oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo Keluarga Kejora…

Anak-anak dilahirkan dengan preferensi untuk rasa manis. Telah diketahui bahwa cairan ketuban dan juga pada ASI memiliki rasa yang manis. Paparan alami di dalam rahim dan ASI, menjelaskan bagaimana preferensi rasa manis dimulai. Penelitian juga menunjukkan bahwa bayi mengalami relaksasi dan ketenangan setelah mencicipi sesuatu yang manis.

Paparan awal terhadap makanan manis tidak hanya menyebabkan peningkatan preferensi untuk anak-anak, tetapi juga preferensi untuk kadar gula yang lebih tinggi dalam makanan. Respons kesenangan di otak diaktifkan oleh makanan yang sangat enak, seperti yang mengandung gula, lemak, dan garam. Komponen makanan ini memicu bahan kimia otak yaitu dopamine yang memberikan efek kesenangan untuk tubuh. Begitu anak-anak mengalami kesenangan dari makan makanan tertentu, mereka mungkin merasakan keinginan untuk memakannya lagi.

Di Indonesia banyak terdapat permen dan manisan yang tersedia untuk anak-anak, yang seringkali menggunakan bahan pewarna makanan. BPOM telah mengatur dan menjamin keamanan pewarna makanan buatan yang beredar, sehingga makanan dengan pewarna makanan dianggap aman untuk dikonsumsi.

Namun, beberapa anak dapat mengalami perubahan perilaku, seperti hiperaktif, ketika mereka mengkonsumsi makanan dengan warna makanan buatan. Apalagi anak dengan  ADHD, mungkin saja mengalami perilaku yang memburuk ketika makan makanan dengan pewarna makanan.

Seorang anak yang menunjukkan perubahan perilaku ketika dia makan permen, tidak selalu disebabkan oleh gula saja, walaupun memang seringkali gula menjadi pemicu utama. Asupan gula yang tinggi akan meningkatkan kadar dopamin dalam tubuh,  lalu dengan cepat turun ketika kadar gula darahnya merosot. Penurunan gula darah yang cepat ini dapat menimbulkan perubahan perilaku seperti mengamuk, berakting, merengek, atau perilaku negatif lainnya. Hal ini menjelaskan mengapa beberapa anak tampak lebih sensitif terhadap gula dibandingkan anak lainnya.

Permen tentu saja meningkatkan total kalori asupan dalam diet anak, tetapi hanya memberikan sedikit nutrisi. Rekomendasi gula untuk anak-anak adalah dari 3 hingga 8 sendok teh gula setiap hari, tergantung pada usia. Kenyataannya, sekarang anak yang berusia kurang dari 1 tahun dapat mengkonsumsi gula 3-4 kali lipat dari rekomendasinya. Bahkan jumlah konsumsi gula ini dapat mencapai 21 sendok teh per hari untuk usia 4 -8 tahun dan 34 sendok teh per hari untuk remaja.

Selain gula dalam permen, perhatikan juga gula tersembunyi dalam makanan anak-anak sehari-hari yang tampak dan dipasarkan sebagai jenis makanan sehat seperti yoghurt buah, jus buah, saus buah MPASI, saus spageti, sereal, dan granola.

Gula tersembunyi tersebut tentu saja juga menambah total kalori harian untuk anak.

Strategi terbaik untuk mengendalikan asupan permen (gula) untuk anak adalah dengan memiliki kebijakan di rumah Anda masing-masing. Idealnya, pemberian permen dan makanan/minuman tinggi gula sudah direncanakan kapan akan disajikan, dengan menentukan frekuensi dan jumlah yang boleh dikonsumsi sehingga kesehatan anak tidak terganggu.

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, Sp.GK

468total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *