oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, BMedSc

Dokter Spesialis Ortopedi

Halo, Keluarga Kejora! Apakah Ayah dan Ibu pernah mendengar kelainan bentuk kaki O pada anak-anak? Nama kelainan ini adalah tibia vara, atau penyakit Blount, namun paling dikenal oleh masyarakat sebagai “Kaki O”. Penyakit ini pertama kali dijelaskan secara detil oleh seorang dokter bedah tulang anak bernama Blount pada tahun 1937. Penyebab utama kelainan ini adalah pertumbuhan yang tidak sempurna pada lempeng pertumbuhan tulang kering. Tulang kering yang dekat dengan lutut tumbuh bengkok/ berputar ke arah luar (genu varum), depan (procurvatum), dan terputar ke dalam (rotasi interna) hingga tampak melengkung.

Para klinisi membagi penyakit Blount menjadi dua kelompok, yaitu dibawah 10 tahun (infantile) dan diatas 10 tahun (adolescent). Hal ini disebabkan karena penyakit ini merupakan penyakit progresif yang didapat seiring dengan proses pertumbuhan dan belum tentu terlihat sejak lahir.

Sekitar 50% dari kasus melibatkan kedua tungkai. Disamping bentuk tungkai yang tidak normal, pada saat berjalan lutut sang anak cenderung untuk mengayun ke sisi samping.

Faktor Resiko

Apa saja faktor resiko yang menyebabkan penyakit Blount ini? Penyebab yang paling mendasar adalah kelainan genetik, namun penyebab lain yang utama adalah berat badan yang berlebih atau bahkan obesitas.

Pada anak dengan berat badan berlebih, tulang dan sendinya menopang lebih banyak beban dan tubuhnya mengalami perubahan geometrik sehingga memerlukan adaptasi fungsi syaraf motorik agar otot-ototnya dapat bekerja lebih kuat dan menciptakan kestabilan tungkai bawah. Anak juga akan semakin cenderung mengayun ke samping saat berjalan bila memiliki paha yang besar. Alhasil, mekanisme peredam goncangan dari lutut pun menjadi kurang efisien. Ditambah lagi, obesitas di anak-anak akan menyebabkan penurunan proses osifikasi (penulangan) dan kekuatan mekanik pada tulang dan sendi.

Sumber: http://www.orthohyd.com/home/know-your-disease/tibia-vara-blount-s-disease

Namun, tidak semua tungkai yang menekuk ke samping itu merupakan penyakit Blount. Bisa saja memang merupakan variasi bentuk yang normal (physiological varus). Akan tetapi, penelitian menunjukkan kelengkungan diatas 20° pada usia 2 tahun atau diatas 30°sebelum usia 4 tahun mempunyai resiko yang lebih tinggi.

Kapan harus periksa ke dokter?

Jika Anda mencurigai sang buah hati mengalami kelainan ini, bawalah ke dokter orthopaedi untuk dilakukan evaluasi. Pada saat pemeriksaan, penampakan klinis dari kaki sang anak akan dievaluasi secara kasar, gaya jalan dan kelenturan lutut akan dinilai. Pemeriksaan lebih detil dapat terlihat dari gambaran rontgen seluruh tungkai bawah. Sudut kelengkungan lutut dan kelainan lempeng pertumbuhan dapat nampak jelas dari pemeriksaan ini. Akan tetapi untuk keamanan dan meminimalisir paparan radiasi, pemeriksaan ini dianjurkan pada anak usia diatas 4-5 tahun.

Penanganan Penyakit Blount

Tatalaksana bagi penyakit Blount lebih cenderung ke arah operasi. Pada kasus infantiletatalaksana konservatif masih memungkinkan dengan menggunakan brace untuk waktu yang lama (hingga 2 tahun). Akan tetapi, pada sekitar usia 6-8 tahun lempeng pertumbuhan lebih cepat menutup sehingga kelainan bentuk tidak dapat dibantu secara konservatif lagi. Disamping itu ada banyak faktor yang menentukan keberhasilan konservatif, seperti tingkat keparahan kelainan bentuk, obesitas, dan bila mengenai dua sisi (bilateral).

Sumber: https://www.hss.edu/conditions_bowleg-deformity-blounts-disease.asp

Penyakit Blount yang tidak ditangani dengan baik dapat memberikan dampak yang cukup berat pada sang buah hati. Jika kelainan bentuk sangat berat, maka anak dapat merasakan nyeri hebat yang membuatnya sulit untuk berjalan. Apabila nyeri tidak dirasakan saat anak-anak, keluhan ini dapat timbul di hari tuanya (usia 30-50 tahun) karena resiko pengapuran sendi yang lebih tinggi.

Ayah dan Ibu, konsultasikan segera dengan dokter bila anak memiliki faktor resiko dan tanda-tanda yang sesuai. Pengenalan kelainan secara dini disertai penanganan yang benar tentunya akan memberikan hasil yang lebih baik di masa depan bagi buah hati Anda.

Referensi

  1. Janoyer M. Blount disease. Orthop Traumatol Surg Res. 2017. doi: 10.1016/j.otsr.2018.01.009. Epub 2018 Feb 23.
  2. Sabharwal S. Blount disease: an update. Orthop Clin North Am. 2015 Jan;46(1):37-47. doi: 10.1016/j.ocl.2014.09.002. Epub 2014 Oct 12.

575total visits,2visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *