Posisi imunisasi yang Menyamankan

 

 

 

 

oleh dr. Yulianto Santoso Kurniawan, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Apa kabar, Ayah dan Ibu? Sampai di penghujung tahun, semoga semua anggota keluarga dalam keadaan sehat.

Sepanjang tahun pasti hal yang tidak bisa kita hindarkan saat berkonsultasi ke dokter anak adalah saat imunisasi. Imunisasi bertujuan untuk menstimulasi tubuh anak untuk menghasilkan tentara (antibodi) untuk menghalau bakteri atau virus yang masuk ke dalam tubuh anak kita. Proses imunisasi sering sekali disertai dengan rasa takut dan tangisan berderai. Oleh karena itu, kita perlu mencari cara agar proses imunisasi menjadi proses yang lebih menyenangkan.

Salah satu cara untuk membuat proses imunisasi berjalan dengan lancar adalah posisi penyuntikan. Bayi atau anak akan merasa aman dan nyaman dalam dekapan orang tua, sementara dalam proses imunisasi seringkali bayi atau anak langsung dibaringkan ke atas tempat tidur. Hal ini tergantung kesepakatan dengan orang tua, jika memang bayi atau anak tidak bisa digendong dengan tenang maka dibaringkan di atas tempat tidur menjadi pilihan kedua.

Suntikan imunisasi sampai usia 2 tahun dilakukan di paha tengah samping (vastus lateralis). Pada anak di atas 2 tahun, imunisasi dapat disuntikan pada lengan atas (deltoid) atau paha tengah samping.

Gambar 1. Lokasi penyuntikan di paha samping tengah

Gambar 2. Penyuntikan di lengan atas (deltoid)

 

Cara memegang dapat dilakukan dengan beberapa cara:

  1. Posisi cruddle

 

  1. Posisi straddle

Posisi menentukan prestasi; dengan posisi yang nyaman, maka bayi atau anak dapat merasa tenang dalam dekapan orang tua sehingga rasa sakit bisa teralihkan. Orang tua perlu memegang dengan kuat anak dalam dekapan sehingga tidak bergerak secara berlebihan. Kunci pergerakan bahu, panggul dan kaki.

Semoga dengan mempraktikkan tips di atas, proses imunisasi bisa berjalan lebih nyaman dan tangisan berkurang atau lebih cepat berhenti.

Editor: dr. Sunita

 

Sumber

https://www.health.govt.nz/publication/immunisation-handbook-2017

 

Imunisasi dalam Kehamilan dan Masa Menyusui

 

 

 

 

oleh dr. Danny Maesadatu, Sp.OG

Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan

Halo Keluarga Kejora! Anda tentu pernah mendengar istilah imunisasi. Namun, tahukah Anda bahwa selain diberikan kepada bayi dan anak-anak, imunisasi juga ada yang perlu diberikan kepada orang dewasa? Lalu, apakah seorang ibu hamil boleh atau perlu mendapat imunisasi? Bagaimana dengan pemberian imunisasi pada ibu menyusui? Mari kita simak jawabannya di pembahasan mengenai imunisasi dalam kehamilan dan masa menyusui berikut ini.

Apa yang dimaksud dengan imunisasi?

Imunisasi adalah suatu cara dimana seseorang dibuat kebal terhadap sebuah penyakit infeksi yang umumnya dilakukan dengan pemberian vaksin. Vaksin ini akan memicu tubuh seseorang untuk membuat sistem kekebalan sehingga orang tersebut memiliki perlindungan terhadap penyakit infeksi tersebut.

Apakah vaksinasi boleh diberikan kepada ibu hamil dan ibu menyusui? Vaksin apa saja yang boleh diberikan kepada ibu hamil dan ibu menyusui?

Secara umum, vaksin ada dua jenis yaitu vaksin hidup (termasuk vaksin hidup yang dilemahkan) dan tidak hidup. Pada kehamilan, jenis vaksin hidup tidak boleh diberikan karena memiliki risiko infeksi ke janin. Meskipun hingga saat ini tak ada laporan kecacatan dari vaksin hidup yang ada. Jenis vaksin virus dan bakteri yang tidak aktif serta toxoid dapat diberikan pada kehamilan. Untuk ibu menyusui vaksinasi dapat diberikan jika terdapat indikasi pemberiannya, kecuali vaksin Herpes Zoster dan typhoid oral.

Berikut ditampilkan berbagai jenis vaksin dan penggunaannya baik pada kehamilan dan masa menyusui.

Sumber: Diadaptasi dari Castillo, E, Poliquin, V. (2018). No. 357-Immunization in Pregnancy. Journal of Obstetrics and Gynaecology Canada40(4), 478-489.

Dari tabel di atas, terlihat bahwa banyak vaksin yang perlu diberikan pada kehamilan dengan kondisi tertentu (seperti berisiko tinggi mengalami infeksi tertentu, bepergian ke daerah endemik). Oleh karena itu, sebaiknya wanita hamil selalu konsultasikan mengenai rencana perjalanan dan riwayat kesehatan kepada dokter kandungan atau bidan yang merawat agar terhindar dari infeksi selama kehamilan.

Salam sehat Kejora!

Editor: dr. Sunita

Sumber:

www.who.int/topics/immunization/en/

Castillo, E, Poliquin, V. (2018). No. 357-Immunization in Pregnancy. Journal of Obstetrics and Gynaecology Canada40(4), 478-489.

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

KIPI adalah salah satu reaksi tubuh pasien yang tidak diinginkan, muncul setelah pemberian vaksin. KIPI dapat terjadi dengan tanda atau kondisi yang berbeda-beda, mulai dari gejala efek samping ringan yang bersifat lokal berupa rasa nyeri, kemerahan dan pembengkakan area tubuh, hingga reaksi yang serius seperti anafilaktik.

KIPI berdasarkan jenis imunisasi:

  • BCG
    Orangtua perlu diberitahu bahwa dalam waktu 2-6 minggu setelah imunisasi BCG dapat timbul bisul kecil (papula) yang semakin membesar dan dapat terjadi ulserasi selama 2-4 bulan, kemudian menyembuh perlahan dengan menimbulkan jaringan parut. Bila ulkus mengeluarkan cairan orangtua dapat mengkompres dengan cairan antiseptik. Bila cairan bertambah banyak, koreng semakin membesar atau timbul pembesaran kelenjar regional (aksila), orangtua harus membawanya ke dokter.
  • Hepatitis B
    Kejadian ikutan pasca imunisasi pada hepatitis B jarang terjadi, segera setelah imunisasi dapat timbul demam yang tidak tinggi, pada tempat penyuntikan timbul kemerahan, pembengkakan, nyeri, rasa mual dan nyeri sendi.
  • DPT
    Reaksi  yang dapat terjadi segera setelah vaksinasi DPT antara lain demam tinggi, rewel, di tempat suntikan  timbul kemerahan, nyeri dan pembengkakan, yang akan hilang dalam 2 hari.
  • DT
    Reaksi yang dapat terjadi pasca vaksinasi DT antara lain kemerahan, pembengkakan dan nyeri pada bekas suntikan. Bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres dengan air dingin.
  • Polio Oral
    Sangat jarang terjadi reaksi sesudah imunisasi polio, oleh karena itu orangtua / pengasuh tidak perlu melakukan tindakan apapun.
  • Campak dan MMR
    Reaksi yang dapat terjadi pasca vaksinasi campak dan MMR berupa rasa tidak nyaman di bekas penyuntikan vaksin. Selain itu dapat terjadi gejala-gejala lain yang timbul 5-12 hari setelah penyuntikan, yaitu demam tidak tinggi atau erupsi kulit halus/tipis yang berlangsung kurang dari 48 jam. Pembengkakan kelenjar getah bening di belakang telinga dapat terjadi sekitar 3 minggu pasca imunisasi MMR.KIPI tidak selalu terjadi pada setiap orang yang diimunisasi. Ayah & Ibu perlu mengetahui bahwa setelah imunisasi dapat timbul reaksi lokal di tempat penyuntikan atau reaksi umum berupa keluhan dan gejala tertentu, tergantung pada jenis vaksinnya. Reaksi tersebut umumnya ringan, mudah diatasi oleh orangtua atau pengasuh, dan akan hilang dalam 1 – 2 hari. Di tempat suntikan kadang-kadang timbul kemerahan, pembekakan, gatal, nyeri selama 1 sampai 2 hari. Kompres hangat dapat mengurangi keadaan tersebut. Kadang-kadang teraba benjolan kecil yang agak keras selama beberapa minggu atau lebih, tetapi umumnya tidak perlu dilakukan tindakan apapun.

Sebelum imunisasi, Ayah Ibu harus mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan kontra atau risiko terjadinya kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI):

  • Pernah mengalami KIPI yang berat pada imunisasi sebelumnya,
  • Alergi terhadap bahan yang juga terdapat di dalam vaksin,
  • Sedang mendapat pengobatan steroid, radioterapi atau kemoterapi,
  • Menderita sakit yang menurunkan imunitas (leukemia, kanker, HIV/AIDS),
  • Tinggal serumah dengan orang lain yang imunitasnya menurun (leukimia, kanker, HIV / AIDS),
  • Tinggal serumah dengan orang lain dalam pengobatan yang menurunkan imunitas (radioterapi, kemoterapi, atau terapi steroid)
  • pada bulan lalu mendapat imunisasi yang berisi vaksin virus hidup (vaksin campak, poliomielitis, rubela)
  • pada 3 bulan sebelumnya mendapat imunoglobulin atau transfusi darah

Setelah diimunisasi, sebaiknya dipantau kondisi anak baik yang menimbulkan rasa tidak nyaman atau keabnormalan pada bagian tubuh tertentu. Untuk mengurangi ketidaknyamanan pasca vaksinasi, dipertimbangkan untuk pemberian parasetamol 15 mg/kgbb kepada bayi/anak setelah imunisasi, terutama pasca vaksinasi DPT. Kemudian dilanjutkan setiap 3-4 jam sesuai kebutuhan, maksimal 4 kali dalam 24 jam. Jika keluhan masih berlanjut, diminta segera kembali kepada dokter.

World Immunization Week

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Imunisasi merupakan cara efektif yang telah menyelamatkan jutaan orang lebih dari 25 penyakit sejak bayi hingga lansia (difteria, campak, pertussis, polio, tetanus, dll). WHO menyatakan, 2-3 juta kematian di dunia dapat dicegah melalui imunisasi. Di sisi lain, 19-22,6 juta anak-anak di dunia masih belum mendapatkan imunisasi dan mereka berisiko tinggi mengalami penyakit-penyakit yang fatal. Pekan Imunisasi Dunia (World Immunization Week) diperingati setiap minggu terakhir di bulan April. Peringatan ini bertujuan untuk memastikan setiap anak mendapatkan perlindungan dari penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi. Tema yang diangkat WHO tahun 2018 ini adalah “Protected Together, #VaccinesWork”.

WHO memiliki target untuk menurunkan penyakit dan kematian dengan perlindungan imunisasi (termasuk campak, rubella, tetanus pada Ibu hamil dan anak) melalui program “The Global Vaccine Action Plan” (GVAP) sebelum tahun 2020. Mari kita sukseskan program ini bersama dengan memastikan setiap anak kita mendapatkan vaksin sesuai jadwal!

Nah, apakah ayah dan ibu ada yang masih bingung mengenai perbedaan imunisasi, vaksin, dan vaksinasi?

  • Imunisasi adalah suatu proses pembentukan imunitas (daya tahan/kekebalan tubuh) seseorang terhadap penyakit menular, biasanya dilakukan dengan pemberian vaksin.
  • Vaksin dibuat dari kuman (virus, bakteri, atau toksin) hidup yang dilemahkan/mati dalam jumlah sangat kecil. Vaksin yang diberikan akan menstimulasi sistem imun seseorang untuk memberikan perlindungan terhadap infeksi atau penyakit tertentu.
  • Vaksinasi adalah proses pemberian vaksin, umumnya diberikan dengan disuntik.

Berikut ini adalah jadwal imunisasi hasil rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2017. Untuk detailnya, Ayah Ibu dapat mengunjungi laman IDAI dan mengunduh jadwal ini dari link berikut.