Eksim di Tangan karena Sabun atau Hand Sanitizer

 

 

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Halo, Keluarga Kejora!

Sejak pandemi Covid-19, banyak sekali perubahan kebiasaan yang sudah kita jalani untuk mencegah penularan virus ini, salah satunya adalah menjaga kebersihan tangan. Virus corona rentan terhadap sabun yang mengandung surfaktan, alkohol dengan konsentrasi minimal 60%, dan beberapa bahan lainnya. WHO dan organisasi kesehatan besar lainnya menganjurkan untuk sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama 20 detik atau menggunakan hand sanitizer yang mengandung alkohol 60%.

Praktik mencuci tangan ini dianjurkan untuk dilakukan setelah memegang barang atau permukaan benda yang tidak steril, setelah bersin/batuk dan menutup dengan tangan, sebelum makan, sebelum menyentuh wajah, setelah dari kamar mandi, dan ketika tangan terlihat kotor. Karena rekomendasi ini, belakangan terjadi peningkatan kasus eksim di tangan yang ditandai dengan ruam merah, gatal/perih, tangan terasa kering dan kasar sampai luka-luka.

 

Apakah eksim di tangan bisa terjadi pada anak?

Eksim pada tangan karena penggunaan sabun dan hand sanitizer dapat terjadi pada anak dan orang dewasa. Beberapa negara yang sudah memperbolehkan sekolah tatap muka, anak dianjurkan mencuci tangan setiap 2 jam sekali atau setelah berkontak dengan benda di tempat umum, bersin, batuk, sebelum dan setelah makan, serta keluar dari toilet. Di Denmark, survey yang dilakukan pada 30000 lebih anak menunjukan bahwa, insiden eksim di tangan pada anak meningkat dari 14.4% menjadi 50.1% saat sekolah mulai masuk. Sebagian besar terjadi dalam 3 hari pertama masuk sekolah. Risiko akan meningkat pada anak dengan kulit kering dan dermatitis atopik.

 

 

Kenapa bisa terjadi eksim di tangan karena sabun/hand sanitizer?

Eksim pada tangan ini dapat timbul karena dua reaksi. Reaksi yang pertama adalah reaksi dermatitis kontak iritan yaitu iritasi yang terjadi karena bahan yang terkandung pada sabun atau hand sanitizer, seperti deterjen dan alkohol. Bahan tersebut dapat merusak lapisan terluar kulit dan lapisan lemak di atas kulit sehingga ketahanan (barrier) kulit terganggu serta air mudah menguap dari kulit, hal ini menyebabkan kulit menjadi kering. Bahan tersebut juga dapat masuk ke lapisan kulit yang lebih dalam dan menimbulkan reaksi radang. Keparahan reaksi iritasi tergantung pada dosis dan frekuensi pemakaian produk penyebab iritasi tersebut. Kulit akan mengalami perbaikan apabila kontak dengan bahan penyebab dihentikan.

Reaksi yang kedua adalah reaksi alergi. Reaksi alergi terjadi karena proses imunologi dari tubuh. Setiap orang bisa memiliki respon yang berbeda terhadap bahan yang berbeda. Reaksi alergi dapat dipicu oleh berbagai bahan yang terkandung pada sabun atau hand sanitizer, seperti alkohol, parfum, antiseptik, bahkan zat tidak aktif seperti pengawet dan pewarna yang terkandung dalam produk. Reaksi alergi biasanya tidak langsung terjadi dan walaupun penggunaan produk sudah dihentikan, keluhan masih tetap ada atau bertambah parah setelah beberapa saat.

 

Bagaimana cara mengatasi eksim di tangan karena sabun/hand sanitizer?

Meski demikian, mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer tetap dianjurkan karena dapat mencegah penularan Covid-19. Terdapat beberapa cara untuk mengurangi keluhan eksim pada tangan yaitu memilih produk yang tidak mengandung iritan kuat, menghindari tindakan yang memperparah iritasi, dan menggunakan pelembap setelah mencuci tangan.

American Contact Dermatitis Society telah memberikan rekomendasi yang dapat membantu mengurangi keluhan eksim pada tangan karena produk hand hygiene, antara lain:

  1. Cuci tangan dengan air dingin atau suhu ruang dan hindari air panas.
  2. Keringkan tangan dengan handuk/tisu halus dan jangan menggosok tangan keras-keras.
  3. Sabun tidak harus mengandung antibakteri.
  4. Hindari sabun/hand sanitizer dengan bahan yang dapat memicu alergi, seperti zat pewangi dan pewarna.
  5. Pilih sabun atau hand sanitizer yang mengandung pelembap, seperti glyserin.
  6. Gunakan pelembap krim atau salep setelah mencuci tangan.
  7. Pada malam hari, gunakan pelembap yang lengket dan tutup dengan sarung tangan setelahnya.
  8. Hindari penggunaan salep yang mengandung antibiotik atau antiseptik.
  9. Hindari pemakaian plester, terutama yang mengandung antibiotik dan antiseptik.
  10. Hindari menggaruk sampai luka atau mengopek kulit mati di tangan.

Apabila keluhan eksim pada tangan atau kulit kering tidak membaik setelah melakukan langkah-langkah tersebut, segera konsultasikan ke Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin. Pada beberapa kasus, perlu dilakukan uji tempel untuk mengetahui bahan penyebab reaksi alergi pada kulit. Pada kasus yang berat dan tidak membaik dengan pelembap, perlu diberikan obat-obat antiiritasi seperti kortikosteroid yang harus digunakan dalam pengawasan dokter. Memakai obat antiiritasi atau salep antiiritasi/antijamur/antibiotik yang dibeli sendiri dan tidak diawasi dokter dapat memperparah keluhan dan menyebabkan efek samping, seperti kulit menjadi tipis dan mudah luka bila pemakaian tidak tepat.

Editor: drg. Agnesia Safitri

 

Referensi:

  1. WHO Guidelines on Hand Hygiene in Health Care: First Global Patient Safety Challenge Clean Care Is Safer Care. Geneva: World Health Organization; 2009. 14, Skin reactions related to hand hygiene. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK144008/
  2. Rundle CW, dkk. Hand hygiene during COVID-19: Recommendations from the American Contact Dermatitis Society. J Am Acad Dermatol.83(6). 2020
  3. Anne B. Simonsen, Iben F. Ruge, Anna S. Quaade, Jeanne D. Johansen, Jacob P. Thyssen, Claus Zachariae, Increased occurrence of hand eczema in young children following the Danish hand hygiene recommendations during the COVID ‐19 pandemic , Contact Dermatitis, 10.1111/cod.13727, (2020)