oleh dr. Ellen Wijaya, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Keluarga Sehat Kejora!

Pada awal bulan Januari 2020, Jakarta sempat dihebohkan dengan terjadinya bencana banjir. Bahkan sampai pertengahan bulan ini pun, kita tetap diingatkan untuk selalu waspada karena musim hujan masih berlangsung. Oleh karena itu, Kejora akan mengajak Ayah dan Ibu untuk mengenal ‘serba serbi’ banjir dan kaitannya dengan kesehatan anak.

 

Mengenal beragam penyakit pada anak yang bisa terjadi akibat banjir

Terdapat beberapa penyakit yang bisa terjadi pada anak akibat banjir, diantaranya adalah:

  1. DiareBanjir bisa meningkatkan risiko terjadinya penyakit yang disebarkan lewat air yang terkontaminasi (waterborne diseases) oleh virus ataupun bakteri. Bahkan tidak hanya melalui air, namun juga melalui penularan secara oral akibat lingkungan pengungsian yang padat dan higienitas yang kurang. Diare ditandainya dengan adanya peningkatan frekuensi buang air besar dan atau disertai dengan perubahan konsistensi feses. Hal yang perlu diperhatikan adalah anak tidak boleh kekurangan cairan (dehidrasi).
  1. Infeksi saluran pernapasan akutKondisi ini dapat disebabkan oleh virus yang ditandai dengan adanya keluhan demam dan batuk serta pilek.
  1. Infeksi kulit dan mataPenyakit kulit dapat disebabkan oleh berbagai organisme seperti bakteri, virus, jamur, parasit, atau kutu yang menginfeksi kulit. Anak merasakan gatal, kulit kemerahan akibat iritasi dan tanda infeksi lain pada kulit. Infeksi mata juga bisa ditularkan melalui air, seperti moluskum kontagiosum atau penyakit pada kelopak mata dan konjungtivitis yang ditandai dengan mata merah.
  1. Otitis eksternaAnak yang terkena air banjir yang kotor juga meningkatkan risiko terjadinya infeksi pada kulit tipis yang membungkus saluran telinga luar.
  1. Demam dengue dan malariaWaspada terhadap penyakit yang bisa ditularkan oleh nyamuk. Demam dengue dan malaria diperantarai oleh 2 jenis nyamuk yang berbeda dengan keluhan klinis yang tidak sama. Namun keduanya dapat menimbulkan keluhan demam disertai dengan gejala penyerta lainnya. Kondisi ini perlu diwaspadai terutama pasca-banjir karena akan terjadi banyak genangan air yang dapat menjadi tempat berkembangnya nyamuk.
  1. LeptospirosisLeptospirosis disebabkan bakteri leptospira yang menyebar luas pada saat curah hujan tinggi di tempat yang sanitasinya buruk dan sistem drainasenya kurang baik. Penularannya terjadi pada anak yang terpapar air kencing binatang pengerat seperti tikus. Gejala pada leptospirosis, diantaranya demam, nyeri kepala, diare dan nyeri tekan di area betis.
  1. Demam tifoid dan hepatitis ADemam tifoid disebabkan oleh bakteri salmonella typhi, sedangkan hepatitis A disebabkan oleh virus. Kedua penyakit ini dapat menimbulkan keluhan demam dan gangguan pencernaan yang disebabkan karena kurangnya higienitas, diantaranya adalah penyajian makanan yang tidak bersih.

 

Apa yang perlu diperhatikan Ayah dan Ibu pada saat banjir supaya anak tetap sehat?

  • Bagi ibu yang sedang menyusui, maka pemberian ASI harus tetap dilanjutkan.
  • Konsumsi makanan dan minuman yang higienis.
  • Selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah makan, ataupun pasca-buang air besar.
  • Jauhkan anak dari aktivitas bermain di dalam air dan tidak merendam kaki dalam air banjir. Hindari paparan luka terbuka dengan air banjir yang berpotensi jadi akses masuknya kuman.
  • Gunakan sarung tangan dan sepatu bot, jika harus beraktivitas di tengah air banjir.
  • Segera mengganti pakaian basah dengan pakaian kering untuk mencegah hipotermia.

 

Apa yang bisa dilakukan pasca-banjir untuk mempertahankan kesehatan anak?

Aspek kebersihan merupakan hal yang utama. Kondisi rumah biasanya sangat kotor dan berantakan pasca-banjir, bahkan terdapat sisa air banjir dan lumpur. Oleh karena itu bersihkan seluruh area rumah dengan baik menggunakan disinfektan dan gunakan masker saat membersihkan rumah dari sisa banjir. Pastikan kondisi mainan anak dalam keadaan bersih sebelum digunakan kembali. Anak sebaiknya diungsikan ke tempat yang lebih bersih untuk sementara waktu hingga rumah dalam kondisi bersih. Jangan lupa untuk selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir terutama saat menyiapkan makanan atau susu. Perhatikan juga saat membuang popok sekali pakai si kecil dengan dibungkus terlebih dahulu dalam kantong plastik.

 

Lebih baik mencegah daripada mengobati!

Anak sangat rentan terhadap berbagai infeksi dan kita sudah paham bahwa begitu banyak penyakit yang bisa terjadi pada anak dalam kondisi banjir. Oleh karena itu, Ayah dan Ibu perlu memahami upaya untuk mencegah anak sakit, diantaranya adalah :

  • Mengkonsumsi makanan dan minuman yang bersih dan bergizi, terutama pemberian ASI pada bayi secara eksklusif dan dilanjutkan sampai dengan usia 2 tahun.
  • Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, memastikan bahan makanan dan juga berbagai perabotan bersih sebelum digunakan.
  • Menjaga kebersihan rumah dan meningkatkan upaya 3 M Plus (menguras tempat penampungan air, menutup tempat penyimpanan air, menyingkirkan atau mendaur ulang barang bekas untuk mencegah penyebaran nyamuk dan plus: menggunakan kelambu saat tidur, menaburkan bubuk abate, dan sebagainya)
  • Melengkapi vaksin Sang Buah Hati, diantaranya dengan vaksin hepatitis A, demam tifoid, serta influenza.

 

Kita semua tentunya berharap dampak dari banjir dapat segera teratasi dan banjir tidak terulang lagi. Namun tetap waspada dan selalu ingat untuk menjaga kebersihan dan membiasakan anak untuk membuang sampah pada tempatnya sebagai salah satu upaya kecil yang berdampak besar demi pencegahan banjir.

 

Referensi

  1. World Health Organization. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit: Pedoman Bagi RS Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten/Kota 2009:World Health Organization; 2009.
  2. Departemen IKA FKUI-RSCM. Panduan Praktik Klinis. Jakarta: FKUI-RSCM; 2015.

 

139total visits,14visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *