Osteosarkoma: Kanker Tulang pada Anak

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, SpOT, BMedSc

Dokter Spesialis Orthopedi

Halo, Keluarga Sehat Kejora! Beberapa saat yang lalu cukup banyak beredar berita orang-orang terkenal yang didiagnosis dengan berbagai macam jenis kanker, bahkan anak kecil sekalipun. Apakah kanker benar bisa mengenai semua umur dan dapat diketahui sedari dini? Jenis kanker seperti apa ya yang juga sering mengenai anak-anak selain kanker darah yang ramai dibicarakan? Mari kita simak ulasannya ya, Ayah dan Ibu.

Tahukah Ayah dan Ibu Kejora, disaat sel tubuh tumbuh diluar batas normal, sel tersebut dapat berkembang menjadi sebuah benjolan atau tumor. Tumor sendiri dapat dibedakan menjadi tumor jinak dan tumor ganas yang lebih sering kita kenal sebagai kanker. Sayangnya, kanker tidak mengenal batasan usia dan dapat menyerang sang buah hati. Osteosarkoma adalah kanker tulang yang paling sering ditemui pada kelompok usia di bawah 25 tahun. Tidak jarang kanker ini mengenai kelompok usia anak-anak, terutama usia remaja, dikarenakan kanker ini muncul ketika masa pesat pertumbuhan. Osteosarkoma juga lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dibanding perempuan.

Selain faktor resiko tersebut, ada beberapa faktor lainnya yang dapat menyebabkan peningkatan resiko munculnya kanker ini seperti adanya penyakit genetik, sindroma genetik, mutasi genetik, paparan radiasi, dll. Perlu diketahui bahwa kejadian patah tulang yang tidak diobati bukanlah penyebab timbulnya tumor ini. Akan tetapi, kasus patah tulang dapat membuat penyakit osteosarkoma terdeteksi secara kebetulan, yaitu pada saat dilakukan pemeriksaan lengkap oleh dokter.

Apa saja gejala osteosarkoma?

Awal gejala dari penyakit ini adalah rasa nyeri pada area yang terkena. Nyeri ini dirasa dalam di tulang, lebih berat di malam hari hingga menyebabkan anak terbangun dari tidurnya, atau pada saat berolahraga hingga membatasi aktivitas. Kemudian gejala tersebut diikuti dengan munculnya benjolan keras pada salah satu bagian anggota tubuh. Benjolan ini membesar dengan sangat cepat dalam hitungan mingguan. Anggota tubuh yang paling sering terkena adalah sekitar lutut dan lengan atas hingga bahu.

Gejala penyertanyanya termasuk anak menjadi lebih lemah, malas/ tidak nafsu makan, tidak aktif, pucat, bahkan semakin kurus. Jika kanker sudah menyebar (metastasis), area penyebaran utamanya adalah paru-paru, sehingga sang anak bisa merasa sesak nafas. Walaupun anggota tubuh tampak membesar, namun kondisi tulang menjadi lebih lemah, sehingga sangat rentan untuk patah.

Mendeteksi osteosarkoma

Untuk mendiagnosa osteosarkoma, dokter akan mencatat riwayat benjolan tersebut dan penyakit lain yang diderita sang anak, memeriksa kondisi benjolan, dan akan dilakukan rontgen. Jika dari hasil rontgen dicurigai suatu keganasan, maka pemeriksaan lanjutan berupa laboratorium darah, MRI dengan kontras, dan biopsi (pengambilan sampel jaringan) dapat dilakukan untuk mengetahui jenis sel kanker yang ada. Semua hasil pemeriksaan tersebut sangatlah penting untuk menentukan jenis terapi yang dapat dilakukan kepada sang buah hati.

Deteksi dan diagnosis awal kanker tulang adalah penting, terutama untuk mencegah komplikasi penyakit menjadi stadium lanjut, penyebaran kanker, dan menentukan terapi. Semakin dini deteksinya, semakin tinggi tingkat keberhasilan terapinya. Akan tetapi, masalah kesehatan yang kompleks dan tingkat komplikasi penyakit yang cukup tinggi dari kanker ini membuat dokter tidak dapat terburu-buru dalam menatalaksana penyakit ini. Pemeriksaan menyeluruh, lengkap, perencanaan yang baik, dan kerjasama multidisiplin dengan spesialis lain juga diperlukan. Tingkat kesintasan dari penyakit ini jika terdeteksi dini dan diterapi bisa mencapai 60-80 persen.

Mengobati osteosarkoma

Penatalaksanaan dari osteosarkoma biasanya diawali dengan kemoterapi, lalu dilanjutkan dengan operasi pembedahan pembuangan tumor, dan diakhiri dengan kemoterapi kembali. Jenis operasi yang dapat dilakukan tergantung dari jenis dan stadium osteosarkoma ini, mulai dari pembuangan tumornya saja hingga amputasi. Walau mungkin terdengar menyeramkan, namun apa pun jenis terapi yang dipilih oleh dokter bertujuan untuk menyelamatkan nyawa sang buah hati.

Ayah dan Ibu Kejora, jangan menunda memeriksakan si buah hati bila tampak adanya benjolan yang tidak biasa. Dengan melakukan deteksi dini, kita dapat menyelamatkan sebuah kehidupan yang sangat berharga.

Editor: dr. Nurul Larasati

Referensi

https://link.springer.com/article/10.1007/s40744-016-0046-y
https://www.cancer.org/cancer/osteosarcoma/about/what-is-osteosarcoma.html
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/osteosarcoma/symptoms-causes/syc-20351052

Anak dengan Clubfoot (Kaki Pengkor)

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, SpOT, BMedSc

Dokter Spesialis Orthopedi

Halo, Ayah dan Ibu Kejora! Pernah dengar sebutan kaki pengkor? Sebenarnya sebutan medis untuk penyakit ini adalah clubfoot atau congenital talipes equniovarus (CTEV), namun memang di masyarakat lebih dikenal sebagai kaki pengkor. Apakah bisa diperbaiki? Mari simak artikel berikut ya, Ayah dan Ibu.

Clubfoot adalah kelainan yang penyebabnya sampai sekarang masih belum diketahui dengan jelas, walaupun ada teori yang mengatakan berkaitan dengan genetik. Kelainan ini dapat terjadi pada salah satu atau kedua kaki. Namun, penyakit ini juga dapat terjadi bersamaan dengan penyakit kelainan di bagian tubuh lainnya, misalnya kelainan pada anggota tubuh bagian atas, atau tulang belakang. Clubfoot biasanya terjadi sejak bayi baru lahir, namun juga dapat terjadi saat anak sudah besar karena adanya ketidakseimbangan kekuatan otot, misalnya pada anak dengan cerebral palsy.

Kelainan kaki pada clubfoot akan mempengaruhi seluruh bagian dari kaki, yaitu bagian depan (forefoot), tengah (midfoot), dan belakang (hindfoot). Telapak kaki sang buah hati akan terlihat berputar ke arah dalam dan ke bawah, sedangkan jari-jari kakinya mengarah ke sisi dalam, dan tungkai yang terkena juga cenderung lebih kecil. Kelainan utama dari penyakit ini merupakan kelainan dari otot dan urat di sekitar kaki yang kaku dan tegang, bukan kelainan tulang. Namun, karena kekakuan dan penegangan ini, tulang-tulang di kaki menjadi tertarik ke sisi dalam. Kelainan ini dapat dideteksi dini saat sang bayi masih berada di dalam janin, dengan tingkat keakuratan yang tinggi apabila dilakukan pada saat trimester kedua. Akan tetapi tindakan diagnostik ini bukan untuk mengobati dini, melainkan ditujukan agar sang ibu dan keluarga dapat mempersiapkan diri pada saat sang bayi lahir serta menyusun rencana pengobatan segera setelah bayi lahir.

Karena kelainan pada clubfoot merupakan kelainan otot dan urat, setiap kelainan ini diperlukan perbaikan secara bertahap. Waktu terbaik untuk dilakukan penatalaksanaan ini adalah saat sang bayi masih berusia 1-2 minggu. Metode penatalaksanaan clubfoot diperkenalkan pertama kali oleh Profesor Ignacio Ponsetti dari Universitas Iowa, Amerika Serikat. Metode Ponsetti ini meliputi koreksi kelainan bentuk kaki dengan menggunakan gips. Gips ini dipakaikan selama 7 hari, dan akan dipakaikan kembali berulang sampai sekitar 5-6 kali.

Pada akhir periode pemasangan gips, kelainan bentuk kaki ini akan dievaluasi oleh dokter Orthopaedi apakah kelainan bentuk tersebut dapat terkoreksi dengan mudah dan baik. Apabila pemakaian gips serial kurang bisa mengoreksi kelainan bentuk tersebut, maka perlu dilakukan tindakan bedah untuk memanjangkan urat tendon Achilles, yakni urat di belakang tumit kaki. Tindakan bedah ini memerlukan bius total agar sang bayi tenang, namun tindakan bedah dilakukan dengan sayatan yang minimal.

Setelah tindakan operasi, kaki sang buah hati akan perlu dipasang gips kembali sekitar 2-3 minggu untuk mempertahankan posisi. Setelah periode tersebut, sang bayi akan dibuatkan alat khusus (Dennis Brown brace) agar dapat membantu mempertahankan posisi kaki. Pada awalnya, alat khusus ini akan dipakai selama hampir satu hari penuh, namun waktu pemakaian alat akan dikurangi seiring dengan perbaikan bentuk kaki. Alat ini perlu dipakai hingga usia 4 tahun.

Dennis Brown Brace

Sebagai orang tua, kesabaran dan kepatuhan terhadap instruksi dokter adalah kunci dari penanganan clubfoot ini. Penyakit ini tidak dapat dicegah karena penyebabnya yang belum diketahui secara pasti. Namun, bila diabaikan, sang buah hati akan mengalami kesulitan dan rasa nyeri saat berjalan. Konsekuensinya, anak akan menolak untuk belajar berjalan. Maka dari itu, peranan orang tua sangat penting untuk mendukung kesembuhan sang buah hati.

Editor: dr. Nurul Larasati

Referensi:

  1. Jowett C. R., Morcuende J. A., Ramachandran M. Management of congenital talipes equinovarus using the Ponseti method. The Journal of Bone and Joint Surgery. British volume 2011 93-B:9, 1160-1164.
  2. Siapkara A., Duncan R. Congenital talipes equinovarus: A Review of Current Management. The Journal of Bone and Joint Surgery. British volume 2007 89-B:8, 995-1000

 

Pentingnya Memperhatikan Tulang Panggul Anak

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, BMedSc

Dokter Umum

Halo, Ayah dan Ibu! Kali ini kita akan membahas mengenai tulang panggul si kecil yang kadang terlewati untuk diperhatikan. Apakah Ayah dan Ibu juga tahu bahwa membedong dapat memperberat kondisi bayi dengan kelainan tulang panggul? Yuk, kita simak bersama.

Pembentukan dan perkembangan sel tulang yang tidak beraturan disebut juga sebagai displasia dalam bahasa medis. Bila hal ini terjadi pada tulang panggul, maka disebutnya displasia panggul atau Developmental Dysplasia of the Hip (DDH). Displasia panggul merupakan kondisi dimana sendi panggul menjadi longgar dan tidak stabil. Gangguan ini dapat muncul dan berkembang setelah kelahiran dengan derajat keparahan yang variatif. Displasia panggul cukup sering ditemukan pada bayi baru lahir, terutama pada anak pertama, jenis kelamin perempuan, atau memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit yang sama.

Dislokasi sendi panggul (tulang keluar dari engselnya), nyeri, kelainan bentuk, tungkai pendek sebelah, tidak stabil berjalan adalah beberapa konsekuensi yang dapat terjadi apabila displasia panggul tidak ditangani dengan baik. Bahkan, kondisi ini akan mempengaruhi dampak buruk bagi struktur tulang lainnya. Kelainan itu akan mempengaruhi aktivitas sang anak sehari-hari serta kualitas hidup yang buruk, dan pada akhirnya menyebabkan proses pengapuran sendi panggul dini.

Penyebab displasia panggul

Mengapa penyakit ini dapat terjadi? Hal ini disebabkan pada saat proses persalinan dimana tubuh sang ibu akan melepaskan hormon yang membuat otot dan ligamen bayi menjadi lentur agar dapat melewati jalan lahir. Pada beberapa bayi yang sangat responsif terhadap hormon ini, otot dan ligamennya akan menjadi terlalu lentur walau kualitas tulang bayi sebenarnya sudah bersifat empuk dan fleksibel. Alhasil, kelahiran bayi, terutama dengan posisi sungsang (presentasi bokong), memiliki resiko lebih besar untuk terjadinya displasia panggul ini.

Gambar 1: (Kiri) Posisi normal bayi dalam kandungan, (Kanan) Posisi bayi lahir sungsang

Pembedongan bayi

Terkadang gangguan pada bayi tidak seberapa dan menyebabkan tidak terdeteksinya pada saat segera setelah lahir. Namun, oleh karena faktor perawatan dan alat-alat yang kita gunakan terhadap sang bayi, displasia panggul dapat menjadi lebih parah. Contoh tindakan yang paling sering adalah pembedongan. Bayi dengan kecurigaan displasia panggul tidak direkomendasikan untuk dibedong. Tindakan pembedongan yang terlalu kencang menyebabkan tungkai bayi dalam posisi “terpaksa” lurus. Hal ini dapat membuat otot dan ligamen yang menjaga kestabilan sendi panggul menjadi semakin tertarik. Mekanisme yang serupa juga dapat terjadi pada pemakaian alat gendong yang membuat tungkai sang buah hati dalam kondisi “terpaksa” lurus ini.

Gambar 2: Ilustrasi mekanisme terjadinya displasia panggul yang disebabkan oleh pembedongan

Gambar 3: Posisi menggendong bayi yang TIDAK dianjurkan karena dapat memicu displasia panggul

Gambar 4: Posisi menggendong bayi yang dianjurkan karena dapat mencegah displasia panggul

Deteksi dini

Seiring dengan pertumbuhan menjadi dewasa, tulang manusia akan menjadi semakin keras, otot dan ligamen pun semakin kencang dan kuat. Tulang panggul yang tumbuh dan berkembang secara normal akan sangat membantu dalam menjaga kestabilan sendi panggul. Oleh sebab itu, deteksi dini dari displasia panggul menjadi sangat penting agar dapat menghindari kelainan bentuk (deformitas) yang menetap. Semakin awal terdeteksi, penanganan terhadap penyakit ini semakin dapat diupayakan tanpa tindakan operasi. Walaupun, ada kalanya meskipun penanganan tanpa operasi sudah dilakukan, kelenturan yang sangat tinggi menyebabkan diperlukannya tindakan operasi.

Umumnya, setelah bayi lahir akan dilakukan “screening” atau “penyaringan” pada kondisi ini. Namun ada kalanya proses tersebut tidak menangkap kelainan displasia panggul saat baru lahir. Ayah dan Ibu Kejora yang merawat sang buah hati sehari-hari dapat membantu deteksi dini dengan memperhatikan gejala berikut:

  1. Bunyi klik pada area panggul. Hal ini dapat menandakan sendi panggul tidak stabil pada tempatnya.
  2. Panjang tungkai yang tidak sama. Gejala ini dapat dilihat dari perbedaan lipatan kulit di area bokong dan paha, atau dengan melihat tinggi lutut pada saat ditekuk. Hal ini menandakan sendi panggul yang tidak pada tempatnya sehingga tungkai yang sakit menjadi terkesan lebih pendek.

Gambar 5: Berbagai cara untuk mengevaluasi displasia panggul berdasarkan panjang tungkai

Pemeriksaan oleh dokter

Setelah menyadari adanya kelainan tersebut, bawalah sang buah hati ke dokter. Pemeriksaan fisik lebih lanjut oleh dokter disertai pemeriksaan rontgen dan ultrasonografi dapat mengkonfirmasi kestabilan sendi panggul. Tujuan dari terapi medis adalah mengupayakan agar sendi panggul tersebut dapat terjaga stabil pada tempatnya dan mencegah komplikasi. Berbagai macam terapi dapat diterapkan, mulai dari penggunaan baju kekang, gips, operasi pembedahan rekonstruksi otot/ligamen hingga tulang. Pilihan terapi ini tidak sama pada semua pasien, dan akan ditentukan oleh dokter tergantung pada usia saat terdeteksi penyakit dan stabilitas dari sendi panggul tersebut.

Ayah dan Ibu, mulai sekarang kita harus lebih perhatian dengan kondisi panggul si kecil ya. Pastikan juga kita tidak memaksakan penggunaan bedong bila si kecil dicurigai ada kelainan pada panggulnya dan segera diperiksakan ke dokter.

Referensi

Kotlarsky P, Haber R, Bialik V, Eidelman M. Developmental dysplasia of the hip: What has changed in the last 20 years? World J Orthop. 2015 Dec 18; 6(11): 886–901.

Nyeri Siku Setelah Menggandeng Anak? Waspadai Nursemaid’s Elbow

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, BMedSc

Dokter Umum

Hai Ayah dan Ibu Kejora..

Ayah dan Ibu Kejora pasti senang menggandeng si buah hati ketika sedang berjalan bersama. Ketika sedang menggandeng, terkadang tanpa sadar kita menarik lengan si buah hati. Tahukah anda, tindakan menarik lengan tersebut dapat membahayakan?

Menarik lengan dapat berisiko membuat anak anda menderita Nursemaid’s Elbow. Waspadalah terutama pada anak rentang usia 1-4 tahun. Perempuan memiliki kelenturan tubuh yang lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki, dan ini menyebabkan perempuan lebih rentan terhadap penyakit ini. Penyakit ini memberikan gejala yang mungkin tidak terlalu kita perhatikan. Perasaan dan bunyi ‘klik’ pada saat terjadi mungkin tidak dirasakan oleh orang tua yang menarik, namun dapat dirasakan oleh si kecil. Hanya saja, pada rentang usia tersebut si kecil belum lancar berbicara atau belum bisa mengutarakannya. Setelah kejadian, si kecil cenderung untuk tidak menggunakan lengannya, lengan ditekuk, dan tangan ditelungkupkan ke bawah. Anak anda akan mengeluh jika disentuh sikunya, atau bila tangannya diputar. Segeralah bawa anak anda ke dokter, jika anda mengetahui gejala-gejala ini.

Apa yang sebenarnya menyebabkan penyakit ini?

Lengan bawah kita mempunyai 2 tulang, yaitu radius dan ulna. Pada sisi pangkal dari tulang radius, terdapat urat yang mengelilingi tulang tersebut, bernama annular ligament. Urat tersebut bertugas menjaga tulang radius tetap menempel dengan tulang ulna dan menjaga jarak dengan tulang humerus (lengan atas) pada saat kita memutar tangan. Anak-anak dibawah usia 5 tahun masih sangat lentur dan belum mempunyai struktur annular ligament yang cukup kuat untuk tetap bertahan di tempatnya. Ketika lengan si kecil ditarik, annular ligament ini dapat terselip diantara pangkal tulang radius dan ujung tulang humerus, sehingga membatasi kedua tulang ini, dan tulang radius menjauh dari tulang ulna. Hal ini lah yang terjadi pada Nursemaid’s Elbow.

Segeralah membawa anak anda ke dokter bila mendapati gejala nyeri siku. Karena anak anda perlu segera diperiksa untuk dipastikan tidak ada kelainan berupa patah tulang, infeksi, atau dislokasi berat. Hasil pemeriksaan x-ray dapat menunjukkan pangkal radius yang tidak pada tempatnya. Namun seringkali gambaran ini terlihat tidak jelas karena kesulitan teknis, seperti rasa nyeri dan anak yang rewel. Sehingga, sekitar 75% gambar x-ray akan menunjukkan gambaran sendi siku yang normal. Pemeriksaan ulstrasonography (USG) dapat dilakukan dan menunjukkan adanya pelebaran rongga antar tulang. Hanya saja pemeriksaan ini cukup sulit dan sangat subjektif, alias bergantung pada operator alat.

Untuk penanganannya, sang dokter akan perlu untuk mengembalikan tulang dan urat tersebut kembali ke posisinya. Manuver berupa memutar tangan dan menekuk tangan anak anda, akan perlu dilakukan. Selama prosedur, anak anda dapat merasakan kesakitan. Si buah hati dapat diberikan obat untuk mengurangi rasa sakit ini, namun sayangnya anak anda tidak dapat dibius untuk menghilangkan nyeri karena setelah tulang dan urat kembali pada tempatnya, anak anda perlu untuk langsung latihan menggerakkan sikunya.

Sangatlah penting kondisi ini diketahui dan dimengerti oleh para Ayah dan Ibu Kejora. Karena setelah Nursemaid’s Elbow ini terjadi, sangat tinggi kemungkinan kondisi ini terjadi kembali. Dengan demikian, pencegahan untuk terjadi pertama kali sangatlah penting. Saat menggandeng anak anda, hindari gerakan mengangkat, menarik atau pun mengayun. Jika ingin mengangkat anak anda, angkatlah dengan memeluk badannya.

Referensi:

  1. Browner EA. Nursemaid’s elbow (annular ligament displacement). Pediatr Rev. 2013;34(8):366-367.
  2. Miswan MF, Othman MS, Effendi FM, Ibrahim MI, Rozali KN. Pulled/nursemaid’s elbow. Malays Fam Physician. 2017;12(1);26–28.
  3. Yamanaka S, Goldman RD. Pulled elbow in children. Can Fam Physician. 2018 Jun; 64(6): 439–441.

Editor : drg. Saka Winias., M.Kes., Sp.PM

Flat Foot pada Anak-anak

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, BMedSc

Dokter Umum

Halo, Keluarga Sehat Kejora! Apakah Ayah dan Ibu pernah melihat telapak kaki yang datar tanpa lengkungan? Bagaimana kita tahu itu normal atau tidak? Kita simak ulasannya ya.

Flat foot adalah kondisi dimana kaki kehilangan lengkungnya. Kondisi ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu fleksibel dan kaku. Pada jenis yang fleksibel, lengkung kaki nampak pada saat posisi menapak (berdiri), namun hilang pada saat duduk atau menjinjit. Sedangkan pada jenis yang kaku, lengkungan kaki tidak nampak dan biasanya disertai dengan rasa nyeri dan kekakuan pada sendi-sendi di kaki. Jenis fleksibel adalah jenis yang paling sering ditemukan pada kelompok anak.

Kaki dengan flat foot cenderung memberikan fokus tumpuan lebih miring ke sisi tengah kaki pada saat bertumpu. Hal ini berbeda dengan kaki normal, yang dimana tumpuan beban tersebar merata ke seluruh kaki. Oleh sebab itu, Ayah dan Ibu dapat melihat gaya berjalan sang anak pun menjadi tidak seperti pada umumnya.

Perbandingan bentuk kaki normal dan flat foot.

Sumber: http://pivotalpodiatry.com.au/foot-problems/flat-feet-fallen-arches-treatment-melbourne/

Pusat tumpuan kaki dengan flat foot cenderung lebih miring ke sisi tengah kaki

Sumber: https://orthoinfo.aaos.org/en/diseases–conditions/flexible-flatfoot-in-children

Faktor resiko

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kondisi flat foot, seperti:

  1. Keturunan
  2. Bantalan lemak pada kaki
  3. Jenis sepatu yang biasa dipakai
  4. Kekakuan tendon Achilles di belakang tumit atau kalus (kapalan) pada kaki.

Kebanyakan orang tua biasanya khawatir bahwa kondisi flat foot pada anaknya dapat menyebabkan disabilitas atau kesulitan berjalan. Namun pada umumnya, flat foot fleksibel tidak memberikan masalah hingga usia dewasa, dan sang anak pun dapat tetap berjalan dengan baik atau bahkan mengikuti kegiatan olahraga.

Flat foot fleksibel merupakan variasi normal dari perkembangan kaki. Otot dan sendi dari kaki dapat berfungsi secara normal. Seiring dengan pertumbuhan dan kegiatan berjalan, jaringan lunak di sekitar kaki ini akan mengencang dan membentuk lengkung kaki. Biasanya kondisi flat foot ini menghilang pada sekitar usia 5-10 tahun, namun dapat juga tidak terbentuk sampai usia remaja. Terkadang, kondisi flat foot yang tidak hilang memang dapat menimbulkan keluhan nyeri atau mudah pegal. Kondisi inilah yang perlu diperiksakan ke dokter anda.

Penanganan flat foot

Tatalaksana lebih lanjut hanya diperlukan apabila anak merasa tidak nyaman dengan kakinya, atau timbul keluhan seperti nyeri setelah aktivitas. Dokter akan mengajari anak cara peregangan otot-otot kaki, terutama tendon Achilles, seperti gerakan heel cord stretch.

Heel cord stretch

Sumber: https://kansascityfootandankle.com/are-you-a-loud-walker-you-may-have-tight-heel-cords/

Jika keluhan masih berlanjut, maka dapat disarankan juga menggunakan ganjalan sol sepatu. Ganjalan sol harus empuk namun juga cukup kuat untuk dapat menahan dan membentuk lengkungan pada telapak kaki. Selain itu, fisioterapi lebih lanjut atau pemasangan gips mungkin diperlukan jika tendon Achilles anak terlalu tegang.

Terapi bedah sangat jarang diperlukan, kecuali bagi anak-anak remaja dengan rasa nyeri yang berlanjut. Tujuan dari operasi adalah membentuk lengkungan telapak kaki, dan memanjangkan tendon/urat yang tegang. Operasi ini sendiri mungkin dilakukan bertahap / tidak dalam satu waktu.

 Editor: dr. Nurul Larasati

Penyakit Blount (Kaki O)

 

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, BMedSc

Dokter Spesialis Ortopedi

Halo, Keluarga Kejora! Apakah Ayah dan Ibu pernah mendengar kelainan bentuk kaki O pada anak-anak? Nama kelainan ini adalah tibia vara, atau penyakit Blount, namun paling dikenal oleh masyarakat sebagai “Kaki O”. Penyakit ini pertama kali dijelaskan secara detil oleh seorang dokter bedah tulang anak bernama Blount pada tahun 1937. Penyebab utama kelainan ini adalah pertumbuhan yang tidak sempurna pada lempeng pertumbuhan tulang kering. Tulang kering yang dekat dengan lutut tumbuh bengkok/ berputar ke arah luar (genu varum), depan (procurvatum), dan terputar ke dalam (rotasi interna) hingga tampak melengkung.

Para klinisi membagi penyakit Blount menjadi dua kelompok, yaitu dibawah 10 tahun (infantile) dan diatas 10 tahun (adolescent). Hal ini disebabkan karena penyakit ini merupakan penyakit progresif yang didapat seiring dengan proses pertumbuhan dan belum tentu terlihat sejak lahir.

Sekitar 50% dari kasus melibatkan kedua tungkai. Disamping bentuk tungkai yang tidak normal, pada saat berjalan lutut sang anak cenderung untuk mengayun ke sisi samping.

Faktor Resiko

Apa saja faktor resiko yang menyebabkan penyakit Blount ini? Penyebab yang paling mendasar adalah kelainan genetik, namun penyebab lain yang utama adalah berat badan yang berlebih atau bahkan obesitas.

Pada anak dengan berat badan berlebih, tulang dan sendinya menopang lebih banyak beban dan tubuhnya mengalami perubahan geometrik sehingga memerlukan adaptasi fungsi syaraf motorik agar otot-ototnya dapat bekerja lebih kuat dan menciptakan kestabilan tungkai bawah. Anak juga akan semakin cenderung mengayun ke samping saat berjalan bila memiliki paha yang besar. Alhasil, mekanisme peredam goncangan dari lutut pun menjadi kurang efisien. Ditambah lagi, obesitas di anak-anak akan menyebabkan penurunan proses osifikasi (penulangan) dan kekuatan mekanik pada tulang dan sendi.

Sumber: http://www.orthohyd.com/home/know-your-disease/tibia-vara-blount-s-disease

Namun, tidak semua tungkai yang menekuk ke samping itu merupakan penyakit Blount. Bisa saja memang merupakan variasi bentuk yang normal (physiological varus). Akan tetapi, penelitian menunjukkan kelengkungan diatas 20° pada usia 2 tahun atau diatas 30°sebelum usia 4 tahun mempunyai resiko yang lebih tinggi.

Kapan harus periksa ke dokter?

Jika Anda mencurigai sang buah hati mengalami kelainan ini, bawalah ke dokter orthopaedi untuk dilakukan evaluasi. Pada saat pemeriksaan, penampakan klinis dari kaki sang anak akan dievaluasi secara kasar, gaya jalan dan kelenturan lutut akan dinilai. Pemeriksaan lebih detil dapat terlihat dari gambaran rontgen seluruh tungkai bawah. Sudut kelengkungan lutut dan kelainan lempeng pertumbuhan dapat nampak jelas dari pemeriksaan ini. Akan tetapi untuk keamanan dan meminimalisir paparan radiasi, pemeriksaan ini dianjurkan pada anak usia diatas 4-5 tahun.

Penanganan Penyakit Blount

Tatalaksana bagi penyakit Blount lebih cenderung ke arah operasi. Pada kasus infantiletatalaksana konservatif masih memungkinkan dengan menggunakan brace untuk waktu yang lama (hingga 2 tahun). Akan tetapi, pada sekitar usia 6-8 tahun lempeng pertumbuhan lebih cepat menutup sehingga kelainan bentuk tidak dapat dibantu secara konservatif lagi. Disamping itu ada banyak faktor yang menentukan keberhasilan konservatif, seperti tingkat keparahan kelainan bentuk, obesitas, dan bila mengenai dua sisi (bilateral).

Sumber: https://www.hss.edu/conditions_bowleg-deformity-blounts-disease.asp

Penyakit Blount yang tidak ditangani dengan baik dapat memberikan dampak yang cukup berat pada sang buah hati. Jika kelainan bentuk sangat berat, maka anak dapat merasakan nyeri hebat yang membuatnya sulit untuk berjalan. Apabila nyeri tidak dirasakan saat anak-anak, keluhan ini dapat timbul di hari tuanya (usia 30-50 tahun) karena resiko pengapuran sendi yang lebih tinggi.

Ayah dan Ibu, konsultasikan segera dengan dokter bila anak memiliki faktor resiko dan tanda-tanda yang sesuai. Pengenalan kelainan secara dini disertai penanganan yang benar tentunya akan memberikan hasil yang lebih baik di masa depan bagi buah hati Anda.

Referensi

  1. Janoyer M. Blount disease. Orthop Traumatol Surg Res. 2017. doi: 10.1016/j.otsr.2018.01.009. Epub 2018 Feb 23.
  2. Sabharwal S. Blount disease: an update. Orthop Clin North Am. 2015 Jan;46(1):37-47. doi: 10.1016/j.ocl.2014.09.002. Epub 2014 Oct 12.

Mengenali Cidera Olahraga pada Anak-anak

 

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, BMedSc

Dokter Umum

 

Ayah dan Ibu, kita dapat merasakan sendiri bahwa masa kanak-kanak merupakan masa aktif bermain bagi sang buah hati. Kabar baiknya, aktifitas fisik yang teratur memang terbukti sangat baik bagi perkembangan fisik, psikomotorik, dan intelektual anak, terutama untuk jangka panjang. Seiring dengan perkembangan jaman, semakin banyak pula Ayah dan Ibu yang mendorong anaknya untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan olahraga. Anak-anak pun menjadi terpapar latihan olahraga yang lama, dan sebagian melakukan latihan yang cukup keras. Sebagai akibatnya, cidera terkait olahraga di kalangan anak-anak pun kerap dijumpai.

Sistem tulang dan otot anak-anak lebih elastis dibanding orang dewasa. Hal ini membantu proses penyembuhan menjadi lebih cepat jika terjadi cidera. Pada kasus patah tulang, seringkali tulang tidak patah dengan sempurna karena support yang baik dari urat tendon dan ligamen yang masih sangat kuat. Namun, bila cidera terjadi pada urat tendon dan ligamen, pelat pertumbuhan (epifisis) yang masih lentur akan menjadi lebih rentan patah.

Mendekati usia remaja, cidera cenderung lebih sering terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara kelenturan dan kekuatan tulang. Cidera pelat pertumbuhan atau cidera serius pada sendi dapat menyebabkan perbedaan panjang tungkai, perubahan keseimbangan mekanika dari sendi, bahkan menyebabkan disabilitas jangka panjang. Penelitian menunjukkan bahwa latihan intensitas rendah dapat merangsang pertumbuhan tulang, namun latihan intensitas tinggi justru dapat mencegah pertumbuhan.

Cidera olahraga pada anak-anak dapat berupa cidera makro, seperti patah tulang (fraktur) atau keseleo, atau berupa cidera mikro, seperti fraktur stress, retak tulang sendi (osteochondritis dissecans), peradangan lempeng pertumbuhan (apophysitis), atau peradangan urat tendon (tendinopathy).

Gejala-gejala yang perlu diperhatikan bila terjadi cidera adalah:

  1. Nyeri
  2. Bengkak
  3. Deformitas (kelainan bentuk).

Gejala ini dapat terjadi secara akut maupun berangsur-angsur memberat. Pastikan Ayah dan Ibu memberitahu kepada dokter informasi vital berikut:

  1. jenis gejala
  2. lama gejala tersebut dirasakan
  3. olahraga yang biasa dilakukan
  4. kejadian saat cidera.

Untungnya, sebagian besar cidera olahraga yang sering terjadi merupakan cidera minor yang dapat ditangani dan sembuh dengan beristirahat. Akan tetapi terkadang hal ini justru membuat para orang tua meremehkan cidera yang ternyata merupakan cidera makro. Dengan demikian, penanganan yang salah atau misdiagnosa dapat menyebabkan gangguan yang fatal bahkan permanen bagi sisa kehidupan sang buah hati.

Berikut jenis-jenis cidera makro yang sering terjadi pada anak-anak:

Cidera lutut

Cidera lutut sering terjadi pada permainan olahraga kontak seperti bela diri, basket, atau sepak bola. Gejala nyeri lutut juga seringkali terjadi karena penggunaan berlebihan, misalnya pada olahraga berlari atau melompat.

Cidera bahu

Nyeri pada area bahu seringkali dirasakan setelah terjatuh pada olahraga apa pun. Nyeri pada area ini perlu diwaspadai karena seringkali terjadi patah tulang, baik pada tulang selangka maupun pangkal lengan atas. Area patah pun seringkali terjadi pada area lempeng pertumbuhan, sehingga berbahaya bagi pertumbuhan. Pemeriksaan rontgen dapat menentukan cidera di bagian ini.

Cidera siku

Anak-anak yang gemar bermain kasti atau baseball dan memegang posisi sebagai pelempar juga cukup sering mengeluhkan nyeri siku. Nyeri ini dapat disebabkan oleh berbagai macam penyakit, mulai dari sesederhana peradang lokal karena penggunaan berlebihan sampai dengan patah tulang pada penempelan otot di siku.

Cidera otot paha

Otot-otot paha yang teregang paksa pada anak-anak akan terasa sangat nyeri melebihi orang dewasa. Gejala ini seringkali disebabkan oleh cidera keseleo pada saat aktivitas berlari dan melompat. Bila nyeri terkesan berlebihan dan disertai bengkak, Ayah dan Ibu dapat mencuigai kemungkinan putusnya urat otot.

Cidera tumit

Penyebab tersering dari nyeri tumit adalah penggunaan berlebihan pada saat berlari atau melompat.

Pencegahan cidera olahraga
Lantas, bagaimana Ayah dan Ibu dapat membantu mencegah cidera-cidera tersebut terjadi pada anak?

  1. Hal yang paling pertama perlu dilakukan adalah menanamkan kebiasaan hidup sehat. Makanan yang sehat, minum yang cukup, dan tidur yang cukup, dapat membantu anak untuk fokus berolahraga.
  2. Biasakan anak untuk berolahraga bertahap dari mulai yang ringan. Batasi peningkatan beban olahraga maksimal sebesar 10% per minggunya. Hal ini berlaku pada semua hal, baik peningkatan jarak lari, beban angkat berat, kecepatan, sampai waktu berlatih.
  3. Peralatan yang sesuai dan perlindungan yang memadai juga berperan penting dalam melindungi anak anda, sehingga tidak boleh diremehkan.
  4. Pemanasan diawal latihan selalu perlu dilakukan. Latihan peregangan sebaiknya dilakukan setelah olahraga, pada saat fase akhir dari pendinginan. Latihan yang melibatkan banyak variasi otot lebih baik ketimbang hanya fokus di otot atau gerakan tertentu saja.

Pertolongan pertama

Bila anak baru saja mengalami cidera olahraga, Ayah dan Ibu dapat memberikan pertolongan pertama dengan prinsip RICE selama 72 jam pertama, yaitu:

  • Rest: istirahatkan bagian yang cidera.
  • Ice: berikan kompres es batu (dibalut dengan kain agar tidak terlalu dingin) selama 5-10 menit tiap jam. Penggunaan suhu dingin bertujuan untuk memberhentikan kemungkinan perdarahan dengan mengecilkan pembuluh darah.
  • Compression: berikan tekanan (biasanya dibalut—lihat gambar) pada bagian yang cidera untuk mengurangi bengkak.
  • Elevate: tinggikan bagian yang cidera ke posisi lebih tinggi saat beristirahat untuk mengurangi bengkak dan nyeri.

Setelah melakukan pertolongan pertama, jangan lupa untuk tetap periksakan sang buah hati ke dokter untuk pemeriksaan dan tatalaksana lebih lanjut.

Ayah dan Ibu, semoga setelah mengenali berbagai macam cidera olahraga, pencegahan dan pertolongan pertamanya kita bisa menjadi lebih waspada dalam mengawal kegiatan berolahraga si kecil ya. Karena, seperti yang dikatakan diawal, berolahraga adalah salah satu bagian terpenting bagi pertumbuhan sang buah hati. Namun bila dilakukan dengan berlebihan dan kurang kehati-hatian justru akan menjadi masalah.

Semangat berolahraga, Keluarga Sehat Kejora!

Editor: dr. Nurul Larasati

Referensi

1. Launay F. Sports-related overuse injuries in children. Orthop Traumatol Surg Res. 2015 Feb;101(1 Suppl):S139-47. doi: 10.1016/j.otsr.2014.06.030. Epub 2014 Dec 30.

2. Shanmugam C, Maffulli N. Sports injuries in children. Br Med Bull. 2008;86:33-57. doi: 10.1093/bmb/ldn001. Epub 2008 Feb 18.

3. Cross, T. Sports injuries in children. MedicineToday, June 2007, Volume 8, Number 6. Accessed from www.sportsmedicinesydney.com.au/pdf/sports-injuries-children.pdf

4. Rosendahl K, Strouse PJ. Sports injury of the pediatric musculoskeletal system. Radiol Med. 2016 May;121(5):431-41. doi: 10.1007/s11547-015-0615-0. Epub 2016 Feb 2.