Berkenalan dengan Vaginismus

 

 

 

 

oleh dr. Darrel  Fernando, Sp.OG

Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora! Apakah Ayah dan Ibu pernah mendengar tentang vaginismus? Yuk, kita cari tahu lebih lanjut!

Vaginismus adalah kondisi ketika terjadi kontraksi involunter (tidak disengaja) pada otot-otot sekitar vagina saat terjadi penetrasi atau akan terjadi penetrasi. Akibatnya, terjadi kesulitan penetrasi dan timbul rasa nyeri. Gejala utama vaginismus yaitu timbul rasa nyeri saat berhubungan (pada perempuan) serta kesulitan penetrasi seperti “menabrak tembok / buntu” (pada laki-laki).

Penderita vaginismus seringkali mendapat stigma atau di-cap “kaku”, “tidak rileks”, “tidak mau melayani suami”, dan lain-lain. Stigma ini berasal dari banyak pihak, termasuk pasangan, keluarga, bahkan tenaga medis sendiri yang kurang paham mengenai vaginismus. Hal ini mengakibatkan banyak dampak psikososial, seperti depresi, kecemasan, kurang harmonisnya hubungan rumah tangga, yang akan semakin terakumulasi bila kondisi vaginismus tidak ditangani dengan baik.

Vaginismus dapat didiagnosis oleh dokter kandungan melalui wawancara (anamnesis) dengan pasien dan pemeriksaan fisik. Perlu dicari tahu apakah ada kondisi lain yang menyebabkan nyeri pada saat berhubungan seksual, seperti adanya infeksi, lecet, endometriosis (gangguan sistem reproduksi wanita yang menyebabkan jaringan pada lapisan dalam dinding rahim tumbuh di luar rongga rahim), atau bahkan keganasan (kanker). Vaginismus sendiri dibagi menjadi 5 derajat (1 s.d. 5). Terkadang pasien sudah mengetahui “sepertinya saya mengalami vaginismus”, tetapi tetap harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan di dokter kandungan.

Bila sudah didiagnosis vaginismus, penanganannya memerlukan pendekatan tim dan multidisiplin. Banyak modalitas terapi yang dapat dilakukan dan terkadang diperlukan kolaborasi dengan psikolog atau psikiater.

Setelah menjalankan terapi, penderita vaginismus dianggap “sembuh” jika berhasil mencapai penetrasi dengan nyaman dan tanpa rasa nyeri. Bila setelahnya mengalami kehamilan, ex-penderita vaginismus masih dapat melahirkan per vaginam (melalui persalinan normal), bila sesuai dengan preferensinya.

Bila tidak ditatalaksana dengan baik, dampak negatif vaginismus dapat terakumulasi seiring bertambahnya waktu. Oleh sebab itu, jika Ibu Kejora mengalami gejala serupa, segeralah berkonsultasi ke dokter kandungan.

Editor: drg. Agnesia Safitri