Otitis Media Efusi

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah Ayah dan Ibu Kejoara sudah pernah mendengar mengenai Otitis Media Efusi atau OME? Otitis media efusi (OME) merupakan suatu keadaan adanya cairan non- infeksi yang terkumpul di dalam telinga tengah. Keadaan ini terjadi karena akumulasi cairan akibat terjadi radang berulang pada daerah saluran napas atas. Otitis media efusi umumnya dapat sembuh sendiri dalam waktu 4-6 minggu.

Gambar 1. Level udara-cairan di dalam telinga

OME terjadi karena adanya gangguan fungsi tuba eustaschius (saluran yang menghubungkan telinga tengah dengan daerah hidung dan tenggorok) sehingga cairan pada telinga tengah tidak dapat mengalir dengan baik. Keadaan tersebut menyebabkan cairan menetap lebih lama dan menyebabkan terjadinya penurunan pendengaran. Keadaan- keadaan yang menyebabkan adanya gangguan fungsi tuba, antara lain:

  • Fungsi tuba belum berkembang sempurna pada anak
  • Pembesaran adenoid
  • Batuk pilek atau alergi yang menyebabkan pembengkakan pada lapisan telinga, tuba eustashius, hidung dan tenggorok

Otitis media efusi (OME) paling sering terjadi pada anak-anak usia 6 bulan – 3 tahun. Keadaan ini umumnya sulit untuk diketahui karena tidak terdapat gejala akut yang jelas. Gejala-gejala yang dapat terjadi antara lain:

  • Gangguan pendengaran
  • Anak tampak sering menarik atau memegang telinga dan terlihat tidak nyaman
  • Gangguan keseimbangan
  • Hambatan bicara

Keadaan ini dapat membaik dengan sendirinya dalam waktu 4-6 minggu. Antibiotik tidak diperlukan jika tidak ditemukan adanya tanda-tanda infeksi akut pada telinga. Apabila keadaan tidak membaik dalam waktu 2-3 bulan dan mengganggu perkembangan bicara serta performa si buah hati di sekolah, maka perlu dilakukan tindakan pemasangan pipa ventilasi pada gendang telinga untuk mengalirkan cairan keluar.

Tindakan pemasangan pipa ventilasi pada anak – anak umumnya dilakukan dalam pembiusan. Setelah pemasangan pipa dilakukan dan cairan di telinga tengah dikeluarkan maka pendengaran akan segera membaik. Pipa ventilasi akan terlepas dengan sendirinya dalam waktu kurang lebih 6-12 bulan dan gendang telinga akan menutup kembali.

Gambar 2. Prosedur pemasangan pipa ventilasi

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber:

  1. Forest, et al. Improving Adherence to Otitis Media Guidelines With Clinical Decision Support and Physician Feedback. Pediatrics Apr 2013, 131 (4) e1071-e1081; DOI: 10.1542/peds.2012-1988
  2. Bailey’s Head & Neck Surgery Otolaryngology 5th edition, 2014.
  3. Usatine, R.P. Air-fluid levels in ear. J Fam Pract. 2013 September;62(9), diakses dari https://www.mdedge.com/familymedicine/article/77660/air-fluid-levels-ear pada tanggal 12 Januari 2020.
  4. Donaldson, JD. Ear Tubes, diakses dari https://www.emedicinehealth.com/ear_tubes/article_em.htm#what_are_ear_tubes pada tanggal 12 Januari 2020.

Noise Induced Hearing Loss (NIHL)

 

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Hai, Keluarga Kejora!

Apakah Ayah dan Ibu Kejora sudah pernah mendengar tentang Noise Induced Hearing Loss?

Noise Induced Hearing Loss (NIHL) adalah gangguan pendengaran yang disebabkan karena paparan bising yang berlebihan. Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai gangguan tersebut, mari kita lihat dulu struktur telinga secara keseluruhan!

Telinga terdiri dari 3 bagian besar, yaitu telinga bagian luar, tengah dan dalam. Telinga bagian luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga. Gendang telinga membatasi telinga bagian luar dan tengah. Pada telinga bagian tengah terdapat tulang-tulang pendengaran yang berfungsi menghantarkan getaran bunyi yang diterima oleh gendang telinga. Pada telinga bagian dalam terdapat organ pendengaran yang disebut koklea yang terdiri dari sel-sel rambut yang berhubungan dengan saraf pendengaran yang akan berjalan membawa informasi bunyi yang diterima ke otak.

Gambar 1. Anatomi telinga

Terdapat 2 mekanisme utama yang terjadi pada NIHL, yaitu:

  1. Gangguan pendengaran karena trauma akustik akibat paparan bunyi yang sangat keras dapat merusak gendang telinga atau tulang-tulang pendengaran secara langsung, misalnya bising di daerah perang
  2. Gangguan pendengaran karena rusaknya struktur-struktur pada telinga bagian dalam, terutama sel rambut di dalam koklea serta saraf pendengaran. Sel rambut (stereocilia) pada koklea akan kehilangan rigiditas dan bentuknya akan melebar apabila terus menerus terpapar oleh intensitas bunyi yang tinggi.

Gambar2. Gambaran sel rambut yang normal dan sel rambut yang rusak akibat paparan bising

Noise Induced Hearing Loss ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa, melainkan dapat juga terjadi pada anak-anak. Kejadian NIHL pada anak saat ini meningkat seiring dengan berkembangnya industri musik dan hiburan yang tersedia untuk anak-anak dan remaja. Banyak tempat-tempat dan perangkat hiburan yang menghasilkan bunyi yang tinggi.

Gejala-gejala yang dapat diwaspadai antara lain:

  1. Telinga berdenging setelah berada di tempat dengan musik yang bising
  2. Anak perlu mengeraskan volume saat sedang nonton TV untuk mendengar lebih jelas
  3. Anak tidak dapat memahami lawan bicara apabila terdapat bising di sekitar
  4. Anak perlu duduk di dekat guru di kelas untuk dapat mendengar lebih jelas
  5. Anak merasa lawan bicara atau orang di sekitar bicara terlalu cepat atau seperti bergumam

Berikut beberapa contoh intensitas bunyi yang dihasilkan oleh beberapa perangkat serta berapa lama telinga dapat terpapar oleh bunyi tersebut tanpa menggunakan alat pelindung telinga:

Desibel Berapa lama telinga dapat terpapar tanpa alat pelindung Contoh sumber bunyi
130++ Melebihi batas kemampuan telinga Bom, pesawat jet lepas landas
120 Berbahaya ! Klub dansa
115 Kurang dari 1 menit Konser musik, arena olah raga
109 Kurang dari 2 menit Klakson mobil, gergaji listrik
106 3,75 menit Pemutar CD/MP3 portabel (volume tinggi)
100 15 menit Pesta dansa sekolah, mesin pabrik
97 30 menit Mainan berbunyi, motor
94 1 jam Bor elektrik
91 2 jam Suara teriak, blender, traktor, mesin pemotong rumput
85 8 jam Vacuum cleaner
55 aman Suara bicara normal

Nah, sekarang keluarga Kejora sudah tahu ‘kan bahwa bunyi yang berlebihan ternyata tidak aman untuk telinga kita. Untuk menghindari kerusakan telinga akibat bunyi, maka kita perlu menghindari tempat-tempat yang kira-kira menghasilkan bunyi yang mengganggu  atau menggunakan alat pelindung telinga saat mendengar bunyi yang keras.

Sumber:

  1. Harrison, Robert V. “Noise-induced hearing loss in children: A ‘less than silent’ environmental danger.” Paediatrics & child health vol. 13,5 (2008): 377-82. doi:10.1093/pch/13.5.377
  2. Harrison, Robert V. “The prevention of noise induced hearing loss in children.” International journal of pediatrics vol. 2012 (2012): 473541. doi:10.1155/2012/473541

Editor: drg. Rizki Amalia

Deteksi Awal Gangguan Pendengaran pada Bayi

 

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Halo, Ayah dan Ibu Kejora! Apakah Ayah dan Ibu pernah mendengar mengenai gangguan pendengaran pada bayi? Gejala awal yang mungkin terlihat adalah tidak adanya respon anak terhadap bunyi-bunyian di sekitar atau adanya gangguan perkembangan bicara ketika anak sudah berusia 2 tahun. Gejala-gejala tersebut seringkali terlambat diketahui, sehingga proses penegakan diagnosis dan tata laksananya pun menjadi terhambat. Oleh karena itu, mari kita pelajari lebih lanjut mengenai deteksi awal gangguan pendengaran pada bayi!

Saat ini, berbagai negara di dunia telah menerapkan pemeriksaan penapisan pendengaran universal secara rutin pada setiap bayi yang baru lahir. Namun, pemeriksaan ini baru dilakukan di beberapa rumah sakit besar dengan fasilitas lengkap di Indonesia. Gangguan pendengaran pada anak merupakan kelainan kongenital yang sulit diidentifikasi, padahal sering terjadi, yaitu sebanyak 2-4 kejadian dari 1.000 bayi yang lahir. Sebelumnya, pemeriksaan penapisan pendengaran hanya dilakukan pada bayi-bayi dengan faktor risiko tinggi. Adapun beberapa faktor risiko menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) yang diidentifikasi dapat mengakibatkan gangguan pendengaran pada bayi baru lahir yaitu:

  • Riwayat keluarga dengan gangguan pendengaran
  • Kelainan bawaan bentuk telinga dan kelainan tulang tengkorak wajah
  • Infeksi janin ketika dalam kandungan (infeksi toksoplasmosis, rubella, sitomegalovirus, dan herpes)
  • Sindrom tertentu, seperti sindrom Down
  • Berat lahir kurang dari 1500 gram
  • Nilai apgar yang rendah
  • Perawatan di NICU
  • Penggunaan obat-obat tertentu yang bersifat toksik terhadap saraf pendengaran

Di samping itu, Joint Committee on Infant Hearing (JCIH) juga mengemukakan beberapa faktor risiko yang diduga mengakibatkan gangguan pendengaran pada anak, yang mana bila terdapat satu atau lebih faktor tersebut, pemeriksaan penapisan pendengaran harus dilakukan. Berikut merupakan faktor-faktor yang dimaksud:

  • Riwayat keluarga dengan gangguan pendengaran
  • Infeksi janin ketika dalam kandungan (infeksi toksoplasmosis, rubella, sitomegalovirus, dan herpes)
  • Kelainan bentuk dan sistem  pada telinga, hidung, dan tenggorok
  • Malformasi telinga dan kelainan celah bibir dan langit-langit (cleft lip palate)
  • Berat badan lahir kurang dari 1500 gram
  • Bilirubin lebih dari 20 mg/100 ml

Pada kenyataannya, 50% bayi yang lahir dengan gangguan pendengaran tidak memiliki faktor risiko yang tersebut di atas, sehingga bila hanya menggunakan kriteria faktor risiko saja, maka akan banyak bayi dengan gangguan pendengaran yang tidak terdiagnosis. Maka dari itu, pemeriksaan penapisan pendengaran universal harus dilakukan pada setiap bayi baru lahir dengan atau tanpa faktor risiko, sehingga identifikasi dan intervensi dini dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya masalah-masalah psikososial, edukasi dan linguistik di kemudian hari.

Selain itu, penting untuk diketahui Ayah dan Ibu Kejora bahwa periode kritis perkembangan pendengaran dan bicara dimulai dalam usia 6 bulan pertama kehidupan dan berlanjut sampai usia 2 tahun. Gangguan pendengaran yang tidak teridentifikasi sebelum usia 6 bulan dapat mengakibatkan terjadinya gangguan perkembangan bicara dan bahasa. Bayi dengan gangguan pendengaran yang diberikan intervensi ketika berusia 6 bulan atau sebelumnya akan berkesempatan lebih untuk memiliki kemampuan bicara dan bahasa yang normal dibandingkan dengan bayi yang baru mendapatkan intervensi setelah berusia 6 bulan.

Setelah mengetahui informasi di atas, Ayah dan Ibu tentunya sekarang sudah memahami pentingnya deteksi awal gangguan pendengaran pada bayi bukan? Untuk mengetahui dengan lebih seksama, nantikan artikel berikutnya ya. Pada artikel tersebut akan dibahas tentang metode deteksi awal gangguan pendengaran secara lengkap.

Sumber:

Chi DH, Sabo DL. Pediatric Audiology and Implantable Hearing Device. In Bailey Bailey BJ, Johson JT, Newlands SD, editors. Head & Neck Surgery Otolaryngology 5th edition,. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2014.p 1507 – 1520.
Newborn Hearing Screening. https://emedicine.medscape.com/article/836646-overview#a6
http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/%E2%80%9Cskrining%E2%80%9D-pada-bayi-baru-lahir-untuk-diketahui-oleh-orangtua