi respon anak dalam menghadapi penyakitnya. Kesejahteraan psikologis orangtua dan kesehatan anak sama-sama penting untuk diutamakan. Oleh karena itu, orangtua juga perlu belajar mengelola emosi mereka selama mendampingi anak.

  1. Sadari dan terima reaksi yang muncul ketika merasa tidak nyaman tanpa berusaha menghakimi.
  2. Identifikasi kebutuhan dari setiap emosi yang dirasakan, misalnya merasa capek artinya butuh istirahat.
  3. Berikan pemahaman terhadap diri bahwa kondisi panik tidak akan membawa dampak baik terutama bagi anak.
  4. Luangkan juga waktu untuk mengurus diri sendiri, baik secara fisik maupun mental seperti makan dengan baik, berolahraga, dan tetap terhubung dengan hobi atau minat lain untuk membantu mengendalikan stres.
  5. Minta dukungan secara emosional dari orang terdekat seperti pasangan, orangtua atau sahabat,

Ketika mengetahui anak mengalami penyakit yang serius, ada beberapa hal yang bisa Ayah dan Bunda lakukan untuk anak, diantaranya:

  1. Periksakan secara rutin ke dokter. Hal ini dilakukan agar si kecil mendapatkan perawatan yang dibutuhkan. Selain itu, orangtua juga jadi lebih memahami kondisi anak serta batasan yang perlu diperhatikan selama mendampingi anak.
  2. Komunikasikan kondisi si kecil sesuai dengan tingkat pemahamannya. Bicara secara terbuka kondisi anak agar anak juga bisa memahami hal yang terjad. Pastikan membagikan informasi yang sesuai dengan usia. Jangan memberikan terlalu banyak informasi, tapi juga jangan berusaha menyembunyikan fakta.
  3. Empati dengan kondisi anak. Dalam menjalani pemulihan, mungkin akan banyak dinamika yang terjadi seperti tantrum, anak menolak untuk minum obat, kontrol ke dokter dan berbagai macam kendala lainya. Coba untuk pahami perasaan dan kebutuhan anak serta tidak menghakiminya. Anak perlu untuk tetap diperlakukan baik meski melakukan kesalahan.
  4. Berikan anak ruang untuk mengekspresikan emosinya. Kondisi anak yang sedang tidak sehat tidak berarti mereka jadi tidak perlu menikmati masa kanak-kanaknya. Si kecil tetap perlu diberikan ruang untuk mengekspresikan perasaan mereka dengan tepat. Misalnya, diberi waktu khusus setiap hari untuk berbicara atau membuat jurnal tentang perasaan mereka. Ketika seorang anak sakit, orang tua seringkali cenderung bersikap overprotektif. Sebisa mungkin, usahakan untuk mempertahankan rutinitas keluarga yang sama dengan yang sudah lakukan sebelum anak
  5. Berikan apresiasi pada setiap usaha anak. Segala hal yang dilakukan anak terutama dalam proses pemulihan membutuhkan usaha dan energi anak. Oleh karena itu, tetap berikan apresiasi agar si kecil semakin bisa diajak bekerja sama setiap harinya untuk membantu proses pemulihannya.
  6. Minta bantuan dari orang-orang terdekat. Seringkali dalam kondisi yang panik karena anak sakit, orangtua merasa harus menyelesaikan sendiri masalah anak. Padahal dalam kondisi seperti ini, orangtua juga rentan mengalami gangguan kesehatan. Hal ini membuat bantuan dari orang-orang terdekat sangat dibutuhkan untuk membantu proses pendampingan dan pemulihan si kecil seperti melibatkan kakek, nenek, pengasuh bayi, maupun pihak sekolah.

Editor: drg. Valeria Widita W

Sumber :

https://www.aboutkidshealth.ca/article?contentid=1138&language=english
https://www.nidirect.gov.uk/articles/caring-sick-child
https://www.apa.org/topics/chronic-illness/child
http://robingoldstein.net/articles/parenting-how-to-cope-with-a-sick-child/