Pola Makan Sehat Anak Usia Sekolah

oleh dr. Pratama Wicaksana, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

 

Halo, Ayah dan Ibu! Anak usia sekolah cenderung sudah dapat memilih makanan yang mereka sukai. Selain dari preferensi anak, pilihan makanan tersebut terkadang dipengaruhi oleh kawan dan tawaranan makanan jajanan di luar rumah. Pengaruh yang kurang baik dapat menyebabkan asupan nutrisi yang tidak seimbang, yang dalam waktu panjang dapat menyebabkan masalah malnutrisi, baik obesitas maupun stunting. Pada pembahasan kali ini, Kejora mengangkat tema pola makan sehat pada anak usia sekolah yang akan membahas lebih dalam mengenai pola makan sehat pada anak usia sekolah, fungsi nutrisi, dan makanan yang perlu dihindari.

Pola makan sehat merupakan perilaku mengatur jumlah dan jenis makanan sesuai kebutuhan kalori, makronutrien, dan mikronutrien. Anak usia sekolah memiliki aktivitas yang tinggi, keterpaparan yang tinggi terhadap sumber penyakit infeksi, serta memasuki masa pertumbuhan cepat pra-pubertas, sehingga kebutuhan terhadap zat gizi mulai meningkat secara bermakna. Kebutuhan kalori anak usia sekolah berkisar antara 1.200 hingga 1.800 kilokalori per hari. Asupan lemak dibatasi antara 25-35% dari kebutuhan kalori total dengan persentasi lemak trans atau lemak jenuh kurang dari 10%. Konsumsi protein hewani mencakup 70% dari total asupan protein. Konsumsi serat per hari sekitar 25-30 gram dan garam tidak melebihi 2 gram per hari.

American Heart Association menekankan asupan penting bagi anak usia di atas 2 tahun yaitu sayur dan buah, serelia utuh (whole grain), susu atau produk susu tanpa atau rendah lemak, kacang-kacangan, ikan, dan daging tanpa lemak. Beberapa asupan yang perlu dibatasi adalah jus buah (tidak lebih dari 240-360 mL per hari), produk serelia olahan (refined grain), makanan dan minuman dengan pemanis tambahan (gula kurang dari 50 gram per hari), garam, kulit unggas, serta saos berkalori tinggi (saos krim atau saos keju).

Daging memegang peranan penting untuk asupan anak karena selain menyediakan energi dan protein juga mengandung mikronutrien seperti besi, zink, vitamin A, vitamin B kompleks, dan iodin. Besi dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah; zink berperan dalam pertumbuhan sel; vitamin A penting untuk kesehatan mata serta kekebalan tubuh, dan iodin bersama besi berperan dalam optimalisasi jaringan saraf. Dianjurkan setidaknya anak usia sekolah dalam seminggu mengkonsumsi dua porsi ikan (140 gram) per minggu. Ikan salmon, kembung, lele, dan gabus mengandung asam lemak omega 3 yang cukup tinggi yang baik untuk perkembangan fungsi kognitif dan penglihatan, kesehatan jantung dan pembuluh darah, serta sistem kekebalan tubuh. Konsumsi susu rendah atau tanpa lemak 2-3 gelas per hari dapat membantu mencukupi kebutuhan kalsium dan vitamin D harian. Kudapan sehat seperti buah segar, sayur, keju, produk roti, dan yogurt diberikan 3-4 kali per hari dan mencakup ¼ total asupan harian. Suplementasi vitamin dan mineral tidak rutin diberikan pada anak dengan riwayat pertumbuhan yang baik.

Selain kebutuhan nutrisi anak, orang tua juga perlu memperhatikan hal-hal teknis dalam pemberian nutrisi. Makanan yang disiapkan perlu dimasak hingga matang untuk menghindari kuman yang terdapat pada bahan makanan yang masih mentah. Selain itu, orang tua juga sebaiknya menciptakan suasana makan tanpa distraksi dan membiasakan makan bersama dalam keluarga yang dapat membantu menciptakan perilaku dan kebiasaan makan yang sehat.

Asupan nutrisi dan perilaku yang makan sehat juga sebaiknya diikuti dengan aktivitas fisik yang cukup untuk menunjang kesehatan anak. Anak usia sekolah disarankan untuk melakukan aktivitas fisik selama 60 menit per hari. Penggunaan gawai oleh anak juga sebaiknya dibatasi agar anak tetap tertarik untuk bergerak aktif dalam keseharian.

Editor: Sunita

 

Sumber:

Duryea TK. Dietary recommendations for toddlers, preschool, and school-age children. Diunduh dari:https://www.uptodate.com/contents/dietary-recommendations-for-toddlers-preschool-and-school-age-children. Diakses pada 20 Maret 2021

Gidding SS, Dennison BA, Birch LL, Daniels SR, Gilman MW, Lichtenstein AH, et al. Dietary recommendations for children and adolescents: A guide for practitioners. Pediatrics. 2006;117:544-59

Cleghorn G. Role of red meat in the diet for children and adolescents. Nutr Diet. 2007;64:s143-6

P2PTM Kemenkes RI. Tips Pencegahan Obesitas untuk Anak & Remaja. Diunduh dari: http://www.p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/obesitas/page/37/tips-pencegahan-obesitas-untuk-anak-remaja. Diakses pada 10 April 2021

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pentingnya Nilai Keluarga dalam Mendidik Buah Hati

oleh Mellissa Catalina Trisnadi, M.Psi., Psikolog

Psikolog

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah keluarga Ayah dan Ibu memiliki nilai keluarga yang wajib dipegang teguh oleh seluruh anggota keluarga? Atau Ayah dan Ibu Kejora belum sempat memikirkan hal tersebut? Atau justru belum mengetahui ap aitu nilai keluarga? Kita kupas tuntas pada artikel berikut ini, yuk!

Nilai keluarga (family’s values) merupakan prinsip moral dan etika yang dijunjung tinggi dan menjadi dasar berperilaku anggota keluarga. Nilai-nilai keluarga melibatkan semua gagasan tentang bagaimana Ayah dan Ibu ingin menjalani kehidupan keluarga, apa yang penting dan tidak penting, apa yang baik dan buruk, apa yang benar dan salah. Seringkali nilai keluarga diturunkan dari generasi sebelumnya. Masing-masing pasangan suami istri memiliki nilai keluarga yang dibawa dari keluarganya masing-masing dan nilai itulah yang mereka ajarkan pada anak.

Bagaimana membangun nilai-nilai keluarga yang kuat dan mengajarkannya pada anak?

  1. Ketahui nilai-nilai apa yang penting dan ingin diwariskan pada buah hati.

Fokus pada karakter apa yang diinginkan dari buah hati dan buatlah daftar nilai keluarga singkat yang dapat diingat bersama.

  1. Temukan cara untuk mendiskusikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Tiap anak memiliki cara belajar yang unik sehingga orang tua perlu kreatif untuk mencari cara mendiskusikan nilai-nilai keluarga. Waktu bersama keluarga adalah waktu yang tepat untuk dapat saling berbagi cerita dan mengenalkan nilai-nilai keluarga pada anak. Ceritakan pengalaman Ayah dan Bunda dalam mempraktikan nilai kejujuran, kesopanan, kebaikan, agama ataupun lainnya. Ajak buah hati berdiskusi mana yang baik dan buruk ataupun apa yang sebaiknya dilakukan. Hal ini akan merangsang buah hati untuk mengembangkan nilai keluarga yang menjadi prinsipnya dalam bertingkah laku.

  1. Gunakan aktivitas dan pola asuh yang positif untuk memperkuat nilai-nilai tersebut.

Pola asuh merupakan bagian krusial dalam menanamkan nilai. Apabila Ayah dan Bunda ingin mengajarkan nilai kemandirian, maka fasilitasi aktivitas yang mendorong buah hati untuk mandiri seperti memilih baju sendiri, memilih kegiatan yang disukainya ataupun memberi kesempatan buah hati untuk mengatur keuangannya sendiri. Tentunya hal ini juga harus disesuaikan dengan tahap perkembangan buah hati Ayah dan Bunda.

  1. Rayakan dan apresiasi setiap usaha yang dilakukan ketika mempraktikan nilai-nilai keluarga.

Berikan pujian atas pencapaian buah hati ketika berusaha mempraktikan nilai keluarga dan bimbinglah perkembangan karakter anak secara konsisten.

  1. Jadilah contoh bagi anak dan hidupi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana Ayah dan Bunda menjalani nilai keluarga merupakan cermin bagi buah hati dan buah hati akan mencontoh apa yang Ayah dan Bunda lakukan.

Apa contoh nilai keluarga?

Daftar nilai keluarga bisa jadi sangat banyak, Tergantung pada Ayah Bunda menetukan mana yang dianggap penting sebagai bekal hidup buah hati. Berikut adalah beberapa contoh nilai keluarga yang dapat diterapkan.

Nilai Sosial

Terkait dengan kedamaian, keadilan, kebebasan, kesetaraan dan membuat lingkuangan menjadi lebih baik. Contoh nilai sosial meliputi:

  • Tidak menyakiti orang lain dan membela orang yang lemah
  • Bersikap hormat dan sopan dalam berinteraksi
  • Berkontribusi secara sukarela di lingkungan
  • Bersikap murah hati

Nilai Religius

Nilai-nilai agama berpusat pada harapan yang dimiliki orang tentang diri mereka sendiri dan orang lain berdasarkan keyakinan mereka. Meskipun setiap agama memiliki keyakinannya masing-masing, ada nilai-nilai umum yang cenderung dianut oleh banyak agama. Contoh nilai agama meliputi:

  • Menunjukkan kasih sayang kepada mereka yang membutuhkan
  • Memperlakukan orang lain sebagaimana seseorang ingin diperlakukan
  • Terus menerus belajar dan berkembang baik secara spiritual maupun intelektual
  • Bersikap rendah hati
  • Bersikap hormat dan tanpa kekerasan

Nilai Moral

Nilai moral adalah nilai pribadi tentang apa yang menurut Anda benar dan salah. Nilai-nilai moral memberikan fondasi dari mana Anda membuat keputusan. Contoh nilai moral meliputi:

  • Jujur dan dapat dipercaya
  • Berani
  • Tidak pernah menyerah
  • Sabar
  • Mengambil tanggung jawab pribadi

Nilai Rekreasi

Nilai rekreasional mengacu pada segala sesuatu yang melibatkan kesenangan dan permainan. Rekreasi penting dalam keluarga karena menumbuhkan kedekatan dalam keluarga, kesempatan belajar, menciptakan ingatan, meningkatkan keterampilan sosial, dan mengembangkan empati. Contoh nilai rekreasional meliputi:

  • Menyediakan waktu bermain bersama keluarga
  • Mengijinkan dan mendorong setiap anggota keluarga untuk mengejar minat
  • Mengambil liburan bersama
  • Menghabiskan waktu bersama di luar bermain

Mengapa memiliki nilai keluarga penting?

Nilai-nilai keluarga merupakan cerminan dari siapa kita dan bagaimana kita menjadi orang tua. Saat menjalankan nilai-nilai itu, anak-anak kita belajar pelajaran hidup. Anak-anak belajar mengekspresikan diri, tumbuh dari kesalahan, memecahkan masalah dan mengembangkan semua kemampuan dan keterampilan yang membantu mereka menjadi anggota masyarakat yang produktif.

  • Membangun kompas moral yang kuat bagi anak

Tekanan teman sebaya dapat berdampak besar pada anak dan menjadi musuh yang mencoba menembus nilai-nilai keluarga yang telah ditanamkan. Artinya, jika seorang anak memiliki prinsip yang kuat tentang apa yang benar dan salah berdasarkan nilai-nilai yang dimilikinya, kecil kemungkinannya anak menjadi korban pengaruh yang menyimpang.

  • Pengambilan keputusan yang tepat

Nilai-nilai ini dapat melindungi dan membimbing anak-anak saat mereka mengambil keputusan. Mereka dapat menarik nilai-nilai ini untuk membantu mereka menghindari kesalahan langkah yang memiliki konsekuensi negatif bagi kehidupan mereka.

  • Pedoman dalam mendidik anak

Tantangan dunia luar merupakan musuh terbesar yang menakutkan dalam mendidik anak. Mengetahui apa yang Ayah dan Bunda yang diinginkan untuk anak-anak akan membantu dalam membesarkan anak menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab.

  • Memproteksi anak dari pergaulan yang buruk

Anak yang tumbuh dengan prinsip nilai keluarga yang kuat cenderung akan memilih teman-teman yang memiliki nilai yang mirip dengannya.

  • Memberi arti keluarga

Nilai keluarga akan melekatkan anak pada keluarga. Anak akan memiliki rasa memiliki dan terhubung dengan keluarga karena memiliki pandangan yang sama tentang dunia.

Kapan waktu yang tepat untuk mengajarkan nilai keluarga pada anak?

Dalam teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh Piaget dan Kohlberg, tahap awal perkembangan moral anak dimulai saat usia 4 tahun. Pada usia ini, anak sudah mulai mengenal perilaku yang baik dan buruk berdasarkan konsekuensi yang diterimanya. Menjadi catatan penting bahwa nilai-nilai keluarga perlu diajarkan sepanjang hari, setiap hari.  Seringkali mengajarkan nilai keluarga sulit untuk dijelaskan pada anak, namun nilai-nilai keluarga diturunkan melalui banyak hal yang dilihat anak, seperti sikap orang tua, bagaimana cara bekerja orang tua, dan bagaimana orang tua berelasi. Anak-anak ingin menjadi seperti orang dewasa yang menyayangi mereka. Mereka ingin memakai kacamata ibu dan sepatu ayah. Semoga Ayah dan Ibu Kejora juga dapat menentukan nilai keluarga yang tepat, ya.

Editor: drg. Rahmatul Hayati

Ketika Si Kecil Melihat Orang Tua Berhubungan Seksual

oleh Anastasia Hanifah, M.Psi.

Psikolog

Pernahkah Ayah dan Ibu Kejora mengalami hal tersebut?

Sebagai orang tua pastilah hal ini yang paling tidak diinginkan, namun terkadang orang tua lengah, sehingga hal tersebut tidak dapat dihindari. Ketika si kecil tanpa sengaja melihat orang tuanya sedang berhubungan seksual, apa saja ya yang harus dilakukan?

Yuk, simak pembahasannya!

  1. Kapan waktu yang tepat untuk menjelaskan pendidikan seksual pada si kecil?

Orang tua dapat menjelaskan pendidikan seksual pada si kecil sedini mungkin.

  • Usia 0–2 tahun, orang tua dapat mulai mengenalkan anatomi tubuh pada anak. Pengenalan anatomi tubuh dapat dilakukan saat anak sedang mandi, lalu orang tua dapat menjelaskan nama-nama anggota tubuh.
  • Usia 2–3 tahun, si kecil sudah mulai memiliki perasaan ingin tahu mengapa tubuhnya berbeda dengan anak lain, si kecil sudah mengetahui konsep anak perempuan dan laki-laki. Pada usia ini, orang tua dapat menjelaskan nama-nama anggota tubuh perempuan dan laki-laki.
  • Usia 4–5 tahun, si kecil sudah mulai menanyakan dari mana adik bayi berasal. Pada usia ini, anak sudah mulai dapat dijelaskan bahwa adik bayi tumbuh di dalam rahim dan dapat dijelaskan pula bahwa untuk membuat adik bayi dibutuhkan sperma (seperti sebuah biji kecil) yang berasal dari laki-laki dan ovum (seperti sebuah telur kecil) yang berasal dari perempuan.
  • Usia 6–8 tahun, si kecil akan bertanya lebih mendalam mengenai bagaimana adik bayi dibuat. Pada usia ini, orang tua dapat menjelaskan mengenai hubungan seksual. Bayi dibuat karena adanya hubungan seksual antara pria dan wanita, dengan cara pria memasukan penisnya ke dalam vagina wanita. Hal tersebut dilakukan ketika seseorang sudah dewasa dan menikah serta saat mereka menginginkan keberadaan adik bayi, sehingga hal ini bukan untuk anak kecil. Membaca buku bersama mengenai dari mana bayi berasal sangat penting dilakukan agar si kecil lebih mudah memahami.

Penting juga bagi orang tua untuk menanyakan pada si kecil, apa saja yang sudah mereka ketahui, sehingga orang tua tahu apa yang sebenarnya ingin diketahui si kecil dan seberapa jauh orang tua perlu menjelaskan.

  1. Bagaimana cara menjelaskan pada si kecil saat melihat orang tuanya berhubungan seksual?
  • Anak usia di bawah 3–4 tahun masih belum memiliki konsep yang jelas sehingga orang tua dapat menjelaskan bahwa ayah dan ibu berpelukan dan berciuman karena saling mencintai.
  • Anak usia di bawah 5 tahun, konsep yang dimiliki juga belum terlalu jelas, maka orang tua tidak perlu menjelaskan secara detil dan berlebihan.
  • Anak usia 5–6 tahun sudah memiliki logika berpikir yang lebih luas. Pada usia ini, akan lebih baik orang tua merespon dengan cara menjelaskan “bagaimana adik bayi dibuat” dibanding menanyakan kepada anak mengenai apa yang mereka tahu dan di mana melihat hal tersebut, hal itu justru dapat menimbulkan persepsi yang berbeda. Penting pula bagi orang tua untuk meminta maaf kepada anak akan situasi yang tidak sengaja terlihat oleh mereka, namun tidak perlu memunculkan perasaan bersalah terlalu lama karena hal tersebut akan membuat anak merasa bingung dan semakin tidak nyaman.

Kuncinya adalah bicarakan secara faktual seperti apa yang orang tua telah ajarkan kepada anak sesuai dengan usianya, terkait pendidikan seksual. Jangan menghindar dari topik dan menunggu anak terlebih dahulu mengangkat topiknya. Pastikan kepada si kecil bahwa mereka tidak membuat kesalahan saat mereka masuk ke dalam.

  1. Jika anak usia balita, akankah anak mengingatnya? Jika tidak, perlukah orang tua tetap memberi penjelasan dan bagaimanakah cara menjelaskannya?

Ya, pada usia 3 tahun anak dapat mengingat dengan baik. Orang tua dapat mengajarkan si kecil dengan menggunakan buku, hal ini akan sangat membantu. Si kecil dapat melihat gambar sambil menamai bagian tubuh sekaligus dapat melihat perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan.

  1. Bagaimanakah sebaiknya respon orang tua saat si kecil tanpa sengaja melihat orang tuanya berhubungan seksual?

Respon orang tua sebaiknya tetap tenang, namun saat berada pada situasi tersebut sering kali orang tua merasa panik dan malu. Akan lebih baik jika orang tua meminta waktu pada anak untuk menunggu sebentar agar orang tua bersiap, terutama anak yang sudah berusia 4 tahun ke atas karena mereka sudah dapat melihat situasi secara lebih mendalam. Jika orang tua terlalu bereaksi terhadap situasi tersebut, maka anak akan merasa bahwa hal yang dilakukan oleh orang tuanya salah dan dapat menimbulkan pertanyaan serta gangguan kepercayaan.

  1. Akankah si kecil menjadi trauma dan bagaimanakah cara mengantisipasinya?

Hal ini dapat menimbulkan ketakutan pada anak terutama saat anak tidak mendapatkan penjelasan secara benar. Hal ini dapat berdampak pada pemahaman anak mengenai hubungan seksual dan pandangan anak mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan. Penting untuk memberikan penjelasan sesuai tahap usianya, oleh karena itu pendidikan seksual sebaiknya diberikan sedini mungkin, sehingga orang tua tahu sejauh apa pemahaman yang dimiliki si kecil. Kurangi pemikiran bahwa berbicara tentang seks kepada anak adalah sebuah hal yang tabu. Orang tua harus memahami bahwa lebih aman jika si kecil mengetahui dari orang tuanya, dibandingkan dari media atau orang lain yang mungkin dapat membuat orang tua dan anak memiliki pandangan yang berbeda.

  1. Bagi ibu menyusui, bagaimanakah agar hubungan seksual dapat aman dan nyaman walau berdampingan dengan si kecil?

Hubungan seksual dapat dilakukan saat si kecil sedang tidur, namun perlu diperhatikan juga apakah anak merasa terganggu atau tidak. Hubungan seksual juga dapat dilakukan di area sekeliling bayi, sehingga orang tua tetap dapat melihat bayi dari area jangkauan dan tidak harus satu ranjang dengan bayi yang sedang tidur. Hal tersebut juga dapat meningkatkan excitement dalam suatu hubungan, pasangan dapat mengeksplorasi kedekatan mereka, namun bayi tetap dapat dalam pengawasan.

  1. Bagaimana jika orang tua dan si kecil masih co-sleeping (tidur satu ranjang)? 

Tidur satu ranjang dengan si kecil merupakan salah satu cara untuk menjaga kedekatan orang tua dan anak. Ketika orang tua memulai pola ini, orang tua juga harus menyiapkan waktu untuk dapat membuat anak tidur secara mandiri.

  • Usia newborn-18 bulan, orang tua dapat memulai sleep training. Awalnya, orang tua dapat tidur bersama anak, saat anak sudah tertidur, pindahkan anak secara perlahan. Pertahankan kedekatan ranjang orang tua dengan anak, sehingga anak tetap dapat merasakan kehadiran orang tua. Saat anak sudah merasa lebih nyaman, ranjang dapat diberikan jarak, yang terpenting adalah anak tetap merasa aman.
  • Usia 18 bulan-4 tahun, orang tua dapat mengomunikasikan bahwa si kecil akan tidur dengan lebih baik di ranjang mereka sendiri. Sebelum anak memulai, berikan waktu kepada anak untuk memahami ide tersebut. Jangan lupa untuk memberikan hal-hal yang dapat menyemangati anak agar dapat tidur sendiri, seperti memnerikan bed sheet atau dekorasi kamar yang mereka inginkan, berikan juga positive reinforcement akan pencapaian si buah hati.
  1. Sebaiknya pada usia berapakah anak pisah tidur dengan orang tua?

Anak disarankan untuk pisah tidur dengan orang tua maksimal di usia 5 tahun. Sejak usia 4 tahun, anak dapat mulai dilatih untuk tidur di kamar sendiri, namun untuk melatih si kecil dibutuhkan sebuah proses. Proses yang dijalani dapat berbeda pada masing-masing anak, sehingga lebih baik jika orang tua dapat mengomunikasikan pada anak perihal target waktu kapan anak dapat tidur secara mandiri.

  1. Apa saja antisipasi yang dapat dilakukan agar saat berhubungan seksual dapat aman dari si kecil?

Hal-hal yang penting dipertimbangkan saat akan berhubungan seksual, seperti:

  • pemilihan waktu yang tepat,
  • pemilihan tempat yang tepat, dan
  • ketahui hal apa saja yang dapat mengganggu anak, terutama saat anak sedang tidur.

Beberapa anak sangat sensitif akan suara, sehingga penting bagi orang tua untuk mempertimbangkan hal tersebut.

  1. Apa saja yang orang tua dapat lakukan agar hal tersebut tidak terulang lagi?
  • Kunci kamar saat akan melakukan hubungan seksual.
  • Tidak melakukan hubungan seksual saat jam bermain anak atau saat anak beraktivitas, lebih baik dilakukan saat anak sedang tidur.
  • Rencanakan waktu untuk melakukan hubungan seksual, misal di saat anak sedang sleepover atau menginap.
  • Ajari anak tentang waktu privasi ayah dan ibu, seperti membiasakan anak untuk mengetuk pintu dan menunggu hingga orang tua mengizinkan masuk.

Editor: drg. Agnesia Safitri

Syndactyly

 

 

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, SpOT, BMedSc

Dokter Spesialis Orthopedi

 

Halo, Keluarga Kejora! Pernahkah Ibu dan Ayah melihat anak dengan sepasang jarinya yang menyatu? Kelainan bentuk tangan seperti ini disebut juga syndactyly. Kelainan ini merupakan salah satu kelainan yang sering terjadi dan dapat berdampak signifikan bagi tumbuh kembang sang buah hati. Hal ini tidak boleh disepelekan karena dapat mengganggu terutama dalam hal pertumbuhan jari dan fungsinya. Sekitar 1 dari 600 kasus kelahiran dapat ditemukan kasus kelainan tangan.

Secara umum, penyebab kelainan tangan diantaranya dipengaruhi oleh kelainan kromosom, kelainan metabolisme bawaan, infeksi, faktor lingkungan saat kehamilan, atau faktor yang tidak diketahui. Kelainan tangan sejak lahir dapat dibedakan menjadi kelainan gagal pembentukan, gagal pemisahan, duplikasi, tumbuh berlebih, gagal tumbuh, sindroma penjepitan, dan sindroma/kelainan musculoskeletal secara umum.

Syndactyly termasuk kelainan tangan dalam kategori gagal pemisahan. Syndactyly dapat merupakan kelainan soliter/sendiri, namun dapat juga menjadi bagian dari kelainan di anggota tubuh lainnya. Kelainan ini lebih sering ditemukan pada bayi laki-laki daripada perempuan, dan seringkali melibatkan jari tengah dan jari manis. Pada 10-40% kasus syndactyly merupakan kasus keturunan. Namun ada penelitian yang juga menyebutkan kaitan antara kejadian syndactyly dengan kebiasaan merokok dimasa kehamilan.

Kasus syndactyly dapat dikategorikan menjadi 4 macam, yaitu:

  1. Simple, incomplete—sebagian jari menyatu tanpa penyatuan tulang dan kuku.
  2. Simple, complete—seluruh jari menempel tanpa penyatuan tulang dan kuku.
  3. Complex—seluruh jari menempel dan melibatkan penyatuan ujung tulang.
  4. Complicated—penempelan beberapa ruas jari disertai kerusakan tulang jari-jari.

Terapi terbaik bagi kelainan ini adalah operasi pemisahan jari. Prosedur tersebut terbaik dilakukan saat si kecil berusia sekitar 1 tahun, namun jika kelainannya sangat kompleks maka lebih baik jika dilakukan diawal usia kelahiran. Jika terdapat lebih dari dua jari yang menempel, tindakan operasi mungkin dilakukan dalam beberapa tahapan untuk mencegah perusakan sirkulasi darah pada jari. Ibu dan Ayah Kejora, karena kelainan ini berdampak signifikan bagi tumbuh kembang si kecil, segeralah berkonsultasi dengan dokter tulang begitu Ibu dan Ayah menemukan kelainan ini pada si kecil.

Editor: dr. Nurul Larasati

Referensi:

Man LX, Chang B. Maternal cigarette smoking during pregnancy increases the risk of having a child with a congenital digital anomaly. Plast Reconstr Surg. 2006 Jan. 117 (1):301–8.

Le Hanneur M, Cambon-Binder A, Bachy M, Fitoussi F. Treatment of congenital syndactyly. Hand Surgery and Rehabilitation. 2020 May. 39(3):143–53.

Tonkin MA. Failure of Differentiation Part I: Syndactyly. Hand Clinics. 2009 May. 25(2), 171–193.

Persiapan Perlengkapan MP-ASI

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Tanpa terasa sebentar lagi si Kecil akan mulai makan ya? Nah, sebelum Ayah dan Ibu Kejora memutuskan untuk membeli segala perlengkapan MP-ASI, mari kita buat list-nya dulu ya supaya lebih efektif dan bisa mempersiapkan anggaran yang sesuai.

  1. Alat makan bayi

Alat makan menjadi salah satu yang menjadi perhatian utama, karena warna dan bentuknya yang lucu-lucu. Namun ada baiknya Ayah dan Ibu tetap cermat memilih yang aman untuk bayi.

Wadah dari kaca sangat aman untuk digunakan berulang-ulang karena tidak berpori sehingga tidak menjadi tempat persembunyian kuman serta dapat digunakan untuk makanan hangat tanpa kita khawatir akan ada zat kimia yang meluruh ke dalam makanan. Tetapi kekurangannya adalah mudah pecah sehingga kurang tepat digunakan untuk aktivitas makan bersama si Kecil.

Selain wadah kaca, American Academy of Pediatrics juga merekomendasikan wadah dari stainless steel karena tidak ada resiko luruhnya zat kimia ke dalam makanan. Kelebihan lainnya adalah awet serta tentunya tidak bisa pecah dan ringan. Namun pastinya harganya cukup mahal ya.

Nah, wadah serta alat makan dari plastik tentunya adalah yang paling praktis karena ringan, tahan lama, serta tidak mudah pecah tentunya. Akan tetapi, Ayah dan Ibu perlu jeli juga sebelum membeli wadah plastik. Cermati dulu bahwa wadah serta alat makan plastik yang dibeli tidak mengandung bisphoenol-A (BPA). BPA ini menyebabkan gangguan endokrin (hormonal) dan dikaitkan dengan kondisi obesitas serta attention deficit/hyperactivity disorder.

  1. Talenan

Idealnya Ayah dan Ibu memiliki dua talenan, yaitu satu untuk daging, ikan, ayam, maupun makanan laut, dan satu lagi untuk produk buah dan sayur segar. Bila tidak tersedia dua talenan, maka gunakan dulu untuk memotong buah dan sayur, baru kemudian untuk produk daging, ikan, ayam dan lain-lain.

Nah, bahan apakah yang ideal untuk talenan? Sebenarnya Ayah dan Ibu bisa memilih bahan apapun seperti akrilik, marble, plastik, ataupun kayu solid asalkan pada saat penggunaan bisa memisahkan 2 jenis bahan tadi, jadi pilihlah yang terjangkau dan sebisa mungkin keduanya memiliki warna berbeda agar mudah diingat.

  1. Saringan kawat stainless steel.

Saringan ini bisa menjadi alternatif alat yang ekonomis namun efektif  dalam membuat bubur lumat pada tahap awal MPASI. Semakin kecil ukuran lubang saringan maka hasil bubur akan semakin lembut.

  1. Blender

Alat ini akan sangat mempermudah dalam menghaluskan makanan setelah dimasak dan menggantikan fungsi saringan kawat. Meskipun banyak pihak yang berpendapat bahwa panas yang dihasilkan oleh putaran blender dapat merusak nutrisi yang ada dalam makanan, tetapi hal ini belum ada yang membuktikannya secara ilmiah.

  1. Panci masak.

Panci ini tentunya akan digunakan untuk memasak seluruh bahan makanan sebelum akhirnya nanti disaring dengan saringan kawat atau menggunakan blender. Proses memasak bubur sebenarnya adalah proses merebus yang rata-rata menggunakan suhu 97-100⁰C. Tentunya proses memasak akan menghilangkan sebagian nutrisi terutama vitamin C yang paling tidak stabil terhadap panas. Dalam suatu penelitian didapatkan bahwa ketika kita merebus sayuran selama 5 me

nit maka kandungan vitamin C akan turun sekitar 10-17% dan penurunan ini akan semakin besar dengan semakin lamanya waktu memasak. Oleh sebab itu saat memasak, Ayah dan Ibu sebaiknya memasukkan sayuran di akhir memasak dengan waktu yang tidak terlalu lama ya!

  1. Slow cooker

Alat ini dianggap cukup praktis karena Ayah dan Ibu dapat memasukkan seluruh bahan ke dalam alat dan bisa ditinggal untuk melakukan aktivitas lain tanpa harus bolak balik melihat apakah makanan sudah matang atau belum. Slow cooker dinilai aman karena akan memasak makanan dalam suhu yang rendah sekitar 75 hingga 140 derajat dalam waktu yang lama dan sangat efektif untuk membuat daging menjadi empuk yang kadang-kadang memasak MPASI dengan menu daging ini menjadi tantangan tersendiri pada saat periode awal MPASI.

Nah, sekarang Ayah dan Ibu sudah memiliki list lengkap untuk mempersiapkan perlengkapan MP-ASI dan Ayah dan Ibu dapat menyesuaikan dengan anggaran yang diinginkan. Selamat memulai MP-ASI untuk si Kecil!

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber:

  1. Food Additives and Child Health. American Academy of Pediatrics. 2018.
  2. Safe Food Handling. US Food and Drug Administration. 2017.
  3. Cutting Board Safety. Academy of Nutrition and Dietetics. 2020.
  4. Effect of Heating on Vitamin C Content of Some Selected Vegetables. International Journal of Scientific and Technology Research. 2013
  5. Cook Slow to Save Time: Four Important Slow Cooker Food Safety Tips. USDA. 2017

Tuberkulosis Anak di Indonesia

oleh dr. Rinda Riswandi, BMedSc., Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Ayah dan Ibu pasti sudah tau mengenai tuberkulosis/TB ya. Kasus tuberkulosis nyatanya masih banyak terjadi di Indonesia dan dapat menyerang anak-anak. Untuk itu, mari simak penjelasan berikut ini tentang tuberkulosis yuk, Ayah dan Ibu, agar kita bisa melindungi si kecil dari tuberkulosis.

Berapa Banyak Kasus TB di Dunia?

Tahukah Ayah dan Ibu Kejora kalau Tuberkulosis/TB merupakan satu dari 10 penyebab kematian tertinggi di dunia? Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan 10 juta (rentang 8,9-11 juta) populasi di dunia sakit TB di tahun 2019. Terdapat lima negara dengan kasus TB terbanyak diantaranya India (26%), Indonesia (8,6%), Cina (8,4%), Filipina (6%), Pakistan (5,7%).

Indonesia memilki permasalahan besar dalam menghadapi penyakit TB karena Indonesia bersama 13 negara lain masuk dalam kategori Negara dengan beban tinggi atau HBC (high burden cases).

Lalu, Bagaimana dengan Kasus TB di Indonesia?

Tahun 2020 Indonesia mencatat 845.000 estimasi jumlah kasus TB dan sebanyak 70.341 adalah kasus TB anak (gambar 1).

Selanjutnya, Apa yang Ayah dan Ibu Lakukan Jika Curiga Anak Menderita TB?

Seorang anak yang menunjukkan uji tuberkulin positif dinyatakan sebagai anak yang terinfeksi TB, namun belum tentu sakit TB. Uji tuberkulin adalah tes yang dilakukan pada kulit dengan menyuntikkan cairan tuberkulin. Tes ini disebut juga tes kulit TBC atau TST (tuberculosis skin test).

Jika Ayah dan Ibu Kejora khawatir anak tertular TB, sebaiknya Ayah dan Ibu berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan pemeriksaan yang diperlukan dan rencana perawatan. Dokter akan membutuhkan data kontak erat TB, gejala klinis spesifik TB, dan pemeriksaan penunjang yang mendukung TB. Anak dinyatakan menderita TB jika ditemukannya kuman Mycobacterium Tuberculosis pada pemeriksaan dahak, bilas lambung, cairan otak, cairan paru atau biopsi jaringan.

Diagnosis TB pada anak terkadang sulit ditentukan karena hasil pemeriksaan yang seringkali menunjukkan hasil false-negative. Hal ini disebabkan oleh jumlah kuman TB di paru anak yang sedikit dan sulitnya pengambilan sampel dahak pada anak. Sehingga penegakan diagnosis TB pada anak didasarkan pada 4 hal yaitu:

  • Konfirmasi positif TB: dari hasil sampel dahak, bilas lambung, cairan paru, cairan otak atau biopsi jaringan didapati kuman Mycobacterium Tuberculosis
  • Gejala klinis yang khas TB: batuk ≥ 2 minggu, demam ≥ 2 minggu yang telah menetap (lebih dari 2 minggu) walaupun sudah diberikan terapi yang adekuat, BB turun atau tidak naik dalam 2 bulan sebelumnya, atau skoring TB ≥ 6 yang dilakukan oleh dokter.
  • Adanya bukti infeksi TB (hasil uji tuberculin positif atau kontak erat dengan pasien TB)
  • Gambaran foto toraks curiga TB
  • Gejala spesifik TB pada suatu organ tertentu, diantaranya kelenjar, tulang, mata, kulit, dan organ lainnya

Tapi, Ayah dan Ibu Kejora tidak perlu khawatir. Segera lakukan konsultasi ke dokter apabila curiga anak menderita TB!

Editor: drg. Sita Rose N.

Daftar Pustaka:

  • Global Tuberculosis Report 2020. World Health Organization 2020
  • Data Tuberkulosis 2018. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI.
  • Situasi TBC di Indonesia. Diunduh dari https://tbindonesia.or.id/pustaka-tbc/dashboard-tb/tanggal 1 Maret 2021
  • Petunjuk teknis manajemen dan tatalaksana TB anak. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2016

Penyakit Jantung pada Bayi dan Anak-anak: Apakah Mungkin?

oleh dr. Adelin Dhivi Kemalasari, BMedSci, SpJP, FIHA

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Siapa bilang penyakit jantung hanya dapat dialami oleh orang dewasa? Kenyataannya, bayi dan anak-anak pun dapat memiliki penyakit jantung. Pada bayi dan anak-anak, ada satu kondisi yang terjadi bahkan sejak dalam kandungan, yaitu penyakit jantung bawaan (PJB) atau penyakit jantung kongenital.

PJB adalah kelainan pembentukan jantung sejak dalam kandungan yang melibatkan ruang jantung, katup jantung, dan/atau pembuluh darah besar. Sekitar 9 dari 1000 bayi di Indonesia lahir dengan PJB. Pembentukan organ jantung pada janin terjadi sejak sekitar hari ke-18 setelah pembuahan dan selesai sekitar hari ke 28. PJB biasanya sudah terjadi bahkan di saat ibu belum menyadari dirinya sedang hamil.

Mari kita mengenal lebih lanjut mengenai PJB dengan membahas beberapa pertanyaan di bawah ini:

Orangtua saya memiliki riwayat pemasangan ring jantung. Apakah nantinya anak saya akan memiliki PJB?

Belum tentu, karena keduanya merupakan jenis penyakit yang berbeda. Pada orang dewasa, penyakit jantung yang paling sering terjadi adalah penyakit jantung koroner, yang diakibatkan oleh pola gaya hidup yang sebenarnya dapat dimodifikasi sejak awal (tekanan darah, kolesterol, gula darah, kebiasaan merokok, hingga stres emosional). Sedangkan pada PJB, masalah jantung terjadi saat pembentukan organ jantung pada saat dalam kehamilan. Hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab PJB, namun ada beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko munculnya PJB, yaitu: memiliki riwayat keluarga dengan kelainan genetik, seperti sindroma Down atau sindroma Edward, menderita diabetes yang tidak terkontrol, konsumsi alkohol, rokok, atau obat-obatan tertentu selama hamil tanpa petunjuk dokter, atau mengalami infeksi virus seperti rubella terutama pada awal kehamilan.

Saya dengar anak dengan PJB kulitnya tampak kebiruan. Apakah berarti anak yang tidak pernah biru sudah pasti tidak mengalami PJB?

Belum tentu seperti itu, karena PJB sendiri secara umum terbagi menjadi dua jenis, yaitu PJB biru dan PJB tidak biru. Biru yang terjadi pun biasanya terlihat lebih jelas pada mulut serta kuku tangan dan kaki.

Bagaimana kita dapat mengenali gejala PJB pada bayi dan anak-anak?

Gejala yang dialami bergantung pada jenis dan keparahan PJB. Tidak seperti orang dewasa, bayi dan anak-anak belum dapat menyampaikan perasaan nyeri atau sesak. Gejala sesak pada bayi biasanya terlihat dalam bentuk menyusu yang terputus-putus dan seringkali hingga berkeringat, bayi/anak sering mengalami demam dan infeksi saluran pernapasan, anak terlihat kebiruan terutama jika sedang menangis dan beraktivitas, dan pada anak yang sudah bisa berjalan, seringkali memposisikan diri dalam keadaan jongkok jika kelelahan. Segera periksakan anak anda ke dokter jika mengalami beberapa keluhan tersebut.

Apakah semua anak dengan PJB tidak akan dapat tumbuh seperti anak-anak tanpa PJB?

Dengan deteksi dini, bantuan pengobatan medis yang baik, dan timing perawatan yang tepat, 9 dari 10 anak dengan PJB memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lain pada umumnya.

Apakah mungkin terjadi PJB baru terdiagnosa saat usia dewasa?

Mungkin saja. Pada beberapa kasus PJB, kebocoran yang terjadi tidak menyebabkan gangguan sirkulasi yang bermakna, sehingga tidak menimbulkan gejala selama puluhan tahun. Tidak jarang pasien dengan PJB baru terdiagnosa pada saat pasien hamil karena merasa lebih sesak, bahkan mungkin juga baru diketahui pada usia 40-50 tahun.

Apakah semua anak dengan PJB harus dioperasi?

Tidak semua PJB memerlukan operasi. Penanganan PJB sangat tergantung dari jenis PJB yang dimiliki. Bahkan pada beberapa kasus kebocoran sekat jantung dengan ukuran yang kecil, ada kemungkinan akan terkoreksi atau tertutup sendiri seiring dengan usia anak yang bertambah. Namun sebagian lain membutuhkan perawatan berupa bedah maupun non-bedah. Kemajuan teknologi di bidang medis saat ini menghasilkan angka kesembuhan yang lebih tinggi.

Editor: drg. Valeria Widita W

Teknik ABCD dalam Mengajarkan Kemandirian Anak


 

 

 

 

oleh Anita Carolina H, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

Hallo Ayah Bunda Kejora!

Seringkah Ayah dan Bunda mendengar bahkan mengalami tantangan dalam mengajarkan si kecil mandiri? Seperti “Anak jaman sekarang mudah menyerah” atau  “Anakku manja banget kalau di rumah”. Terlebih, selama pandemi, tantangan dalam mengajarkan kemandirian si kecil makin sulit, ya Ayah & Bund.

Kadangkali pikiran ini pun sering muncul seperti, “Repot urus anak, keluarga, pekerjaan” atau “Anakku makin sulit diatur selama sekolah online” atau ”Anak makin tidak disiplin selama pandemi” atau Rutinitas keluarga makin “kacau”.

Tapi… Pandemi tak selalu berdampak buruk, loh Ayah & Bunda! Dibandingkan masa sebelum pandemi, saat ini anak memiliki lebih banyak waktu luang di rumah. Jika dimanfaatkan dengan baik, ini bisa menjadi saat terbaik untuk bisa melatih kemandirian pada si kecil!

Apa sih Pentingnya Melatih Kemandirian pada Anak?

Melatih kemandirian pada anak sering dianggap sebagai hal sepele untuk diajarkan pada anak. Namun, sebenarnya kemandirian berperan penting bagi perkembangan anak. Beberapa alasan pentingnya melatih kemandirian pada anak antara lain:

  • Mengembangkan inisiatif anak
  • Mengembangkan kepercayaan diri anak
  • Menstimulasi kematangan emosi dan resiliensi anak
  • Mengembangkan social skill anak
  • Mengembangkan problem solving skill anak

Too much control and the child will not have sufficient opportunity to explore, too little control and the child will become unmanageable and fail to learn the social skill” -Bee-

Children become irresponsible only when we fail to give them opportunities to take on responsibility.” – Rudolf Dreikurs & Margaret Goldman –

Sejak Kapan Ayah dan Bunda Bisa Melatih Kemandirian Anak?

Ayah dan Bunda, sebenarnya kita bisa melatih kemandirian anak sejak dini loh, dari hal-hal yang mudah dan sederhana dulu. Pastikan, kita memberikan aktivitas kemandirian yang sesuai dengan perkembangan si kecil yah.

Apa Sajakah Aktivitas Kemandirian untuk Anak pada Usia Dini?

Ayah Bunda, kemandirian tidak selalu hanya mengajarkan daily life skill saja, tapi kemandirian punya beberapa aspek yang harus diajarkan pada si kecil:

  1. Aspek fisik: Keterampilan di mana anak sudah dapat melakukan hal-hal sederhana dalam rangka merawat dirinya tanpa / dengan bantuan minimum orang lain. Pada anak-anak usia dini, Ayah dan Bunda bisa mulai mengajarkan dail/practical life skill, seperti makan, minum, sikat gigi, membereskan mainan sendiri.
  2. Aspek Emosi: Kemampuan anak untuk meregulasi emosinya. Pada anak-anak usia dini, Ayah dan Bunda bisa mulai mengajarkan dan mencontohkan cara mengatur emosi secara sehat pada si kecil. Jangan lupa, berikan dukungan saat anak kita mengalami emosi negatif ya, Ayah & Bunda
  3. Aspek Sosial: Kemampuan anak untuk bisa beradaptasi di kehidupan sosial. Sebagai contoh adalah sabar menunggu giliran, dapat bergantian ketika bermain, dan mampu berinteraksi dalam sosial. Pada anak-anak usia dini, Ayah dan Bunda bisa dukung stimulasi kemandirian sosial si kecil dengan:
    • Bermain bersama
    • Team activities (bermain bola, grup menari, grup musik, dll).
  4. Aspek Kognitif: Kemampuan anak untuk memiliki kompetensi sesuai usianya dan memecahkan masalah sehari-hari. Contoh aktivitas ini berupa:
    • Bermain bersama si kecil
    • Family trip (dengan protokol kesehatan)
    • Membaca buku/menonton film bersama (yang berisi banyak nilai positif) lalu mendiskusikan secara sederhana
    • Belajar sambil bermain

Apakah yang Dimaksud dengan Teknik ABCD dalam Melatih Kemandirian Anak?

Ayah dan Bunda, kemandirian adalah sebuah skill/keterampilan. Kemandirian tidak bisa dimiliki anak secara cepat. Melainkan, harus dilatih dan “dibiasakan” agar anak menjadi terampil. Berikut teknik “ABCD” dalam melatih kemandirian anak:

  1. Ajarkan

Orangtua perlu mengajarkan dan memberikan contoh bagaimana cara melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.

  1. Beri Kesempatan

Berikan kesempatan pada anak sesering mungkin untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Berikan waktu juga ya parents, untuk si kecil menyelesaikan aktivitasnya secara mandiri tanpa tergesa-gesa.

  1. Ciptakan Rutinitas

Ciptakan rutinitas secara teratur pada anak dalam melakukan aktivitas sehari-harinya secara mandiri. Hal ini bisa membentuk kebiasaan mandiri sejak kecil pada anak.

  1. Dukung secara Emosional

Berikan apresiasi pada anak saat ia berhasil melakukan kemandirian. Dukungan secara positif saat anak belum berhasil melakukan kemandirian dengan baik dan berikan bantuan yang dibutuhkan anak (secukupnya).  Parents, jangan lupa juga untuk memberikan 5  Love Language anak (Gift, word affirmation, touch, act of service, & quality time) seperti yang pernah dibahas pada sesi sebelumnya.

Mengajarkan dan melatih aspek-aspek kemandirian pada anak memang tidak mudah, Ayah dan Bunda. Butuh kesabaran, konsistensi, dan interaksi positif antara Ayah, Bunda, dan si kecil. Jangan lupa, Ayah, Ibu dan seluruh caregiver yang terlibat dalam pengasuhan anak perlu “BAPER” (BAGI PERAN) untuk bisa melatih kemandirian anak dengan baik dan konsisten agar si kecil bisa mengembangkan kemandiriannya!

Sehat selalu ya Ayah dan Bunda.

Editor: Sita Rose Nandiasa, drg., M.Si

Nutrisi bagi Anak Penderita Kanker

oleh dr. Yohannessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinis

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora.

Tahukah Ayah dan Ibu Kejora, sekitar 8-60% anak-anak penderita kanker mengalami status gizi kurang/buruk (malnutrisi). Gizi kurang/buruk tersebut dapat menurunkan fungsi imunitas tubuh, menghambat dan memperlambat proses penyembuhan, serta mengurangi efektivitas obat antikanker. Oleh karena itu, asupan nutrisi perlu diperhatikan ya..

Selera makan yang kurang sering dialami anak-anak penderita kanker. Penyebabnya antara lain:

  • Efek samping dari kemoterapi atau radiasi
  • Nyeri saat makan
  • Perubahan dalam merasakan makanan
  • Mual, muntah, diare
  • Suasana rumah sakit
  • Depresi

Anak-anak penderita kanker dengan status gizi kurang/buruk memerlukan makanan yang tinggi kalori, juga protein, tak lupa lemak dan karbohidrat. Protein dibutuhkan untuk pertumbuhan dan membantu tubuh untuk dapat mendukung proses penyembuhan penyakit. Kalori yang cukup sesuai kebutuhan anak, diperlukan untuk mencegah penurunan berat badan, juga untuk mendukung pertumbuhan anak.

Berikut hal-hal yang dapat dilakukan bila anak mengalami keluhan akibat kanker/terapi antikanker:

  • Hilangnya/kurangnya selera makan
    • Berikan porsi kecil namun sering (termasuk pada jam snack)
    • Mencoba tempat dan suasana baru saat makan
    • Ajak anak dalam menyiapkan menu makanan
    • Berikan snack padat kalori dan tinggi protein
    • Upayakan tidak memaksa anak untuk makan. Hal ini dapat memperburuk selera makannya
    • Ciptakan suasana menyenangkan saat makan
  • Nyeri pada mulut
    • Berikan makanan lunak/lembut yang mudah dikunyah
    • Hindari makanan yang mengiritasi antara lain: buah/jus jeruk (asam), makanan pedas atau asin, makanan kering, kasar (contoh sayuran kering, kraker, roti panggang, keripik)
    • Sajikan makanan dalam potongan kecil
    • Sajikan makanan dalam keadaan dingin di suhu ruangan. Makanan panas dapat mengiritasi mulut dan kerongkongan
    • Gunakan blender untuk membuat makanan lebih lembut dan mudah dikunyah
    • Tambahkan saus (gravies) pada makanan agar lebih mudah ditelan
  • Perubahan rasa
    • Berikan makanan asin atau berbumbu
    • Gunakan bumbu penyedap pada makanan
    • Bumbui daging dengan perasan buah, saus teriyaki, atau
    • Sajikan makanan dengan penampilan menarik dan bau menggugah selera
  • Mulut kering
    • Berikan permen, popsicles, es batu, atau permen karet
    • Berikan makanan lembut yang mudah untuk ditelan
    • Jaga kelembaban bibir dengan memberikan lipbalm khusus anak
    • Berikan minum air dalam volume kecil dan sering
    • Berikan makanan berkuah
  • Mual dan muntah
    • Hindari makanan yang digoreng, berminyak, terlalu manis/pedas/panas/berbumbu
    • Berikan makanan dalam porsi kecil namun sering
    • Berikan minuman dalam volume kecil dan sering
  • Diare
    • Hindari makanan terlalu berminyak, berlemak atau gorengan
    • Batasi makanan yang dapat memproduksi gas seperti kacang-kacangan, kembang kol, brokoli, kubis, bawang Bombay
    • Berikan makanan porsi kecil namun sering
    • Berikan minuman sesering mungkin
    • Bila intoleransi terhadap laktosa, batasi susu dan produk susu

Selalu konsultasikan kepada dokter yang menangani terlebih dahulu dalam memberikan nutrisi bagi anak-anak penderita kanker.

Editor: dr. Sunita

Referensi:

  1. Gokcebay DG, et al. Pediatr Hematol Oncol 2015;32:423-32.
  2. Kadir RAA, et al. Arch Can Res 2017,5;1:1-9
  3. Paul CJ. J Clin Oncol 2014;32;13:1293-4
  4. standfordchildren.org

Tips bagi Orangtua Menghadapi Si Kecil yang Mengalami Penyakit Serius

 

 

 

 

oleh Nurhuzaifah Amini M.Psi., Psikolog

Psikolog

Hai, Ayah dan Ibu Kejora!

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya lahir dan tumbuh dengan kondisi fisik dan mental yang sehat. Hal tersebut membuat banyak orangtua sangat menjaga kondisi kesehatannya ketika sedang mengandung hingga mengusahakan untuk memberi nutrisi dan asupan yang sehat selama anak proses pertumbuhan. Namun, dalam kondisi tertentu beberapa anak terlahir atau tumbuh dengan kondisi kesehatan yang tidak cukup baik.

Tidak banyak orang tua yang bisa menerima dengan lapang dada ketika mengetahui anaknya mengalami sakit tertentu. Rasa khawatir, cemas, takut dan stres merupakan respon yang paling sering ditunjukkan oleh orangtua dalam masa-masa adaptasi. Perlu dipahami bahwa hal tersebut sangat wajar dirasakan oleh orangtua karena berpikir tentang banyak hal terkait masa depan anak. Selain itu, melihat anak yang perlu berjuang dan mengikuti prosedur medis tentu bukanlah yang mudah untuk dihadapi. Hal ini dapat meningkatkan rasa sakit bagi orang tua, terutama jika anaknya kesakitan karena harus menjalani pengobatan, operasi, suntikan dan perawatan lainnya.

Kondisi mental orangtua sangat mempengaruhi respon anak dalam menghadapi penyakitnya. Kesejahteraan psikologis orangtua dan kesehatan anak sama-sama penting untuk diutamakan. Oleh karena itu, orangtua juga perlu belajar mengelola emosi mereka selama mendampingi anak.

  1. Sadari dan terima reaksi yang muncul ketika merasa tidak nyaman tanpa berusaha menghakimi.
  2. Identifikasi kebutuhan dari setiap emosi yang dirasakan, misalnya merasa capek artinya butuh istirahat.
  3. Berikan pemahaman terhadap diri bahwa kondisi panik tidak akan membawa dampak baik terutama bagi anak.
  4. Luangkan juga waktu untuk mengurus diri sendiri, baik secara fisik maupun mental seperti makan dengan baik, berolahraga, dan tetap terhubung dengan hobi atau minat lain untuk membantu mengendalikan stres.
  5. Minta dukungan secara emosional dari orang terdekat seperti pasangan, orangtua atau sahabat,

Ketika mengetahui anak mengalami penyakit yang serius, ada beberapa hal yang bisa Ayah dan Bunda lakukan untuk anak, diantaranya:

  1. Periksakan secara rutin ke dokter. Hal ini dilakukan agar si kecil mendapatkan perawatan yang dibutuhkan. Selain itu, orangtua juga jadi lebih memahami kondisi anak serta batasan yang perlu diperhatikan selama mendampingi anak.
  2. Komunikasikan kondisi si kecil sesuai dengan tingkat pemahamannya. Bicara secara terbuka kondisi anak agar anak juga bisa memahami hal yang terjad. Pastikan membagikan informasi yang sesuai dengan usia. Jangan memberikan terlalu banyak informasi, tapi juga jangan berusaha menyembunyikan fakta.
  3. Empati dengan kondisi anak. Dalam menjalani pemulihan, mungkin akan banyak dinamika yang terjadi seperti tantrum, anak menolak untuk minum obat, kontrol ke dokter dan berbagai macam kendala lainya. Coba untuk pahami perasaan dan kebutuhan anak serta tidak menghakiminya. Anak perlu untuk tetap diperlakukan baik meski melakukan kesalahan.
  4. Berikan anak ruang untuk mengekspresikan emosinya. Kondisi anak yang sedang tidak sehat tidak berarti mereka jadi tidak perlu menikmati masa kanak-kanaknya. Si kecil tetap perlu diberikan ruang untuk mengekspresikan perasaan mereka dengan tepat. Misalnya, diberi waktu khusus setiap hari untuk berbicara atau membuat jurnal tentang perasaan mereka. Ketika seorang anak sakit, orang tua seringkali cenderung bersikap overprotektif. Sebisa mungkin, usahakan untuk mempertahankan rutinitas keluarga yang sama dengan yang sudah lakukan sebelum anak
  5. Berikan apresiasi pada setiap usaha anak. Segala hal yang dilakukan anak terutama dalam proses pemulihan membutuhkan usaha dan energi anak. Oleh karena itu, tetap berikan apresiasi agar si kecil semakin bisa diajak bekerja sama setiap harinya untuk membantu proses pemulihannya.
  6. Minta bantuan dari orang-orang terdekat. Seringkali dalam kondisi yang panik karena anak sakit, orangtua merasa harus menyelesaikan sendiri masalah anak. Padahal dalam kondisi seperti ini, orangtua juga rentan mengalami gangguan kesehatan. Hal ini membuat bantuan dari orang-orang terdekat sangat dibutuhkan untuk membantu proses pendampingan dan pemulihan si kecil seperti melibatkan kakek, nenek, pengasuh bayi, maupun pihak sekolah.

Editor: drg. Valeria Widita W

Sumber :

https://www.aboutkidshealth.ca/article?contentid=1138&language=english
https://www.nidirect.gov.uk/articles/caring-sick-child
https://www.apa.org/topics/chronic-illness/child
http://robingoldstein.net/articles/parenting-how-to-cope-with-a-sick-child/