Konjungtivitis

 

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

Halo ayah dan ibu Kejora !

Kembali lagi ke topik tentang mata, bulan ini kita akan membahas tentang salah satu penyakit mata merah yang tersering yaitu konjungtivitis. Kalau Ayah dan Ibu sering mendengar “eh dia sakit mata, jangan dekat-dekat yah” seringkali orang tersebut mengalami penyakit konjungtivitis ini. Secara garis besar, penyebab konjungtivitis dibagi menjadi infeksi dan non infeksi. Namun yang lebih sering terjadi di masyarakat adalah karena infeksi. Konjungtivitis ini bisa terjadi pada siapa saja tanpa memandang usia (bayi, anak, dewasa, maupun lansia), tingkat sosial ekonomi, lokasi, maupun waktu; sehingga penting sekali menjaga kebersihan diri sejak dini untuk menjaga higienitas serta mencegah penyakit menular

Yuk, mari kita mulai bahas tentang konjungtivitis ini…

Definisi

Ayah dan Ibu Kejora, salah satu penyebab mata merah yang paling sering terjadi adalah konjungtivitis. Konjungtivitis adalah suatu infeksi atau peradangan yang terjadi pada konjungtiva, suatu lapisan/membran tipis yang terletak pada bagian terdepan mata.

Gambar 1. Perbandingan mata yang normal dengan mata yang mengalami konjungtivitis

Etiologi

Konjungtivitis dapat terjadi melalui proses infeksi (oleh virus dan bakteri) maupun non infeksi. Beberapa penyebab non infeksi antara lain: alergi, mekanik/toksik/iritatif, berhubungan dengan sistem imun, serta keganasan. Konjungtivitis akibat infeksi lebih banyak ditemukan dibandingkan yang non infeksi.3

Virus penyebab konjungtivitis antara lain adalah adenovirus, herpes simpleks, varicella zoster/herpes zosterdan molluscum contagiosum.Adenovirusmerupakan penyebab konjungtivitis virus yang terbanyak (65-90%). Umumnya, konjungtivitis virus disertai dengan batuk, flu dan radang tenggorokan yang juga bersifat sangat menular. Konjungtivitis sering ditularkan melalui kontak langsung oleh jari tangan yang terkontaminasi cairan mata, penularan peralatan medis, kolam renang umum, sekolah, tempat kerja, atau tempat-tempat yang padat populasi.

Gambar 2. Gambaran konjungtivitis virus (merah, berair , dan jarang ada sekret/kotoran/belek)

Konjungtivitis yang disebabkan oleh bakteri juga sangat menular dan biasanya menghasilkan kotoran/sekret/belek yang banyak. Penyebab konjungtivitis bakteri ini antara lain adalah bakteri Streptococcus, Staphylococcus, H. influenzae, Moraxella catarrhalis, N. gonorrhea,dan Chlamydia trachomatis.

Gambar 3. Gambaran konjungtivitis bakteri (merah, berair, dan banyak sekret/kotoran/belek yang kental)

Jenis konjungtivitis non infeksi yang paling sering terjadi adalah konjungtivitis alergi, dengan beberapa tipenya antara lain: konjungtivitis vernal, atopic, seasonal allergicdan giant papillary conjunctivitis. Konjungtivitis alergi ini tidak menular seperti yang terjadi pada jenis infeksi. Gejala yang dominan pada konjungtivitis alergi biasanya adalah rasa gatal, mata merah, berair, dan bengkak. Penting sekali untuk mengetahui pencetus/alergen yang menyebabkan konjungtivitis ini.

Gambar 4. Gambaran konjungtivitis alergi: merah, berair, dan banyak folikel (berupa tonjolan) di bagian tarsal konjungtiva

Tanda dan Gejala

  1. Mata merah
  2. Kelopak mata bengkak
  3. Mata terasa mengganjal/ sensasi benda asing
  4. Mata berair
  5. Mata terasa gatal atau perih
  6. Mata keluar banyak kotoran /sekret/belek
  7. Mata terasa lebih silau / sensitif terhadap cahaya

Gambar 5. Perbandingan gambaran tanda dan gejala antara mata normal dan konjungtivitis

Tatalaksana

Tata laksana konjungtivitis disesuaikan dengan penyebabnya.

Pada konjungtivitis virus, gejala terberat terjadi pada 3-5 hari pertama dan pada umumnya akan sembuh dalam 7-14 hari. Ayah dan Ibu Kejora, tahukah Anda kalau konjungtivitis virus berhubungan erat dengan kondisi imunitas tubuh? Jadi, anak yang mengalami konjungtivitis disertai dengan infeksi saluran pernapasan (batuk, pilek, dan/atau radang tenggorokan) harus mendapatkan pengobatan untuk infeksi saluran pernapasannya juga. Untuk mengembalikan imunitas tubuh, Si Kecil membutuhkan istirahat dan makan yang cukup dengan pola makan teratur. Sedangkan, pengobatan untuk mata konjungtivitis sendiri pada umumnya berupa obat tetes mata antibiotik dan anti radang untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, juga air mata buatan (artificial tears) untuk mempercepat penyembuhan.

Pada konjungtivitis bakteri, meskipun keadaan lebih berat namun penyembuhannya lebih cepat yaitu antara 2-5 hari. Pengobatan yang diberikan berupa obat tetes antibiotik dan antiradang serta air mata buatan.

Tata laksana yang utama pada konjungtivitis alergi adalah menghindari pencetus atau alergen. Ayah dan Ibu Kejora yang memiliki anak dengan alergi harus mencari tahu penyebab alerginya. Si Kecil akan diberikan tetes mata anti alergi dan anti radang serta air mata buatan, dan apabila memiliki alergi berat dapat ditambahkan obat anti alergi oral.

Pencegahan

Ayah dan Ibu Kejora, mengingat sifat konjungtivitis yang sangat menular, penting sekali melakukan pencegahan terutama pada usia anak-anak yang rentan sekali terkena infeksi. Infeksi ini umumnya terjadi saat mereka sedang melakukan eksplorasi di lingkungan sekitarnya.

Jadi, berikut ini adalah beberapa hal yang harus dilakukan untuk pencegahan konjungtivitis:

    • Ajari anak untuk selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang mata
    • Ajari anak untuk tidak mengucek-ucek mata, katakan untuk sebisa mungkin tidak memegang mata dan sekitarnya karena kita tidak bisa menjamin kondisi tangan kita selalu bersih
    • Ajari anak untuk tidak berbagi sesuatu yang digunakan pada badan dengan teman (handuk, baju, topi, kacamata) untuk menghindari penularan
    • Jaga kesehatan tubuh (makan makanan yang bergizi dengan pola makan dan tidur yang cukup) agar sistem imun tetap terjaga sempurna sehingga terhindar dari infeksi apapun termasuk konjungtivitis.

Referensi :

  1. American Academy of Ophthalmology and preferred pattern staff. Conjunctivitis. In: American Academy of Ophthalmology Staff, editor. Conjunctivits. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2013. p. 5-11. Available from : https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwiImb_R8s3eAhUDbn0KHSrKDHgQFjAAegQIBxAC&url=https%3A%2F%2Fwww.aao.org%2FAssets%2F07524e1e-859e-4862-a32f-0235f076ede0%2F635200264565170000%2Fconjunctivitis-ppp-pdf&usg=AOvVaw29zGLlA1vTHEyiGo3tZaa9
  2. Goodman DM, Rogers J, Livingstone EH. Conjunctivitis. JAMA. 2013;309(20) : 2176
  3. Boyd K. Conjunctivitis : what is pink eye ?. 2018. Available from : https://www.aao.org/eye-health/diseases/pink-eye-conjunctivitis
  4. American Academy of Ophthalmology staff. Examination techniques for the External Eye and Cornea. In: American Academy of Ophthalmology Staff, editor. External Disease and Cornea. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2013. p. 21-5
  5. Teeple R. Seasonal Allergic Conjunctivitis. 2016. Available from : http://teepleoptometry.com/seasonal-allergic-conjunctivitis/
  6. Azari AA, Barney NP. Conjunctivitis A Systematic Review of Diagnosis and Treatment. JAMA. 2013;310(16):1721-29.

Ambliopia

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

Halo Ayah dan Ibu Kejora! Bulan lalu kita sudah sedikit membahas tentang beberapa kelainan refraksi, kali ini kita akan membahas tentang ambliopia atau yang biasa disebut mata malas (lazy eye). Mata malas ini banyak terjadi pada anak-anak dan dapat disembuhkan apabila dapat diketahui sejak awal usia sekolah. Namun apabila ditangani terlambat, ambliopia dapat menjadi permanen. Tentunya Ayah dan Ibu tidak menginginkan anak-anak yang kita sebut sebagai aset masa depan akan memiliki penglihatan yang tidak maksimal dan nantinya mempengaruhi prestasi sekolah maupun pekerjaannya kelak, bukan?

Definisi

Ayah dan ibu mungkin jarang mendengar mengenai mata malas ini. Mata malas dalam bahasa kedokteran disebut juga sebagai ambliopia. Ambliopia adalah suatu keadaan dimana mata tidak dapat melihat sempurna setelah diberikan koreksi terbaik (dengan kacamata, lensa kontak ataupun prosedur operasi) tanpa disertai kelainan organik dari mata itu sendiri1 (gambar 1).

Gambar 1. A. Gambaran yang dilihat oleh mata ambliopia , B. Gambaran yang dilihat oleh mata normal

Ambliopia lebih sering terjadi pada 1 mata walaupun dapat terjadi pada kedua mata dengan jumlah penderita yang lebih sedikit.1 Ambliopia terjadi akibat jalur saraf penglihatan dari mata menuju otak tidak mendapatkan stimulasi yang sempurna atau tidak berkembang dengan baik selama periode kritis pertumbuhan penglihatan anak, yaitu <6 tahun.2 Dari penelitian Cowdin3 dkk. dikatakan jumlah kasus ambliopia sebesar 1,81% di Asia dan sebesar 0.35% di Yogyakarta, Indonesia.  

Derajat

Ayah dan Ibu Kejora, seperti penyakit pada umumnya, derajat ambliopia bervariasi dari ringan hingga berat (gambar 2). Ambliopia dikatakan berderajat ringan-sedang apabila didapatkan tajam penglihatan terbaik 6/9-6/24 (Gambar 2B), dan memiliki derajat berat apabila didapatkan tajam penglihatan terbaik lebih buruk atau sama dengan 6/30 (Gambar 2C)4.

Gambar 2. A.Gambaran yang terlihat pada anak normal B. Gambaran yang dilihat oleh anak ambliopia ringan C. Gambaran yang dilihat oleh anak ambliopia berat

Tipe dan etiologi

Ambliopia memiliki 3 tipe, antara lain :

(a) Ambliopia Refraktif

Gambar 3. Gambaran anak dengan ambliopia refraktif (anisometropia) yang mendapatkan terapi kacamata dan terapi oklusi

Merupakan jenis ambliopia yang muncul karena kelainan refraksi yang tidak dikoreksi secara sempurna. Ambliopia refraksi ini dapat terjadi pada kedua mata akibat kelainan refraksi berat yang sama antara kedua mata (isometropia) atau akibat perbedaan kelainan refraksi yang tidak sama (≥ 2.00 D) antara kedua mata (anisometropia)1 sehingga otak hanya memproses gambaran dari mata yang dengan koreksi yang lebih kecil atau mata yang status refraksinya lebih baik. Ambliopia jenis ini sering tidak disadari oleh anak dan orang tua karena umumnya anak tidak pernah mengeluh adanya pandangan buram dan mata tampak normal. Ambliopia jenis ini baru bisa dideteksi saat anak menjalani tes penglihatan dan mungkin terjadi secara permanen bila tidak dideteksi dan diterapi sejak awal.5,6

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya ambliopia tipe ini, antara lain7,8:

  • Ambliopia pada kedua mata :
    • Miopia sebesar ≥ -3.00 D
    • Hipermetropia sebesar ≥ +4.50 D tanpa disertai strabismus dan sebesar ≥+1.50 D disertai strabismus
    • Astigmatisme sebesar ≥ 2.00 D
  • Ambliopia pada satu mata :
    • Miopia sebesar ≥ -2.00 D
    • Hipermetropia ≥ +1.50 D
    • Astigmatisme ≥ 2.00 D

(b) Ambliopia Strabismus

Gambar 4. A. strabismus kearah dalam (esotropia), B. strabismus ke arah luar (eksotropia), C. strabismus ke arah atas (hipertropia), D. strabismus ke arah bawah (hipotropi)

Gambar 5. A.Gambaran yang dihasilkan pada kedua mata normal, B. gambaran yang dihasilkan pada mata kanan normal dan mata kiri strabismus → tidak didapatkan gambar yang optimal akibatnya otak mengabaikan gambaran mata kiri

Ambliopia yang terjadi karena salah satu mata juling atau mengalami deviasi (kemiringan) ke dalam, ke luar, ke atas ataupun bawah (gambar 4). Tidak semua strabismus menyebabkan ambliopia. Strabismus yang menetap/konstan saja yang dapat mengakibatkan ambliopia.1

(c) Ambliopia stimulus deprivation

Gambar 6. Kelopak mata kiri turun

Gambar 7. Katarak mata kanan

Gambar 8. Jaringan parut pada lapisan bening mata

Ambliopia yang terjadi akibat adanya halangan/penutupan pada jalur penglihatan anak (kelopak, lapisan bening mata sampai lensa). Halangan tersebut mengakibatkan terjadinya stimulasi yang abnormal pada jalur penglihatan. Sebagai contoh untuk (1) kelopak → kelopak mata jatuh atau dalam bahasa kedokteran ptosis (gambar 6), lalu tumor/benjolan pada kelopak yang besar sehingga menutupi jalur penglihatan, (2) lapisan bening mata (kornea)(gambar 8) → adanya jaringan parut pada lapisan bening mata, (3) lensa → katarak (gambar 7)1

Tatalaksana

Tatalaksana pada ambliopia tergantung dari tipe/penyebab yang telah dijelaskan di atas. Pada ambliopia strabismus dan stimulus deprivation dilakukan tindakan operasi namun untuk ambliopia refraktif ada beberapa pilihan terapi antara lain kacamata, terapi oklusi (penutupan), dan obat-obatan. Yang paling sering digunakan adalah terapi kacamata dan terapi oklusi.9

Kacamata diberikan pada anak dengan ambliopia pada satu maupun kedua mata. Terapi kacamata saja dikatakan dapat meningkatkan tajam penglihatan pada 25-33% pasien ambliopia refraktif tipe anisometropia (keadaan status refraksi yang tidak sama antara kedua mata/timpang). Penelitian oleh Chen et al, pada 60 pasien anak usia antara 3-7 tahun yang mengalami ambliopia, didapatkan 50% pasien mengalami kesembuhan.

Terapi kacamata juga dapat dikombinasi dengan terapi oklusi (gambar 3) pada kasus ambliopia refraktif tipe anisometropia. Pada kasus ambliopia tipe ini, pasien diberikan 2 kacamata yaitu kacamata terapi disertai oklusi pada mata dengan tajam penglihatan lebih baik dan kacamata toleransi.5

Terapi oklusi dilakukan pada mata yang memiliki status refraksi lebih baik yang dilakukan selama 2 jam/hari. Hal ini dilakukan untuk merangsang mata ambliopia untuk melihat dengan optimal karena apabila tidak di lakukan terapi oklusi otak cenderung mengabaikan mata yang memiliki status refraksi lebih buruk. Tidak kalah penting pada ambliopia untuk melakukan follw-up atau kontrol rutin ke dokter spesialis mata 3 bulan, 6 bulan, dan satu tahun setelah terapi lalu selanjutnya tergantung dari perkembangan hasil status refraksi paska terapi. 1,5

JADI ……Ayah dan ibu Kejora sangatlah penting untuk mengenali dan melakukan tatalaksana ambliopia sejak dini pada saat usia masih muda karena akan memberikan hasil yang lebih stabil dan lebih baik dibandingkan apabila dilakukan pada anak dengan usia lebih tua. Hal ini berkaitan dengan periode kritis perkembangan penglihatan. Periode ini dimulai saat usia 4 bulan, mencapai puncak di usia 2 tahun kemudian menurun di usia 5 tahun, setelah itu mengalami penurunan yang ketat dan berhenti pada usia 12 tahun.10  Oleh sebab itu, penting sekali ayah dan ibu Kejora untuk melakukan skrining tajam penglihatan pada anak-anak usia antara 3-5 tahun untuk mendeteksi ambliopia lebih awal agar efek terapi menjadi maksimal.

Edited by dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Referensi :

  1. American Academy of Ophthalmology staff. Amblyopia. In: American Academy of Ophthalmology Staff, editor. Pediatric Ophthalmology and Strabismus. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2007-2008. p. 61
  2. American association for Pediatric Ophthalmology and strabismus staff. Amblyopia. March 2017. Available from https://www.aapos.org/terms/conditions/21
  3. Cowdin MK, Cotter SA, Tarczy HK, Wen G, Kim J et al. Prevalence of amblyopia or strabismus in Asian and non-hispanic white preschool children : multi ethnic pediatric eye disease study. Ophthalmology. 2013 Oct;120(10):2117-24
  4. Warris A, Amitava AK, Akhtar N, Malakar M, Kritima. Amount of anisometropia and degree of amblyopia, a correlation. India : AMU Institute of Ophthalmology. 2013; 8(1): 28-31
  5. Dadeya Subhash, Khurana Charu, Verma Lalit. Diagnosis and Treatment of Childhood Amblyopia. In : Jayadev Chaitra, editor. All India Ophthalmological Society. India : AIOS CME Series ; 2009. p.1-2
  6. Magram I. Amblyopia : Etiology, Detection, and Treatment. Pediatrics in Review. 1992 ; 13 : 7-14
  7. Collins N, Mizuiri D, Raveto J, Lum FC. Amblyopia PPP. In : Garret S, editor. American Academy of Ophthalmology Pediatric Ophthalmology/Strabismus Panel Preferred Practice Pattern® Guidelines. San Fransisco : American Academy of Ophthalmology; 2012. P. 5-13
  8. Warris A, Amitava AK, Akhtar N, Malakar M, Kritima. Amount of anisometropia and degree of amblyopia, a correlation. India : AMU Institute of Ophthalmology. 2013; 8(1): 28-31
  9. Spiegel PH, Wright KW. Visual Development and Amblyopia. In : Thompson LS, editor. Handbook of Pediatric Strabismus and Amblyopia. Chicago USA : Springer Science ; 2006. p.108-110
  10. DeSantis D. Amblyopia. In : McGregor ML, editor. Pediatric Clinics of North America. USA : Elsevier ; 2014 : 61(3); 505-6

Kelainan Refraksi pada Mata

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

Halo ayah dan ibu Kejora… Kali ini kita akan sedikit membahas tentang kelainan refraksi yang dapat terjadi pada anak-anak.

Ayah dan ibu semua pasti bertanya kalau ada anak kecil yang menggunakan kacamata “Berapa minusnya ?” ternyata kacamata itu tidak hanya minus saja loh…yukk kita bahas.

Kelainan refraksi itu sendiri adalah suatu kelainan dimana gambaran dari benda yang kita lihat tampak buram/tidak tegas akibat dari jatuhnya bayangan dari benda yang kita lihat tidak tepat pada saraf mata (retina). Kelainan refraksi pada anak memilki 3 jenis yaitu, miopia atau yang biasa disebut rabun jauh, hipermetropia atau yang biasa disebut rabun dekat dan astigmatisme atau silinder. Terdapat 3 faktor utama yang berhubungan dengan munculnya kelainan refraksi yaitu Kornea atau lapisan bening mata , lensa mata dan Panjang bola mata sendiri. Mari kita bahas satu per satu tipe-tipe dari kelainan refraksi.

    • Miopia/rabun jauh : merupakan suatu kelainan dimana bayangan yang dihasilkan jatuh di depan saraf mata (retina). Hal ini terjadi karena (1) kornea dan lensa mata yang bekerja terlalu kuat sehingga bayangan jatuh di depan retina ; (2) panjang bola mata yang terlalu Panjang sehingga bayangan juga jatuh di depan retina
    • Hipermetropia/ rabun dekat : merupakan suatu kelainan dimana bayangan yang dihasilkan jatuh di belakang saraf mata (retina). Hal ini terjadi karena (1) kornea dan lensa mata yang bekerja terlalu lemah sehingga bayangan yang dihasilkan jatuh di belakang retina ; (2) Panjang bola mata yang terlalu pendek sehingga bayangan juga jatuh di belakang retina.
    • Astigmatisme atau silinder : merupakan suatu kelainan dimana kelengkungan dari kornea (lapisan bening mata) yang tidak sama sehingga bayangan yang dihasilkan pada retina ada lebih dari 1 fokus.

Gambar 1. A. Mata normal; B. Mata miopia ; C. Mata hipermetropia; D Mata astigmatisme

Ayah dan ibu Kejora karena kelainan refraksi ini berhubungan dengan faktor keturunan jadi apabila ayah, ibu atau kakek nenek memiliki kelainan refraksi sebaiknya dapat membawa anak-anaknya untuk dilakukan pemeriksaan mata karena kelainan refraksi ini sangat penting untuk diketahui dan di tatalaksana sejak awal agar tidak terjadi mata malas. Selain keluarga, faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi yaitu pada anak yang lebih banyak melakukan aktivitas di dalam ruangan (main gadget, membaca sembari tiduran, menonton di tempat yang kurang pencahayaan) memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami miopia. Sehingga mulai sekarang perbanyak aktivitas luar ruangan untuk mencegah kelainan ini terjadi.

Suatu hal yang sulit dalam mendeteksi awal kelainan refraksi pada anak. Karena anak kadang belum mengerti untuk mengatakan bahwa ia melihat tidak jelas atau tidak fokus. Tugas ayah dan ibu kejora di rumah atau guru di sekolah sangat penting untuk memperhatikan hal-hal seperti misalnya apabila seorang anak melihat benda/mainan di rumah dengan jarak yang sangat dekat dengan mata; nilai pelajaran yang turun atau jelek karena ternyata si anak di sekolah tidak jelas melihat apa yang diajarkan oleh guru di sekolah; jalan sering menabrak karena tidak melihat benda sekitar benda pada jarak jauh; memicingkan kening saat membaca pada jarak tertentu; ataupun mengeluh sakit kepala saat belajar di sekolah.

Hal ini biasanya lebih mudah diketahui bila kelainan refraksi yang dialami sudah berat lalu bagaimana bila kelainan refraksi yang dialami masih ringan ? tentunya anak maupun ayah ibu kejora sulit untuk mengetahuinya. Sehingga sebaiknya bawalah anak untuk dilakukan screening mata pada usia pra-sekolah atau usia 4-5 tahun.

