oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

Halo ayah dan ibu Kejora… Kali ini kita akan sedikit membahas tentang kelainan refraksi yang dapat terjadi pada anak-anak.

Ayah dan ibu semua pasti bertanya kalau ada anak kecil yang menggunakan kacamata “Berapa minusnya ?” ternyata kacamata itu tidak hanya minus saja loh…yukk kita bahas.

Kelainan refraksi itu sendiri adalah suatu kelainan dimana gambaran dari benda yang kita lihat tampak buram/tidak tegas akibat dari jatuhnya bayangan dari benda yang kita lihat tidak tepat pada saraf mata (retina). Kelainan refraksi pada anak memilki 3 jenis yaitu, miopia atau yang biasa disebut rabun jauh, hipermetropia atau yang biasa disebut rabun dekat dan astigmatisme atau silinder. Terdapat 3 faktor utama yang berhubungan dengan munculnya kelainan refraksi yaitu Kornea atau lapisan bening mata , lensa mata dan Panjang bola mata sendiri. Mari kita bahas satu per satu tipe-tipe dari kelainan refraksi.

    • Miopia/rabun jauh : merupakan suatu kelainan dimana bayangan yang dihasilkan jatuh di depan saraf mata (retina). Hal ini terjadi karena (1) kornea dan lensa mata yang bekerja terlalu kuat sehingga bayangan jatuh di depan retina ; (2) panjang bola mata yang terlalu Panjang sehingga bayangan juga jatuh di depan retina
    • Hipermetropia/ rabun dekat : merupakan suatu kelainan dimana bayangan yang dihasilkan jatuh di belakang saraf mata (retina). Hal ini terjadi karena (1) kornea dan lensa mata yang bekerja terlalu lemah sehingga bayangan yang dihasilkan jatuh di belakang retina ; (2) Panjang bola mata yang terlalu pendek sehingga bayangan juga jatuh di belakang retina.
    • Astigmatisme atau silinder : merupakan suatu kelainan dimana kelengkungan dari kornea (lapisan bening mata) yang tidak sama sehingga bayangan yang dihasilkan pada retina ada lebih dari 1 fokus.

Gambar 1. A. Mata normal; B. Mata miopia ; C. Mata hipermetropia; D Mata astigmatisme

Ayah dan ibu Kejora karena kelainan refraksi ini berhubungan dengan faktor keturunan jadi apabila ayah, ibu atau kakek nenek memiliki kelainan refraksi sebaiknya dapat membawa anak-anaknya untuk dilakukan pemeriksaan mata karena kelainan refraksi ini sangat penting untuk diketahui dan di tatalaksana sejak awal agar tidak terjadi mata malas. Selain keluarga, faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi yaitu pada anak yang lebih banyak melakukan aktivitas di dalam ruangan (main gadget, membaca sembari tiduran, menonton di tempat yang kurang pencahayaan) memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami miopia. Sehingga mulai sekarang perbanyak aktivitas luar ruangan untuk mencegah kelainan ini terjadi.

Suatu hal yang sulit dalam mendeteksi awal kelainan refraksi pada anak. Karena anak kadang belum mengerti untuk mengatakan bahwa ia melihat tidak jelas atau tidak fokus. Tugas ayah dan ibu kejora di rumah atau guru di sekolah sangat penting untuk memperhatikan hal-hal seperti misalnya apabila seorang anak melihat benda/mainan di rumah dengan jarak yang sangat dekat dengan mata; nilai pelajaran yang turun atau jelek karena ternyata si anak di sekolah tidak jelas melihat apa yang diajarkan oleh guru di sekolah; jalan sering menabrak karena tidak melihat benda sekitar benda pada jarak jauh; memicingkan kening saat membaca pada jarak tertentu; ataupun mengeluh sakit kepala saat belajar di sekolah.

Hal ini biasanya lebih mudah diketahui bila kelainan refraksi yang dialami sudah berat lalu bagaimana bila kelainan refraksi yang dialami masih ringan ? tentunya anak maupun ayah ibu kejora sulit untuk mengetahuinya. Sehingga sebaiknya bawalah anak untuk dilakukan screening mata pada usia pra-sekolah atau usia 4-5 tahun.

Bagaimana dengan tatalaksana dari kelainan refraksi ini ? Pada mata miopia, hipermetropia dan astigmatisme membutuhkan bantuan untuk melihat dengan jelas. Yang paling banyak digunakan adalah kacamata. Kacamata dengan ukuran minus (lensa cekung) diberikan untuk anak yang mengalami kelainan miopia, lalu kacamata dengan ukuran plus (lensa cembung) diberikan pada anak yang mengalami hipermetropia dan lensa silinder untuk anak yang mengalami astigmatisme. Kelainan refraksi miopia/hipermetropia dapat disertai dengan kelainan astigmatisme. Kacamata sebaiknya harus terus digunakan kecuali pada saat anak mandi atau tidur. Sebaiknya setelah menggunakan kacamata, anak harus kontrol ke dokter spesialis mata minimal satu tahun sekali untuk mengetahui adakah perubahan ukuran kacamata agar penglihatan selalu optimal. Jadi ayah dan ibu Kejora jangan percaya dengan mitos bahwa dengan menggunakan kacamata ukuran kacamata seorang anak akan tambah naik ataupun dapat turun , kacamata merupakan bantuan untuk melihat pada anak dengan kelainan refraksi.

Gambar 2. Koreksi kacamata lensa plus (cembung) pada hipermetropia

Gambar 3. Koreksi kacamata lensa minus (cekung) pada miopia

Gambar 4. Koreksi kacamata lensa silinder pada astigmatisme

Selain kacamata, tatalaksana lain pada kelainan refraksi ini adalah penggunaan lensa kontak, operasi LASIK dan operasi bedah refraktif lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *