Tips Menyusui Di Saat Musim Hujan dan Banjir

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Ayah dan Ibu Kejora, di tengah musim hujan dan kondisi banjir, mari simak tips menyusui dari kami:

 

Tepis mitos bahwa Ibu yang sedang menyusui dalam keadaan stress, lelah, dan trauma memiliki kendala atau bahkan tidak bisa menyusui. Ubah pemikiran dan fokus pada penyelesaian masalah, karena secara umum Ibu menyusui dapat memproduksi ASI yang cukup untuk bayinya.

Oleh karena itu, sangat perlu dibedakan produksi ASI yang memang kurang atau persepsi bahwa produksi ASI tidak cukup. Produksi ASI relatif tidak terpengaruh jumlah dan kualitasnya, kecuali pada Ibu yang mengalami malnutrisi berat. Keadaan malnutrisi berat hanya ditemukan pada 1% ibu menyusui.

 

Beberapa hal yang perlu diperhatikan Ayah dan Ibu Kejora:

  • Jaga kebersihan diri
    • Pastikan kebersihan tangan dengan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama setidaknya 20 detik. Apabila tidak tersedia fasilitas untuk cuci tangan, bisa gunakan hand-rub.

 

  • Jaga kelanjutan mengASIhi
    • Teruskan mengASIhi bayi Ayah dan Ibu Kejora apapun metodenya. Menyusui langsung adalah metode yang paling alami dan mudah. Meski sedang mengalami kondisi bencana.

 

  • Menggendong bayi
    • Kegiatan menggendong bayi dapat menurunkan tingkat stress Ibu dan bayi, dan membuat proses menyusui lebih nyaman.

 

  • Belajar perah ASI dengan jari tangan
    • Dalam keterbatasan sarana dan tempat, teknik perah ASI dengan jari tangan, atau “marmet” dapat menjadi andalan.

 

  • Mempersiapkan tempat/rencana untuk menyimpan ASI Perah
    • Persiapkan wadah cadangan serta tempat pendingin untuk memindahkan stok ASI perah. Selain itu, bisa memindahkan stok ASI Perah ke lemari pendingin yang aman (dititipkan di rumah kerabat, kantor, atau tempat penitipan)

 

Editor : drg. Annisa Sabhrina

Sumber

http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/menyusui-dalam-keadaan-bencana

 

 

Dukungan Solid Perjalanan Menyusui Keluarga

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo Keluarga Kejora,

Menyusui merupakan salah satu tahapan penting dalam kehidupan seorang anak. Bagi ibu menyusui, hal ini dapat membantu dirinya dalam mengenal dan merawat bayi. Selain itu, dapat memberikan nutrisi dan kasih sayang terbaik sebagai fondasi kesehatan anak di masa depan.

Sama halnya seperti kehamilan, proses menyusui membutuhkan persiapan serta dukungan yang melibatkan berbagai elemen, seperti kedua orang tua, keluarga besar, tenaga kesehatan juga lingkungan.

Dukungan penuh bagi keluarga di setiap langkah menyusui, mulai dari kehamilan sampai akhir masa menyusui, seperti yang rekomendasi dari WHO melalui program 7 kontak laktasi plus, yakni :

    1. Pada usia kehamilan sekitar 28 minggu, diperkenalkan mekanisme dasar menyusui
    2. Pada usia kehamilan sekitar 36 minggu, sebaiknya dilakukan pemantapan materi dan diskusi tentang kesiapan keluarga
    3. Saat persalinan sebaiknya terjadi kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayi baru lahir atau biasa dikenal dengan Inisiasi Menyusu Dini
    4. Pada hari-hari awal setelah persalinan, untuk bimbingan posisi menyusui baik dalam keadaan tidur/duduk (disesuaikan dengan kondisi ibu). Hal ini dilakukan untuk membantu perlekatan mulut bayi pada payudara ibu dengan baik.
    5. Setelah 1 minggu pasca persalinan, identifikasi tantangan yang ditemui saat menyusui. Juga tidak lupa memberikan dukungan pada ibu dan suami untuk tetap menyusui buah hati
    6. Setelah 30 hari persalinan, lakukan pemantauan tumbuh kembang bayi dan kesehatan ibu.
    7. Lakukan pengecekan setelah 2 bulan persalinan, untuk melakukan pemantauan serta persiapan apabila ibu bersiap untuk bekerja.

             + Kontak berikutnya disesuaikan dengan kebutuhan ibu dan suami terkait menyusui.

Editor: drg. Annisa Sabhrina

Sumber:

http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/program-pranatal-untuk-keberhasilan-menyusui

Materi Pelatihan Konseling Menyusui Modul 40 jam Kemenkes/WHO/UNICEF.