Apa itu Maskne?

 

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Hai Ayah dan Ibu Kejora, belakangan ini, setelah berlaku masa transisi dari PSBB ke New Normal, masyarakat digalakkan untuk memakai masker, baik masker bedah ataupun masker kain, ketika beraktivitas di luar rumah. Namun beberapa masalah kulit dapat muncul pada pemakaian masker jangka panjang, termasuk iritasi, alergi dan  yang belakangan banyak dikeluhkan adalah jerawat  di area wajah yang tertutup masker atau bisa disebut “maskne.

Apa itu Maskne?

Maskne  atau  jerawat masker (mask acne) sebenarnya adalah suatu bentuk akne, yang sering disebut sebagai akne mekanika, atau akne yang timbul karena gesekan berulang di kulit. Gesekan berulang pada satu area kulit dapat menyebabkan kerusakan sawar kulit atau microtear yang mempermudah bakteri dan kotoran untuk masuk kedalam pori-pori kulit dan memicu terjadinya infeksi. Selain itu, napas kita yang teroklusi di balik masker akan menyebabkan lingkungan yang lembab dan memudahkan bakteri berkembang biak.

Siapa saja yang dapat mengalami Maskne?

Maskne terutama dialami oleh para pekerja kesehatan yang harus menggunakan beberapa lapis masker dan alat pelindung diri dalam jangka waktu lama (lebih dari 6 jam). Namun maskne juga bisa terjadi pada semua orang yang rutin memakai masker dan memiliki kulit yang cenderung berminyak atau sensitive.

Bagaimana cara mencegah timbulnya Maskne?

Meskipun begitu, penggunaan masker tetap diperlukan untuk mencegah penularan virus Corona pada kondisi pandemik saat ini. Untuk mencegah terjadinya maskne, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

  1. Gunakan masker yang terbuat dari bahan yang halus dan natural, misalnya katun. Selain itu, pilih bahan yang dapat meyerap keringat dan halus, sehingga mengurangi faktor kelembapan dan gesekan pada kulit. Jangan gunakan bahan sintetik seperti rayon, polyester atau nilon.
  2. Ganti masker tiap 4 jam dan bersihkan wajah dengan facial wash atau micellar water yang lembut. Cuci masker tiap selesai pemakaian.
  3. Gunakan produk pelembap atau sunscreen yang ringan dan non-komedogenik, dengan formulasi gel atau lotion.
  4. Hindari pemakaian makeup atau skin care yang terlalu creamy, atau oil-based pada area yang tertutup masker. Hindari pemakainan produk seperti foundation, Cushion dan bedak padat yang dapat menyumbat pori-pori pada kulit yang tertutup masker.
  5. Saat ini jangan mencoba produk baru, terutama produk yang dapat mengeksfoliasi kulit, seperti AHA, BHA, benzoyl peroxide dan retinoid. Oklusi oleh masker dapat meningkatkan penyerapan zat aktif dan memicu iritasi dan peradangan.
  6. Jangan menyentuh wajah dibalik area yang tertutup masker. Jari kita dapat mentransfer bakteri dan virus ke area tersebut.

Apabila timbul maskne atau keluhan kulit lain yang cukup berat dan tidak bisa diatasi dengan skin care over the counter dan langkah pencegahan di atas, konsultasikan masalah kamu dengan dokter spesialis kulit dan kelamin, baik online maupun offline. Terkadang diperlukan obat minum atau obat yang harus diresepkan untuk membantu mengurangi maskne tersebut.

Editor: Saka Winias, drg., M.Kes., Sp.PM

Sumber:

  1. https://www.aad.org/public/everyday-care/injured-skin/burns/face-mask-skin-problems-treatment
  2. https://www.aad.org/public/everyday-care/skin-care-secrets/face/prevent-face-mask-skin-problems
  3. Plewig G., Kligman A.M. (2000) Acne Mechanica. In: ACNE and ROSACEA. Springer, Berlin, Heidelberg. https://doi.org/10.1007/978-3-642-59715-2_27

Jerawat pada Anak

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Hai Keluarga Sehat Kejora!

Topik kali ini akan membahas mengenai Jerawat pada Anak. Banyak dari Ayah dan Ibu Kejora yang mengeluhkan adanya jerawat pada sang buah hati, padahal masih belia. Oleh karena itu, mari kita mengenal lebih jelas mengenai jerawat pada anak.

Apa itu Jerawat?

Jerawat (akne) adalah penyakit kulit kronik yang paling sering menyerang anak dan remaja. Jerawat terjadi karena sumbatan di saluran kelenjar minyak yang memicu peradangan dan infeksi. Sekitar 85% pasien jerawat berusia 12-24 tahun. Namun saat ini seringkali keluhan jerawat terjadi pada usia yang lebih muda, dan berikut terdapat pembagian jerawat pada anak berdasarkan usia :
1. Akne neonatus (bayi baru lahir): dari lahir sampai usia 1 bulan
2. Akne infantile : mulai terjadi dari usia 6 bulan sampai 16 bulan.
3. Akne pada masa anak-anak : dari usia 1 tahun sampai 7 tahun
4. Akne prepubertal: dari usia 7 tahun (wanita) dan 8 tahun (laki-laki)

Mengapa bisa terjadi jerawat pada anak?

Akne pada bayi baru lahir biasanya disebabkan hormon androgen dari ibu. Hormon tersebut akan merangsang kelenjar minyak bayi, sehingga menimbulkan keluhan berupa bintil kemerahan di wajah, leher dan punggung bayi. Hormon androgen tersebut bisa terus meningkat sampai usia 1 tahun, kemudian turun lagi hingga pubertas. Akne neonatus dan akne infantil biasanya dapat hilang sendiri.

Gambar 1. Akne infantile

Namun, pada anak-anak usia 1-7 tahun, apabila muncul keluhan jerawat, harus segera diperiksakan ke dokter dan dilakukan pemeriksaan lengkap. Anak harus diperiksa perkembangan seks sekunder untuk mencari kemungkinan pubertas dini, pengukuran kurva tumbuh kembang dan usia tulang. Perlu dilakukan juga pemeriksan hormon FSH, LH, testosterone, DHEA, prolactin, kortisol, dan 17 a-hydroxyprogesterone. Apabila terdapat hasil yang tidak normal, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis endokrinologi dan tumbuh kembang anak karena biasanya terdapat kondisi sistemik yang mendasari.

Bagaimana mengobati jerawat pada anak?

Pengobatan jerawat pada anak tergantung pada tingkat keparahan jerawat. Pada kasus yang ringan dengan jumlah lesi sedikit, biasanya tidak diperlukan terapi atau hanya menggunakan krim yang mengandung benzoyl peroxide, tretinoin dan azelaic acid. Pada anak usia prepubertal, dapat diedukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan mencuci wajah 2-3x sehari dengan sabun yang lembut. Pada kasus sedang hingga berat kadang diperlukan antibiotic minum.

Sampai saat ini belum ada penelitian yang dapat menyimpulkan hubungan makanan dengan jerawat. Namun makanan dengan karbohidrat atau indeks glikemik yang tinggi dihubungkan dengan peradangan pada jerawat. Selain itu kadar zink yang rendah juga berhubungan dengan jerawat, sehingga suplemen zinc dapat diberikan pada anak yang mengalami jerawat.

Terkadang anak dengan riwayat akne infantile lebih berisiko untuk mengalami jerawat yang lebih parah dan jaringan parut atau bopeng pada saat usia pubertas, Namun jangan khawatir, apabila ada keluhan jerawat pada sang buah hati, Ayah dan Ibu Kejora dapat mengkonsultasikan kepada dokter spesialis kulit dan kelamin untuk memastikan diagnosis dan merancang terapi yang sesuai dengan keluhan dan usia anak. Semoga pembahasan kali ini dapat membantu Ayah dan Ibu Kejora dalam menghadapi keluhan pada anak berkaitan dengan jerawat. Sampai jumpa pada topik kesehatan lainnya.

Salam Keluarga Sehat Kejora!

Editor: drg. Saka Winias, M.Kes, Sp.PM

Sumber
1. Evidence-Based Recommendations for the Diagnosis and Treatment of Pediatric Acne. 2013. https://pediatrics.aappublications.org/content/pediatrics/131/Supplement_3/S163.full.pdf
2. Acne in childhood: Clinical presentation, evaluation and treatmen. 2015. http://www.ijpd.in/article.asp?issn=23197250;year=2015;volume=16;issue=1;spage=1;epage=4;aulast=Jain
3. Acne in childhood. 2019. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S1751722219300046