Manajemen Kesehatan Gigi selama Bulan Ramadan dalam Kondisi Pandemi Covid-19

 

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi

Halo keluarga Kejora!

Ramadan adalah bulan ke-9 dalam penanggalan hijriah. Bulan suci yang dinantikan oleh umat muslim di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Hal ini disebabkan dalam bulan Ramadan ada aktivitas penting yang dilakukan oleh seorang muslim dalam waktu sebulan penuh yakni, berpuasa.

Puasa merupakan salah satu rukun islam, yakni melakukan ibadah dengan menahan diri dari makan, minum dan segala yang membatalkan mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun bulan Ramadan kali ini cukup berbeda, dengan adanya pandemi wabah penyakit Covid-19. Beberapa kebijakan diberlakukan seperti pembatasan sosial, menjaga jarak, hingga bekerja, bersekolah dan beribadah dari rumah dengan tujuan mengurangi jumlah orang terkena virus Covid-19,

Meski harus melakukan kegiatan dari rumah, namun kita tetap harus menjaga kondisi kesehatan dan kebersihan tubuh agar selalu sehat dan keluar rumah seperlunya. Salah satu organ tubuh yang harus dijaga kebersihannya selama bulan puasa adalah kesehatan gigi.

Sakit gigi disaat menjalankan ibadah puasa tentu tidak nyaman, karena akan mempengaruhi kualitas ibadah saat sakit timbul. Namun, dokter gigi saat ini menjadi salah satu profesi yang memiliki risiko tinggi dapat terinfeksi virus Covid-19. Hal ini disebabkan kontak yang terlalu erat antara dokter gigi dan pasien serta percikan ludah atau air liur pasien yang dapat melekat pada permukaan alat, fasilitas kesehatan bahkan dokter gigi itu sendiri

Oleh karena itu, terdapat anjuran dari PDGI ( Persatuan Dokter Gigi Indonesia) bahwa dokter gigi dapat membantu pasien yang membutuhkan perawatan dengan menggunakan Alat Pelindung Diri level 3 ( gambar terlampir ) dan hanya dapat menangani tindakan yang bersifat gawat darurat seperti ;

  1. Gusi bengkak karena infeksi
  2. Sakit atau nyeri gigi yang tidak tertahankan
  3. Pendarahan yang tidak terkontrol
  4. Trauma pada gigi dan tulang wajah akibat kecelakaan

Jadi bila terdapat keluhan pada gigi yang bersifat gawat darurat, anda tetap bisa melakukan perawatan. Tetapi bila tidak ada kondisi darurat sebaiknya anda menunda jadwal kunjungan ke dokter gigi di situasi pandemi. Beberapa hal dibawah ini juga harus diingat sebelum datang ke praktik dokter gigi :

  • Konsultasi keluhan gigi terlebih dahulu ke dokter gigi, untuk menentukan apakah perawatan bisa dilakukan atau tunda
  • Peralatan APD ( Alat Pelindung Diri ) dokter gigi dalam praktik menggunakan APD level 3
  • Buat perjanjian ke jadwal kunjungan untuk menghindari kontak dengan pasien lain
  • Tetap menjaga kebersihan saat datang ke dokter gigi dengan menggunakan masker, menjaga jarak dan etika cuci tangan dengan bersih

Selain itu tetap jaga kebersihan gigi secara teratur agar mengurangi risiko sakit sehingga harus datang ke praktik dokter gigi.

Berikut tips yang bisa dilakukan untuk menjaga kebersihan gigi di bulan Ramadan :

  1. Bau mulut

Ibadah puasa dengan tidak makan atau minum dalam waktu cukup lama, membuat mulut kering. Hal ini karena produksi saliva menurun dan tidak bisa menetralkan asam di dalam mulut sehingga timbul halitosis atau bau mulut. Untuk menghindari bau mulut tetap lakukan sikat gigi 2x sehari pada waktu pagi dan malam hari dan jaga kebersihan gigi dan mulut

  1. Beri jeda untuk sikat gigi setelah makan

Banyak orang berpikiran bahwa setelah makan harus langsung menyikat gigi agar sisa makanan tidak melekat di permukaan gigi dan membuat mulut menjadi segar. Namun, anggapan ini ternyata keliru. Setelah makan sebaiknya seseorang memberi jeda sekitar 30 menit sebelum sikat gigi. Hal ini agar menetralkan asam yang berasal dari konsumsi makanan, sehingga tidak merusak lapisan enamel

  1. Gunakan Dental Floss

Seringkali sisa makanan terdapat di sela gigi dan sulit dijangkau oleh sikat gigi. Jangan menggunakan tusuk gigi untuk membersihkannya karena akan mengiritasi gusi, namun gunakan benang gigi atau dental floss untuk membersihkan sisa makanan pada sela gigi

  1. Minum cukup air putih

Tubuh harus memiliki cukup cairan, saat puasa pun tetap harus menjaga konsumsi air agar tidak terjadi dehidrasi. Sebaiknya konsumsi 8 gelas air setiap hari, dengan pembagian 2 saat berbuka puasa, 4 malam dan 2 saat sahur

  1. Pemberian obat

Bila ada rasa sakit atau infeksi, dapat menghubungi dokter gigi anda untuk melakukan pengecekan terhadap gigi yang bermasalah. Apabila diberikan resep obat, bisa dikonsumsi dengan periode waktu tertentu seperti sahur, berbuka puasa atau saat menjelang tidur

  1. Konsumsi buah dan sayur dengan cukup

Kebutuhan nutrisi vitamin dan mineral dibutuhkan tubuh selama berpuasa. Sayur dan buah dapat memberikan vitamin dan mineral untuk menghindari penyakit mulut

  1. Hindari konsumsi makanan dengan bau berlebihan

Hal ini untuk mengurangi risiko bau mulut selama menjalankan ibadah puasa

Sumber :

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26147170/
https://www.researchgate.net/publication/279195908_Ramadan_fasting_and_dental_treatment_considerations_A_review
PB PDGI ( Pengurus Besar –  Persatuan Dokter Gigi Indonesia )

Apa Itu Pneumonia Wuhan?

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

Halo, keluarga Kejora! Apakah Ayah dan Bunda pernah mendengar atau membaca berita tentang pneumonia Wuhan yang saat ini mewabah di kota Wuhan, Cina? Apa sebenarnya pneumonia Wuhan itu?

Pneumonia Wuhan adalah suatu infeksi paru-paru yang disebabkan oleh salah satu jenis virus corona. Penyakit ini dinamakan pneumonia Wuhan karena kasus pneumonia ini pertama kali ditemukan kasusnya di kota Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019. Penyakit ini ditemukan sebagai pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya dan dapat berakibat fatal. Setelah ditelaah lebih lanjut, ternyata pneumonia ini disebabkan oleh virus corona. Hingga awal Januari 2020, tiga kasus pneumonia Wuhan telah dilaporkan di Thailand, 1 kasus ditemukan di Jepang, 1 kasus di Korea Selatan, 1 kasus di Taiwan, dan 1 kasus di Amerika Serikat. Dari semua kasus tersebut, setiap kasus diduga memiliki riwayat bepergian dari dan ke kota Wuhan. Pemerintah Cina juga telah melaporkan adanya kemungkinan penularan dari manusia ke manusia lain, dengan 15 kasus ditemukan pada tenaga kesehatan.

Virus corona yang menyebabkan pneumonia Wuhan (2019-nCoV) diketahui serupa dengan virus Middle Eastern Respiratory Syndrome (MERS) dan virus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang pernah dikenal sebelumnya. Waktu yang diperlukan sejak virus corona 2019-nCoV masuk ke tubuh hingga menyebabkan gejala sakit serupa dengan virus MERS dan SARS, yaitu sekitar 2 minggu. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa beberapa kasus berhubungan dengan paparan pada pasar seafood di kota Wuhan. Namun, penyebab pasti cara infeksi pneumonia Wuhan ini belum diketahui.

Gejala umum yang dapat ditemukan pada pneumonia Wuhan, antara lain batuk kering atau berdahak, demam dan sesak nafas. Gejala penyerta lainnya adalah sakit kepala, nyeri tenggorok, lemas, dan pilek. Namun, tidak semua orang yang menderita berbagai gejala tersebut dapat dianggap menderita pneumonia Wuhan. Oleh sebab itu, masyarakat disarankan untuk waspada dan memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan jika mengalami gejala-gejala tersebut. Tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah pneumonia Wuhan serupa dengan pencegahan penyakit pada umumnya, yaitu menjaga kebersihan diri terutama kebersihan tangan dengan sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menghindari kontak dengan orang sakit, dan menggunakan masker jika sedang batuk dan atau kontak dengan orang sakit.

Referensi:
https://www.who.int/china/news/detail/09-01-2020-who-statement-regarding-cluster-of-pneumonia-cases-in-wuhan-china
https://www.nhs.uk/news/medical-practice/novel-coronavirus-limited-spread-between-people/
https://www.imperial.ac.uk/mrc-global-infectious-disease-analysis/news–wuhan-coronavirus/