Penanganan Luka Jatuh Mandiri Di Rumah

 

oleh dr. Nilam Permatasari Bmed.Sc, SpBP-RE

Dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah buah hati Ayah dan Ibu Kejora pernah mengalami luka jatuh saat berada di rumah? Lalu apa yang Ayah dan Ibu lakukan?

Luka dapat terjadi karena kecorobohohan, ketidaksengajaan, ketidakhatian dan kecelakaan manusia. Menurut US National Inpatient Sample 2012, jatuh adalah penyebab pertama kecelakaan yang menyebabkan perawatan di rumah sakit pada usia 0-14 tahun. Luka jatuh di rumah dapat terjadi karena buah hati terjatuh dari furnitur atau saat bermain di playground.

Sumber gambar: National Inpatient Sample, 2012. Healthcare Utilization Project. Agency for Healthcare Research and Quality

 

Definisi Luka
Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh atau rusaknya kesatuan/komponen jaringan.

Berdasarkan mekanisme terjadinya, luka dibagi atas:

1. Luka gores (lacerated wound)*; terjadi akibat benda tajam seperti karena goresan kaca atau kawat.

2. Luka lecet (abraded wound)*; terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.

3. Luka tembus (penetrating wound); luka yang menembus organ tubuh dan biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung lukanya melebar.

4. Luka memar (contusion wound)*; terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak.

5. Luka tusuk (punctured wound); terjadi akibat adanya benda, seperti peluru atau pisau, yang masuk ke dalam kulit dengan diameter yang kecil.

6. Luka bakar (combustio)
7. Luka gigitan dan sengatan serangga
*biasa terjadi di luka jatuh

 

Pertolongan Pertama Luka Jatuh

Pada masa pandemi seperti sekarang ini, banyak orang tua yang khawatir untuk membawa buah hatinya ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya. Demikian pula jika anak mengalami luka jatuh sehingga oran tua bingung harus melakukan apa. Padahal, tidak semua luka jatuh perlu di bawa ke rumah sakit dan bisa dirawat oleh Ayah dan Ibu sendiri di rumah.
Hal-hal yang bisa dilakukan jika buah hati Ayah dan Ibu Kejora mengalami luka jatuh di antaranya:

  1. Jangan panik, bawa buah hati ke tempat aman dan tenangkan
  2. Atasi perdarahan dengan memberikan penekanan terus menerus selama lebih kurang 5 menit dengan kain kering yang bersih
  3. Berikan antinyeri secara simultan
  4. Bersihkan luka dengan air mengalir, bila memungkinkan dapat gunakan sabun bayi atau povidone iodine yang diencerkan
  5. Balut
  6. Kompres

 

Cara Memilih Balutan

Memilih balutan harus disesuaikan dengan jenis lukanya ya, Ayah dan Bunda.

1. Luka Gores

Prinsip balutan pada luka gores:

  • Mendekatkan tepi luka semaksimal mungkin dengan bantuan sterile strip/hypoallergenic tape
  • Menjaga suasana area luka menjadi lembab agar kondusif untuk prnyembuhan. Balutan harus dapat menyerap bila luka diprediksi akan basah atau memberi kelembaban bila luka kering.
    Contoh: penggunaan tulle-kassa-plester
    .

 

2. Luka Lecet

Bersihkan luka dengan lebih adekuat. Selama 2-3 hari pertama akan eksudatif sehingga lebih baik menggunakan tulle dan kassa lalu fiksasi dengan plester. Setelah 3 hari, oles salep sampai tulle lepas dengan sendirinya. Selain itu dapat juga digunakan hydrocolloid

hydrocolloid

3. Luka Memar

Penanganan luka memar yaitu dengan heparin topikal.

Balutan diganti apabila:

  • Kotor
  • Berbau tidak sedap
  • Lepas atau longgar
  • Demam tanpa alasan lain yang jelas
  • Tidak lebih dari 5 hari karena dapat menyebabkan kolonisasi kuman

 

Tanda Bahaya Jatuh

Apabila buah hati Ayah dan Ibu jatuh dan mengalami gejala-gejala di bawah ini, maka sebaiknya Ayah dan Ibu membawa buah hati segera ke rumah sakit. Gejala-gejala tersebut meliputi:

  • Kejang
  • Mata juling
  • Meracau
  • Muntah berulang
  • Penglihatan berkurang
  • Tidak sadarkan diri
  • Tidur lama atau sulit dibangunkan
  • Bagian tubuh tidak dapat digerakkan dan nyeri hebat
  • Perdarahan yang sulit dihentikan
  • Perlu penjahitan; terutama jika luka pada area wajah, sendi, luka di area tidak longgar atau memiliki risiko terbentuk jaringan parut berlebih.

 

Ayah dan Ibu dapat melakukan pengawasan selama 2-3 hari.

Referensi:
Theddeus O.H Prasetyono, Panduan Klinis Manajemen Luka. ECG, Jakarta, 2016.
National Inpatient Sample, Healthcare Utilization Project. Agency for Healthcare Research and Quality. 2012

LUKA BAKAR PADA ANAK: APA YANG PENTING DIKETAHUI?

 

oleh dr. Nilam Permatasari Bmed.Sc, SpBP-RE

Dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik

 

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah buah hati Anda pernah mengalami luka bakar? Sudahkah Ayah dan Ibu Kejora tau cara penanganan pertama jika anak terkena luka bakar? Yuk, simak penjelasan di bawah ini supaya Ayah dan Ibu Kejora lebih paham apa saja yang perlu diketahui jika hal ini terjadi pada buah hati Anda.

 

Penyebab Luka Bakar Pada Anak
Mayoritas cedera luka bakar pada anak terjadi di rumah (84%), dengan memasak sebagai kegiatan yang paling umum. Selama masa pandemi ini tentu kegiatan Ayah dan Ibu Kejora serta anak lebih banyak terpusat di rumah sehingga perlu perhatian lebih untuk mencegah kemungkinan ini. Luka bakar pada anak dengan usia yang lebih muda paling sering disebabkan oleh air panas. Seiring bertambahnya usia, angka penyebab luka bakar pada anak karena api meningkat.

Ayah dan Ibu Kejora harus memahami bahwa anak bukanlah mini dewasa. Dengan demikian, anak lebih tidak berdaya dalam mencegah kecelakaan luka bakar. Selain itu, lapisan kulit anak lebih tipis dibandingkan dewasa, sehingga anak lebih sering mengalami luka bakar dalam (full thickness).

 

Pertolongan Pertama Luka Bakar pada Anak

1. Hentikan proses bakar dengan menjauhkan/mematikan sumber panas.
STOP, DROP, ROLL AND COVER (Hentikan, Jatuhkan diri, Berguling, Lindungi)

    1. Stop – hentikan sumber kebakaran. Contoh: menghentikan sumber listrik pada kecelakaan listrik, tutup api dengan kain basah.
    2. Drop – jatuhkan diri ke lantai, tengkurap bila memungkinkan.
    3. Roll – berguling di lantai untuk menghentikan api.
    4. Cover – lindungi wajah dari paparan api.

Ayah dan Ibu Kejora bisa berlatih gerakan ini di rumah bersama buah hati, ya.

Cara Berlatih Stop, Drop & Roll Bersama Anak
Sumber gambar: https://www.household-management-101.com/stop-drop-and-roll.html

2. Mendinginkan luka bakar dengan irigasi menggunakan air mengalir, dapat berupa air keran (suhu 2-15oC) selama 20 menit. Waktu yang efektif dilakukan tindakan irigasi adalah dalam 3 jam setelah kejadian. Selain untuk mendinginkan luka bakar, irigasi dapat mengurangi nyeri dan mengurangi edema (bengkak).

Anak lebih rentan mengalami hipotermia sehingga sangat penting untuk tetap menjaga kehangatan anak setelah irigasi. Jika luka bakar sangat luas, kurangi lama irigasi.

Don’ts:

  • Hindari menggunakan air yang terlalu dingin!
  • Jangan memberikan pertolongan pertama dengan kopi, batu es, pemberian pasta gigi/kecap, sabun colek, mentega, dll.

3. Buka semua yang menempel di badan dan tutup dengan kain yang bersih.
Berikan berlapis dan cek berkala agar memastikan anak hangat.

4. Pertolongan Nyeri
Pendinginan dan penutupan luka dapat menurunkan rasa nyeri. Untuk tambahan dapat diberi medikasi yang mudah didapat di rumah, seperti paracetamol atau anti-inflamasi ibuprofen.

5. Penutupan Luka
Proteksi sementara di rumah dapat menggunakan polyvinyl chloride (cling film) karena tidak melekat dan transparan sehingga memudahkan pemeriksaan.

6. Segera ke fasilitas kesehatan terdekat.

 

Kena Luka Bakar: Harus Kemana?

1. Datang ke fasilitas kesehatan yang memiliki dokter bedah plastik.
Bedah plastik dapat memberikan layanan gawat darurat, perawatan luka bakar hingga pencegahan dan penanganan komplikasi dengan tujuan fungsi dan tampilan bekas luka bakar yang baik. Kenali dokter bedah plastik di area sekitar tempat tinggal Ayah dan Ibu Kejora melalui situs www.perapi.org/doctor . Bila tidak memungkinkan, dapat datang ke dokter bedah umum.

2. Kenali nomor telepon jasa penanganan keadaan darurat

  • Ambulans: 118 dan 119
  • Pemadam kebakaran: 113 dan 1131
  • Nomer darurat standar GSM melalui jaringan seluler dan satelit: 112
  • Polisi: 110
  • Posko becana alam: 129
  • Perusahaan Listrik Negara: 123
  • Keracunan: (021) 4250767
  • Pencegahan bunuh diri (021) 7256526, (021) 7257826, (021) 7221810
  • Konseling masalah kejiwaan Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa Kemenkes RI Hotline 500-454

Referensi:
1. Herndon, David N., Total Burn Care. 4th edition. Saunders El. London: 2012.
2. Australia and New Zealand Burns Association. Emergency management of severe burns (EMSB). 2013.
3. Siobhan Conolly MB, et al. Clinical Practice Guidelines: Burn Wound Management NSW Health. NSW Health. 2009.

PENGUMUMAN PENTING BAGI PASIEN GIGI TERKAIT COVID-19

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora…

Semakin menyebarluasnya virus Corona di negara kita akhir-akhir ini pasti menimbulkan keresahan baik bagi orang awam maupun tenaga kesehatan. Terkait dengan hal ini, ada beberapa himbauan yang dianjurkan, terutama bagi Anda maupun si buah hati yang memiliki jadwal ke dokter gigi. Namun sebelum membahas lebih lanjut mengenai himbauan tersebut, yuk kita belajar sedikit mengenai virus ini dan bagaimana gejalanya.

 

Apakah itu Coronavirus?

Coronavirus merupakan sekelompok besar virus yang beberapa di antaranya menyebabkan penyakit pernapasan pada manusia dan sebagian lainnya beredar di antara hewan-hewan tertentu. Sebenarnya coronavirus yang terdapat pada hewan jarang sekali berevolusi dan menginfeksi manusia, kemudian menyebar lagi di antara manusia lainnya. Wabah Coronavirus sebelumnya termasuk sindrom SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan MERS (Middle East Respiratory Syndrome). COVID-19 adalah nama penyakit yang disebabkan oleh novel coronavirus, SARS-CoV-2. Cara penularan virus ini masih dipelajari lebih lanjut, namun sejauh ini telah diketahui bahwa virus ini dapat ditularkan melalui droplet maupun kontak langsung dengan penderita.

 

Apa gejala COVID-19?

Gejala yang dijumpai mirip dengan penyakit flu, yaitu demam, batuk, radang tenggorokan, serta adanya sesak / kesulitan bernapas. Mayoritas penderita memiliki gejala ringan, namun beberapa penderita yang memiliki komplikasi medis maupun bagi mereka yang berusia di atas 60 tahun dapat memiliki gejala yang lebih berat termasuk terjadinya pneumonia.

 

Bagaimana himbauan kunjungan ke dokter gigi terkait dengan wabah ini?

Dengan semakin mewabahnya virus ini di berbagai belahan dunia dan sebagai upaya mitigasi terhadap penyebarannya, maka Organisasi-organisasi Kedokteran Gigi di berbagai negara seperti ADA (American Dental Association)  maupun PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia) sepakat untuk mengeluarkan himbauan bagi dokter gigi maupun pasien. Secara garis besarnya, himbauan ini berupa penundaan prosedur elektif dan tidak penting sehingga kunjungan hanya dibatasi pada tindakan kegawatdaruratan. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk meminimalisir penularan COVID-19 di antara pasien dan petugas kesehatan, serta mengurangi kemungkinan terjadinya keterbatasan APD (Alat Perlindungan Diri) bagi petugas kesehatan yang memerlukan. Tindakan kegawatdaruratan gigi yang dimaksud disini adalah:

  • Rasa sakit pada gigi yang parah dan tidak tertahankan.
  • Adanya pembengkakan pada gusi, wajah, maupun leher.
  • Perdarahan dalam rongga mulut yang tidak dapat dihentikan.
  • Trauma / kecelakaan yang melibatkan area rongga mulut.

Hal ini akan dilakukan selama 2-3 minggu kedepan sembari melihat perkembangan situasi lebih lanjut. Jadi, apabila Ayah dan Ibu Kejora maupun si buah hati memiliki jadwal kunjungan ke dokter gigi selain tindakan kegawatdaruratan di atas, harap ditunda dulu ya…

Mari kita bantu pemerintah kita untuk mengurangi penyebaran virus ini dengan mematuhi anjuran social distancingatau yang dikenal dengan gerakan #dirumahsaja supaya tidak menularkan maupun ketularan virus ini. Hal ini juga akan sangat membantu meringakan kami sebagai tenaga medis, lho..

 

We stay at clinic for you… You stay at home for us!!”

Editor   : drg. Sita Rose Nandiasa

 

Sumber:

 

Penanganan Ular

 

 

 

oleh dr. Nurul Larasati

Dokter Umum

*Bekerja sama dengan Safe Kids Indonesia dan Yayasan Sioux Ular Indonesia

Halo Keluarga Sehat Kejora! Belakangan ini ramai sekali pemberitaan mengenai ditemukannya ular di pemukiman warga di berbagai tempat. Satu ekor ular saja dapat menyebabkan keresahan, bagaimana bila ditemukan lebih banyak lagi ya. Apakah Ayah dan Ibu sudah pernah “berkenalan” dengan ular? Apa yang dapat kita lakukan bila berhadapan dengan situasi seperti ini? Yuk kita simak ulasannya.

Mitos dan Fakta

Mungkin Keluarga Kejora pernah menerima informasi yang menyebutkan kalau sedang camping di hutan, jangan lupa tebarkan garam disekitar tenda agar ular tidak mendekat. Betulkah seperti itu? Ternyata itu hanya mitos lho! Faktanya, ular tidak takut garam karena ia terlindungi oleh sisiknya. Ular juga tidak takut terhadap belerang, obat rayap, ataupun obat semut. Justru, yang tidak disukai oleh ular adalah bau yang menyengat karena akan mengganggu penciumannya, misalnya cuka.

Ayah dan Ibu Kejora, perlu diketahui pula bahwa tidak semua ular berbisa itu mematikan. Faktanya, hanya 77 dari 348 spesies ular di Indonesia yang bisanya mematikan. Namun, menjaga kewaspadaan tetap penting ya, Ayah dan Ibu. Lalu bagaimana dengan warna ular? Apakah warna-warna tertentu erat kaitannya dengan bisa yang mematikan? Ternyata itu juga hanya mitos!

Membedakan ular berbisa atau tidak

Seperti yang disebutkan sebelumnya, dari 348 spesies ular di Indonesia hanya 77 yang bisanya mematikan. Tipe ular dibedakan berdasarkan bisanya: highly venomous (sangat beracun) dan non venomous (tidak beracun). Kedua tipe ini memiliki karakteristik yang khas yang dapat membantu kita membedakannya.

Karakteristik dari ular yang highly venomous adalah gerakannya yang lambat. Selain itu, ia memiliki betuk kepala segitiga, mata berbentuk elips, dan memiliki sisik satu baris/ tidak terbagi di bagian buntut. Tipe ular ini membunuh mangsanya dengan menyuntikkan bisa melalui taringnya dan memiliki lubang penginderaan panas (heat-sensing) di dekat hidungnya.

Berbeda dari ular yang highly venomous, karakteristik ular yang non-venomous hampir berkebalikan, seperti gerakannya yang cepat, bentuk kepala dan mata yang bulat, dan tidak memiliki taring bisa. Pada bagian buntut sisiknya terbagi menjadi dua baris. Tipe ular ini gigitannya tidak mematikan, namun membunuh mangsanya dengan cara membelit.

Mencegah ular datang ke rumah

Salah satu alasan ular mendatangi tempat tinggal adalah karena lapar. Bisa jadi hal itu terjadi karena telah putus rantai makanannya pada habitat sebelumnya. Agar dapat mencegah ular datang ke rumah, kita dapat belajar memahaminya melalui karakter biologi dari ular. Misalnya, ular sangat mengandalkan penciumannya yang berada pada lidahnya untuk mendeteksi mangsa dan musuh. Ia sangat sensitif dan tidak suka dengan bau yang menyengat. Bila area tempat tinggal kita sering kedatangan ular, trik ini dapat membantu mencegah ular datang ke rumah. Namun, dengan menjaga tempat tinggal kita bersih, ular pun akan segan untuk datang, karena pada dasarnya ular takut dengan manusia.

Ciri-ciri tempat yang disukai ular

Setiap hewan memerlukan tempat yang kondusif untuk hidup. Pastikan tempat tinggal kita bukan salah satunya ya, Ayah dan Ibu. Ciri-ciri tempat yang disukai ular termasuk diantaranya:

  1. Kering, tidak basah lantainya atau hanya sedikit lembab tanpa adanya genangan air.
  2. Tanpa cahaya atau gelap. Ular yang aktif pada malam hari (nokturnal) akan sembunyi di siang hari. Sedangkan, ular yang aktif pada siang hari (diurnal) akan tidur di malam hari di tempat yang sedikit terbuka.
  3. Di dalam lubang. Karena ular tidak berkaki atau tangan, maka ia akan memanfaatkan lubang yang telah dibuat oleh hewan lain.

Contoh tempat di sekitar rumah yang disukai oleh ular adalah plafon atap, lubang pondasi, saluran sampah, dan tumpukan material.

Yang dilakukan bila bertemu ular

Ayah dan Ibu, saat manusia bertemu dengan ular, bukan hanya manusia yang syok dan stres. Ular pun ternyata merasakan yang sama! Saat ular panik atau takut, yang ia lakukan hanyalah berlari, bertahan, mengancam, dan menyerang. Jangan sampai kita memprovokasi. Bagaimana agar ular tidak menyerang? Kita harus STOP. Maksudnya?

S Silent. Jangan bergerak. Ular akan merespon bila melihat gerakan. Jika kita diam, ular tidak bisa membedakan antara kita dan benda mati (misalnya pohon bila kita sedang berada dekat pepohonan).
T Think. Pikirkan ular macam apa ini? Highly venomous atau non venomous?
O Observe. Lihat sekitar kita. Apakah ada benda yang bisa membantu kita untuk memegang atau mengangkat ular, dan apakah memungkinkan untuk kita berpindah atau mundur.
P Prepare. Apa yang akan kita lakukan? Mengejar ular, menangkap, atau mundur?

Bila kita tidak berani mengambil aksi, kita cukup diam dan ular akan pergi sendiri. Ayah dan Ibu juga dapat menghubungi petugas Pemadam Kebakaran di nomor 113 untuk bantu menangani situasinya.

Penanganan gigitan ular

Ayah dan Ibu Kejora, yang paling penting dilakukan bila digigit ular adalah untuk tetap tenang dan tidak panik—jangan berteriak atau berlarian. Pindahlah ke tempat yang aman dan hubungi pemadam kebakaran (113) untuk bantuan. Bersihkan luka gigitan menggunakan air bersih dan sabun, lalu keringkan.

Lilitkan perban dan lakukan pembidaian pada area yang digigit untuk meminimalkan pergerakan (imobilisasi). Posisikan bagian yang luka lebih rendah dari posisi jantung. Bawa korban ke rumah sakit untuk mendapatkan Serum Anti Bisa Ular (SABU) atas saran dokter yang menangani dan diobservasi selama 2 x 24 jam. Penting diingat untuk menghindari obat-obatan tradisional, menghisap luka, ataupun mengikat luka dengan sangat kencang. Masa penyerangan mematikan bergantung kepada jenis ularnya, rata-rata sekitar 10 menit hingga 24 jam. Maka dari itu, penting sekali korban diberikan pertolongan yang memadai.

Semoga kita semua selalu terlindungi ya, Ayah dan Ibu Kejora!

Sudah Lengkapkah Kotak P3K Anda?

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Halo, Sahabat Kejora!

Dalam kesempatan kali ini, Kejora ingin berbagi informasi dan mengingatkan Ayah dan Ibu tentang pentingnya kotak P3K. Kotak P3K adalah kotak yang berisi obat-obatan atau perlengkapan yang dibutuhkan untuk melakukan pertolongan pertama dalam mengatasi kecelakaan atau kejadian yang tidak diinginkan.

Isi kotak P3K di rumah, di mobil, atau yang dibawa bepergian tidaklah sama. Isinya sebaiknya disesuaikan dengan kemungkinan kecelakaan atau kondisi yang dapat terjadi dan siapa yang akan memerlukan pertolongan. Misalnya, isi kotak P3K di rumah sebuah keluarga dengan anak balita tentu berbeda dengan isi kotak P3K di rumah keluarga yang hanya berisi orang dewasa.

Secara umum, kotak P3K sebaiknya berisi perlengkapan penanganan luka sederhana dan obat-obatan yang mungkin dibutuhkan. Isi kotak P3K di rumah sebaiknya berisi:

  • perlengkapan penanganan luka (plester, perban, gunting, pinset, cairan antiseptik)
  • termometer
  • obat-obatan (seperti, paracetamol/obat penurun demam lainnya, antihistamine untuk mengatasi alergi, oralit sebagai pertolongan pertama diare, antasida)
  • krim untuk mengatasi luka bakar atau sunburn
  • lotion untuk mengurangi gatal akibat gigitan nyamuk atau serangga lainnya
  • cairan cuci mata (eye water)

Obat-obatan yang diletakkan dalam kotak P3K hendaknya sediaanya disesuaikan dengan usia penghuni rumah. Misalnya, sediakan paracetamol yang drops jika ada bayi di rumah dan syrup dengan dosis yang sesuai jika anak sudah berusia lebih besar.

Kotak P3K di mobil biasanya hanya berisi perlengkapan untuk menangani luka atau kecelakaan. Obat-obatan hendaknya dimasukkan ke dalam kotak P3K yang disiapkan untuk bepergian, baik bepergian ke luar kota atau saat beraktivitas sehari-hari di luar rumah. Obat-obatan yang perlu dibawa mencakup obat penurun demam, antihistamine, oralit, dan obat-obatan khusus yang perlu dikonsumsi secara rutin.

Jadi, sudah lengkapkah isi kotak P3K Anda?

Referensi:

https://www.nhs.uk/common-health-questions/accidents-first-aid-and-treatments/what-should-i-keep-in-my-first-aid-kit/
https://www.hopkinsmedicine.org/health/wellness-and-prevention/travelers-firstaid-kit

Menjaga Keluarga Aman Saat Gempa Bumi

 

 

 

 

oleh dr. Nurul Larasati, BMedSc

Dokter Umum

 

Halo, Keluarga Sehat Kejora! Beberapa saat lalu sebagian daerah di Indonesia mengalami gempa bumi berturut-turut. Guncangannya pun begitu terasa hingga ke Ibu Kota Jakarta. Wah, siapa sangka Jakarta akan mengalami bencana alam? Apakah kita sudah menyiapkan diri dan keluarga menghadapi gempa bumi?

Secara geografis Indonesia dikenal sebagai daerah rawan gempa bumi dan letusan gunung berapi. Negara kita, bersama dengan beberapa negara lainnya, berada di jalur gempa teraktif di dunia karena wilayah ini adalah pertemuan berbagai lempeng tektonik yang terus aktif bergerak. Diperkirakan sekitar 90% gempa bumi di dunia terjadi di wilayah ini. Oleh sebab itu, wilayah ini disebut juga sebagai Cincin Api Pasifik, atau Ring of Fire. Walau hal ini menjadikan Indonesia negara yang rawan bencana alam, hal ini juga menjadikan negara kita sebagai wilayah subur dan kaya secara hayati.

Nah, sebagai masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, sudah sepantasnya kita menyiapkan diri dan juga keluarga dalam menghadapi bencana alam seperti gempa bumi. Apa saja yang harus Ayah dan Ibu perhatikan?

 

Sebelum Gempa Bumi

  1. Luangkan waktu dengan keluarga untuk membahas jalur evakuasi.
    Wah, jalur evakuasi? Sudah seperti di perkantoran saja ya, Ayah dan Ibu? Memang benar. Seberapapun ukuran rumah atau tempat tinggal kita, penting untuk tiap anggota keluarga mengetahui kemana mereka harus berlari atau berlindung saat terjadi gempa. Misalnya langsung menuju ke lapangan kosong yang dekat dengan rumah, atau halaman depan rumah bila ukurannya cukup luas dan jauh dari pepohonan/ bangunan besar.
  2. Perhatikan titik-titik aman untuk berlindung dan titik-titik bahaya seperti dekat kaca, tiang-tiang, lemari, dll.
  3. Catat dan simpan nomor-nomor telepon penting selain keluarga, seperti Palang Merah Indonesia (PMI), polisi, pemadam kebakaran, dll.
  4. Siapkan Tas Siaga Bencana.

Sumber: Keepo.me (https://keepo.me/lifestyle/indonesia-rawan-bencana-kamu-udah-nyiapin-tas-siaga-bencana-ini-isinya-biar-kamu-bisa-bertahan/)

Tas Siaga Bencana disiapkan sebagai pertolongan dasar selama 3×24 jam setelah bencana. Letakkan Tas Siaga Bencana dekat dengan jalur evakuasi atau di tempat yang mudah dijangkau. Tas ini berisikan:

  • Fotokopi dokumen pribadi dan uang tunai.
  • Selimut—disarankan emergencyblanket atau yang tidak memakan banyak tempat di dalam tas.
  • Peluit (untuk memanggil bantuan).
  • Alat bantu penerangan, seperti senter (dan baterai cadangan), lilin, korek api.
  • Pisau lipat.
  • Wadah air—disarankan yang dapat dilipat.
  • Telepon genggam, power bank.
  • Obat-obatan/alat kesehatan dasar, seperti perban, cairan antiseptik, plester, parasetamol, obat lambung, obat diare, obat gosok/minyak kayu putih, losion anti-nyamuk, dan obat-obatan yang rutin dikonsumsi (misalnya obat diabete dan darah tinggi).
  • Makanan, minuman, dan peralatan makan.
    Makanan dapat berbentuk makanan kaleng (yang tidak membutuhkan pembuka kaleng khusus), biskuit, kue kering. Untuk minuman diutamakan air putih botol.
  • Peralatan mandi dan pakaian secukupnya, termasuk perlengkapan beribadah yang ringan.
  • Peralatan lain seperti jas hujan, masker, buku tulis, pulpen.

 

Saat Gempa Bumi

Sumber: Darmawan A, et al. PKM CSR

 

  1. Bila Keluarga Kejora sedang berada di dalam rumah, berlindunglah di bawah meja dan lindungi kepala dengan apa saja, seperti helm, bantal, papan, atau kedua tangan dengan posisi telungkup.
  2. Bila Keluarga Kejora berada di dalam gedung, merunduk dan lindungi kepala. Setelah itu bergeraklah sesuai petunjuk petugas penyelamat dan jangan menggunakan lift. Jalanlah menuju ruang terbuka.
  3. Pada posisi di dalam kendaraan, hentikan kendaraan dan berjalanlah menuju tempat terbuka.
  4. Bila berada di gunung, pergi ke tempat yang aman seperti lapangan terbuka yang jauh dari lereng. Bila berada di pantai, bergeraklah ke dataran tinggi untuk mewaspadai terjadinya tsunami.

 

Setelah Gempa Bumi

  1. Periksa keadaan diri sendiri lalu keluarga dan hewan peliharaan yang ikut serta.
  2. Bila berada dekat dengan rumah, matikan aliran listrik dan gas.
  3. Berikan pertolongan kepada orang-orang sekitar bila mampu dan memungkinkan.
  4. Selalu ikuti petunjuk dari petugas penyelamat.

Yang juga patut diperhatikan adalah bila ada bayi dan hewan peliharaan yang menjadi bagian dari keluarga. Bila ada bayi, siapkan bubur bayi instan dan susu bubuk sesuai usianya, serta perlengkapan lain seperti popok, perlak, dll namun tidak berlebihan. Untuk hewan peliharaan, siapkan makanan dan tempat makannya, kalung, tali tuntun, juga obat yang sekiranya dibutuhkan.

 

Ayah dan Ibu, perlengkapan ini perlu diperiksa kembali setiap 3 bulan, termasuk mengganti makanan dan minuman dengan masa kadaluarsa yang lebih lama. Ayo, bersama-sama kita menjadi Keluarga Sehat Kejora yang tanggap bencana!

 

Referensi:

  1. Cincin Api Pasifik. Wikipedia. April 2019.
  2. Astika Fardani. Mari Siapkan Tas Siaga Bencana. Pusat Krisis Kesehatan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. November 2018.
  3. Keeping Your Family Safe During an Earthquake. Safety.com. May 2019.
  4. Budi Utomo. Cara Menyelamatkan Diri Saat Gempa Bumi dari PMI. Tagar.id. Juni 2019.
  5. Earthquake Safety Checklist. Be Red Cross Ready. 2009.