Hubungan Ibu Menyusui dan Hepatitis B

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

Hai Ayah dan Ibu

Tahukah anda,

Bahwa ibu hamil berisiko menularkan virus hepatitis pada bayi yang dikandungnya. Penularan ini terjadi pada 25-30% wanita carrier hepatitis B berusia produktif. Penularan hepatitis B paling banyak terjadi pada saat atau segera setelah persalinan, saat terjadi kontak antara bayi dengan cairan darah atau cairan tubuh ibu.

Belum terdapat cukup bukti penelitian untuk mendukung atau menyanggah penularan hepatitis B melalui aktivitas menyusui. Secara umum, semua bayi yang lahir dari ibu carrier(pembawa) hepatitis B boleh menyusu serta harus mendapatkan antibodi terhadap hepatitis B (imunoglobulin hepatitis B) pada 24 jam pertama kehidupan. Imunoglobulin ini merupakan antibodi yang aktif memerangi virus hepatitis B, berbeda dengan imunisasi hepatitis B yang mengandung protein virus hepatitis B bisa merangsang tubuh untuk menghasilkan antibodi terhadap hepatitis B. Imunisasi hepatitis B pada bayi dari ibu carrier (pembawa) harus tetap dilakukan sesuai jadwal demi menjamin terbentuknya antibodi hepatitis B.

Lantas bagaimana apabila puting ibu lecet dan berdarah dikala menyusui? Pada ibu carrier (pembawa) hepatitis B, ASI dapat mengandung virus. Karena itu, lembaga penanganan dan pencegahan infeksi di Amerika Serikat (Center for Disease Control and Prevention, CDC) merekomendasikan teknik pump and dump untuk kasus seperti ini. Selama puting luka berdarah, ibu disarankan untuk memerah ASI dan membuang hasil perahan tersebut. Ibu dapat kembali menyusui buah hatinya kembali apabila luka sudah sembuh. Selama tidak memberikan ASI, ibu dapat memberikan ASI perah sendiri, ASI donor yang sudah dipasteurisasi atau susu formula pada bayinya. Tentunya luka pada puting perlu dijaga kebersihannya dan bila perlu mendapat pengobatan.

Edited by drg. Annisa Sabhrina

Sumber:

http://www.who.int/maternal_child_adolescent/documents/pdfs/hepatitis_b_and_breastfeeding.pdf
https://www.cdc.gov/breastfeeding/breastfeeding-special-circumstances/maternal-or-infant-illnesses/hepatitis.html
http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/menyusui-pada-ibu-penderita-hepatitis-b

Pola Makan Tepat Bagi Ibu Menyusui

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

Periode menyusui merupakan saat yang tepat untuk membuat pola makan anda menjadi lebih sehat. Hal ini akan memberikan manfaat bagi Ibu menyusui, bayi anda dan keluarga mulai sekarang hingga di masa yang akan datang.

Prinsip utama pola makan selama menyusui adalah makan bahan makanan yang sehat dengan gizi seimbang, karena pada dasarnya tidak ada pola makan khusus yang harus dijalani selama menyusui. Namun perlu diingat, selama menyusui anda diharapkan dapat menambah asupan energi sebesar 500 kkal di luar kebutuhan energi dasar anda.

Sebagai gambaran, 1 butir telur ceplok mengandung 92 kkal, 1 porsi roti burger dengan daging, saus, sayuran dan roti mengandung 300 kkal, 1 gelas minuman kopi susu mengandung 200-300 kkal. Namun apakah bahan-bahan makanan ini diperlukan ibu menyusui? Mari kita telusuri.

Untuk memilih menu makanan anda sehari-hari, gunakan selalu prinsip pola makan yang tepat dalam pemilihan sumber bahan makanan yang akan dikonsumsi. Berikut merupakan contoh bahan makanan yang baik untuk anda konsumsi selama periode menyusui :

  1. Buat prioritas untuk mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran, terutama buah dan sayur yang berwarna merah, hijau tua, dan ungu (bit, kale, paprika, pepaya, anggur) karena kaya akan vitamin, mineral dan antioksidan.
  2. Pilih protein berkualitas seperti daging rendah lemak, ikan, telur, serta kacang-kacangan. Anda juga dapat memasukkan biji-bijian seperti gandum, biji selasih, chia seed, flaxseed, ataupun quinoa sebagai sumber serat dan protein dalam menu anda sehari-hari.
  3. Jika harus mengkonsumsi karbohidrat kompleks seperti sereal, roti atau pasta, pilihlah yang mengandung biji gandum utuh (whole grain) untuk menambah asupan serat.
  4. Konsumsi produk susu yang rendah lemak dan gula, serta asupan kecil lemak tak jenuh dari berbagai jenis minyak sayur bagi tubuh anda.

Selalu ingat untuk makan dengan porsi secukupnya dalam interval waktu yang tetap, yakni sarapan atau makan pagi, makan siang, makan malam, serta makanan selingan. Untuk makanan selingan, buat prioritas untuk mengkonsumsi buah atau kacang-kacangan. Hindari makanan yang mengandung gula dan lemak tinggi seperti kue, coklat, atau minuman manis. Hal yang tak kalah pentingnya adalah kebutuhan akan cairan. Pastikan tubuh anda cukup akan cairan, dengan cara minum air putih sebagai sumber cairan utama.

Edited by drg. Annisa Sabhrina

Sumber: https://www.nutrition.org.uk/healthyliving/nutrition4baby/feeding.html?start=1

Hindari Depresi Pasca Melahirkan dengan Mengenal Trimester Keempat Kehamilan

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

Halo Ayah dan Ibu,

Tahukah anda bahwa saat ini periode setelah melahirkan dikenal dengan istilah “trimester keempat”. Persatuan dokter kebidanan dan kandungan Amerika Serikat (American College of Obstetricians and Gynecologists, ACOG)  pada Bulan April 2018 mengeluarkan pernyataan baru tentang pentingnya perawatan ibu setelah melahirkan. ACOG merekomendasikan kunjungan kontrol setelah melahirkan yaitu satu kali dalam waktu 6 minggu setelah persalinan. Data ACOG menyebutkan bahwa sebanyak 40% ibu setelah melahirkan sering lalai melakukan kunjungan kontrol setelah persalinan.

Padahal banyak sekali perubahan fisik dan emosional yang dialami para ibu setelah melahirkan. Sehingga kontrol setelah persalinan ke dokter kandungan dan kebidanan (obstetri-ginekologi) atau tenaga kesehatan lain (dokter anak, konselor menyusui, bidan, atau perawat) sangat dianjurkan  dalam tiga minggu pertama setelah persalinan dan diharapkan dapat berkelanjutan.

Di beberapa awal pekan pertama setelah persalinan menjadi waktu yang paling menantang bagi seorang ibu. Bagaimana tidak? Dengan adanya bekas luka persalinan baik spontan maupun melalui bedah sesar yang mulai bereaksi terhadap tubuh, juga tubuh seorang ibu baru sedang beradaptasi terhadap perubahan hormon. Yakni, hilangnya hormon progesteron dalam kehamilan dan mulai bekerjanya hormon oksitosin dan prolaktin untuk menyusui. Selain itu seorang ibu juga membutuhkan waktu khusus untuk merawat dan menyusui bayinya. Untuk itulah kondisi fisik, nutrisi, serta kondisi mental ibu harus dipastikan terjaga dengan baik.

Pastikan anda mengetahui berbagai hal berikut ini dari para tenaga kesehatan:

  • Perubahan emosi yang berlebihan setelah melahirkan
  • Pemulihan fisik setelah persalinan
  • Kebutuhan nutrisi ibu
  • Teknik menyusui dan perawatan bayi
  • Penanganan penyakit kronis yang berhubungan dengan kehamilan seperti eclampsia, dan diabetes
  • Perencanaan kehamilan dan kontrasepsi

Jadi Ayah dan Ibu, jangan anggap enteng trimester keempat kehamilan. Pastikan anda tidak ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, karena periode ini begitu kritis untuk pemulihan kondisi ibu dan merupakan fondasi awal dalam membina hubungan ibu dan bayi.

Edited by drg. Annisa Sabhrina

Sumber:
https://www.acog.org/About-ACOG/News-Room/News-Releases/2018/ACOG-Redesigns-Postpartum-Care