Bagaimana dengan tatalaksana dari kelainan refraksi ini ? Pada mata miopia, hipermetropia dan astigmatisme membutuhkan bantuan untuk melihat dengan jelas. Yang paling banyak digunakan adalah kacamata. Kacamata dengan ukuran minus (lensa cekung) diberikan untuk anak yang mengalami kelainan miopia, lalu kacamata dengan ukuran plus (lensa cembung) diberikan pada anak yang mengalami hipermetropia dan lensa silinder untuk anak yang mengalami astigmatisme. Kelainan refraksi miopia/hipermetropia dapat disertai dengan kelainan astigmatisme. Kacamata sebaiknya harus terus digunakan kecuali pada saat anak mandi atau tidur. Sebaiknya setelah menggunakan kacamata, anak harus kontrol ke dokter spesialis mata minimal satu tahun sekali untuk mengetahui adakah perubahan ukuran kacamata agar penglihatan selalu optimal. Jadi ayah dan ibu Kejora jangan percaya dengan mitos bahwa dengan menggunakan kacamata ukuran kacamata seorang anak akan tambah naik ataupun dapat turun , kacamata merupakan bantuan untuk melihat pada anak dengan kelainan refraksi.

Gambar 2. Koreksi kacamata lensa plus (cembung) pada hipermetropia

Gambar 3. Koreksi kacamata lensa minus (cekung) pada miopia

Gambar 4. Koreksi kacamata lensa silinder pada astigmatisme

Selain kacamata, tatalaksana lain pada kelainan refraksi ini adalah penggunaan lensa kontak, operasi LASIK dan operasi bedah refraktif lain.

Bintitan pada Anak

oleh dr. Airina Stefanie, Sp.M

Dokter Spesialis Mata

Halo Keluarga Kejora! Kali ini kita akan membahas mengenai bintitan pada anak.

Penyakit bintitan atau dalam istilah medisnya disebut juga sebagai hordeolum, sering kali dialami oleh anak-anak. Hordeolum merupakan penyakit infeksi kelenjar kelopak mata yang disebabkan oleh bakteri, menyebabkan timbulnya benjolan di kulit bawah maupun pinggir kelopak mata. Anak-anak yang sering menggosok mata dengan tangan yang kotor adalah salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya hordeolum.

Anak-anak seringkali datang dengan keluhan kelopak mata yang bengkak dengan benjolan yang merah dan nyeri terutama bila disentuh, disertai rasa menganjal pada mata, dan mata berair. Pada awalnya benjolan timbul kecil yang semakin lama bila tidak ditangani dapat bertambah besar dan dapat terlihat berisi nanah di dalamnya. Nah Ayah dan Ibu, cara untuk mencegah hordeolum cukup mudah, yaitu dengan menjaga kebersihan tangan dan muka. Ayah dan Ibu sebaiknya membiasakan si Kecil untuk tidak memegang atau menggosok mata, walaupun tangan terlihat bersih. Si Kecil juga sebaikan dibiasakan mencuci tangan dengan air dan sabun setiap sebelum dan setelah beraktivitas. Penanganan hordeolum awal dapat dilakukan dengan kompres air hangat. Ayah dan Ibu dapat membasahi handuk yang bersih dengan air hangat dan melakukan kompres pada benjolan pada mata selama 10 menit, dilakukan 3-4 kali sehari. Kompres air hangat ini membantu mempercepat pecahnya benjolan yang berisi nanah agar benjolan menjadi lebih kecil. Selain kompres air hangat, Ayah dan Ibu juga dapat pergi ke dokter mata untuk diberikan antibiotik dan antiradang baik topikal (seringkali berupa salep untuk dioleskan pada mata) maupun sistemik (berupa obat untuk diminum).

Edited by dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK