oleh Marcelina Melisa, M.Psi

Psikolog Anak

Halo, Keluarga Sehat Kejora!

Saat anak berusia dua tahun tentunya Ayah dan Ibu senang dengan perkembangan bahasa anak. Umumnya, pada usia satu hingga dua tahun adalah usia dimana anak bisa berbicara satu kata dengan utuh untuk pertama kalinya. Sementara itu, pada usia dua hingga tiga tahun adalah usia dimana anak banyak bertanya mengenai nama benda di sekitarnya, cara kerja benda yang dilihatnya, dan berbagai hal. Memasuki usia tiga tahun, atau yang biasa disebut usia threenager, mulai terlihat perbedaan pada perkembangan anak. Pada usia ini, terdapat beberapa ciri utama anak yang membuat mereka seperti usia remaja.

Pertama, anak yang sudah dapat berkomunikasi dua arah dengan lancar mulai meningkatkan rasa ingin tahu yang dimilikinya dengan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Salah satunya terlihat dari jenis permainan yaitu berubah dari bermain sendiri menjadi bermain dengan melibatkan teman lain, baik terlibat secara tidak langsung (parallel play), maupun secara langsung meskipun dengan jalan cerita masing-masing (associative play). Anak juga mulai mempelajari aturan dan norma di sekitarnya. Dalam mempelajari aturan ini, tidak jarang ditemui anak menjadi senang melakukan argumen. Penting bagi orangtua untuk memfasilitasi keinginan eksplorasi anak, namun tetap memberikan batasan sesuai dengan aturan yang ingin diterapkan pada anak.

Kedua, anak pada usia ini sangat ingin berusaha untuk mencoba berbagai hal dengan usaha sendiri. Tak jarang dalam melakukan aktivitas yang tadinya dibantu atau bersama dengan orangtua, sekarang anak menjadi ingin untuk mencoba melakukannya sendiri. Hal ini merupakan hal yang baik bagi perkembangan anak, dan orangtua sebaiknya memfasilitasi anak dengan memberikan bantuan dengan teknik scaffolding. Orangtua melihat sejauh mana kemampuan yang dimiliki anak saat ini, dan memberi sedikit bantuan agar anak dapat menguasai kemampuan yang satu level lebih sulit. Misalnya, saat anak sudah dapat menggosok badan menggunakan sabun, namun, belum dapat membilas tubuh dengan bersih. Maka hal yang harus dibantu oleh orangtua yaitu memperhatikan bagian tubuh yang terdapat lipatan atau mempunyai potensi kurang bersih saat anak membilasnya.

Ketiga, anak mulai memiliki preferensi dalam berbagai hal yang terkadang menyulitkan orangtua. Jika anak sudah mulai menunjukkan bahwa ia memiliki preferensi, maka hal tersebut menunjukkan anak berani memberikan pilihan, dapat mengekspresikan diri melalui hal yang disukainya. Orangtua dapat membiarkan anak memilih, namun anak diminta untuk membantu menyiapkan atau membuat sesuai dengan preferensinya. Misalnya : saat anak ingin makan roti yang dibakar terlebih dahulu sebelum diolesi selai cokelat. Tujuannya agar anak mengetahui usaha yang dibutuhkan untuk menyiapkan hal yang diinginkannya, dan agar ia lebih memiliki komitmen untuk menghabiskan makanan tersebut.

Meskipun pada tahap usia ini muncul berbagai hal baru yang menantang bagi oragntua, namun jika kita menjadikan moment ini sebagai moment anak untuk belajar, ternyata bisa sangat berguna lho.

Editor: drg. Valeria Widita Wairooy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *